[Sinopsis J-Drama] Itazura na Kiss ~ Love in Tokyo Episode 11

 Sinopsis Itazura Na Kiss Love In Tokyo Episode 11
Kotoko membawa Yuki ke RS saat dia sakit dan harus segera di operasi, beruntung Kin-chan segera memberitahu Naoki dan mengingatkan Naoki untuk mengatakan pemikirannya pada orang yang dekat dengannya. Naoki pun mengucapkan rasa terimakasihnya pada Kotoko yang telah menolong Yuki dan Kotoko yang cemas langsung memeluknya. Kotokopun menginap di Apartemen Naoki karena sudah terlalu malam, dan Naoki membicarakan tentang takdirnya meneruskan perusahaan Ayahnya, dia menatap Kotoko yang tengah tertidur.
Di pagi hari, saat Yuki terbangun dari tidurnya, dia mendapati Naoki yang mencium Kotoko yang sedang tertidur di samping tempat tidurnya. Yuki kaget namun Naoki tersenyum dan memintanya untuk merahasiakan hal ini dengan mengyimpan jari telunjuknya di bibirnya “Ssstt”
Tentu saja, semua itu terjadi tanpa sepengetahuan Kotoko, sehingga Kotoko berpikir hubungannya dengan Naoki tidak ada perkembangan. Waktu terus bergulir, Yuki akhirnya keluar dari RS dan keluarga Irie mengadakan pesta penyambutan Yuki, semuanya terjadi saat menjelang akhir tahun dan malam Natal. Bagi yang memiliki kekasih tentu ini menjadi waktu terbaik dalam satu tahun, tapi bagi yang tidak memiliki kekasih….
Nasib mereka mungkin akan sama dengan Kotoko^^

~Sinopsis Itazura Na Kiss Love In Tokyo Episode 11~
Kekasihku adalah Santa Clause
Kotoko sedang berada di restoran tempat Naoki dan Yuko bekerja paruh waktu, dia terus menerus memanggil Naoki yang menjadi pelayan untuk mengisi air untuknya. Naoki jadi sinis dan bertanya, “Berapa jam kau akan tinggal hanya dengan kopi dan air minum?” Kotoko bukannya menjawab pertanyaan Naoki, dia malah balik bertanya apa rencana Naoki di malam Natal. “Apa yang akan akan kau lakukan di malam Natal? Apakah kau akan pulang ke rumah?” Dengan singkat Naoki menjawab, “Kerja” lalu pergi dari meja Kotoko.
Kotoko bingung mendengarnya, Yuko datang dan berkata bahwa konsekuensi kerja di restoran adalah tidak mendapat libur di malam Natal. Kotoko jadi penasaran dan bertanya, “Mungkinkah kau akan bekerja dengannya, Matsumoto-san?” Yuko membenarkan membuat  Kotoko patah hati. Yuko menjelaskan bahwa banyak sekali pesanan di malam Natal. Kotoko mendapat ide, dia akan memesan tepat di restoran itu kalau begitu, tapi ternyata harga pesan tempat di Malam Natal mencapai 20.000 Yen dan itu pun hanya untuk dua orang saja, Kotoko jadi keder duluan mendengarnya, dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu?
Saat pergi ke kampus Kotoko jadi sedih karena dia tidak bisa menghabiskan malam Natalnya bersama Naoki, tapi dia kemudian berpikir, di masih punya teman-teman. Jinko dan Satomi datang menyambutnya dengan antusias, “Kotoko!” panggil mereka bersamaan keduanya menggandeng tangan Kotoko, tadinya Kotoko ingin membicarakan tentang malam Natal tahun ini yang ingin dia lewati bersama kedua sahabatnya ini, tapi…. Jinko dan Satomi menarik Kotoko dan berkata bahwa mereka ingin mengenalkan seseorang pada Kotoko.
Jinko mengenalkan Narasaki-kun, seorang anggota boyband sebagai pacarnya dan Satomi mengenalkan Ryo Takamiya seorang mahasiswa sebagai pacarnya juga. Kotoko kaget sekaligus mendadak lemas, bagaimana bisa kedua sahabatnya mengenalkan kekasihnya di waktu bersamaan. Jinko dan Satomi kompak berkata, mereka ingin mengenalkan pacar masing-masing sebelum malam Natal. Kotoko hanya bisa tersenyum terpaksa dan ikut bahagia juga memberi ucapan selamat setelah menyapa pacar-pacar dari kedua sahabatnya itu. Tanpa mempertimbangakan perasaan Kotoko Jinko dan Satomi mengucapkan terimakasih.
Kotoko pun bergunam di dalam hati, “Dan beginilah jadinya, aku akhirnya menjadi satu-satunya orang yang tidak punya pacar di malam Natal pertama di kampus. Aku punya perasaan ini akan menjadi Natal terburuk yang pernah ada”
Di kafetaria kampus Kotoko hanya bisa berkeluh kesah karena nasib buruknya itu. Kin-chan mendekatinya dan bertanya tentang Jinko dan Satomi yang sudah punya pacar. Apakah itu berarti mereka berdua akan menghabiskan malam Natal bersama pacar masing-masing? Kotoko membenarkan, “Itu malam Natal pertama mereka dengan pacar mereka. Itu pasti akan terjadi” Akh,, Kin-chan mendapat ide, dia berkata bahwa dia akan menyiapkan sesuatu untuk Kotoko di malam Natal. Kin-chan mungkin berniat mengajak Kotoko untuk menghabiskan malam dengannya, namun sayangnya dia terlambat.
