[Sinopsis J-Drama] Galileo season 2 episode 11 (end)

~Sinopsis Galileo season 2 episode 11 (end)~
Redemption – Pengampunan (part 2 end)

“Jika kejahatan sempuran benar-benar ada, pasti akan sesempurna perbandingan salib ini. Tuhan mengampuni setiap orang. Itu yang kau katakan padaku. Jika begitu, orang yang membunuh suamimu … pasti akan diampuni,” ujar Yukawa-sensei, pelan tapi tajam.

Di dalam kelas,
“Liburan musim panas akan datang kurang dari sebulan lagi. Termasuk hari ini, kalian masih punya dua kuliah bersamaku,” ujar Yukawa-sensei memulai kuliah hari itu.

Pernyataan itu membuat seisi ruangan yang sebagian besar berisi para mahasiswa wanita protes. Mereka menginginkan masih ada kuliah bersama Yukawa-sensei lagi. Sementara itu, dari arah pintu, datang Kishitani. Ia mengambil tempat duduk paling belakang, dan mulai menguap.

Yukawa-sensei hanya melirik sekilas pada siapa yang datang. Ia pun kemudian melanjutkan kuliahnya, “Aku senang karena kalian semua tertarik pada sains. Kau!” tunjuk Yukawa-sensei pada salah seorang mahasiswa yang sedang mengetik di laptopnya. “Apa kau tahu jika kemampuan prosesor komputermu lebih tinggi dibanding dengan komputer yang digunakan di satelit luar angkasa?” pertanyaan itu dijawab oleh si mahasiswa dengan gelengan kepala. Yukawa-sensei pun melanjutkan, “Alasan mereka menggunakan komputer dengan kemampuan rendah pada satelit, adalah untuk meminimalkan potensial Bitwise Inversion yang merupakan tidak berfungsinya CPU (Computer Processor Unit) yang disebabkan oleh radiasi luar angkasa. Informasi tambahan, bagian dari Program Apolo yang berhasil mendarat pertama di bulan, komputer yang digunakan memiliki kemampuan lebih rendah dibanding ponsel modern. Kalau begitu, pelajaran hari ini adalah tentang Komputer Kuantum.”

Lab Yukawa-sensei,
Kishitani berdiri mengkeret di depan meja Yukawa-sensei, persis seorang siswa yang dimarahi oleh gurunya.

“Kelasku bukan tempat tidur. Tolong jangan masuk kelasku dan mulai tidur siang!” tegur Yukawa-sensei pada Kishitani.
“Maaf, aku benar-benar kelelahan menginvestigasi kasus pembunuhan Mashiba Yoshiyuki. Setiap hari aku berkeliling hingga kakiku bengkak,” sesal Kishitani.
“Kau mungkin bekerja begitu keras, tapi kalau kau mau tidur, lakukan di ruanganmu sendiri.”
“Ah, Yukawa-sensei, apa benar kau melakukan demonstrasi percobaan di sekolah Ayane-san?” Kishitani mengalihkan pembicaraan. “Aku dengar kau melakukan percobaan dengan ceret dan air panas.”
“Itu bukan ceret, itu teko elektrik,” ralat Yukawa-sensei.
Kuribayashi-san yang tadinya sibuk dengan pekerjaannya akhirnya ikut nimbrung. Ia heran karena Yukawa-sensei yang sangat membenci anak-anak tiba-tiba saja mau menunjukkan percobaan di depan anak-anak.
“Aku punya firasat kalau percobaan itu ada hubungannya dengan kasus ini,” Kishitani menyimpulkan.

Yukawa-sensei beranjak dari kursinya lalu menuju dapur. Ia menuangkan sisa kopi di cangkirnya pada bak cuci, “Mashiba Yoshiyuki meninggal saat meminum kopinya. Saat dia minum kopi di pagi hari, dia baik-baik saja. Jadi racun pasti dimasukkan setelahnya. Dengan kata lain, si pelaku masuk ke rumah meski Yoshiyuki-san ada di rumah dan menambahkan racun ke dalam ceret. Itu yang dipikirkan oleh polisi,” ujar Yukawa-sensei yang diiyakan oleh Kishitani juga. “Tapi aku percaya jika racun itu dimasukkan sejak lama. Seperti bom waktu. Jika aku benar, Mashiba Ayane-san bisa saja membunuh Yoshiyuki-san, suaminya.”
“Istrinya?” Kishitani heran.

“Dia yang mengatakan jika Mashiba Yoshiyuki tidak minum air keran. Dan racun tidak terdetektis di botol air mineral ataupun air yang dimurnikan. Itulah kenapa polisi berpikir jika racun ditambahkan sebelum pembunuhan. Kemudian dengan pergi ke Hokkaido, Mashiba Ayane membuat alibu sempurna. Dia mengarahkanmu agar menyingkirkannya dari daftar kemungkinan tersangka,” ujar Yukawa-sensei persis di depan Kishitani.
“Tapi, bagaimana bom waktu ini bekerja?” desak Kishitani.
“Aku tidak tahu.”
“Lalu kenapa kau mencurigainya?” cecar Kishitani. “Yukawa-sensei, tolong jangan hubungi dia tanpa izinku lagi. Dan berhenti ikut campur dalam investigasi ini. (yang minta Yukawa-sensei ikut campur dulunya siapa sih?). Sekarang ini wanita dengan payung ungu-lah tersangka utamanya.”
Yukawa-sensei lalu mengambil jas lab-nya dan mengenakannya. Ia mengambil setumpuk kertas di meja, “Aku akan melakukan percobaan,” ujarnya lalu keluar dari lab.

Seperti biasa, Ohtagawa mampir ke kediaman Mashiba untuk menyirami bunga-bunga mawar milik Ayane-san. Tapi betapa kagetnya ia saat melihat tanaman dalam salah satu pot malah kering dan mati. Ohtagawa pun memutuskan untuk mengganti tanaman itu, ia kemudian datang ke sebuah toko tanaman. Ponsel Ohtagawa pun berbunyi, dari Kishitani.

Seperti biasa, keduanya berdebat soal investigasi kali ini. Kishitani sendiri masih berkeliling komplek kediaman Mashiba untuk mencari informasi. Ia kesal karena Ohtagawa tidak ada dan tidak mau mengaku ada di mana.

Tapi perhatian Kishitani teralihkan oleh hal lain. Ia melihat seseorang menenteng payung ungu, persis seperti orang yang datang saat kejadian pembunuhan Mashiba Yoshiyuki. Buru-buru Kishitani menutup telepon, mengabaikan protes orang di seberang dan mengikuti wanita itu. Wanita itu rupanya memasukkan selebaran ke kotak pos beberapa rumah, lalu memencet bel pintu dan bicara soal ‘agama’. (sebagain besar orang Jepang tidak percaya agama. Jika pun ada ritual yang mereka lakukan, kebanyakan hanya merupakan budaya saja. Jadi tidak heran jika ada orang seperti ini)

Kishitani lalu mendatangi wanita itu dan membawanya ke depan rumah Mashiba Yoshiyuki. Wanita itu mengakui kalau ia memang pernah datang ke sana sebelumnya. Wanita itu mengaku siang itu dia datang dengan payung karena hari hujan. Dan setelah beberapa kali memencet bel, seorang pria keluar dari rumah. Wanita itu meminta waktu untuk bicara, tapi pemilik rumah, Mashiba Yoshiyuki menolaknya. Apalagi saat itu alarm rumahnya berbunyi. Yoshiyuki-san kemudian masuk lagi.
“Apa yang kau lakukan setelahnya?” tanya Kishitani kemudian.
“Aku kembali ke kantor dengan rekan-rekanku,” akunya.

Kishitani tidak melanjutkan interogasi terhadap wanita tadi. Ia kembali berjalan sambil menelepon seseorang, minta bantuan.
“Nama wanita itu Tazawa Nariko-san, dari kelompok keagamaan Mominoki-kai. Meski dia hanya saksi mata, tolong cek identitasnya juga,” pinta Kishitani.

Klinik ginekologi Kobayashi
“Mashiba Ayane-san? Aku mengingatnya. Dia berjalan ke sini dan mengatakan jika dia ditabrak oleh sepeda. Tapi itu sudah terlalu terlambat. Kami melakukan operasi, tapi karena sudah terlambat, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya,” ujar si perawat.
“Apa dia mengatakan sesuatu soal si penabrak?” tanya Kishitani lagi.
“Kami tidak punya banyak waktu untuk mengobrol,” aku si perawat. Tapi wajahnya berubah ragu. “Tapi … ah, ini tidak ada hubungannya dengan kecelakaan itu.”
“Apa itu? tolong katakan saja,” pinta Kishitani.

Perawat itu menceritakan kalau si suami, Mashiba Yoshiyuki datang ke klinik saat tahu istrinya keguguran. Si suami kemudian menanyakan apa istrinya masih bisa hamil karena sudah berusia di atas 40 tahun. Yoshiyuki-san mengatakan jika istrinya tidak bisa hamil lagi, maka ia akan menceraikan istrinya itu, karena memiliki anak adalah prioritas utamanya. Perawat itu mengatakan karena ia keguguran bukan disebabkan masalah kesehatan, maka kemungkinan untuk hamil lagi tentu masih ada.

Sementara itu, Mashiba Ayane justru sudah kembali disibukkan dengan kegiatan bersama anak-anak pra sekolah. Ia asyik menemani anak-anak itu bermain. Dari menyusun puzzle hingga bermain tebak gambar bersama anak-anak. Tidak tampak kesedihan sama sekali yang tampak di wajah Ayane-san itu.

Setelahnya Kishitani mendatangi kantor milik Mashiba Yoshiyuki-san. Ia bicara dengan beberapa karyawan mengenai Mashiba Yoshiyuki-san.

Karyawan itu mengatakan jika Yoshiyuki-san sangat menginginkan anak. Dia mengatakan jika ia perlu keturunan untuk melanjutkan bisnisnya. Rupanya Yoshiyuki-san punya pengalaman tidak menyenangkan. Orang tuanya meninggal saat ia masih kecil, karenanya ia berharap memiliki keluarga dengan pertalian darah. Sehingga istrinya ikut program rencana hamil.

Kishitani kembali datang ke lab Yukawa-sensei. Kali ini curhat mengenai kasus Yoshiyuki dan entah kenapa, kali ini Yukawa-sensei juga setia mendengarkan.
“Aku tidak mengerti. Meski dia begitu ingin punya keluarga, dia tidak bisa kan menceraikan istrinya hanya karena alasan tidak punya anak,” keluh Kishitani.
“Itu tidak penting. Yang penting sekarang … “ Yukawa-sensei bangun dari kursinya dan tiba-tiba saja menarik kaki Kishitani. “Bagian bawah sepatumu rusak. Aku tidak mau bicara hal buruk soal orang yang sudah mati. Bagi Mashiba Yoshiyuki, wanita tidak lebih dari penghasil anak. Dan setahun pun sudah terlewat. Apa Mashiba Yoshiyuki mengatakan pada dokter jika mereka tidak punya bayi dalam setahun, dia akan menceraikan istrinya itu? Jika Mashiba Ayane-san tidak hamil sekarang, itu artinya dia akan diceraikan,” lanjut Yukawa-sensei.
“Jadi, Ayane-san benar membunuhnya?” Kishitani menyimpulkan.
“Aku menjawab pertanyaanku sendri. Pertanyaanku adalah apa mungkin bagi seseorang memasukkan racun pada minuman tertentu tanpa ia berada di sana. Dan lebih penting, melakukannya tanpa jejak sama sekali. Bisakah kau ajak aku ke TKP sekali lagi?” pinta Yukawa-sensei.

Yukawa-sensei dan Kishitani kembali ke TKP. Sekali lagi, Yukawa-sensei memeriksa ruangan itu. Botol air mineral yang ditemukan di tempat sampah adalah botol terakhir yang tersisa.

“Jika jumlah air yang ada di botol hanya cukup untuk membuat kopi di pagi hari … Mashiba Yoshiyuki menggunakan air dari botol mineral untuk membut kopi pada jam 10 pagi. Dan kopi kedua dibuat menggunakan air yang dimurnikan. Satu-satunya perbedaan antara cangkir pertama dan kedua adalah air yang digunakan,” Yukawa-sensei mengecek kran air di dapur itu. “Karena ini dibuat khusus, jadi tidak akan bisa diberi racun. Alat pemurni air?” Yukawa-sensei kemudian membuka bagian bawah dan mengecek sekali lagi alat di sana.

Kishitani yang tanggap mengambil senter dan menyusul di sebelah Yukawa-sensei. Ia mengatakan jika forensik sudah mengeceknya sebelumnya dan tidak ditemukan bekas racun sama sekali.

Dari arah lain muncul seseorang. Rupanya Ayane-san mampir ke rumah. Ia kaget melihat kedua tamunya ini masih melakukan investigasi. Kishitani minta maaf karena datang tanpa memberitahukan terlebih dahulu. Ayane-san menganggapnya tidak masalah, lagipula ia datang untuk menyirami tanaman mawarnya yang ada di lantai dua.
“Kapan terakhir kali kau mengganti cartridge pemurni air?” tanya Yukawa-sensei. “Biasanya diganti kan sesekali?”

Ayane-san tampak berpikir, “Mungkin saat kami pindah. Kami membeli rumah ini setelah menikah. Karena sudah pernah ditempati, mungkin seseorang sudah menggantinya sebelum kami pindah,” aku Ayane-san.
“Jadi sudah setahun. Kau harus menggantinya lagi. Ada penelitian yang mengatakan jika penyaring lama sudah tidak baik lagi untuk kesehatan,” saran Yukawa-sensei.

 

Ayane-san tersenyum, “Aku akan menjual rumah ini. Ini terlalu besar untukku. Dan aku juga tidak mau tinggal di sini lagi.” Ayane-san lalu mengambil alat penyiram dan mulai mengisi air dari kran.
Yukawa-sensei heran, “Apa kau menggunakan air itu untuk tanamanmu? Apa kau menggunakan air murni?”

Ayane-san terdiam sebentar, “Di atas tidak ada kamar mandi. Karena menyirami tanaman, lebih baik menggunakan air bersih kan. Apa ini aneh?” Ayane-san melihat ke arah Yukawa-sensei. “Yukawa-kun, jangan melihatku dengan wajah menakutkan seperti itu. Atau kau akan merusak kenangan cinta pertamaku.” Ayane-san lalu beranjak naik ke lantai dua.

“Dia tahu kalau kita mencurigainya,” komentar Kishitani setelah Ayane-san pergi.
Yukawa-sensei justru tertarik pada hal lain. Ia kembali melihat hiasan dinding di ruangan itu, sebuah tapestry, “Dia mengatakan menghabiskan setahun untuk membuat tapestry ini kan? Di mana ini membuatnya?”
Kishitani berpikir, “Mungkin di sofa ini. Karyawan Yoshiyuki-san mengatakan jika Ayane-san selalu duduk di sofa membuat tapestry. Dia seperti patung. Dia mengatakan jika suaminya tidak pernah protes.”

Yukawa-sensei duduk di sofa, berpikir, “Dia tidak keluar rumah. Dia selalu berada di sini.” Sigap Yukawa-sensei mengambil sebuah spidol yang ada di ruangan itu. Ia lalu menarik hingga jatuh tapestry yang ada di depannya. Satu per satu fakta terlintas di pikiran Yukawa-sensei. Sementara tangannya sigap menuliskan sederetan rumus di dinding.

Sementara itu di lantai atas, Ayane-san masih asyik menyirami tanaman mawarnya. Ia bergumam pelan, “Kau tidak akan menemukannya, Yukawa-kun. Tidak mungkin kau akan menemukannya,” ujarnya kemudian tersenyum puas.

Ayane-san selesai menyirami tanaman dan kembali ke lantai bawah. Ia heran karena hanya menemukan Yukawa-sensei berdiri menghadap jendela, sementara detektif Kishitani tidak ada di sana. Yukawa-sensei mengatakan jika Kishitani kembali ke markas.
“Jika kau punya waktu, maukah kau keluar denganku?” pinta Yukawa-sensei. (wah diajakin kencan sama Yukawa-sensei? Mauuuuu … )

“Ini Mapusaurus. Dinosaurus bagian keluarga Theropoda yang hidup di periode Cretaceus pada 100 juta tahun yang lalu,” ujar Yukawa-sensei. Rupanya ia mengajak Ayane-san datang ke sebuah museum dinosaurus.
“Aku tidak menyangka kau akan mengajakku ke museum dinosaurus. Kau sama sekali tidak berubah sejak SMP. Kau selalu suka tempat seperti ini. Aku menyukainya juga,” puji Ayane-san.
“Apa kau pernah dengar soal teknik CT-scan fossil?” tanya Yukawa-sensei.
“CT-scan?” Ayane-san menggeleng. “Tulang dinosaurus?”
“Bukan hanya tulang. Tapi seluruh bagian fosil.”
“Bukankah fosil hanya sekumpulan tulang?” bela Ayane-san.
“Kalau kau berpiki begitu, kau terjebak. Sejak lama palaentologis—ahli fosil menggali tanah dan menemukan sekumpulan tulang dinosaurus. Mereka menggali dengan senang. Kemudian mereka membersihkan semua tanahnya, dan merangkainya menjadi rangka ini. Dan mereka menyimpulkan jika dagu Mapusaurus sangat besar dan langannya sangat pendek. Tapi mereka melakukan kesalahan besar. 13 tahun silam, sekelompok penelitia menggali fosil, tanah dan semuanya lalu melakukan CT-scan untuk membut gambaran 3D dari struktur internalnya. Apa kau tahu yang mereka temukan?”
“Kau seperti sedang memberikan kuliah. Aku tidak tahu.”

