[Sinopsis Thai-Movie] My True Friend Part 2 (End)

Sinopsis My True Friend Part 2 (End)

~Sinopsis My True Friend Part 2 (End)~

Nem akhirnya menyadari kejadian sebenarnya mengapa kakaknya, Oak, meninggal. Selama ini dia mengira Gun adalah penyebab kakaknya meninggal. Ia bertanya pada ibu mengapa ia tak tahu hal itu? Ibu menangis seraya membelai rambut Nem, “Aku…tak mau kau merasa malu pada abangmu.” Nem akhirnya menyadari kesalahpahamannya selama ini terhadap Gun. Ia memeluk erat ibunya sembari menangis. Kesedihan menyelimuti kedua wanita itu.

Song dan Gun menginap di sebuah hotel bintang lima, yang juga merupakan tempat tinggal Gun (weeiisshh…nih hotel kayaknya punya ortunya si Gun deh). Song tampak galau. Gun yang melihat sahabatnya itu tampak gelisah, merangkul bahunya dan bertanya ada apa dengannya? Mereka berjalan menuju ruang tamu. Song terdiam sesaat lalu berkata kalau ia bertengkar dengan kakaknya. Gun merasa heran dan bertanya apa yang terjadi? “Dia marah karena aku memukuli pacarnya,” terang Song. Tod yang sedang baring2 di sofa, kaget mendengar ucapan Song. Ia lalu beranjak dari sofa dan berdiri di depan mereka. Bukannya membantu Song menghilangkan kesedihannya, Tod malah mengatai kakak Song ‘bukan perempuan benar’.

Gun menatap tajam Tod karena ucapannya. Merasa ucapannya salah, Tod malah nyengir lebar. “Ups…mulutku tak sengaja,” ujarnya salah tingkah. Song tidak mempermasalahkan ucapan Tod yang dianggap hanya bercanda itu. Gun bertanya pada Song apa dia sudah bilang pada kakaknya kalau pacar kakaknya itu selingkuh? “Sudah, tapi dia tidak percaya. Dia hanya percaya pada laki2 itu,” ucap Song kesal. Tod yang ikutan kesal malah duduk di meja seraya membaca komik yang tergeletak di meja.
“Jika kau tak mau pulang, kau boleh tinggal di sini selama yang kau mau,” ujar Gun seraya memegang pundak Song. Song merasa tersentuh dengan kebaikan sahabatnya itu.

Tiba2 ponsel Song berbunyi, Song mengangkatnya. Ternyata dari Nem. Song bertanya ada apa? Gun yang awalnya duduk, tiba2 beranjak dari kursinya saat ia mendengar Song menyebut nama Nem. Gun tampak penasaran mengapa Nem menelpon Song. Song berkata pada Nem kalau ia tidak bisa. “Jadi..katakan pada Dew, aku bilang ‘Selamat Ulang Tahun,” ucapnya lalu menutup telpon. Gun yang penasaran bertanya apa yang Nem katakan? Song menjawab kalau Nem mengajaknya jalan ke pesta ulang tahun Dew. Tod yang tampak tertarik, beranjak dari duduknya dan bertanya kenapa mereka tidak ke pesta itu? Dia ingin minum2. Ia terus merajuk, “Aku sangat mau…” Kedua sahabatnya hanya bisa memandangi Tod.

 

Akhirnya mereka pergi juga ke pesta ultah Dew di sebuah klub. Mereka bertiga duduk semeja dengan minuman beralkohol di meja mereka. Mereka bertiga tampak galau. “Aku ingin mabuk. Tak enak melihat teman kita berkelahi,” ujar Tod lesu. Gun berusaha menghibur Tod dengan berkata saat Kla sudah tenang, Nick akan minta maaf pada Kla. Gun lalu bertanya pada Song, apa ia sudah bilang pada Nem kalau mereka sudah tiba? Alih2 menjawab pertanyaan Gun, Song malah merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil. “Aku ingin membuat kejutan buat Dew,” ujar Song tersenyum seraya menujukkan kotak hadiah itu pada Gun. Gun tersenyum melihat sahabatnya itu  akhirnya tampak gembira.
“Jika suatu saat kau punya pacar, akankah kau lupa pada kami?” tanya Tod pada Song. Song terdiam mendengar pertanyaan Tod yang tiba2 itu. Gun tampak kesal mendengar ucapan Tod dan memukul lengan Tod pelan. Tod dan Gun lalu meminum minumannya. Tiba2 Song melihat Nem dari kejauhan dan memberitahu Gun. Song lalu beranjak menghampiri Nem, begitu pun dengan Gun yang tampak gembira melihat kehadiran Nem. Sebaliknya, Tod memasang wajah kesal karena kedua sahabatnya itu meninggalkannya sendirian. Ia meminum minumannya dengan kesal.

Tiba2 dua orang wanita yang sedari tadi duduk di belakang Tod, menghampiri Tod yang sedang sendirian. Salah seorang dari wanita itu berkata kalau ia membutuhkan bantuan Tod. Tod bertanya bantuan apa? Wanita itu menunjukkan pada Tod seorang pria yang sedang bercengkrama bersama kekasihnya. “Pria itu mencampakkanku karena wanita lain. Bisa kau urus dia?” tanya wanita itu sembari menyodorkan beberapa lembar uang pada Tod. Tod mengambil uang itu dan menyetujui permintaan wanita tadi.

Sementara itu, Song dan Gun menghampiri Nem. Nem mengira kalau Song tidak akan datang. Song melirik ke belakang dan bertanya tentang Dew. Nem berkata kalau Dew datang. Song hendak menghampiri Dew, tapi Nem buru2 menahannya, mencegahnya bertemu dengan Dew. Song merasa heran. “Dia bersama pacarnya,” ucap Nem. Ekpresi Song yang awalnya gembira berubah sedih. Dia seakan tak percaya mendengar ucapan Nem barusan. Song melirik ke arah Gun di belakangnya yang sama terkejutnya dengan Song. Song lalu berbalik pergi dengan langkah lesu. Gun menahan lengannya, namun Song tetap berlalu pergi kembali ke mejanya.

Gun tampak emosi, ia bertanya pada Nem dimana Dew? Nem menunjuk ke arah belakang. Gun yang marah karena kesedihan yang dirasakan sahabatnya, hendak menemui Dew. Namun Nem buru2 menahan lengannya, “Gun! Biar kujelaskan.” Gun akhirnya berhenti dan mencoba mendengar penjelasan Nem.

 

Song kembali ke mejanya dengan langkah lesu. Raut kesedihan tampak jelas di wajahnya, karena orang yang selama ini dia sayangi, balikan lagi sama mantannya. Song lalu meraih gelasnya dan meminum minumannya dengan perasaan kacau. Di sampingnya, Tod sibuk mengamati pria yang sedang bersama kekasihnya tadi sembari menegak minumannya. Melihat pria yang bersama kekasihnya itu beranjak pergi, Tod buru2 menarik Song agar ikut bersamanya. Song merasa heran mereka mau pergi kemana? Tod meminta agar Song ikut bersamanya tanpa bertanya. Song akhirnya menuruti permintaan Tod dan ikut bersamanya.

Pria tadi mengantar kekasihnya ke toilet. Kekasihnya memintanya menunggu di luar toilet lalu beranjak masuk ke toilet. Saat pria tadi berbalik, tiba2 sebuah pukulan mendarat di wajahnya. Tod memukul pria itu hingga terjungkal ke tanah. Kekasih pria tadi berusaha melawan Tod dan berteriak kenapa ia memukul kekasihnya? Song yang hanya berdiri seraya menunduk sedih sedari tadi, tersentak kaget. Dan tanpa mengetahui apapun, ia langsung menarik pria tadi dan menghajarnya habis2an. Tod hendak membantu Song memukul pria itu, namun kekasih pria tadi menahannya. Tod mendorong wanita itu dan menahan tangannya. Wanita itu berteriak minta dilepaskan. Tiba2 Tod melayangkan tamparan ke wajah wanita itu hingga ia jatuh terduduk. Wanita itu merasa marah, apa Tod tahu ia siapa? “Jika kau saja tak tahu, bagaimana aku bisa tahu, dasar bodoh!” umpat Tod kesal.