Jinko datang sambil menangis kemudian menceritakan masalahnya, Kotoko kaget mendengarnya, “Jadi kau tidak bisa menghabikan malam Natalmu bersama Narasaki-kun? Tapi itu malam Natal pertama kalian.” Jinko masih menangis dan menceritakan jika Narasaki memutuskan untuk mengikuti konser karena pekerjaannya sebagai musisi, ‘Hari Natal adalah hari cinta, pekerjaan seorang musisilah untuk menyebarkan cinta di hari seperti itu’ begitu kata Narasaki pada Jinko. Kin-chan berkomentar bukankah Jinko bisa bersama dengan Narasaki setelah konser? Konsernya bukan di Tokyo melainkan di Sendai. Konsernya akan selesai malam sekali, jadi Narasaki tidak mungkin pulang malam itu juga. Kotoko bertanya, Narasaki ingin jadi musisi pro kan? jadi Jinko tak bisa apa-apa. Tapi tetap saja, Jinko merasa sedih karena tidak bisa merayakan Natal bersama sang kekasih.
Kotoko dan Kin-chan menghibur Jinko dengan membiarkannya makan banyak untuk mengurangi kesedihannya. Belum selesai Jinko menangis, Satomi datang dan mengeluhkan hal yang serupa, kekasihnya Ryu, tidak bisa merayakan Natal bersamanya. Kotoko kaget mendengarnya, Satomi juga? Kin-chan malahan pura-pura pingsan mendengarnya saking kagetnya, bagaimana bisa kebetulan seperti ini?
Kotoko, Jinko dan Satomi berjalan bersama. Satomi menceritakan bahwa Ryu tidak bisa libur dari kerja sambilannya supaya bisa membelikan hadiah untuk Satomi. Tapi baginya yang penting bukan hanya materi semata, kenapa pria tidak bisa memahami keinginan wanita. Jinko membenarkan pendapat Satomi dan keduanya merasa kecewa bersama. Kotoko yang sejak tadi diam di belakang Jinko dan Satomi langsung maju ke depan dan mendukung pendapat Jinko dan Satomi tentang lelaki. Kotoko pun mengajak mereka berdua untuk merayakan Natal bersama.
Mereka bertanya bukan kah Naoki akan pulang di malam Natal? Dengan sedih Kotoko bercerita bahwa Naoki harus tetap bekerja di Restoran di malam Natal dan lebih buruknya lagi, dia bekerja bersama Yuko Matsumoto. Jinko dan Satomi merasa itu sangat buruk. Kotoko tetap merasa kecewa dengan sikap Naoki yang tidak memahami dirinya meskipun dia bukan Pacarnya Naoki. Jinko dan Satomi tidak mempermasalahkannya, mereka menyetujui ide Kotoko agar mereka merayakan Natal bersama.
Mereka pun saling berjanji dengan saling menyahut dan menyatukan tangan mereka,
“Bagaimanapun,  kita tidak bisa percaya lelaki. Benar. Kita hanya bisa  percaya dengan teman perempuan. Oke.  Berikan tanganmu. Ayo berjanji… untuk menikmati Malam Natal yang indah hanya kita bertiga! Setuju! Tidak boleh berkhianat.”
Kin-chan datang dan meminta mereka untuk mengajaknya berpesta bersama. Jinko, Satomi dan Kotoko melihatnya dengan dingin membuat Kin-chan sedikit ketakutan. Kin-chan berpikir ketiganya menganggap Kin-chan seperti para pria yang tidak memahami mereka, “Aku tidak seperti mereka. Tolong ajak aku jika kalian akan mengadakan pesta, aku akan bekerja sangat keras untuk membuat makan malam Natal. Aku tidak akan mengecewakan kalian. Mari menikmati… malam yang indah… bersama!”
Kotoko, Jinko dan Satomi masih menatap dingin Kin-chan, membuat Kin-chan merasa heran dan bingung, ada apa sebenarnya dengan mereka. Jinko berkata, “Kau memang hanya magang, tapi kau juga bekerja di restoran.” Kotoko menimpali, “Benar. Bagaimana dengan Aihara?” Giliran Satomi yang menambahkan, “Tepat sekali. Tidak ada satupun restoran di dunia yang membolehkan libur di Malam Natal.”
Kin-chan kaget mendengarnya dia sepertinya tak tahu tentang hal itu. Jinko, Satomi dan Kotoko meninggalkan Kin-chan yang masih kaget dan bingung. Kin-chan pun berberteriak pada ketiganya, “Mungkin aku bisa cepet selesai bekerja karena ini Malam Natal” Jinko, Satomi dan Kotoko tidak mempedulikannya dan tetap meninggalkan Kin-chan.
Di Restoran Aihara, teman kerja Kin-chan sibuk menerima pesanan meja, sementara Kin-chan malah sibuk memikirkan Natal bersama Kotoko. Namun saat dia melihat pesanan meja di Airaha sudah penuh dia jadi pesimis dan bertanya pada temannya mengapa itu bisa terjadi. Ini adalah malam Natal, mereka bahkan akan menerima tamu yang tidak melakukan pesanan, mereka akan sibuk di malam Natal.
