[Sinopsis] It’s Okay, Daddy’s Girls Episode 8

“jika aku mati maka semua masalah akan terselesaikan”
Kalimat Eun Khi Hwan membuat Chae Ryung sontak terkejut
“apa yang Ayah katakan?”
“aku tidak ingin menempatkan kalian dalam situasi seperti ini, aku harus pergi” lirih Eun Khi Hwan
“jika Ayah sekali lagi mengatakan hal tersebut, aku akan bunuh diri di depan Ayah. Aku tidak hanya berbicara saja, jika Ayah ingin melihat putri kesayanganmu ini mati, maka lakukanlah apa yang Ayah ingin lakukan. Jika Ayah mati, maka aku juga akan mati dan jika Ayah hidup aku pun akan tetap hidup” teriak Chae Ryung dengan derai air mata dan keluar dari kamar Ayahnya. Eun Khi Hwan hanya menatap kepergian putrinya dan tak bisa berbuat apa-apa.

Chae Ryung terus berlari dan tak memperdulikan tatapan orang-orang kepadanya. Langkahnya terhenti di bawah sebuah pohon. Air mata masih terus mengaliri wajahnya.

Dokter Hong menemui Dr Kang diruangannya. Dr Hong menceritakan semua hal yang diketahuinya mengenai kondisi keluarga Ae Ryung dan kasus yang sedang membelit keluarganya. Bukannya mendapat solusi, Dokter Hong justru mendapatkan marah dari Dokter Kang. Dokter Kang marah karena Dokter Hong tidak menceritakannya lebih awal dan malah menceritakannya setelah Ae Ryung dan Jin Goo menikah.

Ayah Jin Goo tersenyum senang saat Ae Ryung dan Jin Goo mengantarnya hingga ke mobil. Perjalanan panjang menuju New York akan segera dilakukannya. Seberapa kali pun Ayah Jin Goo menyuruh Ae Ryung untuk masuk dan tidak usah mengantarnya, Ae Ryung tetap menolak dan ingin melihat Ayah mertuanya masuk ke dalam mobil.
“kenapa kamu juga bangun lebih awal?” tanya Ayah Jin Goo saat melihat Jin Goo terus saja menguap
“aku juga ingin mengantar Ayah”

Jin Goo terus saja melambaikan tangan dan tersenyum hingga mobil Ayahnya perlahan-lahan menghilang.
“ini sangat dingin” ucap Jin Goo dan melepaskan sweaternya dan memakaikannya kepada Ae Ryung. “ayo masuk”.

Chae Ryung segera menemui Dokter Kang untuk berkonsultasi mengenai kondisi Ayahnya. Chae Ryung bercerita kepada Dokter Kang jika Ayahnya mengatakan hal yang aneh dan bahkan berniat untuk meninggalkan dunia ini. Dokter Kang dengan sabar mulai menjelaskan kalau semua yang terjadi pada Ayah Chae Ryung dikarenakan adanya gangguan pada otaknya yang mungkin disebabkan oleh Alzheimer, depresi. Dan Ayah Chae Ryung masuk dalam golongan depresi sehingga menyebabkannya tidak stabil. Rasa bersalah mungkin menjadi pemicu depresi pada Ayah Chae Ryung (wah, dewi sudah bisa jadi dokter nich… hehehehe).
“jadi, keluarga Choi Duk Gi dapat mengembalikan kesehatan Ayahku?” tanya Chae Ryung antusias
“aku tidak yakin jika keluarga Choi Duk Gi….” Ucapan Dokter Kang tiba-tiba dipotong Chae Ryung
“baiklah, aku mengerti. Aku akan membawa mereka dan mengatakan kepada mereka untuk membuat Ayahku menjadi seperti dulu lagi. Aku akan melakukannya” ucap Chae Ryung optimis dan bergegas pergi
“hei” panggil Dokter Kang namun Chae Ryung sudah menghilang dari pandanganya “padahal aku ingin membicarakan pernikahan kakaknya begitu dia selesai bicara” ucap Dokter Kang dan menghela nafas.

Chae Ryung berjalan tegap. Tujuannya Cuma satu membawa saudara-saudara Duk Gi menemui Ayahnya. Sebuah suara memanggilnya namun Chae Ryung tidak mendengarnya. “Chae Ryung, Chae Ryung, Eun Chae Ryung” panggil Ho Ryung hingga ketiga kalinya.
“kenapa kamu tidak ikut Ibu kerumah Unnie? Dia terus saja meneleponmu tapi kamu tidak mengangkatnya” tanya Ho Ryung yang baru saja turun dari Bus dengan mengenakan pakaian tentara.
“itu tidak penting sekarang. Ayah mengatakan kalau dia ingin mati agar kita terbebas dari semua masalah ini. Jangn pernah tinggalkan Ayah sendiri dan rawat dia sebaik mungkin”
“kamu mau kemana? Kamu terlihat sangat berantakan”
“aku akan menemui Choi bersaudara”