“Itu jantung. Dengan kata lain, saat mereka menggali dan menemukan sesuatu tidak penting, lalu membuangnya, sebenarnya hal itu adalah bentuk dari organ. Dan sekarang CT-scan menjadi prosedur standar untuk fosil dinosaurus.”
“Sangat menarik,” puji Ayane-san.
“Saat mendengar kisah ini, aku pikir … butuh jutaan tahun untuk menyelesaikannya. Tanah yang dipikir oleh palaentologis sebagai hal tidak berguna sebenarnya bernilai. Hal yang membuat mereka tidak dapat mengenali trik itu adalah … waktu. Tidak akan ada yang menyadari kebenarannya karena trik itu butuh sangat banyak waktu,” Yukawa-sensei menutup penjelasannya.

“Trik? Apa kau bicara soal kasus ini?”
“Ya.”
Ayane-san tersenyum, “Apa kau tahu jika sekolah kita akan ditutup? Mereka akan menghancurkan gedungnya pada akhir tahun ini. Aku ingin melihatnya sekali lagi. Jika aku ke sana, bisakah aku menemukan diriku yang lalu … yang menyukai Yukawa-kun?” Ayane-san bicara lebih pada dirinya sendiri. “Kau harus kembali ke universitas. Aku akan mengajak anak-anak datang ke sini. Terimakasih, Yukawa-kun,” pamit Ayane-san.

Ayane-san pulang ke rumahnya. Ia menyalakan lampu, dan merasa heran melihat coretan tersembul dari belakang tapestry yang ada di dinding. Ayane-san kemudian menurunkan tapestry itu, dan betapa kagetnya ia melihat dindingnya penuh dengan rumus yang ditulis oleh Yukawa-sensei.

“Yukawa-kun…” gumam Ayane-san pelan. Wajahnya menyiratkan kecurigaan.

Seperti biasa, Ohtagawa-san datang ke kediaman Mashiba untuk menyirami tanaman mawar milik Ayane-san. Betapa kagetnya ia saat menemukan tanaman itu kembali kering. Padahal kemarin sudah mengganti tanaman yang kering dengan tanaman baru dan tidak lupa menyiraminya lagi.

Ponsel Ohtagawa-san berbunyi, dari Kishitani. Keduanya kembali bertengkar soal investigasi. Kishitani bahkan menuduh Ohtagawa-san hanya berbelanja dan tidak melakukan investigasi. Tapi Ohtagawa mengelak kalau ia mencari tempat dibelinya racun. Padahal sebenarnya kemarin ia datang ke toko bunga untuk membeli tanaman mawar, yang digunakannya untuk mengganti tanaman mawar miliki Ayane-san yang kering sebelumnya.

Kishitani kembali datang ke lab Yukawa-sensei. Ia kesal karena Yukawa-sensei tidak menjawap teleponnya. Tapi Yukawa-sensei dengan tenang mengabaikan protes Kishitani dan menagih hasil investigasnya.

Kishitani tidak punya pilihan. Ia pun mulai membuka catatannya, “Pertama, di mana Mashiba Ayane membeli air mineral. Aku mendatangi semua supermarket di dekat kediaman mereka dan menemukan tempatnya. Mashiba Ayane meminta mereka mengirim air secara teratur. Berdasarkan catatan, dia mendapat 6 botol dua hari sebelum insiden. Tapi saat Mashiba Yoshiyuki-san ditemukan meninggal, hanya ada sisa satu botol kosong saja. Dua hari tidak cukup untuk menghabiskan itu semua.”
“Kedua?”

“Kedua, di mana Ayane-san datang ke rumah sakit untuk mengikuti treatment kesuburan. Aku menemukan tempatnya. Mashiba Ayane datang ke tempat itu secara teratur, tapi dia tidak datang untuk treatment kesuburan, melainkan sebaliknya. Dokternya mengatakan jika ia diberi pil anti hamil. Artinya ia justru mencegah kehamilan.”
“Dan ketiga?”
“Ketiga. Temukan dan wawancarai orang yang pernah datang ke kediaman Mashiba. Mereka tidak punya banyak teman, kecuali rekan kerjanya. Ayane-san bahkan tidak mengajak rekan-rekannya dari sekolahnya untuk datang ke rumah. Tapi mereka pernah mengadakan pesta sekali bersama para karyawan Yoshiyuki-san.” Ayane-san yang memasak semua makanan untuk para tamu. Ia bahkan tidak mengijinkan para tamu itu membantunya di dapur.

“Baiklah, sekarang aku punya semua syarat untuk membuat hipotesisku,” Yukawa-sensei menyimpulkan. “Tapi ini hanya teori. Seseorang yang berada di Hokkaido membuat jebakan untuk membunuh seseorang yang berada di Tokyo. Aku tidak percaya kalau ini mungkin … “ gumam Yukawa-sensei.

Yukawa-sensei kemudian menggebrak meja dan beranjak bangun dengan wajah kesal. Sementara Kishitani yang berada di depannya mengkeret ketakutan. Yukawa-sensei lalu berjalan ke arah jendela. (adegan di sini, Yukawa-sensei coooooooooooool banget)
“Ada apa, Sensei? Katakan padaku apa yang dilakukan Ayane-san?” cecar Kishitani yang ingin tahu.
“Beri aku waktu sampai besok. Aku akan menjelaskan semuanya besok,” ujar Yukawa-sensei kemudian. (mirip siapa? Mirip sama Enomoto-san. saat orang lain udah tegang penasaran, eh doski dengan entengnya bilang “Aku akan menjelaskannya besok.”)

Kishitani datang ke sekolah milik Mashiba Ayane. Tapi karyawan di sana mengatakan jika Ayane-san tidak datang hari itu. Karyawan menunjukkan kalau Ayane-san mengirimkan pesan pagi itu, bahwa ia akan bepergian di suatu tempat.

Kishitani lalu bergegas ke lab Yukawa-sensei. Di sana pun ia tidak menemukan orang yang dicari. Kishitani hanya menemukan anak-anak sedang mempersiapkan percobaan untuk kuliah Kuribayashi-san yang hari itu menggantikan Yukawa-sensei yang tengah pergi.
“Sensei tidak ada di sini, tapi ia meninggalkan surat untukmu,” ujar salah satu mahasiswa itu. Mereka lalu pergi untuk mempersiapkan kelas.

Kishitani beranjak ke meja Yukawa-sensei. Ia menemukan sebuah amplop dengan tulisan tangan Yukawa-sensei, yang ditujukan padanya.

Untuk Kishitani-kun. Kishitani-kun, meski kemarin aku memintamu untuk menunggu hari ini, situasinya berubah. Karena itu, aku menuliskan hipotesisku tentang pembunuhan Mashiba Yoshiyuki-san di surat ini. Tapi, ini hanya hipotesis bersifat teori. Hanya Mashiba Ayane sendiri yang tahu apa hipotisku ini benar-benar terjadi.
“Hanya dia yang tahu? Apa artinya ini?” gumam Kishitani. Ia melirik pada lembaran kertas berikutnya. Kishitani mencoba menghubungi Yukawa-sensei, tapi tidak ada jawaban.

Yukawa-sensei rupanya naik taksi. Ia menuju sebuah desa, kemudian tiba di sebuah sekolah yang tampak lama dan sepi. Yukawa-sensei menuju sebuah lab yang ada di sana. Rupanya Ayane-san sudah menunggu di sana.
“Sudah 27 tahun. Terimakasih sudah datang, Yukawa-kun,” sambut Ayane-san.
“Ini bukan gayaku untuk mengingat masa lalu,” ujar Yukawa sensei. “Ini tempat pertama yang membuatku tertarik pada sains. Aku ingin datang ke sini sebelum ini dihancurkan. Dan karena aku ilmuwan, aku tidak bisa berhenti untuk mencari kebenaran.”
“Kebenaran?” Ayane-san heran.
“Aku akan mengatakan hipotesisku. Jika ada yang keliru, tolong katakan,” pinta Yukawa-sensei.
“Cerita yang panjang kan?” Ayane tersenyum saat mendengar ‘iya’ dari Yukawa-sensei. Ia pun beranjak dari sisi jendela ke tengah ruangan. “Kita hanya berdua di ruang sains. Jika ini terjadi saat kita masih SMP, aku pasti akan tegang. Kau sama sekali tidak tertarik padaku kan? Aku tahu itu. Dulu, kau adalah anak pindahan misterius yang tertarik pada sains. Kau bisa mulai sekarang.”

“Kau bertemu Mashiba Yoshiyuki tahun lalu, hamil dan kemudian menikah. Tapi, kau kehilangan bayimu karena sebuah kecelakaan. Awalnya, polisi berpikir jika pelaku pada kecelakaan itu adalah orang yang sama yang membunuh Yoshiyuki, dan itu karena mereka ingin balas dendam padamu. Tapi, itu hanya sebuah insiden yang disesalkan. Sebagai hasilnya, kau dikagetkan oleh dua hal. Pertama karena keguguran. Kedua karena mengetahui apa yang dipikirkan suamimu. Mashiba Yoshiyuki berpikir pernikahannya … hanya karena ingin punya anak yang mewarisi gen-nya.”
Ayane-san tidak menyangkal sama sekali cerita Yukawa-sensei itu.

“Jika kita tidak punya bayi dalam setahun, aku akan menceraikanmu. Itu yang dia katakan padamu setelah kecelakaan kan?” Yukawa-sensei dan Ayane-san berjalan keluar dari ruang sains. “Tidak ada orang yang tenang saat diberitahu hal itu. Cinta pun berubah menjadi kebencian. Meski aku tidak tahu banyak soal perasaan, aku bisa membayangkannya. Tapi, kau tetap tenang. Kau tidak marah atau mencoba balas dendam padanya waktu itu. Tapi kau memberikan Yoshiyuki a reprieve—penangguhan hukuman. Kau menunda kematiannya selama setahun.”
“Menunda kematiannya?” gumam Ayane-san.

Flash back
Ayane-san mengenakan sarung tangan dan juga penutup wajah. Ia lalu membuka alat pemurni air yang berada di bagian bawah kran. Ia meletakkan sebuah saringan plastik di sana, kemudian mengambil sesendok kecil racun arsenik dari sebuah botol. Pelan dan dengan tangan gemetar,Ayane-san meletakkan racun itu di atas saringan plastik tadi.

“Setelah kau berjanji dengan suamimu (janji bercerai jika tidak punya anak setelah satu tahun), kau meletakkan racun ke saringan alat pemurni air. Kau meletakkan racun secukupnya yang bisa membunuh suamimu saat dia menggunakannya untuk membuat segelas kopi. Setelah itu, kau tidak pernah menggunakan air murni lagi,” lanjut Yukawa-sensei.

“Kau bahkan meminta para karyawanmu untuk mengurus sekolah dan kau sendiri jadi ibu rumah tangga. Karena kau harus selalu memperhatikan target (Yoshiyuki). Kau selalu duduk di sofa dan memperhatikan dapur saat Yoshiyuki ada di rumah. Kau tidak pernah mengijinkannya masuk ke dapur. Meski ada tamu, kau tidak mengijinkan siapapun untuk menggunakan air murni. Meski kau tidur, kau tetap mengamati Yoshiyuki. Dengan cara itu, kau bisa mencegah Yoshiyuki dari menggunakan air murni sepanjang tahun. Itu penangguhan hukuman yang kau berikan padanya.”

“Dan satu tahun kemudian, Yoshiyuki menagih janji untuk bercerai, karenanya kau mengeksekusi hukumannya. Kau tidak melakukan apapun untuk menangguhkan hukuman itu lagi. Kau meninggalkan Yoshiyuki sendirian di rumah dan pergi ke Hokkaido. Itu yang kau lakukan. Kau hanya melakukan satu hal,” lanjut Yukawa-sensei.

Flash back
Malam itu Ayane membuang semua sisa air mineral yang masih ada di botol. Ia hanya menyisakan air mineral yang cukup untuk membuat secangkir kopi dan menyimpannya di dalam lemari es.
“Kenapa kau melakukan itu?” pertanyaan yang dijawab sendiri juga oleh Yukawa-sensei. “Kau butuh waktu untuk meninggalkan Tokyo. Jika kau tidak ada di Hokkaido sementara jasad Yoshiyuki ditemukan, kau tidak akan punya alibi. Setelahnya, semua berjalan sesuai rencanamu. Pada jam 10 pagi, Yoshiyuki menggunakan sisa air mineral untuk membuat kopi.”
Flash back ...




Setelah Ayane pergi, Yoshiyuki membuat kopi pertama dengan sisa air yang ada di botol air mineral. Air itu aman. Saat Ayane tiba di Hokkaido, Yoshiyuki membuat cangkir kopi keduanya. Karena ia sangat peduli dengan kesehatan, otomatis ia menggunakan air yang dimurnikan. Ia kemudian mengganti penyaring kopi di pagi hari, lalu membuat kopi kedua. Setelahnya Yoshiyuki meminum kopi keduanya itu sambil membaca surat yang didapatnya. Tiba-tiba tenggorokkannya terasa tercekik. Yoshiyuki menjatuhkan cangkir kopinya lalu ambruk ke lantai, dan sebentar kemudian tidak bergerak lagi.

“Akhirnya, jebakan racun yang kau rancang setahun silam, mendapatkan korbannya. Ini hopotesisku,” ujar Yukawa-sensei yang sekarang bersama Ayane-san duduk di bangku yang ada di depan sekolah mereka itu. “Jika hipotesisku benar, dan kau melakukan kejahatan ini, kau pasti sangat dendam padanya.”
“Itu benar,” Ayane-san sama sekali tidak mengelak.
“Dan lagi, tidak akan ada yang menemukan bukti dari trik yang kau gunakan sejak lama. Seperti rencanamu, saat kejahatan terselesaikan, semua bukti juga lenyap pada saat yang sama. Aku tidak bisa membuktikan hipotesisku. Menyesal sekali, hipotesis yang tidak bisa dibuktikan tidak dapat disebut sebagai sebuah kebenaran.”

Ayane-san menarik nafas panjang, ia menatap ke arah langit, “Mengagetkan sekali. Ini sama seperti lebih dari 20 tahun silam. Berada di dekatmu selalu membuatku tegang. Kau benar-benar jenius. Kau juga sangat cerdas. Aku tidak berpikir kalau trikku bisa terpecahkan.” Ayane-san berpaling ke arah Yukawa-sensei sambil tersenyum penuh kemenangan.

Sementara itu, setelah membaca isi surat dari Yukawa-sensei, Kishitani berlari ke kediaman Mashiba. Dengan kalap ia memeriksa seisi dapur, mencari sesuatu yang bisa dijadikan bukti untuk menangkap Ayane-san. Tapi berkali-kali pun ia mencari, membongkar satu tempat ke tempat lain, ia tetap tidak menemukan apapun.

Kishitani menyerah dan akhirnya berdiri memandangi tapestry yang ada di ruangan itu, “Hipotes apa? Hipotesis yang tidak dapat dibuktikan oleh siapapun. Mungkin itu cukup bagi ilmuwan, tapi tidak bagi kami (polisi),” air mata pun membasahi pipi Kishitani. (ibarat kebenaran ada di depan mata, tapi ga tau gimana jara jelasinnya. sakiiiiit)
“Kishitani, kau menangis?” Ohtagawa yang baru saja datang heran melihat Kishitani yang menangis sambil memandangi tapestry di ruangan itu.
“Ohtagawa-san,” Kishitani berpaling.
“San?” Ohtagawa heran bukan kepalang. Baru pertama kalinya Kishitani bicara dengan sopan padanya.
“Apa kita tidak berguna? Tidakkah ada yang bisa kita lakukan?” rengek Kishitani.
“Kau bicara dengan sopan?” Ohtagawa tambah heran. (Kishitani menggunakan bahasa baku atau tidak kasual)
“Meski kita tahu kebenarannya, kita tidak bisa menemukan bukti apapun. Aku frustasi. Apa yang harus kulakukan? Kenapa aku jadi polisi? Katakan padaku, kau kan seniorku!” rengek Kishitani lagi. Tapi kali ini perhatiannya teralihkan melihat Ohtagawa yang ternyata datang sambil menenteng plastik penuh tanaman.

Kembali ke Yukawa-sensei dan Ayane-san.
“Kau luar biasa. Tapi hipotesismu tidak sempurna. Aku memberimu nilai 95 dari 100,” ujar Ayane-san.
“Apa kau akan memberikanku 5 point sisanya jika aku mengatakan padamu kenapa kau memberikan setahun penangguhan hukuman padanya?” tawar Yukawa-sensei.
“Benar. Kau belum menjelaskan bagian itu.”
“Pengampunan. Kau mengatakan padaku jika membutuhkan waktu yang lama untuk mengampuni seseorang,” jawab Yukawa-sensei.
“Setiap orang bisa mengampuni dirinya sendiri. Aku yakin … aku tidak dapat memaafkannya. Tapi aku mencintainya. Meski setelah apa yang dia lakukan. Jika dia menyadari kesalahannya, aku akan memaafkannya. Kami adalah pasangan yang bahagia. Aku adalah istri yang baik. Aku selalu memberinya senyuman, membuatkan makanan enak dan menjadikannya prioritas utama.

Flash back
Selama bersama, Yoshiyuki dan Ayane banyak memiliki moment menyenangkan. Mereka liburan di Singapura. Ayane-san selalu memasakkan makanan enak untuk suaminya itu. Bahkan mereka dengan kompak merawat kebun mawar bersama, meski awalnya Ayane-san sangat membenci mawar.

“Kami memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia. Jika saja dia mengatakan jika dia tidak menginginkan anak lagi, dan hanya aku yang diinginkannya … “
“Kau tidak akan menghukumnya,” sambung Yukawa-sensei.

Flash back ..
Malam itu seperti biasa, Ayane dan Yoshiyuki makan malam bersama. Tapi Yoshiyuki tiba-tiba saja menagih janji Ayane, jika ia tidak dapat memberikannya anak, maka mereka akan bercerai. Bahkan saat Ayane bertanya apa masih ada cinta, Yoshiyuki mengatakan iya, tapi masalah anak tetap tidak dapat diganggung gugat.

“Pada saat itu, penangguhannya berakhir. Sampai akhir, dia hanya menganggapku sebagai penghasil anak. Apa yang terjadi hari itu seperti hipotesismu.

