[Sinopsis K-Movie] Psychometry Bagian Pertama

~Sinopsis Psychometry Bagian Pertama~

Baca previewnya di sini

Adegan dibuka dengan diperlihatkannya sosok seorang pria yang sedang menggambar graffiti di dinding jalanan menggunakan pilox dan menutupi wajahnya dengan masker. Terkesan misterius dan entah gambar apa yang sedang dilukisnya.

Scene beralih
Di sebuah gedung sedang diadakan sebuah workshop oleh multilevel ZK communication dan moto mereka adalah “mempersembahkan dunia dengan secangkir keajaiban”. Dari salah satu hadirin yang hadir terlihat seorang pria yang sangat antusias mengikuti jalannya workshop dan terlihat sangat bersemangat saat pimpinan ZK communication hendak mengumumkan member dengan penjualan terbaik, namun….
“Kim Jeong Shik, kamu ditangkap atas tuduhan investasi dan lapangan kerja” teriak salah seorang pria dan disusul oleh beberapa orang rekannya. Suasana mendadak berubah riuh. Pria yang sangat antusias tadi seketika panik dan berusaha menyembunyikan wajahnya dengan selebaran kertas dan mulai merangkak di antara deretan meja menghindari penggerebekan mendadak yang dilakukan pihak kepolisian. Namun munculnya kembali beberapa orang polisi di depan pintu menyurutkan langkahnya.

Kim Jeong Shik, pimpinan ZK communication berniat melarikan diri dengan melompati satu persatu meja namun sebuah tangan berhasil menariknya turun.
“Penipu, kamu mau lari kemana?”
“Siapa kamu?” tanya salah satu polisi yang sedang bertugas merasa heran
“Aku polisi yang sedang menyamar. Namaku Detektif Chun Dong dari Kepolisian Mapo” jawab Detektif Chun Dong
“Tapi di sini daerah Guro”
“Itu tidak penting yang terpenting kita berhasil menangkap penjahatnya kan?” ucap Detektif Chun Dong berusaha berkilah

Detektif Chun Dong seorang polisi yang sering melakukan kekacauan termasuk kekacauan yang baru-baru saja dilakukannya di gedung SK communication. Niatnya mencari penghasilan tambahan dengan bergabung menjadi member di gedung SK communication justru membawanya pada kesialan. Pemimpin perusahaan tersebut adalah penipu dan hampir saja Detektif Chun Dong tertangkap.
Kemarahan pimpinannya membuat Detektif Chun Dong hanya bisa mengeluh dan akhirnya beban yang selama ini dirasakannya akhirnya keluar juga
“Baiklah! Aku memang bersalah. Apakah salah bagi kami punya pekerjaan sampingan? Kami hanya bergantung pada gaji bulanan…mempertaruhkan nyawa kami setiap hari” keluh Detektif Chun Dong dan beranjak pergi

Seorang pemuda kembali terlihat menggambar graffiti di dinding sebuah gang yang sempit dan tepat di sampingnya berdiri Detektif Chun Dong yang sedang berdiri dan maaf-buang air kecil.
“Gambarmu bagus, tapi yang kamu lakukan ini melanggar hukum, ini tindak pidana ringan. Jangan sampai aku menangkapmu lagi” ucap Detektif Chun Dong dan masih sibuk dengan rutinitasnya
“Dan buang air kecil di tempat umum?” gumam pemuda tersebut dan beranjak pergi.
Merasa diremehkan dan ditegur, Detektif Chun Dong berusaha menghentikan pemuda tersebut dengan cara memegangi bahunya namun apa yang terjadi…. Sang pemuda seketika bergumam “polisi” dengan sorot mata yang berpendar biru dan menyemprotkan pilox ke wajah Detektif Chun Dong kemudian kabur.

