[Sinopsis J-Drama] Galileo season 2 episode 8

 ==Sinopsis Galileo season 2 episode 8==
Acting – Akting

Pertunjukkan kembang api diadakan di Teluk Tokyo malam ini. Area Odaiba penuh dengan orang-orang. Sekarang puncaknya …

Seorang pria tampak menahan sakit, lalu bola tenis yang ada di tangannya jatuh dan menggelinding begitu saja. Menyusul kemudian pria tadi ambruk ke lantai. Sebuah pisau tertancap di tubuh si pria. Dan kemudian sebuah tangan tampak mengambil remote dan mematikan televisi.

“Abe-chan. Apa kau sudah menunggu lama?” ujar seorang wanita yang baru saja datang, menyapa temannya yang tengah duduk di salah satu meja cafe sambil membuat sketsa di buku sketsanya. Wanita yang baru datang itu, seorang aktris, Kanbara Atsuko.
“Tidak,” ujar si penata kostum yang dipanggil Abe.

Mereka mendiskusikan soal perubahan kostum untuk sang aktris Kanbara pada perform mereka nantinya atas permintaan sang sutradara sekaligus pimpinan grup, Komada Ryosuke. Panggilan di ponsel Abe menghentikan pembicaraan mereka, dari sutradara Komada. Abe mengangkat ponselnya, tapi ia tidak mendengar suara apapun dari seberang. Kanbara juga mengecek ponselnya, ternyata sutradara Komada-san juga menghubunginya lebih dulu, tapi ia tidak tahu.

Kedua wanita tadi lalu memutuskan untuk mendatangi apartemen sutradara Komada. Abe-san menegur saat Komada-san mengeluarkan kunci. Komada-san hanya tersenyum dan mengatakan jika, mereka sama-sama tahu hubungannya dengan sutradara Komada.

Kedua wanita itu pun masuk. Mereka memanggil-manggil sutradara Komada, tapi tidak ada jawaban. Keduanya melihat kunci pintu pun ada di tempatnya, itu artinya sutradara Komada tidak sedang pergi.

Setelah masuk ke dalam, keduanya dibuat kaget melihat sutradara Komada yang tergeletak di lantai dengan pisau yang masih menancap di tubuhnya. Sigap Kanbara-san meminta Abe untuk menelepon ambulan.

Hari itu, seperti biasa Kishitani datang ke lab Yukawa-sensei. Tapi sang profesor sedang tidak ada di tempat. Sementara asistennya, Kuribayashi-san sedang mempersiapkan percobaan bersama anak-anak. Kishitani membawa selebaran tentang sebuah pertunjukkan, Con-Calorosamente. Dan inilah yang menjadi awal perdebatan Kishitani dengan Kuribayashi-san.

Anak-anak mengatakan jika grup pertunjukkan itu sangat terkenal. Apalagi ada artisnya, Kanbara Atsuko. Tapi Kuribayashi-san tampak tidak mengenalinya sama sekali. Anak-anak penasaran kenapa tiba-tiba Kishitani membawa selebaran itu ke lab. Kishitani menceritakan bahwa sutradara Komada Ryosuke, pimpinan grup pertunjukkan itu terbunuh. Anak-anak kaget dengan berita ini. Saat Kishitani menyindir kalau mereka tidak pernah nonton TV, anak-anak menjawab karena mereka sibuk membuat laporan sampai tidak sempat nonton TV.
“Kalian ilmuwan juga harus tahu berita. Aku belajar buku-buku hukum sepanjang malam juga, tapi aku juga masih sempat membaca koran dan menonton televisi. Kalian juga harus bergaul … “ tapi ucapan Kishitani terputus.

“Sejak kapan kau mengajar di sini?” ujar Yukawa-sensei yang baru saja datang. “Tolong jangan ganggu percobaan mereka.”
Kuribayashi-san kemudian meminta anak-anak untuk mempersiapkan percobaan berikutnya. Sementar Yukawa-sensei melepas jasnya dan kemudian duduk di kursinya.

 

Tanpa diminta, Kishitani mulai berkicau, “Ada kasus baru yang sulit diselesaikan polisi. Ini di luar kemampuan kami. Kali ini terjadi di ruang tertutup.” Kishitani mulai mengekor Yukawa-sensei. Ia kemudian mengambil selebaran yang tadi dibawanya, dan terus bicara, “Komada Ryosuke-san (35th), ditusuk hingga mati oleh seseorang di dalam rumahnya.” Kishitani mengambil kapur dan mulai menulis di papan tulis, “Mayatnya ditemukan pukul 7.50. tampaknya dia terbunuh sekitar 20 menit sebelum mayatnya ditemukan, sekitar pukul 7.31
“Bagaimana kau bisa tahu?” bukan Yukawa-sensei yang menanggapi, alih-alih Kuribayashi-san yang berhasil dibuat penasaran kali ini.


“Dua orang anggora pertunjukkan itu ditelepon oleh Komada-san, tapi Komada-san tidak mengatakan apapun. Atau dia tidak dapat mengatakan apapun. Dia minta tolong. Apartemen Komada-san ada di lantai 20. Pintu masuknya terkunci. Dan tidak ada jendela yang terbuka. Ini benar-benar ruang tertutup.” Kishitani juga mengatakan jika kunci milik Komada-san juga ada di sana. Lalu duplikatnya dimiliki oleh salah seorang anggota grup pertunjukkan itu yang menemukan mayat korban.

“Jadi, dia pasti pelakunya. Orang pertama yang menemukan mayat itu biasanya adalah tersangkanya,” Kuribayashi-san menyimpulkan.
“Faktanya adalah orang ini … Kanbara Atsuko,” Kishitani terus saja mengoceh. “Tapi dia punya alibi. Dia ditelepon oleh Komada-san pada pukul 7.31 malam saat ia berada 4,8 km jauhnya dari apartemen Komada-san. Dan dia terus bersama desainer kostum grup itu sampai mereka menemukan mayat Komada-san.”
“Jadi begitu,” akhirnya Yukawa-sensei berkomentar. “Itu seperti kasus pembunuhan ruang tertutup. Itu tipe pembunuhan ruang tertutup yang klasik dan tidak ada hubungannya dengan sains,” komentar Yukawa-sensei yang diiyakan oleh Kuribayashi-san juga. Kuribayashi-san lalu mengusir Kishitani.

Tapi bukan Kishitani jika menyerah begitu saja, “Ini kasus ruang tertutup. Pelakunya pasti melarikan diri dari lubang kunci. Yukawa-sensei!” bujuk Kishitani lagi. Tidak berhasil juga, Kishitani lalu beranjak mengambil cangkir kopi Yukawa-sensei dan berpose ala Yukawa-sensei, “Kishitani-kun, tanpa ragu, selalu ada alasan untuk setiap fenomena!”

Yukawa-sensei lalu beranjak dari laptopnya dan memandang Kishitani, “Keluarlah!”

