[Sinopsis Thai-Movie] First Kiss (Rak Sud Tai Pai Na) Part 1

Sebelumnya baca previewnya di sini.

~Sinopsis  First Kiss (Rak Sud Tai Pai Na) Part 1

Terlihat seorang wanita berjalan seraya menelpon dan membuka-buka map kuning yang dibawanya. Karena tak memperhatikan jalan ia pun menabrak pohon palm, kesialan tak sampai di situ saja. Ia juga ketinggalan bus yang lewat dengan terpaksa ia harus menunggu bus berikutnya dan berebut dengan penumpang lainnya saat bus tiba.
Seseorang memberitahuku, cinta itu seperti menunggu bus. Bus yang datang bukanlah bus  yang selalu kau harapkan. Dan saat bus yang kau harapkan datang, akan ada saja rintangan yang menghalanginya. Ini terjadi setiap saat.”

Wanita itu  tak lain adalah Sa (bukan Saa salah satu author PD ya :P),  karena berebut dengan penumpang lain Sa tak bisa masuk. Ia pun kembali menunggu bus. Apa yang dialaminya sama seperti kisah cintanya.  Sejak SD Sa menyukai Ohm namun ia hanya bisa memperhatikannya dari jauh. Walaupun cinta itu mustahil Sa masih berharap, tak peduli berapa tahun ia harus menunggu. Namun akhirnya kisah cinta itu berakhir setelah Sa tahu Ohm dan Pam pacaran dan memutuskan melanjutkan studi ke luar negeri bersama.

Sa sadar hidupnya harus terus berjalan, ia pun melanjutkan studinya ke Bangkok. Ia berharap bisa jatuh cinta pada seseorang namun ia tak punya perasaan sampai sekarang. Sa berpikir kalau ia masih menantikan Ohm.

Sa bersama teman2nya menghadiri pesta. Bersama satu teman wanitanya ia menemani Jane, melakukan meditasi. Salah satu teman Sa bertanya ada Jane apa dalam meditasinya ia melihat presiden eksekutif datang ke pesta malam ini?. Terlihat seorang berpakain layaknya eksmud turun dari mobil. Jane minta agar mereka tak menganggunya karena ia sedang hibernasi. Teman Sa yang wanita menoleh dan berseru orang yang dimaksud datang, semua menoleh ke arah pintu. Ketiga terpana melihat seorang pria muda masuk, Sa  melongo melihat pria yang ditunggunya, yup pria itu adalah Ohm.
Aku tahu ini konyol,tapi sudah tidak lagi. Sekarang dia kembali lagi dalam kehidupanku. Aku tak pernah membayangkan momen ini sebelumnya,tapi ini nyata.

Semua hadirin bertepuk tangan menyambut Ohm, Sa masih melamun. Ohm menghampirinya.
“Kau Sa, kan?”tanyanya. Sa menoleh ke sumber suara, ia pun terlonjak kaget Ohm sudah berada di sampingnya. Sa pun jatuh pingsan. #lebay.com hahaha

Kini keduanya duduk berdua, Sa berusaha menahan malu.  (jidat Sa diplester, nampaknya gara2 jatuh tadi). Untuk memecahkan keheningan, Sa memulai obrolan. Ia mengira Ohm masih tinggal di London. Ohm mengatakan setelah mengambil gelar doktor di Oxford ia kembali ke Thailand secepatnya. Sa bertanya apa Ohm sendirian?. Ohm mengiyakan, ia sendiri. Sa sumringah mendengarnya, ia mencoba menyembunyikannya.
“Aku baru tiba, dan terlalu sibuk untuk mencari teman. Aku baru tiba.”tukas Ohm, ia juga minta no telp Sa. Tentu saja Sa tak menolak, ia langsung memberikan hpnya pada Ohm hahaha. Saa berteriak kegirangan di toilet.
Seperti biasa Sa menunggu bus lewat.
“Jika cinta itu seperti menunggu bus, kurasa setiap menit yang berlalu tak sia2. Mungkin bisa bertahun-tahun, tapi bus-ku sudah datang sekarang. Aku akan naik bus ini dan memulai perjalananku.”

Di dalam bus, Sa duduk di samping seorang siswa SMA. Siswa itu tertidur di pundak Sa. Sa berusaha menghindar, siswa itu terbangun karena terantuk bus namun ia kembali tertidur di pundak Sa. Sa yang bête kembali menghindarinya.

Ohm mengantar Sa ke kantornya, Ohm berpesan agar Sa fokus saja pada pekerjaannya, ia akan menelponnya nanti. Ohm mencium tangan Sa sebelum pergi, Sa terlihat malu2.
“Ada bulu anjing di kemejamu.”ujar Sa sebelum Ohm beranjak pergi. “Anjing itu bulunya rontok tapi kau tetap saja menggendongnya.” Ohm mengecek kemejanya, Sa menawarkan diri membantu membersihkannya. Sa melongok ke dalam mobil membantu membersihkan bulunya, hal itu terlihat seperti keduanya sedang berciuman dan dua teman Sa mengira seperti itu. Ohm pamit pergi, sebelumnya ia kembali berpesan agar Sa konsentrasi pada pekerjaannya dan ia akan meneleponnya.