Flash back
Malam itu, Ayane-san terbangun. Dia menatap suaminya yang masih tertidur di sebelahnya. Ayane beranjak ke dapur. Ia mengambil semua persediaan air mineral yang ada, lalu membuang semuanya. Ayane hanya menyisakan sedikit air dari botol terakhir yang ia taruh di dalam lemari es.

Paginya, Ayane pamit untuk pergi ke Hokkaido agar bisa mengunjungi ayahnya. Ia juga berniat menyampaikan rencana perceraiannya itu pada ayahnya. Ayane mengingatkan suaminya untuk memasang alarm sistem keamanan selama suaminya berada di rumah. Dari pagi itu, jadi waktu terakhir Ayane bertemu dengan suaminya dalam keadaan hidup. Setelahnya ia melekukan perjalanan ke Hokkaido sambil menarik nafas lega.

“Tidak penting membuktikan kebenaran,” Ayane-san beranjak bangun dari duduknya dan mulai berjalan. “Dunia ini penuh dengan ketidakpastian. Sama dengan fosil dinosaurus di museum. Mereka tidak tahu jika dinosaurus punya jantung. Mereka juga tidak tahu warna dari tubuh Maposaurus kan? Tapi tidak masalah. Karena tidak ada yang akan peduli dengan hal seperti itu.”
“Suatu hari mungkin akan ada yang mengetahuinya. Ilmuwan bukan satu-satunya yang mencoba membuktikan kebenaran. Polisi juga sama. Aku pikir polisi Jepang bisa diandalkan. Kishitani-kun salah satunya. Jangan remehkan dia. Dia pasti bisa membuktikan kejahatanmu,” ujar Yukawa-sensei. (cieeee … Yukawa-sensei memuji Kishitani. Wah kalau orangnya denger, dia pasti seneng banget nih)
“Suatu saat … “ tawa Ayane-san meremehkan. “Cukup. Aku tidak mau lagi mendengar ucapanmu. Semua berakhir. Jaga diri. Aku lega bertemu denganmu lagi,” Ayane-san pamit dan mulai beranjak pergi.

Ponsel Yukawa-sensei berbunyi. Rupanya dari Kishitani, “Ada apa Kishitani-kun?”
“Mawarnya kering. Hanya satu pot mawar yang kering di lantai dua kediaman Mashiba. Meski rekanku mengganti dengan mawar baru dari toko bunga berkali-kali, itu tetap kering. Kau baru ingat, saat Mashiba Ayane pulang di hari kejadian, dia menyirami mawar-mawar di lantai dua ini,” cerita Kishitani.
“Menyirami mawar?” Yukawa-sensei heran.
“Dia menggunakan air dari keran dapur. Saat itu aku tidak mengecek apa dia menggunakan air biasa atau air yang dimurnikan. Tapi saat dia menggunakan air keran di depanmu, dia pasti menggunakan air murni juga waktu itu. Itu adalah trik terakhirnya.”
“Aku mengerti,” Yukawa-sensei tersenyum lega.
“Dia membuat jebakan racun di dalam pemurni air dan meninggalkan rumah. Seperti rencananya, Mashiba Yoshiyuki meninggal karena meminum air beracun. Tapi itu belum selesai. Karena mungkin saja masih ada racun yang tersisa di pemurni air. Itulah kenapa dia menyirami mawar. Dia mengeluarkan sisa racun dari dalam pemurni air ke dalam alat penyiram tanaman. Dengan kata lain, Mashiba Ayane mencoba menghancurkan bukti di depan kita,” lanjut Kishitani. “Jika racun arsen ini terdeteksi di tanah, itu akan jadi bukti sempurna.”
“Kesimpulanmu seperti tepat,” komentar Yukawa-sensei.

Dipuji oleh Yukawa-sensei, Kishitani tidak kalah girang, “Kerja bagus, Ohtagawa-san!” ujarnya senang. “Kerja bagus!” Kishitani tanpa ragu menghambur ke arah Ohtagawa dan memeluknya.

Mengetahui Yukawa-sensei mendapat telepon, Ayane-san berbalik.
“Apa kau tahu, jika mawar-mawarmu kering? Dan kau pasti tahu kenapa. Kau ingat apa yang kukatakan di gereja? Tuhan menyelamatkan/mengampuni semua orang. Karena itu … “
“… si pelaku yang membunuh suamimu juga akan diampuni,” sambung Ayane-san.
“Masih belum terlambat. Kau harus menyerahkan diri pada polisi. Untuk menebus dosamu … itu untuk mengampuni dirimu sendiri,” saran Yukawa-sensei. Ia sendiri lalu beranjak pergi meninggalkan Ayane-san yang masih mematung sendirian.


Meski kasus sudah selesai, Kishitani tetap datang ke lab Yukawa-sensei. Kali ini ia menceritakan perkembangan kasus terakhir itu. Racun terbukti ditemukan di tanah, dan Mashiba Ayane mengakui semuanya.

Sementara Yukawa-sensei asyik mempersiapkan percobaan, kedua orang ini mulai bertengkar seperti biasa. Apalagi saat Kishitani memanggil Kuribayashi dengan sebutan Kuri-chan (Kuri-chan biasa diberikan sebagai nama anjing).
“Tolong minggir dari meja. Ini percobaan untuk mengoreksi orbit satelit,” ujar Yukawa-sensei.
Kedua orang tadi pun menyingkir dari meja. Yukawa-sensei mengambil salah satu bola logam, dan bersiap meluncurkannya dari sudut meja. Dan … bola itu meluncur sempurna, memantul berbelok hingga akhirnya kembali ke posisi semula … dengan presisi dan tepat. Sempurna.
“Aku mengerti. Jadi alasan kau sering datang ke sini adalah untuk menemui Kuribayashi-san,” komentar Yukawa-sensei kemudian.

“Tidak!” elak Kishitani cepat. “Aku mungkin akan mulai menangis saat kau membully-ku, tapi itu tidak akan terjadi lagi. Aku punya pola-Yukawa-sensei di otakku sekarang,” pancing Kishitani. Kishitani mulai presentasinya. “Semalam Tokyo berawan kan? Dan ada petir juga. Pada pukul 2.20 semalam, seorang siswa melihat pria terkena petir di Kamata, Ohta-ku, dan langsung meninggal. 22 menit kemudian, pada pukul 2.42, seorang pria tersengat petir di Ohsaki, Shinagawa-ku dan meninggal. Dan enam menit kemudian, dua pria meninggal tersengat petir di Ikegami, Ohta-ku.”


“Itu cuma kebetulan,” komentar Kuribayashi-san.
“Empat lelaki ini berasal dari grup Yakuza yang sama. Mereka kehawatir akan serangan dari kelompok saingan. Dengan kata lain, pembunuhan dengan petir. Menurutmu, apa mungkin seseorang mengendalikan petir?”

 

“Itu tidak mungkin,” elak Kuribayashi-san cepat.
“Tidak mungkin?” seperti perkiraan Kishitani, Yukawa-sensei memulai kuliahnya, “Pada abad ke-18, Benjamin Franklin membuat percobaan petir dengan menerbangkan layang-layang saat badai. (kalau yang pernah nonton film Journey to the Future pasti tahu adegan ini). Itu berarti untuk memanggil petir. Dengan kata lain, secara teoritis bisa mengontrol petir untuk membunuh seseorang.”
“Benarkah?” Kishitani semakin bersemangat.


Yukawa-sensei beranjak ke dapurnya dan mulai menyeduh kopi, “Menggunakan roket kecil untuk menarik petir, menggunakan radiasi laser, menggunakan jet air, menggunakan menara berpijar, menggunakan berkas partikel, menggunakan, kereta luncur. Tapi tidak ada satupun yang sukses. Tapi, mungkin saja ada seseorang yang sudah berhasil di suatu tempat. Kekuatan sengatan petir mencapai milyaran volt. Jika terkena manusia akan langsung meninggal. Dari 2000 meter di atas langit, seseorang membidik seseorang dan membunuh mereka dengan sengatan petir …
“Bagaimana?”
Yukawa-sensei menyesap kopinya, “Aku tidak tahu.”
“Dengan kata lain … “ sambung Kishitani.
“Ini sangat menarik,” Yukawa-sensei tersenyum.

==THE END==

Kelana’s comment:
Huaaaaaaa ….!!! akhirnya tamat juga sodara-sodara. Kelana pasti akan merindukan Yukawa-sensei lagi. Masih menunggu sub untuk movienya yang berjudul ‘Galileo – Midsummer Formula’ yang belum muncul juga.

Sebenarnya, Kelana sudah lama ngerti kalau Yukawa-sensei alias om Fukuyama Masaharu itu aslinya penyanyi, tapi baru kemarin Kelana berburu lagu dan beberapa videonya. Dan … tada … berasa seperti melihat sisi lain Yukawa-sensei. Biasanya kan melihat sosok cool-dingin-kaku Yukawa-sensei di sini. Tapi ternyata di video klip, om Fuku bisa keliatan kawaiii juga lho. Apalagi di waktu rambutnya masih dipotong pendek gto, wah … cakepnya alamaaaak. Klo gondrong dikit, masih keren. Apalagi waktu nyanyi sambil pegang gitar. Kekeke … awas lho kecantol pesona Yukawa-sensei kemana-mana.

Oh ya, soal menerbangkan layang-layang di cerita di atas, memang ada adegannya sendiri. Kalau yang pernah nonton film lawas ‘Journey to the Future’ pertama, pasti tau adegan itu. Saat itu tokoh sang profesor menerbangkan layang-layang di saat badai untuk menangkap listrik yang akan digunakan untuk menghidupkan mesin untuk melompat waktu. Cerita mengenai perjalanan waktu yang berasal dari buku ini merupakan salah satu karya sastra di awal abad 19 yang cukup terkenal dan menginspirasi banyak buku dan film. Kelana lupa judul bukunya, apa sama dengan judul movie ini ya? hehe … nanti deh Kelana cari dulu. Yang jelas buku ini adalah cikal bakal munculnya banyak buku fiksi-ilmiah modern. 

Ari :  Akhirnya kelar juga, dorama yang membuat kita jadi lebih mengetahui hal2 yang berbau fisika, om Fuku yang kharisma bersinar begitu menjelaskan hipotesa membikin doki2, sankyu buat Kelana, Ima dan semua reader yang setia membaca sinopsis ini.

Sampai jumpa di sinopsis lainnya ^_^

Written by Kelana [Blog|FB|Twitter]
captured images by +ari airi 
Posted only on pelangidrama.net
DON’T REPOST TO ANOTHER SITE/FP FB!!!
thanks for reading with us ^^
 

[Sinopsis J-Drama] Galileo season 2 episode 10

Sinopsis Galileo season 2 episode 10
~Sinopsis Galileo season 2 episode 10~
Redemption – Penebusan (Part 1)

Seorang pria tampak tengah menyeduh kopi. Tahu jika botol air mineralnya telah kosong, ia lalu membuang benda itu ke tempat sampah. Pria tadi, dengan cincin melingkar di jari manis sebelah kirinya. Ia lalu membawa cangkir kopi lalu duduk di kursinya. Ia bicara lewat monitor di depannya, “Apa ada lagi yang perlu dilaporkan?” tanya si pria tadi yang merupakan presdir M-System, Mashiba Yoshiyuki.
“Tidak ada,” jawab karyawan di seberang sana.
“Kalau begitu hubungi aku lagi sekitar jam 4 sore nanti. Tapi kalau ada hal mendesak, langsung hubungi aku,” Yoshiyuki-san mengakhiri pembicaraan dan menutup monitornya.

Yoshiyuki-san kembali ke dapur. Ia melihat tumpukan surat yang dialamatkan padanya, lalu ke arah luar rumah yang ternyata tengah turun hujan. Setelahnya terdengar suara bel pintu. Yoshiyuki-san memeriksanya dari monitor, tampak seorang wanita dengan payung warna ungu muda totol-totol, tapi wajahnya tidak jelas terlihat.

Beberapa wanita tampak sedang mengobrol sambil makan malam di sebuah restoran. Mereka membicarakan ayah dari Mashiba Ayane yang jatuh dan meminta putrinya untuk datang. Ayane-san merasa lega karena ayahnya ternyata tidak mengalami luka yang serius. Setelahnya para wanita itu membicarakan soal pernikahan Ayane-san dengan Mashiba Yoshiyuki. Ia belum lama menikah tapi tidak mengadakan pesta. Ayane membantah jika tampak aneh mengenakan baju pengantin di usia lewat 40 tahun. Tapi teman-teman Ayane-san tampak memujinya, karena menikah dengan pria baik dan kaya. Dan saat ditanya soal anak, Ayane-san mengelak jika sudah terlalu terlambat untuk punya anak di usia seperti ini.

Obrolan berubah pada insiden yang belum lama terjadi (episode 9), tentang ‘si tangan iblis’. Muncul nama Profesor Y dari Universitas T. Rupanya para wanita ini adalah teman satu sekolah Yukawa-sensei saat masih SMP. Mereka membahas Yukawa-sensei yang sudah mengajar dan menjadi profesor tamu di Universitas Teito. Bahkan membantu polisi memecahkan kasus yang sulit.

Obrolan para wanita itu terhenti saat ponsel Ayane-san berbunyi. Ia pun lalu mengangkatnya. Rupanya itu telepon dari salah satu staf di M-System, perusahaan suaminya yang menanyakan keberadaan Yoshiyuki-san karena tidak dapat dihubungi.

Kishitani dan rekannya Ohtagawa-san menjemput Ayane-san. Mereka menceritakan jika suaminya, Mashiba Yoshiyuki ditemukan meninggal di dapur.
“Aku meminta mereka (sistem keamanan) untuk mengeceknya, karena dia tidak menjawab ponselnya,” cerita Ayane-san dari kursi belakang.
“Jasadnya akan diotopsi. Penyebab kematian masih belum diketahui,” ujar Kishitani.
“Bisakah aku melihatnya?” pinta Ayane-san.
“Sepertinya belum. Bisa anda ikut ke kantor polisi Kaizuka-Kita, ada yang perlu anda ceritakan pada kami.”
“Bisakah aku pulang ke rumah dulu? Aku masih belum yakin ini mimpi atau kenyataan,” pinta Ayane-san lagi. Kishitani akhirnya menyetujui permintaan Ayane-san. Ia memindahkan jalur mobilnya dan menuju kediaman pasangan Mashiba.

Mereka pun masuk ke dalam rumah. Ayane-san dibuat syok dengan keadaan rumahnya sendiri. Ada garis putih masih melingkar di bekas tempat jasad Yoshiyuki-san ditemukan, tapi jasadnya sudah tidak ada di sana. Ayane-san syok lalu duduk di kursi. Sementara di seisi rumah, tampak para polisi dan tim forensik sedang memeriksa sekeliling.

Kishitani menjelaskan jika semuanya masih dianalisis oleh tim forensik. Ia pun menunjukkan foto-foto yang sudah diambil tim forensik. Cangkir kopi yang pecah, penyaring kopi yang sudah digunakan, satu di bak cuci dan satunya lagi di pembuat kopi. Lalu ada botol kopi, botol air mineral di tempat sampah dan ceret. Ayane-san mengakui jika mengenal semua barang-barang itu sebagai miliknya.

Karena merasa tidak nyaman, Ayane-san akhirnya memilih tinggal di hotel selama polisi masih berada di rumahnya untuk melakukan investigasi. Tapi sebelumnya Ayane-san minta izin untuk menyirami tanaman di lantai atas. Ia pun mengambil alat penyiram tanaman dan mengambil air dari kran. Ayane-san mengatakan jika di lantai atas mereka tidak punya kamar mandi sehingga harus mengambil air dari bawah.

Ayane-san beranjak ke lantai dua dan mulai menyirami tanaman mawarnya.
Dari belakang Kishitani menyusul, “Cantik sekali,” pujinya.
Ayane-san terus menyirami tanamannya, “Suamiku sangat menyukai bunga-bunga ini.” Ayane-san menumpahkan air yang dibawanya ke pot, “Kenapa … kenapa hal buruk ini terjadi padaku?” Ayane-san terduduk di lantai tidak dapat lagi menahan air matanya.
“Ayane-san,” Kishitani hanya bisa mengelus-elus punggung wanita itu, mencoba menenangkan.

Seperti biasa, Kishitani berkunjung ke lab Yukawa-sensei. Ia heran melihat Yukawa-sensei kali ini membuat kopi dengan alat pembuat kopi, dan tidak menyeduh kopi instan seperti biasanya.
“Aku memang turnamen badminton dan mendapat alat pembuat kopi ini sebagai hadiah. Ternyata ini lebih cocok dari perkiraanku, dan lebih ekonomis juga,” Yukawa-sensei menyesap kopinya. Tapi bagi Yukawa-sensei, tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan rasa kopi instan.

Dan tanpa diminta, Kishitani mulai presentasi soal kasus yang terjadi. Pembunuhan terhadap seorang presdir perusahaan, Mashiba Yoshiyuki (43) karena meminum kopi beracun. Racun yang digunakan adalah sodium arsenida (terkenal sebagai arsenik). Kali ini Kuribayashi-san mulai tertarik, Kuribayashi-san beranggapan jika itu adalah pembunuhan berencana.
“Kau sengaja mencari kesempatan untuk menjelaskan soal kasusmu kan? Tapi ini tidak ada hubungannya dengan fisika!” protes Yukawa-sensei kemudian meletakkan cangkir kopinya dan mulai asyik dengan peralatan eksperimennya.

