[Download] Drama New My Fair Princess- Huan Zhu Ge Ge Remake

Kabar gembira , drama remake dari Putri Huan Zhu telah tayang di negeri asalnya, sudah sampai episode 12 sampai dengan hari ini :D, Drama ini terdiri dari 3 season dengan rincian episode sebagai berikut :

Season 1 : 36 Episode
Season 2 : 38 Episode
Season 3 : 24 Episode

Bagi fans setia PHZ, drama ini dapat di download di : alicechensworld (size 300-600MB dengan subtitle Cina), Youtube (size 260-300MB subtitle Cina), atau streaming secara online atau download dengan subtitle Engsub dapat di lihat di Viki (size kurang tahu karema mencoba download komputer harus terinstal adobe flash player hehehe) :

Main Cast :

Li Sheng as Xiao Yan Zi / Huan Zhu Ge Ge & Zhang Rui as Yong Qi / Wu A Ge (Fifth Prince)

Hai Lu as Xia Zi Wei & Li Jia Hang as Fu Er Kang

Chai Bi Yun as Sai Ya & Lu Hong as Fu Er Tai

Zhao Li Ying as Qing Er / Qing Ge Ge & Gao Zi Qias Xiao Jian

Madina Mammat as Han Xiang & Zhang Dan Feng as Mardan (Mengdan?)

Jin Suo & Liu Qing

Sheren Tang as Empress Ulanara / Huang Hou & Fang Qing Zhuo as Rong Mo Mo

Li Sheng as Xiao Yan Zi & Liu Xiao Ye as selir Ling / Ling Fei Niang Niang

Li Sheng as Xiao Yan Zi & Qiu Xin Zhi as Emperor Qianlong / Huang Shang / Huang A Ma

Karakter Lain :
Ruby Lin as Xia Yu He
Liu Xue Hua as Dowager Empress Chong Qing / Lao Fuo Ye
Lei Zhen Yu as Fu Lun
Chen Hui Juan as Fu Jin
Qu Ao Hui as Xiao Deng Zi (Little Stool)
Xin Xin as Xiao Wen Zi (Little Mosquito)
Zhang Zhuo Wen as Xiao Zhuo Zi (Little Table)
Chen Mu Yi as Xiao Chong Zi (Little Worm)
Yu Ying Ying as Ming Yue
Ma Xiang Ii as Cai Xia
Zhuang Qing Ning as Concubine Yu
Kan Qing Zi as Princess Xin Rong
Qin Lan as Xue Yin (Xiao Yan Zi’s mother)
Zhang Jia Ni as Du Ruo Lan
Gang Yi as Ji Xiao Lan
Liu Chang Wei as Chang Shou
Xing Han Qing as Fu Heng
Xu Ya Zhou as Lang Shining/Giuseppe Castiglione
Yang Feng Yu as E Min
Zang Jin Sheng as Officer Liang
Wang He Ning as Chef Zhuang
Wang Jian Xin as Qi Ke’er
Nige Mutu as Ali He Zhuo
Ai Ru as Jin Ling Zi

Di drama remake ini ada penambahan karakter baru yaitu Benjamin yang perankan oleh benjamin juga hehehe.

Jangan lupa tonton ya muhaha, walaupun nonton pake bahasa kalbu (bahasa cina engsub juga Cina) demi PHZ tonton ah, akting Li Sheng aka Xia Yan Ci juga keren muhaha 😀

Sumber : Viki, alicechensworld

[Sinopsis Novel] Putri Huan Zhu/ Huan Zhu Ge Ge II Bagian 15 (ENDING)


Judul Asli : Huan Zhu Ge Ge II-5: Hung Chen Chuo Pan
Pengarang : Chiung Yao (Qiong Yao)
Penerbit : Crown Publishing Co., Taipei – Thaiwan

Judul Bahasa Indonesia: Putri Huan Zhu II-5: Kembali Ke Kota Kenangan
Alih bahasa : Pangesti A. Bernardus (koordinator), Yasmin Kania Dewi, Tutut Bintoro
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Mei 2000

Cerita Sebelumnya:
Di balik pengakuannya terhadap status Xiao Yanzi, Xiao Jian punya satu rahasia penting mengenai dendam kesumat keluarganya. Kebahagiaan demi kebahagiaan menghampiri kelompok Xiao Yanzi. Puncaknya, ketika Kaisar sendiri datang ke Nanyang menjemput mereka. Namun kebahagiaan ini nyaris berantakan karena kemarahan Xiao Jian. Dia nyaris melontarkan rahasia yang ditutupinya rapat-rapat di hadapan semua orang.

XV

Akhirnya, Xiao Yanzi dan Ziwei tiba di istana.

Mereka langsung menuju Paviliun Shuofang. Di sana, selain Mingyue, Caixia, Xiao Dengzi dan Xiao Cuozi, juga telah menunggu Selir Ling dan Qing’er.

Qianlong mengajak kedua gadis masuk ke kediaman mereka. “Kami sudah pulang! Kami sudah pulang!”

Seluruh dayang dan kasim Paviliun Shuofang berlutut dan berseru penuh haru, “Putri! Hamba menghadap Putri! Semoga kedua Putri panjang umur hingga seribu tahun!”

Xiao Yanzi maju seraya berseru, “Bukankah sudah berulang kali kubilang jangan berlutut padaku? Cepat berdiri! Biar kulihat apakah kalian baik-baik saja?”

“Kami rindu pada Putri!”

“Setiap hari kami berdoa untuk Putri!”

“Kami menunggu kepulangan Putri!”

“Akhirnya doa kami terkabul dan Putri pulang!”

Xiao Yanzi dan Ziwei amat tersentuh. Selir Ling menyambut mereka dan menarik keduanya dengan tatapan haru. “Akhirnya kita bisa berkumpul lagi! Kalian tampak kurus… kali ini kalian sungguh menderita. Ziwei, bagaimana matamu? Biar kulihat!”

Ziwei menghambur ke pelukan Selir Ling. “Selir Ling! Karena ada orang yang begitu menyayangi dan merindukanku seperti Anda, semua penyakitku sudah sembuh!”

Xiao Yanzi melepas pelukan Selir Ling dan menghambur memeluk Qing’er. “Qing’er! Aku mau memberitahumu kabar besar! Aku tidak sebatang kara! Aku punya kakak! Kakakku namanya Xiao Jian! Dia orang luar biasa!”

“Bicaralah pelan-pelan,” Qing’er tampak terharu. “Kalian sepertinya telah mengalami banyak peristiwa menghebohkan. Aku iri sekali! Inginnya aku ambil bagian di dalamnya!”

Selir Ling tiba-tiba tersadar, “Mana Jinshuo? Kenapa aku tak melihatnya?”

Qianlong buru-buru menjawab, “Dia sudah menikah! Sekarang dia menjadi Nyonya Juragan Graha Huipin! Cepat siapkan seperangkat bekal pernikahan untuk gadis itu!”

“Jinshuo telah menikah?”

“Benar! Anak-anak ini, selain melarikan diri mereka juga mengurus banyak urusan! Menyelamatkan gadis yang akan dihukum bakar, menolong gadis yatim-piatu dan ikut festival sastra. Ada yang bertemu kakaknya, ada yang bertemu adiknya, juga masih bisa mengadakan pernikahan. Sepanjang jalan semua rakyat membicarakan mereka. Kurasa, lain kali bila aku sampai memenggal mereka lagi, satu China akan heboh!”

“Betulkah?” Selir Ling tampak terkejut. “Kalian harus menceritakan semuanya padaku!”

“Tentu saja!” sahut Ziwei.

Qianlong mengajak Selir Ling pergi, “Mari kita pergi dan biarkan kedua Putri ini istirahat. Kalau sudah, kalian harus pergi mengunjungi Istana Zhuning untuk memberi salam pada Ibu Suri.”

Hati Ziwei dan Xiao Yanzi langsung gentar mendengarnya. Qing’er mengetahui keresahan mereka. dia tertawa sambil berbisik pada keduanya.

“Jangan takut, Lao Foye sudah tidak segalak dulu. Hati Beliau telah melunak. Apalagi ketika kalian pergi, istana ini begitu sepi. Beliau telah pasrah menerima kehadiran kalian! Aku bahkan diijinkannya menemui kalian di sini sekarang!”

Setelah semuanya pergi, para dayang dan kasim serempak mengangkat Xiao Yanzi dan Ziwei. Mereka mengelu-elukannya, “Putri Pulang! Putri Pulang!”

***

Selesai membersihkan diri dan beristirahat sejenak, Ziwei dan Xioa Yanzi berdandan. Ditemani Erkang dan Yongqi keempatnya pergi ke Istana Zhuning menghadap Ibu Suri.

Khawatir Ibu Suri akan menyulitkan mereka, Qianlong sejak tadi sudah menunggu di Istana Zhuning. Begitu keempat muda-mudi itu tiba, mereka langsung berlutut.

Ziwei menghaturkan salam dengan tulus, “Salam sejahtera, Lao Foye! Kami telah melakukan banyak kesalahan sampai menyeret Pangeran Kelima dan Erkang. Kami menyadari kesalahan kami, berharap Lao Foye sudi menerima dan memaafkan kami!”

Ibu Suri menatap mereka. hatinya amat tersentuh. Dia menghembuskan napas. “Sudahlah! Tak perlu berulang kali minta maaf. Sebenarnya setiap kali bertemu, aku ingin kalian duduk di sekelilingku dan menceritakan rahasia-rahasia kalian. Dengan begitu, barulah aku menjadi nenek sejati! Bukan hanya kalian yang sering tidak berdaya hidup di kalangan keluarga Kaisar. Aku pun begitu. Barangkali mulai sekarang kita mesti mengganti suasana istana yang kaku ini dengan kehangatan.”

Kata-kata Ibu Suri membuat mereka sangat senang. Qianlong menoleh ke arah Ibu Suri melontarkan senyuman. “Huang Thaihou, Anda adalah sesepuh dalam keluarga ini. Kebahagiaan seseorang seringkali berada di tangan Anda. Bila Anda dapat membuat kehidupan istana ini seperti keluarga penuh kehangatan, kurasa tidak akan ada kekuatan lagi yang dapat membuat anak-anak ini pergi meninggalkan istana!”

Ibu Suri sungguh terharu mendengar penuturan Qianlong. “Kelihatannya kita perlu beradaptasi dengan orang-orang muda ini! Tidak perlu lagi mengungkit segala hal di masa silam!”

Melihat reaksi Ibu Suri yang positif, Qing’er gitang sekali. Dia memaafkan kesempatan ini berkata, “Lao Foye! Malam ini aku boleh ke Paviliun Shuofang kan? Aku sangat penasaran mendengar cerita petualangan mereka!”

Ibu Suri menatap Qing;er sekilas. “Pergilah! Nanti ceritakan juga padaku, ya!”

***

Malam itu di Paviliun Shuofang ramai sekali. Para dayang dan kasim berkumpul. Qing’er dan Ziwei duduk dekat perapian, mendengar Xiao Yanzi bercerita sambil makan kuaci.

Sementara di Paviliun Shuofang hangat dan penuh keceriaan, sebaliknya di Istana Kunning sunyi dan dingin. Permaisuri sangat marah mengetahui kepulangan mereka. Dia dan Bibi Rong menyusun rencana untuk mengukuhkan gengsinya sebagai Permaisuri.

Keesokan harinya, atas usul Ziwei, mereka memutuskan untuk mengunjungi Permaisuri. Meski awalnya Xiao Yanzi menolak, tapi Ziwei berhasil meyakinkannya untuk memulai hubungan yang baik dengan Permaisuri sejak kepulangan mereka sekarang.

Qianlong kebetulan datang berkunjung ke Paviliun Shuofang untuk menjenguk mereka. Mengetahui keinginan mengunjungi Permaisuri, Qianlong tanpa pikir panjang langsung menemani mereka pergi bersama.

Sesampainya di halaman Istana Kunning, Erkang melihat seorang kasim yang mengamati mereka. Tindak tanduknya mencurigakan dan kelihatannya familier sekali. Ketika dilihatnya lagi dengan seksama, dia terkejut.

“Yongqi! Lihat orang kasim itu! Sepertinya dia pimpinan orang berpakaian hitam yang menyerang kita di Luoyang!”

Yongqi juga mengamati. “Sepertinya memang dia!”

Kasim itu memang Palang. Ketika melihat rombongan Qianlong mendekat, Palang buru-buru menundukkan kepala dan diam-diam hendak pergi.

“Berhenti! Mau lari ke mana kau?” teriak Erkang.

Erkang dan Yongqi langsung melayang mengejar orang itu. “Mereka mengejar siapa?” Qianlong bertanya gusar.

Xiao Yanzi langsung menjelaskan, “Huang Ama! Orang itu yang hendak membunuh kami di Luoyang! Dia bilang sendiri kalau Huang Ama yang memerintahkannya membunuh kami! Akibatnya Erkang terluka parah! Yongqi juga terluka! Mereka menghajar kami habis-habisan!”

Qianlong langsung berteriak lantang, “Pengawal! Lekas kemari! Ada pembunuh!”

Pengawal berbondong-bondong datang dengan senjata terhunus. Mereka langsung mengepung arah yang ditunjuk Qianlong.

Palang berhasil dikepung dan ditangkap. Dia dibawa ke hadapan Qianlong.

“Siapa kau? Siapa yang memerintahkan membunuh kedua Putri dan Pangeran Kelima?”

“Hamba Palang! Sebelum mengetahui siapa yang memberi hamba perintah, Yang Mulia harus berjanji untuk menyelidiki hal ini dengan seksama dan tidak menimpakan semua kesalahan pada hamba!”

“Siapa yang memberimu perintah?” seru Qianlong.

“Permaisuri! Beliau yang memerintahkan hamba untuk membunuh Pangeran Kelima dan kedua Putri!”

“Kurang ajar! Seret dia! Akan kucari Permaisuri untuk membuat perhitungan!”

***

Permaisuri sedang tidak berada di Istana Kunning. Dia bersama Bibi Rong pergi ke Istana Zhuning untuk mengadukan kegalauan hatinya.

Qianlong bersama yang lainnya menuju Istana Zhuning. Palang juga ikut diseret ke sana.

Ibu Suri, Qing’er dan Permaisuri keluar menemui rombongan Qianlong. Melihat Palang yang diseret-seret, Ibu Suri bertanya, “Ada apa ini?”

Permaisuri dan Bibi Rong pucat pasi. Qianlong melotot kepada Permaisuri, “Benarkah orang ini suruhanmu? Kau menyuruhnya membunuh Yongqi dan yang lainnya sewaktu dalam pelarian. Benarkah begitu?”

Permaisuri langsung menyangkal. “Aku tidak kenal dia! Aku tidak tahu siapa dia!”

Melihat Permaisuri bermaksud mangkir, Palang langsung berseru, “Permaisuri! Hamba hanya melaksanakan perintah Anda! Mengapa sekarang Anda bilang tidak mengenal hamba?”

“Siapa kau?”

“Yang Mulia Permaisuri! Hamba Palang!”

“Palang? Nama ini belum pernah kudengar!”

“Permaisuri! Hamba yang membantu melaksanakan keinginan Anda! Hari ini Permaisuri justru tidak mengakuiku! Selama ini, ternyata hamba telah salah memilih majikan! Apakah Anda lupa dulu hamba berhasil menyuap Gao Yuen dan Gao Da untuk meletakkan boneka kain di Paviliun Shuofang? Juga mengutus hamba ke Jinan untuk menyuap kerabat Putri Ziwei dan dukun beranak itu?”

Permaisuri gemetar sekujur tubuh. “Fitnah! Ini semua fitnah!”

Ibu Suri tidak pernah menduga ada kejadian begini. Permaisuri yang begitu dipercayainya…

“Permaisuri! Ternyata kau memasang begitu banyak perangkap untuk menjebak Xiao Yanzi dan Ziwei! Kau gunakan kepercayaanku untuk perbuatan-perbuatan tak berperikemanusiaan! Kau sungguh keterlaluan!”

Permaisuri sungguh terpukul mendengar kata-kata Ibu Suri. Qianlong berseru kepada pengawal, “Kurung orang bernama Palang ini! Lalu interogasi Gao Yuen dan Gao Da!”

Pengawal menyeret Palang pergi. Palang meronta-ronta, “Permaisuri! Anda harus menolong hamba! Selama ini hamba sangat setia pada Anda! Tolong ingatlah hal itu!”

Semakin dipikir, Qianlong semakin marah. Ditudingnya Permaisuri, “Kau Permaisuriku! Tapi tega melakukan hal sekejam ini! Kau tak hentinya mencelakai Ziwei dan Xiao Yanzi! Membuatku menuduh Xia Yuhe! Dan fitnah boneka kain itu… nyaris membuat Ziwei nyaris kehilangan nyawa! Sekarang semua kebenaran terbuka, kau masih tak sudi mengaku! Kalau aku tidak menghukummu, akan sulit bagiku menghapus kebencian ini dari hatiku! Pengawal! Bawa Permaisuri dan penggal kepalanya!”

Sekonyong-konyong, Yongji muncul dan memeluk kaki Qianlong sambil menangis. “Huang Ama! Mohon belas kasihan! Jangan bunuh Huang Erniang! Kumohon jangan bunuh ibuku…”

Ibu Suri menarik Yongji. Tapi anak itu tak mau pergi. Dia menghambur ke pelukan Permaisuri, “Huang Erniang! Huang Erniang!”

Saat itulah Permaisuri sadar sudah tidak ada jalan keluar lagi. Sambil memeluk Yongji, dia jatuh merosot ke lantai dan menangis.

Melihat Permaisuri dan Pangeran Kedua Belas menangis pilu, Ibu Suri yang wajahnya kaku, dan kemarahan Qianlong begitu hebat, tahulah Bibi Rong kalau pertahanan terakhir Permaisuri telah runtuh. Dia maju dan berlutut di hadapan Qianlong, “Yang Mulia, semua masalah ini hambalah yang mengaturnya! Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Permaisuri! Semua perbuatan busuk ini hambalah yang bertanggung jawab. Mohon Baginda membunuh hamba saja dan mengampuni Permaisuri!”

Qianlong memelototi Bibi Rong. “Bibi Rong! Pikirmu kali ini aku mau melepasmu? Sekarang aku akan mengabulkan permintaanmu! Aku akan membunuhmu lebih dulu setelah itu baru Permaisuri! Pengawal! Seret Bibi Rong keluar dan penggal kepalanya!”

“Siap!”

Wajah Bibi Rong telah basah oleh air mata. Dia berlutut kepada Permaisuri sambil terisak, “Permaisuri, maafkan hamba! Hamba tidak bisa melayani Anda lagi!”

Permaisuri sungguh shock. Dia mencengkeram Bibi Rong dan berkata pada Qianlong, “Mohon Yang Mulia berbelas kasihan! Mohon Yang Mulia berbelas kasihan!”

Melihat ibunya, Yongqi ikut berlutut. “Huang Ama, kenapa Anda suka memenggal kepala orang? Kumohon ampunilah Bibi Rong!”

Bibi Rong memeluk Permaisuri dan Yongji. “Permaisuri, jaga dirimu… Pangeran Kedua Belas, jaga dirimu…”

Pengawal menarik Bibi Rong. Sementara Permaisuri mengejarnya, “Bibi Rong! Kembali…”

Ziwei yang seperti biasa baik hati, air matanya mulai mengalir menyaksikan peristiwa itu. Dia maju dan berseru, “Tunggu! Huang Ama! Mohon berbelas kasihan! Meski Bibi Rong telah banyak melakukan kesalahan, tapi kesetiaannya kepada majikannya sangat teguh! Mohon ampuni Bibi Rong demi Pangeran Kedua Belas! Atau demi diriku!”

“Tidak bisa! Kesalahannya sangat besar! Sepuluh kepalanya pun tak akan sanggup menebusnya! Aku juga tidak hanya memenggal kepala Bibi Rong! Tapi juga akan memenggal kepala Permaisuri! Siapa pun tak bisa meminta maaf bagi mereka!”

“Huang Ama! Kalau begitu, aku akan menggunakan lempengan emasku untuk mencabut hukuman mati Bibi Rong!’

Qianlong terkesiap. “Ziwei! Lempengan itu hanya bisa digunakan tiga kali!”

“Aku bukan hanya menggunakannya sekali. Selain Bibi Rong, aku juga memohon untuk mengampuni Permaisuri dari hukuman mati! Huang Ama tentu tak akan mencabut kembali hak khususku ini, kan?”

Xiao Yanzi terdorong kekagumannya pada Ziwei. Dia ikut berdiri di sisinya.

“Huang Ama, Anda tahu kalau aku pendendam. Tapi melihat sikap Ziwei, aku pun goyah. Bibi Rong memang musuhku di istana ini. Tapi aku juga ingin memiliki sedikit budi baik. Jika lempengan emas Ziwei belum cukup untuk mengampuni Bibi Rong dan Permaisuri, aku masih punya lempengan emasku…”

“Sudah! Jangan memakai lempengan emas itu lagi!” Qianlong mengibas kesal.

Melihat Ziwei dan Xiao Yanzi bicara, Yongqi dan Erkang ikut membujuk Qianlong. Ibu Suri melihat kegigihan keempatnya langsung tersentuh.

“Yang Mulia, jarang sekali ada anak-anak yang memiliki hati sebaik mereka. juga bijaksana seperti ini… Amitabha! Ini merupakan berkah dari leluhur kita!”

Ibu Suri lalu mendelik ke arah Bibi Rong. “Bibi Rong! Kau sudah tahu bagaimana harus menyesali perbuatanmu?”

Bibi Rong sungguh tak menyangka, pada detik ini justru Ziwei dan kawan-kawanlah yang memohon pengampunan untuknya. Semua rasa sesal, terharu, juga tersentuh berkumpul jadi satu. Dia tahu kesalahannya sangat besar. Namun semua ini dilakukannya demi Permaisuri. Bibi Rong pun menangis dan bersujud di hadapan Ziwei berempat.

“Hamba berterima kasih pada Putri Ziwei, Putri Huan Zhu, Pangeran Kelima dan Tuan Muda Fu…”

Ibu Suri berkata lembut pada Qianlong, “Yang Mulia, ampunilah mereka yang patut diampuni!”

Qianlong mengambil keputusan. “Bibi Rong! Hari ini anak-anak telah membantumu meminta pengampunan dariku! Namun meski kau lolos dari hukuman mati, kau tetap harus dihukum fisik. Pengawal! Seret dia ke halaman lalu pukul dengan tongkat seratus kali!”

Para pengawal menyeret Bibi Rong keluar. Permaisuri segera mengejar. Dia berhasil mendapatkan Bibi Rong yang sudah direbahkan pada sebuah bangku. Lalu, dengan tubuhnya sendiri, Permaisuri melindungi Bibi Rong.

“Paduka! Mohon belas kasihan lagi! Bibi Rong sudah tua! Jangankan seratus kali, lima puluh kali pukulan saja dia tak sanggup menanggungnya! Tolong berikan lagi pengampunan baginya!”

Qianlong menatap Permaisuri dengan dingin. Dia tak berkata apa-apa.

Yongji ikut berseru, “Huang Ama! Ampunilah Bibi Rong! Huang Ama…”

Qianlong berpaling melihat Yongji yang ditahan inang pengasuhnya. Dia berseru memerintahkan, “Pengasuh! Antar Pangeran Kedua Belas ke Istana Yanxi! Mulai sekarang, dia dalam pengasuhan Selir Ling!”

Permaisuri amat terkejut mendengarnya. Dia melihat Yongji yang ditarik pergi dan menyerukan namanya, “Huang Erniang! Huang Erniang!’

Permaisuri melepaskan Bibi Rong dan mengejar Yongji. “Yongji! Yongji!”

Qianlong segera menginstruksikan para pengawal memukul Bibi Rong.

“Satu! Dua! Tiga…,” para kasim menghitung sementara tongkat mereka berayun. Bibi Rong melolong-lolong kesakitan.

Ziwei sungguh tidak tega. Dia menarik Qianlong dan mengiba, “Karena Huang Ama melarangku memakai lempengan emasku, kumohon dengarkanlah puisiku!”

“Membaca puisi? Pada saat-saat begini kau mau membaca puisi?”

“Benar! Setelah puisiku selesai, Huang Ama boleh menuntaskan hukuman Bibi Rong.”

“Baik! Cepat bacakan puisimu itu!”

Ziwei membaca puisinya dengan suara jernih mendayu-dayu.

“Bulan pindah ke Graha Barat tanpa suara. Nelayan pulang ke rumah menggulung jala. Tak perlu payung setelah langit cerah sehabis hujan. Pandai besi beristirahat sambil minum teh. Penebang kayu turun gunung. Pemburu memanggil anjingnya untuk kembali. Wanita cantik turun dari papan jungkat-jungkit. Penjual minyak berganti profesi berkelana mengelilingi dunia!”

Alis Qianlong bertaut. Dia tidak mengerti sama sekali maksud puisi itu.

Namun Erkang langsung paham. Dia berkata dengan penuh hormat pada Qianlong, “Yang Mulia, dalam puisinya tadi, Ziwei telah menyebut kata ‘Bu Da’ – tidak memukul, sebanyak delapan kali!”

“Delapan kata ‘tidak memukul’?”

“Benar!” Erkang menjelaskan. “Bulan pindah ke Graha Barat ranpa suara berarti ‘Bu Da Geng’ – tidak bersuara. Nelayan pulang menggulung jala berarti ‘Bu Da Yu’ – tidak melaut. Tidak perlu paying setelah langit cerah sehabis hukan berarti ‘Bu Da San’ – tidak membawa paying. Pandai besi istirahat minum teh berarti ‘Bu Da Tie’ – tidak menempa besi. Penebang kayu turun gunung berarti ‘Bu Da Cai’ – tidak memotong kayu. Pemburu memanggil anjingnya kembali berarti ‘Bu Da Lie’ – tidak berburu. Wanita cantik turin dari papan jungkat-jungkit berarti ‘Bu Da Qiuqian’ – tidak main jungkat-jungkit. Penjual minyal berganti profesi berkelana keliling dunia berarti ‘Bu Da You’ – tidak menjual minyak!”

Qianlong akhirnya memahami maksudnya. Dia terpana.

Qing’er ikut meyakinkan Qianlong. “Yang Mulia, kalau lempengan emas dan puisi tidak memukul tak membuat Kaisar goyah, setidaknya Anda tetap tersentuh pada bakat dan kepandaian Ziwei yang digunakannya untuk menolong Bibi Rong. Mohon Yang Mulia jadilah seperti yang dikatakan dalam puisi itu: ‘bulan berpindah ke Graha Barat tanpa suara’, dan ‘langit yang cerah sehabis hujan’. Setuju, bukan?”

Xiao Yanzi tak mau ketinggalan. Dia ikut buka mulut. “Huang Ama! semua orang sudah memohon. Jadi, sudahi sajalah…”

Qianlong menghembuskan napas keras-keras. “Sudahlah! Aku tak akan melawan anak-anak ini lagi! Pengawal! Hentikan pukulannya!”

Tubuh Bibi Rong merosot dari bangku. “Bibi Rong!” Qianlong sepertinya masih perlu mengeluarkan kata-kata ancaman. “Lain kali kalau kau melakukan kesalahan lagi, aku pasti akan memotong-motong tubuhmu! Waktu itu, meski ada sepuluh lempengan emas ditambah sepuluh puisi tidak memukul, semuanya tak akan bisa menyelamatkanmu!”

Air mata Bibi Rong bercucuran. Dia merangkak dan bersujud di hadapan Qianlong, “Hamba menyadari kesalahan hamba! Mulai saat ini hamba akan membersihkan hati dan menjadi orang yang baru!” Setelah itu, Bibi Rong juga bersujud di hadapan Ziwei dan kawan-kawan.

“Sekarang kau dan Permaisuri kembalilah ke Istana Kunning untuk mengurung diri dan merenungkan kesalahan kalian!”

Permaisuri dan Bibi Rong mematuhi perintah. Tersaruk-saruk, keduanya bergandengan menuju Istana Kunning.

***

Meski Qianlong telah mengampuni Permaisuri dan Bibi Rong, malamnya di Istana Yanxi, emosinya naik lagi ketika melihat Yongji menangis.

“Kau jangan merengek terus seperti anak kecil! Mulai sekarang masa anak-anakmu sudah usai! Kau sudah harus belajar jadi orang dewasa!” bentak Qianlong. “Siapa suruh ibumu begitu brengsek! Tanggunglah hal ini maka kau bisa menjadi lelaki sejati yang sanggup menanggung beban berat! Kalau tidak, selamanya kau akan jadi seperti bayi! Tak boleh menangis lagi! Aku paling tidak suka melihat anak laki-laki menangis!”

Yongji menatap Qianlong ketakutan. “Tapi…, aku ingin melihat Ibuku di Istana Kunning…”

“Jangan sebut-sebut ibumu lagi! Anggap saja dia sudah mati! Mulai sekarang, Selir Ling adalah ibumu!”

Qianlong membentak sambil memukul meja. Membuat Yongji kaget sekali. Selir Ling bergegas menengahi. “Pangeran Kedua Belas, kalau Huang Ama bicara, harus disimak baik-baik, ya! Di tempatku ini enak, kok! Ada Putri Ketujuh dan Kesembilan, juga ada Pangeran Kecil. Di sini jauh lebih ramai daripada Istana Kunning!”

“Tapi….”

“Tidak ada tapi-tapian!” hardik Qianlong.

Yongqi tersentak. Dia pun menangis keras, “Huaaaa….!!!”

Tiba-tiba dari luar terdengar seruan kasim mengumumkan kedatangan Ziwei dan Qing’er.

Begitu kedua gadis itu masuk, Selir Ling seolah bertemu dengan penolongnya. “Ah, kebetulan sekali kalian datang! Ziwei, cepat kau nasihati Huang Amamu. Sejak tadi dia terus memarani Pangeran Kedua Belas. Pangeran Kedua Belas terus ingin menemui ibunya, aku sungguh tidak tahu harus bagaimana…”

Qianlong tahu kedatangan Ziwei dan Qing’er pasti ada sangkut pautnya dengan Yongji.

“Ziwei! Kau sudah membacakan puisi tidak memukul. Lalu sekarang apakah kau akan membacakan puisi lagi untuk Pangeran Kedua Belas?”

“Benar! Aku akan membaca puisi. Singkat saja: ‘Ibu berpisah dari putra, putra terpisah dari ibu. Siang hari tak lagi bercahaya, yang terdengar hanya tangisan’!”

“Ini puisi yang tidak cocok dengan keadaan sekarang!” tukas Qianlong. “Aku memisahkan mereka demi masa depan Yongji! Mengikuti ibu semacam itu hanya akan membuat telinga dan matanya tercemar. Kalau sudah dewasa, akan jadi apa dia?”

“Yang Mulia,” kata Qing’er. “Lao Foye sengaja mengutus kami kemari untuk memohon bagi Permaisuri dan Pangeran KeduaBelas. Lao Foye berkata kalau dia akan bertanggung jawab langsung mengawasi Pangeran Kedua Belas hingga dia tumbuh dewasa! Mohon Baginda bersedia mengembalikan Pangeran Kedua Belas kepada Permaisuri!”

Ziwei menyambung dengan senyun tipis. “Selain itu, Huang Ama tidak boleh membuat Selir Ling menanggung tanggung jawab berat. Itu sangat tidak adil.”

“Kenapa bisa tidak adil?”

“Karena Anda akan membuat posisi Selir Ling serba susah! Pangeran Kedua Belas putra kandung Permaisuri, akan banyak mata yang akan mengawasinya. Selir Ling tidak mungkin bisa memukul, memarahi ataupun mengaturnya meski semua itu demi alasan kebaikannya. Orang-orang pasti akan menggunjingkannya! Apalagi, Selir Ling sudah sibuk sekali oleh ketiga anaknya. Bagaimana dia harus membesarkan mereka semua?”

Qianlong terpana. Selir Ling menghembuskan napas lega. “Kata-kata Ziwei cocok sekali dengan pemikiraku. Aku pun mengemban banyak tanggung jawab. Bagaimanapun, hamba tidak akan bisa mengganti posisi ibu kandungnya sendiri!”

Ziwei meneruskan, “Huang Ama, aku kembali demi ketentraman keluarga. Aku ingin sekali berdamai dengan Permaisuri. Kumohon Huang Ama membantuku. Ijinkan aku melakukan perbuatan baik pada Permaisuri. Kembalikan saja Pangeran Kedua Belas ke istana Kunning. Setuju, kan?”

Qianlong akhirnya berkata pada Yongji. “Kakak Ziweimu ini sangat pandai membujuk. Kelak kau harus ingat baik-baik kebaikan hatinya! Jangan melupakannya! Pulanglah ke Istana Kunning bersamanya!”

Ziwei menekuk lutut. “Terima kasih, Huang Ama! mengenai masa depan Pangeran Kedua Belas, Anda jangan khawatir. Seorang ayah harimau, mana mungkin memiliki putra kelinci?”

Qianlong tertawa mendengar perumpamaan Ziwei.

***

Di Istana Kunning yang berselimut kabut duka, Permaisuri dan Bibi Rong menangis bersama.

Teringat Yongji, isak tangis Permaisuri kian menjadi. Bibi Rong melupakan rasa sakit di tubuhnya akibat pukulan siang tadi dan sibuk mengusap air mata Permaisuri.
Tiba-tiba terdengar seruan kasim yang mengumumkan kedatangan Ziwei, Qing’er dan Yongji.

“Pangeran Kedua Belas? Benarkah itu Pangeran Kedua Belas?” seru Permaisuri.

“Benar! Itu Pangeran Kedua Belas!” sahut Bibi Rong.

Terhuyung-huyung mereka sampai ke pintu dan melihat Ziwei serta Qing’er menggandeng tangan Yongji.

“Permaisuri, aku telah meminta kembali Pangeran Kedua Belas untukmu,” kata Ziwei.

Qing’er ikut menyambung, “Permaisuri, Lao Foye berpesan bahwa Anda harus menghargai semua yang Anda miliki sekarang. Jangan sampai kehilangan semuanya lagi!”

Air mata Permaisuri mengalir deras. Dipeluknya Yongji erat-erat. Pada saat bersamaan, seluruh kebenciannya pada Ziwei berubah menjadi rasa terima kasih dan penyesalan yang dalam.

***

Setelah semua masalah Permaisuri berakhir dan keadaan kembali tenang, Ibu Suri kembali memikirkan masalah perjodohan Qing’er.

Hal itu amat membebani hatinya sehingga dia memanggil Erkang secara pribadi ke Istana Zhuning.

“Aku akan berterus terang mengapa memanggilmu kemari,” kata Ibu Suri. “Aki sengaja menyuruh Qing’er pergi agar dapat membucarakan masalah ini leluasa denganmu. Aku sudah mengerti cintamu pada Ziwei. Ziwei itum mau tidak mau harus kuakui sangat berbakat. Jadi, aku memutuskan untuk merestui kalian. Tapi dengan satu syarat: kau juga harus menikahi Qing’er!”

Erkang terkesiap. “Lao Foye! Hamba tidak bisa melakukan itu!”

“Mengapa? Qing;er gadis yang baik hati. Dia hanya memiliki perasaan khusus padamu! Jika kau menikahi mereka berdua sekaligus, kau tak akan rugi!”

“Lao Foye, baik Ziwei maupun Qing’er, keduanya bukanlah dewi! Mereka hanya wanita, yang punya kelembutan, kepekaan, rasa cemburu dan egoisme khas wanita. Jangan memandang hamba terlalu tinggi! Sebenarnya hamba tidak sanggup mencintai dua wanita pada saat bersamaan! Pada akhirnya jika ini dipaksakan, hati kami bertiga akan hancur! Semuanya akan tamat!”

Begitu kata-kata Erkang selesai, Qing’er sudah keluar sambil bertepuk tangan. “Erkang! Kata-katamu bagus sekali! Aku sangat kagum padamu!”

Erkang dan Ibu Suri sama-sama terperanjat. Erkang menatap Qing’er dengan pandangan menyesal. “Qing’er, maafkan aku…”

“Tak ada yang perlu dimaafkan! Kata-katamu tadi sangat masuk akal!” Qing’er lalu berkata pada Ibu Suri. “Lao Foye, Anda selalu saja menyingkirkanku untuk pembicaraan yang melibatkan diriku. Apakah itu Anda lakukan untuk memaksa Erkang? Hamba tidak menginginkan Erkang! Karena di hatinya sudah ada Ziwei. Kalaupun hari ini Erkang terpaksa setuju, akulah yang akan menolaknya! Erkang benar, kalau hal ini dipaksakan, yang terluka adalah kami bertiga. Tapi aku paling menderita. Karena cinya mereka berdua mereka saling memiliki, sementara cintaku hanya bertepuk sebelah tangan!”

