[Sinopsis Film] Postman to Heaven Part 2-End

Shi Jae Jun yang menemui Cho Ha Na di markas mecusuar menyadari sepertinya Cho Ha Na mulai tidak bisa melihatnya. Shi Jae Jun mencoba menawarkan kopi pada Cho Ha Na.
“Apakah kau minum kopi?”tanya Shin Jae Jun. Di dalam ruangan ini ternyata banyak foto mereka berdua antara Cho Ha Na dan Shin Jae Jun yang tertempel di dinding.
Shin Jae Jun menyerahkan segelas kopi pada Cho Ha Na. “Terima kasih”ucap Cho Ha Na.

Lalu ia meminumnya, namun tiba-tiba ia berhenti saat melihat surat tersempil di saku baju Shin Jae Jun.
“Apakah ada surat yang lain?”tanya Cho Ha Na. Lalu ia mengambil surat yang ada di saku Shin Jae Jun.
“Yang ini”ucap Cho Ha.
“Iya”jawab Shin Jae Jun.
Cho Ha Na mulai membaca isi surat itu,yeng ternyata itu surat kakek Lee pada anaknya yang telah meninggal.

Bunyinya“Seung Min sayang. Apakah kau masih belum bisa memaafkan ayahmu? Ayahmu yang setiap hari mengambilkan gambar untukmu. Karena dengan cara ini, ayah merasa bisa melihat kehadiranmu. Ayah sudah berhenti menjadi dokter. Bukan hanya karena ayah merasa tidak cocok, tapi ayah merasa tidak sanggup tiap bangun dipagi hari. Ayah menjadi dokter karena mengikuti jejak kakekmu. Kemudian ayah menjadi seorang optomerist (istilah kedokteran tentang apa ya? Saa bisa bantu jawab?) bekerja siang dan malam. Ayah tidak sadar, kalau ternyata kesehatan ibumu dalam keadaan gawat. Selama ini ayah menjadikan waktu sebagai alasan untuk menelantarkan kalian. Saat ibumu sakit kepala, ayah hanya bisa menyuruhnya untuk tidu saja.Jika saja aku lebih cepat menyadarinya, mungkin aku bisa menyelamatkannya.”

Flashback, Di sebuah rumah sakit Kakek Lee dan tim dokter tergesa-gesa masuk ke sebuah ruangan pasien.
“Ada apa?”tanya dokter pada perawat.
“Dokter, saya rasa kita harus memeriksanya”jawab perawat.
“Baik. Anda segera bersiaplah”ucap dokter lalu memeriksa pasien.
“Cepat bersiaplah”ujar dokter pada kakek Lee.
“Baik”jawab kakek Lee lalu bergegas pergi. Tiba-tiba seorang perawat menyampaikan pesan pada kakek Lee.
“Dokter, anda mendapat telepon dari anak anda”ujar perawat.
“Anakku?”tanya kakek Lee.
“Iya”jawab peerawat.
Kakek Lee pun bergegas menerima telepon.
“Ada apa?”jawab kakek Lee di telepon. Sepertinya anak kakek Lee mengabarkan bahwa ibunya meninggal.
Flashback selesai. Kembali ke isi surat kakek Lee.

“Sebelum meninggal ibumu telah memaafkan ayah, tapi kau tidak pernah memaafkanku. Ayah selalu takut pada pandanganmu waktu itu. Kau begitu membenciku. Ayah sangat merasa kesepian. Ayah selalu ingin meminta maaf. Ayah selalu berharap, kita bisa ke makam ibumu bersama-sama. Tapi kau meninggal. Tanpa memaafkan ayah. Ayah yakin, memang itulah yang kau harapkan. Sampai saat ini ayah masih berpikir seperti itu”.

Kembali ke Cho Ha Na dan Shin Jae Jun.
“Kau tahu apa? Aku rasa kita bisa membantunya menyelesaikan masalah ini”pikir Cho Ha Na. Shin Jae Jun hanya terdiam dan Cho Ha Na mencoba berpikir keras.


Di rumah kakek Lee tertidur di kursi. Ia bermimpi saat Seung Min anaknya meneleponnya cepat pulang karena ibunya sakit keras. Kakek Lee pun terbangun.

Pagi-pagi sekali kakek Lee sudah membakar sampah. Lalu ia akan membuang abunya. Tiba-tiba Shin Jae Jun datang. “Oh, kau orang yang datang waktu itu. Kau datang lagi!”ucap kakek Lee.

Shin Jae Jun diajak kakek Lee masuk ke dalam rumahnya, kakek Lee menyetel lagu di piringan hitam. Lalu kakek Leemenghampiri Shin Jae Jun dengan membawakannya kopi.
“Terima kasih”ucap Shin Jae Jun menerima segelas kopi.
“Aku tidak yakin, bagaimana rasanya hari ini”ucap kakek Lee. Mereka berdua pun menyeruput kopi masing-masing.
“Oh, masih enak”puji Shin Jae Jun. Kakek Lee pun menyeruput kopinya lagi sambil mendengarkan Shin Jae Jun bercerita.
“Tapi….manajer. aku ingin mengatakan hal yang sejujurnya. Aku ini hantu”ucap Shin Jae Jun. Kakek Lee pun kaget sampai tersedak.
“Apa?”tanya kakek Lee.
“Aku yakin, ku pasti menganggapku gila, bukan?”tanya Shin Jae Jun.
“Yah, begitulah”jawab kakek Lee tersenyum. Lalu tertawa kecil.
“Aku mengatakan yang sesungguhnya”ucap Shin Jae Jun.
“Tapi saat ini, kau ada di depanku?”tanya kakek Lee.
“Orang-orang normal tidak bisa melihatku”jawab Shin Jae Jun.
“Jadi maksudmu aku tidak normal?”tanya kakek Lee lagi.