Suster mengganti urine bag yang telah terisi penuh. Eun Khi Hwan tiba-tiba bertanya sampai kapan ia akan terus seperti ini, tidur di tempat tidur dan hanya menyusahkan orang. Suster tersenyum dan mengatakan kalau Eun Khi Hwan adalah orang yang beruntung karena bisa mendapatkan perawatan yang tak bisa didapatkan oleh pasien lainnya.
“akan lebih baik bagiku jika mati” lirih Eun Khi Hwan
“apa yang anda katakan?” tanya Suster tak mengerti

Ho Ryung menarik Chae Ryung dan mencegahnya untuk menemui Choi bersaudara. Chae Ryung tetap bulat pada keputusannya untuk menemui Hyuk Gi dan Wook Gi apapun yang terjadi.
“apa yang akan kamu lakukan, kamu hanya akan menyebabkan masalah baru. Apa kamu tidak pernah berpikir semua yang terjadi pada Ayah adalah kesalahanmu?”
“aku tidak ingin ke klub malam waktu itu, namun Bora memaksaku karena dia ingin mengatakan cinta pada Jong Seok”
“jika kamu tidak belajar ke luar negeri, maka kamu tidak akan pernah mengenal mereka dan pergi ke klub malam. Ayah juga tidak akan mengatakan bahwa ia lebih baik mati. Semua uang habis karena keinginanmu untuk belajar ke luar negeri. Kenapa kamu menangis?” teriak Ho Ryung
“baiklah. Ini semua kesalahanku dan aku akan memperbaikinya”
“bagaimana caranya? Kamu hanya tahu untuk menghabiskan uang saja”
“aku pasti akan menemukan cara agar bisa mengembalikan semua uang yng sudah aku habiskan dan cara agar tidak pindah ke rumah kumuh itu. Aku akan melakukannya” teriak Chae Ryung penuh emosi dan meninggalkan Ho Ryung yang pusing memikirkan tingkah laku Chae Ryung yang tak pernah berpikiran dewasa.

Bos klub malam tempat Wook Gi bekerja merasa pusing melihat Wook Gi yang terus saja mendorong kain pel ke kanan, ke kiri, maju dan mundur. Belum lagi dengan suara cempreng seorang vokalis sebuah band yang digawangi oleh Sun Do.
“sudah, hentikan” teriak Bos Wook Gi tiba-tiba

Sun Do reflex menghentikan permainan gitarnya begitupun dengan Yun Do seketika berhenti memainkan drum dan Dong Bo yang menutup mulutnya rapat-rapat. Bos Wook Gi kembali berkata
“aku tidak bisa menerima kalian bekerja di klub ini, sebaiknya kubur keinginan kalian dalam-dalam”

Yun Do yang awalnya terdiam tiba-tiba angkat suara “bagaimana jika kami mengganti vokalisnya?” tanya Yun Do dan menunjuk Dong Bo dengan stick drumnya
“vokalis…. Baiklah, aku akan memberikan kalian kesempatan sekali lagi” ucap Bos Wook Gi dan beranjak pergi. Sebelum pergi, Bos Wook Gi mengatakan sesuatu pada Wook Gi “Hei, Wook Gi, Choi Wook Gi. Ada batas untuk menjadi seorang pekerja keras. Apa lantai melakukan sesuatu yang salah padamu? Jika kamu mengepel seperti itu maka lantainya akan lubang”.

Wook Gi menghela nafas karena merasa menjadi orang yang tak berguna. Sun Do yang melihatnya berkata “itu berarti kalau kamu dapat berhenti sekarang dan pulang”. Wook Gi merasa sedikit lega mendengar apa yang dikatakan Sun Do. Hp Wook Gi tiba-tiba berdering
“yomseo. Ah, Eun Chae Ryung” sapa Wook Gi dan Yun Do yang mendengarnya sontak berbalik

Keesokan harinya
Ke empat cowok berjalan (Wook Gi, Sun Do, Yun Do dan Dong Bo) dan mulai berbincang-bincang. Tiba-tiba muncul ide di benak Yun Do saat Sun Do mengatakan kalau Hyuk Gi sangat pandai menyanyi. Yun Do mengusulkan bagaimana jika Hyuk Gi saja yang menjadi vokalis baru untuk band mereka.
“tapi dia terlalu malu untuk menyanyi di depan umum” ucap Sun Do
“tapi, gaji dari menyanyi 3x jauh lebih banyak dibandingkan dengan mencuci piring” ucap Yun Do antusias dan membuat Wook Gi terkejut sekaligus senang mendengarnya
“jika kamu mengatakan seperti itu, maka Hyung akan setuju” ucap Wook Gi tersenyum. Ketiga namja senang mendengarnya karena telah menemukan satu solusi untuk masalah yang tengah mereka hadapi, tapi lain halnya dengan satu orang namja yang merasa cemberut karena posisinya digeser oleh Hyung Hyuk Gi. Dia adalah Dong Bo.
Pemilik toko mengeluh saat Chae Ryung menyodorkan kartu kredit untuk membeli lotere. Pemilik toko mengatakan mana ada orang yang membeli lotere dengan menggunakan kartu kredit dan meminta uang kas dari Chae Ryung. Chae Ryung terdiam dan kembali terdiam saat melihat isi dompetnya yang hanya berisikan beberapa lembar uang saja.

