[Sinopsis-Thai Movie] SuckSeed Part 1

Cerita dimulai dari tibanya 3 orang pemuda disuatu tempat (aku gak tau itu tempat apa tapi kayak stadion, kkek)
“Apa kalian siap? Mau tidak mau kita harus siap” kata pria yang berada diurutan tengah.
“Oke” kata pria disebelah kanan.
“Apa kamu yakin? Tanyanya lagi.
“Ya, aku siap” jawabnya.

~~Di Ruang kelas menanyi~~

Para murid satu persatu maju untuk menyanyi disepan kelas. Semua murid menunjukkan kebolehannya dan selanjutnya giliran Ped.

“Kini giliranmu, kamu ingin menyanyi lagu apa? Tanya guru Ped. Ped tak segera menyanyi, mukanya pucat Ped hanya diam membisu. “Dasar penakut” ejek teman sekelas Ped. Kontan membuat semua siswa tertawa.

Tiba2 dari arah belakang, bola2 kertas mendarat di kepala teman Ped.” Siapa? Celetuknya kesal sambil menoleh kebelakang. Anak laki2 berjaket merah dengan sengaja menjulurkan lidahnya (keekeke~~ ini anak lucu banget). Dan dengan santai ia melempari anak yang mengejek Ped dengan bola2 kertas
“Pilih lagu apa saja” kata seorang gadis kecil (namanya Ern)
Ped terlihat sangat bingung

Guru Ped tiba-tiba memukul meja dan menegur mereka berdua yang membuat kegaduhan. Ern masih membisikkan kata-kata pada Ped “lagu apa saja” dan Ern mulai mengajarkan lirik lagu pada Ped “I Need You, I Love You, I Want You”.

“Cepatlah menyanyi” ujar Guru Ped tiba-tiba. Ped terdiam dan mulai bernyanyi yang membuat seisi kelas tertawa karena tak mengerti lagu apa yang dinyanyikan Ped. “duduklah, kita lanjutkan” ujar Guru Ped putus asa dan kemudian memanggil Ern untuk giliran selanjutnya. Ern tersenyum manis sedangkan Ped hanya bisa terdiam apalagi Kong mengatakan kalau Ped payah.

Seisi kelas ikut bergoyang mendengarkan nyanyian Ern tak terkeculi Ped. Lagu yang dinyanyikan Ern adalah kata-kata yang sempat dibisikkannya pada Ped tadi.

“kunci apa ini? apa kamu bisa memainkannya?” tanya Ped pada sahabatnya Kong yang lumayan mengetahui tentang musik.
“itu lagu terkenal, tapi aku tidak bisa” jawab Kong dengan sebuah gitar di pangkuannya
“masa kamu tidak bisa?” tanya Ped sekali lagi
“aku hanya anak kecil” jawab Kong dan memetik gitar asal-asalan
“lalu lagu apa yang bisa kamu mainkan?”
“tidak ada”
“cobalah mainkan sebuah lagu” bujuk Ped
“ini tidak semudah dengan apa yang kamu pikirkan, ini sulit. Belajar gitar itu sangat sulit, kamu harus rajin mempelajarinya” jawab Kong dan Ped mengangguk tanda mengerti.

Sebuah suara anak kecil menyuruh Kong untuk menyingkir dari papan seluncuran
“hei, cepat minggir, aku mau main seluncuran”
“tidak mau, aku sedang duduk disini”
“itu bukan urusanku, cepat,cepat,cepat”

Kong dengan tenaga ekstra memutar sebuah mainan hingga menyebabkan anak kecil yang menyuruhnya untuk menyingkir dari papan seluncuran menjadi pusing. Sebuah tangan mungil tiba-tiba menghentikan mainan tersebut
“kamu berani sekali” ucap Kong kesal pada anak kecil yang wajahnya sangat mirip dengannya.
“jangan mengganggu lagi” jawab Key santai dan merupakan kembaran dari Kong. Kong dan Key memang anak kembar tetapi sifat mereka sangat bertolak belakang. Kong cenderung ceplas ceplos sedangkan Key anak yang terbilang pendiam.
“ayo pergi” ajak Kong pada Ped

