[Sinopsis] Noriko Goes To Seoul Part 1

Noriko Goes To Seoul
Genre : comedy, romance
Episode : 1
Siaran : KBS, 10 September 2011
Cast :
Lee Hong Ki as Kim Min Ha
Takashima reiko as Mori Noriko

Di sebuah stasiun radio, seorang penyiar radio sedang membawakan berita pagi
“Halo Semuanya, ini adalah K-Pop special. Pagi ini matahari bersinar terang dan sepertinya ramalan cuaca itu salah. Jika kemarin ada yang membuat kalian lelah, aku yakin lagu ini dan matahari pagi dapat membuat kalian lebih nyaman, Kim Hyun Jae, Oh My Dream.”

Sementara di Negara lain tepatnya di Negeri Sakura, Jepang, seorang wanita setengah baya tengah asyik mendengarkan lagu yang sedang diputar di stasiun radio Korea. Kim Hyun Jae adalah penyanyi favorit dari Noriko.

Noriko melihat kesekeliling saat memasuki sebuah lapangan olahraga. Terlihat beberapa orang sedang berlatih baseball dan beberapa anak perempuan sedang latihan lari.
“apa kau melihat Miyuki?” tanya Noriko pada salah seorang anak perempuan yang baru saja selesai latihan
“dia baru saja pulang” jawabnya dengan nafas ngos-ngosan
“apa yang terjadi?” tanya Noriko lagi
“Miyuki berhenti berlatih” jawab anak perempuan tersebut dan segera pergi.

Noriko tentu saja tidak tenang memikirkan Miyuki, satu-satunya putri yang dimilikinya, buah pernikahannya bersama dengan Hiroshi, suaminya.Bahkan disaat dia dan teman-temannya berkumpul untuk belajar Hangul, Noriko terus melamun.

Malam harinya disaat Noriko, Miyuki dan Hiroshi makan malam bersama, Noriko mencoba menasehati putrinya kalau Miyuki tidak boleh menyerah, karena atletik adalah olahraga kesukaannya Miyuki dan Miyuki sudah berusaha untuk sampai sejauh ini. Noriko bahkan memberi contoh tentang kehidupan penyanyi favoritnya, Kim Hyun Jae yang menderita sewaktu masih kecil namun dia terus berusaha hingga menjadi penyanyi sebesar sekarang ini.

Tapi pada dasarnya, Miyuki anak keras kepala, dia tetap pada pendiriannya untuk berhenti dari atletik. Miyuki bahkan mengakhiri makannya dan memutuskan masuk ke dalam kamar tanpa sempat menghabiskannya.

“Miyuki, Miyuki” panggil Noriko. Miyuki berhenti sesaat dan kembali berjalan menuju kamarnya
“kenapa kau tidak berbicara sesuatu?” tanya Noriko pada Hiroshi
“dia bahkan tidak mau mendengarkanmu” jawab Horisho cuek

Disaat semua orang sudah memejamkan mata, Noriko malah duduk sendirian di sofa. ingatannya kembali memikirkan check up terakhir yang dilakukannya dan vonis dokter tentang kanker paru-paru yang dideritanya.Air mata perlahan-lahan jatuh membasahi pipi Noriko.

Sebuah acara pencarian bakat di Korea membuahkan sebuah ide brilliant di pikiran Noriko. Noriko memutuskan untuk ikut acara tersebut demi mengembalikan semangat Miyuki untuk kembali berlatih atletik.

Aku seorang ibu rumah tangga, namaku Noriko. Aku berasal dari Shizouka, Jepang dan penyanyi favoritku adalah Kim Hyun Jae. Aku punya cerita tersendiri, aku memutuskan untuk mengikuti ajang pencarian bakat demi mengembalikan senyum Miyuki. Aku berharap bisa membantumu Miyuki.

Noriko Goes to Seoul

Senyum tak henti terkembang di wajah Noriko ketika sebuah Bus membawanya menuju ke kota Seoul. Noriko memasuki sebuah kamar hotel yang sudah direservasi sewaktu masih berada di Jepang. Keindahan kota Seoul di siang dan malam hari membuat Noriko terpana.
Latihan bernyanyi pun tak henti dilakukan Noriko, bahkan ketika nafasnya tersengal karena penyakit yang di deritanya, Noriko tetap berusaha.

