[Sinopsis J-Drama] Galileo season 2 episode 10

Sinopsis Galileo season 2 episode 10
~Sinopsis Galileo season 2 episode 10~
Redemption – Penebusan (Part 1)

Seorang pria tampak tengah menyeduh kopi. Tahu jika botol air mineralnya telah kosong, ia lalu membuang benda itu ke tempat sampah. Pria tadi, dengan cincin melingkar di jari manis sebelah kirinya. Ia lalu membawa cangkir kopi lalu duduk di kursinya. Ia bicara lewat monitor di depannya, “Apa ada lagi yang perlu dilaporkan?” tanya si pria tadi yang merupakan presdir M-System, Mashiba Yoshiyuki.
“Tidak ada,” jawab karyawan di seberang sana.
“Kalau begitu hubungi aku lagi sekitar jam 4 sore nanti. Tapi kalau ada hal mendesak, langsung hubungi aku,” Yoshiyuki-san mengakhiri pembicaraan dan menutup monitornya.

Yoshiyuki-san kembali ke dapur. Ia melihat tumpukan surat yang dialamatkan padanya, lalu ke arah luar rumah yang ternyata tengah turun hujan. Setelahnya terdengar suara bel pintu. Yoshiyuki-san memeriksanya dari monitor, tampak seorang wanita dengan payung warna ungu muda totol-totol, tapi wajahnya tidak jelas terlihat.

Beberapa wanita tampak sedang mengobrol sambil makan malam di sebuah restoran. Mereka membicarakan ayah dari Mashiba Ayane yang jatuh dan meminta putrinya untuk datang. Ayane-san merasa lega karena ayahnya ternyata tidak mengalami luka yang serius. Setelahnya para wanita itu membicarakan soal pernikahan Ayane-san dengan Mashiba Yoshiyuki. Ia belum lama menikah tapi tidak mengadakan pesta. Ayane membantah jika tampak aneh mengenakan baju pengantin di usia lewat 40 tahun. Tapi teman-teman Ayane-san tampak memujinya, karena menikah dengan pria baik dan kaya. Dan saat ditanya soal anak, Ayane-san mengelak jika sudah terlalu terlambat untuk punya anak di usia seperti ini.

Obrolan berubah pada insiden yang belum lama terjadi (episode 9), tentang ‘si tangan iblis’. Muncul nama Profesor Y dari Universitas T. Rupanya para wanita ini adalah teman satu sekolah Yukawa-sensei saat masih SMP. Mereka membahas Yukawa-sensei yang sudah mengajar dan menjadi profesor tamu di Universitas Teito. Bahkan membantu polisi memecahkan kasus yang sulit.

Obrolan para wanita itu terhenti saat ponsel Ayane-san berbunyi. Ia pun lalu mengangkatnya. Rupanya itu telepon dari salah satu staf di M-System, perusahaan suaminya yang menanyakan keberadaan Yoshiyuki-san karena tidak dapat dihubungi.

Kishitani dan rekannya Ohtagawa-san menjemput Ayane-san. Mereka menceritakan jika suaminya, Mashiba Yoshiyuki ditemukan meninggal di dapur.
“Aku meminta mereka (sistem keamanan) untuk mengeceknya, karena dia tidak menjawab ponselnya,” cerita Ayane-san dari kursi belakang.
“Jasadnya akan diotopsi. Penyebab kematian masih belum diketahui,” ujar Kishitani.
“Bisakah aku melihatnya?” pinta Ayane-san.
“Sepertinya belum. Bisa anda ikut ke kantor polisi Kaizuka-Kita, ada yang perlu anda ceritakan pada kami.”
“Bisakah aku pulang ke rumah dulu? Aku masih belum yakin ini mimpi atau kenyataan,” pinta Ayane-san lagi. Kishitani akhirnya menyetujui permintaan Ayane-san. Ia memindahkan jalur mobilnya dan menuju kediaman pasangan Mashiba.

Mereka pun masuk ke dalam rumah. Ayane-san dibuat syok dengan keadaan rumahnya sendiri. Ada garis putih masih melingkar di bekas tempat jasad Yoshiyuki-san ditemukan, tapi jasadnya sudah tidak ada di sana. Ayane-san syok lalu duduk di kursi. Sementara di seisi rumah, tampak para polisi dan tim forensik sedang memeriksa sekeliling.

Kishitani menjelaskan jika semuanya masih dianalisis oleh tim forensik. Ia pun menunjukkan foto-foto yang sudah diambil tim forensik. Cangkir kopi yang pecah, penyaring kopi yang sudah digunakan, satu di bak cuci dan satunya lagi di pembuat kopi. Lalu ada botol kopi, botol air mineral di tempat sampah dan ceret. Ayane-san mengakui jika mengenal semua barang-barang itu sebagai miliknya.

Karena merasa tidak nyaman, Ayane-san akhirnya memilih tinggal di hotel selama polisi masih berada di rumahnya untuk melakukan investigasi. Tapi sebelumnya Ayane-san minta izin untuk menyirami tanaman di lantai atas. Ia pun mengambil alat penyiram tanaman dan mengambil air dari kran. Ayane-san mengatakan jika di lantai atas mereka tidak punya kamar mandi sehingga harus mengambil air dari bawah.

