[Sinopsis] The Greatest Love/Best Love Episode 14

“Ding Dong!! apa kalian merindukanku?……. do’akan kesembuhanku yaaaaaa…….”

Dokko Jin menawarkan dirinya sebagai perisai Ae Jung. Ae Jung langsung menolaknya. Dokko Jin berusaha membujuk Ae Jung, ia mengenggam tangan Ae Jung, “Goo Ae Jung, Cobalah memikirkannya dengan tenang”.

“Seberapa tenang yang kau mau? Aku terlalu tenang hingga akan membeku sampai mati…. AKU BILANG BAGUS KAU AKAN MATI”jelas kemarahan tersirat dalam nada Ae Jung. Ia melepaskan tangannya yang di pegang Dokko Jin. ”Bukankah itu yang kau katakan padaku? Menjual kematianmu untuk menyelamatkan diriku?….”

Ae Jung menepis tangan Dokko Jin yang mencoba mengenggam tangannya lagi, “Jangan coba untuk memegangku…..Aku bukan chargermu atau apa pun lagi”. Ae Jung mulai menahan tangis, ia dengan tegas meminta agar Dokko Jin tak memikirkan soal kematian atau menjatuhkan diri dalam hinaan, “Jangan bermimpi tentang kematian. ..Tinggalah di puncak menara tertinggi dengan sikap arogan dan hiduplah dengan baik!”.

Ae Jung lalu pergi meninggalkan Dokko Jin yang hanya bisa menghela nafas dan bergumam, “Goo Ae Jung, tolonglah….”. Jelas keduanya sama-sama ingin melindungi orang yang mereka cintai.

“Di mana Dokko Jin?”tanya Kepala Moon sesaat sebelum Ae Jung masuk ruang konpres. Melihat Ae Jung menggeleng, kepala Moon menarik nafas lega, ia memegang bahu Ae Jung dan memberi tambahan semangat,
“Jangan menjual siapapun jika kau tidak ingin. Setelah semua yang terjadi, yang harus kau lakukan adalah meminta maaf…Aku yang akan mengurus sisanya.”

Ae Jung masuk ke ruangan konpers diiringi kilatan blitz wartawan, ia langsung di berondong pertanyaan-pertanyaan mulai dari masalah bubarnya NTG, penghianatannya pada NTG dengan memilih solo karir, juga tentang Pil Joo. Ae Jung mencoba tegar, ia meminta maaf atas semua masalah yang terjadi.

Ae Jung terus menunduk, sementara wartawan masih terus mengajukan pertanyaan yang cukup menohok, “Dengan masalah demi masalah yang timbul, bagaimana bisa anda terus menjadi selebriti dengan kesan buruk dan image jelek?”.
Ae Jung tak menjawab, ia mengingat perkataan Dokko Jin, ‘Goo Ae Jung, tidaklah cukup bagimu untuk melarikan diri hanya dengan kekuatanmu sendiri’
“Bagaimana kamu pikir kamu bisa mengubah imagemu?”. Satu pertanyaan lagi dari para wartawan.
Ae Jung masih tetap terdiam, ia kembali ingat perkataan Dokko Jin. ‘Bahkan jika aku mati, aku masih dapat melindungimu’.

Dan inilah jawaban Ae Jung, “Jika aku mati, apa bisa beres?” seketika suara sunyi, hanya suara blitz lampu saja yang terdengar, “Jika aku mati, apa aku bisa keluar dari masalah ini?… Jika aku mati, apapun yang ku jual, siapapun yang ku cintai, akan aman dan nyaman? Takkan diserang dan takkan di benci?” air mata Ae Jung mulai berjatuhan, saat ini apapun yang dia lakukan siapapun yang terlibat dengannya akan ikut buruk karena imagenya yang buruk. “Itu tak benar, Bagaimana mungkin kematian akan melindungiku atau menyelesaikan masalahku… itu tak masuk di akal”. Ae Jung yang tetap tak rela membayangkan Dokko Jin akan menukar kematiannya demi dirinya pun mulai tak bisa menahan tangisnya, ia tersedu.
Kepala Moon buru-buru menyelamatkan situasi dengan menutup konpers hari itu dan membawa Ae Jung keluar.

Kepala Moon sadar konpers hari itu makin memanaskan situasi, dan Dokko Jin punya solusinya: membuat berita yang lebih besar untuk menutupi berita soal Ae Jung, ‘Dokko Jin menunggu operasi, akankah dia hidup atau mati?’. Kepala Moon mengingatkan hal itu akan membuat sisa waktu Dokko Jin selama menunggu hari operasi tiba dengan di kelilingi wartawan.

Dokko Jin sadar itu juga, tapi sudah bulat tekadnya, pengorbanan apapun akan ia lakukan untuk melindungi Ae Jung.

Sementara itu Ae Jung di tempat Jenny melarikan diri ke minuman. “Oenni, jika seseorang yang kau cintai akan mati, bukankah seharusnya kau meratap dan menangis memintanya untuk tidak mati, membagi kesedihan bersama dan saling menghibur? Bukankah seharusnya seperti itu?…. Tapi dia mengatakan jika dia mati, banyak hal baik yang akan terjadi padaku….. Apa yang harus aku katakan? ‘Kau akan segera mati… Terima kasih untuk mati… Kau tidak boleh tidak mati’ …. Apa harus seperti itu?”.

