[Sinopsis J-Drama] TONBI Episode 3

Sinopsis Tonbi Episode 3
~Tonbi Episode 3~

Yumi pulang ke rumah sambil membayangkan semua gosipan Mukawa dan Miyako. Begitu sampai rumah ia disambut teriakan ‘mama, selamat datang’ oleh Konsuke. Yumi pun menyapa Akira yang sedang menyiapkan makan malam untuk Konsuke. Karena Yumi sudah pulang Akira pun mohon pamit sambil menjelaskan semua yang telah dikerjakannya (masak, beres2 kulkas, dan buang sampah). Sayangnya Konsuke melarang Akira pulang, sehingga Akira pun menemani Konsuke sampai ia tertidur. Selama Akira bersama Konsuke, Yumi memakan makanan yang telah disiapkan Akira, ia memuji kelihaian Akira sebagai bapak rumah tangga. Ia pun teringat asal mula dirinya berkenalan dengan Akira.

 

Flashback. Saat itu Akira dan Yumi ada janji temu klien, namun Yumi sudah punya janji menjemput putranya, akhirnya Akira yang menggantikannya menjemput Konsuke dan itu berlangsung sampai sekarang. Tidak hanya menjemput Konsuke, Akira juga membantu urusan rumah Yumi. Flashback End.

 

Setelah Konsuke tertidur, Akira segera menghampiri Yumi. Ia menawarkan bir tiba-tiba sehingga Yumi terkejut. Yumi menanyakan alasan kenapa Akira baik kepada mereka. Alih-alih menjawab Akira justru meminta izin untuk menjadi ‘seed leaf’ Konsuke. Yumi tak mengerti maksud Akira. Akira tersenyum melihat, ia pun teringat kisah masa kecilnya yaitu hari ‘seed leaf’ mereka.

 Flashback tahun 1984.
Akira sudah SMP dan ia sedang bermain baseball. Setelah memukul bola, Ia menatap langit dengan nafas terengah-engah. Taeko oba-chan menyiapkan minum sambil bernyanyi riang. Sebuah pot berisi tunas berada di sudut Tanagi. CEO Bito menanyakan alasannya bernyanyi. Yasu segera memberitahu kalau Akira membuatkan lukisan dirinya pada hari ibu, itulah yang membuat Taeko bahagia. Ceo Bito segera memandang ke arah lukisan wajah Taeko yang tergantung di dinding. Taeko memuji Akira sehingga membuat Yasu berbangga tentang masa kecilnya. CEO Bito pun penasaran dengan kisah masa kecil Yasu.

Saat itulah Shoun datang. Jadilah Shoun dipaksa cerita tentang masa kecil Yasu. Yasu berusaha menghalanginya dengan mengatakan kalau Tanagi bukan tempat yang cocok untuk biksu (alasan untuk ngusir Shoun). Taeko mendesak Shoun untuk berbicara masa kecil Yasu terkait ayam. Tanpa mempedulikan larangan Yasu, Shoun bercerita, kalau Yasu merupakan anak yang dibebaskan dari tugas kandang ayam. Ketika Yasu mendapat tugas mengurus ayam, ia memasukkan ke dalam kandang yang ternyata merupakan toilet. Sialnya dalam toilet itu ada kepsek sedang BAB. Mereka semua pun tertawa membayangkan kebodohan Yasu. Taeko meledeknya, “apa benar Ak-kun anak Yacchan?”. CEO Bito ikut2an mempertanyakan hal itu. Yasu berusaha membantah, namun Taeko menyuruhnya pulang karena khawatir Akira telah menunggunya.

Yasu tersenyum, ia mengatakan kalau Akiralah yang menyuruhnya pergi minum karena telah bekerja keras seharian. Taeko memperingatkan Yasu untuk menikmati keberuntungannya karena suatu hari nanti Akira akan muak dengan kebiasaan minum Yasu. Ia juga menyarankan Yasu mengisi waktu luangnya untuk bermain tangkap bola dengan Akira. Mendengar kata tangkap bola Yasu segera terkejut. Shoun juga ikut tertegun sesaat. Yasu berdalih hal itu sangat memalukan seperti logo ayah dan anak. Shoun segera menimpalinya dengan dingin, “Kamu beruntung Yasu”. Yasu terkejut mendengarnya, Shoun segera kembali ke sikap cerianya, ia meminta Yasu segera pulang menemui Akira. Tapi ibarat satu tubuh, Yasu menyadari adanya perubahan sikap Shoun, ia pun menatap lekat2 Shoun yang sedang berusaha menikmati minumannya.