 

Kedua teman Sa menyusul Sa masuk ke dalam lift. Jane bilang kalau mereka melihat semuanya saat Ohm menurunkannya di depan kantor. Sa mengiyakan kalau mereka berciuman. Kedua sahabat Sa terus mengekor. Jane berusaha memberi petuah.
“Kau tahu, ciuman pertama sangat penting. Itu akan menentukan masa depanmu
bersama kekasihmu. Aku putus dengan mantan pacarku gara-gara ciuman pertama.”ungkap Jane. Teman wanita Saa memberitahu, intinya jika ciuman pertama sukses, kemungkinan hubungan akan berjalan mulus. Kedua teman Sa kembali bekerja.

Sementara Sa mulai membayangkan hubungannya dengan Ohm. Keduanya mendaki puncak Phu Thab. Ohm menyatakan cintanya di sana. Sa terlonjak bahagia, Ohm hendak mencium Sa. Dan ternyata tadi semua itu hanya mimpi saudara2 hahahaha.

Sa terbangun dari mimpinya karena bus melewati kecelakaan mobil. Siswa SMA yang duduk di bangku samping Sa berniat melihat dari kaca, tanpa sengaja keduanya berciuman karena kebetulan Sa sedang menoleh. Sa hampir beteriak. “Kau menghancurkan puncak gunung Phu Tab-ku!”ujar Sa kesal karena kehilangan ciuman pertamanya.
“Puncak gunung Phu Tab apa, Tante?”tanya siswa itu. Tak ingin berdebat, Sa segera turun. Ia pun meminta turun. Namun siswa tadi mencolek Sa, ia bilang mereka harus bicara.
“Dasar bocah! Kuharap aku tak akan pernah melihatmu lagi, psikopat!”seru Sa lalu kembali minta turun.
Tak boleh turun selain di halte, Tante.”ujar kondektur bus. Siswa tadi tersenyum dan kembali mencolek Sa. Ia bertanya kenapa Sa menyebutnya psikopat, apa dirinya tampak seperti itu?. Siswa itu balik ingin bilang kalau Sa-lah yang psiko namun dipotong Sa.

Namun siswa itu malah menggoda dengan  gerakan seolah mencium, Sa pun  berujar kalau ia tak bermaksud menciumnya lalu bilang maaf.
“Kau tak bermaksud? Lalu mengapa minta maaf?”sindir siswa tadi.

Sa tak tahu harus beralasan apa, ia pun menganggap itu kecelakaan, namun ia bersikukuh kalau ia tak bermaksud melakukannya. Sang siswa pun tak percaya karena Sa jelas2 menciumnya.  Sa menyuruh siswa itu diam.
“Kita memang berciuman. Mau bagaimana lagi?”seloroh siswa tadi lalu terus menekankan kalau Sa yang menciumnya, tak ingin menahan malu Sa memukuli siswa itu membabi buta hingga tanpa sengaja ponselnya jatuh di atas tas siswa tadi. Dengan membusungkan dada dan menahan kesal Sa turun dari bus.  Siswa tadi hanya tersenyum simpul melihatnya. #ngakak lihat Sa mukulin siswa itu hahaha.

Sesampainya di rumah, Sa menyadari ponselnya tak ada setelah mengeluarkan isi tasnya. Ia pun mencoba menghubungi ponselnya dengan telepon rumah.
“Halo. Maaf. Handphone-ku ada padamu?”sapa Sa, ia pun ingin ponselnya dikembalikan namun segera dipotong si penerima telepon.
“Mengapa kau menciumku?”tanya penerima telepon. Sa berusaha menahan amarahnya.
“Mengapa kau mencuri handphone-ku? Anak nakal!”. Siswa tadi pun menegaskan kalau Sa yang menjatuhkannya lalu pergi begitu saja, bagaimana bisa ia mengembalikannya padanya. Sa tak peduli itu, ia pun meminta ponselnya dikembalikan saat itu juga. Tentu saja ditolak siswa itu.  “Kau tak bisa mengambilnya! Itu punyaku!”
“Ya, tentu bisa. Aku akan menyimpannya sebagai ganti rugi. Karena kau menciumku tanpa ijin.” Sa pun memaki siswa itu, jika ada kompensasi,  siswa itu juga harus memberinya ganti rugi lebih banyak  karena ia telah mencium ciuman pertamanya.
Siswa tadi terkejut mendengarnya, “aku benar2 ciuman pertamamu?berapa usiamu?”tanyanya.
“Dasar tengil!”maki Sa untuk mengalihkan rasa malunya, lalu menegaskan kalau siswa tersebut tak mengembalikan ponselnya ia akan mendatangi sekolah siswa itu. Siswa itu tak peduli, ia malah menatang Sa, jika ia tahu di mana sekolahnya temui saja dirinya di sana lalu menutup sambungan telepon.

Keesokan paginya, di sebuah sekolah seorang guru mengumumkan agar semua siswa yang bernama Paramee menghadap ke ruang BP.  Siswa yang tanpa sengaja berciuman dengan Sa ditanyai salah satu temannya saat namanya termasuk, apa yang ia lakukan. Siswa itu menggeleng, teman yang lain pun mengatakan kalau itu masalah.