Jenny bingung mendengarnya, ia yang memang tak tahu apa-apa bertanya-tanya ada apa dengan Dokko Jin dan siapa yang akan mati. Ae Jung yang mulai mabuk terus mengoceh soal seseorang yang kematiannya akan bisa menolong imagenya, bagaimana ia bisa terus bersamanya (jika itu mendorongnya untuk mati??). Ae Jung pun mulai tak sadar dan tertidur.

Tak lama muncul Dokko Jin, Jenny berusaha membangunkan Ae Jung namun di cegah Dokko Jin. “Aku akan mengawasinya sebentar dan kemudian aku akan menculiknya”.

Jenny terkesiap, ia memandang Dokko Jin.
“Apa kau akan melaporkanku ke polisi?”. Dokko Jin menanyakan arti tatapan Jenny.

Ae Hwan yang masih berada di kantor agen terkejut saat melihat salinan artikel yang disiapkan Jae Suk untuk para wartawan. Dari Jae Suk Ae Hwan tahu kalau Dokko Jin menyiapkan artikel itu untuk melindungi Ae Jung. Jae Suk minta Ae Hwan mengatakan pada Ae Jung untuk menjaga Dokko Jin.

Dokko Jin menatap Ae Jung yang tertidur karena mabuk, di belainya kepala Ae Jung dengan sayang, “Goo Ae Jung, tidakkah kau akan mengulang kata seperti kebiasaanmu saat mabuk? Kau tidak ingin melakukannya? Ada kata-kata yang ingin kudengar darimu walau itu hanya mengulang kata seperti kebiasaan mabukmu…”, suara Dokko Jin tercekat menahan tangis. “Tak peduli apa yang kulakukan, Kau harus memaafkanku, mengertikan aku….”

Dokko Jin mendekat ke arah Ae Jung, ia berbisik, “Aku mencintaimu”
Dan Ae Jung yang mabuk pun membeo, “Aku mencintaimu.”

Dokko Jin tersenyum, ia belai lagi kepala Ae Jung, “Bagus…. Karena kau mengatakannya, aku sekarang punya hak untuk menculikmu”. Lihat adegan ini ingin senyum tapi juga ingin nangis……

Pil Joo kembali menemui PD Kim dan nona Han. Ia tersenyum dan berterimakasih saat mendapat kabar soal situs resmi Couple Making yang telah memberi pernyataan yang membela Ae Jung. Ia juga mendapat kabar soal konpersnya Ae Jung.
Saat memeriksa soal respon lanjutan terhadap berita Ae Jung, ketiganya dikejutkan dengan berita Dokko Jin yang sukses menutupi masalah Ae Jung, terlebih Pil Joo apalagi mengingat betapa Dokko Jin pernah mengancamnya untuk merahasiakan soal sakit jantungnya dari Ae Jung.

Ae Jung terbangun dengan kepala pusing, ia kaget saat sadar ia ada di rumah Dokko Jin. Dokko Jin datang memberikan minum untuk Ae Jung.

“Kenapa aku ada di sini?”
“Aku menculikmu ke sini. Hanya untuk bersamamu.”
“Sudah kubilang aku tidak mau.”
“Saat kau mabuk, kau tidak mengatakan apapun”, Dokko Jin membela diri
Ae Jung terdiam, ia tetap ingin pergi, namun Dokko Jin melarangnya dengan alasan banyak wartawan di luar, jauh lebih banyak dari terakhir mereka terkurung.

“Mengapa mereka di sini, apa kau mengatakan tentang kita?”tanya Ae Jung khawatir setelah ia lihat sendiri kerumunan wartawan dari balik jendela.

“Aku tidak mengatakan apa-apa tentangmu. Aku hanya mengatakan pada mereka tentangku.” Dokko Jin mengaku memberitahu wartawan soal rencana operasinya untuk menutupi berita Ae Jung.

Sementara itu Ae Hwan, Jenny dan Jae Suk membahas soal berita Dokko Jin yang ada di mana-mana. Ae Hwan mengkhawatirkn adiknya yang ikut terperangkap di rumah Dokko Jin. Tapi Jae Suk meyakinkan Ae Hwan kalau mereka harus memberi ruang dan waktu untuk keduanya. Jenny setuju, mereka harus memberi waktu untuk Ae Jung menata hatinya.

Dan keadaan mereka yang terkepung wartawan dijadikan alasan oleh Dokko Jin agar mereka terus bersama, haha Dokko Jin selalu menjadikan kesempitan menjadi kesempatan, ckckck. Ae Jung menolak, menurutnya perasaannya belum sampai ke titik mereka bisa tinggal bersama.

Apa Dokko Jin menyerah? Tentu tidak, inilah jawabannya, “Aku tidak peduli. Lagipula sudah dari awal aku selalu menyukaimu dengan caraku, dan sampai akhirpun, aku akan menyukaimu dengan caraku… melihatmu sebanyak yang aku mau….”. Ae Jung tak bisa jawab, percuma Dokko Jin di debat. Dokko Jin kembali menegaskan bahwa ia tak punya cukup waktu untuk membujuk dan menunggu Ae Jung untuk mengatasi perasaannya. Apapun perasaan Ae Jung baik itu marah, frustrasi, menangis, Dokko Jin minta agar Ae Jung melakukannya di depan Dokko Jin. “Karena aku ingin bersamamu sebanyak mungkin”. Kini Dokko Jin kembali mengeluarkan senjata lamanya, jika Ae Jung memaksa keluar, Dokko Jin mengancam akan terang-terangan mewartakan hubungan mereka.