Taeko mengantar Yasu keluar sambil membawakan lauk-pauk untuk Akira dan beberapa lembar foto Akira. Yasu menanyakan kejanggalan sikap Akira, Taeko memberitahu kalau Shoun berubah sejak beberapa hari yang lalu. Taeko juga memperingatkan Yasu untuk memperhatikan makanan Akira karena ia sedang dalam masa pertumbuhan, ia sangat menyayangkan Yukie yang selalu memberi Akira permen yang dapat menyebabkan giginya berlubang, ia pun meminta Yasu menegurnya. Yasu mulai mengerti arah pembicaraan Taeko, ia menolak menegur Yukie, alih-alih ia malah meledek Taeko. Kemudian meninggalkan Taeko yang sedang memasang wajah cemberutnya.

Begitu sampai di halaman rumahnya, ia melihat Akira sedang bermain tangkap bola sendirian. Ia pun menawari bantuan, sayangnya Akira tidak mempercayai kemampuan Yasu dalam bermain baseball. Tentu saja Yasu membantah, ia segera meminta bola dan melemparkannya pada Akira. Sesuai dugaan, lemparannya melesat jauh. Yasu kelu, namun Akira tersenyum dan meminta ayahnya jangan terlalu memaksakan diri. Sehingga Yasu pun meminta maaf. Shoun pulang dalam kondisi mabuk, namun Yukie tetap menyambutnya dengan riang.

 

Keesokan harinya Yasu menonton telivisi yang membahas baseball, Akira berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali dengan alasan akan berlatih baseball. Begitu sampai di tampat kerja, Kuzuhara menerima laporan bahwa Akira terancam tidak akan masuk ke dalam tim karena di sekolahnya ada murid pindahan yang sangat jago menjadi pitcher. Mendengar itu Yasu segera pergi mengunjungi CEO Bito dan meminjam sarung tangan baseballnya. Sementara Akira dan teman2nya beristirahat di sebuah warung, teman2nya pada memuji kehebatan Fuji (anak pindahan), Akira hanya duduk terdiam, beberapa saat kemudian datanglah Shoun yang menyapanya, menanyai perkembangan baseballnya.

Yasu pulang dengan semangat sambil membawa sarung tangan baseball, ia segera mencari Akira untuk mengajaknya bermain, sayangnya Akira tak ada. Ia mencari sampai ke onsen, Ia terbayang peristiwa kecelakaan Misako, ia pun segera meraih telpon untuk menghubungi polisi. Saat itulah Akira datang bersama Shoun. Yasu terkejut melihatnya. Akira menjelaskan kalau sang paman baru saja mengajarinya main baseball. Yasu menarik nafas lega. Alhasil mereka mandi bertiga sambil membahas baseball. Shoun menceritakan keinginan Akira menjadi seorang pitcher. Yasu berusaha membuat Akira menyerah dengan menceritakan semua usaha Shoun yang dilakukan demi jadi pitcher namun gagal. Akira cuek saja sambil melatih tangannya, sekali berkomentar ia menanyakan apa yang dilakukan ayahnya saat sang paman sibuk berlatih. Yasu terdiam seribu bahasa. Akira pun segera mendekati Shoun dan berkonsultasi.

Malam harinya Yasu mengomel sendirian, “Kenapa ia jadi sok pintar denganku, memangnya siapa yang mengganti popoknya dahulu? Shoun juga, kenapa ia tersenyum dan mengajari seolah biksu atau apa.” Yasu berniat mengambil cemilan, namun ia justru terpeleset bola.

Keesokan harinya Shoun mendatangi Akira di sekolah dan membawakan banyak bola, Akira bahagia melihatnya. Ketika pulang ke rumah, Akira segera melapor pada Yasu tentang keberhasilannya dalam melempar bola. Sebenarnya Yasu senang mendengarnya, namun ia berpura2 acuh, dan menyarangkan Akira agar tak terlalu banyak berharap atas ajaran Shoun yang jelas2 gagal (Yasu cemburuuuuu). Akira sedih mendengarnya. Sore harinya ia melanjutkan berlatih dengan Shoun. Ketika pulang Yasu kembali meledeknya dengan menanyakan perkembangan berlatih dengan Shoun. Akira diam saja, ia segera menghampiri foto ibunya untuk berdoa, Ia menyampaikan pada sang ibu bahwa dirinya berhasil melempar 1 bola dari 5 bola. Mendengar itu Yasu antusias, namun Akira mengabaikannya. Ia pun memonyongkan bibir pada Akira. (ceritanya nih ngambek si Akira).

