[Sinopsis Novel] Putri Huan Zhu/ Huan Zhu GeGe II Bagian 3

Judul Asli : Huan Zhu Ge Ge II-1: Feng Yu Zhai Chi
Pengarang : Chiung Yao (Qiong Yao)
Penerbit : Crown Publishing Co., Taipei – Thaiwan.

Judul Bahasa Indonesia: Putri Huan Zhu II-1: Badai Kembali Menerjang
Alih bahasa : Pangesti A. Bernardus (koordinator), Yasmin Kania Dewi, Tutut Bintoro
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, April 2000 (Cetakan kedua)

Cerita Sebelumnya:
Tak diduga oleh Xiao Yanzi dan kawan-kawan, rupanya Hanxiang dan Meng Dan adalah sepasang kekasih. Mereka terpaksa berpisah karena Hanxiang harus melaksanakan misi menjadi ‘upeti’ perdamaian bagi Kaisar Qianlong. Iba dengan kisah mereka, Xiao Yanzi dan Ziwei mulai berkawa dengan Hanxiang. Mereka diam-diam menyelundupkan surat-surat sepasang kekasih itu. Hingga suatu malam, Qianlong datang ke Graha Baoyue – tepat saat Hanxiang baru selesai membaca surat Meng Dan….

III

“Kalian bertiga sedang apa?” tanya Qianlong dengan penasaran. Dia sama sekali tidak berminat dengan sepucuk surat dalam bahasa Arab yang tergeletak di kakinya.

Xiao Yanzi cemas menatap surat itu. Menjawab terbata-bata, “Menari…, menari…”

Ziwei juga menatap surat itu dengan jiwa melayang. Dia membeo mengikuti Xiao Yanzi, “Menari…, menari…”

Qianlong merasa heran. Dipandanginya Hanxiang. Wajah Hanxiang tampak bercahaya. Pipinya bersemu dan matanya bersinar. Sungguh cantik bukan main.

“Kalian sedang senang, ya? Kalau begitu, jangan sampai aku merusaknya. Silakan lanjut menari.”

“Baiklah!” sahut Xiao Yanzi. Lalu dia pun berputar-putar dengan cepat ke hadapan Qianlong, menabraknya dan duduk tepat di atas surat yang terjatuh itu.

Qianlong membelalakkan mata. “Tarianmu aneh sekali! Sepertinya berlebihan!”

Xiao Yanzi terengah-engah, “Aku kan baru belajar tarian Hui, jadi belum menguasainya dengan baik…”

“Bangkitlah!”

“Tidak… Aku belum mau berdiri…”

Ziwei dan Hanxiang tegang.

Buru-buru, Ziwei menghampiri Qianlong. Digandengnya tangan Qianlong dan membawanya ke dekat jendela untuk menjauhi surat itu. Ziwei tertawa-tawa sambil menceritakan sebuah lelucon tentang kelinci.

Sementara Ziwei bercerita dan perhatian Qianlong terpusat padanya, Xiao Yanzi sibuk mengurus surat itu. Hanxiang menunjuk sana-sini untuk menyembunyikan surat itu. Tapi tak satu tempat pun yang dirasa Xiao Yanzi aman padahal cerita Ziwei sudah hampir selesai.

Akhirnya, Xiao Yanzi mengulang tindakan yang pernah dilakukannya: memakan kertas!

Usai mendengar lelucon Ziwei, Qianlong terbahak-bahak. Dia berpaling pada Hanxiang, “Cerita Ziwei lucu sekali. Apa Selir Xiang memahaminya?”

Hanxiang buru-buru menjawab, “Paham! Ceritanya memang lucu…”

Qianlong merasa senang. Lalu dilihatnya Xiao Yanzi yang sibuk mengunyah dan menelan.

“Xiao Yanzi, kau sedang makan apa?”

Xiao Yanzi menjulurkan leher. Menelan dengan susah payah lalu berkata getir, “Huang Ama, akhir-akhir ini aku sedang sial! Selalu saja makan yang aneh-aneh. Siapa tahu aku akan menjadi seekor kelinci. Kelinci kan pemakan segalanya…”

Qianlong mengira Xiao Yanzi sedang bercanda. Jadi dia pun terbahak-bahak. Melihat Kaisar tertawa, ketegangan ketiga gadis mengendur. Ketiganya pun ikut tertawa.

Pada saat suara tawa tengah berlangsung, masuklah seorang kasim melapor.

“Selamat bagi Kaisar! Semoga Paduka panjang umur hingga puluhan ribu tahun! Selir Ling baru saja melahirkan seorang pangeran!”

“Benarkan?” Qianlong terpana. “Seorang Pangeran?”

“Benar Yang Mulia! Sekarang Lao Foye pun telah menuju Istana Yanxi!”

Qianlong tertawa senang. “Ha ha! Lagi-lagi aku punya putra!”

Xiao Yanzi dan Ziwei saling bertukar pandang. Mereka lalu mengucapkan selamat dengan tulus pada Qianlong.

***

Putra yang dilahirkan Selir Ling bernama Yongyan. Dia dipanggil Pangeran Kelima Belas.

Qianlong berusia lima puluh ketika Pangeran Kelima Belas lahir. Jadi dia merasa gembira sekali. Setelah sebelumnya melahirkan dua putri, kini kedudukan Selir Ling tidak seperti Selir biasa lagi. Istana Yanxi pun menjadi perbincangan hangat di Kota Terlarang. Ibu Suri, Qianlong serta keluarga Kaisar yang lain berdatangan ke Istana Yanxi dan mengirim hadiah ini-itu.

Qianlong untuk sementara meninggalkan Hanxiang. Dia lebih sering tinggal di istana Yanxi menengok putranya dan Selir Ling.

Istana Yanxi yang diliputi kegembiraan menimbulkan kebencian Permaisuri. Di istana Kunning yang sunyi, Permaisuri kesepian ditemani Bibi Rong.

“Selir Ling ini…, semula hanya wanita kesayangan Kaisar. Kini dia begitu populer usai melahirkan anak laki-laki. Dulu ketika aku melahirkan Pangeran Kedua Belas, Kaisar tidak segembira itu!”

Bibi Rong juga berkeluh-kesah. “Kelahiran putra Selir Ling ini sungguh tidak membawa keberuntungan!”

Semakin dipikir, Permaisuri semakin gusar. “Sial sekali! Jarum yang satu belum dikeluarkan, muncul lagi jarum baru! Bagaimana pula dengan Selir Xiang? Kelihatannya, Xiao Yanzi dan Ziwei mulai akrab dengannya. Bukankah keduanya putri kesayangan Selir Ling? Kenapa mereka bisa dekat dengan Selir Xiang? Sebenarnya mereka hendak mencari muka ke berapa banyak orang, sih?”

“Kedua gadis itu benar-benar banyak akal! Yang Mulia jangan meremehkan mereka! Selir Xiang sepanjang hari mengurung diri di Graha Baoyue. Tidak pernah bergaul dengan siapa pun. Tapi aneh sekali dia bisa akrab dengan kedua Putri. Hamba dengar kalau Graha Baoyue sekarang sudah seperti Paviliun Shuofang. Kedua Putri bersama Selir Xiang sering minum arak lalu menari!”

“Begitukah?”

“Kedua Putri ini…,” Bibi Rong melanjutkan dengan muram. “Mereka berhasil merebut perhatian banyak orang. Bahkan, Putri Qing pun kini diam-diam menolong mereka. Hamba khawatir, Lao Foye yang sekarang membenci keduanya, kelak juga akan menyukai mereka!”

“Hamba mendengar tentang sekte Teratai Putih yang memiliki ilmu sihir untuk menghipnotis orang. Menurut Yang Mulia, apakah kedua Putri merupakan penyihir dari aliran tersebut?”

Permaisuri terperanjat. “Dulu ketika Kaisar hampir terbunuh, Ziwei-lah yang melindungi Kaisar sehingga terkena tikaman pisau. Para penyerang itu berasal dari Aliran Dacheng yang merupakan sisa-sisa dari Sekte Teratai Putih. Apakah mungkin, kedua Putri juga merupakan anggota Sekte tersebut yang menyusup ke istana?”

Permaisuri merasa gentar. Bibi Rong berkata, “Bukalah mata Anda lebar-lebar. Kedua gadis ini harus segera dibereskan…”

***

Sementara itu, Qianlong masih bingung menghadapi Hanxiang.

Semenjak Hanxiang memasuki haremnya, Kaisar sama sekali belum pernah menyentuhnya. Sikap Hanxiang begitu dingin, membuat Qianlong semakin penasaran padanya.

Qianlong mencoba menaklukkan hati Hanxiang dengan berbagai cara. Dia menghadiahkan aneka barang berharga yang indah-idah. Tapi Hanxiang masih sedingin es, keras seperti batu.

“Selir Xiang, kau bisa tersenyum dan tertawa pada Ziwei dan Xiao Yanzi. Tapi kenapa kau tidak mau tertawa padaku? Tahukah kau di istana ini ada berapa banyak wanita yang hidupnya hanya melayaniku?”

Hanxiang menjawab dengna berani, “Kalau begitu, perlu ada satu orang yang berbeda dari wanita-wanita itu!”

“Kau sudah cukup berbeda,” ujar Qianlong. “Aku sedang tidak ingin marah padamu. Tapi jangan menguji hingga kesabaranku habis!”

“Aku lebih pantas disebut hadiah daripada wanita. Hadiah itu bisa Yang Mulia buang, dimusnahkan atau diabaikan. Jika menganggapku sebagai wanita, tolong hormati aku sebagai wanita. Biarkan aku memiliki keinginan sendiri. Ijinkan aku berkata ‘tidak’ pada Anda!”

“Nekat sekali kau! Tidak tahukah kau kalau di negeri ini tak seorang pun berani berkata ‘tidak’ padaku? Kenapa kau mengira aku bisa memberi hak semacam itu padamu?”

Hanxiang menjawab, “Seorang pria sejati pasti akan memiliki toleransi, pikiran yang luas serta sikap ksatria. Jika Anda seorang pria sejati, Anda pasti memiliki ketiganya.”

Qianlong menatap Hanxaing dengan seksama. “Cerdas sekali! Kau sangat cerdas. Semakin lama, aku semakin suka mengikuti permainanmu!”

