[Sinopsis Novel] Putri Huan Zhu/ Huan Zhu Ge Ge 1 Bagian 7

Judul Asli : Huan Zhu Ge Ge 2: Shui Shen Huo Re
Pengarang : Chiung Yao (Qiong Yao)
Penerbit : Crown Publishing Co., Taipei – Thaiwan.

Judul Bahasa Indonesia: Putri Huan Zhu 1: Rahasia Yang Belum Terungkap
Alih bahasa : Pangesti A. Bernardus (koordinator), Yasmin Kania Dewi, Tilly Zaman, Wisnu Adi Hartono
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Desember 1999 (edisi pertama)

Cerita Sebelumnya:

Dibantu Yongqi dan Ertai, Xiao Yanzi berhasil keluar istana menemui Ziwei. Apes bagi Xiao Yanzi, Kaisar memergokinya keluar dan menanyainya. Yongqi, Erkang dan Ertai mengatur siasat untuk membantu Xiao Yanzi menjawab pertanyaan Kaisar. Tapi saat keempatnya sedang berembuk, Permaisuri justru datang menyidak mereka.

VII

“Permaisuri tiba!”

Xiao Yanzi, Yongqi, Erkang dan Ertai langsung terkejut mendengar seruan tersebut. Keempatnya sungguh tak menyangka Permaisuri datang menyidak sepagi itu.

Xiao Yanzi dengan panik langsung mencari tempat untuk bersembunyi. Dia mengumpat, “Sial! Kenapa pula Nenek Sihir itu kemari pada saat begini?”

Akhirnya Xiao Yanzi menyelinap ke bawah meja yang bertaplak panjang.

Pintu aula terbuka. Permaisuri masuk dibimbing Bibi Rong dan diiringi serombongan dayang. Yongqi dan kedua bersaudara Fu segera memberi salam.

Permaisuri memandang ketiga pemuda itu dengan penuh selidik. “Hari masih pagi sekali – kalian bertiga sudah berkumpul disini membicarakan apa?”

Erkang menjawab, “Kami sedang membicarakan masalah suku muslim Hui dengan Pangeran Kelima, Yang Mulia!”

Wajah ketiganya tampak tegang. Membuat Permaisuri semakin curiga. “Jarang-jarang Pangeran Kelima menaruh perhatian terhadap masalah suku minoritas di barat laut… Kedua Tuan Muda Fu juga begitu rajin, sampai-sampai matahari baru terbit – sudah langsung masuk istana untuk membicarakan hal ini dengan Pangeran Kelima.”

Permaisuri dengan matanya menyisir seluruh ruangan dan berhasil menemukan tempat persembunyian Xiao Yanzi. Taplak meja yang panjang bisa menutupi tibuh gadis itu. Tapi tanpa disadarinya, separuh jari-jari tangan kirinya menyembul keluar. Dan itu terlihat oleh Permaisuri…

Permaisuri berjalan perlahan mendekati meja itu. Dia memuji dengan tenang, “Generasi muda seperti kalian sungguh merupakan berkah bagi Dinasti Qing kita yang Agung…” – Dengan sepatu bersol tebalnya, Permaisuri menginjak kuat-kuat jari-jari Xiao Yanzi.

“Auw! Aduh!!!” Xiao Yanzi memekik keras. Dia mendadak menarik tangannya, menyebabkan Permaisuri kehilangan keseimbangan hingga jatuh terjengkang. Para dayang panik. Bibi Rong segera berteriak, “Penyusup! Ada penyusup di bawah meja! Pengawal! Lekas kemari!”

Para pengawal bersenjata menerobos masuk mendengar teriakan Bibi Rong. Yongqi langsung berdiri di depan meja dan membentak para pengawal, “Ini istanaku! Siapa yang berani menyerobot masuk tanpa kupanggil? Lancang sekali!”

Para pengawal menjatuhkan senjata dan berlutut. “Hamba pantas mati! Hamba pantas mati!”

Permaisuri berhasil berdiri dengan canggung. Melihat tidak satupun pengawal yang berani mendekati meja, dia jadi marah. “Ini perintahku! Di bawah meja itu ada penyusup! Lekas tangkap dan perlihatkan padaku! Siapa yang berani membangkang akan dihukum!”

Para pengawal kembali bersiaga. Yongqi kembali berteriak, “Yang di bawah meja itu Putri Huanzhu! Siapa yang berani menyentuhnya harus berhadapan denganku dulu!”

Para pengawal jadi kebingungan. Apakah mereka harus melaksanakan perintah Permaisuri atau Pangeran Kelima?

Xiao Yanzi tidak tahan lagi. Dia akhirnya keluar dari kolong meja. Matanya berair gara-gara rasa sakit di jari-jari tangannya. Tapi dia masih berani membusungkan dada dan berteriak, “Ini aku! Aku yang berbuat onar – maka aku akan bertanggung jawab!”

Permaisuri tersenyum licik melihat Xiao Yanzi. “Bagus sekali! Sekarang, kalian berempat ikut aku menghadap Kaisar!”