Ae Jung tahu ia tak punya pilihan, ia pun pergi dengan kesal. Dokko Jin memberitahu soal konsep rumahnya yang terbuka, jadi ia bisa nelihat kemana pun Ae Jung pergi, termasuk saat kini Ae Jung naik tangga. Ckckck, untung Dokko Jin kaspes dan tulus, kalo enggak dah kayak psikopat aja.

Ae Jung memang naik tangga, ia ke kamar Dokko Jin untuk melihat berita yang beredar diluar lewat ponselnya dan takjub saat tak satupun berita soalnya yang muncul, semua hanya berita soal Dokko Jin.

Sementara Dokko Jin ke dapur mengecek kulkas, ia tersenyum, “Ada banyak makanan. Goo Ae Jung harus menderita denganku untuk beberapa saat…. ”

“Tidak peduli bagaimanapun, aku sangat senaaaaaaaaaaaaaaaang!!”, Dokko Jin tersenyum-senyum bahagia.

Sementara itu, di ruang prakteknya, Pil Joo membaca berita di koran soal Dokko Jin. Ia ingat ucapan Dokko Jin yang menyatakan kematiannya tidak akan sepi (orang pasti heboh membahasnya).

Pil Joo pun mendatangi Jenny untuk menanyakan soal Ae Jung. Dari Jenny Pil Joo tahu kini Ae Jung sedang bersama Dokko Jin. Bagi Pil Joo, walau kini berita Ae Jung redam oleh berita Dokko Jin, masalah sebenarnya haruslah segera di selesaikan. Ia tahu betapa Ae Jung melindungi banyak orang, dan orang-orang itulah yang harus keluar untuk membantu Ae Jung membersihkan nama baiknya.

Esoknya Se Ri menemui kepala Moon untuk menanyakan soal keadaan Dokko Jin, ia terhenyak saat tahu peluang hidupnya Dokko Jin sangat kecil.
“Jadi saat Ae Jung oenni bicara tentang kematian yang bisa membuat keadaan membaik, ia bicara tentang Dokko Jin?”
“Itu benar…. Sebelum Dokko Jin mati, ia ingin memberi semua pengaruhnya untuk Ae Jung. Jadi jika Dokko Jin benar-benar mati, wanita yang dicintainya juga bisa mendapat kesan yang besar”.
“Lalu, mengapa Ae Jung oenni tidak menerimanya?”tanya Se Ri heran
“Bukankah Goo Ae Jung juga mencoba melindungi Dokko Jin dengan caranya sendiri?”. Se Ri menghela nafas, “kau benar… Ae Jung oenni selalu bisa melindungi orang lain”
“Berkat Goo Ae Jung pula kau bisa menjaga banyak hal saat NTG bubar”kata-kata kepala Moon ini di sambut helaan nafas panjang dari Se Ri yang seolah mewakili jawaban ya.

Demi Ae Jung, Pil Joo sengaja mengatur pertemuan para wanita mantan grup NTG….. di mulai dari Se Ri dan Mi Na yang sama-sama terkejut dengan pertemuan tak terduga itu.

Akhirnya ketiga wanita mantan grup NTG duduk di satu meja yang sama, pertemuan pertama setelah 10 tahun perpisahan mereka.
“Bukankah Ae Jung oenni mengatakan bahwa kematian sebagai jalan keluarnya?…. Aku mengucapkan kata-kata yang sama padanya 10 tahun yang lalu…” Mi Na membuka percakapan.

Flashback saat Ae Jung mencoba menahan Mi Na yang akan mencoba bunuh diri dengan melompat dari atap gedung. . ..”Oenni, aku ingin semuanya berhenti… Aku ingin melupakan semuanya. Tolong… Bantu aku..”kata Mi Na tersedu. Flashback selesai.

Mi Na mengakui semua rumor yang beredar soal Ae Jung itu sebenarnya adalah rumor dirinya. Betapa berat hari-hari yang ia lalui semasa menjadi anggota NTG. Terlebih saat ia menjalin cinta dengan salah satu anggota BB, mereka telah sepakat untuk menikah dan melarikan diri bersama. Tapi harapannya rusak karena kecerobohan Se Ri. Mi Na mengelus perutnya Se Ri dan Jenny sama-sama terkejut.

Flashback, Se Ri mencampur obat dengan cola. Mi Na datang mengeluhkan selalu merasa mual. Untuk membantu meredakannya, Ae Jung memberi minumannya pada Mi Na, tanpa tahu kalau minuman itu telah di campur obat dan tanpa tahu kalau Mi Na sedang hamil.

Mi Na pun ambruk. Se Ri yang kemudian masuk terkejut mendapati Mi Na yang kesakitan setelah minum minuman darinya. Flash back selesai.

Se Ri mulai di dera rasa bersalah, ia menangis mengakui lelucon yang ia lakukan karena kesal dan marah pada Ae Jung, ia merasa diabaikan dan Ae Jung lah yang harus bertanggung jawab.

Ketiganya mulai terbuka, terutama dari Mi Na. Betapa kejadian penamparan Se Ri, tanda tangan kontrak dengan perusahaan lain dan membubarkan NTG yang dulu terlihat sebagai sikap keegoisan Ae Jung, justru adalah cara Ae Jung untuk melindungi teman-temannya.

Ae Jung menatap pohon kentang Dokko Jin, ia berusaha menghindari Dokko Jin. Dan cara membuat Ae Jung turun adalah …..

Dokko Jin membuka pakaiannya, wkwkwk. Ae Jung turun di iringi tatapan Dokko Jin yang lalu mengikutinya. Tanpa bicara Ae Jung menatap Dokko Jin yang mengikutinya, Dokko Jin mengaku ingin latihan dulu. Ae Jung pun berbalik akan kembali naik. Dokko Jin menghalangi, ia beralasan akan mandi. Ae Jung tetap tanpa bicara berbalik dan duduk di sofa.