Ayane-san beranjak ke lantai dua dan mulai menyirami tanaman mawarnya.
Dari belakang Kishitani menyusul, “Cantik sekali,” pujinya.
Ayane-san terus menyirami tanamannya, “Suamiku sangat menyukai bunga-bunga ini.” Ayane-san menumpahkan air yang dibawanya ke pot, “Kenapa … kenapa hal buruk ini terjadi padaku?” Ayane-san terduduk di lantai tidak dapat lagi menahan air matanya.
“Ayane-san,” Kishitani hanya bisa mengelus-elus punggung wanita itu, mencoba menenangkan.

Seperti biasa, Kishitani berkunjung ke lab Yukawa-sensei. Ia heran melihat Yukawa-sensei kali ini membuat kopi dengan alat pembuat kopi, dan tidak menyeduh kopi instan seperti biasanya.
“Aku memang turnamen badminton dan mendapat alat pembuat kopi ini sebagai hadiah. Ternyata ini lebih cocok dari perkiraanku, dan lebih ekonomis juga,” Yukawa-sensei menyesap kopinya. Tapi bagi Yukawa-sensei, tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan rasa kopi instan.

Dan tanpa diminta, Kishitani mulai presentasi soal kasus yang terjadi. Pembunuhan terhadap seorang presdir perusahaan, Mashiba Yoshiyuki (43) karena meminum kopi beracun. Racun yang digunakan adalah sodium arsenida (terkenal sebagai arsenik). Kali ini Kuribayashi-san mulai tertarik, Kuribayashi-san beranggapan jika itu adalah pembunuhan berencana.
“Kau sengaja mencari kesempatan untuk menjelaskan soal kasusmu kan? Tapi ini tidak ada hubungannya dengan fisika!” protes Yukawa-sensei kemudian meletakkan cangkir kopinya dan mulai asyik dengan peralatan eksperimennya.

Tapi bukan Kishitani kalau menyerah begitu saja. Ia justru terus saja bicara, “Istrinya ada di Hokkaido saat kejadian. Dan korban, Mashiba Yoshiyuki ada di rumah sendirian.” Meski sudah diusir oleh Kuribayashi-san, Kishitani maju terus. “Sampai jam 10 paginya, Yoshiyuki-san masih sehat. Karyawannya melihat dia melalui web-cam saat rapat paginya. Waktu itu Yoshiyuki-san minum kopi. Menurut laporan forensik, racun terdeteksi di kopi yang tumpah di lantai, tentu saja di cangkirnya. Racun juga terdeteksi di penyaring kopi yang ada di dekat bak cuci dan juga ceret. Tapi racun tidak terdeteksi di penyaring kopi yang ada di bak cuci atau botol air mineral yang ditemukan di tempat sampah.” Kishitani mengambil benda-benda dari dapur dan mulai menjejerkannya di meja, seolah mendemontrasikan apa yang baru saja dijelaskanya.

Kishitani terus bicara, “Yoshiyuki-san mungkin membuat kopi dengan penyaring di pagi harinya dan membuat kopi dengan penyaring satunya pada sore hari. Dengan kata lain, racun ditambahkan antara cangkir kopi pertama dengan cangkir kopi kedua. Paling mungkin, seseorang meletakkan racunnya di ceret. Karena racun tidak ditemukan di botol air mineral atau keran air, maka ini kemungkinan paling logis.” Hanya Kuribayashi-san yang setia mendengarkan ucapan Kishitani.

Yukawa-sensei tetap mengabaikannya dan asyik dengan peralatannya sendiri, “Seperti perkiraanku, ini tidak ada hubungannya dengan fisika.” Tapi Kishitani tetap keras kepala, “Meski korban ada di rumah, si pelaku bisa meletakkan racun di dalam ceret. Itu yang tidak mungkin!”
“Pencuri bisa masuk meski ada orang di rumah,” Yukawa-sensei akhirnya berkomentar. Yang diiyakan juga oleh Kuribayashi-san soal pengalamannya.
“Itu tidak mungkin terjadi di kediaman Mashiba!” elak Kishitani. “Rumahnya dilindungi oleh sistem keamanan rumah.”
“Baiklah, tapi ini tidak ada hubungannya dengan fisika,” Yukawa-sensei terus berusaha mengusir detektif keras kepala satu ini.