Dengan malas siswa itu pun datang ke ruang BP. Di sana sudah berdiri beberapa siswa dengan nama Paramee namun nama belakangnya berbeda. Salah satu siswa menangis, karena baru pertama kali ia ke ruang BP untuk kesalahan yang tak diketahuinya, padahal ia selalu mengerjakan PR. Siswa tadi pun hanya geleng2 kepala, merasa tak bersalah ia pun beranjak kembali namun kata2 seseorang menghentikannya.

“Itu dia orangnya!”seru seseorang yang tak lain Sa, seraya menunjuk ke siswa yang terakhir datang tadi. Semua siswa lainnya bersorak gembira karena mereka terbebas, mereka pun kembali ke kelas masing2.  Siswa yang ditunjuk Sa, menghampiri guru dan Sa.
“Apa kau mencuri ponsel-nya?”tanya sang guru, yang diiyakan Sa.
“Dia ketahuan, tapi tak mau mengembalikannya.”tambah Sa. Sang guru pun menyuruh siswa tadi mengembalikan ponsel Sa. Siswa tadi segera mengambil ponsel Sa dikantongnya dan mengembalikanya.  Sang guru meminta maaf atas kelakuan muridnya, Sa pun tak mempermasalahkannya. Sang guru pun memutuskan menghukum murid tadi atas perbuatannya. Ia mengambil tongkat bambu kecil panjang, lalu menyuruh siswa tadi bersiap menerima hukuman, Sa menahannya saat guru tersebut siap memukulkan tongkat tersebut ke pantat siswa itu.
“Bu, kurasa Anda tak perlu melakukan ini. Aku sudah mendapatkan handphone-ku, dalam keadaan utuh.”ucap Sa. Namun sang guru tak setuju, ia tetap akan memberikan hukuman agar siswa tadi tak melakukannya lagi. Akhirnya 3 pukulan mendarat di pantat siswa tadi wkwkkw.

Sepulang sekolah, Sa mentraktir siswa tadi makan.  Siswa itu nampak kesakitan walau hanya duduk. “Apa kau tidak pernah dihukum saat masih muda?”tanya sang siswa saat Sa bertanya apa ia masih merasa sakit. Tak mendapat jawaban dari Sa, siswa itu menduga Sa sudah lupa karena hal itu sudah lama sekali. “Diam! Aku tak setua itu.”teriak Sa, sesaat sebelum makan Sa teringat sesuatu. Ia pun mengambil dan memberikannya pada sang siswa.
“Apa itu? Obat herbal untuk perawan tua?”
“Dasar kurang ajar!”maki Sa seraya menyodorkan bungkusan obatnya, lalu menyuruh siswa itu menggunakannya.  Siswa itu bertanya bagaimana Sa yang dipanggilnya tante tahu nama dan sekolahnya.
“Kau pikir aku buta apa? Aku hanya tidak sempat membaca nama belakangmu.”jawab Sa menunjuk name tag siswa tersebut.  “Ngomong-ngomong, berhentilah memanggilku “tante”!”lanjutnya. Siswa itu bertanya, lalu ia harus memanggil apa. Sa meminta ia dipanggil kakak Sa.
“Mengapa aku harus memanggilmu Kakak Sa? Bolehkah aku memanggilmu Nona Sa?”goda siswa itu. Sa menolak, ia bersikeras mau dipanggil kakak. Siswa tersebut juga tak mau kalah, ia keukeuh dengan pendiriannya. Ia pun menawarkan antara tante Sa dan nona Sa, mana yang dipilih. Tentu saja Sa memilih dipanggil nona saja, walaupun dengan ngedumel.
Siswa itu pun memperkenalkan diri, namanya panggilannya Bass jadi Sa bisa memanggilnya Bass.

Tiba2 ponsel Sa berbunyi, ia pun tiba2 jadi sumringah begitu melihat siapa yang menelepon.
Sa pun menjawab teleponnya dengan lembut dan manis karena yang menelepon adalah Ohm.
Ohm mengajaknya bertemu di restoran Cina di Sukhumvit besok, tentu saja Sa menyetujuinya dengan senang hati.

Keesokannya, Sa segera menghentikan langkahnya begitu tiba di restoran Cina tempat janjiannya dengan Ohm. Ia seperti mengenali seseorang dan benar saja, Bass juga sedang makan di sana. “Sedang apa kau di sini?”selidik Sa.
“Dunia ini benar2 kecil ya?”jawab Bass kalem. Tentu saja Sa tak mudah percaya, namun Bass mengelak kalau itu hanya kebetulan. Sa tak bisa marah karena semua mata pengunjung akan mengarah padanya. Bass pun menggoda Sa, dengan mengedipkan matanya hahahaha.
Sa pun beranjak pergi, Bass tersenyum geli. Tak selang beberapa lama Ohm masuk  disusul kedua teman Bass, Art dan Win.

Kedua teman Bass menghampiri Bass, perhatian Bass fokus pada meja yang diduduki Sa dan Ohm. Salah satu teman Bass, Art  mengeluh kenapa mereka memilih restoran itu, ia merasa tempat itu terlalu kuno. Win menimpali tempat itu cocok dengan wajah Art, bwahahaha.
Art mencoba tak ambil pusing dengan kata2 Win.
“Mengapa kau menelpon kami datang ke restoran ini?”tanya Win pada Bass.
“Aku ingin membuat perayaan.”jawab Bass, karena ia menyadari  keberuntungan baru saja berpihak padanya. Kedua teman Bass pun memperhatikan sekeliling mencari apa yang dimaksud Bass.

