[Sinopsis J-Drama] Galileo season 2 episode 9

~Sinopsis Galileo season 2 Episode 9~
Disturbance – Kekacauan

3 Juni
Pak polisi, aku lelaki dengan tangan iblis. Dengan tangan ini, aku bisa membuat orang mati bagaimanapun caranya. Polisi tidak akan bisa menghentikanku.
Karena polisi tidak dapat melihat tangan iblis. Kerenanya, polisi akan menyebut kejahatan ini sebagai kecelakaan. Karena kalian semua bodoh, kalian akan berpikir jika surat ini hanya lelucon…
Di tempat lain, seorang pria yang bekerja sebagai pembersih jendela tengah naik ke bagian gedung paling tinggi. Pria itu belum mengenakan peralatan keamanannya. Sampai di atas, dia merasa pusing. Dan setelahnya, mucul kehebohan di bawah gedung saat orang-orang menemukan pria tadi sudah tidak bernyawa karena terjatuh dari atas gedung tadi.
…. Jadi aku akan menunjukkan demonstrasi. Maka kalian akan mengerti betapa berkuasanya aku,” Kishitani membaca sebuah surat. “Ini pengakuan,” komentarnya kemudian.
“Tangan iblis, apa kau pikir ini nyata?” komentar Ohtagawa-san menanggapi.
Kishitani melanjutkan membaca, “Jika kalian tidak bisa menyelesaikan ini sendiri, mintalah bantuan dari profesor Y di universitas T. Pertandingan ini akan menentukan siapa jenius yang sebenarnya. Sampaikan salamku pada profesor tamu itu, dariku The Devil’s Hand. Profesor Y … “ gumam Kishitani. Ponselnya kemudian berdering. Dari Yukawa-sensei.
“Aku mendapatkan surat aneh,” ujar suara di seberang. “Pengirimnya, si tangan iblis.”
Lab Yukawa-sensei
“Aku mendapat surat lain, itu yang kedua,” ujar Yukawa-sensei pada Kishitani. Ia sendiri masih asyik dengan percobaannya.
“Polisi juga mendapatkan surat kedua. Seperti surat sebelumnya, aku akan menunjukkan kekuatan tangan iblis. Aku menyebabkan Ueda Shigeyuki meninggal karena jatuh,” komentar Kishitani. Ia heran dengan eksperimen yang tengah dilakukan Yukawa-sensei.
“Ini percobaan gerak gelombang menggunakan pegas,” Kuribayashi-san yang menjawab. Sementara Yukawa-sensei melakukan percobaan, ia sendiri asyik merekam mereka semua.
“Sebenarnya, setelah menerima surat pertama, Ueda Shigeyuki-san jatuh dan meninggal,” Kishitani melanjutkan penjelasannya. “Ueda-san adalah petugas pembersih jendela. Dia jatuh saat membersihkan jendela bagian atap di gedung hiburan di Shinagawa. Kami masih menginvestigasi hubungan surat ini dengan kematinnya. Sejauh ini, belum ada kejelasan apapun.”

“Karena surat ini muncul setelah kecelakaan, itu artinya ditulis setelah melihat berita,” Kuribayashi-san menyimpulkan. “Tapi menyebut dirinya ‘tangan iblis’ benar-benar bodoh.”

“Tapi pada surat pertama yang dikirimkan pada polisi, ada kalimat ‘seperti biasa, datang dan mintalah bantuan pada profesor Y di Universitas T. Ayo kita buat pertandingan, siapa yang sebenarnya seorang saintis jenius’,” lanjut Kishitani.
“Jadi itulah kenapa aku mendapat surat ini,” komentar Yukawa-sensei tanpa teralihkan sama sekali dari percobaannya. Ini semua salahmu!” ujar Yukawa-sensei pada Kishitani. Ia kemudian mengambil sebuah majalah dan menunjukkan profilnya di majalah itu. “Satu-satunya alasan artikel ini muncul di majalah adalah karena ada seseorang yang menceritakan tentangku pada mereka.”
“Bukan aku!” elak Kishitani.

Yukawa-sensei menutup majalah itu tepat di depan mata Kishitani dengan keras, “Aku tidak tertarik bekerjasama dengan polisi. Aku hanya ingin mencari tahu kebenaran dibalik fenomena misterius.”
“Sensei tidak suka muncul di media massa seperti itu,” Kuribayashi-san menambahkan.