Tapi bukan Kishitani kalau menyerah begitu saja. Ia justru terus saja bicara, “Istrinya ada di Hokkaido saat kejadian. Dan korban, Mashiba Yoshiyuki ada di rumah sendirian.” Meski sudah diusir oleh Kuribayashi-san, Kishitani maju terus. “Sampai jam 10 paginya, Yoshiyuki-san masih sehat. Karyawannya melihat dia melalui web-cam saat rapat paginya. Waktu itu Yoshiyuki-san minum kopi. Menurut laporan forensik, racun terdeteksi di kopi yang tumpah di lantai, tentu saja di cangkirnya. Racun juga terdeteksi di penyaring kopi yang ada di dekat bak cuci dan juga ceret. Tapi racun tidak terdeteksi di penyaring kopi yang ada di bak cuci atau botol air mineral yang ditemukan di tempat sampah.” Kishitani mengambil benda-benda dari dapur dan mulai menjejerkannya di meja, seolah mendemontrasikan apa yang baru saja dijelaskanya.

Kishitani terus bicara, “Yoshiyuki-san mungkin membuat kopi dengan penyaring di pagi harinya dan membuat kopi dengan penyaring satunya pada sore hari. Dengan kata lain, racun ditambahkan antara cangkir kopi pertama dengan cangkir kopi kedua. Paling mungkin, seseorang meletakkan racunnya di ceret. Karena racun tidak ditemukan di botol air mineral atau keran air, maka ini kemungkinan paling logis.” Hanya Kuribayashi-san yang setia mendengarkan ucapan Kishitani.

Yukawa-sensei tetap mengabaikannya dan asyik dengan peralatannya sendiri, “Seperti perkiraanku, ini tidak ada hubungannya dengan fisika.” Tapi Kishitani tetap keras kepala, “Meski korban ada di rumah, si pelaku bisa meletakkan racun di dalam ceret. Itu yang tidak mungkin!”
“Pencuri bisa masuk meski ada orang di rumah,” Yukawa-sensei akhirnya berkomentar. Yang diiyakan juga oleh Kuribayashi-san soal pengalamannya.
“Itu tidak mungkin terjadi di kediaman Mashiba!” elak Kishitani. “Rumahnya dilindungi oleh sistem keamanan rumah.”
“Baiklah, tapi ini tidak ada hubungannya dengan fisika,” Yukawa-sensei terus berusaha mengusir detektif keras kepala satu ini.

“Ok, ok. Sekarang kita sampai pada bagian utamanya,” lanjut Kishitani. Ia mengatakan jika ada yang datang antara pukul 10 pagi hingga 4 sore. Kishitani menunjukkan foto wanita dengan payung ungu polkadot, tapi tidak jelas wajahnya. Wanita itu mendatangi kediaman Mashiba Yoshiyuki pada pukul 2 lewat 4 menit. Saat itu alarm berbunyi. Yoshiyuki menghubungi sistem keamanan rumah dan mengatakan tidak ada masalah, ia hanya lupa mematikan alarm saat membuat pintu. Hal itu biasa terjadi, sehingga sistem keamanan tidak mengirim orang untuk mengeceknya. Pada jam 4 sore, karyawannya tidak dapat menghubungi Yoshiyuki-san di rumah, mereka pun menghubungi istrinya, Ayane-san yang berada di Hokkaido. Ayane-san lalu menghubungi sistem keamanan dan meminta mereka memeriksa rumahnya. Saat itu jasad Yoshiyuki ditemukan.
“Jadi, orang dengan payung polkadot ini yang paling mencurigakan,” komentar Kuribayashi-san
“Ini sangat menarik,” puji Yukawa-sensei. Tapi kalimat setelahnya benar-benar menjatuhkan, “Dan itu presentasi luar biasa. Meski aku sudah mengatakan ini tidak ada hubungannya dengan fisika, kau tetap saja menjelaskan detail investigasi, membuat hipotesis dan akhirnya sampai pada kesimpulan TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN FISIKA. Ini disebut … super presentasi. Aku sama sekali tidak tertarik!”

Kuribayashi-san kembali mengusir Kishitani dan mengatakan kalau ia hanya perlu mencari wanita dengan payung ungu polkadot sebagai tersangkanya, tapi Kishitani berkeras bertahan.

“Meski memang ini tidak ada hubungannya dengan fisika, tapi ini ada hubungannya dengan Yukawa-sensei. Lihat foto ini,” Kishitani menunjukkan sebuah foto pada Yukawa-sensei. “Wanita yang berada di samping korban, Mashiba Yoshiyuki, dia istrinya. Dan dia adalah teman sekelasmu. Saat ini namanya adalah Mashiba Ayane, tapi nama lahirnya adalah Mita Ayane-san. dia teman sekelasmu kan saat di Hokkaido? Dari SMP.”

Yukawa-sensei mengambil foto itu dan memandangi Ayane yang ada di sana, “Mita Ayane … “
“Himawari-Kai?” Kishitani heran melihat brosur sekolah yang diberikan rekannya, Ohtagawa-san.
“Itu adalah pra-sekolah yang dimiliki Mashiba Ayane-san,” cerita Ohtagawa. “Tapi sejak tahun lalu, setelah dia menikah, dia menjadi ibu rumah tangga dan karyawannya yang menjalankan sekolah itu. Aku dengar Ayane-san sangat menyukai anak-anak. Tapi dia tidak bisa punya anak dan sekarang suaminya meninggal … “

Kali ini Kishitani dibuat terkesan oleh usaha Ohtagawa-san untuk mencari info soal Ayane-san. Dan yang lebih mengagetkan lagi, Ohtagawa-san mengaku datang dan menyirami tanaman milik Ayane-san selagi si pemilik rumah tidak ada di rumahnya.

Ayane-san berada di Gereja. Ia menerima tamu yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir pada suaminya yang meninggal itu. Saat semua tamu sudah pergi, Ayane-san duduk sendirian. Ia teringat pembicaraan dengan suaminya beberapa waktu silam.
“Ayane, kau ingat janji kita kan?” tanya Yoshiyuki-san.

Dari arah lain datang seorang lagi. Pria itu masuk ke dalam Gereja lalu memberikan penghormatan terakhir pada Yoshiyuki-san. Ayane-san merasa heran karena ia tidak mengenal pria tadi.

“Mita Ayane-san. Bukan…Mashiba Ayane-san. Aku turut berduka cita,” ujar pria berjas itu.
Ayane-san terkejut melihat orang di depannya. Ia terdiam sebentar sebelum mengucapkan namanya, “Yukawa-kun?”
“26…Ini sudah lebih dari 27 tahun kan?” ujar Yukawa-sensei setelah keduanya duduk di kursi bagian belakang Gereja.

 

“Kau sama sekali tidak berubah, Yukawa-kun,” puji Ayane-san. “Apa kau benar mengingatku? Kau langsung pergi ke Tokyo setelah lulus SMP.”
“Aku tidak pernah melupakan wajah wanita cantik,” jawab Yukawa-sensei. (ihirrrrr
“Ayolah!” Ayane-san menanggapi ucapan Yukawa-sensei tidak serius. “Kau bahkan sama sekali tidak pernah memperhatikanku waktu itu.”

“Sejujurnya, aku lupa padamu sampai polisi menunjukkan fotomu padaku. Kadang aku membantu polisi menyelesaikan kasus,” cerita Yukawa-sensei.
“Aku pernah mendengar hal itu. Tapi, apa kasus suamiku ini butuh bantuanmu juga?”
“Kali ini polisi minta bantuanku lebih dari biasanya. Suami temanku meninggal secara misterius. Mungkin pembunuhan. Dan aku ingin menemukan kebenaran kasus ini. Aku tidak tahu apa pengetahuanku bisa membantu memecahkan kasus ini … Tapi aku tidak bisa menolak untuk tidak membantu,” ujar Yukawa-sensei lagi
“Terimakasih, Yukawa-kun.”

Yukawa-sensei ditemani para polisi datang ke kediaman Mashiba. Di depan ia melihat sederet bunga mawar merah yang merekah. Ia terkesan karenanya. Ayane-san mengatakan jika suaminya sangat menyukai bunga-bunga itu, dan mereka berdua yang merawatnya.
“Silahkan masuk, Yukawa-kun,” Ayane-san mempersilahkan Yukawa-sensei masuk.
“Yukawa-kun?!” gumam Kishitani merasa aneh dengan penggilan itu.

Di dalam, Kishitani menjelaskan posisi Yoshiyuki yang ditemukan meninggal dengan cangkir kopi pecah di dekatnya. Yukawa-sensei hanya melihat sekilas lalu beranjak ke dapur. Ia mengecek tempat sampah.
“Apa suamimu selalu menggunakan air mineral saat membuat kopi?” tanya Yukawa-sensei.
“Tidak hanya kopi, dia menggunakannya juga untuk memasak,” ujar Ayane-san yang lebih memilih duduk dibanding menemani tamu-tamunya berkeliling. “Dia sangat hati-hati jika urusan kesehatan. Jika kehabisan air, dia pasti menggunakan air murni.”

Yukawa-sensei mengecek kran di dapur, tombol pemilih jenis air normal. Ia pun membuka bagian bawah, dan menemukan tempat pengatur aliran air itu tampak kotor dan tidak pernah dibersihkan. “Sepertinya memang racun dimasukkan di ceret,” Yukawa-sensei menyimpulkan.
“Tapi, siapa yang bisa melakukannya?” tanya Kishitani. “Dia membuat kopi di pagi hari. Dia menggunakan air dengan ceret ini. Tapi racun ditemukan di ceret pada sorenya. Wanita dengan payung ungu poladot masuk ke rumah dan memasukkan racun ke ceret … “
Ayane-san heran. Ia sama sekali belum pernah mendengar informasi soal wanita berpayung ungu, “Wanita dengan payung ungu?”

Kishitani menunjukkan foto wanita dengan wajah tertutup payung ungu yang terekam oleh kamera, pada Ayane-san. Ia menjelaskan jika wanita itu yang datang pada hari yang sama Yoshiyuki meninggal.
“Kalau dia bisa memasukkan racun tergantung hubungan yang dimilikinya dengan Mashiba Yoshiyuki-san. Tapi aku tetap masih belum mengerti bagaimana itu dilakukan,” ujar Yukawa-sensei.
“Bukankah ini saatnya kau mengatakan ‘ini sangat menarik’?” goda Kishitani.

Tapi sepertinya Yukawa-sensei tidak tergoda sama sekali. Ia justru tertarik pada hal lain, sebuah hiasan dinding cukup besar, “Sangat cantik,” pujinya.
“Bukankah itu ‘tapestry’—permadani hiasan dinding (terj bebas)?” tanya Kishitani.
“Ya. Aku mengerjakannya selama satu tahun. Aku punya banyak waktu luang, dan kami tidak punya anak,” aku Ayane-san.
“Itu luar biasa. Pekerjaan seperti ini membutuhkan konsentrasi dan kesabaran. Kau harusnya jadi ilmuwan,” puji Yukawa-sensei lagi.
“Itu terlalu terlambat,” elak Ayane-san. “Ah, aku ingin berkunjung ke lab-mu kapan-kapan,” pinta Ayane-san kemudian.
“Kalau itu membuatnya merasa lebih baik, datanglah kapan-kapan.”

Ayane-san kemudian meminta untuk bisa kembali ke hotel. Ia mengaku masih merasa tidak nyaman berada terlalu lama di rumah itu. Kishitani setuju dan akan mengantarkan Ayane-san ke hotelnya.

Di hotel, rupanya Kishitani justru singgah sebentar dan sempat mengobrol dengan Ayane-san. Ayane-san mengaku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan Yukawa-sensei.
“Dia anak yang keren. Dia pintar dan jago olahraga. Semua anak wanita menyukainya,” cerita Ayane-san.
“Sekarang juga masih sama. Kelasnya selalu penuh dengan mahasiswa wanita,” sambung Kishitani. “Aku hanya tidak mengerti kenapa … “
“Kenapa tidak? Dia masih keren,” ujar Ayane-san cepat.
“Mungkin tampaknya seperti itu. Tapi aku tidak bisa mengimbangi argumennya. Aku tidak bisa mengikuti jalan pikiran tuan ilmuwan,” aku Kishitani.

Ayane-san tersenyum, “Aku mengerti yang kau bicarakan. Dia memang seperti itu. Sebenarnya, dulu aku juga menyukai Yukawa-kun. Saat kami masih sama-sama SMP. Itu sudah lebih dari 20 tahun yang lalu.”
“Apakah kau kekasihnya?” tebak Kishitani asal.
“Kau bercanda? Itu cinta pertamaku. Bagaimana denganmu, Kishitani-san? Bukankah kau juga punya pria yang kau sukai?” tebak Ayane-san. Kishitani tersipu. Ia mengambil minumannya baru menjawab, “Ah, namanya Nakajima-kun. Yang kulakukan hanya memberikannya coklat di hari Valentine saja.”

“Meski kau seorang detektif, kau juga gadis normal. Terimakasih telah menemaniku. Aku merasa lebih baik setelah ngobrol denganmu.” Ayane-san kemudian pamit hendak kembali ke kamarnya. Tapi ia sempat berhenti sebentar, “Jika saja aku tidak pergi ke Hokkaido, apakah suamiku masih hidup?”
“Jangan salahkan dirimu sendiri. Si pelakulah yang harus disalahkan. Polisi akan melakukan yang terbaik untuk menangkap si pelaku,” Kishitani meyakinkan.

Kishitani melamun sendirian di cafe. Ia semakin kesal saat melihat sepasang remaja asyik makan es krim sambil bermanja-manja. Kishitani yang kesal bahkan menyuruh kedua remaja itu untuk makan dengan wajar saja. Ia pun menjadi pusat perhatian seisi cafe. Tapi perhatian Kishitani teralihkan saat ia melihat seorang wanita yang dikenalnya. Wanita yang pernah ia lihat fotonya, di brosur sekolah Himawari-Kai.

“Berapa lama kau bekerja di sekolah milik Ayane-san?” tanya Kishitani pada wanita itu. Mereka akhirnya duduk berdua dan ngobrol.
“Sudah lima tahun,” aku wanita itu.

Kishitani kemudian bertanya kenapa Ayane-san menikah dengan Mashiba-san. Wanita itu menceritakan jika mereka menikah karena Ayane-san hamil. Tapi setelah menikah, Ayane-san ternyata mengalami keguguran. Karenanya, Ayane-san tidak lagi mengurusi sekolah dan tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga. Rupanya Ayane-san sebenarnya sangat ingin memiliki anak, tapi dia tidak kunjung hamil lagi. Dan sekarang suaminya justru meninggal. Wanita itu juga menceritakan jika Ayane-san mengalami keguguran karena kecelakaan. Dia ditabrak oleh seorang wanita dengan sepeda
“Aku pikir wanita itu sengaja menabrak Ayane-san agar ia keguguran. Karena suaminya adalah pria baik. Aku yakin dia (Yoshiyuki) cukup populer di kalangan para wanita,” lanjut wanita itu.
“Apa ada seseorang yang dendam karena Mashiba Yoshiyuki-san menikahi Ayane-san?” tanya Kishitani kemudian.
“Mungkin, mantan kekasih Mashiba Yoshiyuki-san. Ini hanya contoh saja.”

Pembicaraan mereka terputus saat ponsel Kishitani berbunyi, dari rekannya Ohtagawa-san. Ohtagawa-san mengatakan jika mereka sudah menemukan mantan kekasih dari korban.

Kishitani menunjukkan foto mantan kekasih Mashiba Yoshiyuki pada para karyawannya. Nama wanita itu adalah Tsukui Junko-san.

Para karyawan itu menceritakan jika Mashiba Yoshiyuki memperkenalkan wanita itu sebagai kekasihnya sekitar dua tahun silam, atau enam bulan sebelum Yoshiyuki-san malah menikah dengan Ayane-san. Saat ditanya tentang pekerjaan wanita itu, para karyawan mengatakan jika Tsukui Junko-san adalah seorang ilustrator. Tapi ia berhenti dari pekerjaannya dan kembali ke kampung halamannya di Shizuoka.
“Mungkin pukulan besar baginya saat presdir Mashiba-san memutuskannya,” ujar salah seorang karyawan. Tapi kedua karyawan yang lain buru-buru mengingatkan. Karyawan itu melanjutkan jika itu hanya kesimpulannya saja.

Saat ditanya kenapa mereka putus, para karyawan itu sepakat mengatakan karena Ayane-san hamil.
“Meski Mashiba Yoshiyuki mengencaninya, dia juga mengencani Ayane-san. Apa Mashiba Yoshiyuki-san mengencani mereka berdua pada waktu yang sama?” tanya Kishitani.
“Hanya sebentar. Presdir Mashiba-san memutuskan Tsukui Junko-san sebelum menikah dengan Ayane-san.”

“Kesanku terhatap Mashiba Yoshiyuki-san semakin buruk,” curhat Kishitani saat kembali ke kantor polisi.
“Aku mengerti. Tapi itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan investigasi,” ujar Ohtagawa-san. “Dan lagi, kita sudah menemukan tersangkanya.” Ohtagawa-san menunjuk ke arah foto. “Tsukui Junko punya alasan untuk membunuh Mashiba Toshiyuki. Dan dia juga punya alasan untuk menyerang istri yang tengah hamil.” Berbeda dari biasanya, kali ini ucapan Ohtagawa-san disetujui oleh Kishitani.

Ohtagawa-san meminta Kishitani melakukan investigasi untuk kasus penabrakan terhadap Ayane-san. Sementara ia sendiri berniat ke Shizuoka untuk menemui Tsukui Junko, tapi sebelumnya mampir ke rumah Ayane-san untuk menyirami tanamannya.

Ayane-san rupanya benar-benar datang ke lab Yukawa-sensei. Di pintu, Kuribayashi-san dengan sukacita menyambutnya dan tidak lupa memuji kecantikan Ayane-san. Sampai di dalam, Ayane-san dibuat terkesan dengan suasana lab itu. Yukawa-sensei sendiri tengah asyik dengan percobaannya.
“Aku tidak mengira kau akan benar-benar datang,” komentar Yukawa-sensei, dingin.
“Bukankah kau mengatakan aku bisa datang kapanpun, Yukawa-kun?” ujar Ayane-san. Tapi perhatiannya teralihkan pada ceret merah yang sama dengan di rumahnya.

