[Sinopsis TW-Drama] Why Why Love Episode 1 Part 2


Huo bersaudara akur :LOL

[Why Why Love- Huan Huan Ai Episode 1 Part 2]
Di rumah ibu Jia Di memukul om gendut. Om gendut melarikan diri dari rumah, ibu Jia Di mengejarnya, Jia Di berusaha melerai.Ibu Jia Di memaki-maki om gendut yang telah mencoba menggadaikan rumah mereka untuk investasinya, investasinya gagal padahal ia harus mengembalikan pinjamannya pada renternir. Jika tidak maka tangan om gendut akan di potong, makanya ia memohon-mohon pada ibu Jia Di dan Jia Di agar membantunya, namun ibu Jia Di tak mau, ia keukeuh mengusir om gendut. Jia Di pun menyuruh om gendut pergi dulu.

Jia Di berniat mengambil ponselnya yang terjatuh dan rusak, namun terhenti saat ibunya ngomel-ngomel jika pamannya masih hidup keluarga mereka tak akan tenang.
Jia Di bersiap mengambil ponselnya namun tiba-tiba adiknya lewat tersandung itu ponsel dan terjatuh. Ponsel tertendang. Jia Di memarahi adiknya, adiknya yang sedang kesal malah makin melunjak, ia pun menendang ponsel Jia Di .
“Apa yang kau lakukan?”teriak Jia Di.
“Tong Jia Hui, kenapa kau menendang ponsel kakakmu? Kau butuh uang untuk menggantinya”cecar ibu Jia Di melihat kelakuan anak laki-lakinya.
“Ini nasib burukku, menjadi adikmu”gerutu adik Jia Di lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
Jia Di hanya bisa menahan kesal dan memandangi ponselnya yang rusak.

Jia Di mencoba memperbaiki ponselnya, tiba-tiba datang adiknya minta uang, namun Jia Di salah paham. Ia kira adiknya datang mau membantunya memperbaiki ponselnya.
“Kau perlu 2000 dolar untuk memperbaiki Handphone?”tanya Jia Di tak percaya.
“Siapa yang mau memperbaiki itu?”. “Berikan aku 200 dolar, aku perlu membeli tiket konser”.
Tahu hanya untuk hal seperti jelas Jia Di tak mau memberi adiknya sepeser pun ditambah ia baru saja di pecat dari tempat kerja part timenya (paruh waktu di departemen store Huo). Jia Di pun menyuruh adiknya mencari uang sendiri.

Tak dapat dari kakaknya Jia Hui merayu ibunya agar diberi uang.
Tapi ibunya malah menceramahi Jia Hui, ibunya bertanya sebenarnya Jia Hui bekerja atau sekolah. Jia Hui pernah bilang bahwa ia seorang model namun ibunya tak pernah melihatnya.
“Kau pikir itu mudah?”jawab Jia Hui. “Setiap saat aku pergi ke audisi untuk belajar sedikit keterampilan aku tak punya uang”. Jia Hui memberi alasan, ia ingin berlatih tak punya uang mau pergi melihat konser keluarganya tak mendukungnya.
“Itu benar berguna pergi ke sebuah konser?”tanya ibunya.
“Tentu saja tidak”sahut Jia Di.
“Kakakmu bilang itu tak berguna, tak ada uang untukmu”lanjut ibunya.
Jia Hui kesal lalu menghampiri kakaknya.
“Kak, kau keterlaluan”maki Jia Hui yang menghampiri Jia Di, namun Jia Di ta menggubrisnya.
Jia Hui kembali merayu ibunya, ia meminta hadiah ulang tahunnya yang 2 bulan lagi diberikan di muka.
“Kenapa anak butuh perayaan ulang tahunnya”jawab ibunya. Jia Di agak sedih mendengarnya.
“2000 dolar itu bisa digunakan untuk biaya makan keluarga kita”lanjut ibunya. Jia Hui yang kesal tak dapat uang menendang kursi dan melangkah keluar.
“Jia Hui, mau ke mana kau?”tanya ibunya.
“Di rumah aku serasa mau mati, aku akan pergi meminjam uang dari temanku”.
“Tidak bisa, bagaimana bisa seorang laki-laki meminjam uang. Itu terlalu memalukan”cecar ibunya.
“Lalu apa yang kau ingin aku lakukan? Aku benar-benar ingin pergi ke karena ingin menjadi seorang yang professional. Aku ingin berubah, perubahan itu tak mudah”jelas Jia Hui.

