[Sinopsis] Summer’s Desire episode 14 – terakhir part 2 (ending – spoiler)

by nana rf and apni rf

Ou Chen melihat rekaman video dari Xia Mo yang disiapkan untuknya. 

Dia memutar rekaman itu di ruang TV sendirian. Rekaman itu berisi rekaman kehamilan Xia Mo yang dia ambil di lokasi syuting. Terlihat Xia Mo seolah-olah meninggalkan pesan untuk bayinya. Xia Mo memperlihatkan hasil foto USG bayinya yang belum terbentuk. Ou Chen terpana menontonnya. Lalu terlihat Lou Xi datang menghampiri Xia Mo dan ikut melihat foto USG itu. Xia Mo memperkenalkan Luo Xi pada bayinya

“Bayi, ini Lou Xi, dia itu superstar loh di jaman kita”

“Bayi, ibumu juga ratu kecantikan loh di jamannya”, goda Lou Xi.

Ou Chen lalu me-rewind rekaman ke bagian foto USG dan me-pause-nya.
Ou Chen tersenyum bahagia dia mendekati layar TV dan membelai bakal bayi itu.

“Halo, ini pertama kali kita bertemu”, ungkap sang ayah memperkenalkan diri.

Di rumahnya , Lou Xi memutar CD hadiah dari Xia Mo berupa rekaman suara yang diambil Xiao Cheng. Terdengar rekaman saat Lou Xi menunggu Xia Mo di rumahnya bersama Xiao Cheng. Lou Xi sedih dan terenyuh mendengar rekaman saat dia masih berpacaran dengan Xia Mo.

Lalu datang Shen Qiang membertahukan bahwa perusahan Ou Chen mencabut tuntutan terhadap Lou Xi karena mangkir di film Zhan Qi. Namun Lou Xi yang patah hati tidak terlihat senang dengan berita gembira itu.

“Kau tidak penasaran akan apa yang terjadi”, sahut Shen Qiang “Apa, Xia Mo membelamu di depan suaminya?. Kau tidak berusaha mencari tahu?”, lanjut Shen Qiang.

“Hal-hal seperti itu sudah tidak ada lagi pengaruhnya untukku”, kata Lou Xi memelas (Rha …ayank kasian tuh patah hati)




Xia Mo ternyata membawa kucing hitam kenangannya ke rumah Ou Chen. Kucing itu dipanggil Niu Nai (milk). Suatu hari dia kehilangan jejak kucing itu di rumah Ou Chen. Rumah Ou Chen sangat besar. Nui Nai membawanya ke sebuah ruangan. Ruangan itu adalah ruangan bayi bernuansa merah dan pink. 

Xia Mo terkejut dan bahagia, dia antusias melihat semua barang-barang di sana, kereta, bayi, box bayi, baju , sepatu boneka dan segala perlengkapan dan pernak pernik bayi.

Xia Mo sekarang sudah banyak waktu luang, dia menghabiskan waktunya untuk mengurusi urusan rumah tangga di rumah Ou Chen. Saat sedang menyiram bunga Ou Chen menghampiri ingin membantunya.

“Aku sudah tahu salah satu rahasiamu”, kata Xia Mo. 

Xia Mo lalu mengajak Ou Chen ke ruangan bayi yang dia temukan. Xia Mo sangat senang.
“Tapi bagaimana klo bayi kita bukan perempuan apa kau akan memaksanya memakai sepatu warna pink?”, goda Xia Mo “Kamu lupa hal yang detail ya”

Ou Chen lalu mengajak Xia Mo ke suatu ruangan lainnya. Ruangan itu ternyata ruangna bayi yang di desain dengan warna biru, lengkap dengan segala pakaian dan pernak-pernik bayi laki-laki. Xia Mo begitu antusias.

“kapan kau sempat mendekorasi dan menyiapkan ini semua, bukannya waktumu juga habis bersamaku ?” Xia Mo bener-benar terpana.
“Aku menyempatkan di sela pekerjaanku”

“Mengapa kau ingin persiapkan secepat itu, bukannya sebentar lagi kita bisa tau apa bayi ini laki-laki atau perempuan?”, kata Xia Mo asal berkata.

Ou Chen hanya terdiam tak menjawab, dia menyimpan sesuatu hal dari Xia Mo.
Zhen En datang menengok Xia Mo di rumah Ou Chen. Zhen En begitu antusias setelah menonton film “Picturesque Scene” di bioskop , film yang dibintangi Xia Mo dan Luo Xi. Film itu begitu menyentuh dan menjadi pembicaraan publik. Xia Mo lalu curhat tentang Ou Chen.
“Ou Chen sering tampak tersenyum, tapi dia seperti menyembunyikan sesuatu”
“Mungkin dia masih teringat hubunganmu dengan Luo Xi, media bahkan membuat gosip kalian berdua cocok bersama lagi. Sebagai laki-laki dia mungkin cemburu”, tebak Zhen En.
Shen Qiang memberi berita gembira pada Lou Xi bahwa film yang mereka berdua bintangi “Prosperous Age” (yang Lou Xi sampe meledakkan diri itu) mendapat 10 nominasi termasuk sutradara terbaik, pemeran utama wanita terbaik, dan pemeran utama pria terbaik.
Lou Xi tampak tak begitu antusias dia malah bertanya
“Bagaimana dengan “Picturesque Scene” (filmnya bersama Xia Mo)?”

“Film itu kurang lebih dapat nominasi yang sama”, jawab Shen Qiang terpaksa

Lou Xi tersenyum.
Shen Qiang kecewa akan tanggapan Luo Xi “Kau bahkan sama sekali tidak memberi selamat kepadaku (dapet nominasi)” (hehe emang enak dicuekin..)
Xia Mo mendapat pemberitahuan dan undangan menghandiri Awards sebagai nominator pemeran utama wanita.

Xia Mo senang, dia lalu mencari Ou Chen. Ou Chen tampak sedang menulis surat. Begitu melihat Xia Mo , Ou Chen menyembunyikan tulisannya.

“Ou Chen, tanggal 5 bulan depan, kamu bisa menemaniku di malam penganugrahan? aku dapat nominasi pemeran utama wanita terbaik”, ajak Xia Mo antusias

“Maaf, namun tanggal itu aku ada sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan”, jawab Ou Chen. Xia Mo agak kecewa “Ya sudahlah, aku juga belum tentu menang”, kata Xia Mo tersenyum “Namun lain kali kau kalau ada waktu harus datang bersamaku ya”

Ou Chen mencoba tersenyum (Ou Chen mulai penuh misteri)

Malam penganugrahan film pun tiba. Para selebriti top hadir di red carpet. Xia Mo baru datang bersama Pan Nam ditemani Zhen En. Para wartawan langsung mengerubutinya di tempat parkir. Mereka menggosipkan Xia Mo yang mengapa tidak datang bersama Luo Xi.

Wartawati yang sinis pada Xia Mo malah bertanya lebih menusuk. Dia menduga Xia Mo diam-diam bercerai dengan Ou Chen. Xia Mo membantah

“Kalau tidak mengapa Tuan Muda mulai memisahkan kepemilikan saham-saham dan memindahkan rumah atas namamu?!”Xia Mo merasa tak mengeri apa-apa soal itu.
(sebelum Xia Mo di kerubutin wartawan, yang dikerubutin duluan si An Hui Ni. Trus saat Xia Mo dikerubutin wartawan An Hui Ni datang menghampiri Xia Mo, klo gak salah An Hui Ni memohon pada Xia Mo biar suami Xia Mo gak menghambat karir An Hui Ni, An Hui Ni menangis, Xia Mo malah memberikan An Hui Ni tisu dan memintanya untuk melap air matanya By Apni, hehe masih sedikit inget pas nonton di viki).
Xia Mo dan Pan Nam lalu berjalan ke red carpet.