Ibu Suri terpengarah mendengar penuturan Qing’er. “Aku tahu kau mempertahankan harga dirimu….”

Qing’er memohon pada Ibu Suri, “Bolehkah aku dan Erkang bicara empat mata?”

Dengan enggan, Ibu Suri mengiyakan. Qing’er dan Erkang pun keluar ke taman bunga.

“Tadi itu Lao Foye mengambil inisiatif sendiri. Kau jangan menyangka aku yang menginginkannya ya!” Qing’er berkata sesampainya di lluar.

Perasaan Erkang terhadap Qing’er begitu rumit. “Kuharap kau tadi tidak tersinggung. Kau telah berulang kali menolongku, Ziwei, Xiao Yanzi dan Pangeran kelima. Aku ingin sekali membalas budimu…”

“Tak perlu mengatakannya lagi!” potong Qing’er. “Orang sepintar aku, mana mau menyelinap masuk di antara kalian hanya untuk menjadi kambing congek? Itu menghina diriku sendiri. Memangnya aku kelak tidak bisa punya pujaan hati lagi?”

Mata Erkang berbinar. “Qing’er, kau sudah berubah!”

“Apa?”

“Kau bukan lagi gadis kecil kekanakan yang selalu berdiri di sampaing lao Foye. Kau sudah berubah menjadi wanita sejati. Ziwei pernah mengatakan kau seperti api yang terkubur dalam gunung es. Di luar tampak alim dan dingin, tapi di dalam begitu membara dan bergejolak!”

Qing’er terpana. “Ziwei bilang begitu? Ternyata Ziwei sangat memahami diriku!”

Qing’er kembali melanjutkan. “Kurasa, kita akan terus bersahabat sampai tua. Aku tidak ingin menghancurkan hubungan seindah ini!”

“Aku juga! Kita akan bersahabat selamanya dan itu tak akan berubah!” kata Erkang tulus.

***

Selesai bicara dengan Erkang, Qing’er kembali ke Istana Zhuning dan bicara kepada Ibu Suri.

“Lao Foye, mohon jangan menjodohkanku lagi dengan Erkang. sekarang dia sudah seperti saudara saja bagiku.”

“Tapi, bukankah dulu hanya dia yang kau sukai?”

“Sekarang rasa suka itu masih ada. Tapi bukan lagi untuk Erkang. melainkan untuk seseorang dalam imajinasiku. Aku berharap bisa seperti Ziwei, memiliki pasangan yang hanya mencintai dirinya seorang.”

“Mana ada pria semacam itu di lingkungan kita? Jika kau tidak menikahi Erkang sekarang, bagaimana nasibmu nanti?”

“Aku tahu Lao Foye sangat menyayangiku. Anda memikirkan masa depanku. Begini saja, berikan saja aku hak untuk menentukan perjodohanku. Kalau suatu hari aku telah bertemu pria yang tepat, aku pasti akan mengatakannya pada Lao Foye dan waktu itu, bantulah aku untuk ‘membereskannya’!”

Ibu Suri menyerah. “Baiklah kalau begitu. Bila kau telah bertemu pria itu, jangan tidak memberitahuku, ya!”

Qing’er seperti baru terbebas dari beban berat. Dia tertawa lepas.

***

Hari itu bersama dengan Qing’er, Ibu Suri mendatangi Paviliun Shuofang.

“Ziwei! Xiao Yanzi! Aku sengaja datang menengok kalian! Apa ada yang kurang di Paviliun Shuofang ini?” Ibu Suri bertanya penuh perhatian. “Apa selimutnya cukup? Apa masih perlu membuat beberapa pakaian musim dingin lagi?”

Ziwei dan Xiao Yanzi terkejut. Ini pertama kalinya Ibu Suri bicara lemah lembut begini terhadap mereka. Erkang dan Yongqi yang juga berada di sana juga tidak kalah heran. Mereka bersama memberi salam hormat sambil mengucapkan terima kasih.

“Duli, Lao Foye! Kami tak kekurangan apa pun! Terima kasih atas perhatiannya!”

Ibu Suri menatap Erkang yang tampak gelisah. Erkang khawatir Ibu Suri akan membahas soal Qing’er lagi dengannya. Tapi rupanya Ibu Suri membicarakan soal lain.

“Erkang, bagaimana kabar ibumu? Kurasa kali ini dia amat menderita karena kepergianmu!”

Erkang terkejut sekaligus senang ditanyai seperti itu. Dia menjawab, “Duli Lao Foye, sejak hamba pulang, ayah dan ibu gembira sekali. Semuanya baik-baik saja!”

“Lalu, kapan adikmu, Ertai akan pulang?’

“Ertai sebenarnya sudah akan berangkat ke Beijing. Tapi rupanya Saiya mengandung, jadi mereka menunda keberangkatan mereka.”

“Wah, bagus sekali! Tampaknya adikmu selangkah lebih maju darimu! Kurasa, pernikahan kalian pun tak boleh dirunda lagi! Besok aku akan menemui Kaisar untuk membicarakan hal ini!”

Yongqi tak dapat menahan diri berkata, “Jadi, Lao Foye tidak menentang pernikahan kami?”

Ibu Suri menatap Yongqi serta Xiao Yanzi. Dia menarik keduanya dengan masing-masing tangan.

“Yongqi, calon istrimu ini bukan aku yang memilih, jadi awalnya aku kurang puas. Tapi kalian telah memakai kenyataan untuk membujukku. Aku pun tersentuh. Aku tak menentang kalian lagi! Aku telah menerima kalian, dan berharap kalian juga menerimaku!”

Yongqi dan Xiao Yanzi sungguh terharu. Mereka berujar, “Terima kasih banyak, Lao Foye!”

Ibu Suri melepas tangannya dan beralih ke Erkang-Ziwei. “Ziwei, Erkang, kalian berdua telah menghadapi begitu banyak cobaan. Tapi sangat berkeyakinan satu sama lain. Mau tak mau, aku memberikan restuku! Aku tidak akan menghalangi kalian lagi!”

Ziwei merasa amat bahagia. “Lao Foye, aku tak menginginkan hal lain selain restu dari Anda!”

Xiao Yanzi merasa gembira. “Jadi, lain kali kalau aku salah bicara, apa Lao Foye akan marah padaku?”

“Tidak!” Ibu Suri berujar sambil tersenyum tipis. “Aku hanya akan menganggapnya sebagai keajaiban Kota Kenangan!”

“Kota Kenangan?” Xiao Yanzi berseru kaget. “Bagaimana Lao Foye bisa tahu kata-kata itu?”

“Aku yang memberitahunya,” timpal Qing’er. “Semua kisah kalian sewaktu di luar istana, kuceritakan pada Lao Foye. Dan Lao Foye sangat berminat mendengarkan!”

Ibu Suri menggandeng Ziwei dan Xiao Yanzi dan berkata lembut, “Cucu-cucuku, dulu di antara kita ada begitu banyak kesalah pahaman. Apakah kalian tidak lagi menyalahkan Nenek?”

“Nenek?!” Xiao Yanzi membelalakkan mata.

“Ya, Nenek! Bukankah di keluarga biasa, panggilan seperti itu lumrah? Aku ingat, ada yang pernah bilang kalau panggilan Lao Foye itu terdengar aneh. Jadi sekarang aku inginnya menjadi nenek yang biasa-biasa saja!”

Xiao Yanzi sungguh terharu dan senang. “Nenek! Aku bahagia sekali! Aku sudah punya ayah, kakak dan sekarang juga punya Nenek!”

“Lao Foye! Anda membuat kami mensyukuri keputusan kami untuk kembali ke sini!” seru Ziwei.

Ibu Suri pun mendekap kedua gadis itu erat-erat.

***

Akhirnya, Graha Huipin dibuka kembali.

Upacara pembukaannya berlangsung meriah. Xiao Yanzi, Ziwei, Erkang dan Yongqi ikut hadir di sana.

Wajah Liu Qing, Liu Hong dan Jinshuo tampak sumringah. Jinshuo berkesempatan bicara pada Ziwei dan Erkang,

“Nona, Tuan Muda Erkang, aku tak hentinya berterima kasih pada kalian! Dulu aku begitu bodoh, nyaris menyalah artikan maksud baik kalian! Sekarang aku sangat bahagia dan puas.”

Xiao Yanzi langsung memotong perkataan Jinshuo. “Kalian semua mestinya berterima kasih padaku! Kalau bukan karena aku yang bisa jadi Putri Huanzhu, mana mungkin kalian semua bisa bertemu seperti ini?”

“Kata-kata Xiao Yanzi benar sekali!” timpal Yongqi. “Kalau dia tidak jadi Putri, entah kisahku akan seperti apa?”

“Juga kisahku! Entah akan diceritakan bagaimana?” nimbrung Xiao Jian.

“O, kalau begitu, tetap Xiao Yanzi yang paling hebat, ya?” seru Liu Hong.

“Memang benar!” kata Xiao Yanzi berbangga diri.

Suara tambur dan gong bersahut-sahutan. Orang-orang berparade menyerukan yel-yel kesuksesan bagi Graha Huipin.

Saat prosesi pembukaan selesai, tamu-tamu dipersilakan memasuki Graha Huipin. Ketika Xiao Yanzi dan kawan-kawan tengah sibuk mengurus para tamu, Qianlong dan Fulun mendadak muncul.

“Ha ha! Akhirnya aku juga bisa menyaksikan pembukaan Graha Huipin!” seru Qianlong sambil tertawa-tawa.

Semuanya terkejut. Erkang berseru, “Ayah! Tuan Besar! Mengapa kalian datang ke sini?”

“Tuan Besar ingin memberi selamat langsung pada teman-teman kalian! Aku pun menemani Beliau ke sini!” kata Fulun.

“Mari duduk! Silakan duduk!”

“Huang Ama! mengapa tidak bilang jika hendak kemari? Benar-benar mengejutkan!” Yongqi kegirangan.

Ziwei, Xiao Yanzi dan Yongqi buru-buru menyiapkan kursi di sebuah meja bundar dan menambahkan beberapa pasang sumpit. Semua sibuk melayani Qianlong. hanya Xiao Jian yang agak menjauh dan mengawasi semua orang.

Dilihatnya Qianlong yang tidak berbasa-basi. Lalu ganti melihat Xiao Yanzi yang usil, ceroboh, lugu… tiba-tiba dia merasa ragu. Sungguhkah Xiao Yanzi ini adik kandungnya?

Semula Xiao Jian hendak mengajak Xiao Yanzi menemui Qinghui Shetai sekembalinya ke Beijing. Tapi sampai sekarang hal itu belum terlaksana. Xiao Yanzi tidak pernah minta penjelasan lebih soal masa lalunya. Hanya Xiao Jian yang merasa was-was. Dulu Qinghui Shetai bilang pernah merawat beberapa anak di klentengnya. Sungguhkah yang dimaksud Qinghui Shetai sebagai adik kandungnya adalah anak yang mirip dengan Putri Huanzhu ini?

Sementara Xiao Jian tengah melamun, Qianlong telah duduk dan lain-lainnya mengelilinginya. Cawan-cawan arak disiapkan. Mereka hendak bersulang.

Qianlong mengangkat cawannya. “Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaanku juga! Liu Qing, Liu Hong, Xiao Jian! kalian telah banyak membantu anak-anakku! Aku mengucapkan banyak terima kasih paling tulus dari hatiku! Mari, kita semua bersulang!”

Mendengar Qianlong menyebut namanya, Xiao Jian tamapk terkejut. Secara refleks, dia mengangkat cawannya dan mereguk isinya sampai habis.

Cawa-cawan diisi kembali. Qianlong tiba-tiba berkata pada Xiao Jian, “Xiao Jian! kisah mengenai dirimu dan Xiao Yanzi masih tidak terlalu kupahami. Bisakah kau menjelaskannya padaku?”

Xiao Jian tidak menyangka Qianlong akan bertanya seperti itu. Jantungnya berdebar. Melihat Qianlong yang tulus, sadarlah Xiao Jian kalau dendam dan kebencian masa lalunya mungkin telah mereda. Hatinya terasa lapang ketika dia berkata,

“Anda tak perlu memahaminya. Karena aku pun tidak terlalu tahu dengan jelas. di dalam kehidupan manusia, ada banyak hal yang tidak jelas. hidup penuh kebahagiaan serta ketenangan jauh lebih berharga dari apapun. Pribadi Anda yang sangat welas asih sangat jauh dari perkiraanku semula!”

“Bagus sekali pujianmu! Kata-kata tadi, artinya sangat besar bagiku!” ucap Qianlong.

“Juga bagiku!”

Erkang menatap Xiao Jian. dengan penuh kekaguman, ditepuk-tepuknya bahu Xiao Jian dan berkata lantang, “Mari! Kita bersulang sekali lagi demi persatuan kita kembali! Demi… sesuatu peristwa yang merubah dendam dan kebencian menjadi kebahagiaan! Mari bersulang!”

Xiao Jian menatap Erkang penuh makna.

“Ganbei!” seru Qianlong.

“Ganbei!” seruan sukacita menggelegar. “Ganbei!”

Xiao Jian langsung menenggak habis cawannya. Dilihatnya Xiao Yanzi terus-menerus. Seandainya dia pun telah salah mengakui Xiao Yanzi selaku adiknya, peristiwa ini tetap merupakan hadiah dari Tuhan untuk mengenyahkan beban dan kepedihan dalam hidupnya!

***

Dalam sekejap mata, musim dingin telah tiba. Hujan salju telah turun beberapa kali dan udara menjadi sangat dingin. Namun di Paviliun Shuofang, suasana tetap hangat dengan api perapian yang senantiasa menyala.

Hari itu, Qianlong mengunjungi Paviliun Shuofang. Dengan penuh semangat dia berseru, “Aku membawa kabar gembira! Pernikahan kalian akan segera dilaksanakan!”

Mereka semua terpana. Erkang langsung bertanya, “Yang Mulia! Apakah Anda sudah menetapkan harinya?”

“Tentu saja! Kalau tidak, kalian pasti sudah gelisah setengah mati!”

Wajah Xiao Yanzi dan Ziwei merah padam. Mereka menggeliat gelisah. “Mana mungkin?”

Qianlong memelototi kedua gadis itu. “O, jadi tidak mungkin? Baiklah, kalau begitu tidak usah buru-buru! Kalian tinggal saja di sini dua tahun lagi!”

Erkang dan Yongqi langsung cemas mendengarnya. Yongqi tersipu sambil berkata, “Huang Ama, Tuan Putri mungkin tak ingin buru-buru, tapi Pangeran maunya cepat-cepat…” (Xixixixi)

“Ha ha!” Qianlong terbahak. “Pokoknya pernikahan kalian tak boleh ditunda lagi! Aku sengaja kemari untuk mendiskusikannya dengan kalian. Begini, setelah tahun baru, pada tanggal dua bulan dua, itu adalah hari baik. Kupikir aku bisa menikahkan kalian di hari yang sama. Kalau tidak, berarti Yongqi yang terlebih dahulu menikahi Xiao Yanzi, baru tiga bulan kemudian Ziwei menikah. Bagaimana?”

Erkang mana mungkin bisa menunggu tiga bulan lagi? Dia buru-buru berkata, “Hamba rasa, bagus sekali jika kami bisa menikah pada hari yang sama. Ziwei dan Xiao Yanzi dekat seperti saudara kandung. Apalagi, istana cukup menyelenggarakan satu kali pesta pernikahan saja! Pada hari yang sama, Kaisar menikahkan putri dan memperoleh menantu perempuan. Dua kebahagiaan ganda berlangsung, ini merupakan keberuntungan!”

“Baiklah! Kalau begitu, kita laksanakan di hari itu saja! Tapi Paviliun Shuofang ini selamanya akan menjadi kediaman bagi kedua Putri. Para kasim dan dayang tetap tinggal di sini dan kedua Putri boleh kapan saja kembali untuk tinggal!”

Mata Erkang berbinar. Dia berseru gembira, “Terima kasih, Yang Mulia! Hamba pasti akan mematuhi perintah!”

Yongqi juga ikut berseru, “Terima kasih, Huang Ama!”

Sementara Ziwei dan Xiao Yanzi tampak malu-malu kucing.

***

Hari-hari berikutnya sibuk dengan persiapan pernikahan.

Beberapa hari sebelum pernikahan, Permaisuri dan Bibi Rong datang ke Paviliun Shuofang membawa dua helai pakaian pengantin. Kedua pakaian itu bermotif burung phoenix dan disulam dengan benang emas.

Permaisuri menyerahkan pakaian yang dibawanya seraya berkata tulus, “Ziwei, Xiao Yanzi, aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan penghargaan serta terima kasihku. Hanya ini yang bisa kulakukan, membuat pakaian pengantin kalian! Aku dan Bibi Rong bekerja keras mengerjakannya. Pakaian ini terbuat dari kain terbaik dari seluruh negeri. Sulamannya kami kerjakan sendiri! Kami harap kalian sudi menerimanya.”

Ziwei dan Xiao Yanzi terpana. Tidak pernah membayangkan Permaisuri akan melakukan hal seperti itu.

Bibi Rong menatap keduanya seraya berkata penuh hormat, “Setiap sulaman pada pakaian ini, mengandung ucapan maaf. Pakaian ini merupakan kumpulan dari permintaan maaf yang tak terhitung jumlahnya! Mohon Putri berdua sudi menerimanya!”

Ziwei mengulurkan tangan menerima pakaian dari Permaisuri dan Bibi Rong. Lalu tanpa menahan diri, dipeluknya Permaisuri erat-erat.

“Inilah saat yang paling kurindukan! Tuhan akhirnya mengabulkan doaku!”

Permaisuri balas memeluk gadis itu erat. Air matanya mengalir. Sementara Xiao Yanzi menyaksikan semuanya dengan pelupuk mata basah.

Beberapa saat kemudian, Permaisuri melepaskan pelukan Ziwei dan bertanya pada Xiao Yanzi, “Xiao Yanzi, bagaimana dengan kau?”

Xiao Yanzi juga menerima pakaian pengantinnya dan menghembuskan napas, “Aku sungguh tidak tega pada orang yang bersikap baik padaku. Kedatangan kalian seperti ini membuatku kehabisan kata-kata!”

Bibi Rong berlutut dan bersujud tiga kali. “Putri berdua, mohon maafkan semua kesalahan hamba!”

Setelah itu, Bibi Rong menggandeng tangan Permaisuri berlalu di tengah udara dingin.

***

Akhirnya tanggal dua bulan dua pun tiba.

Sesuai adat Dinasti Qing, pernikahan Kerajaan berlangsung pada malam hari. Di halaman Paviliun Shuofang menyala lampion aneka warna. Rombongan pemain musik memainkan musik pernikahan dengan gembira.

Dayang istana berpakaian bagus hilir mudik membawa nampan berisi camilan yang akan dihidangkan kepada para tamu. Liu Qing, Liu Hong, Jinshuo dan Xiao Jian juga hadir.

Suasana di aula sangat ramai karena kedua Putri tengah berdandan di sana. Ziwei dan Xiao Yanzi mengenakan pakaian yang dibuatkan Permaisuri dan Bibi Rong. Mingyue, Caixia, Selir Ling, Qing’er juga Jinshuo, sibuk mendandani mereka.

“Kalian jangan memerahi pipiku seperti pantat monyet!” komentar Xiao Yanzi.

“Aduh! Hari ini kau sudah jadi pengantin! Kenapa masih bilang kata ‘pantat’ segala?” sergah Selir Ling.

“Lho? Pengantin kan juga punya pantat!” Xiao Yanzi kembali menyebut kata itu.

“Ya ampun! Kau sebaiknya berhenti mengoceh! Pengantin wanita itu mestinya pendiam!”

“Aku tegang sekali! Sebentar lagi pasti banyak ritual yang harus dilakukan! Kalau tegang, aku jadi suka bicara. Bagaimana kalau nanti aku melakukan kesalahan?”

“Kau tenang saja! Nanti kau akan didampingin pendamping yang akan memberimu instruksi. Kau tak mungkin melakukan kesalahan!” tukas Selir Ling.

“Xiao Yanzi, begitu cadar pengantin menutup wajahmu, kau jangan bicara lagi! Kalau pengantin wanita bicara, orang-orang akan menertawakanmu!” Qing’er ikut memberi petunjuk.

Xiao Yanzi terus menelan ludah. Dia mengangguk dengan tegang.

Selir Ling tiba-tiba teringat sesuatu. “Apelnya! Cepat ambil apel kemari!”

Pada pernikahan adat Manchu, mempelai wanita mesti membawa buah apel dalam genggamannya. Selir Ling meletakkan kedua apel masing-masing ke tangan Ziwei dan Xiao Yanzi. “Pegang yang erat! Jangan sampai jatuh, ya!”

Ziwei memegang erat apelnya, sementara Xiao Yanzi langsung menggigit dan mengunyahnya.

“Astaga! Kenapa apelnya kau makan?”

Xiao Yanzi terpana, “Aku lapar sekali! Kenapa ketika mendapat sebutir apel tak boleh dimakan?”

“Karena apel itu salah satu benda keberuntungan dalam pernikahan. Ia mewakili kedamaian seperti yang diinginkan!”

“Kalau begitu, bukankah lebih aman jika menelan ‘kedamaian’ itu dan menyimpannya di perutku?”

“Tidak boleh begitu!” Selir Ling nyaris pingsan. “Cepat ambil apel pengganti! Cepat!”

Para dayang mengambil apel pengganti bagi Xiao Yanzi. Belum sekejap, Selir Ling histeris lagi. “Astaga! Di mana kunci kebahagiaan? Kita melupakan benda itu!”

“Sepertinya masih di Istana Zhuning. Lao Foye menyimpannya. Biar aku ke sana untuk ambil!” kata Qing’er.

“Baik! Lekaslah kau ke sana!”

Qing’er buru-buru keluar. Tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Xiao Jian di pintu.

Xiao Jian dengan sigap mengulurkan tangan menangkap Qing’er agar tidak terjatuh. Qing’er menengadahkan kepala dengan kaget. Melihat raut wajah pria asing yang tampan itu, Qing’er tanpa sadar bergumam, “Kau Xiao Jian kah?”

Xiao Jian juga terpana. Dia spontan berkata, “Kau Qing’er?”

“Benar…, aku Qing’er!”

“Qing’er…, sudah lama aku mendengar namamu…”

“Aku juga…”

Keduanya saling menatap beberapa saat sampai terdengar suara Selir Ling dari aula, “Qing’er! Kunci kebahagiaannya sudah ketemu! Rupanya terselip di sini!”

Qing’er hendak kembali lagi ke dalam tapi baru beberapa langkah dia berbalik lagi menatap Xiao Jian yang ternyata masih terus melihatnya.

“Qing’er! Qing’er! Di mana kau???” teriak Selir Ling.

Qing’er tersadar dan buru-buru menyahut, “Ya! Ya! Aku datang!” Barulah dia benar-benar masuk ke aula.

Xiao Jian masih terpaku di tempatnya. Gadis tadi seperti dewi yang ditemuinya dalam mimpi.

Liu Qing menghampiri dan menepuk bahunya, “Kau sedang lihat apa?”

Xiao Jian bergumam sepeti orang mabuk, “Berkali-kali mencarinya di kerumuman, ternyata dia ada di bawah cahaya lentera!”

Liu Qing bengong melihat Xiao Jian.

Akhirnya, kedua mempelai selesai berias. Cadar mereka telah dikenakan dan dengan lemah gemulai berjalan keluar menuju tandu pengantin.

Liu Qing, Liu Hong dan Xiao Jian seretak berseru, “Ziwei! Xiao Yanzi! Selamat ya!”

Para tamu bertepuk tangan dan petasan diledakkan berkali-kali. Ketika tandu diangkat, rombongan musik, pembawa lampion dan arak-arakan bergerak bersamaan.

Erkang dan Yongqi telah menunggu di depan gerbang Paviliun Shuofang. Mereka menunggang kuda, tampak gagah dan diliputi sukacita.

Namun keempatnya tidak pernah menyangka kejutan apa yang akan mereka peroleh nanti…

***

Upacara yang panjang akhirnya usai. Erkang menatap pengantinnya yang bercadar merah duduk tenang di tepi ranjang. Para pengiring pengantin berdiri di sisi-sisinya, membawa nampan berisi aneka perlengkapan pengantin.

Erkang menatap pengantinnya dengan penuh perasaan. Jantungnya berdegup kencang. “Ziwei,” katanya dalam hati. “Akhirnya aku berhasil menyuntingmu. Aku bersumpah, mulai hari ini, dalam kehidupan kita akan selalu diliputi kebahagiaan!”

Pengiring pengantin mempersilakan Erkang membuka cadar. Karena grogi, tangan Erkang sampai gemetaran. Cadar terbuka dan perlahan-lahan meluncur jatuh. Erkang menatap mempelainya dan sejurus kemudian dia melompat kaget.

“Haaaah???”

Xiao Yanzi menengadah dan tampak kaget sekali. Dia ikut berteriak, “Haaaah???”

Menyaksikan kejadian ini, para pengiring pengantin juga berteriak, “Haaaah???”

Dan dalam sekejap kamar pengantin pun heboh. Xiao Yanzi mengomel panjang lebar, “Aku disuruh tidak boleh bicara, eh tahu-tahunya malah orang lain yang melakukan kesalahan! Sebenarnya kenapa bisa sampai salah begini?!!”

Para pengiring pengantin segera berteriak nyaring, “Cepat tutup lagi cadarnya! Beritahu pemimpin upacaranya! Mempelai wanitanya salah antar! Mempelai wanitanya salah antar!!!”

***

Di tempat Yongqi, suasana juga sama kacaunya. Para pengiring pengantin lekas-lekas menutup kembali cadar Ziwei dan membawanya ke tempat Erkang. Ini sungguh kejadian pernikahan langka pada masa Dinasti Qing!

Akhirnya, Ziwei sampai juga di kamar pengantinnya. Ketika Erkang membuka cadarnya, keduanya bertatapan penuh perasaan.

Para pengiring pengantin mempersilakan keduanya bersulang dan mengikat bagian bawah jubah mereka sesuai adat.

“Ziwei, akhirnya kau menjadi mempelaiku! Sudah susah payah aku menanti, ketika harinya tiba, aku malah dikejutkan sampai sekujur tubuhku berkeringat dingin! Ziwei, sekarang, kita akan bersama-sama selamanya!”

Ziwei tersenyum bahagia. Namun pada saat bersamaan dia menyadari kalau pernikahan bukanlah akhir dari semua kisah mereka. Melainkan awal lain dari kehidupan mereka…

***

Bagaimana dengan Xiao Yanzi dan Yongqi?

Setelah mempersilakan pasangan pengantin minum arak dan mengikat tepi bawah jubah mereka, para pengiring pengantin pun undur diri dari kamar.

Xiao Yanzi menhembuskan napas. “Apa sekarang aku sudah boleh bicara?”

“Tentu saja! Sekarang kau sudah boleh bicara,” ujar Yongqi penuh perasaan.

Xiao Yanzi serta merta merasa rileks. “Sudah tersiksa seharian, aku malah dikirim ke tempat Erkang! Muka Erkang sampai biru saking kagetnya…”

“Kau tidak lihat aku sih…, mukaku juga sudah berubah jadi hijau tadi…,” Yongqi menatap mata bulat bening serta wajah cantik mempelainya. Perasaan cinta menyusup dan memenuhi seluruh hatinya.

“Oh Tuhan, kau cantik sekali! Jangan bergerak! Aku mau melakukan sesuatu!”

Yongqi menunduk hendak mencium Xiao Yanzi.

Di luar jendela, Liu Qing, Liu Hong, Jinshuo, Xiao Jian dan beberapa tamu lain berusaha mengintip. Ada yang tertawa, ada juga yang menabrak kusen jendela dengan berisik.

Xiao Yanzi serta merta terperanjat. Dia langsung mendorong Yongqi menjauh dan berteriak keras, “Di sana ada maling!” Xiao Yanzi melompat menuju jendela. “Maling sialan! Kau mau lari ke mana???”

Xiao Yanzi lupa kalau tepi bawah jubahnya diikat bersama jubah Yongqi. Sehingga Yongqi ikut terhempas olehnya. Mereka melayang dan jatuh bersama seraya berseru, “Huaaaaa….!!!”

SELESAI

Akhirnya, selesai juga sinopsis novel Putri Huanzhu Bagian kedua ini.

Setelah bersama cerita ini selama enam bulan, saya sangat lega akhirnya bisa kelar. Mohon maaf jika ada kalanya penulisan tersendat sehingga jeda antara satu episode ke episode lainnya cukup lama baru diposting.

Terima kasih atas antusiasme pembaca PD terhadap sinopsis ini. Terus terang, saya beberapa kali nyaris berhenti dan tak mau melanjutkan. Tapi membaca komentar-komentar sinopsis selalu bisa memberi semangat baru. Paling tidak, saya harus menyelesaikan sesuatu yang sudah saya mulai. Dan syukurlah, saya berhasil melakukannya.

Saya tidak akan menulis sinopsis Putri Huanzhu bagian III. Alasan pertama karena saya sudah tidak punya novelnya. Alasan kedua karena menurut saya, kisahnya sudah tidak relevan. Mestinya, Qiong Yao menulis kisah sambungan tentang Xiao Jian dan Qing’er saja. Xiao Yanzi serta yang lainnya hanya ditempatkan sebagai tokoh-tokoh pendukung. Terus-terusan menjadikan Xiao Yanzi sebagai sorotan utama dengan karakter yang tidak berkembang tentu saja membosankan.

Putri Huanzhu remake mulai tayang di China 1 Agustus ini. Mudah-mudahan untuk cerita usai kedua pasangan ini menikah, lebih bagus dari yang pernah dibuat dulu. Kita berharap saja ia juga diputar di Indonesia kelak.

Usai proyek Putri Huanzhu, saya belum tahu mau menulis apalagi di blog PD. Kemungkinan saya mengundurkan diri sebagai penulis dan hanya menjadi pembaca blog keren ini. Bagi sesiapa yang ingin membaca tulisan saya yang lain, boleh mengunjungi web: Merlinschinesestories@blogspot.com – yang memuat tulisan-tulisan fiksi saya mengenai sejarah China. Atau yang sudah berteman dengan saya di facebook boleh mampir membaca beberapa catatan saya di sana.

Sekarang saya bisa kembali ke aktivitas lama yang sudah sangat dirindukan. Membaca majalah National Gaeographic tiap minggu dan menonton saluran televisi satelit. Novel-novel saya juga sudah berjejer menggoda minta dibaca. Ada Si Cantik dari Notre Dame, Tetralogi Bumi-Manusianya Pramoedya Ananta Toer serta The Pilgrimage karya Paulo Coelho dan masih ada beberapa lagi…

Saya juga mau mengucapkan terima kasih banyak pada keluarga besar Rainbow Family yang telah memberi kesempatan memosting tulisan di blog ini. Spesial buat Ari, thanks, thanks a lot! Kaulah penncetusnya!

Dan untuk semua pembaca, komentator, para pendukung, mohon maaf jika ada kata-kata atau alinea yang disensor dalam sinopsis ini. Namanya juga sinop, pasti ada cut sana -cut sini. He he…

Untuk semuanya: terima kasih dan terima kasih beribu kali! Panjang Umur Putri Huanzhu! Wanshui!

***

Catatan Penutup dari Tante Qiong Yao:

Ada alasan mengapa saya menulis bagian kedua Putri Huanzhu. Pertama karena besarnya sambutan edisi pertama dan yang kedua, karena bagian pertama hanya berakhir pada pengakuan Qianlong terhadap Ziwei.

Ini novel terpanjang yang pernah saya tulis. Saya begitu sibuk sehingga tidak mengira, untuk membuat buku kedua ini saya telah menulis sekitar satu juta lima ratus kata!

Bagian yang ingin saya singgung di sini adalah mengenai Selir Xiang. Sebenarnya wanita seperti apakah Selir Xiang itu? Apa yang membuatnya jauh-jauh meninggalkan tempat asalnya di Xinjiang dan masuk istana menjadi Selir? Berbagai misteri yang belum dapat dijelaskan masih melingkupinya.

Imajinasi saya sangat tinggi. Berbagai legenda ditambah teori dari arkeolog membuat saya terbius untuk memecahkan teka-teki Selir Xiang. Saya memberanikan diri merekayasa cerita lain mengenai dirinya.

Mengenai Xiao Jian yang meragukan hubungannya dengan Xiao Yanzi, saya menyediakan tempat bagi pembaca untuk memikirkannya sendiri. Qianlong saja bisa salah mengakui Putri, bagaimana Xiao Jian tidak bisa salah mengakui adiknya? Lalu tentang Qing’er dan Xiao Jian, adakah kemungkinan keduanya bisa bersatu? Meski Ibu Suri telah memberi Qing’er hak khusus untuk menentukan perjodohannya sendiri, akankah dia merestui Qing’er bersama pria semisterius Xiao Jian?

Dalam sejarah resmi, Pangeran Kelima Yongqi hanya hidup sampai berumur 25 tahun. Dalam kisah ini saya telah samar-samar menulisnya sebagai ‘Pangeran yang mati muda’. Silakan pembaca berimajinasi sendiri.

Oleh karena itu, pertahankanlah sikap santai waktu menikmati kisah ini. Isinya memang agak absurd, aneh, romantis sekaligus dramatis… Namun saya telah menulisnya dengan segenap kemampuan yang saya miliki.

Qiong Yao,
Taipei, Keyuan,
8 Maret 1999.

[Sinopsis Novel] Putri Huan Zhu/ Huanzhu Ge Ge II Bagian 14


Judul Asli : Huan Zhu Ge Ge II-5: Hung Chen Chuo Pan
Pengarang : Chiung Yao (Qiong Yao)
Penerbit : Crown Publishing Co., Taipei – Thaiwan

Judul Bahasa Indonesia: Putri Huan Zhu II-5: Kembali Ke Kota Kenangan
Alih bahasa : Pangesti A. Bernardus (koordinator), Yasmin Kania Dewi, Tutut Bintoro
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Mei 2000

Cerita Sebelumnya:
Xiao Jian dan Yongqi benar-benar terlibat perang dingin pada episode yang lalu. Setelah mengalamai serangkaian tuduhan akibat kecemburuan Yongqi, Xiao Jian sungguh tidak tahan lagi. Akhirnya dia membeberkan rahasia yang selama ini dia pendam. Xiao Yanzi selama ini mengira dia sebatang kara, sama sekali tidak menyangka, ternyata Xiao Jian adalah saudara laki-laki yang selama ini mencari-carinya.

XIV

Malam setelah Xiao Jian mengakuinya sebagai saaudara, Xiao Yanzi tidak bisa tidur.

Dia berjalan mondar-mandir dalam kamar, terus-terus bicara sendiri, “Aku tidak sebatang kara…, aku punya kakak! Xiao Jian! Setelah sekian lama mengenalnya, kenapa tak terpikirkan kalau dia kakakku? Ha ha!”

Ziwei dan Liu Hong jadi sulit tidur juga gara-gara kelakuan Xiao Yanzi. Mereka melihat gadis yang bicara dan tertawa sendiri itu sudah seperti orang gila. Ziwei turun dari ranjang dan menarik tangan Xiao Yanzi. “Tak lama lagi subuh! Ayo lekas tidur!”

“Tidak mau!”

“Kenapa?”

“Selama ini hal-hal baik jarang terjadi padaku. Aku yakin ini cuma mimpi! Saat aku terbangun, kakakku sudah hilang!”

“Semalaman kami mendengar kau bicara sendiri hingga kuping kami hampir berair!” seru Liu Hong. “Sudah cukup kamu merasakan kesenanganmu! Cepat tidur! Besok saat kau bangun, kakakmu masih berada di sini!”

“Ssst…! Jangan ribut! Kau akan membangunkan para peri! Kalau mereka marah dan tidak jadi memberiku kakak bagaimana?”

“Celaka! Orang ini sudah sinting!” Liu Hong menarik selimut sampai kepala. “Terserah kalau kau mau begadang! Tapi aku mau tidur!”

Xiao Yanzi menahan Ziwei dan berkata memelas, “Ziwei, kumohon jangan tidur! Temani aku ngobrol, ya?”