“Baiklah! Aku akan mengijinkanmu hidup dengan terhormat. Aku mengijinkanmu berkata ‘tidak’! Aku sangat berminat padamu! Kau yang begitu cantik, bermartabat, dingin sekaligus angkuh. Tapi di dasar hatimu pasti juga ada cinta. Seumur hidupku, baru kali ini aku bertemu dengan wanita sepertimu yang tidak mau menyerah begitu saja! Kau adalah tantanganku! Kita lihat, sampai berapa lama kau sanggup bertahan?”

“Jika suatu hari kau telah bersedia menerimaku, kuharap saat itu kau masih mempertahankan keangkuhan yang seperti ini!”

Qianlong sepakat kalau dia tak akan memaksa Hanxiang untuk tunduk padanya. Ini adalah hal yang langka. Hanxiang menjadi satu-satunya Selir Qianlong yang memperoleh ijin tidak lazim seperti ini.

***

Sejak Selir Ling melahirkan, perhatiannya terpusat pada putranya.

Xiao Yanzi dan Ziwei telah beberapa kali mohon ijin untuk keluar istana. tapi Selir Ling menolak karena khawatir Ibu Suri akan marah. Dia tidak ingin masa-masa indah kelahiran putranya rusak karena kemurkaan Ibu Suri.

Akhirnya, suatu hari, Xiao Yanzi nekat keluar bersama Ziwei dan Jinshuo dengan menyamar sebagai kasim. Mereka menyelinap keluar istana bersama Erkang dan Yongqi.

Mereka pergi ke Graha Huipin untuk menemui Liu Qing dan Liu Hong. Sekalian menjenguk Meng Dan. Di sana mereka duduk untuk waktu yang lama sambil mendengar kisah cinta Meng Dan-Hanxiang yang ternyata sudah pernah mencoba melarikan diri sebanyak tujuh kali!

Xiao Yanzi dan kawan-kawan begitu asyik mendengar cerita Meng Dan sehingga lupa segera kembali. Mereka tidak tahu kalau di Paviliun Shuofang telah terjadi perubahan besar…

Xiao Yanzi, Ziwei dan Jinshuo kembali ke Paviliun Shuofang dengan mengendap-endap. Melihat halaman sepi, dengan cepat Xiao Yanzi langsung menerobos ke aula. Rupanya dia menabrak seorang kasim. Ditengadahkannya kepala untuk melihat. Mimpi buruk! Di aula sudah duduk Ibu Suri, Permaisuri bersama sebaris dayang dan kasim di belakang mereka!

Xiao Yanzi melihat ke arah lain dan mendapati semua pelayan Paviliun Shuofang tengah berlutut, hampir menangis dan gemetaran.

“Lao Foye! Mengapa Anda… bisa berada di sini?”

“Kalian semua…,” Ibu Suri berkata dingin. “Kalian habis dari mana sehingga berdandan seperti ini? Baru kembali dari ‘melihat Dewi Guanyin Pusa’, ya?”

Xiao Yanzi tidak berani sembarang menjawab. Erkang pun maju.

“Duli Lao Foye…”

“Erkang! Kau tak perlu susah payah menolong mereka! Selama ini kau pemuda yang kusukai. Aku selalu menganggapmu cerdas dan pandai. Sekarang kau berubah menjadi sembrono. Benar-benar membuatku kecewa!”

Erkang terpana. Dia menunduk malu, “Apa yang dikatakan Lao Foye memang benar. Hamba mengaku salah!”

Ibu Suri meninggikan suaranya. “Dua orang Putri! Seorang Pangeran serta satu pejabat keamanan istana – semuanya memiliki status yang terhormat. Tapi kalian melakukan sandiwara seperti ini! Kalian ini tidak bisa dimarahi atau dihukum!”

Ibu Suri bangkit dari kursinya dan menghampiri Jinshuo. “Kau pelayan yang dibawa Ziwei? Namamu Jinshuo, kan?”

Jinshuo terkejut. Dia menjawab ketakutan, “Benar… Hamba Jinshuo…”

“Berlutut!” perintah Ibu Suri dengan penuh wibawa. “Bibi Rong! Bibi Gui! Pukul budak ini!”

“Siap!” kedua Bibi maju dan mengayunkan kemoceng sekeras-kerasnya memukul Jinshuo.

Ziwei langsung luluh lantak melihat Jinshuo yang menjerit-jerit. Dia menghambur dan memeluk Jinshuo. “Mohon belas kasihan! Jangan memukul Jinshuo! Kami sudaj ibarat saudara sendiri!”

Ibu Suri berkata, “Kalau majikan melakukan kesalahan, semua itu karena budaknya yang bodoh ndan tidak bisa menasihati. Aku tidak menghukum para Putri. Tapi semua budak ini harus dipukul!”

Para Bibi lainnya maju dan mulai memukuli Mingyue dan Caixia. Xiao Yanzi tidak tahan lagi. Dia melompat berdiri dan merampas kemoceng-kemoceng yang dipakai untuk memukul itu.

“Xiao Yanzi! Jangan!” Yongqi berseru mengingatkan.

“Xiao Yanzi!” seru Ibu Suri. “Kalau kau berani melawanku, aku akan membuang ketiga dayang ini! Seumur hidupmu, kau tak akan melihat mereka lagi!”

Xiao Yanzi terperanjat. Dia buru-buru mengurungkan langkahnya. Dia hanya mampu menatap Ibu Suri dengan wajah pucat.

Permaisuri seperti berada di atas angin. Dia berkata pongah, “Ziwei dan Xiao Yanzi telah membawa semua kebiasaan rakyat jelata mereka ke istana ini sehingga merusak kelakuan Fu Erkang dan Pengeran Kelima. Sudah begitu, mereka masih tak tahu malu!”

Ibu Suri menyambung penuh wibawa, “Benar! Kelihatannya kedua Putri ini semakin bodoh saja! Sekarang tak seorangpun boleh menghalagiku! Bibi Rong! Bibi Gui! Pukul semua dayang ini!”

Para Bibi kembali menyabet kemoceng memukul Jinshuo, Mingyue dan Caixia. Melihat hal demikian, Xiao Yanzi tidak tahan lagi. Dia langsung melesat dan merangkul Mingyue serta Caixia.

“Siapa yang mau memukul mereka, harus memukulku juga!”

Ibu Suri marah sekali. “Baiklah! Tak perlu basa-basi lagi! Pukul mereka semua!”

Kemoceng para Bibi pun mengayun mengenai ketiga dayang dan kedua putri. Jinshuo, Mingyue dan Caixia masing-masing berusaha melindungi Ziwei dan Xiao Yanzi. Begitu pula sebaliknya.

Melihat semua itu, Erkang memberi isyarat pada Yongqi. Yongqi memahaminya, dia pun lekas-lekas berbalik hendak pergi. Tapi ketahuan Ibu Suri yang berseru, “Yongqi! Kau ingin mencari Huang Ama untuk minta bantuan? Kau tidak boleh meninggalkan ruangan ini!”

Yongqi diam di tempat. Hanya bisa menggertakkan rahangnya.

Belakangan, bukan hanya para gadis di Paviliun Shuofang yang dipukul. Para kasim juga. Ibu Suri memerintahkan pengawal untuk menyeret Xiao Dengzi dan Xiao Cuozi ke halaman untuk dipukul dengan tongkat masing-masing lima puluh kali.

Ibu Suri sama sekali tidak memedulikan pekik kesakitan serta permohonan dari penghuni-penghuni Paviliun Shuofang. Permaisuri gembira sekali. Sedang para dayang, terutama Bibi Rong, bisa melampiaskan stress mereka karena seumur hidup tinggal di dalam kungkungan tembok istana.

Tiba-tia terdengar seruan seorang kasim yang mengumumkan, “Paduka Kaisar tiba!”

Para Bibi berhenti memukul. Ibu Suri dan Permaisuri memutar kepala ke arah Qianlong.

Qianlong telah berjalan memasuki Paviliun Shuofang. Xiao Yanzi langsung merangkak ke arahnya, menangis minta tolong.

“Huang Ama… Huang Ama….”

Melihat seluruh penghuni Paviliun Shuofang yang kena pukul, Qianlong sangat terkejut. Dia lalu berkata pada Ibu Suri, “Huang Thaihou, mengapa anda semarah ini? Memukul budak memang adalah hal biasa – tapi kalau mereka sampai terluka, bisa jadi masalah besar! Pangeran Kelima Belas belum genap sebulan. Mohon Huang Thaihou berbelas kasihan demi Pangeran Kelima Belas!”

(Orang China percaya kalau bayi yang belum berumur sebulan, rohnya masih rentan. Ketika tertidur, roh bayi akan melanglang buana menyusuri kediaman barunya. Tidak boleh ada keributan yang mengejutkannya. Juga tidak boleh sembarangan membongkar rumah, memindahkan barang besar dan membersihkan langit-langit).

Kalimat Qianlong menyadarkan Ibu Suri. Dia pun melambaikan tangan. “Baiklah! Jangan pukul lagi!”

Para dayang dan pengawal tidak lanjut memukul lagi. Qianlong lalu berkata pada Ibu Suri, “Ananda akan mengantar Huang Thaihou kembali ke Istana Zhuning. Biarlah mereka ini kita hukum lain kali.”

Ibu Suri dan Permaisuri mengikuti Qianlong. Yongqi dan Erkang juga tak berani tinggal lama. Mereka terpaksa ikut pergi.

Setelah rombongan Kaisar pergi, Xiao Yanzi terhuyung-huyung dan menangis tersedu-sedu, “Aku minta maaf… Aku telah mencelakakan kalian! Aku telah mencelakakan kalian!”

Para dayang dan kasim berhamburan menghampirinya. “Putri, jangan sedih. Kami belum mati, kok!”

Mendengar perkataan itu, Xiao Yanzi terpaksa menangis sambil tertawa.

Ziwei pakhirnya berkata, “Ayo lekas ambil obat. Kita obati luka-luka kalian!”

***

Setelah rombongan Qianlong pergi, Yongqi dan Erkang berulang kali menolehkan kepala ke Paviliun Shuofang.

Keduanya ingin sekali menengok keadaan Xiao Yanzi dan Ziwei. Tapi sewaktu mereka hendak kesana, seseorang melesat menghadang mereka.

