[Sinopsis J-Drama] Limit Episode 3

Gomennasai minnasan, baru bisa lanjut lagi , yup kali ini diawali narasi dari Haru Ichinose, jadi episode ini akan menceritakan penyebab Haru bersikap seperti sekarang ini.

~Sinopsis Limit episode 3~

Aku tidak pernah diliputi kegelisahan,  semakin aku menginginkan sesuatu…semakin mudah hilang dari tanganku. Mereka pergi jauh dariku..dan aku menjadi sendirian.”

Moriko memanipulasi perasaan Haru dan Konno agar keduanya mau bertarung memperebutkan posisi diatas budak agar dapat memperoleh makanan.
“Bukankah sebenarnya kau membenci Konno?”selidik Moriko, ia tak peduli selaan Konno. Moriko terus mempengaruhi Haru, ia bilang kalau Konno yang merebut posisinya jadi sudah pasti Haru sangat membencinya.  Jadi kini saatnya Haru merebut posisi Konno, Haru bersiap-siap dengan sebilah kayu runcing di tangan siap menerjang Konno. Moriko tersenyum senang melihat kedua sahabat ini akan saling terjang, Usui dan Konno ketakutan, hanya Kamiya yang menunjukkan sifat tenangnya. “Haru! Jangan!”rintih Konno saat Haru hendak menusukkan sebilah kayu runcing tersebut, beruntungnya Konno dapat menghindarinya. Haru yang tersulut emosinya karena provokasi Moriko beralih mencekik Konno.

 

“Haru, jangan. Hentikan! Bukankah kita teman?”seru Konno diantara sela2 nafasnya yang tersengal-sengal. Konno berhasil mendorong Haru hingga menjauh, Haru segera mencari karet rambut yang terlepas. Ia mengambil penuh kelembutan karet rambut pemberian Sakura.
“Kita bukan teman. Sedari awal, aku tidak pernah melihatmu sebagai teman. Selama ini kau membuatku muak”seru Haru kesal. Kamiya segera menengahi begitu Haru kembali ingin menyerang Konno. Ia menancapkan sebilah kayu runcing tersebut di samping Konno, membuat yang lain tak percaya dengan apa yang dilakukan Kamiya yang pembawaannya tenang.
“Tak seorang pun ingin melihat pertengkaran bodoh kalian. Kau menjadi budak, Konno-san. Seperti yang diputuskan Morishige.”tegas Kamiya. Lalu ia mengingatkan kalau budak tak mendapat jatah makanan,air dan juga harus tidur di luar. Kamiya segera menyeret Konno yang tak kuasa melawan. Moriko memuji kinerja Kamiya, lalu ia bertanya apakah Haru serius menusuk Konno padahal hanya dipancing sedikit, terlihat Haru mudah sekali dihasut. Moriko memandang rendah Haru, mendengar kata2 Moriko rasa menyesal menghampiri Haru. Ia tak menyangka dirinya akan berbuat senekat itu.

Di sekolah, Igarashi sensei berusaha menghubungi bu Takeda dan pak Yamasaki yang menemani murid2nya kemping namun tak ada jawaban. Ia pun makin frustasi saat menghubungi pool bus namun kantornya sudah tutup.

Kamiya membantu memapah Konno duduk dibawah pohon besar di luar gua. Kamiya meminta maaf atas apa yang dilakukannya tadi, Konno tak mengerti dengan perubahan sifat Kamiya.
“Dia mungkin belum puas jika aku tidak melakukan ini. Itu adalah cara menghentikan Morishige Pokoknya, untuk sekarang jangan mencoba memancingnya. Pura-pura saja mematuhinya. Nanti akan kuambilkan air.”ungkap Kamiya mengemukakan pemikirannya.
Konno masih tak percaya Haru akan melakukan hal seperti tadi padahal selama ini hubungan keduanya baik. Kamiya berpendapat karena mereka dalam situasi seperti ini jadi Haru tertekan. Kamiya berpikir semua orang akan sedikit bekerja sama, namun itu hanya pikiran naifnya. Kamiya meninggalkan Konno, ia kembali ke dalam gua.

Di dalam gua, masing2 sibuk dengan kegiatannya sendiri-sendiri. Haru asyik dengan makanannya, Moriko sibuk menggambar, sedangkan Usui duduk terdiam menahan sakit luka kakinya yang sudah membengkak. Sementara Kamiya mendengarkan siaran berita di radio.

Igarashi sensei sampai tertidur di sekolah. Keesokan paginya ia pun segera menelepon kantor desa tempat murid2nya kemping. Igarashi sensei to the point segera meminta tolong untuk pemilik di sana agar memastikan semuanya baik2 saja karena ia tak bisa menghubungi guru yang di sana.