Hari yang dinanti Noriko pun tiba. Ruang audisi penuh sesak dengan ratusan orang yang mempunyai niat yang sama dengan Noriko, mengikuti ajang pencarian bakat. Sebotol air tidak mampu menghilangkan rasa takut dan grogi yang sedang dialami Noriko namun seorang pemuda yang duduk disamping dan sedang asyik berlatih membuat Noriko kembali bersemangat.

“Kim Min Ha-si, Mori Noriko” panggil panitia
“haik” jawab Noriko.
Panitia masih memanggil nama Kim Min Ha yang belum menyahut dan sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Pandangan Noriko sekilas melirik papan nama pemuda yang duduk disampingnya dan tertera “Kim Min Ha”. Noriko berjongkok di depan Min Ha dan mencoleknya “mereka memanggil kita masuk” ucap Noriko pada Min Ha yang menatapnya (omo, tatapan Hongki bikin jantung dag dig dug).

Alunan petikan gitar dan suara nan merdu terdengar dari ruang audisi. Noriko terpana mendengar suara Min Ha dan tanpa sadar bertepuk tangan saat Min Hyuk selesai bernyanyi. Dewan juri dan yang lainya reflex berbalik kepada Noriko yang seketika terdiam saat menyadari tatapan semua orang.

“selanjutnya, Mori Noriko” ucap Panitia
“ya” teriak Noriko dan bergegas maju ke hadapan dewan Juri “annyeonghaseyo, namaku Mori Noriko”
“Noriko kau mengatakan kalau kau adalah penggemar Kim Hyun Jae?” tanya salah satu panitia
“ya, aku sangat menyukainya” jawab Noriko antusias
“tapi kau hanya bisa menemuinya jika kau masuk final”
“kurasa aku bisa masuk final” jawab Noriko dengan bahasa korea terbata-bata
“apa kau yakin bisa? Silahkan bernyanyi”

Noriko menggenggam kedua tangannya dan mulai bernyanyi. Para dewan juri saling melihat satu sama lain “cukup” ucap salah satu dewan juri
“aku akan mencobanya sekali lagi” ucap Noriko dan di belakangnya, Min Ha terus memperhatikannya.
“apa kau bisa menyanyi dengan lagu korea?” tanya dewan juri yang lainnya
Noriko mengangguk dan kembali bernyanyi dengan suara yang terdengar bergetar. Min Ha masih saja memperhatikannya sementara peserta lainnya mulai berbisik.

Noriko keluar dari ruang audisi dengan raut wajah sedih apalagi dengan bisik-bisik beberapa peserta audisi yang mengatakan kalau dirinya sama sekali tidak dapat bernyanyi. Sementara itu beberapa meter dari tempatnya berdiri, Min Ha terlihat sedang mengajar beberapa orang yang akan mengikuti audisi, tekhnik bernyanyi yang baik.

“oke, hari ini sampai disini saja” ucap Min Ha dan menyodorkan tangan meminta imbalan.

Min Ha berjalan menuruni tangga dan tidak menyadari Noriko yang diam-diam membuntutinya. Beberapa langkah Noriko berjalan tiba-tiba Min Ha berbalik dan menatapnya dengan tajam
“ahjumma, kau mengikutiku ya?” tanya Min Ha curiga
“anio” jawab Noriko berusaha berkilah

Min Ha kembali berjalan dan masih merasa kalau Noriko masih mengikutinya
“kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Min Ha lagi
“tolong ajarkan aku bernyanyi” pinta Noriko
“dari caramu bernyanyi hari ini, kau tidak memenuhi syarat”
“aku memang tidak pandai bernyanyi”
“aku tahu, aku sibuk” ujar Min Ha dan berlalu pergi.