Malam hari, Yasu seperti biasa nongkrong di Tanagi. Taeko memberikan chiki bergambar baseball dan mengeluh karena Shoun sekarang jarang datang ke sana. Yasu langsung menanggapi dengan sinis dan membuang chiki itu. Beberapa saat kemudian datanglah Kuzuhara dan juga Hagimoto, yang rupanya baru pulang dari luar negeri. Hagimoto memberikan oleh2 untuk Taeko, ia juga menanyakan kabar Akira pada Yasu. Kuzuhara juga ikutan menanyakan perkembangan baseball Akira. Senyum Yasu segera menghilang, ia menghela nafas dan menyuruh mereka menunggu kabar dari Shoun. Kuzuhara dan lainnya heran mendengarnya.

Keesokan harinya, Yasu mengistirahatkan diri dan mobilnya di tepi laut, seyumnya lenyap begitu melihat Akira dan Shoun asyik berlatih. Ia terkesima dengan keseriusan Akira dan juga cemburu dengan kedekatan Akira dan Shoun. Agar tak memupuk rasa dongkol akhirnya Yasu kembali ke gudang dengan mobilnya. Akira yang saat itu sedang berlatih tak menyadari kedatangan ayahnya, ia meminta Shoun untuk  merahasiakan sesuatu dari ayahnya.

Malam harinya, Akira memegangi sikut kanannya. Yasu yang memperhatikannya dari ruang TV segera menanyakan kondisinya. Akira mengaduh sakit saat menggerakkan tangannya. Yasu pun panik, ia segera mencari es untuk mengompres sikut Akira. Namun Akira mengatakan bahwa menurut Shoun, kondisi akan semakin memburuk bila dikompress. Yasu terdiam mendengarnya, mau ga mau ia berkomentar, “baiklah sesuai saran Shoun sensei”, ia pun kembali beraktivitas membaca korannya. Akira memandanginya dengan sendu, perlahan-lahan ia menghampiri Yasu, ia mengajak Yasu untuk melihat latihannya siang esok dikarenakan tante Yukie akan datang dan membawa makanan yang banyak. Awalnya Yasu senang, namun begitu mendengat nama istri Shoun ia kembali kesal, ia pun menolak ajakan Akira dengan alasan sibuk.

Siang itu Yasu bekerja dengan semangat seolah tak ada gangguan dengan perasaannya. Tiba-tiba datang Kuruzawa yang mengabarkan kalau Akira mengalami patah tulang ketika latihan. Yasu pun bergegas ke rumah sakit.  Di sana, ia melihat Shoun dan Akira keluar dari kamar periksa. Shoun mengatakan kalau Akira hanya mengalami peradangan pada sendinya, ia juga berjanji akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan Akira. Mendengar itu, Yasu langsung emosi, ia marah sekaligus memukul Shoun. Ia merasa dirinya, sebagai ayah Akira yang perlu bertanggungjawab bukan Shoun. Akira berusaha menghentikan ayahnya. Yasu semakin marah, ia menyuruh Akira menjadi anak Shoun ketimbang menjadi anaknya. Akira memandang lemas kepergian ayahnya.

Untuk menghilangkan emosinya Yasu berkunjug ke rumah Taeko, ia curhat tentang ketidaknyamanan perasaannya mengenai hubungan Akira dan Shoun. Taeko mendengarkannya sambil menyiapkan makanan. “Sampai saat ini ia selalu mengikuti kemanapun aku pergi sambil memanggil, otou-san, otou-san, tapi sekarang berubah. Apakah kondisi orang tua normalnya? atau aku yang telah melakukan kesalahan? aku tidak tahu. Aku tidak pernah mengikuti orang tuaku. Aku tidak tahu normalnya orang tua dan anak  seperti apa.”

