[Sinopsis] Blind Part 2 (END)

Detektif Jo melaporkan kepada atasannya semua hal yang diketahuinya berdasarkan hasil penyelidikannya termasuk kasus penyerangan terhadap Gi Seob. Atasan Gi Seob terlihat cuek dan kasus penyerangan tersebut memang akan ditutup karena sama sekali tidak ada titik terang termasuk saksi yang dapat dipercaya.

Sementara itu di rumah sakit
Soo Ah terus menjaga Gi Seob. Soo Ah sudah menganggap Gi Seob layaknya adiknya sendiri. Gi Seob mengingatkan Soo Ah pada adiknya yang telah tiada.

Detektif Jo bertanya kepada Gi Seob yang sudah siuman
“aku ingin bertanya beberapa hal kepadamu”
“kenapa aku bisa terkena masalah seperti ini?” keluh Gi Seob
“kamu hampir saja mati dan itu kenyataannya, sekarang kamu pikir bagaimana”
“waktu itu dia memukul kepalaku dengan batu bata dan hampir membunuhku. Aku hanya ingin hidup seperti dulu lagi” ucap Gi Seob dan menunjuk kepalanya yang dibalut perban
“kamu ingin mati ya?” tanya Detektif Jo dan ingin memukul Gi Seob
“jangan menyentuhku” ucap Gi Seo saat Soo Ah menanyakan keadaannya yang tiba-tiba mengeluh sakit pada kepalanya dan keluar dari kamar.

Di ruang tunggu rumah sakit, Detektif Jo menanyakan kenapa Soo Ah sama sekali tidak berbicara ataupun mengeluarkan pendapat ketika dirinya dan Gi Seob berbicara. Soo Ah menjelaskan kalau Gi Seob berhak untuk tidak berbicara karena itu adalah haknya. Detektif Jo semakin pusing mendengarnya.

Soo Ah merenung dengan merendamkan dirinya dalam bak air. Wajahnya terlihat sedih memikirkan semua masalah yang terjadi pada dirinya dan juga atas kelemahan yang terjadi padanya dan tidak bisa memecahkan kasus.

Soo Ah kembali memutar video saat dirinya lulus dan diterima menjadi anggota polisi. Walaupun Soo Ah tak dapat menontonnya tetapi suara Ibu dan Adiknya masih dapat didengarnya dan menjadi pengobat rindu baginya.

Hp Soo Ah tiba-tiba berbunyi
“yomseo…. (tidak ada jawaban) yomseo (sekali lagi tidak ada jawaban), yomseo” ucap Soo Ah
“ini dengan Nona Min Soo ah?”
“ya, ada apa?” tanya Soo Ah
“akhir-akhir ini bagaimana?”
“ya?” tanya Soo Ah tidak mengerti
“aku telah bertemu dengan Ibumu”
“kamu ingin melakukan apa?” tanya Soo Ah
“kamu tidak perlu tahu”
“jangan melakukan apa-apa terhadap Ibuku” Pria misterius tertawa “apa ada yang lucu?” tanya Soo Ah
“benar-benar lucu, aku akan membuat Gi Seob menghilang” ancam Pria misterus
Soo Ah terkejut dan buru-buru menutup gorden “tutup jendela baik-baik dan aku akan membunuhmu”
“kamu sebenarnya siapa? Mengapa melakukan hal seperti ini?” tanya Soo Ah namun Pria misterius segera menutup telepon.
Soo Ah dengan cekatan mulai membereskan semua pakaian dan segala hal yang diperlukannya.

Di rumah sakit
Gi Seob dibantu beberapa orang temannya bersiap-siap untuk segera pulang. Gi Seob menyalakan Hp-nya dan tertawa ketika melihat isi pesan yang diterimanya. Seorang wanita bersama dengan seekor anjing masuk ke dalam kamar.
“Gi Seob ada?”
“Gi Seob, dia mencarimu” ucap salah satu teman Gi Seob
“aku tahu” jawab Gi Seob yang sedang memakai sepatu
“ada apa lagi kamu mencariku?” teriak Gi Seob kesal dan menarik Soo Ah keluar kamar
“tadi ada seseorang yang menelepon dan mengancamku dan ingin membunuhmu” ucap Soo Ah terbata-bata karena ketakutan
“aku tidak takut. Kenapa kamu seperti ini?”
“ada pembunuh yang ingin membunuhmu, kamu harus waspada”
“kenapa terus memegangi tanganku, aku sekarang sudah sehat dan bisa berjalan sendiri” teriak Gi Seob dan menghempaskan tangan Soo Ah kemudian pergi. Tanpa Gi Seob dan Soo Ah sadari, Pria misterius berada tidak jauh dari mereka.

