[Sinopsis J-Drama] Galileo season 2 episode 11 (end)

~Sinopsis Galileo season 2 episode 11 (end)~
Redemption – Pengampunan (part 2 end)

“Jika kejahatan sempuran benar-benar ada, pasti akan sesempurna perbandingan salib ini. Tuhan mengampuni setiap orang. Itu yang kau katakan padaku. Jika begitu, orang yang membunuh suamimu … pasti akan diampuni,” ujar Yukawa-sensei, pelan tapi tajam.

Di dalam kelas,
“Liburan musim panas akan datang kurang dari sebulan lagi. Termasuk hari ini, kalian masih punya dua kuliah bersamaku,” ujar Yukawa-sensei memulai kuliah hari itu.

Pernyataan itu membuat seisi ruangan yang sebagian besar berisi para mahasiswa wanita protes. Mereka menginginkan masih ada kuliah bersama Yukawa-sensei lagi. Sementara itu, dari arah pintu, datang Kishitani. Ia mengambil tempat duduk paling belakang, dan mulai menguap.

Yukawa-sensei hanya melirik sekilas pada siapa yang datang. Ia pun kemudian melanjutkan kuliahnya, “Aku senang karena kalian semua tertarik pada sains. Kau!” tunjuk Yukawa-sensei pada salah seorang mahasiswa yang sedang mengetik di laptopnya. “Apa kau tahu jika kemampuan prosesor komputermu lebih tinggi dibanding dengan komputer yang digunakan di satelit luar angkasa?” pertanyaan itu dijawab oleh si mahasiswa dengan gelengan kepala. Yukawa-sensei pun melanjutkan, “Alasan mereka menggunakan komputer dengan kemampuan rendah pada satelit, adalah untuk meminimalkan potensial Bitwise Inversion yang merupakan tidak berfungsinya CPU (Computer Processor Unit) yang disebabkan oleh radiasi luar angkasa. Informasi tambahan, bagian dari Program Apolo yang berhasil mendarat pertama di bulan, komputer yang digunakan memiliki kemampuan lebih rendah dibanding ponsel modern. Kalau begitu, pelajaran hari ini adalah tentang Komputer Kuantum.”

Lab Yukawa-sensei,
Kishitani berdiri mengkeret di depan meja Yukawa-sensei, persis seorang siswa yang dimarahi oleh gurunya.

“Kelasku bukan tempat tidur. Tolong jangan masuk kelasku dan mulai tidur siang!” tegur Yukawa-sensei pada Kishitani.
“Maaf, aku benar-benar kelelahan menginvestigasi kasus pembunuhan Mashiba Yoshiyuki. Setiap hari aku berkeliling hingga kakiku bengkak,” sesal Kishitani.
“Kau mungkin bekerja begitu keras, tapi kalau kau mau tidur, lakukan di ruanganmu sendiri.”
“Ah, Yukawa-sensei, apa benar kau melakukan demonstrasi percobaan di sekolah Ayane-san?” Kishitani mengalihkan pembicaraan. “Aku dengar kau melakukan percobaan dengan ceret dan air panas.”
“Itu bukan ceret, itu teko elektrik,” ralat Yukawa-sensei.
Kuribayashi-san yang tadinya sibuk dengan pekerjaannya akhirnya ikut nimbrung. Ia heran karena Yukawa-sensei yang sangat membenci anak-anak tiba-tiba saja mau menunjukkan percobaan di depan anak-anak.
“Aku punya firasat kalau percobaan itu ada hubungannya dengan kasus ini,” Kishitani menyimpulkan.

Yukawa-sensei beranjak dari kursinya lalu menuju dapur. Ia menuangkan sisa kopi di cangkirnya pada bak cuci, “Mashiba Yoshiyuki meninggal saat meminum kopinya. Saat dia minum kopi di pagi hari, dia baik-baik saja. Jadi racun pasti dimasukkan setelahnya. Dengan kata lain, si pelaku masuk ke rumah meski Yoshiyuki-san ada di rumah dan menambahkan racun ke dalam ceret. Itu yang dipikirkan oleh polisi,” ujar Yukawa-sensei yang diiyakan oleh Kishitani juga. “Tapi aku percaya jika racun itu dimasukkan sejak lama. Seperti bom waktu. Jika aku benar, Mashiba Ayane-san bisa saja membunuh Yoshiyuki-san, suaminya.”
“Istrinya?” Kishitani heran.

“Dia yang mengatakan jika Mashiba Yoshiyuki tidak minum air keran. Dan racun tidak terdetektis di botol air mineral ataupun air yang dimurnikan. Itulah kenapa polisi berpikir jika racun ditambahkan sebelum pembunuhan. Kemudian dengan pergi ke Hokkaido, Mashiba Ayane membuat alibu sempurna. Dia mengarahkanmu agar menyingkirkannya dari daftar kemungkinan tersangka,” ujar Yukawa-sensei persis di depan Kishitani.
“Tapi, bagaimana bom waktu ini bekerja?” desak Kishitani.
“Aku tidak tahu.”
“Lalu kenapa kau mencurigainya?” cecar Kishitani. “Yukawa-sensei, tolong jangan hubungi dia tanpa izinku lagi. Dan berhenti ikut campur dalam investigasi ini. (yang minta Yukawa-sensei ikut campur dulunya siapa sih?). Sekarang ini wanita dengan payung ungu-lah tersangka utamanya.”
Yukawa-sensei lalu mengambil jas lab-nya dan mengenakannya. Ia mengambil setumpuk kertas di meja, “Aku akan melakukan percobaan,” ujarnya lalu keluar dari lab.

Seperti biasa, Ohtagawa mampir ke kediaman Mashiba untuk menyirami bunga-bunga mawar milik Ayane-san. Tapi betapa kagetnya ia saat melihat tanaman dalam salah satu pot malah kering dan mati. Ohtagawa pun memutuskan untuk mengganti tanaman itu, ia kemudian datang ke sebuah toko tanaman. Ponsel Ohtagawa pun berbunyi, dari Kishitani.

Seperti biasa, keduanya berdebat soal investigasi kali ini. Kishitani sendiri masih berkeliling komplek kediaman Mashiba untuk mencari informasi. Ia kesal karena Ohtagawa tidak ada dan tidak mau mengaku ada di mana.