Lalu datanglah superstar Luo Xi yang turun dari mobilnya dan disambut meriah para fans wanita. Pan Nam dan Xia Mo tersenyum ke arahnya. Xia Mo, Pan Nam dan Luo Xi berfoto bertiga. Sambil difoto Lou Xi berbisik pada Xia Mo

“Selamat kau akan dapat pemeran utama terbaik”, tebak Lou Xi. (sebelum Xia Mo masuk, dia melihat Hpnya berharap Ou Chen menghubunginya, by Apni..ini aku pake bahasa kalbu hehehe)

Ou Chen melihat peristiwa malam penganugrahan itu lewat televisi di rumah. Xia Mo di sana gelisah, bukan karena hasil pengumuman itu tapi dia seperti menunggu telepon dari Ou Chen.

Xia Ying Bo mengumumkan pemeran utama wanita terbaik. Dan ternyata pemenangnya adalah Xia Mo yang berhasil mengalahkan Shen Qiang dan Wen Ai. Shen Qiang memberi selamat kepada Xia Mo. Xia Mo maju ke depan. Dia juga mendapat selamat dari Pan Nam. Di dekat tangga Lou Xi sudah menunggnunya. Kamera menyorot Lou Xi dan Xia Mo. Lou Xi menunggu Xia Mo urun dan memberikan pelukan selamat pada Xia Mo. “Benar khan kataku, kau pemenangnya”, bisik Luo Xi.

Xia Mo menerima award di atas panggung, dia kemudian mengucapkan pidato kemenangan.

Xia Mo berkata jujur bahwa karena kematian adiknya dia sempat down. Namun kehadirannya teman-temannya membantunya bangkit dan semangat untuk hidup lebih dengan bahagia.
Ou Chen yang melihat di televisi sempat lega dan bangga melihat keberhasilan istrinya.

Ou Chen lalu bersiap pergi dan mematikan TVnya, dia tidak mendengar bahwa Xia Mo belum selesai bicara.

Ou Chen pergi membawa travelling bagnya dan meninggalkan surat di meja untuk Xia Mo.

Ou Chen berniat dan sudah merencanakan untuk pergi jauh meninggalkan Xia Mo, Supirnya membawanya ke bandara.

Di panggung, Xia Mo mendapatkan sms dari Zhen En

“Tuan muda pergi…”

Xia Mo langsung terperanjat dan tak sanggup merasa kehilangan. Dia langsung lari meninggalkan panggung. Luo Xi kaget dan tahu pasti ada sesuatu yang terjadi.
Ou Chen meninggalkan surat yang cukup panjang untuk Xia Mo.
“Xia Mo jika kamu membaca surat ini, aku ada dalam perjalananku menuju perancis. …Aku ingat saat pertama kali kita bertemu kau begitu berani membetangkan tanganmu menghalangi mobil kami.

Aku yang masih berusia 14 tahun sudah langsung menyukaimu. Aku rasanya ingin menyembunyikanmu saat itu takut ada seseorang yang menemukanmu.

Ketakutanku ternyata benar semakin kamu dewasa kamu semakain menarik dan ada seseorang pria yang berhasil menemukanmu (Luo Xi). Sikapmu kepadanya agak berbeda. Dan aku tidak membiarkan dia sedetik lagipun dia dekat denganmu, aku pun menyingkirkannya…Setelah 5 tahun kita tidak bertemu walau aku tidak mengingatmu, aku kembali jatuh cinta padamu dan ingin memilikimu, aku berusaha agar bisa menikah denganmu. Namun aku tak ingin berbuat kesalahan lebih banyak lagi… Tuhan rupanya masih baik padaku sehingga kita dikaruniai seorang bayi. Hal ini membuatku ragu untuk melepaskanmu. Aku tahu arti keluarga bagimu sangat berarti, dan aku tahu kau pun pasti akan berusaha tetap bersamaku demi bayi kita. Namun dalam hidup seharusnya seseorang bersama orang yang yang cintainya…”

Ou Chen tiba di bandara, televisi setempat sedang membahas malam penganugrahan film. Ou Chen tak sengaja mendengarkan lanjutan pidato kemenangan Xia Mo yang tadi belum sempat didengarnya

“Aku ingin mengucapkan terimakasih kepada suamiku, yang selama aku jatuh 24 jam penuh selalu setia menemaniku. Jika bukan karenanya aku mungkin tidak akan cepat pulih. Terimakasih..Ou Chen..”
Ou Chen terpana dan terharu, dia tak menyangka Xia Mo sangat menghargai cintanya. Namun tekad Ou Chen untuk pergi sudah bulat. Walau berat, Dia melangkahkan kakinya menuju boarding pass.

Xia MO panik, mengetahui Ou Chen pergi. Dia buru-buru pergi ke bandara untuk mencegah Ou Chen. Xia Mo merasa tidak enak, bersalah juga takut ditinggalkan.  Xia Mo bahkan belum sempat berganti baju, dia masih memakai gaun malam panjangnya yang menutupi mata kaki dari acara penganugrahan.

Dia berlari-lari sepanjang lantai bandara, sambil melihat ke sana kemari mencari Ou Chen sambil memegang gaunnya yang menghalangi kakinya. Ou Chen belum dilihatnya juga, Xia Mo mulai putus asa sambil menengok ke kiri ke kanan. Xia MO akhirnya terdiam, dia merasa mungkin Ou Chen sudah terlanjur pergi.

 Tiba-tiba di depan pintu boading pass, Ou Chen melihat Xia Mo dari jauh.

Ou Chen sempat trenyuh dan terharu dan rasanya ingin tidak jadi pergi. Tapi tetap juga dia merasa harus pergi. Xia Mo akhirnya melangkah pergi

tapi dia merasa ada sesuatu yang terjadi dan memperhatikannya. Xia Mo lalu berbalik, dia melihat Ou Chen dan begitu lega. XIa Mo berlari menghampiri Ou Chen.
“Ou Chen jangan pergi, apa kau belum mendengar perkataanku tadi (di televisi)”, Xia Mo meohon
Ou Chen mengangguk (baru aja itu juga dengernya )
“Aku berbicara tulus dari hatiku”, kata Xia Mo
“Tapi aku tidak boleh berbuat kesalahan lagi, telah banyak kesalahan yang aku perbuat”, kata Ou Chen berkaca-kaca

“Lou Xi adalah masa lalu, dan kini aku bersamamu istrimu…Dan aku juga telah jatuh cinta padamu…”
Ou Chen terharu.
“Ijinkan aku untuk membuktikan cintaku padamu”, pinta Xia Mo
Ou Chen terharu, bahagia dan memeluk Xia Mo.

Dia lalu mencium Xia Mo. Mereka berciuman di bandara itu. Ciuman mesra mereka dengan penuh cinta pertama kalinya.
(Happy ending untuk Tuan Muda dan Xia Mo)
__________

Epilog

Xia Mo menyelenggarakan pameran lukidan karya adiknya Xiao Cheng. Xia Ying Bo, datang ke gallery. Dia terpana dan terharu melihat lukisan anaknya, Xiao Cheng yang dipamerkan di sana. Xia Mo lalu datang menghampiri.
“Aku ingin membeli lukisan ini”, kata Xia Ying Bo
“Di pameran ini tidak menjual lukisan…Tapi aku bisa memberikannya padamu”, kata Xia Mo
Ou Chen lalu datang menghampiri Xia Mo dan merangkulnya.
“Beritahu aku jika anak kalian telah lahir”

“Kami pasti akan memberitahumu”, jawab Ou chen.

Ou Chen dan Xia Mo mulai berbahagia sebagai suami istri. Suatu hari Ou Chen membawa Xia Mo yang perutnya mulai membesar untuk berjalan-jalan ke suatu tempat. Ou Chen ternyata membawa ke jalan di mana Xia MO dulu selalu melewati jalan itu saat akan pergi ke sekolah bersama adiknya.

“Nanti kita juga akan menggandeng tangan anak kita berjalan ke sekolah”, kata Ou Chen.

Pada saat yang sama, dari arah berlawanan, Lou Xi juga sedang berada di jalan itu sambil bermain gelembung bersama banyak anak kecil. Anak-anak itu mengerubungi Lou Xi yang superstar dan menyanyikan lagu Lou Xi “black cat and milk” .

Lou Xi sempat melihat mereka berdua. Mereka bertiga saling bertatapan dan tersenyum. Mereka pun masing-masing lalu berbalik, Xia Mo dan Ou Chen berjalan berdua berbahagia, sedangkan Lou Xi kembali bermain bersama anak-anak.