Di stasiun kereta api bawah tanah
Gi Seob sedang menunggu kereta sambil mendengarkan musik melalui Hp-nya. Dari kejauhan terlihat Soo Ah yang menuruni tangga dan bersiap-siap menaiki kereta di jalur sebelah. Teman Gi Seob memberitahukan hal tersebut kepada Gi Seob namun Gi Seob tak terlihat perduli.
“kasihan dia, sepertinya dibuntuti orang” ucap salah satu teman Gi Seob. Gi Seob melirik sesaat dan terkejut saat menyadari pria yang dimaksud teman-temannya adalah Pria misterius. Dengan kecepatan penuh, Gi Seob berlari menaiki tangga.

Di dalam kereta
Soo Ah dan pria misterius duduk berhadapan. Soo Ah sama sekali tidak menyadari hal tersebut.
Hp Soo Ah tiba-tiba berbunyi dan telepon tersebut berasal dari Gi Seob yang mengabarkan kalau ada seseorang yang membuntuti Soo Ah.
“orang yang membuntutimu sekarang duduk dihadapanmu, kamu jangan panik dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa” ucap Gi Seob dan berlari sekencang-kencangnya

Soo Ah memasang headset di kedua telinganya dan berpura-pura sedang mendengarkan musik. Hp kameranya terarah pada pria yang duduk di hadapannya.
“aku sudah melihatnya, dia ada dihadapanmu. Dia memakai pakaian berwarna hitam dan sedang mengedarkan pandangannya kesekeliling. Begitu ada kesempatan, kamu segera turun dari kereta”.

Soo Ah berdiri dari kursinya dan berusaha tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Soo Ah berdiri di depan pintu kereta dan bersiap-siap turun begitu kereta berhenti. Pria misterius melakukan hal yang sama.
“tunggu sebentar, dia ada dibelakangmu” ucap Gi Seob sambil memandangi layar Hp yang terhubung dengan Hp Soo Ah

Pria misterius yang membuntuti Soo Ah tiba-tiba menodongkan pisau kepada Soo Ah. “diam”
“ada apa? Kamu masih ada?” tanya Gi Seob saat melihat dari layar Hp, pemandangan di depan Soo Ah

Soo Ah tiba-tiba berhenti
Soo Ah berjalan perlahan-lahan dan menyembunyikan Hp-nya di balik jaket
“ada apa? Kenapa kamu tidak berbicara?” tanya Gi Seob panik dan semakin mempercepat langkahnya
“kamu masih mendengarku kan? Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Gi Seob sekali lagi

Soo Ah masih tetap diam dan perlahan-lahan memasukkan tangannya ke dalam tas dan dalam waktu sepersekian detik, Soo Ah berhasil menyemprotkan hairspray ke wajah pria misterius
“ cepat lari Se Qi” teriak Soo Ah pada Se Qi yang menuntunnya
“terus lari lurus” ucap Gi Seob mengarahkan jalan pada Soo Ah
“belok kanan, terus lari. Di depan ada jalan besar belok kiri, jalan terus” tambah Gi Seob dan kembali berlari menyusuri jalanan menyusul Soo Ah hingga stasiun berikutnya.

Soo Ah terus berlari hingga akhirnya terjatuh.
“Se Qi” panggil Soo Ah namun Se Qi terdiam. Soo Ah meraba jalanan disekitarnya
“ada apa? Kenapa tidak menjawabku?” tanya Gi Seob dan menghentikan langkahnya.

