[Sinopsis Novel] Putri Huan Zhu/ Huan Zhu Ge Ge II Bagian 11


Judul Asli : Huan Zhu Ge Ge II-4: Lang Yi Tian Ya
Pengarang : Chiung Yao (Qiong Yao)
Penerbit : Crown Publishing Co., Taipei – Thaiwan

Judul Bahasa Indonesia: Putri Huan Zhu II-3: Berlari Ke Batas Cakrawala
Alih bahasa : Pangesti A. Bernardus (koordinator), Yasmin Kania Dewi, Tutut Bintoro, Rosi LS
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, April 2000

Cerita Sebelumnya:
Xiao Yanzi dan Ziwei lolos dari eksekusi pada menit-menit terakhir. Semua berkat bantuan Meng Dan dan Xiao Jian. Yongqi, Erkang, Liu Qing, Liu Hong – bahkan Jinshuo akhirnya bisa bergabung dengan mereka kembali. Dan mereka memulai lembaran kisah baru mereka dalam pelarian.

XI

Sisa hari itu Xiao Yanzi begitu gembira karena telah berhasil menolong Xuxu.

“Hah! Hari ini sungguh baik! Kita memang hebat! Bisa menyelamatkan Xuxu dari pembakaran! Aku senang sekali sudah keluar dari ‘Kota Kenangan’ sehingga bisa menjadi Xiao Yanzi yang dulu lagi! Si walet kecil yang ingin terbang ke angkasa!”

“Kurasa kau sudah berada di langit,” komentar Xiao Jian penuh perasaan. “Kau orang paling bersemangat yang pernah kutemui. Mengenalmu, benar-benar membuatku bahagia.”

“Benarkah?” Xiao Yanzi terpana menatap Xiao Jian.

“Benar! Omong-omong, siapa yang memberimu nama Xiao Yanzi itu?!”

“Entahlah! Seingatku sejak dulu aku dipanggil begitu!”

“Tahukah kau ada puisi yang syairnya begini? ‘Di masa silam, Kaisar berterima kasih pada walet di depan klenteng. Tapi walet itu terbang mencari rumah rakyat jelata.’”

“Hah? Terbang kemana? Rumah apa?”

“Kupikir sekarang kita semua tak punya rumah,” Ziwei menyahut. “Karena tak punya rumah, dimana-mana bisa dijadikan tempat menetap.”

“Kalimatmu itu bagus sekali,” puji Xiao Jian. “Kelihatannya kita seperti yatim-piatu pengembara. Kelak rumah kita ada di segala penjuru. ‘Beratapkan langit, berselimutkan bumi’!”

“Kalau begitu, hari ini rumah kita disini,” timpal Liu Qing. “Dua kamar sudah dipesan. Masing-masing untuk laki-laki dan perempuan.”

“Ayo! Karena kita semua pasti sudah lelah, jadi pergilah mandi dan beristirahat dengan cepat. Besok pagi-pagi kita berangkat lagi!” ujar Erkang.

“Jinshuo dan Liu Hong membagikan pundi-pundi uang. “Kami telah membagi uang dan beberapa benda berharga ke delapan pundi,” kata Jinshuo. “Masing-masing dari kita harus membawa satu. Kita harus menjaganya. Jangan sampai hilang.”

Semua orang menyimpan pundi uangnya masing-masing dengan baik. Erkang lalu berkata, “Urusan Xuxu di desa Chengyi ini sudah selesai. Besok kita harus berangkat sebelum jejak kitatecium oleh tentara. Bagaimanapun, status kita ini masih ‘buronan’!”

***

Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan dan sampai di sebuah desa kecil bernama Daun Merah.

Begitu memasuki desa itu, segalanya tampak kusut dan berdebu.

“Di depan sana ada penginapan. Kita sebaiknya beristirahat di sana malam ini,” saran Erkang.

Kereta dan kuda diparkir di depan penginapan. Begitu Xiao Yanzi turun, dia memandang berkeliling. Dilihatnya sekelompok orang berkerumun.

“Kalian masuk saja dulu. Aku menyusul!”

“Kau mau kemana lagi?” tanya Yongqi.

“Pokoknya aku tak bakal hilang!” seru Xiao Yanzi lalu melesat pergi. Yongqi bergegas mengejarnya.

Di salah satu sudut jalan terdengar teriakan-teriakan bersemangat. “Ayo Merah! Menang! Hidup Merah!”

Xiao Yanzi menyeruak dia antara kerumunan. Yongqi juga ikut. Rupanya di tengah-tengah kerumunan itu dua ekor ayam beradu sengit. Orang-orang mengelilingi arena dan terbagi dalam dua kelompok. Masing-masing menyemangati ayam jagoan masing-masing.

“Merah pasti menang! Menang!”

“Hijau yang menang! Menang!”

Dua pemilik masing-masing ayam aduan itu berseru, “Siapa yang mau bertaruh untuk Si Merah?”

“Bertaruh untuk Hijau saja! Pasti menang!”

Beberapa orang sibuk menambah taruhannya. Xiao Yanzi jadi bersemangat. “Aku juga mau bertaruh! Aku pasang dua tael perak untuk si Merah!”

“Xiao Yanzi!” Yongqi terlambat melarang.

Taruhan Xiao Yanzi terlalu besar. Orang-orang di desa kecil itu langsung berbisik-bisik, “Gadis itu dari mana? Taruhannya besar sekali!”

Usai memasang taruhan, Xiao Yanzi lalu berseru, “Hidup Merah! Ayo, Merah! Perlihatkan kebolehanmu! Hajar lawanmu sampai babak belur! Seperti bunga yang berguguran dan air yang mengalir!”

Melihat Xiao Yanzi begitu antusias, banyak orang ikut bertaruh untuk Si Merah.

“Merah! Gigit lawanmu! Serang! Hajar habis-habisan! Sikat! Serang!”

Si Hijau yang tadinya sudah hampir menang tiba-tiba kalah. Sontak kerumunan berteriak keras, “Merah menang! Merah menang!”

Xiao Yanzi begitu bersemangat. “Hidup Merah!” diraupnya semua uang hasil taruhan di depannya.

Si pemilik ayam yang sudah kalah banyak merasa tidak rela. “Nona! Maukah kau bertaruh denganku?”

“Taruhan apa?”

“Pilihlah seekor ayam pilihanmu dan aku akan memilih ayam jagoanku sendiri. Lalu kita adu mereka. siapa yang menang, dia akan mendapat uang! Tapi syaratnya, ayam pilihanmu itu harus kau beli!”

“Baik! Aku pilih satu!” Xiao Yanzi memilih-milih. Pilihannya lalu jatuh ke seekor ayam berbulu hitam. Di belakangnya, Yongqi menarik-narik Xiao Yanzi tapi gadis itu mengabaikannya.

Si pemilik ayam juga telah memilih jagoannya. Xiao Yanzi melihatnya dan dengan pongah berkata, “Si Hitamku akan menghajar ayammu sampai rontok! Ayo taruhan! Lekas adu!”

Xiao Yanzi menaruh seluruh uang yang dimenangkannya tadi. Para penonton lekas mengikuti taruhannya.

“Bertaruhlah untukku!” Xiao Yanzi menggendong ayamnya lalu mengancam, “Hitam, kau jangan mempermalukan diriku! Kau harus menang! Kalau kau sampai kalah, kau akan kujadikan sup ayam!”

Xiao Yanzi meletakkan ayamnya ke tanah. Pertarungan pun dimulai. Dan ternyata, si Hitam menang!

Xiao Yanzi berjingkrak-jingkrak. “Hitamku menang! Hitamku menang! Yongqi, lekas bungkus semua uang kemenangan itu!”

Yongqi mengeluarkan sapu tangan dan membungkus seluruh uang kemenangan Xiao Yanzi.

Si pemilik ayam rupanya masih penasaran. “Nona! Ayo kita bertaruh lagi!”

“Tidak boleh! Hari sudah malam!” potong Yongqi.

Xiao Yanzi juga sudah merasa lelah. “Aku tak mau bertaruh lagi!” katanya sambil menggendong ayamnya.

Pemilik ayam itu bertahan. “Tidak bisa! Aku masih mau bertaruh!”

Xiao Yanzi langsung meradang. “Kalau kubilang tak mau, ya tidak!”

Si pemilik ayam mengulurkan tangan mencengkeram Xiao Yanzi. Melihatnya, Ypngqi langsung melayangkan pukulan ke orang itu.

“Kurang ajar! Lepaskan tangan kotormu itu!”

“Dasar pasangan perempuan dan laki-laki busuk!”

Yongqi kembali menampar orang itu. “Mulutmu yang busuk sekali!”

Akhirnya Xiao Yanzi dan Yongqi terlibat perkelahian dengan orang itu. orang-orang kembali berkerumun untuk melihat dan bersorak-sorai.

Yongqi menangkap si pemilik ayam lalu memelintirnya.

“Aduh! Aduh! Pendekar! Ampuni aku! Ampuuun…”

Yongqi melempar si pemilik ayam ke tanah lalu berkata penuh wibawa. “Awas kalau lain kali kau masih berani kurang ajar, akan kupukul kau sampai mati!”

Pemilik ayam itu mengaduh-aduh. Sementara kerumunan orang-orang bersorak-sorai. “Hidup Pendekar! Hidup Pendekar!”

Xiao Yanzi sangat bangga. Dia memungut kantong uangnya. Sambil memeluk ayamnya, dia pun melangkah pergi diikuti Yongqi di belakangnya.

***

Di penginapan, yang lainnya mulai makan ketika Xiao Yanzi tiba bersama Yongqi.

Xiao Yanzi melempar sepundi uang ke atas meja. Ayamnya terus berkotek, meronta dan mengepak-ngepak.

“Apa itu?” tanya Xiao Jian terkejut.

“Masak kau tidak tahu kalau ini ayam? Ayam berbulu hitam!”

“Kami tahu itu ayam. Tapi untuk apa kau memeluknya?” tanya Erkang.

“Aku membelinya! Namanya si Hitam! Hari ini dia berkelahi sampai menang!”

“Ini ayam aduan,” jelas Yongqi. “Uang dan ayam ini dimenangkan Xiao Yanzi dalam taruhan.”

Mereka semua terkejut. Dan lebih terkejut lagi sewaktu Xiao Yanzi mengumumkan,

“Aku akan memeliharanya!”

“Apa?” Erkang menukas. “Kita dalam pelarian! Mana bisa memelihara ayam?”

“Dia bisa membantu kita mendapat uang!”

“Aku rasa kita masih belum perlu mengandalkan ayam untuk mencari uang kan?”

“Aiya! Kalian jangan kikir lah! Ayam kan makannya tidak banyak! Aku akan memeluknya sambil tidur dan sepanjang perjalanan. Kalian tak usah repot!” Xiao Yanzi bersikeras.

“Kau mau memeluknya sambil tidur?” pekik Jinshuo.

“Ya!”

“Kalau begitu aku tidak mau tidur seranjang denganmu!”

Liu Hong buru-buru menyambung, “Aku juga tidak mau seranjang denganmu!”

Mendengar hal itu, Xiao Yanzi beralih pada Ziwei.

“Ziwei! Kau saja yang tidur seranjang denganku! Kan kita sudah berjanji, susah senang ditanggung bersama. ada ayam, kita peluk bersama!”

“Astaga!” Ziwei nyaris pingsan mendengarnya.

***

Akhirnya, malam itu, Ziwei, Jinshuo dan Liu Hong bersempit-sempitan di ranjang.

Xiao Yanzi tidur di ranjang lain bersama ayamnya. Mereka tidur lelap sekali sampai keesokan paginya belum ada yang bangun padahal matahari sudah meninggi.

Erkang menggedor-gedor pintu kamar para gadis. “Ziwei, Xiao Yanzi! Kalian belum bangun? Kita sudah mau berangkat!”

Xiao Yanzi terkantuk-kantuk meraba-raba. Tiba-tiba dia berseru, “Dimana Hitam?”

Xiao Yanzi terlompat duduk dan seketika terjaga. “Hitam? Dimana kau?”

Erkang kembali menggedor pintu. “Xiao Yanzi! Ziwei! Kalian sudah bangun?”

“Sebentar…!” seru Xiao Yanzi. Dia menghampiri ranjang sebelah dan mengguncang-guncang Ziwei serta lainnya. “Hei, kalian lihat ayamku, tidak?”

Ziwei, Jinshuo dan Liu Hong terbangun mendengar suara ribut Xiao Yanzi.

“Ayam apa? Kok rasanya capek dan mengantuk sekali, ya?” igau Ziwei.

“Benar. Aku mau tidur lagi,” Jinshuo menguap.

Xiao Yanzi berteriak, “Jangan tidur lagi! Si Hitam hilang!”

“Kalau tidak ada Hitam, cari saja si Putih…”

Liu Hong menggeliat. “Tunggu aku berpakaian dulu batu kubantu kau mencari ayammu…” Liu Hong mencari-cari buntalan bajunya. Seketika itu juga dia berteriak kaget, “Mana buntalan baju kita?”

“Kenapa? Ada apa?”

Liu Hong berseru panik, “Mana buntalan kita?” Dia meraba-raba pinggangnya. “Ya Tuhan… pundi uang kalian, masih ada?”

Para gadis meraba pinggang masing-masing dan seketika semua berubah pucat.

“Kita kemalingan! Celaka! Dasar penginapan brengsek!” jerit Xiao Yanzi.

Pakaian yang mereka kenakan kemarin rupanya tidak ikut hilang. Maka, keempat gadis itu buru-buru berpakaian. Begitu pintu kamar mereka terbuka, Erkang, Yongqi, Liu Qing dan Xiao Jian langsung menyerbu masuk.

“Kami kemalingan! Pundi uang dann buntalan pakaian hilang tak berbekas!” Ziwei ketakutan.

“Si Hitamku juga!”

Keempat pemuda terpana mendengarnya.

“Aku akan buat perhitungan dengan pemilik penginapan! Masak ada maling mereka tak tahu? Bagaimana bisa menjamin keamanan tempat ini?”

Xiao Jian berjalan ke jendela untuk memeriksa. Dia memungut sesuatu yang jatuh dekat jendela.

“Kalian terkena perangkap preman kelas atas! Ini Dupa pembius! Pantas kalian tidur lelap sekali. Kurasa ini ulah juragan ayam itu… Karena Si Hitam Xiao Yanzi ikut hilang, kan?”

Emosi Xiao Yanzi langsung naik. “Kalau begitu, akan kucari orang itu untuk membuat perhitungan!”

Xiao Yanzi langsung melesat keluar. Erkang buru-buru berkata pada Yongqi, “Lekas susul dia! Kita tidak boleh melaporkan kejadian ini agar tak menarik perhatian!”

***

Arena adu ayam kemarin sore itu tampak sepi. Di sana Xiao Yanzi berteriak-teriak,

“Para penyabung ayam! Dimana kalian? Kurang ajar! Berani-beraninya kalian mencuri? Cepat keluar!”

Yongqi yang telah menyusul Xiao Yanzi, menarik gadis itu pulang. Sepanjang jalan Xiao Yanzi terus memaki sampai tiba-tiba di jalan mereka melihat sepasukan tentara yang menghentikan orang-orang untuk ditanyai.

“Kalian pernah melihat orang-orang ini? Tiga gadis cantik dan dua pemuda tampan. Coba lihat, pernah bertemu mereka?”

Yongqi dan Xiao Yanzi langsung melesat kembali ke penginapan.

***

Di penginapan, Erkang dan lainnya mencari pemilik penginapan. Awalnya si pemilik mengaku tidak tahu menahu. Tapi setelah didesak terus, dia akhirnya bicara.

“Orang yang suka mencuri memakai dupa bius itu berprofesi sebagai penyabung ayam. mereka adalah Zhang Cun dan Wei Wu. Keduanya bekerja sama dengan pejabat daerah sini. Aku akan memberi kalian alamat mereka. tapi jangan sekali-kali bilang aku yang memberi tahu. Kalau tidak, kelluargaku tak akan selamat!”

“Keterlaluan! Jadi di sini ada aturan macam begitu ya?” geram Erkang.

Pada saat Xiao Jian hendak mendiskusikan untuk merebut barang-barang mereka kembali, Xiao Yanzi dan Yongqi datang tergesa-gesa. Yongqi berkata buru-buru, “Tak usah mencari barang-barang itu! Kita harus segera pergi! Ayo!”

Tak perlu dijelaskan lebih rinci lagi. Melihat ekspresi Yongqi dan Xiao Yanzi, yang lainnya langsung tahu ada yang tidak beres. Jejak mereka telah terendus.

***

Mereka melanjutkan perjalanan dengan terburu-buru.

Sementara berjalan, Xiao Jian berkata pada yang laki-laki, “Mulai malam ini kita mesti bergantian berjaga. Para gadis itu tak dapat menjaga diri. jadi kitalah yang laki-laki mesti waspada. Memikirkan pencuri semalam saja aku sudah ngeri. Untungnya mereka tidak berpikiran lebih jahat lagi pada gadis-gadis itu!”

“Pokoknya mulai malam ini yang laki-laki mesti bergantian jaga! Pertama dari kejaran tentara, kedua dari penjahat!”

Sementara itu, di dalam kereta para wanita, Xiao Yanzi memaki dirinya sendiri.

“Aku memang sial! Sekali menang taruhan malamnya dirampok! Ah, semua ini karena aku terlalu tamak! Akulah yang brengsek!”

Ziwei buru-buru menghiburnya.

“Jangan sedih! Kau hanya tak bisa menahan diri. Mencari sedikit kesenangan itu memang lumrah. Orang-orang jahat itu pasti akan mendapat ganjaran setimpal. Untung pundit uang para pria tidak dicuri. Kita juga masih punya beberapa pakaian yang tidak sempat mereka ambil. Kita masih bisa bertahan asal mampu berhemat. Jadi kau jangan sedihlah.”

“Tapi aku memang sedih… Si Hitamku juga mereka curi…”

Ziwei tertawa. “Justru aku bersyukur hitammu dicuri! Terus terang aku tak sanggup berbagi ranjang dengan ayam!”

Ziwei lalu mendeklamasikan sebait puisi, “Dulu Li Bai pernah menulis: ‘Karena sudah dilahirkan, manusia pasti berguna. Uang yang hilang pun, masih bisa dicari kembali’!” Maksudnya, Tuhan menciptakan manusia pasti karena ada manfaatnya. Kalaupun banyak uang sudah dikeluarkan, pasti masih bisa kembali!”

“Wah, Li Bai ini pintar sekali! Puisi bagus! Tapi aku sangsi bisa mengembalikan uang yang sudah kuhilangkan!”

Usai berkata begitu, Xiao Yanzi tiba-tiba memukul atap kereta. “Berhenti! Berhenti!”

Liu Qing dan Liu Hong menghentikan kereta. Erkang, Yongqi dan Xiao Jian juga menghentikan kuda mereka.

Xiao Yanzi melompat keluar dan berkata, “Yongqi, temani aku kembali ke Desa Daun Merah itu! Aku tetap ingin mencari dua cecunguk itu untuk membuat perhitungan! Erkang, kau dan yang lainnya lanjutkan saja perjalanan!”

Mendengar itu, Liu Hong langsung gusar. “Xiao Yanzi! Kau jangan bikin masalah! Saat begini kita jangan berpencar!”

Xiao Yanzi tak mau mendengarkan. Dia menarik kekang kuda Yongqi. “Ayo cepat! Kita kembali untuk merebut barang-barang kita dan menghajar mereka! Setelah itu baru kita kembali bergabung dengan mereka!”

“Desa Daun Merah itu pasti sudah didatangi tentara! Kalau kita kembali, itu sama saja mengantar nyawa! Barang yang sudah hilang relakan saja!” tukas Erkang serius.

“Aku tidak rela!” seru Xiao Yanzi. “Yongqi! Kau mau menemaniku, tidak?”

“Erkang benar. Mana boleh kita kembali! Naiklah kembali ke kereta! Jangan cerewet!”

“Tidak bisa! Tidak bisa!” Xiao Yanzi menghentak-hentakkan kaki. “Kalau barang-barang itu tidak kembali, aku bisa mati saking kesalnya!”

Xiao Yanzi tak tahan lagi. Dia mengulurkan tangan. “Sini! Naiklah ke kudaku! Aku akan menemanimu merebut kembali barang-barang kita!”

Xiao Yanzi langsung kegirangan. “Xiao Jian! Kau baik sekali! Kau memang teman yang paliiiing baik!”

Xiao Jian menarik Xiao Yanzi naik ke atas kuda. “Kalian boleh jalan duluan! Kami pasti bisa menyusul! Aku bertanggung jawab atas keselamatan Xiao Yanzi! Hia….!”

Kuda Xiao Jian melesat pergi bersama Xiao Yanzi. Yongqi berteriak, “Xiao Yanzi! Baiklah aku ikut!”

Erkang buru-buru menahan Yongqi. “Kau jangan pergi! Karena itu akan membuat kita semakin tercerai berai. Kita menunggu saja di sini! Kungfu Xiao Jian amat bagus. dia pasti bisa melindungi Xiao Yanzi.”

Yongqi tampak kesal sekali.

***

Xiao Jian membawa Xiao Yanzi ke alamat yang diberitahukan pemilik penginapan Yuelai.

Sesampainya di sana, Xiao Yanzi berteriak: “Zhang Cun! Wei Wu! Cepat kembalikan barang-barang kami!”

Kedua juragan ayam itu keluar dan tampak kaget.

“Aiya! Kau ternyata! Barang apa yang harus dikembalikan? Semua uangku telah kau menangkan apa belum cukup?”

Xiao Yanzi maju ke depan. Ditangkapnya tangan Chang Cun dan Wei Wu lalu dibenturnya kepala keduanya. Sejurus kemudian, Xiao Jian mengambil alih. Xiao Yanzi masuk ke dalam dan mencari-cari.

“Buntalannya ada di sini!” Xiao Yanzi berteriak. “Dan aku juga menemukan dupa bius di sini! Akan kunyalakan lalu kutancapkan ke hidung mereka!”

“Ide bagus! Ini akan menjadi senjata makan tuan!”

Kedua pemilik ayam itu mulai ketakutan. “Ampun Pendekar! Ampun!”

“Dimana pundi uang kami? Cepat serahkan!” Xiao Jian bertanya galak.

“Akan kami ambilkan!” seru juragan ayam yang bernama Wei Wu. “Tapi tinggal dua. Yang lainnya sudah kami bagi-bagi.”

Xiao Yanzi merampas kedua pundi uangnya. Lalu dia menendang Wei Wu hingga roboh.

“Kurang ajar! Ternyata kalian telah membagi-bagi uang kami, ya? Aku akan betul-betul menjadikan kalian ayam sajen!”

“Pendekar! Dewi! Ampunilah nyawa kami! Hamba yang hina ini akan terus bersujud pada kalian! “

Tapi kedua juragan itu sudah mabuk asap hio. Tidak lama kemudian keduanya sudah terkapar karena teler.

Xiao Jian menarik pergi Xiao Yanzi. “Kita tak boleh kelamaan di sini! Yang penting kekesalan kita sudah terlampiaskan, itu sudah cukup!”

“Baiklah!” Xiao Yanzi menyahut.

Keduanya keluar dan segera menaiki kuda menyusul yang lainnya. Sementara para tentara semakin merajalela mondar-mandir di desa itu untuk menangkap mereka.

***

Erkang, Yongqi dan yang lainnya tidak kemana-mana. Mereka tetap menunggu sampai Xiao Yanzi dan Xiao Jian kembali bergabung bersama rombongan.

Xiao Yanzi kembali sambil tertawa-tawa. Dari jauh dia sudah melambai dari atas kuda, “Lihat! Aku berhasil mendapatkan kembali barang-barang serta sebagian uang kita!”

“Apakah kau berhasil menghajar mereka?” tanya Yongqi masam ketika Xiao Yanzi sudah turun dari kuda.

“Wah, pokoknya seru! Bajingan-bajingan itu hidungnya kutusuk dupa bius seperti ayam sajen!”

“Benarkah?”

“Benar!” Xiao Jian sama girangnya dengna Xiao Yanzi. “Xiao Yanzi punya cara unik membalas dendam. Aku sungguh kagum padanya. Sekarang mari kita melanjutkan perjalanan sebelum para tentara mengetahui keberadaan kita di sini!”

Mereka pun bersiap berangkat. Di dalam kereta kembali, Xiao Yanzi berkata penuh antusias. “Xiao Jian itu sangat hebat! Dia membantuku membalas dendam pada kedua juragan ayam itu!”

Ziwei menatap Xiao Yanzi dalam-dalam. “Xiao Yanzi, sebaiknya kau menjaga jarak dengan Xiao Jian.”

“Benar!” Jinshuo ikut nimbrung. “Tidakkah kau lihat Pangeran Kelima cemburu? Kau harus bisa menjaga perasaan Pangeran Kelima!”

Xiao Yanzi terpana. Dia sama sekali belum pernah memikirkan hal ini sebelumnya!

***

Jauh dari tempat Xiao Yanzi dan kawan-kawan berjalan, di Paviliun Shuofang, Kota Terlarang, burung nuri Xiao Yanzi mengoceh sepanjang hari,

“Salam sejahtera Putri! Salam sejahtera Putri!”

Mingyue, Caixia, Xiao Dengzi dan Xiao Cuozi mengelilinginya dan merasa sedih.

“Kedua Putri sudah pergi. Jinshuo, Pangeran Kelima dan Tuan Muda Fu juga… Paviliun Shuofang ini begitu sepi. Kaisar, Lao Foye dan Permaisuri tak pernah lagi kemari. Aku sungguh merindukan Putri dan yang lainnya,” kata Caixia.

“Kau jangan bicara begitu. Bisa-bisa aku menangis,” Mingyue mengusap matanya.

Tiba-tiba terdengar seruan kasim, “Kaisar datang!”

Seluruh dayang dan kasim Paviliun Shuofang berlutut dan memberi salam. Qianlong tiba dan heran melihat mereka semua berwajah muram.

“Kalian sedang apa?”

“Yang Mulia, kami sedang memberi makan nuri,” jawab Xiao Dengzi.

“Memberi makan nuri saja bisa membuat mata kalian semua memerah?”

“Baginda, kami memberi makan nuri sambil teringat pada kedua Putri. Makanya kami tak bisa menahan perasaan sedih,” jawab Caixia.

“Oh!” Qianlong terpana sesaat sambil menatap nuri itu. teringat olehnya saat nuri itu membuat keriburan di taman bunga istana.

“Nuri ini namanya si Brengsek, kan?”

“Dulunya memang bernama si Brengsek. Tapi kemudian Putri merubahnya menjadi Penipu Kecil!” Caixia menjawab.

“Brengsek… Penipu Kecil… Nuri peliharaan Xiao Yanzi ini persis sama seperti pemiliknya…,” gumam Qianlong.

Qianlong memandang ke segala penjuru Paviliun Shuofang. terasa begitu sepi. Bahkan rasanya seisi istana terasa amat dingin dan sunyi.

Qianlong teringat pada Ziwei dan Xiao Yanzi. Lalu dia merasa heran sendiri. Kedua gadis itu telah menipunya. Tapi mengapa dia malah merindukan mereka? mereka semua kini berada dimana? Apakah mereka sedang kesulitan sekarang?”

Ketika sedang melamun itu, di luar terdengar seruan kasim yang mengumumkan kedatangan Selir Ling.

Selir Ling masuk ke Paviliun Shuofang bersama seorang pejabat. Pejabat itu bermarga Chu. Dia mengucapkan salam dan Qianlong langsung menanyainya.

“Kalian sudah berhasil menemukan mereka?”

“Lapor Yang Mulia, mereka kini berada di pesisir Liuhe. Di desa Chengyi. Beberapa hari lalu mereka menyelamatkan seorang gadis yang akan dihukum bakar. Menurut saksi mata, mereka semua mirip dengan gambar kedua Putri, Pangeran Kelima dan Tuan Muda Fu. Hamba sudah mengutus orang-orang pilihan buat mengikuti mereka. tinggal menunggu titah Baginda berikutnya…”

“Aku ingin menangkap mereka hidup-hidup! Tidak boleh seorang pun terluka! Seluruh pesisir Liuhe harus digeledah! Tapi mereka harus ditangkap hidup-hidup! Mengerti?”

“Hamba mengerti!”

“Kuberitahu kalian sekali lagi! Kalian tak boleh melukai mereka sedikit pun! Mereka harus ditangkap hidup-hidup! Sekarang pergilah!”

Setelah pejabat Chu undur diri, Selir Ling berkata lembut.

“Yang Mulia, perintah Anda tadi untuk tidak melukai mereka sungguh membuatku terharu. Jika mereka benar-benar berhasil diringkus, bersediakan Paduka memaafkan mereka sekali lagi?”

Qianlong hanya bisa terdiam menatap Selir Ling.

***

Di Istana Kunning, Permaisuri dan Bibi Rong juga sudah mendengar perihal keberadaan Xiao Yanzi dan kawan-kawan.

“Jadi jejak mereka sudah ditmukan? Kenapa Kaisar menginginkan mereka ditangkap tanpa terluka sedikit pun? Bukankah dulu beliau sudah tak sudi mengampuni keduanya? Apa maksudnya Kaisar kini melunak?”

“Benar. Menurut pengamatan hamba, amarah Kaisar telah mereda. Beliau juga telah pasrah menghadapi masalah Selir Xiang. Mungkin sekarang beliau tengah merindukan kedua gadis itu. bagaimanapun juga, Pangeran Kelima adalah putranya. Hamba rasa, jika mereka semua kembali, mereka akan dibebaskan dari hukuman mati.”

“Dibebaskan dari hukuman mati?” Permaisuri tercenung. “Lekas panggil Palang kemari! Aku akan membicarakan masalah rahasia dengannya!”

“Baik, Yang Mulia!”

***

Malam itu rombongan Xiao Yanzi dan kawan-kawan sampai di daerah pegunungan yang berhutan-hutan.

Mereka merasa lelah dan dingin. Tapi tak bisa menemukan tempat melepas penat selain sebuah klenteng bobrok. Erkang dan Yongqi menyalakan obor memimpin rombongan masuk. Yang lainnya ikut di belakang mereka.

Suasana di klenteng itu begitu suram, menyeramkan dan mistis. Jinshuo berkata ketakutan, “Apakah kita benar-benar akan menginap disini? Tempat ini tampak sangat angker. Begitu menyeramkan. Aku akan tidur di kereta saja…”

“Aku juga!” Xiao Yanzi menanggapi.

“Jangan terlalu pilih-pilih!” Erkang berkata tegas. “Mana mungkin kalian bisa tidur di kereta dengan cuaca sedingin ini? Bagaimanapun di sini lebih baik karena bisa melindungi dari angin dan hujan. Di sana ada jerami. Mari tebarkan di lantai lalu tutupi dengan selimut!”

Liu Qing dan Liu Hong memindahkan jerami itu. tiba-tiba dari balik jerami muncul sosok kurus-kering. Rambutnya panjang tergerai sampai ke bahu. Tampak sangat misterius dan menyeramkan.

“Berani-beraninya kau…. Merebut barangku dan mengganggu istirahatku… Hu hu hu…”

Liu Hong terperanjat bukan kepalang. Dia langsung menjerit. “Hantu! Hantu!”

Para gadis lainnya juga menjerit histeris. Erkang mengedarkan obornya melihat berkeliling. Tampaklah sekelompok lelaki dan perempuan berambut terurai. Mereka berdiri dan berusara, “Hu… hu… hu….”

Kumpulan arwah-arwah itu menyeringai dan mengayunkan tangan mereka, berjalan mendekat. Para gadis benar-benar ketakutan hingga menjerit melengking.

“Jangan panik! Jangan lari!” seru Erkang. “Aku ingin melihat baik-baik seperti apa rupa hantu! Seumur hidup aku belum pernah melihatnya!”

“Aku juga!” Yongqi menimpali.

Erkang dan Yongqi tanpa gentar mendekati para hantu itu. Kelihatannya, para hantu itu takut mendekati api. Ketika Erkang hendak membakar rambut salah seorang di antaranya, hantu itu menghindar cepat lalu jatuh tergelincir.

“Aduh! Aduh! Kenapa kalian lebih galak dari kami, para hantu?”

Erkang menginjak dada si hantu sambil membentak, “Kau ini hantu apa? Cepat katakan! Atau kuinjak kau sampai mampus!”

Hantu itu langsung berseru panik. “Pendekar! Ampuni aku! Kami tak ada cara lain… kalau tidak berpura-pura jadi hantu, kami semua tak dapat hidup!”

“Ternyata kalian hantu gadungan!” tukas Liu Qing. “Jinshuo, jangan takut! Mereka cuma hantu-hantuan!”

“Nyalakan lebih banyak obor agar kita bisa melihat mereka dengan jelas!” kata Xiao Jian.

Ternyata di klenteng usang itu banyak obor yang tersampir di dinding. Mereka pun mulai menyalakan obor satu-satu. Tampaklah oleh mereka kalau arwah-arwah itu Cuma pengemis berpakaian kumal dengan wajah lusuh, tirus, terlihat mengenaskan. Mereka berlutut sambil bersujud,

“Para pendekar! Sudah empat hari kami tidak makan… kami hanyalah orang-orang tak berumah… Biasanya kami turun ke desa untuk mengemis di siang hari, malamnya berpura-pura jadi hantu. Kami benar-benar tak punya cara lain! Ampun…!”

Setelah mendengar perkataan si hantu jadi-jadian itu, barulah mereka semua paham. Rasa takut Xiao Yanzi berubah jadi iba dan simpati.

“Jadi kalian sudah tidak makan empat hari?”

Seorang ‘arwah’ wanita merangkak sambil menggendong anak kecil. “Benar! Udara begitu dingin dan anakku sakit. Nona, mohon belas kasihannya. Berilah kami sesuap makanan…”

Ziwei langsung berkata, “Jinshuo, lekas ambilkan cadangan makanan di kereta. Juga obat-obatan, pakaian dan selimut.”

“Baik,” Jinshuo segera keluar.

Para hantu itu kegirangan. Mereka bersujud terus-menerus.

“Dewa-Dewi penyelamat! Bodhisatwa yang hidup!”

Tak lama kemudian di dalam klenteng itu api unggun telah menyala. Mereka menanak nasi. Lauk kering diedarkan. Pakaian serta selimut dibagikan.

Xiao Yanzi mengambil pundit uang yang direbutnya dari penyabung ayam.

“Uang ini toh tadinya sudah dianggap hilang. Sekarang aku akan membagikannya pada kalian semua. Itu lebih baik daripada direbut oleh dua setan judi itu!”

Para pengemis itu lagi-lagi tak menyangka. Mereka terus-terusan bersujud sambil berseru, “Dewa-Dewi Penyelamat! Bodhisatwa yang hidup!”

***

Keesokan harinya mereka kembali melanjutkan perjalanan.

“Kita ini memang baik sekali. Sudah kesulitan masih bisa membantu orang-orang kelaparan seperti semalam. Kelihatannya sebelum sampai tujuan kita benar-benar sudah bokek!” keluh Erkang.

“Ya, sudahlah. Lagipula uang dan harta kan cuma benda mati. Siapa tahu dengan tak punya apa-apa kita justru lebih santai. Kita tak usah takut lagi dengan pencuri dan repot-repot mencarinya kembali,” sindir Yongqi.

Xiao Jian langsung merasa. Dia tertawa. “Soal kemarin itu anggaplah aku yang suka cari gara-gara. Kalaupun Xiao Yanzi tidak mau kembali ke sana, aku akan tetap pergi seorang diri.”

“Semuanya kan sudah selesai,” Erkang menegahi. “Lain kali kita harus selaras dalam pikiran dan tindakan. Jangan meninggalkan rombongan seenaknya saja!”

“Baiklah! Kita janji ya. Ini keputusan bersama,” kata Xiao Jian ceria sehingga mau tak mau Yongqi tertawa juga.

Tak lama kemudian, mereka tiba di celah lembah. Dimana-mana gunung karang menjulang tinggi.

Xiao Yanzi mengetuk-ngetuk atap kereta. “Berhenti! Berhenti!”

Mereka pun berhenti. “Kau kenapa lagi?” tanya Liu Qing.

Xiao Yanzi berlari ke balik sebuah batu. “Ada ‘urusan kecil’ yang mau kuselesaikan!”

“Kutemani kau!” Liu Hong ikut turun.

“Aku juga!” seru Jinshuo.

Tiba-tiba, dari balik batu karang muncul beberapa irang berpakaian hitam. Xiao Yanzi terkejut. Belum sempat bereaksi, orang-orang itu sudah menebarkan jaring ke atasnya. Xiao Yanzi kaget sekali. Dia tak sempat menghindar.

“Siapa kalian? Kenapa menjaringku? Kurang ajar! Cepat lepaskan aku! Toloooong….!!!”

Salah seorang yang berpakaian hitam memanggul Xiao Yanzi dan lari. Liu Hong yang melihatnya langsung berteriak, “Erkang! yongqi! Cepat! Xiao Yanzi diculik!”

Jinshuo yang hendak kembali ke kereta juga dicegat orang berpakaian hitam lain. Orang itu langsung memanggulnya dan kabur. Jinshuo pun menjerit-jerit, “Tolong…! Liu Qing! Liu Hong!”

Yang lainnya terperanjat. Erkang, Yongqi, Xiao Jian dan Liu Qing langsung memutuskan mengejar. Ziwei tertinggal sendirian di kereta.

Tiba-tiba beberapa orang berpakaian hitam menyandera kereta dan melarikannya.

Erkang menoleh. “Celaka! Ziwei sendirian di kereta!”

Kereta melesat cepat. Di dalamnya Ziwei berguncang-guncang. Dia menjerit ketakutan.

“Erkang! tolong aku!”

Erkang segera menuju ke kereta itu tanpa memedulikan keselamatannya sendiri. Dia melompat ke atas sais dan menjatuhkan kusirnya. Mereka jatuh ke tanah dan terlibat pertarungan.

Kereta terus melesat. Ziwei amat ketakutan. Pada satu titik kereta berguncang keras. Ziwei terlempar keluar. Dia jatuh ke lereng berbatu berguling-guling.

Erkang berteriak seperti kesetanan, “Ziweiiiii!!!”

***

Xiao Jian dan lainnya bertarung melawan segerombolan orang berbaju hitam.

Melihat kondisinya kurang menguntungkan, Xiao Jian berteriak keras,

“Xiao Yanzi dibawa ke kiri! Jinshuo dibawa ke kanan! Yongqi, kita mengejar Xiao Yanzi! Liu Qing, Liu Hong, kalian kejar Jinshuo!”

Xiao Jian berhasil melumpuhkan beberapa orang berbaju hitam itu. Di kejauhan dia mellihat Erkang yang berhasil menggapai Ziwei yang terlempar dari kereta. Xiao Jian berseru,

“Erkang! Nanti kita semua ketemu lagi di Desa Sungai Putih di depan sana! Tahu, kan?”

Xiao Jian dan Yongqi pun pergi mengejar Xiao Yanzi. Sementara Liu Qing dan Liu Hong mengejar Jinshuo.

***

Erkang menggendong Ziwei yang terpejam. Wajah gadis itu pucat. Di keningnya ada benjolan besar.

“Ziwei! Ziwei!” panggil Erkang.

Ziwei membuka mata sejenak memandang Erkang. “Xiao Yanzi… Jinshuo…, apakah mereka sudah kembali?”

“Ah, terima kasih, Tuhan! Kukira…” Erkang menghembuskan napas. “Jangan khawatir… Ada aku! Nanti aku akan memeriksa keadaanmu.”

***

Xiao Yanzi dipanggul sambil berteriak-teriak dari balik jala yang membungkusnya.

“Kalian dari mana? Dasar bedebah! Kalian memakai cara licik! Lepaskan aku lalu kita bertarung secara jantan!”

Orang itu sama sekali tidak peduli. Dia terus berlari.

Xiao Yanzi kesal bukan main. Dia menggigit bahu orag itu sekeras-kerasnya.

“Aduh! Aduh!”

“Cepat lepaskan aku! Kalau kau tak mau, bisa-bisa aku mengencingimu!”

Orang berbaju hitam itu terkejut. “”Kau mau apa?”

“Buang air kecil, bodoh! Tadi itu kan aku pergi ke belakang batu besar buat buang air kecil. kau malah memanggulku pergi. Sekarang aku sudah tidak tahan! Apa boleh buat… aku kencing sekarang saja…”

Orang berbaju hitam itu secepatnya menghempas Xiao Yanzi ke tanah. Ketika Xiao Yanzi menengadah, dilihatnya sekelompok orang berbaju hitam mengerumuninya. Seorang pejabat memberi hormat padanya.

“Salam sejahtera, Puteri Huanzhu! Hamba Li Desheng, menghadap Tuan Putri!”

Li Desheng berarti Li yang mendapat kemenangan. Xiao Yanzi melotot kepada Pejabat Li dan berteriak penuh kemarahan, “Kalian berani menjala dan memanggulku? Benar-benar perbuatan tercemar! Begitu pulang ke istana nanti aku pasti akan melapor pada Huang Ama! Akan kurubah namamu dari Li Desheng menjadi Li Dabai – Li yang kalah telak!”

Pejabat Li menghormat Xiao Yanzi sekali lagi. “Mohon Tuan Putri jangan marah! Kami hanya menjalankan tugas. Silakan Putri naik ke kereta!”

Beberapa orang melepas jala Xiao Yanzi dan menggiringnya ke kereta yang muncul dari celah pegunungan.

Wajah Xiao Yanzi merah padam. “Tunggu! Di kereta ini ada jambannya tidak?”

“Jamban?”

“Kalau tidak ada jambannya, aku mau ke hutan sebelah sana sebentar dan kalian semua harus menyingkir dulu!”

Pejabat Li langsung mengerti. “Di atas kereta ada jamban. Silakan Tuan Putri buang air kecil di dalam kereta.”

Xiao Yanzi gusar sekali. “Kalian semua menyingkit! Jangan mengintip! Bagaimanapun, aku ini seorang Putri! Yang berani intip akan kucongkel matanya!”

Pejabat Li pusing tujuh keliling. Dia akhirnya memerintahkan seluruh anak buahnya, “Kalian berjaga di luar kereta saja. Harap Tuan Putri jangan mencari perkara. Jumlah kami banyak. Putri tak akan menang jika melawan kami!”

Xiao Yanzi naik ke atas kereta. Orang-orang berbaju hitam mengepung kereta. Terdengar suara berisik dari dalam kereta. Orang-orang itu terus siaga memusatkan perhatian.

Tiba-tiba, brak! Pintu kereta terbuka dan Xiao Yanzi meloncat keluar.

Orang-orang berbaju hitam itu lebih sigap. Mereka berhasil menangkap Xiao Yanzi. Pejabat Li membungkuk dan berkata, “Putri, sebaiknya Anda tak melawan lagi. Silakan kembali ke kereta!”

Xiao Yanzi kesal sekali sekaligus tak berdaya.

***

Sementara itu, nasib Jinshuo masih tak menentu.

Dia dipanggul orang berpakaian hitam yang membawanya entah sudah berapa jauh. Jinshuo tak henti-hentinya berseru,

“Lepaskan aku! Kau mau membawaku ke mana? Aku mau kembali bersama Nona!”