Ped mendekati Ern yang sedang asyik menulis. Berulang kali Ped memanggil Ern namun Ern sama sekali tak bereaksi. Baru saja Ped ingin menyentuh pundak Ern, Ern tiba-tiba berbalik dan membuat mereka berdua sama-sama terkejut.
“ada apa?” tanya Ern melepaskan headset dari telinganya
“aku hanya ingin menyapamu” jawab Ped

Ped dan Ern berjalan bersama meninggalkan sekolah. Ped sekali lagi bertanya pada Ern
“Ern kamu sudah makan? Bagaimana kalau kita pergi? Kamu mau?”
Ern mengangguk “aku memang sedang tidak ada kerjaan” Ern mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Ped “aku memang suka pergi daripada tidak melakukan apa-apa”
“aku juga, berarti kita sama, kita tidak tahan berdiam diri” ucap Ped senang namun Ern tiba-tiba berjalan meninggalkannya.

Ped menyusul Ern dan kembali bertanya “apa cita-citamu?”
“aku belum tahu, aku akan memikirkannya dan akan memberitahumu” jawab Ern. Ern mengambil sesuatu dari dalam tasnya “coba dengarkan ini” tambah Ern dan menaruh sebuah headset ke telinga Ped dan sebelahnya lagi ke telinganya.

Ped terus saja tersenyum. Keadaan sekelilingnya berubah menjadi hening dan seolah-olah di tempat tersebut hanya ada mereka berdua. Ped terlihat hanyut dalam suasana.

“jangan seperti itu” ucap Ern tiba-tiba dan menarik headset dari telinga Ped. Ped hanya terdiam. Sebuah suara memanggil Ern “Ern, nenekmu sudah datang” ucap Guru Ern dan Ped. Dan benar saja, seorang wanita paruh baya telah menunggu Ern.

Sesaat sebelum Ern pulang bersama Neneknya, Ern memberikan sebuah kaset kepada Ped dan meminta Ped untuk mendengarnya.
“Ern, kapan kita bisa main bersama?”
“nanti aku kabari” jawab Ern dan bergegas naik ke dalam mobil.

Ped hanya memandangi Ern yang perlahan-lahan mulai menjauh. Ped sama sekali tidak menyadari kalau pertemuannya dengan Ern akan menjadi salah satu pertemuan terakhir.

Ped berbaring di tempat tidur dengan tatapan kosong. Kaset yang diberikan Ern tengah diputar. Seorang pria berdiri di depan pintu kemudian berpindah di ujung tempat tidur Ped dan sekarang berada di samping Ped (setiap kali lagu diputar akan muncul sosok penyanyi aslinya, inilah keunikan Fim Suckseed).

Seorang wanita setengah baya masuk dan mematikan tape tiba-tiba.
“kenapa kamu tidak ganti baju dan membuka sepatumu, lihat kamarmu jadi kotor. Ayo cepat ganti baju” ucap Ibu ped marah. Ped bangun dari tidurnya dan memandangi tempat kaset pemberian Ern.

Dengan mengendarai sebuah sepeda, Ped akhirnya sampai di sebuah rumah bertingkat 3. Setelah sempat memberi salam pada seorang wanita setengah baya yang sedang asyik bernyanyi, Ped bergegas menuju kamar Kong.
“ada apa?” tanya Ped pada Kong yang sedang memegang gitar
“kesal” jawab Kong dan berbalik melihat ke arah Key yang sedang asyik bermain PS “ada apa kamu mencariku?”
“aku hanya ingin bertanya tentang sebuah lagu” jawab Ped terbata-bata

“ini ambil saja, aku akan menemani dia” jawab Kong dan menyerahkan gitar pada Ped. Key yang mendengarnya seketika berbalik dan menatap Kong dengan wajah yang penuh luka.

Ped memantapkan hatinya kalau dia bisa melakukannya. Dengan bantuan sebuah buku berisi not-not dan gitar pinjaman Kong, Ped mulai menyanyikan lagu yang diajarkan Ern padanya dan merekamnya.