Sementara itu di tempat lain.
Sun Ae yang sangat terobsesi dengan Hyuk Gi meminta Hyuk Gi untuk berfoto dengan menunjukkan otot-ototnya yang kekar. Hyuk Gi terus saja menolak namun Sun Ae tidak menyerah dan terus membujuknya.
“ayolah, aku sudah mengatakan kepada teman-temanku kalau aku mempunyai pacar yang memiliki otot seperti Popeye” bujuk Sun Ae
“tapi aku bukan Popeye dan juga bukan pacar anda” ucap Hyuk Gi dalam kondisi bertelanjang dada
“ayolah sekali saja. Tidak bisakah kamu berbuat baik kepadaku sekali saja, lagipula kamu kan teman Kakakku. Aku hanya mengambil satu gambar saja”
“ahhhhh, tapi hanya mengambil gambar lenganku saja jangan ambil gambar wajahku”
“oke” ucap Sun Ae dan mulai memotret. Disaat bersamaan, Wook Gi, Yun Do, Sun Do dan Dong Bo masuk dan seketika tertawa saat melihat Hyuk Gi kembali menjadi mainan Sun Ae. Dong Bo kembali cemberut. Setelah posisinya sebagai vokalis band digantikan Hyuk Gi kali ini, gadis yang disukainya menyukai Hyuk Gi.

Seseorang kembali masuk dan membuat Hyuk Gi terkejut. Hyuk Gi bergegas mengenakan pakaiannya sedangkan Chae Ryung merasa risih karena datang pada waktu yang tidak tepat.

Sook Hee dan Man Soo mengunjungi kediaman keluarga Jung, besan mereka. Ibu Jin Goo terlihat senang melihat kedatangan Ibu Ae Ryung dan juga Paman Ae Ryung, tapi lain halnya dengan adik Jin Goo, Se Yun yang memasang wajah cemberut sekaligus kesal.

Ae Ryung mengajak Ibunya naik ke lantai dua dan menuju kamarnya. Sook Hee tak mampu menyembunyikan kesedihannya sekaligus rasa senangnya ketika melihat kamar Ae Ryung dan Jin Goo.
“Ibu kenapa menangis?”
“aku…. Aku sangat senang melihatmu bisa tinggal di tempat seperti ini. Dari semua yang ada disini, tak ada satupun yang aku dan Ayahmu pernah memberikannya. Ibu sangat menyesal”
“Ibu, jangan menangis, aku juga bisa menangis melihat Ibu seperti ini”
“baiklah, aku tidak akan menangis. Apa kamu tidur yang nyenyak? Apa kamu bermimpi indah?”
“iya. Mengapa Chae Ryung tidak ikut?”

Chae Ryung sedang berada di coffeehouse bersama dengan Choi bersaudara. Chae Ryung meminta maaf karena sudah menganggu mereka.
“aku sebenarnya sangat membenci Duk Gi tapi aku tidak menyangka kalau dia akan meninggal dengan cara seperti itu. Kalian percaya Ayahku tidak membunuhnya kan? Ayahku tidak mungkin melakukannya”
“ya, kami percaya” jawab Wook Gi
“lantas, mengapa kalian tidak berusaha mencari tahu kejadian sebenarnya?” tanya Chae Ryung
“sebenarnya kami tidak memiliki bukti atau saksi. Hyung coba jelaskan pada Chae Ryung” ucap Wook Gi pada Hyuk Gi
“pemeriksaan awal telah keluar dan kita tidak bisa hanya melawan dengan kata-kata saja. Kita memerlukan bukti dan saksi, tapi saat ini sangat sulit menemukannya, jadi…..”
“kata-katamu sulit kucerna. Perkataanmu seperti seorang mahasiswa hukum saja” ucap Chae Ryung
“Hyung memang masih terdaftar sebagai mahasiswa jurusan hukum” ucap Wook Gi

Ae Ryung bersama dengan Sook Hee sementara Jin Goo bersama dengan Man Soo. Saat Man Soo ingin membicarakan mengenai apartemen (rumah keluarga Eun telah terjual dan sekarang mereka harus tinggal di sebuah rumah yang terbilang cukup kecil. Man Soo berencana untuk meminta bantuan dari Jin Goo untuk mencarikan mereka sebuah rumah layak huni atau apartemen pribadi Jin Goo yang bisa ditempati sementara waktu), Se Yun tiba-tiba masuk dan mengatakan kalau teh sudah siap dan menyuruh mereka turun. “mengapa disaat seperti ini dia datang”.