The End

Alhamdulillah selesai juga projek SD ini makasih banyak buat Apni dan Iis. Tak lupa juga makasih temen-temen RF dan semua yang baca yang udah kasih dukungan dan semangat…

[Sinopsis] Summer’s Desire episode 14 – terakhir part 1

Gelembung Lama Pecah, Gelembung Baru Muncul. Dan Begitulah Kehidupan itu Berlangsung


by nana rf 

Tuan Muda Ou Chen minta Zhen En agar memanggil Luo Xi. Ou Chen dan Luo Xi bicara 4 mata.
“Kamu adalah boss di tempat ini. Naskah ini dibuat khusus untuk Xia Mo atas perintahmu ya?” tanya Luo Xi

“Sejak kapan kau tahu?”
“Naskah ini ini terlalu banyak kemiripan dengan Xia Mo dan Xiao Cheng|”, jawab Luo Xi
“Kuharap kau mau merahasiakan ini dari media”, pinta Ou Chen
“Mengapa kau menginjinkanku main di sini? tidak takut aku merebut Xia Mo?”desak Lou Xi
“Jika dengan dekat denganmu bisa membawa kesembuhan untuk Xia Mo aku akan mengalah. Lagipula kamu aktor yang paling tahu keadaan Xia Mo dan tak akan membahayakan keadaan jiwanya”, jawab ou Chen.

Ou Chen lalu memberikan surat pada Luo Xi. Lou Xi terpana, itu surat terakhir Xiao Cheng untuk Xia Mo.

Suatu hari. Syuting film kembali berlangsung, kali ini bertempat di rumah keluarga Xia Mo waktu Lou XI juga pernah tinggal di sana. Syuting berlangsung dimana Luo Xi yang memerankan tokoh Xiao Cheng sedang duduk di bawah pohon sakura. Xia Mo yang memerankan Jie Lin (atau sebenernya Xia MO sendiri) datang. Lou Xi membacakan surat Xiao Cheng untuk Xia Mo (ceritanya ketemu arwahnya adiknya kali ya)

“Kakak, jika kakak membaca surat ini aku tidak ada lagi di dunia ini…Namun aku akan selalu memperhatikan Kakak. Suatu saat jika kita bertemu di kehidupan mendatang aku yang berganti akan menjaga Kakak…”
Xia Mo bergetar mendengar dialog itu, dia merasa Xiao Cheng seperti datang langsung dan berbicara kepadanya. Ou Chen sempat khawatir. LOu Xi meneruskan dialognya. Xia Mo benar-benar merasa tengah bicara dengan Xiao Cheng.

“Kakak harus selalu bahagia, jika kakak bahagia aku akan merasa ratusan kali bahagia. Namun jika kakak sedih aku juga merasa lebih sedih ratusan kali lipat..”
Xia Mo mulai tersenyum mengerti. Setelah Lou Xi selesai membacakan surat itu Xia Mo langsung jatuh pingsan (namun sepertinya Xia Mo jadi pulih dari tekanan batinnya). Ou Chen kali ini yang lebih sigap menolong/menangkap Xia Mo

 (Lou Xi kali ini keduluan hehe)

Xia Mo langsung diopname di rumah sakit. Xia Mo dirasa pulih , dkter meyatakan dia sekarang sedang kelelahan fisik dan mental saja. Dokter lalu memberi selamat pada Ou Chen.
“Anda akan mempunyai seorang bayi”
Ou Chen terpana, merasa tak percaya akan apa yang barusah didengarnya tadi. Dia berkaca-kaca dan bicara pada Xia Mo (Xia Mo msh pingsan sebenernya)
“Kau dengar? Kita akan mempunyai bayi” (wuah ini Ou Chen bener-bener ketiban rejeki nih cuma sekali tidur bareng langsung jadi)

Lou Xi terkejut mendengarnya (Anda memang tidak beruntung Lou Xi…)

Sejak saat itu Xia Mo mulai pulih. Dia dan Ou chen masih tinggal di rumah Xia Mo. Ou Chen pun sekarang sudah mulai kembali kerja di kantornya. Suatu saat Ou Chen menyiapkan sarapan buat Xia Mo. Dia lalu memanggil Xia Mo ke kamarnya di lanai ata. Dia kaget melihat kamar telah ksong. Dia buru-buru cari ke ruang bawah. Dia ruang gambar Xiao Cheng juga tidak ada. Ou Chen tiba-tiba merasa panik. Dia langsung menelpon Xia Mo, tapi teleponnya juga tidak aktif. Ou Chen sangat cemas dia buru-buru keluar. Eh ternyata Xia Mo muncul di depan pintu. Ou Chen langsung memeluk Xia Mo erat-erat
“Kupikir aku tidak akan melihatmu lagi…”

Xia Mo berkata bahwa dia menemui dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilan dan berkonsultasi dengan dokter.

Suatu hari Zhen En mengajak Pan Nam mencari peralatan untuk bayi. Dia siap menjadi ibu angkat untuk anak XIa Mo dan berusaha jadi yang terbaik dengan membelikan perlengkapan bayi seawal mungkin. Di departemen store mereka dikagetkan oleh sosok seseorang yang mereka kenal. Ternyata Ou Chen ada di sana, sedang mencari barang-barang untuk keperluan ibu hamil dan bai. Dia meilih baju bayi dan sepatu bayi yang lucu.
“Hai ibu angkat, kamu keduluan tuh”, sindir Pan Nam. Zhen en mulanya kecewa tapi mereka berdua kemudian terharu melihat Ou Chen dari kejauhan.
“Namun tidak apa-apa paling tidak kamu tersaingi oleh ayahnya sendiri”, lanjut PanNam

Di kantor Ou Chen minta dibelikan buket bunga pada sekertarisnya, karena dia akan mengajak Xia Mo melayat Xiao Cheng. Ou Chen lalu datang ke lokasi syuting Xia Mo. Namun dia kecewa karena Xia Mo sedang pergi dari lokasi.
“Xia Mo hanya pergi sebentar”, kata Zhen En takut-takut. Namun Ou Chen melihat Luu Xi juga tidak ditempat. AKhirnya Zhen En mengaku mereka beruda pergi bersama melayat ke makam Xiao Cheng, karena XIa Mo saat penguburan dulu tidak sadar dan Lou Xi belum sempat melayat ke sana.
Ou Chen menelepon Xia Mo. Xia Mo minta ijin melayat sebentar.
“Kalau kau ingin aku kembali aku akan segera kembali”, kata Xia Mo. Namun Ou chen berkata tidak perlu. Mereka lalu berjanji suatu saat akan perUgi melayat bersama. Ou Chen berkata dia akan kembali ke kantor dan pulang saat makan malam.

Saat Xia Mo berbicara pada Ou Chen, Lou Xi berbicara pada Xiao Cheng di depan makamnya.
“Xiao Cheng, sekarang kakakmu sudah ada Ou CHen yang menjaga, merawat dengan penuh cinta. Kau tidak perlu khawatir lagi”
Xia Mo lalu datang dia berkata pada Xiao Cheng bahwa dia dan Lou Xi bermain film bersama “picturesque scene”. Ceritanya tentang artis peluki yang bernama Xiao Cheng. Dan Lou Xi memerankan Xiao Cheng.

“Tapi aku tidak bisa melukis jadi kita memakan lukisanmu sebagai properti. Kata orang-orang lukisanmu indah|”, kata Lou XI menimpali
“Xiao Cheng, aku sedang mengandung, sudah 3 bulan”, cerita Xia Mo kemudian “Aku akan sangat menyayanginya, seperti menyayangimu”

Xia Mo dan Lou Xi lalu pergi meninggalkan makam. Lou Xi memegangi Xia Mo. “Kini kau sedang mengandung harus hati-hati”
Lou Xi lalu bicara pada Xia Mo minta maaf pada Xia Mo dan juga berterimakasih.
“Dulu karena aku sering merasa jiwaku tidak aman jadi sering merasa tidak tenang dan malah sering menyakiti hatimu. Namun sekrang aku belajar bahwa cinta itu harus ditanam dalam hati. Jadi karena ada di dalam hatiku. Aku tidak takut kau akan pergi. Terimakasih Xia Mo karena telah menyadakanku”
Xia Mo tersenyum, dia lalu memberikan hadiah buat Lou Xi berupa CD rekaman pembicaraan mereka yang pernah direkam Xiao Cheng. Luo Xi sangat berterimakasih.