Yukawa-sensei menjelaskan kalau dia ingin tahu bagaimana caranya memasukkan racun ke dalam ceret. Tapi Yukawa-sensei sendiri belum menemukan jawabannya. Yukawa-sensei lalu mengambil ceret itu, menuangkan kopi ke kertas penyaring dan mulai menuangkan air dalam ceret ke atas kopi, menyeduh kopi.
“Terimakasih, Yukawa-kun. Tapi kau tidak perlu terlalu memaksakan diri,” ujar Ayane-san merasa tidak enak hati. “Sebenarnya aku datang ke sini karena ada permintaan lain. Aku ingin kau menunjukkan beberapa percobaan menarik pada anak-anak di sekolah kami. Semuanya pasti akan senang.” Ide yang diiyakan juga oleh Kuribayashi-san yang ucapannya diabaikan sejak tadi.

“Menyesal sekali, aku tidak bisa melakukannya,” ujar Yukawa-sensei tanpa berpikir.
“Kenapa?” Ayane-san heran.
“Aku benci anak-anak,” aku Yukawa-sensei.

Ayane-san semakin tidak mengerti. Kuribayashi-san lalu menjelaskan jika menurut Yukawa-sensei, anak-anak itu tidak logis. Tapi Ayane-san terus membujuk Yukawa-sensei, hal yang sama dilakukan juga oleh Kuribayashi-san. Tapi Yukawa-sensei tetap tidak bergeming dengan pendiriannya.
“Aku minta maaf karena meminta hal yang mustahil,” Ayane-san akhirnya menyerah. Ia pun kemudian pamit untuk pulang.

Sepeninggal Ayane-san, kedua ilmuwan itu kembali ke kursi mereka masing-masing.
Tapi Kuribayashi-san masih terus mengeluh, “Ayane-san pasti sedih karena kehilangan suaminya. Kau benci anak-anak … itu alasan bodoh. Dan dia juga menolak bantuanku. Sensei, tidakkah kau sadar kalau kau begitu beruntung!”
Yukawa-sensei tampak berpikir.

 

“Tunggu!” Yukawa-sensei keluar dari lab-nya dan menyusul Ayane-san.
“Ada apa?”Ayane-san heran.
“Aku punya pertanyaan. Siapa yang menanam mawar-mawar di rumahmu?”
“Aku yang melakukannya. Kenapa?” Ayane-san heran.
Yukawa-sensei lalu melepas kaca matanya, “Bisakah aku menunjukkan percobaan pada anak-anak? Misalnya membekukan mawar hingga suhu rendah lalu memecahkannya seperti kaca.”

Ayane-san tersenyum senang, “Tentu saja, kau bisa menunjukkan apapun yang kau suka.”
“Anak-anak, ini profesor tamu dari Universitas Teito, Yukawa Manabu-sensei,” Ayane-san memperkenalan Yukawa-sensei pada anak-anak. Sementara Yukawa-sensei sendiri sudah mulai merasa tidak nyaman dengan suara anak-anak kecil itu.

Yukawa-sensei lalu duduk di kursi yang memang sudah dipersiapkan di depan anak-anak itu. Ia mengingatkan agar mereka tidak bicara selama percobaan atau ia akan berhenti. Yukawa-sensei mulai mengeluarkan satu per satu barang bawannya. Satu teko elektrik, tiga gelas kaca dan satu botol air mineral. Yukawa-sensei meminta salah seorang staf untuk mematikan lampu. Ia kemudian menuangkan air ke dalam teko elektrik dan mulai memanaskannya.

Di tempat lain, Kishitani tengah menyelidiki insiden ditabraknya Ayane-san oleh seorang wanita bersepeda. Seorang polisi lokal menunjukkan tempat saat Ayane-san ditabrak wanita bersepeda. Karena hanya tabrak lari, mereka hanya tahu si pelaku adalah seorang wanita bersepeda.
“Aku pikir wanita itu sengaja menabrak Ayane-san agar ia keguguran,” lanjut si polisi.

Kembali ke Yukawa-sensei.
Setelah air mendidih, Yukawa-sensei lalu menuangkan 400ml air ke dalam gelas kaca. Ia lalu bertanya pada anak-anak apa warnanya. Anak-anak menjawab jernih. Yukawa-sensei lalu mengulangi hal yang sama. Menuangkan air ke teko elektrik, memanaskannya hingga mendidih dan menuangkannya ke dalam gelas. Tapi berbeda dengan yang terjadi tadi, kali ini seisi ruangan dibuat takjub karena air yang dituangkan berwarna merah.

Yukawa-sensei kembali mengulangi hal itu. Menuang air ke teko elektrik, memanaskannya dan terakhir menuangkannya ke dalam gelas kaca. Dan kali ini warna yang keluar berbeda lagi, ungu. Anak-anak semakin dibuat takjub oleh apa yang dilakukan Yukawa-sensei.

Kishitani mendatangi lagi kediaman Mashiba di tengah hujan. Ia memeriksa sekali lagi catatannya, tentang mantan kekasih Mashiba Yoshiyuki, Tsukui Junko yang memiliki alasan untuk membuat Ayane-san keguguran dan juga membunuh Yoshiyuki-san.

Tapi seseorang yang lewat mengalihkan perhatian Kishitani. Ia melihat wanita dengan payung ungu polkadot yang lewat, persis sama dengan foto rekaman kamera saat hari kejadian terbunuhnya Yoshiyuki-san. Sigap Kishitani mengejar orang itu meski di bawah guyuran hujan. Beberapa kali belokan, sayangnya Kishitani kehilangan jejak. Dan ponselnya pun berbunyi, dari Ohtagawa-san.
“Aku menemukan berita besar. Tsukui Junko, mantan kekasih Yoshiyuki-san meninggal setahun yang lalu. Dia bunuh diri dengan menyayat tangannya,” ujar Ohtagawa-san dari seberang.
Kembali ke Yukawa-sensei.

Yukawa-sensei mulai menjelaskan percobaan yang dilakukannya itu pada anak-anak. Ia menjelaskan soal gelatin—agar-agar yang dilekatkan di tutup teko elektrik. Satu per satu agar-agar berwarna itu meleleh, hingga warna air berubah. Yukawa-sensei bahkan menunjukkan lewat gambar sketsa.

Tapi menjelaskan hal sederhana untuk anak-anak pra-sekolah (TK) memang bukan perkara mudah. Anak-anak langsung menyerbu Yukawa-sensei dengan berbagai pertanyaan. Mereka bahkan menghambur ke depan mendekati Yukawa-sensei.
Sementara itu, Yukawa-sensei mulai merasa gatal, “Jangan mendekat!” sergahnya cepat.

Ayane-san dan Yukawa-sensei kembali datang ke Gereja. Mereka ngobrol di sana.
“Aku menyukaimu saat kita masih SMP,” aku Ayane-san.
“Aku tidak tahu itu, maaf.”
“Meski aku mendekatimu, kau tidak menyadarinya. Saat aku mengajakmu ke Gereja bersamaku, kau menolak,” lanjut Ayane-san.
“Agama tidak menerima konsep heliosentris (1) Galileo Galileo, aku tidak bisa menerima itu,” ujar Yukawa-sensei.
“Gereja Katolik Roma akhirnya minta maaf pada Galileo pada 1992. Dan mereka mengakui secara resmi Heliosentris pada 2008. Galileo sudah mati selama 350 tahun,” sambung Ayane-san. “Galileo akhirnya menerima penebusan, meski butuh waktu lama. Kenapa kau menunjukkan eksperimen itu pada anak-anak?” Ayane-san mengalihkan pembicaraan.
“Aku sangat tertarik dengan hal itu beberapa hari belakangan,” aku Yukawa-sensei.
“Apa kau membicarakan soal kasus pembunuhan suamiku? Kau menempelkan bahan warna di tutup teko dan membuatnya melelah dalam air kan? Dengan kata lain, Aku bisa mengganti bahan pewarna itu dengan racun yang membunuh suamiku … “
“Polisi berpikir jika si pelaku memasukkan racun yang membunuh suamimu antara pukul 10 pagi hingga pukul 4 sore. Bukankah mungkin meletakkan racun itu sebelumnya?” pancing Yukawa-sensei. “Hipotesis pertamaku menggunakan trik gelatin. Tapi si pelaku tidak menggunakan itu, karena pasti ada bekas gelatin menempel di tutup ceret.”
“Lalu bagaimana aku membuat trik dimana racun hanya ada di cangkir kopi kedua? Apa kau mencurigaiku? Aku tidak punya alasan membunuh suamiku,” elak Ayane-san.
“Aku tidak tertarik pada pelaku atau motif pembunuhan ini. Tapi … sebelum Natal, saat kau mengajakku ke Gereja, kau mengatakan ‘Aku benci mawar. Meski ia cantik, aku benci durinya. Tapi sekarang … rumahmu penuh dengan mawar.”
“Sekarang … aku menyukainya,” aku Ayane-san.
“Kau suka bunga dengan banyak duri?” Yukawa-sensei tidak yakin.
“Apa itu alasan cukup untuk mencurigaiku?” Ayane-san bertanya balik.

“Tidak. Kau benci mawar. Karena suamimu suka mawar, kau juga menyukainya sekarang. Itu bisa terjadi. Tapi, bagi ilmuwan sepertiku, jika melihat hal di depanku janggal, itu membuatku penasaran. Aku ingin mengetahui asalnya. Istri yang berduka cita karena suaminya meninggal. Aku ingin menginvestigasinya dari awal.”
Ayane-san termenung di kursinya. Ia teringat pembicaraannya dengan suaminya, Yoshiyuki-san.
“Ayane, kau ingat janji itu kan? Janji bahwa kita akan bercerai jika tidak punya anak dalam setahun?”

“Cantik sekali,” Yukawa-sensei menunjuk simbil salib di depannya. “Rasio panjang dan lebarnya mendekati golden ratio—rasio emas (2). Jika kejahatan sempurna benar-benar ada, maka kesempurnaannya akan mendekati rasio salib ini.”

TO BE CONTINUE AT PART 2 (EPISODE 11-END)

Catatan :

(1) Teori Heliosentris : teori yang menyatakan jika bumi bukanlah pusat tata surya. Bumi merupakan salah satu planet yang berputar mengeliling pusat tata surya yakni matahari. Teori ini berlawanan dengan teori sebelumnya yang menyatakan bahwa bumi-lah pusat tata surya dan matahari yang berputar mengelilingi bumi. Saat dicetuskan, teori ini ditentang habis-habisan oleh pihak gereja saat itu. hingga Galileo Galilei terpaksa harus terasingkan. Tapi akhirnya dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teori ini dapat dibuktikan dan tuduhan atas Galileo pun dicabut oleh gereja.

(2) Golden Ratio – Rasio emas : adalah perbandingan angka yang dicetuskan oleh Leonardo da Vinci setelah mempelajari anatomi tubuh manusia. Rasio ini adalah 1,618. Tidak hanya pada tubuh manusia saja, rasio ini juga dibuktikan dalam banyak makhluk di alam, misalnya lingkaran yang ada di rumah siput, kemudian warna pada sayap kupu-kupu, dll. Rasio ini juga dibuktikan dalam deret bilangan Fibonachi. Pada deret Fibonachi, perbandingan angka yang besar dengan angka yang kecil selalu menunjukkan hasil yang sama, yakni 1,618. (untuk reverensi lengkapnya silahkan baca buku tentang golden ratio dan deret Fibonachi. Tapi bagi yang enggan mencari, hal ini juga bisa dibaca di buku Dan Brown, The Da Vinci Code)

Kelana’s comment:

Komentar kali ini Kelana tidak akan menampilakn quote apapun. Karena Kelana akan menunjukkan deret Fibonachi dan juga golden ratio.

Deret Fibonachi : 1-1-2-3-5-8-13-21-34-55-89-144-233-377-610-987-1597-2548- dst

Setiap bilangan adalah jumlah dua bilangan sebelumnya. 1+1=2, 1+2=3, 2+3=5, 5+8=13 dan seterusnya.

Sedangkan golden ratio adalah perbandingan dua bilangan pada deret Fibonachi yang berdekatan.

1:1 = 1
2:1 = 2
3:2 = 1,5
5:3 = 1,667
8:5 = 1,6
13:8 = 1,625
21:13 = 1,615
34:21 = 1,619
55:34 = 1,617
89:55 = 1,618
144:89 = 1,618
233:144 = 1,618
377:233 = 1,618
610:377 = 1,618

Semakin besar angkanya, maka perbandingannya yang terjadi akan semakin mendekati 1,618. Masih belum percaya? Silahkan lanjutkan sendiri ya ^_^

Semua informasi tambahan di sinopsis ini nyata dan bisa dibuktikan kebenarannya. Jika ada beberapa yang keliru/kurang tepat, itu semata-mata kesalahan author. Silahkan bagi sobat2 semua yang ingin mengoreksi atau melengkapinya.

Written by Kelana [Blog|FB|Twitter]
captured images by +ari airi 
Posted only on pelangidrama.net
DON’T REPOST TO ANOTHER SITE/FP FB!!!

[Sinopsis J-Drama] Limit Episode 6


~Sinopsis Limit Episode 6~

I hate fairy tales. They are nothing but lies.

Hari itu, seperti di hari-hari sebelumnya, Moriko menghabiskan malam di luar gua. Konno, Kamiya, Haru dan Hinata menyadari bahwa  tim penyelamat tidak menuju Shizuoka tempat mereka terjebak. Mereka mendadak mendengar suara helikopter dan bergegas mengejar suara tersebut. Namun Moriko hanya menatap kosong pada teman-temannya, tanpa menunjukkan keinginan untuk juga mengejar helikopter tersebut. Pengejaran Konno dkk tidak membuahkan hasil. Dalam kepahitan, mereka menyadari bahwa helikopter tersebut tidak bertujuan untuk menyelamatkan mereka. Kamiya menduga bahwa heli tersebut adalah heli milik pribadi.
Sementara itu, ayah Konno segera menelepon Haruka segera setelah muncul berita hilangnya bus yang dinaiki anak perempuannya. Sang ayah merasa kecewa karena baik Haruka maupun istrinya tidak memberitahukan padanya tentang kabar tersebut. Dengan dingin Haruka menjawab bahwa sang ayah tidak lagi perlu ikut campur dalam urusan tersebut, juga menolak permintaan sang ayah untuk bertemu saat itu juga. Segera setelah menutup telepon dari sang ayah, Haruka melihat Igarashi-sensei bersama adik-adik Kamiya. Ia pun membuntuti mereka.

Sepeninggal teman-temannya, Moriko mengambil radio transistor dan mendengarkan perkembangan evakuasi mereka. Sadar bahwa upaya evakuasi sedang berlangsung, emosi Moriko meledak.  Ia pun membanting transistor tersebut dan menginjak-nginjaknya. 

 

Sementara itu, Konno dkk yang sedang berjalan kembali ke gua tanpa sengaja menemukan sungai. Mereka pun diliputi kegembiraan dan segera memuaskan rasa haus mereka. Hinata berteriak bahwa ia melihat ikan di sungai tersebut. Mendengar hal tersebut, Kamiya pun melepas kausnya dan mengikatkannya di sebatang kayu untuk dijadikan jaring penangkap ikan.

Akhirnya, mereka berhasil menangkap beberapa ekor ikan setelah berjuang keras bersama-sama.

 

Dengan puas, mereka pun berjalan kembali ke gua. Hinata menyadari adanya perubahan antara Haru dan Konno. Ia mencoba menanyakan hal tersebut pada Haru, dan Haru menjawab bahwa ia tak tahu bagaimana harus bersikap pada Konno, yang tetap bersikap baik padanya setelah segala hal buruk yang dilakukan Haru. Hinata mencoba menghibur Haru dengan menyampaikan harapannya untuk kembali bertemu mereka berdua di sekolah.

Konno dan Kamiya berjalan bersama dan Konno mengungkapkan betapa ia seharusnya bersyukur atas apa yang selama ini dimilikinya, termasuk kemudahan mendapat makanan dan adanya ibu dan kakak yang menyayanginya. Kamiya membuka dompet merahnya dan menatap foto ketiga adiknya. Ia bertekad akan kembali pada mereka. Sekembalinya ke gua, Haru menemukan transistor yang rusak dan menyalahkan Moriko, satu-satunya orang yang ada di situ selama mereka pergi.

Sementara itu, Haruka membuntuti Igarashi-sensei yang sedang belanja untuk memasak omelet. Ia pun membeli kecap dan bawang dan mengikuti Igarashi-sensei ke kediaman Kamiya untuk membuatkan omelet. Haruka menunjukkan empatinya pada Igarashi-sensei dan menyatakan kekagumannya pada Igarashi-sensei yang di tengah-tengah kesedihannya masih bersedia mengurus adik-adik Kamiya. Sementara itu, amplop kiriman Kamiya dari Shizuoka tertindih di bawah barang-barang dan nyaris tak terlihat…

Di sisi lain, seorang sopir yang juga adalah kolega dari sopir bus naas yang membawa Konno dkk menyerahkan list berisi jadwal shift dari sopir dalam agensi tersebut. Ia menganggap bahwa kejadian tersebut terjadi karena jam shift yang berlebihan dan tidak manusiawi. Tak ayal, terjadilah perdebatan dengan pemilik agensi yang berusaha menutup-nutupi hal tersebut demi keselamatan agensi.
Sekembalinya ke dekat gua, Haru menemukan transistor yang rusak dan dengan marah meneriaki Moriko. Kamiya meminta Haru untuk membiarkan Moriko seorang diri. Hinata mencoba menenangkan Moriko dan menawarkan permen kalengan padanya. Namun entah mengapa Moriko justru berteriak ketakutan dan berlari meninggalkan gua.
Sendirian, Moriko berjalan dalam hutan dan ingatannya tentang keluarganya mengalir. Ia mengingat bagaimana sang ayah memukuli ibunya. Ia pun mengingat bahwa sang ayah seringkali memukulinya hingga berdarah, dan memberinya permen kalengan sambil memintanya menyesali perbuatannya. Moriko merasakan hatinya begitu sakit ketika mendengar sang ibu menyesali kelahiran dirinya. Moriko merasakan bahwa ia tak punya tempat untuk kembali. Ia merasa bahwa tak ada gunanya ia kembali. Ia tak memiliki siapapun yang menginginkan dia kembali… Sendirian, Moriko kembali ke bangkai bus naas yang dulu dinaiki kelasnya dan ia pun menemukan sebilah pecahan kaca yang tajam…
Sementara itu di sekolah terjadi kehebohan.  Pers akhirnya mengetahui bahwa hilangnya bus terkait dengan keteledoran pihak sekolah. Di tengah-tengah kehebohan tersebut, Haruka mengaku bahwa ialah yang menulis artikel terebut. Kini Igarashi-sensei pun akhirnya mengetahui bahwa Haruka adalah mata-mata dari pihak pers dan berhasil mengorek banyak rahasia darinya. Dengan marah, Igarashi-sensei menghampiri Haruka, namun Haruka dengan dingin menjawab bahwa itu semua pada awalnya adalah kesalahan pihak sekolah karena menyembunyikan informasi dari publik.
Kamiya berusaha memperbaiki transistor namun tidak berhasil. Ia pun menceritakan pada Konno bahwa ia sempat melihat tubuh Moriko dipenuhi luka lebam saat pelajaran olahraga. Mereka pun menyadari bahwa ketidakpercayaan Moriko pada mereka kemungkinan besar adalah akibat perlakuan buruk yang diterimanya di rumah.