Hanya keluhan dan amarah yang keluar dari bibir Detektif Chun Dong begitu kembali ke kantornya dan membersihkan pilox yang mengenai wajah dan rambutnya. Sementara pilox yang digunakan pemuda tersebut dilemparkan Detektif Chun Dong begitu saja di mejanya. Munculnya seorang wanita yang melaporkan hilangnya anak perempuannya membuat Detektif Chun Dong melupakan kejadian menyebalkan yang dialaminya beberapa saat yang lalu.
“Bu, ketika anak tidak pulang saat yang sudah seharusnya… dalam 80% kasus, mereka kembali ke rumah dengan selamat dalam waktu 24 jam” ucap Detektif Chun Dong berusaha menghibur.
“Detektif, anakku akan baik-baik saja, kan? Dia akan baik-baik saja, kan?”
Detektif Chun Dong terdiam sebentar dan menjawab “Tentu saja”

Keesokan harinya
Para petugas kepolisian Mapo menggelar rapat rutin. Dalam rapat dibahas kasus apa yang sedang terjadi dan yang mana yang harus diprioritaskan. Detektif Chun Dong mengungkapkan jika laporan anak hilang harus mereka usut juga karena hilangnya anak tersebut bisa saja penculikan namun bagi polisi lainnya kasus penculikan adalah jika sang penculik meminta uang tebusan tapi sampai sekarang tidak ada telepon. Para polisi memilih mengabaikannya dan fokus kepada kasus utama.

Saat rapat selesai digelar, Letnan aka pimpinan Detektif Chun Dong meminta Detektif Chun Dong untuk menyelidikinya dan hal tersebut jauh lebih baik daripada Detektif Chun Dong menjual dispenser.
Dan dimulailah aksi Detektif Chun Dong… menanyai warga masyarakat sekitar termasuk memeriksa cctv yang terpasang di salah satu sudut jalan. Hal tersebut tentu saja tidak mudah namun pantang menyerah sebelum mencoba.

Di sebuah taman
Terlihat beberapa orang kelompok anak muda yang sedang menghabiskan waktu berkumpul bersama teman mereka…. Senda gurau yang awalnya tercipta berganti menjadi kehebohan ketika salah seorang dari mereka tanpa sengaja menemukan sebuah benda yang mencurigakan di antara rerumputan.

Keesokan harinya
Polisi mulai berkumpul di tempat kejadian dan melakukan olah TKP. Masyarakat yang tinggal dan kebetulan lewat pun merasa tertarik dan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Detektif Chun Dong yang baru saja datang terlihat terkejut ketika mengetahui anak kecil yang dilaporkan hilang beberapa hari yang lalu adalah mayat yang sekarang terbujur kaku di hadapannya. “Sepertinya dia sudah tewas dalam waktu yang cukup lama melihat dari pergelangan kakinya. Aku yakin dia anak hilang itu. Penyebab kematian akan dipastikan setelah otopsi tapi tampaknya tubuhnya telah dibekukan untuk waktu yang cukup lama. Tak ada tanda kekerasan seksual. Bukan karena uang atau tindakan pedofilia. Pembunuh membunuhnya tanpa alasan? Ada psikopat yang seperti itu mereka membunuh tanpa alasan atau motif tertentu” ucap polisi dan tim forensik bergantian.
“Eun Ji” teriak salah seorang wanita tiba-tiba dengan deraian air mata…. Kemunculannya membuat miris para warga yang masih berkumpul begitupun awak media. Anak yang disayanginya dan sudah menghilang selama berhari-hari ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.

Media menjadi heboh dan bertanya siapa yang akan bertanggung jawab terhadap kasus ini mengingat laporan hilangnya anak tersebut telah dilaporkan sebulan yang lalu dan sekarang baru ditemukan. Kasus ini seolah mencoreng wajah kepolisian terlebih mereka tidak serius menanggapi laporan anak hilang oleh masyarakat dan baru turun tangan begitu munculnya korban.