Tapi perhatian Kishitani teralihkan oleh hal lain. Ia melihat seseorang menenteng payung ungu, persis seperti orang yang datang saat kejadian pembunuhan Mashiba Yoshiyuki. Buru-buru Kishitani menutup telepon, mengabaikan protes orang di seberang dan mengikuti wanita itu. Wanita itu rupanya memasukkan selebaran ke kotak pos beberapa rumah, lalu memencet bel pintu dan bicara soal ‘agama’. (sebagain besar orang Jepang tidak percaya agama. Jika pun ada ritual yang mereka lakukan, kebanyakan hanya merupakan budaya saja. Jadi tidak heran jika ada orang seperti ini)

Kishitani lalu mendatangi wanita itu dan membawanya ke depan rumah Mashiba Yoshiyuki. Wanita itu mengakui kalau ia memang pernah datang ke sana sebelumnya. Wanita itu mengaku siang itu dia datang dengan payung karena hari hujan. Dan setelah beberapa kali memencet bel, seorang pria keluar dari rumah. Wanita itu meminta waktu untuk bicara, tapi pemilik rumah, Mashiba Yoshiyuki menolaknya. Apalagi saat itu alarm rumahnya berbunyi. Yoshiyuki-san kemudian masuk lagi.
“Apa yang kau lakukan setelahnya?” tanya Kishitani kemudian.
“Aku kembali ke kantor dengan rekan-rekanku,” akunya.

Kishitani tidak melanjutkan interogasi terhadap wanita tadi. Ia kembali berjalan sambil menelepon seseorang, minta bantuan.
“Nama wanita itu Tazawa Nariko-san, dari kelompok keagamaan Mominoki-kai. Meski dia hanya saksi mata, tolong cek identitasnya juga,” pinta Kishitani.

Klinik ginekologi Kobayashi
“Mashiba Ayane-san? Aku mengingatnya. Dia berjalan ke sini dan mengatakan jika dia ditabrak oleh sepeda. Tapi itu sudah terlalu terlambat. Kami melakukan operasi, tapi karena sudah terlambat, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya,” ujar si perawat.
“Apa dia mengatakan sesuatu soal si penabrak?” tanya Kishitani lagi.
“Kami tidak punya banyak waktu untuk mengobrol,” aku si perawat. Tapi wajahnya berubah ragu. “Tapi … ah, ini tidak ada hubungannya dengan kecelakaan itu.”
“Apa itu? tolong katakan saja,” pinta Kishitani.

Perawat itu menceritakan kalau si suami, Mashiba Yoshiyuki datang ke klinik saat tahu istrinya keguguran. Si suami kemudian menanyakan apa istrinya masih bisa hamil karena sudah berusia di atas 40 tahun. Yoshiyuki-san mengatakan jika istrinya tidak bisa hamil lagi, maka ia akan menceraikan istrinya itu, karena memiliki anak adalah prioritas utamanya. Perawat itu mengatakan karena ia keguguran bukan disebabkan masalah kesehatan, maka kemungkinan untuk hamil lagi tentu masih ada.

Sementara itu, Mashiba Ayane justru sudah kembali disibukkan dengan kegiatan bersama anak-anak pra sekolah. Ia asyik menemani anak-anak itu bermain. Dari menyusun puzzle hingga bermain tebak gambar bersama anak-anak. Tidak tampak kesedihan sama sekali yang tampak di wajah Ayane-san itu.

Setelahnya Kishitani mendatangi kantor milik Mashiba Yoshiyuki-san. Ia bicara dengan beberapa karyawan mengenai Mashiba Yoshiyuki-san.

Karyawan itu mengatakan jika Yoshiyuki-san sangat menginginkan anak. Dia mengatakan jika ia perlu keturunan untuk melanjutkan bisnisnya. Rupanya Yoshiyuki-san punya pengalaman tidak menyenangkan. Orang tuanya meninggal saat ia masih kecil, karenanya ia berharap memiliki keluarga dengan pertalian darah. Sehingga istrinya ikut program rencana hamil.

Kishitani kembali datang ke lab Yukawa-sensei. Kali ini curhat mengenai kasus Yoshiyuki dan entah kenapa, kali ini Yukawa-sensei juga setia mendengarkan.
“Aku tidak mengerti. Meski dia begitu ingin punya keluarga, dia tidak bisa kan menceraikan istrinya hanya karena alasan tidak punya anak,” keluh Kishitani.
“Itu tidak penting. Yang penting sekarang … “ Yukawa-sensei bangun dari kursinya dan tiba-tiba saja menarik kaki Kishitani. “Bagian bawah sepatumu rusak. Aku tidak mau bicara hal buruk soal orang yang sudah mati. Bagi Mashiba Yoshiyuki, wanita tidak lebih dari penghasil anak. Dan setahun pun sudah terlewat. Apa Mashiba Yoshiyuki mengatakan pada dokter jika mereka tidak punya bayi dalam setahun, dia akan menceraikan istrinya itu? Jika Mashiba Ayane-san tidak hamil sekarang, itu artinya dia akan diceraikan,” lanjut Yukawa-sensei.
“Jadi, Ayane-san benar membunuhnya?” Kishitani menyimpulkan.
“Aku menjawab pertanyaanku sendri. Pertanyaanku adalah apa mungkin bagi seseorang memasukkan racun pada minuman tertentu tanpa ia berada di sana. Dan lebih penting, melakukannya tanpa jejak sama sekali. Bisakah kau ajak aku ke TKP sekali lagi?” pinta Yukawa-sensei.

Yukawa-sensei dan Kishitani kembali ke TKP. Sekali lagi, Yukawa-sensei memeriksa ruangan itu. Botol air mineral yang ditemukan di tempat sampah adalah botol terakhir yang tersisa.

“Jika jumlah air yang ada di botol hanya cukup untuk membuat kopi di pagi hari … Mashiba Yoshiyuki menggunakan air dari botol mineral untuk membut kopi pada jam 10 pagi. Dan kopi kedua dibuat menggunakan air yang dimurnikan. Satu-satunya perbedaan antara cangkir pertama dan kedua adalah air yang digunakan,” Yukawa-sensei mengecek kran air di dapur itu. “Karena ini dibuat khusus, jadi tidak akan bisa diberi racun. Alat pemurni air?” Yukawa-sensei kemudian membuka bagian bawah dan mengecek sekali lagi alat di sana.