Mereka pun berusaha menemukan Moriko, dan menemukan Usui mereka tergeletak tak bernyawa…

I have no place where I belong. I am just a coward and useless person.  I cannot do anything
 
Siapakah pembunuh Usui?

==bersambung= 

Written by +siennra s
 Capture image by +ari airi 
Posted only on pelangidrama.net
Don’t Repost to Other Site/Fanpage FB!

[Sinopsis J-Drama] Galileo season 2 episode 9

~Sinopsis Galileo season 2 Episode 9~
Disturbance – Kekacauan

3 Juni
Pak polisi, aku lelaki dengan tangan iblis. Dengan tangan ini, aku bisa membuat orang mati bagaimanapun caranya. Polisi tidak akan bisa menghentikanku.
Karena polisi tidak dapat melihat tangan iblis. Kerenanya, polisi akan menyebut kejahatan ini sebagai kecelakaan. Karena kalian semua bodoh, kalian akan berpikir jika surat ini hanya lelucon…
Di tempat lain, seorang pria yang bekerja sebagai pembersih jendela tengah naik ke bagian gedung paling tinggi. Pria itu belum mengenakan peralatan keamanannya. Sampai di atas, dia merasa pusing. Dan setelahnya, mucul kehebohan di bawah gedung saat orang-orang menemukan pria tadi sudah tidak bernyawa karena terjatuh dari atas gedung tadi.
…. Jadi aku akan menunjukkan demonstrasi. Maka kalian akan mengerti betapa berkuasanya aku,” Kishitani membaca sebuah surat. “Ini pengakuan,” komentarnya kemudian.
“Tangan iblis, apa kau pikir ini nyata?” komentar Ohtagawa-san menanggapi.
Kishitani melanjutkan membaca, “Jika kalian tidak bisa menyelesaikan ini sendiri, mintalah bantuan dari profesor Y di universitas T. Pertandingan ini akan menentukan siapa jenius yang sebenarnya. Sampaikan salamku pada profesor tamu itu, dariku The Devil’s Hand. Profesor Y … “ gumam Kishitani. Ponselnya kemudian berdering. Dari Yukawa-sensei.
“Aku mendapatkan surat aneh,” ujar suara di seberang. “Pengirimnya, si tangan iblis.”
Lab Yukawa-sensei
“Aku mendapat surat lain, itu yang kedua,” ujar Yukawa-sensei pada Kishitani. Ia sendiri masih asyik dengan percobaannya.
“Polisi juga mendapatkan surat kedua. Seperti surat sebelumnya, aku akan menunjukkan kekuatan tangan iblis. Aku menyebabkan Ueda Shigeyuki meninggal karena jatuh,” komentar Kishitani. Ia heran dengan eksperimen yang tengah dilakukan Yukawa-sensei.
“Ini percobaan gerak gelombang menggunakan pegas,” Kuribayashi-san yang menjawab. Sementara Yukawa-sensei melakukan percobaan, ia sendiri asyik merekam mereka semua.
“Sebenarnya, setelah menerima surat pertama, Ueda Shigeyuki-san jatuh dan meninggal,” Kishitani melanjutkan penjelasannya. “Ueda-san adalah petugas pembersih jendela. Dia jatuh saat membersihkan jendela bagian atap di gedung hiburan di Shinagawa. Kami masih menginvestigasi hubungan surat ini dengan kematinnya. Sejauh ini, belum ada kejelasan apapun.”

“Karena surat ini muncul setelah kecelakaan, itu artinya ditulis setelah melihat berita,” Kuribayashi-san menyimpulkan. “Tapi menyebut dirinya ‘tangan iblis’ benar-benar bodoh.”

“Tapi pada surat pertama yang dikirimkan pada polisi, ada kalimat ‘seperti biasa, datang dan mintalah bantuan pada profesor Y di Universitas T. Ayo kita buat pertandingan, siapa yang sebenarnya seorang saintis jenius’,” lanjut Kishitani.
“Jadi itulah kenapa aku mendapat surat ini,” komentar Yukawa-sensei tanpa teralihkan sama sekali dari percobaannya. Ini semua salahmu!” ujar Yukawa-sensei pada Kishitani. Ia kemudian mengambil sebuah majalah dan menunjukkan profilnya di majalah itu. “Satu-satunya alasan artikel ini muncul di majalah adalah karena ada seseorang yang menceritakan tentangku pada mereka.”
“Bukan aku!” elak Kishitani.

Yukawa-sensei menutup majalah itu tepat di depan mata Kishitani dengan keras, “Aku tidak tertarik bekerjasama dengan polisi. Aku hanya ingin mencari tahu kebenaran dibalik fenomena misterius.”
“Sensei tidak suka muncul di media massa seperti itu,” Kuribayashi-san menambahkan.

 
“Aku tahu. Tapi itu bukan aku. Itulah kenapa aku minta maaf. Aku minta maaf soal artikelnya,” Kishitani masih terus berusaha membuat Yukawa-sensei percaya. “Tapi kalau insiden ‘tangan iblis’ berawal dari artikel ini, itu bukan hal serius kan?”
“Lihat surat kedua yang dialamatkan padaku, bagian belakangnya!” pinta Yukawa-sensei. Ia sendiri kemudian beranjak ke laptopnya. Ternyata ada sebuah alamat situs internet. “Aku mengakses alamat itu.” Yukawa-sensei menunjukkan temuannya, yang ternyata website resmi sebuah film. Yukawa-sensei lalu menggeser kursor dan sampai pada bagian pesan di bawah poster film itu.
Aku akan melihat film ini pada 3 Juni. Aku harus hati-hati agar tidak jatuh karena terlalu bersemangat. Dari pembersih jendela di pachinko parlor di Shinagawa.’ Pesan ini ditulis pada 2 Juni, atau sehari sebelum kejadian korban Ueda-san jatuh dari atap gedung.
“Apa si tangan iblis ini benar-benar ada?”
Yukawa-sensei beranjak dari laptopnya. Ia menuju pantry dan bersiap menyeduh kopi, “Aku tidak yakin dia benar-benar ada atau tidak. Tapi, jika pesan itu muncul sehari sebelum kejadian dan seseorang meninggal hari berikutnya, ini tidak akan menjadi kasus kekacauan yang sederhana lagi kan?”
“Yukawa-sensei, apa kau tahu siapa yang bisa melakukan hal bodoh seperti ini?”
“Aku tidak tahu. Yang aku tahu adalah orang ingin mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya, tapi aku tidak tahu kepribadian mereka. Tapi karena si pengirim surat mengatakan dia seorang ilmuwan, si tangan iblis ini menggunakan metode ilmiah untuk melakukan kejahatan dan bukan kekuatan sihir atau semacamnya,” komentar Yukawa-sensei sambil menyeduh kopinya.
“Jadi, apa kau tahu ilmuwan yang membencimu?” tanya Kishitani kemudian.
“Mereka pasti ada. Tapi aku tidak peduli orang seperti itu,” Yukawa-sensei menghirup kopinya lalu mulai meminumnya.
Tiba-tiba Kishitani punya ide. Ia memandang serius ke arah Kuribayashi-san, “Benar! Kau asisten bahkan sejak Yukawa-sensei masih mahasiswa kan? Dan sekarang dia melampauimu dan kau yang malah menjadi asistennya. Kau pasti iri. Kau dendam padanya. Apa kau membencinya?” desak Kishitani. Kuribayashi-san kaget karena ucapan Kishitani yang menyudutkannya itu, “Aku tidak membencinya! Aku menyukainya! Aku sangat menyukainya! Aku tidak bermaksud begitu … sebagai rekan!” elak Kuribayashi-san.
“Aku akan menginterogasinya  di kantor polisi, ikut denganku!” Kishitani menyeret asisten Yukawa-sensei itu. Kuribayashi-san yang ketakutan minta bantuan Yukawa-sensei.
“Kuribayashi-san bukan orang yang akan melakukan hal buruk seperti itu,” sergah Yukawa-sensei.
Kishitani heran dengan hal yang baru saja didengarnya dari profesor itu, “Yukawa-sensei, kau tidak mengatakan pendapat tidak logis kan?” Kishitani lalu melepaskan Kuribayashi-san. Ia lalu mengejar Yukawa-sensei yang kembali ke tempat duduknya, “Si tangan iblis ini mungkin benar-benar membunuh seseorang.”
“Meski begitu, jangan libatkan kami dalam kasusmu,” ujar Yukawa-sensei.
“Kau sudah terlibat kan?” Kishitani mendebat balik profesor ini. “Si tangan iblis menantangmu. Sensei, kau sudah ada di tengah-tengah kasus ini!
“Apa pentingnya menantangku? Lebih baik si pelaku menantang polisi kan? Meski dia menantangku dan menang, dia tidak akan mendapat hadiah atau apapun,” jawab Yukawa-sensei dengan santainya.
“Itu benar. Mereka tidak akan mendapat apapun. Dengar, Sensei! Kau harus menang. Atau seseorang akan terbunuh!” ujar Kishitani serius.
Yukawa-sensei akhirnya ikut Kishitani mendatangi TKP jatuhnya pekerja pembersih jendela itu.
“Itu ada di atas sana,” tunjuk Kishitani. “Ueda-san bertugas membersihkan jendela tiap Senin. Karena dia sudah berpengalaman dan agak terlalu percaya diri, dia tidak menggunakan sabuk keamanan. Tapi saat ia jatuh, tidak ada orang di sekitarnya.”
“Dengan kata lain, dia tidak didorong oleh siapapun,” Yukawa-sensei menanggapi. “Apa ada getaran di gedung?” tanya Yukawa-sensei kemudian, tapi dijawab Kishitani dengan gelengan. “Bahkan tidak ada angin cukup kencang. Dari sini, aku tidak bisa tahu apa dia mengenakan sabuk keamanan atau tidak,” Yukawa-sensei menyimpulkan. Ia kemudian tertarik pada sebuah gedung lain tepat di seberang gedung TKP itu.
Yukawa-sensei dan Kishitani lalu naik ke gedung di sebelah gedung TKP.
“Dari sini, aku bisa melihat dengan jelas si pekerja,” ujar Yukawa-sensei. Ia lalu menjulurkan tangan dan ibu jarinya.
“Apa yang kau lakukan?” Kishitani heran.
“Dia jatuh ke tanah dari ketinggian sekitar 30 m.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
Yukawa-sensei menjulurkan lengannya, “Lenganku panjangnya 59 cm. Panjang ibu jariku 6,6 cm. Dengan kata lain, sudut antara ujung dan pangkal ibu jariku adalah 6,4 derajat. Jika aku meletakkan ibu jariku seperti ini, maka tinggi gedung sekitar 17 ibu jari. Dengan kata lain, tingginya 30m.” (ini adalah cara sederhana memanfaatkan matematika. Dapat menggunakan trigonometri yang melibatkan sudut atau menggunakan prinsip kesebangunan segitiga)
“Wow, ini pertama kalinya aku melihat seseorang menggunakan matematika dalam kehidupan nyata! Luar biasa!” puji Kishitani.
“Itu bukan matematika. Itu hanya perhitungan perkiraan saja. Bagaimana dia didorong jatuh dari gedung hingga tampak seperti kecelakaan?” gumam Yukawa-sensei.
“Jangan bilang, semacam kekuatan tidak tampak,” ujar Kishitani asal.
“Ada banyak tipe kekuatan tidak tampak di dunia ini. Contohnya magnet dan gravitasi umum (1). Bahkan antara kau dan aku ada gravitasi. Tapi pelaku tidak menggunakan kekuatan tidak tampak semacam itu. Jika magnet yang digunakan, benda lain pasti ada yang ikut jatuh bersama korban. Hal itu juga sama dengan gravitasi. Meski ada black hole—lubang hitam (2), hasilnya juga pasti sama. Ini sangat menarik!”
Di sebuah tempat, tampak seseorang sedang mengetik di depan komputernya…
“Aku membuktikan ‘si tangan iblis’ adalah nyata. Sekarang aku punya permintaan. Aku ingin polisi melakukan konferensi pers dan memberitahukan soal aku pada orang-orang. Tapi jika kau melakukan itu, pasti ada orang yang akan berpura-pura menjadi aku. Aku akan mengatakan cara mengetahui siapa si peniru,” Kishitani membaca surat yang masuk lagi ke kantor polisi. Saat ini ia berada di lab Yukawa-sensei. “Tabel nomer acak. Si tangan iblis, kolom S, baris G, nomer 96.”
“Itu seperti kode,” komentar Yukawa-sensei yang tengah asyik memilah-milah buku. “Dengan itu kau bisa tahu mana surat asli dan mana peniru. Dia penjahat yang baik. Dia ingin kita memberitahu publik soal dirinya. Dia tipe orang yang ingin menjadi pusat perhatian. Dan dia juga khawatir soal peniru yang berpura-pura menjadi menjadi si tangan iblis.”
“Pelaku percaya kalau kita akan memenuhi permintaannya,” lanjut Kishitani.
“Apa kalian akan melakukan konferensi pers?” tanya Yukawa-sensei masih belum beranjak dari dokumennya.
“Polisi? Tentu saja tidak! Kita tidak akan membiarkan dia bertindak lebih jauh lagi. Pelaku juga menulis ini di akhir surat,” Kishitani menunjukkan copy surat itu, “P.S. aku akan melakukan demonstrasi kedua. sampaikan salamku pada profesor tamu Y.
7 Juni …
Seseorang tampak sedang memegang kemudi sebuah mobil. Ia memperhatikan sesuatu yang berada di luar mobilnya.
Dari sisi lain jalan, tampak seorang pekerja tengah pulang dari kantornya dengan sepeda. Tapi saat melewati perlintasan kereta api, mendadak ia kesakitan. Lelaki itu merasa pusing. Sementara itu, lampu peringatan kereta api sudah menyala. Pria tadi semakin kesakitan. Akhirnya ia tidak dapat berdiri lagi dan ambruk. Merasa ada kereta yang akan lewat, pria tadi berusaha bangun dan menghindar. Ia berhasil menghindari satu kereta, tapi sayangnya dari arah berlawanan, kereta lain juga melintas.
Orang yang tadi ada di dalam mobil rupanya memperhatikan semua kejadian itu. Bukannya menolong orang tadi, ia malah hanya melihat saja. Setelahnya orang ini malah tampak tersenyum puas.

“Fisika dapat ditemukan di sekitar anda,” seorang pria berkaca mata tampak sedang memberikan pelajaran. “Contohnya, di sini,” pria itu lalu mengambil sebuah benda kecil. “Anda bisa menggunakan ini untuk tetap sehat. Ini disebut pedometer. Dengan model terbaru, saat dikocok, ini tidak akan menghitung. Tapi saat anda berjalan, ini menghitung. Bukankah anda berpikir ini misterius?”
Pria tadi masih tampak bersemangat menjelaskan. Tapi ternyata yang ada di depannya semua adalah para orang tua. Para orang tua itu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dan hanya satu orang yang bertahan mendengarkan penjelasan pria berkaca mata tadi. Pria berkacamata tadi melanjutkan, “Alat ini memiliki sensor percepatan di dalamnya. Mikrokomputer di dalamnya mendeteksi gerakan yang serupa dengan berjalan, dan mengabaikan getaran lain. Bukankah ini menarik? Ini disebut elemen piezoelectrik (3).”
Dari arah pintu tampak seseorang membuka pintu ruangan. Orang itu rupanya Kuribayashi-san, dan si pengajar tadi mengenali tamunya ini.
Kuribayashi-san kemudian datang ke apartemen si pria berkaca mata tadi, “Membicarakan elemen piezoelektrik agak sulit bagi mereka (para lansia), Takato-kun, karena kau menceritakan hal kuno,” komentar Kuribayashi-san.
“Tidak masalah, lagipula bayarannya hanya 8.000 yen saja,” ujar pria yang disebut Takato itu sambil duduk di dekat Kuribayashi-san.
“8.000 tiap kelas?! Tidak buruk untuk pekerjaan tambahan,” komentar Kuribayashi-san setengah terkejut.
“Pekerjaan tambahan? Ini pekerjaan utamaku,” elak Takato-san.
“Apa? Bukannya kau bekerja di perusahaan?”
“Aku berhenti,” cerita Takato-san lagi. “Mereka mengatakan mempublikasikan penelitianku tidak mungkin. Tidak ada yang mengerti betapa berharganya penelitianku.”
Kuribayashi-san melihat ke arah foto Takato-san yang ada di ruangan itu, “Apa kau akan baik-baik saja? Bagaimana dengan istrimu? Dia perawat kan?”
“Ah, Yumi mengatakan, mau bagaimana lagi. Faktanya pekerjaannya lebih membantu.”
Kuribayashi-san merasa tidak enak karena datang di saat yang tidak tepat. Ia pun berniat pamit pergi. Tapi Takato-san menahannya. Takato-san mengatakan tidak masalah mereka minum-minum malam itu, karena istrinya ada sift malam sehingga belum akan pulang hingga besok. Kuribayashi-san tadinya tidak enak, tapi akhirnya dia menyerah dan setuju untuk minum bersama.
Sambil minum, Kuribayashi-san mencoba menghibur temannya itu. Ia mengatakan jika ada ilmuwan lain yang juga mengalami kesulitan keuangan. Kuribayashi-san juga menceritakan soal atasannya, Yukawa-sensei yang mendapat tantangan dari si tangan iblis. Saat Takato-san bertanya apa kejadian ini membuat Yukawa-sensei terganggu, Kuribayashi-san mengatakan tidak yakin. Ia juga bercerita jika polisi tidak terlalu peduli.
“Apa kau punya buku?” tanya Kuribayashi-san tiba-tiba.
“Ada di sana,” Takato-san menunjuk ruangan di sebelahnya.
“Boleh aku lihat?” Kuribayashi-san hendak masuk ke ruangan itu.
Tapi Takato-san dengan sigap menahannya, “Itu ruang tidur!” Dan di dinding ruangan itu tampak beberapa lubang kecil aneh.
“Ini beberapa list kecelakaan fatal yang terjadi di Tokyo beberapa bulan belakangan,” ujar Ohtagawa-san pada Kishitani.