“Kalau aku jadi kalian, aku tak akan kembali ke Paviliun Shuofang sekarang!” kata orang itu yang ternyata adalah Qing’er. “Mata-mata Permaisuri masih mengawasi Paviliun Shuofang. coba pikir, kenapa setiap kalia ada hal-hal mencurigakan di Paviliun Shuofang, Lao Foye bisa langsung tahu?”

“Qing’er!” seru Erkang. “Kaukah yang memanggil Kaisar? Daritadi aku berpikir, seseorang pasti telah memanggil Yang Mulia ke Paviliun Shuofang – tidak mungkin Beliaiu punya indra keenam sampai bisa datang sendiri.”

Qing’er mengangguk. “Aku tadi memang ke Paviliun Shuofang mencari Lao Foye. Tapi baru sampai di gerbang kulihat para Bibi dan pengawal memukul. Aku juga mendengar kalau Pangeran Kelima gagal mencari pertolongan. Jadi aku berinisiatif pergi mencari Yang Mulia!”

Yongqi menyoja Qing’er. “Rupanya kaulah penolong kami… Qing’er, terima kasih banyak!”

“Tidak perlu begitu. Aku melakukan semua ini demi ‘kesetiaan’ pada seseorang…,” Qing’er menatap Erkang. “Kau sudah berutang budi padaku beberapa kali. Kelak bagaimana kau membalasku, hm?”

Erkang menjawab dengan jujur, “Kelak jika kau butuh bantuanku, katakan saja! Aku rela melakukannya untukmu sekalipun akan menghancurkan tubuh dan tulangku!”

Qing’er tertawa kecil. “Hati-hati dengan bicaramu, Erkang! aku sama sekali tidak ingin tubuh dan tulangmu hancur. Hutang budimu akan kuingat. Kelak aku akan menagihnya darimu!”

Qing’er mengedarkan pandangannya berkeliling. “Aku harus kembali ke Istana Zhuning. Jangan sampai Lao Foye tahu akulah yang melapor pada Kaisar.”

Qing’er berlalu. Mendengar perkataan Qing’er tadi, Yongqi dan Erkang pun mengurungkan niat ke Paviliun Shuofang.

***

Keesokan harinya, Qianlong memanggil Erkang dan Yongqi untuk membicarakan masalah Ziwei dan Xiao Yanzi.

“Xiao Yanzi dan Ziwei terlalu banyak masalah! Kenapa kalian berdua tidak menasihati melainkan ikut membantu mereka berbuat keonaran? Keributan kemarin menyebabkan semua pelayan Paviliun Shuofang dipukuli. Kalau begini terus, bagaimana kita semua bisa tenang?”

Yongqi dan Erkang tak bisa berkata apa-apa. Dalam hati mereka bergolak. Tapi mereka tak boleh gegabah. Pemukulan di Paviliun Shuofang kemarin bisa memancing kecurigaan terhadap tujuan mereka keluar istana. Kalau saja tidak ada masalah Meng Dan dan Hanxiang, hal ini pasti tidak akan terjadi.

Qianlong mendesah. “Kelihatannya, Lao Foye sudah terlanjur bernggapan buruk terhadap Ziwei dan Xiao Yanzi. Walaupun aku telah mengatakan hal-hal baik tentang mereka berdua. Posisi Ziwei dan Xiao Yanzi saat ini sulit. Jika kalian tidak membantu mereka, aku khawatir, rencana pernikahan kalian tak bisa terlaksana.”

Erkang dan Yongqi terkejut. Qianlong berkata lagi, “Lao Foye menganggap Xiao Yanzi tidak berpendidikan. Pengetahuannya sama sekali tak ada kemajuan. Dalam bicara pun, dia sering menyalah artikan kalimat.”

“Sedang Ziwei, Lao Foye yang memegang teguh tata krama dan kesopanan menganggapnya sebagai aib….” Qianlong tampak merenung. Lalu tiba-tiba melontarkan perkataan ini pada Erkang,

“Menurutmu, bagaimana kalau kau diberi dua gadis sekaligus? Dua-duanya cantik dan berbudi.”

Erkang terpana. “Maksud Yang Mulia?”

Qianlong merubah pertanyaannya. “Menurutmu, apakah Ziwei dan Qing’er bisa hidup rukun sebagai istri-istrimu?”

Erkang sangat terkejut. Dia terhenyak, mundur ke belakang.

“Yang Mulia,” kata Erkang kemudian. “Hamba dan Ziwei telah berjanji untuk sehidup-semati. Dia adalah satu-satunya gadis yang hamba cintai. Hamba tidak berani menyakiti Putri Qing. Juga tidak bisa menduakan Ziwei. Mohon Yang Mulia memahaminya!”

“Aku sangat memahaminya. Kebahagiaan Ziwei juga merupakan perhatian utamaku,” tukas Qianlong. “Tapi dalam hidup, kita sering menghadapi pilihan. Akan lebih baik kalau kedua gadis itu bisa hidup bersama sebagai istri-istrimu. Lagi pula, di lingkungan kerajaan, pria mana yang tidak memiliki banyak istri dan Selir?”

Erkang menyoja Qianlong dalam-dalam. “Yang Mulia, meski kerabat istana banyak yang memiliki banyak istri, hamba tidak bisa seperti itu. hamba hanya menginginkan Ziwei. Hamba sungguh tidak dapat membagi perasaan hamba kepada beberapa wanita!”

Kali ini, Qianlong yang terpana. Dia menatap Erkang dengan gundah lalu mengibaskan tangan.

“Baiklah. Kalian boleh pergi. Aku akan memikirkan cara lain. Tapi Ziwei dan Xiao Yanzi harus tetap bersikap baik di hadapan Lao Foye. Coba lihat Qing’er. Kenapa dia selalu berhasil mengambil hati Lao Foye?”

Keluar dari ruangan Qianlong, perasaan Yongqi dan Erkang kacau. Keduanya saling mengeluh.

“Kenapa Yang Mulia bisa punya usul untuk memberiku dua istri? Aku sungguh tak mengerti…”

“Siapa suruh kau begitu tampan, pintar dan disukai banyak orang?”

“Jangan mengejekku! Aku ini sudah cemas setengah mati!”

“Kenapa kau harus cemas? Akulah yang sepantasnya begitu.”

Yongqi menghela napas. “Menurutku kau hebat! Diperebutkan dua wanita. Masalah Xiao Yanzi justru lebih besar dari masalahmu. Coba lihat, mana ada harapan Xiao Yanzi untuk belajar menjadi ‘wanita berpendidikan’?”

Erkang menukas, “Kau tak usah khawatir! Xiao Yanzi itu sebenarnya cerdas. Apalagi dia selalu bersama Ziwei. Sebaiknya mulai sekarang, setiap kali mendengarnya salah menafsirkan kalimat apalagi peribahasa, harus ada seseorang yang mengoreksinya. Selain itu, dia juga harus diberi pelajaran kosakata tambahan.”

Yongqi mengangguk. “Benar juga. Xiao Yanzi harus diberi pelajaran tambahan dengan disiplin. Buku kumpulan peribahasaku sudah hampir selesai. Aku harus mulai mengajarinya peribahasa.”

“Masalahmu mungkin bisa selesai dengan buku kumpulan peribahasa dan Tiga Ratus Puisi Dinasti Tang. Tapi masalahku?” Erkang mendesah. “Pangeran kelima! Kumohon di depan Ziwei kau jangan sekalipun menyinggung soal Qing’er! Jangan sampai dia punya pikiran macam-macam…”

“Aku tahu,” kata Yongqi. “Rahasiamu terjamin. Kau tenang saja.”

***

Sejak peristiwa pemukulan di Paviliun Shuofang, Qianlong membatasi waktu keluar istana bagi Ziwei dan Xiao Yanzi.

Kedua gadis itu hanya bisa keluar istana pada tanggal satu dan lima belas setiap bulannya. Ini berarti, mereka semakin jarang berkesempatan mengujungi Graha Huipin.

Qianlong juga meminta kedua gadis untuk sering-sering menemani Selir Xiang. Ini tentu saja bagus menurut Xiao Yanzi. Tapi Ziwei merasa agak bersalah. Bagaimanapun, Qianlong adalah ayahnya dan dia merasa bersalah karena membantu Meng Dan dan Hanxiang.

Persoalan Hanxiang memang harus ditilik dari segi lain. Ziwei dan Xiao Yanzi harus melihat masalah Hanxiang bukan dari sudut pandang putri Kaisar. Kisah cinta Hanxiang-Meng Dan kedenganrannya menyedihkan. Akan lebih tragis lagi jika keduanya tidak bisa bersatu selamanya. Sementara di istana, Qianlong telah memiliki tak kurang dari puluhan Selir yang mendampinginya.

Sementara itu, buku kumpulan peribahasa Yongqi telah selesai. Yongqi mulai mengajari Xiao Yanzi peribahasa. Tapi dasarnya Xiao Yanzi memang malas belajar, dengan cepat dia mengabaikan buku itu. Bagi Xiao Yanzi, mengurus masalah Selir Xiang dan Meng Dan jauh lebih menarik ketimbang mempelajari peribahasa.

Xiao Yanzi berniat menyatukan Hanxiang dan Meng Dan. Hanya saja, dia masih belum tahu bagaimana caranya. Semula, hal ini ditentang Hanxiang. Jika dia bersama Meng Dan, bukankan itu berarti dia tidak menunaikan misi ayahnya sebagai ‘upeti’ suku Hui bagi Kerajaan Qing?

Sambil menunggu munculnya ide yang tepat, untuk sementara, Ziwei dan Xiao Yanzi lebih banyak menemani Hanxiang. Karena sudah merasa akrab dengan keduanya, Hanxiang mulai bersedia keluar dari Graha Baoyue. Ditemani Ziwei dan Xiao Yanzi, Hanxiang beserta dua pelayannya berjalan-jalan di taman bunga istana.

Berdasarkan petunjuk Xiao Yanzi, Hanxiang mengajari Weina dan Qina untuk mengingat rute menuju Paviliun Shuofang dari Graha Baoyue. Ini berguna jika sewaktu-waktu Hanxiang terdesak dan membutuhkan pertolongan.