“Kau ini Putri Huanzhu atau Putri Ziwei?” tanya orang berbaju hitam.

“Bukan keduanya! Aku Jinshuo!”

“Aku tak peduli! Yang penting kuculik kau dulu!”

Orang berbaju hitam it uterus memanggul Jinshuo hingga sampai di hadapan seorang pejabat dengan sebarisan pasukan.

Orang berbaju hitam itu menghempaskan Jinshuo. “Pejabat Qin! Aku sudah menculik Putri!”

Pejabat Qin menatap Jinshuo. Dia pun marah sekali. “Putri apaan? Dia bukan Putri!”

Jinshuo buru-buru berujar, “Aku bukan Putri! Aku hanya pembantu! Lepaskan aku!”

“Meski bukan Putri, kau juga pelarian! Lekas borgol tangan dan kakinya!”

Sekonyong-konyong Liu Qing dan Liu Hong muncul dari balik karang. Mereka melompat sambil menggenggam belati. Liu Qing berhasil menyandera Pejabat Qin dan menempelkan belati ke leher pejabat itu.

“Lepaskan Jinshuo! Kalau tidak, kubunuh pejabat ini!”

Pejabat Qin buru-buru berteriak kepada anak buahnya, “Kalian jangan bertindak sembarangan!”

Orang-orang Pejabat Li hanya bisa terpana. Liu Hong segera menarik Jinshuo pergi. Liu Qing masih terus menyandera Pejabat Qin.

“Maaf, kami harus mengajak Anda! Kalau keadaannya sudah aman, aku akan melepaskan Anda!”

Mereka pun berlari. Diam-diam, seorang prajurit terlatih mengawasi mereka. Dia memanfaatkan situasi dan dengan sigap melompat menerpa Liu Qing hingga terjatuh.

Pejabat Qin segera melepaskan diri dari Liu Qing. “Bunuh mereka!”

Liu Qing dan Liu Hong langsung melayang ke depan dan bertarung dengan beberapa prajurit. Salah seorang prajurit menangkap Jinshuo. Liu Qing menebaskan belatinya. Prajurit itu tersentak kesakitan dan membuang Jinshuo ke samping – ke jurang yang terjal. Jinshuo pun tergelincir jatuh ke jurang.

“Aaah!’ Jinshuo menjerit keras.

Liu Qing dan Liu Hong ikut berteriak, “Jinshuo! Jinshuo!”

Secara spontan, Liu Qing melompat ke dalam jurang. Liu Hong mengikutinya.

Jinshuo mendarat di rumpun tanaman perdu. Melihat Liu Qing dan Liu Hong dia berkata serak, “Aku di sini! Tapi aku tak bisa bergerak!”

“Kami datang!” Liu Qing membalas. Tak berapa lama, Liu Qing dan Liu Hong telah tiba. “Kepalamu terbentur? Mana yang terasa sakit?”

“Kita angkat saja dia. Aku khawatir orang-orang itu mengejar kita sampai ke bawah sini!” kata Liu Hong.

Mereka mengangkat Jinshuo. Tiba-tiba gadis itu menjerit kesakitan. “Kaki kiriku! Sakit sekali…”

Liu Qing menunduk dan memeriksa kaki Jinshuo. “Wah, bisa-bisa sendinya bergeser atau tulangnya patah…”

“Kalau begitu, bagaimana ini?” tanya Liu Hong.

“Liu Hong, kau bantu aku menaikkannya ke pundakku! Aku akan memanggulnya. Kita tak boleh terlalu lama di sini!”

Liu Hong memegang Jinshuo dan membantu Liu Qing untuk memanggulnya. Mereka pun meninggalkan tempat itu melesat masuk ke dalam hutan.

Mereka terus berjalan sampai hari agak sore. Akhirnya terlihat sebuah rumah petani di celah bukit. Mereka pun menghampiri rumah itu untuk menumpang menginap.

Liu Hong memberi setael uang perak pada nyonya rumah. “Kami ingin menginap di rumah Anda. Tolong sediakan sebotol arak, gunting, selembar pakaian bersih dan kain perca. Adik kami jatuh. Dia harus segera diobati. Kami juga minta tolong dibuatkan makanan. Jika ada yang mencari kami, katakan kalian tak pernah melihat kami, mengerti?”

Si nyonya rumah tergiur melihat uang perak itu. “Ada, ada! Kalian ingin apa pun akan kami sediakan!” sahut si nyonya rumah dengna gembira.

Jinshuo telah berbaring di ranjang. Wajahnya pucat dan berkeringat dingin. Liu Qing berkata padanya, “Tabahkan dirimu. Aku biasa mengobati luka semacam ini. Kita lihat apakah aku bisa mengobatimu juga?”

Liu Hong dengan sigap menggunting pipa celana Jinshuo dan terlihatnya pergelangan kaki kirinya yang bengkak sekali.

Jinshuo berteriak kesakitan sewaktu Liu Qing baru meraba kakinya. “Jangan sentuh disana! Rasanya sakit sekali!”

“Untunglah bukan tulang yang patah,” Liu Qing menghembuskan napas. “Hanya persendiannya lepas. Aku harus mengembalikannya ke tempat semula.”

“Ca… caranya?” Jinshuo ketakutan.

“Kau tak usah tahu caranya. Yang penting tahan sebentar lalu selesai. Aku akan melakukannya dengna cepat.”

Liu Hong menuang arak ke kaki Jinshuo. “Percayalah pada Liu Qing. Dia dulu bahkan pernah membantu orang menyambung tulang.”

Liu Qing memberi aba-aba kepada Liu Hong, “Peluk dia. Jangan sampai dia bergerak-gerak.”

Liu Hong memeluk Jinshuo. Sementara itu, Liu Qing dengan sigap menarik kaki Jinshuo sekuat tenaga.

Seketika itu juga Jinshuo menjerit memilukan.

***

Malam itu, Xiao Yanzi dibawa kembali oleh Pejabat Li ke Desa Daun Merah.

Mereka menginap di sebuah penginapan. Kaki-tangan Xiao Yanzi diikat supaya dia tidak lari.

“Pejabat Li! Aku janji tak akan melarikan diri lagi! Jagoanmu begini banyak mengawasiku. Mana mungkin aku bisa meloloskan diri? lebih baik lepaskan saja ikatanku. Rasanya sakit kalau diikat terus seperti ini…”

“Kami terpaksa melakukannya. Aku tak percaya lagi dengan ucapanmu,” Pejabat Li memberi perintah kepada anak buahnya, “Awasi dia baik-baik!”

Xiao Yanzi berteriak kesal. “Pejabat Li! Kalau Huang Ama sampai tahu kau mengikatku seperti sekarang, tidak memperbolehkanku makan, minum, tidur dank e kamar kecil…”

Pejabat Li terpengarah. “Mana pernah aku tidak memperbolehkanmu makan dan minum? Tadi kan kau baru saja makan? Dan siapa bilang aku tak memperbolehkanmu ke kamar kecil?”

Xiao Yanzi terus saja berdebat. “Tapi kalau kau mengikatku begini, bagaimana aku bisa tidur? Coba kau ikat tangan dan kakimu dan rasakan sendiri sakitnya! Kau bukan saja menyakitiku, tapi jufa telah mencemarkan kehormatanku!”

Pejabat Li pusing tujuh keliling. “Baiklah! Lepaskan ikatannya. Tapi dia harus diawasi dengan ketat supaya tidak kabur!”

Beberapa orang melepaskan ikatan tangan dan kaki Xiao Yanzi. Xiao Yanzi meregangkan tubuh dan langsung melompat menuju jendela.

Salah seorang pengawal berhasil menangkapnya dan memukul tengkuknya hingga roboh.

“Aku bukan Pejabat Li yang sudi mendengar omong kosongmu!” bentak orang itu sambil mengikat tangan dan kaki Xiao Yanzi kembali.

Xiao Yanzi berteriak sekeras-kerasnya. “Pejabat Li…. Anak buahmu memukulku….”

Pengawal itu langsung menyumpal mulut Xiao Yanzi dengan sapu tangan. Xiao Yanzi tak bisa lagi bicara. dia hanya bisa meronta-ronta di tempat tidur.

Sementara itu, di luar Xiao Jian dan Yongqi sudah membuntuti Xiao Yanzi sejak tadi. Tapi mereka belum bisa langsung masuk menyelamatkan Xiao Yanzi.

“Aih! Benar-benar tidak menguntungkan! Jumlah mereka jauh lebih banyak. Kita benar-benar kesulitan untuk menolong Xiao Yanzi!”

Xiao Jian memutar otak. “Hei, bukankah kita sekarang berada di Desa Daun Merah?”

“Lalu?”

“Walau dupa pembius ada barang yang amat kubenci, tapi karena situasi sudah genting, mari kita cari kedua ‘tempat dupa’ itu untuk meminjam barang mereka!”

***

Zhang Cun dan Wei Wu lagi-lagi ketiban sial.

Tengah malam begitu, pintu mereka didobrak orang. Xiao Jian dann Yongqi berdiri di depan pintu.

“Halo Zhang Cun! Wei Wu! Kawan lama kalian datang lagi!”

Kedua juragan ayam yang telah tertidur itu langsung bangun dan lari keluar dengan langkah terseok-seok. Begitu melihat Xiao Jian dan Yongqi, mereka jatuh berlutut di tanah dan gemetaran.

“Aduh! Mengapa kalian datang lagi?”

“Keluarkan semua dupa pembius kalian dan perlihatkan pada kami!” perintah Yongqi.

“Tidak ada.. sudah tidak ada lagi… Tempo hari sudah habis dipakai!”

“Bohong! Kalian mau ambil atau tidak? Kalau kucari sendiri dan kutemukan, akan kutancapkan dupa-dupa itu di mata kalian!” bentak Xiao Jian.

“Baik! Baik! Akan kuambilkan!”

Zhang Cun dan Wei Wu merangkak di bawah lemari mencari sekotak dupa pembius.

“Semuanya sudah ada di sini! Tak ada yang lainnya lagi!”

Yongqi merebut kotak itu. “Denga ya! Mulai sekarang kalian tak boleh menipu lagi! Juga tak boleh menggunakan dupa pembius! Lain kali kalau aku mendapati kalian memakai barang beginian lagi, seluruh tubuh kalian akan kupasangi dupa pembius!”

Yongqi dan Xiao Jian pun membawa kotak itu dan pergi tanpa jejak.

***

Yongqi dan Xiao Jian memakai dupa pembius untuk melelapkan Pejabat Li dan anak buahnya dalam buaian tidur.

Tentu saja Xiao Yanzi juga kena dampaknya. Dia tidur lelap sekali. Yongqi dan Xiao Jian dengan mudah memasuki kamar. Mereka melepaskan ikatan Xiao Yanzi dan membawa Xiao Yanzi pergi.

***

Di desa Sungai Putih, Erkang dan Ziwei mulai menghadapi ujian berat.

Setibanya di desa Sungai Putih, Erkang telah memeriksakan Ziwei pada tabib. Tabib belum bisa memastikan diagnosa Ziwei. Tapi sementara, Tabib menduga ada gumpalan darah di kepala Ziwei akibat terantuk cukup keras.

Ziwei dan Erkang malam itu menginap di sebuah penginapan. Ziwei tertidur usai minum obat dan tidak bangun hingga subuh menjelang.

Lilin-lilin sudah pupus. Cahaya fajar perlahan-lahan merembes masuk lewat jendela. Erkang berjaga semalaman di samping Ziwei. Dan ketika gadis itu bangun, Erkang dengan sigap menghampirinya.

“Ziwei? Bagaimana perasaanmu? Sudah agak baikan? Ayo buka matamu. Apa kau bisa melihat sesuatu?”

Ziwei membuka matanya. “Apakah hari sudah terang?”

“Ya! Sudah pagi. Sebentar Tabib akan datang lagi untuk memeriksamu. Kita tunggu diagnosanya hari ini untuk tahu apa yang terjadi padamu…”

Ziwei meraba-raba turun dari tempat tidur. “Aku mau ke jendela… Aku mau melihat matahari terbit.”

“Mari kubantu!”

“Tak usah!”

“Baiklah… Eh, jendelanya di sebelah kirimu…”

Dengan susah payah Ziwei akhirnya sampai di jendela. Dia membukanya tapi sungguh! Dia tidak melihat cahaya apapun! Bahkan sejak bangun tadi!

“Aku tak bisa melihat sinar matahari!” pekik Ziwei. “Semuanya hitam! Kenapa? Kenapa bisa begini?”

Erkang terkejut. Bergegas menghampiri Ziwei. “Tidak mungkin! Aku akan segera memanggil tabib itu kemari untuk memeriksa ulang! Kau hanya terlalu tegang. Jangan emosi. Asal kau beristirahat dengan baik, keadaanmu pasti normal kembali.”

Tak lama, Tabib datang dan memeriksa Ziwei. Usai memeriksa, dia berkata pada Erkang, “Mari kita bicara di luar saja!”

Ziwei langsung memotong. “Tidak perlu bicara di lluar! Di sini saja! Bagaimana? Aku sekarang buta, bukan? Dan ini akan permanent! Katakan! Jangan menyembunyikannya dariku!”

Tabib menatap Erkang meminta persetujuannya. Erkang mengangguk. Tabib pun berkata terus terang,

“Kalian sebaiknya mencari tabib spesial mata di kota besar. Aku bukan tabib ahli. Nona ini kehilangan penglihatannya. Siapa tahu ada hubungan dengan pendarahan akibat benturan kemarin. Matanya sepertinya tak bermasalah. Barangkali setelah gumpalan darah itu hilang, dia dapat melihat lagi. Barangkali juga kondisi psikologinya memperngaruhi mata. Apakah akhir-akhir ini Nona merasa tertekan?”

“Kalau masalahnya memang di psikologinya, apakah penglihatannya bisa pulih?” tanya Erkang.

“Aku tidak tahu. Mungkin begitu. Aku bukan ahllinya. Kalian cari saja tabib spesial yang lain!”

Tabib mengemas barang-barangnya lalu pergi. Ziwei mendengar semua tadi. Kepalanya pening dan dia ambruk.

Erkang segera menghampiri dan memeluknya. Tapi Ziwei mendorongnya menjauh sekuat tenaga.

“Tidak! Aku tidak mau seperti ini! Aku tidak boleh seperti ini!”

Erkang berkata memelas, “Ziwei! Kumohon kau jangan menolakku untuk membantumu! Dalam kondisi sesulit apapun, kita harus menghadapinya bersama-sama! Kalau kau putus asa begini, aku bisa ikut terpuruk juga! Kumohon tegarlah untukku!”

Air mata Ziwei menetes. “Aku bukan siapa-siapa lagi! Aku hanya akan menjadi beban bagimu! Erkang! kumohon kau berjanjilah padaku! Berjanjilah!”

“Baik! Baik! Berjanji soal apa?”

“Lupakan aku! Kembalilah ke Beijing! Minta pada Huang Ama untuk memaafkan kita lalu… menikahlah dengan Qing’er!”

Erkang terkejut bukan kepalang. Dia mungur beberapa langkah.

Ziwei meluncur turun. Dia memeluk kepalanya dan meringkuk dalam-dalam.

***

Sementara itu, Xiao Jian dan Yongqi membawa Xiao Yanzi sampai pada sebuah suangai kecil.

“Mengapa dia tidur selelap ini? Aku sudah memanggulnya cukup lama tapi dia belum bangun-bangun juga! Mungkinkah dia kenapa-napa setelah tekena dua kali dupa pembius?”

“tirinkan dia. Kita basahi wajahnya dengan air!” kata Xiao Jian.

Xiao Jian mengambil air dan membasahi wajah Xiao Yanzi. Yongqi segera menepuk-nepuk pipi gadis itu. “Xiao Yanzi… bangun!”

Xiao Yanzi tiba-tiba terbangun. Dia langsung melayangkan pukulan ke muka Yongqi sambil berteriak, “Kurang ajar! Kau berani menyiramku dengna air dingin? Kupukul kau sampai mati!”

Yongqi tak sempat menghindar. Pukulan Xiao Yanzi mengenainya telak.

Xiao yanzi membuka matanya lebar-lebar. “Oh! Kalian rupanya! Jadi kalian berhasil menyelamatkan aku, ya?”

Yongqi meringis sambil memegang hidungnya. “Aiya! Sudah susah-susah memanggulmu sampai capek tapi kau malah menonjokku seperti tadi!”

Xiao Yanzi langsung merasa malu. Dengan penuh penyesalan dia bertanya, “Maaf… Coba kulihat! Berdarah, tidak?”

Yongqi serta-merta tertawa. “Mana mungkin aku selemah itu terhadap pukulan linglungmu?”

Xiao Jian tak bisa menahan diri untuk berkomentar, “Xiao Yanzi ini cocok dijuluki Pendekar Wanita Linglung! Jurus kungfunya bisa disebut Jurus Kungfu Linglung!”

“Yang paling kukagumi adalah hoki linglungnya itu! setiap kali ada bencana, dia selalu bisa lolos!” Yongqi menimpali.

“Baiklah! Mentang-mentang kalian sudah menolongku, jadi bisa seenaknya mengejekku!” Xiao Yanzi kesal.

Yongqi menahan tawanya. “Baik. Ayo kita segera bergabung dengan yang lainnya!”

“Kita sekarang ada dimana?”

“Di desa Daun Merah. Setelah menyeberangi gunnung ini, kita akan sampai ke Desa Sungai Putih! Kita sudah tidak punya kuda, jadi hanya bisa mengandalkan kekuatan kaki saja. Ayo berangkat!”

“Mana yang lain-lainnya? Ziwei? Jinshuo?”

Yongqi menjawab, “Mudah-mudahan semuanya sudah sampai di Desa Sungai Putih.”

***

Dengan petunjuk –petunjuk minim yang ditinggalkan Erkang, Xiao Yanzi, Xiao Jian dan Yongqi berhasil menemukan penginapan tempat Erkang dan Ziwei menginap.

Tapi begitu mereka masuk, ketiganya langsung merasa ada atmosfer aneh antara Ziwei dan Erkang. keduanya saling berjauhan dan tak bicara satu sama lain.

“Kalian habis bertengkar?” tanya Yongqi hati-hati.

Erkang menjawab letih, “Kemarin Ziwei terlempar dari kereta. Kepalanya terantuk. Dan dia sekarang tak bisa melihat!”

“Tak bisa melihat?” semuanya terkejut.

“Kata Tabib, mungkin bisa sembuh. Mungkin juga tidak. Ziwei sangat terpukul. Aku juga sudah nyaris putus asa…”

Xiao Yanzi menghambur ke sisi Ziwei. “Ziwei! Matamu pasti akan baik-baik saja! Jangan takut! Tabib itu mungkin tak bisa diandalkan. Kita akan cari tabib lain!”

“Tak perlu… Setelah kupikir-pikir, aku akan mengajaknya kembali ke Beijing,” kata Erkang.

“Kembali ke Beijing?” seru Yongqi. “Itu sama saja dengan menjebloskan diri ke perangkap!”

“Tapi… hanya di Beijing yang memiliki banyak tabib ahli!”

Xiao Jian menenangkan diri. “Kalian tak perlu berdebat. Di dunia ini, bukan hanya Beijing yang memiliki banyak tabib handal. Menurutku, kita mesti pergi ke Luoyang. Di Luoyang pasti ada tabib pandai. Lagipula, kalau kita bersembunyi di tempat terpencil cenderung agak rawan. Tapi kalau di kota sebesar dan seramai Luoyang, kita pasti sulit ditemukan.”

Xiao Yanzi mengangguk-angguk dan menggenggam Ziwei erat-erat. “Kita akan ke Luoyang! Di sana pasti ada tabib untuk menyembuhkan penyakitmu! Kau jangan sedih. Kau bukan hanya memiliki Erkang, tapi kami juga…”

Xiao Yanzi tiba-tiba menyadari kalau mereka cuma berlima.

“Mana Jinshuo, Liu Qing dan Liu Hong?”

Erkang menggeleng. Xiao Yanzi, Yongqi dan Xiao Jian saling bertukar pandang dan hanya bisa diam.

Bersambung

[Sinopsis Novel] Putri Huan Zhu/ Huan Zhu Ge Ge II Bagian 10


Judul Asli : Huan Zhu Ge Ge II-4: Lang Yi Tian Ya
Pengarang : Chiung Yao (Qiong Yao)
Penerbit : Crown Publishing Co., Taipei – Thaiwan.

Judul Bahasa Indonesia: Putri Huan Zhu II-3: Berlari Ke Batas Cakrawala
Alih bahasa : Pangesti A. Bernardus (koordinator), Yasmin Kania Dewi, Tutut Bintoro, Rosi LS
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, April 2000

Cerita Sebelumnya:

Konspirasi menghilangnya Selir Xiang telah terungkap. Qianlong marah besar. Ditambah kesaksian palsu dari kerabat Ziwei, membuat Kaisar semakin dingin menghadapi Xiao Yanzi dan kawan-kawan. Hukuman mati dijatuhkan. Namun, eksekusi sebenarnya bisa dibatalkan seandainya – tidak datang kabar kalau Erkang telah menghilang di penjara.

X

Massa yang larut dalam emosi masih berkerumun di sepanjang jalan. Mereka terus-terus berteriak, “Putri takkan mati! Mereka panjang umur!”

Arak-arak kereta tawanan sejak tadi berhenti. Petugas eksekusi sengaja mengulur waktu untuk menunggu titah selanjutnya dari Qianlong.

Di atas kereta, Xiao Yanzi melambaikan tangan antusias kepada rakyat. Sementara Ziwei mengedarkan pandangan. Tiba-tiba, dia melihat Erkang, Yongqi, Liu Qing dan Liu Hong di tengah kerumunan massa. Ziwei tersentak. Pandangannya bertautan dengan Erkang. Untuk sesaat, bagi keduanya, kegaduhan di sekeliling mereka seolah sirna.

Semua menunggu. Akhirnya terdengar derap langkah kuda mendekat. Pengawal yang tadi perg melapor pada Kaisar telah kembali sambil mengangkat tinggi-tinggi bendera kuning.

Massa seketika terdiam.

Pengawal itu menarik tali kekang kudanya agar berhenti. Setelah itu dia berteriak lantang, “Yang Mulia Kaisar menitahkan agar segera mengeksekusi kedua tawanan! Tak ada ampunan!”

Semua terhenyak. Ziwei dan Xiao Yanzi kesekian kalinya tersentak. Mendadak, tempat itu jadi senyap.

Petugas eksekusi memberi aba-aba untuk melanjutkan perjalanan. “Ayo! Langsung ke panggung eksekusi! Jangan tunda lagi!”

Arak-arakan kembali bergerak. Massa berubah gempar dan berteriak bergemuruh. “PUtri jangan dihukum mati! Ampuni kedua Putri!”

Mengertilah Xiao Yanzi. Harapan terakhir pupus sudah. Digenggamnya tangan Ziwei erat-erat.

Massa kembali maju dan mendesak kereta tawanan. Prajurit mencoba menghalangi mereka dengan pentungan kayu. Tapi massa mulai beringas. Bahkan anak-anak ikut berlari mengejar kereta tawanan.

“Anak-anak siapa ini? Lekas minggir! Jangan menghalangi kereta eksekusi!”

Anak-anak itu tetap tak memedulikan seruan pengawal. Mereka terus merangsek sambil berteriak-teriak. Ziwei sampai harus berteriak keras,

“Mohon jangan lukai mereka! mereka cuma anak-anak!”

Kehebohan yang ditimbulkan anak-anak itu membuat suasana semakin kacau. Massa pun bergerak semakin maju sambil menjerit.

Erkang dan yang lainnya sambil berpandangan. “Kalau bukan sekarang bertindak, kapan lagi?” Keempatnya lalu mengikat kain hitam kuntuk menyembunyikan wajah mereka.

Erkang melayang dan melompat kea rah kereta tawanan. Yongqi, Liu Qing dan Liu Hong juga menerjang. Keempatnya menghunus senjata – dengan sigap merobohkan beberapa pengawal. Para pengawal pun berteriak keras, “Ada yang membajak kereta tawanan! Ada yang membajak kereta tawanan!”

Para pengawal pun terlibat pertarungan dengan Erkang cs. Massa yang menyaksikan berseru membahana. “Ayo hantam! Selamatkan Putri! Hajar saja! Selamatkan Putri!”

Kehebohan dahsyat menyelimuti segenap penjuru. Erkang dan yang lainnya bertarung mati-matian. Lalu, mendadak dua orang pria berpakaian hitam menerjang kereta tawanan. Kedua orang itu bersenjatakan pedang. Mereka bergerak cepat dan serentak. Dalam sekejap, beberapa prajurit terluka dan formasi mereka kocar-kacir.

Kedua pria berpakaian hitam itu berhasil mencapai kereta. Dengan dua kali kibasan pedang, rantai yang membelenggu tangan serta kaki Ziwei dan Xiao Yanzi terputus.

Tatapan Xiao Yanzi dan Ziwei bertemu dengan pandangan dewa penyelamat mereka. Serempak keduanya berseru, “Xiao Jian! Meng Dan!”

Kedua penyelamat itu memang Xiao Jian dan Meng Dan. Masing-masing menarik Xiao Yanzi dan Ziwei lalu melayang pergi.

Erkang dan yang lainnya terkejut menyaksikan adegan ini. Erkang segera berteriak, “Jangan teruskan lagi! Semuanya mundur!”

Mereka pun menyusul Xiao Jian dan Meng Dan.

***

Di tengah hangar-bingar massa dan prajurit yang mencoba mengejar mereka, Xiao Jian dan Meng Dan melarikann Ziwei serta Xiao Yanzi sampai ke sebuah hutan. Erkang, Yongqi, Liu Qing dan Liu Hong menyusul dengan cepat.

Di tengah hutan itu tampak sebuah kereta kuda. Seorang petani bercaping tengah duduk di kusir.

Meng Dan berseru pada Erkang dan yang lainnya, “Lekas naik ke dalam kereta! Kusirnya Lao Ou, kawan kita juga!”

Pintu kereta terbuka. Xiao Jian dan Meng Dan membimbing Xiao Yanzi serta Ziwei naik. Erkang, Yongqi, Liu Qing dan Liu Hong menyusulnya.

Lao Ou segera melarikan keretanya secepat kilat. “Hiya! Hiya!”

Di dalam kereta, semuanya masih belum sepenuhnya sadar. Mereka saling menata dengan kaget bercampur gembira. Mereka nyaris ta percaya.

“Siapa yang menyapkan kereta ini? Pikirannya sungguh panjang sekali!” tanya Erkang.

“Siapa lagi kalau bukan Xiao Jian!” jawab Meng Dan. “Sejak Graha Huipin digeledah, dia sudah mengatur siasat untuk menyelamatkan kalian!”

Xiao Yanzi meraba kepalanya. “Wah, kepalaku tak jadi dipancung! Ziwei! Kita belum mati!” dia mengguncang lengan Ziwei sekuatnya. “Kita masih hidup! Semua orang berdatangan menyelamatkan kita!”

Mata Ziwei bersinar. “Benar! Begitu banyak kejutan di saat-saat terakhir. Aku nyaris tak sanggup mempercayainya!”

“Sekarang kita akan kemana?” tanya Erkang.

“Ke tempat yang aman!” Xiao Jian tersenyum simpul.

“Meng Dan dan Xiao Jian datang memberi pertolongan sungguh di luar dugaan! Siapa yang bisa menjelaskan padaku, bagaimana kejadiannya?” tanya Liu Qing.

“Ceritanya panjang. Nanti pelan-pelan akan diceritakan.”

“Koper kami masih ketinggalan di Gang Mao’er! Bagaimana kita pergi mengambilnya?”
tanya Liu Hong.

“Oh, ternyata kalian juga sudah punya persiapan, ya? Tapi jangan sekarang mengambilnya. Tunggu sampai situasi lebih tenang baru bergerak.”

Erkang menatap Xiao Jian. “Xiao Jian! Kau ternyata memang pendekar yang menyamar! Kemunculanmu tadi sungguh mengaetkan! Ini benar-benar kejutan besar!”

“Kalianlah yang sebetulnya mengejutan aku!” ujar Xiao Jian sambil tertawa. Kedua putri: Xiao Yanzi dan Ziwei – sungguh membuat banyak orang terkagum-kagum. Mereka sungguh hebat!”

Wajah Ziwei berubah muram. “Jangan lagi menyebut soal Putri. Gelar itu telah menjadi masa lalu dan kenangan.”

Erkang menggenggam tangna Ziwei. “Yang tinggal kenangan bukan hanya gelar Putri. Tapi juga gelar Pangeran Kelima, gelar Selir Hanxiang dan posisiku selaku bangsawan pengawal kepercayaan Kaisar! Begitu juga dengan Graha Huipin Liu Qing dan Liu Hong. Xinjiang bagi Meng Dan, dan Xiao Jian… tentunya dia juga punya masa lalu!”

Xiao Jian terbahak. “Benar! Kehidupan tanpa masa lalu pasti membosankan! Jika ada arak, aku pasti sudah bersulang dengan kalian! Untuk masa lalu dan masa depan kita semua. Di dunia ada dua jenis manusia: yang menciptakan dan menyaksikan jalannya sejarah. Aku sangat beruntung mengenal begitu banyak manusia pencipta sejarah!”

Yongqi memandang keluar jendela. Ditatapnya pepohonan yang tertinggal di belakang. Masa-masanya sebagai Pangeran berakhir sudah. Mau tak mau dia merasa sedih.

“Mulai sekarang kita ucapkan selamat tinggal oada kehidupan kita yang lama!”

Erkang juga menyadari masa lalunya yang berkarir gemilang telah berakhir saat ini. “Taka pa berpisah dengan masa lalu. Karena dengan begitu, barulah kita bisa menciptakan masa depan.”

“Hidup masa depan!” seru Xiao Yanzi kegirangan.

Tak ada lagi kecemasan. Tak ada lagi yang patut disembunyikan. Sementara waktu ini…

***

Kereta kuda melesat cepat. Mereka sampai ke sebuah pedesaan. Setelah menempuh perjalanan beberapa lama, sampailah kereta ke sebuh rumah pertanian.

Di halaman rumah itu tampak beberapa wanita petani menjemur gandum. Kereta berderap masuk, dua diantara wanita petani itu bergegas menghampiri.

Lao Ou turun dari keretadan membantu satu per satu turun. Xiao Jian menjelaskan, “Ini rumah Lao Ou. Sementara kita bersembunyi di sini. Di sini cukup aman!”

Salah seorang wanita petani menarik tangan Ziwei dan Xiao Yanzi. “Mereka berhasil meyelamatkan kalian! Tadi aku sempat cemas sekali!”

Ziwei, Xiao Yanzi serta yang lainnya terpana sejenak. Lalu terdengar seruan kaget “Hanxiang?!?”

Ziwei, Xiao Yanzi dan Hanxiang langsung melompat-lompat dan memekik gembira.

“Hanxiang! Kenapa kau masih di Beijing?” Xiao Yanzi tak percaya.

“Ya! Bukannya kau dan Meng Dan sudah kami antaqr ke Desa pertama rute pelarian kalian?” tanya Liu Qing.

“Kau menyamar seperti ini, aku bahkan nyaris tak mengenalimu!” timpal Liu Hong.

Xiao Yanzi mengucek matanya. “Wah! Apakah aku sedang bermimpi? Kusangka hari ini aku sudah akan dipenggal. tak tahunya tidak jadi, malah bisa bertemu dengan kalian semua! Aku sangat gembira! Betapa indahnya hidup ini!”

Xiao Jian mulai memperkenalkan, “Ini Lao Ou dan istrinya. Lao Ou kawan lamaku.”

Lao Ou dan istrinya menyalami Xiao Yanzi dan yang lainnya. Sepasang suami istri itu sangat ramah dan baik. Erkang membalas sapaan mereka dengan berkata, “Terima kasih pada Anda berdua. Kita belum pernah bertemu, tapi kalian sudah memberikan bantuan demikian besar pada kami.”

“Tak perlu sungkan,” Lao Ou berkata penuh setia kawan. “Xiao Jian dewa penolong kami. Jadi kawannya, adalah kawan kami juga!”

“Ayo lekas masuk! Kalian harus berganti pakaian. Jadi kalau sewaktu-waktu ada pemeriksaan, kalian sukar dikenali.”

Para wanita ikut masuk bersama Hanxiang ke dalam rumah. Di sebuah kamar, di atas ranjang tampak beberapa pasang pakaian wanita sederhana.

Xiao Yanzi, Ziwei dan Liu Hong berganti pakaian. Benak ketiganyamasih diliputi banyak pertanyaan perihal Hanxiang.

“Hanxiang, bukankah kau dan Meng Dan seharusnya sekarang sudah lari jauh ke selatan?” tanya Ziwei.

“Ya, tapi semua berkat Xiao Jian yang cerdik. Kalian masih ingat dengan tiga surat rahasia yang diberikan Xiao Jian pada Meng Dan? Jadi sebenarnya, begitu Liu Qing dan Liu Hong usai mengantar kami, kami langsung membuka surat Xiao Jian yang pertama. Isinya adalah alamat Lao Ou. Di bawahnya tertulisa kalimat ‘Kalau mencemaskan keadaan mereka, segeralah ke alamat Lao Ou untuk menunggu berita’!”

“Setelah itu, kami langsung membaca surat kedua. Pesannya ‘Jangan pergi ke tujuan kalian yang semula. Tapi pilih arah lain. Ini untuk menghindari bocornya rahasia jika mereka terpaksa buka mulut karena disiksa!’”

“Lalu, surat ketiga, apa tulisannya?”

“Di surat ketiga tertulis, ‘Tempat paling aman justru adalah tempat yang paling berbahaya. Berhubung tubuh Hanxiang sudah tak berbau harum lagi, kenapa tak mengambil resiko saja bersembunyi di Beijing? Bersembunyi saja di Beijing sambil menetapkan tujuan baru kalian!’”

“Xiao Jian sungguh pandai! Kaisar pasti telah mengira kalian telah jauh maka mengirim tentara mencari keluar kota!” Liu Hong berujar kagum.

“Kami lalu memutuskan mengikuti isi surat Xiao Jian. Tibalah kami di sini. Sesudah itu, tak lama, Xiao Jian juga datang dan memberitahukan kalau kalian semua tertimpa bencana besar. Dia dan Meng Dan lalu mengatur rencana menculik tawanan. Saat itu kami masih belum tahu kalau Pangeran Kelima dan Erkang juga telah melarikan diri…”

Sambil bercakap-cakap, selesailah mereka berganti pakaian. Kini semuanya memakai pakaian wanita petani yang sederhana. Xiao Yanzi menunjuk Ziwei sambil tertawa-tawa, “Penampilanmu benar-benar berubah! Menurutu, Huang Ama akan pangling! Jika berdiri di hadapanmu, beliau pasti tak bisa mengenali dirimu!”

Mendengar kata ‘Huang Ama’, Ziwei berubah muram.

Terdengar ketukan di pintu. Disusul suara Xiao Jian, “Kalian sudah selesai berganti pakaian? Ada yang mau makan tidak?”

“Wah! Sudah bisa makan!” seru Xiao Yanzi. “Sudah lolos dari hukuman mati, masih bisa makan pula! Ayo kita semua lekas makan!”

Semuanya menuju ruang makan dan mendapati Erkang serta Yongqi telah berganti pakaian dari kain kasar. Ditatapnya kedua pemuda itu lalu tawanya meledak.

Melihat penampilan Erkang dan Yongqi, Ziwei jadi terkenang pada istana. betapa dirinya dan Xiao Yanzi telah mempengaruhi seluruh jalan kehidupan Erkang dan Yongqi. Kemudian dia tersadar, semua sudah berkumpul di sini kecuali satu orang! Jimshuo! Di mana dia sekarang? Teringat Jinshuo, Ziwei kembali muram.

Mereka duduk mengelilingi meja makan. Mneski hidangannya sederhana, tapi mereka menganggapnya sangat mewah. Nyonya rumah melayani mereka dengan baik. Mereka makan sambil bercakap-cakap dan bersenda gurau. Terakhir, mereka bersulang untuk merayakan kelolosan dari maut.

Ziwei masih teringat pada Jinshuo. Dia tak sanggup turut tertawa atau makan. Hingga akhirnya dia tak tahan lagi. Sebutir air matanya menetes.

“Maafkan aku, kalian teruskan saja makannya. Aku mau keluar sebentar. Aku perlu menghirup udara segar.”

Dia menutup wajahnya lalu keluar. Yang lainnya hanya bisa terpana menatapnya.

***

Sementara di istana, kehebohan mega dahsyat melanda Qianlong.

“Kedua gadis itu dilarikan pendekar sakti? Massa membantu mereka melarikan diri? semua orang mulai dari dewasa hingga anak-anak mengelukan mereka? apakah semua ini bukan lelucon?” sentak Qianlong.

Pengawal arak-arakan eksekusi menjawab, “Duli Yang Mulia! Ini sama sekali bukan lelucon. Semua orang menyaksikannya sendiri. Rakyat terus menerus berteriak ‘Semoga Putri panjang umur!’ Ketika massa bentrok dengan pengawal, pendekar sakti itu menggunakan kesempatan ini untuk menerkang kereta tawanan dan memebebaskan kedua Putri!”

Qianlong nyaris tak percaya mendengarnya. Selir Ling yang berdiri di sampingnya diam-diam menghembuskan napas lega.

“Jadi mereka sudah punya pengaruh demikian besarnya – hingga sekota bisa ikut meminta ampun? Ditambah lagi pendekar-pendekar sakti yang membela mereka! Ada berapa jumlah pendekar itu?”

“Banyak, Paduka! Hamba tak mengingat dengan jelas! Tapi di antaranya, sepertinya terdapat Pangeran Kelima dan Tuan Muda Fu!”

“Yongqi dan Erkang?!” geram Qianlong. “Apa kalian sudah berusaha mencari para burinan itu?”

“Sudah! Hamba sudah memerintahkan prajurit agar seluruh kota digeledah. Tapi hamba khawatir kedua Putri dilindungi oleh keluarga berpengaruh. Kalau benar begitu, encarian ini akan sulit sekali…”

“Kalian geledah saja rumah warga satu-persatu! Menentangku terang-terangan begini, sama saja dengan penjahat besar!”

“Daulat, Yang Mulia!”

“Kalian harus menangkap mereka hidup-hidup untuk diinterogasi, mengerti?”

“Hamba menerima titah, Yang Mulia!”

Para pengawal itu lalu undur diri.

Selir Ling menghampiri Qianlong dan berkata, “Yang Mulia, kalau mereka sudah pergi, biarkan saja. Kenapa harus susah payah menangkap mereka kembali?”

Qianlong terbelalak dan membentak Selir Ling. “Kau bicara apa? Mereka telah menipu dan mempermainkanku! Reputasiku benar-benar dilecehkan! Martabatku telah dirusak mereka, tapi kau masih membela mereka?”

“Yang Mulia! Hamba tahu di batin Anda telah bertumpuk banyak kebencian juga kemarahan. Tapi jauh di lubuk hati, Anda memiliki kehangatan. Sejujurnya, hamba sungguh tak sanggup apabila menyaksikan kepala kedua Putri dengan darah segar yang menetes-netes…”

Qianlong tak sanggup menimpali perkataannya sehingga Selir Ling melanjutkan,

“Segala tindakan yang dilakukan seseorang jika sedang marah, bukanlah sifat asli orang itu! Baginda tidak sungguh-sungguh bermaksud membunuh kedua Putri, tapi telah mengeluarkan titah membunuh mereka! Erkang dan Yongqi juga tak berniat menentang Baginda, tapi dalam keadaan terdesak, terpaksa menentang Anda!”

Qianlong mulai bimbang. Perkataan Selir Ling telah merasuk sampai ke lubukl hatinya. Benar juga, dia sendiri mau melihat kepala kedua gadis itu bertetesan darah. Mustahil aku benar-benar menginginkan nyawa mereka tercabut.

Ketika Qianlong tengah galau inilah, Ibu Suri datang bersama Qing’er dan Permaisuri.

“Yang Mulia! Aku barusan mendengar kalau Xiao Yanzi dan Ziwei dibawa lari oleh Pangeran Kelima dan Erkang. benarkah itu?”

Qianlong mendesah. “Aku juga baru menerima kabar. Apakah yang menyelamatkan mereka Yongqi dan Erkang, masih belum dipastikan!”

Qing’er menghembuskan napas lega. Diam-diam bertukar kelegaan dengan Selir Ling.

“Cukup sudah!” Ibu Suri menggelegak. “Jadi rakyat juga membela mereka? Bukankah ini sama dengan memberontak? Mau ditaruh dimana kewibawaan Kaisar? Kau tak bisa membiarkan mereka lari! Fulun pasti taju kisah ini! Lekas panggil dia dan Fuqin ke istana!”
Selir Ling tersentak. “Mohon Kaisar menyelidikanya dengan hati-hati. Suami-istri Fu sama saja dengan kita, tak tahu apa-apa!”

Sekilas, Permaisuri memandang tajam kea rah Selir Ling.

“Lao Foye, Yang Mulia, ada hal penting yang hendak hamba sampaikan…”

“Kalau itu penting, kau harus segera menyampaikannya! Jangan ragu!” ujar Ibu Suri.

Permaisuri menatap sekilas ke arah Qing’er dan Selir Ling. “Semalam, hamba mengunjungi penjara. tak tahunya, di sana bertemu dua orang yang mengaku membawa titah dari Ibu Suri dan Kaisar unruk menyampaikan salam perpisahan kepada kedua gadis itu! lanlu paginya terdengar kabar Erkang hilang secara mencurigakan! Kalau dipikir, kenapa peristiwa ini bisa bersamaan?”

“Apa? Membawa perintahku untuk menyampaikan salam perpisahan?” Ibu Suri terkejut bukan main. “Jadi rupanya ada yang berani memalsukan titahku? Kurang ajar! Lekas katakan! Siapa orang itu?”

Qing’er menatap Selir Ling sekilas. Dia sadar tak dapat menyembunyikan hal ini lagi. Dengan berani gadis itu berlutut di hadapan Ibu Suri dan Qianlong.

“Duli Lao Foye, yang dimaksud Permaisuri itu adalah hamba dan Selir Ling!”

“Apa? Kau dan Selir Ling?”

“Benar!” jawab Qing’er. “Semalam kami memang mengunjungi penjara untuk menjenguk Ziwei dan Xiao Yanzi. Maafkan kami, kami benar-benar harus menemui mereka sebelum mereka menjalani hukuman mati. Belakangan Lao Foye pasti tahu, dalam hati Qing;er telah tumbuh simpati terhadap kedua Putri ini. Terlebih Selir Ling yang telah menganggap mereka seperti putri sendiri. Sudilah Baginda dan Lao Foye memahami perasaan kami. Mengenai bagaimana Erkang sampai menghilang, kami sama sekali tidak tahu!”

“Qing’er!” tegur Lao Foye. “Besar sekali nyalimu! Kau juga – Selir Ling!”

Selir Ling gemetaran. Dia tak sanggup berkata-kata. Qing’er bersujud di hadapan Lao Foye.

“Silakan Lao Foye menjatuhkan hukuman! Qing’er rela dimasukkan ke penjara atau menggantukan hukuman mati. Tapi jangan menyalahkan dan menghukum Selir Ling. Dia mencintai Paduka Kaisar sepenuh hati dan Pangeran Kelima Belas masih kecil.”