Ped mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh. Hanya satu yang ada dikepalanya, dia harus menemui Ern dan memberikan hasil rekaman suaranya pada Ern. Jalanan yang gelap, jembatan berhasil dilewati Ped, namun harapannya sia-sia ketika melihat rumah Ern tertutup.

Sebuah telepon umum di pinggir jalan memberikan sebuah ide cemerlang di pikiran Ped. Dengan berbekal nomor telepon yang tertera di pintu rumah Ern, Ped segera mengangkat gagang telepon dan memencet satu persatu nomor.

Tidak ada tanggapan dari pemilik rumah dan hal tersebut membuat Ped mulai putus asa. Nyala lampu di rumah Ern membuat Ped kembali tersenyum. Beberapa detik kemudian terdengar suara serak seorang pria.
“Halo”
“Halo, Ern ada?” tanya Ped terbata-bata disertai dengan nafas ngos-ngosan (wah, hebat juga nich Ped)
“ini sudah malam dan besok dia harus ke sekolah, jangan mengganggunya…. Mengerti?
“mengerti”
“lalu kenapa kamu menelepon semalam ini, kamu tidak tahu waktu ya?” tanya Pria tersebut dan menutup telepon. Lampu di rumah Ern pun mati seketika. Ped menghela nafas dan memandangi kaset rekaman di tangannya dengan perasaan sedih.

Keesokan harinya
Ped berlari tergesa-gesa menuju ke kelasnya. Pelajaran telah dimulai sedaritadi dan kali ini adalah jam pelajaran bernyanyi. Seorang siswa berhasil menyanyikan sebuah lagu dan kembali ke tempat duduknya dengan diringi tepuk tangan teman-temannya.
“Hun To Pai” panggil Guru
“aku akan menyanyikan sebuah lagu terkenal” ucap Hun To Pai dan membuat seisi kelas saling berpandangan dan berbisik.

Seisi kelas mengikuti nyanyian yang dinyanyikan Hun To Pai dan suara mereka seolah-olah ditujukan pada Ern yang duduk di bangku paling depan. Ped hanya tertunduk mendengarnya sementara Kong berusaha menepis pertanyaan teman-temannya dengan mengatakan “aku tidak tahu, aku tidak melakukannya”.

Ern berdiri dari bangkunya dan menuju ke bangku Kong dan Ped.
“aku tidak menyangka kamu akan melakukan hal ini padaku” ucap Ern dengan derai air mata dan bergegas keluar kelas
Kong masih berusaha menepis ketika teman-temannya menatapnya “aku tidak ada hubungannya dengan ini”. Sementara Ped terus memegangi kantongnya yang berisikan kaset rekaman bahkan hingga mengantar Ern ke bandara.

Ped memandangi Ern yang melambaikan tangannya pada teman-temannya. Muncul rasa bersalah pada diri Ped karena tak sempat memberikan kaset rekaman pada Ern.
“dia pergi” gumam Kong saat menatap pesawat yang terbang di angkasa bersama dengan Ped “tidak tahu kapan akan kembali, ayo kita pergi” ajak Kong

Ped masih memandangi pesawat yang perlahan-lahan mulai menghilang di balik awan.”ayo” ajak Kong sekali lagi dan mulai mengayuh sepedanya “Kong, tunggu aku, jangan tinggalkan aku” teriak Ped.

Beberapa tahun kemudian
Di sebuah panggung sederhana terlihat seorang pemuda yang sedang asyik bernyanyi diiringi petikan gitar dan dentuman drum dari temannya. Di bawah panggung para penonton berteriak histeris terutama para wanita. Bintang diatas panggung bukanlah sang vokalis melainkan seorang pemuda yang sedang asyik memainkan gitar. Pemuda tersebut bernama Key.

Di deretan penonton seorang pemuda yang memakai pakaian berwarna hijau juga ikut larut. Seorang pemuda berpakaian putih bergaris-garis mendekatinya
“malam ini sangat ramai” ucap Kong
“mereka memang sangat bagus” jawab Ped dengan tatapan masih tertuju pada panggung

Kong melihat kesekeliling dan melihat kepada Key, sang kakak. Wajah Kong berubah menjadi kesal dan segera menarik Ped menjauh dari keramaian.
“kemana?” tanya Ped
“pulang” jawab Kong masih kesal.