Detektif Chun Dong kesal saat melihat pengumuman pemberhentiannya sementara waktu dari kasus penculikan. “Kenapa harus aku dihentikan bertugas? Kalian tertawa saat kubilang itu penculikan. Adakah yang bisa menjelaskan?” teriak Detektif Chun Dong kesal dan marah. Detektif Chun Dong menemui atasannya, sunbaenimnya dan termasuk dari salah satu orang yang menyepelekannya.
“Kamu mengatakan itu bukan kasus penculikan” ucap Detektif Chun Dong berusaha menahan emosi
“Kamu mau memukulku?” tanya Detektif Chun Dong balik
“Biarkan aku menangani kasus ini” pinta Detektif Chun Dong dan beranjak pergi

Dan di sinilah sekarang Detektif Chun Dong berdiri, di tkp tempat ditemukannya Eun Ji . duduk berjongkok dan berucap “Maafkan aku” dengan penuh rasa bersalah.

 

Detektif Chun Dong mengganti-ganti channel dan berhenti ketika berita kematian Eun Ji ditayangkan

Anak perempuan yang menghilang selama 30 hari ditemukan tewas pagi ini. Mayatnya ditemukan hanya 300 meter dari penitipan anak, tempat dia dititipkan. Polisi belum bisa mengidentifikasi motif selain kemungkinan ketertarikan uang atau pedofilia. Menurut hasil otopsi tubuhnya telah dibekukan… Sebelum tubuhnya dikubur…..

Lokasi tkp kematian Eun Ji mengingatkannya dengan sesuatu hal yang baru saja dialaminya “itu saat sebelum tkp ditemukan” gumam Detektif Chun Dong dan mulai berpikir keras.

Keesokan harinya Detektif Chun Dong bergegas mendatangi gang kecil yang pernah disinggahinya. Graffiti tersebut masih ada dan sama persis dengan tkp kematian Eun Ji. Detektif Chun Dong menyamakannya dengan foto-foto TKP yang dimilikinya dan hasilnya betul-betul sama. Tiba-tiba seorang ahjumma muncul dan mulai mengecet dinding tempat graffiti tersebut. Detektif Chun Dong sontak terkejut dan berusaha menghalangi ahjumma petugas layanan masyarakat. Mereka pun terlibat perdebatan karena Detektif Chun Dong merasa hanya graffiti inilah satu-satunya petunjuk yang dimilikinya sekarang dan bagi ahjumma, dirinya harus segera menyelesaikan pekerjannya sebelum jam makan siang. Langkah terakhir yang diambilnya pun yaitu memotretnya sebagai laporan untuk kasusnya nanti sekali lagi digagalkan oleh Ahjumma.

Saat ini kegundahan, kebingungan dan kegelisahan dirasakan Detektif Chun Dong. Di salah satu gambar graffiti ada gedung yang bernama “kebahagiaan”.
“dimana aku harus mencarinya?” keluh Detektif Chun Dong dan memilih duduk di salah satu bangku di pinggir jalan. Seorang gadis kecil tiba-tiba duduk di sampingnya, merasa tertarik dengan ahjussi yang terlihat dari raut wajahnya menanggung beban yang berat. Foto yang digenggamnya membuat gadis kecil tersebut semakin tertarik dan menunjuk gedung yang berada tepat dibelakang Detektif Chun Dong.
Detektif Chun Dong sontak terkejut dan memberi peluit kepada gadis kecil yang sudah membantunya “ini, jika ada orang aneh yang mengajakmu bicara tiup ini dengan keras” pesan Detektif Chun Dong dan sontak gadis kecil tersebut meniupnya dan berlalu pergi sambil menjulurkan lidah “aku bukan orang jahat” ucap Detektif Chun Dong dan tertawa kecil melihat gadis kecil yang sudah membantunya pergi.

Detektif Chun Dong mendatangi gedung yang dimaksud dalam gambar…. Sebuah apartemen di mana basementnya sudah tidak terpakai lagi dan suasananya sangat gelap. Sebuah senter kecil menjadi alat penolongnya untuk membantu penerangannya. Lemari yang berdiri kokoh berhasil menarik perhatiannya dan tanpa disadarinya siluet bayangan seseorang melintas. Tepat di saat pria aneh tersebut hendak menyerang, Detektif Chun Dong dengan sigap menghindar dan berusaha melakukan perlawanan sebisanya. Sayang, pria tersebut berhasil kabur sesaat setelah menghantamkan botol kaca ke kepala Detektif Chun Dong.