Noriko tidak putus asa dan berusaha menahan Min Ha yang akan pergi dengan sepeda motor vespanya (jadi ingat vespa Jeremy)
“aku akan memberimu banyak uang, tapi tolong ajar aku bernyanyi beberapa kali saja” pinta Noriko sekali lagi
“kau ingin berapa kali?” tanya Min Ha
“sampai aku ke final?”
“final?” tucap Min Ha dan tertawa mengejek
“aku ingin masuk ke final”
“jika aku bisa membawamu masuk ke final, kau mau membayarku berapa?”
“kau mau berapa?”
“mulai dari hari pertama hingga ke final…. 120 dolar”
“120 dolar” ucap Noriko terkejut
“tidak mau, ya sudah” ucap Min Ha dan memundurkan motor vespanya perlahan-lahan

“aku tidak mempunyai uang sebanyak itu, lagipula aku akan tinggal dimana nanti” ucap Noriko kembali menahan motor Min Ha
“mau tempat yang murah dan bagus, ayo ikut” ucap Min Ha (aku suka banget dengan cara bicara Hongki dan ekspresi wajahnya)

Min Ha mengemudikan sepeda motornya menyusuri jalan di kota Seoul hingga akhirnya sampai ke sebuah gang yang lumayan besar dan berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat asri. Noriko tak henti-hentinya memuji rumah yang akan ditinggalinya sementara waktu.

Min Ha terlihat gelagapan ketika membuka sebuah kamar dan melihat beberapa pakaian berserakan dibeberapa tempat. Dengan cepat Min Ha membereskannya tepat sesaat sebelum Noriko masuk ke dalam kamar.
“kamar ini”
“siapa yang tinggal disini?” tanya Noriko penasaran
“tidak ada” jawab Min Ha berbohong
“rumah siapa ini?” tanya Noriko lagi
“rumahku”
“apa?” pekik Noriko terkejut
“aku akan menyewakan kamar ini untukmu” ucap Min Ha dan menyodorkan tangannya meminta biaya penginapan. Min Ha tersenyum senang saat menghitung uang di dalam amplop “kamar mandi disana, dapur disana, dan kita mulai belajar besok” tambah Min Ha dan bergegas pergi dengan gitar di punggungnya.
“kau mau kemana?” teriak Noriko namun Min Ha sama sekali tidak menggubrisnya.

Malam harinya
Seorang pria setengah baya keluar dari sebuah ruangan dan mulai menggeliat layaknya orang yang baru bangun tidur. Dirinya terkejut saat mendapati bayangan seorang wanita di dalam dapur rumahnya.
“apa tak bisa ketuk pintu dulu” teriak wanita paruh baya yang merupakan Ibunya
“di dalam sana ada seorang wanita” ucapnya berbisik pada sang Ibu yang baru saja keluar dari kamar mandi
“apa kau tidak tidur semalaman? Apa kau bermimpi dengan mata terbuka?”
“itu benar, ini….. ini adalah sepatunya” ucapnya lagi dan mengambil sepasang sepatu yang terletak tidak jauh di hadapannya.
“kalau begitu kau buka pintunya” ucap sang Ibu terlihat ketakutan dan mengambil sebuah payung untuk berjaga-jaga.

Pintu dapur dibuka, ibu dan anak berteriak kencang ketika melihat Noriko sedang makan segelas mie, begitupun dengan Noriko yang terkejut bukan main.
“apa yang kau lakukan disini?” tanya pria setengah baya yang ternyata adalah Paman Min Ha
“namaku adalah Noriko”

Noriko mulai bercerita kalau tujuannya datang ke Korea adalah untuk mengikuti ajang pencarian bakat. Dia tanpa sengaja bertemu dengan Min Ha di ajang pencarian bakat tersebut dan meminta tolong kepada Minha untuk diajarkan bernyanyi. Minha juga menyuruhnya tinggal di rumahnya dan menempati sebuah kamar.
“apa kau memberinya uang?” tanya Nenek Minha
“ya, 100 dolar”
“apa?” ucap Nenek dan Paman Minha bersamaan
“kenapa, apa terlalu sedikit atau….?”

Nenek Minha tak henti-hentinya mengumpat ketika menemani Noriko berbelanja di toko miliknya. “awas saja kalau dia membeli gitar lagi, akan kupatahkan gitar tersebut”. Dan Hal yang ditakutkan Nenek Minha benar terjadi, uang sewa dan belajar bernyanyi yang diberikan Noriko kepadanya, langsung dibelikan gitar baru oleh Minha.