“Qing’er memberanikan diri bicara. Sebenarnya, ketika Selir Xiang menghilang, Ziwei dan Xiao Yanzi telah mengupayakan berbagai cara agar menjaga perasaan Yang Mulia. Tapi siapa sangka, ini justru menjadi kesalahan besar yang membuat Yang Mulia murka! Musibah ini sampai sekarang telah menyeret banyak orang. Barat hendak memetik daun batang ikut terpetik. Ini bisa membuat Kaisar kehilangan semakin banyak orang-orang terkasihi.”

Permaisuri segera menyambung, “Maksudmu, masalah Erkang yang hilang, Pangeran Kelima yang kabur dan penculikan kedua gadis itu tak usah diusut? Begitu pula dengan ‘orang dalam’ yang ikut membebaskan mereka?”

Qing’er menatap Permaisuri. “Kalau menganggap semua orang yang mengunjungi penjara semalam patut dicurigai, bukankah, Permaisuri sendiri dan Bibi Rong juga tak lolos dari kecurigaan?”

Permaisuri memandang Qing’er dengan geram. Qianlong menimbang-nimbang. Lalu dikibaskan lengannya.

“Sudahlah! Kalian tak perlu berkata apa-apa lagi! Biarkan aku tenang sebentar!”

Maka semuanya pun terdiam.

***

Qianlong diam-diam membuat penialaian. Begitu pula dengan Ibu Suri.

Setibanya di Istana Zhuning, Ibu Suri memerintahkan Qing’er untuk mengurung diri di kamar gelap.

“Baik!” Qing’er menyanggupi tanpa gentar sedikit pun.

Melihat sikap pemberani Qing’er, Ibu Suri mulai ketakutan. “Berhenti!” serunya.

Qing’er berhenti.

“Katakan! Sebenarnya demi apa kau mati-matian membantu kedua gadis itu?”

Qing’er memandang Ibu Suri. Sinar matanya memancarkan keterus-terangan dan kejujuran.

“Lao Foye, ini karena mereka berdua sebenarnya mewakili apa yang ada pada diriku. Mereka telah membangkitkan kehangatan serta hasrat untuk memberontak yang tersembunyi di dalam hatiku. Ziwei mewakili bagian diriku yang santun. Xiao Yanzi mewakili bagian diriku yang pemberontak. Mereka ibarat bayanganku! Atau mungkin akulah bayangan mereka!”

Ibu Suri kebingungan. “Sedikit pun aku tak paham maksudmu! Yang kutahu, kau sudah ketularan penyakit kedua gadis itu!”

“Benar! Aku sudah ketularan penyakit mereka. penyakit tentang cinta, kehidupan, teman dan impian. Aku sudah ketularan hingga tak bisa disembuhkan…”

“Aku tak paham dengan berbagai perkataan anehmu ini! Kau berani memalsukan tita untuk membebaskan tawanan. Kiramu, aku tak tega menghukummu?”

“Qing’er tak berani berpikir demikian. Tapi ijinkanlah Qing’er menebus kesalahan dengan berbakti pada Lao Foye. Aku tak akan menikah seumur hidup dan mengabdikan diri hanya pada Lao Foye!”?”

Ibu Suri terperanjat. Qing’er menyambung, “Lao Foye, penyakit yang Qing’er alami ini, hanya ada dua kemungkinan setelah tertular: sembuh dan mati. Pada akhirnya, salah satu diantarnya tak bisa Qing’er hindari. Sekarang, Qing’er harus ke Kamar Gelap untuk menjalankan hukuman!”

Qing’er melangkah pergi dengan mantap. Membuat Ibu Suri terhenyak dan terpaku.

***

Di sebuah jalan di luar kota Beijing, Jinshuo bersama sebarisan napi lelaki dan perempuan berjalan teseok-seok menuju Mongolia.

Para pengawal tak henti-hentinya melecutkan cambuk dan menghardik. Setiap kali cambuk telecut, tedengar pula serentetan pekik kesakitan dari para napi.

Jinshuo tersungkur. Wajahnya tertutup peluh dan pasir yang berterbangan. “Tuan-tuan! Bolehkan aku minta air?”

“Apa? Minta air lagi?” tanya pengawal seraya melayangkan cambuk ke punggung Jinshuo.

“Aduh! Sakit!” jerit Jinshuo.

“Kalau sakit, jalanlah lebih cepat lagi!”

Jinshuo meneruskan langkah seeraya memandang ke langit. Entah Ziwei dan Xiao Yanzi telah dipenggal atau belum. Mungkin keduanya kini telah di surga dan menyaksikan dirinya yang mengenaskan ini dari atas sana.

Seorang napi pria tua di depan Jinshuo tersungkur. Dia merintih, “Air… Beri aku seteguk air…”

“Paman, kenapa kau?” Jinshuo buru-buru memapahnya. Dia berkata kepada pengawal, “Tuan, berilah dia seteguk air. Paman ini sudah hampir pingsan!”

“Pingsan? Dicambuki saja – pasti sadar lagi!” Lalu seorang pengawal melayangkan cambuknya.

“Aduh! Kenapa anda sekalian tak iba sedikit pun?” Jinshuo berteriak.

“Hah? Kau yang berstatus narapidana ingin menceramahiku ya?”

Cemeti pengawal menghujani Jinshuo. Gadis itu berguling kesakitan hingga kalung pemberian Ziwei terjulur keluar.

“Di lehernya ada kalung emas!” seru salah satu pengawal. “Lekas lucuti pakaiannya! Siapa tahu dia masih menyembunyikan barang mahal lain di tubuhnya!”

Jinshuo berteriak, “Jangan ambil kaluungku! Itu kenang-kenangan dari Nona! Kumohon! Aku tak punya barang berharga lain.. Tolong!”

Jinshuo bermaksud kabur. Tapi tangan dan kakainya terbelenggu sehingga selalu terjatuh. Pra pengawal menerjang ke arahnya dan mulai melucuti pakainannya. Napi lain hanya bisa menyaksikannya tapi tak berani menolong.

Jinshuo berusaha mati-matian memegang bajunya dan kalung pemberian Ziwei. Di saat kritis inilah muncul sebuah kereta kuda melaju cepat. Pengendaranya rupanya adalah Erkang, Liu Qing dan Liu Hong.

Erkang tahu Ziwei belum bisa tenang karena memikirkan Jinshuo. Maka dia mengajak Liu Qing dan Liu Hong untuk menolong gadis itu.

“Celaka! Apa yang mereka lakukan pada Jinshuo?” seru Liu Hong.

Erkang dan Liu Qing menghentikan kereta. Para pengawal segera berhenti menganiaya Jinshuo dan memandang berkeliling.

Erkang, Liu Qing dan Liu Hong menerjang bagai tiga rajawali. Erkang berteriak, “Kalian adalah pengawal istana tapi tindakan kalian begitu kotor dan tak tahu malu!”

Ketiganya berhasil merobohkan beberapa pengawal yang menarik Jinshuo. Pengawal lainnya pun sibuk berteriak-teriak, “Ada yang mau menculik tawanan! Ayo lawan!”

Para pengawal terlibat pertarungan sengit. Sejurus kemudian, mereka yang bukan tandingan Erkang dan dua bersaudara Liu berjatuhan sana-sini.

Jinshuo kaget dan gembira. Di antara tangisnya dia berkata, “Tuan Muda Erkang! liu Qing! Liu Hong! Aku barangkali salah lihat…”

Liu Qing berlari menghampiri Jinshuo dan menebas rantai yang membelenggu tangan dan kaki gadis itu. “Maaf, Jinshuo! Kami datang terlambat sehingga kau menderita seperti ini!”

Jinshuo menangis bahagia. “Liu Qing! Aku…” – kakinya lemas dan Liu Qing segera menopangnya.

“Tawanan lain…,” Jinshuo menunjuk para napi. “Tolonglah mereka…”

“Baiklah! Tak peduli mereka bersalah atau tidak, hari ini adalah ‘hari pembebasan napi’!” seru Erkang berwibawa. “Kalian para tawanan tak perlu mengenal aku! Kita hanya bertemu secara kebetulan!”

Erkang lalu memutuskan rantai-rantai yang membelenggu para napi. Napi-napi itu tak menyangka akan bernasib sebaik itu. mereka bersujud pada Erkang, “Pahlawan! Dewa Penolong kami! Terima kasih! Terima kasih!”

Erkang berkata tegas, “Pergilah kalian! Jangan berbuat kejahatan lagi!”

“Ya! Ya! Ya!” para napi bersujud beberapa kali. Mereka pun bergegas pergi.

***

Hari sudah sore ketika Jinshuo dibawa ke rumah Lao Ou. Begitu melihat Ziwei, kedua gadis itu langsung berpelukan.

Kemudian yang wanita menemani Jinshuo mandi, memakai obat dan berpakaian.

Di luar, kaum lelaki mendiskusikan soal pelarian mereka berikutnya. Ketika mereka sedang berdiskusi, tiba-tiba Nyonya Ou bergegas datang dan memperingati mereka.

“Cepat! Cepat! Kalian harus sembunyi! Ada tentara datang!”

Xiao Yanzi dan para gadis lekas keluar kamar. Lewat pintu belakang, Nyonya Ou membawa mereka ke sebuah rumah kayu kecil yang berfungsi sebagai gudang.

Erkang, Yongqi, Meng Dan, Xiao Yanzi, Ziwei, Jinshuo dan Hanxiang segera berdesak-desakan masuk ke dalam. Xiao Jian, Liu Qing dan Liu Hong di luar, masing-masing memegang satu perkakas tani bersiaga.

Terdengar suara berisik yang mendekat. Lalu ocehan Nyonya Ou, “Tuan-tuan prajurit, kalian sedang cari apa?”

“Kalian ada lihat orang-orang dalam gambar ini? Lihat baik-baik! Dua pasang gadis dan pemuda yang cantik dan tampan!”

“Tidak! Hei, kenapa kalian sembarang memasuki rumah orang?”

Sekelompok tentara melangkah menuju halaman belakang rumah Lao Ou. Mereka melihat Xiao Jian yang sedang membelah kayu. Liu Qing dan Liu Hong yang sedang mencangkul.

Para pengawal menoleh kiri-kanan. Lalu memandangi rumah kayu itu.

“Tempat apa itu? Coba buka dan perlihatkan pada kami!” kata salah satu pengawal.

Xiao Jian dan yang lainnya terkesiap. Semuanya bersiaga.

Lao Ou berjalan ke pintu rumah kayu seraya berkata, “Ini jamban rumah kami. Tak mungkinlah bisa dipakai bersembunyi!”

Tepat saat itu Nyonya Ou datang membawa sepoci arak yang wangi sekali. Para pengawal merasa tertarik sehingga mereka menoleh. Nyonya Ou lalu mengambil beberapa cangkir dan dituangkannya arak itu ke cangkir-cangkir itu.

“Ini arak yang enak sekali! Tuan-tuan, apa kalian mau ikut mencicipi? Ini buatan kami sendiri. Hari ini kan cuacanya agak sejuk, jadi bagus kalau minum sedikit untuk menghangatkan badan.”

Para pengawal menghirup aroma arak. “Waaah, wangi sekali. Bawa kemari! Kami juga ingin mencicipi!”

Nyonya Ou tertawa riang sambil mengisi cangkir para pengawal. Dia juga mengajak mereka bercakap-cakap sehingga perhatian mereka sepenuhnya telah teralihkan dari gubuk kayu.

Para pengawal ngobrol sambil minum. Xiao Yanzi dan kawan-kawan menanti dengan tegang di dalam rumah kayu. Setelah beberapa saat para pengawal meletakkan cangkir mereka dan berkata,

“Baiklah, ayo kita pergi! Kita lanjutkan pencarian di tempat lain. Nyonya, maaf kami telah merepotkan.”

“Oh, tidak apa-apa. Tidak apa-apa…”

Para pengawal sudah berjalan keluar satu-satu. Tepat pada saat itulah hidung Xiao Yanzi gatal. Dia tak dapat menahan diri sehingga bersin dengna suara keras.

Semuanya terkejut bukan kepalang. Para pengawal terhenti. Mereka menoleh ke rumah kayu itu.

“Suara apa itu? Ada orang di dalam sana?”

Air muka Xiao Jian, Liu Hong dan Liu Qing berubah. Nyonya Ou dengan cerdik berteriak kea rah rumah kayu. “Xiao Zhuzi! Kau mau jongkok berapa lama di situ?” Lalu katanya kepada para pengawal, “Putraku ini…, entah apakah dia sedang sakit perut betulan atau malas! Tiap kali disuruh bekerja, pasti masuk kakus!”

Di dalam rumah kayu, Xiao Yanzi menirukan suara anka kecil. “Ibuuuuu… Aku lupa bawa kertas pembersih!”

Semuanya kaget mendengarnya. Bukankah ini berarti Xiao Yanzi menyuruh Nyonya Ou membuka pintu lumbung kayu itu? Yang di dalam lumbung memelototi Xiao Yanzi. Semuanya gemas ingin mencubit gadis itu!

Yang diluar juga menganga. Nyonya Ou keki dan berkata salah tingkah. “Lupa bawa kertas pembersih ya? Duuh, anak ini benar-benar bodoh! Makin besar tambah bego!”

Tiba-tiba dari dalam lumbung, Xiao Yanzi yang sudah dapat cubitan dan pukulan mengoreksi ucapannya. “Buuuu…. Kertas pembersihnya sudah ketemu. Ternyata ada di mulut anjing… Guk! Guk!”

Semua terbelalak dan pingsan mendengar celoteh Xiao Yanzi. Yongqi lekas-lekas membekap mulut Xiao Yanzi.

Para pengawal justru tidak curiga. Mereka murni menganggapnya sebagai lelucon dan pergi sambil tetawa-tawa.

Begitu para pengawal pergi, yang di dalam lumbung semuanya keluar. Erkang langsung memarahi Xiao Yanzi. “Kau sungguh pintar, ya? Yang kau bilang selalu saja salah! Kau benar-benar ingin pengawal-pengawal itu menemukan kita, ya?”

“Yang paling aneh ketika dia bilang kertasnya ada sama anjing dan menirukan suara gonggongan!” sambung Liu Qing.

“Kalau aku tidak cepat membungkam mulutnya, mungkin dia bisa membuat suara anjing berkelahi dengan kucing!” timpal Yongqi.

Ziwei, Jinshuo dan Hanxiang tertawa keras.

Xiao Yanzi membela diri, “Cuma itu yang terpikir olehku! Tadi itu kan aku panik dan tegang!”

“Lain kali kau tak usah bicara apa-apa dan tak boleh bersin!” tukas Yongqi.

“Aku tak boleh bersin? Wah! Kau ini lebih kejam dari Huang Ama!”

Begitu Xiao Yanzi menyebut ‘Huang Ama’, semuanya langsung terdiam.

“Sebutan Huang Ama itu harus diganti mulai sekarang,” Meng Dan mengingatkan.

Ziwei mendesah, “Tapi sebutan itu sudah begitu mendarah daging bagi kami.”

“Kusarankan agar waktu kita menyebut beliau, kita menggantinya dengan istilah lain,” usul Erkang.

Ziwei berpikir sejenak. “Begini saja. Kaisar kan Naga. Sikap beliau kepada kita sekarang mencerminkan naga yang sedang tidur. Kita sebut saja dia ‘Naga Tidur’. Sedang Istana itu, kita sebut saja sebagai ‘Kota Kenangan’!”

“Begitu lebih bagus!” puji Xiao Jian. “Ada sebuah Kota Kenangan. Di dalamnya tinggallah Naga mengantuk…”

Derai tawa pun kembali bergema ke seluruh ruangan.

***

Mereka kembali ke dalam rumah dan membicarakan rute pelarian. Semula diusulkan agar mereka terbagi dalam dua kelompok. Meng Dan dan Hanxiang tetap melarikan diri secara terpisah.

Tapi semuanya tak mau berpisah-pisah. Maka jadilah rombongan pelarian ini terdiri dari delapan orang: Erkang, Yongqi, Ziwei, Xiao Yanzi, Jinshuo, Liu Qing, Liu Hong dan Xiao Jian.

Xiao Jian mengusulkan mereka ke Dataran Tinggi Yunnan yang jauh di selatan. Sepanjang jalan menuju tempat itu ada gunung dan sungai sehingga mudah dijadikan tempat persembunyian jika dikejar tentara.

Semuanya akhirnya mengambil keputusan untuk memberangkatkan Meng Dan-Hanxiang lebih dulu.

Wajah Hanxiang langsung sedih begitu mengetahui dia dan Meng Dan akan berpisah dari yang lainnya. Xiao Yanzi meraih tangan Hanxiang dan Meng Dan lalu berkata sepenuh hati, “Guru! Hanxiang! Muridmu ini tak punya apa-apa untuk diberikan pada kalian! Tapi sebelum berangkat, kalian menikahlah disini! Diiringi doa restu kami semua!”

“Usul Xiao Yanzi bagus sekali. Setelah kita semua lepas dari hukuman dan sebelum berpisah, sebuah pernikahan sederhana pasti bisa menghibur kita semua!” Erkang berkata tulus.

Ziwei menyambung, “Aku tahu dalam pernikahan muslim harus dihadiri penghulu. Tapi berhuung di sini tak ada penghulu, kalian ikuti saja adapt setempat.”

Meng Dan dan Hanxiang saling berpandangan dengan bahagia.

Malamnya, Meng Dan dan Hanxiang melaksanakan upacara pernikahan disaksikan Xiao Yanzi dan kawan-kawan. Xiao Jian, Xiao Yanzi, Yongqi, Erkang dan Ziwei membentuk sebuah grup musik sederhana yang memainkan alat musik. Dibimbing Jinshuo dan Liu Hong, Meng Dan dan Hanxiang memberi hormat di tengah-tengah suara musik yang ceria. Lao Ou dan istrinya menjadi tamu kehormatan.

Sebuah kamar sederhana di rumah Lao Ou disulap menjadi kamar pengantin. Hanxiang sangat cantik. Dia dan Meng Dan minum arak upacara sambil malu-malu. Yang lainnya sorak-sorai memberi selamat.

“Selamat! Selamat! Guru! Istri Guru! Terimalah sujud dari muridmu!” Xiao Yanzi berlutut di hadapan keduanya.

Meng Dan segera mengulurkan tangan. Katanya terharu, “Murid ini telah mengantar kami hingga kamar pengantin. Dia hampir kehiangan nyawanya dan mengajak yang lainnya berani menentang bahaya. Rasa terima kasih ini tak terlukisakan dengan kata-kata! Mana bisa kami menerima hormatu lagi? Terima kasih, Xiao Yanzi! Terima kasih saudara-saudariku sekalian!”

Hanxiang ikut bangkit. Dia memberi mereka hormat sambil berlinang air mata bahagia. “Begitu banyak bantuan yang telah kalian berikan. Tapi kami hanya bisa membalas dengan ucapan terima kasih saja.”

Keharuan menyelimuti hati Hanxiang dan Meng Dan. Erkang lalu berkata penuh pengertian, “Baiklah! Semua yang tidak berkepentingan, harap keluar dari kamar pengantin!”

Erkang dan yang lainnya pun keluar sambil cekikikan.

***

Keesokan harinya, mereka menganta kepergian Hanxiang-Meng Dan di sebuah padang rumput.

Kereta kuda pasangan pengantin baru itu penuh wewangian. Mereka memang menyamar sebaga pedagang wewangian. Ini juga untuk menjaga kalau-kalau wangi tubuh Hanxiang kembali lagi.

“Mau mengantar sampai dimanapun, toh akhirnya berpisah juga! Kita berpisah di sini saja!” ujar Erkang.

Para gadis memeluk Hanxiang.

“Hanxiang, berat sekali mesti berpisah darimu. Jaga dirimu, ya!” kata Ziwei.

“Kalian juga! Berhati-hatilah dan jaga kepala kalian baik-baik!”

Meng Dan membantu Hanxiang naik ke atas kereta. Setelah itu para laki-laki menyoja Meng Dan untuk mengucapkan salam perpisahan.

“Sampai bertemu lagi!”

“Jaga diri kalian. Sampai bertemu lagi!”

Tali kekang dihela Meng Dan. Hanxiang menjulurkan kepala dari jendela sambil melambai-lambaikan saputangan. “Selamat tinggal… selamat tinggal…!”

Yang lainnya berdiri di padang rumput, menyaksikan kereta yang semakin menjauh.

“Kisah tentang Hanxiang berakhir untuk sementara…,” Ziwei berkata.

“Dan kita akan memulai kisah yang baru,” sambung Erkang.

Xiao Yanzi yang sebenarnya merasa sedih karena perpisahan ini, memaksakan diri tertawa. “Aku tak boleh menangisi perpisahan ini!” katanya. “Aku mau mengerjakan sesuatu!” Gadis itu pun bergegas pergi.

“Xiao Yanzi! Kau mau kemana?”teriak Yongqi.

Melihat kepergian kedua orang itu, Liu Qing merasa waswas. “Amankah mereka berdua pergi begitu saja? Perlukah aku mendampingi mereka?”

Xiao Jian menjawab penuh pengertian, “Tidak perlu! Biarkan saja mereka berjalan-jalan sejenak untuk menghibur diri.”

***

Dalam sekejap, Xiao Yanzi telah berlari memasuki hutan.

Yongqi mengejar di belakangnya. “Jangan pergi sembarangan! Nanti kita tersesat! Kita kan belum mengenal desa ini!”

“Pokoknya kita ikuti saja jalan setapak hutan ini! Tak mungkin bakal tesesat! Kau jangan selalu takut ini-itu, ah!”

Sekonyong-konyong, Xiao Yanzi tersadar kalau mereka tengah berada di tengah pepohonan yang dipenuhi buah kesemek ranum dan masak. Xiao Yanzi berteiak gembira,

“Wah! Banyak sekali kesemek! Sudah masak dan besar-besar! Aku akan memetik dan membagikannya pada semua orang di rumah Lao Ou!”

“Jangan!” cegah Yongqi. “Kelihatannya ini kebun buah. Mungkin ada yang punya!”

“Ah! Mana ada yang punya? Tak ada orang lain di sini selain kita! Aku akan memanjat dan memetik kesemek. Kau tunggu saja di bawah! Kalau nanti ada pemiliknya datang, beri saja dia uang! Beres kan?”

“Permisi! Permisi!” Yongqi berseru-seru. “Apa ada orang? Kami mau beli kesemek!”

Sekeliling mereka sepi. Xiao Yanzi mulai tidak sabar. “Kalau kau sesopan ini, janga-jangan kita bisa tidak makan apa-apa! Kuajari kau untuk bertahan hidup! Kalau pemiliknya datang, kita bayar saja! Tapi kalau tidak ada, ya sudah! Sikat saja!”

Xiao Yanzi mulai memanjatdan memetik kesemek. Dia begitu girang dan melempar kesemek satu-persatu ke bawah. Yongqi menadahnya dengan rompi bajunya.

Kesemek-kesemek itu berjatuhan dengan berisik. Yongqi sibuk memungutnya. Tiba-tiba, terdengar seruan seseorang,

“Maling! Pencuri! Ternyata kalian mencuri kesemekku! Hei saudara semua! Kemari! Bantu aku menangkap pencuri!”

Sekonyong-konyong muncullah seorang petani disusul beberapa pria berbadan kekar berlari-lari. Masing-masing membawa tongkat.

“Maling! Pencuri! Hajar! Hajar!”

“Jangan! Jangan!” pekik Yongqi. “Kami bukan pencuri! Kami hendak membeli kesemek! Kami tadi sudah berteriak permisi. Tapi tak ada orang yang menyahut. Jadi kami pun memetik sendiri. Coba hitung berapa semua, biar kubayar!”

Petani yang pertama kali berteriak tadi mendekat. “Masih tidak mau mengaku pencuri?!
Hajar saja!”

Xiao Yanzi yang sudah turun dari pohon langsung berteriak lantang. “Kalian bilang kami maling, sedang kalian sendiri pasti bandit! Kami kan sudah bilang mau bayar, habis perkara! Hitung saja berapa semua! Mau permasalahkan apa lagi?”

Yongqi lekas-lekas memberi senyum kompromi. “Kami pasti bayar. Kami beli semuanya. Tolong dihitung berapa harganya?”

Petani itu mulai menghitung kesemeknya. “Baiklah! Anggap saja semuanya seharga lima sen!”

“Apa??? Lima sen? Kalian ini pemeras ya?” Xiao Yanzi berteriak. “Paling mahal semua kesemek ini cuma satu sen!”

Mendengar perkataan Xiao Yanzi, para petani langsung mengangkat tongkat dan menggeram.

Yongqi berusaha mendamaikan. “Kalau harganya lima sen, ya sudah, tak usah ribut lagi!”

Yongqi merogoh-rogoh pakaiannya tapi tidak menemukan pundit uangnya.

“Gawat! Pundit uangnya ketinggalan. Xiao Yanzi, kau bawa uang?”

Xiao Yanzi memebelalakkan mata. Dia langsung saja mengambil langkah seribu sambil berteriak, “Yongqi! Lariiiiiiii!!!!!”

Tak ada pilihan lain bagi Yongqi selain ikut berlari. Para petani marah besar.

“Kurang ajar! Pencuri! Maling! Tangkap mereka! Tangkap!”

Yongqi masih ingin tinggal dan menjelaskan baik-baik. Tapi sebelum niat itu terlaksana, sekonyong-konyong terdengar gonggongan anjing. Beberapa ekor anjing dilepas ke arahnya dan Xiao Yanzi..

Sial! Jerit Xiao Yanzi dalam hati. Dia menoleh pada Yongqi. “Lari! Kita lari saja!”

Anjing-anjing itu nyaris menyusul mereka. Xiao Yanzi berlari kencang hingga tidak memperhatikan lagi apa yang ada di depannya. Tiba-tiba, kakinya sudah menginjak udara kosong dan tubuhnya terjatuh ke sebuah lereng berguling-guling hingga ke bawah.

“Xiao Yanzi!” teriak Yongqi kaget.

Xiao Yanzi terguling jatuh dan tercebur ke sebuah tambak. Dia melolong minta tolong. Dan air bercipratan ke segala penjuru.

***

Xiao Yanzi yang basah kuyup, dengan rambut kusut masai dan sekujur badan kotor, tiba di rumah Lao Ou sambil mengomel – tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya.

“Liu Qing! Liu Hong! Lekas bantu aku! Ada sekelompok bandit yang melepas anjing untuk menggigitku!”

Nyonya Ou langsung batuk-batuk keras. Yang lainnya juga batuk-batuk. Xiao Yanzi langsung menghentikan langkah dan melotot melihat pemandangan di depannya.

Rupanya, selama mereka pergi mengantar kepergian Hanxiang-Meng Dan tadi, rumah Lao Ou kedatangan tentara lagi. Mereka datang untuk minum arak Nyonya Ou lagi. Yongqi yang berjalan di belakang Xiao Yanzi langsung salah tingkah dan menundukkan wajah.

Erkang langsung mengambil inisiatif. Dia berteriak pada Xiao Yanzi, “Shaniu – Gadis Bodoh! Kau berulah apa lagi?”

Nyonya Ou cepat-cepat menyambung, “Shaniu ini…,” dia memberi isyaratkepada para tentara, “Otaknya agak miring. Waktu kecil pernah demam tinggi sampai otaknya terganggu…”

Xiao Yanzi mengerti. Tiba-tiba dia terduduk di tanah sambil menangis menjerit-jerit. “Ibuuuuuu! Ayaaaaah……!!! Xiao Huzi itu menggangguku lagi! Dia merebut kesemek-kesemekku! Lalu, melepas anjing untuk menggigtku!”

Yongqi tidak mampu mengimbangi sandiwara Xiao Yanzi. Dia tak menyadari kalau dialah yang dimaksud Xiao Huzi. Sambil terus menundukkan wajah, dia berkata sembarangan, “Bibi! Kukembalikan Shaniu padamu. Aku pamit dulu!”

Salah seorang tentara berteriak. “Berhenti! Kau kesini dulu!”

Tentara itu membalik gambar yang dipegangnya untuk dipakai sebagai perbandingan. Melihat gelagat itu Xiao Yanzi langsung maju dan menyambar gambar itu.

“Kesemekku! Kau yang merebut kesemekku!”

Tentara-tentara itu berhamburan. “Kesemek apa? Dimana ada kesemek?”

Xiao Yanzi menyobek kertas itu. sebagian dimasukkan ke mulut lalu dikunyah dan ditelannya.

Tentara itu membentak. “Hei! Kenapa gambar itu kau telan?”

Yongqi mengambil kesempatan itu untuk menyelinap.

Erkang mencengkeram kerah baju Xiao Yanzi. “Ayo! Minta maaf pada mereka semua! Kebiasaan jelekmu itu kenapa tidak bisa sembuh, ya? Begitu melihat kertas pasti dimakan!”

Xiao Jian ikut menyela. “Kita kurung saja dia! Kalau tidak, seharian bisa menyusahkan!”

Erkang dan Xiao Jian pun menyeret Xiao Yanzi ke dalam rumah.

Para tentara itu merasa ada yang tidak beres. Tapi penampilan Xiao Yanzi yang kotor dan sinting itu sama sekali tak mirip Putri Huanzhu. Mereka tak curiga ada sandiwara dan terus saja menikmati arak. Setelah puas, mereka pun meninggalkan rumah Lao Ou.

Begitu Xiao Yanzi selesai membersihkan diri, Yongqi telah kembali ke rumah. Wajahnya masam. Dia berjalan ke sebuah pojok. Meneyndiri.

Melihatnya, Xiao Yanzi segera menghampiri. Didorongnya Yongqi. “Kenapa kau jadi aneh begitu? Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Aku sedang memikirkan… Kota Kenangan!” jawab Yongqi. “Entah Huang Ama sedang memikirkan kita? Apakah dia masih marah?”

“Kau jangan menyebut-nyebut naga tidur itu lagi! Kita semua sudah dibuat sengsara olehnya!”

Tatapn Yongqi mengeras. “Xiao Yanzi, mari kita buat kesepakatan! Lain kali tak usah mengubah pendapatku tentang Huang Ama! Aku tak bisa menyebut Beliau dengan segala julukan yang kurang hormat itu! kau juga jangan seenaknya memanggil Beliau Naga Tidu! Satu lagi, aku tak meyukai kebiasaan jelekmu! Bisakah kau tidak mencuri atau menipu? Mencuri kesemek seperti tadi bukan tindakan terhormat! Orang meneriaki kita maling dan melepas anjing – memalukan sekali!”

Mimik Xiao Yanzi juga berubah. “Nah, sifat pangeranmu muncul lagi! Kalau kau tak sanggup berpisah dari Kota Kenangan, ya sudah! Kembali saja kau! Kau pernah bilang rela berubah demi aku tapi ternyata semua itu bohong belaka!”

Yongqi serta-merta merasa menyesal. “Jangan marah… Adat lamaku kambuh lagi.” Yongqi memaksakan diri tersenyum. “Semalam aku kurang tidur, ditambah peristiwa tadi. Hatiku jadi uring-uringan. Aku tak bermaksud ketus padamu…”

Hati Xiao Yanzi melunak. “Aku tahu. Beberapa malam ini kau dan Erkang tidur di lantai. Kalian belum pernah mengalami hal semacam ini…” katanya dengan lembut. “Lain kali aku tak akan mencuri kesemek lagi. Tadi juga aku sudah dibuat takut oleh anjing-anjing itu… Lain kali aku juga tak akan menyebut Naga Tidur lagi. Aku akan menjulukinya Tuan Besar saja. Bisa, kan?”

Getaran cinta menembus lubuk hati Yongqi. Digenggamnya tangan Xiao Yanzi. Mereka bertatapan. Kekesalan hati lenyap begitu saja, tenggelqm dalam gurat senyum keduanya.

***

Malamnya, Xiao Jian, Liu Qing dan Liu Hong mengambil kereta dan perbekalan yang ketinggalan di Gang Mao’er.

Rupanya, sekembalinya dari sana, Fulun dan Fuqin juga ikut bersama mereka. Ayah-Ibu Erkang itu menyamar. Erkang dan Ziwei kaget sekaligus gembira.

Kedatangan kedua orang tua itu untuk menyampaikan salam perpisahan. Sekaligus memberitahukan keadaan di istana. Selir Ling dan Qing’er lolos dari bahaya. Begitu juga dengan dayang dan kasim di Paviliun Shuofang.

Setelah acara perpisahan dengan kedua orang tuanya yang mengharukan itu, keesokan harinya Erkang ikut rombongan bersiap berangkat.

Lao Ou dan istrinya mengantar mereka semua.

“Jaga diri kalian!”

“Kalian juga. Berhati-hatilah pada tentara-tentara itu!”

“Kami tahu! Kalian waspadalah!”

Akhirnya rombongan itu berangkat. Kota Beijing tertinggal di belakang. Begitu juga dengan istana, gelar Putri, Pangeran, kini semuanya telah menjadi bagian masa lalu.

***

Xiao Yanzi dan kawan-kawan telah menghilang selama berhari-hari. Para prajurit yang ditugaskan mencari, tak kunjung menemukan satupun dari mereka!

Di istananya, Qianlong masih marah. Terlebih dia geram karena anak-anak itu belum berhasil ditemukan.

“Kalian harus memperhatikan iring-iringan berkuda. Mereka pasti akan menempuh perjalanan panjang. Jadi pasti memerlukan kuda dan kereta. Mereka juga tak mungkin berpencar. Semuanya begitu setia kawan dan tak dapat berpisah satu sama lain!”

Qianlong menginstruksikan para pejabat. “Menurut perkiraanku, mereka tak mungkin ke Tibet untuk mencari perlindungan dari Ertai. Atau ke Xinjiang bersama Selir Xiang menemui Ali Hoja. Kemungkinan bersar mereka menuju selatan. Jadi kalian mesti mencari mereka ke jalan menuju selatan: Suzhou, Yangzhou, Hangzhou!”

“Daulat, Yang Mulia!”

“Ingat! Aku menginginkan mereka hidup-hidup! Menghadapi mereka, kalian tak hanya harus beradu kungfu, tapi juga harus beradu taktik. Kalau sudah menemukan jejak mereka, jangan sampai membuat mereka kaget. Tindakan kalian juga tak boleh mencolok sehingga membuat warga resah. Mengerti?”

“Hamba mengerti, Yang Mulia!”

Setelah para pejabat undur diri, Qianlong merenung. Digetaknya gigi.

“Mau lari kemana kalian? Akan kutangkap kalian semua!”

***

Setelah beberapa hari dalam perjalanan, rombongan Xiao Yanzi dan kawan-kawan berhenti di dusun Chengyi.

Hari itu mereka terpaksa menginap di penginapan. Beberapa hari sebelumnya mereka lebih memilih menginap di rumah penduduk. Penginapan lebih mudah digerebek tentara. Tapi hari itu mereka tak menemukan rumah penduduk lain yang layak diinapi.

Pada saat mereka tengah mengobrol sambil menurunkan koper-koper, Xiao Yanzi melihat banyak orang yang berlari-lari ke satu arah. Sifat ingin tahunya muncul. Dia menghentikan salah seorang untuk ditanyai.

“Ada ada sampai kau dan orang-orang itu tergesa-gesa?”

“Kalian ini pendatang, ya?”

“Benar. Apa ada gadis yang mencari jodoh dengan melempar bola bersulam lagi?”

“Melempar bola untuk mencari jodoh? Bukan itu! sekarang ini ada wanita yang akan dibakar!”

“Haaa? Orang dibakar?”

Yang lainnya segera menghampiri Xiao Yanzi karena penasaran.

“Apakah benar ada yang seperti itu? Kenapa dia hendak dibakar?”

“Wanita itu bernama Xuxu. Dia belum menikah tapi sudah hamil. Adat di sini membakar wanita yang tidak bisa menjaga kesuciannya seperti Xuxu. Jadi sekarang dia tengah menunggu dibakar.”

“Apa? Hamil diluar nikah lalu dibakar hidup-hidup? Sebenarnya itu adapt atau perbuatan biadab?” Ziwei terhenyak. Dia teringat pada ibunya sendiri.

Xiao Yanzi akhirnya mengikuti orang itu. “Aku mau pergi lihat!”

“Aku juga!” sambung Liu Qing.

Erkang berkata pada Xiao Jian, “Pergilah kalian! Aku akan menitipkan koper-koper pada pelayan lalu menyusul kalian!”

***

Di sebuah tanah lapang, orang-orang berkerumun. Di tengah-tengah mereka tampak seorang wanita bernama Xuxu itu terikat pada sebatang pohon. Di sekeliling kakinya ditumpuk kayu bakar.

Gadis itu cantik. Usianya delapan atau sembilan belas tahun. Meski dia diam tak bergerak, sorot matanya tetap memancarkan ketakutan.

Seorang tetua berdiri di dekatnya. Di belakangnya, beberapa pemuda kekar mengacungkan obor menunggu aba-aba.

Orang-orang yang berdesakan mulai berteriak penuh emosi.

“Bakar! Perempuan tak tahu malu! Bakar!”

Xiao Yanzi dan kawan-kawan telah tiba di lokasi eksekusi. Pada saat massa riuh rendah menyerukan pembakaran, seorang wanita paruh baya muncul tetatih-tatih.

“Jangan bakar putriku! Saudara-saudara sedesa, kumohon kalian mengampuninya! Aku seorang janda, hanya anak ini satu-satunya kupunya!”

“Tak perlu diampuni! Dia telah merusak reputasi desa kita! Bakar dia!” teiak massa.

Sang tetua mengulurkan tangan hingga massa tediam. Dia berseru lantang,

“Gadis bernama Xuxu ini tak dapat menjaga kesuciannya! Dia hamil di luar nikah dan mempermalukan desa kita! Sekarang dia harus menerima hukuman! nyalakan api!”

Xiao Yanzi tak bisa tinggal diam. Dia langsung melesat ke tengah dan berteriak keras, “Tunggu! Ini menyangkut nyawa orang! Xuxu ini hamil, kenapa harus dibakar hidup-hidup? Kalau dia harus dibakar, lalu mana laki-laki yang menghamilinya?”

Xiao Yanzi memandang berkeliling. “Mana lelaki brengsek itu? Keluar kau! Kekasihmu akan dibakar, kenapa kau tak segera menampakkan diri? yang menciptkan masalah ini kan dua orang – kenapa yang dibakar Cuma satu?”

Massa geger. Mereka balas berteriak sambil mengepalkan tinju ke arah Xiao Yanzi. “Siapa kau? Apa urusanmu? Tak usah ikut campur urusan kami!”

Sang Tetua menghampiri Xiao Yanzi. “Kau orang luar. Jangan mencampuri urusan desa kami. Minggirlah. Masing-masing tempat punya peraturan senndiri. Xuxu ini telah melanggar peraturan desa ini dan pantas dihumum mati.”

Melihat kesempatan ditolong, Ibu Xuxu pun berseru-seru. “Para saudara sedesa, tolonglah… Putriku ini pasti diperkosa. Hal ini bukan karena kemauannya sendiri! Xuxu, lekaslah bicara. Siapa laki-laki itu?”

Sang Tetua memandang Xuxu. ”Xuxu! Lekas katakan. Apa kau benar dipaksa?”

Xuxu menengadahkan kepala. Tak disangka berkata angkuh. “Siapa bilang aku dipaksa? Aku melakukannya dengan sukarela kok! Kalau memang harus mati ya mati saja!”

”Xuxu! Kenapa kau begitu?” jerit ibunya. “Siapa laki-laki itu? kalau kau mati, bagaimana dengan ibumu ini?”

Erkang maju dan berdiri di samping Xiao Yanzi. “Anda-anda sekalian… Kami para pendatang ini terpaksa ikut campur masalah ini. Nona Xuxu ini pasti menyembunyikan sesuatu. Dia begitu melindungi jati diri si pria. Jadi, ampunilah dia dari hukuman mati. Kalau ingin dihukum, hukumlah dua-duanya. Kenapa kalian tidak berlapang dada saja dan menerima kehidupan baru yang dianugerahkan Tuhan? Supaya kesedihan ini berubah menjadi kebahagiaan. Kebencian berubah menjadi kedamaian…”

Xiao Yanzi yang tidak paham kalimat terakhir Erkang. tapi dia berteriak antusias, “Benar! Agar otak encer jadi kanji! Agar otak encer jadi kanji!”

Massa semakin emosi dan berteriak-teriak. “Tak usah memedulikan mereka! Hajar saja! Hajar!”

Sekelompok pria muncul sambil membawa pentungan kayu. Mereka bermaksud memukul Erkang dan Xiao Yanzi.

Liu Qing bergegas maju dan berteriak, “Siapa yang berani memukul mereka, akan kukuliti!”

Massa semakin tenggelam dalam kemarahan. “Bakar dulu wanita jalang itu baru kita urus mereka! Bakar! Bakar!”

Beberapa orang mulai menyulut api. Ibu Xuxu menjerit pilu. “Xuxu! Xuxu!”

Tepat saat itu Xiao Jian telah melompat ke pohon tempat Xuxu diikat. Terdengar suara gaduh. Kayu-kayu yang telah terbakar berhamburan. Yongqi dengan sigap melompat dan mencengkeram Xuxu, membawanya keluar dari kepulan asap.

Massa langsung heboh berteriak-teriak. “Kejar! Kejar! Jangan sampai mereka lari!”

Sekonyong-konyong, muncullah seorang pemuda tampan berseru memelas. “Bakar aku saja! Janin dalam rahim Xuxu itu anakku!”

Sang Tetua langsung gemetar dan pucat-pasi. Yang berteriak itu adalah putranya!
“Kau bilang itu anakmu???”

Pemuda itu berlutu di hadapan Tetua seraya berkata sambil menangis. “Ayah…, kau seharusnya membakar putramu…”

Semua yang hadir langsung terdiam. Mereka terbelalak menatap pemuda itu.

“Aku dan Xuxu saling mencintai,” isak pemuda itu. “Tapi ayah memaksaku menikahi gadis lain. Aku sudah bilang tidak mau… Akulah yang telah mempermalukan desa Chengyi ini. Jadi kalau mau dibakar, biarlah aku dan Xuxu mati bersama!”

Pemuda itu merangkak ke arah Xuxu.

“Xuxu! Maafkan aku! Maafkan aku yang pengecut ini…”

Xuxu menangis. Dia berlari lalu memeluk pemuda itu erat-erat tanpa memedulikan orang-orang.

Menyaksikan hal ini Erkang jadi terharu. Dia berjalan mendekati sang Tetua, menyoja dan berkata, “Selamat! Daripada pasangan yang saling mencintai ini dihukum bakar, lebih baik restui saja mereka! Ini ada sedikit hadiah dari kami, para tami yang tak diundang,” Erkang merogoh pundit uangnya dan mengelurkan setael perak. “Kami sarankan Anda untuk segera menikahkan mereka!”

Erkang meletakkan tael itu ke tangan Tetua sampai orang tua itu menganga.

Massa berdiri mematung. Suasana senyap.

Ibu gadis itu langsung berlutut di hadapan Erkang dan lain-lainnya. “Pahlawan! Dewa-dewi penyelamat kami, terima kasih! Terima kasih banyak!”