Dokko Jin yang sadar sedang di abaikan, meminta Ae Jung mengucapkan sesuatu. Ia siap jika harus di marahi, bahkan tamparan pukulan akan lebih baik daripada diam saja.

Ae Jung tak bereaksi, ia memilih menonton TV, dan tertegun saat melihat berita soal operasi Dokko Jin.

Dokko Jin buru-buru mematikan TV. “Jika kau ingin tahu, tanyakan langsung padaku”
“Aku cuma mau nonton TV”, Ae Jung sudah akan menekan remote tapi di tahan Dokko Jin.

“Baik, kalau begitu aku akan menjadi program TV untuk kau tonton. … “. Dokko Jin menjadikan remote sebagai mike, “Reporter Goo Ae Jung, silahkan ajukan pertanyaanmu”.
Saat remote diarahkan padanya, Ae Jung terdiam, tapi ia kemudian ikut dalam permainan Dokko Jin, “Kapan operasimu?”
“Dalam seminggu, 160 jam dari sekarang. Waktunya sebentar lagi kan?”
“Seberapa sulitkah operasinya? kesempatan untuk bertahan hidup………………”
“10%…. Kesempatanku tidak terlalu tinggi, kan?”
Ae Jung terdiam, “ku harap kau cepat sembuh” Ae Jung menjatuhkan remotenya.

Dokko Jin buru-buru mengangkat lagi remote yang masih di tangan Ae Jung, “Mengapa wawancara eksklusif Dokko Jin dilakukan dengan cara ini? Kau harusnya ingin tahu banyak. …”. Dokko Jin mendekatkan dirinya pada Ae Jung, “aku punya seseorang yang sangat berharga bagiku, tapi tidak ada banyak waktu yang tersisa, kesempatanku hidup juga tidak tinggi…. Jadi aku menyembunyikan ini semua darinya…. “. Ae Jung tak merespon ia tetap diam menunduk. “Wanita, yang sudah bertanya ‘mengapa’ sebanyak 3 kali untuk meyakinkan dirinya sendiri”. Ae Jung mulai menatap Dokko Jin, “Faktanya tidak menanyakan apapun, tapi itu justru menunjukkan kalau ia sangat marah….. Tentang pertanyaan yang terus muncul dalam pikiran Goo Ae Jung, ‘Mengapa kau lakukan ini?’ hanya punya satu jawaban. Karena aku terlalu menyukaimu.”

Dokko Jin menurunkan mike remotenya, ia menjelaskan pada Ae Jung bahwa ia tak punya waktu untuk meluruskan atau menjelaskan semuanya, hanya ada satu untuk menjawab semuanya, “aku mencintaimu”
Ae Jung mulai menangis, Dokko Jin menariknya ke dalam pelukannya. Satu hal yang diminta Ae Jung, “Jangan jadikan ini wawancara Dokko Jin yang terakhir. Jangan membuatku bersiap untuk itu”.
Dokko Jin kembali memeluk Ae Jung, ia setuju. Ae Jung menangis di pelukan Dokko Jin.

Se Ri kini telah sadar bahwa Ae Jung justru telah melindunginya. Jadi saat manager Jang membawa reporter Kim untuk menerima berita soal keterlibatan Ae Jung pada putusnya hubungannya dengan Dokko Jin, Se Ri menegaskan iya. Tapi bukan sebagai pihak ketiga tapi sebagai teman baik yang membantunya melewati masa sulit.
Manager Jang yang tadinya tersenyum menjadi terdiam. Terlebih saat Se Ri mencoba meluruskan berita soal bubarnya NTG yang memojokkan Ae Jung. Dan betapa mereka (mantan anggota NTG) telah berkumpul bersama untuk berbagi cerita dan berencana untuk kembali bertemu mempererat pertemanan mereka. Se Ri menunjukkan wajah kemenangan pada manager Jang.

Manager Jang mengajak bicara dengan Se Ri , ia heran kenapa Se Ri berubah pikiran. Se Ri minta manager Jang untuk melupakan soal 10 tahun lalu, dan tidak lagi mengganggu Ae Jung. Manager Jang keukeuh, ia ingin menjadikan kasus Ae Jung yang telah dilatihnya namun mengkhianatinya sebagai pelajaran bagi grup candy yang sedang di asuhnya.

Se Ri mengingatkan, “jika kau melakukan itu maka grup Candy akan bubar seperti NTG.” Kejadian anggota yang merasa ditinggalkan masing-masing punya tingkat popularitas yang berbeda, diam-diam kencan, sama seperti yang kami lakukan dulu. Jadi ajarkan saja anak-anak itu dengan baik”. Dan Se Ri mengeluarkan jurus jitu untuk membuat manager Jang tutup mulut soal Ae Jung, ia tahu Ha Ru Mi yang sudah punya pacar ikutan Couple Making, itu bisa jadi masalah besar kalau sampai tersebar.

Dengan bangga Se Ri menceritakannya serangan baliknya untuk manager Jang pada Pil Joo. Pil Joo memuji Se Ri yang kini lebih baik. Se Ri memuji balik Pil Joo, “itu karena dokter yang merawatku sangat bagus.” Mereka tertawa.