Kishitani yang tanggap mengambil senter dan menyusul di sebelah Yukawa-sensei. Ia mengatakan jika forensik sudah mengeceknya sebelumnya dan tidak ditemukan bekas racun sama sekali.

Dari arah lain muncul seseorang. Rupanya Ayane-san mampir ke rumah. Ia kaget melihat kedua tamunya ini masih melakukan investigasi. Kishitani minta maaf karena datang tanpa memberitahukan terlebih dahulu. Ayane-san menganggapnya tidak masalah, lagipula ia datang untuk menyirami tanaman mawarnya yang ada di lantai dua.
“Kapan terakhir kali kau mengganti cartridge pemurni air?” tanya Yukawa-sensei. “Biasanya diganti kan sesekali?”

Ayane-san tampak berpikir, “Mungkin saat kami pindah. Kami membeli rumah ini setelah menikah. Karena sudah pernah ditempati, mungkin seseorang sudah menggantinya sebelum kami pindah,” aku Ayane-san.
“Jadi sudah setahun. Kau harus menggantinya lagi. Ada penelitian yang mengatakan jika penyaring lama sudah tidak baik lagi untuk kesehatan,” saran Yukawa-sensei.

 

Ayane-san tersenyum, “Aku akan menjual rumah ini. Ini terlalu besar untukku. Dan aku juga tidak mau tinggal di sini lagi.” Ayane-san lalu mengambil alat penyiram dan mulai mengisi air dari kran.
Yukawa-sensei heran, “Apa kau menggunakan air itu untuk tanamanmu? Apa kau menggunakan air murni?”

Ayane-san terdiam sebentar, “Di atas tidak ada kamar mandi. Karena menyirami tanaman, lebih baik menggunakan air bersih kan. Apa ini aneh?” Ayane-san melihat ke arah Yukawa-sensei. “Yukawa-kun, jangan melihatku dengan wajah menakutkan seperti itu. Atau kau akan merusak kenangan cinta pertamaku.” Ayane-san lalu beranjak naik ke lantai dua.

“Dia tahu kalau kita mencurigainya,” komentar Kishitani setelah Ayane-san pergi.
Yukawa-sensei justru tertarik pada hal lain. Ia kembali melihat hiasan dinding di ruangan itu, sebuah tapestry, “Dia mengatakan menghabiskan setahun untuk membuat tapestry ini kan? Di mana ini membuatnya?”
Kishitani berpikir, “Mungkin di sofa ini. Karyawan Yoshiyuki-san mengatakan jika Ayane-san selalu duduk di sofa membuat tapestry. Dia seperti patung. Dia mengatakan jika suaminya tidak pernah protes.”

Yukawa-sensei duduk di sofa, berpikir, “Dia tidak keluar rumah. Dia selalu berada di sini.” Sigap Yukawa-sensei mengambil sebuah spidol yang ada di ruangan itu. Ia lalu menarik hingga jatuh tapestry yang ada di depannya. Satu per satu fakta terlintas di pikiran Yukawa-sensei. Sementara tangannya sigap menuliskan sederetan rumus di dinding.

Sementara itu di lantai atas, Ayane-san masih asyik menyirami tanaman mawarnya. Ia bergumam pelan, “Kau tidak akan menemukannya, Yukawa-kun. Tidak mungkin kau akan menemukannya,” ujarnya kemudian tersenyum puas.

Ayane-san selesai menyirami tanaman dan kembali ke lantai bawah. Ia heran karena hanya menemukan Yukawa-sensei berdiri menghadap jendela, sementara detektif Kishitani tidak ada di sana. Yukawa-sensei mengatakan jika Kishitani kembali ke markas.
“Jika kau punya waktu, maukah kau keluar denganku?” pinta Yukawa-sensei. (wah diajakin kencan sama Yukawa-sensei? Mauuuuu … )

“Ini Mapusaurus. Dinosaurus bagian keluarga Theropoda yang hidup di periode Cretaceus pada 100 juta tahun yang lalu,” ujar Yukawa-sensei. Rupanya ia mengajak Ayane-san datang ke sebuah museum dinosaurus.
“Aku tidak menyangka kau akan mengajakku ke museum dinosaurus. Kau sama sekali tidak berubah sejak SMP. Kau selalu suka tempat seperti ini. Aku menyukainya juga,” puji Ayane-san.
“Apa kau pernah dengar soal teknik CT-scan fossil?” tanya Yukawa-sensei.
“CT-scan?” Ayane-san menggeleng. “Tulang dinosaurus?”
“Bukan hanya tulang. Tapi seluruh bagian fosil.”
“Bukankah fosil hanya sekumpulan tulang?” bela Ayane-san.
“Kalau kau berpiki begitu, kau terjebak. Sejak lama palaentologis—ahli fosil menggali tanah dan menemukan sekumpulan tulang dinosaurus. Mereka menggali dengan senang. Kemudian mereka membersihkan semua tanahnya, dan merangkainya menjadi rangka ini. Dan mereka menyimpulkan jika dagu Mapusaurus sangat besar dan langannya sangat pendek. Tapi mereka melakukan kesalahan besar. 13 tahun silam, sekelompok penelitia menggali fosil, tanah dan semuanya lalu melakukan CT-scan untuk membut gambaran 3D dari struktur internalnya. Apa kau tahu yang mereka temukan?”
“Kau seperti sedang memberikan kuliah. Aku tidak tahu.”

“Itu jantung. Dengan kata lain, saat mereka menggali dan menemukan sesuatu tidak penting, lalu membuangnya, sebenarnya hal itu adalah bentuk dari organ. Dan sekarang CT-scan menjadi prosedur standar untuk fosil dinosaurus.”
“Sangat menarik,” puji Ayane-san.
“Saat mendengar kisah ini, aku pikir … butuh jutaan tahun untuk menyelesaikannya. Tanah yang dipikir oleh palaentologis sebagai hal tidak berguna sebenarnya bernilai. Hal yang membuat mereka tidak dapat mengenali trik itu adalah … waktu. Tidak akan ada yang menyadari kebenarannya karena trik itu butuh sangat banyak waktu,” Yukawa-sensei menutup penjelasannya.