Mendengar itu, Taeko segera keluar dan membawakan sebuah pot berisi tunas bunga ke hadapan Yasu. Ia pun menjelaskan pohon itu.
“Lihat, ini adalah daun sebenarnya, sedangkan yang layu ini adalah seed leaf. Seed leaf adalah daun pertama yang tumbuh, tetapi ia tak bisa melihat bunga mekar. Ia gugur duluan. Awalnya ia bekerja keras membantu tanaman tumbuh, tetapi tidak bisa menyaksikan sampai tumbuh sempurna. Itulah takdir dari seed leaf. Menyedihkan bukan? Tanpa mengenang perjuangan yang telah dilakukannya, tanpa rasa balas budi, tumbuhan teruuusss berkembang. Orang tua dan anak mungkin seperti itu juga.”

Yasu tergugu mendengarnya, seraut kesedihan muncul di wajahnya, namun ia kembali meledek Taeko yang terlalu mendramatisir. Taeko tertawa, Ia meminta Yasu untuk mensyukuri apa yang dimilikinya, karena Akira berada di sampingnya beberapa tahun ini, sedangkan Misako tidak sempat bersama Akira, meskipun menginginkannya, ada orang tua yang tak dapat melakukannya. Yasu terdiam mendengarnya. Ia memandangi tunas pohon dan meresapi kata-kata Taeko. Taeko tersenyum, ia menyuruh Yasu pulang untuk menemui Akira, saat itulah Yukie datang dan menawarinya ikut makan sukiyaki bersama.

 

Yukie membawa Yasu dan Taeko mendaki gunung untuk menghampiri Shoun dan Akira. Selama di perjalanan Yukie menceritakan kalau dirinya habis mengalami keguguran. Taeko dan Yasu berusaha memberinya semangat. Yukie kembali mengatakan kalau dirinya selalu hamil namun berujung pada keguguran, itu dikarenakan kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk hamil. Taeko segera teringat tingkah laku aneh Shoun akhir2 ini. Yasu marah, kenapa ia tidak diceritakan lebih awal mengenai ini. Mendengar itu Taeko segera memukul Yasu. Yukie meminta maaf atas perubahan aneh suaminya. Ia mengatakan kalau Shoun harus mengubur impiannya bermain tangkap bola dengan putranya. Itulah kenapa ia sangat senang bermain dengan Akira sehingga Yukie tak ingin menghentikannya. Ia pun meminta maaf dengan Yasu. Yasu terperanjat mendengarnya. Ia memandang sedih Yukie.

Begitu sampai di rumah Yukie, Shoun dan Akira menyambut mereka. Yasu hendak berbicara, namun Taeko memotongnya. Ia bersimpati dengan luka Akira dan mengatakan kalau ayahnya akan menyiapkan Tonkatsu hari ini. Yasu berusaha menolak ini, namun Taeko tidak menghiraukannya, ia mengajak Akira dan Yukie masuk ke dalam dan meninggalkan Shoun berdua dengan Yasu.

Yasu dan Shoun sama2 ingin mengutarakan isi hatinya, namun datang Kaiun dan menempeleng kepala mereka satu per satu hingga keduanya menjerit. Ia marah karena menjadi anak kecil sebagai bahan rebutan. Baginya hal itu sangat memalukan. 
Yasu dan Shoun akhirnya dihukum, mereka diberi sanksi duduk berlutut di taman. Kesempatan itupun mereka gunakan untuk berbincang-bincang. Yasu memulai percakapannya.

 

“Laki-laki tua itu sudah berubah, iya kan?”
“Ya, aku   penasaran apakah aku benar anaknya.”
Shoun meraih sarung tangan di sebelahnya dan memberikannya pada Yasu, sambil mengatakan kalau dirinya telah gagal menjadi pelatih. Yasu menolaknya, dengan alasan ia tak punya waktu luang karena kesibukannya mencari uang. Ia pun mengandalkan Shoun untuk memperhatikan Akira.  Shoun tersenyum memandangi sarung tangan itu. Yasu memandanginya dan menyampaikan bela sungkawanya atas yang menimpa Yukie, tapi ia memarahi Shoun yang sering datang ke Tanagi, karena baginya tempat itu tak pantas bagi biksu. Shoun mengakui kesalahannya, namun ia berdalih tak ada yang bisa ia lakukan. Dengan kenyataan dirinya tak bisa jadi orang tua, ia tetap harus tersenyum dan melayani pengunjung kuil. Ia masih memiliki sesuatu hal berarti yang bisa ia lakukan. Yasu tertegun mendengarnya, ia mengatakan kalau Shoun mirip dengan Kaiun. Shoun tertawa, ia mengatakan kalau Akira sangat mirip Yasu. Ia juga menceritakan perihal perjanjiannya dengan Akira.