“Ok, ok. Sekarang kita sampai pada bagian utamanya,” lanjut Kishitani. Ia mengatakan jika ada yang datang antara pukul 10 pagi hingga 4 sore. Kishitani menunjukkan foto wanita dengan payung ungu polkadot, tapi tidak jelas wajahnya. Wanita itu mendatangi kediaman Mashiba Yoshiyuki pada pukul 2 lewat 4 menit. Saat itu alarm berbunyi. Yoshiyuki menghubungi sistem keamanan rumah dan mengatakan tidak ada masalah, ia hanya lupa mematikan alarm saat membuat pintu. Hal itu biasa terjadi, sehingga sistem keamanan tidak mengirim orang untuk mengeceknya. Pada jam 4 sore, karyawannya tidak dapat menghubungi Yoshiyuki-san di rumah, mereka pun menghubungi istrinya, Ayane-san yang berada di Hokkaido. Ayane-san lalu menghubungi sistem keamanan dan meminta mereka memeriksa rumahnya. Saat itu jasad Yoshiyuki ditemukan.
“Jadi, orang dengan payung polkadot ini yang paling mencurigakan,” komentar Kuribayashi-san
“Ini sangat menarik,” puji Yukawa-sensei. Tapi kalimat setelahnya benar-benar menjatuhkan, “Dan itu presentasi luar biasa. Meski aku sudah mengatakan ini tidak ada hubungannya dengan fisika, kau tetap saja menjelaskan detail investigasi, membuat hipotesis dan akhirnya sampai pada kesimpulan TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN FISIKA. Ini disebut … super presentasi. Aku sama sekali tidak tertarik!”

Kuribayashi-san kembali mengusir Kishitani dan mengatakan kalau ia hanya perlu mencari wanita dengan payung ungu polkadot sebagai tersangkanya, tapi Kishitani berkeras bertahan.

“Meski memang ini tidak ada hubungannya dengan fisika, tapi ini ada hubungannya dengan Yukawa-sensei. Lihat foto ini,” Kishitani menunjukkan sebuah foto pada Yukawa-sensei. “Wanita yang berada di samping korban, Mashiba Yoshiyuki, dia istrinya. Dan dia adalah teman sekelasmu. Saat ini namanya adalah Mashiba Ayane, tapi nama lahirnya adalah Mita Ayane-san. dia teman sekelasmu kan saat di Hokkaido? Dari SMP.”

Yukawa-sensei mengambil foto itu dan memandangi Ayane yang ada di sana, “Mita Ayane … “
“Himawari-Kai?” Kishitani heran melihat brosur sekolah yang diberikan rekannya, Ohtagawa-san.
“Itu adalah pra-sekolah yang dimiliki Mashiba Ayane-san,” cerita Ohtagawa. “Tapi sejak tahun lalu, setelah dia menikah, dia menjadi ibu rumah tangga dan karyawannya yang menjalankan sekolah itu. Aku dengar Ayane-san sangat menyukai anak-anak. Tapi dia tidak bisa punya anak dan sekarang suaminya meninggal … “

Kali ini Kishitani dibuat terkesan oleh usaha Ohtagawa-san untuk mencari info soal Ayane-san. Dan yang lebih mengagetkan lagi, Ohtagawa-san mengaku datang dan menyirami tanaman milik Ayane-san selagi si pemilik rumah tidak ada di rumahnya.

Ayane-san berada di Gereja. Ia menerima tamu yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir pada suaminya yang meninggal itu. Saat semua tamu sudah pergi, Ayane-san duduk sendirian. Ia teringat pembicaraan dengan suaminya beberapa waktu silam.
“Ayane, kau ingat janji kita kan?” tanya Yoshiyuki-san.

Dari arah lain datang seorang lagi. Pria itu masuk ke dalam Gereja lalu memberikan penghormatan terakhir pada Yoshiyuki-san. Ayane-san merasa heran karena ia tidak mengenal pria tadi.

“Mita Ayane-san. Bukan…Mashiba Ayane-san. Aku turut berduka cita,” ujar pria berjas itu.
Ayane-san terkejut melihat orang di depannya. Ia terdiam sebentar sebelum mengucapkan namanya, “Yukawa-kun?”
“26…Ini sudah lebih dari 27 tahun kan?” ujar Yukawa-sensei setelah keduanya duduk di kursi bagian belakang Gereja.

 

“Kau sama sekali tidak berubah, Yukawa-kun,” puji Ayane-san. “Apa kau benar mengingatku? Kau langsung pergi ke Tokyo setelah lulus SMP.”
“Aku tidak pernah melupakan wajah wanita cantik,” jawab Yukawa-sensei. (ihirrrrr
“Ayolah!” Ayane-san menanggapi ucapan Yukawa-sensei tidak serius. “Kau bahkan sama sekali tidak pernah memperhatikanku waktu itu.”

“Sejujurnya, aku lupa padamu sampai polisi menunjukkan fotomu padaku. Kadang aku membantu polisi menyelesaikan kasus,” cerita Yukawa-sensei.
“Aku pernah mendengar hal itu. Tapi, apa kasus suamiku ini butuh bantuanmu juga?”
“Kali ini polisi minta bantuanku lebih dari biasanya. Suami temanku meninggal secara misterius. Mungkin pembunuhan. Dan aku ingin menemukan kebenaran kasus ini. Aku tidak tahu apa pengetahuanku bisa membantu memecahkan kasus ini … Tapi aku tidak bisa menolak untuk tidak membantu,” ujar Yukawa-sensei lagi
“Terimakasih, Yukawa-kun.”