Noriko mengirimkan sebuah sms kepada Miyuki
Miyuki bagaimana hari ini? Hari ini Ibu bertemu dengan hal yang baik, tapi rahasia. Selamat malam, ibu mencintaimu.

Keesokan harinya
Sehabis mandi, Noriko menuju sebuah ruangan di bagian lain. Noriko mulai berteriak dan memanggil nama Minha “Minha, Minha, waktunya latihan”. Sementara itu di dalam kamar, Minha sedang asyik memainkan gitar barunya dan sama sekali tidak mendengar panggilan Noriko disebabkan headset yang menutupi telinganya.
“Minha, Minha, dia mencarimu…. Minha, dia memintamu untuk mengajarinya” teriak Paman Minha stress dan hampir menangis karena sekarang harus berbagi kamar dengan keponakannya dan waktu tidurnya diganggu oleh teriakan Noriko.

Noriko masuk perlahan-lahan ke dalam ruangan tersebut dan terkejut saat mendapati Paman Minha hanya memakai kaos dalam. “Ahjumma, kau mau kemana, kesana” ucap Paman Minha dan menunjuk ke sebuah ruangan. “komapsumnida” ucap Noriko berulang kali “terima kasih juga untuk kamarku”ucap Paman Minha sedih.

Noriko mulai berlatih bernyanyi dimulai dengan tekhnik dasar terlebih dahulu. Minha malah asyik memainkan gitarnya dan tidak menggubris Noriko. “Minha, aku sudah selesai” ucap Noriko mengakhiri latihan pemanasan. Minha melepaskan headset dan mengajak Noriko untuk makan terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan latihan.

Di warung makan,
“Minha darimana kau belajar bernyanyi?”
“tidak pernah belajar” jawab Minha cuek
“lagu yang kau nyanyikan semalam bagus sekali”
“Ahjumma, kenapa kau selalu memanggilku Minha, panggil aku guru”
“guru??? Ah….. ya, Guru. Guru, impianmu menjadi seorang penyanyi kan?”
Minha mengangguk dan meminta kepada Noriko untuk menuangkan air ke gelasnya. Noriko terdiam sesaat dan mengambil air yang terletak disampingnya.
Noriko memuji Minha dan mengatakan kalau suara Minha sangat bagus dan Minha bisa menjadi penyanyi terkenal seperti Kim Hyun Jae, penyanyi favorit Noriko. Minha tertawa sesaat dan mengatakan kalau dia tak ingin seperti Kim Hyun Jae. Minha juga mengingatkan kepada Noriko agar jangan memuji seseorang karena melihat dari luar saja. Noriko terlihat kesal karena Minha menjelekkan penyanyi favoritnya. Noriko meneguk segelas air yang berada di depannya hingga habis untuk menghilangkan kekesalannya pada Minha, sang guru.

Selesai makan, Minha memanggil Noriko yang baru saja ingin keluar dari warung makan.
“Ahjumma, bayar bonnya, guru tidak memiliki uang sama sekali” panggil Minha
Noriko berjalan lesu menuju kasir dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.

“guru, waktunya sudah mepet, kita harus segera latihan” keluh Noriko ketika keluar dari warung makan
“Ahjumma, kau tipikal orang yang gampang marah” ucap Minha dan kembali berjalan

Minha kemudian mengajak Noriko ke tempat karaokean. Minha sama sekali tidak membiarkan Noriko untuk memilih lagu yang akan dinyanyikannya dan malah menyuruh Noriko untuk bertepuk tangan disaat dia sedang bernyanyi. Minha tertawa melihat wajah Noriko yang cemberut. (omo, senyum Lee Hongki manis banget).

Selepas dari berkaraoke ria, Noriko bertanya kepada Minha kapan mereka akan latihan. Minha kemudian mengajak Noriko menuju suatu tempat dan mulai melatih Noriko dengan iringan gitarnya. Kesal dengan Noriko yang sama sekali tidak pandai bernyanyi, Minha pun pergi meninggalkannya.
“guru kau mau kemana?” tanya Noriko
“ke suatu tempat” jawab Minha

Tempat yang didatangi Minha adalah sebuah kafe. Minha bekerja paruh waktu di kafe tersebut dan hari ini menjadi hari yang mengesalkan buat Minha. Teman-temannya datang ke kafe tersebut dan mulai mengoloknya karena Minha tidak melanjutkan kuliah dan hanya berkutat dengan impian bodohnya untuk menjadi penyanyi. Minha berusaha menahan amarah yang bergejolak di dalam dadanya.