Seorang gadis lewat tak jauh dari Kong dan Ped.
“Ped lihat” tunjuk Kong
“siapa dia?” tanya Ped

Keesokan harinya
Di sebuah sekolah tepatnya di sebuah kelas terlihat tiga orang pemuda sedang asyik bermain kartu. Seorang pemuda berkacamata tiba-tiba masuk dan mengajak teman-temannya untuk keluar kelas tak terkecuali Kong dan Key.
“kalian hanya tahu bermain kartu saja” ucap Hun To Pai
“memangnya mau main apa lagi?” tanya Kong dan serius dengan kartu-kartu di tangannya
“keluar kelas bukannya lebih baik?”
“aku malas keluar, aku tidak suka terkena panas”
“aku dengar kabar kalau Ern sudah pulang” ucap Hun To Pai tiba-tiba
“aku tidak perduli dengan Ern” jawab Kong dan menaruh sebuah kartu di meja. Ped hanya menatap mereka berdua.

Hun To Pai mengajak Ped dan Kong ke lapangan. Hun To Pai menunjuk seorang gadis dengan rambut terikat satu dan mendekatinya. Kong dan Ped seketika terkejut karena gadis yang ditunjuk Hun To Pai adalah gadis yang mereka liat semalam.
“apa itu benar dia?” tanya Kong pada Ped

Ped tidak menjawab dan hanya bisa menganga. Gadis kecil teman masa SD-nya dulu telah menjelma menjadi sosok gadis cantik.
“kamu teman masa kecilku kan? Kamu pasti Ped” ucap Ern
“kamu masih mengingatnya ya, kalau dia siapa?” tanya Hun To Pai pada Ern dan menunjuk Kong yang tersenyum malu
“kamu yang sewaktu kecil sangat nakal, aku mengingatmu” jawab Ern yang membuat Kong menjadi malu karena Ern mengingatnya sebagai anak nakal.
“kalian sudah terpisah lama sekali” ucap Hun To Pai dan menyanyikan sebuah lagu yang pernah membuat Ern menangis. Kong dengan cepat menutup mulut Hun To Pai dan membuat Ern tertawa “aku mengingatnya” ucap Ern
“kalau dia, I Need U,….”
“sudah hentikan” ucap Ped.

Bunyi bel sekolah menandakan waktu jam istirahat telah berakhir. Ern berpamitan pada Ped, Kong dan Hun To Pai.
“dia cantik bukan?” tanya Hun To Pai namun Ped tak menjawab dan malah tersenyum. Cinta monyet yang pernah dirasakannya kembali terulang.

Ped berjalan di pasar sambil tersenyum. Sepasang headset nangkring ditelinganya. Dan seperti yang sudah-sudah setiap kali Ped mendengarkan lagu, maka penyanyi aslinya akan muncul. Semua bunyi dipasar seolah-olah ikut menyatu dengan suara sang penyanyi asli, termasuk bunyi pisau, bunyi ulekan bahkan Ped dihujani dengan sayur-sayuran seolah-olah Ped adalah bintang. (bingung ngebahasainnya, salut dengan nich Film, efek lebaynya dapat banget).

Disaat Ped sedang menghapus tulisan di papan tulis, Kong tiba-tiba datang dan mengatakan kalau dia akan mengejar Ern dan menyatakan cinta padanya. Untuk membantu usahanya, Kong meminta Ped untuk membantunya. Ped tentu saja terkejut karena dirinya juga menyukai Ern.

Semua usaha telah dicoba Kong, mulai dari berlatih bermain Yo Yo (Saat Kong bermain yoyo, bukannya yoyo berputar dengan baik malah berulang kali mengenai wajahnya), sepatu roda hingga dance, namun tak satupun yang berhasil.