“Mam, jangan beri dia uang”celetuk Jia Di.
Jia Hui dan ibunya menoleh ke arah Jia Di.
“Jika kau ingin pergi ke konser maka kau pergi kerja”lanjut Jia Di.
“Untuk menjadi model itu pekerjaanku”. Kakak beradik ini pun berdebat, ibunya yang sudah tak tahan, akhirnya memenuhi permintaan Jia Hui.
“Ini untuk terakhir kalinya”tukas ibunya lalu memberika uang 2000dolar yang diinginkan Jia Hui maka di hari ulang tahunnya nanti ia tak akan mendapat hadiah. Jia Hui pun pergi. Jia Di ingin mengatakan sesuatu pada ibunya, namun karena ibunya sedang kesal tak menggubris Jia Di malah pergi meninggalkannya. Padahal Jia Di hanya ingin berkata bahwa hari itu, hari ulang tahunnya.


Huo bersaudara yang terduduk di kursi roda dibantu kedua suster diantar menuju kamarnya. Keduanya akan memasuki gang menuju bangsal namun tak bisa salah satu harus mengalah. Huo Da pun mendorong Huo Yan, lalu ia menjalankan kursi rodanya lebih dulu. Huo Yan menegur Huo Da kenapa ia tak ada rasa hormat pada yang lebih tua. Huo Da tak menanggapi kakaknya. Huo Yan pun meminta stafnya mencarikan kamar yang lain, namun stafnya bilang kalau kamar di rumah sakit itu sudah penuh.
“Apa, jadi kau ingin aku membagi kamar ini dengannya?”sahut Huo Da yang mendengarnya.
“Itu tak mungkin”jawab Huo Yan cepat.
Stafnya pun meminta maaf karena sebelumnya tak bilang bahwa keduanya akan berbagi kamar. Lalu sang staf menjelaskan bahwa ruang VIP hanya tertinggal itu satu-satunya karena saking banyaknya pasien. Huo Yan mengerti.

Huo Yan mendorong kursi rodanya dengan kakinya tertatih-tatih, karena tangan Huo Yan tak dapat dipakai, Huo Yan terluka di bagian tangan.
Huo Yan pongah melihat ulah adikknya yang menandai ranjangnya ditambah 2 ranjang di akui miliknya.
“Hanya anak anjing yang menandai daerahnya”sindir Huo Yan.
“Maka kau harus lahir di tahun anjing juga”balas Huo Yan seraya menirukan suara anjing.
“Sejak kau datang ke rumah, saat kau berumur 8 tahun. Aku selalu mengira kau lahir di tahun anjing. Apa ingatanku salah?”.
“Ingatan yang payah itu menandakan otakmu rusak”balas Huo Yan. Huo Da tersenyum mendengarnya. Bukan Huo Da kalau tak bisa membalas perkataan Huo Yan. Huo Yan pun mengalah melihat sifat kekanak-kanakan Huo Da.

Sampai larut malam Jia Di mencoba memperbaiki ponselnya. Akhirnya ponselnya bisa kembali terpasang, ia teringat kata-kata Xiao Nan agar meraih cintanya dengan menelepon Guy No.10. Jia Di pun mencari-cari nomornya.