Saat kembali ke gedung kebahagiaan, Detektif Chun Dong terkejut saat rekan-rekannya sudah memasangi police line dan barang bukti berupa barang-barang Eun Ji telah dikeluarkan dari dalam lemari dan diteliti pihak penyidik. Detektif Chun Dong berlarian dan bertanya bagaimana mereka mengetahui tempat ini? Dan kemudian menjelaskan jika tadi dirinya mengejar pria bertopi yang berhasil melukainya…. Detektif Chun Dong bahkan menunjukkan foto graffiti yang tadi berhasil diabadikannya namun yang dipotretnya tadi adalah wajah ahjumma petugas pelayan masyarakat.

Malam harinya
Detektif Chun Dong merasa stress dan bingung apa yang harus dilakukannya lagi saat ini…. Pilox yang sempat dibuangnya begitu saja di atas meja kerjanya membuatnya tertarik dan membaca tulisan yang tertera di tutup pilox. Dengan cepat Detektif Chun Dong meminta bantuan sahabatnya untuk meminjaminya mobil karena mobilnya telah dijual untuk infestasi MLM. Tak diberi, Detektif Chun Dong memutuskan mengemudikannya di saat sahabatnya tersebut sedang memakai mobilnya untuk berjualan sate ikan, wkwkwwkk…..
“Tolonglah aku, kamu sangat mengenali daerah ini” pinta Detektif Chun Dong sambil mengemudikan mobil
“Pria itu tinggal sendiri”
“Kamu tahu darimana?”
“Kamu mengatakan dia membuang anak itu dalam kantong sampah. Maksudku, dia memperlakukan anak itu seperti sampah. Kenapa dia membekukan anak itu? Ketika kamu membiarkan sisa makanan akan meninggalkan bau. Kebanyakan pria lajang membekukan sisa makanan mereka”

Detektif Chun Dong berusaha mengiming-ngimingkan temannya jika hadiah yang disediakan bagi yang bisa mengungkap kasus ini adalah 50 ribu dolar dan itu bukanlah jumlah yang sedikit. Ada alasan tersendiri Detektif Chun Dong meminta bantuan sahabatnya penjual sate ikan. Sahabatnya tersebut sangat mengenali daerah tempat dilakukannya pembunuhan termasuk toko seni tempat penjual pilox.

Detektif Chun Dong dan sahabatnya si penjual sate ikan berusaha menggali informasi dari pria tua penjual pilox. Awalnya memang sulit karena toko seni yang didatanginya sekarang adalah toko seni terbesar dan banyak mahasiswa yang datang untuk membeli pilox.
“Coba diingat lagi?” pinta Detektif Chun Dong memohon “Ada tidak orang tertentu yang menarik perhatianmu?” tambahnya
“Setelah kamu menyinggungnya…” ucap pria penjual pilox dan mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu saat seorang pemuda mengunjungi tokonya tepat disaat dia hendak menutup toko. Saat itu sedang hujan lebat, pemuda tersebut complain karena warna yang dikirimkan kepadanya bukan warna yang dipesannya. “dia membuatku merinding” tambah pria tua mengakhiri ceritanya.

Detektif Chun Dong mengatakan ciri-ciri pemuda yang dilihatnya dan pria tua penjual pilox membenarkan jika dia adalah pria yang sama. Berbekal alamat dari pria tua penjual pilox, Detektif Chun Dong mendatangi alamat yang dimaksud.