Kong menggunting kartu hingga menjadi potongan petikan gitar dan menunjukkannya pada Ped.
“apa kamu juga suka padanya?” tanya Kong pada Ped yang sedang asyik membaca
“tidak” jawab Ped dan masih focus pada buku yang dibacanya
“yakin, tidak menyukainya?” tanya Kong sekali lagi dan seketika Ped mengangkat wajahnya dan menatap Kong.

Kong sedang memperhatikan seorang anak yang sedang bermain basket.
“lihatlah anak itu, dia terlalu lambat, dia payah” ucap Kong dan anak yang dibicarakannya berhasil mendribble bola masuk ke dalam ring “itu hanya beruntung saja, aku juga bisa” tambah Kong pada Ped yang tak memperdulikannya

“tapi sepatunya….” Ucap Kong sambil menepuk buku Ped “dia akan menembak” tambah Kong pada Ped yang mulai memperhatikan anak yang dimaksud Kong “lihat telapak tangannya, dia akan tepuk tangan” dan anak yang dimaksud Kong memang benar melakukan tos dengan temannya karena sekali lagi berhasil mendribble bola.
“dia akan slum dunk” teriak Kong dan membuat Ped tegang menunggu apakah anak tersebut berhasil memasukkan bola ke ring untuk ke tiga kalinya.

“Yiah” teriak Kong dan Ped bersamaan ketika anak tersebut terjatuh.

“sepertinya parah, bagaimana ini?” tanya Ped ketika melihat anak bernama Ex berteriak kesakitan sambil memegangi tangan kirinya yang mengalami patah tulang
“aku tidak tahu” jawab Kong sedih

Disaat bersamaan Hun To Pai mengumumkan jika sebentar lagi akan digelar sebuah Acara besar dimana bintang tamunya adalah Kong and Friend. Ped menatap Kong yang tersenyum. Kong memutuskan membuat sebuah band.

Di sebuah studio music terlihat 3 orang anak muda bersiap-siap latihan. Kong mengisi posisi vokalis sekaligus gitaris, Ped mengisi posisi bassist sedangkan Ex mengisi posisi drummer. Latihan mereka hari ini tidak berjalan lancar dan selalu saja ada gangguan.

Kong tersenyum senang saat memandangi sebuah panggung tempat mereka akan tampil sedangkan ke dua sahabatnya terlihat khawatir dan sedikit ketakutan.

Kong, Ped dan Ex bersiap-siap memulai aksinya. Di bawah panggung para penonton yang sebagian besar terdiri dari anak-anak terlihat antusias. Ern yang kebetulan berada di tempat tersebut memberi semangat pada Ped dan yang lainnya.

Petikan gitar mulai terdengar, semua orang terlihat terkejut tak terkecuali pembawa acara, orang tua para anak dan Ern. Musik yang dibawakan Kong sama sekali tidak membuat anak-anak menjadi senang melainkan membuat mereka semua menangis ketakutan.

Hun To Pai menunjukkan rekaman acara kemarin kepada teman-teman kelasnya. Semua yang melihatnya tertawa terbahak-bahak.
“bagaimana perasaan kalian setelah acara kemarin? Kalian senang atau kesal?” tanya Hun To Pai pada Kong dan merekamnya dengan handycam kesayangannya
“jangan ganggu aku” ucap Kong kesal
“kalian benar-benar lucu, hebat”

Kong mengajak Ped keluar dari kelas
“mereka benar-benar keterlaluan” keluh Ped
“jangan dipikirkan” ucap Kong

Samar-samar Kong mendengar suara petikan gitar dan suara seorang gadis yang sedang bernyanyi. Kong mencari sumber suara tersebut dan terkesima saat mengetahui jika suara gitar dan suara merdu berasal dari Ern, gadis yang disukainya.

Kong, Ped dan Ex terkejut saat melihat dan mendengar permainan gitar Ern yang begitu mempesona. Kong memutuskan belajar pada Ern dan mengajaknya bergabung dalam Band yang dibentuknya.

Seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruang latihan tempat mereka berada sekarang dan menyuruh mereka segera keluar.
“apa yang kalian lakukan disini? Cepat keluar” perintah Kepala Sekolah
“kenapa kami harus pergi?” tanya Kong pada Key saudaranya yang sibuk memasang colokan gitar
“kami mau latihan sekarang, jadi silahkan pergi” ucap sang vokalis
“kami pasti akan mengalahkan kalian” teriak Kong mantap dan membuat semuanya berbalik memandang Kong.
“kamu bicara apa?” tanya Key
“aku menantangmu” jawab Kong namun tidak ada seorang pun yang menggubrisnya “aku akan satu grup dengannya” tambah Kong dan menunjuk Ern.

Kong menahan Hun To Pai saat berpapasan dengannya. Kong ingin meminta bantuan kepada Hun To Pai, namun Hun To Pai dengan tegas menolaknya padahal Kong belum mengungkapkan keinginannya.

“ini adalah pertandingan grup band, yang terbaik dialah yang menang. Dia adalah pemain bass terbaik di sekolah, Ra Tje Nang. Pemain drum yang satu ini sangat kuat, Tom Thunder. Vokalis yang suaranya seperti rocker, Phen Impact. Pada gitar, Ipad, dia mempunyai kecepatan jari yang luar biasa. Grup terbaik saat ini, The Arena” ucap Hun To Pai dan meninggalkan Kong.

“aku tidak yakin dengan ini” ucap Ex
“apa kamu yakin kita bisa menang?” tanya Ped pada Kong
“tentu saja, jangan dengarkan dia, kita punya Ern”
“apakah kita hanya mengandalkan dia saja?” tanya Ped
“itu benar. Aku juga mempunyai grup band wanita. Kami selalu latihan bersama dan hal itu membuat kami kompak” jawab Ern

Ern menambahkan kalau memang agak sulit, tetapi tidak ada yang mustahil di dunia ini jika mereka mau berusaha. Mendengar kata-kata Ern membuat Kong menjadi semangat. Tetapi satu hal yang menjadi kendala sekarang, tempat mereka biasa latihan jadwal untuk hari ini padat.

Ex mengajak ke tiga sahabatnya menuju ke sebuah toko roti. Ern, Ped dan Kong sedikit heran ketika Ex memperlihatkan sebuah ruangan yang penuh sesak dengan berpuluh-puluh kardus.
“apa ini?” tanya Ped
“drum” jawab Ex dan menunjuk sebuah drum yang tersembunyi di balik kardus
“aku tidak masalah” ucap Ern.

Kerja bakti pun dimulai. Ruangan yang berisikan berpuluh-puluh kardus perlahan-lahan mulai terlihat longgar. Dinding yang semula berwarna putih berubah menjadi berwarna warni dengan tumpukan rak-rak telur untuk meredam bunyi. Satu persatu alat music pun dimasukkan dan latihan pun dimulai.

Kong, Ped, Ern dan Ex istirahat sejenak. Ex memandangi sebuah formulir pendaftaran “Hotwave music awards” dan terkejut saat melihat tanggal acara yang tertera tanggal 10 dan itu artinya waktu mereka untuk latihan hanya sebentar saja.

Ern mengatakan kalau mereka pasti bisa dan akan mengajari Ped cara bermain gitar.Seorang pria setengah baya tiba-tiba masuk dan mengantarkan kue untuk mereka berempat.

Pria tersebut adalah Ayah Ex. Ayah Ex mulai menceritakan sesuatu hal memalukan yang dilihatnya ketika memasuki kamar Ex. Ex berdiri di depan pintu dengan menggenggam tisu yang sangat banyak dan celananya basah.

“aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya sedang memandangi foto dan memeluknya. Aku minum jus jeruk lalu tertumpah kena bantal. Aku mengambil tisu dan membersihkan celana, saat itulah Ayah masuk. Hanya begitu saja” ucap Ex menjelaskan

“aku punya cerita lagi, kalian mau mendengarnya?” tanya Ayah Ex yang membuat Ex menjatuhkan gelas minuman yang dipegangnya.
“Ayah cepatlah pergi, tinggalkan kami” ucap Ex dan mendorong Ayahnya.

Kong mempunyai sebuah ide baru. Kong meminta Ped untuk mengamati semua tingkah laku Ex.