Kin-chan langsung hopeless, Natal adalah hari libur untuk orang Kristiani mengapa mereka malah makan di Restoran Jepang? Temannya berkata, bahwa hari Natal adalah hari baik untuk semua restoran, mereka harus bekerja keras malam ini karena sekitar jam 9 malam Bos (Ayah Kotoko) akan pergi karena urusan penting. Urusan apa? Mungkin Pesta Natal, Kin-chan jadi sedih mengetahui kenyataan bahwa dia sepertinya akan tertahan di Restoran Aihara semalaman.
Di rumah keluarga Irie, Tuan dan Nyonya Irie sedang membicarakan pesta yang akan diadakan Perusahaan tuan Irie di Hotel Prince sebagai ucapan terimakasihnya pada para pegawainya yang telah membangun perusahaannya selama ini. Mereka berkata bahwa Ayah Kotoko pun akan datang setelah selesai bekerja karena beberapa relasi Tuan Irie adalah pelanggan Ayah Kotoko dan Tuan Irie pun ingin mengenalkan beberapa orang calon pelanggan lain pada Ayah Kotoko.
Nyonya Irie berharap Kotoko juga bisa datang ke pesta Natal perusahaan Tuan Irie. Kotoko sudah membayangkan akan mendapatkan pesta Natal terindah di Hotel Prince, namun kemudian dia teringat janjinya bersama Jinko dan Satomi. Dengan menyesal Kotoko berkata bahwa dia sudah ada rencana di malam Natal. Nyonya Irie langsung khawatir, apakah Kotoko mempunyai janji dengan pria, apakah Kotoko sudah menemukan pria lain selain Naoki? Kotoko langsung mengelak dan bertaka, “Tidak Mungkin, aku ada janji dengan Jinko dan Satomi”
Nyonya Irie lega namun sekaligus sedih, karena Kotoko tidak bisa membatalkan janjinya untuk berpesta bersama Jinko dan Satomi meskipun Nyonya Irie sudah mencoba membujuknya. 
 
Yuki bertanya tentang Naoki, apakah Naoki akan datang ke pesta itu. Kotoko dan Ny. Irie mengatakan tidak akan, karena Naoki tidak bisa libur di malam Natal. Yuki merasa pesta Natal itu tidak asyik jika tidak ada Kakaknya. Tuan Irie pun tampak sedih mendengar anak sulungnya tidak bisa hadir.
Tuan Irie merenung sendirian setelah mendengar bahwa Naoki tidak akan bisa datang. Akhirnya Tuan Irie memutuskan mengajak Naoki bertemu di meja bar sebuah restoran. Naoki heran dengan tingkah Ayahnya tidak biasanya Sang Ayah mengajaknya bertemu di tempat seperti itu. Naoki tahu pasti ada sesuatu. Tuan Irie menyinggung tentang pesta Natal, Tuan Irie berharap Naoki bisa datang. Naoki mengerti bahwa tujuan Ayahnya memintanya datang untuk memperkenalkannya sebagai penerusnya, tapi Naoki belum memutuskan untuk meneruskan perusahaan Ayahnya.
Tuan Irie sudah tahu itu, tapi dia memohon dengan sangat pada Naoki supaya dia datang ke pesta Natal itu. “Aku tidak mengharapkan apapun selain itu sekarang. Aku hanya ingin kamu datang, itu saja. Tolong. Aku mohon.”
Di perjalanan pulang setelah bertemu dengan Ayahnya Naoki melewati toko buku bekas. Naoki pun masuk ke dalam Toko buku itu melihat-lihat buku-buku kedokteran. Naoki teringat perkataan Kotoko saat gadis itu menginap di apartemennya, “Tapi menurutku kamu bisa, Irie-kun. Kamu bisa membuat obat baru… Atau kamu bisa jadi dokter dan menyembuhkan penyakit dalam sekejap.” Naoki mengambil sebuah buku dan membacanya. Buku yang dibacanya adalah Pengantar Ilmu Kedokteran.
Kotoko, Ny. Irie dan Yuki sedang menghias pohon Natal. Mereka mendengar seseorang yang datang, Ny. Irie berpikir suaminya pulang cepat, ternyata Naoki yang datang. Kotoko kaget melihatnya, “Irie-kun mengapa kau ada di sini?” Dengan gaya cool, Naoki duduk di salah satu sofa di ruang keluarga dan berkata, “Apa salah jika aku kembali ke rumahku?” Kotoko jadi gugup campur senang dia hanya tidak menyangka jika Naoki akan kembali karena sudah lama. Ny. Irie bertanya apa yang membawa Naoki datang ke rumah? Dengan tenang Naoki menjawab bahwa dia akan mengambil setelan Jas yang akan dia pakai ke pesta Natal karena dia tidak mungkin memakai jins untuk datang ke pesta itu. Ny. Irie. Kotoko dan Yuki langsung heboh saat mengetahui Naoki akan datang meskipun Naoki akan datang terlambat setelah dia selesai bekerja, dia hanya akan datang untuk setor muka saja. Yuki sudah sangat kesenangan saja mendengar kakaknya akan datang. Ny. Irie lebih-lebih, dia berkata, “Terima kasih. Papa pasti akan sangat senang!”