Pada saat yang sama, ternyata Ou Chen tidak kembali ke kantornya. Dia diam-diam pergi juga ke makam Xiao Cheng dan memperhatikan Xia Mo dan Lou Xi dari jauh.

Ou Chen semakin merasa kecil hati. Dia merasa Xia Mo layak bahagia dengan orang yang dicintainya (padahal Xia Mo dan Lou Xi sudah ga ada apa-apa). Ou Chen lalu menaruh bunga di makam Xiao Cheng. Dia berbicara pada Xiao Cheng akan memenuhi janjinya agar Xia Mo dapat berbahagia (termasuk mengalah kayaknya).

“Namun ijinkan aku untuk diam-diam tetap memperhatikan dan menjaganya”, kata Ou Chen sambil meneteskan air mata.

Syuting kembali berlangsung. Ada adegan di mana Luo Xi dan Xia MO saling memperhatikan dengan mesra. Mereka saling merangkul dan Lou Xi mencium kening Xia Mo.

Ou Chen melihat adegan itu dari kejauhan dengan trenyuh dan kecil hati. Dia lalu pergi dan sepertinya siap pergi membiarkan mereka yang sepertinya layak saling mencintai.

Di rumahnya. Xia mo pergi ke dapur akan mencuci buah. Ou Chen lalu menghampirinya.

“Biar aku saja”, kata Ou Chen. Ou Chen mencucikan buah untuk Xia Mo. Xia Mo tersenyum. Setelah itu dia melap tangan Ou CHen yang basah. Ou Chen bahagia. 
Dia ingai waktu SMA dulu Xia Mo pernah melap kepalahnya yang basah.
Ou Chen lalu mengajak Xia MO kembali tinggal di rumahnya.Ou Chen sudah mulai bekerja kembali “Aku ingin pastikan ada yang membantu/menjagamu di rumah”

Xia Mo dan Ou Chen sudah pindah ke rumah Ou Chen lagi. Bagitu sudah malam. Ou Chen mengantar Xia Mo ke kamarnya untuk beristirahat. Lalu ou chen pergi lagi. Xia Mo mengejar Ou Chen.
“Kau mau ke mana?”, Xia Mo sepertinya mulai kesepian
“Aku masih ada urusan sedikit di kantor”
“Ahu ikut bersamamu ya?”, desak Xia Mo
“Tidak perlu, kau khan besok pagi-pagi harus pergi syuting”, kata Ou Chen.

Ou Chen lalu pergi dengan mobilnya. Namun Ou Chen sebenernya hanya menghindar dari Xia Mo. Dia menunggu sampai jam 11 malam.

Kemudian menelepon ke rumah untuk meyakinkan Xia Mo sudah tidur baru setelah itu dia pulang.

Xia Mo sejak hamil, dbantu oleh Zhen en sering merekam video kehamilannya untuk dokumentasi anaknya jika sudah besar nanti. Xia Mo sedang berada di lokasi syuting. Dia berkata pada Zhn En bahwa dia sering idak bertemu Ou Chen karena Ou Chen selalu pergi awal dan pulang setelah dia tidur.
“Kau sekarang kelihatnnya jadi sering membicarakan tuan muda”, goda Zhen En
“Walau kita jarang bertemu, tapi aku selalu merasa setiap jam 11 malam Ou Chen selalu menelepon untuk memastikan aku telah tidur. Aku juga sering merasa dia ada di sampingku saat aku telah tidur dan membelaiku. tapi aku rasanya sejak hamil terlalu letih, walau aku berusaha bangun aku tidak bisa”
Xia Mo sebenernya sudah pergi ke dokter kandungan lagi dan punya foto USG bayi dalam kandungannya. Xia mo sangat senang melihat foo bayi di kandungannya. Dia ingin memperlihatkan itu pada Ou Chen, ayah sang bayi.

Xia Mo lalu menelepon Ou Chen.

Ou Chen di sedang sibuk di kantornya. Dia trenyuh melihat telepon dari Xia Mo. Dia ingin mengangkatnya tapi ragu. Dia sepertinya sudah berjanji dalam hati ingin menjauh dari XIa Mo. Telepon Xia Mo tidak dia jawab. Xia Mo merasa agak kecewa.
“Mungkin dia memang sibuk”, kata Xia Mo menghibur diri.

Suatu malam, di kantornya Ou Chen menanyakan kepada sekertarisnya untuk kepindahan kepemilikan beberapa propertinya dan saham yang dia perintahkan. Begitu semuanya beres Tuan Muda keluar ruangan . Sekertarisnya agak tegang.
Ternyata Xia Mo sedang menunggu di luar ruangan dan tertidur di sofa.
Ou Chen terkejut juga khawatir dan memarahi sekertarisnya.
“Maaf, karena Nyonya memaksa jangan memberi tahu Tuan. Nyonya sudah dari pukul 6 sore di sini”
“Mengapa kau tidak memberikannya selimut?!”
Sepertinya udah masuk musim gugur kali. Ou Chen buru-buru membuka jasnya dan menyelimuti Xia Mo. Xia Mo terbangun.
“Mengapa kau tidur di sini, kamu bisa terkena flu”

“Syuting ku sudah selesai, jadi nani aku bisa lebih banyak punya waktu untuk menemanimu”
Ou Chen lalu mengajak Xia Mo pulang.

Ou Chen menunggui Xia Mo di samping tempat tidurnya. Saat tahu Xia Mo sudah tertidur. Ou Chen beranjak pergi. Xia Mo yang masih setengah sadar sempat menahan tangan Ou Chen.
“Ou Chen jangan menghindar dariku. saya tahu aku bukan istri yang baik.

Tapi saya akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik”, kata Xia Mo sambil terpejam “Ada gambar-gambar yang ingin kuperlihatkan padamu”
Xia Mo lalu tertidur pulas.
Ou Chen pergi, dia melihat di meja ada rekaman video untuknya. Dia tersenyum lalu memutar rekaman itu di ruang tengah.

bersambung ke part 2…

[Sinopsis] Summer’s Desire episode 13 part 2

Lou Xi muncul di depan rumah Xia Mo.

Ou Chen tekrjut melihatnya. Luo Xi sangat treyuh melihat kondisi Xia Mo saat itu. Xia Mo seperti orang linglung yang tak sadar apa yang terjadi di sekelilingnya. Zhen En membujuk XIa Mo masuk. Begitu Lou Xi ingin masuk ke rumah, Ou Chen menahan bahunya.
“Jangan halangi aku!”, kata Lou Xi

Lou Xi menemani Xia Mo di dapur yang sedang membersihkan sayap ayam. Lou Xi melihat Xia Mo dengan trenyuh, dia lalu melap tangan Xia Mo dengan lembut.

Luo Xi lalu keluarr ingin bicara berdua dengan Ou Chen. Sebelumnya dia meninju Ou Chen dengan keras , dia kecewa akan cara Ou Chen membiarkan Xia Mo menjadi seperti itu. Lou Xi memperingatkan Ou Chen

“Mulai sekarang aku akan sering menemuinya, kau sebaiknya tidak menggunakan lagi trik untuk menghalangiku menemuinya!”

Suatu ketika, Lou Xi kembali mendatangi Xia Mo dan menyanyikan lagu black cat and milk. Xia Mo hanya menatap dengan pandangan kosong. ou Chen memandang kedekatan Lou Xi dengan rasa minder. Lou Xi sedih karena Xia Mo tidak merespon.

“Lagi ini lagu kenangan kita waktu muda dulu, tidakkah kau ingat”, kata Lou Xi. Lou Xi lalu berkata bahwa dia sekarang sudah tidak egois hanya menginginkan Xia Mo.