Bass terus memperhatikan meja Sa dan Ohm yang tak jauh dari mereka. Melihat Sa salah tingkah dengan gombalan Ohm.

Ohm mengantar Sa pulang sampai rumah. Sebelum keluar dari mobil, Sa mengucapkan terimakasih. Ohm menahan Sa yang hendak keluar, ia mengatakan sangat senang mereka bertemu kembali.  Ohm hendak mencium Sa, namun tetiba ada yang mengentuk pintu kaca mobil, menawarkan karangan bunga wkwkwk.
Ohm pun memberi tanda agar orang itu pergi, setelah orang itu pergi, Ohm kembali hendak mencium Sa kembali, namun gagal maning son, soalnya penjual bunganya datang gangguin lagi wkwkkw. Dengan kesal Ohm kembali memberi tanda agar penjual itu pergi.
Ohm pun menyuruh Sa segera masuk ke dalam rumah, dan nanti ia akan meneleponnya. Sa menurut, ia pun memandang kepergian mobil Ohm dengan sedih.

Saat, Sa berbalik ia dikejutkan dengan penjual bunga yang menawarkan karangan bunga. Dan orang itu tak lain adalah Bass wkwkkw.
“Karangan bunga, Nyonya?”tawar Bass seraya mengedipkan mata.
“Ternyata kau?! Mengapa kau selalu membuatku kesal?!”teriak Sa.
“Berapa yang kau mau?!”tanya Sa, seraya mengambil uang namun ditahan Bass.
“Orang sepertiku tak bias dibeli dengan uang.”ujar Bass dengan penuh percaya diri, Sa pun bertanya, lalu apa maunya?. Bass menyuruh Sa menemuinya di tempat mereka berdiri saat ini. Ia juga berpesan agar Sa berdandan yang cantik karena mereka akan pergi ke bioskop.
Sa hanya bisa menahan kesal, Bass tersenyum gaje menanggapinya.

Keesokannya dengan gaya casual Bass menunggu Sa di depan rumah Sa. Ia pun terperanjat kaget saat melihat Sa keluar dengan penampilan ibu2.
“Pakaian  macam apa itu? Kubilang berdandan yang cantik, kan?”
“Ini yang tercantik. Baju yang tercantik untuk kencan denganmu.”elak Sa.

Kini keduanya jalan masuk mall, melihat barang2. Hahaha udah kayak mak jalan ama anaknya hahaha. Seorang pengujung mall yang melihat keduanya memuji ketampanan Bass. Ia mengira  Bass bersama ibunya. Temannya menimpali tak mungkin, karena keduanya tak mirip. Bass tersenyum mendengarnya. Sa, syok mendengar cibiran kedua pengunjung yang tak jauh dari mereka menganggap keduanya ibu dan anak.
“Itu sebabnya aku menyuruhmu dandan yang benar.”ujar Bass lalu menawarkan apa Sa mau ganti pakaian, Sa menggeleng.
“Sebaiknya kau berdandan yang sesuai lain kali.”saran Bass.
“Lain kali?Tidak ada lain kali! Ini yang terakhir kalinya aku bersamamu.”sahut Sa kesal lalu memukul Bass dengan tas tangannya kemudian bergegas pergi.

Bass mengejar dan menahan Sa, Sa berontak karena Bass menarik tangannya.
“Apa? Sedang apa kau, hah?”gerutu Sa.
“Aku mau tunjukkan trailer-nya dulu sebelum kita nonton di bioskop.”jawab Bass lalu mengisyaratkan agar Sa melihat ke arah yang ditunjuknya. Ia pun melihat Ohm dengan seorang wanita yang juga akan pergi melihat film. Keduanya nampak mesra.
“Pam?”guman Sa, tanpa sengaja Ohm menoleh ke arah Sa, keduanya pun saling menatap namun Ohm seolah-olah tak mengenal Sa, saat Pam, wanita yang bersamanya bertanya.

Sa tak bisa menyembunyikan kesedihannya, Bass memberitahu kalau ia mengenal Pam. Jadi saat ia tahu Sa berkencan dengan dengan pacarnya ia membawa Sa kesitu agar ia bisa melihatnya secara langsung. Bass juga memberitahu kalau keduanya akan menikah.
Air mata Sa pun berjatuhan, ia pun  mendorong Bass lalu melangkah pergi.

Sa menceritakan Ohm yang akan menikah pada kedua sahabatnya, Mham dan Jane. Mham tak percaya Ohm akan menikah, Jane menimpali padahal Ohm tampak sangat mencintai Sa.
“Apakah kau sudah bicara dengannya?”tanya Jane, Sa menggeleng lalu menangis namun segera terhenti saat seseorang meletakkan kado berbentuk bintang di jidatnya. Sa pun mengambilnya dan memperhatikannya.
“Siapa yang mengirimnya? Norak sekali.”ejek Jane. Tiba2 terdengar suara “itu aku”.