***

Semuanya menghadap Qianlong.

Dengan sebelah tangan bertumpu pada meja dan menyangga pipinya, Qianlong melihat Xiao Yanzi yang masih memakai baju kasim seperti semalam. Dia juga melihat ke arah Yongqi, Erkang dan Ertai yang kini berlutut seperti terpidana. Kepala Kaisar langsung pusing.

“Semalam curi-curi keluar istana, pagi ini sembunyi-sembunyi mengadakan pertemuan rahasia. Kalian berani sekali! Erkang! Kau pengawal kepercayaanku – coba jelaskan, ada apa sebenarnya ini?”

Erkang memutar otak. “Kaisar, kemarin saat Putri Huanzhu mendesak hendak keluar istana, Pangeran Kelima dan Ertai tidak berani membawanya ke sembarang tempat. Maka, dia diajak ke kediaman kami. Pagi ini kami bersaudara datang ke istana untuk mengecek apakah Pangeran Kelima dan Putri Huanzhu kembali ke istana dengan aman? Tapi ternyata tidak….”

“Lalu?” Qianlong mengangkat sebelah alisnya.

“Tuan Putri khawatir Kaisar akan murka. Kabarnya Kaisar akan mengusut kepergiannya semalam. Maka, Putri nekat menyamar dan mengunjungi istana Qingyang untuk membicarakan strategi dengan kami. Tidak disangka, Permaisuri justru datang dan memergoki kami…”

Qianlong menimbang perkataan Erkang. Sepertinya Erkang tidak mungkin berdusta.

“Xiao Yanzi!” seru Qianlong. “Jadi kau ke istana Qingyang untuk membahas strategi? Lalu strategi apa yang kalian siapkan untuk menghadapiku?”

Xiao Yanzi gugup dan ketakutan. Dia mencuri pandang ke arah ketiga pemuda untuk minta tolong.

“Jangan lihat mereka!” hardik Qianlong. “Angkat kepalamu dan lihat aku! Katakan cepat apa rencana kalian? Aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu!”

Bahkan kesempatan untuk berpikir pun tak ada. “Huang Ama…,” kata Xiao Yanzi terbata-bata. “Kami mana ada waktu membahas strategi segala? Tak lama setelah saya masuk, Huang Erniang tiba. Saya langsung panik dan bersembunyi di bawah meja. Tapi ketahuan. Huang Erniang pun menginjak jari-jari tangan saya hingga rasanya patah semua….”

Qianlong keheranan. “Jarimu sampai patah? Kemari, biar kulihat!”

Xiao Yanzi mendekat dan memperlihatkan jari-jarinya yang bengkak kemerahan. Begitu Qianlong menyentuh jari-jari itu, Xiao Yanzi langsung mengaduh-aduh.

Permaisuri menyaksikan semuanya dengan wajah masam. “Xiao Yanzi! Jangan berlebihan!” katanya. “Masa hal begitu kau adukan juga pada Kaisar? Kau sembunyi di bawah meja, mana mungkin terlihat olehku? Jangan mengalihkan perhatian Kaisar! Aku kan tidak sengaja menginjakmu!”

Xiao Yanzi menyahut, “Ya.. Huang Erniang tidak sengaja menginjakku secara kejam…. Sekarang jari-jariku sakit sekali. Ditekuk pun tidak bisa…”

Qianlong berkata lembut, “Nanti diperiksa Tabib Hu, ya?”

“Baik!” sahut Xiao Yanzi riang, mengira sudah lolos dari interogasi. Tiba-tiba Qianlong berkata galak, “Xiao Yanzi! Jangan kira karena jarimu terluka, kau akan diampuni!”

Xiao Yanzi kaget, segera berlutut. Naas, tempurung lututnya membentur kursi Qianlong hingga dia meringis kesakitan. “Aiya! Aiya!”

“Kau kenapa lagi?” tanya Qianlong.

Mata Xiao Yanzi berlinangan karena rasa sakit. “Huang Ama, aku rasa, Ba Zi (ramalan nasib delapan karakter) saya pasti ciong – tidak cocok, dengan istana ini! Begitu masuk kemari aku sial terus. Luka sana-sini, dimarahi ini-itu. Aku… aku jadi lelah…”

Qianlong melihat Xiao Yanzi penuh rasa sayang, “Kau lelah? Menurutku, kaulah yang membuat seisi istana kelelahan dan kalang kabut.”

Qianlong mendesah. Dia menyuruh keempat anak muda itu berdiri.

“Kalian sudah besar, juga anggota keluarga kerajaan. Kalian harus tahu tata susila apa yang boleh serta tak boleh dilakukan. Jangan semuanya mengikuti Xiao Yanzi berbuat onar. Kalau aku menghukumnya, kalian akan sedih. Tapi kalau mendiamkannya, bukankah itu tak mendisiplinkan kalian?”