Sementara itu di rumah sakit, Huo Yan memandang ponselnya harap-harap cemas menunggu telepon dari Jia Di ya hihihihi.
Huo Yan pun berniat manaruhnya di bawah bantalnya.
“Hey, bukankah bukan rahasia umum lagi telepon tidak boleh digunakan di rumah sakit”celetuk Huo Da yang melihatnya.
“Aku tahu kau melihat gerak gerikku”jawab Huo Yan cuek. Tiba-tiba ponsel Huo Yan berbunyi. Huo Da mengejek Huo Yan ponselnya cepat berbunyi karena ia sembarangan memberikan nomor teleponnya.
“Aku bertaruh bahwa itu gadis jelek dan kekanak-kanakan (Jia Di-red) yang menelepon”tebak Huo Da. Huo Yan mengangkat hpnya tanpa mempedulikan ocehan Huo Da, sedangkan Huo Da senyum-senyum meremehkan.

“Halo”sapa Huo Yan. “Yan Shu?”. Air muka Huo Dan seketika langsung berubah, salah tebak dia wkwkwkwk.
Ternyata Yan Shu menelepon Huo Yan hanya untuk mengucapkan selamat malam.
“Tanganmu maih sakit?”tanya Yan Shu kemudian.
“Tidak apa-apa”jawab Huo Yan. “Apa ada yang harus ku ketahui tentang kant…”, belum sempat melanjutkat kata-katanya Yan Shu segera memotong pertanyaan Huo Yan.
“Kau sedang terluka kau harus melupakan bisnismu”potong Yan Shu. “Aku telah menghandle semuanya, kau bisa menanyakan padaku juga. Konsentrasilah pada kesembuhanmu”.
“Terima kasih”ucap Huo Yan.
“Huo Da sudah tidur?”tanya Yan Shu.
“Huo Da?”tanya Huo Yan balik, mendengar namanya disebut Huo Da segera bangun :P.
“Kau ingin berbicara dengannya?”tanya Huo Yan. “Tapi… dia tidak menggunakan telepon di rumah sakit karena dia seorang warga yang baik”. Padahal Huo Da sudah bersiap menerima ponsel Huo Yan, namun Huo Yan malah berkata seperti itu, Huo Yan balas dendam ni wkwkkw.
“Aku tak mengerti apa yang kau katakan”ujar Yan Shu. “Baiklah jika dia tak ingin berbicara katakana padanya aku mengucapkan selamat malam”.
Huo Yan menutup ponselnya dengan berat hati, mungkin dia berpikir tadi yang meneleponnya Jia Di :XD.

“Yan Shu mengucapkan selamat malam”ujar Huo Yan.
“Matikan, aku tak peduli dengan teleponmu”jawab Huo Da ketus. “Itu berisik”.
Huo Da mencoba tidur namun tak bisa karena lampu masih menyala, ia pun menyuruh Huo Yan mematikan lampunya.
“Kau yang lakukan”jawab Huo Yan.
“Kenapa harus aku yang melakukannya, bukan kau?”tanya Huo Da tak mau mengalah, nggak kasian ni kakaknya kan tangannya sakit. “Itu bukan berarti kau tidak bisa menggerakkan tanganmu”. Huo Yan tersenyum.
“Ini bukan karena aku tak mau membantumu tapi kau tak mengatakan “tolong””sahut Huo Yan. “Aku tak peduli. Aku bisa tidur dengan lampu menyala”.
Huo Da yang kesal langsung memencet tombol darurat.

Perawat segera buru-buru datang ke ruangan kedua tuan muda Huo. Huo Da hanya tertawa-tawa evil.
“Ada apa ini?”tanya perawat yang datang
“Matikan lampu untukku”jawab Huo Yan pasrah.
Perawat tak percaya, kenapa mereka harus memencet tombol darurat hanya karena mereka ingin lampu dimatikan.
Perawat tadi memarahi Huo Yan.
“Kau kakaknya dan tinggal sekamar dengannya. Sejak dia tidak bisa pindah ke sekelilingnya dengan mudah, tidak bisakah kau membantunya”. Huo Yan hanya bisa pasrah mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Aku tak percaya padamu!”seru perawat lalu mematikan lampu dan berlalu pergi.