Kishitani dan partnernya Ohtagawa-san menemui Kanbara Atsuko. Mereka curiga dengan alasan Kanbara memiliki kunci duplikat apartemen Komada. Tadinya ia mengatakan jika ia punya kunci itu karena apartemen Komada juga digunakan sebagai kantor. Kishitani terus mendesak Kanbara untuk mengaku.
“Ya. Aku kencan dengan Komada-san sejak 6 bulan belakangan. Komada-san memintaku jadi kekasihnya,” aku Kanbara.
“Apa dia mengatakan menyukaimu?” tanya Kishitani.
“Aku tidak yakin kalau kami ini pasangan kekasih. Tapi Komada-san adalah orang yang kuhormati,” aku Kanbara.
“Kalau begitu, bisa dikatakan ada perbedaan cara kalian menganggap yang lain?” Kishitani menyimpulkan. “Sejujurnya, dia membuatmu kesal … “
“Apa kau mencurigaiku?” potong Kanbara-san cepat.
“Tidak, kau punya alibi,” ujar Ohtagawa-san. “Kami hanya membutuhkan beberapa informasi terkait kasus ini.
“Menyebalkan. Aku … menyukai Komada-san,” Kanbara mulai menangis.
“Gunakan ini,” Ohtagawa-san menyodorkan sapu tangannya pada Kanbara-san.

Kishitani tampak kesal dengan tingkah Kanbara, “Boleh aku tanya satu hal lagi? Komada-san juga menghubungi desainer kostum yang bersamamamu malam itu kan? Aku bisa mengerti jika Komada-san menghubungi kekasihnya untuk minta tolong, tapi kenapa setelahnya dia menghubungi Abe-san?”
“Meski dia desainer kostum untuk grup ini, dia jarang bicara dengan Komada-san,” sambung Ohtagawa-san.
“Aku tidak tahu, mungkin karena namanya ada di ponsel Komada-san.”
“Ada banyak nama di ponselnya,” elak Kishitani
“Mungkin nama Abe-san ada di kontak list pertama Komada-san,” sesaat Kanbara-san ragu. Tapi hal ini kemudian diiyakan oleh Ohtagawa-san. “Dia hanya ingin seseorang menyelamatkannya.”

“Apa yang harus kulakukan?” keluh Kishitani. Seperti biasa ia terdampar di lab Yukawa-sensei.

Yukawa-sensei sendiri tengah asyik dengan alat percobaannya. Sementara Kuribayashi-san yang sejak tadi asyik dengan ponselnya mulai menggoda Kishitani. Mereka berdua akhirnya berdebat tidak jelas.
“Aku punya firasat buruk soal Kanbara Atsuko,” gumam Kishitani.
“Kanbara Atsuko? Artis terkenal tidak mungkin membunuh,” komentar Kuribayashi-san.
“Tunjukkan padaku pembohong, dan aku akan menunjukkan padaku aktor.”
“Aku tidak pernah mendengar frasa itu!” tegas Kuribayashi-san. “Yang jelas dia punya alibi.”
“Kau bergabung ke pertemuan investigasi,” komentar Yukawa-sensei, tapi diabaikan oleh kedua orang itu.
“Dia mendapat telepon dari korban yang nyaris meninggal kan?”
“Dan juga si desainer kostum. Dia bersama wanita yang namanya ada di kontak list teratas secara tidak sengaja?! Itu terlalu kebetulan,” ujar Kishitani tidak mau kalah.
“Kau benar-benar ingin dia jadi tersangka kan?!
“Tapi dia satu-satunya orang yang punya kunci duplikat!”

Gagal melerai kedua orang ini dengan kata-kata, Yukawa-sensei akhirnya beranjak, “Kishitani-kun, bagaimana kalau kita keluar dan minum kopi?” tawarnya.
Kishitani mengangguk setuju. Pun Kuribayashi-san yang bersiap untuk ikut. Tapi Yukawa-sensei meminta Kuribayashi-san untuk tinggal di lab, kalau-kalau mereka kedatangan tamu.

“Kenapa kita di sini?!” Kishitani kecewa sekaligus kesal. Tadinya ia berpikir jika Yukawa-sensei akan mengajaknya ke kafe atau semacamnya untuk minum kopi, tapi sekarang ia justru terdampar di ruang kelas.

Dari arah pintu, Yukawa-sensei masuk sambil membawa secangkir kopi, “Mesin penjual. Mesin penjual adalah salah satu simbol dari tingkat kecerdasan manusia. Mesin penjual tertua yang diketahui ada di kuil mesir kuno pada 200 tahun sebelum masehi dan menjual air suci. Itu kemudian dikembangkan sesuai perkembangan masyarakat. Dan sekarang di tahun 2013, mesin penjual di Jepang, menyajikan barang segar seperti kopi yang tampak di monitor.”
“Aku pikir kita akan datang ke cafe yang bagus,” keluh Kishitani akhirnya. Kishitani heran karena Yukawa-sensei hanya membawa satu gelas kopi dan diberikan padanya.
“Jika kau hanya ingin minum kopi, tempat bukan masalah,” jawab Yukawa-sensei kalem. “Jadi sekarang kita bahas pertanyaan utama. Tolong jangan bawa lagi kasus-kasusmu ke lab-ku. Dan jangan lagi protes soal kasusmu. Sebagai gantinya, aku akan menyelesaikan kasus ini untukmu,” ucapan Yukawa-sensei terputus saat ponsel Kishitani bergetar.


Kishitani pun melihat ponselnya, ternyata dari Kuribayashi-san. Kishitani heran karena tidak biasanya Kuribayashi-san meneleponnya. Ia pun mengangkat panggilan itu, tapi saat dijawab, tidak ada jawaban lagi dari seberang. Alih-alih memberikan jawaban, hubungan malah terputus.

Yukawa-sensei juga mengeluarkan ponselnya, “Aku juga mendapat panggilan dari Kuribayashi-san, tiga menit yang lalu. Aku tidak menyadarinya,” aku Yukawa-sensei sambil menunjukkan panggilan di ponselnya.
“Ah, atau sesuatu terjadi padanya … “ Kishitani berpikir.
“Itu jawabannya. Aku sudah menyelesaikan kasusnya untukmu,” ujar Yukawa-sensei kemudian menunjukkan ponsel Kuribayashi-san masih dalam plastik. “Sebenarnya, ponsel Kuribayashi-san ada di sakuku. Aku meneleponmu tadi dengan ponsel di sakuku. Menggunakan metode tadi, kau bisa melakukan trik dengan ponsel. Kanbara Atsuko membuat alibinya.”
“Apa yang kau bicarakan?” kali ini Kishitani agak lemot berpikir.

“Aku menusuk Kuribayashi-san hingga meninggal. Aku melakukannya 20 menit yang lalu. Aku mengambil ponsel Kuribayashi-san. Dan sebelum masuk ke ruangan dimana kau menungguku, di belakang pintu, aku memanggil ponselku sendiri dengan ponsel Kuribayashi-san. Setelah terhubung, aku langsung mematikannya. Dan meninggalkan daftar panggilan. Kemudian aku menghapus semua nama yang ada sebelum namamu. File A di ponselnya hanya berisi nomer Professor Inoue dan Professor Tamu Ogawa. File K hanya berisi Kishitani-kun. Jadi aku tinggal menghapus dua nama tadi. Aku kemudian meletakkan ponsel dengan list namamu berada paling atas di sakuku, melepas sarung tangan, mengambil kopi dan masuk ruangan ini.”