Se Ri lalu menceritakan soal Ae Jung yang terjebak di rumahnya Dokko Jin, ia menanyakan apa Pil Joo takkan menyelamatkannya. “Paul tak lagi memikirkan soal menyelamatkan Nina dari raja jahat?”
”Tidakkah kau tahu bagaimana akhir cerita komiknya? Raja yang jahat lenyap dan Nina kembali ke sisi Paul.”.
”Dan Paul menerimanya?”, nada suara Se Ri meninggi karena kesal.
”Ya… Itulah sebabnya Paul adalah anak aneh”
”Lalu, apa yang terjadi pada jamur peri dan Paul?
Pil Joo memikirkan jawabannya, “Apa yang terjadi padanya …? aku tak ingat karena Paul tidak benar-benar tertarik padanya”.

Wkwkwk, Se Ri mendengus kesal, “Aku mungkin tidak ingat cerita komik itu dengan baik, tapi aku tahu peri jamur itu karakter yang paling populer!” Se Ri berniat pergi, tapi ia berbalik untuk menanyakan sampai kapan Paul akan menunggu Nina.
”Sampai Nina berhenti menangis…”jawab Pil Joo yakin.

Melihat meja makannya Dokko Jin, benar-benar tak terlihat mereka menghemat makanan. Belum apa-apa persediaan makanan sudah habis. Dokko Jin menyindir Ae Jung yang selera makannya banyak. Ae Jung sengaja menghabiskan makanan agar mereka terpaksa keluar rumah.
Dokko Jin keukeuh tak mau keluar, baginya sangat penting menjaga imagenya dan tetap bertahan di rumahnya. Ia juga keukeuh ingin bersama Ae Jung karena ia sendiri belum tahu apa ia bisa bertahan atau tidak dari operasinya, tak ada hal yang tak bisa ia lakukan untuk Ae Jung.
Ae Jung mengajukan pertanyaan soal kemungkinan Dokko Jin punya niat mengumumkan hubungan mereka sebelum tahu ia kemungkinan akan mati cepat. Dokko Jin tak mengelak.

Tahu kemungkinan kelakuan Dokko Jin sekarang karena Dokko Jin sendiri berpikiran akan mati, membuat Ae Jung menyatakan lebih baik ke masa silam saat Dokko Jin justru khawatir terlibat dengan Ae Jung, saat Dokko Jin mengkhawatirkan dirinya sendiri di banding Ae Jung.
“Menggunakan kematianmu untuk melindungiku, tidak membuatku senang sama sekali. Tetaplah hidup, hanya pikirkan ‘untungnya hubunganku dan Goo Ae Jung belum diumumkan’….”
“Ya, aku pasti akan hidup … dan membuktikan bahwa kau salah.”
Ae Jung terus nyerocos soal kekesalannya kalau Dokko Jin percaya ia akan hidup, ia takkan menyekapnya di sana. Dokko Jin bangun, ia membungkam Ae Jung lewat ciuman…….

Dokko Jin meyakinkan kalau ia pasti akan bertahan hidup, dan mereka punya banyak waktu untuk di habiskan bersama.

Tersirat senyuman di bibir Ae Jung, ia memeluk Dokko Jin erat. Ae Jung kini yakin dengan pernyataan Dokko Jin yang akan bertahan hidup, tapi ia harus pergi dari sana karena jika saatnya Dokko Jin ke rumah sakit nanti justru akan sulit bagi Ae Jung untuk tetap bersama Dokko Jin. Mereka sepakat Ae Jung akan pulang dan bersiap menemaninya di operasinya nanti.
“Itu benar. Selama operasi , kau harus berada di sisiku. Datang nyanyikan lagu ’thump-thump’..”

Ae Jung mengangguk, sementara ini ia memberi pelukan charger untuk Dokko Jin sampai baterainya penuh.
”Recharge…”

Dan cara mengeluarkan Ae Jung adalah dengan SANDIWARA AMBULANCE… wkwkwk, Ae Hwan di tutupi selimut dan di bawa pergi ambulance. Para wartawan yang menyangka itu Dokko Jin segera mengejar ambulan itu.

Kini suasana sudah kondusif untuk Ae Jung keluar dengan tenang. Dokko Jin mengantarnya ke pintu. “Apa kau ingin tahu apa yang ku pikirkan yang akan membuatmu merasa lebih baik?”
”Apa itu?”
”Tidak ingin melakukannya dengan caramu, tidak ingin menghitung mundur waktu bersamamu di sini, tidak percaya pada angka kelangsungan hidup yang kecil…. mengabaikan semua itu……… Aku tidak akan membenarkan atau menjelaskan mengapa atau membuatnya begitu rumit…. Hanya ada satu jawaban….”
Dokko Jin tersenyum, “ Karena kau sangat menyukaiku?”.

Ae Jung menggeleng, ”Ddeng (salah)….. Karena aku mencintaimu lebih dari apa bisa kau bayangkan. Jauh lebih banyak…. “.

Dokko Jin tersenyum dengan mata mulai berkaca-kaca, “jantungku, berkat cinta Goo Ae Jung….”,

“…‘SEMBUH’..”

Dokko Jin meraih wajah Ae Jung, “kita berharap untuk masa depan…”. Ae Jung mengangguk, ia kemudian pergi.

Dokko Jin memandang kepergian Ae Jung dengan pilu, ia memegang dadanya.

Dokko Jin kemudian ke kamarnya membuka kotak cincin untuk Ae Jung, “Masa depan ini… Apa aku punya kesempatan untuk memberikan ini padamu?”… cincinnya lucuuuuu….