Jia Di yang mencoba menelepon Guy No. 10 (Huo Yan) masih tak bisa, Jia Di berpikir ponselnya masih rusak.

Lalu Jia Di membuat catatan di hari ulang tahunnya yang ke 20.
Salah satunya menyisihkan uang untuk memperbaiki ponselnya.
“Tong Jia Di, ini peringatan Tuhan untukmu”guman Jia Di.

Keesokannya di kampus seperti biasa selesai kelas Jia Di Did an Xiao Nan berjalan bersama.
“Apa ponselmu rusak?”tanya Xiao Nan. Jia Di mengangguk mengiyakan.
“Lalu, nomor telepon Guy No. 10?”, Jia Di memasang muka pasrah. “Hilang?”tanya Xiao Nan.
“Kau….kau benar-benar gila?”ujar Xiao Nan seraya mengoyah-goyahkan badan Jia Di. “Bagaimana kau bisa membuang kesempatan bagus ini?”.
“Kita berdua harus menerimanya. Aku tak pernah menganggap itu bagian dari keberuntungan”ujar Jia Di.
Jia Di menarik Xiao Nan melihat ke luar jendela.
“Lihat daun-daun yang jatuh dari atas bukan sebuah hadiah. Tapi ulah burung-burung”jelas Jia Di. Xio Nan pasrah mendengarnya.


Di rumah sakit Huo Da berteriak-teriak memanggil perawat minta pindah kamar.
“Diam, ini rumah sakit”tegur Huo Yan yang terbangun mendengar teriakan Huo Da.
“Dan kamu pikir aku nyaman tinggal sekamar denganmu?”tanya Huo Yan.
“Itu baik jika kamu tidak nyaman. Jika bukan kau yang pindah, aku yang akan pindah”jawab Huo Da enteng. Huo Yan bangun dari tempat tidurnya.
“Anak baik. Bye! Bye!”, Huo Da mengira Huo Yan akan pindah dan ternyata Huo Yan hanya mau ke kamar mandi wkkwkw.
Melihat pintu kamar mandi terbuka, Huo Yan tersadar akan sesuatu, kan tangannya sedang terluka bagaimana ia bisa menutup pintu kamar mandi dan pipis :LOL.
“Bahkan tuan muda Huo perlu pipis!”ejek Huo Da. “Jika fansmu melihat ini, itu akan menjadi sangat berharga”. Huo Da tersenyum penuh kemenangan.
“Ini bukan karena aku tidak ingin menolongmu, tapi kau tidak mengatakan ‘tolong’”, jyah Huo Da balas dendam ni hahaha. Huo Yan pun memohon pada Huo Da memberinya sebuah tangan (menolongnya dengan tangan Huo Da).
Huo Da tersenyum jail menunjuk ke arah kakinya, bagaimana ia mau menolong Huo Yan lha kakinya saja tidak bisa dipakai buat jalan .
“Bisakah kau membantu lebih dulu”kata Huo Da.
Huo Yan mengangguk mengerti lalu menghampiri Huo Da.
Dan akhirnya untuk sampai ke toilet Huo Yan menggendong Huo Da kwkwkw, jadi ingat kisah apa ya ini? Huo Yan yang bisa berjalan memanfaatkan tangan Huo Da yang tidak sakit.

Walau dengan tertatih-tatih akhirnya kedua selamat sampai kamar mandi. Huo Yan lega dapat pipis, Huo Da menunggu sambil bersiul-siul. Lalu Huo Yan meminta Huo Da menaikkan celananya. Walau enggan akhirnya Huo Da membantu Huo Yan.
Huo Yan bersiap melangkah namun Huo Da menahannya. Lha nanti Huo Da kembali ke kamar gimana. Huo Yan kembali menggendong Huo Da untuk kembali ke kamar.