Yukawa-sensei masih meneruskan ceritanya, “Sambil bicara denganmu, aku menekan tombol panggil. Tentu saja dia tidak bicara apapun, karena ponselnya ada di sakuku. Dan aku menunjukkan padamu jika aku juga mendapat panggilan dari Kuribayashi-san di ponselku.”
“Itu artinya … apa?” Kishitani masih belum nyambung juga
“Kau akan berpikir jika Kuribayashi-san masih hidup waktu itu. Tapi yang sebenarnya, Kuribayashi-san sudah terbunuh beberapa waktu sebelumnya. Dengan trik itu, Kanbara Atsuko membuat alibinya. Berapa lama yang dibutuhkannya dari apartemen sampai kafe tempat ia bertemu desainer kostum?” Yukawa-sensei kemudian berjalan ke arah papan tulis.

Kishitani tampak mengingat-ingat, “Butuh sekitar 3 menit dari lantai 20 hingga lantai bawah. Dan dengan naik taksi, dia bisa berada di kafe sekitar 15 menit kemudian.”

Yukawa-sensei membuat garis di papan tulis, “Kapan ia tiba di kafe?”
“Sekitar 7.25.”
Yukawa-sensei menuliskan jam di garis yang ia buat di papan, “Jadi 15 menit sebelumnya, Kanbara Atsuko membunuh Komada-san sekitar pukul 7.10 dan dia pergi ke kafe. Dia kemudian memanggil ponselnya sendiri dengan ponsel Kanbara-san sekitar 7.31,” melihat Kishitani masih meragukannya, Yukawa-sensei mengingatkan agar Kishitani minum kopinya.
“Itu tidak mungkin! Karena ponsel Komada-san ada di sebelah mayatnya … “
“Apa ada yang melihat ponsel itu benar-benar ada di sebelah mayat?”
“Kanbara Atsuko yang melihatnya,” Kishitani bangkit dari kursinya dan mendekati Yukawa-sensei.
“Bagaimana dengan desainer kostum?”
“Abe Yumiko mengatakan hal yang sama,” sambung Kishitani.
“Apa Abe-san mengatakan padamu dia benar-benar melihat ponsel di samping mayat saat mereka menemukannya?” desak Yukawa-sensei. Kishitani tampak berpikir. “Siapa yang menghubungi polisi?”
“Itu Abe-san.”


Yukawa-sensei membalik tubuh Kishitani dan mendorongnya menjauh, “Jika dia (Kanbara) membuat Abe-san keluar dari ruangan dan memintanya menghubungi polisi, Kanbara Atsuko bisa meletakkan ponsel itu di samping mayat. Apa benar Kanbara Atsuko pelaku sebenarnya, atau motif yang ia punya, bukan urusanku. Tapi alibinya sempurna.

Tiba-tiba dari arah lain masuk Kuribayashi-san. Rupanya ia mencari Yukawa-sensei dan Kishitani hingga cafetaria, dan akhirnya menemukan mereka di kelas.
“Ada apa?” tanya Yukawa-sensei.
“Aku kehilangan ponselku. Sekarang sedang kucari. Tapi, apa ada hal penting yang harus kulakukan?” tanya Kuribayashi-san yang masih terengah-engah.
“Tidak ada sekarang,” ujar Yukawa-sensei. Saat Kuribayashi-san pamit hendak pergi, Yukawa-sensei menunjuk ponsel di mejanya.

Merasa mengenalinya, Kuribayashi-san kembali. Ia melihatnya, warna yang sama, model yang sama. Dan Kuribayashi-san kemudian mengenali itu sebagai ponselnya.
“Aku sengaja mengambilnya, maaf,” ujar Yukawa-sensei kemudian.
“Yukawa-sensei! Aku lega sekali! Ada banyak informasi di sini,” Kuribayashi-san menunjukkan ponsel itu pada Kishitani. “Jika aku kehilangan ponselku, ini akan menjadi masalah bagi orang banyak. Aku lega sekali! Kalau begitu aku kembali ke lab,” pamit Kuribayashi-san kemudian.

“Pria yang menyedihkan,” komentar Kishitani setelah Kuribayashi-san pergi.
“Aku sudah memberikanmu petunjuk, sekarang kau bisa konsentrasi dengan investigasimu.”
“Kalau hipotesismu benar, orang itu yang membunuh Komada-san, dengan kata lain Kanbara Atsuko cerdas. Mungkin ada trik lain yang masih perlu dipecahkan … “ Kishitani mencoba menarik perhatian Yukawa-sensei.
“Apa kau mengatakan jika dia membuat banyak jebakan untuk membuat dirinya dicurigai polisi?” tanya Yukawa-sensei.
“Benar!”
“Kalau begitu, semoga berhasil!” ujar Yukawa-sensei lalu pergi meninggalkan Kishitani bengong sendirian di dalam kelas.

Komada-san juga menghubungi desainer kostum yang bersamamu malam itu kan?

Kanbara Atsuko tengah asyik mendengarkan rekamannya sambil sesekali memainkan laptopnya. Ia bahkan membuat profile Kishitani yang menurutnya sok pintar, mudah tersinggung, tidak mau mendengarkan orang lain dan terlalu banyak bertanya. Kanbara Atsuko kemudian menarik ke bawah kursornya, ada profile Komada Ryosuke.

Flash back
Malam itu Kanbara-san datang ke apartemen Komada-san. Komada-san kesal karena Kanbara-san masuk tanpa minta izin dulu. Ia berpikir kalau mereka sudah sepakat untuk putus. Komada-san meminta Kanbara-san segera bicara jika ada yang perlu dikatakan.

Di sisi lain ruangan, Kanbara-san rupanya mulai mengeluarkan alat perekamnya.
“Itu lagi? Kau akan merekam percakapan kita, untuk mencari tahu seperti apa reaksi saat seseorang putus dari kekasihnya? Itu menyebalkan!”
“Kau yang mengatakan padaku jika pertunjukanku membosankan, dan aku harus belajar dari mengobservasi orang yang sebenarnya,” elak Kanbara-san.
“Apa kau menyalahkanku? Semua orang mengatakan kau menjijikan karena membawa alat perekam itu kemana-mana. Juniormu itu, Kurata Miyuki, dia aktris yang luar biasa!” puji Komada-san pada orang lain. Ia tidak sadar jika Kanbara-san mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Kenapa kau tidak bergabung dengan kelompok pertunjukan lain dan … “ ucapan Komada-san terputus.