“Kau harus memiliki ‘naluri untuk mengenali bahaya’! Huang Ama adalah orang yang berbahaya – tapi yang lainnya juga tak bisa disepelekan. Di istana ini ada begitu banyak orang yang berbahaya…” Ziwei menasihati.

Sekonyong-konyong, ketika mereka sedang berada di taman bunga istana itu, Ibu Suri digandeng Qing’er, muncul dari arah berlawanan bersama Permaisuri dan para dayang senior. Mereka pun berpapasan.

Permaisuri yang mula-mula ‘cari gara-gara’. Sambil mengangkat alis dan pura-pura heran, dia berkata, “Kedua Putri sedang tidak keluar ‘melihat Patung Dewi Guanyin Pusa’, ya? Hari ini malah tinggal di istana dan menemani orang. Kedua Putri instingnya sangat tajam! Dimana ada bau harum, kesanalah mereka pergi! Sampai-sampai, pagi tadi belum mengunjungi Istana Zhuning untuk memberi salam pada Lao Foye…”

Tanpa tedeng aling-aling, Xioa Yanzi langsung menukas, “Benar! Hari ini kami belum memberi salam pada Lao Foye! Slakan Huang Erniang mengkritik kami! Lalu hasut Lao Foye untuk memukuli kami habis-habisan agar Huang Erniang puas!”

Ibu Suri benar-benar tidak suka melihat tingkah Xiao Yanzi. Dia mengur, “Xiao Yanzi, kau tidak boleh begitu. Keterlaluan!”

Melihat Ibu Suri dan Permaisuri, Hanxiang segera menyilangkan kedua tangannya di dada dan memberi salam ala suku Hui.

“Hanxiang menghadap Lao Foye dan Permaisuri!”

Ibu Suri tampak kurang senang. Dia mengernyitkan alis.

“Selir Xiang, apa kau masih belum mempelajari tata krama Manchu? Saat bertemu orang yang lebih tua, kau harus menekuk lututmu untuk memberi hormat. Satu lagi, cara berpakaianmu terlalu aneh. Karena sudah menjadi selir Kaisar Qing, kau seharusnya menyesuaikan penampilanmu.”

Ibu Suri memerintahkan Qing’er, “Kembalilah ke Istana Zhuning dan carilah pakaian serta sepatu agar Selir Xiang dapat berganti pakaian.”

Permaisuri buru-buru menimpali, “Di Istana Kunning kebetulan ada dua pakaian yang baru selesai dijahit. Kalau Selir Xiang tidak keberatan, aku akan menyuruh Bibi Rong untuk mengambilnya.” (wah, wah, Permaisuri mengalihkan perburuannya dari Xiao Yanzi-Ziwei ke Hanxiang).

Xiao Yanzi angkat bicara, “Duli Lao Foye, Selir Xiang telah mendapat ijin khusus dari Huang Ama untuk mempertahankan identitas Hui-nya. Makanya dia tidak mengenakan pakaian Manchu.”

“Apa? Ijin khusus lagi?” Ibu Suri terpana. “Dia memang punya ijin khusus di hadapan Kaisar tapi tidak di hadapanku! Karena telah menjadi istri orang Manchu, maka dia harus mengikuti tata cara orang Manchu! (Ibu Suri ini patriarki banget!) Bibi Rong, Bibi Gui, bawa pakaian dari Istana Kunning ke Graha Baoyue! Permaisuri, kau awasi Selir Xiang berganti pakaian!”

“Hanxiang tidak akan mematuhinya!” seru Hanxiang tiba-tiba.

“Apa?”

“Dalam ajaran agama kami orang Hui, semua manusia punya derajat yang sama. Tak seorang pun yang dapat memaksakan kehendaknya pada orang lain untuk melakukan sesuatu!”

Ibu Suri semakin gusar. “Beraninya kau bicara soal persamaan derajat denganku! Permaisuri, dia kuserahkan padamu! Lepas pakaiannya! Aku benar-benar tak suka melihatnya!”

“Baik!”

Beberapa Bibi mulai menarik Hanxiang ke Graha Baoyue. Melihat gelagat ini, Ziwei memberi isyarat pada Xiao Yanzi agar memanggil Qianlong sementara dia sendiri mengikuti Selir Xiang ke Graha Baoyue.

Beberapa saat kemudian, di Graha Baoyue, Bibi Rong muncul dengan satu stel pakaian wanita Manchu. Beberapa dayang lain menekan tubuh Hanxiang dan memaksanya melepas pakaian Hui-nya.

Hanxiang meronta-ronta, “Aku tidak mau berganti pakaian! Tak seorangpun bisa menanggalkan bajuku!”

“Bibi Rong! Beri dia penjelasan!” seru Permaisuri.

“Paduka Selir,” ujar Bibi Rong dingin. “Meski kau adalah Selir kesayangan Kaisar, di atasmu masih ada kedudukan Permaisuri dan Lao Foye. Hari ini Lao Foye memerintahkan untuk menggannti pakaianmu, kami semua pun hanya menuruti perintah. Cobalah kau bekerja sama dan tanggalkan sendiri pakaianmu. Jika tidak, kami para Bibi tidak akan berbelas kasihan. Kami akan menyakiti dan melukaimu kalau perlu. Itu artinya kau cari gara-gara sendiri.”

Hanxiang tetap menolak dengan keras. “Apapun yang kau katakan, aku tak akan melepas bajuku! Aku terlahir sebagai orang Uighur! Mati pun harus sebagai orang Uighur!”

“Huh! Kau tidak bisa memutuskan hal itu sendiri!” sela Permaisuri. “Bibi Rong! Jangan basa-basi lagi dengannya!”

Bibi Rong merobek blus Hanxiang. Weina dan Qina berseru panik dalam bahasa Hui dan berusaha menolongnya. Tapi kedua pelayan itu ditendang jatuh oleh para Bibi.

Ziwei berlutut pada Permaisuri. “Huang Erniang! Anda seharusnya menghormati Huang Ama! Beliau telah memeberi ijin khusus kepada Selir Xiang. Mohon tunjukkanlah welas asih Anda!”

Permaisuri menepis Ziwei. “Minggir kau! Meskipun dia didukung Kaisar, hari ini aku menjalankan perintah Ibu Suri!”

Ziwei terjatuh ke samping dan hanya bisa terpaku.

Para Bibi sibuk menganiaya Hanxiang. Mereka menjambak rambutnya, merobek roknya. Dalam sekejap hiasan rambut Hanxiang berjatuhan. Begitu pula dengan kalung mutiara yang dikenakannya – semua berhamburan di lantai.

Hanxiang berseru, “Mengapa kalian melakukan ini padaku? Apakah Negeri Qing Yang Agung bukan negara yang beradab?”

Ziwei kembali maju dan memohon pada Permaisuri. “Huang Erniang, kumohon perintahkan semua dayang agar berhenti sebelum semuanya terlanjur tak bisa dimaafkan Huang Ama!”

Permaisuri bersikeras. Bibi Rong pun mengambil alih Ziwei. Dia memukulnya hingga terjerembab.

Tiba-tiba., Qianlong memasuki Graha Baoyue diikuti Xiao Yanzi.

“Kaisar datang! Putri Huan Zhu tiba!”

Qianlong melangkah masuk bersama Xiao Yanzi. Tampaklah olehnya keadaan Hanxiang yang mengenaskan. Tubuhnya ditekan beberapa orang. Pakaiannya koyak-koyak. Rambutnya berantakan. Aneka perhiasan serta topi berserakan di lantai.

“Apa-apaan ini? Apa yang kalian lakukan?” seru Qianlong.

Para Bibi serta merta berhenti mengeroyok Hanxiang dan bersujud memberi salam Qianlong.

Qianlong memelototi mereka. Dengan menggertakkan rahang dia berteriak, “Kalian semua sudah bosan hidup, ya? Berani-beraninya main tangan terhadap Selir Xiang! Pengawal! Seret mereka keluar lalu penggal semuanya!”

Para Bibi begitu terkejut hingga jiwa mereka nyaris pergi. Mereka langsung bersujud seperti menumbuk bawang. “Mohon belas kasihan Kaisar! Mohon belas kasihan Kaisar!” Setelah itu mereka menampar pipi sendiri sambil berteriak memohon-mohon.

Permaisuri mendekati Qianlong dan berkata pelan, “Yang Mulia, hamba menjalankan perintah Lao Foye untuk mengganti pakaian Selir Xiang. Apakah Yang Mulia bermaksud melanggar perintah Lao Foye itu?”

Qianlong sangat marah mendengar Permaisuri memakai Ibu Suri untuk menekannya. Dia berteriak, “Permaisuri! Jika mereka masih merobek pakaian Selir Xiang, maka aku akan merobek kulitmu!”

Permaisuri sangat terkejut. Dia mundur setindak ke belakang.

Hanxiang mulai menyadari keadaannya yang compang-camping dan nyaris telanjang di hadapan Qianlong. Dia sangat malu. Sekonyong-konyong, dia berlari keluar balkon dan bermaksud melompat ke bawah.

“Celaka! Selir Xiang mau bunuh diri!” Xiao Yanzi berseru keras. Dia langsung melesat secepat anak panah menyusul Hanxiang.

Dalam satu kesempatan, Xiao Yanzi berhasil mencapai ujung pakaian Hanxiang. Tapi pakaian yang sudah compang-camping itu robek sebelum Xiao Yanzi berhasil menggapai tubuh Hanxiang. Xiao Yanzi kembali mengulurkan tangan meraih Hanxiang. Kali ini Hanxiang sudah bersiap melompat. Xiao Yanzi berhasil memeluknya erat. Keduanya pun melayang dan jatuh bergulingan hingga ke bawah.

Sesampainya di bawah, Xiao Yanzi dan Hanxiang saling pandang beberapa saat dengan napas terengah-engah. Lalu, rasa malu dan putus asa Hanxiang pecah menjadi tangis pilu.

Qianlong, Permaisuri dan para Bibi bergegas menghampiri keduanya. Qianlong bertanya panik, “Bagaimana? Bagaimana? Apa kalian berdua selamat?”

Xiao Yanzi menyahut keras, “Ya! Huang Ama! Kami belum mati!”

Qianlong menundukkan kepala melihat mereka. Setelah itu dia menghembuskan napas lega. “Segera panggil tabib!” perintahnya pada seorang kasim.