Qianlong menatap Xiao Yanzi. “Kau ini benar-benar membuatku pusing. Masalah negara telah membuatku khawatir tiada habisnya. Kini harus memikirkanmu pula… Lain kali, kalau mau keluar istana jangan menyamar jadi kasim lagi. Cukup laporkan pada Selir Ling. Kalau mau pergi ke Graha Xuexi, tak perlu sembunyi-sembunyi. Sejauh itu kerabat sendiri, boleh-boleh saja!”

Xiao Yanzi bertanya takut-takut. “Jadi, Huang Ama tak akan menghukumku?”

“Aku tidak akan menghukummu.”

“Mereka juga tak akan dihukum?” Xiao Yanzi melirik ke arah Yongqi, Erkang dan Ertai.

“Ya, semuanya tak akan dihukum.”

Permaisuri segera berkata tajam, “Kaisar! Sudah tak adakah peraturan di istana ini?”

Qianlong membujuk Permaisuri dengan membelai bahunya. “Jari Xiao Yanzi sudah terinjak olehmu. Lututnya sudah terantuk kursiku. Jadi anggap saja dia sudah dihukum. Ayolah, maafkanlah dia untukku.”

Xiao Yanzi gembira sekali. Dia memeluk Qianlong sambil berkata, “Huang Ama! Hati anda adalah paling lapang dan baik sedunia! Sewaktu masih menjadi rakyat jelata, aku pernah mendengar ungkapan, ‘Kalau Qianlong memerintah negara, bahkan cacing pun tak akan berani tumbuh di biji beras!’”

Qianlong terkejut mendengar ungkapan Xiao Yanzi. Yongqi, Erkang dan Ertai juga baru mendengar istilah itu sehingga agak bingung.

“Mengapa aku dihubungkan dengan cacing segala?” tanya Qianlong.

Xiao Yanzi berseri-seri. “Artinya, rakyat menganggap Huang Ama Kaisar terbaik! Negara kita pasti semakin jaya jika diperintah Huang Ama!”

“Benarkah ada perkataan seperti itu?” Qianlong terpana. “Ha ha! Kau benar-benar pandai merayu!” Qianlong menoleh ke arah Permaisuri. “Xiao Yanzi ini pelipur laraku yang paling indah. Aku sangat menyanyanginya. Permaisuri, kau jangan terlalu serius, ayolah ikut bergembira…”

Permaisuri jengkel bukan kepalang.

Xiao Yanzi, Yongqi, Erkang dan Ertai akhirnya keluar dari perpustakaan Kaisar. Erkang berkata, “Ajaib sekali kita bisa lolos dari bahaya…”

Tapi ketiga pemuda masih penasaran dengan ungkapan Xiao Yanzi: ‘Kalau Qianlong memerintah, bahkan cacing pun tak akan berani tumbuh di biji beras’. Yongqi menanyai Xiao Yanzi.

“Ungkapanmu tadi, apakah sungguh-sungguh ada atau cuma bohong?”

“Kalimat pertama memang ada,” jawab Xiao Yanzi. “Tapi kalimat berikutnya aku lupa – jadi aku mengarangnya”

Semua terperanjat. Ertai menyahut, “Pantas sewaktu mendengarnya, aku merasa aneh!”

“Kalau kalian mau tahu, tanyakanlah pada Ziwei.”

Sepulangnya di Graha Xuexi, Erkang dan Ertai tak dapat menahan diri dan segera menanyai Ziwei.

“Ungkapan Xiao Yanzi: ‘Kalau Qianlong memerintah, bahkan cacing pun tak akan berani tumbuh di biji beras’ – apa kau tahu artinya?”

Ziwei mendengarnya dan tertawa, “Sebenarnya, yang betul adalah: ‘Kalau Qianlong yang memerintah, negara pasti makmur sentosa!’”

Erkang dan Ertai benar-benar kagum. Xiao Yanzi, berani sekali bicara sembarangan! Meski ngawur, dia masih bisa membuat Kaisar terbahak-bahak mendengarnya.

***

Perasaan cinta Erkang terhadap Ziwei sungguh besar. Dia benar-benar serius terhadap Ziwei. Berharap dapat memperistrinya. Tapi masalahnya posisi Ziwei dan Xiao Yanzi belum kembali seperti semula. Dia tak bisa menikahi Ziwei begitu saja. Jika itu dilakukannya sebelum Ziwei jadi Gege dan pernikahan tersebut kelak dianulir oleh Kaisar, Ziwei pasti susah.

Erkang memikirkan jalan keluar untuk hal itu nyaris setiap hari. Membuat Fulun dan Fuqin cemas melihatnya. Keduanya berusaha menasihatinya Erkang agar jangan sampai bertindak gegabah. Bahkan, kedua orang tua itu meminta Erkang untuk berhenti menyukai Ziwei.

Tapi Erkang dan Ziwei terlanjur saling menyukai. Bagaimana mungkin mereka bisa berpisah? Diam-diam, Erkang memiliki gagasan lain. Dia ingin memasukkan Ziwei ke istana agar dapat bertemu Kaisar dan perlahan-lahan menjelaskan persoalan Putri asli dan Putri palsu.