Kotoko ikut bahagia mendengarnya, dia pun langsung berpikir, jika dia datang juga ke pesta Natal perusahaan Tuan Irie maka dia akan menghabiskan malam Natal bersama Naoki, tapi dia sudah terlanjur membuat janji dengan Jinko dan Satomi, ini jadi pilihan yang sulit baginya. Hmm,, tapi sekali-kali mengabaikan janji dengan teman-temannya sepertinya tidak apa-apa kan. Kotoko pun bermaksud untuk berkata bahwa dia juga ingin datang ke pesta itu. Sayangnya Naoki langsung menyela bahwa Kotoko tidak bisa datang.
Kotoko langsung kaget mendengarnya.  Naoki berkata, bukankah Kotoko sudah punya rencana dengan teman-temannya? Ny. Irie meminta Naoki untuk membujuk agar Kotoko bisa datang ke pesta itu. Kotoko ingin mengatakan tanpa dibujuk pun dia sudah mau datang, tapi Naoki mengingatkan Kotoko tidak bisa datang karena dia sudah lebih dulu membuat rencana dengan teman-temannya. Bukankah pertemanan Kotoko dengan mereka sangat penting? Ny. Irie berkata, “Tapi kamu tidak bisa mempercayai teman perempuan… Lagipula ini Malam Natal.” Kotoko semakin goyah saja, tapi Naoki mengingatkan, “Tidak… pertemanan mereka sangat spesial. Bukan begitu, Kotoko-san?” Kotoko tak bisa berkutik lagi, apalagi Naoki langsung pergi setelah itu. Yuki mengejar Naoki diikuti Ny. Irie yang bertanya bagaimana jika Naoki memakai setelan Jas yang dipakainya saat perpisahan SMAnya.
Kotoko yang ditinggal sendirian jadi geram pada Naoki, “Tidaakkk… Irie-kun jahat. Tapi aku tidak bisa apa-apa. Karena aku sudah berjanji tidak akan mengkhianati mereka” Dengan menahan kesalnya Kotoko kembali menghias pohon Natal sambil bernyanyi tentang Natal.
Jinko dan Satomi sangat senang saat melihat-lihat kue di katalog yang akan mereka jadikan camilan di malam Natal mereka. Satomi berkata dia akan memesan tempat, Jinko tidak sabar menanti malam Natal karena kue-kue itu kelihatannya enak. Satomi dan Jinko sudah berteriak-teriak saja. 
 
Sementara Kotoko malah sibuk berpikir, ‘Akh,,, Pergi ke pesta dengan Irie…’ Kotoko langsung senyum-senyum gaje memikirkan hal itu sampai-sampai dia tidak mendengar saat Jinko dan Satomi memanggilnya. “Kotoko? Kotoko! Kotoko! Kotookoo, apakah kau mendengarkan?”
Setelah dipanggil berkali-kali barulah Kotoko tersadar dan mencoba fokus pada Jinko dan Satomi yang sangat bersemangat mempersiapkan pesta natal mereka. “Lihat lah, mereka kelihatan enak sekali” Satomi menyodorkan katalog kue yang akan mereka pesan. Jinko berseru dia akan membawa beberapa potong ayam dan permainanan. Dan,,  tentu saja mereka tidak boleh melupakan hadiah di hari Natal.
Melihat Jinko dan Satomi sangat bersemangat mempersiapkan pesta natal mereka Kotoko tersenyum lega kemudian bergunam dalam hati, ‘Mereka sangat semangat soal ini. Aku membuat pilihan yang benar. Ya,,, Pilihan yang benar.
Malam Natal pun akhirnya tiba. Keluarga Irie sedang bersiap-siap untuk pergi ke pesta Natal. Ny. Irie sedang memasangkan dasi pada Yuki di ruang keluarga dan Kotoko ada di sana. Tuan Irie datang dan bertanya apakah semuanya sudah siap? dan bagaimana dengan Naoki? Ny. Irie berkata mereka sudah siap dan Naoki akan pergi langsung dari tempat kerjanya, Tuan Aihara pun begitu. Tuan Irie tidak mempermasalahkannya dan mengajak Ny. Irie dan Yuki untuk bersiap pergi.
Ny. Irie sangat menyayangkan karena Kotoko tak bisa pergi ke pesta bersama mereka, apalagi Naoki ikut lhooo,,, Apakah Kotoko yakin dia tidak mau ikut? Kotoko pun bersedih, tapi mau bagaimana  lagi, dia sudah terlanjur berjanji dulu dengan Jinko dan Satomi. Ny. Irie mencoba memahaminya.
Kotoko berterima kasih, karena Tuan dan Ny. Irie meminjamkan rumah mereka untuk dipakai berpesta bersama Jinko dan Satomi, kedua temannya itu sangat senang. Ny. Irie membebaskan Kotoko untuk memakai rumahnya dan Tuan Irie malah berterimakasih karena dengan adanya Kotoko dan teman-temannya di rumah, dia jadi tenang meninggalkan rumah. Kotoko bingung dengan hal itu. Tuan Irie menjelaskan bahwa karena akhir tahun dan semua orang sibuk, bahkan di komplek perumahan itu ada pencuri yang sudah membobol rumah di sekitar situ. Tapi karena Kotoko dan teman-temannya akan ramai, rumah mereka akan aman.
Kotoko mengerti dan mengucapkan banyak terimakasih. Ny. Irie masih menyayangkan karena Kotoko tidak bisa ikut tapi dia berharap Kotoko bisa bersenang-senang, Kotoko juga berharap Ny. Irie bisa bersenang-senang juga.  Keluarga Irie pun pamit pergi pada Kotoko dan meninggalkannya sendirian di rumah.