Gun, Nem dan salah seorang teman Nem datang melerai mereka. Gun menarik Tod dan menahan tangannya. Sementara itu, Song terus memukul pria tadi hingga babak belur di lantai dengan wajah berlumuran darah. Nem berusaha menarik Song agar menghentikan aksinya. Song seakan baru tersadar atas apa yang telah ia lakukan. Petugas keamanan klub itu datang dan mengacungkan tongkat, mengusir mereka keluar dari klub itu. Gun lalu menarik kedua sahabatnya itu meninggalkan tempat itu.

Gun menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menghubungi seseorang, dan menutup telpon dengan wajah cemas. Ia lalu menoleh ke Tod yang sedang asyik merokok di jok sampingnya seakan2 tidak terjadi apapun. “Kau tahu siapa dia? Putri Wichian Wongtanapanich,” ujar Gun pada Tod. Nem yang duduk di jok belakang bersama Song, terkejut mendengar nama yang Gun sebut barusan. Tod menoleh ke Gun dan dengan nada mengejek berkata kalau orang itu bukan ayahku. “Anggota dewan Chiang Mai,” seru Gun kesal melihat sikap Tod yang cuek. Gun menduga tindakan Tod kali ini lagi2 karena ganja. Dengan kesal ia mengambil rokok Tod dan membuangnya. Hal itu membuat Tod menatap kesal padanya.
“Jika kau perlu uang, mengapa kau tidak bilang padaku? Cari uang dengan memukuli orang, kau kira itu benar?” bentak Gun.
 “Aku tak sekaya dirimu. Kami sudah terbiasa terlibat perkelahian. Dapat uang atau tidak, apa bedanya?” ujar Tod. Melihat sahabatnya seperti itu, Gun lalu merogoh kantongnya, ia lalu menyodorkan beberapa lembar uang pada Tod, “Ini. Ambil jika kau mau.” Gun meletakkan uang itu di pangkuan Tod. Wajah Tod tampak menahan marah. “ Uang tidak berarti apa2 bagiku. Hal yang berharga buatku adalah…kalian, teman2,” seru Gun. Bukannya terharu mendengar ucapan Gun, Tod malah melirik kesal ke arah Gun dan keluar dari mobil Gun seraya menutup pintu mobil dengan keras. Gun berseru memanggil Tod. Tod menoleh ke Gun dari luar mobil.
“Uang berharga, tapi aku harus mencarinya sendiri,” ujarnya lalu berjalan pergi meninggalkan teman2nya. Gun memandangi kepergiaan Tod dengan perasaan kecewa. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena niatnya untuk membantu Tod dengan memberinya uang sama artinya dengan melecehkan harga diri Tod.

Song dan Nem berada di bukit tempat mereka biasa berkumpul. Nem membantu Song mengobati luka di tangannya karena perkelahian di klub malam tadi. Gun menghampiri mereka seraya menenteng sekantung minuman yang baru saja dibelinya. Gun meletakkan kantung belajaannya di tanah di samping Nem lalu berjalan menjauh dan menghentikan langkahnya di depan pagar pembatas. Ia menerawang jauh memandangi kota dari bukit itu. Kesedihan terpancar jelas dari wajah Gun. Nem dan Song hanya bisa memandangi Gun. Song akhirnya memutuskan menghampiri Gun dan menghibur sahabatnya itu.

Song menepuk pelan pundak Gun dan bertanya apa yang sedang ia pikirkan? Gun terdiam sesaat seraya tetap memandang lurus ke depan. Ia akhirnya membuka suara, “Bagiku, menyayangi teman bukan berarti memanjakan mereka. Jika mereka salah, aku harus mengingatkannya. Walaupun itu membuat mereka marah.” Gun lalu berbalik menatap Song, “Persahabatan tidak hanya sehari dua hari. Tapi selamanya….” Song mengangguk membenarkan ucapan Gun. Nem yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka, berjalan menghampiri mereka seraya membawa dua kaleng minuman. Ia memberikan satu kaleng untuk Song dan yang satunya dia buka untuk dirinya sendiri.

Gun menatap Nem lekat2. Nem menengadahkan wajahnya dan balik menatap Gun. Mereka saling bertatapan sesaat sebelum Gun akhirnya berkata, “Kau tak marah lagi padaku, kan?” Nem terdiam menatap Gun. Alih2 menjawab pertanyaan Gun, Nem malah menanyakan kondisi lengan Gun yang terluka karena ulah Kheng tempo hari. Song yang sedari tadi memunggungi mereka, berbalik seraya tersenyum dan menjawab pertanyaan Nem yang ditujukan untuk Gun, “Masih sakit sedikit. Terima kasih sudah bertanya, Nem.” Nem menoleh ke Song dengan tatapan bingung, begitu pun Gun. Gun dan Nem berpadangan dan tak lama kemudian, meledaklah tawa mereka. Song yang tidak menyadari kalau mereka menertawakan mereka, menatap kedua sahabatnya itu dengan tatapan bingung.

Keesokan harinya, Gun yang merangkul Song berjalan mencari meja kosong di kantin seraya membawa makan siang mereka. Beberapa pemuda menatap aneh pada mereka. Dua pemuda yang sedang makan siang, langsung menyingkir dari meja mereka saat melihat Gun dan Song mendekat. Song tampak heran, tapi Gun cuek dan duduk di meja kosong itu. Di meja seberang, dua pemuda yang selalu mengganggu Song juga sedang makan siang. Salah seorang teman pemuda itu memberi isyarat melihat kehadiran Gun dan Song. Pemuda itu menoleh ke arah Song dan seketika itu pula menghentikan makannya dan beranjak meninggalkan kantin. Song menatap kepergiaan pemuda itu dengan pandangan heran. Ia tidak ambil pusing lalu menoleh pada Gun yang sedang asyik mengaduk2 makanannya.

“Keren ya?” tanya Song seraya menunjukkan tattoo bertuliskan ‘SPERM’ di tangan kirinya. Song berkata kalau ia baru saja membuat tattoo itu dan merasa kalau ia akan segera mempunyai tattoo yang sebenarnya (Song cuman pake tattoo temporer). “ ‘Geng Sperm’keren, ya?” tanya Song seraya tersenyum polos. Gun tampak tidak suka melihat tattoo di tangan Song. “Lambangnya di jiwa kita, tidak perlu di ungkapkan,” ujar Gun. Song terdiam, ia merasa bersalah tentang tattoo itu. Gun lalu melanjutkan ucapannya, “Ingat, walaupun kita suka berkelahi, kita bukan gangster. Laki2 berkelahi sampai ada pemenang, tapi tak pernah membunuh.” Song mengerti ucapan Gun. Mereka lalu melanjutkan makan siang mereka.

Tiba2 Beer menghampiri mereka. Gun dan Song sontak berdiri melihat kehadiran musuh mereka itu.
Gun, Song dan Beer berada di atap kampus. Beer menyalakan rokoknya dan menatap kedua orang yang terlihat waspada di depannya. “Kheng bermaksud menyerangmu. Dia menyebalkan. Karena dia Bos Geng Night Bazzar. Geng yang sangat besar,” terang Beer. Song tidak habis pikir, bukankah Kheng itu teman Beer?
“Mengapa kau datang dan memperingatkan kami tentang itu?” Beer berkata kalau ia tidak suka apa yang di lakukan Beer pada Gun tempo hari (saat Kheng menodongkan pisau pada Gun). Gun percaya pada ucapan Beer dan berterima kasih karenanya.