Soo Ah tidak menjawab dan kembali berlari. Pria misterius dibelakangnya kembali mengikutinya.
“berhenti, mundur beberapa langkah dan belok kanan. Cepat….. di depanmu ada lift, cepat masuk” ucap Gi Seob mengarahkan Soo Ah. Soo Ah berhasil masuk ke dalam lift diikuti Se Qi.
“Se Qi” ucap Soo Ah senang dan memeluk Se Qi. Baru saja pintu lift akan tertutup, Pria misterius tiba-tiba datang dan membuka pintu lft secara paksa. Soo Ah tentu saja terkejut dan perlahan-lahan tertidur saat Pria misterius menyuntikkan sesuatu ke lehernya.
“kamu kenapa?” teriak Gi Seob saat Soo Ah terdiam. Layar Hp-nya menangkap sosok seseorang yang bersiap-siap membunuh dengan pisau ditangannya. Pria misterus ditarik keluar lift oleh Se Qi. Walaupun dengan badan berlumuran darah, Se Qi tidak perduli dan tetap menarik pria misterius keluar dan menjauh dari Soo Ah. Pria misterius kesal karena Soo Ah kembali meloloskan diri.

Pintu lift terbuka. Orang-orang yang tidak sengaja lewat berteriak histeris saat melihat Soo Ah terduduk lemas di dalam lift dipenuhi percikan darah.

Gi Seob memandangi Soo Ah yang terbaring di tempat tidur sementara Detektif Jo sedang berbicara dengan dokter.
“ini adalah alat yang ditinggalkan pembunuh berupa jarum suntik yang berisikan obat bius yang dapat bertahan selama 30 menit. Ini adalah obat bius jenis terbaru dan aku ingat yang memilikinya adalah seorang yang merupakan bekas tahanan” ucap Dokter

Soo Ah tiba-tiba terbangun dan memanggil nama Se Qi.
“Dokter, dia sudah sadar” panggil Gi Seob
“ada apa? Kamu mimpi buruk?” tanya Dokter
“Aku sekarang berada dimana?” tanya Soo Ah
“Rumah Sakit”
“Dimana orang itu? Aku sekarang aman?” tanya Soo Ah
“kamu sebaiknya istirahat” ucap Detektif Jo saat Soo Ah hendak turun dari tempat tidur
“dimana anjingku?” tanya Soo Ah. Gi Seob terdiam dan memberikan tali pengait yang biasa digunakan Soo Ah untuk Se Qi.
“dia sudah mati, maafkan aku, aku….” Ucap Detektif Jo dan tak mampu menahan air matanya
Soo Ah terduduk di lantai dan memeluk tali pengait Se Qi. Hatinya sakit karena anjing kesayangannya dan satu-satunya yang dapat mengerti dirinya dan dunianya telah tiada.

Pasca penyerangan terhadap Soo Ah, kantor polisi menjadi sibuk. Para orang tua mulai mendatangi kantor polisi dan melaporkan kasus penculikan terhadap putri mereka. Ketua Polisi yang dulu tidak mempercayai ucapan Detektif Jo malah membujuk Detektif Jo untuk kembali melanjutkan penyelidikannya. Gi Seob dari ujung kursi hanya memandangi Soo Ah yang terdiam. Gi Seob sadar, kematian Se Qi membawa luka mendalam bagi Soo Ah.

Gi Seob yang awalnya tidak ingin bekerjasama dengan kepolisian akhirnya luluh. Bersama Detektif Jo dan Soo Ah mereka yakin akan memecahkan kasus tersebut.

Di sebuah ruangan terlihat seorang pria berkacamata sedang memandangi layar komputer dan berselancar di dunia maya. Pencariannya terhenti saat menemukan sosok seorang wanita yang mengenakan pakaian polisi dan dia adalah Soo Ah. Pria tersebut kembali mencari di internet dan kembali menemukan sebuah peta/denah lokasi. Seorang pria paruh baya berpakaian putih masuk ke dalam ruangannya dan mengatakan ada seseorang yang mencarinya. Beberapa detik kemudian seorang wanita masuk dan mengatakan kalau sudah saatnya operasi dimulai.

Gi Seob terkejut saat Soo Ah memegangi tangannya. Tidak seperti dulu, kali ini Gi Seob membiarkannya.
“tidak apa-apa jika aku memegang tanganmu?” tanya Soo Ah
“tidak. Kita mau apa kesini?” tanya Gi Seob saat dirinya dan Soo Ah memasuki sebuah panti asuhan. Beberapa orang anak kecil berlarian ke arah Gi Seob dan Soo Ah.