Melihat nasihat mereka tak mampan kepada Erkang, Fuqin dan Fulun akhirnya bicara pada Ziwei. Intinya, mereka minta Ziwei mempertimbangkan nasib Erkang. Ziwei mengerti. Dia tak mau menyusahkan keluarga Fu dan Erkang lebih banyak lagi. Satu-satunya jalan dia dan Erkang harus berpisah. Tapi Erkang pasti tidak mengijinkan. Maka, suatu pagi, Ziwei dan Jinshuo meninggalkan Graha Xuexi tanpa pamit pada Erkang. Gadis itu hanya menulis sepucuk surat perpisahan.

“Erkang, aku pergi. Mohon maaf ribuan kali. Sekarang aku tak mengkhawatirkan Xiao Yanzi lagi. Aku berterima kasih atas kebaikanmu yang sangat besar. Berhari-hari bersamamu merupakan seseuatu yang belum pernah kurasakan seumur hidup. Kini aku memahami apa itu saling mencintai dan memuja selamanya. Kuminta kau jangan sedih. Aku pergi demi kebaikan kita semua. Aku selalu mendoakanmu. Tolong jaga Xiao Yanzi, ayah-ibumu dan juga Ertai.”

Setelah membaca surat itu, Erkang tenggelam dalam pencarian tiga hari tiga malam. Dia pergi ke rumah kumuh. Tapi Liu Qing dan Liu Hong mengaku tidak melihat Ziwei dan Jinshuo. Erkang mencari Ziwei hingga ke tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi di Beijing, tapi gadis itu tak ada. Dia seolah kehilangan jejak.

Akhirnya, Erkang tidak punya cara lain. Dia harus memberitahu Xiao Yanzi.

Xiao Yanzi langsung cemas begitu tahu Ziwei menghilang. Erkang mengutarakan kalau sudah akan berangkat ke Jinan mencari gadis itu.

“Apa kau lupa kalau dia sudah menjual rumahnya agar bisa ke Beijing?” tanya Xiao Yanzi. “Sejak dulu ibu Ziwei sudah putus hubungan dengan seluruh kerabatnya gara-gara mengandung anak di luar nikah. Kerabat mereka pun selalu menghinanya. Kalau Ziwei pulang ke Jinan, dia sudah tak punya keluarga. Jadi buat apa dia kembali ke sana?”

“Kalau begitu, kemungkinan di kemana? Aku sudah mendatangi rumah kumuh dan menanyai Liu Qing serta Liu Hong. Tapi keduanya bilang tifak pernah melihatnya!”

Xiao Yanzi menghentakkan kaki saking cemasnya. “Dia pernah bilang akan membiarkan diriku seterusnya jadi Gege. Tak kusangka sehabis itu dia akan pergi! Aku bodoh sekali! Seharusnya aku tak menurutinya!”

Xiao Yanzi menangis dan memukul dadanya sendiri. Yonqi dan Ertai yang juga berada di sana langsung menghibur Xiao Yanzi. “Kau jangan menyalahkan dirimu,” kata Ertai. “Sebenarnya Ziwei pergi gara-gara Erkang.”

Xiao Yanzi menatap Erkang dengan mata basah. “Kau menyuruhnya pergi? Kenapa?”

“Aku tidak pernah menyuruhnya pergi! Aku rela melepaskan segala kehormatan, status dan karirku demi dia! Kalau dia mau pergi jauh, akan kutemani dia membentuk bahtera kehidupan bersama!”

Xiao Yanzi terpana menatap Erkang. Kini dia tahu antara Erkang dan Ziwei ada sesuatu yang istimewa.

Yongqi segera menenangkan Erkang, “Biasanya kau yang paling bisa berpikir jernih. Kenapa sekarang justru kau yang paling panik? Paviliun Shuofang ini bukan tempat yang aman untuk bicara soal ini. Siapa tahu mata-mata Permaisuri sedang mengintai kita…”

Yongqi berpaling ke rah Xiao Yanzi, “Sekarang tolong beritahu kemana kira-kira Ziwei pergi. Atau Erkang jadi gila. Selain kau dan kedua bersaudara Liu itu, siapa lagi yang dikenalnya di Beijing?”

“Seingatku tak ada lagi,” jawab Xiao Yanzi. Dia berpikir sesaat lalu berkata, “Aku tidak percaya Liu Qing dan Liu Hong tidak tahu kemana Ziwei. Aku rasa, mereka membohongi Erkang.”

Tiba-tiba Xiao Yanzi mendapat ide. “Aku akan keluar istana dan menemui Liu Bersaudara. Aku pergi meminta ijin Selir Ling dulu. Kalian bertiga tunggu aku!”

Xiao Yanzi berlari ke istana Yanxi. Sesampainya di sana, dia buru-buru mengutarakan maksudnya.

“Kau mau kelluar istana sekarang?” tanya Selir Ling. Meski Kaisar memberinya kuasa untuk mengijinkan Xiao Yanzi keluar, tapi ini mendadak sekali…

“Ya! Aku mau sekarang! Cuaca sedang bagus. Aku akan keluar jalan-jalan sebentar lalu kembali,” desak Xiao Yanzi.