Setelah ditinggal pergi, Kotoko langsung merasa nelangsa dan memikirkan Naoki dengan dengan setelan jasnya, pastinya keren sekali. Kotoko pun memikirkan pesta Natalnya, “Pesta, ya?” Kotoko pun langsung membayangkan dirinya berada di pesta dengan gaun yang indah dan dandanan yang cantik, Naoki datang menghampirinya. Naoki memakai setelan jas yang rapi dan terlihat sangat tampan sambil berjalan dengan sangat cool ke arahnya. Kotoko tampak sangat takjub.
Naoki berhenti di hadapan Kotoko dan mengajaknya berdansa, “Boleh Aku berdansa denganmu?” Kotoko menerima ajakan Naoki dengan senang hati dan mereka pun berdansa dengan sangat indah sambil diiringi musik yang romantis. Kotoko tersenyum bodoh saat memikirkan khayalannya itu, namun dia tersadar, malam ini adalah malam perempuan. “Malam ini adalah Malam Perempuan bersama Jinko dan Satomi” Kotoko berseru menyemangati dirinya. Kotoko pun melakukan persiapan pestanya dengan penuh semangat meskipun menemui beberapa kesulitan.
Yuko cemberut saat melayani tamu karena dia tidak bisa menghabiskan malam Natalnya bersama Naoki dengan bekerja semalaman di restoran. Ternyata tamu yang dilayaninya adalah Sudo Senpai yang berbasa basi pada Yuko dengan mengatakan bahwa dia tak menyangka Yuko bekerja di restoran itu saat makan malam. Sudo Senpai mengajak Yuko makan malam setelah dia selesai bekerja. Dengan ketus Yuko mengingatkan bahwa Sudo Senpai sudah makan malam bahkan dengan porsi dua orang.
Yuko langsung pergi melayani tamu yang lain, Sudo Senpai kembali meminta air dengan menekan-nekan bel dan memanggil Yuko. Sayangnya Yuko tidak mempedulikannya dan malah berjalan pergi menuju dapur. Merasa diabaikan Sudo Senpai tak tinggal diam, dia malah mengejar Yuko yang berjalan semakin cepat.
Kotoko sudah selesai mempersiapkan pestanya bersama Jinko dan Satomi di rumah keluarga Irie, dia bahkan sudah berdandan cantik dan menyiapkan makanan. Kotoko duduk di hadapan makanan yang sudah disiapkannya, dia bergunam, “Aku berharap, orang yang aku tunggu adalah Irie-kun” Kotoko menyingkirkan pikiran itu dengan meyakini Jinko dan Satomi akan segera datang.
Ponsel Kotoko berdering, Jinko yang menelponnya. Jinko memberitahukan bahwa konser Narasaki di Sendai dibatalkan dan Narasaki akhirnya kembali ke Tokyo dengan kereta demi Jinko. Dia tidak bisa meninggalkan Narasaki dan pergi ke pesta, dia meminta ijin Kotoko untuk membiarkannya memilih pacarnya kali ini saja. Kotoko sebenarnya kecewa, namun dia hanya bisa berkata, dia mengerti dan akan bersenang-senang bersama Satomi.
Tak lama kemudian, Satomi pun menelponnya dan mengatakan bahwa ternyata Ryu berbohong tentang bekerja semalaman di malam Natal. Ryu hanya ingin memberinya kejutan dia datang dengan membawa sebuket bunga mawar, bahkan sudah memesan tempat di restoran sejak dulu. Satomi meminta maaf karena dia tidak bisa menghabiskan malam Natal bersama Kotoko dan Jinko, dia berjanji lain kali dia akan mentraktir mereka berdua. Makin kecewalah Kotoko, tapi dia juga tak bisa apa-apa kecuali memahami sahabatnya itu. Kotoko berkata pada Satomi bahwa dia akan bersenang-senang dengan Jinko.
Haaah,,, “Akhirnya aku lah yang dikhianati” Kotoko sangat menyesali semua ini. Jika tahu akan jadi seperti ini dia seharusnya pergi ke pesta Natal Tuan Irie. Ahaa,, Kotoko langsung mendapat ide. Dia akan pergi ke pesta Natal itu saat ini, Kotoko langsung membayangkan dirinya pergi ke pesta tersebut. Kotoko berkata pada keluarga Irie bahwa Satomi dan Jinko tiba-tiba ada kencan dengan para kekasih mereka. Maka reaksi Ny. Irie yang dibayangkan Kotoko adalah, “Lihat? Aku sudah beritahu kan? Kamu tidak bisa mempercayai teman perempuan.” Komentar Yuki bahkan akan lebih kejam lagi, “Kamu bahkan dikhianat teman-temanmu, Baka Kotoko! Kalau kamu seperti itu, Onni-chan akan semakin membencimu.” Tidaaaakkk,, Kotoko tidak ingin menerima reaksi yang seperti itu. Sama sekali tidak keren. Kotoko memilih menghabiskan malam Natalnya sendirian saja di rumah.