Sementara itu, Arm dan Champ sedang berada di lapangan bola. Champ sedang memainkan bola sedangkan Arm duduk mendengarkan musik dari mp3-nya saat Kla tiba dengan motornya. Kla lalu turun dari motornya dan bergabung bersama mereka dan duduk di bangku di samping Arm. Champ merasa senang karena akhirnya Kla muncul juga. “Ya, ibuku menghukumku beberapa hari. Sangat membosankan,” ujar Champ. Ia lalu menyarankan menelpon Gun dan mengajaknya ke klub malam. Mendengar Champ menyebut nama Gun, Kla langsung berdiri dengan kesal, “Jika kau mengajaknya, aku tak pergi.” Champ bertanya apa Kla masih marah pada Gun?
“Sudah berapa lama kau kenal aku? Kau seharusnya tahu sifatku,” ucap Kla. Arm menggeleng kecewa mendengar ucapan Kla. Ia lalu memasang earphone-nya lalu berjalan menjauh dan duduk di bangku yang agak jauh dari mereka. Champ meminta agar Kla bersikap biasa saja, apa ia masih dendam tentang Nick?
“Tapi ini masalah serius bagiku. Dia pikir dia bos-nya. Sehingga dia bisa mengatur kita?” ujar Kla kesal.

Tiba2 dua pemuda yang berboncengan motor memasuki lapangan itu dan menghampiri mereka. Champ dan Kla heran melihat kedatangan mereka. Salah seorang pemuda itu lalu berseru pada mereka, “Temanmu, Tod, bersama kami. Jika kau ingin dia selamat, bawa temanmu, Song, ke stadium nanti malam. Tengah malam.” Dua pemuda itu lalu beranjak pergi meninggalkan Champ dan Kla yang masih terpaku mendengar ucapan dua pemuda barusan. Champ tampak panik, ia menoleh ke Kla dan berkata sebaiknya mereka memberitahu Gun terlebih dahulu. “Tidak! Aku sendiri yang akan membantunya. Jangan pergi kalau kau takut,” tegas Kla lalu berjalan menuju motornya.

Champ tampak bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Ia lalu berteriak memanggil Arm. Arm yang tidak melihat kedatangan dua pemuda tadi, melepaskan eraphone-nya lalu menghampiri Champ. “Tod di tangkap Geng Night Bazzar. Katakan pada Gun dan Song untuk menemuiku tengah malam,” terang Champ lalu bergegas pergi bersama Kla. Arm tampak panik.

Gun, Song dan Beer berjalan bersama. Tiba2 mereka dikejutkan oleh Arm yang berlari menghampiri mereka dan berusaha menarik Gun. Gun merasa heran melihat kepanikan Arm dan memintanya untuk tenang. Nem yang kebetulan lewat, heran melihat sikap mereka yang terlihat aneh. Arm yang panik, bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Gun. Ia lalu mencari2 sesuatu dan menemukan papan sketsa dan pensil di bangku di samping mereka. Arm lalu menulis sesuatu di papan itu. Gun menoleh ke Song, tapi Song hanya mengendikkan bahu tidak tahu.

Arm lalu menunjukkan tulisan di papan itu. Arm berkata kalau Tod di sandera Geng Night Bazzar. Gun membaca dan terkejut, ia bertanya dimana Tod di sandera? Arm kembali menulis di papan itu, ia meminta Gun menghubungi Champ. Beer yang sedari tadi bersama mereka bertanya kenapa Champ tidak menelpon mereka? Arm hendak menjelaskan, tapi saat menyadari siapa yang bertanya, Arm hendak menerjang Beer yang merupakan teman Kheng. Gun dan Song berusaha menghalangi Arm. “Dia datang untuk memperingatkan tentang Kheng. Tenanglah,” ujar Song seraya berusaha menenangkan. Karena tak ingin memperkeruh suasana, Beer pun pamit pergi. Alih2 pergi, Beer malah bersembunyi di balik tiang. Ia terkejut saat melihat Nem juga bersembunyi di tiang itu, menguping pembicaraan Gun cs sedari tadi. Nem memberi isyarat Beer agar diam, Beer pun mengangguk menurut.


Song pun menghubungi Champ. Ia bertanya kemana Geng Night Bazzar membawa Tod? Setelah mendengar penjelasan Champ, Song lalu mematikan telpon. Ia tampak sangat cemas. Gun yang khawatir dengan Tod, bertanya bagaimana? “Mereka menyuruhku untuk ke stadium tengah malam,” terang Song. Gun semakin khawatir, ia berkata kalau Night Bazzar adalah geng besar dan sulit mengalahkan mereka. Di balik tiang, Nem tampak jengah mendengar percakapan itu, ia menduga Gun dan yang lainnya akan berkelahi lagi. Gun memegang pundak Song dan bertanya apa Song takut? “Teman tidak boleh meninggalkan temannya. Kita harus menolong Tod,” ujar Song mantap. Di balik tiang, Beer tampak kikuk berada di samping Nem, ia lalu berjalan pergi meninggalkan Nem yang memandangnya dengan heran. Gun lalu mengajak temannya untuk segera pergi menolong Tod.

 

Tiba2 Nem keluar dari tempat persembunyiannya dan menghalangi jalan mereka. “Kemana kau? Berkelahi lagi? Inikah yang semua laki2 bisa pikirkan?” tanya Nem kesal menatap mereka satu persatu. Gun berkata kalau ini bukan seperti yang Nem pikirkan. Nem belum paham dengan maksud Gun yang sebenarnya, “Apa yang ingin kau buktikan? Ingin membuktikan kau tangguh, jagoan, atau menarik perhatian?” Gun terdiam mendengar ucapan Nem. Ia memandang kedua sahabatnya lalu menoleh ke Nem dan dengan tegas berkata, “Untuk melindungi yang kami sayangi.” Gun lalu mengajak kedua sahabatnya bergegas pergi, meninggalkan Nem yang terpaku mendengar ucapan Gun.

 

Tengah malam. Tampak dua pemuda berlari dengan tergesa2 memasuki stadium. Mereka adalah Kla dan Champ yang datang duluan ke stadium itu. Champ dan Kla lalu melompati pagar pembatas di tribun penonton menuju ke pinggir lapangan. Semenit kemudian, Gun, Arm dan Song tiba di tempat itu dan melompati pagar pembatas menuju pinggir lapangan. Gun berjalan menghampiri Kla dan berdiri di sampingnya. Gun tampak kesal melihat kehadiran Gun, “Mengapa kau di sini? Aku tak minta bantuanmu!” Gun memotong ucapan Kla, “Ayo tolong Tod dulu, kau bisa putuskan persahabatan kita nanti.” Gun lalu berjalan maju menuju tengah lapangan diikuti teman2nya.

Lampu stadion tiba2 menyala. Dan tampaklah puluhan anggota Geng Night Bazzar sudah menanti mereka di tengah lapangan. “Mereka terlalu banyak. Bagaimana caranya kita berhasil?” tanya Champ yang nampak terkejut melihat jumlah lawan mereka. Pertanyaan Champ terjawabkan dengan munculnya Beer dan beberapa orang temannya dari pintu samping stadium.

Beer dan geng-nya lalu bergabung bersama Geng Sperm. Kheng tampak kesal melihat Beer lebih memihak Geng Sperm daripada dirinya. “Beer..Ini bukan urusanmu!” teriak Kheng kesal.
“Aku benci melihatmu sok akrab,” cibir Beer. Kheng lalu memberi isyarat pada salah satu temannya agar membawa Tod ke depan. Tod pun diseret ke depan. Geng Sperm tercengang melihat Tod yang babak belur dengan tubuh berlumuran darah karena akibat di hajar oleh Geng Night Bazzar. Mereka sangat geram melihat sahabat mereka diperlakukan seperti itu.
“Kheng. Lepaskan temanku!” teriak Gun marah.