Jia Di di kampus mengikuti pelajaran di kelasnya.
Xiao Nan memandang Jia Di yang serius mencatat pelajaran dengan kesal. Xiao Nan melempar catatan ke meja Jia Di, Jia Di pun mengambilnya. Xiao Nan berkata Jia Di harus mengingat nomor telepon Guy. No 10 dan Jia Di harus menuliskan jawabannya lalu mengembalikan kertas tadi ke Xiao Nan. Jia Di tersenyum dan memberi tanda agar Xiao Nan jangan berisik karena Jia Di sibuk mencatat note pesanan untuk mendapatkan uang hahaha. Xiao Nan mendengus kesal lalu mencoba mengingat nomor telepon Huo Yan sendiri. Sekilas ia mengingat apa yang di katakana Huo Yan saat memberikan nomornya dan menyimpannya di ponsel Jia Di.

Dosen yang mengajar bertanya pada para mahasiswa apa ada yang tahu jawaban yang ditanyakannya.
Akhirnya Xiao Nan mengingat nomor ponsel Huo Yan. “Aku tahut!”seru Xiao Nan.
Mendengar itu sang dosen salah paham ia pun menyuruh Xiao Nan mengungkapkan jawabannya.
Tapi Xiao Nan malah berseru pada Jia Di dan memberitahukan bahwa ia ingat nomor telepon Guy No. 10, sang dosen memanggil Xiao Nan tapi Xiao Nan malah menyuruh sang dosen diam ckckckc. Xiao Nan pun menyerukan nomor telepon Guy No. 10, Xiao Nan kembali terdiam saat dang dosen berseru pada Xiao Nan kembali.

Yan Shu datang menjenguk dengan sebuket bunga. Yan Shu menatanya di ruangan kamar bersaudara Huo.
“Apa kalian baik-baik saja?”tanya Yan Shu. “Bagaimana perasaanmu?”.
“Baik”jawab Huo Da tersenyum.
“Kami berdua baik-baik saja”tambah Huo Yan. Yan Shu tersenyum mendengarnya.
“Apa kalian haus?”tanya Yan Shu. “Kau ingin minum?. Aku akan mengambilkan air untukmu”.
“Tidak perlu”jawab Huo Yan yang otomatis menghentikan langkah Yan Shu.
“Lebih baik meminum sedikit air”eletuk Huo Da. Huo Yan nampak kesal, Huo Yan dan Huo Da saling mengacuhkan.
“Ada apa dengan kalian?”tanya Yan Shu yang melihat tingkah bersaudara Huo itu.
Bukannya menjawab bersaudara Huo saling terdiam dengan pikiran masing-masing.

Kembali ke kampus Jia Di. Begitu pelajaran usai Jia Di menjalankan ativitasnya yaitu berjualan catatan mata kuliah seharga NT$ 100 per set.Jia Di mencatat siapa saja yang membelinya.
“Apakah Guy No.10 itu benar-benar keren?”tanya salah satu temannya, Jia Di hanya terdiam.
Xiao Nan menepuk pundak orang yang bertanya tadi dan mengiyakan. Xiao Nan juga menambahkan bahwa Guy No. 10 lebih keren daripada orang itu hingga orang itu sedikit ngambek dan pergi ckckck. Jia Di mengingatkan Xiao Nan agar tak membahas hal itu lagi karena itu telah berakhir. Jia Di kembali menawarkan note yang dibuatnya.

Jia Di dan Xiao Nan pulang bersama.
“Baik, aku akan meminjamkan ponselku dengan bebas biaya. Lalu telepon Guy No.10”kata Xiao Nan memecahkan keheningan mereka berdua.
Namun Jia Di malah menjawab ia akan terlambat ke SPBU tempatnya bekerja paruh waktu. Xiao Nan tak kehilangan akal ia malah menekan nomor Guy No. 10 untuk Jia Di hahaha.
Jia Di segera menghentikannya dan mengambil ponsel Xiao Nan.
“Aku bilang ini berakhir di sini!”seru Jia Di.
“Apa? Jangan menjadi pemalu”kata Xiao Nan menenangkan. “Jika kau tak tahu harus berkata apa padanya, aku akan berlatih denganmu”.
“Tidak”tegas Jia Di.
“Ok, baiklah. Kau hanya perlu berkata ini”ujar Xia Nan lalu mencontohkannya.
“Hey, Guy No.10. Apa kabar?”.
“Tidak”seru Jia Di, dan akhirnya kedua sahabat itu malah saling bersikeras.