 

Detektif Chun Dong meminta sahabatnya untuk menunggu dan berjaga-jaga dari kemungkinan yang tidak diinginkan misalnya saja pemuda yang mungkin adalah pembunuh Eun Ji kabur.
Dengan berhati-hati Detektif Chun Dong melangkahkan kaki ke gedung tua yang kusam dan seolah tak berpenghuni. Banyak pilox yang bertebaran. Sebuah rumah yang terletak di bagian teratas gedung dengan pintu berwarna coklat muda menghentikan langkahnya untuk sesaat. Dibukanya pintu tersebut dan seketika pemandangan rumah yang sempit, tidak terawat dengan banyak patung kepala manusia menyambutnya.
Sosok pemuda tengah berdiri dan seolah menyadari kehadiran orang asing di kediamannya yang kumuh membuat pemuda tersebut waspada. Tanpa menunggu waktu lama Detektif Chun Dong menyergap pemuda tersebut dan berhasil membuatnya terjerembap ke lantai yang terbuat dari semen.
“kamu mengingatku?” tanya Detektif Chun Dong pada pemuda tampan dan mengacungkan pilox yang berada tak jauh darinya
“buang air kecil di tempat umum?”
“kamu mengingatnya ternyata. Apartemen kebahagiaan kamu yang menggambarnya, bukan hanya itu kamu juga menggambar tempat anak itu dikubur. Bagaimana bisa semua tempat di dalam gambarmu berhubungan dengan anak perempuan itu? Jawabannya adalah karena kamu ada di TKP, kenapa kamu membunuhnya?” teriak Detektif Chun Dong pada akhirnya “terlebih lagi kenapa kamu menggambarnya? Kamu menghancurkan dirimu karena hobi artistikmu” tambah Detektif Chun Dong dan membuat pemuda didepannya tidak berkutik dengan memiting tangannya.

Kemunculan Yang Su (si penjual sate) berhasil mematahkan argument yang semula sudah mereka ciptakan. Pemuda tersebut tidak membekukan sampahnya dan buktinya adalah sampah yang ditemukan Yang Su dalam keadaan kering. Poin tambahannya yaitu tidak ditemukannya juga luka di belakang punggung pemuda tersebut seperti luka pria yang menyerang Detektif Chun Dong beberapa hari yang lalu.
Detektif Chun Dong dan sahabatnya memutuskan memata-matai pemuda tersebut yang diketahui bernama Kim Jun.
“kenapa dia bisa mengetahui TKP dengan baik? Dengan sangat rinci. Ada yang membantunya?” tanya Detektif Chun Dong pada dirinya sendiri dan bergegas bersembunyi dibalik dasbor mobilnya ketika Jun berjalan keluar.

Jun terlihat ketakutan saat menghapus graffiti yang sudah digambarnya yang menyebabkannya masuk ke dalam masalah yang sebenarnya tak ingin dicampurinya. Kemunculan Detektif Chun Dong secara tiba-tiba dibelakangnya membuatnya semakin ketakutan terlebih dengan cara Detektif Chun Dong, yang tidak menghormati privasinya. Detektif Chun Dong memeriksa isi dompetnya dan Hpnya (panggilan masuk, keluar,inbox dan outbox).
“Kim Jun pasti banyak yang kamu sembunyikan dengan menghapus gambar dan smsmu” ucap Detektif Chun Dong
“ini Negara bebas” ucap Kim Jun sedikit kesal
Tiba-tiba Yang Su berteriak jika dirinya menemukan sebuah kontak dengan nama Kim Seung Gi dan mungkin saja Kim Seung Gi-lah sang pembunuhnya.

Keesokan harinya
Detektif Chun Dong mendatangi kediaman Kim Seung Gi yang berhasil diketahuinya dari nomor kontak Kim Jun. Dan beruntung di saat yang bersamaan Kim Seung Gi sedang membuang sampah dan sampahnya tersebut dibekukan. Skakmat…. Dibekapnya Seung Gi dari belakang dan alangkah terkejutnya Detektif Chun Dong saat mengetahui jika Kim Seung Gi ternyata adalah seorang wanita dan bukan pria. Detektif Chun Dong merasa sedikit malu namun rasa malu tersebut segera ditepisnya. Detektif Chun Dong mulai menginterogasi Seung Gi termasuk menanyai ada hubungan apa antara Seung Gi dan Kim Jun terlebih lukisan wajah Seung Gi yang digambar Kim Jun masih disimpannya dengan baik walaupun mereka sudah tak saling kontak kurang lebih 5 th lamanya.