“Trik? Apa kau bicara soal kasus ini?”
“Ya.”
Ayane-san tersenyum, “Apa kau tahu jika sekolah kita akan ditutup? Mereka akan menghancurkan gedungnya pada akhir tahun ini. Aku ingin melihatnya sekali lagi. Jika aku ke sana, bisakah aku menemukan diriku yang lalu … yang menyukai Yukawa-kun?” Ayane-san bicara lebih pada dirinya sendiri. “Kau harus kembali ke universitas. Aku akan mengajak anak-anak datang ke sini. Terimakasih, Yukawa-kun,” pamit Ayane-san.

Ayane-san pulang ke rumahnya. Ia menyalakan lampu, dan merasa heran melihat coretan tersembul dari belakang tapestry yang ada di dinding. Ayane-san kemudian menurunkan tapestry itu, dan betapa kagetnya ia melihat dindingnya penuh dengan rumus yang ditulis oleh Yukawa-sensei.

“Yukawa-kun…” gumam Ayane-san pelan. Wajahnya menyiratkan kecurigaan.

Seperti biasa, Ohtagawa-san datang ke kediaman Mashiba untuk menyirami tanaman mawar milik Ayane-san. Betapa kagetnya ia saat menemukan tanaman itu kembali kering. Padahal kemarin sudah mengganti tanaman yang kering dengan tanaman baru dan tidak lupa menyiraminya lagi.

Ponsel Ohtagawa-san berbunyi, dari Kishitani. Keduanya kembali bertengkar soal investigasi. Kishitani bahkan menuduh Ohtagawa-san hanya berbelanja dan tidak melakukan investigasi. Tapi Ohtagawa mengelak kalau ia mencari tempat dibelinya racun. Padahal sebenarnya kemarin ia datang ke toko bunga untuk membeli tanaman mawar, yang digunakannya untuk mengganti tanaman mawar miliki Ayane-san yang kering sebelumnya.

Kishitani kembali datang ke lab Yukawa-sensei. Ia kesal karena Yukawa-sensei tidak menjawap teleponnya. Tapi Yukawa-sensei dengan tenang mengabaikan protes Kishitani dan menagih hasil investigasnya.

Kishitani tidak punya pilihan. Ia pun mulai membuka catatannya, “Pertama, di mana Mashiba Ayane membeli air mineral. Aku mendatangi semua supermarket di dekat kediaman mereka dan menemukan tempatnya. Mashiba Ayane meminta mereka mengirim air secara teratur. Berdasarkan catatan, dia mendapat 6 botol dua hari sebelum insiden. Tapi saat Mashiba Yoshiyuki-san ditemukan meninggal, hanya ada sisa satu botol kosong saja. Dua hari tidak cukup untuk menghabiskan itu semua.”
“Kedua?”

“Kedua, di mana Ayane-san datang ke rumah sakit untuk mengikuti treatment kesuburan. Aku menemukan tempatnya. Mashiba Ayane datang ke tempat itu secara teratur, tapi dia tidak datang untuk treatment kesuburan, melainkan sebaliknya. Dokternya mengatakan jika ia diberi pil anti hamil. Artinya ia justru mencegah kehamilan.”
“Dan ketiga?”
“Ketiga. Temukan dan wawancarai orang yang pernah datang ke kediaman Mashiba. Mereka tidak punya banyak teman, kecuali rekan kerjanya. Ayane-san bahkan tidak mengajak rekan-rekannya dari sekolahnya untuk datang ke rumah. Tapi mereka pernah mengadakan pesta sekali bersama para karyawan Yoshiyuki-san.” Ayane-san yang memasak semua makanan untuk para tamu. Ia bahkan tidak mengijinkan para tamu itu membantunya di dapur.

“Baiklah, sekarang aku punya semua syarat untuk membuat hipotesisku,” Yukawa-sensei menyimpulkan. “Tapi ini hanya teori. Seseorang yang berada di Hokkaido membuat jebakan untuk membunuh seseorang yang berada di Tokyo. Aku tidak percaya kalau ini mungkin … “ gumam Yukawa-sensei.

Yukawa-sensei kemudian menggebrak meja dan beranjak bangun dengan wajah kesal. Sementara Kishitani yang berada di depannya mengkeret ketakutan. Yukawa-sensei lalu berjalan ke arah jendela. (adegan di sini, Yukawa-sensei coooooooooooool banget)
“Ada apa, Sensei? Katakan padaku apa yang dilakukan Ayane-san?” cecar Kishitani yang ingin tahu.
“Beri aku waktu sampai besok. Aku akan menjelaskan semuanya besok,” ujar Yukawa-sensei kemudian. (mirip siapa? Mirip sama Enomoto-san. saat orang lain udah tegang penasaran, eh doski dengan entengnya bilang “Aku akan menjelaskannya besok.”)

Kishitani datang ke sekolah milik Mashiba Ayane. Tapi karyawan di sana mengatakan jika Ayane-san tidak datang hari itu. Karyawan menunjukkan kalau Ayane-san mengirimkan pesan pagi itu, bahwa ia akan bepergian di suatu tempat.

Kishitani lalu bergegas ke lab Yukawa-sensei. Di sana pun ia tidak menemukan orang yang dicari. Kishitani hanya menemukan anak-anak sedang mempersiapkan percobaan untuk kuliah Kuribayashi-san yang hari itu menggantikan Yukawa-sensei yang tengah pergi.
“Sensei tidak ada di sini, tapi ia meninggalkan surat untukmu,” ujar salah satu mahasiswa itu. Mereka lalu pergi untuk mempersiapkan kelas.

Kishitani beranjak ke meja Yukawa-sensei. Ia menemukan sebuah amplop dengan tulisan tangan Yukawa-sensei, yang ditujukan padanya.

Untuk Kishitani-kun. Kishitani-kun, meski kemarin aku memintamu untuk menunggu hari ini, situasinya berubah. Karena itu, aku menuliskan hipotesisku tentang pembunuhan Mashiba Yoshiyuki-san di surat ini. Tapi, ini hanya hipotesis bersifat teori. Hanya Mashiba Ayane sendiri yang tahu apa hipotisku ini benar-benar terjadi.
“Hanya dia yang tahu? Apa artinya ini?” gumam Kishitani. Ia melirik pada lembaran kertas berikutnya. Kishitani mencoba menghubungi Yukawa-sensei, tapi tidak ada jawaban.