“Sejauh ini kau sangat mengenalku, kau harus tahu jika aku mengatakan sebanyak 3 kali itu artinya…”tegas Jia Di.
“Lalu, itu artinya benar-benar tidak”jawab Xiao Nan. “Mengapa?”rengek Xio Nan.
“Karena, aku tidak ingin bermimpi. Aku tidak nyaman untuk mimpi yang berlebihan”.
“Aku benci mendengar kau berkata seperti ini”keluh Xiao Nan.
“Aku juga benci mendengar diriku berkata seperti ini”jawab Jia Di. Tapi apa daya memang seperti itu yang Jia Di harus lakukan untuk saat ini.
“Jia Di”panggil Xiao Nan.
“Ini motto dalam hidupku,’ Aku tak butuh impian, aku tak tertarik dengan cinta, aku tak akan menyerah Karena saat kau tak punya harapan, kau tak akan merasa kecewa’”.
“Kau hanya gadis berumur 20tahun! Haruskah hidupmu berlebihan seperti itu”
“Aku tak merasa itu berlebihan”jawab Jia Di. Lalu Jia Di pamit berangkat kerja.
“Bibi muda! Taiwan Ah Shun. Tong Jia Di!”seru Xiao Nan. Jia Di terus melangkah dan tersenyum.

Di rumah sakit, Yan Shu bertanya pada Huo bersaudara apa penyebab kecelakaan mereka.
“Paman Huo sangat marah”ujar Yan Shu.”Beliau berpikir bagaimana kalian…”, belum sempat meneruskan kata-katanya Huo Da menyela Yan Shu.
“Yeah, dia harus buang air kecil”jawab Huo Da. “Jika itu hanya Huo Da terserah, tapi bagaimana dengan anak laki-lakinya yang baik Huo Yan. Mengambil bagian dalam balapan yang membahayakan hidupnya. Menggelikan!”.
“Huo Yan”ujar Yan Shu.
“Ayolah, yang berkata itu hanya aku”sahut Huo Da.
“Aku tak ingin kau menyalahkan diri sendiri, yang sudah terjadi biarlah terjadi”ucap Huo Yan. “Aku tahu ayah akan marah, tidak ada yang perlu dijelaskan”.
“Kau pasti bosan di kamar ini. Kau ingin berjalan-jalan”ujar Yan Shu pada Huo Da.
Mendengar itu Huo Da jadi semangat 45, ia segera bangun.
“Ok, ayo jalan-jalan”, namun ia segera tersadar dengan kondisinya.

“Maafkan aku, aku lupa tentang lukamu”ucap Yan Shu lalu mencoba membantu Huo Da turun dari ranjang namun tak bisa. Huo Da menoleh ke arah Huo Yan dan dengan tersenyum manis Huo Da meminta tolong pada Huo Yan. Huo Yan bangkit, Yan Shu tersenyum melihat tingkah kedua kakak adik ini.
Huo Yan menggendong Huo Da tertatih-tatih ke kursi roda yang dipegang Yan Shu di luar kamar. Huo Yan kembali ke kamar tanpa sepatah kata, Huo Da yang duduk dikursi roda berjalan-jalan bersama Yan Shu.