Sang Tetua mendesah. Dia membantu wanita itu bangkit berdiri. Setelahnya dia berkata, “Kita… langsungkan saja pernikahan mereka, ya?”

Xiao Yanzi melihat semuanya dengan berjingkrak-jingkrak gembira.

“Agar otak encer mengental jadi kanji! Agar otak encer mengental jadi kanji!”

Bersambung

[Sinopsis Novel] Putri Huan Zhu/ Huan Zhu Ge Ge II Bagian 9

Judul Asli : Huan Zhu Ge Ge II-3: Pei Xi Chong Chong
Pengarang : Chiung Yao (Qiong Yao)
Penerbit : Crown Publishing Co., Taipei – Thaiwan.

Judul Bahasa Indonesia: Putri Huan Zhu II-3: Di Ujung Nestapa
Alih bahasa : Pangesti A. Bernardus (koordinator), Yasmin Kania Dewi, Tutut Bintoro
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Maret 2000 (Cetakan Pertama)

Cerita Sebelumnya:
Meng Dan – Hanxiang berhasil melarikan diri berkat bantuan Xiao Yanzi dan kawan-kawan. Semua mengira mereka telah aman. Tapi para prajurit utusan Permaisuri menggerebek Graha Huipin dan menemukan barang-barang bukti. Menyeret mereka ke ujung nestapa…

IX

Mendengar Ziwei mengaku, Erkang mendesah keras.

Erkang tahu mereka tak bisa lari dari takdir. Tapi dia juga tak bisa membiarkan Ziwei menanggung kesalahan sendiri.

Dengan pikiran seperti itu, Erkang maju dan berlutut.

“Yang Mulia, semua kejadian ini dimulai dari kisah ‘Angin dan Pasir’. Kami tak tega melihat orang sekarat tanpa ditolong. Kami tidak sanggup melihat sepasang kekasih itu menemui jalan buntu. Itu sebabnya kami melakukan kesalahan besar ini! Mohon Baginda mempertimbangkan kembali dengan seksama lantas menetapkan hukuman apa yang harus kami pikul!”

Yongqi ikut maju. “Huang Ama! Kami tidak bermaksud berkhianat di belakang Anda! Setiap orang selalu memiliki belas kasihan. Mohon gunakanlah sifat welas asih Haung Ama untuk memutuskan masalah ini!”

Hati Qianlong pedih bagai disayat. “Kalian masih berani bilang tak berkhianat di belakangku? Kalian semua sengaja bersekongkol untuk menipuku!”

Qianlong menatap mereka satu-persatu. “Kalian… putra-putriku sendiri. Menantu-menantuku… Kalian semua berkonspirasi menyelinapkan Selirku keluar istana!” Semakin bicara, hatinya semakin panas. “Pengawal! Seret mereka semua keluar untuk dipenggal!”

“Siap!”

Para pengawal masuk. Tapi sejenak mereka ragu karena harus menyeret pangeran dan putri. Semua tidak berani bertindak.

“Tunggu apa lagi? Seret mereka!” perintah Qianlong dengan suara menggelegar

Xiao Yanzi, Ziwei, Jinshuo, Erkang dan Yongqi langsung ribut. Ada yang hendak menggantikan siapa – ada yang masih takut mati. (Yang terakhir itu Xiao Yanzi! Ha! Ha!)

Ibu Suri melihat situasi sudah keruh, berdiri lalu berseru. “Yang Mulia! Sebaiknya mereka dikurung dulu! Tunggu sampai semuanya diselidik, kita berhasil tahu keberadaan Selir Xiang, barulah hukum mati mereka!”

Diingatkan Ibu Suri, Qianlong akhirnya berseru, “Baik! Seret semuanya ke penjara!”

Xiao Yanzi, Ziwei dan Jinshuo berteriak memilukan. Saat itulah Selir Ling masuk sambil berseru, “Mohon Yang Mulia berbelas kasihan!”

“Siapa pun tak boleh memohon ampun bagi mereka!”

Bruk! Selir Ling berlutut di hadapan Qianlong. “Baginda! Bahkan harimau pun tak akan memangsa anaknya sendiri! Pangeran Kelima Yongqi adalah putra Anda! Ibunya, Selir Yu mati muda! Dari kecil Pangeran Kelima tak memiliki Ibu, tapi dia telah tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan baik! Mengapa Yang Mulia tak menghargai putra seperti ini? Apa Baginda sampai hati memenjarakannya? Apa Baginda tega membunuhnya? Bagaimana Baginda bisa mempertanggungjawabkan hal ini pada almarhum Selir Yu di alam baka?”

Teringat Selir Yu, Qianlong langsung merasa sedih. Hatinya hancur berkeping-keping melihat Yongqi dan lain-lainnya.

“Yang Mulia!” Selir Ling mengiba. “Mohon berbesar hati mengampuni anak-anak ini! Kalau mereka tak berperasaan, serta hanya mementingkan kejayaan dan kehormatan, mereka tentunya tak akan terjerumus seperti sekarang!”

Permaisuri langsung memotong. “Selir Ling! Kau selalu saja mempengaruhi Kaisar! Kalau perbuatan yang sekarang saja tidak dianggap sebagai kesalahan besar, maka kelak mereka akan melakukan apapun tanpa peduli pada kedudukan Kaisar selaku Ayah dan penguasa negeri ini!”

Qianlong mengangguk-anggukkan kepala. “Benar! Pokoknya seret mereka semua keluar!”

Ibu Suri dengan berwibawa berseru, “Tunggu dulu!”

“Yang Mulia, Selir Ling benar. Harimau tak akan memangsa anaknya sendiri. Yongqi adalah keturunan kita, lepaskan dia. Budak kecil yang bernama Dayang Bao itu juga tidak mengerti apa-apa, jadi lepaskan dia. Jangan membuat orang lain meenganggap kita orang Manchu kejam sampai tega membunuh anak kecil dan anak sendiri. Yang lain seret saja semuanya ke penjara!”

Yongqi mengangkat wajah dan dengan keras kepala berseru lantang, “Kalau memang harus mati, biarkan kami mati bersama! Tak usah membebaskanku!”

Qianlong marah sekali. “Baik! Aku merestui niatmu! Biarlah kau mati bersama mereka!”

Erkang ingin menolong Ziwei, dia berseru, “Ziwei juga keturunan Kaisar! Mohon lepaskanlah dia!”

Ibu Suri mengangkat dagu dengan angkuh. Dia berkata dingin, “Aku tidak pernah menganggapnya sebagai bagian dari keturunanku! Seret dia keluar!”

***

Ini kali ketiganya Xiao Yanzi, Ziwei dan Jinshuo dijeboskan ke dalam penjara.

Sementara, bagi Erkang dan Yongqi, ini baru pertama kali. Di penjara pria, Erkang menegur Yongqi.

“Kenapa kau tadi bodoh sekali? Lao Foye dan Selir Ling telah mengupayakanmu lolos dari hukuman, kau malah bersikeras dihukum bersama kami. Coba pikir, kalau kau masih di luar sana, kita barangkali masih pnya kesempatan. Kau bisa melobi beberapa orang, Qing’er misalnya untuk meminta bantuan… juga mencari tahu keberadaan Liu Qing, Liu Hong serta Xiao Jian…”

Yongqi langsung saja merasa menyesal. “Aih, tadi itu aku memang emosi. Aku mana tega melihat kalian semua menderita sementara aku bebas seorang diri? Jadi, sekarang harus bagaimana?”

“Kita harus mencari jalan agar bisa keluar! Salah satu dari kita mesti keluar!”

***

Kediaman Erkang, Graha Xuexi, gempar bukan main.

Fuqin segera mendesak Fulun agar mereka berdua segera ke istana. mereka akan mengupayakan segala cara agar Erkang bebas.

“Baik, kita pergi. Tapi kau harus mempersiapkan hatimu. Kabarnya Selir Ling sudah memohon pengampunan tapi tak ada gunanya. Bahakan Pangeran Kelima juga dijebloskan ke penjara! Kali ini kesalahan mereka berat sekali! Aih, Erkang, kenapa dia bisa sampai begini?”

“Sejak kedatangan Ziwei, keluarga kita tak pernah lagi merasa damai!” Fuqin menangis. “Ertai kini berada jauh di Tibet. Kita seperti telah kehilangan seorang putra. Kalau Erkang juga mati, apa gunanya aku hidup lagi?”

“Suamiku, kau harus bilang pada Yang Mulia! Dia telah kehilangan Selir Xiang, tapi masih ada banyak selir lain. Tapi kalau kita kehilangan Erkang, siapa yang akan menjadi penggantinya?”

“Apakah Kaisar masih mau memndengar permohonanku?” sergah Fulun. “Tahukah kau? Kaisar telah mengutus jendral-jendral lain untuk mencari Selir Xiang tapi tidak mengutusku. Artinya, aku dicap berada di pihak anak-anak itu. Ikut bersekongkol bersama mereka!”

Tapi pada akhirnya, Fulun dan Fuqin pergi juga ke istana. Mereka bertemu Qianlong yang masih marah.

“Kalian tak usah bicara lagi! Erkang tahu betul tentang hukum dan akibat pelanggarannya! Aku juga sangat memahami sifatnya! Walaupun dia diancam dengan senjata, dia tak akan pernah mau mengatakan dimana Selir Xiang berada! Kalian berdua tak perlu mencoba menyelamatkannya! Dia dan kedua Putri pasti dihukum mati! Tak ada lagi negosiasi! Tapi atas pertimbangan hubungan ayah dan anak, kalian akan kuijinkan menengoknya ke penjara! Jangan harap bisa membujukku untuk membebaskannya!”

“Tapi Baginda! Erkang itu calon menantu Anda!” sela Fuqin.

“Aku lebih baik menolak menantu dan anak-anak seperti ini!” potong Qianlong.

Tiba-tiba seorang pengawal masuk dan melapor, “Yang Mulia, Pangeran Kelima jatuh sakit di penjara! Mulutnya mengeluarkan busa!”

Qianlong kaget sekali. Memikirkan Yongqi yang selama ini hidup nyaman dan sakit di penjara membuatnya sedih.

***

Di selnya, Yongqi meraung-raung kesakitan. Dia terus memegangi perutnya dan berteriak, “Aiya! Sakit! Sakit sekali!”

Erkang berlutut di sampingnya dan berteriak pada pengawal, “Kalian sudah melapor? Dia bukan pesakitan biasa! Dia Pangeran! Kalau kalian melakukan kesalahan sedikit saja dengan mengabaikannya, kalian bisa mati!”

Beberapa sipir mengelilingi keduanya. Mereka tegang sekali.

“Kami sudah melapor. Pangeran Kelima, kuatkan diri Anda!”

Lalu, kepala penjara tiba bersama Fulun dan Fuqin.

Melihatkedatangan orang tuanya, Erkang sontak merasa senang sekaligus sedih. Kepala penjara membuka pintu sel. Fulun, Fuqin dan Tabib Hu masuk. Erkang yang masih berlutut, bersujud pada orang tuanya.

“Aku mengaku bersalah pada Ayah dan Ibu. Aku telah membuat Ayah dan Ibu sedih. Aku sungguh bukan anak berbakti!”

Fuqin langsung memeluk Erkang sambil menangis. “Erkang! Kau sungguh hendak mencelakakan kami? Bagaimana kami selaku orang tuamu masih bisa hidup setelah kau melakukan kesalahan sebesar ini?”

“Maaf!” Erkang berkata dengan menyesal. “Semua sudah terlanjur. Terlambat untuk disesali. Ayah dan Ibu segeralah panggil Erta kembali. Bagaimanapun, dia menantu Raja Tibet. Kaisar pasti masih memberi muka padanya. Kalau Ertai sudah pulang, Ibu dan Ayah tak akan disulitkan lagi oleh masalahku.”

Yongqi masih terus mengaduh-aduh di lantai. Tabib Hu segera menghampirinya. Erkang juga maju dan mencengkeram lengan Tabib Hu. Saat pandangan mereka bertemu, Erkang memberi isyarat mata. Tabib Hu mengerti.

“Sudah berapa lama dia begini?” tanya Tabib Hu.

“Sekitar dua jam!” jawab Erkang.

Tabib Hu tampak terkejut. “Lekas ambil tandu dan bawa Pangeran kelima kelluar dari sini! Penjara ini cukup lembab. Pangeran Kelima tak sanggup berada lebih lama di sini!”

Kepala penjara tampak ragu. Fulun buru-buru berkata, “Kami baru saja menemui Kaisar. Beliau cemas sekali begitu mendengar Pangeran Kelima sakit. Ayo! Lekas angkut Pangeran Kelima ke Istana Qingyang.selir Ling telah menunggu di sana!”

“Baiklah!” sahut kepala penjara lalu memerintahkan anak buahnya menyiapkan tandu.

Erkang menggenggam erat tangan Yongqi. “Pangeran Kelima, setelah keluar, jagalah dirimu baik-baik. Seandainya kita tak bertemu lagi, kumohon bantulah aku menjaga kedua orang tuaku. Aku, Fu Erkang, akan mengucapkan banyak terima kasih!”

Mendengar perkataan Erkang, air mata Fuqin semakin deras. “Erkang, jangan berandai-andai seperti itu…”

Yongqi menatap Erkang. Banyak kata tak mampu terucap olehnya. “Jangan khawatir, Erkang… Kita sudah seperti saudara… Sehidup-semati…”

Para sipir masuk membawa tandu. Yongqi kemudian dibaringkan hati-hati dan keluar sel bersama Tabib Hu.

Kepala penjara mempersilakan Fulun dan Fuqin bersama Erkang sejenak. Setelah semua sipir telah pergi, Fulun pun berkata lirih, “Erkang, kalau kau punya kesempatan untuk keluar dari sini, pergilah sejauh mungkin! Jangan pikirkan Ayah dan Ibu!”

Erkang gemetar. Dia sadar, betapa besar cinta kedua orang tuanya itu padanya!

***

Sementara itu, di penjara wanita, Xiao Yanzi, Ziwei dan Jinshuo merinkuk berdempetan.

Mereka sama sekali tidak mengetahui kejadian di penjara pria. Menjelang malam, beberapa sipir datang dan membawa Ziwei.

“Cuma aku saja?” tanya Ziwei tekejut.

“Ya!”

Xiao Yanzi dan Jinshuo segera menghalangi. “Setiap kali Ziwei yang sendirian dipangil, kalian pasti akan menyiksanya! Dia tidak boleh pergi tapa kami!”

“Kalian tidak bisa merubah perintah!” hardik sipir-sipir itu lalu mendorong Xiao Yanzi dan Jinshuo ke pinggir.

Tapi rupanya Ziwei sama sekali tidak dibawa ke tempat yang menyeramkan seperti Kamar Gelap. Sebaliknya, dia dibawa ke ruang kerja Kaisar.

Qianlong mengibas tangan menyuruh semua pengawal keluar. Setelah itu ditatapnya Ziwei lekat-lekat.baik.

“Sekarang tinggal kau dan aku. Tak perlu berlutut. Berdirilah! Aku ingin bicara baik-baik denganmu!”

“Silakan, Huang Ama!” Ziwei berkata cemas.

“Kuharap kau mau berterus terang mengenai masalah Selir Xiang ini. Kau harus menceritakannya dengan benar!”

“Baiklah…,” Ziwei menghela napas lalu mulai menceritakan awal kedekatan mereka dengan Selir Xiang, perihal Meng Dan dan Graha Huipin. Ziwei juga menceritakan bagaimana mereka menyelundupkan Meng Dan ke istana. Bagaimana setelah melihat kondisi Hanxiang yang sekarat, mereka lantas berani mengambil resiko mengatur pelariannya. Sepanjang cerita, Ziwei sama sekali tak menyebut nama Meng Dan. Dia memanggil Meng Dan dengan sebutan ‘Orang Hui’ saja.

Qianlong menatap Ziwei tanpa berkedip. Dia tampak terkejut, marah pokoknya tak terprediksi.

“Jadi kalian telah dua kali menyelinapkan orang Hui itu ke istana? Apakah orang Hui itu pernah berpapasan langsung denganku?”

Ziwei tidak menjawab. Dia menundukkan kepala.

Dalam benaknya berkelabat sorot mata ‘dukun’ Meng Dan yang tajam. Lalu sikap aneh Xiao Yanzi yang menyembur-nyemburkan air sewaktu ritual di Graha Baoyue. Tangan Qianlong terkepal. Dia berkata pada Ziwei,

“Di mana kalian letakkan kehormatan serta harga diriku? Beraninya kalian mempermainkanku! Teganya kalian…”

“Huang Ama!” seru Ziwei. “Ketika Selir Xiang sekarat, perasaan kasih tak sampainya sangat menggugah kami. Kami pun melupakan segala resiko. Kami mengaku tidak memedulikan kehormatan Huang Ama disini. Sama seperti kami sudah tak memedulikan diri kami sendiri!”

Qianlong berseru garang. “Kau hanya memperhatikan perasaan Selir Xiang dan Orang Hui itu! Kau sama sekali tidak pernah mempertimbangkan perasaanku pada Selir Xiang?”

“Kami juga mempertimbangkannya!” balas Ziwei. “Hanya saja, perasaan Huang Ama pada Selir Xiang bertepuk sebelah tangan. Perasaan cinta semacam itu tak dapat dipaksakan! Harus datang dari dua belah pihak. Ada pepatah China yang mengatakan, ‘seorang wanita setia tak akan membagi cintanya pada dua pria’. Orang Hui itu dan Selir Xiang telah saling mengenal sejak mereka masih kanak-kanak. Perasaan keduanya amat
mendalam dan tak bisa ditandingi dengan oleh Huang Ama yang baru mengenal Selir Xiang beberapa waktu saja…”

“Kau berani sekali bicara semacam itu padaku!” Qianlong menggebrak meja. “Kalau begitu, malam ketika kita berkumpul di tempat Selir Ling, kalian telah berencana untuk membuatku mabuk?”

Ziwei menganggukkan kepala. Qianlong tertegun. Beberapa saat kemudian dia berkata getir, “Bagus sekali! Anak-anakku yang sangat berbakti! Putri Mingzhu yang baik! Putri Huanzhu yang baik! Aku memang tak salah mengangkat mereka sebagai anak!”

“Sekarang aku hanya menginginkan satu jawaban darimu! Kemana Selir Xiang pergi?”

Ziwei menunduk. “Aku tak bisa mengatakannya! Huang Ama, tak bisakah Anda memaafkan kami dan berbesar hati menerima kejadian ini? Kalau Huang Ama kembali merenungkan kisah Selir Xiang dan Orang Hui itu, tentunya Anda bisa melihatnya sebagai kisah yang sangat indah dan sangat menyentuh hati!”

“Kau masih berani bilang kisah mereka indah? Di mana letak indahnya?!? Aku sungguh marah padamu hingga ingin mencekikmu! Kutanyakan sekali lagi, Selir Xiang pergi kemana?”

Ziwei tetap tak menjawab pertanyaan itu.

Qianlong kesal sekali hingga mengangkat tangan dan menampar Ziwei.

“Hari ini aku hanya mengingat kepedihan ibumu, Yuhe, hingga tak memperlakukanmu lebih buruk lagi! Tapi kau sungguh tak pantas jadi putriku! Aku tak mau punya anak perempuan seperti dirimu lagi! Pengawal! Bawa dia kembali ke penjara!”

Ziwei pun dibawa keluar dari ruang kerja Qianlong.

Kembali di sel, Xiao Yanzi dan Jinshuo buru-buru menyambut Ziwei.

“Ziwei, bagaimana? Apakah tanganmu dijepit lagi?”

Ziwei menatap mereka dengan pedih. “Aku tidak disiksa apa-apa. Kalian tenang saja. Tapi hatiku sakit sekali… Huang Ama sangat membenciku. Dia berkata tak mau punya anak perempuan seperti aku lagi. Aku harus kehilangan ayah setelah susah payah diakui olehnya…”

Xiao Yanzi memeluk Ziwei. “Tidak apa-apa kalau kau kehilangan ayah seperti dia! Dia membenci kita, biarlah kita membencinya juga!”

“Kali ini kita pasti tamat. Huang Ama tak sudi memaafkan kita. Kita akan menghadapi kematian ini dengan gagah berani…”

***

Di Istana Qingyang, Yongqi yang telah berhasil keluar penjara berpura-pura sakit sepanjang hari.

Tak seorangpun memedulikannya. Baru ketika malam Selir Ling datang dan menyampaikan pesan serius padanya.

“Pangeran Kelima, dengarkan baik-baik. Saat ini Fulun dan Fuqin telah kembali ke Graha Xuexi. Mereka telah menunggumu disana. Kau segeralah temui mereka untuk berembuk solusi untuk masalah ini. Pergilah malam ini juga tai jangan lewat gerbang utama. Gunakan gerbang lain!”

“Tidak bisa!” sergah Yongqi. “Aku tak bisa keluar dari sini tanpa membawa yang lainnya! Masalah ini hanya bisa diselesaikan oleh Huang Ama. Jadi kalaupun aku pergi ke Graha Xuexi tetap tak ada gunanya!”

Selir Ling berkata cemas. “Mana mungkin Kaisar sudi memaafkan kalian dengan begitu mudah? Kalian telah melukai kehormatan Beliau! Saat ini Kaisar seperti harimau terluka, sangat berbahaya!”

“Huang Ama tak akan kehilangan kami seandainya Beliau bersedia memaafkantakan. Aku akan bicara langsung padanya dan menceritakan semuanya. Asal Huang Ama bersedia mendengar, Beliau pasti ikut tersentuh dan memahaminya.”

“Kau jangan berpikir selugu itu. Ziwei sudah dipanggil untuk dimintai keterangan. Kaisar bukannya tersentuh, tapi semakin marah usai mendengar ceritanya!”

Yonqi terperanjat. “Kalau begitu, aku semakin tidak boleh kemana-mana. Aku tetap akan tinggal di sini untuk sehidup-semati dengan mereka!”

“Sehidup-semati? Astaga! sekarang kalau ada satu orang yang bisa melarikan diri, maka dia harus melakukannya! Di Istana ini ada aku dan Qing’er! Jika terdesak, aku dan Qing’er bisa membantu mereka. tapi di luar sana juga perlu seseorang yang mengimbangi semua ini. Apa kau mengerti?”

Mata Yongqi terbelalak. Kini dia pun paham.

“Selir Ling, Anda begitu baik. Tuhan pasti akan membalas kebaikan Anda. Tapi, dengan membantu kami, apakah nanti Anda tidak mendapat masalah?”

“Kau tenang saja. Aku beruntung karena memiliki Pangeran Kelima Belas yang masih kecil. Semarah apapun Kaisar, Beliau tak akan menenggelamkan seluruh perahu! Cepatlah kau pergi! Kalian semua… sama seperti anak-anakku sendiri! Aku tak mungkin membiarkan kalian terjerumus begitu saja!”

“Baiklah, aku akan pergi. Tapi aku akan menulis sepucuk surat pada Huang Ama agar Anda tidak dikambing hitamkan!”

Usai menulis surat, Yongqi pun pergi ke Graha Xuexi. Fulun dan Fuqin telah menunggunya. Mereka membawa Yongqi ke perpustakaan. Di sana Liu Qing dan Liu Hong telah menunggu. Melihat kedua bersaudara itu, Yongqi sontak terkejut.

“Liu Qing! Liu Hong! Kenapa kalian bisa ada di sini?”

Liu Qing menghambur pada Yongqi dan mengguncang lengannya dengan emosi.

“Kami baru kembali dari mengantar Meng Dan dan Hanxiang. Dan mendapati Graha Huipin telah hancur berantakan. Makanya kami kemari mencari Erkang. Tuan Besar Fu telah menceritakan pada kami peristiwa di istana. Beliau lalu meminta kami tinggal disini sambil menunggu berita selanjutnya.”

“Pangeran Kelima, kalian tidak boleh berlama-lama di sini,” kata Fulun. “Begitu Kaisar tahu Pangeran Kelima telah meninggalkan istana, tempat yang paling pertama digeledah adalah Graha Xuexi! Oleh karena itu kalian harus pergi ke Gang Mao’er. Di sana ada Lao Ge, orang kepercayaanku.” Fuqin memberi Yongqi sehelai kertas. “Ini alamatnya. Sesampainya di sana, orang itu akan membantu kalian!”

“Tapi bagaimana dengan lain-lainnya yang masih tertinggal di istana?” tanya Liu Hong cemas.

Fulun merendahkan suaranya. “Selir Ling telah merencanakan untuk membebaskan mereka pada saat yang tepat. Tunggu hingga saat itu tiba dan mereka akan diantar juga ke Gang Mao’er. Disana akan disiapkan kereta dan bekal. Habis itu kalian harus pergi mengembara sejauh mungkin!”

Yongqi amat terkejut mendengarnya. “Erkang termasuk akan ikut dalam pelarian ini? Pejabat Fu! Nyonya Fu! Apa kalian rela melepas Erkang?”

“Apa ada cara lain?” Fuqin meneteskan air mata. “Sebagai orang tua aku tak bisa membiarkannya mati. Kami juga tak mungkin memisahkannya dari Ziwei. Kalaupun itu artinya mereka harus pergi jauh, aku rela. Di satu tempat di muka bumi ini pasti ada tempat yang baik untuk kalian.”

“Lalu, setelah kami pergi, apakah Anda berdua tak akan mendapat masalah?” tanya Liu Hong lagi.

“Kami sudah meminta Ertai dan Saiya untuk kembali,” jawab Fulun. “Lagipula, keluargaku telah tiga generasi mengabdi pada kerajaan. Kaisar pasti tak akan mengusikku sampai terlalu jauh. Kalian tenang sajalah. Kami telah membiarkan Erkang ikut kalian dengan tenang. Jika dia tetap di istana, hati kami sesungguhnya selalu merasa cemas.”

“Siapa tahu kita semua masih punya sedikit harapan…,” hibur Yongqi. “Siapa tahu, Huang Ama tiba-tiba bisa memahami semua ini dan mengampuni kita semua!”

Fulun dan Fuqin saling tatap lalu berkata penuh harap. “Kami terpaksa memasrahkan semua ini kepada takdir. Kalian jangan lupa. Selain Selir Ling, di dalam istana kita masih punya satu penolong lain: Qing’er.”

***

Di Istana Zhuning, Qing’er mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memohon pengampunan Lao Foye bagi Xiao Yanzi dan kawan-kawan.

“Lao Foye, mohon Anda sudi berbelas kasihan. Kalau dipikir, kesalahan mereka ini kebetulan sekali telah membantu Anda menghilangkan beban besar dari hati Anda. Selir Xiang telah pergi dari Istana, bukankah Lao Foye sepatutnya merasa lega? Untuk apa kita melacak keberadaannya lagi? Kalaupun Selir Xiang ditemukan, Kaisar pasti tak tega menghukumnya. Lantas, apakah Lao Foye masih akan memaksa Selir Xiang untuk bunuh diri?”

Ibu Suri terpana. Betl juga kata-kata Qing’er.

“Tapi tetap tidak sesederhana itu, Qing’er. Mereka telah menipu Kaisar. Mana mungkin mereka diberi kelonggaran?”

“Atau…, Qing’er, masihkah kau menyukai Erkang? Barangkali aku bisa membebaskan Erkang dari eksekusi.”

Qing’er terbelalak. “Kalau hanya Erkang yang dibebaskan dan yang lainnya mati, itu sama saja bagi Erkang untuk ikut mati!”

Ibu Suri terpana. Belum sempat dia menanggapi, terdengar pengumuman dari kasim, “Permaisuri datang!”

Permaisuri masuk bersama Bibi Rong dan menghaturkan salam hormat.

“Ada hal apa hingga kalian kemari?”

“Utusan Lao Foy eke Jinan telah kembali,” jawab Permaisuri. “Dan dia berhasil mendapat petunjuk!”

Bibi Rong menyambung, “Duli Lao Foye! Utusan itu berhasil membawa tiga orang. Mereka adalah dukun beranak yang membantu persalinan Putri Ziwei. Dua lainnya adalah sepasang suami-istri tua, kerabat Putri Ziwei dari pihak ibu.”

Ibu Suri terkejut. “Mana mereka? Tunggu apa lagi? Segera bawa mereka kesini!”

“Baik!” Bibi Rong bergegas keluar.

***

Sementara Ibu Suri menginterogasi tiga orang tamu dari Jinan, di kediamannya Qianlong sedang kesal setelah mendengar kepergian Yongqi.

Xiao Shunzi, kasim Yongqi, membawa surat yang ditinggalkan Yongqi. Qianlong membaca surat itu dengan seksama.

“Huang Ama, maafkan aku yang tidak berbakti. Aku sungguh tak tahu harus mulai bicara dari mana. Tapi rasa hormatku kepada Huang Ama tetap sama dan tidak pernah berubah. Masalah Selir Xiang, meski kami memang bersalah namun jauh di dalam ada alasan kami untuk melakukannya. Kalau suatu hari Huang Ama telah dapat memahami alasan itu, kami harap Huang Ama dapat memaafkan kesalahan kami. Namun jika Huang Ama tetap tak sudi memaafkan, dengan berat hati, aku akan mengucapkan salam perpisahan pada Anda!”

Surat itu langsung dicampakkan Qianlong usai membacanya. “Mau berpisah? Baik! Biarkan saja semuanya menghilang dan tak usah kembali! Aku tak mau punya anak seperti ini lagi!”

Selir Ling memungut surat itu dan membacanya. Dia berkata, “Yang Mulia, surat Pangeran Kelima ini sarat dengan perasaan. Dia pun sesungguhnya tak berdaya. Asal Yang Mulia mau memaafkan yang lainnya, Pangeran Kelima pasti akan kembali. Kalau tidak, tentu dia akan memilih sehidup-semati bersama yang lainnya. Yang Mulia harus berpikir matang. Setelah kehilangan Selir Xiang, jangan sampai Anda kehilangan putra dan putri juga!”

“Selir Ling! kau tak perlu membantu mereka lagi!” seru Qianlong. “Mereka telah berkali-kali membohongiku! Aku sakit hati sekali! Aku telah berulang kali menanyai mereka, kemana Selir Xiang pergi dan waktu itu mereka terus saja mengatakan bahwa dia telah berubah menjadi kupu-kupu…” Semakin bicara, Qianlong semakin marah.

Selir Ling terdiam. Pada saat yang sama, datang utusan Ibu Suri menghadap Qianlong.

“Lapor Yang Mulia, Lao Foye meminta Anda ke Istana Zhuning sekarang juga! Ada masalah penting yang hendak disampaikan!”

***

Pada saat yang sama, Ziwei, Xiao Yanzi, Jinshuo dan Erkang juga dibawa ke Istana Zhuning.

Xiao Yanzi mengira Lao Foye berhasil membujuk Kaisar untuk mengampuni mereka. Akhirnya mereka bebas. Tapi di luar dugaan mereka semua, pemanggilan ke Istana Zhuning ini hanya untuk mendengar kabar buruk lain yang lebih menyedihkan.

Keempatnya masuk ke aula Istana Zhuning. Begitu melihat Yongqi tak ada, tahulah Xiao Yanzi kalau pemuda itu telah keluar lebih dulu. Di aula Istana Zhuning penuh orang. Ibu Suri, Kaisar, Permaisuri, Selir Ling, Qing’er, Bibi Rong… dan juga ada tiga sosok rakyat jelatayang sedang berlutut.

Ibu Suri segera membuka mulut, “Yang lainnya tak boleh bicara!” Ditatapnya ketiga rakyat jelataitu. “Angkat wajah kalian dan lihatlah, yang di sana itu adalah Ziwei. Coba kalian kenali!”

Dukun beranak yang bernama Nenek Li itu mengangkat wajah dan berkata ketakutan, “Ampun Lao Foye… hamba tak dapat mengenalinya. Hamba hanya melihatnya sekali waktu baru lahir. Waktu itu dia masih bayi…”

Sepasang suami-istri di sebelahnya mengangkat kepala. Mereka menatap ketiga gadis dengan seksama, lalu terpaku pada Ziwei.

Ziwei balas menatap mereka sesaat, tiba-tiba dia mengenali sepasang suami-istri itu. Matanya berbinar. Dia terkejut sekaligus senang.

“Jiupo! Jiugong!” seru Ziwei memanggil keduanya dengan sebutan untuk saudara nenek dari pihak ibu. “Kenapa jalian bisa ada di Beijing? Bukankah kalian seharusnya di Jinan?’

Wanita itu dan suaminya menghampiri Ziwei. Mereka memeluk Ziwei erat-erat. Dengan mata basah, si wanita berkata, “Sudah lama tidak bertemu. Ziwei, kau sudah dewasa! Kau tumbuh begitu cantik… Seingatku, ketika kau dan ibumu pindah ke Gunung Qianfo, kau baru berumur sembilan tahun.”

Melihat itu Ibu Suri berdehem. Dengan nada tinggi dia berkata, “Reuninya sudah selesai? Ziwei! Apakah mereka ini adalah kerabatmu dari pihak ibu?”

“Benar! Tapi saya tidak tahu kenapa mereka berada di Beijing?”

Jinshuo tak dapat menahan diri, maju dan menekukkan lutut. “Jiupo, Jiugong, apa kabar?”

Si wanita tua itu tampak terkejut. “Ini Jinshuo? Kau masih mengabdi pada Ziwei, ya? Bagus sekali!”

Ibu Suri berkata dingin. “Baik, tampaknya, hubungan kekerabatan ini sudah pasti benar. Ziwei, semula keluargamu tinggal dimana lalu pindah kemana?”

Ziwei agak terkejut dengan pertanyaan itu. Dia buru-buru menjawab, “Sebelumnya kami tinggal di Gang Chiangchia, lalu pindah ke kaki Gunung Qianfo.”

“Kapan kau dilahirkan?”

“Saya lahir pada tanggal dua bulan delapan tahun Renxu.”

Ibu Suri memandang ke arah Nenek Li. “Nenek Li! Katakan waktu kelahiran Ziwei!”

Nenek Li gemetaran. “Seingat hamba…, hamba membantu persalinan Xia Yuhe pada tanggal delapan bulan dua belas tahun Guihai. Itu setahun setelah tahun Renxu. Tapi tidak tahu, apakah bayi wakt itu adalah Putri ini atau bukan. Saya sama sekali tak bisa mengenalinya!”

Xia Yuhe punya berapa anak perempuan?” tanya Ibu Suri pada kakek kerabat Ziwei.

“Yuhe hanya punya satu anak perempuan!” Lelaki itu tampak sangat ketakutan hingga jatuh berlutut.

Ziwei akhirnya mengerti. Serta-merta wajahnya berubah pucat. Ditatapnya ketiga tamu rakyat jelata itu.

“Tidak! Tidak mungkin!Aku lahir pada bulan delapan. Kata ibuku, waktu itu bersamaan dengan mekarnya bunga Ziwei! Makanya dia memberiku nama Ziwei!”

“Tapi, kau sungguh dilahirkan pada tanggal delapan bulan dua belas tahun Guihai!” lelaki tua itu bersikeras. “Aku sendiri yang membantu ibumu menjemput dukun beranak! Ketika kecil dulu namamu bukan Ziwei. Tapi Xiao Pudian. Waktu kau berumur enam tahun barulah ibumu mengganti namamu karena menganggap Xiao Pudian itutidak enak didengar!”

Bukan hanya Ziwei yang memahami kemana arah pertemuan ini. Bahkan Xiao Yanzi, Jinsuo dan Erkang juga tahu….

Ziwei merasa sekelilingnya berputar dan akan lenyap. “Ibuku tidak perrnah berbohong… Kenapa bisa begini?”

Qianlong tak dapat menahan diri lagi. Mengeraskan diri, dia berkata, “Ziwei! Aku selalu menganggap ibumu sebagai wanita yang setia. Aku telah merasa berdosa padanya sehingga menerimamu dengan lapan dada. Ternyata, semua ini adalah penipuan yang telah terencana! Ibumu rupanya penipu! Pantas saja kau pun licik! Ak sungguh buta telah mengakuimu sebagai putriku!”

Ziwei terhenyak. Terbata-bata dia bergumam, “Ibuku bukan oran seperti itu… Huang Ama tentu sangat mengenalnya!”

Qianlong mendengus keras. “Jangan panggil aku Huang Ama lagi! Aku bukan Ayahanda Kaisarmu!”

Xiao Yanzi berteriak, “Huang Ama! Anda yang terjebak! Siapa yang tahu bagaimana orang-orang ini bisa kemari? Kalaupun mereka kerabat Ziwei, toh mereka sudah tua, jadi mereka bisa saja salah mengingat waktu kelahiran Ziwei! Huang Ama jangan memfitnah ibu Ziwei! Xia Yuhe sudah meninggal. Dia tentu tak bisa keluar dari kuburnya untuk membela diri!”

“Tutup mulutmu!” tudiang Qianlong. “Kau dan Ziwei telah bersekongkol menipuku. Sekarang rahasia ini telah terbongkar, kau masih tak tahu malu! Huang Ama apaan? Aku bukan Ayahanda Kaisarmu!”

Jinshuo ikut berseru, “Yang Mulia! Hamba telah mengabdi sembilan tahun pada Nyonya! Hamba berani bersumpah Nyonya wanita terhormat! Beliau sangat pandai dan mengajarkan segala kepandaiannya itu pada Nona!”

“Aku tak mau dengar apapun tentang Xia Yuhe lagi! Bawa semua orang yang ada hubungannya dengan Yuhe keluar dari sini!”

Para kasim menyeret ketiga rakyat jelata itu keluar.

Ziwei menatap Qianlong. air matanya berlinangan. “Huang Ama…,” katanya pilu. “Aku tak peduli bisa menjadi putri Anda atau tidak. Tapi ibuku wanita terhormat! Dia tahu bagaimana menjaga diri. Ibuku juga tidak perah berbohong padaku…” Lalu bruk! Ziwei jatuh tersungkur seraya menangis keras di lantai.

“Tak perlu bersandiwara lagi!” hardik Ibu Suri. “Kesalahan kalian sungguh tak termaafkan! Kembali saja ke penjara untuk menunggu eksekusi!”

Erkang buru-buru maju. “Yang Mulia! Mohon dengarkan perkataan hamba!”

Ibu Suri melotot. “Erkang! kau kira, hanya Kaisar saja yang telah ditipu oleh gadis-gadis ini? Sebenarnya masih ada dua orang lagi! Yakni kau dan Pangeran Kelima! Sadarlah Erkang, kau pemuda yang kami kasihi. Jangan sampai kau tertipu terus. Sekarang Ziwei bukan seorang putri. Jasi otomatis perjodohan kalian pun batal. Asal kau mau insyaf, masih ada jalan bagimu untuk kembali. Apa kau mengerti?”

Mendengar perkataan Ibu Suri, Ziwei menengadahkan kepala menatap Erkang dengan sorot mengiba.

Erkang melihat Ziwei, lalu menatap Ibu Suri dan lain-lainnya. “Duli Lao Foye! Bagi Paduka, latar belakang dan darah Ziwei sangat berarti. Tapi bagi hamba, semua itu tidaklah penting! Hamba memang mencintainya, memandang tinggi dirinya bukan karena dia seorang putri atau bangsawan, melainkan hanya Ziwei saja!”

“Dia Ziwei hamba dan tak akan pernah berubah! Kalaupun hamba disuruh menukar segala kehormatan, kekayaan dan nyawa sekaligus dengan Ziwei, hamba akan rela melakukannya!”

Kepala Ziwei terangkat. Ditatapnya Erkang dengan sorot penuh haru. Bahkan semua orang yang ada di ruangan itu mau tak mau tersentuh. Ketiga gadis itu pun diseret kembali ke penjara.

Di selnya, Ziwei merasa lebih tenang. Dia berkata lembut pada Xiao Yanzi dan Jinshuo,

“Bagiku, kapan aku dilahirkan dan siapa ayahku, semuanya tak penting lagi. Aku hanya beruntung memiliki Erkang. Sangat beruntung. Mati sekarangpun, aku sudah ikhlas…”

***

Qianlong masih juga seperti cacing kepanasan. Segala perasaan malu dan terhina selaku Kaisar telah mengepungnya. Belum selesai soal identitas Ziwei, masalah Selir Xiang kembali menghadangnya.

Para panglima yang ditugaskan untuk mencari Selir Xiang satu persatu kembali dan melapor nihil. Perasaan malu Qianlong pun semakin memuncak.

“Tidak ketemu? Kalian telah mencoba beberapa rute, kenapa tidak bisa menemukan jejak mereka sedikit pun?”

Para pejabat itu ketakutan. Salah satunya memberanikan diri bicara, “Karena Baginda memerintahkan untuk tidak boleh terang-terangan mencari Selir Xiang, kami pun jadi hati-hati sewaktu menginterogasi orang. Apakah mungkin kita bisa menggambar wajah Selir Xiang untuk memudahkan pencarian?”

Qianlong menggebrak meja. “Mana mungkin kita bisa mengumumkan secara terbuka kalau seorang Selir telah menghilang dari istana? Mengedarkan gambar wajahnya itu sama saja dengan membocorkan rahasia dalam istana!”

Perasaan Qianlong sangat kacau. “Berapa besar kemungkinan kalian dapat menemukannya? Berterus teranglah padaku.”

Salah seorang panglima bernama Quanheng maju dan melapor, “Tugas ini benar-benar sulit. Negeri kita sangat luas, entah kemana kami harus melakukan pencarian. Hamba khawatir, semakin banyak kita mengerahkan pasukan, rahasia ini akan semakin sulit terjaga. Mohon petunjuk Kaisar agar kami dapat melakukan tugas ini dengan baik.”

Qianlong terpana. Dia terpukul. Akhirnya setelah terdiam beberapa lama, ia pun mengangkat kepala.

“Sudahlah! Hentikan saja pencarian ini… Kita umumkan saja Selir Xiang telah meninggal karena sakit keras. Utus orang ke Xinjiang untuk memberitahukan hal ini pada Ali Hoja. Lalu mulailah membangun makam Selir Xiang. Masalah ini cukup selesai sampai di sini!”

”Hamba mematuhi perintah!” serempak para panglima menyahut.

Setelah panglima-panglimanya undur diri, Qianlong kembali terpuruk dalam kepedihan. Tak henti-hentinya dia berpikir, telah mencurahkan cinta, perlindungan serta kasih sayang pada Ziwei dan Xiao Yanzi. Tapi semuanya sekarang tampak seperti lelucon besar yang membelenggunya.

Maka, keesokan harinya, Ziwei, Xiao Yanzi, Jinshuo dan Erkang dipanggil kembali. Kali ini di kediaman Qianlong di Istana Qianqing. Di hadapan Ibu Suri, Permaisuri, para Selir dan pejabat istana, Qianlong menjatuhkan vonis.

“Ziwei dan Xiao Yanzi menyamar sebagai Putri untuk masuk istana. mereka telah melakukan penipuan tak termaafkan. Aku menjatuhkan hukuman pancung bagi mereka. Eksekusinya akan dijalankan besok siang di depan umum!”

Walau Ziwei dan Xiao Yanzi sudah menduga akan dihukum penggal, tetap saja mereka terkejut. Erkang terkesiap. Bahkan Ibu Suri, Permaisuri dan yang lainnya amat terkejut.