“Kau mau mengobrol apa?”

“Aku punya kakak! Aku benar-benar punya kakak lho!”

“YA AMPUN! Tidak adakah yang lain??”

“Yang lain?” Xiao Yanzi terkekeh. “Xiao Jian punya adik, dan adiknya itu aku!”

Bruk! Ziwei menjatuhkan diri ke ranjang, nyaris pingsan mendengarnya.

***

Keesokan harinya, Xiao Jian mengajak Xiao Yanzi pergi berdua saja.

Keduanya tiba di sebuah bukit di luar kota. Ada beberapa masalah pribadi yang ingin dibicarakannya dengan adiknya itu.

Xiao Jian menceritakan ringkasan kisah keluarga mereka. “Ayah kita bernama Fang Chun. Dia pria hebat yang menguasai sastra serta kungfu, tampan juga berbakat. Karena terlalu menonjol, dia menjadi agak sombong sehingga suka menyinggung perasaan orang lain…”

“Pokoknya ayah kita pria hebat! Ibu kita juga! Dia wanita luar biasa! Keluarga kita sangat tepelajar, punya tanah, harta dan rumah. Hanya saja, sekarang tanah kita sudah tak bersisa. Setelah ayah dan ibu meninggal, keluarga kita jadi berantakan!”

“Jadi…, siapa musuh keluargakita sebenarnya? Katamu dendam keluarga kita telah terbalaskan, bagaimana caranya?”

Xiao Jian menatap Xiao Yanzi sesaat. “Xiao Yanzi, kau telah kuakui sebagai saudara kandung. Aku ingin kau mempertahankan segala sifat istimewamu: gembira dan penuh semangat. Jangan sampai kau menghilangkannya! Jangan pula pusatkan pikiranmu untuk dendam. Ayah dan ibu telah meninggal cukup lama. Aku telah melupakan dendam itu. kau tak perlu melibatkan diri.”

“Jadi.., apakah kau telah membunuh musuh itu?”

“Tidak…, aku tidak membunuhnya. Kurasa musuh itu sudah tidak ada. Dia telah mati.”

“Mati begitu saja? Enak betul dia!”

“Xiao Yanzi, tidak semua dendam perlu dibalas. Anggap saja semuanya telah berlalu.”

Xiao Jian mengalihkan perhatian Xiao Yanzi. “Ayo, mari lihat pedang warisan ini! Di atasnya terukir lambing keluarga kita. Kau masih ingat saat kita pertama kali bertemu? Kau merebut pedang ini dan memainkannya. Waktu itu aku belum yakin kau adikku. Aku belum bisa langsung mengakuimu. Tapi mendengar suara dan tawamu, hatiku pun terhibur!”

Xiao Yanzi menerima pedang itu dengan takzim. “Ketika itu, sama sekali tidak terlintas di pikiranku kalau ini pedang ayahku, pedang keluargaku!”

”Ayah menggunakan pedang ini mengalahkan jagoan-jagoan Jiangnan. Ilmu pedang keluarga kita sangat terkenal. Tunggu setelah keadaan stabil. Aku akan pelan-pelan mengajarimu.”

Mata Xiao Yanzi berbinar. “Sungguh? Kau mau mengajariku?”

“Tentu!” Xiao Jian mengambil serulingnya. “Seruling ini juga dulu sering dibawa ayah kita. Konon, setiap kali meriup seruling ini, burung-burung akan mendekat. Sama seperti Hanxiang yang bisa mengundang kupu-kupu!”

Xiao Yanzi mengagumi seruling itu, “Aku…, aku juga mau belajar meniupnya…”

Xiao Yanzi menengadahkan kepala menatap langit. Dia sangat terharu. Diangkatnya kedua tangannya, satu tangan memegang seruling, tangan lain memegang pedang. Lalu dia berteriak, “Ayah! Ibu! Aku dan kakak telah bersatu kembali! Apakah kalian melihat kami? Aku sangat bahagia! Aku sangat terharu!”

Melihat Xiao Yanzi seperti ini, mata Xiao Jian memancarkan cahaya. Dalam hati dia berjanji, apa pun yang terjadi kelak, dia pasti akan mempertahankan kebahagiaan gadis itu!

***

Sore itu mereka semua berjalan-jalan di jalan-jalan Nanyang. Xiao Yanzi tampak gembira, menjumpai setiap orang yang ada di jalan dan mengenalkan Xiao Jian sebagai kakaknya.

“Tenangkan dirimu! Kalau kau begini, semua orang akan mengira kau sinting!” kata Ziwei.

Xiao Yanzi memegang tangan Ziwei lalu berputar-putar, “Ziwei! Kuberitahu, aku punya marga dan nama! Juga punya kakak!”

Yongqi mengulurkan tangan dan meraba kening gadis itu. “Kau tidak demam, kan? Sepanjang hari kau hanya mengucapkan kata-kata ini. Apa kau tidak lelah?”

“Tidak! Tidak!” Xiao Yanzi berputar menuju Erkang, “Erkang, kuberitahu ya, aku punya kakak!”

Erkang menatap Xiao Jian. “Kenapa kau tidak segera mencarikan obat untuknya? Entah sampai kapan dia bicara begini terus!”

Xiao Jian merasa terharu. Dipeluknya Xiao Yanzi. “Kau sungguh membuatku tersanjung! Menyesal sekali bsaru sekarang aku mengakuimu. Kalau tahu kau begitu bahagia, dari dulu semestinya aku sudah mengakuimu. Sudahlah, jangan bicara begini terus. Karena, kau akan mirip orang gila!”

Xiao Yanzi berdiri di tengah jalan dan berteiak-teriak, “Aku punya kakak! Aku punya kakak!!!”

Kisah Xiao Jian dan Xiao Yanzi yang saling mengaku saudara kandung ini membawa kebahagiaan bagi semua orang. Namun bagi Erkang dan Ziwei yang jeli tetap merasa ada kecurigaan.

Malamnya, Erkang dan Ziwei menghampiri Xiao Jian yang sedang duduk sendirian di sebuah gazebo. Dia tengah meniup serulingnya.

Selesai Xiao Jian meniup serulingnya, Ziwei berpuisi, “Duduk di bawah kebun memainkan seruling, di kejauhan tampak dinding megah. Malam ini, untuk siapakah anngin bertiup?’

Xiao Jian menatap Erkang dan Ziwei dengan kagum. “Kau sangat puitis! Wanita yang sangat berbakat! Kau dan Erkang benar-benar pasangan serasi!”

“Di Kota Kenangan aku bukan apa-apa,” kata Ziwei. “Kau belum kenal Qing’er! Dialah yang patut disebut wanita puitis dan berbakat! Ibarat bara di bawah gunung salju. Permukaannya begitu dingin membeku, di dalamnya sangat panas bergejolak!”

Xiao Jian terpana. “Ada wanita seperti itu? Kau membuatku penasaran! Qing’er itu siapa?”

“Di Kota Kenangan ada banyak wanita. Kota itu adalah dunia wanita. Tapi wanita paling cantik di Kota Kenangan adalah Qing’er!”

Xiao Jian tidak percaya. “Kau membuatnya terdengar seperti dewi. Wanita paling cantik di dunia ini hanya kau dan Xiao Yanzi!”

“Itu karena kau belum pernah bertemu Qing’er. Kalau tak ada dia, kau dan Xiao Yanzi tidak akan pernah saling mengakui sebagai saudara. Aku dan Xiao Yanzi punya Qing’er yang selalu membantu kami di dalam istana. Di luar istana, kami punya Xiao Jian yang selalu siap membantu. Anehnya, kalian berdua tidak pernah saling mengenal!”

Xiao Jian tepekur mencoba menggambarkan sosok Qing’er dalam pikirannya. Membicarakan Qing’er, Erkang agak salah tingkah. Dia segera mengingatkan, “Ziwei, kau tampaknya sudah terlalu jauh melenceng dari maksud awal.”

Xiao Jian segera menyadari sesuatu. “Kalian sengaja mencariku? Apa ada yang ingin dibicarakan?”

“Benar! Kami kesulitan sampai menunggu Xiao Yanzi tidur baru bisa menemuimu. Kami ingin kau menuntaskan ceritamu,” kata Ziwei.

Erkang menatap Xiao Jian dan bertanya serius, “Siapa sebenarnya musuh bebuyutan yang telah membunuh ayahmu?”

Xiao Jian menatap Erkang dan Ziwei dengan waspada. “Kau sangat terus terang. Xiao Yanzi juga terus menanyakan itu. Tapi aku tidak pernah mau menjawabnya! Mengapa kalian anggap aku bakal sudi memberitahu kalian?”

“Kita sudah demikian dekat, apa yang tidak bisa diberitahukan?” sanggah Erkang. “Apa karena dendam itu belum terbalaskan? Atau karena musuhmu itu sangat kuat? Apa kau mencemaskan keselamatan Xiao Yanzi? Kalau memang begitu, lebih baik ceritakan pada kami! Apakah kau tidak merasa beban berat untuk menyimpan semua itu sendirian? Di sinilah gunanaya teman. Percayalah padaku dan Xiao Yanzi!”

“Kalau kalian menganggapku seperti saudara sendiri, jangan paksa aku mengatakannya! Mohon hormati hakku untuk menyimpan rahasia ini sendiri!”

“Kalau kau tetap tak mau bilang, itu artinya cuma ada satu alasan!” Erkang terus memburu Xiao Jian. “Musuhmu itu punya hubungan dengan kami….”

Xiao Jian terlonjak kaget. Dilihatnya Erkang sesaat lalu tertawa. “Ha ha! Kalian boleh menebak! Boleh mengarang! Tapi aku tetap tidak akan pernah mengatakannya!”

“Kaligrafi, lukisan, musik, catur, puisi, arak dan wanita selalu ada dalam kehidupannya,” Xiao Jian berdeklamasi. “Namun sekarang lima hal di antaranya yang berubah menjadi: serulling, pedang, sungai, gurun, puisi dan teh!”

“Puisi yang bagus sekali! Tidak ada satu katapun yang berhubungan dengan balas dendam!”

“Guruku adalah seorang biksu. Beliau tahu aku dipenuhi dendam kesumat. Maka beliau sering menasihatiku bahwa, kata paling bermakna dalam kehidupan ini adalah ‘memaafkan’! dia juga memintaku bersumpah untuk tidak membunuh. Dan aku telah bersumpah. Jadi dendam kesumat itu telah terkubur di dasar hatiku. Dia tak pernah jadi tujuan utama dalam hidupku!”

Erkang dan Ziwei menghembuskan napas lega. “Syukurlah! Karena bukan menjadi tujuan utama hidupmu, kami percaya itu juga tak akan menjadi tujuan utama Xiao Yanzi!”

Xiao Jian paham kalau Erkang dan Ziwei mengkhawatirkan Xiao Yanzi. “Kalian tenang saja! Dia begitu riang dan ceria. Kalau aku sampai membuatnya menjadi pendendam, arwah ayah dan ibuku pasti tidak tenang. Mereka pasti tak akan memaafkanku!”

Ziwei menatap Erkang lal, lalu berkata tenang, “Kalau begitu, kita hormati saja hak Xiao Jian!”

Erkang mengangguk. Xiao Jian kembali meraih serulingnya dan memainkan sebuah lagu.

***

Keesokan harinya, Xiao Yanzi dan kawan-kawan turun ke jalan untuk mengamen.

Tapi hari itu usaha mereka gagal. Orang-orang rupanya banyak yang berbondong-bondong ke bagian timur kota, mellihat ini, Xiao Yanzi langsung tertarik. Ditahannya seseorang untuk ditanyai.

“Semua orang pergi ke lapangan di depan sana! Hari ini ada lomba sastra oleh Pejabat Meng! Pemenangnya bisa memperoleh banyak uang! Pejabat Meng akan memberi banyak pertanyaan. Tapi soal-soalnya tidak mudah. Sebab kita harus membuat duizi – kalimat berpasangan, pantun bersambut, puisi dan menebak teka-teki! Yang kalah, nantinya disuruh minum arak!”

Erkang, Ziwei, Yongqi dan Xiao Jian langsung bersemangat. “Wah, ada acara sebagus ini? Sungguh tidak merepotkan! Kenapa kita tidak ikut serta?” Erkang berkata senang.

Akhirnya mereka semua mengikuti sayembara itu. Sesampainya di lapangan, orang sudah banyak datang berdesak-desakan. Di tengah lapangan berdiri sebuah panggung. Pejabat Meng berumur kurang lebih lima puluh. Dia duduk di tengah-tengah panggung dan kiri-kanannya duduk beberapa laki-laki berambut putih yang tampak ramah. Di kedua sisinya terdapat banyak guci dan cawan arak besar. Para gadis cantik berdiri di samping masing-masing guci.

Terdengar suara gong dipukul. massa menjadi tenang. Pejabat Meng mengulurkan tangan dan mengumumkan, “Hari ini kita kembali mengadakan festival sastra yang diselenggarakan setaun sekali! Aku telah menyediakan hadiah lima puluh tael perak bagi pemenang. Setiap peserta harus menjawab pertanyaanku. Yang salah jawab akan dihukum minum arak. Kalian boleh berebut menjawab!”

Orang-orang bertepuk tangan dan berseru-seru. Erkang bertanya, “Apakah lomba ini perorangan atau tim?”

“Ikut secara perorangan boleh, per kelompok juga boleh!”

Saat itu sudah ada beberapa kelompok yang mengumumkan identitas mereka.

“Kami kelompok Rembulan!”

“Kami kelompok Angin Sepoi!”

“Kami kelompok Anggun!”

“Dan kami ini satu keluarga! Nama kelompok kami ‘Pasti Menang – Tidak Bakal Kalah’!” teriak Xiao Yanzi.

Wohohoho! Semua orang terkejut. Mereka menatap ke arah orang yang berani omong besar itu!

“Nama apa itu? lihat saja kelompok lain, namanya bagus-bagus!” kata Yongqi.

“Kita sebut saja kelompok kita dengan sebutan Ziyan!” Erkang mengusulkan. “Demi dua orang paling istimewa dalam kelompok ini!”

“Bagus! kita namakan saja begitu! Pokoknya aku yang bertugas minum arak!” tukas Xiao Jian.

“Aku pasti tidak bisa menjawab pertanyaan. Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanya Liu Hong.

“Kau bertugas mengawasi Xiao Yanzi! Jangan sampai dia terlalu sering membuka ‘mulut emasnya’ itu!” Ziwei tertawa.

“Hei, jangan meremehkan aku, ya! Siapa tahu ada juga soal yang bisa kujawab?” Xiao Yanzi memonyongkan mulut.

Terdengar suara gong dipukul. pejabat Meng menyebut tema pertama, “Babak pertama akan segera dimulai. Kalian kuminta membalas peribahasa empat kata. Kata pertama dan ketiga harus sama dengan peribahasaku. Peribahasa kasar atau mengandung makna sial tidak boleh digunakan. Baik, aku mulai. Qian Yan Wan Yu – ribuan kata tak terucapkan!”

Qian Hu Wan Huan – ribuan kata membujuk seseorang!” Erkang berseru.

Qian Tou Wan Shu,” Pejabat Meng berkata lagi.

Qian Tao Wan Gua – ribuan pisau mencincang hingga hancur!” Xiao Yanzi spontan berteriak.

Orang-orang langsung berteriak riuh. Dewan Juri mengumumkan, “Kelompok Ziyan dihukum minum arak karena mengucapkan peribahasa pembawa sial!”

“Waduh! Aku lupa membungkam mulutnya!” sesal Liu Hong.

Gadis cantik datang membawa secawan besar arak. Xiao Jian terpana. “Besar sekali cangkirnya!”

“Minum arak! Minum! Minum!” kerumunan berteriak. Xiao Jian terpaksa menandaskan araknya.

Kelompok lain telah melanjutkan peribahasa dan Pejabat Meng menimpali.

Qian Shan Wan Shui – ribuan gunung, puluhan ribu sungai!”

Qian Niu Wan Yang – ribuan sapi, puluhan ribu kambing!” Xiao Yanzi tak dapat menahan diri berteriak.

“Dihukum minum arak! Kelompok Ziyan kembali dihukum minum arak!’ Dewan Juri mengumumkan.

Ziwei dan lain-lainnya memelototi gadis itu. secawan besar arak kembali dihidangkan dan Xiao Jian tampak pasrah meminumnya.

Tiba-tiba, Pejabat Meng menggant tema. “San Xin Liang Yi – tiga hati dua maksud!”

Pei Xing Dai Yue – berselimut bintang, bertopi rembulan!” Erkang menukas.

Xiao Yanzi spontan berteriak lagi, “Pei Ma Dai Xiao – memakai baju berkabung!”

“Minum arak! Kelompok Ziyan kembali minum arak!” Dewan Juri berseru.

Xiao Jian berkata pada Xiao Yanzi, “Kau tak usah buka mulut lagi! Kalau aku minum terus sebanyak ini, kalian bakal harus memanggulku keluar dari tempat ini!”

“Aish, aku selalu kalah cepat membungkam mulutnya!” sesal Liu Hong. “Biasanya kalau disuruh belajar peribahasa, kau paling bego! Kenapa sekarang kau terus mencerocos?”

“Baik, baik! Aku tidak akan bicara lagi!” Xiao Yanzi membungkam mulutnya sendiri.

Kini sudah tiba babak kedua. membuat Duizi – puisi berpasangan. Pejabat Meng mengumumkan soal dengan suara jernih, “Bulan sabit bagaikan busur. Bulan pucat (bulan sabiit setelah purnama) bagaikan busur. Dawai atas bagaikan busur. Dawai bawah bagaikan busur. Nah, silakan Anda timpali!”

Kerumunan penonton terbengong. Sementara kelompok lain sibuk berdiskusi, Ziwei sudahmaju dan menimpali, “Aku akan coba membuat kalimat pasangannya. ‘Kabut pagi seperti renda. Kabut malam seperti renda. Sungai timur bagaikan renda. Sungai barat bagaikan renda’!”

Pejabat Meng terkagum. Spontan dia berseru, “Nona sungguh berbakat!” Dia lalu membuat dua Duizi lagi dan Ziwei menimpalinya dengan mudah.

Lalu, Pejabat Meng mengganti tema. “Aku akan memberi soal modifikasi Duizi. Silakan Anda sekalian membuat pasangannya! ‘Di taman bunga, persik mekar mewangi, teratai mekar mewangi, mawar mekar mewangi. Bunga-bunga mewangi, menwangi, mewangi’!”

Ziwei berdiskusi dengan Erkang dan Yongqi. Sementara Xioa Yanzi, entah memikirkan apa tiba-tiba tertawa sendiri.

“Membuat Duizi itu tidak susah. Aku pernah belajar sedikit. Tadi itu sih, aku bisa membuat pasangannya! Pasangannya adalah… Ha ha ha!”

“Kenapa tertawa? Itu susah sekali! Lebih baik kau diam agar aku tak dihukum minum arak lagi!” bentak Xiao Jian.

Pejabat Meng tersenyum dan mempersilakan Xiao Yanzi, “Silakan Nona menimpalinya!”

Xiao Yanzi menahan tawanya dan berkata lantang, “Baik! ‘Di jalan besar, tahi manusia bau! Tahi babi bau! Tahi anjing bau! Tahi-tahi bau, bau, bau’!”

Semua orang langsung tertawa tergelak-gelak. Pejabat Meng dan Dewan Juri ikut tertawa, tak tahu harus menghukum minum arak atau memberi pujian.

Di tengah tawa seperti itu, tiba-tiba seseorang berseru, “Itu Putri Huanzhu dan Putri Mingzhu! Aku mengenali mereka! mereka putri rakyat jelata!”

Xiao Yanzi dan kawan-kawan langsung terperanjat. Pejabat Meng dan Dewan Juri sontak berdiri dan menghampiri kelompok Ziyan.

“Sungguhkah kedua Putri yang datang kemari?”

Kerumunan orang menjadi histeris dan entah siapa yang memulai, mereka berteiak-teriak, “Panjang umur Putri Huanzhu! Panjang umur Putri Mingzhu!”

Pejabat Meng menatap Erkang dan Yongqi, “Kalau begitu, salah satu dari Anda adalah Pangeran Kelima…?” Dengan sigap Pejabat Meng berkatatakzim, “Kalian sungguh orang sejati yang tak menunjukkan identitas asli! Hamba punya mata tapi tak bisa mengenali Gunung Agung di depan mata….!”

Erkang buru-buru berkata pada Pejabat Meng, “Kami bukan orang-orang yang Anda maksudkan! Kalian salah mengenali orang! Maaf, kami mohon diri!”

Erkang dan yang lainnya buru-buru meninggalkan tempat itu tergesa-gesa. Kerumunan orang masih berseru-seru. Erkang berkata heran, “Kita harus segera berangkat! Jejak kita telah tercium! Kenapa mereka sampai mengenali kita, ya?”

***

Di kediaman Keluarga He semuanya berkemas secepat kilat.

Xiao Kezi menahan Xiao Yanzi. “Kalian sungguh akan pergi? Bukankah kalian akan lebih lama tinggal di sini?”

“Tak disangka kalian masih juga dikenali orang,” gumam Nyonya He. Dia lalu meletakkan sekantong uang ke tangan Xiao Jian. “Ini ada sedikit bekal perjalanan. Terima saja, sepanjang jalan nanti, kalian pasti akan membutuhkannya!”

“Ah, kami merasa tidak enak. Sudah menerima banyak bantuan, masih juga menerima uang dari Anda,” Yongqi merasa jengah.

Xiao Jian menerima uang itu dan menyimpannya. “Ini maksud baik, tak boleh ditolak,” katanya tertawa. “Apalagi kita memang sedang bokek. Pemberian ini tulus, maka kita boleh menerimanya. Teima kasih!”

Erkang berujar sambil tertawa, “Tadinya kukira kita bisa memenangkan lima puluh tael perak di sayembara itu. tapi siapa sangka, uangnya belum sampai ke tangan, jejak kami sudah ketahuan!”

“Mungkin karena kita terlalu bersemangat menunjukkan kebolehan kita,” keluh Xiao Yanzi.

“Justru kaulah yang membuat semua orang terkagum-kagum,” kilah Ziwei sambil tertawa.

“Ha ha! Aku setuju! Aku tidak habis pikir bagaimana dia bisa menciptakan begitu banyak plesetan semacam itu!” makin dipikir, Xiao Jian semakin geli. “Duizi terakhir itu benar-benar sempurna! Bunga dipasangkan dengan tahi. Taman bunga dengan jalan raya. Bau harum dengan bau busuk. Aku benar-benar kagum dia bisa memikirkan itu!”

“Ha! Kau baru tahu sedikit kemampuan adikmu membuat kalimat!” sergah Yongqi. “Aku akan mencatat semua kalimat bagusnya dalam kitab ‘Kumpulan Kata-Kata Mutiara Putri Huanzhu’! di dalamnya ada berbagai jenis kalimat aneh. Kau tahu bagaimana Xiao Yanzi menjelaskan peribahasa San She Er Li – di usia tiga puluh seseorang seharusnya sudah mandiri? Katanya itu berarti tiga puluh orang yang sedang berbaris!”

Semua tertawa-tawa. Meski mereka sedang bersiap melarikan diri, tapi suasana hati mereka tampak riang.

Tiba-tiba seorang pelayan masuk mencari Nyonya He. “Nyonya, di luar ada dua orang yang mencari Tuan Muda Fu!”

Semuanya langsung cemas. Tanpa menunda, Erkang segera keluar. “Akan kulihat siapa. Kalian tetaplah waspada!”

Tak lama, Erkang kembali dan berseru girang, “Ziwei! Coba lihat siapa yang datang!”

Jinshuo dan Liu Qing muncul dengan wajah berdebu.

“Nona!” Jinshuo berteriak.

“Jinshuo!” Ziwei balas berseru dan lekas-lekas menyongsong memeluknya. “Jinshuo! Aku rindu padamu!”

“Aku juga!” ujar Jinshuo. “Tanda-tanda kalian sangat sukar ditemukan. Hampir saja kami menyerah dan berniat meninggalkan kota ini!”

Ziwei mendorong Jinshuo sedikit. “Bagaimana kakimu? Apa sudah pulih?”

“Ya… Liu Qing, dialah yang mengobati kakiku. Dia pintar sekali mengobatinya!” Jinshuo tersipu-sipu.

Ziwei ganti memandang Liu Qing. “Liu Qing, bukankah kau ingin bicara sesuatu denganku?”

Wajah Liu Qing merah padam. “Hm em… Apa yang terjadi dengan kalian? Sepankang jalan tadi kami mendengar nama Putri Huanzhu dan Putri Mingzhu disebut-sebut. Sebenarnya kalian tadi membuat pertunjukan apa?”

“Cuma berbalas peribahasa dan membuat Duizi!” Xiao Yanzi berkata bangga. “Aku punya berita besar untuk kalian! Aku ternyata punya marga dan nama asli. Aku punya kakak! Kuperkenalkan, ini kakakku! Xiao Jian!”

Liu Qing dan Jinshuo keheranan. “Oh, kalian mengangkat sumpah saudara ya? Selamat ya!”

“Bukan! Dia benar-benar kakak kandungku! Kakak kandung!”

“Celaka! Kalau sudah begini, dia tak akan berhenti!” Yongqi menepuk jidatnya.

Xiao Yanzi kembali teringat sesuatu. “Satu lagi. Ini adikku, Xiao Kezi!”

Jinshuo dan Liu Qing benar-benar bingung. “Sepertinya kita telah ketinggalan banyak peristiwa seru,” kaluh Jinshuo.

“Memang,” sahut Ziwei. “Lalu, apakah kalian juga akan menceritakan drama menarik di antara kalian?”

“Hm.., ya ya! Akan kukatakan!” Liu Qing menjawab seraya menggaruk kepala. “Hmmm, ada makanan tidak?”

Semua nyaris pungsan mendengarnya. Liu Hong memaki kakaknya, “Dasar bodoh! Hari itu ketika menyatakan perasaannya pada Jinshuo, kakakku ini juga bicara dulu hal-hal yang tak ada hubungannya! Akhirnya, aku juga yang membantunya bicara!”

“Aih! Kenapa kau beberkan?” Liu Qing salah tingkah.

Semuanya kembali tertawa.

Tiba-tiba, pelayan masuk lagi dan melapor pada Nyonya He. “Celaka! Nyonya! Di luar ada banyak orang yang mematai-matai rumah ini! Sepertinya mereka telah mengepung rumah ini!”

Kakak He yang juga berada di sana berseru cemas, “Cepat ikut aku! Kalian semua harus segera pergi!”

Mereka membawa barang masing-masing dan berlari ke pintu belakang. Kereta kuda telah disiapkan.

Tiba-tiba, sebarisan pengawal kerajaan muncul dan berbaris rapi. Mereka memberi salam, “Salam sejahtera bagi Pangeran Kelima! Salam sejahtera bagi Putri Huanzhu! Salam sejahtera bagi Putri Ziwei! Salam sejahtera Tuan Muda Fu…”

Semuanya terperanjat. Yang laki-laki telah siap menghunus senjata.

“Karena kalian telah mengenalli kami, lekas menyongkir! Jangan memaksa kami melukai kalian!” seru Erkang penuh wibawa.

Para pengawal tidak melawan. Salah satu pengawal berkata hormat, “Majikan kami ingin menemui Tuan Muda Fu!”

“Siapa majikan kalian?”

Lalu terdengar seruan, “Erkang! Letakkan senjatamu! Jangan sampai melukai orang sendiri!”

Erkang kaget sekali. Dia melihat Fulun mendekat. Dijatuhkannya senjata seraya berseru kaget, “Ayah? Mengapa Anda bisa sampai di sini?”

Semua terpaku. Fulun menatap mereka dan berkata dengan penuh perasaan, “Akhirnya aku bisa menemukan kalian! Erkang, bagaimana lukamu? Dan Ziwei, apakah matamu telah diobati?”

Erkang menarik Ziwei berlutut. “Ayah!”

Fulun menatap keduanya terharu. Melihat Erkang baik-baik saja dan Ziwei bisa melihat lagi, beban hatinya langsung hilang. Dia menengadahkan kepala dan bertanya, “Apakah ada tempat kita bisa bicara? Aku ingin bicara dengan kalian, juga dengan Pangeran Kelima dan Putri Huanzhu!”

“Ada!” Kakak He buru-buru mengangguk. Mari kembali ke dalam rumah!”

Tak lama kemudian, Fulun dan keempat muda-mudi itu telah berkumpul dalam sebuah ruangan yang disediakan Kakak He.

“Apa? Huang Ama memaafkan kami? Mungkinkah dia hanya membohongi kami supaya mau kembali?” Xiao Yanzi tidak percaya.

“Xiao Yanzi, apa kau tidak mempercayaiku? Kaisar sendiri yang mengatakan kalau Beliau mengampuni kalian! Masalah Selir Xiang telah berlalu. Beliau tak mengungkitnya lagi! Bahkan, ketika mendengar kalian ada yang terluka dan buta, Beliau cemas bukan kepalang. Sekarang semua kesulitan telah berlalu. Kaisar masih tetap bersikap baik pada kalian. Beliau berulang kali bilang bahwa kalianlah yang dicintainya!”

“Kalau begitu, berarti Huang Ama tidak pernah menguts orang untuk membunuh kami?” tanya Ziwei kebingungan.

“Kalian jangan mencurigai Yang Mulia lagi. Itu akan membuat Beliau merasa malu dan terhina.”

Xiao Yanzi dan Ziwei merasa terharu. “Kami mengerti. Beliau memang Kaisar yang oandai dan bijak.”

“Kalau begitu, kita tak perlu meneruskan pelarian ini lagi!” kata Yongqi girang.

“Benar! Ayo lekas ikut denganku kembali ke istana!” Fulun berseru penuh semangat.

Ziwei langsung menahan Erkang, ditatapnya dengan seksama. Kekasihnya itu langsung mengerti.

“Ayah, aku dan Ziwei akan berdiskusi sejenak. Setelah itu baru kami memutuskan kembali atau tidak.”

Fulun terkejut. “Apa maksudmu? Apa kalian tidak mau kembali meski Kaisar telah memaafkan kalian?’

Erkang berkata pernuh hormat, “Ayah, mohon pertimbangkanlah! Di istana, Ziwei selalu terancam bahaya. Jika dia kembali, mungkinkah dia kembali ke lingkungan yang sama? Kalau kami pergi jauh, siapa tahu itu justru kesempatan kami untuk hidup bahagia…”

“Aku juga ingin pergi jauh…,” Xiao Yanzi menimpali. “Di istana aku tidak pandai peribahasa, tidak tahu tata krama, ini itu serba tidak bisa. Tapi di luar istana hidupku baik-baik saja asal Huang Ama tidak mengejar-ngejar hendak membunuh kami. Apalagi sekarang aku sudah punya kakak, aku tak mau pulang!”

Fulun menatap dua pasang kekasih itu. “Masalah ini sangat serius. Kumohon kalian benar-benar mempertimbangkan diri. Apakah kalian tega mengabaikan perasaan Kaisar?” ditatapnya Erkang. “Apalagi, Erkang, kau juga harus memikirkan aku dan ibumu…”

Erkang dan Ziwei tersentak. Mereka minta diberi waktu dan segera mendiskusikannya di tempat terpisah. Fulun terpaksa harus menunggu.

***

Tapi ternyata, hasil diskusi kedua pasangan itu sudah bulat: tak akan kembali!

Fulun menatap keempat muda-mudi itu. Hatinya sedih.

“Baiklah, kalau kalian memutuskan itu sekarang, aku tak akan memaksa. Tapi aku sudah lama tidak bertemu Erkang. karena itu, aku akan tinggal di Nanyang selama dua minggu, gunakan waktu dua minggu itu untuk memikirkan ulang keputusan kalian. Baru setelah itu aku akan kembali ke Beijing dan melapor pada Kaisar!”

***

Qianlong segera mendapat laporan dari Fulun lewat kurir cepat di Istana Zhuning.

“Syukurlah kalau mereka baik-baik saja. Tapi, katamu mereka tak mau kembali ke Istana? aku sudah memaafkan dan mengampuni mereka! Kenapa masih tidak mau kembali?”

Qing’er dan Ibu Suri kebetulan juga berada di sana. Qing’er lega mendengar semuanya dalam keadaan baik. Tapi mendengar bahwa mereka tak mau pulang, Qing’er merasa perlu mengingatkan Kaisar.

“Yang Mulia, mereka semua telah mengalami kejadian beraneka rupa. Mengingat semua pengalaman mengerikan di masa lalu, keputusan ini tentunya mereka ambil dengan berat hati. Ini wajar. Ada peribahasa mengatakan, ‘Pakaian lama bisa ditambal. Rumah rubuh bisa dibangun kembali. Tapi hati manusia yang luka akan sulit dipulihkan!’ Luka hati bisa dialami siapa saja. Bukan hanya oleh Kaisar tapi juga oleh rakyat jelata. Adakah tabib yang bisa menyembuhkan luka hati? Jika penyakit itu terobati, mereka pasti akan sukacita kembali lagi ke istana!”

Mendengar penuturan Qing’er, wajah Qianlong merona.

***

Setelah Fulun pergi, mereka semua berkumpul dan sibuk membicarakan kejadian tadi.

Xiao Jian menatap Xiao Yanzi dan Yongqi dengan curiga. “Jadi, apa kalian memutuskan kembali ke istana? Pejabat Fu masih tinggal di Nanyang. Itu menunjukkan dia belum menyerah membujuk kalian.”

“Tidak! Aku dan Xiao Yanzi tidak mau kembali,” Yongqi berkata dengan berat hati. “Aku sudah membuat keputusan. Di istana ada banyak Pangeran. Huang Ama tidak akan terlalu kehilangan kalau cuma kehilangan aku seorang!”

“Kalau begitu, semenjak Dinasti Qing berkuasa, kaulah Pangeran pertama yang minggat dari istana. Kelak bagaimana sejarah akan mencatat riwayatmu?”

“Keluarga kerajaan memiliki cara menangani masalah seperti ini,” jawab Erkang. “Jika ada anggota keluarga kekaisaran mengalami hal yang tak ingin diakui istana, mereka akan mengumumkannya telah meninggal. Sama seperti masalah Selir Xiang. Yongqi, kau luar biasa! Kau akan menjadi Pangeran yang mati muda!”

“Aku tidak peduli apa pun yang diumumkan istana mengenai diriku. Sejak menculik Ziwei dan Xiao Yanzi dari kereta tahanan, Pangeran Kelima sebenarnya sudah mati. Yang ada sekarang cuma seseorang bernama Ai Qi!”

“Ai Qi!” panggil Xiao Jian. “Kelihatannya adik perempuanku tidak salah memilih! Kalau demi dirinya kau telah mematikan Pangeran Kelima, aku dengan senang hati merestui kalian sehidup-semati!”

Liu Hong memeikirkan sesuatu. Wajahnya agak muram. “Sayang sekali jika kita tak bisa kembali. Kita masih punya banyak urusan yang tak bisa ditinggalkan. Siapa yang akan merawat orang tua dan anak-anak di rumah kumuh jika aku dan Liu Qing tidak kembali?”

“Aku telah diberitahu Ayah kalau Graha Huipin bisa dikembalikan pada kalian,” kata Erkang.

“Benarkah?” Liu Qing terkejut sekaligus senang.

“Benar!”

Liu Qing girang sekali. Dia berpaling kepada Jinshuo dan berkata, “Nyonya Juragan Graha Huipin, seperti peribahasa ‘menikah dengan siapa akan ikut siapa’. Dengan berat hati kuberitahukan kau tak bisa legi terus mengikuti Ziwei. Kau harus ikut denganku kembali ke Beijing.”

“Nyonya Juragan apa? Kau belum pernah bertanya apakah aku bersedia menikah denganmu atau tidak!”

Liu Qing terperanjat. “Ha? Jadi kau belum memutuskan?”

Xiao Yanzi menepuk bahu Liu Qing. “Kalau begitu ayo tanyakan sekarang! Tanyakan di depan banyak orang!”

Liu Qing malu sekali. “Tanya apa lagi? Pokoknya masing-masing pihak sudah sama-sama tahu, beres kan? Kenapa mesti bertele-tele begini sih?”

“Ayolah, cepat tanyakan!” desak Ziwei sambil tertawa.

“Cepat tanya! Kalau tidak, kami akan membawa Jinshuo. Aku kan belum punya kakak ipar, kulihat Jinshuo cocok juga dijodohkan dengan Xiao Jian!”