“Orang yang bisa melihatku, adalah orang yang menderita karena kehilangan kerabatnya yang sudah meninggal. Hanya mereka….”jawab Shin Jae Jun menjelaskan.
Kakek Lee mendengarkan seksama dan berpikir.
“Lalu kenapa kau selalu mengambil gambar itu?”tanya Shin Jae Jun pada kakek Lee.
“Karena…”pikir kakek Lee namun terhenti, kakek Lee malah bertanya,”Kenapa kau ke sini?”pada Shin Jae Jun.
“Oh, maafkan aku. Manajer, maafkan aku”ucap Shin Jae Jun.
“Mungkin ini semua karena rasa bersalahku kepada anakku yang telah meninggal. Ini adalah salah satu cara bagiku untuk berkomunikasi dengannya. Kalau memang ada hantu datang, kenapa bukan hantu anakku? Kenapa orang yang tidak ku kenal”pikir kakek Lee.

“Maafkan aku karena sudah datang”ucap Shin Jae Jun.
“Oh, tidak apa-apa. Tidak masalah”jawab kakek Lee.
“Ada seseorang yang aku suka”ucap Shin Jae Jun.
“Oh, kau mulai ragu berbicara”tanya kakek Lee.
“Wanita itu masih manusia yang hidup di dunia ini. Dia adalah orang yang pertama kali membantuku”jawab Shin Jae Jun lemah.
Kakek Lee berpikir,”Kalau aku menjadi kau, aku pasti akan melamarnya. Kau pasti berharap agar dia tidak meninggal, tapi asal kau tahu, kapan saja dia bisa meninggal. Aku merasa seperti sedang berbicara dengan Buddha”ujar kakek Lee.
“Tapi kau ini berbohong tentang hantu itu, kan?”selidik kakek Lee. Shin Jae Jun terdiam, ia malah menyeruput kopinya yang diikuti kakek Lee, tapi kakek Lee terus memandangi Shin Jae Jun penuh selidik.

Cho Ha Na duduk seraya berpikir di sebuah coffee shop. Lalu ia melihat Shin Jae Jun datang. Cho Ha Na melambaikan tangan pada Shin Jae Jun yang datang mengampirinya.

“Dia sudah menikah dan memiliki seorang anak. Dia tidak mengundang ayahnya ke penikahannya. Dan setelah menikah, dia tida pernah berkunjung ke keluarganya lagi. Anak macam apa itu?”pikir Cho Ha Na menceritakan hasil penyelidikannya mengenai anak kakek Lee(Seung Min). Shin Jae Jun pun terdiam mendengarkan dengan seksama.
“Kemudian dia pergi ke Urugay….dan duarrr. Dia meninggal karena kecelakaan pesawat”lanjut Cho Ha Na.
“Oh, baiklah”ucap Shin Jae Jun datar.
“Aku ada ide!Tapi mula-mula, kita butuh suara anaknya. Setelah kita mendapatkan suaranya kita bisa bilang kalau itu adalah suara rekaman”ujar Cho Ha Na antusias.
“Baiklah”jawab Shin Jae Jun datar.
“Kita bilang saja rekaman itu direkam saat detik-detik pesawat itu jatuh. Anaknya memegang rekaman, kemudian merekam pesan itu. Direkaman itu, isinya ada pesan untuknya”lanjut Cho Ha Na menjelaskan idenya dengan antusias. Namun Shin Jae Jun menanggapinya tidak seantusias Cho Ha Na.

“Kalau begitu, kita kirim saja lewat sms”ujar Shin Jae Jun.
“Ah…tidak bisa”pikir Cho ha Na. “Saat itu, mereka pasti tidak membawa Hp”lanjutnya. Lalu Cho Ha Na meminum kopinya.
“Lalu… kau pikir kita bisa melakukannya?”tanya Shin Jae Jun.
“Kau tahu tempat yang selalu aku kunjungi itu, kan? Aku sudah memintanya untuk membantu kita. Dia bilang dia bisa menyiapkannya besok atau lusa, jadi…”jawab Cho Ha Na.
“Kau tahu apa?”tanya Shin Jae Jun cuek. Cho Ha Na pun terbengong-bengong saat mendengarnya.

“Apakah kau tidak berpikir kalau ini terlalu berlebihan”lanjut Shin Jae Jun.
“Apa?”tanya Cho Ha Na.
“Apakah menurutmu ini akan berjalan sesuai rencana”ujar Shin Jae Jun tanya balik.
Cho Ha Na terdiam berpikir,“Apa? Kenapa kau bersikap seperti ini?”. Namun Shin Jae Jun hanya terdiam.
“Berhentilah berpikir negatif, aku kan sudah bilang, ini pasti berhasil”lanjut Cho Ha Na penuh percaya diri lalu ia meminum kopinya lagi.
“Hei Ha Na”ucap Shin Jae Jun.
“Hei, aku mau tambah kopinya. Kau mau tambah juga, bukan?”ujar Cho Ha Na lalu bergegas pergi menambah kopi. Shin Jae Jun hanya terdiam.

Cho Ha Na pun mengantri membeli kopi. Ia sangat senang sekali namun saat ia menoleh ke tempat ia duduk dilihatnya Shin Jae Jun sudah tidak ada. Cho Ha Na pun melangkah untuk memastikannya namun kursi tempat Shin Jae Jun benar-benar kosong. Ia masih tidak percaya lalu ia pun mendekat ke tempat mereka berdua duduk.

Dan ternyata dilihatnya Shin Jae Jun masih duduk manis di tempat mereka. Cho Ha Na memandang Shin Jae Jun tanpa berkedip.
“Ada apa”tanya Shin Jae Jun. Cho Ha Na diam berpikir lalu ia berkata,”Selama ini aku yang selalu pesan. Kenapa kau tidak pernah gantian? Aku mau tambah caramel lagi”.