“Kau pergi dengan siapa?”

“Pangeran Kelima! Juga ada Erkang dan Ertai!”

Selir Ling terpana. Belakangan ini Xiao Yanzi sering sekali bersama kedua Bersaudara Fu. Dia curiga jangan-jangan Xiao Yanzi tertarik pada salah satu kakak-adik itu. Selir Ling mengira dia bisa membaca situasi. Kalau kelak Kaisar benar-benar menjodohkan Xiao Yanzi dengan salah satu keponakannya, bukankah itu sangat bagus?

“Baik. Suruh Xiao Dengzi dan Xiao Cuozi ikut mengiringmu. Ganti pakaianmu dengan pakaian biasa. Jangan lakukan sesuatu sendirian. Jangan pergi ke tempat sembarang. Sebelum makan malam, kau sudah harus kembali!”

“Ya! Ya!” Xiao Yanzi menyela sambil memberi hormat. Setelah itu dia berlari kembali ke Paviliun Shuofang.

***

Tak lama kemudian, Xiao Yanzi dan kawan-kawan meluncur di jalanan kota Beijing menuju rumah kumuh.

Xiao Yanzi menaiki kerta kuda bersama Yongqi, dikemudikan oleh kasim-kasim mereka. Erkang dan Ertai berkuda. Sesampainya di rumah kumuh, semua orang di sana terkejut sekaligus gembira melihatnya. Tapi Xiao Yanzi tak ada waktu untuk bernostalgia bersama mereka. dia langsung menemui Liu Qing dan Liu Hong.

“Katakan! Dimana Ziwei dan Jinshuo sekarang?”

“Kami tak tahu!” jawab Liu Qing. Dilihatnya Yongqi, Erkang dan Ertai. “Kau menghilang begitu lama, begitu datang langsung membawa orang-orang ini untuk diperkenalkan pada kami?”

“Mereka bertiga adalah sahabat sekalligus saudaraku! Ayo lekas katakan! Dimana kalian menyembunyikan Ziwei dan Jinshuo?”

“Siapa bilang kami menyembunyikan keduanya? Kami benar-benar tidak pernah melihat mereka!” seru Liu Qing.

Xiao Yanzi menghentakkan kaki. “Dasar pembohong! Kalian jelas-jelas tahu! Sekian lama aku mengenal kalian, aku bisa membaca gelagat kalian!Apa kalian kira ini membantu Ziwei? Sebaliknya, kalian sedang menjerumuskannya!”

Xiao Yanzi berpaling pada Liu Hong. Dengan intens menatapnya, “Liu Hong, apa kau mau Ziwei bersedih dan menangis terus sampai mati?”

Liu Hong menyerah. “Baiklah…, akan kuberitahu. Pergilah ke Bukit Gingko, di belakang kuil Dewa Tanah ada sebuah gubuk jerami…”

Liu Qing memarahi Liu Hong, “Kenapa kau tak bisa menjaga rahasia?”

Liu Hong menjawab, “Kakak, aku tidak tega melihat Ziwei putus asa…”

Xiao Yanzi dan kawan-kawan pun segera pergi ke tempat yang disebut Liu Hong. Tidak sulit menemukan gubuk jerami itu. tapi sesampainya di sana tak ada siapa pun di dalamnya.

“Liu Hong tak mungkin menipuku! Ziwei dan Jinshuo pasti ada di sekitar sini. Mari kita berpencar untuk mencari mereka!”

Erkang memperhatikan sekelilingnya. Di sekitar sini pasti ada lembah. Lembah yang indah… ada air terjun, sungai, juga pegunungan seperti Lembah Ketenangan. Dan Ziwei pasti berada di sana!

Erkang segera menaiki kudanya dan memacunya ke sana. Sementara Xiao Yanzi dan lain-lainnya berteriak memanggilnya.

***

Memang benar, Ziwei dan Jinshuo kini berada di sebuah lembah tak jauh dari sana. Lembah itu mirip Lembah Ketenangan. Pemandangannya indah.

Ziwei duduk di tepi sungai sambil memikirkan Erkang. Hatinya hancur karena patah hati. Kenapa harus bertemu kalau akhirnya berpisah? Apakah nasib ibu akan menurun pada putrinya? Dalam hidup hanya diijinkan bertemu sekali setelahnya tidak bisa berjumpa lagi. Ziwei teringat lagu yang biasa dinyanyikan ibunya: “Gunung yang nun jauh di sana. Sungai yang juga jauh disana. Gunung dan sungai yang jauh, jalan yang terbentang pun begitu jauh. Semalam aku berharap. Pagi ini kembali berharap. Berharap dan berharap, semangatku pun semakin pudar karenanya..”