Hari terus berganti dan Noriko terus berlatih tekhnik bernyanyi yang baik dibantu oleh guru Minha. Namun disisi lain, seseorang merasa terganggu dengan latihan yang dilakukan Noriko. Dia adalah paman Minha. “ah, jinja,jinja,jinja” keluh Paman Minha yang berusaha untuk tertidur. Namun suara Noriko tetap saja terdengar walaupun dia sudah tidur di kamar Ibunya.
“jangan menyalahkan mereka” ucap Nenek Minha dan memukul anaknya
“aku seperti seorang penjahat, keponakanku mengambil alih kamarku dan sekarang Ibuku sendiri membelanya, aku lebih baik pergi dari rumah ini”
“itu lebih baik dan itulah yang aku harapkan”
“bagaimana bisa Ibu berkata seperti itu”

Sehari sebelum seleksi ke dua ajang pencarian bakat, Noriko tetap gigih berlatih
“Miyuki, Ibu akan lakukan apapun dan Ibu harap kau bisa melihatnya. Ibu akan sampai ke babak final”

Dewan Juri terkesima dengan suara Noriko yang mengalami banyak kemajuan semenjak seleksi tahap pertama. Ditambah dengan penjiwaan yang dilakukan Noriko disaat bernyanyi.

Noriko berlari keluar dari ruang audisi dan berteriak “Guru, aku berhasil, aku memenuhi syarat, aku sangat bahagia”. Minha memasang wajah cemberut mendengar Noriko lulus audisi babak terakhir.

Panitia memanggil nama Minha dan menyuruhnya masuk ke ruang audisi. Alunan petikan gitar dan suara kembali terdengar dari ruang audisi. Namun itu hanya berlaku sesaat saja, Minha tiba-tiba berhenti bernyanyi dan terdiam sesaat.

Langkah kaki Minha terlihat lesu ketika keluar dari ruang audisi. Suara dewan juri masih terngiang di kepalanya “benar tidak ingat liriknya?”.

Noriko memanggil Minha namun Minha hanya terdiam dan berjalan meninggalkan tempat audisi.

Malam harinya
Noriko berjalan sedih menuju warung Nenek Minha.
“Noriko bagaimana wawancaranya?kau terlihat seperti orang yang kehilangan sesuatu, ah… ya, bagaimana dengan Minha?” tanya Nenek Minha memberondong pertanyaan pada Noriko
Noriko tidak menjawab dan malah menunjukkan raut wajah sedih sementara Minha sedang berada di sebuah tempat mencoba untuk menenangkan diri atas kegagalan yang terjadi pada dirinya.

Keesokan harinya
Noriko masuk ke dalam kamar Minha dan membangunkan Minha yang sedang tertidur
“guru, waktunya untuk latihan” panggil Noriko sambil menggoncangkan tubuh Minha
“keluar, aku tidak ingin melatihmu” ucap Minha pelan
“guru, kita sudah membuat kesepakatan. Jadi latihlah aku hingga akhir”
“aku tidak mau” tolak Minha

Noriko tak putus asa dan menarik Minha hingga bangun dari tidurnya. Saling tarik selimut pun terjadi antara Noriko dan Minha hingga akhirnya Noriko jatuh tersungkur ke lantai.
“aku sudah memberimu uang dan kau harus menyetujui kesepakatan yang sudah kita buat, kalau tidak kembalikan uangku” ucap Noriko sedikit emosi
Minha menatap tajam Noriko yang mengulurkan tangan kepadanya seperti yang biasa dilakukannya jika meminta imbalan atas apa yang sudah dikerjakannya. Minha turun dari tempat tidur dan mengambil gitar kesayangannya dan berjalan pergi.
“kemana kau pergi? Kemana?” teriak Noriko

Langkah kaki Minha terhenti di sebuah toko alat-alat music, tempat dimana Minha membeli gitar baru beberapa waktu yang lalu. Raut wajah Minha terlihat sedih, bingung dan bimbang memikirkan konsekuensi atas apa yang akan dilakukannya nanti. Pada akhirnya, Minha hanya bisa menatap melalui etalase, gitar yang sangat disayanginya terlepas dari tangannya.