Beberapa kali Ohtagawa-san mulai membaca, Kishitani merebut laporan kecelakaan itu, “Kenapa kau tidak memilih jenis kecelakaan yang aneh saja?!” protes Kishitani. “Misalnya seseorang yang jatuh dari alat gym dan meninggal. Atau jatuh karena kulit pisang, terbentur kepalanya dan meninggal. Si tangan iblis ini mungkin bertanggungjawab untuk kecelakaan sederhana seperti itu.”
“Memangnya kau pikir berapa banyak insiden seperti itu terjadi di Tokyo?”
“Tapi, kita tetap harus melihat lagi kecelakaan seperti itu.”
“Tapi tidak mungkin kalau hanya kita berdua,” protes Ohtagawa-san tidak mau kalah.
“Kenapa kau tidak minta bantuan pada MPD?” usul Kishitani. Ia kemudian keluar dari ruangan itu. Tapi setelahnya kembali lagi, “Kita berurusan dengan si tangan iblis!”
Kuribayasahi-san dan Takato-san selesai minum-minum. Kuribayashi-san pun pamit untuk pulang. Takato-san mengingatkan Kuribayashi-san agar tidak lupa membawa ponselnya.
“Aku senang menjadi temanmu, Takato-kun. Kita benar-benar mirip. Sampai jumpa,” pamit Kuribayashi-san.
Setelah Kuribayashi-san pergi, wajah cerita Takato-san berubah menjadi muram, “Mirip apanya?”
Tiba-tiba pintu apartemen Takato-san kembali terbuka. Kuribayashi-san kembali dan memberikan koran yang sudah datang. Kali ini Kuribayashi-san benar-benar pergi, Takato-san pun kemudian mengunci pintu apartemen itu.
Takato-san masuk ke dalam ruangan yang tadi tidak jadi dimasuki oleh Kuribayashi-san. Ruangan itu benar sebuah kamar, tapi di dindingnya penuh dengan artikel tentang Yukawa-sensei. Beberapa artikel menyebutkan kalau Yukawa-sensei terlibat membantu kepolisian memecahkan kasus. Dan dari semua artikel itu, tampak bekas-bekas cacahan oleh benda tajam pada wajah Yukawa-sensei. Takato-san menyimpan sebuah rahasia dalam dirinya. Takato-san mengambil benda tajam dan mulai menusuk-nusuk wajah Yukawa-sensei dengan benda itu.
11 Juni.
Kishitani sudah menunggu Yukawa-sensei di depan labnya. Dan setelah profesor fisika itu datang, Kishitani langsung menunjukkan surat lain yang datang dari si tangan iblis.
Ishizuka Seiji tertabrak kereta dan meninggal pada 7 Juni. Kekuatan si tangan iblis menyebabkan hal itu terjadi. Sampaikan salamku pada Profesor Y. Si tangan iblis. Kolom T, baris O,88. Si tangan iblis.
Kishitani melanjutkan, “Seperti pada surat ini, Ishizuka Seiji (25) tertabrak kereta dan meninggal di Omori, Ohta-ku pada 7 Juni. Dan ini sesuai dengan tabel angka acak. Di balik surat ada alamat situs lain. “ Kishitani mengambil tabletnya dan membuka alamat itu, “Ini adalah site resmi tim baseball Arslies. Cek pesan di bawahnya, mereka mengalami kegagalan parah. Mereka tidak akan jadi pemenang tahun ini. Aku tidak punya energi lagi untuk hidup. Aku mungkin akan melompat di depan kereta besok. Dari fans kedua.
“Fans kedua … “ gumam Yukawa-sensei yang sudah melepas jasnya dan duduk di mejanya.
“Pesan ini ditulis pada 11.08, hari sebelumnya, 6 Juni,” ujar Kishitani pula. Sementara Kuribayashi-san merebut tablet itu karena ingin tahu, Kishitani melanjutkan ucapannya. “Ishizuka-san akan menikah musim gugur ini. Tidak mungkin kehidupannya akan membuat dia depresi seperti ini. Dan lebih penting, dia adalah fans bola.”
“Ini si tangan iblis!” seru Kuribayashi-san yakin. “Tapi aku tidak melakukan ini!”

Kishitani merasa terganggu dengan teriakan Kuribayashi-san dan mengabaikannya dengan menutup telinga, “Si tangan iblis, menggunakan metode yang kita tidak mengerti. Menyebabkan seorang pekerja berpengalaman jatuh dari atap, dan menyebakan seorang karyawan melompat ke rel kereta api tanpa alasan.”

“Kenapa? Kenapa si pelaku menggunakan internet? Meski identitasnya mungkin akan ketahuan,” gumam Yukawa-sensei bangkit dari kursinya.
“Kami belum berhasil menemukan siapa yang mengirim pesan ini,” sambung Kishitani.
“Dia mungkin menggunakan server di luar negeri,” ujar Kuribayashi-san.
Yukawa-sensei beranjak ke pantry dan menyiapkan kopinya, “Daripada menggunakan hal menyulitkan seperti itu, dia bisa dengan sederhana mengirimiku surat dengan post. Kirimkan itu sebelum tiap insiden, dan aku akan datang setelahnya. Itu adalah cara teraman bagi si pelaku.”
Tapi pembicaraan mereka terpotong oleh dering suara ponsel Kishitani. Rekannya, Ohtagawa-san meminta Kishitani kembali ke markas, karena sesuatu yang besar terjadi.
Si tangan iblis rupanya mengirimkan surat ke media massa. Karena hal ini, polisi mau tidak mau akhirnya mengadakan konferensi pers. Meski begitu, polisi masih tetap bungkam mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Berbagai pernyataan dan kekhawatiran muncul di kalangan masyarakat. Mereka mulai panik, jika benar insiden yang terjadi adalah ulah si tangan iblis.
Di tempat lain, Yukawa-sensei ternyata juga melihat konferensi pers polisi dari lab-nya. Ia lalu mematikan televisi dan beranjak pulang.
Kishitani yang baru datang dari lab Yukawa-sensei akhirnya kembali ke markas. Di depan markas, ramai oleh para kuli tinta yang mencari informasi detail mengenai sosok yang dikenal dengan si tangan iblis ini.
Kishitani lalu menghubungi ponsel Yukawa-sensei, “Media massa mungkin datang ke tempatmu. Tapi, kau tidak perlu mengatakan apapun. Kau bisa bilang kalau kau tidak ada hubungannya dengan insiden ini.”
“Aku tidak berniat mengatakan apapun. Yang utama, aku tidak punya alasan untuk berurusan dengan mereka,” jawab Yukawa-sensei kalem. Ia pun lalu keluar dari lab-nya dan menutup pembicaraan. Tapi ponselnya kembali berbunyi, dari nomer tidak dikenal.

“Kolom S, baris G, 96. Kolom T, baris O, 88,” ujar suara di seberang.

“Apa tujuanmu?” tanya Yukawa-sensei.
Tapi orang yang bicara dari sebuah telepon umum itu terus saja melanjutkan, “Kolom K, baris N, 20.”
“Jika ada yang ingin kau katakan padaku, katakan itu sekarang!”
“Kolom N, baris F, 61.”
“Apa yang yang akan dilakukan seseorang yang menyebut dirinya ilmuwan?”
“Kolom U, baris P, 17,” lanjut orang itu lagi, kemudian tertawa.
Yukawa-sensei yang sudah kesal akhirnya menutup pembicaraan dan beranjak pergi.
Yukawa-sensei dan Kishitani mendatangi TKP insiden kecelakaan kereta api.
“Benar-benar kacau! Para peniru si tangan iblis mengirim surat ke sekolah-sekolah, perusahaan, dll. Tapi para peniru tidak tahu soal tabel angka acak, jadi mudah diketahui mana surat yang palsu. Tabel nomer acak sangat membantu, artinya si tangan iblis sebenarnya membantu kita!” curhat Kishitani. Mereka berdua lalu menyeberang setelah kereta lewat dan pintu perlintasan kembali terbuka. “Beberapa taman bermain tutup sementara meski kita mengatakan soal surat yang mereka terima adalah palsu.”
Yukawa-sensei memperhatikan sekeliling tempat itu sambil mencocokkannya dengan foto, “Hal yang sama … “ ia lalu melihat ke sebuah rambu tanda parkir.
“Mungkin sekarang si pelaku tidak berhenti tertawa,” lanjut Kishitani.
Yukawa-sensei dan Kishitani kembali ke lab. Tapi Yukawa-sensei masih meneruskan pemikirannya.
“Pesan diposkan di internet sehari sebalum kejadian. Kenapa si pelaku mengeposkan pesan kejahatannya di internet? Dan kenapa dia mengirimkan surat pengakuan kejahatan lewat pos?” Yukawa-sensei mencorat-coret di papan tulis. “Dan satu lagi, kecelakaan itu terjadi pada tanggal 7 Juni. Pelaku mengirimkan surat pengakuan kejahatan karena membunuh Ishizuka-san pada tanggal 10 Juni. Dengan kata lain, itu 3 hari setelah kejadian. Apa yang dilakukan si pelaku selama itu? Aku punya pertanyaan lain. Biasanya, catatan kejahatan datang sebelum surat pengakuan. Tapi ini benar-benar sebaliknya.”
Kishitani tampak berpikir keras, “Si pelaku fokus untuk membunuh.” Tiba-tiba Kishitani teringat sesuatu, “Ah, 3 hari yang kau sebutkan ini, korban Ishizuka-san tidak sadarkan diri, dan dia baru meninggal pada 10 Juni. Si pelaku mungkin melihat berita dan mengirim surat pengakuan. Karena si pelaku menyebut dirinya si tangan iblis, dia pasti harus membunuh orang!” ujar Kishitani mendramatisir suasana.
Ucapan Kishitani membuat Yukawa-sensei menyadari sesuatu. Ia pun berbalik, “Kau salah!” Yukawa-sensei menyingkirkan Kishitani dari depan papan tulis. “Pernyataan jika si tangan iblis dapat membunuh orang kapan dan dengan cara apapun itu kebohongan.” Yukawa-sensei lalu mengambil surat yang tadi dibawa Kishitani, tampak berpikir.
Perintis Penelitian Fisika dan Simposium Pengembangan. Takato-san memandangi makalah di depannya dengan wajah geram, di dalam kamarnya.
Suasana kemudian berubah. Saat itu Takato-san berada di depan sebuah simposium dan tengah mempresentasikan makalahnya. Ia berhasil membuat audiens terkesan akan tulisannya itu. Tapi tiba-tiba saja seseorang mengangkat tangannya dan berniat bertanya.
“Saya Yukawa dari Universitas Teito. Meski penelitian Takato-san sangat menarik, tapi terdapat kekeliruan… “
Kembali ke kamar Takato-san. Ia begitu geram menyebut nama profesor dari universitas Teito itu, “Yukawa … “ ponsel Takato-san kemudian berdering. Dari Kuribayashi-san.

Rupanya Kuribayashi-san mengajak Takato-san untuk minum-minum. Kuribayashi-san juga mulai curhat soal masalah dan keributan yang terjadi karena ulah si tangan iblis. Bahkan universitas pun ikut repot karena hal ini. Kuribayashi-san menceritakan ada kemungkinan Yukawa-sensei bahkan harus meninggalkan universitas jika ini terus berlanjut.
“Itu peluang bagus untukmu. Kau bisa mengambil alih posisinya,” komentar Takato-san.
“Ah, itu sedikit keterlaluan,” elak Kuribayashi-san.
“Tapi dunia saintis berdasarkan keberuntungan dan kekuatan politik,” lanjut Takato-san. “Kemampuan Yukawa-sensei sebenarnya tidak terlalu jauh dibanding kita.”
Baru saja Kuribayashi-san akan berkomentar lagi, ia yang sudah setengah mabok malah menumpahkan minuman. Akhirnya Kuribayashi-san ribut sendiri untuk membersihkan itu.

Pusat teknologi
Kishitani datang ke sebuah ruangan seperti diminta Yukawa-sensei. Kali ini ia dibuat terkejut dengan ruangan penuh komputer dan juga layar besar di salah satu sisinya. Di depan masing-masing komputer, tampak para pegawai dan para mahasiswa asyik mengetik di atas keyboard.
“Ruangan apa ini? Apa yang mereka lakukan?” Kishitani heran.
“Kami mencari jejak yang ditinggalkan oleh si tangan iblis,” ujar Yukawa-sensei kalem sambil menunjuk monitor besar di depan mereka. “Jika si pelaku mengirimkan surat pengakuan setelah nama si korban muncul di berita, inilah bagaimana mereka melakukannya.”
“Tolong jelaskan agar orang sosial sepertiku dapat mengerti,” pinta Kishitani mulai frustasi.
“Si pelaku menulis pesan kejahatan di pesan internet, kemudian melakukan apa yang dia tulis. Tapi, tidak semua rencana kejahatannya sukses. Saat kejahatannya tidak sesuai rencana, pelaku tidak mengirimkan surat pengakuan atau mengatakan pada kita keberadaan pesan kejahatan yang dia rencanakan. Jika pelaku tidak dapat menyebabkan kecelakaan, rencananya gagal. Dan lagi, meski ia menyebabkan kecelakaan, jika korban tidak meninggal, dia juga gagal. Kemungkinan si pelaku akan berada dalam masalah jika kematian korban tidak terbukti. Korban yang tidak meninggal mungkin tahu sesuatu tentang si tangan iblis ini,” Yukawa-sensei mencoba menjelaskan.
“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” Kishitani menyerah.
Tiba-tiba salah satu mahasiswa menyebutkan kalau ia berhasil menemukan sesuatu. Yukawa-sensei langsung melihat hasil temuan itu di monitor besar. Situs yang ditemukan itu adalah fansclub untuk sebuah grup idola, Horiuchi Marina dan SMA Sakura.
Aku mendengarkan musik kalian setiap hari di mobil. Aku akan berbelanja di Ginza besok, aku harus hati-hati agar tidak menyebabkan kecelakaan. Oleh Fans kedua. Pesan itu ternyata diposting pada tanggal 4 Juni pada 8.13 malam.
“Jika pesan ini diposkan sebelum si tangan iblis gagal, pasti ada korban kedua. kishitani-kun, tolong investigasi semua kecelakaan yang terjadi di jembatan sekitar Ginza pada 5 Juni!” pinta Yukawa-sensei.
“Semua kecelakaan fatal?” Kishitani tidak yakin.
“Tidak. Semua kecelakaan tidak fatal!”
Kishitani mengajak Yukawa-sensei mendatangi seseorang. Wanita ini diselamatkan polisi yang nyaris jatuh dari jembatan pada 5 Juni sekitar pukul 3 sore.
Wanita itu bercerita kalau ia melihat jembatan seperti bergelombang karena gempa. Tapi saat melihat mobil-mobil lain berjalan dengan normal, wanita itu sadar kalau ia yang pusing. Wanita itu mengaku merasakan dengungan di telinganya. Tapi ia berhasil bertahan kemudian parkir di sisi jalan.
“Itu mirip dengan penyakit Meniere (4),” komentar Yukawa-sensei. Ia asyik sendiri melihat jalanan di luar dari jendela apartemen wanita itu.
“Aku menemui dokter, dan dia mengatakan tidak ada yang salah,” cerita wanita itu lagi.
“Pusing. berdengung di telinga. Jembatan tampak bergelombang,” gumam Yukawa-sensei. Ia kemudian menyadari sesuati. Buru-buru ia beranjak dari sisi jendela.

Kishitani menyadari sesuatu, “Jangan! Tunggu! Gunakan kertas ini!” pintanya.
Tapi Yukawa-sensei tidak peduli. Ia mengambil lipstik yang ada di atas meja, dan mulai menulis di cermin yang ada di ruangan itu. Satu per satu fakta berseliweran di kepalanya.
“Itu bukan tempat yang tepat!” sesal Kishitani. Tapi profesor itu sudah beranjak pergi. Dengan takut-takut Kishitani melihat ke arah si wanita pemilik apartemen, “Aku akan membersihkannya.”