Kasim itu bergegas pergi. Hanxiang masih terus menangis sambil menyembunyikan wajahnya di pelukan Xiao Yanzi. Xiao Yanzi pun berkata pada Qianlong, “Huang Ama tenanglah. Selir Xiang tidak apa-apa!”

Ziwei juga telah keluar sambil membawa selimut. Disampirkannya selimut itu menutupi tubuh Hanxiang. Setelah itu Ziwei berbisik dengan suara rendah, “Kau sudah pernah berjanji padanya untuk terus hidup. Betapapun besarnya hinaan yang kau alami, kau tidak boleh berpikir untuk mengakhiri hidupmu!”

Hanxiang menatap Ziwei dengan mata basah tanpa mampu mengucapkan apa-apa.

Qianlong memalingkan tubuh ke arah Permaisuri dan para Bibi. “Kalian semua pergi! Biar Ziwei dan Xiao Yanzi saja yang menemani Selir Xiang! Kelak, siapa pun yang berani datang ke Graha Baoyue untuk mengganggu Selir Xiang, akan kupenggal kepalanya! Pergi!”

Permaisuri menatap ketiga gadis itu dengan penuh kebencian. Ditekuknya lutut menyalami Qianlong. lalu berbalik bersama para Bibi yang nyaris terkencing-kencing.

***

Selir Xiang melompat dari balkon membuat geger seisi istana.

Setelah kejadian itu, dia masih tetap mengenakan pakaian Hui-nya. Perintah Ibu Suri untuk ‘mengganti pakaian’ sama sekali sia-sia. Ibu Suri merasa kehilangan muka. Ditambah lagi Permaisuri yang tak henti memanas-manasinya. Meski Qing’er lemah lembut membujuknya agar melupakan masalah ini, namun Ibu Suri tak dapat memaafkan Selir Xiang lagi.

Kini Kaisar risau memikirkan Selir Xiang. Juga kedua putri kesayangannya. Karena Ibu Suri tak dapat menundukkan Selir Xiang, maka dia melampiaskan kekesalannya pada soal pernikahan Ziwei dan Xiao Yanzi.

Beberapa hari usai peristiwa Selir Xiang, Qianlong memanggil Ziwei, Xiao Yanzi, Erkang dan Yongqi ke perpustakaannya.

Qianlong berkata serius pada keempatnya, “Sejak Lao Foye kembali, di istana selalu saja terjadi masalah. Hatiku merasa tidak tenang. Kesenangan kalian pun menjadi batu sandungan bagiku. Kalian selalu saja tidak dapat mengambil hati dan menyenangkan Ibu Suri.”

Mendengarnya, Ziwei jadi merasa tidak enak hati. “Huang Ama,” katanya. “Aku mengerti. Kelak aku dan Xiao Yanzi aka sering-sering ke Istana Zhuning melakukan chen hun ting shen – kunjungan kehormatan kepada orang lebih tua.”

“Apa?” Xiao Yanzi langsung mencerocos. “Kau mau kita melakukan cheng hun ting xin – meresmikan kisah cinta? Kalau untuk itu, buat apa pergi ke Istana Zhuning? Kau lihat – Lao Foye sama sekali tidak suka kalau kita menikah!”

Begitu kata-kata itu diucapakan Xiao Yanzi, Ziwei langsung merasa malu. Muka Ziwei langsung merah padam. Erkang membelalakkan mata sedang Yongqi malu-malu kucing.

Qianlong memelototi Xiao Yanzi. “Kau benar-benar ‘kerepotan’ besar untukku!” Dilihatnya yang lain, “Bukankah kalian sedang mengajarinya peribahasa? Kenapa dia masih suka salah tafsir seperti ini?”

Yongqi dan Erkang memasang tampang memelas.

Dari atas meja kerjanya, Qianlong mengangsurkan sebuah kertas esai yang tadi dibacanya sebelum keempat muda-mudi itu tiba.

“Xiao Yanzi, tadi Guru Qi menyerahkan esai yang sangat aneh padaku. Apakah ini hasil tulisanmu?”

Xiao Yanzi mengambil kertas itu melihat-lihat. Dia lalu mengangguk-angguk.

“Benar. Aku yang menulisnya.”

“Coba kau bacakan agar kami semua bisa mendengarnya!”

“Sebaiknya tidak usah dibacakan, Huang Ama….”

“Kau harus membacanya! Ayo cepat bacakan!”

Xiao Yanzi memonyongkan mulut. Dia tak dapat menghindar lagi. Maka, dia pun mulai membaca.

“Judul tulisan ini adalah Ru Ren Yin Shui – Bagaikan Orang Minum Air.”

Xiao Yanzi berdehem sebentar lalu lanjut membaca. “Semua orang harus minum air. Pagi minum air. Siang minum air. Malam minum air. Waktu dingin minum air panas. Waktu panas minum air dingin. Musim semi minum air. Musim panas minum air. Musim gugur minum air. Musim dingin minum air…”

“Pria-wanita harus minum air. Anak kecil – orang tua juga harus minum air. Anjing harus minum air. Kucing dan babi juga harus minum air. Dan manusia – tentu saja harus minum air….”

Semuanya tak dapat lagi menahan tawa. Mereka tertawa hingga tubuh mereka berguncang-guncang.

Qianlong mengomel sambil tertawa, “Kalau minum air seperti ini, kau bisa-bisa menenggelamkan Konfucius. Menenggelamkan Guru Qi dan kami semua! Kau tahu tidak, setelah kalimat ‘Ru Ren Yin Shui’ itu masih ada sambungannya? Kalimat itulah topik utama esai yang harus kau tulis.”

Xiao Yanzi mengangga. “Ha? Jadi masih ada lanjutannya?”

“Ya! Coba kau ingat-ingat lagi kalimat selanjutnya…”

Xiao Yanzi sama sekali tidak ingat. Dia menatap minta tolong pada Yongqi.

Sewaktu Qianlong membalikkan badan sejenak, Ziwei segera berbisik di telinga Xiao Yanzi, “Leng Nuan Zi Che!”

Xiao Yanzi mendengar dengan bingung lalu menyahut, “Kalimat lanjutannya adalah… Leng Le Zi Mo – mendinginkan laba-laba…”

Qianlong membelalak. “Ha? Mendinginkan laba-laba? Kenapa tidak sekalian Tang Le Qing Ting – memanaskan capung? Aku benar-benar akan memukulmu seratus kali.”

Xiao Yanzi langsung membela diri, “Huang Ama! Dari dulu aku kan sudah bilang, belajar itu rasanya susah sekali! Kalau memang disuruh menulis soal minum air, ya sebut saja terus terang! Tidak perlu pakai peribahasa segala! Ada begitu banyak kata yang tidak bisa kutuliskan. Terpaksa aku pun menyerahkan tugasku pas-pasan saja!”

“Untung kau menuliskannya pas-pasan. Jika tidak, seisi kota Beijing ini bisa kau buat tenggelam!”

Xiao Yanzi memonyongkan mulut. Dia sama sekali tidak senang dikritik tapi tak bisa berkata apa-apa. Ziwei, Erkang dan Yongqi saling tukar pandang lalu tertawa cekikikan.

Qianlong berjalan mondar-mandir lalu bertanya pada Yongqi. “Bukankah kalian sedang mengajari Xiao Yanzi peribahasa? Aku hendak menguji peribahasanya.”

Yongqi dengan cemas menjawab, “Kami baru mengajarkan peribahasa-peribahasa sederhana padanya.”

“Kalau begitu, aku akan menguji yang paling sederhana dulu…,” Qianlong berpikir-pikir. “Xiao Yanzi! Dulu peribahasa ini pernah kau salah artikan. Sekarang, apa kau sudah tahu artinya Yang Feng Yin Wei – berpura-pura patuh?”

Xiao Yanzi berpikir keras. “Yang Feng Yin Wei ya? Kalau tidak salah artinya rajawali hendak menyergap kambing – lalu kambingnya menyelinap ke celah batu…”

Qianlong menatap Xiao Yanzi dengna terpana. “Ha! Begitukah? Kalau ada celah batu lebih kau saja yang menyelinap ke sana! Aku uji yang lain lagi. Bagaimana dengan San She Er Li – di usia tiga puluh, seseorang seharusnya sudah mandiri?

Xiao Yanzi kembali bengong. “Oh, bukankah itu artinya tiga puluh orang sedang berbaris?”

“Wow! Bagus sekali penjelasanmu! Tiga puluh orang sedang berbaris! Lalu, apa artinya Bu Ce Shou Duan – bermain dengan adil/ bersaing dengan sehat?”

Xiao Yanzi berseru gembira, “Oh! Yang ini aku tahu! Dua orang yang sedang berkelahi dan satu diantaranya tangannya patah kena tekuk!”

Qianlong mengerutkan alis. “Justru tanganmulah yang harus ditekuk! Sekarang, apa artinya Xiao Yi Da Yi – menasihati seseorang ke arah yang benar?”

Mata Xiao Yanzi berbinar. “Ah, yang ini gampang sekali! Xiao Yi Da Yi artinya semut kecil-semut besar!”

Alis Qianlong terangkat tinggi-tinggi. Ziwei, Erkang dan Yongqi tampak cemas.

Xiao Yi Da Yi artinya semut kecil-semut besar? Pintar sekali kau, Xiao Yanzi! Luar biasa! Aku benar-benar Wu Ti Tou Di – mengagumi dengan setulus hati – padamu! Nah, apa artinya Wu Ti Tou Di itu?”

Xiao Yanzi mengangguk-angguk antusias. “Tahu! Tahu!”

“Wah? Kau tahu? Apa coba?”

“Artinya orang yang selalu melakukan kesalahan sehingga tubuh lima orang jadi terluka karena menertawakannya!”

Qianlong tidak tahan lagi. Dia tertawa keras. “Ha! Ha! Meski kepalaku pusing, paling tidak penjelasanmu mampu membuatku tertawa terbahak-bahak. Hanya saja, aku khawatir kalau Lao Foye yang mendengarnya, dia akan ‘menekuk tanganmu sampai patah’!” Qianlong memelototi Xiao Yanzi, “Sebenarnya kau ini serius belajar atau tidak, sih?”