“Melihat dirimu bisa hidup baik aku sudah cukup lega”

management mengatakan pada Zhen En, bahwa sutradara terkenal meminta Xia Mo untuk turut ikut audisi untuk film yang akan mereka buat. Pihak management tidak ada yang tahu bagaimana dan di mana keadaan Xia Mo sekarang. Zhen En lalu menemui Ou Chen di rumah Xia Mo dan berbicara mengenai tawaran itu. Ou Chen ingin mencobanya untuk Xia Mo siapa tahu Xia Mo merespon. Lou Xi cemas
“Apa menurutmu XIa MO bisa dipakai sebagai eksperimen?!”
Zhen mencoba menengahi
“Lou Xi tapi kali ini ceritanya sangat unik, tokohnya bernama Xiao Cheng seorang pelukis”
Mendengar kata Xiao Cheng, Xia Mo melangkah maju. Ou Chen melihat Xiao bereaksi, dia minta Zhen EN terus bercerita tentang film itu. Xia Mo menangis. Ou Chen prihatin. Luo Xi langsung mendekati Xia Mo dan melap air mata di pipinya. Ou Chen keki kayaknya keduluan Luo Xi.

Artis papan atas juga ikut diundang dalam audisi oleh sutradara bertaraf internasional itu. Ou Chen tetap membawa Xia MO ke tempat audisi ditemani oleh Zhen En. Mereka menunggu di ruang tunggu khusus.
Artis lain sedang mengerahkan kemampuannya untuk audisi. Rekaman audisi itu muncul di TV di ruangan Xia Mo dan rombongan. Xia Mo tampak tak berminat dengan para peserta itu, dia kurang merespon .

Tiba-tiba saat semuanya selesai Xia Mo mencoba membuka pintu ruang audisi dan ingin masuk. Seorang pantitia memancing dialog pertama. Dialog itu tentang kematian Xiao Cheng. Xia Mo yang selama ini tidak mau bicara tiba-tiba bersuara, dia meneruskan dialog itu dengan manpetap dan penuh perasaan. Begitu membahas dialog tentang Xiao Cheng sudah meninggal, Xia Mo benar-benar menangis, penampilannya itu menggetarkan semua orang di ruangan itu.

Setelah selesai XIa Mo pun jatuh terduduk. Ou Chen buru-buru menghampirinya. Sutradara di sisi lain puas dengan penampilan Xia Mo. Dia langsung menawarkan peran pada Xia Mo.
Ou Chen berbisik pada Xia Mo “AKu tahu kau mendengar perkataanku. Kamu mau mengambil peran dalam film itu?”

XIa Mo pun mengangguk. Ou Chen tersenyum lega.

Tak lama kemudia muncul berita di koran mengenai rancana film baru ini. Selain Xia Mo, pemeran utama lainnya adalah Luo Xi, yang ternayta bersedia come back demi Xia Mo.

Ou Chen mengajak Xia Mo ke taman ke tampat yang luas. Dia memberikan naskah film pada  Xia Mo untuk dia lihat. “Bagianmu sudah aku beri highlight suapaya mudah”
lalu meninggalkan naskah untuk dibaca Xia Mo
Tak lama kemudia Pan Nam dan Zhen En datang, Ou Chen meningglakan Xia Mo bersama sahabatnya. Xia Mo masih tampak belum sadar, pandangannya kosong.
Saa Pan Nam dan Zhen En mengobrol, Xia Mo mengambil naskah yang ditinggalkan ou chen. Anenhya Xia MO tampak tersenyum dan antusias dengan naskah itu. Ou Chen tidak sengaja melihat Xia Mo kali ini mau bereaksi.

Ou Chen sangat senang dengan kemajuan Xia Mo.

Hari ini Xia Mo menjalani syuting pertamanya. Ou Chen menyiapkan sarapan dan membujuk Xia Mo makan
“Hari in isyuting pertamamu, kau harus punya cukup energi”, kata Ou Chen sambil menyuapi roti. Syukurlah Xia Mo mau membuka mulutnya. Ou Chen senang dia pun meminta Xia Mo minum susu.

Di lokasi syuting pengambilan pertama akan di mulai, Xia MO sudah siap di tempat begitu juga Lou Xi. Sutradara berteriak “Action”. Lou Xi pun memulai dialog, dia berperan sebagai Xiao Cheng. Xia Mo tersenyum. Ou Chen dan Zhen En begitu tegang. Ternayta Xia Mo membalas dialog itu, dia melewati adegan itu dengan baik denga Lou Xi, mereka punt erlihat begitu akrab di adegan itu. Namun begitu sutradara berteriak “Cut”, Xia Mo kembali terdiam. Ou Chen mengambil XIa Mo dari tempat adegan itu. Dia kembali menjadi XIa Mo yang menderita tekanan jiwa. Lou Xi berkaca-kaca Xia Mo dipapah Ou Chen seperti itu.

Malam itu Ou Chen membawa Xia Mo untuk beristirahat setelah lelah syuting hari itu. Saat Ou Chen akan pergi, Xia Mo menarik tangan Ou Chen. Rupanya dia minta dipasangkan rekaman suara adiknya seperti biasa.
“Maaf aku lupa. istirahatlah yang baik”. Ou Chen lalu mencium kening Xia Mo.

Di tempat lain, Pan Nam menemai Luo Xi minum di bar. Lou XI masih prihatin dengan keadaan Xia Mo.

“Xia seperti terbelah menjadi 2 pribadi yang berbeda. satu Xia Mo yang antusias saat syuting dan satu lagi Xia Mo yang menderita. “
Lou Xi berkata bahwa dia tidak lagi punya keinginan bodoh untuk mengejak Xia Mo. Baginya melihat Xia Mo baik-baik saja itu cukup.

Ou Chen memandangi lukisan Xiao Cheng. Besok adalah syuting tentang kematian Xiao Cheng. Ou Chen berdoa semoga Xia Mo bisa melewati bagian ini dengan baik. Lalu Ou Chen tak sengaja menemukan surat yang ditulis Ou Chen untuk Kakaknya.

Keesokan harinya syuting berlangsung di dekat pantai. Angin bertiup cukup kencang. Ou Chen khawatir Xia MO kedinginan, dia lalu membuka blazernya dan ingin memberikan untuk Xia Mo. Namun rupanya Luo Xi yang berada lebih dekat dengan Xia Mo mempunyai inisiatf yang sama dan terlbih dahulu memberikan dan memkaikan blazernya untuk Xia Mo. Ou Chen merasa kecewa.

Luo Xi mencoba bicara kepada Xia Mo
“Aku mendapatkan kata-kata yang berguna  untuk berdoa “Berikanlah aku petunjuk untuk mengetahui sesuatu yang bisa kuubah berikan aku kekuatan untuk mengubahnya dan berikalah aku petunjuk untuk mengetahui sesuatu yang tak bisa kuubah dan berilah aku kekuatan untuk bisa menerimanya dan juga berikanlah aku petunjuk yang jelas untuk bisa membedakan keduanya”
LOu Xi lalu melanjutkan “Kau sudah memberikan semua usahamu untuk Xiao Cheng, kau harus kuat menerima semuanya”

Ou Chen dari kejauhan melihat Luo Xi tengah bicara dengan Xia Mo. Ou Chen meminta Zhen En menggil Lou Xi. Zhen En cemas takut Ou Chen cemburu melihat Luo Xi bersama Xia Mo.
“Mereka hanya sedang latihan untuk adegan nanti”
Namun ou chen tetap ingin Luo Xi dipanggil.
“Kau tidak akan memukul Luo XI khan?”, tanya Zhen En cemas

“Aku hanya akan bicara padanya”, jawab Ou Chen (sepertinya tentang surat dari Xiao Cheng)

bersambung ke episode 14 (terakhir)

buat semuanya met idul fitri ya
met malam takbiran
minal aidin wal faizin
teteh secara pribadi mohon maaf kalau banyak kekurangan saat nulis sinopsis
yang lagi mudik semoga selamat sampai tujuan dan kembali lagi…

[Sinopsis] Summer’s Desire episode 13 part 1

Kedamaian adalah Ragam dari Kebahagiaan
by nana rf

Xia Mo lari mengejar Ou Chen dan protes soal penawaran cerai itu. Tiba-tiba pelayan Ou Chen mengabarkan berita mengejutkan bahwa Xia Cheng jatuh pingsan.
Xia Mo langsung panik dan lari.
Xiao Cheng dilarikan ke rumah sakit dan langsung dibawa ke bagian gawat darurat.