Angin semilir bertiup. Sekonyong-konyong, terdengar ringkikan kuda. Ziwei menoleh. Dan dia nyaris tidak percaya. Erkang?! Sosok Erkang yang dikenalnya semakin dekat, dekat, makin dekat…

Jinshuo yang duduk tak jauh dari Ziwei terpana. Dia sungguh tak menyangka Erkang bisa menemukan mereka.

Kuda Erkang berhenti di depan Ziwei. Dia turun, memandangi Ziwei lama lalu mengembangkan kedua tangannya untuk memeluk gadis itu.

”Kau kejam sekali,” bisik Erkang. ”Hanya meninggalkan surat sependek itu. Tahukah kau aku begitu terpukul karenanya?”

Ziwei menitikkan air mata. ”Bagaimana… bagaimana kau bisa menemukanku?”

”Anggap saja, aku dan Xiao Yanzi punya firasat menemukanmu!” Erkang melepaskan pelukannya dan melihat Ziwei dalam-dalam. ”Sekarang katakan, apakah kau benar-benar ingin meninggalkanku?”

Perasaan Ziwei seperti terpillin-pilin. Dia berbisik di telinga Erkang, ”Hanya jika gunung tak lagi bertepi – langit dan bumi menyatu, barulah aku berani berpisah darimu…”

Erkang langsung mendekapnya kembali. ”Kalau kau sudah bilang begitu, kenapa kau masih ingin pergi? Nasib kita berada di tangan kita sendiri. Apa pun yang terjadi, tergantung pada usaha kita. Aku rela mempertaruhkan apapun demi memperjuangkan nasib kita!”

Ziwei menangis di pelukan Erkang sementara Jinshuo ikut terharu melihat keduanya.

***

Xiao Yanzi dan yang lainnya tengah menunggu di gubuk jerami. Mereka telah mencari di daerah sekitarnya tapi belum menemukan Ziwei maupun Jinshuo. Terpaksa, mereka menantikan kepulangan Erkang.

Lalu, terdengarlah derap kuda mendekat. Erkang muncul menunggang kuda bersama Ziwei. Sementara Jinshuo berjalan kaki tak jauh dari mereka.

Xiao Yanzi melompat kegirangan. ”Erkang berhasil menemukan Ziwei! Erkang berhasil!” Dilambai-lambaikannya saputangannya. ”Ziwei! Aku di sini!”

Ziwei juga balas melambaikan sapu tangannya di atas punggung kuda.

Yongqi menyaksikan pasangan itu menunggang kuda bersama tidak bisa menahan diri berkomentar, ”Keduanya seperti kekasih kasmaran dalam lukisan. Membuat orang lain yang melihatnya jadi iri.”

Ertai menyambung, ”Kalau bisa romantis begini, menderita pun banyak orang rela…”

Akhirnya Erkang, Ziwei dan Jinshuo sampai di hadapan Xiao Yanzi dan lain-lainnya. Xiao Yanzi langsung menarik Ziwei dan berkata marah.

”Kau ini kenapa? Menghilang begitu saja! Kau mau membuat kami mati ketakutan? Kau pernah menasihatiku ’kebahagiaan kita bagi bersama, kesukaran kita tanggung bersama’. Sekarang kalau kau memilih tinggal di gubuk ini. Baiklah! Kita akan tinggal bersama! Aku tak mau lagi pulang ke istana!”

Yongqi terkejut mendengar pernyataan Xiao Yanzi. ”Kau jangan sekali-kali mencelakakan Selir Ling! Dia yang bertanggung jawab mengijinkanmu keluar istana!”

”Aku tak peduli!”

Ertai menoleh ke arah Yongqi, ”Sudah kuduga, lama-lama, kita bakal kelimpungan oleh kedua Putri ini!”

Ziwei merasa tak enak hati. ”Aku sungguh minta maaf. Tak kusangka akan merepotkan kalian semua hingga seperti ini…”

Xiao Yanzi melihat Ziwei dan Erkang bergantian. ”Aku belum mengusut kalian! Sejak kapan kalian saling menyatakan perasaan masing-masing? Kenapa waktu aku ke Graha Xuexi malam itu kau tak memberitahuku, Ziwei?”

”Aku tidak mau bilang!” Ziwei menunduk malu. Mukanya merah.

Akhirnya mereka semua duduk-duduk di padang rumput di depan gubuk jerami. Yongqi menyuruh para kasim membawa kuda-kuda untuk merumput. Ketika tinggal mereka saja, Erkang berkata serius.

”Aku punya rencana yang harus kukatakan. Ini sudah kupikirkan sejak lama. Memang agak berbahaya, tapi kemungkinan ini bisa memecahkan kesulitan kita.”

”Aku ingin memasukkan Ziwei ke istana!”

Semua terkejut.

”Bagaimana caranya? Memangnya istana itu tempat yang mudah untuk dimasuki?” tanya Ertai.

”Rencana ini membutuhkan kerja sama Xiao Yanzi. Begini, sekarang ini Kaisar amat mengasihi Xiao Yanzi. Jadi kalau dia minta tambahan dayang lagi, pasti diijinkan. Xiao Yanzi tinggal memohon pada Selir Ling kalau sewaktu berkunjung ke Graha Xuexi telah menemukan pelayan wanita yang disukainya dan ingin membawanya ke istana. Aku juga akan meminta ibu untuk mempengaruhi Selir Ling. Kalau ini berhasil, Ziwei pasti bisa masuk istana!”