 
“Aku tahu. Tapi itu bukan aku. Itulah kenapa aku minta maaf. Aku minta maaf soal artikelnya,” Kishitani masih terus berusaha membuat Yukawa-sensei percaya. “Tapi kalau insiden ‘tangan iblis’ berawal dari artikel ini, itu bukan hal serius kan?”
“Lihat surat kedua yang dialamatkan padaku, bagian belakangnya!” pinta Yukawa-sensei. Ia sendiri kemudian beranjak ke laptopnya. Ternyata ada sebuah alamat situs internet. “Aku mengakses alamat itu.” Yukawa-sensei menunjukkan temuannya, yang ternyata website resmi sebuah film. Yukawa-sensei lalu menggeser kursor dan sampai pada bagian pesan di bawah poster film itu.
Aku akan melihat film ini pada 3 Juni. Aku harus hati-hati agar tidak jatuh karena terlalu bersemangat. Dari pembersih jendela di pachinko parlor di Shinagawa.’ Pesan ini ditulis pada 2 Juni, atau sehari sebelum kejadian korban Ueda-san jatuh dari atap gedung.
“Apa si tangan iblis ini benar-benar ada?”
Yukawa-sensei beranjak dari laptopnya. Ia menuju pantry dan bersiap menyeduh kopi, “Aku tidak yakin dia benar-benar ada atau tidak. Tapi, jika pesan itu muncul sehari sebelum kejadian dan seseorang meninggal hari berikutnya, ini tidak akan menjadi kasus kekacauan yang sederhana lagi kan?”
“Yukawa-sensei, apa kau tahu siapa yang bisa melakukan hal bodoh seperti ini?”
“Aku tidak tahu. Yang aku tahu adalah orang ingin mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya, tapi aku tidak tahu kepribadian mereka. Tapi karena si pengirim surat mengatakan dia seorang ilmuwan, si tangan iblis ini menggunakan metode ilmiah untuk melakukan kejahatan dan bukan kekuatan sihir atau semacamnya,” komentar Yukawa-sensei sambil menyeduh kopinya.
“Jadi, apa kau tahu ilmuwan yang membencimu?” tanya Kishitani kemudian.
“Mereka pasti ada. Tapi aku tidak peduli orang seperti itu,” Yukawa-sensei menghirup kopinya lalu mulai meminumnya.
Tiba-tiba Kishitani punya ide. Ia memandang serius ke arah Kuribayashi-san, “Benar! Kau asisten bahkan sejak Yukawa-sensei masih mahasiswa kan? Dan sekarang dia melampauimu dan kau yang malah menjadi asistennya. Kau pasti iri. Kau dendam padanya. Apa kau membencinya?” desak Kishitani. Kuribayashi-san kaget karena ucapan Kishitani yang menyudutkannya itu, “Aku tidak membencinya! Aku menyukainya! Aku sangat menyukainya! Aku tidak bermaksud begitu … sebagai rekan!” elak Kuribayashi-san.
“Aku akan menginterogasinya  di kantor polisi, ikut denganku!” Kishitani menyeret asisten Yukawa-sensei itu. Kuribayashi-san yang ketakutan minta bantuan Yukawa-sensei.
“Kuribayashi-san bukan orang yang akan melakukan hal buruk seperti itu,” sergah Yukawa-sensei.
Kishitani heran dengan hal yang baru saja didengarnya dari profesor itu, “Yukawa-sensei, kau tidak mengatakan pendapat tidak logis kan?” Kishitani lalu melepaskan Kuribayashi-san. Ia lalu mengejar Yukawa-sensei yang kembali ke tempat duduknya, “Si tangan iblis ini mungkin benar-benar membunuh seseorang.”
“Meski begitu, jangan libatkan kami dalam kasusmu,” ujar Yukawa-sensei.
“Kau sudah terlibat kan?” Kishitani mendebat balik profesor ini. “Si tangan iblis menantangmu. Sensei, kau sudah ada di tengah-tengah kasus ini!
“Apa pentingnya menantangku? Lebih baik si pelaku menantang polisi kan? Meski dia menantangku dan menang, dia tidak akan mendapat hadiah atau apapun,” jawab Yukawa-sensei dengan santainya.
“Itu benar. Mereka tidak akan mendapat apapun. Dengar, Sensei! Kau harus menang. Atau seseorang akan terbunuh!” ujar Kishitani serius.
Yukawa-sensei akhirnya ikut Kishitani mendatangi TKP jatuhnya pekerja pembersih jendela itu.
“Itu ada di atas sana,” tunjuk Kishitani. “Ueda-san bertugas membersihkan jendela tiap Senin. Karena dia sudah berpengalaman dan agak terlalu percaya diri, dia tidak menggunakan sabuk keamanan. Tapi saat ia jatuh, tidak ada orang di sekitarnya.”
“Dengan kata lain, dia tidak didorong oleh siapapun,” Yukawa-sensei menanggapi. “Apa ada getaran di gedung?” tanya Yukawa-sensei kemudian, tapi dijawab Kishitani dengan gelengan. “Bahkan tidak ada angin cukup kencang. Dari sini, aku tidak bisa tahu apa dia mengenakan sabuk keamanan atau tidak,” Yukawa-sensei menyimpulkan. Ia kemudian tertarik pada sebuah gedung lain tepat di seberang gedung TKP itu.
Yukawa-sensei dan Kishitani lalu naik ke gedung di sebelah gedung TKP.
“Dari sini, aku bisa melihat dengan jelas si pekerja,” ujar Yukawa-sensei. Ia lalu menjulurkan tangan dan ibu jarinya.
“Apa yang kau lakukan?” Kishitani heran.
“Dia jatuh ke tanah dari ketinggian sekitar 30 m.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
Yukawa-sensei menjulurkan lengannya, “Lenganku panjangnya 59 cm. Panjang ibu jariku 6,6 cm. Dengan kata lain, sudut antara ujung dan pangkal ibu jariku adalah 6,4 derajat. Jika aku meletakkan ibu jariku seperti ini, maka tinggi gedung sekitar 17 ibu jari. Dengan kata lain, tingginya 30m.” (ini adalah cara sederhana memanfaatkan matematika. Dapat menggunakan trigonometri yang melibatkan sudut atau menggunakan prinsip kesebangunan segitiga)
“Wow, ini pertama kalinya aku melihat seseorang menggunakan matematika dalam kehidupan nyata! Luar biasa!” puji Kishitani.
“Itu bukan matematika. Itu hanya perhitungan perkiraan saja. Bagaimana dia didorong jatuh dari gedung hingga tampak seperti kecelakaan?” gumam Yukawa-sensei.
“Jangan bilang, semacam kekuatan tidak tampak,” ujar Kishitani asal.
“Ada banyak tipe kekuatan tidak tampak di dunia ini. Contohnya magnet dan gravitasi umum (1). Bahkan antara kau dan aku ada gravitasi. Tapi pelaku tidak menggunakan kekuatan tidak tampak semacam itu. Jika magnet yang digunakan, benda lain pasti ada yang ikut jatuh bersama korban. Hal itu juga sama dengan gravitasi. Meski ada black hole—lubang hitam (2), hasilnya juga pasti sama. Ini sangat menarik!”
Di sebuah tempat, tampak seseorang sedang mengetik di depan komputernya…
“Aku membuktikan ‘si tangan iblis’ adalah nyata. Sekarang aku punya permintaan. Aku ingin polisi melakukan konferensi pers dan memberitahukan soal aku pada orang-orang. Tapi jika kau melakukan itu, pasti ada orang yang akan berpura-pura menjadi aku. Aku akan mengatakan cara mengetahui siapa si peniru,” Kishitani membaca surat yang masuk lagi ke kantor polisi. Saat ini ia berada di lab Yukawa-sensei. “Tabel nomer acak. Si tangan iblis, kolom S, baris G, nomer 96.”
“Itu seperti kode,” komentar Yukawa-sensei yang tengah asyik memilah-milah buku. “Dengan itu kau bisa tahu mana surat asli dan mana peniru. Dia penjahat yang baik. Dia ingin kita memberitahu publik soal dirinya. Dia tipe orang yang ingin menjadi pusat perhatian. Dan dia juga khawatir soal peniru yang berpura-pura menjadi menjadi si tangan iblis.”
“Pelaku percaya kalau kita akan memenuhi permintaannya,” lanjut Kishitani.
“Apa kalian akan melakukan konferensi pers?” tanya Yukawa-sensei masih belum beranjak dari dokumennya.
“Polisi? Tentu saja tidak! Kita tidak akan membiarkan dia bertindak lebih jauh lagi. Pelaku juga menulis ini di akhir surat,” Kishitani menunjukkan copy surat itu, “P.S. aku akan melakukan demonstrasi kedua. sampaikan salamku pada profesor tamu Y.
7 Juni …
Seseorang tampak sedang memegang kemudi sebuah mobil. Ia memperhatikan sesuatu yang berada di luar mobilnya.
Dari sisi lain jalan, tampak seorang pekerja tengah pulang dari kantornya dengan sepeda. Tapi saat melewati perlintasan kereta api, mendadak ia kesakitan. Lelaki itu merasa pusing. Sementara itu, lampu peringatan kereta api sudah menyala. Pria tadi semakin kesakitan. Akhirnya ia tidak dapat berdiri lagi dan ambruk. Merasa ada kereta yang akan lewat, pria tadi berusaha bangun dan menghindar. Ia berhasil menghindari satu kereta, tapi sayangnya dari arah berlawanan, kereta lain juga melintas.
Orang yang tadi ada di dalam mobil rupanya memperhatikan semua kejadian itu. Bukannya menolong orang tadi, ia malah hanya melihat saja. Setelahnya orang ini malah tampak tersenyum puas.