Rupanya Kanbara-san menusukkan pisau ke tubuh Komada-san dan kemudian membiarkan pria itu ambruk. Bola yang dipegang Komada-san menggelinding di lantai. Kanbara-san kemudian mengambil remot, mematikan lampu dan televisi. Ia pun lalu memasukkan ponsel milik Komada-san ke dalam plastik dan membawa dalam tasnya.
Flash back selesai …

Kembali ke Kanbara-san yang tengah asyik dengan laptopnya.
Perasaan saat menikamkan pisatu ke tubuhnya. Bagaiaman rasanya saat melakukan pembunuhan. Antara tenang dan penasaran, bercampur bersama.
Tapi getar ponselnya mengagetkan Kanbara-san.

Rupanya Kanbara-san dihubungi oleh kepolisian. Dan sekarang ia ditemui oleh Kishitani di ruang interogasi.
“Maaf membuatmu harus datang ke sini. Sebenarnya, di ponsel Komada-san,” Kishitani sengaja bicara pelan untuk menunggu reaksi di wajah Kanbara-san. “ … Nama Aono Koji-san ada Akiyama Keiichiro-san hilang dari daftar nomer. Mereka berdua sudah berbisnis dengan Komada-san lebih dari 10 tahun. Bukankah itu aneh jika nama mereka tidak ada di daftar nomernya?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu padaku?”
“Dengan menghapus nama mereka, Abe Yumiko-san menjadi list paling atas di daftar nomernya. Itulah kenapa Komada-san menghubungi Abe Yumiko-san. Kau merencanakan semua itu … “
“Tunggu dulu! Siapa yang mengatakan seperti itu?”
“Ada seseorang yang mengatakan jika ia akan melakukan hal yang sama jika ia pelakunya. Kanbara-san … “ lagi-lagi ucapan Kishitani dipotong.
“Aku tidak percaya! Jadi ini bagaimana kasus salah tangkap terjadi … “ Kanbara-san hampir menangis.

Kishitani lalu mengambil benda lain, “Orang di foto ini kau kan? Ini diambil dari kamera taksi. Lokasinya ada di depan apartemen Komada-san. Ini diambil pada 7.14 malam yang sama saat Komada-san terbunuh. Kau menemui Komada-san sebelum bertemu Abe Yumiko-san kan? Apa tujuan kedatanganmu?” desak Kishitani.

Kanbara-san sudah benar-benar menangis, “Aku datang untuk mengembalikan kunci duplikat. Tapi saat itu Komada-san tidak ada di rumah,” aku Kanbara-san.
“Kau membunuh Komada-san, mengambil ponselnya lalu menemui Abe-san kan?!” bentak Kishitani
“Itu tidak benar!” Kanbara-san masih terus mengelak.
“Lalu kenapa kau tidak mengatakan soal ini?!” Kishitani menunjuk foto tadi.
“Karena jika aku memberitahumu, aku tahu kalian akan mencurigaiku. Aku takut.”

Ponsel Kishitani bergetar, dari rekannya Ohtagawa-san. Kishitani lalu pamit keluar.
Kishitani bergabung ke ruangan lain bersama Ohtagawa-san. Rupanya mereka mengamati reaksi Kanbara-san setelah interogasi tadi ini, dari kaca tembus di ruangan lain.
“Dia masih menangis. Apa benar ini hanya pura-pura?” komentar Ohtagawa-san saat Kishitani datang
“Dia aktris. Dia bisa menangis kapanpun dia mau.”
“Tapi dia tidak perlu menangis terus jika tidak ada siapapun di sekitarnya. Bukankah dia seharusnya berhenti menangis saat kau pergi tadi? Kau keliru,” ujar Ohtagawa-san lagi.
“Terlalu cepat menyimpulkan begitu,” komentar Kishitani dingin.

Kanbara Atsuko keluar dari kantor polisi. Ia mengambil alat perekamnya lalu mematikan benda itu. Setelahnya ia mengenakan kaca mata hitam, tersenyum dan beranjak pergi.

“Ya, aku mengerti,” ujar Ohtagawa-san

Dari arah pintu muncul Kishitani. Kali ini ia dibuat kaget oleh pernyataan Ohtagawa-san. Ohtagawa-san mengatakan jika Kanbara Atsuko tidak bersalah, karena mereka menemukan bukti di dalam ponsel korban.

Kishitani kembali datang ke lab Yukawa-sensei. Kali ini ia sudah membuat garis dan waktu kejadian di papan tulis, “Komada-san tidak di rumah sampai sebelum ia ditemukan meninggal. Menurut hipotesis Yukawa-sensei, Kanbara Atsuko membunuh Komada-san sekitar pukul 7.10,berpura-pura mendapat panggilan dari Komada-san pada pukul 7.31 dan berpura-pura menemukan mayat Komada-san pada pukul 7.50. tapi, kami menemukan foto di ponselnya seharusnya tidak ada menurut hipotesis itu,” Kishitani menunjukkan sebuah foto kembang api. “Ada pertunjukkan kembang api di teluk Tokyo malam itu. Dia mengambil foto ini pada 7.10. Menurut hipotesismu itu adalah waktu saat Komada-san terbunuh.”

“Dia mungkin mengambil foto itu sebelum terbunuh,” komentar Kuribayashi-san.
“Tidak, karena tidak mungkin Komada-san mengambil foto ini dari dalam apartemennya.”
“Tidak mungkin?” Yukawa-sensei mulai tertarik.
“Aku kujelaskan,” Kishitani lalu membuka peta kota Tokyo yang dibawanya. “Di sini jembatan Pelangi. Apartemen Komada-san ada di … sini, di lantai 20. Ada jendela di sisi utara dan selatan. Dan kembang pertunjukkan kembang api ada di sini. “ Kishitani mengambil beberapa benda di meja lab untuk melengkapi model dalam petanya.
“Jadi dia bisa mengambil foto itu dari jendela ini kan?” Kuribayashi-san menyimpulkan sambil menunjuk sisi utara jendela apartemen Komada-san.
“Apa bulan muncul di sisi utara langit?” Kishitani kembali bertanya. “Saat itu bulan ada di sini,” ujar Kishitani sambil meletakkan benda lain di bagian selatan peta itu.
“Sisi selatan,” sambung Yukawa-sensei.
“Itulah kenapa gambar ini tidak mungkin. Area dimana gambar ini bisa diambil ada di sekitar sini,” Kishitani meletakkan mika hijau di daerah yang ia tunjuk. “Dan tidak mungkin Kanbara Atsuko yang mengambil gambar ini, karena dia ada di depan apartemen Komada-san waktu itu. Lihat ini!” Kishitani menunjukkan rekaman di laptopnya. Ada rekaman saat kamera taksi merekam Kanbara-san yang keluar dari komplek apartemen dan menghentikan taksi. Saat itu jam menunjukkan pukul 7.14. Bisakah kau berpindah dalam waktu 4 menit?”
“Tidak mungkin,” komentar Kuribayashi-san.