Lalu Cho Ha Na kembali duduk, namun Shin Jae Jun masih terdiam.
“Aku tidak bisa”jawab Shin Jae Jun.
“Kenapa?”tanya Cho Ha Na.
“Aku tidak bisa melakukannya”jawab Shin Jae Jun. Namun Cho Ha Na tidak menyerah ia tetap menyuruh Shin Jae Jun membeli kopi.
“Ini uangnya, sekarang belilah”suruh Cho Ha Na. Namun Shin Jae Jun masih belum juga pergi.
“Hei…Apa? Kenapa kau tidak mengantri? Tidak ada alasan kau tidak bisa melakukannya, cepat beli sana!”protes Cho Ha Na.

Lalu ia menarik tangan Shin Jae Jun agar segera pergi membeli kopi, “Cepat, cepat”serunya. Cho Ha Na pun berhasil menarik tangan Shin Jae Jun hingga berdiri.
“Aku akan mengambilkan caramel lotte”ujar Cho Ha Na. Namun Shin AJe Jun hanya berdiri dan tidak melangkah pergi.
“Cepat beli sana!”seru Cho Ha Na seraya mendorong Shin Jae Jun.
‘Kenapa kau tidak bisa membeli? Kenapa?”tanya Cho Ha Na seraya memukul-mukul punggung Shin Jae Jun lalu ia menangis .
“Cepat beli”rengeknya. Namun Shin Jae Jun hanya terdiam.

Shin Jae Jun berusaha mengejar Cho Ha Na yang keluar dai coffee shop.
“Ha Na”panggil Shin Jae Jun namun Ha Na tetap melanjutkan langkahnya. Shin Jae Jun pun berlari dan menahan pundah Cho Ha Na. Mereka pun berhenti.
“Jadi, kau memang bukan manusia? Dan kau benar-benar mengantar surat ke surga”tanya Cho Ha Na.
Namun Shin Jae Jun hanya terdiam. “Apa kau ini hantu sungguhan?”lanjut Cho Ha Na lagi.
“Begitulah”jawab Shin Jae Jung datar.
“Apa maksudmu? Tapi aku bisa melihatmu…Aku bisa melihatmu…Kau bilang wanita itu bisa melihatmu!”protes Cho Ha Na.
“Aku hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang merasakan kesedihan mendalam. Hanya orang yang tidak bisa menerima setiap kenyataan itu. Jika perasaan terhadap orang yang meninggal itu telah berkurang. Aku tidak akan bisa terlihat lagi”jelas Shin Jae Jun.


Cho Ha Na sedikit mengerti dengan penjelasan Shin Jae Jun. “Hei, tadi saat aku mengantri membeli kopi, aku tidak bisa melihatmu. Rasanya kau tidak ada di tempat itu”ucap Cho Ha Na sedih, ia pun tak dapat menahan tangisnya lagi.
“Iya. Karena kau mulai melupakan orang yang telah meninggal itu”jelas Shin Jae Jun.
“Itu karena…Itu karena….kau ada disisiku. Bahkan kita pernah berciuman”ucap Cho Ha Na yang masih ragu kalau Shin Jae Jun hantu.
“Kalau kau melupakan oang yang telah meninggal itu. Kau tidak akan bisa melihatku lagi”jelas Shin Jae Jun lagi. Cho Ha na memegang baju Shin Jae Jun. “Tapi aku mulai menyukaimu”ucap Cho Ha Na seraya menangis.
“Aku tahu”jawab Shin Jae Jun lemah. Suasana pun jadi hening.

Tiba-tiba Cho Ha Na mendapat telepon, ia pun mengangkat Hpnya.
“Iya. Baiklah aku segera ke sana”jawab Cho Ha Na di telepon yang ternyata mendapat telepon dari pembuat aneka macam suara.
“Rekaman itu…Rekaman suara anaknya itu sudah siap. Aku akan pergi sekarang”ujar Cho Ha Na.
“Sudah hentikan”pinta Shin Jae Jun.
“Ayo kita pergi sama-sama, ku mohon!”ajak Cho Ha Na seraya menarik tangan Shin Jae Jun.


Shin Jae Jun menghempaskan tangan Cho Ha Na. “Dia sudah tahu tentang ini”seru Shin Jae Jun.
“Ayo kita pergi sama-sama!… Ayo kita pergi sama-sama!”teriak Cho Ha Na seraya menangis.
Shin Jae Jun hanya terdiam. “Aku tidak percaya, aku tidak percaya kata-kata yang baru saja kau ucapkan. Kau ini manusia normal dan kita pernah berciuman. Dan…Karena aku mencintaimu”seru Cho Ha Na lalu bergegas pergi. Shin Jae Jun terdiam dia pun hanya bisa melangkah dan melihat Cho Ha Na pergi dengan meneteskan air mata.

Dengan ragu-ragu Cho Ha Na menemui kakek Lee.
“Annyeonghaseyo”sapa Cho Ha Na.
“Annyeonghaseyo. Silahkan masuk”jawab kakek Lee. Cho Ha Na pu masuk ke dalam rumah kakek Lee dengan hati-hati.
“Maaf. Apakah anda yang bernama Lee Moon Gye?”tanya Cho Ha Na.
“Iya benar”jawab kakek Lee.
“Ada sesuatu yang ingin saya beritahukan pada anda”ujar Cho Ha Na.
“Apa itu?”tanya kakek Lee. “Mungkin kau bisa duduk dulu”lanjut kakek Lee seraya mempersilahkan Cho Ha Na duduk.
“Aku akan mengambilkan kopi untukmu kopi yang enak sekali”ucap kakek Lee.
“Oh tidak perlu. Anda tidak perlu repot-repot”jawab Cho Ha Na.