“Fisika dapat ditemukan di sekitar anda,” seorang pria berkaca mata tampak sedang memberikan pelajaran. “Contohnya, di sini,” pria itu lalu mengambil sebuah benda kecil. “Anda bisa menggunakan ini untuk tetap sehat. Ini disebut pedometer. Dengan model terbaru, saat dikocok, ini tidak akan menghitung. Tapi saat anda berjalan, ini menghitung. Bukankah anda berpikir ini misterius?”
Pria tadi masih tampak bersemangat menjelaskan. Tapi ternyata yang ada di depannya semua adalah para orang tua. Para orang tua itu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dan hanya satu orang yang bertahan mendengarkan penjelasan pria berkaca mata tadi. Pria berkacamata tadi melanjutkan, “Alat ini memiliki sensor percepatan di dalamnya. Mikrokomputer di dalamnya mendeteksi gerakan yang serupa dengan berjalan, dan mengabaikan getaran lain. Bukankah ini menarik? Ini disebut elemen piezoelectrik (3).”
Dari arah pintu tampak seseorang membuka pintu ruangan. Orang itu rupanya Kuribayashi-san, dan si pengajar tadi mengenali tamunya ini.
Kuribayashi-san kemudian datang ke apartemen si pria berkaca mata tadi, “Membicarakan elemen piezoelektrik agak sulit bagi mereka (para lansia), Takato-kun, karena kau menceritakan hal kuno,” komentar Kuribayashi-san.
“Tidak masalah, lagipula bayarannya hanya 8.000 yen saja,” ujar pria yang disebut Takato itu sambil duduk di dekat Kuribayashi-san.
“8.000 tiap kelas?! Tidak buruk untuk pekerjaan tambahan,” komentar Kuribayashi-san setengah terkejut.
“Pekerjaan tambahan? Ini pekerjaan utamaku,” elak Takato-san.
“Apa? Bukannya kau bekerja di perusahaan?”
“Aku berhenti,” cerita Takato-san lagi. “Mereka mengatakan mempublikasikan penelitianku tidak mungkin. Tidak ada yang mengerti betapa berharganya penelitianku.”
Kuribayashi-san melihat ke arah foto Takato-san yang ada di ruangan itu, “Apa kau akan baik-baik saja? Bagaimana dengan istrimu? Dia perawat kan?”
“Ah, Yumi mengatakan, mau bagaimana lagi. Faktanya pekerjaannya lebih membantu.”
Kuribayashi-san merasa tidak enak karena datang di saat yang tidak tepat. Ia pun berniat pamit pergi. Tapi Takato-san menahannya. Takato-san mengatakan tidak masalah mereka minum-minum malam itu, karena istrinya ada sift malam sehingga belum akan pulang hingga besok. Kuribayashi-san tadinya tidak enak, tapi akhirnya dia menyerah dan setuju untuk minum bersama.
Sambil minum, Kuribayashi-san mencoba menghibur temannya itu. Ia mengatakan jika ada ilmuwan lain yang juga mengalami kesulitan keuangan. Kuribayashi-san juga menceritakan soal atasannya, Yukawa-sensei yang mendapat tantangan dari si tangan iblis. Saat Takato-san bertanya apa kejadian ini membuat Yukawa-sensei terganggu, Kuribayashi-san mengatakan tidak yakin. Ia juga bercerita jika polisi tidak terlalu peduli.
“Apa kau punya buku?” tanya Kuribayashi-san tiba-tiba.
“Ada di sana,” Takato-san menunjuk ruangan di sebelahnya.
“Boleh aku lihat?” Kuribayashi-san hendak masuk ke ruangan itu.
Tapi Takato-san dengan sigap menahannya, “Itu ruang tidur!” Dan di dinding ruangan itu tampak beberapa lubang kecil aneh.
“Ini beberapa list kecelakaan fatal yang terjadi di Tokyo beberapa bulan belakangan,” ujar Ohtagawa-san pada Kishitani.