Di Restoran Aihara, Ayah Kotoko bersiap untuk pergi ke Pesta Natal perusahaan Tuan Irie, dia menitipkan restoran pada Kin-chan dan pegawai lainnya. Mereka hanya tinggal memiliki satu pemesan lagi jadi mereka bisa menanganinya sendiri tanpa sang Bos. Si Pemesan itu pun akhirnya datang, Kin-chan kaget saat mengetahui siapa yang datang, dia adalah Satomi dan pacarnya. Satomi juga tak menyangka jika pacarnya akan membawanya ke Aihara, dia jadi tak enak saat bertemu Kin-chan, Ryu malah takjub saat tahu Satomi mengenal salah satu pelayan restoran favoritenya itu. Kin-chan bertanya bukan kah seharusnya Satomi berpesta dengan Kotoko? Satomi menjelaskan pada Kin-chan bahwa pacarnya tiba-tiba menjemputnya untuk makan malam bersama di malam Natal sehingga dia tidak bisa berpesta dengan Kotoko. Kin-chan jadi khawatir, “Jadi Kotoko sekarang sendirian?” Satomi menjawab, Kotoko sedang bersama Jinko, mereka pasti sedang menjadi liar saat ini.
Saat rekannya sibuk melayani Satomi dan Ryu, Kin-chan menelpon Jinko dan malah mendengar suara ribut-ribut saat Jinko menjawab teleponnya. Kin-chan bertanya, apa itu? Jinko menjelaskan bahwa dia sedang membantu Narasaki untuk mempersiapkan konsernya karena pacarnya itu tidak jadi konser di Sendai. Kin-chan kaget, dia berpikir Jinko sedang berpesta bersama Kotoko. Jinko mengatakan bahwa Kotoko sedang berpesta dengan Satomi. Kin-chan mengerti dan menutup telepon. Dia akhirnya tahu bahwa Kotoko sedang menghabisakan malam natalnya sendirian di rumah keluarga Irie.
Di tempat pertunjukan dadakan Narasaki, Jinko sangat bersemangat membantu Narasaki mempersiapkan konsernya. Setelah persiapannya selesai Narasaki mulai menyanyi, “Cinta,, cinta.. cinta..” Jinko sangat menikmati nyanyian pacarnya itu.
Naoki yang akan pergi ke pesta Natal perusahaan Ayahnya melewati jalan tempat Narasaki melakukan konser dadakan, dia melihat Jinko yang sedang berbahagia menemani Narasaki konser, dia tahu bahwa Kotoko tak berpesta dengan Jinko. Naoki jadi teringat kata-kata ibunya bahwa teman perempuan itu tidak bisa dipercaya, apalagi ini malam Natal. Dia juga teringat pada ekspresi Kotoko saat itu. Naoki merenung dia memikirkan sesuatu.
Kotoko sepertinya hampir mati bosan karena harus menghabiskan malam Natalnya sendirian di rumah keluarga Irie. Kotoko menggunamkan harapannya, “Merayakan Natal bersama Irie-kun” dia sudah seperti robot saja saat mengatakan hal itu dia pun memakan snacknya dengan gaya yang lucu. Tiba-tiba saja perutnya berbunyi, Kotoko sepertinya kelaparan.
Kotoko pergi ke dapur mencari makanan, dia mengeluhkan Jinko dan Satomi yang berjanji membawa ayam dan kue, tapi mereka malah tidak datang. Kesana kemari mencari makanan, Kotoko hanya menemukan makanan instan, Mie Ramen.
Sambil menonton TV, Kotoko memakan Mie Ramennya, dia mendengarkan suara acara TV dengan bête, karena apa yang dikatakan acara TV itu seolah mengejeknya. “Ini Malam Natal, semua! Apa yang kalian lakukan sekarang? Makan malam bersama dengan kekasih? Aku tak bisa membayangkan seseorang
makan malam sendirian. Aku rasa orang seperti itu tidak ada. Kalau ada orang seperti itu, dia pasti punya masalah kepribadian. Lagipula Natal sangat menyenangkan. Kemanapun kau pergi, ada spirit Natal.”  Kotoko tetap memakan Mienya, namun akhirnya dia berkata, “Aku merasa hampa”
Tiba-tiba Kotoko mendengar suara di pintu masuk, “Apa itu?” Semakin lama suaranya semakin jelas. Kotoko jadi teringat kata-kata Tuan Irie tentang pencuri yang sudah berhasil membobol beberapa rumah di komplek perumahan itu. Kotoko langsung panik dan ketakutan. Kotoko pun bersembunyi di tangga dia mendengarkan suara krasak krusuk yang semakin jelas di luar pintu. Kotoko berpikir apa mungkin itu pencuri? Tapi itu sangat mungkin karena keluarga Irie adalah keluarga kaya.
Kotoko mendengar orang di luar mencoba membuka kunci pintu masuk, Kotoko semakin ketakutan apalagi saat orang di luar berhasil membuka pintu. Kotoko naik ke atas dan bingung harus bagaimana. Kotoko teringat sesuatu dan naik ke kamarnya dia mengambil raket dan bersiaga dengan raketnya. Kotoko turun dan mulai mengintai, dia tahu orang tersebut telah masuk. Kotoko bersiaga di dekat pintu ke ruang keluarga dan saat merasa ada orang yang menghampirinya Kotoko langsung memukulkan raketnya itu pada orang tersebut sambil mengatainya pencuri.