Yukawa-sensei rupanya naik taksi. Ia menuju sebuah desa, kemudian tiba di sebuah sekolah yang tampak lama dan sepi. Yukawa-sensei menuju sebuah lab yang ada di sana. Rupanya Ayane-san sudah menunggu di sana.
“Sudah 27 tahun. Terimakasih sudah datang, Yukawa-kun,” sambut Ayane-san.
“Ini bukan gayaku untuk mengingat masa lalu,” ujar Yukawa sensei. “Ini tempat pertama yang membuatku tertarik pada sains. Aku ingin datang ke sini sebelum ini dihancurkan. Dan karena aku ilmuwan, aku tidak bisa berhenti untuk mencari kebenaran.”
“Kebenaran?” Ayane-san heran.
“Aku akan mengatakan hipotesisku. Jika ada yang keliru, tolong katakan,” pinta Yukawa-sensei.
“Cerita yang panjang kan?” Ayane tersenyum saat mendengar ‘iya’ dari Yukawa-sensei. Ia pun beranjak dari sisi jendela ke tengah ruangan. “Kita hanya berdua di ruang sains. Jika ini terjadi saat kita masih SMP, aku pasti akan tegang. Kau sama sekali tidak tertarik padaku kan? Aku tahu itu. Dulu, kau adalah anak pindahan misterius yang tertarik pada sains. Kau bisa mulai sekarang.”

“Kau bertemu Mashiba Yoshiyuki tahun lalu, hamil dan kemudian menikah. Tapi, kau kehilangan bayimu karena sebuah kecelakaan. Awalnya, polisi berpikir jika pelaku pada kecelakaan itu adalah orang yang sama yang membunuh Yoshiyuki, dan itu karena mereka ingin balas dendam padamu. Tapi, itu hanya sebuah insiden yang disesalkan. Sebagai hasilnya, kau dikagetkan oleh dua hal. Pertama karena keguguran. Kedua karena mengetahui apa yang dipikirkan suamimu. Mashiba Yoshiyuki berpikir pernikahannya … hanya karena ingin punya anak yang mewarisi gen-nya.”
Ayane-san tidak menyangkal sama sekali cerita Yukawa-sensei itu.

“Jika kita tidak punya bayi dalam setahun, aku akan menceraikanmu. Itu yang dia katakan padamu setelah kecelakaan kan?” Yukawa-sensei dan Ayane-san berjalan keluar dari ruang sains. “Tidak ada orang yang tenang saat diberitahu hal itu. Cinta pun berubah menjadi kebencian. Meski aku tidak tahu banyak soal perasaan, aku bisa membayangkannya. Tapi, kau tetap tenang. Kau tidak marah atau mencoba balas dendam padanya waktu itu. Tapi kau memberikan Yoshiyuki a reprieve—penangguhan hukuman. Kau menunda kematiannya selama setahun.”
“Menunda kematiannya?” gumam Ayane-san.

Flash back
Ayane-san mengenakan sarung tangan dan juga penutup wajah. Ia lalu membuka alat pemurni air yang berada di bagian bawah kran. Ia meletakkan sebuah saringan plastik di sana, kemudian mengambil sesendok kecil racun arsenik dari sebuah botol. Pelan dan dengan tangan gemetar,Ayane-san meletakkan racun itu di atas saringan plastik tadi.

“Setelah kau berjanji dengan suamimu (janji bercerai jika tidak punya anak setelah satu tahun), kau meletakkan racun ke saringan alat pemurni air. Kau meletakkan racun secukupnya yang bisa membunuh suamimu saat dia menggunakannya untuk membuat segelas kopi. Setelah itu, kau tidak pernah menggunakan air murni lagi,” lanjut Yukawa-sensei.

“Kau bahkan meminta para karyawanmu untuk mengurus sekolah dan kau sendiri jadi ibu rumah tangga. Karena kau harus selalu memperhatikan target (Yoshiyuki). Kau selalu duduk di sofa dan memperhatikan dapur saat Yoshiyuki ada di rumah. Kau tidak pernah mengijinkannya masuk ke dapur. Meski ada tamu, kau tidak mengijinkan siapapun untuk menggunakan air murni. Meski kau tidur, kau tetap mengamati Yoshiyuki. Dengan cara itu, kau bisa mencegah Yoshiyuki dari menggunakan air murni sepanjang tahun. Itu penangguhan hukuman yang kau berikan padanya.”

“Dan satu tahun kemudian, Yoshiyuki menagih janji untuk bercerai, karenanya kau mengeksekusi hukumannya. Kau tidak melakukan apapun untuk menangguhkan hukuman itu lagi. Kau meninggalkan Yoshiyuki sendirian di rumah dan pergi ke Hokkaido. Itu yang kau lakukan. Kau hanya melakukan satu hal,” lanjut Yukawa-sensei.

Flash back
Malam itu Ayane membuang semua sisa air mineral yang masih ada di botol. Ia hanya menyisakan air mineral yang cukup untuk membuat secangkir kopi dan menyimpannya di dalam lemari es.
“Kenapa kau melakukan itu?” pertanyaan yang dijawab sendiri juga oleh Yukawa-sensei. “Kau butuh waktu untuk meninggalkan Tokyo. Jika kau tidak ada di Hokkaido sementara jasad Yoshiyuki ditemukan, kau tidak akan punya alibi. Setelahnya, semua berjalan sesuai rencanamu. Pada jam 10 pagi, Yoshiyuki menggunakan sisa air mineral untuk membuat kopi.”
Flash back ...




Setelah Ayane pergi, Yoshiyuki membuat kopi pertama dengan sisa air yang ada di botol air mineral. Air itu aman. Saat Ayane tiba di Hokkaido, Yoshiyuki membuat cangkir kopi keduanya. Karena ia sangat peduli dengan kesehatan, otomatis ia menggunakan air yang dimurnikan. Ia kemudian mengganti penyaring kopi di pagi hari, lalu membuat kopi kedua. Setelahnya Yoshiyuki meminum kopi keduanya itu sambil membaca surat yang didapatnya. Tiba-tiba tenggorokkannya terasa tercekik. Yoshiyuki menjatuhkan cangkir kopinya lalu ambruk ke lantai, dan sebentar kemudian tidak bergerak lagi.