“Jinshuo, si budak dayang, hanya mematuhi perintah majikan. Dia tidak dijatuhi hukuman mati – tapi akan dibuang ke Mongolia! Fu Erkang selaku pengawal Istana ternyata membantu persekongkolan, dipecat dari seluruh jabatannya dan dihukum penjara lima belas tahun!”

Semuanya kembali terkejut. Fulun maju selangkah dan berseru, “Yang Mulia, mohon belas kasihan! Hamba tak akan memohon bagi Erkang. Namun selama kedua Putri berada di istana, bukankah mereka juga sudah sering membahagiakan Anda? Bahkan ketika melakukan perjalanan menyamar, Putri Ziwei bahkan menyambut belati yang ditujukan bagi Anda dengan tubuhnya sendiri! Sekarang, meski dia melakukan kesalahan besar, tak patut dihukum mati! Mohon Yang Mulia mempertimbangkannya dengan seksama!”

Seluruh pejabat yang hadir berlutut sambil berseru, “Mohon Yang Mulia berbelas kasihan!”

Selir Ling juga maju dan berlutut. “Yang Mulia! Kita harus menyelidiki secara teliti apakah Ziwei putri palsu atau bukan. kita tak boleh menjatuhkan vonis hanya berdasarkan perkataan tiga orang rakyat jelata. Baginda sekarang marah besar sehinggga menjatuhkan vonis mati bagi kedua Putri, hamba khawatir setelah emosi itu reda, Yang Mulia hanya bisa menyesal. Mohon tarik kembali vonis itu, atau paling tidak, janganlah membuat keputusan tergesa-gesa seperti itu…”

Tindakan Selir Ling diikuti banyak Selir lain. Satu demi satu mereka keluar barisan dan berlutut. Semuanya berseru serempak, “Kami memohon ampun bagi kedua Putri! Mohon berilah belas kasihan!”

Melihat begitu banyak orang berlutut, Qianlong mulai gentar. Tapi siapa nyana, pada saat begitu Xiao Yanzi justru berteriak keras,

“Kalau mau dipancung ya sudah! Pancung saja! Tidak usah bilang menyamar jadi Putri segala! Andalah yang menyamar sebagai Ayahku! Kalau dari dulu aku tahu Anda begitu tak berperasaan, senang memenggal kepala orang, aku pasti tidak sudi punya ayah macam begini! Hari ini kami sadar, bukan Anda yang salah mengakui anak, tapi aku dan Ziweilah yang salah mengakui ayah!”

Qianlong sangat terperanjat hingga nyaris pingsan.

“Aku sudah mendengar kata-kata Xiao Yanzi. Ziwei, apakah kau juga ingin mengatakan sesuatu?”

Ziwei mengangkat kepala dengan tegak lalu berkata mantap, “Aku hanya menyesali nasib ibuku. Anda sama sekali tidak sepadan dengannya!”

Qianlong memukul meja dan berseru lantang, “Vonis sudah dijatuhkan! Siapa yang memohon pengampunan lagi akan dihukum mati bersama mereka!”

“Yang Mulia!” Erkang berseru lantang. “Hamba mohon mati bersama Ziwei dan Xiao Yanzi!”

Jinshuo juga ikut berteriak, “Hamba tak mau ke Mongolia! Hamba ingin dipancung saja!”

Qianlong sudah tidak peduli. Dia menundukkan kepala lalu pergi.

***

Kembali di penjara, Jinshuo menggenggam erat tangan Ziwei. Dia meraung-raung sambil menangis, “Mengapa aku dikirim ke Mongolia? Aku tidak mau ke Mongolia! Aku mau ikut mati bersama kalian!”

Ziwei berkata menenangkan, “Hidup itu lebih baik daripada mati, Jinshuo. Kau harus menghargai kehidupanmu! Ini permohonanku padamu!”

“Nyawamu itu sangat berharga! Belum saatnya bagimu untuk mati!” seru Xiao Yanzi. “Aku dan Ziwei yang akan mati. Hitung-hitung, kau harus tetap hidup demi kami. Jadi, kalau kelak kita bertemu di akhirat, kau bisa memberitahu kami peristiwa-peristiwa menarik setelah kami mati!”

Xiao Yanzi mengelus lehernya. “Ziwei, apakaj para algojo itu sangat lihai? Seandainya leher kita sangat keras dan tak bisa putus dalam sekali penggal bagaimana?”

“JAngan khawatari. Para algojo itu sangat berpengalaman. Sekali tebas kepala kita pasti langsung putus!”

Xiao Yanzi berpikir-pikir, “Entah apakah kita masih merasa sakit kalau kepala kita sudah jatuh ke tanah, ya?”

Jinshuo tidak tahan mendengar ucapan Xiao Yanzi, dia pun berteriak, “Huaaaaa!!!”

Ziwei memeluk Jinshuo. “Tabahkan dirimu. Kalau sedih begini, aku pun ikut sedih. Jinshuo yang baik…”

Ziwei meraba-raba lehernya dan menanggalkan kalung emas yang dipakainya lalu dikenakannya ke leher Jinshuo.

“Ini kalung peninggalan ibuku. Terimalah sebagai tanda mata. Kalau terjepit, kau boleh menjualnya. Mongolia itu jauh sekali. Udaranya sangat kering. Kau harus berhati-hati dan menjaga dirimu dengan baik.”

Jinshuo menyentuh kalung di lehernya. “Tidak! Aku tidak bisa berpisah dengan kalian! Pasti nantinya akan ada perubahan! Pasti…”

Tiba-tiba serombongan sipir penjara mendekat. “Kami membawa titah untuk membawa terpidana Jinshuo ke Mongolia!”

Salah satu sipir membuka pintu sel lalu memasang pasung kayu ke leher Jinshuo. Tangan dan kaki gadis itu juga diborgol. Jinshuo berusala melepaskan diri dengan meronta-ronta,

“Aku tidak mau! Aku tidak mau!”

Plak! Pipi Jinshuo ditampar. “Diam! Sekarang kau sudah tidak punya hak untuk protes!”

Xiao Yanzi marah sekali dengan kesewenang-wenangan sipir itu. Dia balas menampar sipir itu sambil berteriak, “Kau berani menampar Jinshuo? Akan kubalas kau berlipat-lipat!”

Plak! Xiao Yanzi kembali menampar si sipir. “Lagipula toh besok aku akan mati. Jadi lapor saja pada Baginda Kaisar kalau aku menamparmu!” Plak! Plak! Plak!

Sipir itu berseru minta tolong. “Pengawal! Cepat…!”

Kawan-kawannya segera memasuki sel dengan senjata terhunus. Ziwei segera menarik Xiao Yanzi. “Jangan melawan lagi. Tak ada gunanya…”

Sipir-sipir itu menyeret Jinshuo keluar. “Nona!!! Xiao Yanzi!!!” seru Jinshuo memilukan.

“Jinshuo!!! Jinshuo!!!” Ziwei juga berseru seperti disayat sembilu. Pintu sel kembali terkunci.

Jinshuo terus berteriak hingga suaranya lenyap bersama dengan sosoknya.

Ziwei menangis dan bergumam lirih, “Jinshuo, setelah aku mati, arwahku akan menemanimu ke Mongolia…”

Ziwei terjatuh ke lantai. Dia dan Xiao Yanzi berpelukan sambil menangis.

***

Di penjara pria, Erkang samara-samar mendengar Jinshuo telah dibawa pergi.

Dia hanya bisa terduduk. Hatinya hancur mendengar tangisan Ziwei dan Xiao Yanzi.

Entah kapan gilirannya menjalani hukuman. Mungkinkah di luar sana Liu Qing dan Liu Hong tengah berusaha menolong mereka? Di manakah Yongqi sekarang berada? Apakah dia sudah berhasil meninggalkan istana?

Erkang larut oleh pikiran-pikirannya. Empat jam kemudian, terdengar suara langkah-langkah kaki menuju selnya. Terdengar suara Selir Ling yang berwibawa, “Kaisar khusus memerintahkan! Walau mereka telah berbuat kesalahan besar, mereka tetap adalah keluarga Kerajaan jadi kalian tak boleh menghalangi kami untuk menjenguk mereka!”

Erkang terkejut. Jantungnya berdegup kencang. Tampak olehnya Selir Ling, Qing’er – diikuti Xiao Dengzi, Xiao Cuozi, juga Mingyue dan Caixia.

Para sipir dengan penuh hormat menyalakan obor dan menerangi langkah-langkah Selir Ling. Mereka menyahut takzim, “Siap, Selir Ling! Mohon Anda dan Putri Qing berjalan hati-hati!”

Kini semuanya sudah berdiri di depan sel Erkang. Sekujur tubuh Erkang tegang.

Sipir membuka pintu sel. Selir Ling berkata padanya, “Aku dan Tuan Muda Fu ingin bicara sebentar. Kalian menyingkirlah!”

“Baik!” sipir itu lalu menancapkan obor di satu sudut dan undur diri.

Setelah sipir itu lenyap dari pandangan, Xiao Dengzi dan Xiao Cuozi bergegas masuk ke dalam sel. Kedua kasim itu dengan cekatan melepas pakaian Erkang, lalu memakaikannya baju kasim yang rupanya telah mereka siapkan.

“Aku akan bicara dengan singkat!” kata Selir Ling. “Setelah memakai baju kasim itu, kau akan berpura-pura sebagai Xiao Dengzi dan keluar bersama Xiao Cuozi. Xiao Dengzi akan menggantikanmu di sini. Setelah itu, kau harus cepat ke gerbang barat. Di sana Xiao Guizi telah menunggu dalam kereta kuda. Tunggu sebentar sekitar lima belas menit. Kami akan berusaha menyelamatkan Ziwei dan Xiao Yanzi. Kalau waktunya sudah tiba dan kalian mas melihat kami, jangan tunggu lagi! Lekaslah ke Gang Mao’er. Di sana ada Lao Ge. Juga ada Pangeran Kelima, Liu Qing dan Liu Hong ikut menunggu disana!”

Sambil lekas-lekas merapikan pakaian kasimnya, Erkang berkata cemas, “Kalian yakin bisa menyelamatkan mereka?”

“Kami akan berusaha mati-matian. Asal tak ada rintangan, tentu tak akan ada masalah.”

Erkang merasa beribu terima kasih. “Tapi…, setelah kami semua pergi, bagaimana dengan kalian?”

“Kau tak usah mencemaskan kami. Bila nantinya ketahuan, aku akan berterus terang pada Kaisar. Yang Mulia telah kehilangan Selir Xiang, lalu kalian… Beliau pasti tak mau kehilangan diriku lagi!” ujar Selir Ling.

“Begitupun denganku,” timpal Qing’er. “Lao Foye juga tak akan sudi kehilangan aku!”

“Bagaimana kalau ternyata mereka ‘rela’ kehilangan kalian?”

Qing’er tersenyum tipis. “Maka aku akan mengucapkan kaliamat yang sering dipakai Xiao Yanzi: ‘Kalau mau nyawa, ambil saja nyawaku!’”

Erkang masih bimbang. “Lalu…, Xiao Dengzi?”

“Kami telah menyuap dua sipir. Setelah kita pergi, mereka akan kembali kesini untuk melepasnya,” jawab Selir Ling.

Xiao Dengzi bersujud memberi hormat pada Erkang, “Tuan Muda Erkang, jangan pedulikan hamba! Bawalah kedua Putri segera pergi dari sini!”

Qing’er buru-buru mendorong Erkang. “Cepatlah! Waktunya sangat sempit! Jangan bimbang! Aku yakin kami tak akan kenapa-napa!”

Selir Ling menyambung, “Kau pergilah duluan. Kita harus keluar satu persatu. Tunggulah di gerbang barat. Seandainya kami gagal menolong kedua gadis itu, besok di tepat eksekusi, kalian masih bisa melakukan sesuatu!”

Erkang terpana. “Aku paham!” Dia menyoja. “Aku tidak bisa mengungkapkan semua isi hatiku, akan tetapi… terima kasih!”

Selir Ling lalu sengaja berkata dengan suara tinggi. “Xiao Dengzi! Xiao Cuozi! pergilah ke Istana Yanxi dan ambil selimut! Di sini rupanya dingin sekali!”

Xiao Cuozi menarik Erkang yang telah berpakaian kasim keluar. Mereka tak dihalangi sama sekali. Setelah melihat Erkang kelluar, Selir Ling dan Qing’er menuju penjara wanita bersama Mingyue dan Caixia.

Xiao Yanzi dan Ziwei begitu tekejut sekaligus gembira melihat kunjungan Selir Ling dan lainnya. “Selir Ling? Qing’er? Kalian datang? Mingyue dan Caixia juga!”

“Pengawal! Buka pintu selnya!” Selir Ling memerintahkan. “Biarkan aku bicara dengan putri-putriku!”

Sipir penjara membuka gembok. Selir Ling menyelipkan sekeping uang emas yang diterima oleh sipir itu dengan sukacita. Si sipir pun pergi.

Qing’er langsung berkata, “Cepat kalian berdua tukar pakaian dengan Mingyue dan Caixia! Mingyue dan Caixia yang akan menyamarsebagai kalian di penjara. cepat! Erkang telah menunggu di gerbang barat!”

Ziwei tahu kedatangan mereka adalah untuk menolongnya dan Xiao Yanzi. “Apa tidak apa-apa kalian melakukan ini? Bagaimana dengan kalian jika ini terbongkar? Aku tak mau melaukan hal ini jika harus mencelakakan kalian!”

Xiao Yanzi juga menolak usul itu. sehingga Selir Ling gusar sekali.

“Kalian berdua percaya saja pada kami! Aku sudah mengatur segalanya! Asal kalian berdua bisa keluar dari istana, nanti akan ada sipir yang membebaskan Mingyyue dan Caixia!”

“Kumohon, kalian percaya saja padaku dan Selir Ling…” kata Qing’er waswas.

“Tapi kalian sebaiknya menjelaskan rencana ini…,” Ziwei belum selesai bicara terdengar suara sipir yang sengaka dikeraskan.

“Semoga Yang Mulia Permaisuri panjang umur hingga ribuan tahun! Sudah malam begini…, mengapa Anda datang kemari? Aiya, pelan-pelan, hamba akan menuntun Anda!”

Begitu mendengar kedatangan Permaisuri, semuanya langsung pucat pasi.

“Celaka! Kita tak bisa menjalankan rencana ini lagi!” ujar Selir Ling putus asa. “Untung kita sudah mengantisipasinya. Mingyue, Caixia, lekas keluarkan pakaian dan topi Putri!”

Mingyue dan Caixia tidak jadi menyamar sebagai Ziwei dan Xiao Yanzi. Sebaliknya, mereka membantu Ziwei dan Xiao Yanzi memakai pakaian baru dan mengenakan topi pianfang mereka.

Qing’er sengaja bicara keras-keras, “Ziwei, Xiao Yanzi! Lao Foye sengaja mengutus kami kemari untuk meminta kalian berganti pakaian. Bagaimanapun, kalian pernah menjadi putri, jadi jangan sampai kalian terlihat berantakan ketika hendak pergi kea lam lain. Anggaplah ini budi baik yang diberikan Loa Foye pada kalian!”

Mingyue dan Caixia buru-buru membantu Ziwei dan Xiao Yanzi berganti pakaian, juga menyisiri rambut dan memasangi topi mereka.

Permaisuri masuk bersama Bibi Rong.

“Wah…, malam-malam begini bayak sekali tamu disini!” sindirnya penuh kecurigaan.

“Salam untuk Permaisuri,” Selir Ling terpaksa memberi hormat. “Hamba dan Qing’er diutus oleh Lao Foye untuk menjenguk kedua Putri. Kalau Permaisuri? Apa yang menyebabkan kedatangan kemari Anda malam-malam begini?”

Bibi Rong berkata pongah, “Lao Foye benar-benar welas asih. Sebelum matipun dia menginginkan kalian berdandan. Biar kalian berdandan secantik apapun, begitu kepala kalian berguling ke tanah, tetap saja wajah kalian akan diselimuti debu!”

Xiao Yanzi dan Ziwei tahu kesempatan mereka untuk kabur telah lenyap. Xiao Yanzi terutama. Mendadak dia tak takut lagi. Dia tertawa keras sambil berkata, “Ziwei! Kita berdua besok akan mati! Malam ini, mari kita balas semua dendam dan fitnah yang pernah kita peroleh!”

Serta merta Xiao Yanzi maju dan menampar wajah Bibi Rong. Permaisuri buru-buru berteiak, “Pengawal! Pengawal!”

Xiao Yanzi juga menyundul kepala Permaisuri hingga wanita itu jatuh terjerembap. Xiao Yanzi lalu memukuli tubuh Permaisuri.

“Aku memang sudah selalu celaka sejak dulu!” Xiao Yanzi kembali menendang Bibi Rong hingga ikut terjerembap. “Ziwei! Besok kita akan mati, tapi malam ini, Permaisuri datang bersujud pada kita!”

Para pengawal datang dan menarik Xiao Yanzi. Permaisuri dan Bibi Rong merangkak bangun dengan mengaduh-aduh. Dengan penuh kebencian, Permaisuri berkata, “Sudah mau mati kau masih berani menoceh! Tunggu sampai kepalamu putus! Kita lihat apa kau masih bisa bicara?”

Qing’er takut Permaisuri akan mencurigai Erkang yang telah menyelinap pergi. Dia pun berkata, “Xiao Yanzi, Ziwei, kami datang mewakili Lao Foye dan Kaisar untuk mengantar kepergian kalian! Tak boleh ada kebencian lagi. Besok, pergilah dengan baik. Aku tahu apa yang mengganjal hati kalian. Jika pada kehidupan ini kita tak bertemu lagi, semoga masih ada kesempatan di kehidupan mendatang!”

Melihat rencananya gagal, Selir Ling merasa kesal sekali. Dia tak dapat menahan diri berkata pada Permaisuri, “Permaisuri! Anda sengaja kesini malam-malam begini, apakah ada sesuatu yang ingin disampaikan? Kata-kata perpisahan barangkali?”

“HUH!” Permaisuri mengibaskan tangannya pada sipir. “Lekas kalian kunci rapat-rapat pintu sel ini dan berjaga ekstra di pintu! Kedua gadis ini bisa ilmu hitam! Jangan sampai mereka berubah menjadi kupu-kupu dan meninggalkan tempat ini! Kalau sampai hal itu terjadi, kalian semua akan mati!”

“Baik! Baik!” para sipir menyahut.

Bibi Rong menatap Selir Ling dengna waspada. “Apakah Selir Ling sudah selesai mengucapkan kata-kata perpisahan?”

Selir Ling menggertakkan gigi saking kesalnya. Dia tak bisa apa-apa lagi.

“Qing’er, mari kita bersama-sama mengantar Permaisri kembali ke Istana Kunning!” kata Selir Ling. “Mingyue, Caixia! Kalian kembali ke Paviliun Shuofang saja!”

Mingyue dan Caixia sangat sedih karena tak dapat menyelamatkan Ziwei dan Xiao Yanzi. Keduanya pun bersujud pada Ziwei dan Xiao Yanzi sambil berurai air mata.

“Kami bersujud pada Putri berdua. Mohon jaga diri Anda!” seru Mingyue dan Caixia.

Qing’er menggenggam tangan Ziwei dan Xiao Yanzi sejenak sebelum beranjak.

Ziwei dan Xiao Yanzi lalu berlutut dan bersujud penuh hormat pada Selir Ling.

“Selir Ling, semua kebaikan Anda akan Ziwei dan Xiao Yanzi ingat dalam hati. Entah di surga atau di dunia, kami akan mendoakan kebahagiaan Anda,” kata Ziwei.

Air mata Selir Ling berlinangan. “Sampai jumpa..,” Dia lalu berkata pada Permaisuri, “Baiklah! Mari kita pergi.”

Selir Ling dan rombongan berlalu bersama Permaisuri dan Bibi Rong. Sipir penjara menutup pintu sel. Tinggallah Ziwei dan Xiao Yanzi teduduk lemas.

***

Di gerbang barat, Erkang telah menunggu di atas kereta bersama Xiao Guizi. Hatinya sangat gundah.

Setelah menunggu sesuai waktu yang telah disepakati dan tanda-tanda kehadiran Ziwei dan Xiao Yanzi tidak muncul-muncul juga, Erkang mulai cemas.

Tiba-tiba, Xiao Cuozi muncul. Melihat kiri-kanan tak ada memperhatikan, Xiao Cuozi langsung menyelinap ke atas kereta.

“Tuan Muda Erkang, lekas pergi! Kedua Putri tak bisa diselamtkan. Permaisuri mendadak muncul dan semua berantakan. Selir Ling hanya berharap keajaiban besok. Anda tak boleh menunda-nunda! Lekaslah pergi sekarang!”

Selesai berkata demikian, Xiao Cuozi kembali ke istana. Erkang amat putus asa dan kecewa. Ditatapnya istana dengan perasaan kacau.

***

Hari pelaksanaan eksekusi pun tiba.

Di salah satu sudut kota Beijing – dekat istana, massa telah berkumpul. Semua orang inigin melihat kedua Putri yang akan dihukum mati.

Terdengar bunyi gong dipukul keras. Lalu muncullah arak-arakan petugas pelaksana hukuman mati membawa senjata dan panji-panji. Para pengawal kerajaan mengikuti di belakang dengan senjata toya siap menghalau massa.

Keda Putri berdiri di atas kereta tahanan. Begitu melihat keduanya, massa langsung berubah gaduh.

Tangan-kaki Ziwei dan Xiao Yanzi terborgol. Mereka terbelenggu dalam kereta tahanan. Pakaian mereka rapi sekali, lengkap dengan segala atribut Putri. Mereka sama sekali tdak tampak sepert dua terpidana mati. Keduanya menegakkan kepala, berwibawa, begitu cantik, sama sekali tak menunjukkan ketautan.

“Lihat! Itu kedua Putri jelata! Putri Huanzhu dan Putri Mingzhu!”

“Dua Putri yang cantik sekali! Tapi Putri jelata tetaplah Putri jelata. Tak punya kedudukan berarti. Jadi begitu Kaisar marah, kepala pun bisa melayang!”

“Padahal tahun lalu Putri Huanzhu bersama Kaisar pergi mengunjungi Kuil Langit untuk memberi persembahan. Hanya dalam sekejap, sekarang dia berubah menjadi terpidana. Sungguh tragis!”

“Bergaul dengan kalangan bangsawan memang seperti bergaul dengan harimau!”

Orang-orang semakin riuh rendah berbicara. Semakin lama, mereka semakin emosional. Dipicu rasa ketidak adilan, mereka mulai berdesak-desakan dengan emosi bergejolak.

Xiao Yanzi terkejut sekaligus heran melihat kerumunan massa sebanyak itu.

“Tak disangka, ternyata begitu banyak orang yang mau melihat kita mati! Kematian kita ternyata sangat meriah dan bergaya!” kata Xiao Yanzi kecut.

Ziwei memberi semangat. “Kita harus menunjukkan sikap berani. Jangan sekali-kali meneteskan air mata! Kau bisa kan? Begitu banyak orang datang melihat, kita harus menyajikan tontonan mengasyikkan!”

“Benar! Kita menyanyi saja!” Xiao Yanzi mulai bersemangat. Peduli setan! Kalau mau kepala, ambil saja kepalaku!

Xiao Yanzi dan Ziwei mulai menyanyikan lagu ’Hari Ini Cuaca Begitu Cerah!’

Mendengar nyanyian itu, massa semakin histeris dan hanyut oleh emosi.

“Coba lihat! Mereka bernyanyi! Mereka sama sekali tidak takut! Benar-benar Putri pemberani!”

“Kabarnya kedua Putri ini pahlawan! Mereka suka membela kebenaran! Mereka juga suka berbuat hal baik! Sungguh tidak adil mereka sampai dipenggal!”

Tiba-tiba, entah siapa yang memulai, sekelompok orang mulai berteriak,

“Semoga Putri Huanzhu panjang umur sampai seribu tahun! Semoga Putri Mingzhu panjang umur sampai seribu tahun!” – mereka semua lalu bersujud kepada Ziwei dan Xiao Yanzi.

Teriakan ini menular. Beberapa orang mulai berteriak-teriak, “Ampuni Putri dari hukuman mati! Ampuni Putri dari hukuman mati!”

Xiao Yanzi melihat Ziwei, “Ziwei! Kau dengar? Semua orang telah tahu tentang kita! Mereka tak menghendaki kita mati!”

Ziwei terkejut hingga kebingungan. “Benar. Aku sampai terharu. Barangkali kisah tentang kita telah menyebar…”

Seorang wanita tua berteriak, “Putri rakyat jelata adalah Putri kita semua! Jadi tak boleh dipenggal!”

Saat itu semakin banyak orang yang berteriak, “Kami mohon pengampunan bagi kedua Putri! Mereka adalah Putri jelata yang mewakili kami! Mohon Kaisar sudi mengabulkan kehendak rakyat! Ampunilah kedua Putri!”

Rombongan eksekusi mati jadi tercegat oleh massa yang berlutut di jalan-jalan. Kejadian ini sungguh mengejutkan. Pejabat pelaksana hukuman hatinya terketuk. Setelah berpikir-pikir, dia pun berkata kepada pengawal,

“Lekas kembali ke istana dan laporkan pada Kaisar. Katakan apakah hukuman ini bisa ditanggihkan?”

Pengawal itu buru-buru menunggang kuda dan melesatkan secepat kilat ke istana.

Massa masih terus berteriak, “Ampuni Tuan Putri dari hukuman mati! Semoga Tuan Putri sejahtera! Semoga Putri panjang umur sampai seribu tahun!”

***

Sementara itu di Istana Qianwing, semua Selir, pamgeran dan putri berkumpul di hadapan Qianlong. mereka mengupayakan usaha terakhir untuk menyelamatkan Ziwei dan Xiao Yanzi.
Selir Ling yang paling gencar membujuk Qianlong.

“Yang Mulia! Lekas tarik kembali perintah Anda! Ampuni kedua Putri sebelum terlambat!”

Permaisuri dan Ibu Suri mencegah keinginan Selir Ling dengan berbagai kalimat untuk meyakinkan Kaisar. Sementara para pangeran juga sudah mulai berlutut untuk memohon pengampunan.

Putra Permaisuri, Pangeran Kedua Belas juga ikut berlutut. Dia berseru, “Huang Ama! ampunilah Kakak Ziwei dan Kakak Xiao Yanzi! Jangan bunuh mereka!”

Melihat putranya ikut memohon, Permaisuri terperanjat bukan main. “Yongzi! Kau bahkan ikut memohon untuk mereka?”

“Ya! Mohon Huang Erniang membujuk Huang Ama!”

Qianlong menatap semua yang bersujud dengan terkejut. Ziwei dan Xiao Yanzi ternyata punya banyak pendukung di istana. Hatinya mulai tersentuh. Dia mulai merasa tidak tega.

Pada saat itulah pengawal dari tempat eksekusi datang melapor tentang kerumunan massa dan seruan-seruan mereka.

“Benarkah sampai seperti itu?” Qianlong terperanjat. Dia bimbang sejenak. Pada dasarnya, eksekusi ini hanya seperti tindakan pamer kekuasaan. Perasaannya melunak. Dia menghembuskan napas.

“Baiklah…. Aku umumkan bahwa…”

Tiba-tiba, masuklah sipir penjara dengan napas terengah melapor,

“Lapor Paduka! Kami semua patut mati! Tuan Muda Fu menghilang dari selnya!”

Qianlong tercengang. “Menghilang?”

“Ya. Semalam masih ada, tapi pagi ini hilang tak berbekas! Mungkin seperti Selir Xiang, Tuan Muda Fu juga telah mengubah wujudnya menjadi kupu-kupu…”

Wajah Qianlong berubah merah padam. Napasnya memburu. Dia lalu berkata dengan suara menggelegar,

“Lekas beritahu petugas eksekusi! Kedua gadis itu harus segera dipancung! Tanpa ampun lagiiiii!!!”

Bagaimana lanjutannya?

Ikuti petualangan Xiao Yanzi dan kawan-kawan dalam pelarian di buku keempat: Berlari ke Batas Cakrawala.

Bersambung

[Sinopsis Novel] Putri Huan Zhu/ Huan Zhu Ge Ge II Bagian 8


Judul Asli : Huan Zhu Ge Ge II-3: Pei Xi Chong Chong
Pengarang : Chiung Yao (Qiong Yao)
Penerbit : Crown Publishing Co., Taipei – Thaiwan.

Judul Bahasa Indonesia: Putri Huan Zhu II-3: Di Ujung Nestapa
Alih bahasa : Pangesti A. Bernardus (koordinator), Yasmin Kania Dewi, Tutut Bintoro
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Maret 2000 (Cetakan Pertama)

Cerita Sebelumnya:
Suatu malam usai merayakan selamatan Xiao Yanzi di Paviliun Shuofang, Hanxiang ditunggui Qianlong di Graha Baoyue. Qianlong mendekati Hanxiang lagi. Mencoba merayunya dan memanfaatkan kondisi Hanxiang yang sedang mabuk. Hanxiang terdesak sehingga mengelurkan belati dan melukai Kaisar. Meski berusaha ditutupi, peristiwa ini akhirnya bocor ke telinga Ibu Suri. Dan tanpa menunda-nunda lagi, Ibu Suri pun menganugerahkan kematian kepada Hanxiang…

VIII

“Dia meninggal?!?” Ziwei bertanya histeris. Dia, Xiao Yanzi dan lain-lainnya bergegas kembali dari Graha Huipin begitu mendapat pesan dari Qing’er.

Qing’er telah menunggui mereka di depan Gerbang Paviliun Shuofang seperti orang linglung.

“Belum! Selir Xiang dibawa ke Graha Baoyue. Dia diijinkan meninggal secara terhormat di tempat tidurnya!”

Xiao Yanzi berteriak, “Apa bedanya diijinkan meninggal terhormat? Kalau mati ya mati!” – Dia melesat seperti kesetanan menuju Graha Baoyue.

Qing’er tidak berani terang-terangan dicap mendukung Selir Xiang, Xiao Yanzi dan kawan-kawan. Merasa tugasnya untuk memanggil Xiao Yanzi dan yang lainnya kembali telah selesai, dia pun kembali ke Istana Zhuning. Dengan berat hati, Qing’er hanya bisa membantu Hanxiang sampai sini. Selanjutnya tergantung pada nasib.

Sampai di Graha Baoyue, Xiao Yanzi, Ziwei dan Jinshuo menerjang ke kamar Hanxiang. Sementara Erkang dan Yongqi menunggu di luar. Hanxiang tengah berbaring di tempat tidur. Napasnya lemah dan wajahnya pucat. Weina serta Qina menangis di dekatnya. Melihat pemandangan itu, jiwa Ziwei dan Xiao Yanzi serasa hancur.

“Selir Xiang! Selir Xiang!” seru Xiao Yanzi. “Racun apa yang kau minum? Kenapa kau mau begitu saja disuruh minum racun? Lekas muntahkan! Masih belum terlambat!”

Jinshuo tiba-tiba teringat sesuatu. “Pil Yixiang! Lekas cari pil Yixiang! Waktu Nona sekarat dulu, pil itulah yang menyelamatkan nyawanya! Dimana pil itu disimpan?”

Weina dan Qina menggeleng tidak tahu. Akhirnya Jinshuo mencarinya sendiri. Dia membongkar laci-laci dan lemari untuk mencari pil tersebut.

Tiba-tiba Hanxiang membuka matanya dan menatap mereka. Xiao Yanzi menjerit. “Dia siuman! Selir Xiang, tabib akan segera datang! Kau harus bertahan! Jangan menyerah!”

“Selir Xiang, pertahankan napasmu!” pinta Ziwei. “Ingat Meng Dan! Pikirkan rencana besar kita!”

Hanxiang menatap keduanya tanpa daya. Dia mencoba bicara tapi suaranya nyaris tak terdengar.

“Katakan padanya…, katakan… aku sebetulnya ingin bertemu dengannya lagi…”

“Bertahanlah! Kami akan cari akal agar dia bisa menemuimu lagi!”

“Maafkan aku… kalian sudah begitu bersusah payah…tapi semuanya sia-sia!”

Kepala Hanxiang jatuh terkulai. Dia pingsan. Xiao Yanzi menjerit, “Jangan mati! Selir Xiang! Kumohon jangan mati!”

Tepat saat itulah Qianlong tiba dengan langkah terhuyung. “Selir Xiang! Ada apa denganmu?!”

Melihat Hanxiang yang berbaring tak sadarkan diri dengan kepala terkulai di pangkuan Ziwei, perasaan Qianlong langsung terguncang.

Ziwei mengguncang Hanxiang sekuat tenaga. Sementara Xiao Yanzi memaksa mulut Hanxiang terbuka dan menekan perut gadis itu agar muntah. Keduanya mulai menangis.

“Bangunlah! Kumohon jangan menyerah! Demi kami semua!”

Setelah bersusah payah mencari, akhirnya Jinshuo menemukan pil Yixiang di lemari. Dia pun berseru, “Ketemu pil Yixiangnya! Lekas! Ambil segelas air!”

Weina dan Qina lekas-lekas menuang air. Qianlong maju dan mengambil alih Hanxiang dari Ziwei. Dibukanya mulut Hanxiang dan berkata, “Xiao Yanzi! Lekas masukkan pil Yixiang ke mulutnya!”

Xiao Yanzo mengambil sebutir pil dan memasukkannya ke mulut Hanxiang. Setelah itu dia menuangkan air. Akan tetapi Hanxiang sudah tidak mampu menelan. Air yang masuk ke mulut itu tumpah keluar.

“Dia tak bisa minum lagi… bagaimana ini?” Xiao Yanzi panik.

Jinshuo berpikir lagi lalu berseru, “Tak perlu air! Waktu Nona dulu juga tidak pakai air. Tutup saja mulutnya agar pilnya tertelan!”

Qianlong mengatupkan mulut Hanxiang. Dia berkata tegas.

“Selir Xiang! Telanlah! Jangan membuatku menyesal seumur hidup! Aku begitu menyayangi dan mengasihimu! Tak kuijinkan kau mati!”

“Aku akan memaksanya untuk menelan!” kata Xiao Yanzi. Dia membungkuk dan meniupkan udara ke mulut Hanxiang.

Terdengar kerongkongan Hanxiang berdeguk. Tandanya pil telah tertelan masuk. Qianlone bertanya, “Pilnya masih ada berapa butir?”

“Masih ada tiga,” jawab Jinshuo.

“Lagi! Lagi! Minumkan saja semuanya!” seru Xiao Yanzi. “Dia sudah keracunan! Tak usah memikirkan keracunan lagi atau tidak!”

“Tak perlu bimbang!” perintah Qianlong. “Aku pertaruhkan segalanya! Minumkan semua pilnya!”

Hanxiang tetap tak bergeming. Xiao Yanzi bersimbah peluh dan air mata. Dia berhasil memasukkan ketiga pil tapi Hanxiang masih belum menunjukkan reaksi apa-apa. Xiao Yanzi pun memekik pilu, “Selir Xiang! Kumohon bangunlah!”

Tiba-tiba Jinshuo berkata, “Dulu waktu Nona meminum pil Yixiang, perlu menunggu beberapa saat untuk melihat hasilnya. Sebaiknya, Selir Xiang sementara dibaringkan saja untuk menunggu reaksinya.

Mendengar perkataan Jinshuo, Qianlong pun membaringkan Hanxiang ke ranjang. Dia dan lain-lainnya berdiri di sisi pembaringan – menunggu.

Lalu, masuklah seekor kupu-kupu ke dalam kamar. Kemudian, lebih banyak kupu-kupu lagi masuk lewat jendela. Semuanya tercengang melihat begitu banyak kupu-kupu terbang menghampiri Hanxiang. Mendadak kamar itu dipenuhi aroma harum yang amat menyengat. Keharuman itu mula-mula menyelimuti seluruh ruangan, lalu memenuhi seluruh Graha Baoyue. Kejadian ini benar-benar menakjubkan. Perasaan mereka bergetar menyaksikan kerumunan kupu-kupu itu…

Hanxiang terbaring diam di tempat tidur. Napasnya semakin lemah namun kecantikannya tetap terpancar. Kupu-kupu mengelilingi tempat tidurnya dan hinggap di sekujur tubuhnya. Pemandangan itu sangat memesona. Kupu-kupu menyelimuti tubuh Hanxiang hingga dia nampak seperti bidadari yang sedang tidur. Sungguh pemandangan yang sangat indah sekaligus menyedihkan.

Ziwei berkata sambil menangis, “Kupu-kupu itu datang untuk mengucapkan selamat tinggal! Dia akan pergi! Jiwanya gagal diselamatkan!”

Xiao Yanzi menyanggah, “Tidak! Kupu-kupu itu datang bukan untuk mengantarnya – tapi untuk melindunginya!”

Hati Qianlong sungguh pilu. Dia bergumam, “Tak kusangka – cintakulah akhirnya membunuhnya…”

Weina dan Qina pun hanya bisa menangis dan bergumam sesuatu dalam bahasa Hui.

Empat Tabib yang dipanggil memasuki Graha Baoyue dan mereka terkesima dengan pemandangan di kamar itu. Keempatnya diam tak bergerak.

Lalu, satu-persatu kupu-kupu itu meninggalkan Hanxiang. Xiao Yanzi berteriak, “Kupu-kupu! Jangan pergi! Dia belum meninggal…!”

Qianlong melambaikan tangan ke arah keempat Tabib. “Cepat periksa!”

“Daulat, Yang Mulia!”

Keempat tabib bergegas memeriksa nadi dan pupil mata Hanxiang. Setelah itu mereka sibuk berdiskusi dan lanjut memeriksa lagi dengan serius.

Yang lainnya tengah menunggu sambih menahan napas. Lalu Tabib Hu maju dan melapor pada Qianlong.

“Mohon Yang Mulia mampu mengendalikan perasaan. Selir Xiang… telah tiada!”

Xiao Yanzi langsung menjerit histeris. “Tidaaak!!!” Dia menghambur ke pembaringan dan mengguncang Hanxiang. “Kau harus hidup! Apa yang bisa kau lakukan kalau kau mati? Kau tak akan menjadi angin maupun pasir! Kau tak memiliki apa-apa kalau kau mati!”

Ziwei bersimbah air mata. Menangis di pelukan Jinshuo.

Di aula, Erkang dan Yongqi mendengar histeria dari kamar – langsung merasa putus asa. Erkang teringat Meng Dan. Dia berucap lirih, “Meng Dan, maafkan kami…”

Sementara itu pada saat bersamaan, di Graha Huipin, Meng Dan sedang melihat ke arah istana dari jendela kamarnya. Tiba-tiba tercium olehnya aroma harum yang akrab dengannya. Aroma itu memenuhi udara, diikuti rombongan kupu-kupu yang terbang masuk dan keluar dari istana.

Meng Dan langsung mendapat firasat buruk. Sesuatu telah terjadi pada Hanxiang! Kemungkinan, Hanxiang sekarang tengah berjuang antara hidup dan mati! Meng Dan tak mamapu menerima kenyataan Hanxiang meninggalkannya. Mendadak, Meng Dan mengerahkan segenap kekuatannya dan berteriak keras ke arah istana, “HANXIANG…..!!!!!”

Hanxiang telah terbaring dalam damai. Sayup-sayup, didengarnya suara Meng Dan… Sekonyong-konyong mata Hanxiang langsung terbuka.

Xiao Yanzi, Ziwei, dan orang-orang lainnya di dalam kamar terbelalak. Mereka nyaris tak bisa mempercayai penglihatan mereka!

“Dia memanggilku!” bisik Hanxiang. Tiba-tiba Hanxiang terduduk di pembaringannya.

Ziwei tak percaya. “Dia.. hidup lagi???”

Keempat tabib menyaksikannya dengan menganga. Sungguh tak bisa dipercaya! Serentak mereka memeriksa Hanxiang kembali.

Tabib Hu berlutut di hadapan Qianlong. “Lapor Yang Mulia, Selir Xiang hidup kembali! Benar-benar mukjizat! Mungkin pil Yixiang berhasil menawarkan racunnya!”

“Dia hidup lagi?” Qianlong terlalu kaget hingga nyaris tak mampu bersuara. “Ah, terima kasih pada Langit! Terima kasih karena telah memberi kesempatan padaku untuk membahagiakannya sekali lagi…”

Meski sudah sadar, kondisi Hanxiang tetap lemah. Ekspresinya tampak kosong.

Xiao Yanzi menyalurkan kegembiraannya dengan berteriak-teriak, “Selir Xiang hidup lagi! Kau sungguh hebat bisa mengalahkan dewa maut!”

Ziwei dan Jinshuo langsung menghambur ke sisi pembaringan. Hanxiang menyaksikan semuanya tanpa berkata apa-apa. Air mata mengalir di sudut matanya.

Di aula, Erkang dan Yongqi juga tak percaya. “Dia hidup lagi!” seru Yongqi.

“Ini adalah salah satu keajaiban yang kita alami!” Erkang mengendus-endus udara. “Tak ada bau harum lagi…”

Yongqi juga mencium udara di sekitarnya. “Benar! Bau harum yang tadi menyengat sekarang tak ada lagi. Kenapa bisa, ya? Jangan-jangan cuma sementara?”

“Mungkin saja… atau…,” Erkang berbisik lirih. “Jangan-jangan Tuhan telah mengambil kembali anugerahnya dari Selir Xiang. Tuhan telah melenyapkan aroma tubuh Selir Xiang – sekaligus melenyapkan beban yang dideritanya. Selir Xiang bangkit dari kematian – itu seperti memulai suatu kehidupan baru. Selir Harum sudah tak ada. Yang ada sekarang hanya Selir Xiang yang tak lagi berbau harum.”

“Maksudmu?”

Mata Erkang berkilat-kilat. “Tanpa bau harum di tubuhnya itu, Selir Xiang akhirnya bisa meraih kebahagiaan seperti orang lain pada umumnya…”

Yongqi akhirnya mengerti. Erkang mendesah. “Manusia sebenarnya begitu kecil. Dia tak pernah bisa tahu apa rencana Tuhan padanya…”

Yongqi menyambung, “Tapi manusia juga hebat. Mereka bisa menyambut rencana Tuhan dengan segenap perasaannya…”

***

Malamnya, Erkang dan Yongqi langsung pergi menemui Meng Dan di Graha Huipin dan menceritakan seluruh peristiwa tadi. Meng Dan mendengarnya dengan terpaku. Setelahnya itu dia tampak seperti orang linglung.

“Jadi Hanxiang sudah tak berbau harum lagi?” Meng Dan bertanya dan diiyakan oleh Erkang dan Yongqi penuh keyakinan. “Terima kasih, ya Allah… akhirnya engkau mendengar doa-doa kami….”

***

Di Graha Baoyue, Hanxiang masih terbaring lemah dan setengah sadar. Dalam tidurnya, dia terus-menerus mengigau nama Meng Dan.

“Meng Dan… Meng Dan…”

Ziwei yang sedang mengompres Hanxiang, pura-pura menyeka keringat gadis itu tapi malah menutup mulutnya dengan sapu tangan.

Qianlong yang duduk dekat situ langsung bertanya, “Dia bilang apa?”

”Katanya peitan, peitan – selimut!” sambung Xiao Yanzi.