Xiao Yanzi tidak percaya, “Jadi…., semuanya salah ya? Tidak ada satupun yang benar?”

Menurutmu?”

Qianlong mengibaskan tangannya lalu berkata, “Sudahlah, pelajaran Xiao Yanzi cukup sampai di sini. Selanjutnya, Erkang…, pembicaraanku hari itu, apa sudah kau pertimbangkan?”

Erkang terperanjat. Sama sekali tidak menduga Qianlong masih akan mengungkit soal Qing’er.

Qianlong mengamati Erkang dan Ziwei bergantian. “Sebaiknya kau mempertimbangkannya dan bicarakanlah dengan Ziwei. Aku tidak melihat ada usul lain yang lebih baik daripada usul itu.”

Wajah Erkang memucar. Ziwei langsung merasa ada yang tidak beres menyangkut hubungan mereka dan Qing’er.

***

Sekembalinya di Paviliun Shuofang, Ziwei mencecar Erkang dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Apa maksud perkataan Huang Ama tadi? Dia menmintamu mempertimbangkan apa? Tampaknya sangat serius. Huang Ama ingin kau merundingkan apa denganku?”

Erkang mencoba mengelak. “Sebenarnya bukan hal apa-apa…”

“Apanya yang bukan apa-apa? Kau ingin aku sendiri yang menanyai Huang Ama? lekas beritahu aku!”

Karena Ziwei yang mendesak terus, Erkang terpaksa bicara. Xiao Yanzi dan yang lainnya keluar dan menutup pintu.

Erkang akhirnya berkata, “Inti permasalahannya… sebenarnya soal Qing’er…” Erkang berkata hati-hati, “Kaisar megusulkan aku agar memperistri Qing’er juga…”

”APA?” Ziwei bagai disambar petir. Dia langsung mundur terhuyung-huyung ke belakang.

“Huang Ama sudah bilang begitu…,” bibir Ziwei bergetar. ”Padahal dulu…., kau berani bilang antara kau dan Qing’er tak pernah ada ‘masa lalu’!”

“Kami memang tak pernah punya ‘masa lalu’!” sambung Erkang sengit. “’Masa lalu’ku hanya bersamamu! Di Graha Xuexi! Di Lembah Ketenangan! Masa-masa keluar istana! Di penjara istana! Dengan yang lainnya, tak pantas disebut ‘masa lalu’!”

Ziwei tidak percaya. Dia mulai menangis. “Sejak pertama kali melihat Qing’er bersamamu, aku sudah merasa diantara kalian pasti ada sesuatu. Aku wanita. Dia juga. Aku bisa memahami perasaannya setiap kali memandangmu. Sorotnya sangat aneh! Penuh dengan perasaan cinta. Aku tahu karena sudah pernah mengalaminya!”

“Ziwei! Kau sepertinya tidak mempercayaiku! Aku benar-benar merasa tersinggung!”

Ziwei semakin marah. “Kau tak bisa membungkamku dengan kata-kata itu lagi! Tidak perlu repot-repot! Kau sunting saja Qing’er! Lagi pula Lao Foye memang tidak menyukaiku! Dia tidak pernah sudi mengakuiku!”

“Aku telah susah payah agar diakui Ayahku. Jika harus membagimu dengan Qing’er, lebih baik kita tak usah bersama lagi! Qing’er itu begitu cantik, begitu pintar…, aku sangat iri dan cemburu padanya! Aku tak sudi membagimu dengannya! Tak mau!”

Erkang mencoba meyakinkan Ziwei, “Setelah mencintaimu sampai begini, mana mungkin aku tega memadumu dengan wanita lain? Kukira kau akan mengerti. Tak ada wanita lain yang bisa berada di tengah-tengah kita!”

“Jadi…, kau dan dia benar-benar tak punya ‘masa lalu’? Ziwei bertanya lirih.

“Ya…, “ Erkang merasa tercekat dengan tatapan Ziwei yang seolah menembus ke dalam dirinya. “Sebenarnya…, musim dingin tiga tahun lalu saat Lao Foye bersemedi di Kuil Biyun, aku memimpin rombongan mengantar barang-barang kebutuhan Lao Foye kesana. Tabi setiba di sana, aku tak bisa kembali karena salju turun dengan lebat. Malam itu, aku dan rombongan terpaksa menginap di Kuil Biyun.”

“Qing’er juga ada di sana menemani Lao Foye. Malam itu karena insomnia, aku keluar dan berjalan-jalan di koridor Kuil. Kebetulan Qing’er juga muncul. Kami lalu berjalan bersama sambil berbincang-bincang soal puisi, lagu dan filsafat. Hanya begitu saja.”

Kerisauan Ziwei segera tersulut lagi. Di dalam benaknya langsung tergambar pemandangan romantis: salju putih, batang pohon cemara tak berdaun dan tertutup salju, langit malam yang kelam disertai sinar bulan yang pucat. Sepasang pria dan wanita yang begitu rupawan di tengah koridor, berjalan dan duduk bersama berdiskusi sepanjang malam…”

Ziwei semakin cemburu. Dia bicara dengan napas memburu. “Kau bilang di antara kalian tak punya ‘masa lalu’? Lantas yang kau ceritakan tadi apa?”

Erkang jadi jengkel. “Kau jangan menuduhku yang bukan-bukan! Kenapa Ziwei yang kukenal berubah jadi picik seperti ini?”

Suara Ziwei yang biasanya tenang berubah menjadi sangat tak terduga. “Baru sekarang kau menyadari kalau aku ternyata tak sebaik bayanganmu? Aku picik! Berpikiran sempit! Tak pantas kau cintai! Apalagi kau nikahi! Jadi pergilah kau pada Qing’er! Karena kau telah memandang rendah diriku, aku memutuskan akan keluar dari kehidupanmu!”

Erkang sangat terpukul. “Kau serius?”

Ziwei memantapkan diri. “Ya. Pergilah! Aku tak mau mendengarmu lagi. Meski kita putus, kau masih harus menerima Jinshuo! Kau tak boleh menolaknya – atau aku akan membencimu seumur hidup!”

Erkang sungguh gusar. “Kau bicara seolah akulah yang memikat Qing’er dan Jinshuo… Aku seperti petualang cinta yang mengumbar cintaku dimana-mana! Kata-katamu tadi sama sekali tidak mencerminkan Ziwei yang kucintai. Mana sepadan dengan ketulusan cintaku?”

Ziwei merasa tertusuk. “Aku memang tidak sepadan denganmu! Puas?”

Erkang sangat marah. Di dalam benaknya masih ada banyak perkataan lain tapi tak dapat diungkapkannya. Dia merasa telah berkorban banyak demi Ziwei dan sekarang gadis itu membiarkan hubungan mereka kandas.

Erkang tak sanggup berpikir jernih lagi. Dia menengadahkan kepala, berkata dingin, “Baiklah!”

Setelah itu, Erkang keluar Paviliun Shuofang sambil membanting pintu dengan keras.

Malamnya, Ziwei duduk di ranjang dengan pikiran melayang-layang. Hatinya gundah-gulana.

Xiao Yanzi dan Jinshuo terkejut waktu tahu Ziwei dan Erkang telah putus. Jinshuo terutama. Dia berkata, “Nona, kau tak tahu… di dalam hatiku pun, aku merasa tidak enak soal Tuan Muda Erkang. aku hanya seorang pelayan. Dibanding dirimu dan Putri Qing, aku hanya pendamping tambahan. Mana punya hak untuk cemburu?”

Ziwei kembali terpukul mendengar pengakuan Jinshuo.

“Kau…, cemburu…?” Ziwei terpana. “Ya Tuhan! Jinshuo, aku benar-benar bersalah padamu. Aku telah mengabaikan perasaanmu…”

“Nona, jangan mengatakan apa-apa lagi. Saat ini kau sedang marah. Tunggulah sampai amarahmu reda baru kita bicara lagi, ya?”

Memikirkan Erkang, Qing’er dan Jinshuo…. Ziwei lemas oleh belitan perasaan yang rumit. Dia sungguh tak tahu bagaimana lagi dia harus bersikap.

***

Masalah cinta itu rumit. Meski sebagai saudara angkat dan teman dekat, BAIK Xiao Yanzi maupun Yongqi tak dapat menasihati Ziwei-Erkang.

Perang dingin antara Ziwei dan Erkang terus berlanjut sampai tanggal lima belas bulan itu. Tanggal lima belas adalah jatah yang diberikan Qianlong bagi Ziwei dan Xiao Yanzi untuk keluar istana. kedua gadis itu bersama Jinshuo pergi ke Graha Huipin. Erkang dan Yongqi juga ikut. Tapi Erkang dan Ziwei tidak saling menyapa dan ketegangan keduanya terasa hingga ke rekan-rekan seperjalan mereka.

Sesampainya di Graha Huipin, Xiao Yanzi dan kawan-kawan melihat Meng Dan yang sedang minum-minum karena memikirkan Hanxiang. Melihat arak, Ziwei yang sedang labil segera duduk di samping Meng Dan dan minum-minum bersamanya. Xiao Yanzi ikut nimbrung. Dan jadilah mereka mabuk sampai Ziwei melantur sembarang bicara.

Ziwei dan Erkang secara tak langsung saling membalas komentar-komentar pedas. Setiap Erkang bicara ketus, Ziwei pasti akan minum secawan. Xiao Yanzi ikut-ikutan. Keduanya pun mabuk berat.

Tak jauh dari meja mereka, beberapa pria memperhatikan gerak-gerik mereka. Tak berapa lama, seorang pria bertubuh tinggi besar mendatangi meja itu dan memegang lengan baju Ziwei dengna genit.

“Adik manis, kulihat kau sangat suka minum. Bagaimana kalau ke meja kami dan minum bersama kami?”

Melihat kejadian itu, Erkang yang tidak bisa melampiaskan kemarahannya langsung marah besar. Digebraknya meja sambil melompat dan langsung meninju lelaki itu. “Makan kembali kata-katamu! Beraninya kau dengan tanganmu yang kotor itu menyentuh Ziwei!”

Laki-laki itu melayang dan jatuh ke sebuah meja. Meja terbalik, cawan, mangkuk dan piring hancur berkeping-keping ke lantai. Melihat teman mereka teraniaya, pria-pria kainnya mulai berdiri dan bermaksud menyerang.