Gi Seob memandangi isi lemari di ruangan Ibu Soo Ah. Gi Seob melihat sebuah foto Soo Ah yang memakai pakaian polisi dan bertanya.
“dia dulu seorang polisi ya?”
“itu dulu” jawab Ibu Soo Ah
“apa ini?” tanya Gi Seob saat melihat sebuah benda berwarna putih
“itu adalah magnetik, aku mendapatkannya sewaktu bekerja di london. Kalau ada seseorang yang mendekatimu dia akan bergetar dan getarannya semakin cepat ketika orang tersebut tepat didekatmu ” jawab Ibu Soo Ah

Gi Seob diajak ke sebuah kamar. Gi Seob tersenyum saat melihat suasana kamar yang bergaya anak muda dan dipenuhi dengan banyak gambar sesuai kesukaannya. Senyum Gi Seob perlahan memudar saat mengetahui kalau kamar tersebut adalah kamar adik Soo Ah yang telah tiada. Gi Seob memandangi foto-foto Soo Ah dan adiknya.

Sementara di kamar lain, Soo Ah juga merasakan hal yang sama. Soo Ah harus kembali ke tempat dimana terdapat banyak kenangan antara dirinya dan sang adik. Gi Seob dan Soo Ah dibawa ke panti agar Pembunuh tersebut tidak dapat menemukan mereka.

Pencarian besar-besaran terus dilakukan polisi termasuk melacak nomor polisi mobil dan mendatangi rumah sakit-rumah sakit ataupun praktek dokter. Polisi setahap demi setahap mulai menemukan bukti-bukti baru dan itu semua karena jarum suntik yang berisikan obat bius yang hanya dimiliki oleh beberapa kalangan tertentu dan nomor telepon pelaku yang menelepon Soo Ah.

Ibu Soo Ah dan para anak panti bersiap-siap untuk bepergian. Mereka meninggalkan Soo Ah dan Gi Seob sendirian di panti.

Detektif Jo menemukan sebuah mobil yang terparkir. Detektif Jo mencoba menghubungi nomor yang tertera di kaca mobil, sayang nomornya tidak aktif.
“apa yang kamu lakukan disini?” tanya seorang pria dan membuat Detektif Jo sedikit terkejut karena pria yang menegurnya adalah si pemilik mobil.
“eh… mobil anda sedang rusak dan aku berniat memperbaikinya” jawab Detektif Jo pada pria yang ternyata adalah Pria misterius. Pria misterius mengeluarkan kunci mobilnya dan masuk ke mobil yang berada disebelah mobil yang dimaksud detektif Jo.

Detektif Jo melihat nomor telepon yang tertera di kaca mobil dan mencocokkannya dengan nomor telepon yang berada di daftar phonebooknya. Detektif Jo tersenyum saat melihat nomor telepon tersebut sama dengan nomor telepon pelaku yang menelepon Soo Ah.
“tunggu sebentar, bisakah aku meminta nomor telepon anda?” tanya Detektif Jo sesaat sebelum pria misterius menutup kaca jendelanya
“aku sekarang tidak ada waktu”
“aku adalah polisi” ucap Detektif Jo dan menunjukkan tanda pengenalnya

Pria misterius tertawa dan menurunkan kaca mobil perlahan-lahan. Dia kemudian memberikan kartu namanya pada Detektif Jo.
“silahkan anda ambil kembali” ucap Detektif Jo dan mengembalikan kartu nama Pria misterius, sayang Pria misterius dengan sengaja menjatuhkannya. Detektif Jo tersenyum dan memungutnya. Disaat bersamaan, Pria misterus dengan cepat dan sengaja membuka pintu mobilnya hingga Detektif Jo terjatuh dan terhempas ke tanah.

Dengan membabi buta, pria misterius memukul Detektif Jo hingga berulang kali. Detektif Jo berusaha melawan sayang Pria misterus yang memang seorang psikopat dengan mudah mengalahkan Detektif Jo. Detektif Jo terbaring di tanah dengan badan berlumuran darah. Pria misterius menusukkan sesuatu ke leher Detektif Jo hingga membuat Detektif Jo perlahan-lahan mati. Dengan santainya, pria misterus menghapus noda darah di mulutnya.