Qianlong agak curiga mendengarnya. Ziwei dengan susah payah membujuk Qianlong agar meninggalkan Graha Baoyue. Jika Qianlong masih terus duduk di sana dan mendengar Hanxiang mengigau nama pria lain, bisa gawat.

Akhirnya dengan enggan, Qianlong meninggalkan Graha Baoyue. Sebelum pergi, Qianlong berkata dengan tulus, “Aku sangat berterima kasih pada kalian… Hari ini kalian telah berusaha keras menyelamatkan Selir Xiang. Aku memiliki banyak putri tapi hanya kalian yang begitu baik pada selirku…”

Xiao Yanzi dan Ziwei saling bertatapan sejenak. Mereka waswas.

“Huang Ama, kami menyelamatkan Selir Xiang bukan karena dia selir Anda – tapi karena dia telah kami anggap sebagai kawan baik…” ucap Xiao Yanzi.

Qianlong menatap Hanxiang sekilas. “Gadis seperti ini… bukan hanya menggetarkan perasaanku. Bahkan kalian pun tak mampu membencinya!”

Tapi rupanya Qianlong tidak langsung ke kediamannya usai dari Graha Baoyue. Dia malah mengunjungi Istana Zhuning. Dan seperti telah diduga, Ibu Suri sudah mendengar berita Slir Xiang yang bangkit dari kematian. Permaisuri serta Bibi Rong juga berada di sana.

Qianlong menatap Ibu Suri dengan muram dan serius.

“Huang Thaihou! Dulu, Anda nyaris mencelakakan Ziwei! Tak tahunya hari ini ada kejadian lebih tragis! Jika Huang Thaihou bermaksud membunih Selir Xiang, itu berarti sama saja seperti membunuh diriku!”

Ibu Suri kaget sekali. “Yang Mulia! Kenapa kau bicara begitu?”

Qianlong berkata ketus, “Huang Thaihou! Perasaanku pada Selir Xiang, baik atau buruk, tak akan Anda pahami! Siapa saja yang menyakitinya, sama saja seperti menyakitiku! Meski Anda adalah ibu kandungku, jangan menggunakan alasan cinta orang tua untuk melakukan hal-hal yang aku benci! Jangan paksa aku menjadi anak yang tak berbakti!”

Qianlong membungkuk memberi hormat, lalu keluar dari Istana Zhuning.

Ibu Suri terbelalak. Lidahnya kelu. Permaisuri dan Bibi Rong memucat. Hanya Qing’er yang diam-diam lega, karena Hanxiang telah lolos dari maut dan Qianlong tidak mengamuk di Istana Zhuning.

***

Keesokan harinya, Hanxiang masih belum sadar sepenuhnya. Dia terus mengigau memanggil nama Meng Dan. Beberapa kali dia seperti bermimpi buruk. Kepala dan tubuhnya bergerak-gerak gelisah sambil berteriak-teriak memanggil Meng Dan.

Xiao Yanzi dan Ziwei sedih melihatnya. Akhirnya Xiao Yanzi tak tahan lagi. Dia meminta Erkang dan Yongqi membawa Meng Dan lagi masuk ke dalam istana.

Erkang memutar otak. “Dulu Meng Dan kemari dengan cara menyamar sebaga dukun. Kali ini apakah dia akan masuk dengan penyamaran yang sama? Apa nantinya tidak menimbulkan kecurigaan?”

Tak lama kemudian, Erkang mendapat ide. “Aku tahu! Seorang selir tengah sakit! Dukun boleh diundang untuk menyembuhkannya! Tak perlu memasukkan Meng Dan sembunyi-sembunyi! Sebaliknya, kita bisa memasukkannya terang-terangan! Tapi, semua ini harus terlaksana dengan bantuanmu, Xiao Yanzi!”

Erkang lalu memaparkan strateginya.

Hari itu ketika Qianlong datang berkunjung, Xiao Yanzi berkata, “Huang Ama, aku ingin memanggil dukun untuk mengobati Selir Xiang. Huang Ama masih ingat Ziwei dulu kan? Setelah kami memanggil dukun ke Paviliun Shuofang buat mengusir roh jahat, ternyata sejak itu kondisi Ziwei semakin membaik!”

“Dukun?” Qianlong ragu sejenak. “Baiklah, tak peduli manjur atau tidak, cara itu boleh dicoba asal bisa menolong Selir Xiang!”

***

Tak ada waktu untuk memikirkan matang-matang cara lain memasukkan Meng Dan ke istana selain dengan menyamar sebagai dukun.

Karena waktunya sangat mepet, persiapan mereka lakukan dengan cepat. Bahkan Xiao Jian dilibatkan meski pada awalnya Erkang kurang setuju. Dia masih meragukan kesetiaan Xiao Jian – apalagi dengan masa lalunya yang masih misterius.

Xiao Jian benar-benar senang ketika dirinya disertakan dalam tugas penyamaran ini. Dia menghayati perannya dengan serius.

Erkang juga mengkhawatirkan Meng Dan. Yang seluruh pikirannya dipenuhi oleh Hanxiang, tak dapat berkonsentrasi pada penyamarannya. Erkang sungguh cemas kalau Meng Dan-lah yang bisa mengacaukan rencana ini. Maka dia pun menaruh perhatian penuh pada pemuda itu.

Rombongan ‘dukun’ Meng Dan terdiri dari empat orang. Mereka masuk istana dan langsung menuju Graha Baoyue. Berita kurang bagusnya: Qianlong juga berada di sana hendak menyaksikan ritual!

Meng Dan menatap tajam Qianlong hingga hampir lupa berlutut menghaturkan salam. Qianlong lalu memberi instruksi, “Lekas lakukan upacaranya! Aku akan mengawasi kalian! Cukup lakukan ritualnya di aula ini saja! Tidak boleh sampai memasuki kamar tidur Selir!”

Keempat dukun terpana. Erkang dan Yongqi juga. Ziwei dan Xiao Yanzi segera mencari cara agar Qianlong pergi dari Graah Baoyue.

“Huang Ama, di sini ada kami. Sebaiknya Huang Ama kembali saja ke kediaman Anda untuk beristirahat sejenak. Kalau ritualnya sudah selesai, baru kemari lagi,” kata Xiao Yanzi.

“Tidak usah! Aku mau di sini dan melihat-lihat,” Qianlong menolak untuk pergi.

Melihat gelagat Qianlong, Meng Dan semakin intens menatapnya. Qianlong mendapati sorot mata yang dingin itu. Sejenak dia tertegun. Dia menoleh ke arah Xiao Jian dan mendapati sorot matanya lebih misterius lagi. Dalam hati Qianlong berpikir, mungkin para dukun ini punya ilmu saking tingginya sehingga memiliki sorot mata seperti itu.

Yongqi segera mempersilakan para dukun untuk memulai ritualnya. Meng Dan, Xiao Jian, Liu Qing dan Liu Hong pun mulai mengenakan topeng dan beraksi. Mereka membaca mantra sambil mengayun-ayunkan tongkat.

Xiao Jian menggerak-gerakkan tongkat sambil membaca sebuah mantra yang mirip puisi.

“Pepohonan musim semi begitu rimbun. Kini daun-dauunya berguguran. Seekor burung meninggalkan kelompok, hatinya terisak memilukan. Berpisah dari kampung halamannya, dirinya ibarat telah mati. Hati dan pikiran membeku hingga jatuh sakit. Yang Mulia pun gamang dan cemas. Tiada ayah maupun ibu, sedih berkepanjangan. Dalam mimpinya pun hatinya hancur dan jiwanya terluka!”

Erkang terkesiap mendengarnya. Rasa waswasnya karena mengijinkan Xiao Jian ikut dalam rombongan ini mencuat. Bukan mantra pengusir setan yang diucapkan Xiao Jian – melainkan ‘narasi tragedi Selir Xiang’.

Semua mulai cemas. Ziwei berbisik pada Xiao Yanzi, “Xiao Jian itu sedang baca mantra atau puisi sih? Xiao Yanzi! Sebaiknya kau lekas pikirkan sesuatu agar Huang Ama pergi dari sini!”

Xiao Yanzi berpikir-pikir. Dia pun mendapat ilham. Dia mendekati meja dan mengambil semangkuk air. Dikulumnya seteguk lalu mulai menyemburkannya ke seluruh ruangan.

“Phuuuh! Phuuuh!” – sampai ke depan Qianlong, “Phuuuh! Phuuuh!”

Qianlong yang setengah melamun tiba-tiba kaget disembur Xiao Yanzi. “Xiao Yanzi! Apa yang kau lakukan?”

Xiao Yanzi buru-buru melap baju Qianlong. “Aiya! Maafkan aku, Huang Ama! Dukunnya tadi bilang kalau setiap sudut ruangan harus disembur air – jadi aku pun menyemburkan air!”

“Huang Ama sebaiknya pergi saja dulu. Anda kan Kaisar. Para dukun barangkali tidak mampu memperlihatkan kemampuan mereka kalau Huang Ama masih di sini!”

Qianlong pasrah akhirnya berkata, “Baiklah. Kalian lanjutkan saja di sini. Aku akan berganti pakaian dulu!”

Qianlong pun meninggalkan Graha Baoyue.
Meng Dan bergegas membuka topengnya lalu masuk ke dalam kamar Hanxiang. Ziwei menutup puntu dan berjaga di luar.

Di dalam kamar Hanxiang terbaring lemah. Meng Dan berlutut di tepi ranjang dan menatap Hanxiang dengan seksama.

Seolah merasakan kehadiran kekasihnya, mata Hanxiang bertemu dengan mata Meng Dan. Dia pun berkata, “Meng Dan? Sepertinya aku bermimpi sedang melihat kedatanganmu…”

Meng Dan menggenggam telapak tangan Hanxiang lalu menciumnya. “Ini memang aku! Aku benar-benar datang!” Meng Dan mengangkat punggung Hanxiang dan memeluknya. “Aku Meng Dan-mu! Hanxiang…, kuatkanlah dirimu demi aku!”

Hanxiang tersenyum tipis. “Meng Dan, kau benar-benar datang… aku rela mati karena bisa bertemu denganmu sekali lagi…”

“Apa maksudmu dengan kau rela mati? Kau jangan sampai mati! Sebab aku akan membawamu keluar dari istana ini! Tapi kau harus bekerja sama. Aku tak dapat melakukan hal itu sendirian tanpa dirimu!”

Hanxiang pun sadar sepenuhnya. Ditatapnya Meng Dan penuh semangat. Dia bahkan akhirnya bisa tertawa kecil.

Meng Dan langsung mencecoki Hanxiang. “Dengar! Sekarang waktu kita tidak banyak! Pertemuan kita inis angat berbahaya dan mempertaruhkan banyak nyawa! Sepuluh hari lagi kita akan melaksanakan rencana besar kita! Karenanya dalam sepuluh hari kau harus cepat sehat!”

“Kau harus berani dan lebih kuat! Hidup dan harapan kita sekarang berada di tanganmu! Jika kau menyerah maka kita akan kalah! Lekaslah sembuh! Minum obat dan dengarkan petunjuk tabib! Aku benar-benar mencintaimu sedalam-dalamnya…”

Hanxiang mendengar perkataan Meng Dan dengan penuh perasaan. “Aku tahu… Aku akan menurutimu…”

“Jangan sia-siakan kesempatan ini! Kali ini kita pasti berhasil! Aku akan mendukungmu dengan segenap kekuatanku!”

Hanxiang mengangguk-anggukkan kepala. Meng Dan pun memeluknya dengan erat.

Di aula, semua tampak tegang dan gelisah. Erkang menanyai Xiao Jian, “Tadi itu kau membaca mantra apa? Sama sekali tak ada hubungannya dengan mengusir setan! Aku benar-benar cemas mendengarnya!”

“Kaisar tidak memerlukan mantra pengusir setan,” sergah Xiao Jian. “Jadi kubacakan saja dia mantra pembuka perasaan. Kalau dia memang seorang pemimpin yang bijak dan murah hati, ‘mantra’ tadi tentu ampuh! Aku juga sudah mempersiapkan beberapa ‘mantra’ lain yang akan kubacakan satu persatu padanya!”

Ziwei membelalakkan mata. “Kau masih mau membacakan ‘mantra’ lain? Kau tak takut bakal mengacaukan semuanya?”

Xiao Jian terdiam sesaat lalu tersenyum misterius. “Kalian tak perlu tegang. Kurasa reaksi dari mantra tadi cukup baik. Sesungguhnya aku sangat menaruh minat pada Kaisar Qianlong ini…”

Yongqi langsung waswas. “Xiao Jian! Hari ini kami tidak memintamu mengurus Huang Ama! Kumohon padamu bantulah kami!”

Ekspresi Xiao Jian langsung kembali menjadi serius. Dia menyoja, “Maafkan aku! Aku menyadari kesalahanku!” Lalu dia mendesah, “Aih, sayang sekali – padahal aku sudah susah payah bertemu dengan Kaisar yang satu ini…”

“Kau ini mau bekerja sama atau tidak? Kalau kau bertindak sembrono, kau bakal mencelakakan kita semua!”

Tiba-tiba dari luar terdengar seruan kasim, “Kaisar tiba!”

Semua orang terlompat kaget. Para dukun segera mengenakan topeng mereka kembali. Ziwei melesat ke kamar dan berkata panik, “Meng Dan! Lekas keluar dari sini!”

Meng Dan enggan meninggalkan Hanxiang. Sementara di luar Qianlong sudah melangkah masuk.

“Meng Dan! Jangan lama-lama seperti itu!”

Meng Dan pun mencari cara untuk keluar dari kamar itu. Dia melompat keluar jendela dan melayang ke balkon bawah.

Ziwei buru-buru melesat ke pintu untuk menghadang Qianlong. Keduanya nyaris bertabrakan.

Melihat wajah Ziwei yang tegang dan napasnya yang memburu, Qianlong langsung cemas.

“Kenapa? Apakah keadaan Selir Xiang kembali memburuk?”

Qianlong bergegas menuju tempat tidur Hanxiang. Dia terkejut sekaligus gembira. “Kau sudah sadar? Benar-benar sudah sadar?”

Hanxiang duduk tegak di tempat tidur. Menatap Qianlong dengan penuh semangat. Wajahnya bercahaya.

“Yang Mulia!” katanya. ‘Aku sudah benar-benar sadar. Aku merasa lapar. Aku ingin makan…”

Qianlong gembira bukan kepalang. “Ziwei! Cepat suruh koki istana menyiapkan makanan bagi Selir Xiang!”

“Baik!” ucap Ziwei sambil sekilas melihat balkon yang sudah kosong oleh sosok Meng Dan.

Qianlong berjalan menghampiri Hanxiang dan menggenggam tangannya.

“Mantra para dukun tadi rupanya sangat ampuh. Roman wajahmu jauh lebih segar. Pikiranmu juga lebih jernih. Aku semula tidak pernah percaya dengan hal-hal klenik semacam itu. Tapi kelihatannya, itu manjur juga!”

Di aula, semua orang masih belum pulih dari ketegangan. Erkang bergegas menarik Meng Dan dan lainnya seraya berkata, “Sudah cukup ritualnya. Para dukun, aku akan mengantar kalian keluar istana!”

Di atas kereta kuda, Meng Dan berkata pada Erkang dan Yongqi, “Semakin cepat Hanxiang keluar istana, semakin cepat aku tak akan merepotkan kalian lagi!”

Yongqi berkata, “Tentu saja aku sudah tak sabar itu terjadi. Sandiwara ini semakin berbahaya jika dimainkan. Benar-benar tak boleh diulangi lagi!”

***

Beberapa hari berlalu, kesehatan Hanxiang semakin pulih. Xiao Yanzi dan kawan-kawan pun mulai sibuk mempersiapkan pelariannya.

Erkang dan Yongqi bolak-balik Graha Huipin unutk merencanakan rute pelarian. Yang jelas, Meng Dan dan Hanxiang tidak boleh kembali ke Xinjiang.

Xiao Jian memberi Meng Dan tiga pucuk surat rahasia yang hanya bisa dibuka setelah sampai di desa pertama dalam rute pelarian. Xiao Jian tidak akan ikut mengantar Meng Dan dan Hanxiang ke tempat pelarian pertama mereka. Hanya Liu Qing dan Liu Hong yang pergi – sedang Xiao Jian tetap tinggal di Graha Huipin.

Usai mendengar rute pelariannya, Meng Dan menatap kawan-kawannya satu-persatu. Teringat olehnya ketika meninggalkan Xinjiang demi mengejar Hanxiang, dia telah mengalami banyak rintangan. Sungguh tak diduga, dia malah berkenalan dengan Yongqi, Erkang dan lain-lainnya. Orang-orang yang hari ini mati-matian menolong dan membelanya justru adalah putra-putri terdekat Kaisar Qianlong sendiri! Dimana Hanxiang seharusnya berkewajiban mengabdikan dirinya seumur hidup.

Meng Dan menyoja kemudian berlutut. “Aku Meng Dan, telah menerima budi besar kalian namun belum dapat membalasnya! Jika masih ada jodoh, semoga kita dapat bertemu lagi! Aku orang Hui ini – akan memberi hormat ala Manchu kepada kalian semua!”

Meng Dan bersujud tiga kali pada semua orang. Sahabat-sahabatnya berseru kaget serta buru-buru menyuruhnya berdiri.

***

Dalam sekejap, hari pelaksanaan rencana besar sudah di depan mata.

Semua berkumpul di Paviliun Shuofang untuk membahas rencana ini terakhir kalinya. Rencananya, pada malam hari-H, Hanxiang akan menyamar sebagai kasim dan keluar istana bersama Yongqi dan Erkang. Sedangkan Ziwei dan Xiao Yanzi akan menahan Qianlong di Istana Yanxi.

Qianlong telah melupakan ulang tahun Selir Ling beberapa waktu lalu dan merasa tidak enak padanya. Maka dia menyetujui usul Xiao Yanzi – Ziwei untuk mengadakan pesta kecil. Xiao Yanzi dan Ziwei bertekad akan membuat Qianlong mabuk berat hingga dia tak bisa beranjak dari Istana Yanxi untuk mengunjungi Graha Baoyue.

Usai berdiskusi, Ziwei berkata pada Hanxiang. “Aku tahu kau mencemaskan banyak hal. Lupakan saja semua kecemasan itu! Aku yakin suatu hari kelak Huang Ama pasti bisa menerima alasan pelarianmu. Karena Beliau adalah pemimpin yang arif dan berperikemanusiaan.”

Hanxiang menatap mereka semua dengan amat terharu. “Kalian telah memikirkan semuanya untukku! Rasa terima kasihku benar-benar sulit terungkapkan! Setelah aku pergi, apakah kalian bisa meloloskan diri?”

“Sudah kukatakan kau jangan cemas!” Ziwei memeluk Hanxiang. “Kau harus berhati-hati di perjalanan. Jaga dirimu. Setelah perpisahan ini, mungkin selamanya kita tak akan bertemu lagi!”

Air mata Hanxiang mengalir. Melihatnya, Xiao Yanzi juga ikut berpelukan. “Jangan menangis! Kalau kau menangis, kami semua akan ikut menangis!”

Ketiga gadis itu pun berpelukan dengan erat.

Malam terakhir di Kota Terlarang, Hanxiang mengucapkan kata-kata sarat makna pada Qianlong sewaktu sang Kaisar menjenguknya.

“Yang Mulia, dalam hatiku ada banyak rasa terima kasih. Juga penyesalan. Semenjak kedatanganku kemari, Baginda telah banyak memaklumi semua tabiatku serta segala sikapku yang tidak beralasan. Malam ini, aku hendak mengucapkan terima kasihku secara khusus pada Yang Mulia!”

Qianlong keheranan. “Mengapa tiba-tiba berkata begitu? Aku tidak akan mempermasalahkan semua hal yang pernah kau alami sebelum masuk istana. Kau Selir Harum yang tiada duanya. Aku selamanya menghargai dirimu!”

“Yang Mulia, aku telah kehilangan wangi tubuhku. Aku bukan lagi Selir Harum. Selir Harum telah dihukum mati oleh Ibu Suri. Kuharap kelak Baginda hanya melihatku sebagai Hanxiang saja!”

Qialong terpana. Sama sekali tidak curiga dengan maksud perkataan Hanxiang. “Baiklah! Mulai sekarang aku akan menganggapmu orang baru. Meski tubuhmu tak lagi berbau harum, aku sama tak peduli. Sekarang kau telah berubah menjadi begitu baik padaku, nada bicaramu penuh kehangatan. Aku sangat bahagia.”

Hanxiang merasa sulit membendung rasa bersalahnya. Untuk menutupinya, dia berdiri dan berkata, “Yang Mulia, aku akan menari bagi Anda!”

Weina dan Qina menyiapkan rebana dan gendang. Hanxiang pun mulai menari dengan lengan gaun yang berkibar-kibar ibarat kupu-kupu. Matanya sarat penyesalan dan permohonan maaf. Qianlong menatapnya dan tepana oleh tarian yang dibawakannya.

***

Akhirnya, hari pelaksanaan rencana besar pun tiba.

Pada malam itu, di Istana Yanxi diadakan makan malam untuk merayakan ulang tahun Selir Ling. Qianlong duduk bersama Selir Ling – ditemani Ziwei dan Xiao Yanzi.

“Huang Ama, Selir Ling! Kami bersulang bagi Anda berdua! Semoga Huang Ama senantiasa berbahagia! Saling mengasihi dengan Selir Ling! Dan semoga Selir Ling kembali dianugerahi empat anak!”

“Coba dengar, Xiao Yanzi ini kata-katanya selalu saja lain dari yang lain!” Selir Ling merasa geli. “Kalau aku melahirkan anak sampai sebanyak itu, aku akan jadi seperti induk babi…”

Semua tertawa. Ziwei mengangkat cawan araknya dan berkata, “Huang Ama, Selir Ling, aku juga bersulang pada Anda berdua!”

“Baik! Aku akan menandaskan isi gelasku!” kata Qianlong bersemangat.

Xiao Yanzi buru-buru mengisi cawan Qianlong lagi. “Aku ingin bersulang lagi dengan Huang Ama – untuk seorang Ayah yang amat kukagumi!”

“Baik! Aku minum secawan lagi!” Qianlong tertawa.

Xiao Yanzi kembali mengisi cawan Qianlong. Ziwei maju dan berkata, “Aku ingin bersulang pada Huang Ama. Semoga Huang Ama sudi memaafkan kesalahan-kesalahan kami! Aku memohon pengampunan pada Huang Ama!”

“Kau minta ampun untuk apa?” Qianlong terpana. “Aih! Baiklah pokoknya aku terima sulang kalian. Aku minum lagi!”

Ziwei dan Xiao Yanzi bergantian menuangi arak dan bersulang pada Qianlong. Meski Selir Ling bermaksud menghalangi mereka untuk tidak minum terlalu banyak, ketiganya tak menggubrisnya.

Setelah puas minum-minum, Qianlong berkata pada Selir Ling. “Suruh para dayang memanggil Selir Xiang kemari! Biar dia turut merasakan keramaian di sini!”

Ziwei dan Xiao Yanzi langsung pucat. Selir Ling agak terkejut dengan permintaan Kaisar sehingga terpana sesaat.

“Huang Ama!” seru Xiao Yanzi. “Jangan begitu dong! Malam ini kan kita sedang merayakan ultah Selir Ling. Kalau mengundang Selir Xiang kesini, itu kan kurang baik…”

Mendengar perkataan Xiao Yanzi, Selir Ling langsung salah tingkah.

“Ah, kita memang melupakan Selir Xiang! Aku akan meminta Lamei pergi memanggilnya…”

“Jangan! Jangan!” seru Xiao Yanzi panik.

“Tidak boleh begitu, Xiao Yanzi! Kalau aku tidak mengundang Selir Xiang, nanti aku dikira cemburu padanya. Tidak apa-apa, kok! Aku dan Selir Xiang kan harus menjalin hubungan baik…”

“Pokoknya tidak bisa!” Xiao Yanzi bersikeras. “Malam ini kan acaranya Selir Ling. Sekalipun Selir Xiang diundang kemari, belum tentu dia senang. Selir Ling, anda akui sajalah! Mana ada perempuan yang berhati lapang? Kalau memang cemburu, ya, bilang saja cemburu! Itu kan hal lumrah…”

“Haaa?” Selir Ling membelalakkan mata. Qianlong tertawa keras.

Xiao Yanzi berseru, “Huang Ama bersalah karena hendak mengundang Selir Xiang kemari! Huang Ama harus dihukum minum arak!”
“Baik! Baik! Aku memang salah! Tak perlu mengundang Selir Xiang kemari. Selir Ling, tetaplah di tempat dudukmu. Lamei, Dongxue! Ambil arak lagi dan tuang di sini sampai penuh!”

Qianlong mereguk isi cawannya sampai tandas. Xiao Yanzi buru-buru menyodorkannya lagi.

“Ha? Harus dihukum secawan lagi? Baik, baik, aku tetap akan meminumnya!”

Qianlong sama sekali tidak curiga. Dia meminum secawan demi secawan hingga isinya habis tak bersisa.

***

Sementara itu di Graha Baoyue, Hanxiang telah didandani menyerupai kasim kecil. Jinshuo, Weina dan Qina mengucapkan salam perpisahan padanya – lalu Erkang dan Yongqi pun mengambil alih.

Jinshuo memberi Hanxiang tanda pengenal Xiao Dengzi untuk berjaga-jaga, kalau sewaktu keluar nanti identitas Hanxiang ditanyai oleh penjaga gerbang.

Hanxiang naik ke atas kereta, duduk di kursi sais bersama Xiao Guizi dan Xiao Xunzi. Erkang dan Yongqi duduk di dalam kereta.

Kereta berderap menuju gerbang istana. kebetulan sekali, di depan gerbang ada kereta lain – jadi kereta mereka sementara tertahan.

Qing’er tampak sedang mengucapkan selamat tinggal pada penumpang di kereta depan. Penumpang di kereta itu pasti salah satu kerabat Kaisar yang tadi mengunjungi Lao Foye. Qing’er juga tampak sedang memeluk seekor anjing Peking. Melihat kereta yang ditumpangi Erkang dan Yongqi, dia tersenyum sambil melambaikan tangan pada mereka.

Erkang dan Yongqi membalas lambaian Qing’er dengan kaku. Setelah kereta di depan berlalu, tibalah giliran kereta Erkang dan Yongqi melintasi gerbang.

Para pengawal memberi salam pada Erkang dan Yongqi. Hanxiang yang belum pernah menghadapi saat-saat begini sangat tegang. Tubunya berkeringat dingin dan gemetar. Melihat gelagatnya, para penjaga gerbang itu jadi curiga.

“Sebentar… Sepertinya saya belum pernah melihat saudara yang satu ini…” salah seorang penjaga menghampiri Hanxiang dan melihatnya dengan seksama.

Hanxiang kaget sekali. Dia mundur ke belakang. Erkang segera menyurukkan kepala keluar kereta dan berseru, “Ini Xiao Dengzi!” Lalu dia berkata pada Hanxiang, “Mana tanda pengenalmu? Perlihatkan pada mereka!”

Hanxiang merogoh-rogoh mencari tanda pengenalnya. Karena geregetan, dia kesulitan menemukannya. Erkang dan Yongqi sudah gelisah. Mereka bersiap menghadapi kemungkinan buruk…

Tiba-tiba tampak sesosok bayangan melesat. Rupanya Qing’er! Dia sibuk berteriak, “Celaka! Anjing peliharaan Lao Foye kabur! Cepat bantu aku menangkapnya kembali! Anjing itu kesayangan Lao Foye!”

Perhatian para penjaga gerbang teralihkan. “Putri Qing, ada apa?”

Qing’er berseru cemas. “Anjing kesayangan Lao Foye! Dia kabur ke arah sana…”

Para pengawal dengan sigap mengejar anjing itu. Qing’er kembali berseru, “Lekas tangkap! Siapa yang berhasil menangkapnya akan mendapat hadiah!”

Para penjaga telah pergi. Erkang menatap Qing’er – yang kebetulan sekilas menatapnya juga, tersenyum sambil mengedipkan mata.

Yongqi segera memerintahkan untuk melaju kereta. Dia tampak ketakutan.

“Kau mengatur supaya Qing’er menolong kita?” tanya Yongqi.

“Tidak! Mana mungkin aku berani memberi tahu Qing’er soal rencana ini?”

“Lantas? Kenapa dia bisa datang tepat pada waktunya seperti tadi?”

“Aku juga tidak tahu….” Erkang menyibakkan tirai dan menanyai Hanxiang. “Bagaimana keadaanmu?”

Hanxiang mengelus dadanya. “Aku tidak apa-apa… hanya keget… apakah, kita benar-benar sudah keluar dari istana?”

“Benar! Lihatlah di sekelilingmu!”

Hanxiang melihat sekelilingnya dan melihat para pejalan kaki serta cahaya dari rumah-rumah penduduk. Tiba-tiba saja dia merasa terharu. Dia pun mulai menangis sambil berkata lirih, “Sungguh Allah Maha Besar! Aku akhirnya keluar dari istana! Aku telah keluar!”

***

Keesokan harinya, Kota Terlarang diguncangkan oleh suatu berita menggemparkan!

Xiao Yanzi, Ziwei serta Jinshuo melesat melintasi taman bunga, melewati berbagai gerbang dan menyusuri koridor panjang. Xiao Yanzi berteriak histeris.

“Huang Ama! Celaka! Selir Xiang berubah jadi kupu-kupu! Dia terbang dan pergi…!”

Ziwei yang biasanya lemah lembut juga ikut berteriak, “Huang Ama! Selir Xiang sudah berubah jadi kupu-kupu…!”

Teriakan itu membuat seluruh penghuni Kota Terlarang keluar dari kediaman mereka.

Qianlong telah keluar dari istananya dan bertanya serius, “Ada apa? Ada apa?”

“Huang Ama!” seru Xiao Yanzi. “Barusan kami bersama Selir Xiang di Graha Baoyue. Selir Xiang berputar-putar mencoba menarik perhatian kupu-kupu – lalu seketika dia lenyap dan berubah menjadi kupu-kupu! Kupu-kupu itu hinggap di tanganku, lalu di tangan Ziwei, kemudian dia terbang melewati tembok istana!”

Qianlong amat terkejut. Dia memelototi Xiao Yanzi. “Tidak mungkin! Xiao Yanzi! Kau bicara sembarangan!”

“Benar! Semua itu benar, Huang Ama!” Ziwei berkata sembari menelan ludah akibat perasaan bersalahnya. “Aku, Xiao Yanzi dan Jinshuo melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Selir Xiang berubah jadi kupu-kupu lalu terbang pergi!”

Banyak orang telah berkumpul disana, termasuk Erkang dan Yongqi. Erkang buru-buru menanggapi perkataan Ziwei, pura-pura terkejut.

“Mana mungkin ada kejadian macam begitu? Apa kalian sungguh-sungguh melihatnya?”

“Aku melihatnya!” Ziwei bersikukuh. “Selir Xiang berputar-putar, lalu mengabur seperti bayangan. Kemudian muncullah kupu-kupu putih bergaris merah. Dia terbang, terbang… semakin jauh!”

Yongqi buru-buru menimpali, “Kalau Ziwei sudah bilang begitu, pasti betul! Apa kalian masih ingat ketika Selir Xiang pingsan tempo hari, banyak kupu-kupu yang berterbangan memasuki Graha Baoyue? Kurasa, Selir Xiang itu bukan orang biasa… apakah dia itu dewi kupu-kupu?”

“Ah! Benar! Dia pasti bukan orang biasa! Dia seorang dewi!” Erkang berseru yakin.

Qinglong sangat terperanjat. Dia berusaha menyangkal. “Tidak mungkin! Benar-benar mustahil! Mana mungkin ada orang yang tiba-tiba berubah jadi kupu-kupu? Aku tidak percaya!”

Qianlong segera pergi ke Graha Baoyue. Yang lainnya mengikuti di belakang.

Permaisuri, Bibi Rong, Ibu Suri, Qing’er dan Selir Ling juga ikut ke Fraha Baoyue. Mereka juga penasaran, benarkah Selir Xiang berubah wujud menjadi kupu-kupu?

Di halaman Graha Baoyue, Weina dan Qina berlutut di lantai. Di depan mereka teronggok pakaian Hanxiang. Topi bulu unggas yang biasa dipakainya, anting-anting, gelang dan kalung tampak berserakan.

Qianlong benar-benar terperangah. Dia menghambur dan mencengkeram Weina dan Qina.

“Dimana majikan kalian?!”

“Putri… dia sudah pergi…,” ujar Qina terbata-bata.

“Putri…, dia telah berubah menjadi kupu-kupu… dan kembali ke tempat asalnya…,” Weina menimpali sambil menangis.

Qianlong amat panik. Dia menoleh pada Ziwei dan mengguncangnya.

“Ziwei! Katakan sejujurnya! Benarkah Selir Xiang berubah menjadi kupu-kupu? Jangan membohongiku!”

Nyali Ziwei nyaris ciut melihat Qianlong yang mengguncangnya dengan kalap.

“Huang Ama, maafkan kami… Kami tak berdaya menahan Selir Xiang. Kami hanya bisa menatap kepergiannya dengan terpana. Mungkin Selir Xiang memang bukan orang biasa. Sejak awal, dia memang sosok yang misterius. Kepergiannya kali ini pun tidak dengan cara biasa!”

Qianlong memekik histeris. “Tidak mungkin! Dia selirku! Kita telah merebutnya kembali dari maut, mengapa dia malah pergi dengan berubah menjadi kupu-kupu? Aku tidak percaya!”

Xiao Yanzi menarik lengan Qianlong dari Ziwei. “Huang Ama! Mungkin itu lebih baik. Selir Xiang sudah kembali ke tempat asalnya. Dia pasti lebih bahagia di sana. Dari sana dia pasti mendoakan kebahagiaan Huang Ama!”

Mendengar perkataan Ziwei dan Xiao Yanzi, Selir Ling pun berusaha membujuk Qianlong. “Yang Mulia, mungkin memang benar, Selir Xiang telah kembali ke tempat asalnya. Kita jangan mengikatnya lagi. Biarkanlah dia terbang bebas dan pergi!”

Erkang maju dan berkata pada Qianlong. “Perkataaan Selir Ling benar. Mungkin Selir Xiang hanya ‘impian kupu-kupu’ (impian asmara sesaat yang tidak bertahan lama) – bagi Yang Mulia…”

“’Impian kupu-kupu’?” Qianlong begitu terpukul mengucapkannya. “Tapi dia sangat nyata… Aku akan masuk ke dalam! Siapa tahu Selir Xiang telah kembali!”

Qianlong bergegas masuk ke dalam Graha Baoyue. Aula dan kamar Hanxiang sangat rapi. Tak ada bayangan gadis itu dimanapun. Seketika itu Qianlong berubah jadi bingung dan sedih. Pandangannya nanar. Perasaannya sungguh gundah dan kacau.

Semua orang diam membisu. Ibu Surilah yang pertama kali memecah kesunyian. Dia berkata berwibawa, “Yang Mulia! Sepertinya Selir Xiang memang benar-benar menghilang. Entah bagaimana caranya, barangkali dia selamanya tak akan kembali lagi. Dalam hidup memang seperti itu, ada yang bisa kita peroleh, ada yang hilang. Yang Mulia adalah tumpuan banyak orang. Kuatkanlah dirimu. Jangan sampai kau kehilangan kendali diri hanya karena seorang selir!”

“Masalah ini terlalu aneh. Jangan sampai diketahui pihak luar. Umumkan saja kalau Selir Xiang telah meninggal dunia karena sakit. Lalu kita bangunkan makam untuknya!”

Qianlong merinding. Di benaknya berkelabat kembali kata-kata Hanxiang dua malam sebelumnya,

“Yang Mulia, aku telah kehilangan wangi tubuhku. Aku bukan lagi Selir Harum. Selir Harum telah dihukum mati oleh Ibu Suri. Kuharap kelak Baginda hanya melihatku sebagai Hanxiang saja!”

Qianlong jatuh terduduk dengan lemas. Kini dia baru menyadari, makna perpisahan di balik kata-kata Hanxiang.

Qianlong menatap Ibu Suri. Hatinya sarat kepedihan dan kebencian. Jika saja Ibu Suri tidak memerintahkan Selir Xiang bunuh diri, barangkali Selir Xiang tidak akan pergi dengan cara seperti ini! Qianlong mengibaskan tangan, berkata dengan suara serak, “Kalian semua, keluar! Aku ingin sendirian dulu di sini!”

Semua memberi salam hormat dengan takzim dam bersiap meninggalkan Graha Baoyue. Tiba-tiba, Qianlong berseru,

“Ziwei! Xiao Yanzi! Kalian tetap di sini!”

Ziwei dan Xiao Yanzi langsung menghentikan langkah. Erkang dan Yongqi serta merta cemas tapi hanya bisa mengisyaratkan pada kedua gadis itu untuk bertindak hati-hati.

Semua orang pun pergi. Tinggal Qianlong, Ziwei dan Xiao Yanzi di Graha Baoyue. Untuk beberapa saat, suasana sunyi senyap. Akhirnya, Qianlong berkata, “Xiao Yanzi! Ziwei!”

Qianlong menatap keduanya dalam-dalam. “Bersumpahlah kalian… bahwa kalian benar-benar melihat Selir Xiang berubah wujud menjadi kupu-kupu – lalu terbang meninggalkan tempat ini!”

Ziwei terkejut. Xiao Yanzi tanpa basa-basi langsung menyahut, “Aku Xiao Yanzi bersumpah! Aku melihat Selir Xiang berubah jadi kupu-kupu lalu terbang pergi! Jika aku bohong, aku akan mati dipenggal Huang Ama dan disambar petir!”

Selesai mengucapkan sumpahnya, dalam hati Xiao Yanzi bergumam ketakutan, “Oh, para dewa dan dewi! Aku terpaksa bersumpah! Aku tak dapat memberitahukan hal sebenarnya! Kumohon aku jangan sampai termakan oleh sumpahku sendiri!”

Ziwei terpaksa ikut bersumpah. “Aku bersumpah, jika aku tak melihat Selir Xiang berubah jadi kupu-kupu, aku akan mati disambar petir!”

Xiao Yanzi buru-buru berkomentar lagi dalam hati. “Dewa dan dewi di surga, Ziwei juga sama seperti aku! Jangan sampai dia kena tulah oleh sumpahnya sendiri!”

Qianlong memelototi mereka. Mendengar kedua gadis itu begitu serius sampai mengucapkan sumpah segala, Qianlong pun akhirnya mempercayai mereka. apalagi Ziwei. Dia paling jujur dan tak mungkin sembarangan bicara.

Melihat Qianlong yang begitu sedih, hati Ziwei terasa sangat pedih. Dia pun menggenggam tangan Qianlong lalu berkata penuh perasaan, “Huang Ama, kami juga sedih karena kehilangan Selir Xiang. Namun sejak dia memasuki istana ini, dia telah beberapa kali mengalami peristiwa yang nyaris menghilangkan nyawanya. Kini dia sudah pergi. Dia telah bebas merdeka. Jika Huang Ama memang benar mencintainya, mestinya Anda ikut bahagia dengan kepergiannya. Kumohon, jangan terlalu lama bersedih, ya?”

Qianlong masih ragu. “Ucapan kalian masuk akal, aku mesti mempercayainya. Namun kejadian ini juga sangat aneh, aku pun tak bisa menerimanya begitu saja!”

Qianlong tak dapat berkata apa-apa lagi. Dia tepekur dalam kesedihannya.

Ziwei dan Xiao Yanzi saling bertukar pandang. Tak bersuara. Hanya duduk diam menemani Qianlong.

***

Di Istana Kunning, Bibi Rong yang gila urusan membisiki Permaisuri.

“Yang Mulia, tidakkah peristiwa ini terlalu aneh? Mungkinkah semua ini hanya konspirasi?”

“Ucapanmu sangat beralasan!” Permaisuri membalas. “Mungkinkah dia melarikan diri? Tapi kalau dia cuma bertindak sendirian, rasanya tidak mungkin dia bisa semudah itu keluar dari istana!”

“Kalau dia dibantu gadis-gadis Paviliun Shuofang? Ditambah Pangeran Kelima dan Tuan Muda Fu?” mata Bibi Rong berkilat-kilat.

“Tidak mungkin!” Permaisuri menggeleng. “Mereka pasti gila jika melakukannya. Mereka adalah anak-anak kesayangan Kaisar. Mereka pasti tahu konsekuensi melakukan kesalahan sebesar itu! Semuanya bakal dihukum mati!”

“Tapi hamba tetap merasa ada tak beres dengan semua ini! Permaisuri, apa Anda ingat beberapa hari lalu meminta hamba untuk menyelidiki apa saja yang mereka lakukan jika keluar istana?”

“Rupanya mereka pergi ke sebuah kedai bernama Graha Huipin. Pemilik kedai itu dua bersaudara Liu Qing dan Liu Hong!”

“Kedai?” Permaisuri mengernyitkan alis. “Itu sih lumrah saja. Rasanya bukan masalah besar jika mereka pergi ke sana.”

“Namun…, kabarnya ada orang Hui yang sering keluar masuk disana!”

Permaisuri terkejut. “Apa?”

***

Di Istana Zhuning para penghuninya juga tak habis pikir dengan peristiwa Selir Xiang.

Qing’er sangat terkejut dengan kejadian tadi. Dalam pikirannya terus berkelabat peristiwa malam kemarin. Erkang dan Yongqi yang keluar istana dan membawa seorang kasim, yang tampak menghindar ketika diperiksa pengawal.

Qing’er sangat penasaran. Dan rasa penasarannya itu hanya bisa dijawab oleh para penghuni Paviliun Shuofang.

Diam-diam, Qing’er pergi ke Paviliun Shuofang. Kedatangannya disambut dengan amat rahasia. Di depan gerbang, para kasim berjaga dan pintu aula tertutup rapat. Jinshuo yang membuka pintu tampak tekejut melihatnya.

Rupanya di dalam, semua tengah berkumpul. Makin curigalah Qing’er.

“Dimana kalian menyembunyikan Selir Xiang?”

Semuanya terkejut. Ziwei langsung menyahut, “Menyembunyikan apa? Dia kan sudah berubah jadi kupu-kupu!”

Qing’er menghentakkan kaki. “Jangan berpura-pura padaku! Semalam ketika aku mengantar tamu Lao Foye di gerbang, kulihat Pangeran Kelima dan Erkang yang tampak tegang. Kalau saja aku tidak menolong kalian waktu itu, aku jamin hari ini tak akan ada cerita Selir Xiang berubah menjadi kupu-kupu!”

Yang lainnya terdiam.

“Jadi benar, kan?!” Qing’er menuntut.

Yongqi akhirnya bicara, “Baiklah, karena sudah ketahuan olehmu, kami tak akan berahasia lagi. Tapi masalah ini sangat berbahaya. Bisa membahayakan nyawa kita semua! Karenanya, kau tak perlu tahu lebih jauh lagi. Pokoknya Selir Xiang telah berubah jadi kupu-kupu! Itu saja!”

“Jadi…, sosok kasim semalam yang kulihat itu… Selir Xiang???” Qing’er pucat pasi.

“Ya. Memangnya kaupikir siapa?”