Lanjut Erkang, ”Setelah masuk istana, Kaisar pasti akan melihat Ziwei. Tunggu kesempatan yang tepat untuk mendekati Kaisar. Dan Kaisar akan menyadari pelan-pelan kalau ternyata Ziwei itu mirip dengan Xia Yuhe. Tapi karena Kaisar sudah terlanjur pula menyayangi Xiao Yanzi, dia tak akan tega menghukumnya. Harapanku, baik Putri yang asli maupun palsu bisa diterima olehnya.”

Ertai tidak setuju. Dia memprotes Erkang. ”Ini ruwet sekali! Sebenarnya tujuanmu adalah mengembalikan Xiao Yanzi dan Ziwei ke posisi masing-masing. Kalau Ziwei sudah jadi Gege, kau bisa dengan mudah minta dijodohkan dengannya. Ini bisa mencelakakan Xiao Yanzi. Terlalu berbahaya!”

Ziwei juga sependapat. ”Aku tak mau jika itu membahayakan Xiao Yanzi! Idemu tadi terlalu egois!”

”Ini tidak egois!” bantah Erkang. ”Kalau Ziwei bisa masuk istana, dia juga bisa membantu Xiao Yanzi. Xiao Yanzi tak lagi gelisah ingin keluar istana melulu untuk menemuinya. Ziwei juga bisa membantu kesulitan-kesulitan Xiao Yanzi dalam belajar dan hal lainnya. Lagipula, apakah Ziwei seumur hidup tak mau mengenal ayahnya? Apakah Xiao Yanzi tak ingin melepas penyamarannya?”

Xiao Yanzi langsung bersemangat. ”Memang lebih baik begitu! Tapi, kalau kau jadi dayangku, bukankah itu akan menyusahkanmu? Akan kukatakan saja kalau aku punya adik perempuan….”

Yongqi langsung memotong. ”Tidak boleh! Kaisar tahu Xia Yuhe cuma punya seorang putri, bagaimana kau bisa punya adik lagi? Menjadi dayang itu lebih mudah untuk masuk istana.”

Yongqi memikirkan kemungkinan lain. Jika Erkang bisa memperjuankan hubungannya dengan Ziwei sampai ke tahap ini, apakah dia, Sang Pnageran Kelima, juga bisa berharap punya hubungan istimewa dengan ……..?

”Kalau begitu kita harus melakukannya dengan sebaik-baiknya! Kita harus mengatur skenario untuk itu!” Tiba-tiba Yongqi jadi sama bersemangatnya dengan Erkang dan Xiao Yanzi.

”Aku menentang!” seru Ertai. ”Semua ini kalau sudah sampai di Xiao Yanzi pasti akan berantakan!”

Xiao Yanzi tersinggung. ”Bisakah kau percaya padaku? Kalau perlu, kalian tuliskan kata-katanya dan aku hapalkan satu-persatu! Aku juga sudah tidak tahan jadi Gege!”

Ziwei memandang semuanya. Sebenarnya, ini memang gagasan menarik baginya. Tapi tetap saja ia merasa terlalu berbahaya.

Melihatnya Ziwei lesu, Xiao Yanzi langsung memegang tangannya sambil berkata, ”Jangan terlalu cengeng! Ini gagasan yang hebat! Kalau sukses, ayahmu akan kembali dan kepalaku selamat. Ziwei, kumohon padamu, setujulah. Daripada aku tinggal di gubuk ini bersamamu, lebih baik kau yang tinggal di istana bersamaku!”

Ziwei terpengaruh perkataan Xiao Yanzi. Dia akhirnya mengangguk setuju.

Jinshuo yang sejak tadi diam mendengarkan, tiba-tiba berkata, ”Xiao Yanzi, aku dan Nona tak dapat dipisahkan! Kau juga harus membawaku masuk istana!”

Ertai melihat mereka semua dengan tak percaya. ”Kalian semua cari mati! Semua sudah gila! Baiklah, kalau memang begitu, mari kita gila bersama-sama!”

Demikianlah mereka memutuskan Ziwei dan Jinshuo masuk istana.

***

Xiao Yanzi tak menunda-nuda lagi. Keesokan harinya, dia langsung menemui Selir Ling dan memohon tambahan dua dayang baru.

”Tambah dua dayang lagi memang tidak sulit. Tapi…,” Selir Ling kebingungan. ”Kau cuma seorang diri di Paviliun Shuofang. Apakah Mingyue dan Caixia tak cukup baik melayanimu?”