Sementara itu di mobil
Yang Su menawarkan perban kepada Kim Jun guna menutupi luka di wajahnya namun apa yang terjadi, Kim Jun justru menggenggam erat tangannya dan mulai berbicara yang aneh “penipu, penipu bisa menjadi polisi jaman sekarang? Kamu banyak mendapat penghargaan dalam menangkap penjahat, kamu punya sahabat karib yang menguntungkan”.

Kembali ke Detektif Chun Dong
“kamu sungguh tidak pernah bertemu dengannya selama 5 tahun?” tanya Detektif Chun Dong sekali lagi
“bagaimana aku bisa bertemu dengannya sementara dia di Amerika?” jawab Seung Gi dan berhasil membuat Detektif Chun Dong terkejut dan bingung. Bunyi klakson yang tiba-tiba dan terus berbunyi membuat Detektif Chun Dong panik terlebih ketika mendapati sahabatnya pingsan dengan kepala berdarah dan kabar buruknya Kim Jun tidak berada di dalam mobil.
“apa yang terjadi? Kemana dia pergi?” tanya Detektif Chun Dong kesal
“bocah itu aneh” jawab Yang Su yang masih bingung dengan apa yang terjadi dengannya barusan. Detektif Chun Dong mencoba mencari keberadaan Kim Jun namun hasilnya nihil… sebuah sms dari kantor membuatnya mengalihkan pikirannya sejenak dan memilih kembali ke tempat tugasnya.

Seorang anak kecil dan Ibunya tengah duduk dan diinterogasi. Anak kecil tersebut hampir saja menjadi korban penculikan.
“Dia bilang, aku cantik dan anjingnya sedang sakit. Dia memintaku untuk melihatnya. Dia menyuruhku untuk masuk ke dalam mobil”
“Lalu, apa yang kamu lakukan? Kamu naik mobilnya?” tanya salah satu petugas
“Tidak, karena ada yang aneh. Anjingnya membeku” jawab anak kecil tersebut.

Di tempat yang berbeda
Suasana sepi, sebuah mobil terparkir dan mendadak menyala saat seorang gadis kecil melintas…. Gadis kecil yang kemarin membantu Detektif Chun Dong dan dihadiahi peluit dari Detektif Chun Dong. Hal yang baru saja diceritakan gadis kecil yang sempat diinterogasi tadi akhirnya dialami Da Hui. Saat membelikan ayahnya minuman, seorang ahjussi memintanya memeriksa anjingnya yang sedang sakit. Da Hui awalnya menurut namun begitu melihat anjing tersebut dalam keadaan beku, Da Hui segera berlari sekencang-kencangnya dan bersembunyi dari kejaran ahjussi.

Da Hui berhasil tiba di rumahnya dengan selamat, sayang Ayahnya mengusirnya karena Da Hui tak membawa minuman yang diinginkan Ayahnya… menangis, hanya itulah yang bisa dilakukan Da Hui. Da Hui terus menggenggam peluit pemberian Detektif Chun Dong berusaha menguatkan dirinya yang sekarang berada seorang diri dalam gang sempit yang gelap. Bayangan seseorang yang berdiri di belakangnya dan memotretnya disertai seringainya membuat Da Hui ketakutan dan memutuskan meniup peluit hingga akhirnya suara peluit tersebut lenyap seiring hilangnya sosok Da Hui dalam kegelapan.

Keesokan harinya
Detektif Chun Dong mendatangi kediaman Kim Jun. Berita hilangnya Da Hui sampai juga ke telinganya…. Detektif Chun Dong merasa semakin bertanggung jawab terlebih Da Huilah yang berhasil membantunya menemukan gedung kebahagiaan. Ketidakperdulian Ayahnya atas hilangnya putri kecilnya membuat Detektif Chun Dong semakin kasihan dan berniat menuntaskan kasus ini hingga akhir.