“Xiao Yanzi! Kupikir dia sedang menyelinap keluar lagi…” Qing’er menepuk dahinya. “Ya Tuhan! Aku telah berkonspirasi dengan kalian untuk menyelinapkan Selir Xiang keluar istana!Kalian benar-benar nekat! Kalian benar-benar tidak takut mati!”

Tiba-tiba terdengar seruan, “Lao Foye datang berkunjung!”

Semua terkejut setengah mati. Wajah Qing’er jadi pucat.

“Bagaimana ini? Aku harus bersembunyi!”

Xiao Yanzi tertawa keras. “Ha ha! Kalian semua terlalu tegang. Seruan itu cuma berasal dari nuriku. Mana ada Lao Foye?” Xiao Yanzi memaki nurinya. “Penipu Kecil! kuperingatkan ya, jangan bicara begitu lagi! Lain kali kalau kau masih bicara begitu, aku akan mencabut seluruh bulumu hingga menjadi nuri botak!”

Tiba-tiba Xiao Yanzi merasa kejanggalan. Seluruh ruangan menjadi senyap. Dia membalikkan tubuh dan mendapati Ibu Suri telah berdiri tegak di depan pintu yang terbuka. Xiao Dengzi serta Xiao Cuozi di belakangnya.

“Lao Foye!” seru Qing’er yang tak sempat lagi bersembunyi.

Xiao Yanzi ketakutan setengah mati. “Aku benar-benar patut mati! Lao Foye, mengapa Anda masuk kemari tanpa bersuara?”

Xiao Dengzi dan Xiao Cuozi berkata cemberut, “Putri, kami kan sudah melapor kedatangan Lao Foye tadi!”

Ibu Suri memasuki Paviliun Shuofang. Tatapannya sedingin es. Dia berkata tajam pada Xiao Yanzi,

“Kau selalu menganggapku nenek siluman kan? Aku tak bisa apa-apa, cuma seorang nenek tua! Kau kira aku tidak bisa melahapmu?”

Xiao Yanzi benar-benar salah tingkah. “Tidak! Tidak! Lao Foye bukan nenek siluman! Memang nenek tua – tapi nenek tua yang paling hebat – yang bisa memakanku!”

Ibu Suri menggebrak meja. “Dasar gadis tak tahu adat! Ingat baik-baik! Suatu hari sikapmu yang keterlaluan itu harus kaubayar mahal!”

Ibu Suri menoleh menatap Qing’er. “Ada urusan apa kau disini?”

Qing’er berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar keras. “Duli Lao Foye, hamba kemari untuk menanyakan perihal Selir Xiang pada mereka. Hamba baru bertanya satu-dua hal, Lao Foye sudah datang.”

Ibu Suri menyapukan pandangan ke arah mereka semua. “Siasat apapun yang kalian jalankan, cepat atau lambat, aku pasti tahu! Apakah Selir Xiang betul-betul berubah menjadi kupu-kupu? Lekas jawab!”

Ziwei, Erkang, Xiao Yanzi, Jinshuo dan Yongqi serentak menjawab, “Benar!”

Sorot mata Ibu Suri benar-benar dingin. “Baiklah! Kalian sangat beruntung karena menyaksikan peristiwa yang tidak bisa kami saksikan! Selir Xiang terkenal akrab dengan kalian. Jadi kalau suatu hari nanti kalian ikut berubah jadi kupu-kupu, aku tak akan heran lagi!”

Selesai berkata begitu, Ibu Suri berseru pada Qing’er, “Qing’er! Ikut aku kembali ke Istana Zhuning! Aku khawatir, kalau kau berlama-lama disini, kau pun akan berubah jadi kupu-kupu!”

Qing’er dengan waswas meninggalkan tempat itu bersama Ibu Suri.

Xiao Yanzi dan lain-lainnya saling bertukar pandang cemas.

***

Beberapa hari kemudian, Graha Huipin kedatangan belasan laki-laki bertubuh tegap.

Liu Qing dan Liu Hong belum kebali dari mengantar Selir Xiang dan Meng Dan. Hanya Xiao Jian yang tinggal mengurus Graha Huipin.

Sebenarnya Xiao Yanzi dan kawan-kawan sudah luput dari masalah seandainya penggerebekan Graha Huipin tidak dilakukan pada hari itu.

***

Sementara itu, di Istana suasana kembali tenang.

Hanya Qianlong yang masih terus merasa sedih. Dia tak berminat melakukan apapun. Tak hentinya dia memikirkan peristiwa aneh ini. Sebagai Kaisar yang cerdas, tentu saja dia sangat curiga. Tapi patutkah dia mencurigai Ziwei yang terkenal jujur?

Setiap hari Qianlong mengunjungi Graha Baoyue. Memikirkan selir kesayangannya itu hingga hatinya pedih. Pada malam hari ketika dia tak dapat tidur, Qianlong menulis puisi untuk diukir pada nisan Selir Xiang.

Lalu suatu hari, Ibu Suri memanggil Qianlong ke Istana Zhuning.

Begitu memasuki aula, Qianlong terkejut mendapati benda-benda seperti tongkat pengusir setan dan topeng dilantai. Bukankah ini semua yang dipakai dukun tempo hari? Qianlong membatin.

Permaisuri dan Ibu Suri berwajah sangat serius. Ibu Suri lalu mempersilakan Permaisuri untuk bicara.

“Yang Mulia,” kata Permaisuri. “Apa yang hamba katakan nanti pasti tak disukai oleh Yang Mulia! Hamba dengar ketika Selir Xiang sakit, Graha Baoyue juga mengundang dukun seperti di Paviliun Shuofang. Nah, alat-alat pengusir setan ini semalam ditemukan sewaktu menggeledah Graha Huipin. Graham Huipin merupakan tempat yang sering didatagi oleh kedua Putri, Pangeran Kelima dan Tuan Muda Fu!”

Napas Qianlong memburu. “Para dukun itu tinggal di Graha Huipin?”

“Benar!” jawab Permaisuri. “Artinya, dukun itu sangat akrab dengan Xiao Yanzi dan kawan-kawan. Semalam identitas mereka terbongkar. Mereka bertarung dengan pendekar utusan hamba. Pemilik kedai itu berhasil melarikan diri. Para pengawal hanya berhasil menangkap dua pelayan dan seorang koki. Kata mereka, Graha Huipin pernah ditinggali orang Hui. Salah satu di antaranya dipanggil ‘Guru’ oleh Xiao Yanzi.”

Qianlong terlonjak kaget. “Orang Hui?”

Qianlong terperanjat. Di benaknya berkelabat sorot mata Meng Dan dan Xiao Jian yang dingin itu. Kini dia mulai memahami semuanya…

“Tidak! Xiao Yanzi dan Ziwei… mereka tak mungkin membohongiku seperti itu!”

***

Di Paviliun Shuofang, semuanya kalut mendengar penggerebekan Graha Huipin.

Yongqi dan Erkang yang membawa berita itu ke Paviliun Shuofang. Kini, semuanya benar-benar cemas.

“Liu Qing dan Liu Hong mungkin belum kembali. Tapi bagaimana dengan Xiao Jian? Dia tak bisa kungfu…”

Tiba-tiba dari halaman masuk utusan Permaisuri mengumumkan, “Kaisar menitahkan Putri Huanzhu, Putri Ziwei dan Dayang Jinshuo untuk ke Istana Zhuning buat ditanyai!”

Semuanya langsung pucat pasi. Erkang dan Yongqi langsung siaga. “Kita harus pergi bersama-sama! Tak boleh membiarkan mereka bertiga saja menghadapi situasi ini!”

***

Di Istana Zhuning, wajah Qianlong, Ibu Suri dan Permaisuri berkabut suram. Qianlong menatap mereka dengan garang. Dia memerintahkan,

“Xiao Yanzi! Ziwei! Jinshuo! Berlutut!”

Ketiganya pun berlutut dengan cemas. Qianlong bertanya, kali ini dengan suara keras dan dingin.

“Kalian bertiga… Sekarang aku mau tanya sekali lagi. Ke mana Selir Xiang pergi?”

Xiao Yanzi menciut. Dia menebalkan muka berkata, “Huang Ama, sudah berulang kali kami bilang, Selir Xiang terbang pergi setelah berubah menjadi kupu-kupu!”

Qianlong terpaku pada Ziwei. “Ziwei, apakah kau masih tetap pada pernyataanmu? Kau gadis paling jujur. Aku mempercayaimu, dalam kondisi apapun kau tak akan berbohong. Apa kau benar-benar melihat dengan mata kepalamu sendiri Selir Xiang berubah jadi kupu-kupu?”

Lidah Ziwei kelu. Dengan berat hati dia bergumam, “Ya. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sensiri!”

“Ziwei, hari ini aku memintamu kembali bersumpah demi Erkang. kalau kau berbohong, maka kau akan kehilangan Erkang selamanya!”

Ziwei terkesiap. Ia bisa bersumpah demi apapun asal bukan Erkang! Qianlong memelototinya. “Cepat katakan! Bersumpahlah demi Erkang!”

Erkang sangat cemas di belakangnya. Xiao Yanzi langsung bicara, “Huang Ama, jangan menyulitkan Ziwei! Erkang sangat berarti baginya! Jangan memaksanya bersumpah demi Erkang! biar aku saja yang bersumpah menggantikannya!”

“Diam kau!” bentak Qianlong.

“Baiklah Ziwei, kalau kau tak mau bilang kemana Selir Xiang… Kalau begitu, jelaskan padaku siapa saja dukun pengusir roh jahat itu!”

“Dukun?” Ziwei gugup.

“Lalu kau, Xiao Yanzi! Siapa yang kau panggil ‘Guru’?”

Xiao Yanzi terbelalak. Wajah Qianlong langsung berubah serunya, “Bibi Rong! Bawa semua benda itu kemari!”

Bibi Rong kelluar kemudian masuk lagi dengan membawa setumpuk tongkat dan topeng lalu dilemparnya ke hadapan Xiao Yanzi dan kawan-kawan.

“Bawa budak kecil itu kemari!” perintah Qianlong lagi.

Para pengawal menyeret seorang gadis kecil yang diborgol tangan dan kakinya. Xiao Yanzi dan kawan-kawan langsung pucat begitu melihatnya. Gadis kecil itu adalah Gadis Bao, pelayan di Graha Huipin!

Dayang Bao menangis dan menghambur ke hadapan Ziwei dan Xiao Yanzi. Dia ketakutan, “Kakak Yanzi! Kaka Ziwei! Tolong aku! Aku tak mau dipenjara!”

Bibi Rong menekan kepala Dayang Bao dan berkata garang, “Berlutut! Di sini tak boleh teriak-teriak!”

“Kalian semua masih ingin mengarang cerita bohong?” ancam Qianlong. “Aku akan memancung budak ini jika kalian tak mau mengaku lebih cepat lagi. Pengawal!”

Dengan sigap Xiao Yanzi maju memeluk Dayang Bao. “Huang Ama! mohon ampuni Dayang Bao! Dia telah lama yatim piatu! Dia masih kecil! Tak tahu apa-apa! Kumohon, lekas lepaskan dia!”

Melihat Dayang Bao yang kesakitan karena disiksa, Ziwei sungguh tak tega. Dia bersujud dan berseru keras,

“Huang Ama! hukum mati aku saja! Akulah yang mengusulkan semuanya! Akulah yang mengarang kisah tentang kupu-kupu! Aku telah menemui jalan buntu! Aku dan Selir Xiang sangat dekat, aku tak tega menyaksikannya menderita. Kusangka dengan begini, aku telah melakukan suatu kebaikan demi Huang Ama. Jadi kubiarkan dia pergi!”

Mendengar pengakuan Ziwei, Erkang serta merta mendesah keras.

Qianlong merasa hatinya seperti tersayat-sayat.

“Ternyata…. Di balik punggungku kalian berkhianat… Kalian… kalian justru benar-benar pandai menipuku…”

“Pengawal! Seret mereka semua keluar untuk dipenggal! Hari ini mereka harus mati!”

Bersambung

[Sinopsis Novel] Putri Huan Zhu/ Huanzhu Gege II Bagian 7


Judul Asli : Huan Zhu Ge Ge II-3: Pei Xi Chong Chong
Pengarang : Chiung Yao (Qiong Yao)
Penerbit : Crown Publishing Co., Taipei – Thaiwan.

Judul Bahasa Indonesia: Putri Huan Zhu II-3: Di Ujung Nestapa
Alih bahasa : Pangesti A. Bernardus (koordinator), Yasmin Kania Dewi, Tutut Bintoro
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Maret 2000 (Cetakan Pertama)

Cerita Sebelumnya:
Xiao Yanzi yang marah melarikan diri keluar istana dan terperangkap di rumah judi gelap. Dia disiksa serta dibuat kelaparan. Untung nasib baik masih menghampirinya. Xiao Yanzi berhasil meloloskan diri. Bahkan sempat membalas dendam kepada para penyiksanya dengan bantuan Yongqi dan kawan-kawan. Apa semua masalah sudah selesai sampai di sini? Tidak. Justru Xiao Yanzi dan kawan-kawan akan menghadapi problematika yang lebih rumit lagi….

VII

Mendengar kepulangan Xiao Yanzi, Qianlong sengaja mendatangi Paviliun Shuofang bersama Selir Ling.

“Ternyata di dunia ini ada pasangan manusia yang begitu jahat! Sudah mencuri barangmu! Mengurungmu! Melukaimu serta membuatmu kelaparan! Xiao Yanzi, kau tenang saja! Aku pasti akan membantumu balas dendam!”

Melihat kedatangan Qianlong, Xiao Yanzi was-was. Dia sudah siap menerima hardikan. Tapi perkataan Qianlong barusan sungguh tak disangka olehnya.

“Kukira… setelah membuat masalah sebesar ini, Huang Ama akan marah besar! Begitu muncul langsung memarahi dan menghukumku! Tapi bukannya marah, Huang Ama malah hendak membantuku balas dendam. Aku sungguh tak percaya…”

“Hei! Jangan kira aku tak marah, ya! Kau pergi meninggalkan istana tanpa ijin – tentu saja aku marah! Tapi ternyata aku juga mengkhawatirkanmu! Dan rasa khawatirku lebih besar daripada kemarahanku!”

Qianlong menatap Xiao Yanzi dengan seksama. Lalu katanya lemah lembut, “Lihatlah tubuhmu penuh luka karena ulah kedua bajingan itu! Kali ini kau pasti mendapat banyak pelajaran. Cobalah pahami, walau kadang-kadang orang di sekitarmu membuatmu sebal, didikan kami semua bertujuan baik. Tapi orang-orang yang kau temui di luar sana sama sekali berbeda!”

Xiao Yanzi menundukkan kepala sambil berkata pasrah, “Aku tahu. Aku mengerti.”

“Kalau kau sudah mengerti ya, sudah!” tukas Selir Ling. “Kepergianmu sampai menggegerkan seisi istana. Segenap pasukan dikerahkan untuk mencarimu!”

“Lain kali aku tak berani lagi melakukannya…”

Selanjutnya Xiao Yanzi dibawa ke Istana Zhuning untuk ‘mengaku dosa’ di hadapan Lao Foye. Dia datang ditemani Qianlong, Yongqi, Erkang dan Ziwei.

“Kulihat kau ditemani banyak orang, mereka pasti bala bantuanmu, kan?” sindir Ibu Suri.

Qianlong yang menjawab Ibu Suri, “Kali ini Xiao Yanzi kabur dari istana tapi juga mengalami banyak penderitaan. Ada dua penjahat yang menyekap dan menyiksanya. Itu sebabnya dia tidak bisa langsung segera pulang. Padahal sebetulnya begitu kabur dia telah menyadari kesalahannya… Betul, kan, Xiao Yanzi?”

Xiao Yanzi menangkap isyarat mata Qianlong. Dia menyahut grogi, “Ya… ya…”

“Benarkah dia insyaf?” Ibu Suri tak percaya. “Kenapa sewaktu keluar istana kau menghajar penjaga gerbang?”

“Apa? Para pengawal itu patah tangan?” Xiao Yanzi kembali salah mendengar ungkapan Ibu Suri. “Masa sih? Aku kan memukul mereka dengan jurus yang ringan saja!”

Ibu Suri tampak kaget. “Kau sedang melantur apa? Siapa bilang pengawal-pengawal itu patah tangan?”

“Lho, tadi Anda sendiri yang bilang!”

Ibu Suri melotot, “Kelihatannya aku dan kau selamanya tak bisa berkomunikasi dengan baik, ya?” Dia lalu menatap Qianlong dengan penuh ketegasan. “Yang Mulia, kau dan aku punya kesepakatan. Bagaimana dengan pelanggaran Putri Huanzhu kali ini?”

Qianlong tersentak mendengarnya. Tiba-tiba Yongqi berlutut dan berkata, “Lao Foye, ijinkan Yongqi menyampaikan sesuatu!”

“Silakan!”

Yongqi mengangkat wajahnya dan berkata tegas. “Selama kepergian Xiao Yanzi kali ini, hamba sudah mempertimbangkan masak-masak. Xiao Yanzi pada dasarnya bukan seorang Putri. Jadi dia tak akan mampu memenuhi persyaratan seorang Putri! Tapi bagi hamba, Xiao Yanzi adalah gadis tak bercela! Hamba mantap menyuntingnya sebagai istri.”

“Jika Lao Foye tetap memaksakan tuntutan untuk merubah Xiao Yanzi, hamba minta agar gelar Putrinya dicabut saja. Biarkan dia menjadi rakyat biasa – agar dia tak lagi merasa tertekan. Lalu hamba juga akan mengikutinya sebagai rakyat biasa – tak mau jadi Pangeran lagi!”

Qianlong sangat terkejut. Lebih-lebih Ibusuri – dia amat terguncang.

Erkang dan Ziwei tersentuh dengan perkataan Yongqi. Erkang tak menyangka kalau Yongqi telah mendahuluinya mengatakan isi hatinya yang sebenarnya. Erkang menarik Ziwei untuk ikut berlutut di samping Yongqi dan Xiao Yanzi.

Erkang berkata – tak kalah bersemangatnya dari Yongqi. “Duli Lao Foye, hamba dan Pangeran Kelima punya pemikiran yang sama. Kami sadar, di lingkungan istana kami telah melanggar banyak pantangan. Perasaan cinta kami terlarang untuk diekspresikan.”

“Tapi di kehidupan ini, banyak hal terlarang justru terjadi. Kami saling mencintai. Sehingga bagi kami, pasangan kami adalah yang paling sempurna. Jika bagi Lao Foye kami kelihatan tidak serasi, kami mohon agar perasaan kami sudi dipertimbangkan. Tapi jika kami tak diberi kelonggaran, lebih baik bebaskanlah kami pergi meninggalkan istana untuk mewujudkan impian kami sendiri!”

Ibu Suri terhenyak mendengar penuturan Erkang. Dia dan Qianlong tak tahu harus mengatakan apa.

Qing’er tak dapat menahan perasaan harunya. Dia menghampiri Lao Foye dan berkata,

“Lao Foye, meski negari China memiliki banyak adat-istiadat serta tata krama yang ketat, tapi para pujangga juga banyak menghasilkan puisi tentang cinta, kan? Contohnya: ‘Burung yang diciptakan berpasangan di surga, tereinkernasi sebagai pasangan yang saling setia di dunia’! Atau, ‘Dua perasaan yang terpupuk sejak lama – selalu akan terbit-tenggelam bersama dengan serasi’! Betapa indahnya! Semua sajak indah itu, tak mampu mengalahkan keempat muda-mudi ini. Lao Foye apa tidak menyadari kalau kisah cinta mereka begitu berharga?

”Benarkah?” Ibu Suri menatap Qing’er bimbang.

“Tentu saja!” Qing’er mengangguk antusias. “Lao Foye, di istana ini memang apapun tersedia. Tapi hamba rasa, istana ini kekurangan unsur kasih sayang dan kemanusiaan. Untunglah semenjak kita kembali hamba telah menemukan kedua unsur itu. Dan unsur itu berasal dari mereka berempat…”

Ziwei terpana mendengar penuturan Qing’er. Segala prasangka buruknya selama ini lenyap seketika. Sekarang Ziwei jadi amat mengagumi Qing’er!

Qing’er berkata lagi dengan suara jernih, “Lao Foye, seorang pemimpin harus membantu orang lain dalam mewujudkan impiannya. Jika Anda tak memberi mereka kelonggaran, bahkan Qing’er pun akan ikut merasa patah hati…”

Ibu Suri menatap Qing’er dengan terpana. Melihat pendirian Ibu Suri mulai goyah, Qianlong memanfaatkan kesempatan ini untuk menyudahi semuanya.

“Ha! Ha! Ha! Huang Thaihou, kita mengaku kalah sajalah pada anak-anak ini! Kita ini sekarang sudah menjadi kuno dan antik – sebaiknya kesampingkan dulu segala peraturan untuk sementara, agar tak dicap membosankan!”

Ibu Suri terdiam. Ditatapnya mereka semua tanpa berkata apapun.

Erkang, Yongqi, Ziwei dan Xiao Yanzi pun bersujud dan serempak menghaturkan terima kasih.

***

Malamnya ada pesta di Paviliun Shuofang.

Semua penghuninya bersuka cita. Erkang, Yongqi dan Hanxiang juga hadir. Mereka merayakan ‘kebebasan’ Xiao Yanzi.

Saat semuanya tengah asyik makan dan minum, Paviliun Shuofang kedatangan tamu istimewa: Qing’er!

Xiao Yanzi dan Ziwei merasa amat berutang budi pada kata-kata Qing’er di Istana Zhuning tadi. Xiao Yanzi berseru girang, “Qing’er! Ayo bergabung! Kau adalah dewi penolong kami!”

Qing’er tertawa sambil menolak halus, “Aku sungguh iri – di sini kalian makan-minum dengan meriah. Aku ingin sekali bergabung, tapi tak bisa. Aku kemari hanya untuk menyampaikan kalau Lao Foye telah menarik batas waktu tiga bulan. Jadi kalian tak perlu khawatir lagi. Nikmatilah pesta kalian dengan gembira!”

Mata Yongqi bersinar-sinar. Ia menghormat dalam-dalam. “Qing’er, kebaikanmu rasanya tak cukup hanya dengan kata ‘terima kasih’!”

Erkang juga menyoja Qing’er. Perasaannya campur aduk. “Aku tak tahu harus berkata apa…”

Qing’er menatap keduanya dengan tulus. “Tak perlu bilang apapun. Jaga saja kedua gadis kalian. Hidup kalian begitu berwarna. Dibanging hidupku yang membosankan… Aku sungguh iri pada kalian!”

Ziwei menuang arak ke cawan dan mengangsurkannya pada Qing’er.

“Qing’er, sejujurnya kukatakan padamu, anggapanku tentang dirimu amatlah rumit. Aku berharap ada kesempatan bisa ngobrol dari hati ke hati denganmu. Akulah yang sepantasnya iri padamu. Pada bakat dan keanggunan yang kau miliki… Pada kehalusan budi pekertimu…”

Qing’er balas menatap Ziwei. Keduanya saling menilai dan membandingkan diri masing-masing. Menyaksikannya, Erkang jadi merasa aneh.

Ziwei lalu meneruskan perkataannya, “Aku bersulang secawan arak untukmu. Untuk berbagai kekaguman yang tak dapat terungkapkan lewat kata-kata!”

Ziwei menyodorkan cawan arak ke depan Qing’er. Qing’er mengambilnya dan meneguk isinya hingga tandas. Dia lalu menarik Ziwei ke sebuah sudut untuk menjauh dari yang lain.

“Ada yang hendak kusampaikan padamu,” katanya. Dia lalu berbisik di telinga Ziwei, “Aku sama sekali tidak pernah berkeinginan untuk merebut Erkang. Aku punya harga diri. Tak mungkin aku menyelinap di tengah-tengah kalian. Tolong kau pahami itu, ya?”

Mendengar perkataan itu, beban Ziwei selama ini jadi sirna. Dia betul-betul lega. Wajahnya merona dengan senyum lebar.

Yang lainnya bingung melihat Qing’er bisik-bisik. Apalagi Erkang. Dia merasa gelisah.

Qing’er lalu melangkah ke meja dan menuang secawan arak lagi. “Aku akan bersulang buat kalian semua!” serunya sambil mengangkat cawannya tinggi-tinggi. “Kanpei!”

“Kanpei!” yang lainnya berseru menanggapi dan meneguk isi cawan masing-masing.

Kunjungan Qing’er benar-benar menggembirakan. Hanya Hanxiang yang merasa sedih.
Dia memandangi orang-orang yang bergembira – terutama kepada dua pasang sejoli Paviliun Shuofang. Hanxiang memikirkan Meng Dan. Kesedihannya pun berbuah jadi kerinduan.

***

Hanxiang minum hingga mabuk di Paviliun Shuofang. Dia terpaksa harus dipapah Weina dan Qina kembali ke Graha Baoyue karena langkahnya sempoyongan.

Ternyata Qianlong telah menunggunya di Graha Baoyue. Melihat Hanxiang, Kaisar bertanya lembut, “Kau habis minum ya? Kau mabuk…” Kemudian Qianlong berujar memaklumi, “Kau dari Paviliun Shuofang, kan? Anak-anak itu pasti lupa diri lagi. Mungkin kita pun harus lupa diri sejenak…”

Qianlong meraih Hanxiang. Hanxiang mencoba berkelit, tapi karena kakinya lemas, dia malah nyaris jatuh. Qianlong langsung menangkap dan memeluknya. Kedua pelayan Hui disuruhnya keluar.

Hanxiang bersandar di pelukan Qianlong. Wajahnya merona. Qianlong jadi bergairah.

“Selir Xiang, akhir-akhir ini aku tertular anak-anak itu. Di hatiku timbul suatu gelora yang hanya bisa tersalurkan pada seorang wanita. Dan wanita itu adalah kau! Entah kenapa aku bisa begitu terpesona dan selalu memikirkanmu. Sudah lama aku tidak pernah tergila-gila pada wanita manapun. Kaulah yang membangkitkan perasaan asmara yang selama ini terkubur itu.”

Hanxiang berontak dan mencoba bangkit. “Yang Mulia! Jangan! Aku sungguh tidak patut menerimanya!”

“Patut! Kau sangat patut!” Qianlong bersikukuh. “Kecantikan, kebeliaan, sikapmu yang dingin dan acuh tak acuh serta keharumanmu… telah berpadu dan menjadi daya tarik yang amat dahsyat. Aku harus mengakui, kau telah menaklukkanku! Seandainya saja aku bisa berubah sedikit muda untuk mengimbangimu…”

Perasaan Hanxiang sangat perih. Dia beringsut ketakutan.

“Jangan mempertahankan diri lagi di hadapanku! Lepaskanlah keteganganmu dan terimalah aku…,” bujuk Qianlong seraya menarik Hanxiang dan berusaha menciumnya. Hanxiang tersentak dan berusaha keras meloloskan diri.

“Lepaskan aku! Baginda telah berjanji tak akan memaksaku!”

Qianlong tak menjawab, dia malah semakin mempererat pelukannya.

Hanxiang ketakutan setengah mati. Dia tak sempat memedulikan hal lain.

Hanxiang tejatuh di kasur sewaktu menghindari pelukan Qianlong. Secepat kilat dia mengulurkan tangan meraba tepian kasur dan menemukan sebilah belati. Diambilnya belati itu lalu dihunjamkannya ke arah Qianlong!

Qianlong terkejut dan menepis belati itu dengan sekuat tenaga. Terdengar bunyi pakaian sobek. Rupanya, belati itu menembus lengan baju Qianlong dan melukai pergelangan tangannnya.

Qianlong kaget bukan kepalang. Dia melompat bangkit dan menatap Hanxiang tak percaya.

“Kau menyembunyikan senjata di ranjangmu! Kau ingin membunuhku, ya?!”

Hanxiang gemetaran. “Aku…, aku tak punya pilihan lain…” – tanpa pikir panjang, diarahkannya belati itu ke dadanya sendiri.

Qianlong menerjang maju. Menyebabkan belati di tangan Hanxiang terlempar. Darah dari luka Qianlong mulai menetes. Qianlong menekan lukanya dan berkata dengan tak percaya, “Kau menyiapkan belati… kalau bukan untuk membunuhku, tentu untuk persiapan bunuh diri! Sudah sekian lama kau tinggal di sini, tapi perasaanmu tak berubah juga!”

Mendengar suara belati terpelanting, para pengawal segera menerobos masuk Graha Baoyue. Qianlong segera menyembunyikan tangannya yang luka di belakan punggung dan menyuruh semua pengawal itu pergi.

Lalu Qianlong berkata pada Hanxiang, “Tutup pintunya rapat-rapat!”

Hanxiang yang masih ketakutan segera mematuhinya. Qianlong lalu menggulung lengan bajunya untuk memeriksa lukanya.

“Kau masih belum mengobatku? Lekas ikat pergelangan tanganku dengan kain sutra untuk menghentikan pendarahannya!”

Hanxiang seperti baru sadar dari mimpi. Dia segera bertindak. Mula-mula dia membebat pergelangan tangan Qianlong lalu mengambil obat dan membubuhkannya ke atas luka.

Pergelangan tangan Qianlong pun selesai diperban. Wajah Hanxiang pucat sekali. Dia hanya bisa berkata, “Maafkan aku, Yang Mulia!”

Qianlong menatapnya lekat-lekat. “Katakan sejujurnya! Apa kau benar-benar menginginkan kematianku?”

Hanxiang menggeleng. “Tidak! Aku tak menginginkannya! Sungguh tak menginginkannya!”

Qianlong mengulurkan tangan dan mendekap Hanxiang. “Baiklah kalau begitu…,” katanya lembut. “Lain kali kau tak boleh menyimpan senjata apapun lagi di sini! Kalau sampai peristiwa ini tersebar, bahkan aku sendiri tak dapat melindungimu! Berjanjilah padaku untuk tak menceritakan peristiwa ini pada siapapun! Bahkan kepada Ziwei dan Xiao Yanzi!”

Hanxiang mengangguk kuat-kuat.

“Kalau sampai Ibu Suri atau para pejabat Qing mengetahui hal ini, kau harus menerima hukuman mati karena dianggap mencoba membunuh Kaisar! Meski kau tak takut mati, tapi seluruh keluarga dan sukumu bisa ikut terseret dalam masalah ini! Kau paham seberapa gawatnya, kan?”

“Tapi…, tangan Anda yang terluka ini, bagaimana bisa disembunyikan?”

“Itu urusanku! Jangan khawatir, luka kecil ini dua hari lagi pasti sembuh. Hanya saja sedikit merepotkanmu – karena kau yang harus mengganti perbannya nanti.”

Selesai berkata demikian, Qianlong keluar seolah tak terjadi apa-apa.

Tinggallah Hanxiang yang masih merasa terguncang dan gemetaran.

***

Xiao Yanzi tengah senang-senangnya seperti tikus. Kedua orang penyiksanya telah dihukum kerja paksa di perbatasan yang sangat jauh. Kepercayaannya terhadap Ayahanda Kaisar semakin dalam. Tinggal masalah Hanxiang-Meng Dan saja yang selalu mengusiknya.

Hari itu, Xiao Yanzi dan kawan-kawan mengunjungi Graha Huipin. Graha Huipin sedang ramai pengunjung. Mereka duduk berkelompok di satu sudut.

Meng Dan seperti biasa pasti bertanya soal Hanxiang. Mengetahui kalau beberapa hari belakangan wajah Hanxiang tampak murung, Meng Dan mendesak mereka untuk diperbolehkan masuk istana.

“Jangan! Kalau kita sering masuk istana, nanti kita akan sulit keluar!” timpal Liu Qing. “Sekarang yang harus kita pikirkan adalah mengeluarkan orang dari istana – bukan memasukkan orang!”

“Benar kata Liu Qing! Waktunya mepet begini… Lagi pula masalah utama Selir Xiang belum terpecahkan. Bagaimana menghilangkan aroma di tubuhnya?” sahut Erkang.

“Aku akan memetik bunga-bunga dan mandi kembang lagi!” seru Xiao Yanzi.

“Ya ampun, kau belum kapok juga?” seru Jinshuo. “Kau masih berani mencoba? Bagaimana kalau yang datang nanti ulat bulu?”

Semuanya tertawa. Tepat pada saat itu mesuklah sesosok pemuda bertubuh jangkung. Matanya lebar dan alisnya tebal. Dia menggenggam pedang dan seruling bambu. Sebuah buntalan tersampir di bahunya. Pakaiannya sederhana. Tapi gerak-geriknya sangat mengesankan sehingga mereka semua melihat ke arahnya.

Pemuda itu duduk di meja dekat jendela. Tak jauh dari meja Xiao Yanzi dan kawan-kawan. Liu Hong menghampirinya.

“Anda ingin pesan apa?”

“Bawakan aku dua macam hidangan apa saja. Juga sepoci arak.”

“Anda ingin makan dan menginap sekalian?”

“Ya. Aku perlu sebuah kamar. Tolong pilihkan yang nyaman dan tenang.”

“Baiklah!” Liu Hong pun pergi menyiapkan hidangan.

Xiao Yanzi terus-menerus melirik ke pemuda itu. Terutama pada pedangnya.

“Sarung pedang itu terukir motif aneh. Sepertinya itu pedang kuno!”

“Itu adalah tanda sebuah marga,” ujar Yongqi. “Kelihatannya dia dari keluarga terpandang. Aku jadi penasaran…”

“Aku juga…,” sahut Erkang dan Liu Qing.

“Dia membawa pedang – pasti seorang pendekar!” kata Xiao Yanzi yang sudah gemas ini melakukan sesuatu.

Tamu itu menduga dirinya pasti sedang diperbincangkan di meja sebelah. Tapi dia tampak cuek. Hidangan dan arak telah tersaji di mejanya. Dalam sekejap, tamu asing itu telah menyikat habis santapannya.

Setelah kenyang, agak mabuk si orang asing itu mengetuk-ngetuk poci dengan sumpit. Dia mendeklamasikan puisi,

“Membaca, melukis, memetik kecapi, bermain catur, merangkai bunga – semua dilakukannya tahun lalu. Tapi sekarang ada lima hal berubah: menjadi Xiao Jian (seruling bambu dan pedang), berkelana, menulis puisi, menikmati arak serta teh!”

Ziwei sedikit terkejut dan saling berpandangna dengan Erkang. “Pintar sekali kata-katanya! Bagus sekali puisinya!”

“Dia membawa seruling bambu dan pedang. Pasti tidak sedang menempuh perjalanan biasa. Dia seorang yang nyentrik!”

“Aku tidak tertarik pada puisinya! Aku lebih tertarik pada pedangnya!” tukas Xiao Yanzi.

Mereka terus memperhatikan orang asing itu sambil berbisik-bisik tentangnya. Pemuda itu kembali meneguk araknya dan mendeklamasikan puisi lain.

“Membawa seruling bambu dan pedang, berjalan menyusuri sungai dan danau. Segala duka masa lalu, hilang dalam sepoci arak. Kakinya terus melangkah hingga berselimut debu. Rumahnya di bumi dan atapnya adalah langit.”

“Puisi yang indah. Aku ingin berkenalan dengannya!” kata Erkang tak bisa menahan diri lagi.

“Aku juga!” Xiao Yanzi melompat dari kursinya.

“Aku ikut!” Yongqi tak mau ketinggalan.

Akhirnya mereka semua menghampiri orang itu. Erkang yang pertama memberi hormat, “Aku Fu Erkang. Mendengar puisi Anda, aku jadi tertarik ingin berkenalan. Sudilah kiranya memberitahu nama Anda!”

Pemuda itu balas menyoja. Tingkah lakunya amat mengesankan.

“Aku Xiao Jian! Marga Xiao-ku berarti seruling bambu. Sedang Jian berarti pedang,” katanya seraya menepuk-nepuk seruling dan pedang yang dibawanya.

Erkang terkesima. “Xiao Jian? Apakah ini nama samaran? Dari manakah Anda berasal?”

Xiao Jian tertawa. “Kalau nama palsu lantas kenapa? Palsu atau asli – yang penting kan ada nama! Xiao Jian telah lama berkelana. Tidak jelas darimana asalnya. Di mana kampung halamannya, dia sudah lupa sejak lama.”

Xiao Yanzi tak sabaran lagi. Dia meraih pedang Xiao Jian sambil berkata, “Pinjam pedangmu sebentar, ya. Aku mau lihat!”

Xiao Jian serta merta menghardik, “Jangan sentuh pedangku!”

Xiao Yanzi secepat kilat melarikan pedang itu ke halaman. “Xiao Jian! Ayo ambil kembali pedangmu kalau kau bisa!”

Xiao Jian terkejut. Dia segera melesat keluar menyusul Xiao Yanzi. Yang lainnya pun menyusul.

Xiao Yanzi ke halaman belakang Graha Huipin – tempat dia biasa berlatih kungfu bersama Meng Dan. Dikaguminya pedang Xiao Jian dengan seksama. Dia terkesima. Pedang itu benar-benar barang bagus!

Xiao Jian menghampirinya sambil berseru, “Nona, kumohon kembalikan pedang itu! itu bukan mainan. Pedang itu sangat tajam. Jangan sampai kau terluka karenanya!”

“Melihat penampilanmu, kau pasti seorang pendekar! Aku Xiao Yanzi ingin sekali melihat kungfumu!” Tiba-tiba Xiao Yanzi menggeram, “Awas seranganku! Hiyaaa!”

Xiao Yanzi menerjang Xiao Jian dengan pedangnya. Pemuda itu buru-buru mengelak sambil berteriak, “Jangan bercanda! Kalau kau sampai melukaiku, itu tidak baik!” Xiao Jian lari terbirit-birit meloloskan diri.

“Xiao Jian! Ayo balas! Jangan lari!” teriak Xiao Yanzi. Dia sangat berharap bisa beradu kungfu dengan Xiao Jian ini.

“Aku tidak bisa!” Xiao Jian menghindar sampai jatuh terjengkang. Erkang dan Liu Hong kasihan pada pemuda korban penasaran Xiao Yanzi itu. Mereka membantunya berdiri.

“Nona! Aku dan kau tak punya dendam. Kenapa kau rebut pedangku dan mengejar-ngejarku?”

“Karena kau membawa-bawa seruling bambu dan pedang! Bahkan namamu Xiao Jian segala! Kenapa kau tak mau menunjukkan sedikit kelihaian kungfumu?”

Xiao Yanzi terus saja menebaskan pedangnya ke arah Xiao Jian. Dia mengejar pemuda itu hingga mengelilingi seluruh halaman Graha Huipin. Xiao Jian melindungi mukanya sambil memekik, “Nona! Kasihanilah aku!”

“Kalau kau tak mau memperlihatkan kelihaian kungfumu, aku akan terus mengejarmu!” jerit Xiao Yanzi bersemangat.

Erkang dan yang lainnya menyaksikan adegan ini dengan bingung. Dia berkata lirih, “Bagaimana menurut kalian? Apakah dia ini pendekar yang sedang menyamar?”

Yongqi tampak curiga. “Sulit diduga apakah dia sungguh-sungguh tak tahu kungfu atau cuma berlagak. Kalau tak tahu kungfu, mana berani dia berkelana seorang diri? Tentunya sejak dulu dia sudah tewas terbunuh!”

“Kalau dia cuma pura-pura bodoh, artinya kemahirannya bersandiwara labih bagus daripada ilmu bela dirinya!” sambung Meng Dan.

Ziwei bersimpati pada Xiao Jian. Dia berkata pada Erkang, “Lekaslah tolong Xiao Jian ini! Nasibnya bisa sial kalau diuber terus oleh Xiao Yanzi!”

“Ah, itu sih hal biasa,” ujar Erkang sambil tersenyum. “Dulu kita berkenalan dengan Meng Dan pun setelah Xiao Yanzi membuat keributan, kan? Tak peduli Xiao Jian ini sungguhan atau pura-pura, aku sudah sangat tertarik padanya karena beberapa bait puisinya.”

Erkang lalu maju menahan Xiao Yanzi dan melindungi Xiao Jian.

“Xiao Yanzi, dia tak bisa bertarung, jadi sudahlah. Kalau tidak, dia akan menganggapmu gadis jahat. Kembalikan pedang itu padanya!”

Xiao Yanzi merasa kurang puas. Dia memonyongkan mulut. Erkang menyoja Xiao Jian sambil berkata minta maaf, “Tadi itu Xiao Yanzi. Dia memang begitu – suka bergurau dan main-main. Tuan Xiao….”

“Panggil aku Xiao Jian saja…,” kata pemuda itu. Tampaknya dia belum pulih dari rasa terkejutnya diuber Xiao Yanzi.

“Baiklah, Xiao Jian! Kalau kau tak keberatan, mari kita kembali ke Graha Huipin dan duduk-duduk dengan tenang. Kami akan memperkenalkan diri baik-baik padamu.”

Xiao Jian balas menghormat. “Kulihat kalian semua pandai-pandai dan sopan. Bisa mengenal kalian adalah kehormatan bagi Xiao Jian!”

***

Di Graha Huipin, mereka semua duduk mengelilingi meja. Xiao Jian tak henti-hentinya memandang Xiao Yanzi. Dia lalu bertanya,

“Nona sangat pandai! Xiao Jian amat mengagumimu! Bolehkah Xiao Jian tahu, siapa nama Nona yang terhormat?”

Wah, mendengar dia punya fans baru, Xiao Yanzi langsung besar kepala.

“Kau mengagumiku? Luar biasa! Hanya sedikit orang yang mengagumiku! Kau tadi menanyakan namaku? Margaku sudah kulupa! Sebut sajalah margaku Xiao dan namaku Yanzi!”

Xiao Jian tertawa. “Kalau begitu, margaku dan margamu hampir sama meski tulisan dan artinya berbeda. Barangkali, kita ini sebenarnya berasal dari marga yang sama…”

Tak seorangpun curiga dengan makna di balik kata-kata Xiao Jian. Sikapnya sangat simpatik sehingga Xiao Yanzi dan kawan-kawan mulai menyukainya.

“Xiao Jian, sebenarnya dari mana asalmu dan kemana tujuanmu?” tanya Erkang.

”Aku mengembara ke empat penjuru mata angin. Semua tempat adalah rumahku. Aku sudah tak tahu tempat-tempat apa saja yang sudah kusinggahi. Kemana tujuanku pun, aku tak tahu. Kalau sedang ingin pergi, ya langsung pergi begitu saja!”

“Dari penampilanmu, kau ini pendekar yang sedang menyamar ya?” tanya Yongqi penasaran.

Xiao Jian mengelak. “Ah, mana pantas aku disebut pendekar? Kalian inilah para pendekar yang sedang menyamar. Kalian semua pasti berasal dari keluarga terhormat tapi tengah menyamar jadi orang biasa…”

“Dari mana kau tahu?” Yongqi terkejut.

“Dari gaya bicara, penampilan serta tingkah laku. Semua itu menjelaskan posisi kalian – pasti orang-orang istimewa! Xiao Jian tidak punya banyak keahlian. Tapi kalau membaca gelagat orang jarang meleset. Kalian tak ingin identitas kalian diketahui kan? Begitu pula aku. Aku tak akan bertanya siapa kalian sesungguhnya – maka kalian pun jangan menanyaiku! Setuju bukan?”