“Dengan kata lain, hipotesismu mengenai Kanbara Atsuko membuat alibi menggunakan ponsel adalah keliru. Bukti yang bisa menyudutkannya ini malah menjadi alibi sempurnanya.”
“Aku mengerti!” Kuribayashi-san menyimpulkan. “Gambar ini,” sambil menunjuk gambar kembang api. “..diambil oleh Komada-san pada 7.10, dia memanggil Kanbara Atsuko saat dalam perjalanan pulang pada 7.31, saat sampai di apartemennya, dia dibunuh seseorang, dan kemudian dia ditemukan meninggal pada 7.50.”
“Itu salah satu kemungkinan,” komentar Kishitani santai. Pernyataan yang langsung diprotes oleh Kuribayashi-san.


Yukawa-sensei beranjak dari kursinya, “Ini adalah jebakan kedua yang dibuat Kanbara Atsuko. Panggilan telepon dan gambar di ponsel. Waktu dan tempat dapat melentur. Urutan peristiwa dirombak. Kita dibuat bingung mana yang terjadi lebih dulu dan mana yang setelahnya. Seseorang ada di tempat dan waktu yang seharusnya tidak mungkin. Dengan kata lain, kita menyebut fenomena ini … apa Kuribayashi-san?”
“Teori relativitas khusus (1)!” ujar Kuribayashi-san bersemangat. (jangan terkecoh ya guys, dengan teori relativitas ala mbah Einstein yang kita kenal selama ini)
“Aku tidak mengerti … “ komentar Kishitani menyerah.
Yukawa-sensei mengambil gambar kembang api itu, memandanginya, lalu tertawa geli sendiri, “Sangat menarik!”

Hari berikutnya …
Kanbara Atsuko tengah asyik meregangkan badan sebelum berlatih untuk pentas di salah satu bagian gedung pertunjukkan. Dari arah belakangnya ada seseorang yang memanggil, dia Yukawa-sensei. Yukawa-sensei mengajak Kanbara-san untuk bicara. Keduanya bicara di luar ruangan.

Saat ditanya apa kunjungannya kali ini adalah bagian dari investigasi, dengan tegas Yukawa-sensei menolak. Ia mengatakan hanya membantu sebagai saintis. Kanbara-san senang bicara dengan Yukawa-sensei, ia bahkan minta izin untuk merekam pembicaraan mereka untuk mendapatkan suasana yang terjadi saat percakapan dan semuanya demi penampilannya di atas panggung.

“Tidak masalah jika kau ingin merekam pembicaraan kita, tapi orang menyebutku esentrik. Jadi jangan anggap semua saintis sepertiku,” ujar Yukawa-sensei.
“Itu bahkan lebih baik,” Kanbara-san semakin bersemangat. Ia pun memulai alat perekamnya dengan menyebutkan identitas Yukawa-sensei sebagai saintis dan juga profesor tamu di Universitas Teito.
“Kita benar-benar bertolak belakang. Aku berpikir segala sesuatu secara logika, bukan emosi,” aku Yukawa-sensei.
“Aku juga ingin menggunakan teori itu sebagai bagian dari pertunjukkan. Aku tidak ingin berakting hanya menggunakan emosi saja. Ada metodologi untuk akting. Jika kau ingin merasakan sesuatu saat berakting, aku memikirkan hal paling mirip dalam kehidupan sehari-hari yang pernah kualami. Saat aku memainkan peran wanita yang putus dengan kekasihnya, pengalaman nyataku sangat membantu,” cerita Kanbara-san.
“Menarik. Apa kau pernah putus dengan kekasihmu?” pertanyaan bodoh Yukawa-sensei.

Sesaat Kanbara-san bingung, “Tentu saja! Tapi ada pengalaman khusus yang tidak mungkin bisa dirasakan secara normal … “
Yukawa-sensei menyerobot ucapan Kanbara-san, “Misalnya, membunuh.”
Kanbara-san tersenyum, “Aku mencari pengalaman terdekat yang kumiliki.”
“Apa kau pernah punya pengalaman seperti itu?” tanya Yukawa-sensei.
“Aku harus membunuh orang di pertunjukkan berikutnya,” ujar Kanbara-san. “Aku ingin itu bisa tampak alami.”
Yukawa-sensei beranjak mendekati salah satu poster di sisi ruangan itu, “Ini lelaki yang terbunuh itu kan?” sambil menunjuk foto Komada-san.
“Ini adalah pertunjukkan untuk peringatan Komada-san. Ini menyakitkan, tapi aku harus menepatinya, asal aku bisa melewati krisis ini dan menjadi aktris besar.”
“Aku membeli tiket untuk pertunjukkan ini,” aku Yukawa-sensei.
   
Sikap Kanbara-san mendadak resmi. Ia membungkuk di depan Yukawa-sensei, “Terimakasih banyak.”
“Setelah melihat pertunjukkan ini, aku yakin akan menjadi salah satu fans-mu.” (ow ow … jarang-jarang kan ya, Yukawa-sensei merayu begini)
“Aku harap demikian,” Kanbara-san kembali ke tempat duduknya tadi, “Apa kau pikir pelakunya akan tertangkap?”

 

“Aku tidak tahu. Tanggung jawabku untuk menemukan penjelasan ilmiah untuk fenomena yang tidak masuk akal. Asal fenomena itu sengaja dibuat.”
“Dengan kata lain, kau yang menemukan triknya? Permainan yang menarik bukan?” balas Kanbara-san.
“Bisakah kau menggunakan ini sebagai bagian pertunjukkanmu?” tanya Yukawa-sensei lagi.


Kanbara-san berhenti sejenak sambil melihat ke arah Yukawa-sensei sebelum akhirnya memberikan jawaban, “Tentu saja.”
“Lalu, meski kau tersangka, kau dapat memanfaatkan tekanan karena tersudut ini sebagai bagian dari pertunjukkanmu?” Yukawa-sensei menyimpulkan.
“Kau benar.”
“Aku sangat penasaran,” Yukawa-sensei melihat jam di tangannya, “Jadi aku menunggu penampilanmu.” Ia pun lalu pamit dan pergi.

Kishitani dan Yukawa-sensei datang ke apartemen Komada-san. Kishitani menjelaskan keadaan ruangan itu. Ia juga menunjukkan sisi jendela ke arah utara dan selatan, tempat jembatan Rianbow dan juga pesta kembang api di malam kejadian. Lalu bulan yang tampak dari sisi lain jendela.
“Bisa kulihat gambarnya?” pinta Yukawa-sensei kemudian. Dia memandangi gambar kembang api di foto itu dan mencocokkannya dengan kedua sisi jendela. Yukawa-sensei tertarik dengan telvisi di ruangan itu dan mulai memeriksanya. Ia kemudian beranjak kembali ke salah satu sisi jendela, memeriksanya lagi, bahkan meniupkan udara ke jendela. Kemudian beranjak ke sisi jendela yang lain, dan memeriksanya sekali lagi.
“Apa yang kau lakukan? Sensei, tolong jelaskan!” Kishitani dibuat penasaran setengah mati oleh ulang sang profesor ini.

   

Yukawa-sensei mengambil bola tenis yang ada di lantai. Ia memantulkannya sekali ke lantai, menimbang-nimbang, kemudian melemparkannya ke salah satu jendela. Bola itu pun terpental dan menuju sisi jendela yang lain. Satu per satu pernyataan muncul di otak Yukawa-sensei. Sigap ia mengambil salah satu spidol di ruangan itu dan mulai menulis di jendela.