Semua orang menoleh ke sumber suara. Terlihat pemuda keren layaknya eskud yang tak lain adalah Bass wkwkkw.
“Siapa kau?”tanya Jane.
“Makan siang denganku?”ajak Bass, dengan sigap Mham dan Jane berdiri mengiyakan.  Lalu keduanya mengajak Bass mengikutinya.
“Pastikan kau tidak ketahuan, oke?”tegas Sa pada Bass saat kedua temannya sudah pergi.  Walau bersikap seperti itu, Sa merapikan dasi yang dipakai Bass, dan hal itu pun membuat Bass tersenyum gaje hehehe.

Jane dan Mham menggoda Sa. “Baru saja kau menangis karena Ohm,dalam sekejap, kau dapat yang baru.”ledek Jane pada Sa. Keduanya pun memaki Sa, namun terhenti saat Bass kembali dengan minuman yang dipesannya. Bass membagikan pesanannya pada kedua teman Sa dan Sa, namun Sa hanya diam saja. Bass pun memperingatkan kenapa Sa tidak memperkenalkan kedua temannya pada dirinya?
“Ini Jane dan Mham.”ucap Sa menujuk teman cowok dan ceweknya, Sa memperkenalkan keduanya sebagai teman kerjanya.
“Ini Bass.”ujar Sa. “Dia hanya teman. Aku bertemu dia di dekat sini”lanjutnya.  Jane  pun menggoda Bass, karena namanya seperti alat musik. Gurauan mereka berhenti saat makanan pesanan mereka datang. Saat mereka siap menyantap makanannya, ponsel Sa berbunyi. Bass langsung merebutnya dan mematikannya begitu Sa ingin mengangkatnya, bahkan saat Sa ingin membaca sms yang masuk, Bass langsung mengambilnya lalu menghapusnya.
Jane dan Mham sampai specheless dibuatnya, Bass langsung mengangkat telepon dan tak membiarkan Sa mengangkatnya.

“Apa yang kau lakukan?”tanya Sa pada Bass yang telah selesai mengakat teleponnya. Dengan santai mengatakan tak ada, lagian Sa tak perlu mengangkatnya karena tak ada gunanya.
“Apa itu Ohm?”selidik Sa, Bass hanya diam.  Jane berbisik pada Mham kalau ia merasa iri karena tak ada seorangpun bertengkar karena dirinya.
“Lihat wajahmu! Menurutmu apa ada pria yang mau memperebutkanmu?”ujar Mham pada Jane seraya menyodorkan kaca, hahaha.
Melihat Sa terus memasang wajah cemberut, Bass menyuruhnya mengabaikannya saja dan menghabiskan makanannya. Bass pun pamit pergi karena ada yang perlu ia kerjakan. Tanpa Sa sadari Bass membawa ponselnya. Setelah Bass menjauh Sa pun tersadar kalau ponselnya dibawa Bass. Mham menimpali sayang Bass sudah pergi jauh.
“Jangan pura-pura lugu, aku tahu kau merayunya.”sindir Jane.
“Rayuan maut.”lanjut Mham, Jane membenarkan. Kedua sahabat Sa makin memojokkan Sa, bahwa tingkahnya seperti sedang merayu Bass.

Di sekolahan Bass, nampak murid2 perempuan berteriak-teriak heboh saat mereka melihat murid2 laki2 rombongan Bass lewat, dengan pede dan penuh gaya Art berjalan di antara barisan  murid perempuan dengan penuh percaya diri.
“Mereka cuma gadis remaja. Aku suka wanita dewasa seperti Khru Dao.”ujar Art.
“Siapa dia?”tanya Win.
“Guru magang yang baru.”jawab Bass, mereka terus berjalan dengan sorakan dari murid2 perempuan. Langkah Bass terhenti saat menyadari mengenal murid yang menyender di tembok, ia pun berjalan mundur.

Saat kedua mata mereka bertemu, Bass terhenyak kaget, ia pun bertanya bagaimana Sa bisa berada di sana dengan memakai seragam sekolah. Ternyata Art dan Win menyusul Bass.  “Halo. Aku Sa. Aku senior di SMA ini.”ucap Sa memperkenalkan diri,  kedua sahabat Bass terlihat bingung, mungkin mereka mikir ngapain senior ke sekolah lengkap dengan seragam hahaha. Menyadari hal itu Sa segera meralatnya, kalau ia murid 12-4.
“Dia murid sekolah ini? Aku tak pernah melihatnya. Dia kelihatan terlalu tua.”sahut Art.
Win menimpali, seharusnya Art mengaca pada dirinya sendiri sebelum bicara, Art berkilah kalau ia sudah merawat kulitnya sejak kecil. Mendengar jawaban tersebut, Win hanya bisa mencibirnya. “Ngomong-ngomong, aku tidak familiar dengannya.”ujar Win.
“Bagaimana bisa familiar? Dia tidak sekolah di sini.”jawab Bass santai, Sa dibuat frustasi dengan kata2 Bass.
“Sebenarnya, dia sudah bekerja. Tapi aku jatuh cinta padanya. Itu sebabnya dia mengikutiku ke sini.”aku Bass, Sa hampir memukul Bass. Namun terhenti karena Win memuji Bass hebat dan Bass menanggapi kalau Sa malu makanya bersikap seperti itu.  Sa speechless mendengar kata2 Bass.