Xia Mo terlihat begitu cemas dan khawatir. Ou Chen merangkulnya. begitu mendengar Xiao Cheng siuman , mereka langsung lari lagi ke kamar Xiao Cheng. Xiao Cheng yang tampak lemah berusaha menghibur kakaknya bahwa dia baik-baik saja. Dokter kemudian memberi penjelasan bahwa transplantasi ginjal tidak membawa kesembuhan total bagi Xiao Cheng melainkan hanya memperpanjang umurnya saja.

Luo Xi di lain pihak setelah mengundurkan dari dunia artis bermaksud pergi dari kota dan menyepi ke suatu tempat.

Namun saat akan pergi, Shen Qiang memberhentikan mobil Luo Xi. Shen Qiang mengikuti Luo Xi sampai rumah peristirahatan (rumahnya asyik ya bergaya country gitu kayaknya , dari kayu…).

Luo Xi tidak memperdulikan Shen Qiang, dia bahkan menyarankan Shen Qiang untuk pergi dari sana besok.

Xia Mo akan masuk ke ruang dokter, di dalam ternyata ada Ou Chen dan para dokter. Xia Mo tak sengaja menguping pembicaraan mereka. Ou Chen tampak emosi lalu mencengkram kerah baju dokter
“Aku menyuruhmu kemari untuk menyembuhkannya. Usaha lebih keras lagi! “

dokter lain berusaha meyakinkan Ou Chen dan membela rekannya

“Aku tak percaya, umurnya bahkan belum sampai 20 tahun”, Ou Chen sedih.
Xia Mo yang menguping dan mendengar hal itu langsung syok. Ou Chen lalu meminta pada dokter agar tidak membicarakan hal ini kepada Xia Mo.
Xia Mo pergi dari situ dengan lunglai. Di suatu tempat dia menangis.

Pada saat yang sama Ou Chen juga menyendiri..dia sedih dan menangisi nasib Xiao Cheng (mungkin juga karena ada getaran bahwa mereka sebenernya adik kakak)

Xia Mo menemui Xiao Cheng, dia kembali bersandiwara di depan Ou Chen untuk meyakinkan Xiao Cheng bahwa semuanya baik-baik saja.Xiao Cheng lalu memanggil kakak iparnya, Ou Chen. Dia meminta Ou Chen mengikatkan tanda cinta mereka berdua berupa pita hijau di lengan Xia Mo.

Xiao Cheng laluberkata pada Xia Mo bahwa dia ingin minum jus. Xia Mo lalu pergi membelikan jus.

Xiao Cheng menggunakan kesempatan itu untuk berbicara berdua dengan Ou Chen. “Karena diriku , kakak meninggalkan dunia showbiz” Xiao Cheng lalu berkata bahwa dia tahu kakaknya punya bakat berakting.

Xiao Cheng seperti memberikan pesan terakhir dia meminta Ou Chen untuk membiarkan dan memberi kesempatan kakaknya untuk berkarir di dunia akting.
“Jika aku sudah tidak ada lagi tolong jaga kakak untukku. Katakan padanya bahwa aku akan selalu ada dan hidup dalam lukisan-lukisan yang telah aku buat”

Xia Mo yang ternyata masih berada di dekat sana tak bisa menahan sedihnya mendengar permintaan Xiao Cheng.

“Kakak ipar maafkan aku karena dulu aku sempat tidak menyukaimu. Sekarang saya tahu sebenarnya kakak sangat mencintai kakakku. Jika aku tidak ada hanya kau satu-satunya yang bisa tempat kakakku bergantung”, kata Xiao Cheng. “Kakakku tidak sekuat seperti yang terlihat dari luar”, pesan Xiao Cheng.

Suatu ketika keadaan Xiao Cheng sangat kritis. Para dokter dan paramedik datang dan mengusahakan agar Xiao Cheng tetap bernafas. Namun Xiao Cheng sudah kritis.
Dokter berusaha mempertahankan hidup Xiao Cheng dengan memberikan kejutan listrik di dadanya.

Xia Mo syok dan merasa dunia di sekitanya berhenti. Ternyata Xiao Cheng tak tertolong lagi. dokter menyerah. Zhen En histeris.

Namun Xia Mo yang syok hanya terdiam mematung. Xia Mo lalu merasa adiknya belum meninggal. Dia lalu maju dan memanggil nama adiknya dengan lembut. Xiao Cheng terbangun, Xia Mo bicara sejenak pada adiknya dia juga berkata pada adiknya bahwa dia tidak menangis sama sekali karena hal ini. Xiao Cheng berkata bahwa dia juga tidak akan meninggalkan kakaknya.

Tak lama kemudia Xiao Cheng benar-benar meninggal (aku ga yakin ini Xiao Cheng bener-bener sempat bangun lagi atau mungkin hanya spiritnya yang berbicara pada Xia Mo)

Xia Ying Bo berziarah ke makam Xiao Cheng/Yin Cheng anak kandungnya.
“Maafkan aku karena baru kali ini berani menemuimu, aku telah menerima surat darimu”, kata Xia Ying Bo.

Sebelum kritis, Xiao Cheng ternyata menulis surat pada ayahnya. Dia sebenarnya telah tahu siapa ayah kandungnya dan bangga akan ayahnya yang telah mencapai kesuksesan dalam karirnya.

Di rumah , sepeninggalan Xiao Cheng, Xia Mo mengalami insomnia. Dia tidak mau memejankan matanya untuk tidur dia terus menerawang dan melamun.

Zhen En dan Ou Chen begitu cemas padanya. Ou Chen akhirnya memanggil dokter, dokter memberi Xia Mo obat tidur agar dapat beristirahat. Ou Chen sangat mencintai Xia Mo dia mengurusnya dan membelainya dengan lembut.

Ou Chen lalu memutuskan untuk membawa Xia Mo kembali ke rumah Xia Mo agar Xia Mo masih bisa merasakan kedekatan dengan Xiao Cheng di rumah mereka. Ou Chen bertekad menemani Xia Mo di sana 24 jam penuh (duh sekarang Ou Chen jadi baik banget). Dia mengurus Xia Mo menyiapakan makan dan sarapan. Di Rumahnya, tak sengaja Xia Mo menemukan ipod adiknya. Xiao Cheng sejak tahu pendengarannya melemah ternyata selalu merekam pembicaraannya dengan kakaknya.
Sayangnya penemuan rekaman suara adiknya ini bukan membuat Xia Mo segera pulih dari kesdihannya malah sebaliknya. Xia Mo semakin terpuruk , tidak ada semangat hidup , tidak berbicara kecuali mendengarkan rekaman suara adiknya sepanjang waktu.
Zhen En menceritakan kondisi Xia Mo yang parah pada Pan Nam. Dia merasa adiknya masih ada dan tiap hari membuatkan makanan untuk adiknya.
“Xia Mo bahkan tak bisa makan, dia memuntahkan kembali makanannya setiap menelan makanan. Keadaannya sungguh memprihatinkan”
“Aku harus memberitahu Luo Xi”, kata Pan Nam

Zhen En berusaha mencegahnya “Xia Mo sekarang sudah menikah, Ou Chen sebenarnya mengurusnya selalu aku saja sampai tersentuh melihatnya”

Begitu membaca beria di korean bahwa Xiao Chen meninggal dan Xia Mo depresi, Luo Xi langsung bergegas dan berkemas.

Shen Qiang berusaha mencegahnya tapi tak mampu. Shen Qiang sedih tapi dia tak mau merasa diriya dicampakkan Lou Xi, dia lalu minta ijin untuk pergi lebih dulu.

Ou Chen mengajak Xia Mo yang terpukul jiwanya itu berjalan-jalan keluar menonton bioskop (Peter Ho itu pake anting sebelah ya).

Ou Chen tahu Xia Mo sangat senang menonton bioskop bersama keluarga. Dia memutarkan film kesenangan Xiao Cheng. Ou Chen lalu berusaha mengajaknya bicaa. Namun Xiao Mo tak bergeming sedikitpun.