“Kau orang dari perguruan mana? Berani-beraninya menghajar kawan kami!”

Erkang yang sedang terbakar amarah segera meluapkan kemarahannya. “Aku menginginkan nyawa kalian!” teriaknya. Lalu melayanglah serentetan tendangan, tinju dan pukulan.

Meng Dan tak bisa berpangku tangan melihat Ziwei dilecehkan dan Erkang bertarung sendirian, maka dia pun ikut berkelahi.

Xiao Yanzi yang mabuk memanjat meja dan melihat perkelahian dari ketinggian. “Wah! Asyik! Asyik! Aku Xiao Yanzi juga mau bergabung! Hiyaaaa!!!”

Xiao Yanzi melayang dan langsung membentur Erkang hingga terjatuh. Yongqi buru-buru melindunginya.

Para pengunjung Graha Huipin pun ada yang ikut bertarung. Ziwei yang sudah mabuk berat tetap duduk di kursinya sambil menyaksikan semuanya dengan tertawa-tawa. Dia mengangkat cawan araknya kepada orang-orang yang berkelahi itu, “Kanpei! Ayo semua, Cheers!”

***

Sesampainya di istana, kondisi Ziwei dan Xiao Yanzi sudah mabuk berat.

Kedua gadis itu seperti orang gila yang penampilannya kusut. Menyanyi dan bicara dengan ribut. Membuat Jinshuo, Erkang dan Yongqi cemas bukan kepalang. Jinshuo berulang kali mencoba meminumkan obat penawar mabuk pada Ziwei tapi segera dimuntahkannya kembali.

Erkang menatap Ziwei seperti orang linglung. Yongqi mengomel, “Semua gara-gara kau! Seandainya kau tidak membalas komentar-komentar Ziwei. Seandainya kau tidak berkelahi di Graha Huipin! Lihat keadaan kita sekarang. Benar-benar kacau!”

Memasuki halaman Paviliun Shuofang, Ziwei dan Xiao Yanzi masih juga tidak stabil dan terjatuh-jatuh. Mereka berteriak dan tertawa-tawa dengan berisik.

Tiba-tiba, dari luar terlihat sederet cahaya lampion bergerak menuju Paviliun Shuofang.

“Celaka! Banyak sekali lampion kemari! Pasti rombongan Permaisuri atau Lao Foye!”

Erkang langsung was-was. Tak ada waktu lagi, dia segera membopong Ziwei ke dalam.

Tapi Ziwei terus meronta. Dia malah berseru semakin keras, “Xiao Yanzi! Kau harus membaca puisi!”

Xiao Yanzi juga sama kacaunya. “Aku tidak mau baca puisi! Aku mau menyanyi saja…”

Dan terdengarlah seruan kasim, “Lao Foye datang berkunjung! Permaisuri datang berkunjung!”

Erkang, Yongqi dans eluruh pelayan Paviliun Shuofang terperanjat. Erkang terpaksa melepaskan Ziwei dan menyerahkannya bersandar pada Jinshuo. Sedang Xiao Yanzi dipapah Mingyue dan Caixia. Semua menegadah dengan ketakutan.

Ibu Suri masuk dan membelalak besar sekali melihat kondisi Ziwei-Xiao Yanzi. Permaisuri serta Bibi Rong seperti berdiri di ladang emas!

Erkang dan Yongqi segera berlutut dan mengemukakan alasan. Tapi Ibu Suri sungguh tak memedulikan mereka. Tatapannya dingin dan mengerikan. Tatapan Ibu Suri benar-benar menusuk hingga ke tulang sumsum.

“Pengawal!” perintah Ibu Suri. “Bawa kedua Putri ke Istana Zhuning!”

“Siap!” para kasim menjawab. Mereka maju dan menyeret Ziwei serta Xiao Yanzi. Erkang, Yongqi dan lain-lainnya terkesiap. Mereka tak bisa melakukan apa-apa selain berdiri terpaku.

***

Di Istana Zhuning, lagi-lagi Ziwei dan Xiao Yanzi dimasukkan ke dalam Kamar Gelap.

Ibu Suri dan Permaisuri berdiri di satu sisi mengawasi para Bibi yang memasukkan kedua Putri ke dalam bak mandi besar. Orang kasim berdatangan sambil membawa berember-ember air dingin yang dipakai para Bibi untuk menyiram kedua gadis.

“Brrrrr!! Dingin! Dingin!” Xiao Yanzi merinding. “Hujan salju! Turun hujan salju!”

Ziwei melolong-lolong, “Xiao Yanzi! Erkang! Tolong! Aku tenggelam! Aku tak bisa berenang!”

Para Bibi menyiram mereka dari kepala. Membuat Xiao Yanzi terbatuk-batuk. “Uhuk! Phuuuuh! Phuuuh!”

Ziwei terus berteriak sambil memukul-mukul air hingga menciprat kemana-mana. Bibi Rong yang kebetulan berdiri dekat Ziwei segera menancapkan kukunya ke tubuh gadis itu dan mencubitnya.

“Aduh! Xiao Yanzi! Ada ikan besar menggigitku!”

“Phuuuh! Phuuuh! Mana ikan besarnya? Mana?”

Ibu Suri nyaris pingsan saking marahnya. Permaisuri dengan licik berkata lembut mematikan, “Lao Foye, saya rasa, kedua Putri sudah mabuk berat. Walau disirami semalaman tak akan sadar. Lao Foye sebaiknya beristirahat saja. Urusan mereka serahkan saja pada saya.” (Permaisuri ini saya rasa ada gangguan psycho deh. Begitu tuh kalau seharian nggak punya kerjaan. Kasihan sekali!)

“Baiklah, mereka akan kuserahkan padamu!” kata Ibu Suri. Lalu dia keluar ruangan dengan napas memburu.

Ditinggal Ibu Suri, Permaisuri berteriak memberi perintah, “Bibi Rong! Bibi Gui! Jangan sungkan pada mereka! Katanya mereka Putri – tapi kelakuan mereka begitu liar seperti wanita jalang di luar sana!”

Mendapat instruksi Permaisuri, para Bibi semakin menggila. Terutama Bibi Rong. Dia mencubit Xiao Yanzi keras-keras.

“AUW! Ziwei! Ikan besarnya datang! Dia juga menggigitku!”

Sambil berteriak, Xiao Yanzi memukul membabi buta. Bibi Rong pun dihajar habis-habisan.

“Dasar gadis gila!” teriak Bibi Rong marah. Dicabutnya tusuk kondenya dan ditusuknya Xiao Yanzi.

Xiao Yanzi melompat dari bak. “Ziwei! Cepat keluar! Ikan besarnya berduri!!!” (ha ha ha!)

Para Bibi menangkap Xioa Yanzi. Tapi begitu mendekat, Xiao Yanzi langsung memukul dan menendang mereka.

“Ikan besar ayo kemari! Jangan cuma berani menggigit orang! Menusuk orang! Aku akan menghajarmu! Seperti bunga yang berguguran dan air yang mengalir! Maju sini! Kita lihat siapa takut siapa?”

Para Bibi yang bukan tandingan Xiao Yanzi mabuk pun terjatuh, terjerembap dan menjerit. Dengan tubuh basah kuyup, Xiao Yanzi menyambar ember dan menyiram sembarangan. Air menggenangi lantai. Para Bibi kembali tergelincir. Benar-benar seperti ‘bunga yang berguguran dan air yang mengalir’!

Permaisuri marah besar hingga mukanya merah padam. “Keterlaluan! Mana bisa begini? Bibi Roooong!!!”

Permaisuri masih sementara berteriak, Xiao Yanzi sudah menyambarnya dan menariknya kea rah bak.

“Ziwei! Di sini ada ikan besar yang bisa berteriak!”

Ziwei juga sudah keluar dari bak dan mendekati Xiao Yanzi, “Mana? Mana?”

Xiao Yanzi mendorong Permaisuri hingga masuk ke dalam bak. Permaisuri meronta-ronta, “Pengawal….! Pengawal…..!” Blub! Blub!

“Kau masih berani berteriak?” erang Xiao Yanzi. “Kuberi kau minum air!” Xiao Yanzi membenamkan kepala Permaisuri. “Semua orang harus minum air! Pagi minum air! Siang minum air! Malam minum air! Minum air! Minum air…..”

Tak berdaya, kepala Permaisuri pun naik turun sambil menelan air bak.

***

Keributan besar di Kamar Gelap terang menggemparkan Istana Zhuning.

Ibu Suri sangat marah. Ziwei dan Xiao Yanzi tak dapat disadarkan walau menghabiskan berember-ember air. Terpaksa, Ibu Suri menyuruh beberapa dayang untuk mengganti pakaian kedua Putri dengan yang kering dan mengurung mereka di Kamar Gelap.

Ziwei dan Xiao Yanzi berbaring di lantai Kamar Gelap. Tenaga mereka benar-benar terkuras.

Xiao Yanzi memeluk Ziwei. Setengah mengigau berkata, “Ziwei, jangan takut. Ikan besarnya sudah kupukul hingga kabur. Di sini tak ada ikan besar lagi!” (Ha ha! Xiao Yanzi ini mabuk atau sadar ya?)

Ziwei tidak menjawab. Dia sudah mendengkur. Akhirnya kedua gadis itu pun tertidur sambil berpelukan.

Beberapa lama kemudian, pintu Kamar Gelap terbuka perlahan. Seseorang menyelinap masuk sambil membawa dua helai selimut.

“Ziwei…, Xiao Yanzi….” desis orang itu. Rupanya dia Qing’er.

Qing’er membungkuk dan memanggil Ziwei dan Xiao Yanzi lagi. Dia mendorong mereka, “Ziwei… Xiao Yanzi… ruangan ini sangat gelap. Kalian jangan tidur…”

Tapi kedua gadis itu tidak sadar-sadar juga. Qing’er tidak bisa apa-apa selain menyelimuti keduanya.

“Kalian jangan sampai sakit…,” desis Qing’er lagi. Dia seperti bicara sendiri. “Besok pagi-pagi sekali aku akan mengambil kembali selimut-selimut ini. Kalian dengar?”

Ziwei dan Xiao Yanzi tertidur sangat pulas. Qing’er menggeleng-gelengkan kepala lalu keluar diam-diam.