“Hei! Kau bicara apa, Xiao Yanzi?” Jinshuo protes. “Memangnya aku tidak punya hak menentukan nasibku sendiri? Seenaknya saja dikirim ke sana-sini!”

Melihat muka Jinshuo yang merah dan malu, Liu Qing jadi geregetan. “Kalian semua memang menyebalkan! Semua sudah tahu jawabannya tapi masih sengaja bertanya!”

Liu Qing lalu berdiri di depan Jinshuo dan dengan lantang berkata, “Jinshuo! Aku ini tidak berpendidikan, dan kalau bicara tidak seenak Erkang atau Yongqi! Aku tidak mengerti kalimat romantis, puisi, segala sumpah pada ini-itu! Seumur hidupku aku hanya paling takut ketika kau terjatuh ke jurang dan kakimu luka! Ketika itu barulah aku sadar kalau aku mencintaimu! Sudah! Ini kata-kata paling romantis yang pernah kuucapkan! Sekarang, kau mau jadi istriku atau tidak?”

“Waaaw! Liu Qing! Kau benar-benar ‘orang dengan kemampuan terpendam, sekali bicara langsung mengagetkan semua orang’!” seru Yongqi.

Mereka mengelilingi Liu Qing dan Jinshuo. Xiao Yanzi berseru-seru, “Nah, Jinshuo, bagaimana jawabanmu? Cepat katakan!”

Muka Jinshuo merah padam. “Apa mau dibilang lagi? Sepertinya aku sudah termakan rayuan lelaki satu ini!”

Ziwei dan Erkang tersenyum puas. “Xiao Jian!” Ziwei berkata penuh semangat. “Bisakah kita meminjam rumah Kakak He untuk melangsungkan pernikahan mereka? Sebelum kita berpisah, aku ingin melihat mereka menikah!”

“Baik! Akan kutanyakan!” Xiao Jian tersenyum.

***

Kakak He dan istrinya setuju rumah mereka dipakai untuk upacara pernikahan. Setelah tiga hari persiapan singkat, Jinshuo dan Liu Qing akhirnya menikah.

Inilah pernikahan kedua yang mereka adakan sejak melarikan diri. Jinshuo tampil cantik memakai baju pengantin. Xiao Kezi menjadi pengiring pengatinnya. Kakak He, istrinya dan Fulun menjadi tamu kehormatan.

Pasangan pengantin itu melangsungkan upacara di bawah tatapan Ziwei dan Erkang yang penuh restu. Ziwei menangis terharu. Di dalam kehidupan ini ada banyak tragedi yang berubah menjadi peristiwa bahagia. Mengubah sesuatu yang kebetulan menjadi hal menakjubkan!

Sejak mereka melarikan diri, inilah saat-saat dimana mereka merasa paling bahagia!

***

Keesokan harinya, Xiao Yanzi memasak aneka hidangan.

“Untuk merayakan begitu banyak kebahagiaan yang kita dapatkan beberapa waktu ini, hari ini aku memasak untuk kita semua! Semua ini aku sendiri yang masak! Tidak dibantu siapapun! Karena kalau aku tidak menunjukkan kebolehanku, kalian akan menggunjingkan daging asam pedasku seumur hidupku!”

“Benar! Hari ini semua masakan Xiao Ynazi! Aku hanya membantunya memotong-motong!” gumam Ziwei tertawa.

“Siap!” semuanya sudah siap mengangkat sumpit.

“Eiiit! Jangan buru-buru! Sebelum makan, aku punya aturan makan! Kalian baru boleh makan setelah mendengarnya!”

“Apa? Aturan makan? Sejak kapan kau jadi seperti cendekiawan?” Liu Qing bertanya.

“Cepat katakan aturanmu! Kami semua sudah lapar!” sahut Erkang.

“Ehem!” Xiao Yanzi berdehem lalu mendeklamasikan ‘aturannya’.

“Semua orang harus makan! Pagi harus makan, siang harus makan, malam juga harus makan! Saat lapar harus makan, saat kenyang pun juga boleh makan…”

Semuanya terpingkal-pingkal. Yongqi menjelaskan pada Xiao Jian, “Aslinya, ini adalah esai yang ditulis Xiao Yanzi: Ru Ren Yin Shui – Bagaikan Orang Minum Air. Dulu dia membuat esai tentang aturan minum, sekarang dia mengubahnya menjadi aturan makan! Waktu esai pertamanya, Huang Ama berkomentar kalau Konfusius bisa tenggelam jika membaca esainya!”

Xiao Jian tak dapat menahan tawanya. Xiao Yanzi terus saja berdeklamasi, “Laki-laki harus makan. Perempuan harus makan. Anak-anak mesti makan, orang tua juga harus makan. Anjing, kucing, babi, manusia harus makan! Malam ini kita harus makan, besok juga kita harus makan!”

“Sudah selesai?” tanya Erkang. “Jadi kita sudah boleh makan sekarang?”

“Jangan buru-buru! Aku belum selesai!” Xiao Yanzi menghalangi. “Dulu ketika keluar istana bersama Huang Ama dengan menyamar, Ziwei menghidangkan masakan dengan nama-nama indah. Sekarang aku juga akan memberi nama-nama bagi masakanku!”

“Wah! Hebat sekali!” Erkang menjepit sepotong iga. “Ini namanya apa?”

“Yang itu namanya ‘membongkar barang’!” kata Xiao Yanzi.

“Membongkar barang? Kalau dimakan, percernaan bisa kacau dong! Kalau yang ini?” Erkang mengganti makanannya.

“Itu namanya ‘kepala anjing berdarah’!” sahut Xiao Yanzi anteng.

“Haa? Astaga!” Erkang meletakkan hidangan itu dan memandangnya dengan curiga.

Xiao Jian mengambil hidangan dari labu. “Aku mau makan yang ini. Apa namanya?’

“Itu namanya ‘otak mekar’!”

“Hueek! Otak mekar? Kuteliti dulu ah, baru makan!”

“Aku makan daging cincang ini saja ah! Pasti aman!” kata Liu Hong.

“Itu namanya ‘merobek dada-membelah usus’!”

“Apa? Mana ada lauk dinamakan begitu?”

“Untuk alasan keamanan, aku pilih yang vegetarian saja!” Liu Qing menyendok tahu.

“Itu namanya ‘cairan otak yang remuk’!”

“Apa? Kenapa piring demi pirig namanya semakin hebat?”

Bruk! Semua orang meletakkan sumpit. “Kau sengaja ingin merusak selera makan kami ya?” seru Yongqi.

“Dulu Ziwei menamai masakannya indah-indah. Sekarang tiba giliranmu nama-namanya berubah jadi mengerikan! Pantas saja Hanxiang bisa memanggil kupu-kupu sedang kau cuma bisa mengundang lebah!” sambung Erkang.

Xiao Jain tertawa-tawa. “Luar biasa! Kau sudah bisa dibilang sopan karena tidak menyuguhkan. ‘hati dan otak berserakan’, ‘mayat berjalan’….! Sudahlah! Mari makan dan jangan mengingat nama-nama masakan itu lagi! Kita makan, minum arak sambil bermain tebak kata, setuju?”

“Setuju!” Ziwei menyetujuinya. “Mari main supaya kita bisa lupa dengan nama-nama lauk tadi!”

Xiao Yanzi berseru penuh suka cita, “Ayo main! Tapi jangan terlalu susah ya!”

Mereka pun bermain kata dan seperti biasa, Xiao Yanzi selalu yang paling ngawur sehingga membuat yang lain terpingkal-pingkal.

***

Ternyata Fulun memutuskan kembali ke Beijing.

“Kelihatannya keputusan kalian memang tak dapat dirubah lagi. Karena itu aku akna kembali ke Beijing. Tapi besok siang, marilah kita makan bersama di Graha Juixian. Aku sudah memesan tempat di sana. Anggaplah ini jamuan perpisahanku dengan kalian! Ini hanya antara kita berlima. Kawan-kawan kalian tak perlu diajak karena aku masih ingin membicarakan sedikit urusan pribadi!”

“Mau makan-makan lagi? Baiklah! Semua orang harus makan! Hari ini harus makan, besok juga! Kami pasti datang!” seru Xiao Yanzi senang.

***

Siang keesokan harinya, mereka pergi ke Graha Juixian yang memiliki restoran serta penginapan terbesar di Nanyang. Fulun memesan ruangan pribadi bagi mereka berlima.

“teringat sebentar lagi kita akan berpisah, hatiku sungguh sedih. Aku juga ikut sedih bagi Yang Mulia Kaisar. Tidak mudah bagi Beliau untuk mengampuni kalian. Kebesaran hati Yang Mulia semestinya disyukuri. Tapi kenapa kalian justru tak mengindahkannya?”

“Beliau memang bukan ayah biasa,” Ziwei menimpali. “Beliau memiliki kekuasaan untuk menentukan hidup dan mati seseorang. Kekuasaan yang menakutkan! Pertengkaran antara ayah dan anak tentu pernah terjadi. Tapi hanya Beliau yang bisa menjatuhkan hukuman mati pada anaknya begitu Beliau marah!”

“Ha ha ha! Benar sekali, Ziwei! Ayah yang menjatuhkan hukuman mati seperti itu memang hanya aku seorang! Tapi kepalamu masih bertengger, mulutmu juga masih bisa mengeluarkan kata-kata bagus!”

Mereka serta-merta menoleh. Seseorang menggulung tirai dan melangkah masuk. Dan mereka sungguh tak kuasa menyembunyikan rasa terkejut mereka. Orang itu ternyata adalah Qianlong yang tengah menyamar!

Erkang dan Yongqi langsung berlutut.

“Yang Mulia!”

“Huang Ama!”

Xiao Yanzi sungguh tak menyangka Qianlong akan datang ke Nanyang. Lututnya melemas. Dia jatuh berlutut tanpa kuasa menahan diri, “Huang Ama….”

Hanya Ziwei yang tetap berdiri, menatap Qianlong dengan terkejut. Dia menekuk lutut dan berkata lirih, “Yang Mulia!”

Qianlong terkejut. “Ziwei, kau panggil apa aku tadi?”

“Yang Mulia!” sahut Ziwei ringan.

“Kau sudah tak mau mengakuiku sebagai ayah?” Qianlong terpana.

“Andalah yang tidak sudi mengakuiku! Apa Anda sudah lupa?” Ziwei menatap Qianlong dengan berani. “Anda telah mengingkariku. Anda tidak lagi mempercayai ibuku. Aku merasa terhina dan malu. Apalagi, mengingat penantian Beliau selama bertahun-tahun disalah artikan.”

“Luar biasa ucapanmu! Tidakkah kau berpikir, ibumu ikut terseret karena masalah yang kau tombulkan sendiri? Jika kau tidak membohongiku, tidak melarikan selir kesayanganku, mana mungkin aku mempercayai pembohong-pembohonh itu?”

Erkang menngangkat kepala. “Yang Mulia, Anda bilang mereka pembohong? Kalau begitu, apakah kerabat Ziwei memang sengaja berbohong waktu itu?”

“Aku tidak pernah menyelidiki hal ini. Kalau aku benar-benar menyelidiki, berarti aku memang telah mempermalukan Xia Yuhe. Yuhe bukanlah wanita demikian. Waktu itu aku begitu marah hingga gelap mata…,” Qianlong menatap Ziwei. “Benar katamu, aku tidak pantas diakui sebagai ayahmu, karena aku telah salah sangka dan menghina ibumu.”

Ziwei terpana. Dia tak menyangka Qianlong berkata seperti itu.

Qianlong meminta keempat orang itu untuk duduk bersamanya melingkari meja makan. Fulun juga. Yongqi tak dapat menahan diri berkata, “Huang Ama, aku sungguh tak menyangka Anda datang langsung ke Nanyang!”

Qianlong berkata getir, “Aku tak punya cara lain! Aku sudah mengutus beberapa orang untuk mencari kalian. Meminta kalian pulang tanpa melukai seujung rambut pun! Namun akhirnya, tetap saja ada yang terluka…, mendengarnya aku cemas sekali! Jadi aku mengutus Fulun. Kalian tetap tak mau pulang. Jadi harus bagaimana? Mengeluarkan titah memaksa kalian kembali? Atau menjemput sendiri kalian ke sini?”

“Saat ini aku hanyalah ayah yang kehilangan putra-putrinya. Anak-anakku, apakah kalian sudah puas mengembara di luar? Sebentar lagi musim dingin. Bagaimana kalian bisa melewatinya di pengembaraan ini? Paviliun Shuofang selalu terbuka untuk kalian. Para kasim dan dayang di sana setia menunggu. Juga burung nuri yang setiap hari berseru, ‘Salam Sejahtera Putri’!”

“Huaaaa….!” Xiao Yanzi menangis keras. “Huang Ama! Tolong jangan bersikap baik padaku! Lebih baik makilah aku, marahi dan pukul aku! Kalau Anda baik begini, kami tak berdaya! Kami sudah memutuskan tak pernah kembali lagi ke Kota Kenangan! Karenanya, jangan bersikap baik lagi padaku!”

“Kota Kenangan?”

“Benar! Kami menyebut istana sebagai Kota Kenangan. Kami sudah berjalan sampai sejauh ini, tak bisa kembali lagi!” kata Erkang.

Hati Qianlong terasa perih. Dia menguatkan diri, ditepuknya tangan dan muncullah empat dayang istana berjalan masuk membawa nampan lalu meletakkannya di meja. Qianlong berkata pada Ziwei dan Xiao Yanzi.

“Aku membawa makanan kesukaan kalian, puding serta kue-kue favorit. Tapi entah rasanya masih segar setelah melalui perjalanan panjang? Kalian cicipilah dulu…”

Ziwei dan Xiao Yanzi menatap kudapan-kudapan itu dengan berkaca-kaca. Sungguh tak percaya Qianlong mampu melakukan hal itu.

Qianlong bangkit lalu berdiri antara Xiao Yanzi dan Ziwei. Sipeluknya kedua gadis itu. “Putri-putriku, kalian begitu dekat denganku ibarat kedua tanganku sendiri. Mana mungkin aku bisa kehilangan kedua tanganku ini? Aku memang pernah marah, putus asa dan merasa terhina karena kalian menghilangkan selir yang kucintai. Tapi aku telah membiarkan semua itu berlalu. Kalian berdua amat kusayangi, tak kurelakan berkelana seperti ini. Apalagi, ada putra dan pengawal kepercayaanku ikut bersama kalian!”

Xiao Yanzi tak tahan lagi, dia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Qianlong dan menangis keras, “Huang Ama… maafkan aku! Aku telah banyak melakukan kesalahan!”

Ziwei merasa tenggorokannya terseumbat. Terbata-bata, dia bicara, “Huang … Ama…!”

Hati Qianlong bagai diremas. Dipeluknya mereka erat-erat. Ruangan itu terasa sunyi. Yang terdengar hanya isak tangis Ziwei dan Xiao Yanzi.

Akhirnya Qianlong menenangkan diri. “Hapus air mata kalian! Lekaslah makan. Lalu kembali ke rumah keluarga He untuk berkemas, ikut kembali denganku ke Kota Kenangan!”

Ziwei menengadahkan kepala menatap Qianlong. “Huang Ama! Anda bersedia melakukan semua ini pada kami, hatiku sungguh terharu! Tapi, kami tetap tak bisa ikut Anda kembali!”

Qianlong terkesiap. Xiao Yanzi juga mengangkat kepala dan berkata, “Aku juga… Aku sudah menemukan kakak laki-lakiku! Aku ingin bersama dengannya. Dia akan mengajak kami ke Yunnan!”

“Kakak laki-laki?” Qianlong keheranan. Fulun segera menghampiri dan menjelaskan sedikit mengenai Xiao Jian.

“Jadi kalian masih menolak untuk kembali?”

“Di Kota Kenangan, aku dan Xiao Yanzi adalah orang asing. Tempat itu sama sekali tak cocok dengan kami!”

“Ada aku yang memegang kendali. Mengapa harus khawatir?”

“Biarpun Huang Ama yang memegang kendali, sesuatu yang buruk tetap saja bisa terjadi! Ketika akhirnya semua orang menuding kami, hati Huang Ama pun goyah!”

Qianlong terpana menatap mereka. Tak dapat berkata-kata.

***

Sekembalinya di rumah keluarga He, Ziwei, Xiao Yanzi, Erkang dan Yongqi masih terbenam oleh keharuan yang mendalam. Pikiran mereka kalut dan diliputi oleh rasa bersalah. Xiao Jian, Liu Qing, Liu Hong serta Jinshuo mengerubungi mereka. dan tak percaya bahwa Qianlong sendiri datang menjumpai mereka.

“Melihat sikap Huang Ama tadi, kurasa kami ini egois sekali! Beliau berusaha mengambil hati kami. Beliau rela melupakan kemarahan kemarahan, tapi kami malah terus bersikeras,” Yongqi berkata.

Ziwei mengusap air matanya. “Beliau datang sendiri ke Nanyang untuk menjemput kami. Mendengar kata-katanya tadi, aku sungguh terharu. Beliau tak pernah mengirim orang untuk mencelakai kita! Beliau juga sudah menyadari masalah ibuku! Hukuman mati itu hanya untuk menakut-nakuti kita…”

“Kurasa lebih baik kalian pulang ke Beijing,” ujar Liu Qing. “Aku akan kembali membuka Graha Huipin. Kalian tetap jadi Putri, pangeran dan menantu Kaisar. Kita bisa bertemu kapan saja. Tak usah terpisah di utara dan selatan!”

Jinshuo menggenggam tangan Ziwei. “Benar Nona! Kaisar telah mengakui keberadaan Nyonya. Beliau telah menyadari kesalahannya. Bagaimanapun Beliau ayahmu. Kembalilah ke istana!”

Sampai sini, Xiao Jian melangkah keluar ruangan sambil menundukkan kepala.

Xiao Yanzi melesat menghalanginya. “Kau kenapa? Kau marah, ya?”

“Tentu saja aku marah! Aku sangat kecewa!” bentak Xiao Jian. “Aku sudah membuat begitu banyak rencana menuju Yunnan. Tapi sekarang, kita selamanya tak akan pernah sampai ke sana!”

“Kami tidak bilang akan kembali ke istana! Kami belum menyetujui keinginan Huang Ama!”

Xiao Jian menatap Xiao Yanzi dalam-dalam. Sorot matanya sarat emosi. Tiba-tiba dia mencengkeram lengan Xiao Yanzi, “Kau tidak boleh kembali! Mengerti? Kau adalah adikku! Kau harus ikut bersamaku! Aku akan melindungimu dan Yongqi! Hidup baik-baik seumur hidup kita!”

Xiao Yanzi membelalakkan mata. Erkang yang berdiri dekat situ merasa bergidik.

“Dengarkan aku! Aku akan memberitahumu…” Xiao Jian berkata serius.

Erkang mendadak maju dan menahan tangan Xiao Jian. “Xiao Jian! Kenapa kau jadi emosional begini? Tak ada yang akan kembali ke istana. Kita tetap akan ke Yunnan. Ayo keluar jalan-jalan sebentar. Aku menemanimu bicara sejenak. Mau kan?”

Xiao Jian menatap Erkang. Perkataan pemuda itu seperti mengisyaratkan dia telah mengetahui sesuatu. Xiao Jian melepaskan tangan Xiao Yanzi, mengikuti Erkang keluar.

Ziwei hanya bisa berkomentar, “Wajar saja kalau Xiao Jian marah. Dia telah bersusah payah membawa kita sampai di sini. Ternyata kita malah ingin kembali. Kurasa kita mesti mempertimbangkan segalanya kembali…”

***

Setelah agak jauh dari kediaman He, Xiao Jian menghentikan langkahnya.

“Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?” tanyanya pada Erkang.

“Aku ingin membicarakan dendam kesumat pembunuh ayahmu. Bukankah tadi kau nyaris saja menceritakan semuanya? Kalau bukan aku yang menarikmu, kau pasti sudah menceritakan semuanya kan? Bukankah kau pernah bilang tak akan menghancurkan kebahagiaan Xiao Yanzi?”

Xiao Jian terkesiap. “Apakah kau sudah mengetahui semuanya?”

“Aku sebenarnya cuma menebak! Mencoba menghubungkan segala hal mengenai dirimu. Aku sejak dulu curiga latar belakangmu tidak sederhana. Barangkali, orang yang membunuh ayahmu tinggal di Kota Kenangan. Hubungannya sangat erat dengan kami!”

Xiao Jian begitu terkejut hingga mundur beberapa langkah. “Bagaimana… kau bisa tahu?”

“Jadi tebakaknku benar? Pembunuh itu adalah…” Erkang cemas sekali. Jauh dalam hatinya dia masih berharap tebakannya salah.

“Menurutmu siapa?” tantang Xiao Jian.

“Apakah…, dia Tuan Besar???”

Xiao Jian tertawa dingin. “Kau sungguh luar biasa! Aku tak mengira tak dapat menyembunyikan apa-apa darimu! Benar! Dialah yang membunuh ayahku! Naga kalian itu!”

Erkang sangat terpukul. “Siapa… siapa sebenarnya ayahmu?”

“Ayahku bernama asli Fang Zihang. Dulu dia pernah jadi pejabat negara lalu dihukum pancung oleh Qianlong karena kesalahan sastra!”

Xiao Yanzi berkata dengan sejelas-jelasnya. “Ayahku menulis esai yang dianggap mengandung pemikiran makar. Kami sekeluarga pun terancam setelah ayah dihukum mati. Paman-pamanku dipenjara. Hampir seluruh anggota keluargaku terseret masalah ini. Benar! Naga kalian itulah yang telah membunuh ayahku dan Xiao Yanzi!”

Mata Erkang terbelalak. “Jadi, kau punya niat terselubung? Kau sengaja mendekati kami bukan sekedar ingin mengakui adikmu kan? Kau juga ingin masuk istana!”

“Benar! Aku sangat ingin masuk istana untuk balas dendam! Dalam kehidupanku ini, satu-satunya kesempatan adalah ketika aku menyamar sebagai dukun! Saat itu aku begitu dekat dengannya sehingga mudah sekali bagiku untuk membunuhnya! Aku nyaris melakukannya!”

Erkang teringat peristiwa itu dan dia bergidik. “Astaga…! lalu, mengapa kau melepaskan kesempatan itu?”

“Demi kalian! Aku sungguh tak menyangka akan memiliki persahabatan yang tulus dengan kalian. Aku melihat kalian memiliki perasaan kagum, sayang sekaligus benci terhadapnya… karena semua itu, aku tak sanggup menggerakkan tanganku!”

Erkang mendengarkan semuanya sambil menahan napas. “Terima kasih kau tidak melakukannya! Karena pasti akan terjadi kekacauan! Xiao Jian, rahasia ini, sama sekali tak boleh diberitahukan pada Xiao Yanzi!”

“Kenapa? Karena Xiao Yanzi telah mengakui bajingan itu sebagai ayah?”

“Perkataanmu itu terlalu berlebihan! Xiao Jian, kesalahan sastra bisa saja terjadi pada setiap dinasti. Itu kontrol Kaisar terhadap pemikiran orang. Barangkali, suatu hari nanti setiap orang boleh bebas berpikir, berdiskusi, mengutarakan pendapat dan mempercayai agama apapun! Namun belum di jaman ini! Orang-orang yang mati karena kesalahan sastra adalah orang-orang martir yang berjuang demi kebenaran hatinya. Mereka mati demi mempertahankan pemikiran ideal mereka!”

“Sebenarnya Kaisar sangat menyayangi Xiao Yanzi. Beliau jelas tahu dia bukan seorang Putri nemun tetap menganggapnya sebagai bagian dari dirinya. Kalau benar Kaisar telah menyebabkan Xiao Yanzi yatim-piatu, bukankah ini suatu keajaiban kalau sekarang Xiao Yanzi justru diangkat anak olehnya?”

“Maksudmu, biarlah Xiao Yanzi tetap menjadi Putri Huanzhu?”

“Apa jeleknya? Asal dia tidak pernah tahu kejadian sebenarnya, biarlah dia menjadi Putri Huanzhu yang penuh kegembiraan. Kau pernah mengatakan, tak ingin membuat Xiao Yanzi berubah menjadi penuh dendam dan benci… Apalagi, dendammu ini bisa menyeret banyak orang – termasuk adikmu sendiri yang telah kau selamatkan itu! Mana yang lebih penting Xiao Jian? Negara atau dendam keluargamu?”

Xiao Jian terdiam. Dalam batinnya terjadi pergolakan sengit.

Erkang berkata lagi, “Aku ingat, seseorang dulu pernah bilang, kata terindah di dunia ini adalah ‘memaafkan’!”

Xiao Jian mendesah. “Kata itu memang mudah diucapkan, tapi melaksanakannya sulit sekali…”

“Demi Xiao Yanzi, cobalah…”

“Aku mengerti. Jika rahasia ini terbongkar, Xiao Yanzi bakal sengsara. Yongqi adalah putra pembunuh ayah kami, tapi dia juga kekasih Xiao Yanzi! Ini benar-benar dilema bagiku! Beberapa waktu ini aku melihat pengorbanan Yongqi bagi Xiao Yanzi, sungguh membuatku tersentuh. Aku tak dapat memisahkan mereka. Aku tak sampai hati.”

“Aku mengerti. Sekarang, bisakah kau mengendalikan emosimu?”

Xiao Jian berpikir keras. Setelah itu barulah dia mengangguk-anggukkan kepala.

Erkang menghembuskan napas lega. “Xiao Jian! Kau sungguh pantas disebut sebagai pendekar sejati!”

***

Erkang tak punya rahasia apapun kepada Ziwei. Dan ketika Ziwei mengetahui semua ini, tentu saja dia terkejut bukan main. Tapi keduanya sepakat akan menyimpan dahasia ini dari Xiao Yanzi!

Keesokan harinya, Qianlong dan Fulun mengunjungi kediaman keluarga He. Semuanya terkejut melihat kedatangan Qianlong. terlebih Xiao Jian. Dia seperti usai terkena halilintar.

“Xiao Yanzi! Ziwei! Aku datang untuk menemui kawan-kawan kalian! Aku juga ingin bertemu dengan kakak Xiao Yanzi!”

Liu Qing dan Liu Hong diperkenalkan kepada Qianlong. lalu, tibalah Xiao Yanzi mengenalkan Xiao Jian.

“Huang Ama, inilah kakakku: Xiao Jian!”

Xiao Jian berdiri tegak. Menatap Qianlong dengan sorot mata tajam.

Melihat Xiao Jian, mau tak mau hati Qianlong terasa bergetar. Dia merasa pernah melihat Xiao Jian sebelumnya, entah dimana…

Tangan Xiao Jian bergerak, Erkang dan Ziwei melihatnya. Ziwei buru-buru menghambur dan mendorong Qianlong, “Huang Ama, mari duduk di sini!”

Erkang segera berdiri di samping Xiao Jian, berjaga-jaga kalau sampai dia melakukan sesuatu. Atmosfer ruangan itu tanpa sadar berubah menegangkan. Xiao Jian sadar betul Erkang dan Ziwei berusaha melindungi Kaisar darinya.

Qianlong terus menatap Xiao Jian. dalam hati dia merasa pemuda itu sangat misterius.

“Xiao Jian, karena kau adalah kakak Xiao Yanzi, maka kau juga bisa dibilang anakku. Kulihat kau terpelajar dan berbakat, maukah kau ikut ke Beijing? Kau akan kuberi posisi sehingga bisa membanggakan almarhum orang tuamu yang telah lama meninggal.”

Xiao Jian berkata congkak. “Terima kasih atas niat baik Anda! Tapi aku tidak bersedia! Setiap orang punya prinsip. Aku sudah terbiasa berkelana. Aku tak mau memperoleh gelar dengan menjadi pejabat istana!”

Qianlong menanggapi perkataan Xiao Jian dengan jujur, “Baiklah, aku menghargai keinginanmu!”

Qianlong lalu memanggil Ziwei dan Xiao Yanzi.

“Hari ini, di depan kawan-kawan kalian, aku akan memberi kalian hadiah! Kelak dimana pun kalian berada, hadiah ini akan banyak membantu kalian! Seandainya aku kembali menginginkan nyawa kalian, hadiah ini bisa menyelamatkan nyawa kalian!”

Qianlong mengeluarkan dua lempeng emas dari balik bajunya. “Ini lempeng emas Kaisar. Di istana hanya dua orang menteri militer yang punya. Bahkan Fulun tidak memilikinya! Benda ini mewakili perintahku dan mampu membebaskan kalian dari hukuman mati. Lempengan ini bisa dipakai tiga kali, tidak lebih. Aku perlu mebatasi pemakaiannya agar kalian tidak sembarang memakainya.”

Ziwei dan Xiao Yanzi menatap lempengan itu dengan terkejut. “Huang Ama, kami tak bisa menerimanya…” Ziwei tergagap.

“Kau harus menerimanya. Kau hanya boleh bilang terima kasih, tidak boleh menolak!”

Ziwei menatap Qianlong dalam-dalam. Di dasar mata ptia itu terpancar cinta dan kasih. Mata Ziwei pun basah oleh air mata.

Xiao Yanzi mengambil lempengan itu dan menatapnya penuh perasaan. Dia lalu memamerkannya pada Xiao Jian.

“Lihat! Lempengan emasku! Dengan benda ini, kelak aku tak akan dipancung lagi!”

Hati Xiao Jian bergolak. Benarkanh saat ini Qianlong yang berada di hadapannya? Benarkah orang ini merupakan pembunuh ayahnya? Atau merupakan penolong Xiao Yanzi? Xiao Jian kebingungan. Hatinya mau tak mau tersentuh oleh kasih sayang antara Qianlong kepada Xiao Yanzi. Perlahan-lahan, dia pun menarik diri mundur ke belakang.

Melihat bahasa tubuh Xiao Jian yang melunak, Erkang dan Ziwei lega.

Qianlong menatap Ziwei dan Xiao Yanzi bergantian. “Kalian jagalah diri baik-baik. Yunnan sangat jauh. Perjalanannya sangat panjang. Tubuh Ziwei lemah sementara Xiao Yanzi suka berbuat onar. Aku akan meminta Fulun menyiapkan bekal perjalanan bagi kalian. Uang, pakaian dan obat akan disiapkan. Kalian harus siap seandainya terjadi masalah. Aku akan kembali ke Beijing! Kita berpisah di sini saja!”

Qianlong beranjak menuju pintu. Fulun mengikutinya. Tiba-tiba Ziwei melesat dan menarik tangan Qianlong.

“Huang Ama! aku akan pulang bersamamu!”

Erkang menatap Ziwei tekejut. “Ziwei? Bukannya kau telah memutuskan untuk…”

“Ya, aku tahu! Tapi aku baru bertemu ayahku setelah puluhan tahun! Aku ingin bersamanya! Yunnan itu tak akan kemana-mana! Biarlah tempat itu menungguku saja!’

Erkang menghembuskan napas panjang. Dia menghormati kepututsan Ziwei.

Xiao Yanzi mana bisa tahan tanpa Ziwei? Dia akhirnya juga berkata, “Kalau begitu…, aku juga akan pulang bersama Anda…”

Mendengar ini, Xiao Jian marah sekali. Dia berlari keluar ruangan. Erkang mengejarnya.

Erkang berhasil menyusulnya. “Xiao Jian, di dunia ini benci dan dendam bisa dihapuskan. Kejadian masa lalu sudah berlalu. Siapa yang benar atau salah, aku rasa, kau pun tidak tahu dengan jelas. Jadi, sudahilah semua ini!”

Xiao Jian berdiri tegak, “Aku sangat penasaran! Tadi kau sengaja berdiri di dekatku. Seandainya aku gegabah dan menyerang naga kalian itu, apa kau akan bertarung melawanku?”

“Ya! Aku akan bertarung melawanmu! Ziwei juga! Dia bahkan sudah pernah menghadang tusukan pisau ketika Kaisar diserang setahun lalu. Oleh karena itu dia pasti tak akan ragu menghadangmu. Seranganmu mungkin akan melukai Ziwei, atau aku, atau Yongqi, atau bahkan juga Xiao Yanzi!”

Xiao Jian terkejut. Dia tahu Erkang benar. “Jadi kalian rela berkorban demi dia?”

“Benar! Karenanya jangan bertindak sembarangan. Kau kawan sejati kami, kakak kandung Xiao Yanzi! Jangan sampai kau melukai perasaan kami. Jangan biarkan kami turut menjadi korban dendam kesumatmu!”

Melihat Xiao Jian hanya terpana, Erkang menepuk bahunya. “Ayo kembali ke dalam. Kita keluar begitu saja, mungkin Yang Mulia akan merasa sesuatu yang tidak beres!”

Namun di dalam tak seorang pun memperhatikan kepergian Erkang-Xiao Jian. Qianlong tengah memeluk Ziwei dan Xiao Yanzi sambil bergumam, “Jadi kalian memutuskan pulang bersamaku?”

“Ya! Kami telah memutuskan!”

Qianlong menatap Yongqi. “Bagaimana denganmu?”

“Kalau Xiao Yanzi sudah memutuskan kembali, apalagi aku?”

“Erkang, kau sendiri bagaimana?”

“Mereka bertiga telah memutuskan, aku pun demikian. Kami akan ikut pulang bersama Anda…”

Qianlong berkata lembut, “Pertengkaran kita diakhiri sampai di sini, ya? Seperti bibir dan gigi yang begitu dekat, ada kalanya bibir juga tergigit oleh gigi. Tidak mungkin hanya karena kesal sebab tergigit, kita lantas mencabut gigi. Iya, kan?”

Xiao Jian maju selangkah dan berkata pada Qianlong, “Sejak tadi aku telah melihat semuanya. Arti kehadiran seorang ayah rupanya jauh lebih baik pengaruhnya bagi Xiao Yanzi ketimbang seorang kakak. Dia punya ayah yang begitu baik, memanjakan dan melindunginya, maka semestnya aku merasa tenang. Mereka selalu memandang Anda sebagai pemimpin yang bijak. Kini aku paham. Demi seorang pemimpin yang bijak seperti Anda, aku terpaksa ‘melepaskan tanganku’!”

Qianlong sama sekali tidak mengerti makna kata-kata Xiao Jian. Dianggapnya XiaoJian menyanjungnya sehingga Qianlong amat terharu.

Ziwei dan Erkang paham benar maksud pemuda itu. xiao Jian akhirnya dapat memahami semuanya dan melepaskan dendamnya. Mereka sungguh merasa bersyukur…

***

Setelah Qianlong pergi, Xiao Jian segera berkemas dan bersiap pergi meninggalkan semuanya. Xiao Ynazi mati-matian berusaha menahannya.

“Begitu banyak temanmu di sini, ditambah Xiao Yanzi, masak masih tidak bisa membuatmu tetap tinggal?” tanya Erkang. “Aku sangat terharu dengan ucapanmu kepada Kaisar tadi. Kau sungguh tahu bagaimana memaafkan. Aku sungguh tak sanggup mengucapkan selamat tinggal pada kawan sepertimu!”

“Aku juga tidak tega…” sanggah Ziwei.

Yongqi menimpali, “Kata Huang Ama, kalau kembali nanti, Beliau akan menyelenggarakan pernikahan kami. Apa kau tak mau menghadiri pernikahan adikmu sendiri?”

“Benar! Kalau kau tidak mau datang, aku tak mau menikah!” tegas Xiao Yanzi.

“Apaaa? Tidak mau menikah?” seru Yongqi.

Xiao Jian menatap semuanya lalu berkata penuh makna, “Setelah aku pergi, kalian pasti akan merasa lebih baik!”

“Kenapa kau tidak mau kembali ke Beijing?’ sergah Xiao Yanzi. “Baiklah! Kalau begitu, aku ikut denganmu saja ke Yunnan!”

“Xiao Yanzi! Kau jangan plin plan begitu!” seru Yongqi.

Xiao Yanzi memelototi Xiao Jian. “Kakak macam apa kau ini? Ya sudah! Kalau memang mau pergi, pergi saja sana! Tidak usah peduli padaku lagi! Kelak kalau tiga kesempatan memakai lempeng emas telah habis, biarkan saja kepalaku dipenggal jika melakukan kesalahan lagi!”

Samvil berkata begitu, Xiao Yanzi menangis. Xiao Jian buru-buru menghampirinya, “Aduh, dik, kau jangan menangis…”

“Bagaimana aku tidak menangis? Aku marah! Sangat sangat marah!” Xiao Yanzi menghentakkan kaki.