Win menimpali, hal itu dikarena Bass tampan.
“Ngomong-ngomong, sini kuperkenalkan.”ujar Bass lalu menoel-noel Sa yang menyembunyikan wajahnya ke dinding, Sa pun menoleh.
“Ini Sa.”ucap Bass memperkenalkan Sa, lalu Bass memperkenalkan Win dan Art sebagai temannya. Win menyapa Sa, sedangkan Art sok imut.
“Apakah dia pamanmu? Mengapa dia di sini?”bisik Sa pada Bass melihat wajah Art wkwkwk.
“Apakah dia membantumu mencuri? Sudah berapa lama kau di sini?”lanjut Sa, kedua teman Bass berusaha mencuri dengar. Percakapan mereka terhenti saat bu Guru memperingatkan gerombolan ini segera masuk karena upacara bendera akan di mulai. Semua murid cepat2 masuk ke sekolah, Bass pun menarik Sa agar mengikutinya.

Bass membawa Sa ke lokernya, ia menunjukkan ponsel Sa yang di dalam lokernya. Sa minta agar ponselnya dikembalikan, Sa buru2 mengambilnya namun ditahan Bass.  Bass mengambilnya lebih dulu. “Jangan buru-buru!Karena kau di sini, mari kita bersenang-senang.”ajak Bass.  “Saat kau di SMA, apakah kau pernah melanggar peraturan?”tanyanya. Sa menggeleng, Bass menawarkan apa Sa mau mencobanya?. Sa mulai berpikir, ia pun memutuskan mereka mulai dengan mengerjai Bass. Sa pun menendang kaki Bass hingga terjatuh, Bass pun membalas. Sa pura2 menangis.
“Sa… maafkan aku.”ucap Bass mencoba menenangkan Sa. Tetiba Sa menyerang Bass membabi buta, Bass berusaha menghidarinya.

Hingga Sa terdesak ke dinding, Sa mengira Bass akan menciumnya padahal Bass hanya bertanya apa Sa pernah membolos? Hahahaha.
Belum sempat Sa menjawab keduanya ketahuan guru yang sedang berpatroli. Guru tersebut bertanya kenapa mereka tidak masuk kelas, Bass pun segera berlari dengan menarik Sa. Guru tadi terus mengejar keduanya, jadilah kejar-kejaran ala India wkwkkw.

Keduanya sampai di tempat laboratorium Biologi, Sa melihat-lihat ke dalam ruangan.
“Aku suka menghabiskan waktu di lab sains saat waktu luang.”aku Sa. Bass bertanya kenapa? Karena saat ia melihat isi ruangan yang mereka masuki berisi tengkorak, itu bukan tempat yang cocok untuk bersantai. Sa mengagetkan Bass dengan menunjukkan tengkarak manusia utuh, Bass pun berteriak ketakutan hingga keduanya terjatuh. Dan hasilnya tengkorak itu patah, keduanya pun berusaha memasangkannya kembali. “Kau tidak takut?”tanya Sa, saat mencoba kembali menakuti Bass dengan kepala tengkorak yang dipegangnya. Dengan mengedipkan mata Bass menjawab itu akting. “Kau suka pergi ke mana saat bolos?”tanya Sa.
“Biasanya aku pergi ke ruang musik. Latihan dengan band-ku.”jawab Bass, Sa hanya mengangguk-angguk mengiyakan.
“Bukannya sombong, tapi aku anggota band sekolah.”ujar Bass.
“Apakah fans-nya banyak?”tanya Sa.
“Tidak juga, aku cuma main karena hobi.”jawab Bass. Melihat Sa diam saja, Bass bertanya bukankah itu yang mau Sa dengar.
“Oh… kasihaaan.”ucap Sa iba.  “Jika tak ada yang mendengar lagumu, katakan padaku. Aku akan mendengarkannya.”lanjutnya.
“Benarkah?”tanya Bass sumringah, Sa mengangguk mengiyakan.

“Oh, ngomong-ngomong kau belum bilang mengapa kau suka lab sains.”ujar Bass. Sa beranjak ke jendela disusul Bass. Seraya mengintip dari jendela, Sa mengaku ia suka lab sains karena di sekolahnya, jika ia melihat ke bawah dari jendela lab. ia bisa melihat lapangan basket dengan jelas.  Sa teringat masa sekolahnya dulu, saat ia memperhatikan lapangan basket dari ruang lab. sains.

Lamunan Sa buyar, saat terdengar suara guru yang mengejar mereka masuk ke ruang lab. Sa dan Bass berusaha menghidar dan melarikan diri, keduanya berhasil namun tanpa mereka sadari dompet Sa tertinggal dalam ruangan tersebut.

Kini Sa dan Bass asyik bermain basket. Setelah puas bermain keduanya kembali ke ruang lab. sains untuk mencari dompet Sa yang hilang.  Bass menyuruh Sa mencarinya sendirin ke dalam, sedangkan ia akan menunggunya di luar. Sa minta ditemani karena hari sudah gelap ia pun takut, namun Bass menolak. Ia menyuruh Sa mencarinya sendiri. Bass mengembalikan ponsel Sa, dan berpesan apapun yang terjadi Sa tak boleh meneleponnya.  Saat ini lebih baik Sa menghubungi pengusir hantu.