Jenny kembali berkumpul dengan dua pria yang memujanya. Ia menanyakan soal Ae Jung pada Ae Hwan dan Dokko Jin pada Jae Suk. Jenny agak kecewa saat tahu akhir-akhir ini Jae Suk sibuk memikirkan Dokko Jin bukan dirinya lagi.
Jae Suk mencoba menghibur Jenny, kenapa Jenny harus mengganggu pikirannya, ia mengingatkan soal wine yang pernah mereka minum bersama dan ingin meminumnya lagi. Jenny mencubit pipi Jae Suk dengan gemas. Ae Hwan panik mendengar soal red wine, ia bertanya namun tak mendapat jawaban jelas dari Jae Suk yang memilih pergi dengan terkikik malu-malu. Ia lalu bertanya pada Jenny, tapi Jenny juga pergi sambil memeletkan lidahnya. Ae Hwan bersedih, ia memikirkan kemungkinan ia dalam posisi Pil Joo……

Jenny keluar dan menemukan Se Ri datang. Se Ri mengaku telah melakukan wawancara soal masa lalu NTG dan memamerkan kedekatan mereka. Maka ia menyatakan agar mereka kembali berkumpul dan mengambil foto bersama, bukankah itu juga bisa membantu Ae Jung.
“Kau datang hanya untuk ini?”, Jenny yang tahu Se Ri sangat sibuk yakin pasti Se Ri punya maksud lain. Setelah sempat ragu, akhirnya Se Ri bicara, ia menanyakan apa Pil Joo sering ke situ.

“Kenapa kau bertanya soal Yoon Pil Joo-ssi? … Apa kau tertarik padanya?”
”Ya, aku tertarik…. Kau selalu berusaha untuk mendekatkan mereka berdua, jangan lakukan itu”
”Meskipun aku ingin terus melakukannya, itu tak akan terjadi karena Ae Jung menyukai orang lain. Aku tidak bisa berbuat apa-apa..”

Se Ri tersenyum, “Itu benar! Ae Jung eonni sangat cocok dengan Dokko Jin”

Se Ri ke gereja untuk berdoa. Ia menarik perhatian 2 orang ahjumma yang dengan yakin menebak soal keadatangannya pasti untuk berdoa demi keselamatan operasinya Dokko Jin.
Inilah doanya Se Ri, “Ku mohon, Berkatilah Dokko Jin dengan operasi jantung yang berhasil agar ia dan Ae Jung eonni bisa bersama-sama…… Namun, tolong berikan Yoon Pil Joo untukku….” Ckck, sebenarnya Se Ri berdonya hanya untuk kepentingannya sendiri.

Hari berlalu, masalah Ae Jung menguap begitu saja. Kepala Moon menyatakan bahwa orang-orang di sekeliling Ae Jung sekarang mendukungnya, mulai dari Se Ri yang menyatakan hal-hal baik soal Ae Jung di NTG, Pil Joo yang membuat pernyataan lewat situs couple making, di tambah berita Dokko Jin. Kepala Moon berterima kasih karena Ae Jung telah memilih tak mengorbankan siapapun termasuk Dokko Jin untuk keluar dari masalah. Kemarin Dokko Jin sempat akan menyatakan kepada khalayak soal hubungannya dengan Ae Jung karena ia merasa akan segera mati. Padahal Kepala Moon yakin ia akan bertahan hidup, dan mungkin tersadar melakukan kesalahan (soal hubungannya dengan Ae Jung).
“Asal dia hidup, ia bisa melewatiku dan putus diam-diam…. Aku akan menari dan melambaikan tangan membiarkannya pergi.”jawab Ae Jung yakin. Hm, apa kau yakin Ae Jung???

Ae Jung mengunjungi Pil Joo untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan Pil Joo untuk pernyataan di situs Couple Making juga atas penyelesaian masalah Mi Na dan kesalahfahaman dengan Se Ri . Sekali lagi Ae Jung menyatakan rasa terimakasihnya.
“Kau berbicara seolah-olah kita tidak akan pernah bertemu lagi”.
”Kita tidak akan saling bertemu setelah syuting Couple making selesai. Lagipula ku dengar kau akan belajar ke luar negeri. Sebelum kau pergi, aku akan mentraktirmu makan di restoran Jenny eonni”
“Melihat ekspresimu, kau lebih ceria dari yang ku bayangkan”
”Apakah kau pikir aku akan menangis sepanjang waktu karena operasi jantung Dokko Jin?”
”Aku khawatir…. Takut kau akan terluka”. Di saat semua orang menjadikan alasan sibuk sekolah atau kerja untuk melarikan dari suatu masalah, Ae Jung justru memilih mendampingi Dokko Jin dan menjaganya. “Ketika datang satu masa di mana kau tak lagi ingin menjadi pelindung dan ingin melarikan diri … Aku bersedia menjadi alasanmu…”.

Keduanya saling tersenyum dengan mata memerah yang mulai berkaca-kaca. waw, Pil Joo yang so sweet memang gagal membuat Ae Jung terpesona, tapi ia berhasil membuat Ai Jung (menunjuk diri sendiri) terpesona… wkwkwk.

Pil Joo si dokter tampan yang baik hati dan menawan,(??? Haq haq haq) belum selesai dengan misinya, kali ini membuat ibunya meminta maaf secara resmi kepada ayahnya Ae Jung, memberinya Gong Chen kapsul yang mahal itu. Dan sebagai buktinya ia harus berfoto, wkwkwk. Sayangnya, karena tak mau rugi, kotaknya gak full, ayah Ae Jung sempat protes, wkwkwk.