Lalu kakek menoleh ke depan dan dilihatnya Shin Jae Jun duduk lalu bertanya pada Cho Ha Na, apakah ia juga melihatnya.
“Maaf. Apakah kau melihat pria disebelah sana?”tanya kakek Lee.
Cho Ha Na pun menoleh dan melihatnya juga. “Iya”jawabnya.
“Tampan… apa iya? Ah, pria ganteng?”tanya kakek Lee. “Iya”jawab Cho Ha Na tertawa kecil. Kakek Lee pun tersenyum.
“Senang bertemu denganmu”sapa Cho Ha Na pada Shin Jae Jun.
Shin Jae Jun pun menoleh dan berdiri, lalu ia mengangguk memperkenalkan diri.
“Tuh? Aku sudah bilang. Apa yang kau bilang waktu itu hanya gurauan saja. Seharusnya kau tidak boleh mempermainkan orang tua sepertiku. Tapi itu lucu”seru kakek Lee lalu bergegas membuat kopi.

Saat kakek sibuk membuat kopi, Cho Ha Na pun menghampiri Shin Jae Jun dengan berlari kecil.
“Terima kasih. Kau masih datang. Kau mudah dipercaya”ucap Cho Ha Na. Lalu ia menoleh melihat kakek dan segera kembali ke tempat duduknya.

“Minum dulu”ucap kakek Lee seraya menyerahkan segelas kopi pada Co Ha Na.
“Baik, terima kasih”jawab Cho Ha na.
“Ah, enak sekali. Jae Jun,kemarilah”panggil kakek Lee. Shin Jae Jun masih duduk terdiam.
“Tunggu. Cerita ini agak rumit”Cho Ha Na mulaui bercerita. Ia pun menaruh kembali gelas kopinya. Dan kakek mendengarkan seraya menyeruput kopinya.
“ Anak anda…. Meninggal pada kecelakaan pesawat saat ke Urugay, bukan?”tanya Cho Ha Na.
“Benar”jawab kakek Lee lalu menaruh gelas kopinya.

Cho Ha Na pun mengambil kaset suara dari tasnya.
“Ini…Saat itu saya sedang berkunjung ke tempat yang ingin dikunjunginya. Saya tinggal di sebuah hotel indah di dekat pantai. Tempat itu letaknya dekat dengan lokasi kecelakaan pesawat anak anda. Dia pasti sudah menyiapkan tasnya saat gelombang pasang. Benda ini ada dalam tasnya. Dan benda ini ditemukan dalam bungkusan plastik”kata Cho Ha Na meneruskan ceritanya. Kakek Lee pun mendnegarkannya dengan seksama. Begitu pula Shin Jae Jun dari tempat duduknya yang tak jauh.

“Manajer itu bilang, benda ini ditemukan saat musim dingin 1998”lanjut Cho Ha Na.
“Itu tepat saat meninggalnya anakku…”jawab kakek Lee.
Wanita yang menemukannya bilang dia tidak mengeti bahasa ini. Kemudian dia bilang, nanti kalau ada orang Korea datang minta mereka terjemahkan”ujar Cho Ha Na.
“Apa kau sudah mendengarnya?”tanya kakek Lee.
“Iya”jawab Cho Ha Na diiringi anggukan.
“Lalu apa yang dikatakannya?”tanya kakek Lee lagi.
“Ini adalah sebuah harapan”jawab Cho Ha Na.

Lalu kakek Lee mengambil kaset yang ada di tangan Cho Ha Na.
“Apakah ini benar-benar dia?”tanya kakek Lee. Shin Jae Jun pun mendengarkannya dengan seksama percakapan kedua oang ini.
“Mula-mula, saya membawa ini ke kantor polisi untuk memeiksa apakah ada kecelakaan. Tapi kemudian…”jelas Cho Ha Na namun terpotong.
“Kemudian apa?”tanya kakek Lee.
“Tapi kemudian, ya ampun terlalu menakutkan. Mereka mulai mencurigaiku. Dan mereka mulai menuduku mempermainkan mereka”jawab Cho Ha Na.
“Lalu apa yang kau lakukan?”tanya kakek Lee sembari terus memperhatian kaset yang ada di tangannya.
“Lalu, saya ambil lagi saja. Anda tidak tahu sudah berapa lama saya mencari anda. Anak anda bernama… Lee Seung Min. Benar?”ujar Cho Ha Na.

“Iya, benar. Anakku bekerja sebagai editor, mungkin saat itu dia memang membawa kamera dan perekam suara ini”jawab kakek Lee.
“Kalau begitu, apakah anda ingin mendengarkannya?”tanya Cho Ha Na.
“Di mana radionya?”pikir kakek Lee lalu mencari ruangan radionya.

Cho Ha Na pun mengikutinya, saat ia melewati meja Shi Jae Jun ia menoleh. Mereka berdua pun saling berpandangan.

Kakek Lee pun menyetel kaset rekaman suara anaknya ditemani Cho Ha Na dan Shin Jae Jun.
Pertama-tama terdengar suara pesawat yang hampir jatuh, lalu tedengar suara seseorang kakek pun mendekatkan diri ke arah radio.

“Ini aku Lee Seung Min. Aku berharap kaset ini ditemukan. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu, menjaga anak kita dengan baik. Maafkan aku, harus berakhir seperti ini. Aku harap kau menjaga anak-anak kita dengan baik dan ayah. Ayah sejak dulu au sudah memaafkan ayah. Maafkan aku. Sebenarnya sudah sejak lama aku memaafkan ayah. Ayah, aku minta maaf dan berterima kasih padamu”.
Kakek Lee pun mulai berkaca-kaca begitupula Cho Ha Na. “Seung Min, Seung Min’panggil kakek Lee.
Kakek pun menangis. Cho Ha Na berinisiatif mematikan rekaman itu.

Lalu ia menoleh ke arah Shin Jae Jun. Shin Jae Jun mau bilang sesuatu namun dengan cepat Cho Ha Na menyahut.
‘Anak anda…Anak anda sudah memaafkan anda’ucap Cho Ha Na.
‘Kami minta maaf pak. Rekaman itu palsu’ucap Shin Jae Jun tiba-tiba.
Cho Ha Na pun menoleh ke arah Shin Jae Jun.