“Kishitani, aku akan membuat kembang api yang benar-benar serupa dengan ini,” ujar Yukawa-sensei. Ia lalu mendekatkan gambar kembang api itu ke sisi jendela, “ … di teluk Tokyo.”

Kanbara Atsuko berada di sisi sungai sendirian. Ia tengah asyik mendengarkan rekaman pembicaraannya dengan Yukawa-sensei sebelumnya.

“Jadi, meski kau tersangka, kau memanfaatkan tekanan karena tersudut ini sebagai bagian dari penampilanmu?”

Kanbara Atsuko mematikan rekaman tadi, lalu mulai merekam sendiri suaranya, “Aku bisa mendengar jatungku berdetak cepat. Lelaki itu menyadarinya.” Ia pun berbalik lalu tersenyum. Tapi senyum itu hilang saat ia melihat sesuatu.

Yukawa-sensei ternyata membawa Kishitani ke pabrik kembang api, “Apa kau punya senjata api? Semua yang ada di sini adalah bubuk mesiu. Bukankan di pintu masuk tadi kau ditanya jika punya pemantik atau semacamnya? Itu adalah peringatan untuk pabrik seperti ini. Dan tentu saja, senjata api juga bagian dari api. Kita juga harus hati-hati dengan listrik statis (2),” Yukawa-sensei mengingatkan.
“Jangan khawatir, aku tidak membawa senjata api hari ini,” ujar Kishitani kemudian.

Mereka berdua tiba di tempat para pengrajin kembang api tengah bekerja. Yukawa-sensei mencari si pemilik pabrik itu, Danda Danjiro-san.

Yukawa-sensei menunjukkan foto kembang api dari investigasi sebelumnya itu, “Triple-core blue tear”—air mata biru tiga lapis. Danda-san sigap membuka laptopnya, memasukkan kata kunci ke program pengelola kembang api.
“Ini diatur untuk pukul 7.10 malam,” ujar Danda-san. Ternyata data di komputer tidak hanya nama, jenis dan waktu saja, tetapi juga rekaman pada saat peluncuran kembang api itu.
Yukawa-sensei mencocokkanya dengan gambar yang dibawa, “Itu dia.”
“Apa mereka membuat kembang api dengan komputer?” tanya Kishitani penasaran, membuat kedua pria tadi lebih keheranan.
“Tidakkah kau lihat, semua itu buatan tangan,” ujar Danda-san.
“Kau tidak berpikir jika mereka menyalakannya satu per satu kan?” tebak Yukawa-sensei seperti tahu jalan pikiran Kishitani. “Kembang api modern dinyalakan satu per satu secara berurutan dengan program komputer.”

Danda-san kemudian menunjukkan beberapa kembang api lain, “Ini naik hingga 330m meninggalkan ekor berwarna perak.”
“Lengkungan naik Ginboku,” puji Yukawa-sensei. “Letupannya dari Magnalium, campuran dari almunium, besi dan magnesium.” Kembang api itu pun kemudian membuka. “Warna biru yang cantik. Itu berasal dari eksitasi elektronik 450 nanometer tembaga klorida.” (3)
“Aku menyesal karena intinya tidak lengkap,” ujar Danda-san.
“Kontruksinya sempurna. Celahnya mungkin tidak cukup,” komentar Yukawa-sensei kemudian.
“Sepertinya begitu. Bagaimana kau tahu begitu banyak?” gantian Danda-san yang heran.
Tapi Yukawa-sensei mengabaikan pertanyaan itu, “Bagaimana akhirnya?”
“Saki-Ao-Beni. Berubah dari tembaga klorida 450 nanometer menjadi stronsium 650 nanometer,” ujar Danda-san.

Kedua pria ini sepertinya sangat menikmati obrolan mereka. Keduanya memuji kembang api di rekaman itu. Sementara Kishitani hanya bisa dibuat keheranan oleh ulah kedua pria ini, yang menurutnya aneh.

Malamnya, Kishitani mengajak Kanbara Atsuko untuk kembali datang ke apartemen korban, Komada-san. Kanbara-san sempat berpikir apakah itu investigasi di tempat, tapi Kishitani mengelak dan menyebutkan jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Di dalam apartemen, ternyata sudah menunggu Yukawa-sensei. Kali ini yang dibuat terkejut adalah Kishitani, karena Yukawa-sensei mengaku sudah pernah bertemu sebelumnya dengan Kanbara di gedung teater.

“Aku minta maaf mengganggu waktumu meski penampilanmu akan segera dimulai. Sebenarnya, ada alasan kenapa aku ingin bertemu malam ini. Karena itulah aku meminta bantuan asistenku untuk melakukan percobaan,” prolog Yukawa-sensei. “Aku tidak tertarik dengan investigasi pembunuhan. Bagaimana kau mengambil foto ini saat kau membunuh Komada-san di apartemen ini, itulah yang ingin kuketahui.”
“Boleh aku merekam pembicaraan kita? Ini akan menarik,” pinta Kanbara-san kemudian.

“Silahkan,” Yukawa-sensei tidak keberatan. Ia pun memulai penjelasannya, “Menurut hipotesisku, kau membuat dobel alibi untuk menghindari dianggap sebagai tersangka. Pertama panggilan telepon dan kedua gambar kembang api ini,” Yukawa-sensei menunjukkan gambar kembang api dari ponsel Komada-san. “Aku sudah menjelaskan bagaimana kau membuat alibi menggunakan panggilan telepon pada Kishitani-kun, jadi dia yang akan menjelaskannya nanti. Masalahnya adalah gambar ini. Ada jendela yang mengarah sisi utara dan selatan. Dan pada malam kejadian, kembang api diadakan di sisi utara,” Yukawa-sensei lalu membuka gorden jendela yang menghadap selatan. “Dan bulan ada di sisi selatan,” ujarnya menunjuk sisi satunya. Yukawa-sensei juga membuka gorden jendela di sisi itu.
“Tapi kau tidak bisa mengambil gambar itu dari sini,” komentar Kanbara-san.
“Kau benar. Itulah kenapa polisi bingung,” ujar Yukawa-sensei yang langsung dibantah Kishitani. Tapi Yukawa-sensei tetap tidak peduli. “Maafkan kekasaranku. Itulah kenapa Kishitani-kun mencapai batasnya.”

Kanbara-san tersenyum menanggapi ucapan Yukawa-sensei, “Kishitani-san, kau benar-benar sesuai dengan perkiraanku.”
“Tapi, aku bisa mengambil gambar ini dari sini,” lanjut Yukawa-sensei. “Jika aku menyebut ini sebagai fenomena, maka pasti ada sebab untuk setiap fenomena.”
“Pernyataan yang bagus,” puji Kanbara-san.
“Dan hipotesis akan menjadi kebenaran saat itu terbukti. Aku akan menunjukkan maksudku sekarang,” Yukawa-sensei lalu mengeluarkan ponselnya. “Ini Yukawa. Apa kau siap? Kalau begitu kau bisa mulai dalam 45 detik,” ujar Yukawa-sensei lalu mematikan ponselnya. Ia pun berbalik pada Kanbara-san lagi, “Setelah menusuk Komada-san, kau mengambil ponselnya dan mengaturnya sebagai kamera. Kembang api mulai pada pukul 6.45. Dengan kata lain, kau dapat melihat kembang api di sisi utara jendela. Dan kau juga dapat melihat bulan di jendela sebelah selatan. Pukul 7.10, kau baru saja membunuh Komada-san.
“Sensei, kau tidak bisa bicara seperti itu,” protes Kanbara.