Hal yang pertama diamati Ped adalah ketika Ex berjalan dan tanpa sengaja melewati gadis yang disukainya.
“ada wanita yang bersamanya dan Ex sedang berjalan sendirian. Dia memandangnya dan tidak berani untuk mengatakannya”. Gagal, padahal jarak Ex dan wanita yang disukainya hanya berkisar beberapa meter saja namun Ex dengan cepat membelokkan langkahnya menuju keran air dan menyiram kepalanya.

Hal yang ke dua yaitu ketika Ex berada tak jauh dengan gadis yang disukainya dan memandanginya yang sedang latihan menari.

“menari adalah keahliannya, dia sangat manis sekali dan cantik. Lalu sesuatu terjadi, kacau”. Kembali gagal, ketika gadis yang disukai Ex berdiri dan berjalan ke arahnya, Ex dengan langkah seribu kabur.

Hal yang ketiga yaitu Ex bertinju. Semula Ex menang namun….
“dia bertinju, melampiaskan seluruh kekesalannya. Gadis yang disukainya datang mendekati ring, terdiam, awas dan jatuh”. Sekali lagi gagal, perhatian Ex terfokus pada gadis yang disukainya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh lawan Ex dan membuat Ex KO seketika.

Ped menunjukkan hasil investigasinya pada Kong. Kong membacanya dan meminta Ex untuk lebih berani lagi. Ex tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya pada gadis yang disukainya dan bagaimana bisa dia berani tampil di depan umum nantinya.

Ex dan Kong membawa beberapa bagian alat drum, sedangkan Ped dan Ern bersama-sama membawa alat yang lebih besar.
“kenapa kamu ingin bergabung dengan kami?” tanya Ped
“aku hanya ingin membantu saja dan kebetulan sedang tidak ada pekerjaan” jawab Ern
“kamu memang baik sekali” ucap Ped. Langkah mereka berdua terhenti ketika sekumpulan anak dari kelas lain keluar dengan membawa beberapa kursi dan meja.
“panjang sekali” ucap Ern namun Ped hanya menatapnya
“aku….. bercanda” ucap Ped dan kembali berjalan bersama dengan Ern yang mengoloknya dengan “pembohong”

Ern mengajak Ped ke sebuah toko kaset (sepertinya toko milik Ern). Ped bertanya apa lagu kesukaan Ern dan dijawab oleh Ern kalau dia menyukai lagu lama. Ern mengatakan kepada Ped anggap saja pertandingan ini hanya seperti kalau mereka sedang bermain.

Ped membuka laci meja belajarnya. Diantara tumpukan-tumpukan buku, Ped mengambil sebuah kaset yang terlihat usang. Ped memandangi kaset tersebut dan tersenyum.

Beralih ke scene berikutnya.
Ped mengingat masa-masa kecil yang dilaluinya bersama Ern, masa yang mungkin sebagian orang hanya menganggapnya sebagai bagian dari masa lalu saja. Semua kenangan berkumpul kembali diingatan Ped dan akhirnya membuahkan sebuah lirik lagu yang dituangkannya ke dalam buku.

Seseorang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Ped.
“ada apa?” tanya Ped saat melihat Kong dengan wajah tak seperti biasanya
“kamu menyukai Ern?” tanya Kong
“tidak” jawab Ped dan menutup tulisannya
“lalu kamu sedang melakukan apa?”
“aku sedang berpikir”
“bohong” ucap Kong
“serius”
“aku sudah menduganya, Ern menyukai seseorang dan merebut hatinya” ucap Kong dan nada bicaranya tiba-tiba berubah
“siapa?” tanya Ped
“aku juga tidak tahu” jawab Kong dan tatapannya teralihkan ke buku yang tertutupi tangan Ped
“apa yang kamu tulis?”
“bukan apa-apa”

Kong merebut paksa buku dari tangan Ped. Kong mulai membacanya dan raut wajahnya seketika berubah senang dan mengatakan kalau tulisan Ped sangat bagus dan akan dijadikannya sebagai lirik lagu untuk Grup Band mereka nanti.
“aku sudah menyukai Ern sejak pertama melihatnya. Dulu dia salah paham denganku, tapi sekarang tidak lagi. Dia mau tertawa denganku dan bercanda denganku. Ini, aku kembalikan bukunya. Tulis hal yang lebih indah lagi” ucap Kong sesaat sebelum pergi. Ped menatap bukunya dan membalik lembar sebelumnya yang tidak dilihat Kong dan berisikan nama Ern. Ped menyadari kalau dia tak dapat memiliki ataupun menyukai Ern, karena Kong sahabatnya menyukai Ern.