Xiao Yanzi menjawab, ”Sebenarnya aku hanya ingin mereka untuk menghilangkan kesunyian hati. Kalau keduanya sudah masuk, aku janji tak akan ribut keluar istana lagi. Ayolah Selir Ling, aku tahu Anda sangat menyayangiku. Kalau ada makanan enak dan baju bagus, Anda selalu memebrikannya padaku. Kalau Huang Erniang memarahiku, Anda selalu membela. Kumohon, jika ingin memanjakanku, manjakanlah setuntas-tuntasnya! Berikan aku kedua dayang ini, ya?”

”Baiklah. Dua orang dayang yang mana?” tanya Selir Ling.

”Mereka adalah pelayan di Graha Xuexi. Yang satu bernama Ziwei, satunya lagi bernama Jinshuo.”

”Rumah Fulun? Kau amat dekat dengan keluarga mereka, ya?” Selir Ling curiga.

”Pokoknya kedua dayang itu baik sekali. Singkatnya, aku menganggap mereka seperti saudara sendiri. Kalau istana tak sanggup membayar gaji mereka, biar aku yang membayar. Kepingan perak dari Huang Ama belum habis kupakai.”

”Baiklah, masalah ini akan kupertimbangkan dahulu,” kata Selir Ling.

Selir Ling lalu memanggil Fuqin ke istana. Fuqin yang telah sepakat dengan suami dan putranya menjawab segala pertanyaan Selir Ling dengan mantap dan masuk akal.

”Kedua gadis itu sebenarnya saudara angkat Putri Huanzhu ketika masih menjadi rakyat jelata. Setelah dia masuk istana, dia meminta Ertai menjaga kedua gadis itu. Begitu melihat mereka, saya langsung menyukai keduanya. Maka dari itu, mereka saya ajak tinggal di Graha Xuexi membantu urusan rumah tangga. Putri Huanzhu jika datang ke kediaman saya, pasti menemui mereka berdua.”

”Oh begitu? Kenapa dia tidak pernah bercerita begitu padaku? Jadi tempo hari dia menyelinap keluar istana ke Graha Xuexi, hanya untuk menemui kedua gadis ini?”

”Ya. Karena hubungan ketiganya sangat erat. Saya melihat sendiri keakraban mereka.”

”Baiklah,” Selir Ling akhirnya menyetujui. ”Dua hari lagi, bawalah mereka ke istana!”

***

Sungguh di luar dugaan, tahap awal rencana Erkang berjalan mulus. Dua hari kemudian, Fuqin benar-nemar membawa Ziwei dan Jinshuo ke istana.

Selir Ling menerima mereka di istana Yanxi. Kedua gadis itu memberi salam seperti yang diajarkan Fuqin. Dan ketika melihat keduanya, mau tak mau Selir Ling memuji.

”Benar-benar cantik dan molek!”

Selir Ling lalu menanyai umur Ziwei dan Jinshuo. Dia lalu memberi wejangan, ”Kalian masuk atas rekomendasi Putri Huanzhu, jadi tidak perlu melalui pelatihan dayang resmi. Tapi kalian harus memahami peraturan istana. Di Paviliun Shuofang, kalian harus hormat pada Putri. Istana ini merupakan kompleks yang sangat besar. Selain Paviliun Shuofang, tempat lain tidak boleh sembarangan kalian kunjungi. Karena jika kalian tertimpa masalah di tempat lain, belum tentu ada orang yang dapat membantu kalian. Apa kalian paham?”

Ziwei bersujud dan berkata, ”Hamba memahami petunjuk Selir Ling. Hamba pasti mematuhi aturan, dan membatasi diri.”

Selir Ling melihat Ziwei dengan seksama. Menurutnya, cara bicara Ziwei tidak sederhana. Gadis ini sepertinya cerdas dan berpendidikan.

Xiao Yanzi sudah tak sabar hendak membawa Ziwei dan Jinshuo ke Paviliun Shuofang.

”Yang Mulia Selir Ling, apakah Anda sudah selesai? Peraturan lain biar aku yang ajarkan pada mereka…”

Selir Ling membelalakkan mata ke arah Xiao Yanzi. ”Kau yang mengajar? Bahkan kau pun masih harus diajar!”

Saat mereka tengah berbincang-bincang seperti itu tiba-tiba terdengar seruan kasim, ”Kaisar tiba!”

Xiao Yanzi, Ziwei, Jinshuo dan Fuqin terkejut. Terutama Ziwei. Dia merasa kepalanya berdentum. Dia baru saja masuk istana dan sudah bisa langsung berjumpa Kaisar? Ya Tuhan… Jantungnya berdegup kencang.

Ziwei mengangkat mukanya sedikit… Yang dilihatnya, ayahnya tengah memasuki aula dengan langkah tegap penuh wibawa….

Bersambung

Written by: merlin

Iklan

8 pemikiran pada “[Sinopsis Novel] Putri Huan Zhu/ Huan Zhu Ge Ge 1 Bagian 7

  1. Ertai say “Kalian semua cari mati! Semua sudah gila! Baiklah, kalau memang begitu, mari kita gila bersama sama!”

    Iya say “yuk mari, Iya jg bs ikut gila krna ketawa ketiwi sendirian baca PHZ.. Xixixixi… ^____^)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s