Tiba2, seorang pemuda yang sedari tadi duduk di pagar pembatas di belakang Geng Night Bazzar, mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah Geng Sperm. Pemuda itu adalah Rock,.ketua Geng Night Bazzar.  Ia lalu maju ke depan, memimpin Geng-nya. “Temanmu kurang ajar! Dia memukul orang lain tanpa alasan. Tapi intinya, dia memukul seorang gadis,” terang Rock. Song menundukkan kepala mendengar ucapan Rock. Ia merasa bersalah, karena dirinya yang memukul pemuda di klub malam itu, Tod menjadi seperti ini.  Rock membuang puntung rokoknya lalu menatap tajam ke arah Gun cs, “Pulanglah selagi kau sempat. Serahkan temanmu, Song, padaku.” Karena merasa ini adalah tanggung jawabnya, Song pun hendak maju menyerahkan dirinya. Tapi Gun menahan pundak Song, menariknya mundur. Gun tidak ingin sahabatnya itu gentar.  Rock seakan mengerti maksud Gun, itu artinya Gun tidak akan menyerahkan Song dan lebih memilih bertarung demi menyelamatkan Tod. Ia tersenyum simpul, lalu berbalik ke belakang diikuti anak buahnya yang menyeret Tod yang menatap temannya dengan tatapan memohon.

Langit menggelegar, hujan turun seakan menjadi saksi pertarungan dua Geng besar itu. Suasana semakin tegang, wajah2 yang siap menerkam lawan mereka. “Hajar!!” Teriakan seakan menjadi peluit dimulainya pertarungan itu. Mereka menghajar lawan mereka masing2. Satu persatu mereka berjatuhan karena pukulan, Song yang mulai punya nyali untuk berkelahi, Beer yang ikut membantu Geng Sperm dan Kla yang memang tangguh menjatuhkan lawan2nya. Begitu pun dengan Gun, walaupun sempat tersudut, namun ia berhasil menghajar Kheng hingga terkapar dengan wajah berlumuran darah. Mereka semua terkapar karena kelelahan dan rasa sakit akibat pukulan yang mereka terima.

Tapi tidak dengan Gun, ia berusaha bangkit dan berjalan menghampiri ketua Geng Night Bazzar untuk menyelamatkan Tod. Ia sempat dihalangi oleh beberapa anggota geng Sperm, namun dengan sisa2 tenaganya, ia berhasil menjatuhkan mereka. Melihat hal itu, Rock pun turun tangan dan berjalan menghampiri Gun. “Kau berani. Tinggalkan temanmu di sini, dan pulanglah.” Darah mulai mengalir dari pelipis dan hidung Gun. Tapi Gun tidak gentar sama sekali.
“Aku tak akan pergi…tanpa temanku.”  Rock tersenyum mengejek mendengar ucapan Gun. “Apa kau benar2 sangat peduli pada temanmu? Jika kau bisa mengalahkanku, kulepaskan dia,” tantang Rock.

Gun geram dan langsung melayangkan tinjunya ke arah Rock. Namun Rock dengan sigap menahan tangan Gun dan memukulnya hingga terjungkal. Song hendak bangun membantu Gun, tapi dia tidak sanggup lagi. Tod hanya bisa menangis melihat sahabat yang hendak menolongnya itu. Gun tidak menyerah, ia berusaha bangkit dengan sisa2 tenaganya. Ia lalu mencoba menyerang Rock, tapi Rock berhasil menghindar dan lagi2 menjatuhkan Gun dengan sekali pukulan. Teman2 Gun hanya bisa menatapnya tanpa bisa melakukan apa2. Gun mencoba bangkit sekali lagi, Rock tampak takjub melihat Gun yang seakan memiliki cadangan tenaga yang begitu besar. Gun kembali menyerang Rock, Rock menahan tangan kiri Gun yang membuat dia lengah dan tidak menyadari tangan kanan Gun mendarat di wajahnya hingga membuat mereka berdua terjatuh. Rock berdiri seraya meringis memegangi wajahnya yang terkena pukulan Gun. Gun mencoba bangkit sekali, tapi dengan sigap Rock langsung melayangkan tinjunya dua kali ke wajah Gun. Gun pun terkapar.

Di bukit favorit Geng Sperm. Tod akhirnya dilepaskan oleh Geng Night Bazzar. Geng Sperm + Beer bersadar di pagar pembatas. Mereka tampak kelelahan dan menahan rasa sakit akibat perkelahian tadi.
 “Kurasa Rock terkesan dengan persahabatanmu. Jadi dia membiarkan kita pergi. Gun, kuakui keberanianmu,” puji Kla yang duduk di samping Gun. Gun menoleh menatap Kla.
“Mulai sekarang, kau yang jadi ketua Geng kita,” ujar Kla lagi. Gun tidak setuju dengan ucapan Kla. “Aku tak mau jadi ketua. Kita semua teman. Kla, jika aku membuatmu marah, apapun alasannya, maafkan aku,” ucap Gun tulus. Kla tersenyum mendengar permintaan maaf Gun. Champ berterima kasih pada Beer yang sudah datang membantu mereka. Beer tersenyum mendengar ucapan terima kasih Champ lalu menoleh pada Gun yang duduk di sampingnya. “Walaupun dulu kita musuh, tapi aku suka sikapmu. Aku ingin jadi temanmu. Boleh?” pinta Beer tulus. “Kenapa tidak? Kau telah berbagi banyak hal dengan kami,” timpal Tod.

Mereka semua tertawa sembari menahan rasa sakit. Kini, bertambah lagi satu anggota Geng Sperm, Beer.
Song tiba2 berkata kalau Beer harus melakukan 1 hal terlebih dahulu yang menjadi peraturan geng mereka. Gun tampak heran, peraturan apa? “Bertukar pakaian dalam,” ujar Song sembari meminta pakaian dalam Beer. “Tak ada peraturan seperti itu. Nick membodohimu” terang Gun. Song tampak terkejut, apa? Song merasa malu karena sudah dikerjai Nick. Teman2nya tertawa tersengal2 sambil menahan rasa sakit karena kekonyolan Nick mengerjai Song. Gun melihat Kla tampak sedih dan bertanya ada apa? “Aku merindukan Nick,” ujar Kla seraya menerawang jauh.

Nick sedang melamun di danau, memikirkan sahabat2nya. Ia melempar sebogkah batu ke danau yang menciptakan lingkaran di air. Nick hanya memandangi lingkaran air itu dengan putus asa. Tiba2 Kla datang mengendarai motor dan berhenti di samping Nick. Melihat kehadiran Kla, Nick buru2 bangkit dan berusaha melarikan diri. Kla mengejar Nick dan menarik kerah bajunya. Nick berbalik sembari melindungi wajahnya dengan kedua lengannya, mengira Nick akan memukulnya. Kla tampak bingung dengan sikap Nick, “Nick, ada apa denganmu.” Perlahan2 Nick menurunkan tangannya seraya menatap Kla takut. “Aku tidak ke sini untuk memukulmu. Jika aku minta maaf, maukah kau memaafkanku?” pinta Kla tulus.
“Tidak! Aku tidak pernah marah padamu,” ujar Nick sambil tersenyum mengejek. Kla tersenyum kesal karena Nick ternyata mengerjainya.

Kla tiba2 merangkul Nick, “Aku sayang padamu.” Nick terkejut dan buru2 mendorong Nick menjauh darinya. “Sial! Kau punya perasaan padaku?!” tanya Nick salah paham. Kla tampak kesal karena kesalapahaman Nick. Tapi sedetik kemudian ia tersenyum dan merangkul sahabatnya itu lalu mengajaknya pergi.