Di apartemennya, Takato-san sedang menyaksikan berita. Ternyata Yukawa-sensei sedang diwawancarai oleh seorang pembaca acara di televisi terkait insiden yang belakangan terjadi itu.
“Meski si pelaku bisa menyebabkan kecelakaan di tempat tertentu, dia tidak dapat membunuh orang tertentu. Si pelaku menemukan nama korban di berita. Dengan kata lain, si pelaku membunuh orang secara acak, dan setelahnya membuat pernyataan sesuai fakta. Itu benar-benar kecurangan,” ujar Yukawa-sensei. “Dan metode yang digunakannya adalah sains umum. Maksudku teknik lama dan kuno.”
“Jadi, maksud anda kejahatan level rendah?” si pembawa acara menyimpulkan.
Takato-san yang melihat berita itu geram luar biasa. Ia merasa dipermainkan.
Flash back saat Takato-san mempublikasikan tulisannya di simposium.
“Dalam penelitian Takato-san, ada kesalahan,” ujar Yukawa-sensei. “Jika kau menggunakan poros berpilin, itu hanya akan berfungsi untuk kondisi terbatas.”
“Pengaturan kondisi itu tidak akan jadi masalah di masa depan,” jawab Takato-san.
“Kalau begitu, aku pikir menggunakan poros magnetik yang aku kembangkan akan lebih efisien dan ekonomis,” lanjut Yukawa-sensei.
“Efisiensi harga bukan tujuanku satu-satunya.”
“Kalau begitu, ini tidak terlalu inovatif. Tentu saja, aku tidak membantah betapa bernilainya penelitianmu ini. Aku menikmati proposal ini. Terimakasih banyak,” Yukawa-sensei menutup ucapannya. Setelahnya Takato-san spechless. Ia tidak bisa membalas apapun. Bahkan para peserta simposium pun keluar satu per satu dari ruangan itu.
Kembali ke Takato-san. Kali ini ia kembali dibuat naik darah oleh Yukawa-sensei yang meremehkannya.
“Menggunakan nama ‘si tangan iblis’ sudah melebihi batas. Dia mencoba menggunakan nama itu untuk melakukan kejahatan tidak penting. Dan yang pasti, si tangan iblis itu tidak ada,” tegas Yukawa-sensei.
Takato-san mematikan televisi. Ia lalu membanting remote ke arah dinding tempat berpuluh artikel tentang Yukawa-sensei tertempel di sana. Ia lalu beranjak ke depan laptopnya dan mulai menulis sesuatu.

“Kenapa kau melakukan itu?!” protes Kishitani. “Kau muncul di TV dan mengatakan tentang detail investigasi. Dan lagi, bukannya kau benci media massa?”

Yukawa-sensei yang sedang asyik dengan percobaannya hanya melirik sekilas ke arah Kishitani. Ia lalu berbalik dan menunjukkan laptopnya. Yukawa-sensei akan melakukan percobaan di sebuah kampus.
“Kampus Hayama?” Kishitani heran.
“Harga diri si pelaku pasti terluka karena komentarku di TV. Jadi dia akan menyerang seseorang secara tertentu. Dengan kata lain, aku,” ujar Yukawa-sensei kalem.
16 Juni
Hari itu Yukawa-sensei berkendara dengan Kuribayasahi-san. Dan si tangan iblis, alias Takato-san rupanya sudah menunggu di mobilnya. Saat melihat mobil kuning milik Kuribayashi-san lewat, ia buru-buru mengikutinya.
“Aku merasa tidak nyaman, Sensei. Kenapa kau terus melihat ke arahku?” tanya Kuribayashi-san.
“Tolong jangan buat itu mengganggumu. Aku suka pemandangan di sisi sana.” ujar Yukawa-sensei masih terus melihat ke sisi kiri itu.
Kuribayashi-san melihat ke arah kanan dan kiri jalan, membandingkan, “Apa bedanya?”
Saat melihat Kuribayashi-san akan berpindah jalur ke arah kanan, Yukawa-sensei mencegahnya, “Tolong tetap mengendara di jalur kiri,” pinta Yukawa-sensei.
“Kiri? Baiklah,” Kuribayashi-san menurut. “Kenapa kau ingin mengajar di Hayama? Ini sangat tidak lazim. Kau hanya bisa datang ke sana dengan mobil.” (maksudnya tidak ada kereta sampai Hayama. Kereta adalah alat transportasi utama di Jepang)
“Itulah kenapa aku memilihnya,” jawab Yukawa-sensei sekenanya. Ia mulai menyadari sesuatu. Ada mobil yang mengikuti mereka. Yukawa-sensei lalu menurunkan sandaran kursinya.
“Kenapa? Karena ini kuliah spesial, aku ingin banyak orang yang datang,” komentar Kuribayashi-san heran. Mobil mereka mulai masuk ke dalam terowongan.
Dari arah lain, Takato-san sudah bersiap di mobilnya. Ia lalu mengepaskan mobilnya di sisi mobil yang dinaiki Kuribayashi-san dan Yukawa-sensei. Setelah pas, ia lalu menarik tuas pengatur di sisinya, “Mati!”
Sementara itu di dalam mobil, Kuribayashi-san mulai merasa pusing. Jalanan di depannya tampak bergelombang. Kuribayashi-san tampak berusaha mengembalikan kesadarannya. Tapi ia melepaskan tangannya dari kemudi. Dan dengan mudah mobil yang mereka naiki itu mulai kehilangan arah.
“Kuribayashi-san. Kuribayashi-san!” Yukawa-sensei berusaha membuat Kuribayashi-san sadar. Ia memegang kemudi sambil kemudian menarik sebuah headset yang sudah dipersiapkannya dan memasangkannya di kepala Kuribayashi-san kemudian memencet tombol.
Setelah dipasang headset, Kuribayashi-san berangsur mendapatkan kembali kesadarannya. Ia bergegas kembali mengambil alih kemudi. Mereka pun berhasil keluar dengan selamat dari terowongan itu.
Sementara itu di sisi lain jalan, Takato-san merasa heran karena rencananya kali ini gagal. Ia mempercepat laju mobil karena ingin tahu apa yang terjadi. Ia kemudian melihat bahwa yang ada di belakang kemudi adalah Kuribayashi-san dengan headset di kepalanya. Sejurus kemudian Yukawa-sensei tampak muncul dari sebelah Kuribayashi-san dengan tatapan tajam. Takato-san yang sadar telah ketahuan pun langsung tancap gas melarikan diri.
Setelah merasa aman, Yukawa-sensei menghubungi Kishitani, “Van putih. Plat nomernya “Shinagawa 6425”.”
Kuribayashi-san tidak mengerti apa yang terjadi, “Ada apa? Maaf, tadi aku tiba-tiba pusing tanpa alasan. Apa ini?” ia heran meraba sebuah headset di kepalanya.
Yukawa-sensei membantu Kuribayashi-san melepas benda itu, “Maaf, aku memakaikannya padamu.”
Berdasarkan informasi dari Yukawa-sensei, polisi yang memang sudah bersiap dengan mudah menjebak mobil van putih itu. Mereka berhasil menghentikan mobil putih itu. Dan betapa kagetnya mereka saat menemukan bagian belakang mobil putih itu berisi sebuah alat cukup besar dan juga … sekop. Dan pengemudi mobil putih itu adalah … Takato-san.
Kembali ke waktu Yukawa-sensei dan Kishitani berada di lab
“Si pelaku akan berpikir ini peluang besar baginya saat melihat pemberitahuan ini di web. Karena kampus Hayama sulit dijangkau, dia akan berpikir jika ‘Yukawa akan datang ke sana dengan berkendara’.”
“Apa kau akan jadi umpan?” tanya Kishitani.
“Dan kau akan menangkap pelakunya,” ujar Yukawa-sensei setelah menyelesaikan alat buatannya.
“Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan hal berbahaya,” sergah Kishitani.
“Cuma aku yang bisa melakukan ini,” ujar Yukawa-sensei tetap tenang sambil melepas kaca matanya.
Di ruang interogasi.
“Kami tidak bisa menemukan Kato Yumi-san. Dia kekasihmu kan?” tanya Kishitani sambil menunjukkan sebuah foto pada Takato-san yang ada di depannya.
“Dia istriku!” elak Takato-san.
“Tapi, kau tidak menikahinya. Hanya kau yang mengenakan cincin kawin. Dimana Kato Yumi-san?”
Setelah terdiam cukup lama, Takato-san akhirnya kembali bicara, “Aku menguburkannya di gunung di Oku-Tama. Yumi terbunuh 6 bulan silam.”
“Terbunuh? Kau yang melakukannya?” Kishitani kaget.
“Bukan aku!” potong Takato-san cepat. “Yumi, istriku terbunuh oleh Yukawa Manabu! Jika dia tidak ada, ini tidak akan terjadi!” Takato-san mulai depresi dan menggigiti kukunya.
Seperti biasa, Kishitani datang ke lab Yukawa-sensei. Kali ini ia membawa kabar tidak terduga untuk Kuribayashi-san, “Takato Eiji (47) seorang fisikawan. Dia pernah bekerja di Institut Teknologi dan Kimia Tokyo sebagai dosen. Tapi dia berhenti 10 tahun silam. Sejak saat itu, dia sering berganti pekerjaan. Pekerjaannya sekarang adalah menjadi pengajar di panti jompo. Bisa dikatakan di pengangguran.
“Takato-kun… “ Kuribayashi-san tidak percaya dengan cerita Kishitani.
Kali ini Yukawa-sensei yang melanjutkan, “Dia menggunakan “Long Range Acoustic Device”—alat akustik range panjang (5). Ini adalah tipe mesin yang sama yang digunakan di Afganistan dan Iraq. Ini disebut LRAD. Ini adalah senjata suara yang tidak mematikan. Senjata ini memancarkan gelombang supersonik sebesar 23 kHz (kiloHertz) melalui speaker langsung untuk mengganggu keseimbangan.”
“Semua korban merasa pusing atau dengungan di telinganya,” Kishitani iseng menggerakkan pulpen di telinga Kuribayashi-san. Puas dengan keisengannya, Kishitani mendekati Yukawa-sensei yang berada di sisi lain meja, “Tapi, headset ini untuk apa?”
“Aku memberikan arus listrik pada telinganya, dan memperbaiki sistem keseimbangan Kuribayashi-san,” ujar Yukawa-sensei sambil memencet tombol penghubung alat itu.
“Dengan kata lain, ini bisa mencegah efeknya,” Kishitani menyimpulkan.

 
“Kenapa Takato-kun menyerang Yukawa-sensei?” Kuribayashi-san frustasi sendiri.
Tapi Kishitani mengabaikannya, “Takato mengatakan hal ini padaku. Dia (Yukawa Manabu) seorang fisikawan jenius. Tapi dia (Takato) hancur oleh Yukawa sekitar 10 tahun silam.”
“10 tahun silam?” gumam Yukawa-sensei.
“Meski dia mempublikasikan hasil penelitiannya di konferensi akademik, kau (Yukawa) mengatakan hal tidak penting,” lanjut Kishitani.
Yukawa-sensei tampak berpikir, “Aku tidak ingat sama sekali. Dan lagi, kalau aku terlalu peduli pada hal kecil seperti itu, aku pasti sudah mati sekarang.”
“Aku bisa membayangkan perasaan orang-orang yang kau sakiti.”
“Dan lagi, kenapa Takato baru ingin balas dendam padamu sekarang?” tanya Yukawa-sensei.
“Dia bertengkar hebat dengan kekasihnya (Yumi) enam bulan silam. Dia (Yumi) mengatakan kalau dia (Takato) selalu mencari alasan dengan menyalahkan orang lain. Saat dia (Yumi) mengatakan ingin putus, dia (Takato) menjadi tidak sabar dan membunuhnya,” cerita Kishitani. “Takato menyalahkan pembunuhan itu karena Yukawa-sensei. Itulah awal dari semua insiden ini.”
“Cerita yang sangat menyedihkan,” komentar Yukawa-sensei yang sudah asyik menulis sambil sesekali melihat ke arah laptopnya.
“Btw, Kuribayashi-san! Takato mendekatimu karena kau asisten Yukawa-sensei. Itu artinya … “ Kishitani sengaja memotong ucapannya.
“Kuribayashi-san kaki tangannya,” sambung Yukawa-sensei.
“Tidak! Aku tidak membantunya sama sekali!” elak Kuribayashi-san cepat.
“Itu benar,” ujar Kishitani kemudian. “Takato mengatakan padaku kalau dia tidak mendapatkan informasi berguna dari Kuribayashi-san. Dan yang dia (Kuribayashi) lakukan hanyalah mengeluh. Jangan bilang kau mengeluh soal Yukawa-sensei?” tebak Kishitani.
“Tidak!”
“Tidakkah kau mengatakan kalau akan mengambil posisi Yukawa-sensei?” tembak Kishitani lagi.
“Bagaimana kau tahu?” Kuribayashi-san terbawa suasana. Tapi menyadari mereka membicarakan orang yang juga ada di ruangan itu, Kuribayashi-san buru-buru menutup mulutnya.
Yukawa-sensei sudah beranjak mengenakan kembali jasnya, “Permisi,” ujarnya sambil mengambil bahan ajar. “Silahkan coba lain kali kalau ingin mengambil posisiku. Aku akan ke kelas,” ujar Yukawa-sensei sambil beranjak pergi.
“Bersenang-senanglah!” ujar Kishitani.
“Tunggu! Maafkan aku sensei!” mohon Kishitani. Tapi Yukawa-sensei sudah pergi. Dan hanya tinggal Kishitani yang mengelus-elus punggung Kuribayashi-san, menghiburnya.

~bersambung~
Kelana’s comment:
Orang kalau udah terobsesi emang gaswat ya. Bisa melakukan apapun agar obsesinya tercapai. Tapi yang pasti, hati-hati dalam bertindak, bersikap dan bicara. Mungkin kita tidak berniat menyakiti, tapi belum tentu di luar sana orang lain berpikir hal yang sama. Bisa saja hal yang menurut kita kecil, tapi itu justru menyakiti perasaan orang tersebut. Jadi, jangan sungkan untuk minta maaf ya. #mengingatkan_diri_sendiri
Catatan :
   
(1) Universal gravitasi — Gravitasi umum : gravitasi dengan ‘v’ lho ya, bukan f. Pada prinsipnya, semua benda yang ada di jagad raya ini akan mengalami gravitasi atau lebih lengkapnya gaya gravitasi (disebut juga gaya tarik menarik) jika terjadi interaksi antar benda tersebut. Gaya gravitasi umum atau gaya gravitasi Newton besarnya sebanding dengan hasil kali massa kedua benda tadi dan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya. Artinya semakin besar massa, maka gaya gravitasinya semakin besar, begitu pula, semakin kecil jarak, gaya gravitasinya makin besar. Karena dipengaruhi massa, maka interaksi ini hanya akan tampak pada benda yang bermassa besar, contohnya bumi dan bulan, bumi dengan matahari, dll. Bagaimana dengan manusia? Manusia sebenarnya juga mengalami hal ini. Tetapi karena massanya yang relatif kecil, maka gaya gravitasai / interaksi yang terjadi tidak dapat diamati dengan mata biasa.
(2) Black Hole – Lubang hitam : adalah sebuah fenomena pemusatan massa yang cukup besar sehingga menghasilkan gaya gravitasi yang sangat besar. Gaya gravitasi yang sangat besar ini mencegah apa pun lolos darinya kecuali melalui perilaku terowongan kuantum. Medan gravitasi begitu kuat sehingga kecepatan lepas di dekatnya mendekati kecepatan cahaya. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnetik yang dapat lolos dari gravitasinya, bahkan cahaya hanya dapat masuk tetapi tidak dapat keluar atau melewatinya, dari sini diperoleh kata “hitam”. Istilah “lubang hitam” telah tersebar luas, meskipun ia tidak menunjuk ke sebuah lubang dalam arti biasa, tetapi merupakan sebuah wilayah di angkasa di mana semua tidak dapat kembali. Secara teoritis, lubang hitam dapat memliki ukuran apa pun, dari mikroskopik sampai ke ukuran alam raya yang dapat diamati. Lubang hitam sendiri masih merupakan teori, jadi harus dibuktikan dulu sebelum dapat diterima kebenaranannya.

(3) elemen piezoelectrik : sebuah elemen yang biasanya digunakan sebagai sensor pada beberapa peralatan. Elemen ini digunakan untuk mengukur perubahan tekanan, percepatan, regangan atau gaya dengan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Kata ‘piezo’ sendiri berasal dair bahasa Yunani yang berarti press—tekanan.

(4) penyakit Meniere : gangguan yang menyerang telinga bagian dalam dan spontan menyebabkan vertigo, dibarengi dengan gangguan pendengaran yang fluktuatif, telinga berdenging (tinnitus), dan rasa tekanan di telinga. Pada kebanyakan kasus, penyakit Meniere hanya mempengaruhi satu telinga saja. Penyebab pasti dari penyakit Meniere belum diketahui tetapi kemungkinan disebabkan karena akumulasi cairan berlebih di telinga dalam. Orang-orang pada usia 40-an dan 50-an lebih berisiko memiliki penyakit ini dibandingkan kelompok usia lainnya, tetapi penyakit ini bisa juga terjadi pada siapa saja, bahkan anak-anak. Tanda-tanda utamanya adalah vertigo yang berulang dan gangguan pada pendengaran.

(5) Long Range Acoustic Device—alat akustik range panjang : peralatan yang memancarkan akustik range panjang dan senjata suara untuk mengirim pesan, peringatan dan melukai. Sistem LRAD digunakan sebagai senjata tidak mematikan dan alat komunikasi. Sistem LRAD digunakan oleh AL, militer dan perusahaan kemanan komersil untuk mengirim perintah dan peirngatan dalam jarak jauh. LRAD juga digunakan pada fasilitas pembangkit listri tenaga angin dan solar, fasilitas tenaga nuklir dan membantu dalam kegiatan pertanian dan fasilitas industri.


Semua informasi tambahan di sinopsis ini nyata dan bisa dibuktikan kebenarannya. Jika ada beberapa yang keliru/kurang tepat, itu semata-mata kesalahan author. Silahkan bagi sobat2 semua yang ingin mengoreksi atau melengkapinya.
Written by Kelana [Blog|FB|Twitter]
captured images by +ari airi 
Posted only on pelangidrama.net
DON’T REPOST TO ANOTHER SITE/FP FB!!!