Ou Chen benar-benar sedihd an bingung untuk berbuat apa. Dia lalu pergi merenung, dia lalu teringat pesan mendiang Xiao Cheng padanya agar membiarkan Xia Mo terus berakting. Ou Chen lalu kembali minta tolong pada Xi Meng
“Aku akan lakukan apapun agar Xia Mo mau berbicara kembali”.

Di Rumahnya Xia Mo panik karena tiba-tiba di kulkasnya sudah tidak ada lagi persedian sayap ayam kegemaran Xia Cheng. Xia Mo yang linglung berusaha pergi ke luar rumah dengan panik. Saat dia membuka pintu ternyata Luo Xi sudah ada di depan pintu.

bersambung ke part 2 ya..biar ga terlalu capek hehe ..maaf ga tiap dialog ditulis ya..sekeinget aku soalnya…

[Sinopsis] Summer’s Desire episode 12 part 3

Sementara itu Lou Xi masih saja mengharapkan Xia Mo, ia masih memandangi fotonya saat bersama Xia Mo. Tiba-tiba Hpnya bergetar ternyata sms dari Jenny isinya : setiap orang akan menunggumu untuk datang malam ini.
Ketika Xia Mo sedang melipat pakaian Xiao Cheng, tiba-tiba Hp Xia Mo bordering ternyata ada SMS masuk, ia membuka isi pesannya : kumohon ingat untuk datang ke pesta kembang api Lou Xi. Xia Mo membacanya dengan perasaan sedih. Xiao Cheng datang dan bertanya akankah Xia Mo datang ke pesta Lou Xi. Sementara itu Xia Mo menghapus SMSnya. “Aku tidak akan datang” jawab Xia Mo.
Pada waktu yang sama Lou Xi juga menghapus pesan dari Jenny.
Kembali ke Xia Mo dan Xiao Cheng. Mendengar bahwa Xia Mo tidak akan ke pesta Lou Xi, Xiao Cheng cukup kecewa. “Kakak aku akan meminta pada pelayan untuk menyewa beberapa DVD untuk kita tonton malam ini” kata Xiao Cheng. Tiba-tiba Ou Chen datang dan berkata “Aku akan mengaturnya, ayo kita menonton film bersama sebagai keluarga”. “Akhir-akhir ini kakak sudah terlalu lelah, ayo kita pergi bersenang-senang dan bersantai. kata Xiao Cheng “Aku tidak capek, aku juga ingin melihat film tetapi aku ingin pergi untuk membantu Xiao Cheng membawa beberapa baju” kata Xia Mo tersenyum. “Itu terlalu menyusahkan, aku dapat mengirim seseorang untuk pergi membelikannya baju baru untuknya” kata Ou Chen. “Tidak perlu, masih ada beberapa yang aku ingin bawa” Kata Xia Mo. “Bagaimana kalau kita nonton film dilain waktu? kata Xiao Cheng. “Aku akan menjemputmu” kata Ou Chen, “Aku dapat pulang sendiri” jawab Xia Mo, “Baiklah, hati hati dijalan” Pinta Ou Chen, Xia Mo mengangguk sambil tersenyum.

Sedangkan itu Lou Xi sudah berkemas, sebelum ia pergi, Lou Xi menghapus daftar kontak nomor 63 (wah tulisannya gak ngerti, mungkin punya Xia Mo). Setelah menghapusnya, Lou Xi pergi membawa kopernya.

Ou Chen keluar rumah untuk mencari udara segar, diluar dia melihat Xiao Cheng yang sedang melukis. Ou Chen menghampiri Xiao Cheng, “Apa yang kau gambar? Tanya Ou Chen. “Kakaku sangat cantik kan? tanya Xiao Cheng. Ou Chen tersenyum dengan pertanyaan Xiao Cheng. “Dapatkah kau berikan gambar ini padaku? Pinta Ou Chen. “Baiklah, namun gambar ini masih tinggal sedikit lagi agar sempurna, Aku akan memberikannya besok” kata Xiao Cheng. “Terima kasih, jangan menggambar terlalu larut, segeralah istirahat, aku akan ke ruang belajar, jika kau butuh sesuatu, kau bisa menemukanku disana” kata Ou Chen. (ya ampyun,,,Ou Chen ya,,luv u..pingin banget disayang Ou Chen). Xiao Cheng mengangguk.

Ou Chen kemudian meninggalkan Xiao Cheng, “Tunggu kata Xiao Cheng, dia mengambil surat cerai yang ditanda tangani Ou Chen kemudian memberikannya pada Ou Chen. Xiao Cheng merasa tidak pantas untuk menyimpannya. “Kau ingin aku yang memberikannya dengan tanganku?tanya Ou Chen. “Aku tidak tahu, meskipun kau memaksa kakakku untuk menikah denganmu dan itu salah, tetapi aku tahu perasaanmu pada kakakku. Mungkin bila bersamamu, kakaku dapat bahagia. Aku sangat berterima kasih, kau memberikan kebahagiaan kepada kakaku lagi. Aku sangat bahagia kau menjadi kakak iparku. Kata Xiao Cheng, mendengar hal itu Ou Chen bahagia, dia tersenyum kembali. (hahaha aku juga suka Xiao Cheng ngomong kayak gitu).

Xia Mo berada dirumah lamanya untuk membawa baju Xiao Cheng, saat di ruang tamu Xia Mo ingin mengambil foto yang ada di lemari, tidak sengaja Xia Mo melihat kunci yang pernah Lou Xi berikan padanya, Xia Mo teringat ketika Lou Xi memberikannya kunci. Mengingat hal itu Xia Mo meminta maaf pada Lou Xi dan mengucapkan selamat tinggal. Xia Mo meninggalkan kunci dan mengambil foto kemudian meninggalkan rumahnya.

Sementara itu Lou Xi yang berada di luar rumah Xia Mo terlihat seperti orang yang putus asa. Lou Xi melihat Xia Mo yang keluar dari rumah, ia pun keluar dari mobil dan menghampirinya. Xia Mo hampir saja jatuh karena tersandung sesuatu, Lou Xi memeganginya. Xia Mo cukup terkejut dengan keberadaan Lou Xi. “Ini benar-benar kau, aku melihatmu masuk kedalam rumah, aku pikir aku salah” kata Lou Xi. Dapatkah kau meninggalkannya dan kembali padaku? (idih pede amat ni Lou Xi). Xia Mo cukup terkejut dengan pertanyaan Lou Xi, dia tidak menjawabnya. Sadar dengan pertanyaan bodohnya Lou Xi berkata “Maafkan aku, ini seperti aku mengatakan sesuatu yang bodoh lagi, aku memang bodoh, jika kau pindah kembali, kau tidak akan membawa barang-barangmu keluar dari rumah”. Bagaimana kau datang kesini sendiri? Kau tidak punya sopir yang mengantarmu, jika kau tidak keberatan aku akan mengantarkanmu pulang” kata Lou Xi sambil membawakan barang Xia Mo. Namun belum sempat Lou Xi membawanya, Xia Mo mengatakan tidak perlu. “Aku lupa, jika aku mengatarmu pulang, Ou Chen tidak akan suka, ini seperti perbuatan yang tidak pantas aku lakukan, maafkan aku”kata Lou Xi. (mian Rha harus kukatakan disini Lou Xi seperti orang gak waras).