Hari Natal tiba. Elle berada di sebuah café. Ia sedang berkaca dengan cermin kecilnya, memperbaiki penampilannya. Merasa penampilannya sudah baik, Elle tersenyum senang. Ia tampak menunggu seseorang. Tak lama kemudian, orang yang sedang dia tunggu muncul dan menghampirinya yang ternyata adalah Gun. Elle langsung sumringah melihat kehadiran Gun. Gun lalu duduk di kursi di samping Elle. Gun menatap Elle dan bertanya kenapa ia di panggil ke café itu? “Aku…rindu padamu,” ujar Elle. Gun tampak heran kenapa Elle di tempat itu sendirian? Mana temannya? Elle merajuk mendengar pertanyaan Gun, “Siapa orang yang bawa teman saat kencan?” Gun tersenyum geli melihat tingkah Elle, “Berkencan hanya untuk orang yang pacaran.”  Elle sumringah dan menggoda Gun, “Lalu, maukah kau menerima cintaku? Jadi kita bisa berkencan.”
“Tapi aku orang yang jahat. Aku suka berkelahi dan keluar malam,” terang Gun berusaha menolak Elle secara halus. Elle tampak manyun, namun sedetik kemudian dia tersenyum dan menyenderkan kepalanya di bahu Gun, “Itulah yang kusuka darimu.” Gun buru2 menghindar yang membuat Elle hampir saja terjatuh. Elle memperbaiki duduknya dan tampak menahan malu. Tanpa mereka sadari, Nem yang kebetulan lewat tanpa sengaja melihat mereka.

“Jika kau ingin bertemu aku lagi, berjanjilah padaku 1 hal,” pinta Gun. Elle langsung mengangguk mengiyakan. “Fokuslah pada kuliahmu, jangan pernah bolos. Dan jangan keluar malam,” ujar Gun. Elle menghitung syarat yang Gun berikan dengan jarinya, lalu membentuk ‘tanda metal’ dengan jarinya sebagai jumlah syarat Gun. “Tiga aturan. Kau bisa jadi pacarku,” ucap Elle sumringah. Gun menggeleng, “Tidak, jika kau tak lakukan yang kubilang, kau tak akan melihatku lagi.” Elle tampak cemberut namun kemudian ia mengiyakan permintaan Gun. Nem yang sedari tadi mengamati mereka, akhirnya duduk di salah satu kursi di luar café.
Elle berkata bisakah ia bertanya sesuatu pada Gun? “Bisakah kau bersamaku malam tahun baru ini? Aku dengar siapa saja yang bersama saat hitung mundur, mereka akan bersama selamanya. Kumohon!” pinta Elle sembari mengatupkan kedua jarinya dan menunjuk Gun. Gun menatap Elle tanpa berkedip lalu tersenyum geli mengiyakan permintaan Elle. Elle merasa sangat gembira lalu memeluk lengan Gun. “Kau sangat baik. Aku sangat mencintaimu! Terima kasih!” seru Elle senang. Gun berusaha melepas pelukan Elle, ia merasa risih dilihat orang secafe. Nem yang sedari tadi mengamati mereka, merasa cemburu dan beranjak pergi dari tempat itu.

Di rumah Nem, ibu sedang menyiapkan penganan yang akan di jual hari ini. Nem pulang dengan wajah cemberut. “Kemana saja kau seharian? Jalan2?” tanya ibu pada Nem yang baru datang. Alih2 menjawab pertanyaan Ibu, Nem berkata kalau dia membeli bola lampu yang baru dan akan mengganti bola lampu yang lama seraya menunjukkan bola lampu yang lama. Ibu tersenyum dan berkata kalau semuanya sudah beres. Nem tampak bingung dengan maksud ibu. Ibu memberi isyarat ke arah dalam rumah, dan tampak lah Gun sedang mengganti bola lampu yang baru. Nem tampak kesal melihat kehadiran Gun. Dia merasa cemburu melihat kejadian di café tadi. Gun berbalik dan tersenyum manis pada Nem.

“Selesai. Bisa kau hidupkan?” pinta Gun pada Nem yang berdiri di samping tiang tempat sakelar. Nem menyalakan sakelar dengan kesal. Tapi lampu yang dipasang Gun belum juga menyala. “Tidak menyala. Kau yakin bisa melakukannya?” ejek Nem. Gun menengadah, ia merasa heran kenapa lampu itu tidak menyala? “Yang di atas, yang di bawah sakelar lampu toilet,” timpal Ibu. Nem kikuk, ia buru2 menyalakan sakelar lampu yang dimaksud ibu. Dan Tada!! Lampu yang dipasang Gun akhirnya menyala. “”Lihat? Kau tak perlu ngomong seperti itu padanya,” ujar Ibu. Nem tertunduk malu mendengar ucapan ibu, ia merasa bersalah karena sudah bersikap kasar pada Gun. Nem masih cemberut, ia lalu menyingkirkan jaket Gun yang tersampir di kursi di depannya dengan kasar, lalu duduk di kursi itu dan membantu ibu. Ibu hanya bisa menghela nafas melihat sikap putri semata wayangnya itu. Gun lalu bergabung bersama mereka dan duduk di kursi di samping Nem.

Ibu lalu berterima kasih pada Gun atas bantuannya. “Sama2. Jika Bibi perlu bantuan, bilang saja padaku,” ucap Gun yang diangguki ibu. “Senangnya seandainya kau bisa jadi anakku. Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu. Terima kasih,” ujar Ibu tulus. Nem tampak tidak senang mendengar ucapan Ibu, ia memalingkan wajahnya kesal (yaiyalah Bu, lah wong Nem maunya Gun jadi menantu Ibu…Lol). “Sama2,” ujar Gun seraya tersenyum.
“Aku tak mau!” protes Nem. Ibu dan Gun terkejut mendengar seruan Nem. Tiba2 tangan Nem tertusuk tusukan sate yang di pegangnya. Gun terkejut, ia buru2 meraih tangan Nem. “Kau terluka?” tanya Gun khawatir. Nem yang masih kesal pada Gun menarik tangannya dengan kasar yang malah  membuat tangannya kepentok meja (wkwkwkkw…sakit dua kali ya bu). Nem meringis merasakan sakit di tangannya. Gun dan Ibu tertawa geli melihat tingkah  Nem.

Gun akhirnya membantu Nem mendorong gerobak jualannya ke tempat jualan. Sepanjang jalan Gun berusaha mengobrol dengan Nem yang terus cemberut. Gun merasa heran kenapa Nem tidak memberitahunya kalau dia datang ke café? “Aku melihatmu dengan orang lain, berpelukan,” ujar Nem tetap dengan wajah cemberutnya. Gun bingung dengan maksud Nem, berpelukan? Siapa? “Gadis berseragam sekolah?” jawab Nem dengan muka yang dilipat tujuh. Gun tampak berpikir, ia akhirnya paham siapa yang Nem maksud. “Oh…namanya Elle,” terang Gun. Mendengar Gun menyebut nama Elle, Nem semakin cemberut, ia memalingkan wajahnya kesal. Gun melirik Nem, “Kau cemburu?” Nem buru2 menjawab siapa yang cemburu dan menganggap kalau Gun itu kegeeran. “Lalu kenapa kau merajuk?” tanya Gun lagi.
“Aku lagi bad mood. Seseorang mencuri cinta ibuku dariku,” jawab Nem beralasan. Gun tersenyum mendengar ucapan Nem, “Aku tahu sangat sensitif.” Nem memalingkan wajahnya, ia tersipu malu dan perlahan mulai tersenyum karena ucapan Gun.

Gun lalu mengajak Nem hitung mundur bersama malam tahun baru nanti. “Kupikir dulu. Aku sangat sibuk sekarang,” ucap Nem jaim. “Dasar payah,” ejek Gun yang membuat Nem kesal dan meninggalkan Gun. Gun panik, ia tampak kepayahan mendorong gerobak jualan itu. “Nem! Nem! Nem, tolong aku!” seru Gun. Nem tidak mengindahkan panggilan Gun, ia berjalan duluan seraya tersenyum karena berhasil mengerjai Gun. Gun menggeleng melihat tingkah Nem dan tersenyum geli, “Genit!”