Yukawa-sensei ditemani para polisi datang ke kediaman Mashiba. Di depan ia melihat sederet bunga mawar merah yang merekah. Ia terkesan karenanya. Ayane-san mengatakan jika suaminya sangat menyukai bunga-bunga itu, dan mereka berdua yang merawatnya.
“Silahkan masuk, Yukawa-kun,” Ayane-san mempersilahkan Yukawa-sensei masuk.
“Yukawa-kun?!” gumam Kishitani merasa aneh dengan penggilan itu.

Di dalam, Kishitani menjelaskan posisi Yoshiyuki yang ditemukan meninggal dengan cangkir kopi pecah di dekatnya. Yukawa-sensei hanya melihat sekilas lalu beranjak ke dapur. Ia mengecek tempat sampah.
“Apa suamimu selalu menggunakan air mineral saat membuat kopi?” tanya Yukawa-sensei.
“Tidak hanya kopi, dia menggunakannya juga untuk memasak,” ujar Ayane-san yang lebih memilih duduk dibanding menemani tamu-tamunya berkeliling. “Dia sangat hati-hati jika urusan kesehatan. Jika kehabisan air, dia pasti menggunakan air murni.”

Yukawa-sensei mengecek kran di dapur, tombol pemilih jenis air normal. Ia pun membuka bagian bawah, dan menemukan tempat pengatur aliran air itu tampak kotor dan tidak pernah dibersihkan. “Sepertinya memang racun dimasukkan di ceret,” Yukawa-sensei menyimpulkan.
“Tapi, siapa yang bisa melakukannya?” tanya Kishitani. “Dia membuat kopi di pagi hari. Dia menggunakan air dengan ceret ini. Tapi racun ditemukan di ceret pada sorenya. Wanita dengan payung ungu poladot masuk ke rumah dan memasukkan racun ke ceret … “
Ayane-san heran. Ia sama sekali belum pernah mendengar informasi soal wanita berpayung ungu, “Wanita dengan payung ungu?”

Kishitani menunjukkan foto wanita dengan wajah tertutup payung ungu yang terekam oleh kamera, pada Ayane-san. Ia menjelaskan jika wanita itu yang datang pada hari yang sama Yoshiyuki meninggal.
“Kalau dia bisa memasukkan racun tergantung hubungan yang dimilikinya dengan Mashiba Yoshiyuki-san. Tapi aku tetap masih belum mengerti bagaimana itu dilakukan,” ujar Yukawa-sensei.
“Bukankah ini saatnya kau mengatakan ‘ini sangat menarik’?” goda Kishitani.

Tapi sepertinya Yukawa-sensei tidak tergoda sama sekali. Ia justru tertarik pada hal lain, sebuah hiasan dinding cukup besar, “Sangat cantik,” pujinya.
“Bukankah itu ‘tapestry’—permadani hiasan dinding (terj bebas)?” tanya Kishitani.
“Ya. Aku mengerjakannya selama satu tahun. Aku punya banyak waktu luang, dan kami tidak punya anak,” aku Ayane-san.
“Itu luar biasa. Pekerjaan seperti ini membutuhkan konsentrasi dan kesabaran. Kau harusnya jadi ilmuwan,” puji Yukawa-sensei lagi.
“Itu terlalu terlambat,” elak Ayane-san. “Ah, aku ingin berkunjung ke lab-mu kapan-kapan,” pinta Ayane-san kemudian.
“Kalau itu membuatnya merasa lebih baik, datanglah kapan-kapan.”

Ayane-san kemudian meminta untuk bisa kembali ke hotel. Ia mengaku masih merasa tidak nyaman berada terlalu lama di rumah itu. Kishitani setuju dan akan mengantarkan Ayane-san ke hotelnya.

Di hotel, rupanya Kishitani justru singgah sebentar dan sempat mengobrol dengan Ayane-san. Ayane-san mengaku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan Yukawa-sensei.
“Dia anak yang keren. Dia pintar dan jago olahraga. Semua anak wanita menyukainya,” cerita Ayane-san.
“Sekarang juga masih sama. Kelasnya selalu penuh dengan mahasiswa wanita,” sambung Kishitani. “Aku hanya tidak mengerti kenapa … “
“Kenapa tidak? Dia masih keren,” ujar Ayane-san cepat.
“Mungkin tampaknya seperti itu. Tapi aku tidak bisa mengimbangi argumennya. Aku tidak bisa mengikuti jalan pikiran tuan ilmuwan,” aku Kishitani.

Ayane-san tersenyum, “Aku mengerti yang kau bicarakan. Dia memang seperti itu. Sebenarnya, dulu aku juga menyukai Yukawa-kun. Saat kami masih sama-sama SMP. Itu sudah lebih dari 20 tahun yang lalu.”
“Apakah kau kekasihnya?” tebak Kishitani asal.
“Kau bercanda? Itu cinta pertamaku. Bagaimana denganmu, Kishitani-san? Bukankah kau juga punya pria yang kau sukai?” tebak Ayane-san. Kishitani tersipu. Ia mengambil minumannya baru menjawab, “Ah, namanya Nakajima-kun. Yang kulakukan hanya memberikannya coklat di hari Valentine saja.”