Kamiya menata persediaan makanan yang tersisa, lalu ia pamit untuk melihat apa di daerah sekitar mereka ada sungai karena mereka tak memiliki banyak persediaan air. Moriko pun menyuruh Haru dan Usui juga ikut pergi mencarinya. Usui bangkit berdiri namun keseimbanganya roboh karena menahan kakinya yang sakit, dan tanpa sengaja ia menyenggol Moriko hingga botol air yang dipegang Moriko jatuh. Melihat airnya tumpah, Moriko berteriak memarahi Usui. Ketakutan mendengar teriakan Moriko, Usui segera meminta maaf. Kamiya yang menyadari sesuatu segera memeriksa luka di kaki Usui. Ia pun memberitahu kalau bengkaknya makin parah, hingga ia tak bisa berjalan jauh dengan kakinya. Moriko segera mengingatkan jika tak bisa bekerja mereka harus menjadi budak.

Kamiya memberi plester pada kaki Usui yang membengkak, lalu memberi Usui pekerjaan agar ia juga bermanfaat untuk meredakan kemarakan Moriko. Kamiya berpesan agar Usui tetap tinggal dan memastikan api tidak padam agar asap tetap terlihat sehingga mereka akan mudah ditemukan. Melihat ekspresi Moriko yang garang, Usui memohon agar  Kamiya membawanya namun Kamiya menegaskan kalau tugas Usui juga sangat penting.

Saat orang2 kehilangan kewaspadaannya, Haru mengambil onogiri di tumpukan makanan.

Kamiya memberitahu apa yang akan mereka lakukan pada Konno yang sudah berdiri di depan mulut gua, ia juga bilang kalau Konno boleh ikut. Konno bertanya apa persediaan air mereka sedikit sekali?.
“Setelah air kita habis, kita tidak  akan bertahan lebih dari 3 hari.”jawab Kamiya.
“Bantuan akan sampai di sini sebelum itu terjadi, kan?”tanya Konno, namun tak ada jawaban. Kamiya terus melangkah pergi diikuti Haru.

Dalam perjalanan Kamiya mencontohkan apa yang harus mereka lakukan agar tak tersesat. Kamiya memberi tanda pada ranting pohon untuk tanda. Lalu ia memberikan sobekan kertas sebagai tanda Konno dan menyuruhnya bekerja sama dengan Haru menyingkirkan sejenak rasa tak  enak antara keduanya lalu melanjutkan langkahnya. Konno menghentikan langkah Kamiya dengan bertanya kenapa Kamiya sangat tenang?
“Adik-adikku, mereka segalanya bagiku. Mereka menungguku pulang, sampai saat ini.”jawab Kamiya seraya menunjukkan foto ketiga adiknya yang berada dalam dompet.  Oleh sebab itu Kamiya akan melakukan apa pun agar bisa bertemu mereka lagi.
“Aku harus kembali hidup-hidup!”tegas Kamiya penuh tekad lalu memisahkan diri. Disusul Haru setelah mengambil kertas dari tangan Konno ia berjalan ke arah yang lain.

Igarashi sensei menunggu dengan gelisah di ruang kelas. Tetiba ponselnya berdering, ternyata pemilik penginapan tempat kemping yang menelepon. Pemilik itu pun menelpon dengan syok melihat penginapan kosong melompong dan bahan2 makanan masih utuh. Ia pun memberitahu Igarashi sensei kalau tak ada orang yang datang ke sana. Igarashi sensei tak percaya mendengarnya, ia pun segera menelpon kantor bus dengan gemetar menanyakan apa bus sudah kembali namun tak ada jawaban.

Staf yang mengangkat telepon memberitahu  bosnya kalau guru dari siswa yang diangkut dengan bus mereka menanyakan apakah bus mereka sudah kembali. Staf itu berpendapat kalau bus mereka tak sampai di tempat kemping, ia pun berpikir kalau kemungkinan supirnya telah melarikan diri.
“Apa yang harus kita lakukan?”tanya sang staf.
“Katakan saja, kita sedang menyelidiki masalah ini.”
Sang staf pun berusaha menjawab menelepon Igarashi sensei, di kelasnya Igarashi sensei mulai menyadari seluruh siswanya berikut bus telah menghilang.

Igarashi sensei segera menuju ruang kepala sekolah, ia pun menghentikan langkahnya di depan pintu teringat saat salah satu temannya mengingatkan apa dirinya sudah mendapat kabar dari Takeda sensei dan kepala sekolah yang menanyakan apakah dirinya sudah dihubungi Takeda sensei?. dan dijawab Igarashi sensei kalau ia dihubungi. Igarashi sensei pun menyadari kalau ia miss komunikasi, ia pun mengurungkan niatnya tak jadi menemui kepala sekolah.