“Apa yang kamu lakukan?” Kotoko berhenti memukul, dia melihat orang yang baru saja masuk, ternyata dia adalah Naoki. “Irie-kun? Maaf… kau tidak apa-apa?” Kotoko kaget melihatnya dan segera meminta maaf. Kotoko langsung terpesona saat melihat Naoki memakai setelan jasnya dalam hati dia bergunam, ‘Keren Sekali’ tapi lama-lama dia tersenyum dan menahan tawa hingga tawanya meledak.
Naoki bingung dengan sikap Kotoko dan bertanya “Ada apa?” Kotoko merasa ini sangat lucu,”Kau kelihatan tampan tapi kau kena pukul di kepala… Dan lagi, ini rumahmu sendiri…” Kotoko tidak bisa menahan tawanya. Naoki jadi kesal dan berkata, “Kau yang melakukannya!” Kotoko pun meminta maaf, “Maafkan aku” Tapi Kotoko terus tertawa tebahak-bahak, Naoki pun menatap Kotoko penuh arti, sepertinya dia juga bahagia bisa melihat Kotoko tertawa lepas seperti itu.
Kotoko mencoba mengompres kepala Naoki yang tadi dia pukul dengan es batu, tetapi Kotoko ragu-ragu melakukannya, sehingga Naoki mengambil inisiatif melakukannya sendiri. Kotoko jadi merasa bersalah, “Maaf Irie-kun. Aku mendengar suara dari luar pintu, jadi aku pikir kau adalah pencuri.” Naoki menjawab dengan cool, “Aku mencoba masuk dengan kunci apartemenku, Huh,, Kau memukulku dengan cukup keras” Sekali lagi Kotoko meminta maaf pada Naoki.
Kotoko lalu duduk di ujung sofa yang diduduki Naoki, Kotoko bertanya tentang pesta Perusahaan Ayah Naoki, Apakah Naoki tidak datang ke sana? Naoki menjawab dia sudah datang, tapi dia pergi ditengah-tengah. Yang Naoki lakukan hanyalah menemui para klien dan dia merasa bosan. Noki balik bertanya lalu bagaimana dengan Kotoko? Bukankah Kotoko ada janji dengan teman-temannya? Kotoko meringis, “Akh,, Itu,, Jinko dan Satomi tiba-tiba ada rencana dengan pacar-pacar mereka.” Naoki mengejek, “Hmmm,, Bukan kah pertemanan kalian cukup kuat ya?”
Kotoko jadi tidak enak hati, “Jangan bilang begitu…”
Kotoko merasa sedih karena pestanya bersama Jinko dan Satomi gagal, tapi kesedihannya langsung teralihkan saat dia mencium bau sesuatu, “Hah?? Bau apa ini?” Akh,, Naoki baru ingat, dia membawa sesuatu. Naoki mengambil apa yang dibawanya dan menyimpannya di atas meja. Dia membuka plastiknya dan ternyata satu cup besar Ayam Goreng. Kotoko kegirangan melihatnya, “Ayam? Apakah itu untukku?” Naoki menyangkal, “Tidak Mungkin, aku lapar, karena di pesta hidangannya prasmanan jadi aku tidak bisa makan banyak” Perut Kotoko langsung berbunyi, dia merasa malu dan berkata, “Aku tadi hanya makan semangkuk mi ramen instan”  Kotoko jadi tertawa menahan malu, Naoki menatap Kotoko sekilas. (Eheemm,, pasti Naoki sengaja bawa Ayam untuk Kotoko, jika tidak mana mungkin sengaja membeli yang cup besar kan?)
Restoran Aihara akhirnya tutup juga. Kin-chan sedang membersihkannya, dia meminta ijin pada seniornya untuk meminjam dapur sebelum pulang. Apa yang akan di lakukan Kin-chan? Tentu saja membuat makanan untuk Kotoko. Dengan sepenuh hati Kin-chan membuatnya bahkan ada tulisan “Selama Natal Kotoko”
Sementara itu, Kotoko sedang menikmati Ayam yang dibawakan Naoki. Dia sangat menikmati Ayam tersebut. Kotoko meliriki Naoki yang sedang menyesap minumannya dan berguman dalam hati, “Aku makan malam bersama Irie-kun di Malam Natal” Kotoko tersenyum-senyum sendiri memikirkan hal itu. Lalu dia mengingat sesuatu. Kotoko menyimpan Ayamnya dan mematikan lampu sehingga ruangan menjadi remang-remang dan lampu di pohon Natal terlihat jelas. Kotoko duduk kembali dan menyalakan lagu Natal. Kotoko menikmati semua itu dan berkata dia menyiapkan semuanya untuk Jinko dan Satomi. Kotoko merasa Malam ini benar-benar Malam Natal, Naoki bertanya, “Benarkah?”
Kotoko lalu bercerita, “Aku pikir ini pertama kali karena aku sudah cukup tua untuk mengingat. Ibuku meninggal saat aku masih kecil. Ayahku selalu bekerja di restoran sampai tengah malam di Malam Natal. Aku memang pernah berpesta  dengan teman-teman, tapi… Aku belum pernah menghabiskan  Natal dengan keluargaku.” Naoki menatap Kotoko, entah apa yang dia rasakan.
Kotoko mulai sibuk dengan pikirannya sendiri dan berguman di dalam hati sambil malu-malu,
Walaupun ini hanya kebetulan… aku bisa menghabiskan Natal sungguhan bersama Irie-kun. Seperti mimpi. Mungkin ini hadiah Natal terbaik yang pernah aku terima selama hidupku.’