“Meski kau seorang detektif, kau juga gadis normal. Terimakasih telah menemaniku. Aku merasa lebih baik setelah ngobrol denganmu.” Ayane-san kemudian pamit hendak kembali ke kamarnya. Tapi ia sempat berhenti sebentar, “Jika saja aku tidak pergi ke Hokkaido, apakah suamiku masih hidup?”
“Jangan salahkan dirimu sendiri. Si pelakulah yang harus disalahkan. Polisi akan melakukan yang terbaik untuk menangkap si pelaku,” Kishitani meyakinkan.

Kishitani melamun sendirian di cafe. Ia semakin kesal saat melihat sepasang remaja asyik makan es krim sambil bermanja-manja. Kishitani yang kesal bahkan menyuruh kedua remaja itu untuk makan dengan wajar saja. Ia pun menjadi pusat perhatian seisi cafe. Tapi perhatian Kishitani teralihkan saat ia melihat seorang wanita yang dikenalnya. Wanita yang pernah ia lihat fotonya, di brosur sekolah Himawari-Kai.

“Berapa lama kau bekerja di sekolah milik Ayane-san?” tanya Kishitani pada wanita itu. Mereka akhirnya duduk berdua dan ngobrol.
“Sudah lima tahun,” aku wanita itu.

Kishitani kemudian bertanya kenapa Ayane-san menikah dengan Mashiba-san. Wanita itu menceritakan jika mereka menikah karena Ayane-san hamil. Tapi setelah menikah, Ayane-san ternyata mengalami keguguran. Karenanya, Ayane-san tidak lagi mengurusi sekolah dan tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga. Rupanya Ayane-san sebenarnya sangat ingin memiliki anak, tapi dia tidak kunjung hamil lagi. Dan sekarang suaminya justru meninggal. Wanita itu juga menceritakan jika Ayane-san mengalami keguguran karena kecelakaan. Dia ditabrak oleh seorang wanita dengan sepeda
“Aku pikir wanita itu sengaja menabrak Ayane-san agar ia keguguran. Karena suaminya adalah pria baik. Aku yakin dia (Yoshiyuki) cukup populer di kalangan para wanita,” lanjut wanita itu.
“Apa ada seseorang yang dendam karena Mashiba Yoshiyuki-san menikahi Ayane-san?” tanya Kishitani kemudian.
“Mungkin, mantan kekasih Mashiba Yoshiyuki-san. Ini hanya contoh saja.”

Pembicaraan mereka terputus saat ponsel Kishitani berbunyi, dari rekannya Ohtagawa-san. Ohtagawa-san mengatakan jika mereka sudah menemukan mantan kekasih dari korban.

Kishitani menunjukkan foto mantan kekasih Mashiba Yoshiyuki pada para karyawannya. Nama wanita itu adalah Tsukui Junko-san.

Para karyawan itu menceritakan jika Mashiba Yoshiyuki memperkenalkan wanita itu sebagai kekasihnya sekitar dua tahun silam, atau enam bulan sebelum Yoshiyuki-san malah menikah dengan Ayane-san. Saat ditanya tentang pekerjaan wanita itu, para karyawan mengatakan jika Tsukui Junko-san adalah seorang ilustrator. Tapi ia berhenti dari pekerjaannya dan kembali ke kampung halamannya di Shizuoka.
“Mungkin pukulan besar baginya saat presdir Mashiba-san memutuskannya,” ujar salah seorang karyawan. Tapi kedua karyawan yang lain buru-buru mengingatkan. Karyawan itu melanjutkan jika itu hanya kesimpulannya saja.

Saat ditanya kenapa mereka putus, para karyawan itu sepakat mengatakan karena Ayane-san hamil.
“Meski Mashiba Yoshiyuki mengencaninya, dia juga mengencani Ayane-san. Apa Mashiba Yoshiyuki-san mengencani mereka berdua pada waktu yang sama?” tanya Kishitani.
“Hanya sebentar. Presdir Mashiba-san memutuskan Tsukui Junko-san sebelum menikah dengan Ayane-san.”

“Kesanku terhatap Mashiba Yoshiyuki-san semakin buruk,” curhat Kishitani saat kembali ke kantor polisi.
“Aku mengerti. Tapi itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan investigasi,” ujar Ohtagawa-san. “Dan lagi, kita sudah menemukan tersangkanya.” Ohtagawa-san menunjuk ke arah foto. “Tsukui Junko punya alasan untuk membunuh Mashiba Toshiyuki. Dan dia juga punya alasan untuk menyerang istri yang tengah hamil.” Berbeda dari biasanya, kali ini ucapan Ohtagawa-san disetujui oleh Kishitani.

Ohtagawa-san meminta Kishitani melakukan investigasi untuk kasus penabrakan terhadap Ayane-san. Sementara ia sendiri berniat ke Shizuoka untuk menemui Tsukui Junko, tapi sebelumnya mampir ke rumah Ayane-san untuk menyirami tanamannya.