“Baiklah, baiklah!” Xiao Jian menyerah. “Aku ikut kalian ke Beijing! Kau membuatku tak berdaya, kalian semua membuatku tak berdaya…”

Xiao Jian segera memeluk Xiao Jian dengan girang. “Xiao Jian! meski di istana ada segerombolan serigala menghadangku, aku tak takut lagi! Kau sungguh kakak terbaik di duni!”

Xiao Jian menatapnya penuh kasih sayang. Bibirnya tersungging senyuman.

***

Keesokan harinya semua kembali bersama Qianlong.

Qianlong bersama para gadis duduk di atas kereta, sementara para pria menunggang kuda.

“Bagus sekali! Kalian telah kembali ke sisiku. Hari-hari kembali penuh kebahagiaan. Kelak jangan sampai ada keributan lagi…”

“Anda kelak jangan menakut-nakit kami untuk dipenggal…” kata Xiao Yanzi.

“Tapi kalian juga tak boleh membawa kabur selir kesayanganku lagi…”

“Kalau begitu Huang Ama berhenti mengambil selir lagi, dong! Di sana-sini sudah banyak selir lalu mengambil lagi, itu kan namanya keterlaluan…,” ujar Ziwei.

“”Wah, kalian bahkan mau mengurus berapa banyak selir yang harus kumiliki! Sepertinya aku telah terhipnotis oleh kalian, Putri rakyat jelata!”

Xiao Yanzi dan Ziwei tertawa.

“Ziwei! Xiao Yanzi! Ayo kalian menyanyi untukku! Aku sudah lama tak mendengar kalian bernyanyi!”

“Baik!” keduanya pun mulai bernyanyi.

Di luar Erkang dan Xiao Jian saling bertukar pandang.

“Kau denganr nyanyian bahagia itu? Seperti inilah suaranya! Musiknya paling indah dalam kehidupan ini!” ujar Erkang.

“Aku mengerti,” kata Xiao Jian. “Kau tenang saja! Aku tak akan menghancurkan kebahagiaan ini!”

“Kau bahkan bisa ikut menikmatinya!” tambah Erkang.

Xiao Jian tertawa getir. Dalam hidup ini ada banyak hal tak dapat dihapuskan hanya dengan tawa. Di dasar hatinya, kepedihan akan masa lalunya tetap tak pernah bisa dilupakan.

Namun mukjizat telah muncul untuk mengatur susunan kehidupan sehingga melahirkan keharmonisan serta perdamaian. Xiao Jian menyadari sesuatu, dia mungkin ada di salah satu mukjizat itu…

Tamat…?

Belum.

Bersambung ke episode pamungkas yang ke-15.

[Sinopsis Novel] Putri Huan Zhu/ Huan Zhu Ge Ge II Bagian 13


Judul Asli : Huan Zhu Ge Ge II-5: Hung Chen Chuo Pan
Pengarang : Chiung Yao (Qiong Yao)
Penerbit : Crown Publishing Co., Taipei – Thaiwan

Judul Bahasa Indonesia: Putri Huan Zhu II-5: Kembali Ke Kota Kenangan
Alih bahasa : Pangesti A. Bernardus (koordinator), Yasmin Kania Dewi, Tutut Bintoro
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Mei 2000

Cerita Sebelumnya:
Satu demi satu, permasalahan Xiao Yanzi dan kawan-kawan terselesaikan. Liu Qing dan Jinshuo baik-baik saja. Ziwei telah melihat kembali. Meski sempat terluka karena bertarung dengan pasukan utusan Permaisuri, Erkang berangsur-angsur pulih. Tapi problem baru kembali mencuat. Kali ini hubungan segitiga antara Xiao Yanzi, Yongqi dan Xiao Jian.

XIII

Xiao Yanzi sangat senang karena pertunjukannya sukses. Setibanya di Sehe Yuen dia berlari masuk sambil tertawa-tawa,

“Ziwei! Erkang! Kalian tidak lihat kebolehanku dan Xiao Jian tadi! Orang-orang yang menonton semuanya tercengang! Mereka memberi banyak uang, bersorak dan memuji-muji kami! Pokoknya aku puas sekali!”

“Benarkah?” Erkang tidak percaya. “Jadi kita bisa mengandalkan cara begini untuk mencari uang ya?”

“Benar!” tukas Liu Hong yang sudah masuk bersama Yongqi dan Xiao Jian. Sambil tertawa dia menambahkan, “Tapi aku tadi kasihan sama Xiao Jian…”

Melihat Yongqi, Xiao Yanzi langsung menyembur perkataan pedas. “Yongqi! Kenapa tadi kau malah bersembunyi? Aku sudah mati-matian memberimu isyarat tapi kau malah pura-pura tidak lihat! Untung Xiao Jian muncul! Kau ini bagaimana sih? Masak sampai hari ini masih belum bisa meninggalkan gengsi pangeranmu?”

Yongqi merasa terpojok. Mukanya masam. “Maaf ya, dari dulu sudah kubilang aku tak suka cara-cara macam begini! Aku tidak sanggup disuruh menipu!”

“Oh, rupanya kau begitu terhormat sampai merendahkan cara mencari uang begini? Kalau begitu, malam ini kau tidak usah makan agar mulutmu yang suci tidak sampai tercemar!”

“Baik! Kalau uang ini hasil jerih payahmu, aku tak sudi memakainya! Puas? ‘Para bangsawan selalu tahu apa yang pantas dan tidak pantas’. Kalau aku harus mengemis-ngemis belas kasihan seperti anjing, aku bukan tipe seperti itu!”

“Tak usah berulang kali kau bicara soal bangsawan! Karena seumur hidup aku tak kan pernah berhasil menjadi bangsawan!”

“Kau ini aneh sekali! Lagi pula tadi kan sudah ada Xiao Jian yang mengimbangi aksimu! Semua pemeran utama sudah tampil. Jadi kalau kurang satu pemeran pembantu saja, apa pengaruhnya?”

“Kau hendak menghinaku, ya kan? Dalam pelarian ini kalau sekarang kita tidak mencari uang, kita bakal mati kelaparan! Kau sudah mempelajari banyak ilmu, tapi semua itu apa ada gunanya sekarang?”

Erkang lekas maju menengahi. “Kalian kenapa? Kalian mengeluh karena harus hidup dalam kesulitan, ya?”

Erkang menoleh ke arah Yongqi. “Bukannya aku menyalahkanmu. Tapi kau jangan terlalu angkuh. Xiao Yanzi berhasil mendapat uang banyak dan gembira. Kau bukannya memujinya tapi malah mengecamnya. Sikapmu keterlaluan.”

“Benar!” Ziwei menyambung. “Xiao Yanzi kan mencari uang buat kita semua. Kalau kau tak bisa mengimbangi aksinya, itu wajar saja. Kau bisa jelaskan pelan-pelan. Tak usah memarahinya.”

“Betul,” sahut Xiao Jian. “Kita memang menghadapi kehidupan keras yang belum pernah kau alami. Setelah mengalaminya, barulah kau tahu bahwa prinsip yang selama ini kau pegang tidaklah penting. Yang paling penting adalah mengisi perut. Prinsip-prinsip itu tak bisa mengenyangkan perut. Harga diri laki-laki sejati, status kebangsawanan, semua itu harus dibuang jauh-jauh. Kau setuju, kan?”

Yongqi merasa dirinya tersudut. Semua orang menyalahkannya. Api kemarahannya naik hingga dia berteriak pada Xiao Jian.

“Baik! Kau memang paling hebat! Kau serbabisa! Diriku tidak sehebat dirimu! Puas? Kelak kalau Xiao Yanzi sampai mencuri dan menipu, kaulah yang harus bertanggung jawab!”

“Apaaa?” Xiao Jian tersinggung. “Kenapa kau mesti mengatakan hal tak menyenangkan begini? Kau sungguh keterlaluan! Aku membela Xiao Yanzi!”

“Kau membelanya? Apa hakmu membelanya?”

Erkang lekas-lekas berdiri di tengah dua pria yang nyaris berkelahi itu. “Hentikan! Yongqi! Xiao Jian! Selama ini kita sudah seperti keluarga. Sehidup-semati. Kalau saling melukai hanya karena persoalan kecil, bukankah sangat disayangkan?”

Erkang mencoba menjelaskan posisi Yongqi. “Yongqi awalnya seorang Pangeran. Dia tentu harus berusaha keras menyesuaikan diri dengan kehidupan semacam ini. Kalau dia masih sulit melepas seluruh sifat bangsawannya, kita juga harus maklum!”

Xiao Jian mendesah. Dilihatnya Yongqi sebenatar lalu keluar.

“Kesalahan terbesarku,” Xiao Yanzi berkata marah sebelum masuk ke kamarnya. “Adalah mencuri dan menipu Pangeran satu ini!”

Yongqi tercengang. Frustasi memenuhi hatinya hingga sanggup membalik gunung. Erkang mengisyaratkan Ziwei agar mengejar Xiao Yanzi.

“Aiya, berangkat tadi masih gembira. Setelah pertunjukannya sukses malah ribut begini. Aku sungguh tidak mengerti,” Liu Hong berkomentar sambil menatap Yongqi sekilas dengan pandangan tidak setuju.

Setelah tinggal berdua saja, Erkang menasehati Yongqi.

“Sebaiknya kau rubah sikapmu sebelum keadaan tambah parah. Kau sudah meninggalkan status Pangeranmu demi Xiao Yanzi. Bukankah dulu kau pernah bilang kalau kelebihan Xiao Yanzi, justru terletak pada kekurangannya? Apalagi… Kau berpotensi membuat hubungan kalian retak. Apa kau tidak takut ada orang lain yang akan masuk dan mengisi keretakan itu? Xiao Jian misalnya…”

Yongqi tersentak. Kecemasan yang terpendam selama ini kian menjadi-jadi.

Sementara di kamarnya, Xiao Yanzi meluapkan emosinya dengan menendang meja dan kursi. “Katanya dulu dia akan berubah demi diriku! Tapi semuanya cuma omong kosong! Dialah yang telah menipuku!”

“Tuduhanmu itu memebratkan Yongqi. Dia telah menanggalkan semuanya demi kau. Kalau kau mengabaikan rasa sayang sedalam ini, aku yang akan membela Yongqi!” kata Ziwei.

“Tentu saja kau membelanya! Dia kan kakakmu!”

“Dia kakakku atau bukan, aku tak yakin lagi. Tapi kaulah saudaraku yang sejati. Kalau kau tidak terkesan dengna pengorbanan Yongqi, akulah yang terkesan. Pengorbanannya sungguh tidak sedikit. Pria semacam ini sangat langka. Kau sangat beruntung, tapi tidak menyadarinya.”

“Setelah kau melihat sikap dan mendengar perkataannya tadi, kau masih berani membelanya? Dia meremehkan aku di depan Xiao Jian! Tadi kami semua beraksi mengerahkan segenap kemampuan tapi dia malah bersembunyo di tengah banyak orang! Setibanya di rumah, bukannya minta maaf malah memarahiku!”

“Oh! Malangnya Yongqi!” Ziwei mendesah.

“Malang? Apanya yang malang?”

“Dia sudah meninggalkan segala kemegahan istana untuk mengikutimu. Jelas-jelas dia seorang Pangeran tapi dipaksa menjadi orang biasa. Ketika dia tak sanggup melakukannya, bukannya bersimpati, kau malah memakinya habis-habisan! Dan yang paling kejam adalah….”

“Siapa? Siapa yang paling kejam?” Xiao Yanzi mendelik.

“Tentu saja kau…”

“Kenapa bisa?”

“Kau masih ingat peristiwa Zailian? Hanya gara-gara Yongqi naik ke kuda Yongqi, kau jadi marah hingga hidungmu nyaris berasap! Xiao Jian itu begitu pandai dan mengesankan. Dia seperti Zailian. Apa kau mengerti….?”

Xiao Yanzi menatap Ziwei bengong. Ziwei lanjut berkata, “Yongqi itu sedang cemburu! Kau terus bersama dan memuji Xiao Jian! Pernahkah terpikir olehmu bagaimana perasaan Yongqi?”

Xiao Yanzi terkesiap. “Tapi… Xiao Jian itu cuma kuanggap teman! Seperti seorang kakak…”

“Iya, dulu si Zailian juga bukan siapa-siapa….”

Xiao Yanzi tercengang. “Aku masih tidak percaya dengan cemburu-cemburuan ini! Menyebalkan! Perutku sampai perih memikirkannya! Aku mau keluar!”

“Kau mau ke mana?” Ziwei menahan Xiao Yanzi yang sudah akan melesat kelluar kamar.

“Tak usah peduli!”

Xiao Yanzi menuju dapur dan mengambil kapak. Dijinjingnya kapak melewati ruang tamu.

Erkang dan Yongqi tengah ada di ruang tamu. Melihat Xiao Yanzi yang akan keluar pintu, Erkang menahannya.

“Xiao Yanzi! Kau mau ke mana?”

“Aku mau ke gunung buat cari kayu!”

“Gunung mana?”

“Gunung apapun yang terlihat olehku! Pokoknya begitu melihat ada pohon, langsung kutebang!”

“Tapi di gunung banyak macan, lho!” Erkang menggoda Xiao Yanzi. “Lagipula tidak sulit mencari kayu di Luoyang. Tinggal beli saja! Tak usah repot-repot mencari kayu di gunung kan?”

“Wei! Tuan Muda! Beli itu kan perlu uang! Kami yang mengamen di jalan dikecam begitu pedas. Jadi kalau tidak bisa mencari uang, ya, cari kayu bakar saja!”

Erkang tersenyum. “Kau pergi sambil marah-marah, jangan-jangan nanti bukan membelah kayu – tapi membelah orang!”

Ziwei mendorong Yongqi. “Sebaiknya kau pergi menemaninya.”

“Siapa yang minta dia menemaniku?” teriak Xiao Yanzi ketus. “Dia begitu terhormat. Tidak bertampang pencari kayu! Lebih baik diam saja di rumah. Tunggu para kasim melayani dan dayang-dayang yang berbaris menyuapkan makanan ke mulutnya!”

Yongqi berdiri dan balas menggertak. “Kau masih mengatakan hal-hal tak masuk akal begini? Dua tahun terakhir segala hal telah kulakukan demi dirimu! Tapi akibatnya aku malah mendapat sindiran-sindiran pedas! Semuanya bukan karena aku terlalu terhormat. Tapi karena aku terlalu tolol!”

Xiao Yanzi maju membalas. “Jadi kau menyesal? Belum terlambat! Pulang saja sana! Kembali ke pelukan Si Naga itu! Biar kau jadi naga kecil sekalian!”

“Baik! Aku pergi! Selamat tinggal!” Yongqi hendak melangkah dengan penuh amarah.

“Eh, Yongqi! Kau sudah gila ya? Kita semua sudah tak punya rumah! Kau mau pulang ke mana? Kembalilah! Kalian jangan emosi!”

Xiao Yanzi mendorong Erkang. “Kau ini cerewet sekali…”

Ternyata tanpa sengaja tangannya mengenai luka Erkang. “Aduh! Aduh!” Erkang mem.bungkuk kesakitan.

“Erkang!” pekik Ziwei.

“Aiya, Erkang!” Xiao Yanzi ikut terperanjat. “Maaf! Aku tidak sengaja!” Dia maju hendak memeriksa Erkang dan tanpa sadar kapak yang dipegangnya meluncur jatuh mengenai kaki Yongqi.

“Auw! Auw!” teriak Yongqi.

Kali ini Xiao Yanzi berbalik dan memegangi Yongqi. “Kakimu kenapa? Apa jarimu ada yang terluka?”

Yongqi menegakkan tubuh dan menarik Xiao Yanzi ke pelukannya. Lalu berkata dengna penuh perasaan. “Aku sudah mengembara bersamamu sampai ke batas cakrawala! Segalanya telah kutinggalkan… nyawa pun akan kuserahkan! Tapi, sedikit keangkuhan itu masih belum bisa sepenuhnya dibuang. Maafkan aku, aku janji akan berubah!”

Mendengar perkataan Yongqi, Xiao Yanzi pun tidak tega. Emosinya berubah jadi isak tangis. Dia pun membenamkan kepalanya ke dalam pelukan Yongqi.

“Kalau kau tak suka menyamar sebagai penonton, ya tak usah lakukan! Masak aku begitu brengseknya sampai-sampai bisa mencuri dan menipu…”

Yongqi merasa menyesal. “Aku m,emang salah! Akulah yang brengsek! Apalagi mengecammu dengan kata-kata pedas seperti tadi! Sejak memulai pelarian ini, mentalku memang rapuh! Aku menutupi hal ini karena aku menyayangi dan mencintaimu…”

“Benarkah?” suara Xiao Yanzi melembut. “Kalau begitu, aku akan memberitahumu satu hal.”

Xiao Yanzi mendekatkan mulutnya ke telinga Yongqi dan berbisik.

“Xiao Jian itu cuma kuanggap seperti kakak…”

Muka Yongqi langsung memerah. Xiao Yanzi pun tertawa.

Erkang dan Ziwei saling berpandangan sambil tersenyum.

***

Yongqi dan Xiao Jian saling menghindar satu sama lain. Yang lainnya tidak tahu bagaimana memecahkan borok di antara keduanya.

Malam itu Ziwei dan Liu Hong berbisik-bisik lalu pergi ke dapur menyiapkan hidangan makan malam. Waktu makan malam tiba, Liu Hong berseru, “Semuanya, mari makan! Hari ini ada hidangan tambahan!”

Semuanya masuk ke ruang makan. Liu Hong tersenyum sambil baerkata, “Malam ini tidak ada ikan saus asam pedas ala Xiao Yanzi. Yang ada daging asam manis ala Liu Hong!”

“Juga hidangan sup asam pedas ala Ziwei!” sambung Ziwei.

“Dan ketimun saus asam manis buatan Liu Hong!”

“Juga ikan yang meluncur di dalam saus asam buattan Ziwei!”

“Dan mi kuah asam pedas buatan Liu Hong!”

“Serta tumisan akar lotus saus asam manis buatan Ziwei!”

Sampai di sini Xiao Yanzi berkomentar, “Nama masakan kalian aneh sekali! Kalau bukan asam manis, pasti asam pedas! Apa maksudnya?”

“Karena hari ini telah terjadi banyak hal yang rasanya asam, pedas dan manis,” Ziwei tertawa-tawa.

Mendengar perkataan itu, Yongqi jadi salah tingkah. Terlebih ketika pandangannya bertemu dengan Xiao Jian, dia merasa lebih malu lagi.

Xiao Jian menyaksikan semuanya dengan sikap biasa-biasa saja. Dia tersenyum lebar dsmbil bicara, “Yang suka makanan manis, silakan makan yang manis. Yang suka asam, silakan makan yang asam. Aku mau minum arak saja!”

Lalu pemuda itu menuang arak dengan cuek dan minum dengan sekali teguk. Setelah itu, Xiao Jian mendeklamasikan sebuah puisi,

“Manusia yang tidak punya keluarga, hidupnya seperti debu. Mudah tercerai-berai oleh tiupan angin. Namun mereka yang merasa seperti bersaudara, meski bukan sekandung, berkumpullah dengan penuh sukacita! Wahai orang yang sedang marah, jadikanlah kesempatan baik ini untuk memaafkan orang lain!”

“Itu puisi karangan Dao Qian!” Erkang menimpali. “Puisi favoritku! Apalagi ia benar-benar mencerminkan keadaan kita saat ini!”

“Tepat sekali! Aku juga menyukai puisi ini!” kata Xiao Jian. Dengan sengaja dia menyapukan pandangannya ke arah Yongqi.

Yongqi membalas tatapan Xiao Jian, mengesampingkan keangkuhannya dan menepuk-nepuk bahu pemuda itu.

“Saudaraku, tadi aku telah berbuat kesalahan. Maafkanlah aku!”

Xiao Jian dan Yongqi pun tertawa.

***

Beberapa hari kemudian, mereka pergi ke bagian lain Luoyang untuk mengamen.

Aksi Xiao Yanzi dan Xiao Jian yang jenaka mendapat sambutan hangat dari penonton. Erkang dan Ziwei menjadi ‘penonton’ yang paling antusias. Keduanya berbakat mempengaruhi orang. Begitu mereka mulai menyumbang, penonton lain pun ikut.

Bagaimana dengan Yongqi? Sejak perang urat saraf dengan Xiao Yanzi, dia sungguh berubah. Dia berhasil membuang gengsinya sebagai Pangeran dan ikut berpartisipasi dengan menabuh gong untuk mengumpulkan orang-orang melihat pertunjukan.

Sementara itu, pada hari tersebut, Pejabat Li Deseng tampak di antara kerumunan manusia menyaksikan pertunjukan. Pejabat Li dan anak buahnya membaur di antara penonton. Menyaksikan Pangeran Kelima, Putri Huanzhu, Putri Ziwei serta pengawal Fu Erkang mengamen, Pejabat Li terkejut.

“Bagaimana mereka bisa berada di jalanan seperti ini? Pangeran Kelima menabuh gong seperti jika gelandangan dan Putri Huanzhu berakrobat. Jika Yang Mulia tahu, beliau akan merasa sedih sekali!”

Saat Pejabat Li sedang berpikir, datanglah Liu Hong membawa nampan untuk meminta sumbangan. Merasa iba, Pejabat Li mengangsurkan sebatang uang perak dan meletakkannya ke nampan. Liu Hong terkejut atas pemberian uang sebesar itu. Erkang juga. Dia lalu menghampiri dan tersentak melihat Pejabat Li.

“Salam sejahtera bagi Tuan Muda Fu! Mari kita menyingkir sebentar untuk bicara!” Pejabat Li menahan tangan Erkang.

Erkang segera menarik tangannya. Lengan bajunya tersingkap memperlihatkan tangannya yang terbalut perban. Pejabat Li terpana. Erkang keburu berteriak, “Semua! Musuh kita ada di sini! Lekas lari!”

Xiao Yanzi bertatapan dengan Pejabat Li. “Gawat! Pejabat ‘jala ikan’ datang lagi!” – Xiao Yanzi pernah dijaring oleh anak buah Pejabat Li ketika hendak ditangkap dulu.

Yongqi buru-buru menarik Xiao Yanzi. Erkang menarik Ziwei. Massa kaget dan saling dorong. Ada yang jatuh bertumpukan. Kacau sekali.

Xiao Jian melesat ke sisi Erkang dan berkata lirih terburu-buru, “Bawa Ziwei dan Liu Hong ke Sehe Yuen dan berkemas. Lalu tunggu kami! Aku, Yongqi dan Xiao Yanzi akan memecah konsentrasi mereka terlebih dulu!”

Erkang mengangguk. Dia, Ziwei dan Liu Hong bergegas pergi secepat kilat.

Xiao Jian menghadang prajurit yang akan mengejar Erkang. Dia berteriak, “Bisa-bisanya ada penguasa yang kejam terhadap darah dagingnya sendiri!”

Pejabat Li terkejut mendengar perkataan Xiao Jian. Dia segera memerintahkan pengejaran.

Xiao Yanzi, Yongqi dan Xiao Jian lari ke arah berlawanan dari Erkang. Mereka sampai ke sebuah pabrik pencelupan kain. Di dalam pabrik, buruh-buruh wanita sedan mencelup dan menjemur kain. Di lantai ada banyak sekali ember berisi cairan pewarna.

Xiao Yanzi dan kawan-kawan menerjang masuk. Para buruh terkejut dan berteriak, “Siapa kalian? Jangan bikin kotor kain-kain kami!”

Belum pulih rasa terkejut buruh-buruh wanita itu, Pejabat Li melompat masuk beserta rombongan pasukannya. “Mohon Tuan Putri dan Pangeran Kelima berhenti dulu! Hamba ingin mengatakan sesuatu! Keadaannya bukan yang seperti Anda pikirkan! Hamba menjalankan titah Yang Mulia! Ada Tabib kemari untuk mengobati Anda sekalian!”

Xiao Yanzi telah menarik selembar kain yang sedang dijemur. Xiao Jian dan Yongqi memegang di ujung yang lain.

“Pejabat Li! Kau jangan bertindak sembarangan! Sebaiknya bawa seluruh pasukanmu dan tinggalkan kami!” seru Yongqi.

“Pangeran Kelima! Kaisar sesungguhnya sangat welas asih…” belum selesai kalimatnya, kain telah menggulung kepalanya.

Xiao Yanzi dan kedua pemuda itu menarik kain-kain jemuran dan menebarkannya. Membuat Pejabat Li dan anak buahnya terlilit, tertutupi dan mereka frustasi karena tidak bisa menyobek kain-kain itu dengan pedang.

Para buruh wanita yang melihat prajurit dengan senjata terhunus, berlarian panik dan menjerit-jerit. Pejabat Li berteriak cemas, “Jangan sampai mereka terluka! Hati-hati!”

Karena takut melukai Yongqi dan Xiao Yanzi, para prajurit kebingungan. Xiao Jian menendang seorang prajurit ke sebuah ember. Begitu prajurit itu muncul, dia telah berubah menjadi monster hijau.

Pabrik pencelupan kain itu berantakan. Para prajurit kini tercebur ke dalam ember pewarna sana-sini. Bahkan Pejabat Li juga ikut tersiram pewarna merah yang membuatnya tampak seperti monster merah!

Melihat Pejabat Li dan prajuritnya kewalahan, ketiganya segera memanfaatkan situasi untuk pergi.

Di Sehe Yuen, Erkang, Ziwei dan Liu Hong sudah hampir selesai berkemas. Kereta kuda pun sudah siap.

Begitu semuanya selesai, Erkang, Liu Hong, Ziwei dan Xiao Yanzi segera naik ke atas kereta. Xiao Jian dan Yongqi duduk di kursi sais. Melarikan kuda dengan cepat.

Di dalam kereta Xiao Yanzi berketa girang, “Kalian tadi tidak llihat – kami cuma bertiga melawan mereka yang jumlahnya jauh lebih banyak! Bukan hanya berhasil menga lahkan mereka, tapi membuat mereka semua tercebur ke dalam ember pewarna. Tubuh mereka pun berwarna-warni seperti bunga dan basah kuyup dengan air menetes-netes. Betul-betul inilah yang disebut: ‘Bunga berguguran dan air mengalir’! Ha ha ha!”

Kalau XiaoYanzi girang, Ziwei malah muram. “Kenapa Huang Ama tidak melepas kita? Kenapa masih mengejar dan berupaya membunuh kita?”

“Jangan memikirkan hal ini lagi. Kita hanya akan sedih jika memikirkannya,” kata Erkang.

Ziwei memandang keluar jendela sambil berpikir dalam-dalam. “:Meski dikejar-kejar hingga babak belur seperti ini, tapi aku masih sering mengenang kebaikan-kebaikan Huang Ama terhadap kita…”

Perkataan ini membuat Xiao Yanzi dan Erkang jadi sedih.

***

Di Kota Terlarang, Palang yang telah kembali dari tugas mengejar Xiao Yanzi dan kawan-kawan segera menghadap Permaisuri.

“Bagaimana? Apa kau sudah berhasil membereskan mereka?” tanya Permaisuri.

“Hamba menjawab, Permaisuri! Hamba mengejar mereka sampai ke Luoyang dan mendapat kabar kalau Putri Ziwei buta.”

“Apa? Ziwei buta?’ Permaisuri terlonjak.

Saat itu Pangeran Kedua belas, Yongji melintas dan diam-diam mendengar percakapan ibunya. Dalam lubuk hatinya yang belia, Ziwei dan Xiao Yanzi adalah orang-orang paling baik di istana. mendengar Ziwei buta, dia pun merasa terguncang.

“Hamba dan yang lainnya sempat mencegat mereka di luar kota Luoyang. Kami terlibat baku hantam dan beberapa di antara mereka berhasil dilukai. Tuan Muda Fu terluka cukup parah. Pangeran Kelima juga. Mengenai pelayan Putri Ziwei yang bernama Jinshuo itu pun, kabarnya telah tewas karena jatuh ke jurang!”

Yonji terbelalak ketika mendengarnya. Bibi Rong yang berada di dekat Permaisuri berpikir sebentar sebelum berkata, “Yang Mulia Permaisuri, bukankah Anda ingin memusnahkan mereka sampai ke akar-akarnya? Kalau bukan sekarang saatnya, nantinya tak ada lagi kesempatan seperti ini!”

Permaisuri belum berkata apa-apa, tiba-tiba terdengar seruan dari luar, “Pangeran Kedua Belas! Hamba mencari Anda ke mana-mana! Kenapa memanjat jendela?”

Itu suara pengasuh Yongji. Permaisuri terkejut setengah mati. Bibi Rong melesat keluar pintu dan langsung melayangkan tamparan ke pengasuh itu.

“Kau bisa mengasuh Pangeran atau tidak? Kenapa membiarkan Pangeran Kedua Belas memanjat jendela? Kalau dia sampai jatuh dan kenapa-napa, kau punya berapa kepala untuk menebusnya?”

Melihat pengasuhnya ditampar, Yongji maju dan menendang Bibi Rong. “Kau jahat!” teriak Yongji. “Kau mau membunuh Pangeran Kelima! Kakak Ziwei! Kakak Xiao Yanzi! Juga menampar pengasuhku!”

Bibi Rong telonjak kaget dan lekas-lekas mundur. Permaisuri yang juga sudah keluar terkejut melihat kelakuan Yongji.

Yongji berteriak marah pada Permaisuri, “Huang Erniang! Bukankah Anda mengajariku agar berbakti pada ayah dan ibu, mencintai sesame saudara, serta harus bersikap welas asih te hadap orang lain? Tapi mengapa Huang Erniang mengutus orang untuk membunuh Pangeran Kelima, Kakak Ziwei, Kakak Xiao Yanzi juga Kakak Erkang? huang Erniang sungguh kejam! Aku akan melapor pada Huang Ama!”

Yongji membuang muka dan hendak berlari pergi. Bibi Rong segera menangkapnya dan berseru gentar, “Mohon Pangeran Kedua Belas jangan marah! Anda salah dengar! Kejadiannya bukan seperti itu! Jangan menyalahkan Huang Erniang sebab Beliau sama sekali tak bermaksud seperti itu!”

Permaisuri ketakutan melihat kemarahan putranya yang masih kecil itu. Apalagi, kalimat demi kalimat yang diucapkan Yongji ibarat pisau yang menusuk-nusuk hatinya.

Permaisuri meminta Palang dan pengasuh Yonji untuk mundur. Yongji, masih dengan amarah meluap-luap kembali berteriak, “Huang Erniang tidak tahpa baiknya Kakak Ziwei dan Kakak Xiao Yanzi! Hanya mereka yang mau main dengnku di istana ini! Yang lainnya tidak! Mereka langsung menghindar ketika melihatku! Lelu kenapa Huang Erniang hendak membunuh mereka? Kenapa?!”

Permaisuri tampak terguncang dengan pengakuan putranya. Dia membungkuk dan berkata parau, “Apa maksudmu tak seorang pun mau main denganmu dan menghindarimu?”

“Aku juga tidak tahu… Mereka bilang Huang Erniang kejam. Hanya Kakak Xiao Yanzi dan Kakak Ziwei yang sikapnya berbeda! Yang lainnya suka pura-pura tidak melihatku!”

“Jadi Cuma Xiao Yanzi dan Ziwei yang mau bermain denganmu? Mereka tak mungkin demikian baik padamu. Mereka pasti hanya pura-pura!”

“Pura-pura apa? Mana yang betulan dan pura-pura, aku tahu! Huang Erniang mau membunuh mereka! Aku sudah dengar semuanya! Aku benci Huang Erniang!”

Permaisuri gemetaran. “Anakku, jangan membenciku… semua kulakukan hanya untukmu! Kalau kau membenciku, apalagi yang perlu kuperjuankan? Untuk apa lagi semua ambisiku?”

Permaisuri memeluk Yongji. “Anakku, kau salah dengar. Aku tidak berniat membunuh mereka. Aku mengutus orang justru untuk melindungi mereka! Huang Amalah yang ingin membunuh mereka!”

Yongji menatap Permaisuri dengan bimbang. Masih teringat olehnya ketika Kaisar murka dan menetapkan hukuman mati bagi kedua gadis itu.

“Benarkah? Jadi Huang Erniang tidak berencana membunuh mereka, kan? Juga tidak bilang kalau Kakak Ziwei buta?”

“Itu hanya kabar burung. Masih belum jelas kebenarannya,” Permaisuri memeluk Yongji dengan kekalutan besar. “Aku janji tak membunuh mereka! Maka dari itu kau jangan bicara sembarang di luar! Percayalah pada ibumu ini. Mau, kan?”

Yongji masih kebingungan. Melihatnya, Permaisuri teringat peristiwa ketika Ziwei ditusuk jarum. Waktu itu, Ziwei berkali-kali teriak, “Permaisuri! Pangeran Kedua Belas sedang memperhatikan Anda dari jendela!”

Tatapan Yongji begitu bening dan jujur. Permaisuri berpeluh dingin. Saat itu, barulah dia mengerti maksud perkataan Ziwei waktu itu!

***

Hari itu, Xiao Yanzi dan kawan-kawan sampai di sebuah kota kecil.

Mereka menginap di penginapan sederhana. Dan setelah selesai mengurus uang sewa, karena hari masih terang, mereka melihat-lihat kota kecil itu.

Lalu tampaklah permainan akrobat. Banyak orang yang tengah menyaksikan. Mereka pun nimbrung menonton.

Seorang anak perempuan berumur sekitar sebelas tahun sedang beratraksi. Dia berdiri di atas tumpukan bangku yang tinggi. Piring-piring dilempar ke arahnya dan dia harus menangkapnya dengan gesit.

“Wah, itu sulit sekali! Benar-benar berbahaya!” Xiao Yanzi terpukau.

Tapi pada satu kesempatan, tangkapan gadis itu meleset. Sebuah piring pecah. Pria dewasa yang berada di bawah – sepertinya ayah gadis itu langsung mendongak dan berteriak, “Hei Budak! Jangan bikin malu! Banyak yang sedang nonton nih!”

Gadis itu gugup sehingga pada lemparan berikutnya lagi-lagi tangkapannya meleset. Lelaki yang di bawah itu naik pitam. “Kau sengaja ya? Ayo lakukan sekali lagi!”

Gadis itu jadi gemetaran karena dimarahi. Kakinya pun goyah. Bangku-bangku tempatnya berdiri berjatuhan. Tubuh gadis itu pun meluncur ke bawah.

Para penonton yang khawatir tertimpa bangku langsung berlarian. Yongqi langsung melesat menangkap tubuh gadis itu.

Yongqi menurunkan gadis itu. Siapa nyana, ternyata lelaki yang tadi marah-marah mengambil cambuk dan melecut gadis itu.

“Keparat! Kau pecahkan banyak piring dan kau buat penonton kocar-kacir! Kau juga sengaja menjatuhkan diri! Benar-benar cari mati!”

Anak perempuan itu ketakutan, “Maafkan aku! Maafkan aku, Ayah!”

Melihat itu, Xiao Yanzi naik darah. “Jadi kau ayahnya? Masak anak masih sekecil ini kau suruh lakukan atraksi berbahaya? Untung tubuhnya berhasil ditangkap tadi! Jika tidak, dia sudah pasti patah tulang! Bukannya kasihan, kau malah mencambuknya! Kau sebenarnya punya belas kasihan dan perasaan sayang tidak, sih?”

Lelaki itu berang. “Ini anakku! Apa urusanmu?”

Yongqi juga mulai kehilangan kesabarannya. “Kau menganiaya anakmu sendiri dan jadikan nyawanya bahan permainan. Akan kukirim kau ke pengadilan untuk dihukum!”

Melihat ada yang membelanya, gadis kecil itu langsung maju ke depan dan berlutut di hadapan Xiao Yanzi serta kawan-kawan.

“Kakak semua…, tolong selamatkan aku! Pria ini sebenarnya bukan ayahku! Aku dijual padanya! Dia sangat kejam! Aku sering tidak diberi makan dan disuruh berakrobat! Kalau atraksiku jelek, aku dipukulnya! Aku sangat takut…” gadis kecil itu mulai menangis.

Para penonton yang tadi sudah bubar, kini kembali lagi. Mereka ribut berbisik-bisik, “Ayah semacam ini memang berhati iblis!”

Gadis kecil itu terus bersujud. Ziwei memandang Erkang, “Kurasa kita bukannya membantunya, tapi bisa menimbulkan bencana baginya. Setelah kita pergi, perlakuan apalagi yang akan diterimanya?”