Gi Seob memandangi Soo Ah dari kaca jendela.
“kenapa tidak tidur?” tanya Soo Ah saat mendengar langkah kaki Gi Seob mendekat
“kamu kenapa juga tidak tidur?” tanya Gi Seob balik namun Soo Ah tidak menjawab. Gi Seob melihat ke arah tangan Soo Ah yang memegang tali pengikat Se Qi. “maaf” ucap Gi Seob
“tidak apa-apa” jawab Soo Ah dan meletakkan tali pengait Se Qi. Soo Ah mulai menceritakan kisah hidupnya selama menjadi seorang polisi. Hidup sebagai seorang polisi adalah impian Soo Ah dan selama menjadi polisi Soo Ah sama sekali tidak memikirkan tentang cinta. Gi Seob berusaha mengalihkan pembicaraan agar Soo Ah tidak sedih dan Gi Seob mulai memanggil Soo Ah dengan sebutan Noona (panggilan adik laki-laki ke kakak perempuannya).

Sementara itu di tempat lain terlihat Pria misterius sedang memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Satu keinginannya adalah membunuh Soo Ah dan Gi Seob.

Di Kepolisian, polisi berhasil mendapatkan sketsa wajah Pria misterius. Tanpa menunggu waktu lama, para polisi bergegas bergerak menuju sarang sang psikopat yang sudah membunuh banyak orang.

Salah seorang polisi yang mengantar Soo Ah dan Gi Seob ke panti sedang asyik menonton film di dalam mobil (film yang ditonton Hello Ghost). Sebuah mobil tiba-tiba berhenti dan dengan sengaja menyorotkan cahaya mobil.
“kamu sedang berbuat apa? Kamu ada di dalam mobilkah?”. Tidak ada jawaban dan polisi pun membuka pintu mobil, hasilnya pun nihil. Seseorang tiba-tiba muncul dibelakangnya dan dia adalah Pria misterus.

Pria misterus berjalan di bawah derasnya hujan dengan menggenggam sebuah payung. Di dalam mobil tepat dibelakangnya terlihat polisi yang sempat membuka pintu mobilnya pingsan dan tak sadarkan diri.

Gi Seob berdiri di depan cermin besar yang berada di dalam kamar. Gi Seob melihat dirinya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Gi Seob mulai berpose layaknya seorang penari breakdance seperti adik Soo Ah, namun baru beberapa detik Gi Seob kembali duduk di tempat tidur dan mulai memainkan bola basket kecil.

Sementara Soo Ah di dalam kamarnya pun sedang melakukan sesuatu untuk menghilangkan kejenuhannya, yaitu bermain game di komputer (hebat dech Soo Ah walaupun seorang tunanetra tetapi dia tidak ingin menjadikan kelemahannya sebagai sebuah alasan). Soo Ah samar-samar mendengar bunyi musik yang bersumber dai ruang tamu.
“Gi Seob apa pestanya sudah dimulai?” teriak Soo Ah saat menuruni tangga. Tidak ada jawaban. Soo Ah mengecilkan volume tape. Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sedang merokok.
“siapa itu?” tanya Soo Ah terkejut “Gi Seobkah?” tanya Soo Ah sekali lagi. Pria misterus berdiri dari kursi dan perlahan-lahan mendekati Soo Ah
“hati-hati” teriak Gi Seob tiba-tiba muncul “tunduk” teriak Gi Seob dan mendorong Pria misterus tepat sebelum menyerang Soo Ah. “Noona, cepat lari” teriak Gi Seob dan berusaha melawan Pria misterius yang memiliki postur tubuh jauh lebih besar dibandingkan dirinya.
“cepat lari” teriak Gi Seob sekali lagi. Soo Ah menuruti perkataan Gi Seob dan mencoba mencari telepon, namun sayang kabel telepon sudah terlebih dahulu dipotong oleh Pria misterius. Soo Ah berjalan menuju tangga dan bergegas menuju kamarnya. Pria misterius mencoba mengejar Soo Ah namun niatnya selalu dihalangi Gi Seob.