Di dalam gua, Usui yang frustasi mengeluh ingin pulang. Tetiba Moriko berdiri di depannya seraya mengacungkan aritnya mengingatkan kalau apinya akan mati.
“Tugas seperti itu saja kau tak bisa? Kau benar-benar tidak berguna.”sindir Moriko, Usui nampak ketakutan. Moriko memperingatkan jika apinya mati maka Usui akan menjadi budak.
Berusaha menahan tangis Usui meminta maaf lalu segera menyalakan api.

Di kediaman keluarga Konno, ibu Konno menyiapkan sarapan untuk suaminya. Haruka bergegas pergi tanpa sarapan karena ia ada wawancara pagi. Namun langkahnya terhenti saat melihat tas ayahnya telah siap di depan pintu.
“Haruka, jaga dirimu.”pesan Ayah, namun Haruka tak menggubrisnya ia bergegas pergi. Dengan lesu Ayah kembali ke meja makan, ia berpesan pada istrinya agar memberitahu Mizuki dengan baik-baik. Ayah meminta istrinya mengatakan pada Mizuki kalau dirinya seorang ayah yang menyedihkan dan itu semua salahnya.
“Jangan katakan itu. Meski kukatakan seperti itu padanya,dia tetap akan menentangnya.”sahut sang istri.

Di dalam hutan, Haru makan dengan rakus onigiri yang diambilnya diam2. Tak selang beberapa lama kemudian ia muntah2. Konno yang berbeda arah segera mencari sumber suara Haru. Konno segera berlari menghampiri Haru dan menanyakan keadaannya. Namun Haru malah mendorong Konno agar menjauh dan menyuruhnya meninggalkan dirinya sendiri. Konno tak mengerti, ia pun melihat bungkus plastik bekas onigiri yang dimakan Haru dan Haru yang mencoba membuat dirinya memuntahkan makannya (bulimia=kelainan makan yang berlebihan namun kemudian membuat dirinya kembali memuntahkan makanan yang dimakannya). Konno berusaha menghentikan tingkah Haru namun Haru memberontak.
“Ini semua salahmu, aku menjadi seperti ini. Itu karena kau mengambil Sakura dariku! Bagiku, Sakura adalah teman sejati yang aku punya!”seru Haru.

Haru pun mencurahkan isi hatinya bagaimana persahabatannya dengan Sakura terjalin.  Sakura menjadi satu-satunya orang yang mengerti dirinya yang tak percaya diri. Keduanya di kelas yang sama, dengan adanya Sakura di sana ia merasa aman. Mereka pun berjanji akan masuk di SMA bahkan Universitas yang sama dan akan menjadi teman selamanya. Namun di SMA Konno berusaha mendekatinya dan berusaha merebut posisi Haru.

Haru teringat bagaimana kedekatan Sakura dengan Konno, sehingga dirinya merasa terasing. Hinata menghampiri Haru yang menyendiri di dekat jendela.  “Sedang apa kau? Tidak bersama mereka?”tanya Hinata.
“Sekarang ini, yang nomor satu buat Sakura adalah Konno bukan aku.”jawab Haru, Hinata tersenyum simpul mendengar kata2 Haru.
Tidak ada  yang namanya nomor satu atau nomor dua di antara persahabatan.”sanggah Hinata. Kyaaaaa terharu mendengar kata2 Hinata.

Haru merasa frustasi dengan semua itu, hingga membuatnya stress dan menyebabkan nilai2nya menurun. Haru melampiaskannya dengan makan yang banyak lalu memuntahkannya kembali.

“Maaf.”ucap Konno setelah mendengar curhatan Haru.
“Apa? Kau tak peduli perasaanku dan tak tahu apapun. Jangan berlagak seakan kau memahamiku!.”seru Haru emosi. Konno yang berkaca-kaca mengakui kalau ia tahu apa yang dirasakan Haru. Mendengar hal itu Haru terperangah tak percaya.
“Aku menyadarinya, sungguh menyadarinya. Kau sering menutupi perasaanmu. Dan kau tersenyum seolah, tak terjadi apa-apa. Aku tahu itu.”ucap Konno lalu meminta maaf. Haru tak menyangka, Konno selama ini menyadarinya namun diam saja. Ia pun hendak melangkah pergi namun terhenti saat menyadari karet rambut pemberian Sakura yang dipakainya tak ada. Haru bergegas mencari di sekitarnya, Konno melangkah dengan ragu sebelum pergi akhirnya ia mengungkapkan alasan kenapa ia bersikap seperti itu.
“Kau tahu, saat aku masih di SMP, aku dikhianati oleh teman dekatku  yang ingin kulindungi dan aku jadi dikerjai. Karena itulah aku bilang pada diriku sendiri agar jadi lebih baik dalam membaca suasana di SMA. Aku selalu percaya aku berjalan mengikuti arus dengan baik. Tetapi kenyataannya, aku tidak melakukan dengan baik.”ujar Konno lalu melangkah pergi. Perasaan Haru mulai luluh, ia jadi agak merasa bersalah telah mengatai Konno tadi.