Beberapa kali Ohtagawa-san mulai membaca, Kishitani merebut laporan kecelakaan itu, “Kenapa kau tidak memilih jenis kecelakaan yang aneh saja?!” protes Kishitani. “Misalnya seseorang yang jatuh dari alat gym dan meninggal. Atau jatuh karena kulit pisang, terbentur kepalanya dan meninggal. Si tangan iblis ini mungkin bertanggungjawab untuk kecelakaan sederhana seperti itu.”
“Memangnya kau pikir berapa banyak insiden seperti itu terjadi di Tokyo?”
“Tapi, kita tetap harus melihat lagi kecelakaan seperti itu.”
“Tapi tidak mungkin kalau hanya kita berdua,” protes Ohtagawa-san tidak mau kalah.
“Kenapa kau tidak minta bantuan pada MPD?” usul Kishitani. Ia kemudian keluar dari ruangan itu. Tapi setelahnya kembali lagi, “Kita berurusan dengan si tangan iblis!”
Kuribayasahi-san dan Takato-san selesai minum-minum. Kuribayashi-san pun pamit untuk pulang. Takato-san mengingatkan Kuribayashi-san agar tidak lupa membawa ponselnya.
“Aku senang menjadi temanmu, Takato-kun. Kita benar-benar mirip. Sampai jumpa,” pamit Kuribayashi-san.
Setelah Kuribayashi-san pergi, wajah cerita Takato-san berubah menjadi muram, “Mirip apanya?”
Tiba-tiba pintu apartemen Takato-san kembali terbuka. Kuribayashi-san kembali dan memberikan koran yang sudah datang. Kali ini Kuribayashi-san benar-benar pergi, Takato-san pun kemudian mengunci pintu apartemen itu.
Takato-san masuk ke dalam ruangan yang tadi tidak jadi dimasuki oleh Kuribayashi-san. Ruangan itu benar sebuah kamar, tapi di dindingnya penuh dengan artikel tentang Yukawa-sensei. Beberapa artikel menyebutkan kalau Yukawa-sensei terlibat membantu kepolisian memecahkan kasus. Dan dari semua artikel itu, tampak bekas-bekas cacahan oleh benda tajam pada wajah Yukawa-sensei. Takato-san menyimpan sebuah rahasia dalam dirinya. Takato-san mengambil benda tajam dan mulai menusuk-nusuk wajah Yukawa-sensei dengan benda itu.
11 Juni.
Kishitani sudah menunggu Yukawa-sensei di depan labnya. Dan setelah profesor fisika itu datang, Kishitani langsung menunjukkan surat lain yang datang dari si tangan iblis.
Ishizuka Seiji tertabrak kereta dan meninggal pada 7 Juni. Kekuatan si tangan iblis menyebabkan hal itu terjadi. Sampaikan salamku pada Profesor Y. Si tangan iblis. Kolom T, baris O,88. Si tangan iblis.
Kishitani melanjutkan, “Seperti pada surat ini, Ishizuka Seiji (25) tertabrak kereta dan meninggal di Omori, Ohta-ku pada 7 Juni. Dan ini sesuai dengan tabel angka acak. Di balik surat ada alamat situs lain. “ Kishitani mengambil tabletnya dan membuka alamat itu, “Ini adalah site resmi tim baseball Arslies. Cek pesan di bawahnya, mereka mengalami kegagalan parah. Mereka tidak akan jadi pemenang tahun ini. Aku tidak punya energi lagi untuk hidup. Aku mungkin akan melompat di depan kereta besok. Dari fans kedua.
“Fans kedua … “ gumam Yukawa-sensei yang sudah melepas jasnya dan duduk di mejanya.
“Pesan ini ditulis pada 11.08, hari sebelumnya, 6 Juni,” ujar Kishitani pula. Sementara Kuribayashi-san merebut tablet itu karena ingin tahu, Kishitani melanjutkan ucapannya. “Ishizuka-san akan menikah musim gugur ini. Tidak mungkin kehidupannya akan membuat dia depresi seperti ini. Dan lebih penting, dia adalah fans bola.”
“Ini si tangan iblis!” seru Kuribayashi-san yakin. “Tapi aku tidak melakukan ini!”

Kishitani merasa terganggu dengan teriakan Kuribayashi-san dan mengabaikannya dengan menutup telinga, “Si tangan iblis, menggunakan metode yang kita tidak mengerti. Menyebabkan seorang pekerja berpengalaman jatuh dari atap, dan menyebakan seorang karyawan melompat ke rel kereta api tanpa alasan.”

“Kenapa? Kenapa si pelaku menggunakan internet? Meski identitasnya mungkin akan ketahuan,” gumam Yukawa-sensei bangkit dari kursinya.
“Kami belum berhasil menemukan siapa yang mengirim pesan ini,” sambung Kishitani.
“Dia mungkin menggunakan server di luar negeri,” ujar Kuribayashi-san.
Yukawa-sensei beranjak ke pantry dan menyiapkan kopinya, “Daripada menggunakan hal menyulitkan seperti itu, dia bisa dengan sederhana mengirimiku surat dengan post. Kirimkan itu sebelum tiap insiden, dan aku akan datang setelahnya. Itu adalah cara teraman bagi si pelaku.”
Tapi pembicaraan mereka terpotong oleh dering suara ponsel Kishitani. Rekannya, Ohtagawa-san meminta Kishitani kembali ke markas, karena sesuatu yang besar terjadi.
Si tangan iblis rupanya mengirimkan surat ke media massa. Karena hal ini, polisi mau tidak mau akhirnya mengadakan konferensi pers. Meski begitu, polisi masih tetap bungkam mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Berbagai pernyataan dan kekhawatiran muncul di kalangan masyarakat. Mereka mulai panik, jika benar insiden yang terjadi adalah ulah si tangan iblis.
Di tempat lain, Yukawa-sensei ternyata juga melihat konferensi pers polisi dari lab-nya. Ia lalu mematikan televisi dan beranjak pulang.
Kishitani yang baru datang dari lab Yukawa-sensei akhirnya kembali ke markas. Di depan markas, ramai oleh para kuli tinta yang mencari informasi detail mengenai sosok yang dikenal dengan si tangan iblis ini.
Kishitani lalu menghubungi ponsel Yukawa-sensei, “Media massa mungkin datang ke tempatmu. Tapi, kau tidak perlu mengatakan apapun. Kau bisa bilang kalau kau tidak ada hubungannya dengan insiden ini.”
“Aku tidak berniat mengatakan apapun. Yang utama, aku tidak punya alasan untuk berurusan dengan mereka,” jawab Yukawa-sensei kalem. Ia pun lalu keluar dari lab-nya dan menutup pembicaraan. Tapi ponselnya kembali berbunyi, dari nomer tidak dikenal.

“Kolom S, baris G, 96. Kolom T, baris O, 88,” ujar suara di seberang.