Sementara itu, di kamarnya, Elle sedang sibuk mencoba pakaian yang akan dia pakai untuk acara hitung mundur malam tahun baru bersama Gun nanti. Ia berdiri di depan cermin meja rias seraya berputar melihat pakaian yang dikenakannya. Elle tampak merasa bahagia karena akan bersama pujaan hatinya.

 

Malam tahun baru. Lampion beterbangan di angkasa dengan indahnya. Kota di malam hari bersinar terang dari lampu2 kendaraan dan gedung2 pencakar langit. Gun mengantar Nick ke klub malam tempat perayaan malam tahun baru bersama Geng Sperm. Di klub itu sudah ada Kla dan Beer. Gun menurunkan Nick terlebih dahulu di klub itu lalu kemudian menjemput Elle. Melihat Gun hendak pergi, Kla dan Beer buru2 menahannya, “Gun! Apa yang kau lakukan?” Gun menghentikan mobilnya dan menurukan kaca mobil, ia berkata akan menemui Elle. “Tapi hampir tengah malam. Ayo hitung mundur bersama. Kau bisa menemuinya nanti,” pinta Gun. “Tapi aku sudah berjanji padanya,” terang Gun. Beer menimpali kalau semua teman2nya ke tempat itu untuk hitung mundur. Gun Nampak berpikir. Ia merasa bingung, menerima ajakan teman2nya atau menepati janjinya pada Elle. “Cepatlah. Sudah 15 menit menjelang tengah malam. Ayo turun dari mobilmu,” seru Nick. Gun tampak berpikir.

Akhirnya Gun memutuskan bergabung bersama teman2nya. Ia bergabung bersama Geng Sperm dan Nem yang sudah lebih dulu datang ke klub itu. Gun tersenyum pada Nem lalu berdiri di sampingnya. Mereka semua saling berangkulan bahu sambil menghitung mundur, “8..7..6..5..4..3..2..1! Selamat tahun baru!” Dan bunyi terompet menandakan malam pergantian tahun itu. Kembang api yang memenuhi langit malam, terlihat mengangumkan. Geng Sperm + Nem menikmati pesta malam itu, mereka menari bersama, saling bercanda. Mereka bersulang agar ikatan persahabatan yang mereka jalin semakin erat dan terjaga selamanya.

Tanpa sengaja mata Nem dan Gun saling bertatapan. Mereka berdua tersipu malu.  Gun berbisik pada Nem apa ada yang mau ia katakan? Alih2 menjawab pertanyaan Gun, Nem malah mendekatkan wajahnya ke Gun dan berbisik, “Bagaimana denganmu?” Gun dan Nem tersenyum malu. Tanpa mereka sadari beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Song dan yang lainnya tampak penasaran melihat mereka berdua. “Aku harap kau bahagia,” bisik Gun pada Nem. “Aku harap kau juga bahagia,” balas Nem. Song dan yang lain serempak bersorak, “Cieeeeee……!” Nick bertanya apa mereka datang bersama? Nem tampak malu dan buru2 menarik Song dan berganti tempat dengannya. Kini Song berdiri di samping Gun. Gun tersenyum pada Song lalu merangkul sahabatnya itu. Mereka semua tertawa bahagia.
“Aku harap kalian semua bahagia selamanya,” ujar Kla. “Semoga persahabatan kita abadi selamanya!” seru Song sambil mengajak teman2nya bersulang. “Yeaaaa!” seru mereka serempak sambil bersulang.

Sementara itu, di tempat lain. Elle sedang duduk di depan gerbang rumahnya menunggu Gun yang belum juga muncul untuk menjemputnya. Elle terus melirik ke jalan, berharap mobil Gun muncul. Namun harapan Elle sia2. Ia hanya bisa menghela nafas. Elle tidak beranjak dari tempatnya, meskipun malam tahun baru sudah berlalu. Ia merasa yakin Gun akan datang menjemputnya. Karena yang ia tahu, Gun takkan pernah melanggar janjinya. Gun takkan pernah membuat seorang wanita merasa kecewa karenanya.

Pesta pergantian malam tahun baru itu belum usai, tapi Gun hendak pergi duluan.  Gun berada di mobilnya di parkiran. Tod, Nick dan Song berusaha menahan Gun dan memintanya untuk tinggal lebih lama. Gun berkata kalau ia sudah berjanji pada Elle, karena itu ia harus pergi. teman2nya mengerti, Gun pun menjalankan mobilnya. Mereka bertiga setengah mabuk, Nick mengajak kedua temannya itu masuk ke klub, kembali melanjutkan pesta. Mereka bahkan menggoda dua wanita yang lewat.

Kheng dan beberapa anggota geng Night Bazzar yang kebetulan hendak ke klub berpapasan dengan Song cs. Mereka meledek wig kribo warna ungu yang dikenakan Nick. Nick geram mendengar ledekan teman Kheng. Ia hendak maju menerjang Kheng cs tapi buru2 di halangi oleh kedua sahabatnya. “Aku Nick yang baru!” seru Nick geram seraya berusaha memberontak ingin menghajar mereka yang meledeknya. Melihat tingkah Nick, Geng Night Bazzar semakin meledeknya dan menyebutnya mirip alien. Nick tidak terima ejekan mereka, ia pun berhasil melepaskan diri dari teman2nya dan hendak memukul orang yang mengejeknya. Alih2 berhasil memukul orang itu, Nick malah kena pukul hingga beberapa kali. Song dan Tod tidak tinggal diam, mereka pun maju menolong Nick. Akibatnya, perkelahian antara dua musuh bebuyutan itu tak dapat terhindarkan.

Mobil Gun yang hendak berbelok keluar parkiran, urung karena melihat perkelahian itu. Ia merasa geram dan akhirnya turun membantu teman2nya. Gun menghajar anggota Geng Night Bazzar yang menghampiri hendak memukulnya. Nick yang ditahan oleh Kheng pun berontak, ia mengginggit lengan Kheng. Kheng berteriak kesakitan dan menghempaskan Nick ke lantai. Kheng mengeluarkan pisau yang selalu dibawanya dan hendak menikam Nick. Tapi Gun yang melihat hal itu, dengan sigap menolong Nick dan menahan tangan Kheng yang memegang pisau. Tiba2 salah seroang teman Kheng memukul Gun dari belakang dengan balok kayu. Melihat hal itu, Song bergegas menolong Gun menghajar orang itu. Meski kesakitan, Gun tetap menahan pisau Kheng yang hendak menikamnnya. Mereka berdua tersudut di antara dua mobil. Teman Kheng lagi2 menghajar Gun berkali2. Gun berhasil membuat orang itu terjungkal. Hal itu membuat Gun lengah, akibatnya Kheng mengambil kesempatan itu untuk menghujamkan pisaunya ke perut Gun. Gun meringis kesakitan, sebaliknya Kheng tampak merasa sangat dendam pada Gun.

Gun berhasil melepaskan diri dari Kheng dan menghajarnya. Kheng cs pun kabur dari tempat itu. Song dan yang lainnya berusaha mengejar, tapi mereka membiarkan mereka pergi. Mereka pun tertawa senang karena berhasil memukul mundur Geng Night Bazzar. Tanpa mereka sadari, Gun terduduk kesakitan seraya memegang perutnya yang berdarah di samping mobil yang terparkir. Gun berusaha bangun, ia merapikan jaketnya untuk menyembunyikan lukanya dari teman2nya. Gun berjalan dengan langkah mantap seolah tidak terjadi apa2. Teman2nya tos karena keberhasilan mereka mengalahkan Geng Night Bazzar. Gun terus berjalan melewati teman2nya. Tod memanggil Gun yang hendak pergi, ia hendak tos dengan Gun. Gun menghentikan langkahnya, ia memalingkan wajah dan mengacungkan jempolnya sebagai tanda hebat. Teman2nya yang tidak mengetahui kondisi Gun tertawa senang lalu beranjak pergi kembali ke klub. Sementara Gun menuju mobilnya dan pergi untuk menepati janjinya, menjemput Elle.