‘Rekaman ini sudah direkayasa. Kami merekam suara ini dengan meminta bantuan seorang pakar’lanjut Shin Jae Jun. Kakek Lee pun berhenti menangis.
‘Dan ini sudah di edit’ujar Shin Jae Jun lagi.
“Hentikan”seru Cho Ha Na.
“Tidak, ini sungguhan. Aku benar menemukannya di Urugay. Aku menghabiskan seluruh waktuku untuk menemukanmu”jelas Cho Ha na pada kakek Lee.
‘Itu bohong!”seru Shin Jae Jun.
“Ini tidak bohong”balas Cho Ha Na.
‘Bohong”teriak Shin Jae Jun.”Tidak”balas Cho Ha Na berteriak.
‘Tadi…kalian bilang, kalian tidak mengenal satu sama lain”ujar kakek Lee.

Mengetahui rahasia mereka terbongkar Cho Ha Na pun menarik tangan Shin Jae Jun keluar rumah. Mereka berbicara di depan rumah.
“Kenapa? Kita sudah melakukan yang seharusnya?”seru Cho Ha Na.
“Kita tidak boleh melakukan ini”jawab Shin Jae Jun.
“Kenapa? Orang itu sudah mempercayai kita. Dia sudah percaya! Inilah satu-satunya cara agar dia bisa merasa lega. Dia bisa merasa nyaman, kenapa?”tanya Cho Ha Na.
“Ini adalah masalah orang itu dengan anaknya”jawab Shin Jae Jun.
“Kau tidak tahu apa-apa! Kau belum pernah merasakan penderitaan seperti ini. Kalau kau sudah merasakan penderitaan ini, kebohongan bisa membuat segalanya menjadi lebih baik. Kau tidak pernah tahu, bagaimana caranya menyenangkan orang”seru Cho Ha Na.

Tanpa mereka sadari percakapan mereka terdengar oleh kakek Lee dari dalam karena pintu tak tertutup.
“Tidak apa-apa, kalau kita berbohong untuk membuatnya nyaman dan merasa lebih baik. Hanya orang picik yang berpikir seperti itu. Kau harus melihatnya dari sisi realistik!”seru Shin Jae Jung.
“Kalau begitu…kenapa kau memulai pekerjaan ini? Apa yang sudah kau…? Kau mengirimkan surat orang-orang itu ke surga?”tanya Cho Ha Na.
“Sejujurnya, aku lebih memikirkan perasaan orang lain dibandingan perasaanku sendiri. Sebenarnya kau yang picik, bukan?”lanjut Cho Ha Na.

“Kau bilang apa?”tanya Shin Jae Jun.
“Kau pengecut!”seru Cho Ha Na.
“Katakan lagi”ujar Shin Jae Jung. Kakek yang mnedengar percakapan mereka dari tadi mulai sadar dari kesedihannya ia mulai melangkah ke depan.
“Kalau kamu mau, aku bisa mengatakannya ribuan kali, dasar egois!”seru Cho Ha Na.

Mereka berdua saling berpandangan acuh lalu kakek Lee sampai di pintu.
“Hei, sudah”ucap kakek Lee. Cho Ha N pun menoleh diikuti Shin Jae Jun. Cho Ha Na meminta maaf pada kakek Lee.
“Maafkan aku”ucap Cho Ha Na seraya membungkuk yang diikuti Shin Jae Jun.
“Aku tidak percaya ini…. Maafkan aku, tapi bisakah kalian berdua pergi. Hari ini, aku ingin sendiri dulu”ucap kakek Lee lalu menutup pintu rumahnya.
Kakek Lee yang merasa sedih bersandar di kursi kesayangannya.


Cho Na Ha yang masih marah berjalan lebih dahulu, Shin Jae Jung mengikutinya di belakang. Tiba-tiba Cho Ha Na menghentikan langkahnya.
“Aku akan lewat sini”ucap Shin Jae Jun. Cho Ha Na tidak menanggapinya ia pun berjalan lawan arah dengan Shin Jae Jun. Dan Shin Jae Jun pun hanya bisa memandang kepergian Cho Ha Na.


Tiba-tiba Cho Ha Na menghentikan langkahnya. Saat ia menoleh ke belakang lagi Shin Jae Jun sudah tidak ada, dia pun berlari kembali ke tempat mereka tadi. Tapi hasilnya nihil Shin Jae Jun sudah tidak ada di tempat itu.


Kakek Lee mengunjungi kotak surat yang bisa mengantarkan surat ke surga. Lalu ia memotret awan kembali. Tiba-tiba hujan datang kakek Lee pun menutupi lensa kameranya. Lalu Cho Ha Na datang dan memayungi kakek Lee.

Kakek Lee mengajak Cho Ha Na masuk ke dalam rumah. Kakek pun membuatkan kopi.
“Krim? Gula?”tanya kakek Lee menawarkan tambahan untuk kopi.
“Oh, tidak”jawab Cho Ha Na.
“Baiklah”ucap kakek seraya menyeruput kopinya dan berjalan ke arah jendela.
“Gambar-gambar ini…pasti kau mengambilnya setiap hari?”tanya Cho Ha Na
“Itu saat badai. Di tahun 2003. Apa kau ingat?”tanya kakek Lee.
“Iya”jawab Cho Ha Na lalu ia membuka album kumpulan foto awan.
“Saat itu, temanku meninggal. Mulai saat itulah, aku mulai mengambil gambar-gambar ini”kata kakek Lee mulai bercerita sambil melihat pemandangan hujan dari jendela.
“Tidak peduli keadaan apapun, aku tetap berusaha mengambil gambar. Aku mengambil gambar, tempat di mana sekarang mereka berada”lanjut kakek Lee.
“Aku sangat menyesal mengenai perbuatanku waktu itu”ucap Cho Ha Na meminta maaf.
“Setelah kejadian itu, aku ingin pergi. Aku kira itu sungguhan”ujar kakek Lee.
“Kau pasti sangat marah, ya?”tanya Cho Ha Na.