Hyung Kyu ke rumah Dokko Jin dengan di antar Jae Suk, “Ajussi, berita TV bilang kau sedang sakit…. Di mana sakitnya?”
Dokko Jin mencoba menyederhanakan penjelasannya, “jantung buatanku rusak, dia perlu diperbaiki”
”Karena Iron Man menjadi lebih kuat setelah perbaikan….. ajussi, kau juga akan menjadi lebih kuat”.

”Itu benar, Ding Dong”, Dokko Jin menunjukkan otot tangannya dengan bangga. ”Ding Dong, aku punya sesuatu yang penting yang harus kau jaga” Dokko Jin memberikan kotak cincin.

“Tolong kau simpan. Jika aku yang menyimpannya dan tak bisa memberikannya akan sangat memalukan…. Jika aku tak kembali lebih kuat dari sebelumnya, maka sembunyikan ini di antara barang favorit bibimu. Barang yang takkan pernah dibuang dan tak lepas dari pandangannya.”
Hyung Kyu meliht cincin di dalam kotak, “Ajussi, apa kau akan menggunakan cincin ini untuk menikahi bibiku?”

”Ding dong, Ding Dong! Ding dong!…” Dokko Jin tersenyum, “Ding Dong, aku Dokko Jin, aku orang yang sangat istimewa. Karena itu … itu pasti akan terjadi.” Dokko Jin optimis.

Hyung Kyu pulang dan menyembunyikan cincin di dalam kotak sepatu ungu di laci..

Para wartawan dengan setia menunggui rumah Dokko Jin, membuat Dokko Jin terkurung. Ia menyesal membiarkan Ae Jung pulang, harusnya ia tahan dulu sampai beberapa hari. Tapi Dokko Jin sadar mengecoh wartawan takkan berhasil dua kali. Ia mengaku akan bertahan dan memastikan kalau Ae Jung harus menemaninya saat di operasi. Ia menceritakan saat di operasi nanti, jantungnya akan berhenti sementara. Sama seperti sepuluh tahun lalu, lagu thump thump yang telah membuat jantungnya kembali berdetak setelah di hentikan.

Ae Jung tersenyum saat Dokko Jin menyebut status berdegup jantungnya, terhipnotis, rusak, dan kini takdir yang membuat mereka bertemu. Dokko Jin kembali menegaskan ia harus terlihat tenang di hadapan semua orang karena ia adalah Dokko Jin, hanya satu orang yang tahu siapa Dokko Jin sebenarnya yaitu Ae Jung. Jadi ia minta Ae Jung yang tahu betapa menyedihkannya Dokko Jin sebenarnya untuk menemaninya nanti agar ia tak takut. Ae Jung memastikan ia akan menemani Dokko Jin…”pasti”

Kepala Moon minta Jae Suk mempersiapkan segala sesuatu karena pasti para wartawan akan berkumpul di RS. Ja mengangguk menyanggupi, ia memberi amplop titipan Dokko Jin kepada kepala Moon.

Amplop itu berisi CD dan foto piknik Dokko Jin dan Ae Jung. Isi amplop itu di maksudkan untuk jaga-jaga kalau-kalau Dokko Jin tak bisa bertahan dan ada masalah di kemudian hari yang bisa menyakiti Ae Jung.

“Ia bermaksud menjadikan Goo Ae Jung cinta terbesarnya?”tanya kepala Moon takjub……hm, dari sinilah greatest lovenya muncul.

PD Seo yang menangani acara Star Date tak mempermasalahkan kejadian konpres Ae Jung kemarin. Ia justru memuji episode Star Date yang menampilkan Dokko Jin yang menarik perhatian penonton. Kali ini ia minta Ae Jung kembali mewawancarai Dokko Jin sebelum operasinya.Ae Jung menolak secara tak langsung, ia menyatakan akan wawancara eksklusif pasca operasi.
“Pasca operasi? Ku dengar operasi itu akan sangat sulit……”
“Aku pasti akan melakukan wawancara pasca operasi… pasti!!”. Ae Jung ingat janji Dokko Jin yang memastikan akan wawancara dengannya pasca operasi nanti (baca=sehat seperti sedia kala)

Di rumahnya, Dokko Jin menatap kentang nya, “Kentang, kau akan berbunga atau tidak? Kau harus segera berbunga agar aku bisa memamerkanmu pada Goo Ae Jung”.

Saat berbalik, Dokko Jin merasakan sakit di dadanya, ia mencengkramnya dan kemudian terjatuh seiring pecahnya gelas pohon kentang yang jatuh terlebih dulu.
Dokko Jin kesakitan sambil menatap pohon kentangnya.

Jae Suk bergegas membawa Dokko Jin ke rumah sakit. Tim dokter merubah rencana mereka, mereka harus segera melakukan operasinya sekarang juga. Di luar, pihak RS mulai kewalahan menghadapi wartawan.

Jae Suk segera menelpon Ae Jung yang tak kunjung diangkat, karena ternyata Ae Jung sedang berada di studio untuk syuting sebuah acara siaran langsung, sementara ponselnya berada di tasnya yang ia tinggal di ruang tunggu dan ponselnya Ae Hwan mati.
Kepala Moon datang, ia di beritahu soal Dokko Jin yang hampir siap masuk ruang operasi dan Ae Jung yang masih tak bisa di hubungi.

Acara telah dimulai dengan segmen liputan tamu Kim Jae Won si Killer smile. Acara di interupsi oleh berita soal Dokko Jin yang colaps dan masuk RS dan akan dioperasi lebih cepat dari rencana.