Yan Shu mendorong kursi roda Huo Da ke sekitar taman.
Yan Shu berkata dengan adanya kecelakaan yang menimpa Huo bersaudara malah memperbaiki hubungan kakak adik Huo.
“Aku sungguh senang untuk kalian berdua”ucap Yan Shu senang.
“Apa?”, Huo Da tak mengerti.
“Sekarang, aku harap….”, namun Yan Shu tak melanjutkan kata-katanya, ia malah bertanya apa ia salah?.
“Aku ingat, saat kita masih kecil kita senang bermain dengan mobil-mobilan”ujar Huo Da. Lalu ia teringat saat masih kecil ia dan Yan Shu bermain mobil-mobilan berdua, dan Yan Shu memenangkan permainan itu.
“Aku ingat”jawab Yan Shu. Lalu Huo Da berkata bahwa permainan mobil-mobilan dengan magnet itu ibarat ia dan Huo Yan, jadi jika positif dan positif maka akan saling menghindar.
“Tapi dia kakakmu”ujar Yan Shu. Huo Da berkata walau dunia menjadi gila itu tak mungkin.

“Huo Da, bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi?”tanya Yan Shu serius.
Huo Da diam, “Apakah itu rahasia yang tak bisa kau katakana padaku?”tanya Yan Shu lagi.
“Kau tahu, aku tak akan menyembunyikan rahasia darimu”jawab Huo Da.
“Tidak ada apa-apa?”, Huo Da mengangguk mengiyakan. “Lalu katakan padaku. Kenapa Huo Yan dan Kau bertanding”bujuk Yan Shu.
Huo Da pun menceritakan alasannya, bahwa Huo Yan ingin memenangkan balapan karena ingin menukarnya dengan sesuatu.
“Penukaran?”tanya Yan Shu. “Untuk apa?”.

Huo Da pun bercerita saat ia akan memperbaiki motornya di bengkel Bozi sahabatnya, kakaknya datang menghampirinya. Walau ngedumel, Huo Da menghampiri Huo Yan.
“Aku ingin mengatakan sesuatu”ujar Huo Yan. “Aku tak ingin berkata ini tapi aku ingin kau mendengar ini. Kau tahu kau sendiri yang ingin keluar dari kampus”.
“Itu benar, aku sudah memikirkan kenapa aku mengeluarkan diri”.
“Ini kampus ke 3 kau pindah dank au masih belum bisa lulus”. “Kau ingin menjalajah di seluruh universitas di Taipei?”ejek Huo Yan.
Huo Dan malah berkata dengan keluar dari kampus ia bisa masuk dunia balap dengan Bozi.
“Aku tak tertarik dengan urusanmu. Kau tak diijinkan keluar. Itu perintah ayah”tegas Huo Yan.
“Jangan berpikir dengan menggunakan laki-laki tua itu akan menakutiku”bentak Huo Da.
“Kau tak bisa lulus dan kau belum cukup baik dalam balapan. Kau hanya akan melakukan sesuatu dengan setengah-setengah?”.
“Jika kau ingin menjadi boss untuk orang di sekitarmu, pergi lihat karyawanmu”bantah Huo Da. “Tak ada seorang pun yang bisa memerintahku termasuk kau”.

“Sejak kita masih kecil, aku sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini”. “Aku berpikir bahwa aku benar-benar membuang waktu”ujar Huo Yan.
“Ayah tak peduli dan ingin kau membantu, kau cukup berkata tidak”ucap Huo Da. “Tapi kau tidak tahu bagaimana itu, jadi terlalu buruk. Aku sungguh terispirasi olehmu, kau tahu. Kenapa kau begitu penurut sampai saat ini?. Kau benar-benar…anak bentukan keluarga Huo”.
“Kau tak berhak mencemoohku”potong Huo Yan. “Jika kau ingin kita bicara kau tidak akan keluar (kampus) apa yang kau inginkan agar kau mau mendengarkan?”
“Benarkah?”tantang Huo Da.
“Jika kau mengatakan itu, aku akan melakukannya”jawab Huo Yan.
Lalu keduanya sudah bersiap dengan perlengkapan balap, mereka mengambil helm dan menuju motor masing-masing.