“Kau berdiri di dekat jendela dan mengarahkan ponsel ke jendela di sisi selatan. Bulan akan tampak di layar ponsel. Dan kembang api yang ada di sebelah utara … “

Di saat yang sama, Danda-san bersama tim-nya menyalakan kembang api mereka.
“Kishitani-kun, tolong matikan lampu,” pinta Yukawa-sensei tidak beranjak dari sisi jendela.

Setelah kembang api pertama tadi, satu per satu menyusul kembang api yang lain juga tampak di langit. Masyarakat yang kebetulan melihat, tertarik dan langsung mengarahkan semua pandangan mereka ke langit yang dihiasi kembang api.
Yukawa-sensei melanjutkan penjelasannya, “Kembang api muncul di jendela sisi utara, bulan muncul di jendela sisi selatan. Tetapi … “ Yukawa-sensei mengambil remote dan mematikan televisi di ruangan itu.
“Cermin?” Kishitani heran.

Yukawa-sensei lalu berjongkok, masih di sisi jendela, “Di posisi ini, pantulan dari cermin dapat terlihat di jendela sisi selatan. Dan kembang api yang tampak di sisi utara akan dipantulkan oleh cermin.” Dan Yukawa-sensei pun mengambil gambar kembang api berlatar belakang bulan dari penjelasan tadi. Ia lalu menunjukkan jika gambar itu serupa dengan gambar kembang api yang ditemukan di ponsel Komada-san.
“Benar-benar serupa!” puji Kishitani.
“Ini membuktikan hipotesisku,” ujar Yukawa-sensei kemudian.

Flashback malam itu …
Semua persis terjadi seperti hipotesis Yukawa-sensei. Setelah membunuh Komada-san, Kanbara mematikan televisi dan semua lampu di ruangan itu. Lalu membuka jendela dan mengambil foto kembang api persis seperti yang dilakukan Yukawa-sensei tadi.

“Aku menutup layar TV dengan lapisan tipis. Lapisan ini biasanya digunakan pada smartphone untuk mengubahnya menjadi cermin. Sebenarnya, saat pertama datang kesini, aku penasaran. Meski semua dinding berdebu, tapi tidak ada debu ataupun sidik jadi di layar TV. Karena baik TV LCD ataupun plasma tidak menimbulkan listrik statis, seharusnya memang tidak membuat debu menempel. Tapi, dalam kehidupan normal, benda-benda itu akan sama kotornya seperti jendela. Aku tidak melihat sidik jari ataupun debu di TV. Itu artinya TV ini ditutupi dengan sesuatu. Aku berpikir jika Komada-san yang menutupnya. Dan tentu saja, kau juga tahu hal ini. “Yukawa-sensei lalu melepas lapisan tipis itu dari layar TV. Dan dalam sekejap, layar TV tidak lagi menjadi cermin, “Jika kau melipatnya seperi ini, kau bisa dengan mudah memasukkannya dalam tas dan membawanya,” ujar Yukawa-sensei masih dengan senyum khasnya.

Ponsel Yukawa berbunyi, ia pun mengangkatnya, “Ini Yukawa.” Rupanya itu dari Danda-san yang menanyakan bagaimana hasil kembang api buatannya. “Ya, itu kembang api yang sangat cantik. Kau bisa mengirimkan tagihannya pada Kishitani di kantor polisi Kaizuka-Kita. Terimakasih. Tidak apa-apa kan?” ujar Yukawa-sensei melihat Kishitani.

Kishitani yang masih terkejut hanya bisa mengiyakan tanpa berkomentar apapun lagi.

“Kau genius, Sensei!” puji Kanbara akhirnya angkat bicara, sembari tersenyum puas bahkan tertawa. “Yukawa-sensei, kau sangat menarik. Hipotesismu benar-benar tepat. Aku membunuh Komada-san.” Kanbara-san lalu mengambil alat perekamnya dan mulai merekam suaranya sendiri, “Jadi ini rasanya tersangka saat tersudut. Aku merasa darahku mengalir dengan cepat. Jariku … bergetar.” Komada-san melihat wajah keheranan Kishitani, “Kenapa? Aku baik-baik saja. Aku memang ingin membunuhnya. Aku ingin punya pengalaman membunuh orang,” aku Kanbara-san pula.
“Meski itu kejahatan tak termaafkan?” kejar Kishitani tidak terima.
“Ini sudah menjadi tugas aktor untuk menunjukkan karma manusia. Kami hanya bisa melakukan ini jika terbebas dari pandangan umum atau moral!” ujar Kanbara-san.
“Apa kau percaya jika hukum tidak akan menghukummu?” ujar Kishitani pula.

“Ilmuwan membunuh tikus untuk percobaan mereka,” Kanbara melihat ke arah Yukawa-sensei. Ia bangun lalu menuju ke arah jendela, “Aku bahkan bisa mengimajinasikan bagaimana perasaan si tikus … kenapa aku diperlakukan secara sadis? Jangan potong perutku! Sakit, hentikan! Tolong aku! Semuanya berguna untuk penampilanku di panggung. Bahkan merasa tersudut oleh Yukawa-sensei juga berguna. Investigasi, pengadilan, bahkan kehidupan di penjara,” air mata mulai menggenang di sudut mata Kanbara-san. Tapi ia tetap berusaha tertawa, “Tidak semua orang bisa merasakan pengalaman seperti itu. Jika aku bersikap baik, aku akan bebas dalam 10 tahun lagi. Saat keluar nanti, aku akan jadi aktor luar biasa! Aku tidak sabar!”

“Benarkah begitu?” Yukawa-sensei mulai berkomentar. “Saat kau keluar dari penjara 10 tahun lagi, aku tidak percaya masih ada orang yang mau lihat penampilanmu. Aku juga tidak berminat untuk melihat penampilanmu lagi. Aktor yang membunuh seseorang tidak lebih dari mempertontonkan pembunuhan. Kau hanya akan berpikir jika penampilan terbaik berasal dari pengalaman nyata. Disebut apa, Kishitani-kun?”

Self-Satisfaction—kepuasan pribadi,” jawab Kishitani.
“Benar. Kalau begitu aku permisi … “ pamit Yukawa-sensei. Tidak lupa ia meletakkan tiket pertunjukkan Kanbara Atsuko di meja.

Kishitani mengambil alat perekam milik Kanbara-san, “Aku mengambil ini sebagai barang bukti,” ujarnya kemudian.