“Apa tujuanmu?” tanya Yukawa-sensei.
Tapi orang yang bicara dari sebuah telepon umum itu terus saja melanjutkan, “Kolom K, baris N, 20.”
“Jika ada yang ingin kau katakan padaku, katakan itu sekarang!”
“Kolom N, baris F, 61.”
“Apa yang yang akan dilakukan seseorang yang menyebut dirinya ilmuwan?”
“Kolom U, baris P, 17,” lanjut orang itu lagi, kemudian tertawa.
Yukawa-sensei yang sudah kesal akhirnya menutup pembicaraan dan beranjak pergi.
Yukawa-sensei dan Kishitani mendatangi TKP insiden kecelakaan kereta api.
“Benar-benar kacau! Para peniru si tangan iblis mengirim surat ke sekolah-sekolah, perusahaan, dll. Tapi para peniru tidak tahu soal tabel angka acak, jadi mudah diketahui mana surat yang palsu. Tabel nomer acak sangat membantu, artinya si tangan iblis sebenarnya membantu kita!” curhat Kishitani. Mereka berdua lalu menyeberang setelah kereta lewat dan pintu perlintasan kembali terbuka. “Beberapa taman bermain tutup sementara meski kita mengatakan soal surat yang mereka terima adalah palsu.”
Yukawa-sensei memperhatikan sekeliling tempat itu sambil mencocokkannya dengan foto, “Hal yang sama … “ ia lalu melihat ke sebuah rambu tanda parkir.
“Mungkin sekarang si pelaku tidak berhenti tertawa,” lanjut Kishitani.
Yukawa-sensei dan Kishitani kembali ke lab. Tapi Yukawa-sensei masih meneruskan pemikirannya.
“Pesan diposkan di internet sehari sebalum kejadian. Kenapa si pelaku mengeposkan pesan kejahatannya di internet? Dan kenapa dia mengirimkan surat pengakuan kejahatan lewat pos?” Yukawa-sensei mencorat-coret di papan tulis. “Dan satu lagi, kecelakaan itu terjadi pada tanggal 7 Juni. Pelaku mengirimkan surat pengakuan kejahatan karena membunuh Ishizuka-san pada tanggal 10 Juni. Dengan kata lain, itu 3 hari setelah kejadian. Apa yang dilakukan si pelaku selama itu? Aku punya pertanyaan lain. Biasanya, catatan kejahatan datang sebelum surat pengakuan. Tapi ini benar-benar sebaliknya.”
Kishitani tampak berpikir keras, “Si pelaku fokus untuk membunuh.” Tiba-tiba Kishitani teringat sesuatu, “Ah, 3 hari yang kau sebutkan ini, korban Ishizuka-san tidak sadarkan diri, dan dia baru meninggal pada 10 Juni. Si pelaku mungkin melihat berita dan mengirim surat pengakuan. Karena si pelaku menyebut dirinya si tangan iblis, dia pasti harus membunuh orang!” ujar Kishitani mendramatisir suasana.
Ucapan Kishitani membuat Yukawa-sensei menyadari sesuatu. Ia pun berbalik, “Kau salah!” Yukawa-sensei menyingkirkan Kishitani dari depan papan tulis. “Pernyataan jika si tangan iblis dapat membunuh orang kapan dan dengan cara apapun itu kebohongan.” Yukawa-sensei lalu mengambil surat yang tadi dibawa Kishitani, tampak berpikir.
Perintis Penelitian Fisika dan Simposium Pengembangan. Takato-san memandangi makalah di depannya dengan wajah geram, di dalam kamarnya.
Suasana kemudian berubah. Saat itu Takato-san berada di depan sebuah simposium dan tengah mempresentasikan makalahnya. Ia berhasil membuat audiens terkesan akan tulisannya itu. Tapi tiba-tiba saja seseorang mengangkat tangannya dan berniat bertanya.
“Saya Yukawa dari Universitas Teito. Meski penelitian Takato-san sangat menarik, tapi terdapat kekeliruan… “
Kembali ke kamar Takato-san. Ia begitu geram menyebut nama profesor dari universitas Teito itu, “Yukawa … “ ponsel Takato-san kemudian berdering. Dari Kuribayashi-san.

Rupanya Kuribayashi-san mengajak Takato-san untuk minum-minum. Kuribayashi-san juga mulai curhat soal masalah dan keributan yang terjadi karena ulah si tangan iblis. Bahkan universitas pun ikut repot karena hal ini. Kuribayashi-san menceritakan ada kemungkinan Yukawa-sensei bahkan harus meninggalkan universitas jika ini terus berlanjut.
“Itu peluang bagus untukmu. Kau bisa mengambil alih posisinya,” komentar Takato-san.
“Ah, itu sedikit keterlaluan,” elak Kuribayashi-san.
“Tapi dunia saintis berdasarkan keberuntungan dan kekuatan politik,” lanjut Takato-san. “Kemampuan Yukawa-sensei sebenarnya tidak terlalu jauh dibanding kita.”
Baru saja Kuribayashi-san akan berkomentar lagi, ia yang sudah setengah mabok malah menumpahkan minuman. Akhirnya Kuribayashi-san ribut sendiri untuk membersihkan itu.

Pusat teknologi
Kishitani datang ke sebuah ruangan seperti diminta Yukawa-sensei. Kali ini ia dibuat terkejut dengan ruangan penuh komputer dan juga layar besar di salah satu sisinya. Di depan masing-masing komputer, tampak para pegawai dan para mahasiswa asyik mengetik di atas keyboard.
“Ruangan apa ini? Apa yang mereka lakukan?” Kishitani heran.
“Kami mencari jejak yang ditinggalkan oleh si tangan iblis,” ujar Yukawa-sensei kalem sambil menunjuk monitor besar di depan mereka. “Jika si pelaku mengirimkan surat pengakuan setelah nama si korban muncul di berita, inilah bagaimana mereka melakukannya.”
“Tolong jelaskan agar orang sosial sepertiku dapat mengerti,” pinta Kishitani mulai frustasi.
“Si pelaku menulis pesan kejahatan di pesan internet, kemudian melakukan apa yang dia tulis. Tapi, tidak semua rencana kejahatannya sukses. Saat kejahatannya tidak sesuai rencana, pelaku tidak mengirimkan surat pengakuan atau mengatakan pada kita keberadaan pesan kejahatan yang dia rencanakan. Jika pelaku tidak dapat menyebabkan kecelakaan, rencananya gagal. Dan lagi, meski ia menyebabkan kecelakaan, jika korban tidak meninggal, dia juga gagal. Kemungkinan si pelaku akan berada dalam masalah jika kematian korban tidak terbukti. Korban yang tidak meninggal mungkin tahu sesuatu tentang si tangan iblis ini,” Yukawa-sensei mencoba menjelaskan.
“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” Kishitani menyerah.
Tiba-tiba salah satu mahasiswa menyebutkan kalau ia berhasil menemukan sesuatu. Yukawa-sensei langsung melihat hasil temuan itu di monitor besar. Situs yang ditemukan itu adalah fansclub untuk sebuah grup idola, Horiuchi Marina dan SMA Sakura.
Aku mendengarkan musik kalian setiap hari di mobil. Aku akan berbelanja di Ginza besok, aku harus hati-hati agar tidak menyebabkan kecelakaan. Oleh Fans kedua. Pesan itu ternyata diposting pada tanggal 4 Juni pada 8.13 malam.
“Jika pesan ini diposkan sebelum si tangan iblis gagal, pasti ada korban kedua. kishitani-kun, tolong investigasi semua kecelakaan yang terjadi di jembatan sekitar Ginza pada 5 Juni!” pinta Yukawa-sensei.
“Semua kecelakaan fatal?” Kishitani tidak yakin.
“Tidak. Semua kecelakaan tidak fatal!”
Kishitani mengajak Yukawa-sensei mendatangi seseorang. Wanita ini diselamatkan polisi yang nyaris jatuh dari jembatan pada 5 Juni sekitar pukul 3 sore.
Wanita itu bercerita kalau ia melihat jembatan seperti bergelombang karena gempa. Tapi saat melihat mobil-mobil lain berjalan dengan normal, wanita itu sadar kalau ia yang pusing. Wanita itu mengaku merasakan dengungan di telinganya. Tapi ia berhasil bertahan kemudian parkir di sisi jalan.
“Itu mirip dengan penyakit Meniere (4),” komentar Yukawa-sensei. Ia asyik sendiri melihat jalanan di luar dari jendela apartemen wanita itu.
“Aku menemui dokter, dan dia mengatakan tidak ada yang salah,” cerita wanita itu lagi.
“Pusing. berdengung di telinga. Jembatan tampak bergelombang,” gumam Yukawa-sensei. Ia kemudian menyadari sesuati. Buru-buru ia beranjak dari sisi jendela.