Saat hendak menuruni tangga, Se Yun tanpa sengaja berpapasan dengan Sook Hee
“kamu semakin cantik saja” puji Sook Hee
“apa baru kali ini anda melihatku?” tanya Se Yun ketus dan segera turun
“astaga, kenapa ada anak seperti itu, tidak tahu sopan santun”
“Ibu, dia baru saja mendapatkan nilai jelek dalam ujiannya. Itulah sebabnya moodnya sedang tidak baik”
“tapi walau bagaimanapun…… “ keluh Sook Hee

Jin Goo dan Man Soo keluar dari kamar dan menghentikan ocehan-ocehan Sook Hee. Sook Hee meminta kepada Ae Ryung dan Jin Goo untuk turun terlebih dahulu karena ada sesuatu hal yang ingin dibicarakannya dengan Man Soo.

Sook Hee meminta Man Soo untuk menjual semua barang berharga mereka dan uangnya akan dipergunakan untuk menyicil hutang-hutang mereka, karena walau bagaimanapun semua barang-barang mereka tak akan muat di rumah yang akan mereka tempati nanti.

Kembali ke scene Chae Ryung dan Choi bersaudara
“jika kita belum bisa menemukan saksi atau bukti sebelum Ayahku dinyatakan bersalah, aku ingin meminta tolong kepada kalian untuk meminjamiku uang” ucap Chae Ryung dan membuat Choi bersaudara saling bertatapan “kalian memiliki 500 juta dari kami. Untuk mendapatkan uang tersebut kami harus mengambil pinjaman dan sekarang kami akan pindah ke sebuah rumah yang dipenuhi dengan kecoak. Belum lagi dengan perkataan Ayahku yang mengatakan kalau lebih baik jika dia meninggal. Aku punya dua permintaan pada kalian, yang pertama : sering-seringlah mengunjungi Ayahku agar dia bisa menghilangkan rasa bersalahnya atas kematian Duk Gi dan yang kedua : aku ingin pindah ke tempat yang jauh lebih baik, jadi tolong pinjamkan aku uang. Dari semua orang yang aku kenal, kalianlah yang memiliki uang paling banyak dan kalian jugalah yang mengetahui kondisi keluarga kami. Mengapa kalian diam saja? Apa kalian tidak bisa meminjamkanku uang?”
“itu karena….” Ucap Wook Gi namun Hyuk Gi segera menahannya untuk melanjutkan kalimat selanjutnya
“aku akan berbicara dengan Ayahku” ucap Hyuk Gi berbohong
“kalau begitu ayo kita pergi sekarang” ajak Chae Ryung
“hari ini tidak bisa karena kami harus bekerja paruh waktu” ucap Wook Gi
“kalian bisa meminta orang lain untuk menggantikannya”
“itu sangat sulit” jawab Wook Gi
“apa kalian ingin mencari alasan untuk tidak meminjamkan uang kepadaku?”
“aku akan berbicara kepada Ayahku besok. Jika kami ingin melihat apa yang kami kerjakan datanglah. Jika kamu tidak bisa mempercayai kami, maka semua yang kami katakan percuma” ucap Hyuk Gi

Chae Ryung berada di sebuah rumah makan. Tatapannya terus saja tertuju pada sebuah keluarga yang sedang makan bersama. Raut wajah Chae Ryung berubah menjadi sedih ketika melihat anak perempuan keluarga tersebut menyuapi Ayahnya. Sebuah ketukan dibelakangnya mengagetkan Chae Ryung.
“bukan disini, tapi dibelakang” ucap Wook Gi

Chae Ryung terperangah saat melihat Wook Gi dan Hyuk Gi berada di antara tumpukan-tumpukan panggangan daging dan kepulan asap panas. Tangan mereka berdua terlihat gesit saat menggosok satu persatu panggangan yang masih panas dan baru saja selesai dipakai. Tidak ada ocehan-ocehan atau keluhan yang keluar dari mulut mereka berdua, begitupun ketika melanjutkan dengan tugas selanjutnya mencuci piring.

Ho Ryung memberi hormat pada Ayahnya karena akan kembali ke tempat pelatihan untuk menyelesaikan wajib militernya yang sempat tertunda.
“Ayah minta maaf” ucap Eun Khi Hwan
“Ayah, apa kamu ingat apa yang kamu katakan kepadaku sebelum aku masuk wamil. Tidak ada yang namanya kebahagiaan selamanya dan tidak ada yang namanya kesedihan selamanya. Jangan meminta maaf Ayah, anggap saja Ayah sedang beristirahat karena sudah bekerja keras selama ini. Semuanya bisa diperbaiki dan apa yang telah Ayah lakukan untuk kami,sekarang saatnya untuk kami membalasnya. Aku mohon jangan mengatakan sesuatu yang membuat kami bersedih” ucap Ho Ryung dan menggenggam erat tangan Ayahnya.