“Akhirnya, jebakan racun yang kau rancang setahun silam, mendapatkan korbannya. Ini hopotesisku,” ujar Yukawa-sensei yang sekarang bersama Ayane-san duduk di bangku yang ada di depan sekolah mereka itu. “Jika hipotesisku benar, dan kau melakukan kejahatan ini, kau pasti sangat dendam padanya.”
“Itu benar,” Ayane-san sama sekali tidak mengelak.
“Dan lagi, tidak akan ada yang menemukan bukti dari trik yang kau gunakan sejak lama. Seperti rencanamu, saat kejahatan terselesaikan, semua bukti juga lenyap pada saat yang sama. Aku tidak bisa membuktikan hipotesisku. Menyesal sekali, hipotesis yang tidak bisa dibuktikan tidak dapat disebut sebagai sebuah kebenaran.”

Ayane-san menarik nafas panjang, ia menatap ke arah langit, “Mengagetkan sekali. Ini sama seperti lebih dari 20 tahun silam. Berada di dekatmu selalu membuatku tegang. Kau benar-benar jenius. Kau juga sangat cerdas. Aku tidak berpikir kalau trikku bisa terpecahkan.” Ayane-san berpaling ke arah Yukawa-sensei sambil tersenyum penuh kemenangan.

Sementara itu, setelah membaca isi surat dari Yukawa-sensei, Kishitani berlari ke kediaman Mashiba. Dengan kalap ia memeriksa seisi dapur, mencari sesuatu yang bisa dijadikan bukti untuk menangkap Ayane-san. Tapi berkali-kali pun ia mencari, membongkar satu tempat ke tempat lain, ia tetap tidak menemukan apapun.

Kishitani menyerah dan akhirnya berdiri memandangi tapestry yang ada di ruangan itu, “Hipotes apa? Hipotesis yang tidak dapat dibuktikan oleh siapapun. Mungkin itu cukup bagi ilmuwan, tapi tidak bagi kami (polisi),” air mata pun membasahi pipi Kishitani. (ibarat kebenaran ada di depan mata, tapi ga tau gimana jara jelasinnya. sakiiiiit)
“Kishitani, kau menangis?” Ohtagawa yang baru saja datang heran melihat Kishitani yang menangis sambil memandangi tapestry di ruangan itu.
“Ohtagawa-san,” Kishitani berpaling.
“San?” Ohtagawa heran bukan kepalang. Baru pertama kalinya Kishitani bicara dengan sopan padanya.
“Apa kita tidak berguna? Tidakkah ada yang bisa kita lakukan?” rengek Kishitani.
“Kau bicara dengan sopan?” Ohtagawa tambah heran. (Kishitani menggunakan bahasa baku atau tidak kasual)
“Meski kita tahu kebenarannya, kita tidak bisa menemukan bukti apapun. Aku frustasi. Apa yang harus kulakukan? Kenapa aku jadi polisi? Katakan padaku, kau kan seniorku!” rengek Kishitani lagi. Tapi kali ini perhatiannya teralihkan melihat Ohtagawa yang ternyata datang sambil menenteng plastik penuh tanaman.

Kembali ke Yukawa-sensei dan Ayane-san.
“Kau luar biasa. Tapi hipotesismu tidak sempurna. Aku memberimu nilai 95 dari 100,” ujar Ayane-san.
“Apa kau akan memberikanku 5 point sisanya jika aku mengatakan padamu kenapa kau memberikan setahun penangguhan hukuman padanya?” tawar Yukawa-sensei.
“Benar. Kau belum menjelaskan bagian itu.”
“Pengampunan. Kau mengatakan padaku jika membutuhkan waktu yang lama untuk mengampuni seseorang,” jawab Yukawa-sensei.
“Setiap orang bisa mengampuni dirinya sendiri. Aku yakin … aku tidak dapat memaafkannya. Tapi aku mencintainya. Meski setelah apa yang dia lakukan. Jika dia menyadari kesalahannya, aku akan memaafkannya. Kami adalah pasangan yang bahagia. Aku adalah istri yang baik. Aku selalu memberinya senyuman, membuatkan makanan enak dan menjadikannya prioritas utama.

Flash back
Selama bersama, Yoshiyuki dan Ayane banyak memiliki moment menyenangkan. Mereka liburan di Singapura. Ayane-san selalu memasakkan makanan enak untuk suaminya itu. Bahkan mereka dengan kompak merawat kebun mawar bersama, meski awalnya Ayane-san sangat membenci mawar.

“Kami memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia. Jika saja dia mengatakan jika dia tidak menginginkan anak lagi, dan hanya aku yang diinginkannya … “
“Kau tidak akan menghukumnya,” sambung Yukawa-sensei.

Flash back ..
Malam itu seperti biasa, Ayane dan Yoshiyuki makan malam bersama. Tapi Yoshiyuki tiba-tiba saja menagih janji Ayane, jika ia tidak dapat memberikannya anak, maka mereka akan bercerai. Bahkan saat Ayane bertanya apa masih ada cinta, Yoshiyuki mengatakan iya, tapi masalah anak tetap tidak dapat diganggung gugat.

“Pada saat itu, penangguhannya berakhir. Sampai akhir, dia hanya menganggapku sebagai penghasil anak. Apa yang terjadi hari itu seperti hipotesismu.

Flash back
Malam itu, Ayane-san terbangun. Dia menatap suaminya yang masih tertidur di sebelahnya. Ayane beranjak ke dapur. Ia mengambil semua persediaan air mineral yang ada, lalu membuang semuanya. Ayane hanya menyisakan sedikit air dari botol terakhir yang ia taruh di dalam lemari es.

Paginya, Ayane pamit untuk pergi ke Hokkaido agar bisa mengunjungi ayahnya. Ia juga berniat menyampaikan rencana perceraiannya itu pada ayahnya. Ayane mengingatkan suaminya untuk memasang alarm sistem keamanan selama suaminya berada di rumah. Dari pagi itu, jadi waktu terakhir Ayane bertemu dengan suaminya dalam keadaan hidup. Setelahnya ia melekukan perjalanan ke Hokkaido sambil menarik nafas lega.