Xiao Yanzi langsung maju dan berkata, “Gadis kecil ini akan kami beli! Katakan berapa harganya?”

Lelaki itu langsung berpikir licik, “Wah, tidak bisa! Dia anak kesayanganku! Tidak dikual!”

Xiao Jian maju dan menendang lelaki itu. Ketika dia terpelanting, Xiao Yanzi berteriak, “KAu mau menjualnya atau tidak? Kalau tidak, kau akan ditendang sampai mampus!”

“Aduh! Aduh! Baik! Kujual! Lima puluh keping perak!”

“Lima puluh keping perak?” Liu Hong ternganga. “Uang kita sekarang mungkin hanya sepuluh keping perak!”

“Kalau begitu, aku tidak mau menjualnya! Dia periuk nasiku! Aku tak akan menjualnya!”

Xiao Yanzi dan kawan-kawan mengumpulkan seluruh uang mereka dan setelah menyisakan sedikit untuk biaya perjalanan mereka selanjutnya, nilainya tidak lebih dari dua belas keping perak.

“Dua belas keping perak! Boleh?” tanya Ziwei.

“Tidak! Tidak mau!” tukas lelaki itu.

Xiao Jian memelintir bagian depan pakaian pria itu dan berkata mengancam, “Kalau kau tak menjualnya pada kami, aku akan mematahkan kaki tanganmu! Saat itu, kau bukan hanya tidak mendapat dua belas keping uang, tapi nyawamu juga bisa melayang! Kuperingatkan! Ini bukan sekedar menggertak!”

Lelaki itu ketakutan. Akhirnya dia berkatata memelas, “Baik! Kujual! Kujual!”

“Bagus! Sekarang kita harus buat surat pernyataan agar kau tidak ingkar!” kata Xiao Jian.

Mereka pun berlalu diiringi sorak-sorai penonton. Gadis kecil itu serasa bermimpi. Dia nyaris tidak percaya kalau dirinya telah bebas.

***

Dengan uang yang semakin menipis, mereka membelikan pakaian yang pantas bagi gadis kecil it.

Malamnya, gadis itu telah berpakaian rapi dan tampak bersih. Dia duduk di meja makan sambil memakan hampir semua hidangan yang disediakan.

“Sudah berapa hari kau tidak makan? Apakah bajingan itu membiarkanmu berakrobat dengan perut kosong?”

“Dua hari. Ayah bilang, kalau makan banyak, aku bisa gemuk. Dan kalau sudah gemuk akan sulit berakrobat. Itu sebabnya tadi aku lemas dan terjatuh!”

“Wah, seharusnya kita tadi menangkapnya lalu membuatnya kelaparan!” teriak Xiao Yanzi.

“Siapa namamu? Berapa umurmu?” tanya Ziwei.

“Namaku Budak!”

“Mana bisa ini disebut nama? Apa ayah kandungmu dulu juga memanggilmu begitu?’

“Aku tidak tahu siapa ayah kandungku! Sejak kecil aku sudah belajar akrobat. Dijual dari ayah satu ke ayah lain. Aku tak punya nama. Tak punya marga. Tak tahu kapan dilahirkan, tak tahu berapa umurku.”

Mata Xiao Yanzi berkaca-kaca. “Tak berayah-ibu. Tak punya nama dan marga. Tak tahu kapan dilahirkan dan tak tahu umur sendiri. Mengamen untuk menyambung hidup… Betapa miripnya dengan hidupku!”

Xiao Jian tak bisa menahan diri. Ditatapnya Xiao Yanzi dalam-dalam. Simpati dan kelembutan terpancar dari matanya.

Tiba-tiba Xiao Yanzi berseru spontan sambil menepuk bahu gadis kecil itu, “Mulai sekarang kau akan punya nama. Aku yang memberimu nama. Aku, Xiao Yanzi – walet kecil. Sedang kau Xiao Kezi – merpati kecil! Kau akan menjadi adik kami semua!”

Gadis kecil itu langsung berdiri dan berlutut memberi hormat.

“Xiao Kezi menghaturkan hormat kepada kakak semua!”

Liu Hong lekas menyuruh anak itu berdiri. Melihat semua orang begitu ramah padanya, perasaan Xiao Kezi amat terharu.

Erkang, Yongqi dan Xiao Jian saling berpandangan. Tampaknya mereka memikirkan masalah yang sama. Tapi Erkang tak tega mengusik para gadis yang sibuk mengurus gadis kecil itu.

“Biarkan mereka tidur nyenyak malam ini. Besok kita bahas kembali!”

***

Keesokan harinya, rombongan bersiap berangkat lagi.

Xiao Kezi selalu mengekor Xiao Yanzi. Dengan bersemangat dia membantu mengangkat barang dan berceloteh dengan riang.

Sebelum berangkat, Erkang, Yongqi dan Xiao Jian mengajak para gadis bicara.

“Dengar, kemarin kita memang wajib menolong Xiao Kezi,” kata Yongqi. “Tapi kita tak bisa membawanya. Kita harus cari tempat yang aman dan meninggalkannya di sini.”

“Tapi dia tak punya keluarga. Kita akan titipkan dia ke siapa?” tanya Ziwei. “Lagian Xiao Yanzi kan sudah mengangkatnya sebagai adik, jadi kita bawa saja dia sekalian!”

“Ya! Ya! Kalau kita tidak membawanya, jangan-jangan orang jahat itu akan mengambilnya kembali dan disuruh berakrobat!” timpal Xiao Yanzi.

“Xiao Yanzi! Kau harus berpikir rasional!” tegas Yongqi. “Coba analisis keadaan kita sekarang. Amankah kalau kita membawanya serta? Kita sendiri sekarang sedang dalam bahaya!”

“Kalau ada apa-apa, aku yang akan melindunginya!” sergah Xiao Yanzi.

“Bisa melindungi dirimu sendiri saja sudah bagus!” tukas Yongqi.

“Jadi, kalian berencana tak sudi mengajaknya kan?”

“Bukannya tidak sudi, tapi tidak mampu mengajaknya!”

“Kalau aku tetap mau ajak, bagaimana?”

“Jangan bersikap konyol! Kenapa sih kau kepala batu begini? Kau juga harus memikirkan keadaan kita semua!”

“Aku tetap mau mengajaknya! Harus!” Xiao Yanzi berteriak keras kepala. “Kalau tidak, aku akan tetap tinggal menemani dia!”

“Xiao Yanzi!” bentak Yongqi. “Kau kan tahu, kami semua pasti tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja! Kenapa sih kamu memboikot begini?”

“Memboikot? Kau memang egois! Suka memaksakan kehendak! Dia adikku! Aku akan membawanya pergi, kenapa tidak boleh?”

Xiao Jian bergegas maju dan mengalah. “Sudah! Sudah! Jangan berkelahi lagi. Kita ajak saja dia! Ayo berangkat!”

Melihat Xiao Jian yang begitu pengertian, Xiao Yanzi langsung menangis di bahu pemuda itu. “Huaaaa! Xiao Jian! Ternyata masih ada kau yang begitu baik dan memahami diriku!”

Melihat pemandangan itu, kecemburuan Yongqi kembali tersulut. Dia berkata ketus, “Kalian semua pergilah! Yang harus tinggal bukan Xiao Kezi, tapi aku!”

Yongqi langsung beranjak pergi. Erkang mengejarnya. “Yongqi, jangan begitu! Menolong Xiao Kezi memang baik, tapi jangan sampai membuat kita terpecah-belah.”

“Kalau kejadian begini menimpamu, apa kau masih bisa sabar?” Yongqi meledak. “Tidak peduli betapa besar jasa Xiao Jian pada kita, kalau hal ini terus berlangsung, aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan!”

“Aku mengerti. Tapi dengan pergi begitu saja, itu artinya kau benar-benar memberi kesempatan pada orang lain untuk masuk di dalam hubungan kalian! Kalau aku jadi kau, saat ini aku akan berdamai dengan Xiao Yanzi dan menjaganya baik-baik agar orang lain tidak memanfaatkan kesempatan ini!”

Yongqi membuang muka dengan angkuh. “Gadis yang bersumpah setia padaku…, rasanya aku menyerah saja! Aku masih punya harga diri. Kalau dia memang menganggap Xiao Jian lebih baik dariku, kubebaskan dia bersama laki-laki itu!”

Sementara menyaksikan Yongqi dan Erkang yang semakin menjauh, tahulah yang lainnya kalau Yongqi tengah marah besar.

Xiao Jian dapat membaca situasinya. Wajahnya berubah keruh. Akhirnya dia membuat keputusan yang menyakitkan. Meski berat hati. Dikejarnya Yongqi dan Erkang.

“Kalian kembalilah! Ayo cepat berangkat! Aku akan mendampingi kalian sampai Nanyang. Aku akan membereskan masalah Xiao Kezi dengan menitipkannya pada keluarga temanku di sana. Setelah itu, kita akan berpisah!”

Yongqi dan Erkang amat terkejut mendengarnya.

***

Semuanya naik kereta tanpa berkata-kata. Perjalanan berlanjut dalam sepi.

Xiao Jian dan Liu Hong jadi kusir. Liu Hong memperhatikan, Xiao Jian yang biasa santai berubah jadi serius.

“Sudah berapa lama kau mengenal Xiao Yanzi?” tanya Xiao Jian tiba-tiba.

“Tujuh tahun,” jawab Liu Hong. “Waktu itu dia kira-kira sebaya dengan Xiao Kezi.”

“Jadi kira-kira dua belas tahun?”

“Kira-kira begitu. Aku, Xiao Yanzi dan Liu Qing tumbuh bersama. Dulu kukira, kakakku akan berjodoh dengan Xiao Yanzi. Lalu ketika Ziwei datang, kukira kakakku akan menikahinya. Tapi sekarang, dia malah bersama Jinshuo! Menurut kakakku, ada hal-hal di dunia ini tak bisa dipaksa. Yang tak dapat menjadi milikmu, sekalipun dipaksa, takkan bisa diperoleh!”

Xiao Jian tahu Liu Hong menyindirnya. Dia bertanya lagi, “Kau masih ingat, bagaimana bertemu Xiao Yanzi pertama kali?”

“Ya! Waktu itu musim dingin. Dia mencuri beberapa keping uang kami ketika sedang mengamen. Kakakku berhasil menangkapnya. Kami melihatnya menggigil, berhari-hari tidak makan, dan baru kabur dari majikannya yang kejam. Karena dia tak punya rumah, aku dan Liu Qing mengajaknya tinggal di rumah kumuh. Sedikit kungfunya itu dia pelajari dari seorang tetua di rumah kumuh. Jalan hidupnya sebenarnya menyedihkan. Makanya dia merasa berkewajiban mengurus Xiao Kezi karena nasib mereka mirip.”

Xiao Jian tepekur lama. Rasa iba tampak mengkristal di sorot matanya. Dia berkata, “Xiao Yanzi, yang malang. Sulit baginya bisa tumbuh menjadi gadis yang tegar dan ceria. Dengan latar belakang begitu, tiba-tiba masuk ke kalangan istana lalu mengalami serangkaian peristiwa, dipenjara dan dipenggal… sungguh amat berliku!”

Liu Hong mendelik tajam pada Xiao Jian. Mengertilah dia mengapa Yongqi cemburu.

Di dalam kereta, semuanya duduk dengan diam. Xiao Yanzi duduk memeluk Xiao Kezi, menjauhi Yongqi yang duduk melihat keluar jendela. Erkang dan Ziwei duduk bersebelahan. Tidak tahu mesti menasihati siapa.

Akhirnya Erkang mencoba memecah kesunyian, “Baiklah, waktu kita bersama-sama tinggal sedikit. Jadi harus dimanfaatkan baik-baik. Karena begitu berpisah, siapa tahu kita tidak bertemu lagi.”

Xiao Yanzi terperanjat. “Apa maksudmu? Siapa yang mau pergi?” ditatapnya Yongqi. “Apakah kau masih tetap memutuskan pergi?”

“Jadi kau berharap aku benaran pergi? Sayangnya bukan aku, melainkan orang yang kau anggap kakakmu itu yang akan pergi!”

Xiao Yanzi dan Ziwei terkejut. “Xiao Jian mau pergi? Kenapa?”

“Katanya dia hanya mengantar kita sampai Nanyang.”

Xiao Yanzi berteriak menyerang Yongqi, “Semua gara-gara kau! Coba ingat waktu kami di kereta tawanan, jika dia tidak muncul, jangan-jangan kalian tidak berhasil menyelamatkan kami! Sepanjang perjalanan ini, jika bukan dia yang merancang siasat dari satu tempat ke tempat lain, kita pasti sudah tertangkap. Banyak sekali yang sudah dilakukan Xiao Jian untuk kita! Kau sedikit rasa terima kasih pun tidak punya, malah menyuruhnya pergi!”

Wajah Yongqi merah padam. “Tenang saja! Kalau kau begitu enggan berpisah darinya, akulah yang akan pergi!”

Ziwei tak dapat menahan diri. ditatapnya Xiao Yanzi dan Yongqi dengan jengkel. “Kalian ini kenapa? Benar-benar ingin membuat keluarga kitaini berantakan, ya? Bagaimana bisa mengucapkan ingin berpisah dengan mudahnya?”

Menyaksikan mereka mulai bertengkar lagi, Xiao Kezi langsung berkata penuh pengertian, “Kakak semua, tolong jangan bertengkar gara-gara aku. Aku mengerti, kalian tak leluasa membawaku. Aku turun di mana saja, tidak masalah, kok!”

Xiao Yanzi tambah marah mendengar penuturan Xiao Kezi. Dia lalu mengetuk-ngetuk atap kereta sambil berteriak, “Berhenti! Berhenti!”

Xiao Jian dan Liu Hong berhenti. “Aku tak tahan lagi!” sergah Xiao Yanzi begitu turun dari kereta. Yang lainnya ikut turun. “Xiao Jian! Katakan dengan jelas, sesampainya di Nanyang apakah kau akan meninggalkan kami? Apa kau sudah tidak peduli pada kami lagi?”

Xiao Jian terpengarah. “Maksudku, di dunia ini tak ada pesta yang tak usai. Pasti akan tiba masanya kita berpisah. Jadi kalau perpisahan itu dipercepat kan tidak apa-apa!”

“Bagaimana kalau aku menahanmu mati-matian?” sembur Xiao Yanzi. “Bagaimana kalau aku menahanmu mati-mati-matian?”

Wajah Yongqi langsung kaku. Apalagi, ketika Xiao Jian melihat ke arahnya dan bertanya, “Yongqi, bagaimana menurutmu?”

Tanpa tedeng aling-aling, Yongqi langsung berkata ketus, “Xiao Jian! Tunjukkan saja watak aslimu! Kalau kau memang kawan kami, aku akan menyambutmu segenap hati! Tapi jika kau lawan kami, jangan gunakan kedok persaudaraan ini untuk menipu!”

Xiao Jian terdiam sesaat, lalu tertawa sambil menengadahkan kepala. “Ha ha! Setelah berkali-kali dihantam bencana antara hidup dan mati, kau masih meragukan apakah aku ini teman atau lawanmu! Karena sudah dicurigai, lebih baik berpisah sekarang. Baiklah, aku, Xiao Jian mohon pamit. Jagalah diri kalian baik-baik!”

Xiao Jian segera berlalu dengan tegar. Xiao Yanzi amat terguncang. Dia memekik sambil menangis, “Xiao Jian! Kalau kau pergi, ajaklah aku serta!”

Mendengar teriakan Xiao Yanzi, amarah Yongqi semakin berkobar. Erkang segera menahan Xiao Yanzi untuk tidak mengejar Xiao Jian.

“Yongqi! Kau dan lainnya lekas naik ke kereta! Aku akan mengejar Xiao Jian! Nanti kami akan menyusul kalian!”

Erkang pergi dan Ziwei segera mengambil alih situasi. “Ayo, kita naik kereta dan ikuti saran Erkang! Jangan lagi bertengkar di sini! Yongqi, tahan emosimu, ya! Kau yang mengemudikan keretanya!”

Ziwei menyeret Xiao Yanzi naik. Liu Hong dan Xiao Kezi juga ikut naik. Yongqi duduk di kursi sais, menghela kuda dengan wajah muram.

***

Erkang berhasil menyusul Xiao Jian. Pemuda itu duduk di sebuah gazebo sambil meniup seruling untuk meredam emosinya.

Erkang memanggil namanya sehingga Xiao Jian berhenti memainkan seruling. Dia mendesah.

“Buat apa menyusulku? Ada banyak yang harus dilindungi di kereta. Kalau terjadi sesuatu dan kau tak ada, bagaimana jadinya?”

“Kau begitu tegar. Pergi tanpa menoleh lagi. Tapi perasaanmu sebenarnya tidak setegar ini. Kau sebenarnya masih sangat peduli terhadap kami, iya kan?”

Xiao Jian tampak lesu. “Jujur saja, aku tak sanggup menolerir Pangeran itu!”

“Yongqi punya penyakit ‘landak’ yang muncul jika dia bermasalah dengan Xiao Yanzi. Jika penyakitnya kambuh, setiap orang yang bertemu dengnannya pasti kena semprot. Tapi penyakit ini datang dan hilang secepat kilat. Setelah itu dia akan menyesal. Sekarang anggap saja dia sedang sakit. Tak perlu digubris.”

“Atau bisa saja antara aku dan dia sebenarnya sudah ada ‘permusushan abadi’ sehingga kami tak bisa berkawan?”

Erkang terhenyak. Dia tak bisa menahan diri akhirnya bertanya terang-terangan.

“Xiao Jian, apakah kau menyukai Xiao Yanzi?”

Xiao Jian menatap Erkang dan berkata tegas. “Aku sangat menyukainya! Teramat sangat menyukainya! Aku juga menyukai Ziwei! Rasa sukaku tak perlu ditutupi! Aku menyukai keduanya secara bebas – tidak tercemar oleh perasaan cinta antara psia dan wanita. Prasangka Yongqi padaku pantasnya disebut pemikiran hina dari manusia bangsawan!”

Erkang tampak lega. “Dari perkataanmu ini, lenyaplah segala prasangka! Xiao Jian, lekaslah kembali. Jika kau benar-benar pergi, Xiao Yanzi pasti akan benar-benar putus dengan Yongqi! Aku, Fu Erkang, memohon padamu, wahai Pendekar Xiao! Kembalilah bersama kami! Sudilah mengesampingkan seluruh masalah ini!”

Air muka Xiao Jian berseri. Ditundukkan kepala dan ditelannya keangkuhannya. “Baiklah, mari kita kembali!”

***

Sebelum Erkang dan Xiao Jian kembali menyusul mereka, rupanya Xiao Yanzi sudah berulah.

Ketika kereta bergerak ke tempat yang sepertinya adalah kebun kesemek, Xiao Yanzi ribut-ribut minta turun. Dia turun dari kereta lalu menantang Yongqi.

“Kalau kau tak mau melihat, tutup saja matamu! Aku akan mencuri kesemek! Aku akan curi seluruh buah di kebun ini sampai habis tak bersisa!”

Tanpa menghiraukan protes, Xiao Yanzi memanjat sebatang pohon dan mulai memetik kesemek-kesemek itu. “Xiao Kezi! Pungut kesemeknya dan bawa ke kereta!” teriaknya sembari melempar buah yang sudah dipetik.

Xiao Kezi menganggap hal ini mengasyikkan. Sebaliknya Ziwei cemas.

“Lekaslah kau turun! Kalau marah, jangan sembarang melampiaskannya! Kalau ternyata tempat ini ada yang punya, bagaimana?”

“Xiao Yanzi! Turun kau!” teriak Yongqi.

Xiao Yanzi langsung melempar sebutir kesemek ke arahnya. kesemek itu mengenai wajah Yongqi dan seketika itu juga wajahnya dipenuhi cairan kesemek.

“Aduh Xiao Yanzi! Kau sungguh terlalu!” tukas Ziwei seraya menyeka wajah Yongqi dengan saputangan.

Ini sudah tak remeh lagi. Yongqi membentak keras, “Dasar orang sinting urakan! Kuharap kau digigit seratus anjing sampai babak belur!”

Xiao Yanzi tidak mau kalah. “Kudoakan kau digigit seribu anjing… eh, sepuluh ribu! Bukan, seratus ribu… sampai badanmu koyak-koyak!”

Selesai memetik satu pohon, Xiao Yanzi pindah ke pohon yang lain. Dalam sekejap, kesemek sudah bertumpuk. Xiao Kezi sibuk memungut kesana-kemari.

Tiba-tiba muncullah seorang wanita petani dengan delapan anak. Ada yang dia gendong, ada yang dia gandeng. Selebihnya, mengekor di belakangnya. Semua pucat dan kurang gizi. Pakaian mereka compang-camping. Wanita tani itu menjerit keras, “Siapa yang sudah mengambil kesemekku? Oh, kesemek-kesemekkuuuuuu…..”

Xiao Yanzi lekas turun dari pohon. Ziwei cepat-cepat maju dan berkata, “Jangan khawatir, akan kami bayar kesemek-kesemeknya! Coba hitung berapa? Kami beli semuanya!”

Mereka mengumpulkan uang dan memberikannya kepada si wanita tani. “Segini cukup?”

Wanita itu memelas melihat uang itu dan mendongak memandangi pohon-pohon kesemek. “Suamiku…, kenapa kau mati secepat ini? Aku bahkan tidak bisa menjaga pohon-pohon kesemek kita sehingga selalu dicuri orang! Suamiku, kau meninggalkanku dengan delapan anak, apa yang harus kulakukan?”

Tangis wanita itu pecah. Diikuti anak-anaknya. Xiao Yanzi sungguh terpana. Ziwei lalu berkata, “Kita tambah uangnya lagi. Mereka, janda dan anak yatim yang masih kecil, lebih memerlukan uang daripada kita!”

Mereka kembali menambah uang kepada wanita itu. Tapi wanita itu masih terus menangis. Xiao Yanzi pergi ke kereta dan mengambil selimut. “Selimut-selimut ini buat kalian! Anggap saja sebagai ganti rugi! Maafkan aku! Aku yang salah!”

Ziwei melepas kalung emas di lehernya dan memberikannya juga pada wanita itu. “Masih ada kalung ini. Ini juga untukmu!”

“Ziwei, itu kan peninggalan ibumu?” seru Xiao Yanzi.

“Habis, mau bagaimana lagi?”

Yongqi melepas hiasan giok di bajunya dan menukarnya dengan kalung Ziwei. “Giok ini untukmu, tapi kalung itu harus dikembalikan pada Ziwei!”

Melihat perolehan yang sudah melimpah ruah itu, si wanita pun terkejut sekaligus senang.

“Baiklah… Kalau begitu , kalian bawa saja kesemek-kesemeknya! Anggap saja kalian sudah membelinya!”

Saat itulah Erkang dan Xiao Jian sudah berhasil menyusul mereka. melihat mereka sibuk memindahkan kesemek ke dalam kereta, Erkang bertanya heran, “Apa yang kalian lakukan?”

Ziwei cepat-cepat berkata, “Lekas bantu kami mengangkat kesemek-kesemek ini! Jangan tanya apa-apa, dan jangan protes apa-apa! Pokoknya bantu pindahkan saja secepatnya!”

Meski bingung, Erkang dan Xiao Jian tetap membantu mengangkat kesemek-kesemek itu. Xiao Yanzi yang melihat Xiao Jian telah kembali langsung berseri-seri. Dia tersenyum pada pemuda itu.

Yongqi melihatnya dan hatinya jengkel bukan kepalang.

***

Sore itu, setibanya di sebuah kota kecil, mereka menyewa gerobak kayu dan mulai berjualan kesemek.

Xiao Yanzi berteriak-teriak sepanjang jalan, “Obral kesemek! Obral kesemek! Kesemek besar yang manis dan harum buahnya! Sekilo cuma lima sen! Ayo lekas beli!”

Yang lainnya mengekor di belakang Xiao Yanzi. Erkang menegur Yongqi, “Kau jenius sekali, kenapa bisa membiarkan mereka menghabiskan hampir seluruh uang kita hanya untuk membeli kesemek? Akibatnya, sekarang kita harus menjualnya kembali!”

“Tak usah heranlah! Kalau masalahnya sudah diurus Xiao Yanzi, yang paling ajaib pun bisa saja terjadi! Beli kesemek sampai segerobak, apa susahnya?” kata Yongqi marah.

“Kalian itu seperti habis kena hipnotis… masak sampai selimut dan bandul giok ikut ditukar dengna kesemek?” Xiao Jian ikut bicara. “Aku akan kembali untuk menuntut keadilan bagi kalian!”

Ziwei langsung menahan Xiao Jian. “Tidak usah kembali! Tak ada yang menghipnotis kami! Tak usah dipermasalahkan lagi, pokoknya cepat bantu menjualnya!”

Ziwei lalu membantu Xiao Yanzi berteriak-teriak, “Obral kesemek! Lima sen sekilo! Dua belas sen tiga kilo!”

Seorang pejalan kaki mendekat dan bergumam, “Kesemeknya murah sekali! Aku mau beli satu kilo!”

Xiao Yanzi mengambil timbangan dan mulai menimbang. Dia melihat timbangan lalu bertanya pada Erkang. “Erkang! Jarum penunjuk satu kilonya yang mana ya?”

Erkang tertegun menatap timbangan, “Tidak tahu! Aku kan belum pernah berjualan atau menimbang! Semaumu sajalah menimbangnya!”

Xiao Yanzi menimbang kesemeknya asal-asalan. “Nih! Anggap saja sekilo! Harganya lima sen!”

Orang itu membayar lalu pergi. Liu Hong berkomentar, “Tadi itu berat kesemeknya paling kurang dua kilo!”

“Biarlah! Pokoknya aku sudah pusing dengna kesemek-kesemek ini! Yang kutahu sekarang, aku cuma ingin cepat-cepat melepaskan diri darinya!” tukas Xiao Yanzi.

Melihat segerobak kesmek itu, Yongqi menggeleng-geleng.

“Sejak pergi dari istana, segala hal paling aneh sudah pernah kualami. Tapi sampai bisa berjualan kesemek seperti ini, benar-benar tak pernah terbayangkan olehku!”

***

Sementara itu, di Kota Terlarang, Qianlong tengah marah besar di Istana Kunning.

Qianlong telah mendapat laporan dari Pejabat Li tentang kondisi Xiao Yanzi dan kawan-kawan. Serta penolakan keras untuk kembali – karena trauma dengan utusan pasukan lain yang hendak membunuh mereka. Qianlong curiga, utusan lain itu, pasti orang-orang suruhan Permaisuri!

Tapi Permaisuri menyangkal mati-matian. Ditambah Bibi Rong yang membela majikannya. Namun kemunculan Pangeran Kedua Belas membuat nyali keduanya ciut. Mereka berusaha sebisa mungkin mencegah anak itu masuk ke Istana Kunning karena khawatir dia kelepasan bicara.

Kecurigaan Qianlong menjadi-jadi. “Itu Yongji? Suruh dia masuk!”

Permaisuri dan Bibi Rong tak bisa mengelak. Yongji masuk dan langsung memegang tangan Qianlong dengan cemas. “Huang Ama! cepat selamatkan Kakak Ziwei dan Kakak Xiao Yanzi! Jangan penggal mereka! Kakak Ziwei sudah buta! Kakak Erkang juga telah terluka!”

Mendengar perkataan Yongji, Qianlong serta-merta terpengarah. Tak disangka orang-orang di Istana Kunning rupanya lebih dulu mengetahui masalah ini dibanding dirinya!

Qianlong menatap Permaisuri, “Kau masih berani menyangkal? Sekarang aku paham! Pantas saja mereka menolak pulang kemari dan kabur begitu melihat orang-orangku! Rupanya karena kau! Kesalahanmu terlalu berat, Permaisuri! Tunggu saja! Aku akan buat perhitungan denganmu!”

Permaisuri terhuyung. Wajahnya pucat pasi.

Qianlong berseru dann memanggil pengawal, “Awasi baik-baik Istana Kunning ini! Jangan ijinkan siapa pun keluar masuk! Inang Pengasuh! Lekas bawa Pangeran Kedua Belas ke Istana Yanxi untuk tinggal bersama Selir Ling!”

Permaisuri jadi panik. “Jangan! Jangan ambil Yongji dariku! Dia milikku satu-satunya! Kumohon pada Anda! Dia nyawaku! Dia segalanya bagiku!”

“Apa manfaatnya jika Yongji terus bersama ibu yang kejam, jahat dan licik sepertimu? Sebelum dia berubah jadi seperti dirimu, aku akan menyelamatkannya! Aku tahu kau telah melakukan beribu kesalahan. Tapi cinta seorang ibu bukanlah kesalahan! Lantas kenapa kau boleh membunuh anak orang lain? Bagaimana dengan cinta ibu mereka?”

Mengetahui akan dipisah dari ibunya, Yongji langsung berseru-seru menyayat hati. “Aku tidak mau berpisah dari Huang Erniang! Huang Ama, kenapa aku harus dipisahkan dari Ibuku? Aku tak mau ke tempat Selir Ling! Aku mau ibuku sendiri!”

Permaisuri dan Bibi Rong bersujud memohon-mohon. Tepat pada saat ribut-ribut ini, Ibu Suri datang tergesa-gesa dipapah Qing’er.

“Yang Mulia, ada apa? Aku dengar Kaisar sedang marah besar di Istana Kunning. Kaisar, Permaisuri itu punya posisi terhormat sebagai ibu negara. Bagaimana pun, Kaisar harus mempertimbangkan hubungan suami-istri. Jangan sedikit-sedikit gelap mata! Kenapa Yongji menangis? Ada apa?”

“Lao Foye!” seru Yongji sambil berurai air mata. “Sudilah Anda memohon pada Huang Ama agar aku bisa tetap bisa bersama Huang Erniang. Aku tidak mau pergi ke tempat Selir Ling!”

“Yang Mulia!” seru Ibu Suri. “Kenapa Anda ingin memisahkan ibu dan anak ini?”

Qianlong mendesah. Dia sadar tak bisa menghukum Permaisuri sekarang. Dengan lesu dia akhirnya berkata, “Demi menghormati Lao Foye, Yongji akan tetap di sini untuk sementara!”

“Huang Thaihou, apa yang telah diperbuat Permaisuri, biarlah dia sendiri yang mengakuinya kepada Anda! Kabarnya, Ziwei sekarang buta! Erkang dan Yongqi juga terluka! Aku akan memerintahkan Fulun untuk segera menemukan mereka dan membawa mereka pulang. Setelah mereka kembali nanti, kuharap istana ini akan menjadi rumah yang baik bagi mereka. Aku tak akan memepermasalahkan lagi apa yang telah mereka lakukan. Kuharap, Lao Foye juga bisa berlapang dada dan tak membuat mereka kabur lagi.”

Qianlong membalikkan badan dan pergi. Ibu Suri dan Qing’er terpaku. Terlalu terkejut mendengar kabar itu. Terutama Qing’er. Segenap hatinya terasa berat oleh perasaan sedih yang nyaris tak bisa dia tahan.

***

Akhirnya Xiao Yanzi dan kawan-kawan tiba di Nanyang.

Xiao Jian punya teman bermarga He di Nanyang. Keluarga He kaya raya. Rumah mereka sangat besar dan memiliki paviliun tambahan. Xiao Yanzi dan kawan-kawan dipersilakan menempati paviliun itu.

Kakak He dan istrinya sangat ramah. Mereka tidak punya anak. Melihat Xiao Kezi, Nyonya He langsung menggandeng tangannya. Sebenarnya, Xiao Jian telah berembuk dengan yang lainnya untuk menitipkan Xiao Kezi kepada keluarga He.

Xiao Yanzi langsung resah melihat keakraban Xiao Kezi dan Nyonya He. Ziwei segera membisiki Xiao Yanzi. “Tempat ini begitu tenang. Tinggal di sini lebih baik daripada mengembara di jalan. Xiao Jian memang tipe orang langka. Dia memiliki teman di berbagai tempat. Rencana ini benar-benar sempurna bagi Xiao Kezi!”

Xiao Yanzi terdiam. Dia tampak sedih hingga tak mampu berkata-kata.

Setelah minum the dan beramah tamah, para gadis sibuk membersihkan diri. Xiao Jian keluar untuk mengurus sesuatu. Melihat suasana sepi, Erkang memanfaatkan kesempatan ini untuk bicara dengan Yongqi di halaman depan paviliun.

“Yongqi, kita sudah di Nanyang. Bisakah perang dingin antara kau dan Xiao Jian dihentikan? Sepanjang pelarian kita dia sudah membantu sepenuh hati. Tuduhanmu mengatainya musuh, sungguh keterlaluan!”

“Aku tahu, kalian semua sudah terkagum-kagum padanya,” wajah Yongqi kecut. “Dia ksatria, pahlawan, orang mulia… aku hanya merasa dia tidak sesederhana yang kita kira. Dia menyembunyikan sesuatu! Makin hebat dia, makin mencurigakan jati dirinya! Apakah dia kawan atau lawan, kita tidak tahu! Kau jangan sampai terkecoh oleh penampilannya hingga percaya. Nanti kau malah kehilangan kekasih, baru tahu rasa!”

“Aha! Cerita sana-sini, ternyata Xiao Yanzi juga masalahnya! Sampai mana kecemburuanmu ini berlanjut? Dengar ya, waktu aku mengejar Xiao Jian tempo hari. Dia sudah mengatakan sejelas-jelasnya kalau dia selalu bersikap terang-terangan pada Xiao Yanzi.”

“Tapi aku yang terlibat langsung masalah ini. Perasaanku lebih tajam daripada kau! Caranya memandang Xiao Yanzi, sangat kelihatan dia peduli padanya, penuh perhatian. Kuberitahu ya, bukannya aku terlalu berprasangka. Tapi sikap Xiao Jian terhadap Xiao Yanzi memang ‘ada udang di balik batu’. Seandainya dia menatap Ziwei dengan cara yang sama, aku yakin kau juga dari dulu marah-marah!”

Erkang berpikir-pikir, “Memang dia sangat baik terhadap Xiao Yanzi. Tapi kita tak bisa mencapnya begitu hanya karena dia baik pada orang tertentu.”

“Masalahnya tidak sesederhana itu! Kalau dia teman sejati kita, harusnya dia menjaga jarak dengan kekasih temannya! Seharusnya dia menjaga diri dari kecurigaan!”

Tiba-tiba, Xiao Jian muncul dengan wajah dingin.

“Maaf, aku tidak sengaja mendengar perkataan kalian!”

Erkang dan Yongqi terkejut. Amarah Yongqi langsung naik. “Teman sejati tak akan pernah mencuri dengar pembicaraan orang lain!”

Xiao Jian juga berubah marah. “Yongqi! Kau jangan memandang orang sehina itu! Kalau aku tidak menganggapmu teman, sudah lama Xiao Yanzi kubawa pergi!”

“Apaaa???” Yongqi berpaling dan berteriak pada Erkang. “Apa kubilang, maksud terselubungnya sudah kelihatan, kan?!”

”Kau membuat kesabaranku habis! Tak bisa membedakan mana hitam dan putih! Kalau Xiao Yanzi tetap ikut padamu, kebahagiaan apa yang bisa diperolehnya? Ya! Aku memang punya maksud terselubung terhadap Xiao Yanzi! Aku akan membawanya pergi!”

Mana bisa Yongqi menerima perkataan begini. Dia langsung maju menerjang Xiao Jian.

“Kalau begitu, aku akan melawanmu mati-matian!”

Xiao Jian dengan sigap balas menyerang sambil berteriak, “Kau benar-benar tak pantas untuk Xiao Yanzi! Aku akan mewakilinya memberimu pelajaran!”

Kedunya pun melompat ke tengah halaman, sibuk beradu pukulan dan tendangan.

Erkang berteriak cemas, “Ini, bagaimana sih? Hentikan! Lekas hentikan! Yongqi! Xiao Jian! Ini rumah keluarga He! Kita di sini sebagai tamu! Hargai aku! Jangan berkelahi lagi!”

Tapi Yongqi dan Xiao Jian sudah gelap mata. Mereka tak mau mendengar nasihat apapun dan terus saja bertarung. Yongqi bahkan sudah memakai pedang dan Xiao Jian memakai seruling bambunya. Erkang tak punya pilihan lain selain melompat masuk arena untuk menahan serangan.