“Aku tidak marah. Saat kau dewasa, kau harus siap menerima kenyataan seperti ini”jawab kakek Lee lalu ia duduk dikursi kesayangannya. Cho Ha Na pun tersenyum begitu pula kakek Lee.
“Kalian berdua sedang memiliki masalah antara satu dan yang lain”tanya kakek Lee.
“Oh, iya…..”jawab Cho Ha Na malu-malu.
“Saat itu, aku memikirkan siapa yang salah dan benar di antara kalian”ujar kakek Lee.
“Apa…?”tanya kakek Lee.
“Aku benar-benar terjebak. Aku bepikir dalam hati. ‘kalau aku percaya padamu? Apakah aku akan bena-benar merasa nyaman?’ Semuanya masih berada di dalam ini…(hati) di tempat yang dalam. Pikiran ini….Sepeti yang Jae Jun katakana, kita tidak bisa yakin dengan kebohonganlah kita bisa membuat orang lain nyaman”jawab kakek Lee.
“Tapi kau tidak akan tahu, kalau kami tidak memberitahunya”ujar Cho Ha Na.

“Tapi saat kau memberikan itu, aku sudah sadar. Aku sudah memikirkan ini. Belum pernah ada…. Sebenarnya aku masih belum yakin akan hal ini, tapi aku rasa ini akan menjadi keputusan yang baik. Setelah aku melihat yang terjadi, saat kalian berdua bertengkar. Au berpikir, ‘mereka berkelahi Karen aku, mereka berkelahi demi aku…’ tadinya ingin marah, tapi aku justru merasa bersyukur. Saat ini hal yang paling kukagumi adalah…”kata kakek Lee menjelaskan lalu berpikir sebentar. Cho Ha Na pun mendengarkan penjelasan kakek dengan seksama.
“Langit”jawab kakek Lee.
“Langit..?”tanya Cho Ha Na.
“Iya, langit. Kalau selama sisa hidupku, aku mengambil gambar tentang langit terus. Aku rasa, anakku akan memaafkanku. Karena aku merasa pikiranku bisa menemuinya. Aku selalu menjadikan itu sebagai alasan, tapi sekarang aku akan berubah. Setelah kita bicara, aku merasa lebih nyaman. Dan sekarang kehidupanku sudah berubah”jawab kakek Lee.
“Terima kasih”ucap kakek Lee pada Cho Ha Na. Cho Ha Na pun tersenyum.


“Apakah kau dan Jae Jun sudah baikkan?”tanya kakek Lee.
“Tidak”jawab Cho Ha Na malu-malu.
“Setelah kejadian itu, kami tidak pernah bertemu”lanjut Cho Ha Na.
“Benarkah? Apa kau serius?”tanya kakek Lee.
“Jae Jun pernah datang ke sini?”lanjut kakek Lee. “Benarkah?”tanya Cho Ha Na.
“Dia bilang ingin pergi ke suatu tempat, mungkin dia mau pergi ke tempat asing?”jawab kakek Lee.
“Apa?”tanya Cho Ha Na.
“Aku menyuruhnya untuk kembali lagi, tapi dia bilang ingin pergi ke tempat yang jauh. Jadi dia tidak mungkin sering ke sini”jawab kakek Lee.
Cho Ha Na seperti tersadar, “Maafkan aku, tapi aku rasa, aku akan pergi sekarang”ucap Cho Ha Na lalu berpamitan dan pergi.


Cho Ha Na pun segera berlari dibawah guyuran hujan mencari Shin Jae Jun, ia pun mencari ke tempat kotak surat namun sama saja tidak ada. Lalu ia ingat saat di coffee shop marah-marah minta Shin Jae Jun pergi membeli kopi. Ternyata di coffe shop itu Shin Jae Ju sudah tidak dapat terlihat jadi Cho Ha Na marah-marah sendiri dikira orang gila.

Shin Jae Jun menulis suar yang berbunyi, “Terima kasih karena beberapa hari ini kau telah menemaniku. Dan maafkan aku. Saat-sat bersamamu sangat menyenangkan. Tapi sekarang, aku harus meninggalkan semua ini. Aku sudah pernah bilang padamu sebelumnya”.
Cho Ha Na seperti biasa menaiki bus menuju surga seorang diri, ternyata itu bus menuju surga hehehe.
“Saat aku ketahuan menipu. Itu adalah akhir dari pekerjaanku”.
Supir bus memperhatikan Cho Ha Na yang duduk seorang diri.

“Ha Na, aku belum sempat memberitahumu tentang diriku sebenarnya. Aku ini orang yang menyedihkan. Dulu aku pernah memulai usahaku. Tanpa niat sedikitpun . Dan aku selalu melakukan hal sesuka hatiku. Saat itu. Aku menganggap hidupku hanya sebagai mainanku saja”
Kembali ke Cho Ha Na, ia meminta supir bus agar lebih cepat. “Maaf Ahjuhsi, apa bisa lebih kencang?”tanya Cho Ha Na.
“Oh, iya. Maafkan aku”jawab supir bus.
“Tapi semuanya menjadi kacau. Setiap hubungan yang aku jalani, semuanya hilang meninggalkanku. Keluargaku, temanku, dan kekasihku. Karena itulah aku menjadi tertekan”.