“Tidak penting membuktikan kebenaran,” Ayane-san beranjak bangun dari duduknya dan mulai berjalan. “Dunia ini penuh dengan ketidakpastian. Sama dengan fosil dinosaurus di museum. Mereka tidak tahu jika dinosaurus punya jantung. Mereka juga tidak tahu warna dari tubuh Maposaurus kan? Tapi tidak masalah. Karena tidak ada yang akan peduli dengan hal seperti itu.”
“Suatu hari mungkin akan ada yang mengetahuinya. Ilmuwan bukan satu-satunya yang mencoba membuktikan kebenaran. Polisi juga sama. Aku pikir polisi Jepang bisa diandalkan. Kishitani-kun salah satunya. Jangan remehkan dia. Dia pasti bisa membuktikan kejahatanmu,” ujar Yukawa-sensei. (cieeee … Yukawa-sensei memuji Kishitani. Wah kalau orangnya denger, dia pasti seneng banget nih)
“Suatu saat … “ tawa Ayane-san meremehkan. “Cukup. Aku tidak mau lagi mendengar ucapanmu. Semua berakhir. Jaga diri. Aku lega bertemu denganmu lagi,” Ayane-san pamit dan mulai beranjak pergi.

Ponsel Yukawa-sensei berbunyi. Rupanya dari Kishitani, “Ada apa Kishitani-kun?”
“Mawarnya kering. Hanya satu pot mawar yang kering di lantai dua kediaman Mashiba. Meski rekanku mengganti dengan mawar baru dari toko bunga berkali-kali, itu tetap kering. Kau baru ingat, saat Mashiba Ayane pulang di hari kejadian, dia menyirami mawar-mawar di lantai dua ini,” cerita Kishitani.
“Menyirami mawar?” Yukawa-sensei heran.
“Dia menggunakan air dari keran dapur. Saat itu aku tidak mengecek apa dia menggunakan air biasa atau air yang dimurnikan. Tapi saat dia menggunakan air keran di depanmu, dia pasti menggunakan air murni juga waktu itu. Itu adalah trik terakhirnya.”
“Aku mengerti,” Yukawa-sensei tersenyum lega.
“Dia membuat jebakan racun di dalam pemurni air dan meninggalkan rumah. Seperti rencananya, Mashiba Yoshiyuki meninggal karena meminum air beracun. Tapi itu belum selesai. Karena mungkin saja masih ada racun yang tersisa di pemurni air. Itulah kenapa dia menyirami mawar. Dia mengeluarkan sisa racun dari dalam pemurni air ke dalam alat penyiram tanaman. Dengan kata lain, Mashiba Ayane mencoba menghancurkan bukti di depan kita,” lanjut Kishitani. “Jika racun arsen ini terdeteksi di tanah, itu akan jadi bukti sempurna.”
“Kesimpulanmu seperti tepat,” komentar Yukawa-sensei.

Dipuji oleh Yukawa-sensei, Kishitani tidak kalah girang, “Kerja bagus, Ohtagawa-san!” ujarnya senang. “Kerja bagus!” Kishitani tanpa ragu menghambur ke arah Ohtagawa dan memeluknya.

Mengetahui Yukawa-sensei mendapat telepon, Ayane-san berbalik.
“Apa kau tahu, jika mawar-mawarmu kering? Dan kau pasti tahu kenapa. Kau ingat apa yang kukatakan di gereja? Tuhan menyelamatkan/mengampuni semua orang. Karena itu … “
“… si pelaku yang membunuh suamimu juga akan diampuni,” sambung Ayane-san.
“Masih belum terlambat. Kau harus menyerahkan diri pada polisi. Untuk menebus dosamu … itu untuk mengampuni dirimu sendiri,” saran Yukawa-sensei. Ia sendiri lalu beranjak pergi meninggalkan Ayane-san yang masih mematung sendirian.


Meski kasus sudah selesai, Kishitani tetap datang ke lab Yukawa-sensei. Kali ini ia menceritakan perkembangan kasus terakhir itu. Racun terbukti ditemukan di tanah, dan Mashiba Ayane mengakui semuanya.

Sementara Yukawa-sensei asyik mempersiapkan percobaan, kedua orang ini mulai bertengkar seperti biasa. Apalagi saat Kishitani memanggil Kuribayashi dengan sebutan Kuri-chan (Kuri-chan biasa diberikan sebagai nama anjing).
“Tolong minggir dari meja. Ini percobaan untuk mengoreksi orbit satelit,” ujar Yukawa-sensei.
Kedua orang tadi pun menyingkir dari meja. Yukawa-sensei mengambil salah satu bola logam, dan bersiap meluncurkannya dari sudut meja. Dan … bola itu meluncur sempurna, memantul berbelok hingga akhirnya kembali ke posisi semula … dengan presisi dan tepat. Sempurna.
“Aku mengerti. Jadi alasan kau sering datang ke sini adalah untuk menemui Kuribayashi-san,” komentar Yukawa-sensei kemudian.

“Tidak!” elak Kishitani cepat. “Aku mungkin akan mulai menangis saat kau membully-ku, tapi itu tidak akan terjadi lagi. Aku punya pola-Yukawa-sensei di otakku sekarang,” pancing Kishitani. Kishitani mulai presentasinya. “Semalam Tokyo berawan kan? Dan ada petir juga. Pada pukul 2.20 semalam, seorang siswa melihat pria terkena petir di Kamata, Ohta-ku, dan langsung meninggal. 22 menit kemudian, pada pukul 2.42, seorang pria tersengat petir di Ohsaki, Shinagawa-ku dan meninggal. Dan enam menit kemudian, dua pria meninggal tersengat petir di Ikegami, Ohta-ku.”


“Itu cuma kebetulan,” komentar Kuribayashi-san.
“Empat lelaki ini berasal dari grup Yakuza yang sama. Mereka kehawatir akan serangan dari kelompok saingan. Dengan kata lain, pembunuhan dengan petir. Menurutmu, apa mungkin seseorang mengendalikan petir?”

 

“Itu tidak mungkin,” elak Kuribayashi-san cepat.
“Tidak mungkin?” seperti perkiraan Kishitani, Yukawa-sensei memulai kuliahnya, “Pada abad ke-18, Benjamin Franklin membuat percobaan petir dengan menerbangkan layang-layang saat badai. (kalau yang pernah nonton film Journey to the Future pasti tahu adegan ini). Itu berarti untuk memanggil petir. Dengan kata lain, secara teoritis bisa mengontrol petir untuk membunuh seseorang.”
“Benarkah?” Kishitani semakin bersemangat.