“Erkang! Mundur! Kalau tidak, aku tak akan peduli kalau kau ikut terluka!” seru Xiao Jian.

Erkang tetap khawatir dan berusaha keras memisahkan keduanya. Ketika ketiganya tengah bergumul, Xiao Yanzi, Ziwei dan Liu Hong muncul. Mereka terpana melihatnya.

“Kalian berkelahi? Apa tidak salah? Berhenti! Lekas hentikan!” jerit Ziwei.

Erkang jatuh bangun menghalangi keduanya. “Xiao Jian! Yongqi! Kita semua bersaudara!”

“Siapa yang bersaudara dengannya? Dia makhluk hina!” balas Yongqi.

“Ada apa ini? Kenapa begini?” jerit Xiao Yanzi. Saat itu seruling Xiao Jian hampir mengenai dada Yongqi. Xiao Yanzi terhenyak. Dia melayang dan menubruk Xiao Jian sambil berteriak keras, “Xiao Jian! Kau sudah gila, ya? Kalau Yongqi sampai terluka, aku akan buat perhitungan denganmu!”

Xiao Jian terperanjat. Sungguh tak menyangka Xiao Yanzi nekat menerjang masuk. Xiao Jian buru-buru menahan serangannya. Dia lupa diri. Dengan sekali peluk, dibawanya Xiao Yanzi keluar dari tempat itu.

Amarah Yongqi langsung menggelak hingga mukanya merah padam. “Xiao Jian!” pekiknya. “Beraninya kau melarikan dia! Kalau kau bernyali, ayo kita berkelahi sampai salah satu di antara kita mati!”

Xiao Jian mendengus, “Tak usah berkelahi lagi! Kalau aku sampai melukaimu, Xiao Yanzi pasti tak akan memaafkanku! Untuk menghargai Xiao Yanzi, kau kuampuni!”

“Aku tak butuh belas kasihanmu!” Yongqi berteriak keras kepala. “Erkang! Jangan tahan aku! Kau mau mempermalukan aku, ya?”

Menyadari keadaannya sudah sukar dikendalikan, Xiao Jian pun berteriak, “Yongqi! Jangan konyol lagi! Dengarkan aku!”

“Xiao Yanzi…, dia itu adik perempuanku!”

Semua orang langsung terdiam. Lama kemudian baru Xiao Yanzi memekik, “Xiao Jian! Apa katamu?”

Xiao Jian menatap Xiao Yanzi dengan penuh kepedihan dan penyesalan. “Xiao Yanzi, kau adik kandungku… Sembilan belas tahun lalu kita terpisah dan hidupmu penuh derita. Aku sungguh merasa malu…”

Semuanya terpukau. Pedang di tangan Yongqi jatuh bergemerincing.

***

Mereka masuk ke dalam paviliun dan duduk melingkar untuk mendengar penuturan Xiao Jian.

“Kisah ini sebetulnya nyaris menjadi rahasia selamanya. Jika bukan karena Yongqi mengacau, akan kusimpan rahasia ini dan aku akan berpisah dari kalian!”

Mereka memandangi Xiao Jian dengan kaget. Xiao Yanzi berkata bimbang, “Sejak kecil aku tak tahu ayah-ibuku. Bagaimana aku bisa punya saudara?”

“Apa kau masih ingat Kuil Awan Putih? Waktu kecil kau pernah diasuh biksuni?”

“Ya, memang ada biksuni yang mengasuhku ketika kecil. Namanya Shetai anu…, aku lupa! Apakah dia tinggal di Kuil Awan Putih?”

“Namanya Qinghui Shetai?” tanya Xiao Jian.

“Ah, ya! Memang Qinghui Shetai!”

Xiao Jian menatap Xiao Yanzi lekat-lekat. “Tak salah lagi! Kaulah adik kandungku! Kita bermarga Fang. Namamu Fang Zi, sedang aku Fang Yan! Nama Xiao Jian itu bukan nama asli. Masih ingat kali pertama kita bertemu di Graha Huipin? Waktu itu aku bilang kemungkinan marga kita sama. Barangkali kita sekeluarga!”

Tiba-tiba Erkang menyadari sesuatu. “Jadi, waktu itu kau memang sengaja mendekati kami, ya? Kau berusaha menarik perhatian kami agar kami mendekat dan bergaul denganmu!”

”Benar sekali!”

“Tapi bukankah waktu itu kau bilang, kau mencari adik laki-laki?” timpal Yongqi.

“Memang. Saat itu aku belum terlalu yakin Xiao Yanzi adalah adikku, jadi aku menyamarkannya. Aku telah menelusuri seluruh daerah dari selatan hingga utara untuk mencari adikku ini!”

“Xiao Jian! Cepat ceritakan dari awal semua kisah ini!” desak Liu Hong.

Xiao Jian mengambil napas. “Sebenarnya kami keluarga Fang berasal dari propinsi Zhejiang, sangat kaya dan berpengaruh. Sembilan belas tahun lalu, ayah kami dikejar musuh yang ingin membunuhnya. Khawatir aku dan adik perempuanku tak bisa selamat, dalam keadaan panik, kami dipisahkan. Aku dibawa ke ayah angkatku di Yunnan, sedang adik perempuanku dibawa ibu susunya ke Beijing untuk diserahkan pada salah satu kawan ayah.”

“Di luar dugaan, ibu susu itu terserang penyakit dalam perjalanannya. Dia pingsan di depan pintu Kuil Awan Putih. Kemudian adikku itu dirawat dan dibesarkan biksuni. Sementara ibu susu itu kembali ke Zhejiang tanpa memedulikan adikku lagi. Beberapa tahun lalu aku berhasil menemukannya dan menemui Qinghui Shetai. Kata Qinghui Shetai, adikku dirawatnya hingga berumur tujuh tahun.”

Semua orang, terutama Xiao Yanzi bagai tersihir mendengar kisah Xiao Jian.

“Jadi, atas dasar apa kau yakin Xiao Yanzi ini adikmu?” tanya Ziwei.

“Sebenarnya aku juga tak seratus persen yakin (coba ada tes DNA masa itu, wkwkwk). Qinghui Shetai bilang, adik perempuanku sejak kecil sangat nakal dan suka menyelinap pergi bermain. Suatu hari dia menyelinap keluar menyaksikan festival lampion. Sejak itu ia menghilang… sampai suatu hari Qinghui Shetai tidak sengaja melihatnya lagi. Ketika dia berpapasan dengan rombongan Kaisar yang membawa Putri Huanzhu memberi persembahan di kuil. Qinghui Shetai merasa, alis dan mata Putri Huanzhu sangat mirip dengan Fang Zi!”

“Karena itu aku mencari kesempatan untuk bisa berkenalan dengan Putri Huanzu. Aku mendengar bahwa Putri Huanzhu senang mampir di Graha Huipin, maka aku pun ke sana. Cerita selanjutnya, kita semua sudah tahu.”

Mereka semua merasa terkejut. Xiao Yanzi bertanya, “Jadi orangtua kita tewas terbunuh musuh itu?”

“Ayah kita memang tewas di tangan musuh itu. Sedang ibu kita mati merana ditinggal ayah.”

“Siapa kiranya musuh yang sekejam itu?” Xiao Yanzi bertanya geram.

“Dia…, kisahnya terlalu panjang,” Xiao Jian hendak menghentikan perkataannya. Ditatapnya Yongqi dan Xiao Yanzi bergantian. “Mengenai dia, ada banyak berita yang simpang-siur. Aku sendiri juga tak begitu jelas mengetahuinya.”

“Jadi…, apakah kau sudah bertemu orang itu? Dendamnya sudah kau balas?” tanya Xiao Yanzi.

“Ya…, aku sudah membalasnya…”

“Lalu, siapa musuh keluaga kita itu sebenarnya? Apakah dia sudah mati?”

“Mengenai hal ini, nanti saja kuceritakan padamu!” Xiao Jian mengelak.

“Kenapa kau tak mau menceritakannya?” Xiao Yanzi bertanya keras kepala.

“Karena aku baru saja membuat pengakuan tentangmu. Perasaanku sedang diliputi kebahagiaan, jadi tidak ingin membicarakan masalah balas dendam. Hal terpenting bagiku sekarang adalah dirimu. Aku sangat berharap pada kehidupanmu berikutnya, kau menikmati ketenangan dan kebahagiaan!”

Nada bicara Xiao Jian penuh ketulusan. Mendengar ini, air mata Xiao Yanzi merebak. Ditatapnya Xiao Jian dalam-dalam.

“Jadi, aku bukan yatim-piatu? Aku punya saudara kandung, punya marga dan nama…” Ditatapnya Xiao Jian lalu ke dirinya sendiri. “Jangan-jangan kau salah. Aku tak pantas jadi saudaramu. Kungfumu begitu bagus, kau juga pandai berpuisi. Sedangkan aku, bertemu puisi pasti berantakan. Kok bisa berbeda sekali?”

“Kalau kau bilang pernah diasuh Qinghui Shetai, berarti tak salah lagi. Sekarang Qinghui Shetai tinggal di Kuil Kebijaksanaan di pinggir Beijing. Apa kau mau kita kembali ke Beijing untuk menemui Qinghuo Shetai dan membuktikan kisah ini?”

Xiao Yanzi termangu. “Jadi kau benar-benar kakakku?”

“Perasaanku sih, iya!”

Ziwei ikut berkata, “Sebenarnya, antara kalian memang ada beberapa kemiripan. Xiao Yanzi kocak, Xiao Jian senang tertawa. Xiao Jian santai, Xiao Yanzi suka memudahkan masalah. Keduanya juga tidak tahan melihat kejahatan dan ketidak adilan. Sedang untuk sastra, Xiao Yanzi sebenarnya juga berbakat…”

Yongqi merasa seperti bermimpi. “Kau memang menyembunyikan sesuatu. Hanya saja, hal yang kau sembunyikan itu sungguh di luar dugaanku! Xao Jian, alangkah banyak kesalah pahamanku, sudilah kau memaafkan aku!”

Xiao Jian menggenggam tangna Yongqi erat. “Kalau suatu hari kau merendahkan Xiao Yanzi, aku benar-benar akan membawanya pergi!”

“Aku tahu!” jawab Yongqi.

Menyaksikan kedua pemuda itu saling berjabat tangan, Xiao Yanzi tak kuasa menahan air mata serta seulas senyum tersungging di wajahnya….

Wah, selamat, ya! Xiao Yanzi dapat kakak betulan!

Bersambung

[Sinopsis Novel] Putri Huan Zhu/ Huan Zhu Ge Ge II Bagian 12


Judul Asli : Huan Zhu Ge Ge II-4: Lang Yi Tian Ya
Pengarang : Chiung Yao (Qiong Yao)
Penerbit : Crown Publishing Co., Taipei – Thaiwan

Judul Bahasa Indonesia: Putri Huan Zhu II-3: Berlari Ke Batas Cakrawala
Alih bahasa : Pangesti A. Bernardus (koordinator), Yasmin Kania Dewi, Tutut Bintoro, Rosi LS
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, April 2000

Cerita Sebelumnya:
Xiao Yanzi dan kawan-kawan mulai tertimpa masalah di pelarian mereka. Dirampok, bertemu hantu jadi-jadian sampai dikejar tentara. Mereka tidak tahu kalau tentara yang mencari mereka ada dua. Satu utusan Kaisar yang akan membawa mereka kembali ke istana. Satunya utusan Permaisuri yang bertugas membinasakan mereka!

XII

Di rumah celah bukit itu, Jinshuo, Liu Qing dan Liu Hong seperti menjadi dewa-dewi gunung.

Tanpa mengetahui nasib yang lainnya, mereka tinggal di sana untuk memulihkan kaki Jinshuo. Liu Qing telah bersepakat kalau penyembuhan Jinshuo masih lama, maka Liu Hong akan berangkat duluan menyusul rombongan.

Hari itu, angin bertiup sepoi. Jinshuo duduk di kursi rotan, berjemur di halaman. Liu Qing ada di sampingnya, sibuk membuat tongkat.

“Berapa lama lagi aku bisa jalan?” tanya Jinshuo cemas.

“Kau mesti bersabar. Tak ada gunanya khawatir. Nih, aku sedang membuatkanmu tongkat untuk berjalan.”

“Aku memang khawatir… Aku mencemaskan Nona dan Xiao Yanzi. Apakah mereka masih menunggu kita?”

“Sementara ini kau tak usah memikirkan Nonamu atau Xiao Yanzi! Mereka punya Erkang Yongqi dan Xiao Jian. Ketiganya pasti bisa melindungi Ziwei dan Xiao Yanzi! Sebaiknya kau rawat saja kakimu dengan baik. Kalau tidak, kau bisa pincang. Kau begitu cantik, aku tak rela melihatmu cacat.”

Jinshuo agak tersipu mendengarnya. “Aku cantik katamu? Mana pantas aku dipuji begitu…”

Liu Qing berhenti mengerat tongkat. Ditatapnya Jinshuo dalam-dalam.

“Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

Jantung Jinshuo berdebar-debar. “Apa?”

Kebetulan Liu Hong baru akan bergabung dengan mereka. Mendengar ucapan Liu Qing, dia buru-buru bersembunyi dan menguping pembicaraan mereka.

Jinshuo menunggu. Liu Qing mendadak terbata-bata, “Emmm, mmm, apakah rasa sakitmu sudah berkurang?”

Jinshuo terpana. Tak menyangka pertanyaan seperti itu. dia agak kecewa. “Ya, tidak terlalu sakit lagi…”

“Baguslah…,” Liu Qing menelan ludah. “Lalu, apakah kau ingin makan sesuatu? Aku bisa meminta Liu Hong membuatkan untukmu!”

“Tak perlu. Aku sedang tak ingin makan sesuatu.”

Liu Hong mendengar semuanya dengan gemas. Sebagai saudara, Liu Hong sudah lama mengetahui perasaan kakanya itu pada Jinshuo. Dalam hati dia memaki betapa bodohnya kakaknya itu! Satu pertanyaan sederhana saja tak sangguo ditayakannya.

Akhirnya Liu Hong tidak tahan. Dia terpaksa campur tangan. Liu Hong melesat keluar dan berkata, “Jinshuo! Kakakku sebenarnya ingin bertanya, apakah kau menyukainya? Kalau dia melamarmu, kau mau?”

Liu Qing kaget sekali. Belati yang dipegangnya seketika mengiris jarinya. Dia terlompat. Jinshuo juga ikut berdiri. Lupa pada kakinya yang luka, menghampiri Liu Qing.

“Hati-hati kakimu!” sergah Liu Qing memegangi Jinshuo yang terhuyung. Lupa pada tangannya yang luka.

Keduanya saling berpandangan lalu terkesiap. Liu Hong melihat keduanya yang terdiam lama.

Akhirnya Liu Hong berdehem. “Kurasa, kita semua sudah tahu jawabannya. Aku akan bersiap menyusul yang lain. Kalau bertemu Ziwei, akan kusampaikan hubungan kalian ini padanya. Tempat ini cukup aman. Tak ada tentara yang mengejar sampai di sini. Kalian pulihkan diri dulu baru mencari kami.”

Liu Hong kembali masuk ke dalam rumah. Sementara Liu Qing dan Liu Hong masih berpandangan dengan seulas senyum bahagia. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jinshuo tidak memikirkan Ziwei.

***

Di Desa Pasir Putih, kondisi Ziwei sudah lebih tenang.

Jika hari sebelumnya dia masih begitu emosional, maka hari itu dia telah bisa menerima kondisinya yang buta dan bersyukur akan kehadiran Erkang.

Xiao Yanzi membantunya berbenah. Setelahnya, mereka berlima naik kereta menuju Luoyang.

Kali ini, Xiao Jian dan Yongqi yang menjadi sais kereta. Erkang, Ziwei dan Xiao Yanzi di dalam.

“Kita belum terlalu lama melarikan diri. Tapi barang-barang kita semakin sedikit. Apalagi sekarang Ziwei sakit. Aku tak yakin kapan kita bisa sampai ke tujuan kita,” keluh Yongqi.

“Rencana sewaktu-waktu bisa berubah,” ujar Xiao Jian santai. “Asal tak ada tentara yang mengejar, kita bisa menetap di mana saja dengan tenang. Soal barang-barang yang semakin menipis, kita bisa membelinya. Kita ada banayk orang, bisa mencari nafkah. Mengenai Liu Qing, Liu Hong dan Jinshuo, kurasa mereka baik-baik saja. Kita teruskan saja perjalanan sambil meninggalkan tanda bagi mereka. Mereka pasti bisa menyusul kita.”

Xiao Jian menatapp Yongqi lalu tiba-tiba mengajukan pertanyaan.

“Yongqi, aku ingin tahu pendapatmu. Setelah semua peristiwa ini, apakah kau masih menganggap ayahmu penguasa yang bijaksana?”

Yongqi sedikit terkejut. “Pendapatku tidak pernah berubah! Dia tetap seorang penguasa yang arif dan bijaksana!”

“Tapi tidakkah kau membencinya? Dia telah memerintahkan eksekusi kedua Putri. Juga mengirim tentara untuk mengejar dan membinasakan kita! Apakah ayah semacam itu masih bisa disebut orang tua welas asih dan penguasa bijaksana?”

“Kurasa Beliau telah mengusahakan yang terbaik,” Yongqi menghela napas. “Tapi selamanya Beliau adalah ayah yang penuh welas asih bagiku. Juga penguasa yang bijaksana. Kamilah yang tidak mematuhinya, berulang kali mengkhianati kepercayaan Beliau. Sebelum mengkritiknya, sebaiknya kami juga harus introspeksi diri dulu. Kami memang bersalah dengan melakukan hal-hal yang tak bisa Beliau terima….”

Xiao Jian tertegun. Dia pun membuat penilaian pribadi tentang Yongqi.

***

Di Kota Terlarang, Kaisar Qianlong menerima laporan dari kedua pejabat yang gagal menangkap Xiao Yanzi dan kawan-kawan di Istana Zhuning.

“Dupa pembius? Mereka memakai barang murahan begini untuk membius para pengawal dan membebaskan Xiao Yanzi? Kalian punya banyak perwira tangguh tapi kenapa masih bisa dikelabui mereka?”

Kedua pejabat itu ketakutan. “Duli Paduka, sekarang rombongan mereka telah berkurang. Juga ada yang terluka. Kuda-kuda mereka pun sudah hilang. Mereka pasti tak bisa berjalan terlalu jauh. Hamba mohon diberi waktu lagi. Begitu jejak mereka ditemukan, kami pasti langsung mengepung mereka!”

Qianlong terkejut. “Rombongan mereka berkurang? Ada yang terluka? Bukankah aku sudah berpesan kalian tak boleh melukai mereka? Siapa yang hilang dari rombongan? Siapa yang terluka? Cepat katakan!”

Kedua pejabat itu pucat pasi. “Salah seorang gadis yang sempat tertangkap jatuh ke jurang. Seorang pria dan wanita temannya juga ikut menjatuhkan diri ke jurang. Lalu ada seorang gadis lagi yang terlempar dari kereta. Entah terluka atau tidak, kami tak tahu!”

Qing’er dan Ibu Suri terkejut. Ibu Suri berserk, “Apakah pria yang ikut menjatuhkan diri ke jurang itu Yongqi?”

“Hamba… hamba tidak tahu!”

Qianlong pun menjadi murka. ”Aku sudah berulang kali berpesan untuk tidak melukai mereka! Mengapa kalian membiarkan mereka jatuh ke jurang? Cepat cari mereka dan bawa tabib untuk memeriksa mereka. Sekarang aku merasa mereka akan menuju kota terbesar di pesisir Liuhe. Coba kalian cari di Luoyang! Kalau sudah ketemu, kalian tidak boleh mengurung, mengikat atau memborgol mereka! Kalian paham?”

“Ya, Yang Mulia!” kedua pejabat itu ketakutan. “Hanya saja, hamba khawatir jika mereka melawan. Hamba tidak tahu bagaimana menjaga mereka agar tidak terluka. Sekalipun nanti kami membawa tabib, hamba tidak tahu apakah mereka sudi menerima bantuan kami atau tidak.”

Mendengar ini Qing’er tak dapat menahan diri lagi. Dia maju dan berkata,

“Yang Mulia, dari sini Qing’er melihat Anda sungguh arif dan penuh welas asih. Anda penuh perhatian dan tak sampai hati pada mereka. Namun Xiao Yanzi dan yang lainnya tidak tahu maksud baik Yang Mulia. Mereka terus saja menganggap, kalau mereka kembali, mereka akan dipancung. Itu sebabnya setiap kali melihat tentara mereka berusaha meloloskan diri. Jika ingin menghindari mereka dari kecelakaan, Baginda harus membuat mereka mengerti maksud hati Anda dulu!”

Kedua pejabat itu buru-buru menyahut, “Kata-kata Outri Qing benar sekali!”

Qianlong tercenung. Qing’er buru-buru menyambung, “Yang Mulia, ampuni saja mereka! Anda bisa membuat pengumuman bahwa kesalahan mereka diampuni dan tidak lagi mempermasalahkan kejadian masa lalu. Dengan begitu, mereka akan sukarela kembali ke Istana.”

“Apa? Mengampuni? Mana bisa begitu!” Qianlong mengibaskan lengan keras kepala.

“Kalau begitu, anggap saja mereka telah dibuang. Hidup dan mati mereka putuskan sendiri. Tak perlu lagi mengutus tentara untuk mencari mereka!”

“Mana bisa dianggap begitu?” Ibu Suri menukas. “Apalagi Yongqi adalah keturunan Kaisar. Sejak ditinggal mati ibunya, dia kudidik dengan susah payah. Kalaupun Kaisar merelakannya mengembara di luar sana, aku tidak! Mereka harus dicari sampai ketemu!”

“Kalau begitu, kita harus memakai siasat!” ujar Qing’er. “Tunggu sampai kita tahu lokasi terbaru mereka baru mengambil tindakan. Cara pengejaran seperti sebelumnya tak bisa digunakan lagi!”

Ibu Suri dan Qianlong tergerak. Kaisar pun menitahkan kepada kedua pejabat,

“Baiklah. Kalian harus mencari jejak mereka diam-diam. Setelah ketemu, cari tahu kondisi mereka. Utus kurir cepat untuk melapor padaku. Lalu aku akan membuat keputusan selanjutnya!”

Kedua pejabat itu membungkuk dan berseru, “Hamba mematuhi perinth!”

Qing’er akhirnya bisa menghembuskan napas lega.

***

Akhirnya rombongan Xiao Yanzi tiba di Luoyang.

Xiao Jian menyewa sebuah rumah bernama Sehe Yuen. Jadi mereka bisa tinggal di sana sampai mata Ziwei pulih.

“Erkang, ini daftar tabib spesialis mata di Luoyang dari salah satu temanku. Alamatnya juga ada. Kau harus segera membawa Ziwei untuk diperiksa. Semakin cepat semakin baik.”

Erkang berterima kasih sekali. “Xiao Jian! Untunglah ada kau!”

Rumah di Sehe Yuen sangat bersih dan dilengkapi perabotan. Seorang lelaki tua penjaga rumah menyerahkan kunci kepada Xiao Jian lalu pergi.

Xiao Yanzi senang sekali melihat Sehe Yuen. “Xiao Jian! Kau sungguh hebat! Dari mana bisa memperoleh rumah sebagus ini? Kenapa kau bisa punya teman dimana-mana?”

Xiao Jian tertawa. “Inilah hasil berkelana dengan berbekal pedang dan suling. Rumah ini cukup untuk kita tinggali. Sewanya pun lebih murah daripada penginapan.”

“Akhirnya kita bisa tinggal di rumah sungguhan!” ujar Yongqi. “Kurasa malam ini kita bakal tidur nyenyak.”

Semuanya, kecuali Ziwei, menurunkan barang-barang. Xiao Yanzi ke dapur menjerang air untuk membuat teh.

Setelah mereka istirahat sejenak, Erkang membawa Ziwei dan Xiao Yanzi berkereta mencari tabib. Mereka pun menemui beberapa tabib. Tapi semuanya tidak yakin kalau mata Ziwei akan sembuh. Ziwei pun semakin pututs asa.

“Jangan khawatir. Tabib yang namanya ada dalam daftar masih ada beberapa yang belum didatangi,” kata Erkang ketika mellihat Ziwei muram. “Kalaupun tak ada di Luoyang, kita masih bisa menuju Xiangyang. Kalau tak bisa menyembuhkanmu di Xiangyang, kita kembali saja ke Beijing.”

Mereka kembali mencari alamat tabib berikutnya yang akan mereka temui. Erkang berkata, “Aku mau menanyakan alamat dulu. Kalian tnggu aku sebentar, ya!”

Xiao Yanzi dan Ziwei yang sudah turun dari kereta menunggu Erkang. ketika menunggu itu, Xiao Yanzi melihat beberapa orang berkerumun menyaksikan permainan catur. Xiao Yanzi tak dapat menahan rasa ingin tahunya.

“Ziwei, yuk ke sana!”

Ditariknya Ziwei untuk menonton. Tampak dua orang tua yang sedang bermain a lot. Para penonton di sekelilingnya sibuk berdiskusi tentang siapa yang kalah dan menang.

Xiao Yanzi menjulurkan kepala melihat. Sesaat kemudian dia bertanya, “Hei, hei, siapa yang punya pion hitam? Ganti langkahnya! Ambil langkah yang ini!”

“Menonton catur tak boleh bersuara!” tegur salah satu pemain.

“Kalau begitu kau sudah pasti kalah. Lihatlah, semua pionmu di sudut itu sudah terkunci.”

“Kalau dia ambil langkah itu, aku akan ambil langkah yang ini…,” ujar lawannya.

“Aku akan membalasnya dengan langkah begini,” sahut Xiao Yanzi.

Xiao Yanzi terus menjalankan pionnya, menyingkirkan salah satu pemain sebelumnya. Dia bermain penuh semangat. Hingga tak menyadari kalau Ziwei sudah terhuyung mundur akibat desakan orang-orang.

Ziwei semakin menjauh dari Xiao Yanzi akibat tabrakan dari anak-anak yang bermain kerjar-kejaran. Dia mulai panik.

“Xiao Yanzi! Xiao Yanzi! Di mana kau? Jangan tinggalkan aku!” panggilnya. Ziwei menajamkan teinga mencari suara Xiao Yanzi. Dia meraba-raba jalan yang semakin menjauhkannya dari Xiao Yanzi.

Ziwei tak tahu, seorang pria sudah memperhatikannya. Pria itu menghampirinya.

“Nona, kau sepertinya tak bisa melihat, ya?” tanya lelaki itu lemah lembut.

“Benar…,” Ziwei mengangguk. “Tuan melihat gadis lain yang bersamaku? Matanya besar, alisnya tebal. Bisa tolong membawaku padanya?”

“Ooh, yang bermatabesar dan alis tebal itu? Dia masih main catur di sana. Mari, kuantar kau ke sana!”

“Terima kasih!”

Tapi ternyata, laki-laki itu membimbing Ziwei ke arah berlawanan. Mereka berbelok ke gang kecil yang jauh dari kerumunan orang. Ziwei memasang telinganya baik-baik. Dia merasa ada yang tidak beres.

“Di mana ini? Kenapa aku tidak mendengar suara-suara?”

“Kau akan kubawa ke tempat yang sangat indah…!” Laki-laki itu tiba-tiba menarik Ziwei dan memanggulnya.

Ziwei sangat terperanjat. “Erkang! Xiao Yanzi!”

Laki-laki itu memukul kepala Ziwei, tepat di bagian yang pernah terbentur itu hingga gadis itu pingsan.

***

Erkang yang sudah selesai menanyakan alamat, panik ketika melihat Ziwei dan Xiao Yanzi tidak berada di tempat mereka semula.

Erkang langsung berteriak-teriak. “Ziwei! Xiao Yanzi!”

Xiao Yanzi yang masih asyik bermain catur mendengar teriakan Erkang. “Kami di sini! Tunggu! Permainanku sudah hampir selesai…”

Erkang menyelinap di antara kerumunan dan menarik Xiao Yanzi. “Mana Ziwei?”

“Ziwei? Dia ada di sampingku!” Xiao Yanzi menoleh kiri kanan. “Lho, Ziwei kemana ya?” Dia langsung melompat berdiri. “Ziwei! Ziwei! Kau di mana?”

Erkang langsung pucat. Dia langsung menanyai orang-orang. “Permisi, apa anda melihat seorang gadis buta? Dia memakai baju merah muda.”

Orang-orang yang ditanyai itu menggeleng-gelengkan kepala.

“Ya Tuhan! Ziwei, dimana kau? Ziwei, lekaslah keluar!”

Wajah Erkang semakin pucat. Dia mencengkeram bahu Xiao Yanzi dan mengguncang-guncangnya. “Lekas cari Ziwei! Kalau tidak ketemu, akan kubunuh kau!”

Air mata Xiao Yanzi mulai berjatuhan. “Akan kucari! Akan kucari!”

Mereka mencari dengan perasaan cemas. Menanyai orang-orang namun tak ada tanda sedikit pun mengenai keberadaan Ziwei.

Erkang merasa ketakutan. Dia kembali ke Sehe Yuen diikuti Xiao Yanzi.

“Xiao Jian! Yongqi! Tolong aku! ZIWEI HILANG!”

Xiao Jian tergopoh-gopoh keluar ke halaman. “Apa? Kenapa bisa hilang?”

Xiao Yanzi berkata sambil menangis, “Semua gara-gara aku! Erkang pergi menanyakan alamat. Aku disuruh menjaga Ziwei. Tapi aku malah pergi melihat orang bermain catur. Ternyata, Ziwei pun lenyap. Kami sudah berteriak dan mencari di sepanjang jalan tadi tapi tak melihatnya. Aku telah membuat Ziwei hilang! Aku malu bertemu Erkang! aku mau mati saja….”

Yongqi sangat terkejut. Dipeluknya Xiao Yanzi. “Kau mau apa? Sekarang Ziwei hilang. Kalau kau jadi gila, semuanya akan tambah kacau!”

“Erkang pasti membenciku… Erkang pasti membenciku!”

Erkang diliputi emosi. Matanya merah dan nanar. “Benar! Aku sangat, sangat, membencimu!” tudingnya. “Dan aku benci diriku sendiri karena tak bisa mencekikmu!”

”Ziwei sekarang tak bisa melihat. Dia sebetulnya tak berdaya. Tapi dia mati-matian menyembunyikan ketakutannya! Kau malah melepaskannya dan asyik main catur! Pernahkah terbayangkan olehmu apa yang terjadi seandainya hal buruk menimpanya? Dengan sifatnya yang seperti itu, menurutmu dia masih mau hidup?”

Xiao Yanzi menutupi mukanya dan menangis meraung-raung. “Aku mau mati saja! Aku mau bunuh diri!”

Yongqi mempererat pelukannya. Dia menegur Erkang, “Apa gunanya memarahi Xiao Yanzi? Yang satu sudah hilang, kau mau satunya lagi mati? Xiao Yanzi sudah merasa amat bersalah karena menghilangkan Ziwei. Tahanlah dirimu sedikit. Gunakan akal sehatmu! Sekarang yang terpenting mencari Ziwei! Bukannya memaksa Xiao Yanzi bunuh diri!”

Erkang mengepalkan tangan. “Aku memang tak punya akal sehat sekarang! Begitu Ziwei hilang, akal sehatku ikut hilang! Pokoknya setelah ini, Ziwei ditemukan atau tidak, kita akan menempuh jalan sendiri-sendiri! Yang mau bunuh diri, silakan bunuh diri!”

Xiao Yanzi meronta-ronta. “Aku tak ingin hidup lagi! Erkang benar! Aku jahat! Erkang! kau boleh mencekikku! Kau boleh memukulku!”

Erkang memelototi Xiao Yanzi. “Kau pikir aku tidak berani memukulmu?”

Yongqi melindungi Xiao Yanzi. “Erkang! jangan gila! Kau sudah tahu sifat Xiao Yanzi demikian ceroboh, kenapa kau masih mau mempercayakan Ziwei padanya? Kenapa bukan kau sendiri yang menggandengnya?”

Kata-kata Yongqi menohok Erkang. Dia merasa sakit hati sekali. “Benar! Aku memang pantas mati! Menyerahkan Ziwei ke pengawasan Xiao Yanzi! Akulah yang bodoh dan brengsek!”

Xiao Jian tak dapat menahan diri lagi. Dia berdiri di tengah-tengah Yongqi dan Erkang.

“Dengarkan aku!” kata Xiao Jian berwibawa. Xiao Yanzi, Yongqi dan Erkang langsung terdiam dan menatap Xiao Jian.

“Aku telah memeriksa, luoyang ini belum disentuh oleh tentara-tentara untusan Tuan Besar. Oleh karena itu, tidak mungkin Ziwei ditangkap tentara. Mengingat kecantikan Ziwei, kemungkinan, dia dibawa oleh preman daerah sini. Untunglah, di Luoyang aku punya beberapa kenalan, baik dari kalangan orang baik maupun orang jahat.”

“Yongqi, kau jaga Xiao Yanzi! Jangan sampai dia nekat. Xiao Yanzi, kalau kau mau membantu, jangan kemana-mana! Erkang, kau ikut denganku!”

***

Ziwei dibawa ke rumah bordil Zhuihong.

Pria itu langsung membawa Ziwei ke mucikari pemilik tempat itu.

“Nyonya Sun! Ada barang baru!”

Ziwei yang sudah sadar terkejut.

“Di mana ini? Xiao Yanzi???”

Mucikari itu menatap Ziwei dengan penuh minat. “Di sini tidak ada yang namanya Xiao Yanzi! Siapa namamu?”

Ziwei sangat ketakutan. “Tolong katakan, tempat apa ini? Mataku tidak bisa melihat, untuk apa dibawa kesini?”

“Ternyata kau buta! Kalau begitu dia barang tak berharga!” mucikari itu berkata menyesal. “Tapi karena dia cantik, aku akan membelinya. Berapa yang kau minta?”

“Sepuluh tael perak!”

“Sepuluh tael? Yang benar saja!”

“Dia itu masih perawan. Kalau tidak percaya, periksa saja!”

Ziwei terus menyimak. “Aku sama sekali tidak mengenal lelaki ini! Aku tidak mau menjual diri! Dia tadi menculikku! Mohon lepaskan aku, Nyonya! Aku janji akan memberimu sepuluh tael perak jika kau sudi melepasku!”

“Setelah masuk kemari, kau takkan bisa keluar lagi!” bentak mucikari.

“Tapi aku sangat merepotkan!” Ziwei berkata panik. lekas lepaskan aku! Jika tidak, kawan-kawanku akan mencariku! Mereka pasti tidak akan mengampuni kalian! Nyonya, mohon kasihanilah aku! Antar aku pulang…”

“Dari logat bicaranya, dia pasti berasal dari luar kota…,” kata si mucikari. Minatnya semakin besar.

“Benar! Dia dari luar daerah. Tak ada sanak keluarga apapun di sini! Jadi dia aman!” kata si pria.

Ziwei semakin ngeri mendengar percakapan mereka.

“Sebenarnya apa yang kalian kerjakan di sini?”

“Pekerjaan kami?” si mucikari tertawa dingin. “Adalah menyambut laki-laki. Para pria datang mencari kesenangan, kami akan memuaskan mereka! kalau kau nanti bergabung bersama kami, manfaatnya akan banyak sekai…”

Ziwei mencoba kabur. Tapi karena tidak bisa melihat, dia menabrak sana-sini lalu terjerembap. Kursi terpelanting, vas bunga pecah berkeping-keping.

“Dasar murahan! Kau mau cari gara-gara, ya?” laki-laki itu menangkap Ziwei lalu menamparnya.

Ziwei meronta-ronta, “Mengapa kalian memperlakukanku seperti ini? Kalau kalian ingin uang, pasti kuberi! Asal kalian mengantarku pulang!”

“Kalau begitu, di mana rumahmu?” tanya mucikari.

Ziwei terpana. “Di Sehe Yuen. Tapi aku tidak tahu alamatnya…”

“Rumahmu sendiri kau tak tahu alamatnya?” Mucikari itu tertawa dingin.

Ziwei memohon-mohon. “Nyonya, aku ini dari keluarga baik-baik. Jika aku sampai dicemari, aku pasti mati karena tak sanggup menanggung malu. Kumohon bebaskanlah aku!”