Cho Ha Na telah sampai dekat mecusuar pantai, ia pun berlari ke dalam markas mereka.
“Saat itu aku merasa sangat lelah. Kemudian aku mengalami kecelakaan. Pada saat itu. Aku merasa telah lari dari permainan kehidupan yang sudah melelahkanku. Tapi setelah menemukan pekerjaan ini, aku merasa bahagia. Setelah bertemu denganmu, aku merasa telah berubah total. Aku merasa telah menemukan sesuatu yang khusus. Ini sungguhan. Waktu yang telah kuhabiskan bersamamu….adalah waktu terindah bagiku. Aku jadi berpikir. Daripada mengirimkan surat orang lain. Aku selalu ingin mengirimkan suratku sendiri. Setelah melihat ke belakang, banyak pikiran rumit dikepalaku. Aku berusaha keras untuk menulis surat ini. Renacanamu untuk memecahkan masalah ayah dan anak itu, menurutku sangat kacau. Tolong maafkan aku…”



Cho Ha Na yang telah berhasil masuk ke dalam markas mecesuar menemukan surat yang ditulis Shin Jae Jun di atas meja. Cho Ha Na pun mengambil dan membacanya.
“Sebab, aku tidak pernah menulis surat sebelumnya….Aku selalu ingin mengirim sebuah surat kepada seseorang. Dan aku pikir, aku harus melakukannya. Maksudku, aku sangat ingin melakukannya. Ha Na, aku sangat bersyukur. Ha Na….Sampai jumpa”bunyi isi surat Shin Jae Jun.
Cho Ha Na pun tak dapat membendung tangisnya. Satu persatu barang-barang milik Shin Jae Jun yang ada di ruangan itu menghilang. Termasuk foto dirinya menghilang tiba-tiba (aneh hehehe).

Ternyata Shin Jae Jun di rawat disebuah rumah sakit, ia sudah koma selama 2 minggu. Ibunya menemuinya dokter menanyakan keadaan anaknya.
“Bagaimana keadaan anak kami….sekarang sudah berjalan 2 minggu?”tanya ibu Shin Jae Jun pada dokter .
“Tampaknya, sanak saudaranya…. Sudah harus bersiap-siap”jawab dokter.
Shin Jae Jun terbaring koma dengan bantuan alat-alat medis.

Hantu (arwah) Shin Jae Jun tiba di pengadilan malaikat (kita sebut saja begitu). Ia melapor telah menyelesaikan tugasnya.
“Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik”tanya malaikat pencatat.
“Maafkan aku…. Kalau sudah mengganggumu”jawab Shin Jae Jun minta maaf.
“Sekarang pekerjaanmu sudah selesai”ujar malaikat.
“Baiklah”ucap Shin Jae Jun.
“Kau bisa kembali menjadi manusia”ujar malaikat.
“Apa?”tanya Shin Jae Jun kaget.

“Kami sangat bersyukur karena kau telah mengirimi surat-surat itu. Kau telah menyelamatkan banyak orang. Kau sendiri tahu itu”jawab malaikat.
“Itu tidak benar”ujar Shin Jae Jun.
“Kau telah membantu Ha Na ceria dan lebih berpikir positif. Intinya, aku mengijinkanmu kembali menjadi manusia”jelas malaikat.
“Terima kasih”ucap Shin Jae Jun.
“Gunakan pintu itu”tunjuk malaikat ke arah kanan. Shin Jae Jun melangkah pergi. Malaikat menggosok hidungnya lalu menjilat tangannya dan meneruskan catatannya. (Hueksssssss).

Shin Jae Jun menghentikan langkahnya, “Hari ini…. Bukannya hari ini bus itu akan menjemputku?”tanya Shin Jae Jun.
“Tidak. Hari ini, kau harus berjalan kaki”jawab malaikat. (walah kapan sampainya? Hahaha).
“Maaf”ucap Shin Jae Jun.
“Iya, ada apa?”tanya malaikat.
“Bagaimana dengan kenangan selama 2 minggu ini?”tanya Shin Jae Jun.
“Kau akan menganggap itu sebagai mimpimu saja”jawab malaikat.
“Aku adalah tipe orang yang mudah lupa….”ujar Shin Jae Jun.
“Itu bukan tanggung-jawabku”jawab malaikat cuek.
“Kejam sekali kau”protes Shin Jae Jun.
“Kalau aku kejam, mungkin aku tidak mengirimmu kembali?”jawab malaikat.
Shin Jae Jun berpikir iya juga ya, kalau kejam mana boleh ia kembali jadi manusia ia pun menuju pintu keluarnya namun terhenti karena masih ada yang mau ditanyakan lagi.
“Maafkan aku, tapi satu hal lagi?”ucap Shin Jae Jun.
“Apa?”tanya malaikat.
“Ha Na…. gadis yang bersamaku selama ini….Bagaimana dengan ingatannya?”tanya Shin Jae Jun.
“Memangnya kau tidak mau mencari tahu sendiri?”tanya malaikat balik.
“Oh…iya”jawab Shin Jae Jun.
“Maafkan aku, saat ini aku sedang banyak perkerjaan”seru malaikat.
Shin Jae Jun pun mengerti. “Terima kasih banyak”ucap Shin Jae Jun lalu pamit.

Shin Jae Jun membuka pintu keluarnya, ia pun berjalan pada sebuah lorong dari jalan searah muncul segerombolan orang-orang berpakaian putih yang berjalan berlawanan arah dengannya. (orang-orang yang sudah meninggalkah?).
Lalu ia berpapasan dengan kakek Choi (berarti kakek Choi sudah meninggal donk hiks).

Dan tenyata ada seorang nenek menunggu sesorang, nenek itu memanggil kakek Choi , kakek Choi pun menoleh dan menghampiri nenek itu yang tak lain adalah istrinya. Mereka berdua pun berpelukan dengan mesra. Shin Jae Jun tersenyum melihatnya. (Berati ingatan Shin Jae Jun kuat, tadi kan bilang dia mudah lupa hehehe).

Kembali ke tubuh Shin Jae Jun yang tergeletak karena koma. Dan arwah Shin Jae Jun mondar-mandir. Lalu tiba-tiba Shin Jae Jun pun bereaksi seperti sudah siuman, suster yang merawatnya pun segera mencari dokter sampai terjatuh-jatuh.