Ayane-san rupanya benar-benar datang ke lab Yukawa-sensei. Di pintu, Kuribayashi-san dengan sukacita menyambutnya dan tidak lupa memuji kecantikan Ayane-san. Sampai di dalam, Ayane-san dibuat terkesan dengan suasana lab itu. Yukawa-sensei sendiri tengah asyik dengan percobaannya.
“Aku tidak mengira kau akan benar-benar datang,” komentar Yukawa-sensei, dingin.
“Bukankah kau mengatakan aku bisa datang kapanpun, Yukawa-kun?” ujar Ayane-san. Tapi perhatiannya teralihkan pada ceret merah yang sama dengan di rumahnya.

Yukawa-sensei menjelaskan kalau dia ingin tahu bagaimana caranya memasukkan racun ke dalam ceret. Tapi Yukawa-sensei sendiri belum menemukan jawabannya. Yukawa-sensei lalu mengambil ceret itu, menuangkan kopi ke kertas penyaring dan mulai menuangkan air dalam ceret ke atas kopi, menyeduh kopi.
“Terimakasih, Yukawa-kun. Tapi kau tidak perlu terlalu memaksakan diri,” ujar Ayane-san merasa tidak enak hati. “Sebenarnya aku datang ke sini karena ada permintaan lain. Aku ingin kau menunjukkan beberapa percobaan menarik pada anak-anak di sekolah kami. Semuanya pasti akan senang.” Ide yang diiyakan juga oleh Kuribayashi-san yang ucapannya diabaikan sejak tadi.

“Menyesal sekali, aku tidak bisa melakukannya,” ujar Yukawa-sensei tanpa berpikir.
“Kenapa?” Ayane-san heran.
“Aku benci anak-anak,” aku Yukawa-sensei.

Ayane-san semakin tidak mengerti. Kuribayashi-san lalu menjelaskan jika menurut Yukawa-sensei, anak-anak itu tidak logis. Tapi Ayane-san terus membujuk Yukawa-sensei, hal yang sama dilakukan juga oleh Kuribayashi-san. Tapi Yukawa-sensei tetap tidak bergeming dengan pendiriannya.
“Aku minta maaf karena meminta hal yang mustahil,” Ayane-san akhirnya menyerah. Ia pun kemudian pamit untuk pulang.

Sepeninggal Ayane-san, kedua ilmuwan itu kembali ke kursi mereka masing-masing.
Tapi Kuribayashi-san masih terus mengeluh, “Ayane-san pasti sedih karena kehilangan suaminya. Kau benci anak-anak … itu alasan bodoh. Dan dia juga menolak bantuanku. Sensei, tidakkah kau sadar kalau kau begitu beruntung!”
Yukawa-sensei tampak berpikir.

 

“Tunggu!” Yukawa-sensei keluar dari lab-nya dan menyusul Ayane-san.
“Ada apa?”Ayane-san heran.
“Aku punya pertanyaan. Siapa yang menanam mawar-mawar di rumahmu?”
“Aku yang melakukannya. Kenapa?” Ayane-san heran.
Yukawa-sensei lalu melepas kaca matanya, “Bisakah aku menunjukkan percobaan pada anak-anak? Misalnya membekukan mawar hingga suhu rendah lalu memecahkannya seperti kaca.”

Ayane-san tersenyum senang, “Tentu saja, kau bisa menunjukkan apapun yang kau suka.”
“Anak-anak, ini profesor tamu dari Universitas Teito, Yukawa Manabu-sensei,” Ayane-san memperkenalan Yukawa-sensei pada anak-anak. Sementara Yukawa-sensei sendiri sudah mulai merasa tidak nyaman dengan suara anak-anak kecil itu.

Yukawa-sensei lalu duduk di kursi yang memang sudah dipersiapkan di depan anak-anak itu. Ia mengingatkan agar mereka tidak bicara selama percobaan atau ia akan berhenti. Yukawa-sensei mulai mengeluarkan satu per satu barang bawannya. Satu teko elektrik, tiga gelas kaca dan satu botol air mineral. Yukawa-sensei meminta salah seorang staf untuk mematikan lampu. Ia kemudian menuangkan air ke dalam teko elektrik dan mulai memanaskannya.

Di tempat lain, Kishitani tengah menyelidiki insiden ditabraknya Ayane-san oleh seorang wanita bersepeda. Seorang polisi lokal menunjukkan tempat saat Ayane-san ditabrak wanita bersepeda. Karena hanya tabrak lari, mereka hanya tahu si pelaku adalah seorang wanita bersepeda.
“Aku pikir wanita itu sengaja menabrak Ayane-san agar ia keguguran,” lanjut si polisi.

Kembali ke Yukawa-sensei.
Setelah air mendidih, Yukawa-sensei lalu menuangkan 400ml air ke dalam gelas kaca. Ia lalu bertanya pada anak-anak apa warnanya. Anak-anak menjawab jernih. Yukawa-sensei lalu mengulangi hal yang sama. Menuangkan air ke teko elektrik, memanaskannya hingga mendidih dan menuangkannya ke dalam gelas. Tapi berbeda dengan yang terjadi tadi, kali ini seisi ruangan dibuat takjub karena air yang dituangkan berwarna merah.