Ternyata keduanya bertaruh dengan balap sepeda motor. Siapa yang menang akan dikabulkan permintaanya. Jika Huo Yan menang, maka Huo Da harus lulus. Huo Yan bertanya apa permintaan Huo Da, namun Huo Da malah berkata dengan penuh percaya diri ia akan mengatakannya setelah pertandingan selasai dan ia menang. Pertandingan dimulai dengan aba-aba dari Bozi. Lalu Huo Da dan Huo Yan saling memacu motor masing-masing untuk jadi pemenang, dan terjadilah kecelakaan itu.

“Aku tak percaya ini”ujar Yan Shu usai mendengar cerita Huo Da.“Huo Yan setuju dengan balapan itu hanya ingin kau lulus kuliah. Apa yang terjadi dimana letak rasionalitasnya”. Huo Da hanya terdiam.
“Huo Da, jangan lakukan ini lagi. Kau keterlaluan membuatku marah hingga membuat Huo Yan menyetujui hal itu”.
“Tak ada yang menyuruhnya”bantah Huo Da.
“Dia akan menjelaskan semua ini padaku untuk tingkah menggelikan ini”
“Bandingkan dengan memberikan nomor teleponnya pada orang asing itu lebih menggelikan”elak Huo Da. Lalu Yan Shu meninggalkan Huo Da sendirian ckckckc.
“Walaupun kau tak tertarik,ada sesuatu yang ingin aku pertaruhkan dengan hidupku. Jika aku menang dalam balapan aku ingin mengatakan padanya (Huo Yan) hanya satu yang kuinginkan yaitu kau (Yan Shu)”batin Huo Da.

Sementara itu Xiao Nan mengunjungi Jia Di di SPBU tempat Jia Di kerja paruh waktu.
Xiao Nan teringat motto hidup Jia Di yang dikatakan padanya seraya melihat Jia Di asyik membersihkan mobil yang mengisi bbm di sana.
Xiao Nan menghampiri Jia Di begitu ia selesai mengerjakan tugasnya.
“Jia Di chayo”kata Xiao Nan memberi semangat. Lalu Xiao Nan memanggil Jia Di dengan berbagai julukannya saat Jia Di mengisi bensin ke motor Xiao Nan.
“Teman baik Jiang Xiao Nan”ujar Xiao Nan akhirnya namun Jia Di masih belum juga menanggapi Xiao Nan.
“Jia Di, kau masih marah?”tanya Xiao Nan. “Jangan jadi pemarah”. Lalu Xiao Nan mencoba menggoda Jia Di dengan memanggilnya dengan berbagai sebutan yang lucu-lucu bahkan menyebut Jia Di “Putri Huan Zhu”, jadi mulai tersenyum mendengarnya.
“Kau rindu, Hello Kitty”ujar Jia Di.
“Akhirnya, kau tersenyum”. “Jangan marah lagi ya”. Setelah keduanya becakap-cakap sebentar dan juga Jia Di selesai mengisi bensi motor Xiao Nan. Xiao Nan memberikan sebuah bungkusan hadiah untuk Jia Di.

“Terima kasih”ucap Jia Di. Xiao Nan pamit pulang dan berpesan membaca catatan yang ada di bungkusan itu. Jia Di membuka catatan yang ada ternyata berisi nomor Guy No.10. Jia Di teringat kata-kata Xiao Nan yang menyuruhnya menelepon Guy No.10.

To be continue….chayo!!!!!!!!!!!!!!!!!!

4 pemikiran pada “[Sinopsis TW-Drama] Why Why Love Episode 1 Part 2

  1. akhirnya datang juga
    kamsahamnida PD, saranghaeyo.

    makin cinta ma PD, sinopsis selanjutnya dan yang belum kelar aku tunggu ya, meskipun udah banyak blog berseliweran yang membuat sinop, aku lebih suka tulisan para author PD

    fitri

    Suka

  2. akhirnya datang juga
    kamsahamnida PD, saranghaeyo.

    makin cinta ma PD, sinopsis selanjutnya dan yang belum kelar aku tunggu ya, meskipun udah banyak blog berseliweran yang membuat sinop, aku lebih suka tulisan para author PD

    fitri

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s