Kishitani menyadari sesuatu, “Jangan! Tunggu! Gunakan kertas ini!” pintanya.
Tapi Yukawa-sensei tidak peduli. Ia mengambil lipstik yang ada di atas meja, dan mulai menulis di cermin yang ada di ruangan itu. Satu per satu fakta berseliweran di kepalanya.
“Itu bukan tempat yang tepat!” sesal Kishitani. Tapi profesor itu sudah beranjak pergi. Dengan takut-takut Kishitani melihat ke arah si wanita pemilik apartemen, “Aku akan membersihkannya.”

Di apartemennya, Takato-san sedang menyaksikan berita. Ternyata Yukawa-sensei sedang diwawancarai oleh seorang pembaca acara di televisi terkait insiden yang belakangan terjadi itu.
“Meski si pelaku bisa menyebabkan kecelakaan di tempat tertentu, dia tidak dapat membunuh orang tertentu. Si pelaku menemukan nama korban di berita. Dengan kata lain, si pelaku membunuh orang secara acak, dan setelahnya membuat pernyataan sesuai fakta. Itu benar-benar kecurangan,” ujar Yukawa-sensei. “Dan metode yang digunakannya adalah sains umum. Maksudku teknik lama dan kuno.”
“Jadi, maksud anda kejahatan level rendah?” si pembawa acara menyimpulkan.
Takato-san yang melihat berita itu geram luar biasa. Ia merasa dipermainkan.
Flash back saat Takato-san mempublikasikan tulisannya di simposium.
“Dalam penelitian Takato-san, ada kesalahan,” ujar Yukawa-sensei. “Jika kau menggunakan poros berpilin, itu hanya akan berfungsi untuk kondisi terbatas.”
“Pengaturan kondisi itu tidak akan jadi masalah di masa depan,” jawab Takato-san.
“Kalau begitu, aku pikir menggunakan poros magnetik yang aku kembangkan akan lebih efisien dan ekonomis,” lanjut Yukawa-sensei.
“Efisiensi harga bukan tujuanku satu-satunya.”
“Kalau begitu, ini tidak terlalu inovatif. Tentu saja, aku tidak membantah betapa bernilainya penelitianmu ini. Aku menikmati proposal ini. Terimakasih banyak,” Yukawa-sensei menutup ucapannya. Setelahnya Takato-san spechless. Ia tidak bisa membalas apapun. Bahkan para peserta simposium pun keluar satu per satu dari ruangan itu.
Kembali ke Takato-san. Kali ini ia kembali dibuat naik darah oleh Yukawa-sensei yang meremehkannya.
“Menggunakan nama ‘si tangan iblis’ sudah melebihi batas. Dia mencoba menggunakan nama itu untuk melakukan kejahatan tidak penting. Dan yang pasti, si tangan iblis itu tidak ada,” tegas Yukawa-sensei.
Takato-san mematikan televisi. Ia lalu membanting remote ke arah dinding tempat berpuluh artikel tentang Yukawa-sensei tertempel di sana. Ia lalu beranjak ke depan laptopnya dan mulai menulis sesuatu.

“Kenapa kau melakukan itu?!” protes Kishitani. “Kau muncul di TV dan mengatakan tentang detail investigasi. Dan lagi, bukannya kau benci media massa?”