Man Soo menyentuh pundak Ho Ryung dan mengatakan untuk mempercayainya dan menyerahkan tanggung jawab kepadanya selama Ho Ryung di tempat pelatihan.

Ho Ryung berbalik saat hendak keluar dari kamar Ayahnya dan mengatakan “Saranghae”

Sook Hee kembali ke rumah lamanya dan terkejut saat melihat barang-barang masih belum tersentuh dan terjual. “dimana dia, aku sudah mengatakan untuk menjual semua barang-barang ini” keluh Sook Hee.

Beberapa menit kemudian terdengar bunyi pintu digeser. Seorang pria masuk ke dalam rumah dan meminta maaf kepada Sook Hee karena belum mengerjakan apa yang diperintahkannya. “aku minta maaf, aku harus menemani kakak ipar sampai Chae Ryung datang. Kakak Ipar mengatakan kalau dia lebih baik meninggal” ucap Man Soo
“kenapa dia mengatakan seperti itu” keluh Sook Hee. Handphonenya tiba-tiba berbunyi. Betapa terkejutnya Sook Hee saat mendengar dari rentenir kalau bunga dari utang-utangnya naik 20% karena mereka terlambat membayar.
“apa yang kamu katakan? Jika kami melewati pukul empat maka bunga akan naik? Kamu tidak pernah mengatakan hal seperti itu. Hanya karena kami terlambat kamu sudah menaikkan bunga 20%, apa itu masuk akal? Yomseo, yomseo” teriak Sook Hee emosi dan semakin emosi karena si penelepon menutup telepon tiba-tiba.

Sook Hee berteriak histeris. Satu masalah belum selesai, sekarang ditambah dengan tagihan hutang-hutang dan bunga yang tiba-tiba melonjak naik di luar dugaannya. Sook Hee melampiaskan semua kekesalannya pada Man soo, adiknya karena tidak pernah bisa membantunya dan hanya menambahkannya masalah dan masalah.

Di tengah malam, Man Soo keluar dari rumah dengan membawa beberapa tas dan sebuah koper. Man Soo memandangi rumah lamanya dan berucap dengan diiringi tetesan air mata “Noona terima kasih karena telah membesarkanku. Aku menyesal atas semua kebodohan yang telah kulakukan dan menempatkanmu dalam posisi sulit. Aku berpikir sekarang, meninggalkanmu dapat mengurangi bebanmu. Aku pergi, jangan sakit. Tunggu hingga aku kembali dan menemukan Woo Sub dan membawa uang itu kembali. Noona sampaikan pada Kakak Ipar, aku minta maaf. Setiap malam, aku akan berlutut dan berdoa”.

Sementara itu Chae Ryung juga berbicara kepada Ayahnya yang sedang tertidur
“Ayah, apakah kamu merasa sepi karena aku tidak berada disini? Aku agak sibuk, aku mencoba ini dan itu, tetapi aku berpikir tidak mudah untuk mendapatkan pinjaman uang. Ayah karena kamu, aku akhirnya menyadari kalau kehidupanku selama ini dipenuhi dengan kebahagiaan. Aku minta maaf Ayah. Aku akan mendapatkan uang dan ketika Ayah keluar dari rumah sakit, aku akan mendapatkan rumah yang lebih bagus untuk kita tinggali nanti. Ayah berhenti memikirkan sesuatu yang tidak berguna dan cepatlah sembuh, mengerti?”. (jadi ingat Appa…. Appa bogoshipo)

Chae Ryung memandangi wajah Ayahnya dengan lekat dan kerutan-kerutan tergambar jelas di wajah Ayahnya. Chae Ryung menelungkupkan tangannya disamping Ayahnya dan tertidur. Eun Khi Hwan perlahan-lahan membuka mata. Ternyata selama Chae Ryung bercerita, Ayahnya mendengarnya dengan jelas. Eun KHi Hwan berusaha menggerakkan tangannya dan ingin membelai wajah putri kecilnya yang tertidur, namun Eun Khi Hwan tidak bisa. Gangguan pada otaknya membuatnya tak bisa menggerakkan sebagian anggota tubuhnya.

Dua namja tampan berada dalam kondisi yang sama dengan Chae Ryung, bedanya Chae Ryung memikirkan kondisi kesehatan Ayahnya yang sangat menyayanginya. Wook Gi menyandarkan kepalanya di jendela Bus dan mengingat semua perlakuan kasar Ayahnya terhadapnya begitupun dengan Hyungnya, Hyuk Gi. Hyuk Gi menggenggam erat tangan Wook Gi berusaha menguatkannya, seolah-olah dengan genggamannya Hyuk Gi ingin mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja dan mereka pasti bisa melewatinya.