Semua berpikir-pikir dan sependapat dengna Xiao Jian. Erkang tersenyum sambil berkata jujur, “Baiklah! Ada kalanya kita memang tak perlu bertanya detail tentang seseorang…”

***

Sekembalinya di Paviliun Shuofang, Xiao Jian masih jadi topik hangat yang diperbincangkan.

Xiao Yanzi penasaran sekali. Dia berkata, “Xiao Jian itu misterius sekali, ya? Bawa-bawa pedang tapi tak bisa kungfu! Mengalahkanku saja tak mampu masih berani menyebut dirinya Xiao Jian – Seruling bambu dan Pedang! Lebih baik namanya dirubah saja menjadi ‘Seruling Payah’!

“Jangan suka meremehkan orang lain,” sergah Yongqi. “Kemungkinan justru ilmu bela dirinya sangat tinggi. Cuma dia tak mau meladenimu. Dia pura-pura bodoh untuk mengelabuimu!”

“Benarkah?”

“Di dunia persilatan, banyak orang seperti itu,” ujar Erkang. “Dia tak ingin identitas aslinya ketahuan. Bisa jadi dia punya banyak rahasia. Tadi saja dia selalu mengelak dari pertanyaan-pertanyaan kita.”

“Dia ingin menyembunyikan identitas sebenarnya? Sepertinya tidak sepenuhnya benar,” Ziwei menimbang-nimbang. “Waktu dia mendeklamasikan puisi sehabis makan, sepertinya dia sengaja menarik perhatian orang. Atau barangkali, menarik perhatian dari orang-orang yang diincarnya. Puisi tadi sepertinya samar-samar bermaksud mencari seseorang…”

“Betul sekali!” Erkang menatap Ziwei. “Analisamu sangat tajam. Kurasa pun begitu. Dia memang sengaja mencari perhatian lewat puisi itu!”

“Jadi Xioa Jian ini pasti bukan orang biasa,” timpal Yongqi. “Namanya pasti cuma samaran. Orang yang menyembunyikan nama dan marga aslinya biasa karena dua hal.
Ada dendam yang hendak dia balaskan, atau karena nama aslinya sudah saking terkenalnya sehingga dia tak ingin orang lain tahu. Entah Xiao Jian ini termasuk golongan yang mana?”

Xiao Yanzi langsung berseru kegirangan, “Wah! Aku paling suka orang yang punya rahasia! Harusnya tadi kita menyainya lebih gencar. Kalau dia memang ingin balas dendam, kita bisa saja membantunya!”

Jinshuo mendengar perkataan Xiao Yanzi dengan ngeri. “Kau jangan ikut campur masalah orang lain lagi!” katanya tak sabar. “Masalah kita saja sudah cukup memusingkan! Soal Meng Dan dan Selir Xiang belum selesai, kau tambah lagi dengan urusan Xiao Jian! Nantinya kesulitan kita tak akan ada habisnya!”

Xiao Yanzi memandang Jinshuo dengan gusar dan gemas, “Huuuh! Jinshuo! Kau ini penakut dan cerewet sekali! Suka melarang ini-itu! Bagaimana setelah kau jadi selir Erkang? Dia bisa mati karena kebawelanmu!”

Begitu kalimat ini meluncur dari mulut Xiao Yanzi, ada tiga orang yang mukanya berubah merah. Erkang, Ziwei dan Jinshuo! Jinshuo melihat Erkang dengan salah tingkah. Mukanya merah padam. Dia pun segera berbalik dan meninggalkan mereka.

Erkang dan Ziwei saling berpandangan. Erkang waswas sedang Ziwei shock. Erkang lalu menarik Ziwei ke balik bukit buatan untuk bicara berdua.

“Ziwei, soal Jinshuo ini harus segera diselesaikan! Kalau kau tak tega, biar aku yang bicara padanya. Kedengarannya memang pahit, tapi kalau bukan sekarang nanti dia pasti akan lebih sakit hati lagi!”

“Aku tahu maksudmu. Tapi Jinshuo belum tentu! Dia akan menganggapmu menolaknya! Jinshuo itu yatim-piatu. Sejak dulu melayaniku dengan baik. Aku tidak tega menyakitinya!”

Pada saat itulah Jinshuo telah kembali dan melalui bukit buatan. Mendengar Erkang dan Ziwei menyebut-nyebut namanya, diam-diam Jinshuo bersembunyi untuk menyimak.

“Kau bisa saja memikirkan masa depan Jinshuo, tapi ini bukan alasan tepat untuk berbagi suami denganmu!” Erkang menegaskan. “Aku bersedia menjadi keluarga dan pelindung Jinshuo – tapi jangan minta aku menikahinya! Ziwei, aku hanya menyukaimu. Jangan paksa aku untuk poligami. Aku benar-benar tidak bisa!”

Jinshuo langsung merasa bumi yang dipijaknya berputar. Erkang yang diam-diam dicintainya terang-terangan menolaknya. Jinshuo seperti akan limbung. Dia lekas-lekas bersandar pada bukit buatan hingga gerakannya mengejutkan Ziwei dan Erkang.

Ziwei dan Erkang refleks melihat ke arahnya. Dan mereka mendapati wajah Jinshuo yang pucat.

Jinshuo memandang keduanya seperti orang asing. Hatinya terasa nyeri. Dia lalu buru-buru berbalik dan pergi.

Ziwei termangu. Erkang tak dapat menunda lagi. Dia berkata tegas, “Aku akan bicara padanya. Semua ini harus dijelaskan sekarang dan tak boleh ditunda-tunda lagi!”

***

Erkang menyusul Jinshuo ke biliknya di Paviliun Shuofang.

Jinshuo masih menangis. Dan dia buru-buru menyeka air matanya begitu melihat Erkang.

Jinshuo patah hati. Dunianya serasa runtuh. Meski tak pernah mengekspresikan perasaannya dengan jelas, Jinshuo diam-diam senang dengan permintaan Ziwei pada Erkang untuk ‘menjaganya’.

Jinshuo sangat sadar kalau dia cuma pelayan. Jadi istri keberapa pun tak masalah baginya. Sebaliknya dia amat bersyukur mengetahui bahwa calon suaminya kelak adalah pria sebaik Erkang.

Erkang melihat Jinshuo. Tiba-tiba dalam dirinya pun muncul perasaan tidak tega seperti Ziwei. Erkang berusaha menguatkan diri. Dia menarik napas dalam-dalam lalu berkata,

“Jinshuo, kau jangan salah paham. Aku melakukan ini demi kebaikanmu. Kau begitu cantik dan baik, sangat akrab dengan kami seperti keluarga sendiri… bagaimana aku bisa menjadikanmu selir? Waktu itu Ziwei sekarat – jadi dia membuat keputusan begitu. Tapi sebetulnya tidak patut. Kau lebih berhak menentukan hidupmu sendiri – bukan orang lain!”

Jinshuo menatap Erkang dengan mata berair. “Tuan Muda Erkang, Anda tak perlu mengatakannya lagi… aku tidak tahan mendengarnya. Tak kusangka Anda rupanya berat hati menerimaku. Kalau begitu, aku harus tahu diri, aku tak akan menyusahkan dirimu dan Nona lagi!”

Erkang tampak gelisah, “Maksudku bukan begitu… Kau belum memahami maksud perkataanku. Begini Jinshuo, aku amat menghormatimu. Kau patut memiliki kehidupan cinta sendiri. Kalau aku menjadikanmu selir, itu semacam penghinaan bagimu. Apa kau mengerti?”

Jinshuo mengangguk-angguk bingung. “Aku mengerti. Aku pasrah saja menerima nasibku. Anda tak perlu berkata apa-apa lagi!”

Erkang khawatir sekali. “Waduh, kau jangan pasrah begitu saja, Jinshuo! Hidupmu itu sangat berharga! Kau, Ziwei, Xiao Yanzi dan Qing’er itu sama-sama manusia! Jangan anggap dirimu lebih rendah dari mereka. Aku yakin suatu hari nanti kau akan bertemu dengan pemuda yang mencintaimu setulus hati.”

Jinshuo masih bimbang. Dia berkata pilu, “Aku memang tidak paham… Aku ini agak bodoh…Jadi sebanyak apapun Anda bicara, aku tetap belum bisa mengerti. Tapi aku pasti menuruti kata-kata Anda. Aku tak akan berani membenci siapapun – Nona maupun Anda!”

Selesai berkata begitu, Jinshuo sungguh tak berani melihat muka Erkang lagi sehingga menangis sembari menelungkupkan wajahnya.

Erkang keluar dari bilik Jinshuo, putus asa dan tertekan. Ziwei segera menghampirinya.

“Bagaimana? Dia pasti kecewa, kan? Aku sudah tahu akan begini jadinya!”

“Biarkan dia sendirian dulu untuk berpikir…,” Erkang mendesah. “Aku memang agak kejam. Tapi lebih baik terus terang sekarang daripada terkatung-katung nanti…”

***

Malamnya, Jinshuo sudah tak bersedih lagi. Tapi dia membawa kain lap dan membersihkan seluruh Paviliun Shuofang seperti orang kesurupan.

Ziwei jengah melihatnya. Dia bertanya tak sabar, “Jinshuo! Sedang apa kau? Kalau ada yang mengganjal perasaanmu lebih kau cerita padaku! Mari kita duduk bersama dan bicara baik-baik!”

Jinshuo menundukkan kepala. “Mana berani aku punya ‘ganjalan’ perasaan? Aku hanya ingin menyibukkan diri!”

“Kenapa mau menyibukkan diri?”

“Tidak apa-apa… Aku kan cuma budak! Jadi akau Cuma mengerjakan tugasku sebagai pembantu!”

“Jinshuo! Kalau kau bicara begitu lagi aku akan marah sekali! Aku tidak pernah menganggapmu sebagai budak! Kau adalah temanku, sahabatku dan sudah seperti saudariku sendiri! Kalau kau ada masalah, kau harus katakana padaku. Terus teranglah, kau menyukainya juga, kan?”

Jinshuo membelalak menatap Ziwei. Napasnya memburu. Dia berkata terbata-bata, “Baiklah, Nona… kukatakan saja sejujurnya padamu! Semua ini terlalu mendadak… Dulu waktu kau memintanya ‘menjagaku’, kau sama sekali tak minta pendapatku. Sekarang kalian membatalkan kesepakatan itu, kalian juga tak minta persetujuanku! Aku ini seperti…” Jinshuo menunjuk kain lap yang dipegangnya – “Kain lap ini! Kalian melemparku kemana, aku menurut saja! Tuan Muda Erkang telah menjelaskan alasan ini-itu. Tapi aku tak tahu apakah semuanya benar demi kebaikanku atau tidak… yang kutahu bahwa kalian sudah tak membutuhkan si ‘kain lap’ ini dan ingin menyingkirkannya segera!”

Hati Ziwei bagai tersayat. Digenggamnya tangan Jinshuo erat-erat. “Bukan begitu! Sungguh maksudnya bukan begitu!”

“Aku akan menghormati keputusan kalian. Aku sudah memikirkannya. Nona, ijinkanlah aku pergi! Aku akan ke Graha Huipin membantu Liu Qing dan Liu Hong!”

Ziwei terkejut. Dia tak bisa berkata apa-apa untuk membujuk Jinshuo. Hanya rasa sesal saja yang memenuhi hatinya.

***

Malam itu Ziwei tak bisa tidur nyenyak. Dia hanya bisa tergolek gelisah di atas ranjangnya.

Memang benar kata-kata Jinshuo tadi. Sejak awal dia tak pernah meminta pendapat atau persetujuan gadis itu mengenai Erkang. Kesannya, Ziwei memang memperhatikan Jinshuo tapi justru mengabaikan perasaannya…

Malam semakin larut. Menjelang subuh, pintu kamar Ziwei terbuka dan Jinshuo masuk membawa lampu minyak kecil.

“Nona…, apa kau sudah tidur?” tanyanya lirih.

Melihat Jinshuo, Ziwei merasa senang. Dia segera duduk di pembaringan. “Belum! Aku tak bisa tidur!”

Jinshuo menaruh lampu di meja lalu mendekati ranjang Ziwei. Dia mengenggenggam tangna Ziwei seraya berkata pedih, “Nona, maafkan perkataanku tadi! Aku telah mengatakan hal-hal tidak pantas dan menyakitkan!”

Ziwei merasa nyeri. “Akulah yang sebetulnya menyakitimu! Kau sama sekali tidak salah. Selain padaku, kepada siapa lagi kau mencurahkan isi hatimu? Akulah yang seharusnya minta maaf.”

Jinshuo memandang Ziwei. “Aku sudah mengerti. Waktu itu keadaanmu sangat kritis hingga Tuan Muda Erkang langsung menyetujui keputusanmu. Tapi kalau dipikir-pikir, dalam hatinya Tuan Muda Erkang hanya ada Nona dan tak ada tempat buatku. Ini akan menjadi jerat bagiku dan membuat hidupku merana karenanya.”

Ziwei menggenggam tangan Jinshuo erat-erat. “Jadi kau benar-benar sudah paham sekarang?”

“YA, aku sudah paham. Aku sudah mengikutimu sejak kecil. sekian lama kita bersama, aku jadi ketularan beberapa sifatmu. Aku tak bisa menunggu esok pagi untuk berbaikan dengan Nona. Nona adalah sahabatku, satu-satunya keluarga yang kupunya… sementara mengenai masa depanku…,” Jinshuo tampak tersenyum. “Kau punya Tuan Muda Erkang. Xiao Yanzi punya Pangeran Kelima dan Hanxiang memiliki Meng Dan… Mungkin…, aku juga punya seseorang yang tengah menungguku…”

“Wah!” Ziwei tak dapat menahan diri memeluk Jinshuo. “Jadi sekarang apakah kau masih akan meninggalkanku?”

Jinshuo membalas pelukan Ziwei sambil berkata bahagia, “Mungkin suatu hari nanti… saat aku telah menemukan kebahagiaanku sendiri. Tapi sekarang belum. Aku masih belum sanggup berpisah darimu!”

“Wah! Kau memang pantas disebut Jinshuoku! Aku berdoa agar pria yang tengah menunggumu itu adalah seseorang yang juga akrab dengan kami semua. Agar kita masih bisa terus bersama-sama seterusnya…”

Jinshuo masih terus memeluk Ziwei. Sebenarnya, perasaannya sendiri masih pedih. Walau kini dia telah memahami seluruh permasalahannya, luka hatinya masih belum bisa langsung terobati. Saat ini dia masih enggan berpisah dari Ziwei. Selama bertahun-tahun Ziwei telah menjadi pusat hidupnya. Tapi Erkang telah menolaknya. Dan jika dia tetap memaksa masuk ke dalam cinta segitiga ini, dia hanya akan mendapat malu.

Jinshuo menekan kepedihannya sambil berpura-pura tegar. “Pokoknya Nona dan Tuan Muda Erkang tak usah cemas memikirkanku lagi. Baguslah hal ini dijelaskan sekarang sehingga hubungan kalian tak terganggu lagi. Ini benar-benar melegakan!”

Ziwei amat tersentuh mendengarnya.sebutir air mata bergulir di pipinya dan dipeluknya Jinshuo erat-erat.

***

Sementara itu, lewat mata-matanya, Bibi Rong mengetahui kalau Kaisar terluka di Graha Baoyue.

Tentu saja dia langsung melapor kepada Permaisuri dan Permaisuri segera melaporkan temuannya ini kepada Ibu Suri.

Ibu Suri pun mengadakan kunjungan dadakan ke Graha Baoyue. Dan benar saja, dilihatnya Qianlong di sana – lukanya tengah diobati Hanxiang.

Hanxiang terkesiap dengan kedatangan Ibu Suri yang tiba-tiba. Peralatan obatnya langsung berserakan karena kekagetannya. Qianlong juga tak kalah kagetnya. Dia buru-buru menghaturkan salam hormat. Begitu pula dengan Hanxiang – yang dalam kepanikannya langsung berlutut memberi salam.

“Wah? Kenapa tiba-tiba Selir Xiang memberi salam ala Manchu, ya?” Ibu Suri melotot.

Qianlong mencoba mengalihkan topik. Dia berkata, “Selir Xiang, kenapa tidak menyuruh Weina dan Qina menyiapkan teh Xianjiang? Lao Foye jarang-jarang mengunjungi Garaha Baoyue, mesti dilayani dengan baik!”

“Aku tak mau minum teh Xinjiang! Aku khawatir ketagihan!” tukas Ibu Suri ketus. Sekonyong-konyong Ibu Suri maju dan menyingkap lengan baju Qianlong. “Biarkan aku melihat pergelangan tanganmu!”

Qianlong tersentak dan buru-buru mundur. “Untuk apa?”

Menyaksikan sikap Qianlong dan obat-obatan yang berserakan, makin kuatlah dugaan Ibu Suri.

“Yang Mulia! Kenapa kau bisa terluka begini? Apa kau lupa kalau dirimu adalah penguasa negeri? Tubuhmu yang berharga bukan hanya milikmu sendiri – tapi juga milik rakyatmu! Kalau kau tak mau merawat tubuhmu sendiri, kau tetap harus melakukannya demi negara! Kau terluka tapi diam saja. Apakah sekarang kau masih ingin menyembunyikannya dariku?”

Melihat gelagat ini, tahulah Qianlong kalau Ibu Suri telah curiga. Akhirnya Qianlong menyingsingkan lengan bajunya dan berkata, “Hanya luka kecil. Tak perlu dicemaskan. Aku tak memberitahukan karena khawatir Huang Thaihou akan risau. Entah siapa orang yang banyak mulut itu hingga memberitahukannya pada Anda…”

“Jangan sembarangan menyalahkan orang yang banyak mulut!” Ibu Suri menatap garang Hanxiang. “Bagaimana ceritanya sampai Kaisar terluka? Lekas katakan!”

Hanxiang gemetaran. Qianlong yang menjawab sambil tertawa-tawa. “Sebenarnya, kejadiannya tak disengaja. Malam itu aku menonton Selir Xiang menari. Sesaat aku pun ikut menari bersama Selir Xiang dan tidak sengaja memecahkan vas bunga hingga melukai tanganku. Sungguh hanya persoalan sepele. Mohon Huang Thaihou tidak mempermasalahkannya lagi.”

Ibu Suri tetap memandangi Hanxiang. “Luka separah ini – mana bisa membiarkan Selir Xiang yang membalutnya? Lekas ikut aku ke Istana Zhuning! Akan kupanggil kelompok tabib istana untuk memeriksamu!”

“Aih, ini terlalu berlebihan,” ujar Qianlong enggan.

“Menurutku, Graha Baoyue ini hong shuinya kurang bagus. Sebaiknya Yang Mulia tak usah sering ke sini!”

Qianlong tak ingin sikap Ibu Suri menyulitkan Hanxiang. Akhirnya dia terpaksa mengikuti Ibu Suri sambil melempar tatapan menenangkan pada Hanxiang,

***

Sementara itu, pada hari yang sama di Paviliun Shuofang, Yongqi memberi Xiao Yanzi hadiah seekor nuri berbulu hijau.

Xiao Yanzi kegirangan mendapat hadiah. Erkang berkata, “Nuri itu bisa bicara. Makanya Pangeran Kelima membelinya seharga sekeping emas.”

“Benar bisa bicara? Bicara apa?” tanya Ziwei.

Yang lain-lainnya mulai mengelilingi nuri dalam sangkar itu. Tiba-tiba tatapan Erkang bersirobok dengan Jinshuo. Jinshuo memberi isyarat pada Erkang lalu keluar halaman. Erkang mengerti. Dia mengikuti Jinshuo.

Di halaman Jinshuo berkata pada Erkang, “Tuan Muda Erkang, Anda sekarang tak perlu khawatir lag. Aku dan Nona sudah bicara semalam suntuk. Sekarang aku benar-benar sudah paham maksud kalian. Aku harap hubungan kita bertiga tetap baik seperti semula dan aku tidak malu karena masalah ini.”

“Benarkah? Jadi kau sudah mengerti semuanya? Jinshuo! Aku sangat berterima kasih padamu!”

Ziwei akhirnya ikut mendatangi keduanya. Dia menggenggam tangan Jinshuo. “Tak ada lagi sakit hati di antara kita kan? Hubungan kita akan terus langgeng seperti dulu, kan?”

“Ya!” jawab Jinshuo dengan yakin. Ziwei dan Erkang langsung lega. Ketiganya seolah merasa terbebas dari beban berat.

Ketiganya kembali ke dalam Paviliun Shuofang dan melihat yang lain-lainnya masih menggoda burung nuri itu untuk bicara.

“Dari mana kalian membeli burung nuri ini? Apakah dari pasar burung?” tanya Ziwei.

“Bukan. Nuri ini peliharaan kasim di perpustakaan istana. Kasim itu sudah lama melatihnya menghaturkan beberapa salam dan pujian. Tapi aneh, di sini kok tak mau bicara, ya?” ujar Erkang.

“Aih, daritadi tak mau bicara sepatah katapun!” Xiao Yanzi agak kecewa. “Seumur hidupku hanya ada satu burung yang paling pintar bicara!”

“Oya? Burung apa? Di mana? Dia bisa bicara apa saja?”

“Oo, bicara apapun bisa! Akulah burungnya! Aku kan si walet kecil!”

Ha ha! Semua orang terbahak-bahak. Mereka kembali memancing nuri itu agar bicara. Sampai memancingnya dengan kuaci segala – tapi tetap saja burung itu tak mau bicara.

Tiba-tiba terdengar perkataan, “Salam sejahtera, Putri!”

Mereka semua terpana. “Ia benar-benar bilang ‘Salam Sejahtera, Putri’?” tuding Xiao Yanzi. “Wah! Burung yang pintar! Aku akan mengajarinya peribahasa dan puisi!”

Tiba-tiba burung itu mengumpat, “Brengsek! Kau brengsek!”

“Wah! Ada burung yang memaki manusia!” pekik Xiao Yanzi.

Semuanya tertawa.

“Apakah dia punya nama?” tanya Ziwei.

“Belum. Kalian pilihkan saja nama untuknya.”

“Biar aku yang pilih!” seru Xiao Yanzi antusias. “Ha ha! Kita beri nama saja dia ‘si Brengsek’!”

“Si Brengsek? Iih, nama itu kan tidak bagus!” protes Yongqi.

“Taka pa-apa!” tukas Erkang. “Seperti peribahasa, ‘bagaimana pemiliknya, demikianlah burung peliharaannya…”

Xiao Yanzi mencerna perkataan Erkang lalu melotot, “Kau menyindirku, ya?!”

Semua orang kembali tertawa. Mereka memanggil-manggil nuri itu: “Brengsek! Brengsek!”

Mengira burung itu jinak, Xiao Yanzi melepas tutuo sangkar burung itu. tiba-tiba, burung itu melesat keluar.

“Brengsek! Kembali! Lekas tangkap dia kembali!” seru Xiao Yanzi.

Semua orang pun berlarian keluar mengejarnya. Nuri itu berputar-putar dan hinggap di sana-sini. Hingga akhirnya dia terbang ke istana Zhuning.

Keributan Xiao Yanzi menangkap nurinya ,emarik perhatian orang-orang sekitar. Para dayang, kasim dan pengawal menyaksikan dengan antusias.

Ibu Suri, Kaisar dan Qing’er pun sampai ikut keluar karena mendengar teriakan-teriakan Xiao Yanzi. Tangan Qianlong telah diperban. Tampak mencolok sekali. Dia baru saja diobati.

Permaisuri dan Bibi Rong juga hadir. Mereka menyaksikan dari kejauhan. Melihat tangan Qianlong dibebat, dalam hati Permaisuri cukup puas. Berarti benarlah informasi Bibi Rong padanya.

“Erkang! Yongqi! Ada apa ini? Kenapa kalian berlarian kesana-kemari dan berteriak-teriak?” bentak Qianlong.

“Lapor Yang Mulia! Kami sedang berusaha menangkap nuri Xiao Yanzi yang bernama si Brengsek!”

“Oh, menangkap nuri?” Qianlong langsung tertarik.

Nuri hijau itu berterbangan di atas atap. Para pengawal sudah dikerahkan untuk menangkapnya. Permaisuri dan Bibi Rong menyaksikan semua kehebohan itu dengan senang hati. Lao Foye pasti tidak suka lagi melihat tingkah Xiao Yanzi dan kawan-kawan ini!

Tiba-tiba, Permaisuri merasa sesuatu hinggap di topinya. Ia melirik ke atas dan terperanjat. Ternyata nuri itu! permaisuri mengangkat tangan mengusirnya, tapi Qianlong berseru keras, “Permaisuri! Jangan bergerak!”

Permaisuri terpaksa berdiri diam di tempat. Qianlong memerintahkan para pengawal menangkap nuri itu. karenanya jadi bertambah heboh.

Semua memandangi kepala Permaisuri seoerti hendak menangkap mangsa. Pemandangan yang sangat menarik karena – Permaisuri yang biasanya selalu angkuh, kini hanya bisa terpaku dengan seekor nuri di atas kepalanya!

Erkang akhirnya memberi aba-aba, “Ayo semuanya! Tangkap!”

Beberapa orang langsung menerjang sekaligus. Nuri itu lagi-lagi lolos. Permaisuri jadi terhuyung-huyung. Berputar-putar seperti gasing hingga Bibi Rong dan para dayang berusaha memeganginya dan mereka semua terjatuh. Benar-benar seru sekali!

Di tengah-tengah persitiwa seru itu, seorang kasim kecil berlari-lari. Dia bersiul panjang sekali dan nuri itu langsung hinggap di tangannya dengan patuh.

Xiao Cuozi berlari-lari membawa sangkar nuri tersebut. Kasim kecil itu memasukkannya ke dalam dengan sigap. Setelah itu dia menghampiri Xiao Yanzi.

“Salam sejahtera bagi Putri Huanzhu! Hamba Xiao Chizi, kasim di perpustakaan istana. kalau nuri ini lepas lagi, cari saja hamba!”

“Jadi nuri ini dulunya peliharaanmu, ya?”

“Ya! Dia memang nakal tapi sekaligus menggemaskan!”

Qianlong berdehem-dehem lalu membubarkan kerumunan. Pada saat itulah Ziwei dan Xiao Yanzi memandang Qianlong dengan kaget.

“Huang Ama! Tangannya kenapa?”

“Aku jatuh dan terluka sedikit. Lao Foye saja yang cemas bukan main hingga memanggil tabib segala.”

Ibu Suri melempar tatapan tidak suka pada Qianlong. kemudian dia berlalu dengan perasaan jengkel.

Di Paviliun Shuofang, nuri itu masih sempat berkicau, “Brengsek! Brengsek!” Mereka semua mengelilingi nuri itu sambil mengganggunya.

Ketika itulah, Hanxiang muncul dengan muka pucat pasi. Dia sama sekali tidak tertarik pada si Brengsek dan berkata cepat-cepat.

“Aku sudah memutuskan! Aku akan ikut dalam ‘rencana besar’ kalian! Meng Dan saja di sini benar! Aku tak bisa selamanya pasrah dan menunggu nasibku begitu saja! Kalau aku masih terus di sini, hanya ada dua kemungkinan: aku akan mati atau jadi gila! Aku harus bangkit dan memperjuangkan nasibku sendiri!”

Erkang segera menutup seluruh pintu Paviliun Shuofang rapatrapat. Para kasim dan dayang disururh berjaga di luar.

“Kenapa tiba-tiba memutuskan begitu?” tanya Yongqi.

“Karena… karena aku telah menimbulkan masalah besar! Aku telah melukai Kaisar!”

“APA?” semuanya terperanjat.

Hanxiang lalu menceritakan peristiwa Qianlong semula terluka. Kecurigaan Lao Foye dan kebohongan yang dikarang Qianlong demi melindunginya.

Dalam hati mereka semua panik. kini mengertilah mereka mengapa tangan Ayahanda Kaisar dibebat dan mimik Ibu Suri tampak sangat jengkel tadi.

Erkang menenangkan Hanxiang dan mulai berembuk soal pelarian. Masalah utama mereka adalah wangi tubuh Hanxiang yang belum teratasi.

Pada saat mereka tengah berembuk, tiba-tiba terdengar seruan, “Lao Foye tiba!”

Semua terkejut dan panik. erkang segera mengingatkan, “Tenangkan diri kalian! Aku akan membuka pintu!”

Mereka menahan napas. Erkang membuka pintu dan mereka semua langsung bersujud memberi salam, “Salam sejahtera bagi Lao Foye!”

Dari lluar, Xiao Dengzi dan Xiao Cuozi tergopoh-gopoh berlari masuk. “Mana Lao Foye? Mana?”

Mereka semua menengadahkan muka dan melihat, Lao Foyenya mana ya?

Tiba-tiba terdengar suara lagi, “Kaisar tiba!”

Lagi-lagi mereka terperanjat dan buru-buru bersujud menghaturkan salam. “Salam sejahtera bagi Kaisar!” – tapi setelah melihat-llihat, tak tampak bayangan Kaisar dimanapun!

Tiba-tiba Xiao Yanzi menyadari sesuatu. Dia melihat nurinya yang sedang mengepak-ngepakkan sayap sambil berseru, “Hamba patut mati! Hamba patut mati!”

“Sialan! Jadi kau yang cari gara-gara rupanya! Kau memang pantas mati!” maki Xiao Yanzi. “Dasar brengsek! Bikin kami semua ketakutan! Akan kuganti namamu jadi Penipu Kecil! Awas kalau kau berbohong lagi! Akan kucabut bulumu!”

Setelah mereka semua pulih dari rasa kaget, mereka akhirnya bisa tertawa lagi. Erkang menepuk bahu Yongqi seraya berkata, “Lain kali kalau beli nuri, jangan beli nuri yang dilatih oleh kasim!” 😛

***

Tanpa menunda waktu untuk merencanakan pelarian Selir Xiang, Xiao Yanzi dan kawan-kawan tiga hari kemudian meluncur ke Graha Huipin.

Mereka berdiskusi di sebuah kamar soal strategi melarikan Hanxiang dan Meng Dan. Ziwei memberi Meng Dan beberapa kantong cendana terbaik dari istana untuk menyamarkan wangi tubuh Hanxiang dalam pelarian.

Ketika sibuk berdiskusi, tiba-tiba terdengar suara tiupan seruling.

“Dari mana asalnya suara seruling itu?” tanya Erkang waspada.

Liu Hong terlonjak. “Aku lupa! Xiao Jian itu tinggal di kamar sebelah!”

“Xiao Jian tinggal di kamar sebelah? Apa dia mendengar pembicaraan kita?” tanya Yongqi.

“Kalau kita bisa mendengar suara serulingnya, artinya dia juga bisa mendengar percakapan kita!”

Mereka mulai tegang. Xiao Yanzi menggosok-gosok tangannya, melompat bangun dan menerobos keluar.

Xiao Yanzi menerobos ke dalam kamar Xiao Jian sambil berteriak, “Xiao Jian! Keluar kau!”

Bunyi seruling terhenti seketika. Xiao Jian memandangi Xiao Yanzi sambil tersenyum,

“Wah, si Nona Kecil! Syukurlah kau tampak sehat dan tak kekurangan apapun!”

Xiao Yanzi geram sekali. “Nona kecil apa? Aku ini jelas-jelas Nona Besar! Kalau kau punya dua macam: seruling dan pedang, aku hanya punya satu macam yakni kepalan tinju! Hiyaaaa!!!”

Xiao Jian terbelalak. Seumur hidup dia belum pernah mendengar perkataan aneh seperti itu. Tinju Xiao Yanzi tepat menghantam hidungnya. Xiao Jian meringis sambil mengelus hidungnya.

“Aduh Nona… kenapa setiap kali bertemu kau selalu mengajak berkelahi? Sebenarnya apa kesalahanku padamu? Orang bijak itu selalu mengandalkan lidah – bukan otot…”

“Aku bukan orang bijak! Sekarang jawab aku! Tadi waktu kami bicara di kamar sebelah, apakah kau mendengar pembicaraan kami?”

Xiao Jian menjawab terang-terangan, “Tentu saja! Aku mendengarnya dengan leluasa! Makanya aku sengaja meniup seruling untuk mengingatkan kalau aku ada di kamar seelah!”

“APA??? Kau telah mendengar rahasia kami! Akan kubunuh kau!”

Xiao Jian kelabakan. “Nona! Mana bisa begini? Aku tidak bisa berkelahi!”

Xiao Jian berlari pontang-panting dan tunggang-langgang. Sementara Xiao Yanzi mengejarnya dengan gusar.

Xiao Yanzi berhasil menerjang XiaoJian. Dipukulnya dan ditendangnya pemuda itu hingga tak berkutik.

Meng Dan berseru keras, “Xiao Yanzi! Sebagai gurumu kuperintahkan kau agar berhenti berkelahi! Sekarang juga!”

Dengan enggan Xiao Yanzi menurut. Xiao Jian bangkit berdiri sambil membenahi pakainannya dan menghormati mereka semua yang telah berkumpul di situ.

“Kita tak perlu berkelahi lagi. Bagaimana kalau berteman saja? Xiao Jian tidak sengaja menengar perkataan kalian. Tapi kalian tak perlu cemas. Aku bukan orang usil. Apalagi di Beijing aku tidka pnya kenalan atau teman. Bisa mengenal kalian yang baik hati begini sudah membuatku kagum. Kalau kalian bisa mempercayaiku maka bertemanlah denganku! Siapa tahu aku malah bisa membantu kalian! Tapi kalau kalian tak percaya, silakan bunuh aku – agar tidak membocorkan rahasia!”

Erkang lalu mengajak Xiao Jian masuk ke kamar mereka tadi. Di dalam sana dia lalu memperkenalkan mereka semua. Xiao Jian jadi termangu-mangu memandang mereka.

“Aku sudah menduga kalian bukan orang biasa. Tapi posisi kalian yang demikain tinggi tetap membuatku terkaget-kaget!” Ditatapnya Xiao Yanzi. “Jadi, kau yang suka marah-marah ini ternyata adalah Putri Huanzhu?”

“Ya! Aku Putri Huanzhu!”

Yongqi bertanya tanpa basa-basi, “Kami sudah memberitahumu identitas asli kami. Sekarang kau bisa memberitahu kami identitas aslimu, kan?”

Sorot mata Xiao Jian mendadak jadi kelam. “Aku sungguh tak ada apa-apanya disbanding kalian. Memang, nama Xiao Jian itu bukan nama asliku. Tapi siapa nama asliku, aku pun tak tahu pasti. Waktu kecil keluargaku tertimpa musibah. Semua keluargaku tewas oleh musuh keluarga. Aku dibesarkan oleh salah satu sahabat ayahku. Lima tahun lalu, dia memberitahu rahasia masa laluku. Dia juga mmeberi warisan ayahku berupa seruling dan pedang. Sejak itu kupakai nama Xiao Jian dan mengembara.”

“Dari sahabat ayahku, aku tahu kalau aku masih punya seorang adik laki-laki yang hilang dari peristiwa itu. Aku mengembara, selain mencari cara untuk balas dendam terhadap musuh keluarga kami, juga untuk mencari adikku yang hilang itu. begitulah kisahku. Aku bukan pengelana nyentrik. Aku hanya pengembara yang sebatang kara.”

Xiao Yanzi dan kawan-kawan mengerti dan mereka pun bersimpati pada Xiao Jian.

Erkang akhirnya berkata, “Setelah kita semua saling mengenal, kau tak lagi menjadi pengembara sebatang kara, kan?”

Mata Xiao Jian bersinar-sinar. Dia berkata bangga, “Sejak dulu aku menganggap baik-buruknya manusia sebagai bagian dari rangkaian jalan kehidupan. Tak peduli baik atau buruk, jalani saja dulu!” Xiao Jian tertawa. “Sekarang, giliran kalian yang harus menjelaskan padaku. Rencana melarikan diri itu… sebetulnya rencana apa?”

Ekspresi semuanya pun kembali mendadak serius.

***

Sementara itu tepat pada saat Xiao Yanzi dan kawan-kawan kelluar istana, Qianlong juga sedang mengunjungi Pejabat Quan.

Hari itu, Hanxiang tak dapat mengelak dari nasib buruknya. Pengawal mengiringnya ke Istana Zhuning, tempat dimana Ibu Suri dan Permaisuri telah menantinya.

“Katakan sejujurnya sekarang, apa penyebab tangan Kaisar bisa terluka? Jangan sebut tentang pecahan vas bunga! Kata tabib yang memeriksa Kaisar, itu diakibatkan oleh senjata tajam! Apa itu pisau atau pedang? Bagaimana bisa ada senjata di kamarmu?”

Jantung Hanxiang berdegup kencang. “Bukan karena senjata apapun… tapi seperti yang Kaisar bilang… karena pecahan vas bunga!”

“Pembohong! Bibi Rong! Bibi Gui! Siksa dia!”

Kedua dayang maju dan mengeluarkan pembungkus kain yang berisi jarum-jarum. Melihat jarum-jarum itu, Hanxiang langsung gentar.

Bibi Rong menyeringai sambil berkata licik. “Selir Xiang, Anda sebaiknya jujur saja! Apa tidak sayang kalau kulit Anda yang halus dan wangi itu jadi berlubang-lubang?”

“Tidak! Tidak!” pekik Hanxiang.

Bibi Rong dan Bibi Gui menekan tubuh Hanxiang dan langsung menusuk pinggangnya.

Hanxiang menjerit kesakitan. “Kau mau mengaku tidak?” geram Ibu Suri.

Tubuh Hanxiang menggigil. Dengan nekat dan berani dia mendongakkan kepala dan berkata lantang, “Lao Foye! Hamba akan berterus terang. Sejak masuk istana sampai hari ini, Kaisar sama sekali berlum menyentuh hamba! Jika kalian mengira hamba telah melakukan hal gila-gilaan bersama Yang Mulia, itu hanya khayalan kalian saja! Yang Mulia sudah pernah berjanji, tak akan memaksa hamba melakukan apapun! Tapi malam itu dia lupa diri sehingga hamba ketakutan dan melukainya dengan pisau!”

“APA? Jadi kau melukai Kaisar untuk mempertahankan kesucianmu?”

“Benar!”

“Kau bilang sampai hari ini Kaisar belum pernah menyentuhmu?”

“Benar!”

“Bibi Rong! Bibi Gui! Segera periksa dia dengan seksama!”

Kedua dayang itu menarik Hanxiang. Pada saat itulah Qing’er yang gemetar menyaksikan segala penyiksaan itu diam-diam menyelinap pergi ke Paviliun Shuofang.

Qing’er panik sewaktu mengetahui para penghuni Paviliun Shuofang sedang pergi. Begitu juga dengan Erkang dan Yongqi. Nyawa Hanxiang kini benar-benar di ujung tanduk. Qing’er harus segera bertindak.

“Xiao Dengzi! Kau lekas pergi menjemput majikan-majikanmu! Katakana kalau Lao Foye hendak membunuh Selir Xiang! Xiao Cuozi! Lekas kau pergi ke kediaman Pejabat Quan Liu! Lekas sampaikanpada Baginda untuk lekas pulang ke istana! cepat bergerak! Nasib Selir Xiang ada di tangan kalian!”

Xiao Dengzi dan Xiao Cuozi tergopoh-gopoh melaksanakan perintah Qing’er.

Qing’er bergegas kembali ke Istana Zhuning. Tampak olehnya Hanxiang telah selesai diperiksa dan Ibu Suri yang marah besar.

“Jadi dia masih perawan? Aku tak percaya! Sudah diangkat jadi Selir tapi masih bersikeras mempertahankan kesuciannya! Memangngya Kaisar itu dianggap apa?”

Permaisuri mengelluarkan hasutan mautnya, “Lao Foye, masalah ini cukup serius! Demi keselamatan Kaisar Anda harus segera bertindak!”

Semakin mendengar perkataan Permaisuri, Ibu Suri semakin yakin. Dipandangnya Hanxiang penh kebencian,

“Mencoba membunuh Kaisar hukumannya pasti mati! Aku tak akan membiarkan seorang calon pembunuh berada di sampaing Kaisar! Selir Xiang, kau punya pesan-pesan terakhir?”

Hanxiang menatap Ibu Suri dengan tegak. Dia sangat menyadari kematian tak bisa terhindari lagi. Hanxiang menyilangkan kedua tangannya dan berkata, “Mohon Lao Foye tetap mempertimbangkan maksud baik ayah hamba. Sekalipun hamba telah gagal memenuhi harapannya sebagai upeti bagi Kaisar Qing, tapi janganlah sekali-kali maksud baiknya disalah artikan! ‘Seorang martir boleh dibunuh. Tapi lebih baik mati daripada dihina!’ Hamba sangat berterima kasih pada Baginda Kaisar. Maaf sekali, hamba telah mengecewakan beliau!”

Ibu Suri mendengarnya lalu berkata tegas, “Bawa peralatannya kemari!”

Seorang kasim muncul membawa nampan berisi tiga benda. Sutra putih panjang, sebotol racun dan sebilah pisau.

“Selir Xiang, hari ini aku akan menganugerahkan kematian padamu! Sutra putih, racun dan pisau, lekas pilih salah satu!”

Hanxiang memandang ketiga benda itu. Dia berucap lirih, “Meng Dan, maafkan aku! Ayah, maafkan aku! Yang Mulia Kaisar…., Ziwei, Xiao Yanzi…. Maafkan aku!”

Melihat ini Qing’er tak tahan lagi. Dia lalu berlutut di hadapan Lao Foye dan berteriak, “Lao Foye! Mohon Anda jangan sembarang bertindak! Jika Selir Xiang mati pada saat Kaisar sedang tidak di tempat, akan ada keributan besar! Lao Foye jangan sampai gara-gara ini membuat Kaisar murka, hubungan antara ibu dan anak rusak!”

Hati Ibu Suri jadi ciut mendengar penuturan Qing’er. Tapi Permaisuri buru-buru menyela, “Qing’er, perkataanmu salah! Justru sebagai Ibu yang ikatan batinnya dengan Yang Mulia sangat kuat, Lao Foye hendak menghindarkan Yang Mulia dari petaka!”

Perkataan Permaisuri memantapkan pilihan Ibu Suri. Dia menegakkan muka. “Selir Xiang! Lekas jatuhkan pilihanmu!”

Hanxiang meraih botol racun. “Racun ini bekerja cepat?”

“Itu racun yang keras. Hanya butuh waktu kurang dari sejam untuk bereaksi!”

Qing’er cemas bukan main. “Lao Foye! Mohon batalkan perintah itu! menyelamatkan nyawa seseorang akan mengantar Anda kea lam Sukhawati para Buddha! Qing’er memohon demi kebaikan Lao Foye! Lekas batalkan perintah itu!”

Ibu Suri berteriak bengis, “Tahan Putri Qing!”

Beberapa dayang maju dan menahan Qing’er. Qing’er meronta sekuat tenaga dan berseru-seru, “Selir Xiang, jangan diminum! Jangan…”

Hanxiang menghormat Qing’er dengan cara menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Putri Qing, terima kasih banyak atas perhatianmu. Sampaikan salamku kepada Xiao Yanzi dan kawan-kawan. Maaf, Hanxiang harus pergi mendahului kalian semua!”

Selesai berkata demikian, Hanxiang membuka tutup botol dan menenggak isinya sekali minum.

Qing’er menjerit keras, “Selir Xiang!!! Tidak…..!!!”

Bersambung