Ae Jung yang sedari tadi asyik mempelajari scriptnya membeku. Ia tertegun begitu lama, tanpa memperdulikan sekitarnya. Padahal saat itu adalah segmen laporan darinya.

Di tengah tatapan seisi studio dan kamera yang merekam siaran langsung itu, Ae Jung meminta maaf dan segera berlari keluar. Ae Hwan keluar mengejar adiknya, tapi Ae Jung berkeras untuk ke RS mendatangi Dokko Jin.

Halaman RS telah penuh, tapi wartawan masih berdatangan. Keamanan pihak RS makin kewalahan mengatasi para wartawan.

Di dalam, Dr. Joeng menemui Dokko Jin, “Percayalah padaku…. Aku akan menyelamatkan hidupmu… “. Dokko Jin dengan wajah pucat terdiam mendengarkan, “Tapi … Nona thump thump mu belum datang. Ada begitu banyak wartawan di luar, dia mungkin tidak dapat masuk. Operasi harus segera dilaksanakan, jadi apa yang harus ku lakukan?” mata Dokko Jin mulai basah, Dokter Joeng menawarkan jalan keluar: “Sebagai gantinya, apa aku harus menyetel lagu itu untukmu selama operasi?”

Air mata mulai turun, “tak apa, di suatu tempat ia pasti akan menyanyikan lagu itu langsung untukku”. Dokko Jin berusaha tegar. Liat adegan ini marake saake/pikarunyaeun….

Ae Jung benar-benar tak bisa masuk, RS seperti terkepung wartawan. Ia pun menyerah, terlebih Jae Suk lewat telpon memberitahu Dokko Jin sudah masuk ruang operasi.

Operasi hampir siap, Dokko Jin mulai di bius.

Ae Jung duduk di luar, bersedih mengingat tak sempat melihat wajah Dokko Jin, mengingat Dokko Jin yang pasti merasa takut…. Dan mengingat permintaan Dokko Jin agar ia menyanyikan lagu Thump thump.

Sambil berlinang air mata Ae Jung mulai bernyanyi….

Sementara operasipun telah di mulai…..

Ae Jung mengingat semua kisahnya bersama Dokko Jin, saat Dokko Jin membantunya pergi menyembunyikan pipinya yang lebam……….. saat Dokko Jin menyatakan menyukainya…………….saat Dokko Jin menyatakan Ae Jung bukanlah cewek gampangan dan sangat sulit merebut hatinya……………… saat Dokko Jin berlutut memakaikan sepatu kets berwarna ungu…………………. saat Dokko Jin memeluk dan memasangkan monitor jantung ke tangannya……………………… saat Dokko Jin menggendongnya yang berkostum kodok melewati gerbang……………. saat Dokko Jin pertama kali menciumnya untuk menguji detak jantungnya sendiri………… saat pertama kali ia mengijinkan dirinya menjadi chargernya Dokko Jin………………… saat Dokko Jin memintanya untuk menemaninya sampai masa ia di operasi…..

‘Dokko Jin-ssi, mungkinkah kau menyukaiku?”
”Ding dong!!……. Goo Ae Jung sulit untuk didekati, ia tak gampangan… Kau sangat sulit untuk didekati…..”
“Sebenarnya, hatiku … berdebar”
”Karena aku rusak, aku tak bisa berpegang padamu….. Jadi saat ini, kau yang harus datang padaku. Jadi aku takkan berhenti dan bisa terus berjalan. Aku ingin kau datang dan me-recharge ku …………….”

Operasi Dokko Jin sampai pada tahap dokter menghentikan jantungnya……

Di buat selalu dengan penuh cinta oleh Ai Jung Rf di support piku oleh Tha Rf

–Selamat menjalankan ibadah puasa faaams…–

Iklan

10 pemikiran pada “[Sinopsis] The Greatest Love/Best Love Episode 14

  1. ahhh akhirnyaaa… 🙂
    setelah lama ditunggu2 episode2 puncak bikin jantung berdetak seperti jantungnya DGJ… makasih kak Ai Jung dan kak Tha.. Fighting!!
    *kisskiss* from -Antie-

    Suka

  2. waduh… kira2 operasi jantung itu bisa membuat Dokko Jin sehat lagi gak yah… trus Dokko Jin bisa bersatu dengan Ae Jung gak ya… gak sabar3x… tngkyu yah pelangi… deg2n niy…

    Suka

  3. aah.. akhirnya yg ditunggu tunggu datang jugaa.. salah satu episode klimaks yg paling seru dan paling aku suka nih.. ayo RF tinggal dua episode lagi, selesaikan secepatnya.. Fighting fighting fighting! go Dokko Jin go Gu Aejung!

    Suka

  4. Ding Dong Ding Dong…. kiss kiss jug buat yang menanti kami (=baca Ai Jung dan Dokko Jin) muhaha….. buat yang nangis liat episode ini gak sah berkecil hati, anda tak sendiri!!… ckckck… Chun Jon!!! recharge!!

    Suka

  5. haha, mbak rhenni juga-HWAITING!!!
    fiuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh *mendesah lega,dira pikir habis lebaran baru dipost wkwkwkwk
    DINGDONG TINGGAL 2 LAGI…
    CHUN JEON DULU NIH AUTHORNYA 😀
    aish, kenapa piku appa yang mewek yang dipajang pertama-gak nahan ah lihatnya *sembunyi di balik kaka ipar (eonni hyo jin)
    pray for you appa, pray for your smile again di PD >___________<
    dira

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s