Dengan emosi, Detektif Chun Dong meminta Kim Jun menjelaskan bagaimana bisa dia menggambar graffiti tersebut? Dan dijawab Kim Jun dia menggambarnya lewat imajinasi. Merasa kesal sedang dipermainkan Kim Jun, Detektif Chun Dong melayangkan pukulan secara membabi buta
“Nyawa anak kecil sedang dipertaruhkan dan kamu menggambarnya lewat imajinasi. Dimana dia? Jawab, Jawab… Katakan, cepat katakan” teriak Detektif Chun Dong namun jawaban Kim Jum sontak membuatnya terdiam. Kim Jun memegangi telapak tangan Detektif Chun Dong yang berniat kembali memukulnya. Sorot matanya mendadak berpendar biru
“Jadi, ini alasannya? Kamu pikir jika menemukan anak hilang, adikmu akan kembali dari kematian? Namanya imut. Gi-dong, Yang Gi-dong. Tunggu Hyung, boleh aku ikut Hyung? –tetap di sini dan bermain dengan mainanmu, Chun Dong kecil- bawa aku bersamamu Hyung”.

Suasana kamar Detektif Chun Dong gelap gulita. Botol minuman berserakan di atas meja begitupun dengan foto seorang anak kecil. Isakan terdengar dari dalam kamar mandi dan hanya penyesalan yang tersisa di sana. Andai saja, Chun Dong membawa serta adiknya, mungkin saja Gi Dong masih berada disisinya sampai saat ini.

=flashback=
Chun Dong kecil mengintip dari balik kerumunan. Dilihatnya sang bunda yang menangis histeris di depan mayat seorang anak kecil yang diketahui adalah Gi Dong adiknya. Chun Dong kecil terus menerus memanggil nama Gi Dong, berharap sang adik segera bangun dan menghampirinya, merengek seperti yang biasa dilakukannya.
=flashback end=

Di sebuah ruangan yang gelap dan pengap Da Hui kecil terbangun dari pingsannya. Pandangannya diedarkan ke sekeliling dan yang dijumpainya adalah sesosok anjing mungil yang ikut terkurung bersama dengannya dalam sebuah jeruji besi. Bola-bola berwarna warni mengelilinginya dan tak jauh dari tempatnya berada, seorang ahjussi sedang sibuk berkutat dengan alat-alat medis yang tak diketahui Da Hui fungsinya untuk apa tapi berhasil membuat tubuh kecilnya ketakutan.
Da Hui berteriak histeris saat ahjussi tersebut membuka gembok jeruji besi dan memasukkan tangannya ke dalam jeruji hendak mengambil sesuatu dan kemungkinan besar adalah dirinya. Namun perkiraan Da Hui meleset, yang diambil ahjussi tersebut adalah si anjing mungil. Alat medis yang tadi sempat digelutinya dan salah satunya adalah jarum suntik berhasil membuat anjing mungil tersebut menjadi tak berdaya. “Jangan melepas perbannya atau kamu akan terinfeksi. Paham?” pesan ahjussi tersebut pada Da Hui yang lututnya sedang diperban.

Detektif Chun Dong mengunjungi Seung Gi yang saat itu sedang mengajari beberapa orang anak kecil menggambar…. Dan apesnya, Detektif Chun Dong diminta menjadi model dalam pembelajaran mereka, wkwkwkwk. Tujuan kedatangan Detektif Chun Dong adalah untuk menanyai Seung Gi tentang Kim Jun.