Sook Hee terkejut saat mendapati sebuah surat yang ditinggalkan Man Soo. Sook Hee menyadari kalau kepergian Man Soo karena kata-katanya kemarin yang terlalu kasar. Seorang pria terus saja mencecarnya dengan pertanyaan “apa kamu akan menjual kulkas atau lemari pendingin?” disaat Sook Hee berusaha menghubungi Hp Man Soo yang tidak aktif. “apa kamu tidak liat aku sedang menelepon? Jual semua yang bisa menghasilkan uang karena barang-barang ini tidak akan cukup di rumah kami yang baru” ucap Sook Hee begitu selesai menutup telepon dan meninggalkan pesan kepada Man Soo.

Chae Ryung yang sedang asyik makan teokbogi terkejut saat melihat Choi bersaudara datang. “annyeonghaseyo” sapa Chae Ryung.

Chae Ryung berada di depan pintu dan menguping pembicaraan antara Ayahnya dan Choi bersaudara
“sebuah sms masuk di Hp Wook Gi mengenai kematian Duk GI. “kematian Duk Gi. Aku minta maaf karena tidak bisa melawan sekarang, aku minta maaf karena tidak dapat mengungkapkan kebenarannya”. Polisi mencurigai kalau dia adalah orang yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi” ucap Hyuk Gi
“bahkan jika sms itu tidak masuk, aku yakin jika anda bukanlah yang menyebabkan Hyung mati. Ibu dan Ayah kami membawa lari uang kompensasi dan menghilang tanpa sepengetahuan kami. kami ingin mengembalikan uang tersebut tetapi kami tidak tahu bagaimana caranya untuk menemukan mereka. Kami juga tidak memiliki kerabat. Jika kami memiliki uang, kami pasti akan memberikannya pada anda. Orang tua kami juga mengambil semua deposit dan membuat kami kehilangan tempat tinggal. Hyung baru saja keluar dari wamil dan tidak mempunyai uang sama sekali dan uang yang aku tabung digunakan untuk biaya kehidupan kami sehari-hari” tambah Wook Gi
“aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf. Semua kejadian yang terjadi pada anda adalah kesalahan kami. Aku tidak tahu harus mengatakan apa, maafkan kami” ucap Hyuk Gi

Chae Ryung hanya terdiam di depan pintu dan raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sedih

“jadi, dimana kalian berdua tinggal sekarang?” tanya Eun Khi Hwan dengan terbata-bata
“di rumah teman Hyung. Jika anda ingin berteriak atau menyalahkan kami, kami akan menerima semuanya. Selain itu, kami tidak dapat mengembalikan uangnya sekarang, jadi….” Ucap Hyuk Gi dan ucapannya dipotong Eun Khi Hwan
“jika aku mengatakan uang itu tidak menyebabkan masalah, itu berarti bohong”
“aku minta maaf” ucap Hyuk Gi dan Wook Gi bergantian
“kenapa kalian meminta maaf kepadaku? Aku masih berada disini dan masih hidup sementara Duk Gi telah tiada. Hal ini tidak seperti aku tidak bersalah dan hal ini juga tidak seperti kalian sedang berbaring dan menghabiskan uang, mengapa kalian menempatkan diri dalam rasa bersalah. Gwaencahana, kalian tidak bersalah. Tidak perlu untuk mengembalikannya”
“aku minta maaf, aku minta maaf” ucap Wook Gi dan berurai air mata begitupun dengan Hyuk Gi
“kalian berdua pasti sangat menderita, bagaimana kalian berdua bisa begitu baik? Kalian sudah sangat menderita dan sekarang sudah cukup”

Wook Gi dan Hyuk Gi tak henti-hentinya menangis. Perkataan yang pernah dikatakan Man Soo kepada Yun Do dan Dong Bo sewaktu di kantor polisi jika kakak iparnya bagaikan seorang malaikat dibuktikan sendiri oleh Chio bersaudara. Eun Khi Hwan sama sekali tidak memikirkan uangnya dan justru lebih mengkhawatirkan nasib ke dua namja dihadapannya. Gadis kecil Eun Khi Hwan yang berdiri di depan pintu pun tak mampu membendung air matanya mendengarkan apa yang dikatakan Ayahnya.

Ae Ryung berlari tergesa-gesa masuk ke dalam rumahnya.
“kenapa kamu disini?” tanya Sook Hee ketika melihat Ae Ryung
“Paman mengirimiku sms dan memintaku untuk segera datang”
“mengapa dia melakukannya? Mengapa dia tidak berada disini dan malah menyuruhmu datang? Bagaimana jika mertuamu mengetahuinya?”
Ae Ryung maju perlahan dan memeluk erat Sook Hee
“Ibuku pasti begitu sedih”
“kenapa aku harus sedih. Berhentilah menangis” ucap Sook Hee pada putrinya.

Chae Ryung masuk ke dalam kamar perawatan Ayahnya dengan menggenggam dua kaleng minuman ringan. “ini, kalian pasti lelah menangis” ucap Chae Ryung dan melemparkan ke dua kaleng tersebut kepada Hyuk Gi dan Wook Gi.