Yukawa-sensei yang sedang asyik dengan percobaannya hanya melirik sekilas ke arah Kishitani. Ia lalu berbalik dan menunjukkan laptopnya. Yukawa-sensei akan melakukan percobaan di sebuah kampus.
“Kampus Hayama?” Kishitani heran.
“Harga diri si pelaku pasti terluka karena komentarku di TV. Jadi dia akan menyerang seseorang secara tertentu. Dengan kata lain, aku,” ujar Yukawa-sensei kalem.
16 Juni
Hari itu Yukawa-sensei berkendara dengan Kuribayasahi-san. Dan si tangan iblis, alias Takato-san rupanya sudah menunggu di mobilnya. Saat melihat mobil kuning milik Kuribayashi-san lewat, ia buru-buru mengikutinya.
“Aku merasa tidak nyaman, Sensei. Kenapa kau terus melihat ke arahku?” tanya Kuribayashi-san.
“Tolong jangan buat itu mengganggumu. Aku suka pemandangan di sisi sana.” ujar Yukawa-sensei masih terus melihat ke sisi kiri itu.
Kuribayashi-san melihat ke arah kanan dan kiri jalan, membandingkan, “Apa bedanya?”
Saat melihat Kuribayashi-san akan berpindah jalur ke arah kanan, Yukawa-sensei mencegahnya, “Tolong tetap mengendara di jalur kiri,” pinta Yukawa-sensei.
“Kiri? Baiklah,” Kuribayashi-san menurut. “Kenapa kau ingin mengajar di Hayama? Ini sangat tidak lazim. Kau hanya bisa datang ke sana dengan mobil.” (maksudnya tidak ada kereta sampai Hayama. Kereta adalah alat transportasi utama di Jepang)
“Itulah kenapa aku memilihnya,” jawab Yukawa-sensei sekenanya. Ia mulai menyadari sesuatu. Ada mobil yang mengikuti mereka. Yukawa-sensei lalu menurunkan sandaran kursinya.
“Kenapa? Karena ini kuliah spesial, aku ingin banyak orang yang datang,” komentar Kuribayashi-san heran. Mobil mereka mulai masuk ke dalam terowongan.
Dari arah lain, Takato-san sudah bersiap di mobilnya. Ia lalu mengepaskan mobilnya di sisi mobil yang dinaiki Kuribayashi-san dan Yukawa-sensei. Setelah pas, ia lalu menarik tuas pengatur di sisinya, “Mati!”
Sementara itu di dalam mobil, Kuribayashi-san mulai merasa pusing. Jalanan di depannya tampak bergelombang. Kuribayashi-san tampak berusaha mengembalikan kesadarannya. Tapi ia melepaskan tangannya dari kemudi. Dan dengan mudah mobil yang mereka naiki itu mulai kehilangan arah.
“Kuribayashi-san. Kuribayashi-san!” Yukawa-sensei berusaha membuat Kuribayashi-san sadar. Ia memegang kemudi sambil kemudian menarik sebuah headset yang sudah dipersiapkannya dan memasangkannya di kepala Kuribayashi-san kemudian memencet tombol.
Setelah dipasang headset, Kuribayashi-san berangsur mendapatkan kembali kesadarannya. Ia bergegas kembali mengambil alih kemudi. Mereka pun berhasil keluar dengan selamat dari terowongan itu.
Sementara itu di sisi lain jalan, Takato-san merasa heran karena rencananya kali ini gagal. Ia mempercepat laju mobil karena ingin tahu apa yang terjadi. Ia kemudian melihat bahwa yang ada di belakang kemudi adalah Kuribayashi-san dengan headset di kepalanya. Sejurus kemudian Yukawa-sensei tampak muncul dari sebelah Kuribayashi-san dengan tatapan tajam. Takato-san yang sadar telah ketahuan pun langsung tancap gas melarikan diri.
Setelah merasa aman, Yukawa-sensei menghubungi Kishitani, “Van putih. Plat nomernya “Shinagawa 6425”.”
Kuribayashi-san tidak mengerti apa yang terjadi, “Ada apa? Maaf, tadi aku tiba-tiba pusing tanpa alasan. Apa ini?” ia heran meraba sebuah headset di kepalanya.
Yukawa-sensei membantu Kuribayashi-san melepas benda itu, “Maaf, aku memakaikannya padamu.”
Berdasarkan informasi dari Yukawa-sensei, polisi yang memang sudah bersiap dengan mudah menjebak mobil van putih itu. Mereka berhasil menghentikan mobil putih itu. Dan betapa kagetnya mereka saat menemukan bagian belakang mobil putih itu berisi sebuah alat cukup besar dan juga … sekop. Dan pengemudi mobil putih itu adalah … Takato-san.
Kembali ke waktu Yukawa-sensei dan Kishitani berada di lab
“Si pelaku akan berpikir ini peluang besar baginya saat melihat pemberitahuan ini di web. Karena kampus Hayama sulit dijangkau, dia akan berpikir jika ‘Yukawa akan datang ke sana dengan berkendara’.”
“Apa kau akan jadi umpan?” tanya Kishitani.
“Dan kau akan menangkap pelakunya,” ujar Yukawa-sensei setelah menyelesaikan alat buatannya.
“Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan hal berbahaya,” sergah Kishitani.
“Cuma aku yang bisa melakukan ini,” ujar Yukawa-sensei tetap tenang sambil melepas kaca matanya.
Di ruang interogasi.
“Kami tidak bisa menemukan Kato Yumi-san. Dia kekasihmu kan?” tanya Kishitani sambil menunjukkan sebuah foto pada Takato-san yang ada di depannya.
“Dia istriku!” elak Takato-san.
“Tapi, kau tidak menikahinya. Hanya kau yang mengenakan cincin kawin. Dimana Kato Yumi-san?”
Setelah terdiam cukup lama, Takato-san akhirnya kembali bicara, “Aku menguburkannya di gunung di Oku-Tama. Yumi terbunuh 6 bulan silam.”
“Terbunuh? Kau yang melakukannya?” Kishitani kaget.
“Bukan aku!” potong Takato-san cepat. “Yumi, istriku terbunuh oleh Yukawa Manabu! Jika dia tidak ada, ini tidak akan terjadi!” Takato-san mulai depresi dan menggigiti kukunya.
Seperti biasa, Kishitani datang ke lab Yukawa-sensei. Kali ini ia membawa kabar tidak terduga untuk Kuribayashi-san, “Takato Eiji (47) seorang fisikawan. Dia pernah bekerja di Institut Teknologi dan Kimia Tokyo sebagai dosen. Tapi dia berhenti 10 tahun silam. Sejak saat itu, dia sering berganti pekerjaan. Pekerjaannya sekarang adalah menjadi pengajar di panti jompo. Bisa dikatakan di pengangguran.
“Takato-kun… “ Kuribayashi-san tidak percaya dengan cerita Kishitani.
Kali ini Yukawa-sensei yang melanjutkan, “Dia menggunakan “Long Range Acoustic Device”—alat akustik range panjang (5). Ini adalah tipe mesin yang sama yang digunakan di Afganistan dan Iraq. Ini disebut LRAD. Ini adalah senjata suara yang tidak mematikan. Senjata ini memancarkan gelombang supersonik sebesar 23 kHz (kiloHertz) melalui speaker langsung untuk mengganggu keseimbangan.”
“Semua korban merasa pusing atau dengungan di telinganya,” Kishitani iseng menggerakkan pulpen di telinga Kuribayashi-san. Puas dengan keisengannya, Kishitani mendekati Yukawa-sensei yang berada di sisi lain meja, “Tapi, headset ini untuk apa?”
“Aku memberikan arus listrik pada telinganya, dan memperbaiki sistem keseimbangan Kuribayashi-san,” ujar Yukawa-sensei sambil memencet tombol penghubung alat itu.
“Dengan kata lain, ini bisa mencegah efeknya,” Kishitani menyimpulkan.

 
“Kenapa Takato-kun menyerang Yukawa-sensei?” Kuribayashi-san frustasi sendiri.
Tapi Kishitani mengabaikannya, “Takato mengatakan hal ini padaku. Dia (Yukawa Manabu) seorang fisikawan jenius. Tapi dia (Takato) hancur oleh Yukawa sekitar 10 tahun silam.”
“10 tahun silam?” gumam Yukawa-sensei.
“Meski dia mempublikasikan hasil penelitiannya di konferensi akademik, kau (Yukawa) mengatakan hal tidak penting,” lanjut Kishitani.
Yukawa-sensei tampak berpikir, “Aku tidak ingat sama sekali. Dan lagi, kalau aku terlalu peduli pada hal kecil seperti itu, aku pasti sudah mati sekarang.”
“Aku bisa membayangkan perasaan orang-orang yang kau sakiti.”
“Dan lagi, kenapa Takato baru ingin balas dendam padamu sekarang?” tanya Yukawa-sensei.
“Dia bertengkar hebat dengan kekasihnya (Yumi) enam bulan silam. Dia (Yumi) mengatakan kalau dia (Takato) selalu mencari alasan dengan menyalahkan orang lain. Saat dia (Yumi) mengatakan ingin putus, dia (Takato) menjadi tidak sabar dan membunuhnya,” cerita Kishitani. “Takato menyalahkan pembunuhan itu karena Yukawa-sensei. Itulah awal dari semua insiden ini.”
“Cerita yang sangat menyedihkan,” komentar Yukawa-sensei yang sudah asyik menulis sambil sesekali melihat ke arah laptopnya.
“Btw, Kuribayashi-san! Takato mendekatimu karena kau asisten Yukawa-sensei. Itu artinya … “ Kishitani sengaja memotong ucapannya.
“Kuribayashi-san kaki tangannya,” sambung Yukawa-sensei.
“Tidak! Aku tidak membantunya sama sekali!” elak Kuribayashi-san cepat.
“Itu benar,” ujar Kishitani kemudian. “Takato mengatakan padaku kalau dia tidak mendapatkan informasi berguna dari Kuribayashi-san. Dan yang dia (Kuribayashi) lakukan hanyalah mengeluh. Jangan bilang kau mengeluh soal Yukawa-sensei?” tebak Kishitani.
“Tidak!”
“Tidakkah kau mengatakan kalau akan mengambil posisi Yukawa-sensei?” tembak Kishitani lagi.
“Bagaimana kau tahu?” Kuribayashi-san terbawa suasana. Tapi menyadari mereka membicarakan orang yang juga ada di ruangan itu, Kuribayashi-san buru-buru menutup mulutnya.
Yukawa-sensei sudah beranjak mengenakan kembali jasnya, “Permisi,” ujarnya sambil mengambil bahan ajar. “Silahkan coba lain kali kalau ingin mengambil posisiku. Aku akan ke kelas,” ujar Yukawa-sensei sambil beranjak pergi.
“Bersenang-senanglah!” ujar Kishitani.
“Tunggu! Maafkan aku sensei!” mohon Kishitani. Tapi Yukawa-sensei sudah pergi. Dan hanya tinggal Kishitani yang mengelus-elus punggung Kuribayashi-san, menghiburnya.