Yukawa-sensei beranjak ke dapurnya dan mulai menyeduh kopi, “Menggunakan roket kecil untuk menarik petir, menggunakan radiasi laser, menggunakan jet air, menggunakan menara berpijar, menggunakan berkas partikel, menggunakan, kereta luncur. Tapi tidak ada satupun yang sukses. Tapi, mungkin saja ada seseorang yang sudah berhasil di suatu tempat. Kekuatan sengatan petir mencapai milyaran volt. Jika terkena manusia akan langsung meninggal. Dari 2000 meter di atas langit, seseorang membidik seseorang dan membunuh mereka dengan sengatan petir …
“Bagaimana?”
Yukawa-sensei menyesap kopinya, “Aku tidak tahu.”
“Dengan kata lain … “ sambung Kishitani.
“Ini sangat menarik,” Yukawa-sensei tersenyum.

==THE END==

Kelana’s comment:
Huaaaaaaa ….!!! akhirnya tamat juga sodara-sodara. Kelana pasti akan merindukan Yukawa-sensei lagi. Masih menunggu sub untuk movienya yang berjudul ‘Galileo – Midsummer Formula’ yang belum muncul juga.

Sebenarnya, Kelana sudah lama ngerti kalau Yukawa-sensei alias om Fukuyama Masaharu itu aslinya penyanyi, tapi baru kemarin Kelana berburu lagu dan beberapa videonya. Dan … tada … berasa seperti melihat sisi lain Yukawa-sensei. Biasanya kan melihat sosok cool-dingin-kaku Yukawa-sensei di sini. Tapi ternyata di video klip, om Fuku bisa keliatan kawaiii juga lho. Apalagi di waktu rambutnya masih dipotong pendek gto, wah … cakepnya alamaaaak. Klo gondrong dikit, masih keren. Apalagi waktu nyanyi sambil pegang gitar. Kekeke … awas lho kecantol pesona Yukawa-sensei kemana-mana.

Oh ya, soal menerbangkan layang-layang di cerita di atas, memang ada adegannya sendiri. Kalau yang pernah nonton film lawas ‘Journey to the Future’ pertama, pasti tau adegan itu. Saat itu tokoh sang profesor menerbangkan layang-layang di saat badai untuk menangkap listrik yang akan digunakan untuk menghidupkan mesin untuk melompat waktu. Cerita mengenai perjalanan waktu yang berasal dari buku ini merupakan salah satu karya sastra di awal abad 19 yang cukup terkenal dan menginspirasi banyak buku dan film. Kelana lupa judul bukunya, apa sama dengan judul movie ini ya? hehe … nanti deh Kelana cari dulu. Yang jelas buku ini adalah cikal bakal munculnya banyak buku fiksi-ilmiah modern. 

Ari :  Akhirnya kelar juga, dorama yang membuat kita jadi lebih mengetahui hal2 yang berbau fisika, om Fuku yang kharisma bersinar begitu menjelaskan hipotesa membikin doki2, sankyu buat Kelana, Ima dan semua reader yang setia membaca sinopsis ini.

Sampai jumpa di sinopsis lainnya ^_^

Written by Kelana [Blog|FB|Twitter]
captured images by +ari airi 
Posted only on pelangidrama.net
DON’T REPOST TO ANOTHER SITE/FP FB!!!
thanks for reading with us ^^
 

10 pemikiran pada “[Sinopsis J-Drama] Galileo season 2 episode 11 (end)

  1. emang beda ya jumlah murid klo kuribayashi dan yukawa sensei ngajar hahahah itu kelas Yukawa sensei penuh sesak hahaha
    yatta akhirnya kelar juga ya kelana :terharu, rekomended banget ni yang suka fisika, ga suka fisik aja aku suka hohoho, btw kelana nda buat ya galileo xx itu 😀

    Suka

  2. hehe
    buat ga ya? peran yukawa-sensei disitu sedikit sih
    ya mski disini partnernya yg polisi cwok it lumayan cakep #plak_kelana_mulai_ngacau
    pikir2 dulu deh
    tpi klo ad yg mau buat, jg gpp
    kelana nunggu movie-nya yukawa-sensei dulu ^_^

    Suka

  3. sankyuu ut tim penulis, akhrny kelar jg sinop stu ini.
    jgn dtnya deh pesona om satu ini, hira dlu ngikutin galileo jg gr2 dorama om fuku yg diputer ikan terbang en akhrny keterusan.
    klo lht kuribayashi-san sm kishitani it kyk 2 bocah yg lg bertengkar ad aj yg didebatin.
    @Ari; Arigato.^^beda sebelas duabelaslah yukawa sensei sm kuribayashi-san
    @Kelana: Arigato. ^^gak sekalian aj tuh nulis sinopnya, ato skalian bkin sinop journey to the future,,kykny menarik tuh

    Suka

  4. ralat, judul filmnya bukan 'journey to the future'
    tpi 'back to the future'
    film trilogy tahn 1985-1989-1990
    #bahkan kelana blon lahir
    kekekeke
    nyari dulu ah, msi ada yg punya ga ya?

    Suka

  5. selamt buat pd admin x plangi drama
    sukses slalu
    berahir jg y. btw next projek klna apa nih?

    hira
    judul dorama yg d puter ikn terbang apa y?

    kelana.
    blog klna brubh lg y?
    kolom komen x

    trimakasih buat smua x

    tiwi

    Suka

  6. @kelana:sy mlh blum lht muvi itu ^^ nth ad ap gak d youtube
    @Tiwi:judulny klo gak salah beauty or the beast, gomen klo slh, sy lupa jdl romaji-ny. pokokny cm tahu lead act-ny om fuku sm anti nanako ^^

    Suka

  7. @kelana=oh hehehe, siapa tahu kelana tertarik buat #wink2
    @Hira: hahaha beda bukan sama sebelas dua belas ya wkwkwk
    @Rezky=arigato rez, dah mampir 😀
    @Tiwi=makasih sudah sering mampir dan setia menunggu sinopsis2 PD :peluk
    eh ikan terbang nayangin dorama ya? jama berapa?
    @Hira=wahhh dorama om fuku n tante nanako tayang di ikan terbang?
    judul beauty or the beast kayaknya pernah dengar hahaha

    Suka

  8. @Ari: nayanginnya dah lm bgt Ri,dlu zmn2 msh sering ad dorama d tv qt, sblm th 2007an klo gak slh. yg ceritany ttg broadcaster tv itu lho hehe…ceritany om fuku n anti nanako sm2 lulusan Todai en ktemu kmbli pas kerja d tv tsb

    hira

    Suka

  9. Ping balik: SINOPSIS – Galileo season 2 episode 11-end | Elang Kelana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s