Eun Khi Hwan segera menegur Chae Ryung karena sikapnya yang tidak sopan pada Hyuk Gi dan Wook Gi
“mengapa kamu seperti itu, mereka adalah Oppa anda”
“Oppa saya? Berapa umur kamu?” tanya Chae Ryung
“aku 24 tahun” jawab Wook Gi
“dia lebih muda dari aku Ayah, dia dongsaengku dan bagaimana bisa aku memanggilnya Oppa?”
“kamu juga 24 tahun, bagaimana kamu bisa lebih tua dari dia?”
“ulang tahunku lebih dulu, aku lahir di bulan Januari sehingga kemungkinan besar aku adalah Noona anda”
“aku juga lahir di bulan Januari” bisik Wook Gi dan Hyuk Gi menyenggolnya

Skak Mat buat Chae Ryung, namun bukan Chae Ryung jika dia tak bisa membuat lawan bicaranya KO
“mungkin saja. Aku berpikir kamu baik, tetapi kamu dengan mudahnya membalas ucapan orang”
“tidak bisakah kamu berhenti?” ucap Eun Khi Hwan
“Ayah diamlah, biarkan aku yang menangani mereka”. Chae Ryung mulai bertanya mengenai Sun Do, Dong Bo dan Yun Do. Wook Gi menjelaskan kalau mereka adalah sahabat dan Sun Do sering menulis lirik lagu di malam hari.
“oh, kalau begitu suruh mereka tidur lebih awal karena kalian akan membantu kami untuk pindah rumah. Kenapa kalian tidak bergerak?”
Wook Gi dan Hyuk Gi tertawa “beritahu kami alamatnya” ucap Hyuk Gi
“ah iya, aku belum memberitahu alamatnya” ucap Chae Ryung dan ikut tertawa

Tiga orang namja terlihat sedang bergelut dengan bertumpuk-tumpuk piring. Sebuah penutup kepala dan celemek terlihat di tubuh mereka.
“Hyung lingkaran mata kamu semakin banyak, kamu pasti sangat lelah” teriak Yun Do
“berhentilah berbicara dan lanjutkan pekerjaanmu” teriak Sun Do
“ah aku tidak memperdulikan lagi tentang fashion atau rambut palsu, panas sekali” keluh Dong Bo dan segera melepas rambut wignya.
“rambut wig?” ucap Sun Do terkejut dan saling bertatapan dengan Yun Do.

Dokter Kang mulai menginterogasi Jin Goo yang kebetulan datang ke ruangannya. Jin Goo mengatakan kepada Dokter Kang alasan dia merahasiakan semua hal yang terjadi pada keluarga Ae Ryung adalah agar dia bisa menikah dengan Ae Ryung. Jin Goo juga mengatakan kalau dia akan mengatakan terlebih dahulu pada Ibunya sebelum Ayahnya mengetahuinya.

Dokter Kang kembali berkata kalau Ae Ryung juga pasti sengaja merahasiakannya agar dia bisa menikah dengan Jin Goo. Jin Goo dengan cepat membantahnya dan membela Ae Ryung.
“jadi kamu benar-benar menyukainya?” tanya Dokter Kang
“mana mungkin aku menyukainya, dia bukan tipeku. Hanya saja sifatnya membuat aku kagum padanya”
“jadi kamu akan tetap bersenang-senang dengan gadis lain di luar rumah dan juga menjaga gadis yang Ayahmu sukai?”
“kami baru saja menikah, bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu. Mari kita menemui Pengacara Park untuk menyelesaikan kasus yang membelenggu Ayah Ae Ryung. Maksudku, sekarang kamu terlibat dalam kasus ini” ucap Jin Goo dan membuat Dokter Park semakin kesal melihatnya.


Pengacara Park adalah Ayah Jong Seok, orang yang sudah menyebabkan bencana pada keluarga istrinya. Jin Goo justru akan meminta bantuan padanya yang dengan sembunyi-sembunyi sudah membantu agar semua kesalahan ditimpahkan pada Eun Khi Hwan, mertuanya. (omo, aigooo)

Ae Ryung menuruni tangga dengan sebuah koper. Hyuk Gi yang sedaritadi membantu keluarga Eun untuk berbenah menghampiri Ae Ryung.
“apa masih ada lagi?” tanya Hyuk Gi
“oh, ini yang terakhir”
“Aku dan Wook Gi akan berangkat terlebih dahulu. Akan lebih baik jika kalian datang ke rumah baru setelah semuanya selesai dirapikan. Aku minta maaf”
“kamu pasti sangat kehilangan saudaramu. Kamu pasti sudah melewati banyak rasa sakit, jadi berhentilah untuk bersikap kalau kamu telah melakukan kesalahan”
“aku hanya tidak tahu bagaimana caranya untuk meminta maaf. Ayahmu berkata “Putri sulungku tidak bisa menikah karena diriku. Anda harus membawaku ke pernikahannya”. Ayah anda menangis”
“stress yang disebabkan karena pernikahanku membuat kondisinya semakin memburuk, aku akan membuatnya menjadi lebih baik, jadi lupakanlah”.