Jinko bahagia merayakan Natal bersama Narasaki dengan menemaninya menyanyi di konser dadakannya. Satomi dikejutkan Ryu dengan sebuah hadiah Natal yang tidak di duganya, dia sangat terharu dengan apa yang dilakukan kekasihnya itu. Semua orang bahagia, begitu juga Kin-chan yang berusaha membahagiakan Kotoko.
Kin-chan pergi ke toko aksesosris Natal, dia mencari sesuatu,”Santa,,, santa” Untung saja pelayan tokonya mengerti dan memberikannya pakaian santa yang tinggal satu lagi. Kin-chan sangat senang mendapatkannya, jangan-jangan dia sudah mencari-cari ke beberapa toko dan baru mendapatkannya.
Untuk menyempurnakan malam Natalnya, Kotoko berpikir dia harus membeli kue. Kotoko langsung berdiri dan berkata, “Aku akan beli kue. Ini Natal yang indah. Malu sekali jika tidak ada kue. Mungkin aku bisa dapat satu di toko.” Kotoko segera bergegas untuk pergi mencari kue, tapi Naoki menghentikannya, “Kita Punya…” Kotoko bingung dan berbalik menatap Naoki, “Kue…” (Bahkan Naoki pun sudah menyiapkan kue Natal mereka, Akh,, So Sweet^^)
Kotoko mendapatkan kuenya, dia merasa bingung dengan ada kue tersebut, apakah itu dari Santa? Naoki berpikir Kotoko bodoh mana mungkin begitu. Kotoko akhirnya sadar kue itu dari Naoki dan dia langsung kegirangan, “ Mungkinkah kamu tahu kalau aku di rumah dan kamu membelinya untukku?” Tentu saja Naoki menyangkal, “Bagaimana kau bisa terlalu percaya diri? Teman kerjaku memintaku untuk membeli ini. Dia tidak bisa pulang kecuali dia bisa menjual yang terakhir.” Naoki lalu pergi membawa kuenya dan Kotoko masih berdiri di tempatnya sambil bersuka cita. Apapun yang dikatakan Naoki dia sudah sangat senang karena Naoki membawa kue Natal.
Kin-chan berjalan dengan gembira menuju rumah keluarga Irie. “Tunggu saja Kotoko, Aku akan membawakan makanan yang enak”
Naoki dan Kotoko membuka kue Natal mereka. Kotoko menyalakan lilinnya, “Sekarang buat harapan…” Dengan dingin Naoki mengingatkan “Itu Kue Ulang Tahun” Kotoko jadi malu sendiri, “Hah? Begitukah?”
Kin-chan akhirnya sampai di rumah keluarga Irie, dia bersiap ke pintu masuk, namun dia memilih jalan lain, dia ingin mengejutkan Kotoko, dia pun pergi ke pintu belakang.
Kotoko malu-malu, dia mengucapkan terimakasih pada Naoki, masih dengan nada dinginnya Naoki berkata kue itu bukan untuknya. Kotoko berkata, “Tapi kue ini ukurannya untuk berdua” Naoki masih beralasan, “Hanya kebetulan” Kotoko tertawa menyadari kesalahpahamannya. Kotoko berceloteh, “Kau bisa ambil Santanya, Oke?” Naoki tidak peduli dan Kotoko tertawa lagi.
Kin-chan sampai di belakang rumah keluarga Irie, sebelum ke pintu belakang, Kin-chan mengintip dulu, dia bingung mengapa gelap sekali, Kin-chan menatap ke dalam rumah lewat jendela dan melihat pemandangan yang menyayat hatinya. Kotoko dan Naoki yang sedang berdua di Malam Natal.
Kotoko bersikeras bahwa mereka harus membuat harapan, Naoki menantang,”Kau saja duluan” Kotoko tampak terharu, “Bolehkah?” Kotoko langsung memejamkan mata dan menyimpan dua tangannya yang tergenggam di depan dada. Dia mulai membuat permohonan sementara Naoki menatapnya,,, Ehm,,, penuh dengan tatapan kasih sayang. Kotoko membuka matanya dan meniup lilin yang ada di kue itu dibawah tatapan Naoki. Ruangan itu pun menjadi gelap, sementara Kin-chan menatap kebersamaan Naoki dan Kotoko dengan hati sedih.
 ~~~bersambung~~~
Thanks to IDWS and islandsubs
 Written by Irfa  (Blog)
Head image : IDWS
Image by +ari airi [Twitter]
Only Posted on pelangidrama.net
DO NOT REPOST TO OTHER SITE!!! 
Dont’t ask next episode, ok!

3 pemikiran pada “[Sinopsis J-Drama] Itazura na Kiss ~ Love in Tokyo Episode 11

  1. Beuh jadi Kin-chan sakit banget ntu lihat orang yg dicintainya berduaan ama org lain hiks2 poor Kin-chan, ternyata janji antar sesama teman perempuan itu perlu diragukan ya kalau sudah ada gebetan wkwkwkwkwkw

    Suka

  2. @ari
    bnr2, g tega lht KIn-chan d episode ini, hehe…andai kotoko bs dbelah dua gtu(^^g mungkn bgt kan).
    yg pasti kin-chan d versi ini plg adorable, en kykny bnyk pgemarny jg

    hira

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s