Gi Seob memekik kesakitan saat Pria misterius menusuk perutnya dengan pisau. Darah perlahan-lahan menetes dari tubuh Gi Seob dan Gi Seob terjatuh di lantai.

Pria misterius berjalan menyusuri lorong dan mencari dimana gerangan Soo Ah berada.

Di dalam kamar, Soo Ah mencoba mencari handphonenya namun ia sama sekali tidak dapat menemukannya. Soo Ah mencoba cara lain dengan membuat seisi rumah gelap dengan cara membuat koslet colokan listrik. Pria misterus tersenyum saat lampu tiba-tiba padam, dengan memakai cahaya korek api gas, Pria misterus kembali menyusuri lorong-lorong di dalam rumah. Hujan deras di luar rumah membuat suasana semakin mencekam.

Pria misterius tiba di sebuah kamar yang merupakan kamar Soo Ah. Pria misterus tersenyum saat melihat colokan listrik yang terbakar karena disiram air oleh Soo Ah. Pria misterius menemukan Hp Soo Ah dibawah tempat tidur dan segera membuangnya ke luar jendela. Disaat bersamaan, Soo Ah keluar dari tempat persembunyiannya dan bergegas pergi mencari Gi Seob setelah sempat mengunci pria misterius di dalam kamar mandi.
“Gi Seob, kamu dimana?” panggil Soo Ah saat sampai di lantai dasar

Di tempat lain, beberapa orang polisi berhasil menemukan tempat tinggal pria misterius. Terlihat seorang wanita muda dengan tangan terantai dan menangis ketakutan.
“lepaskan ikatannya” ucap salah satu polisi. Tangisan wanita muda semakin kencang saat salah satu polisi mendekati sebuah meja panjang yang diatasnya terdapat sesosok tubuh wanita terbungkus kain. Wanita tersebut seketika pingsan saat polisi membuka penutup kain dan menemukan tubuh seorang wanita yang terlihat mengenaskan. Bukan hanya satu mayat yang terdapat di ruangan tersebut, tetapi ada tiga hingga empat orang jasad wanita. Bau anyir pun tercium disetiap sudut ruangan.

Kembali ke panti
Soo Ah berusaha mencari jalan keluar, namun semua pintu tertutup rapat. Pria misterius sudah mengatur semuanya sedemikian rupa. Hp Gi Seob tiba-tiba berbunyi. Soo Ah dan Pria misterius dengan jelas mendengarnya. Soo Ah berlari tergesa-gesa menuju sumber suara sedangkan Pria misterius berusaha membebaskan diri.

Soo Ah tiba-tiba terjatuh saat tersandung tubuh Gi Seob dan belum sempat mengambil Hp yang terus berdering.
“Gi Seob, kamu tidak apa-apa?” tanya Soo Ah dan terkejut saat mendapati darah yang yang berasal dari tubuh Gi Seob. Hp masih terus berdering, Gi Seob terbaring lemah sementara Pria misterius berhasil meloloskan diri. Soo Ah berada dalam dua pilihan yang sama-sama sulit.

Pria misterius berlari sekencang-kencangnya dan Soo Ah menarik tubuh Gi Seob memasuki sebuah ruangan. Beruntung Soo Ah berhasil mengunci pintu sesaat sebelum Pria misterius hendak menerobos masuk.
“Gi Seob, sadarlah” ucap Soo Ah. Soo Ah membuka lemari dan mengambil kotak P3K dan mengoleskan sesuatu ke tubuh Gi Seob yang berdarah. Hp masih terus berdering dan seketika mati (pria misterius menginjak Hp hingga retak dan pecah). Soo Ah terkejut sementara Pria misterius mulai memikirkan tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Pasca melakukan penyisiran di markas pria misterius, para polisi kembali bergerak menuju sebuah tempat.

Soo Ah terkejut saat mendengar bunyi tembakan yang berasal dari luar pintu. Pria misterius menembak gagang pintu hingga 3 kali dan dengan sekali tendangan, pintu berhasil dibuka. Mata Pria misterus mulai siaga ke kanan dan ke kiri, gas korek apinya telah habis.

Di bawah kursi terlihat Gi Seob yang sengaja disembunyikan oleh Soo Ah.  