***

Di Paviliun Shuofang, tak seorang pun tidur. Erkang dan Yongqi menunggu dengan gelisah. Mereka benar-benar mencemaskan Ziwei dan Xiao Yanzi.

Tidak mungkin lagi mencari Kaisar di malam selarut ini. Apalagi nekat menerjang ke Istana Zhuning saat Lao Foye masih murka. Rkang dan Yongqi begitu cemas sampai seseorang muncul di depan pintu Paviliun Shuofang.

“Qing’er!” Erkang terkesiap.

Qing’er memasuki Paviliun Shuofang sambil menurunkan tudung mantelnya. Melihat kecemasan Erkang dan Yongqi, Qing’er tertawa lalu berkara, “Kalian tak perlukhawatir sekarang. Mereka sekarang baik-baik saja. Yang disiksa bukan mereka-tapi Permaisuri dan para Bibi. Mereka nyaris terbenam. Sayang kalian tidak menyaksikan. Kejadiannya sangat mencengangkan! Kini aku baru mengerti, kenapa setiap kali bersama mereka orang selalu terkaget-kaget!”

Erkang dan Yongqi membelalak. “Hah?”

“Sekarang Lao Foye mengurung mereka di Kamar Gelap. Aku sudah dari sana menengok. Mereka tertidur pulas saling berpelukan. Kupikir, gempa bumi sekalipun tak akan membangunkan mereka. Jadi aku menyelimuti mereka dan biarlah masalah ini diurus lagi besok.”

Yongqi merasa lega. “Qing’er! Terima kasih! Kau begitu baik hati mau membantu secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Aku akan selalu mengingat kebaikanmu itu!”

Qing’er tertawa renyah. Dipandangnya Erkang, “Kau tidak bilang sesuatu padaku?”

Erkang terperanjat. Bebannya terhadap Qing’er terasa makin berat. “Aku…, aku juga akan mengingatnya dalam hati…”

Mendengarnya, Qing’er membalas penuh makna, “Syukurlah kalau kau mengingatnya dalam hati…”

Setelah itu Qing’er pun mohon diri dari Paviliun Shuofang.

Setelah Qing’er pergi, Jinshuo menghampiri Erkang dan berkata. “Sepertinya Nona terkena penyakit yang tak bisa disembuhkan dengan obat biasa. Penyakit itu, hanya Anda yang bisa menyembuhkannya…”

Mendengarnya, Erkang jadi tersentak.

***

Ziwei sudah sadar ketika hari sudah pagi. Dia terduduk dan melihat berkeliling.

“Aku… aku ada dimana? Astaga! ini kan Kamar Gelap di Istana Zhuning!”

Ziwei menunduk dan didapatinya Xiao Yanzi tengah tertidur pulas. “Xiao Yanzi! Bangun! Kita ada di Kamar Gelap! Xiao Yanzi! Lihat! Ada selimut! Ternyata Lao Foye masih berbaik hati. Meski mengurung kita, dia masih member kita selimut! Xiao Yanzi! Ayo, bagun!”

Xiao Yanzi menguap. Masih setengah mengatuk berucap, “Masih belum terang. Untuk apa membangunkanku? Tidur lagi, ah!”

Xiao Yanzi menjatuhkan dirinya kembali ke lantai. Dan, Bruk! Kepalanya terantuk.

“Aduh! Kenapa ranjang ini begitu keras?”

“Ini Kamar Gelap Istana Zhuning! Kau ingat semalam kita dikurung di sin?”

“Kamar Gelap?” Xiao Yanzi masih setengah sadar. “Yang kuingat kita sedang berkelahi di Graha Huipin hingga seperti bunga yang berguguran dan air yang mengalir…”

Tiba-tiba terdengar suara pintu berderak. Qing’er menyelinap masuk.

“Kalian sudah sadar? Aku Qing’er.”

Qing’er?!” Ziwei terperanjat.

Qing’er berkata cepat, “Semalam kalian mabuk berat hingga diseret kemari. Kalian lalu ‘disadarkan dari mabuk’. Aku belum ada waktu untuk menceritakan prosesnya. Yang jelas, setelahnya, kalian dikurung di sini. Selimut ini aku yang bawa kemari. Sekarang aku akan mengambilnya kembali. Jangan sampai Lao Foye tahu aku membantu kalian! Kalian juga jangan menynggung-nyinggung soal kedatanganku kemari!”

Ziwei kembali terperanjat. Inilah Qing’er yang menyebabkan dia dan Erkang putus. Ini Qing’er yang kelak harus dibaginya dengan Erkang. melihatnya, Ziwei seperti mati rasa.

Qing’er melipat selimut dan bersiap pergi. “Aku pergi dulu. Nanti di depan Lao Foye, akan kuusahakan membantu kalian.”

ziwei dan Xiao Yanzi berpandangan. Ziwei sungguh tidak tahu apakah dia harus berterima kasih atau merasa sedih dengan kiriman selimut Qing’er itu.

***

Setelahmeninggalkan Kamar Gelap, Qing’er ‘pergi ke kamar Ibu Suri untuk mengecek segala keperluan Ibu Suri pagi itu.

Qing’er sendiri yang menyiapkan jubah, mahkota, kalung serta anting. Bahkan air untuk membasuh muka dan membersihkan mulut.

Melihat Qing’er yang sesibuk itu, Ibu Suri berkata penuh rasa sayang.

“Qing’er, urusan sepele seperti ini biarlah para pelayan yang mengerjakannya. Kalau aku terbiasa dilayani olehmu, bagaimana kalau suatu hari nanti jika kau pergi?”

Qing’er menjawab sambil tersenyum, “Aku tak akan kemana-mana. Aku akan selamanya berada di sisi Lao Foye.”

Qing’er lalu berkata serius, ‘Lao Foye, ada satu hal yang hendak kuminta dari Anda.”

“Apa itu?”

“Lao Foye, aku mohon agar mengampuni kedua Putri. Jangan dihukum lagi.”

“Kenapa harus diampuni? Keduanya begitu liar dan tidak bersusila! Kalau tidak diberi pelajaran sekarang, kapan lagi?”

“Lao Foye, demi Qing’er, kumohon sudilah mengampuni keduanya. Kalau mereka dihukum lagi, Qing’er khawatir mereka akan sakit dan Kaisar akan marah.”

Ibu Suri menatap Qing’er dalam-dalam. “Qing’er, mengapa kau membantu kedua gadis itu?”

Qing’er menghembuskan napas. “Aku membantu mereka karena seseorang.”

“Siapa?”

“Erkang.”

Ibu Suri terkejut. Qing’er kembali melanjutkan, “Sebenarnya, selain Erkang, aku masih ada alasan lain. Xiao Yanzi yatim piatu. Ziwei juga telah kehilangan ibu. Kondisi mereka kurang lebih sama denganku. Tapi aku beruntung karena Lao Foye menyayangiku. Makanya aku sangat bersimpati pada mereka.”

Ibu Suri menatap Qing’er dengan seksama. “Menurutmu, kau dan Ziwei bisa berteman?”

Qing’er mengangguk. Katanya terus terang, “Aku selalu merasa, Ziwei dan Xiao Yanzi adalah gadis yang baik dan jujur. Aku agak iri dengan mereka. Meski sering berbuat keonaran, kisah hidup keduanya begitu menarik. Aku merasa mereka bisa bersahabat baik denganku. Aku selalu berharap bisa berteman dengan mereka.”

(Qing’er ini, diluarnya kelihatan kalem, di dalamnya penuh pergolakan!)

Ibu Suri akhirnya berkata, “Baiklah. Masalah ini tak akan kuperpanjang lagi. Demi dirimu. Semoga mereka menyadari kesalahan mereka. Panggillah mereka kemari untuk kuberi wejangan.”

***

Berkat Qing’er, Xiao Yanzi dan Ziwei lagi-lagi lolos dari hukuman Ibu Suri. (Ibu Suri ini kalau tidak dekat-dekat Permaisuri pasti baik, deh!)

Setibanya di Paviliun Shuofang, keduanya disambut gembira oleh para dayang dan kasim. Yongqi dan Erkang juga berada di sana. Erkang bahkan telah menunggu lama. Dia ingin bicara langsung dengan Ziwei.

Yang lainnya penuh pengertian meninggalkan Ziwei berdua bersama Erkang. setelah semuanya pergi, Erkang berkata lembut,

“Jangan marah padaku lagi, ya? Sejak bertengkar denganmu, beberapa hari ini waktu terasa lama berlalu. Aku hanya tahu kalau aku masih selalu memikirkanmu. Aku sungguh tersiksa kau acuhkan seperti itu.”

Ziwei berkata terisak, “kata-kata manis itu, kau tujukan saja buat Qing’er!”

“Kalau kau sedang marah, pukullah aku. Ketika seseorang sedang marah, kata-katanya tak bisa masuk hitungan. Jadi kita baikan saja, ya?”

“Tidak mau! Dia sudah berdiri di antara kita! Selamanya tak akan hilang dari sana!”

“Dia tidak akan pernah berdiri di antara kita,” bujuk Erkang.

“Tapi…, masih ada Jinshuo. Dia sudah jatuh cinta denganmu juga…”

Erkang berkata pedih, “Kumohon jangan pikirkan soal itu dulu sekarang! Tak ada seorang pun yang bisa menggantikanmu dalam hidupku. Kemarin, melihatmu mabuk membuat hatiku sakit…”

Air mata Ziwei bercucuran. Dia akhirnya luluh di hadapan Erkang.

“Apakah kau sudah memaafkanku?” tanya Erkang.

Ziwei berbisik lirih, “Bila gunung tak bertepi dan Langit-Bumi menyatu, barulah aku berpisah darimu…”

Hati Erkang terasa panas. Dipeluknya Ziwei erat-erat.

Ziwei merasa nyaman dalam pelukan Erkang. untuk sementara, soal Qing’er, soal Jinshuo, dia belum punya tenaga untuk memikirkannya lagi…

Bersambung ke Putri Huan Zhu II buku Kedua: Antara Hidup Dan Mati.

Iklan

5 pemikiran pada “[Sinopsis Novel] Putri Huan Zhu/ Huan Zhu GeGe II Bagian 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s