~bersambung~
Kelana’s comment:
Orang kalau udah terobsesi emang gaswat ya. Bisa melakukan apapun agar obsesinya tercapai. Tapi yang pasti, hati-hati dalam bertindak, bersikap dan bicara. Mungkin kita tidak berniat menyakiti, tapi belum tentu di luar sana orang lain berpikir hal yang sama. Bisa saja hal yang menurut kita kecil, tapi itu justru menyakiti perasaan orang tersebut. Jadi, jangan sungkan untuk minta maaf ya. #mengingatkan_diri_sendiri
Catatan :
   
(1) Universal gravitasi — Gravitasi umum : gravitasi dengan ‘v’ lho ya, bukan f. Pada prinsipnya, semua benda yang ada di jagad raya ini akan mengalami gravitasi atau lebih lengkapnya gaya gravitasi (disebut juga gaya tarik menarik) jika terjadi interaksi antar benda tersebut. Gaya gravitasi umum atau gaya gravitasi Newton besarnya sebanding dengan hasil kali massa kedua benda tadi dan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya. Artinya semakin besar massa, maka gaya gravitasinya semakin besar, begitu pula, semakin kecil jarak, gaya gravitasinya makin besar. Karena dipengaruhi massa, maka interaksi ini hanya akan tampak pada benda yang bermassa besar, contohnya bumi dan bulan, bumi dengan matahari, dll. Bagaimana dengan manusia? Manusia sebenarnya juga mengalami hal ini. Tetapi karena massanya yang relatif kecil, maka gaya gravitasai / interaksi yang terjadi tidak dapat diamati dengan mata biasa.
(2) Black Hole – Lubang hitam : adalah sebuah fenomena pemusatan massa yang cukup besar sehingga menghasilkan gaya gravitasi yang sangat besar. Gaya gravitasi yang sangat besar ini mencegah apa pun lolos darinya kecuali melalui perilaku terowongan kuantum. Medan gravitasi begitu kuat sehingga kecepatan lepas di dekatnya mendekati kecepatan cahaya. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnetik yang dapat lolos dari gravitasinya, bahkan cahaya hanya dapat masuk tetapi tidak dapat keluar atau melewatinya, dari sini diperoleh kata “hitam”. Istilah “lubang hitam” telah tersebar luas, meskipun ia tidak menunjuk ke sebuah lubang dalam arti biasa, tetapi merupakan sebuah wilayah di angkasa di mana semua tidak dapat kembali. Secara teoritis, lubang hitam dapat memliki ukuran apa pun, dari mikroskopik sampai ke ukuran alam raya yang dapat diamati. Lubang hitam sendiri masih merupakan teori, jadi harus dibuktikan dulu sebelum dapat diterima kebenaranannya.

(3) elemen piezoelectrik : sebuah elemen yang biasanya digunakan sebagai sensor pada beberapa peralatan. Elemen ini digunakan untuk mengukur perubahan tekanan, percepatan, regangan atau gaya dengan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Kata ‘piezo’ sendiri berasal dair bahasa Yunani yang berarti press—tekanan.

(4) penyakit Meniere : gangguan yang menyerang telinga bagian dalam dan spontan menyebabkan vertigo, dibarengi dengan gangguan pendengaran yang fluktuatif, telinga berdenging (tinnitus), dan rasa tekanan di telinga. Pada kebanyakan kasus, penyakit Meniere hanya mempengaruhi satu telinga saja. Penyebab pasti dari penyakit Meniere belum diketahui tetapi kemungkinan disebabkan karena akumulasi cairan berlebih di telinga dalam. Orang-orang pada usia 40-an dan 50-an lebih berisiko memiliki penyakit ini dibandingkan kelompok usia lainnya, tetapi penyakit ini bisa juga terjadi pada siapa saja, bahkan anak-anak. Tanda-tanda utamanya adalah vertigo yang berulang dan gangguan pada pendengaran.

(5) Long Range Acoustic Device—alat akustik range panjang : peralatan yang memancarkan akustik range panjang dan senjata suara untuk mengirim pesan, peringatan dan melukai. Sistem LRAD digunakan sebagai senjata tidak mematikan dan alat komunikasi. Sistem LRAD digunakan oleh AL, militer dan perusahaan kemanan komersil untuk mengirim perintah dan peirngatan dalam jarak jauh. LRAD juga digunakan pada fasilitas pembangkit listri tenaga angin dan solar, fasilitas tenaga nuklir dan membantu dalam kegiatan pertanian dan fasilitas industri.


Semua informasi tambahan di sinopsis ini nyata dan bisa dibuktikan kebenarannya. Jika ada beberapa yang keliru/kurang tepat, itu semata-mata kesalahan author. Silahkan bagi sobat2 semua yang ingin mengoreksi atau melengkapinya.
Written by Kelana [Blog|FB|Twitter]
captured images by +ari airi 
Posted only on pelangidrama.net
DON’T REPOST TO ANOTHER SITE/FP FB!!!

4 pemikiran pada “[Sinopsis J-Drama] Galileo season 2 episode 9

  1. yak ri, hehe…ngebayanginnya gak tega, smua2 ad di yukawa sensei: udh cool, otak encer dkk. kyk kuribayashi-san cm bayanganny aj' biasany dorama kn lead support-actrny gak parah2 amat.^^klo gak slh sih

    hira

    Suka

  2. Ping balik: SINOPSIS : Galileo season 2 episode 9 | Elang Kelana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s