“jangan kemari” ucap Soo Ah tiba-tiba dengan tangan memegangi pisau kecil. Pria misterus tidak mengindahkan dan berjalan perlahan-lahan mendekati Soo Ah. Soo Ah tidak gentar dan terus mengacungkan pisau ke depan. Pria misterius menjebak Soo Ah dengan menjatuhkan korek api gasnya disisi kiri Soo Ah.
“jangan bergerak” ucap pria misterus sambil mencekik leher Soo Ah dari belakang. Soo Ah berusaha melakukan perlawanan dengan membanting Pria misterius dan memelintir tangannya. Jam besar di ruang tamu berdetak dan menunjukkan waktu pukul 9 malam. Soo Ah bergegas berlari ke sebuah ruangan.
“keluar, jangan bersembunyi” teriak Pria misterius. Teriakan pria misterus membuat Gi Seob tersadar.
“jangan kemari” ucap Soo Ah dengan tangan memegang korek api kayu. Disekeliling Soo Ah, terlihat bensin dimana-mana. “jika tidak, aku akan menyalakan api… mundur” teriak Soo Ah dengan nada ancaman.
“masih ingin bermain-main dengan api?”
“aku tahu semua kejahatanmu dan tidak bisa memaafkanmu, jadi jangan bergerak” tambah Soo Ah

Pria misterus mengetukkan tongkat baseball yang digenggamnya ke lantai hingga terdengar suara dentingan. Api tiba-tiba mati dan Soo Ah dengan cepat menyalakannya kembali.
“jangan bermain-main. Jangan mengetuk sembarangan disini, ketuk lagi, aku akan menyalakan api” ancam Soo Ah sekali lagi. Api sekali lagi padam dan Soo Ah kembali menyalakannya. Pria misterius melirik ke arah kanan Soo Ah dan menemukan sebuah ide. Pria misterius melemparkan kunci mobil kesisi kanan Soo Ah dan Soo Ah sontak bereaksi dan tanpa sengaja menjatuhkan api ke dalam genangan bensin.

Api dengan cepat menjalar dan membakar sebagian tubuh Pria misterius. Soo Ah meraba-raba lantai disekitarnya dan berhasil menemukan kunci mobil. Dengan cekatan, Soo Ah berlari keluar ruangan dan mengunci ruangan dari luar.

Saat hendak memasuki ruangan tempat Gi Seob disembunyikan, seseorang menarik rambut Soo Ah kebelakang hingga Soo Ah terpelanting (ngeri dech liat scene ini). Seseorang kembali muncul dan memukul kepala Pria misterius hingga pingsan. Dia adalah Gi Seob.

Para polisi semakin resah saat Hp Gi Seob tidak bisa dihubungi. “bergerak cepat” teriak pemimpin grup.

Gi Seob menyandarkan Soo Ah di dinding.
“bagaimana keadaanmu?” tanya Gi Seob
“aku sangat dingin” lirih Soo Ah
“pegang wajahku Noona” ucap Gi Seob khawatir dan menarik tangan Soo Ah
“kamu tidak apa-apa kan? Apa kita sudah aman? Pegang kunci ini” ucap Soo Ah dan menyerahkan kunci mobil pada Gi seob
“tunggu sebentar” ucap Gi Seob dan kembali masuk ke ruangan tempat dirinya disembunyikan.
“ambil ini” ucap Gi Seob dan menyerahkan alat magnetik kepada Soo Ah

Gi Seob membuka pintu yang dikunci Pria misterius dan membopong Soo Ah keluar rumah. Disaat bersamaan Pria misterius dengan sebagian wajahnya yang terbakar tiba-tiba muncul dan ingin menyerang mereka kembali (punya nyawa berapa sich???). Soo Ah, Gi Seob dan Pria misterius terjatuh ke tanah becek bersama-sama.

Soo Ah pingsan dan tak sadarkan diri. Soo Ah samar-samar mendengar suara Gi Seob dan adiknya yang telah tiada secara bersamaan.
“Noona sadarlah, Noona jangan mati, sadarlah”.

Gi Seob menggoncang-goncangkan tubuh Soo Ah yang terbaring lemah. Pria misterus kembali terbangun dan perkelahian antara Gi Seob dan Pria misterius kembali terjadi.