Elle masih setia menunggu Gun di depan rumahnya walaupun dengan wajah di tekuk tujuh. Elle langsung sumringah saat melihat mobil Gun. Elle berdiri dan bersedekap saat Gun turun dari mobilnya. Gun tampak pucat dan keringat dingin membasahi wajahnya. Elle merajuk, ia tampak kesal karena Gun terlambat menepati janjinya.

Gun tersenyum manis pada Elle. Elle merajuk, ia pura2 marah pada Gun. Gun berusaha menghampiri Elle. Pandangannya mulai kabur, dan Gun akhirnya tidak mampu menahan sakitnya lagi. Ia memegangi luka di perutnya yang mengeluarkan banyak darah. Gun pun terjatuh ke aspal, ia meringis kesakitan. Elle terkejut dan bergegas menghampiri Gun. Elle menangis dan tampak syok melihat luka di perut Gun. “Gun! Siapa yang melakukan ini padamu?” Elle terkejut karena melihat tangan Gun yang berlumuran darah.

Gun akhirnya di bawa lari ke rumah sakit. Gun di dorong menuju ruang ICU dan mendapat bantuan pernapasan. Elle terus menangis dan menggenggam tangan Gun. “Tetaplah bersamaku, Gun.” Gun yang masih sadarkan diri memandangi langit2 koridir rumah sakit. Entah apa yang ada dipikirannya. “Mungkinkah ini saat terakhirku?” Suster menyuruh Elle menunggu di luar karena ia tidak boleh masuk ke ruang ICU. Elle menangis memandangi Gun yang dibawa masuk ke ruang ICU. Ia gemetar memandangi tangan dan bajunya yang berlumuran darah Gun.

Geng Sperm + Nem akhirnya tiba di rumah sakit itu. Mereka mendapati Elle sedang menangis sedih. Nem bertanya di mana Gun, tapi Elle hanya menangis tanpa berbalik menatap mereka. Nem akhirnya memutar tubuh Elle. “Elle! Di mana Gun? Elle! Bagaimana Gun?!” tanya Nem khawatir. Nem tercekat melihat tangan Elle yang berlumuran darah. Elle yang masih syok, terduduk sambil terus menangis. Nem dan Song mengintip kondisi Gun dari tirai yang sedikit terbuka. Dokter sedang berusaha menolong Gun dengan alat kejut jantung. Suster berkata jantung Gun tidak berdenyut. Dokter terus memberikan pertolongan pada Gun. Tiba2 seorang suster menutup tirai itu. Song dan Nem sontak terkejut. Elle terus menangis sedih.

Waktu terus berlalu, satu jam setelah tahun baru. Mereka semua menunggu dengan khawatir. Tepat pukul dua, monitor jantung Gun menunjukkan garis lurus. Di luar, Orang tua Gun baru saja tiba. Mereka keluar dari lift dengan wajah khawatir. mereka hanya melirik sekilas ke arah teman2 Gun dan menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan Gun. “Dokter, bagaimana anakku?” tanya Ibu Gun khawatir.
“Maafkan aku,” ucap Dokter. Ibu Gun terperanjat, ayah Gun bertanya apa maksud Dokter. Song dan Nem tampak syok mendengar ucapan Dokter. “Aku sudah berusaha semaksimal mungkin,” terang Dokter lalu berjalan pergi. Ayah Gun buru2 menahan tangan Gun, “Tidak, Dokter. Dia anakku satu2nya! Berapa banyak yang kau mau? Katakan! Satu juta, Dok. Hidupkan dia kembali!” pinta Ayah Gun frustasi. Dokter hanya menggeleng dan beranjak pergi.


Tiba2 Kla menghampiri Dokter itu dan mencengkram kerah bajunya. “Dokter, kau bohong! Aku tak percaya padamu!” teriak Kla. Teman2nya berusaha menangkan Kla dan menariknya menjauh dari Dokter itu. Dokter itu bergegas pergi sebelum menjadi pelampiasan kekesalan Kla. Kla menangis sedih karena kepergian Gun. Ibu Gun syok, ia terduduk menangis meratapi kematian anak semata wayangnya.

 

Ayah Gun masuk ke ruang ICU. Ia memandang wajah anaknya pilu. Tampak rasa penyesalan yang mendalam di wajahnya karena selama ini tidak memperhatikan anak kesayangannya itu. Ayah memeluk Gun dan menangis sedih. Di luar, Ibu Gun terus menangis. Ia seakan tidak percaya dengan kepergiaan anaknya yang mendadak seperti ini. Teman2 Gun menangis meratapi kepergiaan sahabat terbaik mereka itu. Nem menangis, ia tampak marah dan memukul2 dada Nick, “Bagaimana bisa kau biarkan dia mati?!” Nem lalu menarik kerah baju Song, “Dia selalu menolongmu. “Mengapa kau menolongnya?! Mengapa?! Mengapa?!” Nem menangis sedih. Song menangis dan mulai tampak emosi. Ia tidak terima kematian Gun, ia berniat balas dendam atas kematian sahabatnya itu. Song berlari pergi. Teman2nya yang terkejut, berusaha mengejar Song. Tinggalah Nem, Elle dan Ibu Gun yang terus menangis sedih.

Song mengendarai motor dengan perasaan berkecamuk menuju suatu tempat. Di belakang, teman2nya berusaha mengejar dengan mengendarai motor.

 

Kheng tampak berjalan tergesa2 memasuki stasiun kereta. Ia membawa ransel dan berniat melarikan diri. Tiba2 Song, Tod dan Beer muncul dari dalam stasiun. Kheng terkejut, ia hendak berjalan mundur tapi anggota Geng Sperm yang lainnya muncul di belakangnya. Kheng pun kabur dan berlari ke arah rel kereta. Geng Sperm mengejarnya. Saat Kheng menyebrangi rel, tiba2 seberkas cahaya menyala di depannya. Ternyata itu adalah lampu dari motor Geng Night Bazzar. Geng Sperm yang menyadari hal itu, menghentikan langkah mereka dan tampak panik. Kheng yang mengira kalau teman2nya datang untuk membantunya, berbalik dan mencibir Geng Sperm, “Kau ke sini dengan sedikit orang. Kau kira aku akan takut? Tidakkah kau lihat, Bos-ku di sini?”

Ketua Geng Night Bazzar membuka helmnya lalu turun dari motornya dan menghampiri Kheng. Tiba2 ia melayangkan pukulan ke wajah Kheng hingga membuatnya jatuh tersungkur. Geng Sperm terkejut, mereka tidak menduga kalau Ketua Geng Night Bazzar akan melakukan hal itu pada anak buahnya sendiri. “Sudah kubilang, kan? Pakai senjata itu pengecut! Kau benar2 sampah! Mulai sekarang, kau bukan bagian Night Bazzar lagi!” seru Sang Ketua lalu berjalan pergi.

Kheng berdiri, ia mulai panik karena sudah di buang oleh Geng-nya sendiri. Ia lalu melirik ke arah Geng Sperm yang menatapnya seakan siap memakan Kheng. Kheng tidak takut, ia malah menantang mereka untuk berkelahi. Song dengan emosi, maju dan berkelahi dengan Kheng, tapi Kheng berhasil menjatuhkan Song. Kla hendak membantu Song tapi Tod menahannya, “Biarkan Song yang melakukannya.” Song berusaha bangkit dan menyerang Kheng, tapi Kheng memukul perut Song dan mendorongnya ke rel kereta. Kheng hendak memukul Song lagi tapi Song berhasil menghindar. Mereka pun berkelahi hingga ke seberang rel. Kheng menarik rambut Song yang membuat Song berteriak kesakitan. Teman2nya hanya bisa menahan amarah melihat perlakuan Kheng, tapi mereka membiarkan Song melakukan tugasnya, mengalahkan Kheng dengan tangannya sendiri.