Mucikari itu menghampiri Ziwei. “Mulai sekarang kau salah satu penghuni tempat ini! Tak perlu menangis lagi! Aku sudah sering melihat banyak wanita yang bilang mau mati, tapi pada akhirnya mereka patuh dan terus hidup. Sadarlah dan dengarkan saja kata-kataku! Jika tidak, kami akan menanganimu dengan cara lain! Tukang pukul! Kemari!”

Beberapa pria berbadan besar masuk.

“Kurung dia! Jika dia berani melawan, beri dia pelajaran agar mengenal kehebatan tempat ini!”

“Baik!” pria-pria itu lalu menyeret Ziwei keluar.

***

Xiao Jian sungguh istimewa. Jika di Beijing dia punya Lao Ou, di Luoyang dia punya teman bernama Gu Zheng.

Gu Zheng adalah kepala sebuah biro pengawalan. Dia seorang pendekar, sangat termasyur di Luoyang. Gu Zheng senang melihat kedatangan Xiao Jian. Mendengar permasalahan Xiao Jian, tanpa banyak bicara, Gu Zheng segera membantu mencari Ziwei.

“Menurutku, Nona Ziwei diculik. Kalian bisa kembali ke Sehe Yuen. Tunggulah kabar dariku!”

“Tidak bisa! Aku tidak bisa menunggu!” sergah Erkang. “Kalau malam ini dia tak ditemukan, aku tak sanggup menghadapinya! Kakak Gu, biarkan kami ikut!”

“Kalau kalian ikut, pencarian ini bisa-bisa terhambat. Bagaimanapun, kalian orang asing di sini. Banyak tempat tak bisa kalian datangi. Soalnya jika kalian bertanya, belum tentu orang-orang akan memberi jawaban.”

Xiao Jian membujuk Erkang untuk kembali ke Sehe Yuen. Sampai di sana, Xiao Yanzi mencoba berbaik hati membuatkan Erkang secangkir the hangat.

Hati Erkang terasa sakit. Kelelahan dan banyak pikiran, tanpa pikir panjang ditepisnya cangkir the hingga jatuh berkeping-keping.

“Pergi kau! Tak usah mengurusi aku!”

Xiao Yanzi terkesiap. Dia menggigit bibir menahan tangis.

Yongqi dan Erkang terkejut melihat reaksi Erkang.

“Erkang, kau kenapa? Kami paham kau cemas. Kami juga sama cemasnya denganmu! Xiao Yanzi sangat menyadari keteledorannya. Kalau kau tidak sudi memaafkannya, kau juga tidak perlu kasar begitu! Kita kan satu keluarga, segala kesulitan harus kita hadapi bersama!” Yongqi mengingatkan.

“Tidak usah omong besar! Satu keluarga apaan?” teriak Erkang. “Apanya yang dihadapi bersama? Arti kehilangan Ziwei bagi kalian dengan diriku, mana bisa dibandingkan? Kalau kalian sama-sama peduli pada Ziwei, mana mungkin dia bisa hilang seperti hari ini? Aku tidak memerlukan permohonan maaf Xiao Yanzi! Aku hanya ingin Ziwei kembali! Masalah-masalah lain tak perlu dibicarakan!”

“Jadi kau tidak lagi memedulikan persahabatan kita?” Yongqi mulai ikut-ikutan marah. “Kau selama ini paling bijak dan berkharisma. Sekarang mengapa kau berubah jadi seperti ini?”

“Sekarang ini aku tidak tertarik memikirkan kebijaksanaan dan charisma! Kalian tak usah mengurusiku! Jauhi aku! Jika tidak, aku bisa bersikap kasar!”

Erkang menahan napas sesaat. Dia lalu berbalik dan keluar. Diambilnya salah satu kuda kereta dan memacunya keluar.

Erkang terus berkuda hingga matahari terbenam. Di suatu padang luas Erkang mengerahkan segenap tenaga lalu berteriak menyayat hati, “ZIWEIIII!!!”

Sayup-sayup, di belakang terdengar suara langkah kuda. Rupanya Yongqi mengejarnya. Dia berseru lantang, “Erkang! pulanglah! Kalau Gu Zheng datang membawa berita dan kau tidak ada, bagaimana?”

Erkang menengadah dan menatap Yongqi dengan getir.

Yongqi menatap Erkang dan berkata tulus, “Ziwei pasti baik-baik saja! Perasaanku sangat kuat. Di hatiku Ziwei seperti langit dan matahari. Tak peduli berapa banyak badai dan awan mendung, awan hitam takkan mampu menutupi langit. Badai tak akan sanggup menutupi matahari selamanya!”

“Bagus sekali kata-katamu itu,” Erkang berkata terharu. “Dulu ketika Ziwei tertusuk pisau, Kaisar pernah mengatakan sebagai Putra Langit dia tak akan membiarkan Ziwei mati dan akhirnya Ziwei sembuh! Sekarang kau mengucapkan kata-kata tadi, kau kan anak dari Putra Langit. Aku ingin sekali kata-katamu itu terwujud!”

Yongqi mengangguk. Rasa persahabatan mereka berbinar kembali. Ditepuknya bahu Erkang. “Mari kembali untuk menunggu kabar!”

Mereka kembali ke Sehe Yuen. Namun semua tampak lesu. Erkang menyendiri. Terus memikirkan Ziwei.

Ketika malam tiba, Gu Zheng tiba-tiba datang. “Xiao Jian! Aku sudah dapat petunjuk tentang Nona Ziwei!’

Semuanya tersentak. “Kau sudah menemukannya? Di mana dia?”

“Aku belum menemukannya. Tapi aku punya teman bernama Juragan Zheng. Semua daerah lampu merah Luoyang ada di bawah kekuasaannya. Kabarnya, Nona Ziwei kemungkinan ada di rumah bordil Zhuihong!”

Erkang tampak pedih. Yongqi segera berseru, “Kalau begitu tunggu apa lagi?”

“Benar! Kita harus cepat pergi…” Xiao Yanzi bersiap-siap.

Xiao Yanzi menahan Yongqi. “Tempat itu tidak pantas didatangi Xiao Yanzi! Kau temani saja dia di sini! Aku saja dan Erkang yang pergi mencari Ziwei!”

Keduanya pun mengikuti Gu Zheng.

***

Ziwei tengah disekap di kamar sempit. Seseorang mengirimkan makanan untuknya, tapi karena tidak mau makan, dua lelaki masuk membawa cemeti.

Kedua lelaki itu mencambuk Ziwei hingga pakaiannya terkoyak-koyak.

“Kau mau kerja, tidak? Berani-beraninya tidak mau makan!”

Ziwei berseru kesakitan, “Aku lebih baik mati… daripada terhina…,” dia meraba-raba hingga menemukan pilar tempat tidur. Lalu dibenturkan kepalanya ke pilar tempat tidur.

Ziwei jatuh ke lantai. Keningnya bengkak. Kedua laki-laki itu menariknya kembali sambil memaki-maki,

“Kau berani membenturkan kepalamu? Cari gara-gara ya?” Ziwei kembali terkena lecutan cemeti.

Sekonyong-konyong pintu kamar digedor. Nyonya mucikari berseru keras, “Tak usah memukul lagi! Ada masalah besar…!”

Erkang dan Xiao Jian mendorong si mucikari dan menyerbu masuk kamar. Melihat Ziwei yang seperti itu, Erkang ingin meledak rasanya. Dia melesat melancarkan pukulan dan tendangan. Kedua tukang pukul itu pun melayang.

Ziwei meringkuk ketakutan.tangannya menutupi tubuhnya yang berpakaian sobek-sobek. Sekujur tubuhnya gemetaran. Erkang menghambur ke arahnya seraya memanggil pilu, “Ziwei!”

Ziwei histeris. “Siapa? Siapa? Jangan sentuh aku!”

“Ini aku! Erkang! Ziwei, apa kau tak mengenali suaraku?”

Ziwei tidak berani mempercayakan telinganya. “Erkang? Tidak! Kau bohong!”

Erkang melepas jaket luarnya lalu menyampirkannya ke bahu Ziwei. Dibisikinya kekasihnya itu,

“Jika gunung tak bertepi, langit dan bumi menyatu, barulah aku berani berpisah darimu!”

Ziwei tersadar. Dia pun memiringkan kepalanya dalam pelukan Erkang.

“Kau.. benar Erkang…”

Meliaht Ziwei telah ditemukan, Xiao Jian berkata pada Gu Zheng, “Kakak Gu! Aku menginginkan orang yang menculik Ziwei ditangkap dan dihukum!”

Gu Zheng langsung menjawab, “Aku paham maksudmu! Serahkan saja padaku!”

***

Erkang dan Xiao Jian membawa Ziwei kembali ke Sehe Yuen. Xiao Yanzi cepat-cepat mendekati. Dia berseru gembira sekaligus penuh penyesalan.

“Ziwei! Oh, terima kasih Langit dan Bumi… Erkang berhasil menemukanmu! Aku memang brengsek! Aku benar-benar bersalah padamu! Kau terluka…, akan kuambilkan obat…”

Erkang masih marah. “Jangan sentuh dia! Tak usah mengurusi kami!”

Xiao Yanzi terhuyung ke belakang. Matanya mulai basah.

Yongqi menengahi. “Erkang, Ziwei sudah ditemukan. Jangan marah lagi. Sekarang mari obati dia dang anti pakaiannya. Ayo Xiao Yanzi, cepat ambilkan pakaian bersih, aku akan memasak air panas buat mandi.”

“Tidak perlu repot! Biar aku sendiri yang mengurusnya!”

Erkang membawa Ziwei ke kamar.

Yongqi terpana. Dia menoleh ke arah Xiao Jian.

“Kami menemukannya di rumah bordil. Dia dicambuk hingga luka-luka. Untunglah dia masih bisa mempertahankan kesuciannya!”

“Rumah bordil? Ya Tuhan…,” Xiao Yanzi membekap mulutnya. “Erkang tak akan pernah memaafkan aku! Ziwei juga! Aku memang bodoh! Hanya bisa berbuat onar!”

Yongqi cemas mendengar perkataan Xiao Yanzi. “Sudah, Ziwei tak bisa melihat! Sekarang dia pasti memerlukan dirimu! Kau jangan terpukul karena sikap Erkang. Dia emosi, jadi bertingkah begitu. Kau dan Ziwei kan telah mengangkat saudara, tak peduli
Erkang menghalangimu, kau tetap saja harus merawat Ziwei!”

“Saudara macam apa aku ini…? Aku sudah terlalu sering mencelakakan Ziwei…”

Xiao Jian menghela napas menyaksikan semua ini. Dia duduk di salah satu sudut lalu meniup seruling.

Suara seruling meliuk, bergema hingga ke langit. Membawa kekuatan dan kedamaian.

Xiao Yanzi pun merasa tenang.

***

Erkang membaringkan Ziwei dengan hati-hati. Tapi ketika dia hendak memeriksa luka-lukanya, gadis itu menolak.

Ziwei membisu sambil mencengkeram pakaiannya erat-erat. Dia tak ingin disentuh siapapun. Melihatnya, Erkang semakin sakit hati.

“Ziwei, kau marah padaku, kan? Aku sudah berjanji akan melindungimu. Tapi aku malah melepaskanmu… aku terus menyalahkan Xiao Yanzi, padahal sebetulnya akulah yang patut disalahkan. Tidak semestinya aku menyerahkanmu pada Xiao Yanzi… aku telah membiarkan jiwa dan tubuhmu terluka…”

Tangisan Ziwei pecah. Keduanya tak saling bicara cukup lama sampai akhirnya Ziwei berkata, “Erkang…, tolong ambilkan aku minum.”

Erkang meletakkan tangan Ziwei tak lama kemudian kembali dengan secawan teh.

Ziwei meminumnya. Setelah agak tenang, dia bersandar di dada Erkang. “Untunglah, aku tidak kehilangan kehormatanku. Aku masih tetap Ziweimu…”

“Aku yang telah menjerumuskanmu ke tempat itu hingga dipermalukan seperti ini. Akulah yang bersalah…”

Ziwei meraba-raba dan menemukan wajah Erkang. “Aku tidak apa-apa… kau jangan sedih dan terus menyalahkan dirimu lagi. Kejadian hari ini musibah. Kita semua sama sekali tidak tahu bagaimana menghadapi masalah yang tiba-tiba menimpa orang buta. Kuakui, aku sangat shock. Namun sekarang aku sudah kembali. Aku sangat bahagia. Kalian begitu mencintaiku. Setiap kali dalam bahaya kalian selalu menolongku. Aku sangat berterima kasih. Mana mungkin aku masih menyalahkanmu?”

Erkang amat terharu mendengar perkataan Ziwei. Perlahan-lahan, terdengar Xiao Yanzi membuka pintu dan masuk. Diam-diam dia meletakkan nampan makanan di meja dan menunjuknya pada Erkang. Setelah itu, dia bersiap keluar lagi.

Ziwei mendengarnya. “Xiao Yanzi? Kaukah itu? kenapa kau tak memedulikan aku?”

Xiao Yanzi terpaku. “Aku.., aku mengantar makanan untukmu. Makanlah sedikit. Aku K ingin mengganggu. Aku pergi dulu…”

“Kau mau ke mana? Aku memerlukan bantuanmu!” seru Ziwei.

Xiao Yanzi berbalik. “Benarkah? Kau memerlukan bantuanku?”

“Tentu saja! Aku tidak bisa melihat. Kalau bukan kau yang membantuku, lantas siapa?”

Xiao Yanzi menghampiri sisi pembaringan. “Ziwei, kau masih menganggapku sebagai saudaramu? Kau masih memerlukan bantuanku?”

“Apa maksudmu? Kenapa baru berpisah sebentar bicaramu sudah berubah seperti ini?”

“Kaewna…, aku tak pantas jadi saudaramu. Erkang mempercayakanmu padaku, tapi sebentar saja kau sudah diculik orang… aku benar-benar jahat! Erkang bilang, setelah ini kita akan berpisah dan menempuh jalan sendiri-sendiri. Tapi aku…, tidak rela berpisah dari kalian…”

“Benar kau bicara begitu?” tanya Ziwei pada Erkang. “Kenapa kau menakut-nakuti Xiao Yanzi? Bukankah kita semua keluarga? Susah senang, mesti dipikul bersama?”

Erkang menatap Ziwei. Hatinya pun mencair. “Kau hilang – akupun jadi kacau…” Dia menoleh pada Xiao Yanzi. “Aku menarik kata-kataku. Aku tak menyalahkanmu lagi. Aku juga tak marah padamu lagi!”

Xiao Yanzi sunguh lega. Dia menangis tersedu-sedu.

“Ziwei!” Xiao Yanzi memeluknya erat. Tenggorokan Erkang pun tercekat.

***

Beberapa hari kemudian, suasana tenang kembali. Erkang benar-benar sudah memaafkan Xiao Yanzi dan dia juga meminta maaf pada semua orang akan perilakunya hari itu.

Xiao Jian merasa gembira. “Aku akan pergi beli arak. Semua orang berbaikan lagi seperti ini harus dirayakan!”

“Kalian tahu apa yang paling ingin kulakukan?” Ziwei bertanya lembut.

“Apa? Apa?”

“Aku rindu bermain kecapi. Sewaktu Xiao Jian meniup seruling tempo hari, aku jadi kepingin memetik kecapiku. Mataku memang tak bisa mellihat, tapi kurasa, itu tak akan mempengaruhi permainanku nantinya.”

“Akan kubuatkan untukmu!” seru Xiao Jian. “Kau biasa main yang bersenar 15 atu 21?”

“Dua pulluh satu.”

“Baiklah. Akan kubuatkan. Aku pernah belajar membuat kecapi. Tahukah kau dawai kecapi terbaik terbuat dari bahan apa?”

Ziwei menggeleng.

“Dari bulu ekor kuda. Bulunya tidak boleh terlalu kasar ataupun terlalu halus. Jadi harus diambil dari tengah-tengah ekor. Nah, sekarang, aku akan mencari kayu untuk membuat kerangkanya!”

Xiao Yanzi diam-diam ingin memberikan sumbangsihnya untuk kecapi Ziwei. Dia menyelinap ke belakang dan menarik seekor kuda keluar kandang.

Xiao Yanzi bermaksud mencabut bulu ekor kuda itu. Tentu saja kudanya memprotes marah. Kuda itu melompat marah nyaris menendang Xiao Yanzi.

Meski tidak ditendang kuda, itupun tetap membuat Xiao Yanzi terkejut dan terjatuh. Xiao Jian yang kebetulan melintas melihatnya bergegas menghampiri.

“Xiao Yanzi! Kau sedang apa?”

Saat itu, Yongqi yang mendengar seruan Xiao Jian bergegas menghampiri. Mellihat Xiao Yanzi yang dipapah Xiao Jian, mimik wajahnya langsung berubah.

“Sebenarnya kau mau apa dengan kuda itu? Kenapa kau mengganggunya?”

“Ah! Kuda ini memang galak!” Xiao Yanzi terengah-engah. “Aku cuma ingin mencabut
Beberapa helai bulunya tapi dia melah membuatku jungkir balik!”

Yongqi melotot. “Mencabut bulunya? Buat apa bersusah-susah begitu?”

“Aku cuma ingin membantu membuat kecapi bagi Ziwei. Kan kata Xiao Jian perlu bulu ekor kuda! Tapi kuda ini tak mau memberiku bulunya! Benar-benar seperti peribahasa: ‘Sehelai bulupun tak boleh dicabut!”

Xiao Jian tertawa sambil menggeleng-geleng. Dia masuk ke dalam rumah dan keluar membawa gunting.

“Kenapa kau bisa sebodoh itu?” Xiao Jian berkata dengan penuh perasaan sayang. “Kan cukup digunting saja! Mana ada orang yang mau mencabut bulu kuda? Syukur kalau tidak mati ditendang!”

Xiao Yanzi menganga. “Wah, ternyata semudah itu! Aku memang benar-benar bodoh! Xiao Jian! Kau sungguh mengagumkan! Pandai sekali dan luar biasa!”

Wajah Xiao Jian memerah dipuji Xiao Yanzi.

Tiba-tiba, Yongqi merasa tersisih menyaksikan keakraban keduanya. Rasanya ada sesuatu menusuk hatinya.

***

Akhirnya, kecapi Ziwei selesai dibuat.

Ziwei melampiaskan kerinduannya dengan bermain musik dan bernyanyi. Suasana jadi lebih meriah.

Suatu hari, ketika usai memainkan kecapi, mereka mendengarketukan pintu disertai suara Liu Hong.

“Apakah ada orang di dalam?”

Ziwei melompat berdiri dengan perasaan senang. “Mereka datang! Jinshuo, Liu Qing dan Liu Hong!”

Xiao Yanzi membuka pintu dan Liu Hong bergegas masuk penuh semangat.

“Akhirnya kutemukan juga kalian! Kalian ini terlalu hati-hati sehingga sedikit saja meninggalkan petunjuk!”

“Kenapa kau cuma sendirian? Mana Liu Qing dan Jinshuo?” tanya Xiao Yanzi.

”Tempo hari, Jinshuo terjatuh di jurang. Sendinya bergeser dan Liu Qing merawatnya!”

“Jinshuo terjatuh? Apakah tulang kakinya sampai patah?” Ziwei terkejut.

“Jangan khawatir. Tulangnya tidak apa-apa. Hanya sendinya bergeser… Ziwei, ada pesan yang dititipkan Liu Qing padamu. Katanya dia melamar Jinshuo darimu!”

Xiao Yanzi terbelalak. “Wah…, belum lama berpisah ternyata sudah ada kabar bahagia! Jinshuo dan Liu Qing, mereka betul-betul lamban sekali! Sudah lama saling kenal tapi baru sekarang jadian? Bagus sekali! Bukankah itu bagus sekali?”

Dengan perasaan kaget bercampur gembira, Ziwei mencengkeram Erkang. “Erkang! jinshuo telah menemukan kebahagiaannya sendiri! Kau benar! Akhirnya dia menemukan belahan jiwanya sendiri! Aku sungguh bahagia!”

“Benar! Jika saja matamu juga telah sembuh, kurasa saat ini semua kebahagiaan ini semakin sempurna!”

Saat itulah Liu Hong baru menyadari kebutaan Ziwei. “Matamu kenapa Ziwei?”

“Hari itu Ziwei terjatuh dari kereta. Sejak itu dia tidak bisa melihat!”

“Tidak bisa melihat? Apa sudah diperiksa tabib?”

“Semua tabib di Luoyang, bahkan yang spesialis sekalipun, sudah didatangi!”

Liu Hong tersentak. Dia tidak percaya.

Ziwei tertawa riang. “Meski tidak bisa melihat, tapi sekarang pendengaranku jauh lebih tajam. Perasaanku jadi lebih peka dan bisa menangkap banyak hal yang dulu tak kuperhatikan. Aku baik-baik saja. Jadi kalian tak perlu sedih memeikirkan aku!”

Erkang menguatkan diri. “Baiklah. Karena Liu Hong sudah kembali dan Liu Qing serta Jinshuo baik-baik saja, kita lanjutkan saja perjalanan kita. Sekarang kita menuju Distrik Chun, lalu dari sana menuju kota Xiangyang. Xiao Jian, kau punya kenalan di kedua tempat itu?”

“Kalaupun tidak ada, teman bisa muncul tiap saat! Mari segera berangkat!”

***

Mereka memulai perjalanan lagi. Kereta menyusuri lembah. Pada sebuah sungai, mereka berhenti untuk istirahat sejenak.

Mereka beristirahat sambil bersenda gurau. Tiba-tiba, kuda keretamereka meringkik panjang. Semuanya terlompat kaget. Dari balik bebatuan muncul belasan orang berpakaian hitam bersenjata.

“Lindungi Xiao Yanzi dan Ziwei!” teriak Xiao Jian.

Segera mereka terlibat pertarungan seru. Erkang fokus melindungi Ziwei.

Orang-orang berpakaian hitam itu sama sekali berbeda dengan yang dulu. Mereka sangat kejam dan tak sungkan-sungkan. Beberapa terus menyerang Erkang dan mencoba mengalihkan perhatiannya. Erkang kewalahan. Dan ketika konsentrasinya terpecah, salah satu dari mereka menebaskan pedang ke kepala Ziwei. Erkang mengulurkan tangan memeluk Ziwei hingga akhirnya pedang itu melukai pergelangan tangannya.

Pedang Erkang terpelanting. Ziwei berteriak, “Erkang! Kau terluka?”

Erkang terus memeluk Ziwei. Dia berteriak ke arah orang-orang berbaju hitam.

“Siapa kalian? Kenapa mau membunuh kami?”

Yongqi juga ikut berteriak, “Sebutkan identitas kalian! Berani-beraninya turun tangan membunuh kami!”

Orang-orang berpakaian hitam itu tak lain adalah utusan Permaisuri. Pemimpinnya bernama Palang.

“Kami menjalankan perintah untuk membunuh kalian langsung di tempat! Dibunuh tanpa ampun!”

“Menjalankan titah? Membunuh tanpa ampun?” hati Yongqi perih bagai tertusuk.

Xiao Jian berseru, “Kita tak perlu sungkan lagi! Mereka semua berkeinginan menghabisi kita. Kalau begitu jangan ragu dan berbelas kasihan lagi!”

Mereka kembali terlibat pertarungan. Tapi Erkang telah terluka. Dia jatuh tersungkur dan Ziwei ikut jatuh di sampingnya.

Xiao Jian maju melindungi Erkang-Ziwei. Pada satu jurus, dia berhasil melumpuhkan Palang dan bersiap mengangkat pedang membunhnya. Melihat situasinya tak menguntungkan, Palang bersiul. Dia dan anak buahnya segera melayang pergi meningglkan lokasi.

“Kalian mau lari ke mana?” teriak Xiao Yanzi.

“Xiao Yanzi! Jangan dikejar!” teriak Liu Hong.

Darah segar menyembur dari balik luka Erkang dan menetes-netes. Ziwei menjerit-jerit. “Erkang! Erkang!”

“Aku di sini…,” Erkang mengatupkan rahang menahan sakit. “Ziwei, tak kusangka Yang Mulia demikian tega terhadap kita! Kau tak perlu khawatir. Lukaku ini, hanya luka kecil…”

“Luka kecil apa? Kau jangan bohong! Kau pasti berdarah! Oh Tuhan! Kembalikanlah penglihatanku! Ijinkan aku melihat dan merawatnya!”

“Ini cuma luka kecil,” Erkang menguatkan diri. “Kau cuma tak bisa melihat jadi mengira lukanya besar. Lukaku yang sebenarnya bukan di tanganku, tapi di hatiku! Tak kusangka sekarang Kaisar telah berubah menjadi musuhku! Dan Kaisar telah menusukku tepat di sini!” Erkang menunjuk dadanya.

Mendengar perkataan Erkang, kepedihan Yongqi muncul ke permukaan.

“Huang Ama tak hanya menusukmu. Dia juga menusukku! Seumur hidupku, dia bukan hanya kuanggap sebagai ayah, tapi juga dewa! Tapi sekarang beliau malah menginginkan nyawa kita sendiri!”

***

Akhirnya, mereka semua kembali ke Sehe Yuen.

Malamnya, Erkang demam. Dalam keadaan setengah sadar, dia terus mengigau nama Ziwei.

Ziwei dan yang lainnya bergantian mengganti kompresnya. “Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Demamnya tinggi sekali!” Ziwei berkata ketakutan.

“Jangan berpikir yang bukan-bukan! Kau sendiri perlu beristirahat,” kata Xiao Jian.

“Mana mungkin aku bisa beristirahat? Walau kalian menarikku, aku tak mau beranjak dari sisinya! Erkang! Betapa aku ingin membantumu! Tapi untuk merawat diriku sendiri aku tak mampu, bagaimana bisa merawatmu? Aku sungguh putus asa! Dan keputus asaan ini mencabik-cabik diriku!”

Ratapan Ziwei menggugah semua orang. Xiao Jian tak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya dia hanya bisa mengambil kecapi Ziwei dan meletakkannya di meja depan ranjang.

“Mainkan kecapi ini dan bernyanyilah. Mainkan lagu yang paling disukai Erkang.”

Semangat Ziwei bangkit. “Baik. Aku akan memainkannya!”

Ziwei menenangkan diri lalu mulai memetik kecapi dan bernyanyi. Dia terus bernyanyi tanpa putus. Dari satu lagu ke lagu lainnya. Dalam alunan lagu ini, Erkang terlelap dan igauannya berhenti.

Perlahan-lahan, hari beranjak pagi. Sinar matahari menembus jendela. Ziwei telah bernyanyi semalam suntuk. Xiao Yanzi dan yang lainnya tertidur di ruangan itu.

Erkang bermimpi. Dia berdiri di atas kobaran api dan merasa tubuhnya tepanggang. Lalu tampak Ziwei yang bagaikan dewi, mengibaskan tangan hingga kobaran api itu padam. Rasa panas di tubuh Erkang lenyap. Dia memaksakan diri membuka mata. Tampak olehnya Ziwei sedang bernyanyi. Sorot matanya menghanyutkan. Ziwei menyanyi sambil terus memandang ke arah Erkang.

“Ziwei… matamu indah sekali…”

Ziwei menghentikan permainannya. Matanya terus tertuju pada Erkang.

“Air…, air…” erang Erkang.

Ziwei berdiri. “Kau mau minum? Akan kuambilkan!”

Ziwei menuang air ke cangkir dengan ketepatan sempurna. Setelah itu siangsurkannya pada Erkang.

“Kubantu kau!” Ziwei mengangkat cangkir itu ke bibir Erkang. Erkang menahan napas. Saat itu Xiao Jian sudah bangun dan melihat dengan tak percaya.

Erkang minum dengan hati-hati. “Bisakah kau mengambilkan secangkir lagi?”

“Tentu!” Ziwei kembali berlari ke meja dan menuangkan air.

Yang lainnya mulai bangun dan menyaksikan Ziwei menuang air tanpa setetes tambah tumpah.

Ziwei kembali ke ranjang dan melihat bahu Erkang yang terbalut rapat. Tampak noda darah di atas perban.

“Kau berdarah? Bagaimana ini?”

“Mana ada darah?”

“Masih menyangkal juga? Padahal perbanmu sudah berwarna merah…”

Kini Erkang sudah yakin. Dengan kegembiraan meluap, dipeluknya Ziwei sambil berteriak, “Oh Tuhan! Jika darahku sanggup memulihkan penglihatanmu, aku rela walau harus berdarah lagi!”

Ziwei tertegun dan baru menyadari mukjizat yang dialaminya. Dia bisa melihat lagi!

“Erkang! Aku bisa melihatmu! Aku benar-benar bisa melihat!”

Hati Erkang sarat kebahagiaan. “Ah, terima kasih Langit! Terima kasih Bumi!”

Yongqi bergegas menghampiri keduanya sambil berkata, “Selamat! Selamat! Kini aku tahu apa yang disebut bangkit kembali dari kematian!”

Yang lainnya memandang penuh keharuan dan perasaan bahagia.

***

Beberapa hari kemudian, Erkang sudah turun ranjang.

Mata Ziwei juga sudah pulih sepenuhnya. Tabib yang memeriksanya menyimpulkan kalau semua ini benar-benar mukjizat dan kemungkinan tidak mungkin kambuh lagi.

Jadi pada suatu malam, Xiao Yanzi memasak beberaa hidangan enak. Mereka semua berkumpul di ruang makan Sehe Yuen dengan riang.

“Kuberitahu ya,” Liu Hong mengumumkan. “Ikan tumis bumbu kecap dan terong itu masakan Xiao Yanzi! Jadi kalau rasanya aneh, bukan tanggung jawabku! Silakan dicicipi! Siapa yang lebih hebat masak, Xiao Yanzi atau aku, majikan Graha Huipin!”

“HA! Xiao Yanzi bisa masak saja sudah bisa dibilang hebat! Akhir-akhir ini waktu Ziwei buta dan Liu Hong belum datang, kalau bukan makan hidangan gosong, ya hambar. Benar-benar sengsara!” komentar Xiao Jian.

Semua orang tertawa. Yongqi ingin memuji masakan Xiao Yanzi. Dia pun mengambil sumpit dan menyuap hidangan itu. Seketika itu juga matanya melotot dan menjulurkan lidah usai menelannya.

“Benar-benar hidangan istimewa! Sayang kalau dilewatkan! Kalian harus makan!”

Yang lainnya mengambil dan mencicipi. Seketika itu juga ada yang berjingkrak, ada yang batuk, tersedak… pokoknya heboh sekali.

“Xiao Yanzi! Jangan begini caranya kalau ingin menyiksa orang…,” kata Erkang sambil batuk keras.

Ziwei buru-buru mengangsurkan cawan air pada Erkang. “Minum! Minum! Xiao Yanzi bilang semua orang harus minum. Pagi minum air, siang minum air, malam minum air… apalagi setelah makan ikan tumis bumbunya Xiao Yanzi…”

“Kenapa sih, reaksi kalian begitu berlebihan?” tanya Xiao Yanzi tanpa rasa bersalah. Dijumpatnya seiris daging dan dia pun berteriak. “Huaaah! Huaaah! Ini pasti kebanyakan merica! Huaaah!” Reaksinya ternyata lebih heboh dari yang lain.

Yang lainnya tertawa terpingkal-pingkal. Setelah itu, keceriaan surut dari wajah Liu Hong.

“Baik, sekarang aku mau melapor pada kalian! Persediaan uang kita menipis! Pergi ke tabib perlu uang. Makan buat enam orang juga perlu uang. Menebus obat, membayar sewa rumah dan sebagainya… Jadi kupikir, besok aku dan Xiao Yanzi akan keluar mencari uang.”

“Caranya?” tanya Yongqi.

“Seperti dulu, kami akan ke jalan untuk mengamen!” Xiao Yanzi menyahut penuh semangat.

“Tapi bukankah itu bisa menarik perhatian orang?”

“Jangan terlalu banyak khawatir ini-itu! Jadi besok Xiao Jian tetap tinggal melindungi Ziwei dan Erkang. Aku, Liu Hong dan Yongqi akan turun ke jalan mengamen.”

“Kami tak perlu dilindungi,” sanggah Erkang. “Aku hanya terluka, tidak lumpuh. Ziwei juga sudah bisa melihat kembali. Biar Xiao Jian ikut kalian.”

“Baik! Jadi keputusannya begitu saja! Kita atur pertunjukannya! Aku dan Liu Hong akan menyamar jadi kakak adik yang sedang tertimpa kesulitan. Lalu Yongqi dan Xiao Jian menyusup ke tengah penonton dan berpura-pura jadi dermawan. Nanti kalian akan memanas-manasi penonton untuk menyumbang. Mengerti?”

Yongqi langsung kelihatan tidak setuju. “Itu… sepertinya kurang terhormat.”

“Tuan Muda! Kita ini sudah terpojok! Kau masih memedulikan soal kehormatan segala!”

“Tak ada jalan lain..,” Ziwei menimpali. “Nanti kubantu kalian menulis spanduk.”

“Baiklah, aku mengerti,” Xiao Jian tertawa. “Aku belum pernah bersandiwara seperti ini. Tapi aku akan berusaha untuk mengimbangi Tuan Putri!”

***

Keesokan harinya, Xiao Yanzi dan Liu Hong pergi mengamen.

Mereka menabuh-nabuh gong untuk menarik perhatian orang-orang. Lalu mengumumkan kalau mereka kakak-beradik pendatang yang tertimpa musibah sehingga kehabisan uang untuk ongkos pulang kampung.

Setelah itu, kedua gadis itu membuat pertunjukan akrobat. Penonton menyaksikannya dengan puas dan memuji-muji.

Usai pertunjukan, Liu Hong mengedarkan piring untuk mengumpulkan uang dari penonton. Beberapa menyumbang, tapi ada juga yang lansung mundur tanpa memberi uang.

Xiao Yanzi memberi tanda pada Xiao Jian dan Yongqi yang ada di tengah penonton. Xiao Jian dan Yongqi tampak keki. Apalagi Yongqi. Seumur hidup sebagai pangeran, mana sanggup dia bersandiwara seperti ini?

Akhirnya, Xiao Yanzi menatap galak ke arah Xiao Jian. Xiao Jian merasa tidak enak dan menggaruk-garuk kepala. Dia maju dengan enggan dan komat-kamit, “Mana bisa aku ikut sandiwara semacam ini?”

Sesaat kemudian dia berkata di luar skenario, “Saudara-saudara orang Luoyang sekalian! Kalau Anda masih merasa kurang puas dengan pertunjukan kedua Nona ini, aku, Xiao Jian, akan memperlihatkan satu pertunjukan tambahan. Semoga Anda sekalian bersedia menyumbang uang lebih banyak!”

Mendengar Xiao Jian mengatakan sesautu di luar skenario, Xiao Ynazi jadi jengkel. Diambilnya sebilah golok dan ditebaskannya kepada Xiao Jian.

“Apa yang kau bilang barusan? Katanya kau akan berusaha mengimbangi permainan ini! Lantas, mana?”

Xiao Jian terperanjat dan buru-buru menghindar. Xiao Yanzi mengejarnya sambil berteriak, “Rupanya kau seperti banci! Penakut!”

Xiao Jian hendak menampilkan pertunjukan komedi. Dia memasang tampang bloon dan menghindari golok Xiao Yanzi sambil sibuk berteriak, “Golok itu tidak punya mata! Jangan dipakai main-main…” Lalu dia tersungkur jatuh.

Penonton tertawa terpingkal-pingkal. Kedua orang itu masih saja berlarian. Satunya mengejar dan menghindar. Adegannya sungguh menggelikan dan menegangkan.

Liu Hong kembali menyodorkan piring. Kepingan-kepingan uang pun kembali dijatuhkan.

Yongqi menganga menyaksikan smeuanya.

Xiao Jian melompat keluar dari arena. Melihat piring uang sudah penuh, senyum Xiao Yanzi angsung merekah. Dia dan Xiao Jian berdiri berdampingan sambil meyoja penonton,

“Terima kasih! Terima kasih semua…”

Tepuk tangan penonton membahana. Yongqi yang tengah bersembunyi di antara penonton mendengar komentar-komentar mengagumkan.

“Benar-benar adegan yang enak ditonton! Aku berani jamin, kalau keduanya menjadi sepasang kekasih, pasti cocok!”

“Ya! Keduanya kompak. Selain itu, mereka juga cantik dan tampan. Benar-benar serasi…”

Wajah Yongqi langsung berubah. Sesuatu seperti telah menghantam ulu hatinya.

Dia cemburu. Wkwkwkwk.

Bersambung ke buku terakhir: Kembali ke Kota Kenangan.