Dengan takut2 Sa menyusuri ruangan lab. sains dengan hati2. Tiba2 ponsel Sa berbunyi, ia pun terhenyak kaget. Ternyata Bass yang meneleponnya, bertannya sudah ketemu belum dompetnya.  “Jika mau cepat, ayo bantu aku!”jawab Sa.
“Kau bilang kau suka lab sains.”sindir Bass.
“Aku suka pemandangan dari lab. sains sekolahku. Bukan di sini.”
“Tidakkah kau mau tahu, jika kau melihat dari jendela lab. ini, apa yang akan kau lihat?”ujar Bass. Sa pun mendekat ke arah jendela lalu mencoba mengintip dari jendela. Terlihatlah Bass yang sedang menyanyikan lagu di tengah lapangan basket. #suka dengan lagu ini.
Sa, sangat menikmati lagu yang dinyanyikan Bass.

Tetiba lampu lab mati,Sa yang tadinya nampak sedikit ketakutan jadi terpana melihat lampu ruangan yang menjadi berkilauan bintang2, itu semua ternyata dikendalikan oleh Win dan Art. Sa pun bergegas turun, dan di tangga ia bertemu Bass.

“Aku tak mau membandingkan diriku dengan Ohm.”aku Bass. Bass juga ingin Sa melupakan Ohm. “Itu saja?”tanya Sa tak mengerti.

“Aku ingin jadi pacarmu. Aku ingin menjagamu.”lanjut Bass. Sa nampak terharu.
“Teman juga boleh saling menjaga”ujar Sa.
“Aku tak mau jadi sekedar teman.” Lalu Bass mencium Sa, hingga Sa membeku. Wahhhh ditembok berondong hahahaha.

Dan keesokannya, Sa yang berpakaian kerja bergandengan tangan dengan Bass yang berpakaian seragam sekolah.
Apakah aku sudah bilang, kalau cinta itu seperti menunggu bus? Aku sadar bahwa…Itu bukan hanya tentang menunggu. Aku juga belajar bahwa,..saat bus-mu tiba,..kau harus memutuskan naik apa tidak.”  Sa dan Bass pun menaiki bus yang lewat. (Ibarat jika kita menunggu cinta, jika cinta itu tiba2 datang kita menerimanya atau tidak. Dan Sa memilih untuk menyambut cinta yang hadir dalam penantiannya.)

Di kantor Sa nampak berseri-seri, kedua temannya menggodanya.
“Kau tampak sangat berbunga-bunga sejak kau jatuh cinta.”puji Mham. “Memakai make-up, kau mau bersaing cantik denganku?”lanjutnya. Jane menimpali Mham tak bisa menandingnya karena Sa jauh lebih cantik. Tetiba ponsel Sa berbunyi, ia mendapat telepon dari Ohm. Jane segera mengambilnya. Dan Jane pun mematikannya wkwkwkwk (udah ikut2an gaya Bass ni hahaha).

Dua sepasang sejoli yang kasmaran semakin mesra, Bass mengantar kopi untuk Sa yang lembur.  Di lain waktu, Bass menyanyikan lagu untuk Sa sebagai pengantar tidur. Sebaliknya gantian, Sa membawakan bekal untuk Bass ke sekolahnya dan bahkan mengantar Bass ke bimbel. Sampai Sa dikira mengantar adiknya wkwkkw.

Bass dan Sa makin nampak akrab, sampai suatu ketika Bass lupa ganti penampilan datang ke kantor Sa. Bass masih memakai seragam sekolah wkwkkw. Saat ditilang polisi, beralasan lupa membawa dompet karena Bass yang menyetir #tepokjidat.

Jane membuyarkan lamuyan Sa,  “Sa…Dasar perawan tua!”celetuk Jane. Ia mengaku kini sekarang ia tahu karena teman Bass adalah teman facebooknya. Sa hanya bisa menelan ludahnya.  “Apa kau serius dengan hubungan ini?”tanya Mham.
“Dia bagus dalam banyak hal. Yang penting kalian berdua menyukainya.”jawab Sa, kedua sahabat Sa pun segera mendekat ke arahnya.
“Tak ada anak SMA yang menganggap serius masalah percintaan.”ungkap Mham.
“Ini serius. Walaupun kau tak peduli apapun, setidaknya kau harus peduli tentang moral.”tambah Jane. “Kita berusia 26 tahun. Kita harus berpikir tentang pernikahan. Butuh beberapa tahun lagi hingga  pacarmu lulus kuliah.”lanjut Mham. Ia juga menambahkan apa Sa tak berpikir nanti Bass akan bertemu yang lebih muda dan cantik dari dirinya?.
“Mungkin perlu 10 tahun sebelum dia siap menikah. Dan 10 tahun dari sekarang, rahimmu mungkin sudah tidak berfungsi lagi.”ujar Jane.  Hal itu membuat Sa  sedikit galau.