Soo Ah merasa kembali dimasa saat dirinya dan adiknya mengalami kecelakaan. Dari kejauhan Soo Ah bisa melihat adiknya terjebak di dalam mobil dengan tangan terborgol. Air mata perlahan-lahan menetes di wajah Soo Ah. Pada kenyataannya, apa yang terjadi pada adik Soo Ah kembali terjadi pada Gi seob. Gi Seob berada dalam bahaya dan tidak sanggup melakukan perlawanan terhadap Pria misterius.

Soo Ah dengan baju polisi yang dipenuhi noda darah berusaha bangkit dan berjalan perlahan-lahan ke mobil tempat adiknya terjebak. Soo Ah tersandung sebuah batu bata dan memungutnya.

Soo Ah kembali berjalan dan berusaha memecahkan kaca mobil. Dengan derai air mata Soo Ah memegangi kaca jendela. Soo Ah tidak ingin kejadian yang sama terjadi kembali pada dirinya, dimana Soo Ah sama sekali tidak dapat menolong adiknya.

Bunyi alarm mobil terdengar saat Soo Ah berhasil memecahkan kaca mobil. Perhatian Pria misterius kembali terfokus pada Soo Ah.

Pria misterius mematikan alarm mobil dan berjalan menuju Soo Ah. Sebuah pisau kembali dikeluarkannya dari dalam sakunya. Soo Ah dengan sisa tenaga yang dimilikinya berusaha bertahan. Magnetik milik Ibunya yang diberikan Gi Seob kepadanya menjadi harapan terakhir Soo Ah. Soo Ah mengambil kembali batu yang terjatuh di jok mobil. Dalam dunia Soo Ah, Pria misterius semakin mempercepat langkahnya. Magnetik ditangan Soo Ah pun bergetar semakin cepat.

“Noona” teriak Gi Seob memperingatkan Soo Ah dan disaat bersamaan Soo Ah berhasil memukul kepala pria misterius hingga terjerembab ke tanah
“Noona” lirih Gi Seob dari kejauhan. Beberapa detik kemudian polisi akhirnya sampai di lokasi dan menolong Soo Ah dan Gi Seob.

=1 tahun kemudian=
Soo Ah bersiap-siap difoto oleh Ibunya.
“aigoo, kamu benar-benar cantik” puji Ibu Soo Ah
“Noona” teriak Gi Seob dan berhenti tepat disamping Soo Ah
“kamu juga datang” ucap Ibu Soo Ah. Gi Seob memberi salam. Gi Seob memilih menjadi polisi untuk mengabdikan hidupnya pada Negara sedangkan Soo Ah kembali menjadi polisi karena kerja kerasnya mengungkap kasus pembunuhan sekaligus penculikan.
“kamu hari ini sangat ganteng” puji Soo Ah
“bunga Noona juga lebih besar daripada aku” puji Gi Seob pada Soo Ah dan memberikannya bunganya pada Soo Ah “kalau begitu bungaku untuk Noona juga”.
“terima kasih” jwab Soo Ah senang
“biar aku yang memotret” ucap Gi Seob dan meminta Ibu Soo Ah berdiri disamping Soo Ah
“tunggu, agak rendah” ucap Gi Seob
“sini, biar aku yang memotretnya” ucap Ibu Gi Seob dan kembali menyuruh Gi Seob berdiri disamping Soo Ah. Gi Seob mengambil topi Soo Ah dan mereka pun berfoto bersama.

Di ending cerita terlihat Gi seob dan Soo Ah berziarah ke makam Detektif Jo.

=THE END=
Written and Picture by : Dewi Rf @PD
Shared by : Pelangidrama.net
DON’T REPOST TO OTHER SITE
Iklan

7 pemikiran pada “[Sinopsis] Blind Part 2 (END)

  1. Ceritanya bagus, baca sinopsisnya aja udah tegang banget apalagi nonton filmnya ya.. Jadi pengen nonton nih..

    Oh ya kalo gak salah gara2 nih Film Kim Ha Neul Onnie mendapatkan penghargaan Best Aktris ya.. Salut deh sama Onnie yang satu ini.. 🙂

    Kak sinopsisnya You Are My Pet juga donk dibikin.. Hehe 🙂

    ~ Ayra ~

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s