Yukawa-sensei kembali mengulangi hal itu. Menuang air ke teko elektrik, memanaskannya dan terakhir menuangkannya ke dalam gelas kaca. Dan kali ini warna yang keluar berbeda lagi, ungu. Anak-anak semakin dibuat takjub oleh apa yang dilakukan Yukawa-sensei.

Kishitani mendatangi lagi kediaman Mashiba di tengah hujan. Ia memeriksa sekali lagi catatannya, tentang mantan kekasih Mashiba Yoshiyuki, Tsukui Junko yang memiliki alasan untuk membuat Ayane-san keguguran dan juga membunuh Yoshiyuki-san.

Tapi seseorang yang lewat mengalihkan perhatian Kishitani. Ia melihat wanita dengan payung ungu polkadot yang lewat, persis sama dengan foto rekaman kamera saat hari kejadian terbunuhnya Yoshiyuki-san. Sigap Kishitani mengejar orang itu meski di bawah guyuran hujan. Beberapa kali belokan, sayangnya Kishitani kehilangan jejak. Dan ponselnya pun berbunyi, dari Ohtagawa-san.
“Aku menemukan berita besar. Tsukui Junko, mantan kekasih Yoshiyuki-san meninggal setahun yang lalu. Dia bunuh diri dengan menyayat tangannya,” ujar Ohtagawa-san dari seberang.
Kembali ke Yukawa-sensei.

Yukawa-sensei mulai menjelaskan percobaan yang dilakukannya itu pada anak-anak. Ia menjelaskan soal gelatin—agar-agar yang dilekatkan di tutup teko elektrik. Satu per satu agar-agar berwarna itu meleleh, hingga warna air berubah. Yukawa-sensei bahkan menunjukkan lewat gambar sketsa.

Tapi menjelaskan hal sederhana untuk anak-anak pra-sekolah (TK) memang bukan perkara mudah. Anak-anak langsung menyerbu Yukawa-sensei dengan berbagai pertanyaan. Mereka bahkan menghambur ke depan mendekati Yukawa-sensei.
Sementara itu, Yukawa-sensei mulai merasa gatal, “Jangan mendekat!” sergahnya cepat.

Ayane-san dan Yukawa-sensei kembali datang ke Gereja. Mereka ngobrol di sana.
“Aku menyukaimu saat kita masih SMP,” aku Ayane-san.
“Aku tidak tahu itu, maaf.”
“Meski aku mendekatimu, kau tidak menyadarinya. Saat aku mengajakmu ke Gereja bersamaku, kau menolak,” lanjut Ayane-san.
“Agama tidak menerima konsep heliosentris (1) Galileo Galileo, aku tidak bisa menerima itu,” ujar Yukawa-sensei.
“Gereja Katolik Roma akhirnya minta maaf pada Galileo pada 1992. Dan mereka mengakui secara resmi Heliosentris pada 2008. Galileo sudah mati selama 350 tahun,” sambung Ayane-san. “Galileo akhirnya menerima penebusan, meski butuh waktu lama. Kenapa kau menunjukkan eksperimen itu pada anak-anak?” Ayane-san mengalihkan pembicaraan.
“Aku sangat tertarik dengan hal itu beberapa hari belakangan,” aku Yukawa-sensei.
“Apa kau membicarakan soal kasus pembunuhan suamiku? Kau menempelkan bahan warna di tutup teko dan membuatnya melelah dalam air kan? Dengan kata lain, Aku bisa mengganti bahan pewarna itu dengan racun yang membunuh suamiku … “
“Polisi berpikir jika si pelaku memasukkan racun yang membunuh suamimu antara pukul 10 pagi hingga pukul 4 sore. Bukankah mungkin meletakkan racun itu sebelumnya?” pancing Yukawa-sensei. “Hipotesis pertamaku menggunakan trik gelatin. Tapi si pelaku tidak menggunakan itu, karena pasti ada bekas gelatin menempel di tutup ceret.”
“Lalu bagaimana aku membuat trik dimana racun hanya ada di cangkir kopi kedua? Apa kau mencurigaiku? Aku tidak punya alasan membunuh suamiku,” elak Ayane-san.
“Aku tidak tertarik pada pelaku atau motif pembunuhan ini. Tapi … sebelum Natal, saat kau mengajakku ke Gereja, kau mengatakan ‘Aku benci mawar. Meski ia cantik, aku benci durinya. Tapi sekarang … rumahmu penuh dengan mawar.”
“Sekarang … aku menyukainya,” aku Ayane-san.
“Kau suka bunga dengan banyak duri?” Yukawa-sensei tidak yakin.
“Apa itu alasan cukup untuk mencurigaiku?” Ayane-san bertanya balik.

“Tidak. Kau benci mawar. Karena suamimu suka mawar, kau juga menyukainya sekarang. Itu bisa terjadi. Tapi, bagi ilmuwan sepertiku, jika melihat hal di depanku janggal, itu membuatku penasaran. Aku ingin mengetahui asalnya. Istri yang berduka cita karena suaminya meninggal. Aku ingin menginvestigasinya dari awal.”
Ayane-san termenung di kursinya. Ia teringat pembicaraannya dengan suaminya, Yoshiyuki-san.
“Ayane, kau ingat janji itu kan? Janji bahwa kita akan bercerai jika tidak punya anak dalam setahun?”