Sa menunggu Bass di halte bus. Setibanya di sana Bass berniat membantu mambawakan barang2 Sa, namun Sa menolaknya. Sa mengaku kalau kini teman2nya tahu kalau Bass seorang siswa SMA. “Lalu kenapa?”tanya Bass.
“Mereka bilang, aku seharusnya lebih memikirkan masa depan dan kenyataan.”jawab Sa, Bass tak mengerti apa maksud Sa.
“Beda usia kita terlalu jauh. Pola pikir kita berbeda. Bagaimana perasaan kita satu sama lain, kurasa itu tak cukup untuk mempertahankan hubungan kita. Karena kau mungkin bahkan
belum memikirkan masa depan kita.”
“Kurasa kita bisa memikirkannya bersama. Aku sudah memikirkan tentang masa depan kita sesaat. Masa depan kita, setelah aku lulus kuliah, aku akan mengambil alih bisnis ayahku.
Lalu kita menikah. Dan punya dua orang anak. Saat itu aku akan berusia 28 tahun. Dan kau 36.Tapi tak akan ada yang peduli saat masa itu tiba.”ucap Bass, Sa berkaca-kaca hingga menitikkan air mata. Bass pun memegang tangan Sa.

“Sa..Kau tahu, dalam hidupku. Aku memilih segala sesuatu sendiri. Hanya beberapa yang
tidak bisa kupilih. Aku tidak bisa memilih kapan aku lahir. Tapi sekarang aku memilih, untuk seumur hidupku, aku akan bersamamu selamanya. Setiap pagi sebelum aku berangkat kerja….aku mau kau mengikatkan dasiku.” Sa terharu hingga menangis mendengar kata2 Bass. “Mengapa kau menangis? Kau tak suka rencana masa depanku?”tanya Bass. Sa menggeleng.

Bass menawarkan apa Sa mau mampir dan  mencuci mukanya saat keduanya sampai di rumah.  Sa pun menurut saat tangannya ditarik Bass, Sa terpana saat keduanya masuk ke dalam rumah bak istana. Namun sayang di dalam rumah ayah Bass telah menunggu.  Ayahnya pun langsung menampar Bass dan kedua pengawalnya segera membekuk Bass.  Melihat Bass terus ditampar, Sa segera mencari payung dan balas ingin menyerang namun ditahan salah satu pengawal ayah Bass.
“Sa… ini ayahku.”ujar Bass memperkenalkan laki2 yang berdiri di hadapannya.  Sa pun dengan sopan segera memperkenalkan diri, dan meminta maaf atas salam yang ekstrim tadi, yang hampir memukul calon mertuanya dengan payung wkwkkw.
“Siapa wanita ini?”tanya ayah Bass. Bass menjawab Sa itu temannya.
“Lihat yang kau perbuat! Ada yang menelponku kau latihan band dengan temanmu! Aku sudah bilang jangan lagi main musik! Kau harus berhenti berulah dan pulang malam! Aku tak akan hidup selamanya untuk mengajarmu.” Lalu menyuruh Bass naik ke atas.
Bass mengerti namun sebelumnya ia ingin mengantar Sa pulang dulu.

Ayah Bass pun menuruti permintaan anaknya, Sa hendak menghapus darah di sudut bibir Bass dengan sapu tangannya namun ditolok Bass. Ia beralasan kalau ia baik2 saja.
“Ngomong-ngomong, kau hebat. Jika tak ada yang menghentikanmu, ayahku pasti sudah terkapar.”gurau Bass lalu mengajak Sa pulang. Namun Sa terhenyak saat melihat luka memar2 di tangan Bass.

 

Kini Sa hendak mengobati luka2 Bass di kursi taman. Namun ditolak Bass, ia akan mengobatinya sendiri saat pulang karena begitu pulang ia akan dipukuli lagi jadi lebih baik diobati sekalian nanti.   “Mengapa ayahmu melakukan ini padamu?”tanya Sa. Bass menjawab kalau ayahnya  selalu marah padanya sejak ibunya meninggal.
“Semua kegiatan yang aku lakukan saat ibuku masih hidup, sekarang tidak bisa kulakukan lagi. Ayahku hanya ingin aku di rumah saja.”ungkap Bass, namun saat dirinya di rumah, ayahnya selalu bersama wanita lain.  Itulah sebabnya ia keluar rumah dan berlatih band dengan teman2nya. Bass memberitahu kalau seseorang meminta bandnya tampil di pub.
“Benarkah? Kurasa kau masih dibawah umur untuk tempat seperti itu”ujar Sa. Lalu menanyakan bagaimana dengan  ayah Bass.
“Usia bukan masalah.Tapi ayahku….Lupakan saja. Baginya aku selalu
saja berbuat salah.”jawab Bass, Bass pamit pergi karena ayahnya sudah menunggu terlalu lama.

===bersambung==

Lanjut ke part 2 oleh Ganis :peace, maaf telat banget ya, sebenarnya draftnya sudah lama banget mengendap cuma nggak sempat2 lanjut kebetulan Ganis ngajak pairingan, jadinya ada mood buat ngelanjutinnya wkwkwk.

Written and Capture image by +ari airi [Twitter]
Only Posted On pelangidrama.net
DON’T REPOST TO OTHER SITE/FANSITE  
Don’t ask next part OK!
Iklan

4 pemikiran pada “[Sinopsis Thai-Movie] First Kiss (Rak Sud Tai Pai Na) Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s