Tetiba terdengar suara Konno memanggil nama Haru. Haru segera menghampirinya, terlihatlah karet rambut yang dicarinya jatuh ke jurang. Konno bilang pada Haru kalau ia akan mengambilnya lalu menuruni jurang pelan2, Konno terpeleset ia pun segera berpegangan pada pohon kayu. Melihat kesulitan yang akan dihadapi Konno, Haru berseru kalau Konno tak perlu mengambilnya. Namun Konno bersikeras mengambilnya, karena itu sesuatu yang sangat berharga bagi Haru. Seraya berpegangan pada pohon, Konno berusaha meraih karet rambut Haru, dengan susah payah akhirnya ia berhasil. Kini keduanya berbaikan, Haru membantu Konno naik dengan meraih uluran tangan Konno. Haru nampak bahagia menerima karet rambut yang diambil Konno.

Tetiba datang Kamiya mengajak keduanya ke tempat yang ia temukan.

Walau ragu akhirnya Igarashi sensei memutuskan menemui kepala sekolah untuk mengakui semuanya.

Kamiya membawa Haru dan Konno ke sumber air yang ditemukannya. Kamiya menemukan sumber air walau airnya sangat keruh. Haru bertanya apa air itu bisa diminum?.
“Tidak akan apa2 setelah kita menyaring dan merebusnya”jawab Kamiya. Konno yang memperhatikan sekitar melihat sesuatu ia pun memanggil Kamiya dan Haru. Konno bergegas menghampiri apa yang dilihat.

Di sekolah, Igarashi sensei dengan langkah mantap menghadap kepala sekolah. Ia pun mengatakan kalau ingin memberikan laporan.
“Bus dengan 30 murid di kelasku dan…Takeda sensei dan Yamasaki sensei yang pergi ke tempat kemping kemarin.  Dalam perjalanan mereka ke perkemahan….Saya rasa,  ada beberapa masalah.”aku Igarashi sensei.  Kepala sekolah tak mengerti, ia pun bertanya apa yang Igarashi sensei pun memberitahu kalau busnya hilang.
“Hilang? Bagaimana dengan murid?”tanya kepala sekolah.
“Mereka juga…Sepertinya tidak ada yang sampai di tempat kemping.”jawab Igarashi sensei.
Kepala sekolah tak mengerti, bukankah Igarashi sensei bilang kemarin dihubungi Takeda sensei?. Igarashi sensei meminta maaf karena itu semua kesalahannya. Ia pun berniat akan segera menghubungi polisi  agar pencarian para murid bisa segera dimulai. Igarashi segera meraih gagang telepon.

Sementara di kantor bus, pemilik bus menyobek data2 mengenai bus yang membawa para murid ke tempat kemping. Ia bergegas menghancurkan semua data karena  jika polisi tahu mereka pasti akan bertanggung jawab.

Sedangkan di sekolah, kepala sekolah menahan Igarashi sensei yang akan menelepon. Igarashi sensei tak mengerti kenapa kepala sekolah bersikap seperti itu.

Usui tertatih-tatih membawa kayu bakar ke dalam gua, Moriko kesal karena ia menilai Usui lambat. Usui segera meminta maaf dan segera bergegas karena terburu-buru ia pun terjatuh hingga menyenggol kaleng permen. Melihat kaleng itu, Moriko teringat sesuatu……sesuatu yang kelam……emosinya pun meledak. Ia terus memukuli usui dengan batang arit yang dipegangnya hingga kaki Usui penuh luka.

Konno mengambil apa yang dilihatnya, ternyata ia melihat buku panduan kemping. Haru menyadari buku itu dari kelas mereka. Kamiya pun menyadari masih ada satu orang lagi yang selamat.  Siapakah dia???

++++bersambung+++

Kursi yang tadinya tinggal 5 kini bertambah dengan tiba2 munculnya 1 kursi, kursi siapakah itu? Akankah Usui mati karena dipukuli Moriko? Akankah sekolah tetap diam menyembunyikan kecelakaan yang dialami murid2nya? Tunggu episode selanjutnya .

thanks to IDWS and islandsubs
Written and Capture image by +ari airi [Twitter]
Only Posted On pelangidrama.net
DON’T REPOST TO OTHER SITE/FANPAGE
Don’t ask next episode ok! 

2 pemikiran pada “[Sinopsis J-Drama] Limit Episode 3

  1. hehe, iya mbak asal tetep semangat ^^
    arigatou ne~
    ohya, yang ini belum masuk indeks ya mbak? yang baru kayak looking forward sama barfi juga belum 😛

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s