The Arena kembali tampil mengisi sebuah acara. Dibarisan penonton terlihat Ped dan Ern. Ern ikut tersihir dengan penonton lainnya dan tak menyadari Ped yang terus memandanginya. Kong datang dan menawarkan minuman kepada Ern namun Ern menolak. Setelah dibujuk oleh Ped, Ern akhirnya menerima minuman yang diberikan Kong padanya.

Telepon Ern berbunyi. Ern menjauh dari keramaian.
“pasti pria tersebut yang meneleponnya” ucap Kong
“biarkan saja” ucap Ped dan memberikan minuman yang dititipkan Ern pada Kong dan pergi.

Ped kembali membuka buku yang berisikan nama Ern. Langkah kaki Ped membawanya menuju sebuah jembatan. Ped membayangkan kalau sekarang Kong sedang bersenang-senang dengan Ern sambil menikmati lagu-lagu yang dibawakan grup The Arena.

Langkah kaki Ped terhenti di pinggir sebuah jembatan. Dengan wajah sedih dan dihiasi tetesan air mata, Ped membuang bukunya ke dalam sungai (sekali lagi adegan ini diiringi dengan sebuah nyanyian dan seperti biasa penyanyi aslinya hadir).

Keesokan harinya
Telepon di rumah Ped berbunyi. Ibu Ped berteriak memanggil nama Ped. Ped bergegas turun dan terkejut ketika mendengar si penelepon mengatakan kalau dirinya ditolak.

Kong sedang bersedih. Sebuah headset nangkring di telinganya. Tempat yang dijanjikannya untuk bertemu dengan Ped adalah kereta api.

“ada apa?” tanya Ped ketika duduk berhadapan dengan Kong. Kong memberikan headset kepada Ped dan meminta Ped untuk mendengarkannya.

Ped membuka headset dan mengembalikannya pada Kong. Lagu yang sedang didengarkan Kong adalah lagu patah hati.
“tadi malam aku menghabiskan waktu berdua dengan Ern. Semuanya indah dan berjalan begitu lancar”

=Flashback=

Kong mengajak Ern berbicara berdua. Kong meminta Ern untuk mendengarkan lagu yang sengaja disiapkannya untuk Ern

“apa maksudmu?” tanya Ern ketika melepaskan headset
“aku suka padamu” jawab Kong blak-blakan yang membuat Ern terkejut

“aku tidak bisa” jawab Ern dan Kong sontak shock
“kenapa tidak bisa? Kenapa kamu memberikanku lampu hijau?”

=Flashback end=

Kong menangis layaknya anak kecil begitu selesai bercerita.

Seorang pria setengah baya datang dan menghampiri mereka. Digendongannya terlihat seorang pemuda dengan tatapan kosong.
“tolong jaga dia” ucap Ayah Ex dan pergi
“ada apa denganmu?” tanya Ped pada Ex yang terdiam

Ex menangis dan bercerita

=Flashback=

Aku mengikuti tantangan disekolah untuk mendapatkan boneka. Aku berhasil mendapatkannya.

Aku menghampirinya dan tiba-tiba muncul seorang panda. Dia memeluk panda itu.

=Flashback end=

Waduh sama-sama patah hati nich….
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Nantikan Part selanjutnya Hanya di Pelangidrama.

Written by : Apni Rf & Dewi Rf @ PD
Picture by : Apni Rf & Dewi Rf @ PD
Shared by : Pelangidrama.net
DON”T REPOST TO OTHER SITE

Iklan

4 pemikiran pada “[Sinopsis-Thai Movie] SuckSeed Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s