“Cantik sekali,” Yukawa-sensei menunjuk simbil salib di depannya. “Rasio panjang dan lebarnya mendekati golden ratio—rasio emas (2). Jika kejahatan sempurna benar-benar ada, maka kesempurnaannya akan mendekati rasio salib ini.”

TO BE CONTINUE AT PART 2 (EPISODE 11-END)

Catatan :

(1) Teori Heliosentris : teori yang menyatakan jika bumi bukanlah pusat tata surya. Bumi merupakan salah satu planet yang berputar mengeliling pusat tata surya yakni matahari. Teori ini berlawanan dengan teori sebelumnya yang menyatakan bahwa bumi-lah pusat tata surya dan matahari yang berputar mengelilingi bumi. Saat dicetuskan, teori ini ditentang habis-habisan oleh pihak gereja saat itu. hingga Galileo Galilei terpaksa harus terasingkan. Tapi akhirnya dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teori ini dapat dibuktikan dan tuduhan atas Galileo pun dicabut oleh gereja.

(2) Golden Ratio – Rasio emas : adalah perbandingan angka yang dicetuskan oleh Leonardo da Vinci setelah mempelajari anatomi tubuh manusia. Rasio ini adalah 1,618. Tidak hanya pada tubuh manusia saja, rasio ini juga dibuktikan dalam banyak makhluk di alam, misalnya lingkaran yang ada di rumah siput, kemudian warna pada sayap kupu-kupu, dll. Rasio ini juga dibuktikan dalam deret bilangan Fibonachi. Pada deret Fibonachi, perbandingan angka yang besar dengan angka yang kecil selalu menunjukkan hasil yang sama, yakni 1,618. (untuk reverensi lengkapnya silahkan baca buku tentang golden ratio dan deret Fibonachi. Tapi bagi yang enggan mencari, hal ini juga bisa dibaca di buku Dan Brown, The Da Vinci Code)

Kelana’s comment:

Komentar kali ini Kelana tidak akan menampilakn quote apapun. Karena Kelana akan menunjukkan deret Fibonachi dan juga golden ratio.

Deret Fibonachi : 1-1-2-3-5-8-13-21-34-55-89-144-233-377-610-987-1597-2548- dst

Setiap bilangan adalah jumlah dua bilangan sebelumnya. 1+1=2, 1+2=3, 2+3=5, 5+8=13 dan seterusnya.

Sedangkan golden ratio adalah perbandingan dua bilangan pada deret Fibonachi yang berdekatan.

1:1 = 1
2:1 = 2
3:2 = 1,5
5:3 = 1,667
8:5 = 1,6
13:8 = 1,625
21:13 = 1,615
34:21 = 1,619
55:34 = 1,617
89:55 = 1,618
144:89 = 1,618
233:144 = 1,618
377:233 = 1,618
610:377 = 1,618

Semakin besar angkanya, maka perbandingannya yang terjadi akan semakin mendekati 1,618. Masih belum percaya? Silahkan lanjutkan sendiri ya ^_^

Semua informasi tambahan di sinopsis ini nyata dan bisa dibuktikan kebenarannya. Jika ada beberapa yang keliru/kurang tepat, itu semata-mata kesalahan author. Silahkan bagi sobat2 semua yang ingin mengoreksi atau melengkapinya.

Written by Kelana [Blog|FB|Twitter]
captured images by +ari airi 
Posted only on pelangidrama.net
DON’T REPOST TO ANOTHER SITE/FP FB!!!

5 pemikiran pada “[Sinopsis J-Drama] Galileo season 2 episode 10

  1. cameo tiap episodenya mantep2 itu ayane yg main di boss kan ya? trus ada Go Ara yang main di CIty Hunter juga ?

    anak2nya ada yg mirip jadi akira di Tonbi :peace:
    makin mantep kelana rumus2nya hahahahaha, semangat satu lagi ni kita wkkwkw

    Suka

  2. @ari:..ya kali ri, sy mlh gak inget. wjar jg sih cameo-ny mantp2 maklm leadny kan om fuku ^^.
    eh..lama2 kelana dh ktularan yukawa sensei tuh…nulis rumus yg bderet2

    hira

    Suka

  3. @hira=hahahahaha, iya soale belum lama ini baru nonton Boss tapi ga tahu juga sih haha, klo Go Ara mungkin ga kelihatan soale captunya kukecilin 😛
    iya Om fuku kharismanya bersinar sih ya wkwkwkkw

    Suka

  4. @ari:kikiki..mklum ri, hira g expert bgt jejepanganny, kmrin inget yu aoi pun gr2 muter rurokenny kbnykn. hooh om fuku emng saingannya om kimutaku, sampe skrng pun fansny gak bkurang

    hira

    Suka

  5. Ping balik: SINOPSIS – Galileo season 2 episode 10 | Elang Kelana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s