Disaat Minha sedang berkutat dengan kesedihannya, di rumah Minha sendiri, Noriko dan Nenek Minha minum bersama. Nenek Minha kasihan melihat Noriko duduk sendirian dan mengajak Noriko meminum beberapa gelas Soju dan bernyanyi.

Noriko bertepuk tangan ketika Nenek bernyanyi dan tak henti memuji suara Nenek yang lumayan bagus. Nenek tertawa dan mulai bercerita mengenai kisah hidupnya yang membuat Noriko menjadi sedih dan akhirnya mengetahui kenyataan tentang kehidupan Minha. Nenek Minha memiliki tiga orang anak, salah satu anaknya mengalami kecelakaan dan dia adalah Ayah Minha. Semenjak kematian Ayahnya, Minha berusaha sendiri untuk menghidupi dirinya dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah demi menjadi penyanyi professional. Sementara Ibu Minha meninggal sewaktu Minha berusia 18 tahun.

Noriko menyandarkan kepalanya di depan pintu kamar dan kembali mengingat cerita Nenek Minha. Minha tiba-tiba datang dan menyodorkan sebuah amplop kepada Noriko
“aku tidak mempunyai urusan lagi denganmu, ambil uang ini dan silahkan pergi”.

Keesokan harinya
Disaat semua sedang makan, Noriko malah sibuk memperhatikan Minha yang tertunduk lesu dan terlihat tidak berselera menyantap sarapan. Minha tiba-tiba mengatakan kalau dia ingin bekerja di tempat yang pernah diceritakan Nenek padanya dan hal tersebut membuat Noriko dan Paman Minha sedikit terkejut.

Minha mencoba mengusir kesedihannya dengan berjalan-jalan di kompleks sekitar rumahnya. Seorang gadis cantik tiba-tiba menyapanya dan gadis tersebut adalah So-ra yang juga membela Minha ketika teman-teman Minha yang lainnya mengolok-ngolok Minha ketika di kafe.
“Minha”
“oh, annyeo” jawab Minha canggung
“kau mau kemana?”
“hanya berjalan kecil saja, tetapi kenapa kau ada disini?”
“aku dan yang lainnya janjian ketemu disini, kau mengubah nomor teleponmu kan?”
“iya, aku merubahnya”
“kalau begitu berikan nomor barumu” ucap So-ra dan mengeluarkan sebuah ponsel keluaran terbaru dari dalam tas “aku ingin menggunakannya sebagai foto panggilan” tambahnya dan memotret Minha yang terlihat malu

Sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan mereka berdua. Senyum yang sempat menghiasi wajah Minha perlahan memudar ketika melihat pemilik mobil.
“apa yang kau lakukan disini?” tanya Woo Jin yang merupakan teman Minha dan sempat mengolok Minha sewaktu di kafe
“berhenti untuk memprofokasi” jawab Minha
“ayo pergi disini sangat panas” ajakWoo Jin
“aku tidak akan pergi” tolakSo-ra
“ayo kita pergi” ucap Woo Jin dan menarik tangan So-ra. Minha bereaksi dan tak terima jika melihat seorang gadis disakiti ataupun dipaksa di depan matanya.
“lepaskan dia” ucap Minha dan menahan tangan So-ra

“mengapa kau ikut campur” ucap Woo Jin dan melayangkan sebuah pukulan di wajah Minha hingga Minha jatuh tersungkur. Minha berusaha bangun dan kembali melakukan hal yang sama, menahan tangan Woo Jin yang akan membawa pergi So-ra. Perkelahian pun tak dapat terelakkan.

-To Be Continued-
^______^

Written : DewiRf@Pd
Shared by : Pelangidrama.net
DON’T REPOST TO OTHER SITE

Iklan

11 pemikiran pada “[Sinopsis] Noriko Goes To Seoul Part 1

  1. akhirnya… ada yg buat.. laporan sama mbah korea ah… gomawo rf.. gomawo dewi… tp bukannya ini drama 1 ep lgs habis ya buat perayaan chuseok kmrn? kok tbc?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s