Sepeninggal Yukawa-sensei, Kanbara Atsuko tidak dapat lagi menahan air matanya. Bulir bening itu pun mengalir di pipinya. Tapi sesaat kemudian ia tertawa lagi, di tengah tangisnya.

====bersambung===

Kelana’s comment:
Sejujurnya Kelana ga ngerti apa yang dipikirkan Kanbara Atsuko ini. Tapi di akhir-akhir, Kelana merasa kalau doski ini sepertinya nyaris gila ya. hmmm … life is not as simple as you think, am I right?

Catatan :
(1) Teori relativitas khusus
Einstein dengan teori relativitasnya, mengemukakan massa dan energi saling terkait. Oleh karena kecepatan cahaya sangat besar, suata massa yang kecil dapat diubah menjadi energi yang sangat besar. Inilah cikal bakal bom atom, suatu penemuan yang paling disesali oleh Einstein. Persamaan relativitas yang selama ini kita kenal (E=mc^2), adalah buah pemikiran einstein dan berlaku untuk benda dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Sedang teori relativitas khusus atau teori relativitas newton hanya berlaku untuk benda-benda yang memiliki kecepatan jauh lebih kecil daripada kecepatan cahaya. Dalam drama ini, yang mereka bahas adalah teori relativitas khusus, bukan teori relativitas umum.

(2) Listrik statis Disebut juga elektrostatis atau gejala listrik diam. Yaitu peristiwa berkumpulnya/ mengkutubnya muatan listrik pada suatu benda akibat perlakuan tertentu. Misalnya penggaris plastik yang digosok rambut atau kaca yang digosok kain sutra. Jumlah muatan pada benda tadi tidak mengalami perubahan/tidak berpindah, tetapi hanya mengkutub. Kenapa disebut listrik? Karena benda-benda bermuatan ini ternyata dapat menarik beberapa benda kecil, misalnya penggaris plastik yang digosok rambut dapat menarik serpihan kertas kecil-kecil. Pada kehidupan sehari-hari, peristiwa ini dapat terjadi dimana saja. Contohnya pada layar TV (selain LCD dan TV plasma). Setelah TV dimatikan, cobalah sentuh permukaan layar TV. Apa yang anda rasakan? Ada seperti sengatan-sengatan kecil bukan? Atau jika anda mendekatkan rambut ke permukaan TV tadi, rambut akan tertarik/terangkat. Itulah listrik statis. Karenanya di drama ini, dikatakan bahwa listrik statis yang terbentuk di layar TV pasti bisa menarik debu.

(3) Magnalium, tembaga klorida, dan angka-angka bersatuan nanometer. Seperti halnya gas neon atau gas logam mulia lainnya yang biasa digunakan untuk pengisi lampu neon atau lampu bilboard, tembaga klorida akan berpendar dengan warna tertentu jika dibakar/dipicu. Contohnya pada kembang api. Berbeda zat penyusunnya, maka warna yang dihasilkan juga akan berbeda. Angka-angka bersatuan nanometer ini menunjukkan panjang gelombang dari cahaya yang dihasilkan. Berbeda warna cahaya, maka panjang gelombangnya juga berbeda.

Semua informasi tambahan di sinopsis ini nyata dan bisa dibuktikan kebenarannya. Jika ada beberapa yang keliru/kurang tepat, itu semata-mata kesalahan author. Silahkan bagi sobat2 semua yang ingin mengoreksi atau melengkapinya.

Written by Kelana [Blog|FB|Twitter]
captured images by +ari airi 
Posted only on pelangidrama.net
DON’T REPOST TO ANOTHER SITE/FP FB!!!

12 pemikiran pada “[Sinopsis J-Drama] Galileo season 2 episode 8

  1. ak pernah baca bahwa einstein sebetulnya penjiplak Al Quran (lupa dimana bacanya). tp yg jelas peristiwa isro miraj nabi adalah salah satunya.
    Listrik statis….jadi keingat ai haibara ma si jenius conan

    Suka

  2. to @anonym
    sebenarnya smua ilmu pengetahuan it sudah ada di dlm alQuran
    hanya sja, manusia memiliki keterbatasan utk menemukan dan menjelaskan semuanya
    jdi klo mau disimpulkan, ga cuma einstein aj yg 'njiplak', semua ilmuwan jg gto donk, cm ga semua menyadari hal it. hnya orang2 yg sudah mempelajarinya sja yg tahu dan menyadari, sehingga bertambahlah keimanannya

    conan dan haibara ya? pasti yg insiden listrik statis di dalam mobilnya prof agasa

    @hira
    iy, yg jadi kanbara atsuko it terkenal kq
    cm kelana lupa namanya, kekekeke

    @deasy
    'baca' sinopsis versi bahasa inggris maksudnya?
    sementara kelana belon pernah nemu
    mungkin ada blog yg buat versi bahasa inggrisnya jg

    klo mau nonton, bisa streaming di site2 streaming
    ato DL di site donlot
    klo kelana sih biasanya di idws ato gooddrama

    Suka

  3. g tw mau bilang apa
    kyk x kan bara merealisasikan apa
    yg d katakan oleh komada.
    jd dia melakukan pertunjukan sesuai dgan pengalaman
    jf x kyk gnih.. aduh aduh

    ah komen x g nyambung y

    tiwi

    Suka

  4. yg paham hanya listrik statistik masih inget dulu percobaan penggaris plastik digosok2kan ke rambut hahahaha
    atsuko kubilang dia udah kayak psiko aja ckckckckc masa membunuh hanya untuk memperdalam aktng :sigh, faitoh kelana dikit lagi hihihi

    hira & kelana= ari malah ga kenal itu yg jadi atsuko hahaha

    Suka

  5. @ari&Kelana:yg jd atsuko tu bknny yg jd Megumi d Ruroken, klo rmbutny dpotong gni bkin ssah dkenali.hehe.hira mlh g ingetlg klo d SD bhs listrik statis.
    yep,byk bgt imu dlm qur'an, gak heran k dlu ilmuwan2 besar muslim bnyk yg hfal qur'an. kykny ad jg bk bhas fisika en sains yg tdpt dl qur'an klo g salah judulny ayat2 semesta, by bung agus purwanto

    hira

    Suka

  6. pagi ini ada yg berubah
    dgn blog kelana.
    kolom komentar x d ganti
    menggunakan acoun google y?
    wi td buka pengen tw hr ini klana
    posting apa.
    ternyata blom da dan kolom komentar x d rubh
    jd g bs ikutan nimbrung skrang paling cm menikmati bcaan sj. tnpa mnngalkn jejak

    selamat memulai hr yg baru kelana
    keep smile an cears up.

    hehe

    sotoy y wi

    Suka

  7. wah kelana malah nemu komentar km disini, Wi
    gomen … kmrn iseng2 ngotak atik, eh ternyata malah jdi gto ya
    ya udah deh, kelana balikin jadi yg biasa aja ya
    hehehe …
    gomene, malah ngobrolnya pindah lapak disini

    Suka

  8. Ping balik: SINOPSIS : Galileo season 2 episode 8 | Elang Kelana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s