“Bukankah sudah aku katakan padamu. Akira memilih menjadi pitcher demi dirimu.”
“Untukku?”
“Ya, ketika berkaitan dengan baseball, kamu hanya bicara tentang pitcher, ya kan?”
“Ya, sepertinya begituuuu”
“Karena nya, Akira ingin menjadi pitcher. Karena hari pertandingan di sekolahnya tepat pada Hari Ayah (ada ya? baru tahu..). Ia ingin berdiri di lapangan tidak peduli apapun. Ia memutuskan untuk seperti itu.“ Yasu terkesima mendengarnya, namun bukan Yasu kalau tidak mengekspresikan rasa malunya dengan kemarahan. “Kenapa kau mengatakannya padaku?. Shoun mengatakan kalau Akira malu untuk memberitahu ayahnya, menu Tsukiyaki malam ini juga merupakan request Akira dengan alasan Yasu menyukainya. Yasu terharu mendengarnya, wajahnya memerah menahan tangis, namun akhirnya pecah juga tangisan itu, meskipun dalam diam.  Shoun tersenyum memandanginya.

Shoun dan Yasu memasuki rumah, di dalam Akira bersama Kaiun, Yukie, dan Taeko sudah duduk manis bersiap menyantap hidangan. Yukie mempersilahkan Yasu duduk dan menuangkan makanan untuk suaminya. Setelah itu ia dan Taeko ribut mengoreksi lukisan wajah mereka yang dibuat oleh Akira. Yasu sibuk makan, ia menyadari bungkusan Tonkatsu masih ada di meja, ia pun menyembunyikannya. Akira terkesima melihatnya, ia menatap penuh tanya pada sang ayah.

Yasu dan Akira pulang jalan kaki menuruni bukit. Yasu beranggapan seharusnya mereka minta antar, namun Akira mengatakan tidak perlu karena ia ingin membakar kalorinya sebagai persiapan untuk menyantap tonkatsu ketika sampai di rumah. Yasu malu mendengarnya, ia mengatakan pada Akira untuk tidak memaksakan diri, karena tonkatsu bisa dimakan keesokan harinya. Namun Akira tetap ngotot dengan alasan setelah Tsukiyaki sangat cocok memakan katsu. Ia pun berjanji pada ayahnya akan memenangkan permainan. Yasu terkesima mendengarnya, ia teringat pembicaraannya dengan Taeko siang tadi. Ia pun menjerit pada pohon di atasnya, “dengarlah wahai seed leaf. Dia kembali ke ayah pada akhirnya!”. Akira tertawa melihat kelakuan ayahnya. Mereka pun berjalan dengan riang. Flashback End.

Akira masih duduk menghadap Yumi dan mengakhiri ceritanya,
“Sejak aku kehilangan orang tua di usia muda, karenanya aku dibesarkan oleh banyak orang. Aku sangat beruntung memiliki banyak orang seperti seed leaf di sekitarku. Oleh karena itu, aku rasa kini saatnya aku melakukan hal yang sama.”
“Jadi seperti itukah ayahmu.”
“Karena itu,Sakamoto-san, bebas menelponku kapan pun.”
Akira izin pamit dan Yumi mengantarkannya sampai ke pintu, dengan hati2 Yumi menanyakan apakah Akira gay. Akira terkejut…

Hai Ayah, pada situasi seperti ini, apakah baik untuk ngotot dan mengatakan sebenarnya? Tapi aku pria yang cukup atau kurang matang juga, jadi jika aku bicara kebenarannya sekarang, aku merasa aku tidak akan menerima apapun

So, apakah Akira beneran gay? ditunggu kelanjutannya ya… side story tentang seed leafnya keren yaaaa…..          

Written by Saa [Blog]
Capture image by Ari [G+]
DON’T REPOST TO OTHER SITE/Fanpage FB!!
 Please be patient!!! don’t ask next episode! OK!
 

4 pemikiran pada “[Sinopsis J-Drama] TONBI Episode 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s