“Aku tak punya banyak waktu” ucap Seung Gi
“Ijinkan aku bertanya satu hal. Bagaimana menurutmu tentang gambar ini?” tanya Detektif Chun Dong dan menunjukkan foto gambar graffiti kepada Seung Gi
“Ini sudut pandang burung, digambar lewat imajinasi” jawab Seung Gi
“Imajinasi?” tanya Detektif Chun Dong. Jawaban Seung Gi mengingatkannya tentang ucapan Kim Jun kemarin
“Susunannya tak bisa digambar kecuali dia melihatnya dari langit. Darimana kamu mendapatkan gambar itu?” tanya Seung Gi penasaran
“Ini adalah gambar TKP tempat mayat anak perempuan ditemukan. Kamu terkejut kan? Yang lebih mengejutkan lagi Kim Jun menggambar ini sebelum TKP ditemukan oleh polisi” jawab Detektif Yang
“Kim Jun?” tanya Seung Gi sedikit penasaran
“ah… Kamu tidak tahu? Dia tak pernah ke Amerika. Aku kehilangan adikku saat aku masih kecil dan aku belum pernah menceritakannya pada siapa pun tapi Jun mengetahuinya. Kuputuskan menjadi polisi setelah kehilangan adikku. Kamu tahu,aku polisi dengan reputasi buruk tapi satu hal yang kuyakini tak akan ada anak lain lagi yang hilang dalam pengawasanku. Untuk mewujudkannya aku harus tahu apa yang diketahui Jun. Aku harus tahu itu untuk menyelamatkan anak hilang” jawab Detektif Chun Dong menjelaskan

=flashback=
Seorang pemuda tengah asyik melukis. Kehadiran 3 orang pemuda seusianya membuatnya menjadi sedikit terganggu. Salah satu dari pemuda tersebut meminta kepadanya untuk menunjukkan kemampuannya “melihat sesuatu dengan menyentuh tangan” namun pemuda tersebut menolak. Munculnya gadis bernama Seung Gi dengan tujuan membelanya membuat pemuda tersebut mau tak mau menunjukkan kekuatan yang seharusnya disembunyikan dari orang lain.
“kencing celana. Kamu SMP di Busan. Kamu kencing celana dan diintimidasi selama 3 tahun. Memohon pada orangtuamu untuk pindah ke sekolah baru”… ucap Kim Jun saat memegang tangan pemuda yang berusaha memukul Seung Gi.
=flashback end=

Detektif Chun Dong berusaha mencari informasi seputar kemampuan aneh Kim Jun. Baik itu melalui internet maupun buku-buku yang berada di perpustakaan.
Kemampuan melihat masa lalu, Psychometry. Suatu kemampuan melihat kenangan atau informasi yang terpendam dalam suatu objek lewat kontak fisik.

Detektif Chun Dong terngiang-ngiang percakapannya dengan Seung Gi.
“Tak lama setelah kecelakaan,Jun berhenti sekolah dan tak bisa dihubungi” ucap Seung Gi
“Kamu tak pernah bertemu dengannya sejak saat itu? Apa kamu mendengar sesuatu tentangnya?”
“Kudengar  terjadi kecelakaan” jawab Seung Gi

=flashback=
Kim Jun sedang berada di tengah jalan bersama dengan seorang wanita setengah baya. Jun berusaha mencari tahu apa sebenarnya pekerjaan yang sedang dilakukan wanita tersebut yang tak lain adalah ibunya namun sang Ibu menolak dan mengatakan akan membahasnya begitu dirinya pulang nanti.
“Kita bahas ini nanti setelah ibu pulang kerja, ya”
“Kerja apa? Maksudmu menjual senyum pada pria?” tanya Kim Jun merasa diabaikan
“Sudah kubilang bukan itu pekerjaan ibu” tegas Ibu Kim Jun
“Lalu, berikan tangan ibu” pinta Kim Jun
“Jangan begini” tolak Ibu Kim Jun
“Berikan tangan ibu, Sentuhlah. Kenapa ibu tak bisa memegang tanganku? Apa aku juga membuat ibu takut?” tanya Kim Jun karena ibunya menolak memegang tangannya dan memilih mundur hingga akhirnya tubuh tuanya terhempas ke jalanan akibat ditabrak truk yang melintas.
=flashback end=

====BERSAMBUNG====
Thanks to : Om Ryemovies (untuk info filmnya)
Written by  Dewi Rf [Blog/G+]
Capture Image by  +ari airi
Posted Only : pelangidrama.net
DON’T REPOST TO OTHER SITE!!!!!!!!!!!!!!!!!
Iklan

3 pemikiran pada “[Sinopsis K-Movie] Psychometry Bagian Pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s