Di pagi yang cerah seorang lelaki menaiki sepeda (ayo tebak sapa??).
Dan ternyata Ha Na telah bekerja di sebuah perusahaan, ia diminta managernya mengantarkan surat ke kantor pos. Cho Ha Na pun pergi ke kantor pos.

Cho Ha Na membawa banyak dokumen ke kantor pos. Karena tidak hati-hati meletakkan di meha tumpukan dokumennya pun jatuh. “Kenapa aku tiba-tiba begini?”gerutunya seraya mengumpulkan dokumen-dokumen yang jatuh. Tiba-tiba datang seseorang datang membantu mengumpulkannya. Orang itu tak lain adalah Shin Jae Jun yang telah menjadi manusia hehehe.
“Terima kasih”ucap Cho Ha Na senang, saat ia menoleh ke arah orang yang menolongnya ia terlonjak kaget. Namun Shin Jae Jun sepertinya tidak ingat, setelah selesai membantu Cho Ha Na, ia menemui petugas kantor pos.
“Aku ke sini untuk memeriksa sesuatu”ujar Shin Jae Jun pada petugas kantor pos.


“Hantu,…… Hantu?”guman Cho Ha Na yang terus memperhatikan Shin Jae Jun.
Selesai menemui petugas kantor pos, Shin Jae Jun menyapa Cho Ha Na. “Apakah kau sudah mengambil nomor antrianmu?”tanya Shin Jae Jun.
“Aku lupa”jawab Cho Ha Na seperti orang linglung. Shin Jae Jun pun mengambil nomor antriannnya. “Kau bisa mengambil punyaku”ujar Shin Jae Jun menawarkan nomor antriannya untuk Cho Ha Na.
“Tidak usah”ucap Cho Ha Na seraya menerima nomor antriannya.
“Baiklah, aku pergi dulu”ujar Shin Jae Jung lalu melangkah pergi. Cho Ha Na mencubit tangannya untuk memastikan bahwa ia tidak bermimpi.

Sadar itu bukan mimpi ia pun segera menyusul Shin Jae Jun keluar kantor pos. Namun di luar sudah tidak ada dia pun kembali masuk ke dalam.

Dan ternyata Shin Jae Jun masih di dalam kantor pos. Ia pun menghampiri Shin Jae Jun.
“Apakah…apakah kita pernah bertemu sebelumnya?Di mana ya…?tanya Shin Jae Jun ragu.
“Di mana?”jawab Cho Ha Na balik bertanya.
“Mungkin di mimpiku. Di sebuah bukit…Luas sekali. Sebuah kotak surat di padang rumput yang hijau”jawab Shin Jae Jun.
“Myungdong”ucap Cho Ha Na.
“Di bus”tambah Shin Jae Jun.
“Mecusuar”tambah Cho Ha Na.
“Terkadang di kedai kopi Taiti?”pikir Shin Jae Jun.
“Dan seterusnya”ucap Shin Jae Jun
“Kau benar”ucap Cho Ha Na tersenyum. Mereka berdua pun tersenyum.

Untuk memastikan bahwa ini nyata Cho Ha Na pun memeluk Shin Jae Jun di tengah keramaian orang-orang.

Shin Jae Jun pun mengingatkan bahwa mereka sedang ada dikantor pos.
“Orang-orang melihat kita. Kita sedang berada di kanto pos”ujar Shin Jae Jun seraya mencoba melepaskan pelukan Cho Ha Na . Namun Cho Ha Na cuek saja, dia tidak mau melepaskan pelukannya.
“Bukannnya kau sudah meninggal?”tanya Cho Ha Na.
“Aku kembali dari kematianku”jawab Shin Jae Jun. Cho Ha Na pun mempererat pelukannya yang dibalas Shin Jae Jun tanpa mempedulikan perhatian orang-orang hehe.

————————————–Happy Ending-————————————–

“Setelah itu, Jae Jun menjadi pengantar surat sungguhan (kalau ada pak pos seperti Jae Jun RF pasti berebutan kirim surat wkwkwkw). Dan aku menjadi ilustrator kartu pos. Aku merasa senang jika ada orang yang menulis surat di atas kartu pos yang aku rancang. Kadang-kadang aku berselisih denga Jae Jun. Karena dia ingin membaca isi suat yang ada di kotak pos.

Dan cerita ini berakhir….Kalau, Kalau…. Kalau ada seseorang yang tidak kenal bertanya padamu,”Apakah kita penah bertemu sebelumnya?” atau “Kau adalah pahlawan wanita di mimpiku” Di jalanan. Mungkin itu bukan hanya gurauan semata. Pria itu, mungkin adalah takdirmu”suara hati Cho Ha Na.

Note : Akhirnya selesai juga nulis ini hehe, sebelum mulai bimbingan skripsi nulis sinopsis kesampaian juga, sepertinya jadi makin penasaran ama TVXQ ni ari hahaha, akting Jaejoong keren ditambah uni HHJ, btw fams atu para pembaca ada yang punya contoh program menggunakan VB.Net khususnya menggunakan database ms. acces? dan ada perhitungan pxlxt sebanyak 2-3 kali, bolehlah berbagi *ngarep

Iklan

13 pemikiran pada “[Sinopsis Film] Postman to Heaven Part 2-End

  1. huwa daebak ka ari,
    makin cinta sama ka ari, hahaahahah
    Jaejongie keren, tapi aku kurang suka potongan rambut dia yang kaya gitu, uni Han juga cantik banget, cocoklah mereka…

    Suka

  2. Wa wa,, kim jaejoong emg keren,, wlpun skrg udh psah ma tvxq jd JYJ tetep cnta dh ma mreka smua.. Udh prnah liat dvdnya tp gk trlalu ngerti jlan crtanya,, stlah bca sinopsisnya mlah lbih ngena,, hehehe… Mksh buat sinopsisnya 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s