“Jangan katakan maaf padaku”kata Xia Mo. Aku yang seharusnya yang mengatakan maaf bukan kau. Lou Xi berbalik dan berkata dialah orang yang salah, Xia Mo telah berusaha menjelaskan semuanya namun Lou Xi terlalu keras kepala dan menolak Xia Mo. “Ou Chen menggunakan ginjalnya untuk memaksamu dan aku masih meragukanmu” kata Lou Xi menyesal. Xia Mo terkejut karena Lou Xi tahu masalah yang sebenarnya. “Ketika aku tahu yang sebenarnya, aku menyalahkanmu karena tidak mengatakannya padaku lebih awal, namun setelah berada disini beberapa hari, akhirnya aku sadar, dimatamu, aku pasti menjadi seseorang yang salah.” Kata Lou Xi. “Itu tidak benar, jika kita tidak putus saat itu, aku yang akan mengambil keputusan. Kau tidak melakukan sesuatu yang salah” kata Xia Mo. “Apa kau begitu kejam?tanya Lou Xi, kau membuatnya begitu jelas untukku, kau dapat mengorbankanku tanpa keraguan. Mengapa kau menghancurkan impian terakhirku? tanya Lou Xi. “Aku sudah menikah, bagiku, kesehatan Xiao Cheng merupakan hal yang sangat penting saat ini begitupun Ou chen. “Apa kau bahagia? tanya Lou Xi. “Aku sangat bahagia” kata Xia Mo. “jangan bohong padaku kata Lou Xi. “aku tidak berbohong padamu, aku sangat bahagia” jawab Xia Mo. Selama ini aku hidup sangat damai. “Apakah hidup damai sama dengan bahagia? Tanya Lou Xi. Bagiku sama jawab Xia Mo, kalau begitu masihkah kau mencintaiku? Tanya Lou Xi. “ya jawab Xia Mo. Mendengar hal itu Lou Xi sangat senang, ia tersenyum. “jika itu untuk menyenangkan aku, aku masih sangat senang mendengarnya, terima kasih Xia Mo” kata Lou Xi. “Lupakan aku” pinta Xia Mo. “Apakah ini permintaanmu? Tanya Lou Xi. “ ya jawab Xia Mo. “Baiklah, aku berjanji aku akan melupakanmu, tapi kau harus berjanji satu hal padaku, jangan pernah melupakanku, tidak peduli berapa banyak waktu telah berlalu, jangan pernha melupakanku. taruhlah aku di dalam ruang kecil hatimu. Xia Mo mengangguk.

Mereka berdua sudah hampir menangis. Lou Xi dan Xia Mo saling berpelukan. Namun jeda beberapa saat Xia Mo melepaskan pelukan Lou Xi, ternyata Ou Chen datang dan melihat mereka berpelukan, Xia Mo sangat terkejut. Ou Chen melihat mereka beberapa saat kemudian mengambil barang Xia Mo. Xia Mo berusaha menjelaskan namun Ou Chen hanya mengatakan ayo kita pulang. Xia Mo berhenti sejenak dan menoleh untuk mengatakan selamat tinggal pada Lou Xi. Sementara Lou Xi hanya terdiam.

Disepanjang jalan Ou chen tidak mengatakan apapun.(sebenernya dia marah banget).

Sementara itu Lou Xi kembali ke dalam mobilnya dan biasa kayak orang putus asa gitu (Rha, suamimu ditemenin sono hehehhe)

Setelah sampai dirumah Ou Chen masuk lebih dulu, Xia Mo mengejarnya dan berusaha menjelaskan pada Ou Chen bahwa mereka tidak merencanakan pertemuan itu. Xia Mo bertanya apa Ou chen marah?. “Marah?aku adalah orang yang membuat kalian putus, jadi apa aku pantas untuk marah?kata Ou chen. Mengapa kau berkata demikian?tanya Xia Mo, jika kau tau Lou Xi disana aku tidak akan…..belum sempat Xia Mo melanjutkan Ou chen sudah bertanya, “Kau tidak akan apa? Kau tidak akan memeluknya? Tanya Ou Chen. Xia Mo tidak bisa berkata apa-apa. Xia Mo mengajak Ou Chen untuk bicara didalam.

“Lou Xi akan pergi besok, pelukan itu hanya bentuk ucapan selamat jalan.”kata Xia Mo menjelaskan. Ou Chen mari kita lupakan masa lalu dan hidup dengan damai mulai saat ini. “ini adalah hidupmu. Apa kau merasa bahagia?tanya Ou Chen. Sangat bahagia jawab Xia Mo. “Mengapa?tanya Ou Chen lagi. “Karenakau punya keluarga, aku dapat bersama dengan keluarga yang aku cintai setiap hari” jawab Xia Mo. Apa itu cukup Tanya Ou Chen, ya jawab Xia Mo. Aku adalah orang yang kau nikahi, apa kau merasa bahagia? Tanya Ou Chen, ya jawab Xia Mo. Jika aku mengatakan padamu untuk melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan, akankah kau masih merasa bahagia? Tanya Ou Chen sambil ingin memegang pipi Xia Mo, namun Xia Mo sedikit mundur, mengapa kau tidak menjawab Tanya Ou Chen, kau tidak dapat menerima semua ini bukan?. Aku bisa menerimanya jawab Xia Mo, bagaimana dengan ini kata Ou Chen sambil ingin mencium Xia Mo, Xia Mo mundur.

Ou Chen mencium Xia Mo dengan paksa. Hingga poto yang ada di meja terjatuh. Ou Chen menhentikan ciumannya. Xia Mo meminta maaf namun Ou Chen berkata bahwa orang yang harusnya minta maaf adalah dia. (mian aku sensor)

Xia Mo membawa Ou Chen ke kamarnya. Xia Mo melepaskan semua bajunya didepan Ou Chen. “apakah kau tau apa yang kau lakukan? Tanya Ou Chen. “Aku tau, aku adalah istrimu” jawab Xia Mo. Xia Mo mulai membuka jaket dan baju Ou Chen. Dan akhirnya mereka berdua melakukan hubungan suami istri (mian ya aku sensor pikunya. Tapi kalau boleh aku comment adegannya kurang bagus, cara mereka berciuman itu jelek, itu menurutku heheh).

Keesokan harinya Ou Chen melihat Xia Mo yang masih tidur mungkin Ou Chen masih tidak percaya Xia Mo mampu melakukan hal itu. “Aku pikir aku dapat merubah diriku tetapi yang benar adalah aku hanya bisa memaksa dan memaksamu lagi. Yang disebut kebahagiaan, aku pikir aku dapat memberikanmu. Dapatkah benar2 dapat membuatmu bahagia? Mungkin, hanya setelah kamu pergi kemudian kau dapat menemukan kebahagiaan yang sebenarnya , kau bebas. Kata Ou Chen dalam hati sambil melepaskan pita hijau yang ada di tangan Xia Mo. Kemudian Ou Chen meninggalkan Xia Mo.

Lou Xi pergi ketaman bermain dan mulai mengingat masa2 ketika ia bersama ibunya. Lou Xi bagai melihat ibunya kembali. Lou Xi mengucapkan selamat tinggal pada ibunya dan pada Xia Mo (Lou Xi hidup dalam bayang-bayang ibunya, oleh sebab itu dia takut tersakiti).

Xiao Cheng melukis kembali lukisan yang belum ia selesaikan, namun tiba-tiba ia merasa kesakitan dan akhirnya pingsan.

Sementara itu Xia Mo terbangun karena mendapati semua surat cerai ada di tempat tidur . Ia terkejut, ia pun menyadari pita hijau yang ada ditangannya telah hilang, Xia Mo berlari mencari Ou Chen yang telah siap berangkat ke kantor. “Ou Chen, apa maksud semua ini? Tanya Xia Mo. “Karena aku memberikan ini pada Xiao Cheng, ia mau dioperasi, aku selalu berpikir, dia kan memberimu surat cerai ini, namun tadi malam, ia menggembalikannya padaku. Aku bagai lelaki diambang kematian, tiba-tiba mendapat hukuman. Tetapi hukuman untukku, tidakkah menghukummu lebih lama? Tindakanmu selama ini seolah-olah kau bahagia, aku sangat berterima kasih. kata Ou Chen. “Kau pikir aku berakting tadi malam? Aku melakukannya dari hati. Sepanjang kau dapat berada di sisiku, hatiku akan menjadi tenang, aku tidak mau kehilanganmu kata Xia Mo. Ou Chen sepertinya senang mendengar hal itu.

Tiba-tiba pelayan Ou Chen datang dan mengabarkan bahwa Xiao Cheng pingsan. Mendengar hal itu Xia Mo dan Ou Chen panik dan langsung berlari ketempat Xiao Cheng pingsan.

(mianhe, kalau lama..) to be continue episode 13,,teteh nana kuserahkan padamu..hehe