Disaat Hyuk Gi dan Ae Ryung sedang berbicara,di sebuah kamar terlihat seorang wanita setengah baya tengah memandangi seisi kamar dengan raut wajah sedih. Semua kenangan yang pernah terjadi di kamar tersebut kembali terbayang dalam memorinya.

Ae Ryung tiba-tiba datang
“Ibu sudah saatnya kita pergi”
“Ayahmu sangat menyedihkan. Dia tidak tahu bagaimana cara memilih wallpaper kamar yang benar dan dia tidak tahu bagaimana cara memilih wanita yang akan mendampingi hidupnya. Mengapa dia memilihku sebagai istri? Mengapa dia mengijinkan Man Soo sebagai iparnya? Dia sekarang telah kehilangan rumah yang sudah dibelinya dengan bekerja sepanjang hidupnya, dia bahkan tidak makan dengan benar dan memakai pakaian dengan benar. Dia tidak melanjutkan sekolahnya karena mengurus saudaranya. Dia sama sekali tidak membenci hidupnya, dia bahkan bekerja keras hanya untuk membeli rumah ini, jadi mengapa kita harus menyerah”
“Ibu, Ayah berkata “dalam warisan seseorang, warisan yang terbesar adalah melihat anak-anaknya tumbuh dengan baik”. Kita tidak akan hancur, Ayah masih ada dan tidak akan menyerah. Jadi, Ibu juga harus seperti itu, mengerti?” ucap Ae Ryung sambil menggenggam tangan Ibunya
“aku tidak menyukaimu, bagaimana kamu bisa seperti Ayahmu? Ayahmu mendidik putrinya dengan begitu baik dan aku berpikir, Jin Goo telah memilih istri yang tepat, istri yang hebat sepertimu” ucap Sook Hee. Hujan air mata pun kembali terjadi.

Marco dan Ricardo tengah asyik melihat beberapa orang gadis latihan menari. Diantara gadis-gadis tersebut, gadis yang menjadi instruktur tari adalah incaran mereka. Jin Goo tiba-tiba datang dan memukul kepala mereka berdua.
“kalian menyuruhku datang padahal aku baru saja menikah”
“Hyung, beritahu kepada istri anda kalau dia sangat cantik” ucap Marco
“apa anda sudah gila?” ucap Jin Goo
“sudah, dia mengatakan namanya adalah Jo Ah Ra” ucap Ricardo berusaha menengahi.

Jin Goo mendekat ke pintu dan terbelalak seketika ketika melihat gadis yang dimaksud Ricardo. Gadis yang pernah ditemuinya sewaktu Jin Goo fitting baju pengantin bersama Ae Ryung dan merupakan sahabat Joo Hee.

Dari balik dinding, Jae Hee tersenyum penuh kemenangan melihat Jin Goo “pernikahan ini, akan berakhir dalam empat hingga lima bulan”

Chae Ryung terus menerus menggosokkan ke dua tangannya yang kedinginan.
“dimana tempatnya?” gumam Chae Ryung. Chae Ryung sudah membuat janji dengan Jong Seok dan Bora untuk bertemu. Chae Ryung ingin meminjam uang dari mereka berdua dan akan mengembalikannya jika dirinya sudah memiliki uang. Chae Ryung sangat yakin kalau kedua sahabatnya tersebut akan meminjamkannya. Benar apa tidak, kita lihat saja nanti chingu???

Chae Ryung tersenyum saat menemukan tempat yang dicarinya sedaritadi. Senyumnya tiba-tiba memudar saat melihat tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan Jong Soek terbilang cukup mewah.

Pelayan mengantarkan Chae Ryung masuk ke dalam sebuah ruangan yang telah diisi oleh beberapa orang pria dan wanita yang berpakaian sangat rapi dan formal. Diantara mereka terlihat Jong Seok dan Bora. Semua tatapan aneh dan sinis tertuju pada Chae Ryung ketika dia berdiri di hadapan meja.
“oh Chae Ryung, ayo kesini dan duduk” panggil Jong Seok yang menyadari kehadiran Chae Ryung sementara Bora terkejut melihat Chae Ryung.

Chae Ryung hanya terdiam. Maksud kedatangannya dan janji yang dibuatnya dengan Jong Seok dan Bora adalah untuk meminjam uang tidak mungkin dikatakannya dihadapan orang banyak.
“tidak apa-apa” tambah Jong Seok
“siapa dia?” tanya salah satu teman Jong Seok
“Chae Ryung memiliki beberapa masalah di rumah, dia ada disini untuk menemuiku dan tidak tahu jika sedang diadakan pesta natal. Jadi itulah sebabnya dress codenya seperti itu” jawab Jong Seok

Chae Ryung menatap Jong Seok dengan tajam dan bersambung…..

Iklan

5 pemikiran pada “[Sinopsis] It’s Okay, Daddy’s Girls Episode 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s