 

Kheng menyeret Song dengan menarik kerah jaketnya, tapi hal itu membuat Kheng lengah dan dijadikan Song sebagai kesempatan untuk menjatuhkan Kheng. Song memukul wajah Kheng berkali2. Tiba2 Kheng mengambil pisau yang terselip di pinggangnya dan melukai perut Song. Song berteriak kesakitan, tapi ia berusaha menahan tangan Kheng. Song lalu mengunci kedua tangan Kheng dengan kakinya dan merebut pisau Kheng. Ketua Geng Night Bazzar tampak penasaran dengan apa yang akan Song lakukan dengan pisau itu. Kla berteriak saat Song mengangkat pisau itu hendak menghujamkannya ke arah Kheng. Tiba2 Song menghentikan tangannya di udara tepat di depan wajah Kheng, ia tergiang ucapan Gun padanya. “Song, kau harus ingat, kita petarung, bukan gangster. Laki2 berkelahi sampai ada yang menang, bukan membunuh.

Song menangis sedih mengingat ucapan Gun. Tangannya masih menggantung di udara. Kilas balik kenangan Gun saat ia ditikam oleh Kheng hingga meninggal pun muncul. Semua menunggu keputusan apa yang akan Gun buat dengan pisau di tangannya itu. Song pun akhirnya mengambil keputusan, ia tidak akan membunuh Kheng karena ia bukan seorang gangster, ia seorang laki2! Ia menancapkan pisau itu di telinga Kheng hingga berdarah dan membuat Kheng berteriak kesakitan. Karena merasa puas dengan keputusan yang Song buat akhirnya Ketua Geng Night Bazzar mengajak anak buahnya meninggalkan tempat itu. Geng Sperm hanya bisa memandang kepergian Geng Night Bazzar. Tidak lama kemudian, polisi datang dan memisahkan Song dan Kheng.

Waktu berlalu, Geng Sperm + Nem berada di bukit tempat mereka biasa berkumpul bersama Gun. Mereka memandangi kota dari bukit itu untuk mengenang Gun. Satu persatu, mereka beranjak pergi dari tempat itu.

Waktu terus berlalu. Teman2 Gun pun melanjutkan hidup mereka. Nem dan Song tengah mengikuti ujian Final di kampus mereka. Terdengar monolog Song.

“Hidupku banyak berubah sejak aku bertemu dengannya…Aku belajar artinya persahabatan dan betapa berharganya itu…”

 

Song berada di lapangan tempat ia pertama kali berkenalan dengan Geng Sperm. Ia merenung, mengingat kenangan bersama sahabatnya, Gun. Di belakangnya, buku sketsa miliknya terbuka lebar karena tertiup angin. Tampak sketsa wajah Gun yang sedang berkelahi serta sketsa wajah teman2nya yang dibuat oleh Song.

“Aku telah belajar berkelahi, seperti laki2.”

Song berbalik, ia mengambil tas dan buku sketsanya lalu beranjak pergi dari tempat itu.

Kenangan akan Gun saat tertawa bahagia bersama teman2nya di malam pergantian tahun, 

“Walaupun tak akan ada laki2 yang bernama ‘Gun’ lagi…Tapi dia akan jadi kenangan terindah…Dia akan jadi kenangan terindah selamanya…”

 ~The End~

Movie’s Note :
Hari ini dua anggota Geng Sperm telah kehilangan nyawa mereka. Sisanya, sekarang hidup dengan penuh pertimbangan. Kekerasan dalam masa remaja mereka, telah jadi kenangan pahit yang ingin mereka lupakan.

Notes:
Alhamdulillah akhirnya kelar juga sinopsis ini. Ini Sinopsis pertama yang Ann kelarin, sinop yang lainnya masih ongoing K.  Makasih ya Fams udah sabar nungguin ^^
Kenapa Aku pengen buat sinop ini, semuanya karena ide Dewi. Makasih ya Dewi ma Ari buat bantuan ide dan piku2nya ^^. Aku suka muvi ini karena rasa persahabatan yang begitu kental tercipta diantara Geng Sperm. Film ini mengingatkan aku ama K-Movie, Sunny. Cerita2nya hampir mirip, tentang persahabatan, di mana sang ketua geng sama2 meninggal di akhir film. Tapi banyak kenangan yang berarti di tinggalkan oleh sang ketua. Suka banget liat akting Mario Maureer meranin Gun, seorang pemimpin Geng yang sangat loyal sama sahabat2nya. Walaupun dia anak tunggal seorang konglomerat, dia tidak pernah ingin memanjakan teman2nya dengan uang.

Nonton film ini, banyak pesan tentang arti persahabatan yg bisa kita temukan. Gun yg benar2 mengerti arti sebuah persahabatan. Walaupun ia kaya, namun ia tidak ingin memanjakan teman2 mereka dengan uang. Baginya uang tidak ada arti.y, teman2nya lebih berarti daripada apapun.

Sebuah geng tidak selamanya berisi orang2 kuat dan pandai berkelahi. Di Geng Sperm, Gun, Kla, Arm dan Champ yang terlihat kuat melindungi sahabat2nya yg lemah dan penakut seperti Nick dan Song. Pertengkaran kerap terjadi diantara mereka, namun kata maaf bukan sesuatu yg memalukan untuk mereka ucapkan. Kurangnya kasih sayang yang Gun terima dari kedua orang tuanya, tidak berarti membuat Gun menjadi seorang yg skeptis dan anarkis. Ia bak seorang ksatria yg melindungi teman2nya. Acungin Jempol gajah deh buat akting Mario Maureer di film ini ^^

Sayang film ini endingnya sad. Kenapa Gun mesti mati?? (Hei Sw-nim, Gun dihidupin aja napa? Gun melewati masa kritis, ia kembali sehat, berkumpul bersama teman2nya lagi, mulai serius ama kuliahnya ampe lulus, ngewarisin hotel bokapnya, trus nikah deh sama Elle. kenapa gak sama Nem? Nem putus ama Gun trus pacaran deh ama Beer). Loh? Loh? Napa malah Nge-FF akunya ini??

Inti dari film ini adalah Persahabatan tidak bisa dibeli dengan uang. Sahabat ada untuk saling melindungi, saling menghormati dan saling menyayangi…

Seperti Rainbow’s Family….Rumah persahabatan yg sebenarnya ^^
Buat Dewi ma Ari, makasih yh dah dibantuin piku2nya. Maaf setor sinop.y selalu telat
Sampai ketemu di Project selanjutnya…Annyeong Fams

Written by  Ann [FB|Twitter]
Image by :  Ari [Twitter | G+]
Posted Only On pelangidrama.net
DON’T REPOST TO OTHER SITE!!!
Thanks for reading with us ^^

9 pemikiran pada “[Sinopsis Thai-Movie] My True Friend Part 2 (End)

  1. kok lihat ini berasa lihat Om Ken masih muda ya wkwkwk, ama itu Nem kayak tante Ann masih muda hahahaha, kapan mereka berdua Mario dan yg jadi Nem dipasangin di Lakorn ya, pasti mantep ntu wkwkwk, sama2 ann saling bantu hohoho, kalau ga captured piku juga ga sempat nonton ni hahaha

    Suka

  2. Huum ri…kyk.y keren klo Lakorn Mario duet ama yg jadi Nem, tapi lucu jg kyk.y klo Mario duet ama si Elle…
    suka bgt soal.y klo Gun jdi couple.y Elle…rada2 absurd :p

    Suka

  3. Anggota Sperm yg meninggal selain Gun itu, Oak, kakak.y Nem yg meninggal gara2 dipukulin pengedar narkoba di Part 1.
    Itu jg yg jadi alasan kenapa Nem sempat benci sama Gun ^^

    Suka

  4. whuaa.. thanks bgt sinopx,, gue ampe nangiss.. T_T
    gue stuju sm Ann klo Gun ama Elle aja,, klo Nem rada2 gmn gtu *mian
    tp Gun x keburu mninggal.. argghh
    pkokx filmx kereeeenn :)))

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s