[Profile] Furukawa Yuki ~ Pemeran Irie Naoki dalam Itazura na Kiss ~ Love in Tokyo ~

Konbanwa Minnasan,
Adakah yang masih doki-doki dengan Irie Naoki, hehe. Kali ini kita bahas profilnya Furukawa Yuki, pemeran Irie Naoki dalam Itazura na Kiss ~ Love in Tokyo yuk.
Profil Furukawa Yuki
Furukawa Yuki (古川雄輝(フルカワユウキ)) yang lahir di Tokyo, 18 Oktober 1987 ini namanya langsung melesat setelah ia membintangi remake dorama yang cukup terkenal dan juga diadaptasi oleh negara-negara tetangganya, Taiwan dan Korea. Dalam dorama Itazura na Kiss ~ LIT tersebut ia berperan sebagai Irie Naoki, yang pada versi 1996-nya diperankan oleh Kashiwabara Takashi.
Profil Furukawa Yuki
Yuki kecil pindah ke Kanada bersama keluarganya saat berusia 7 tahun. Setelah menamatkan SMP, ia pindah sendiri ke Amerika untuk bersekolah di Keio High School New York. Selepas pendidikannya di New York, Yuki kembali ke Jepang untuk mengambil gelar sarjananya di Universitas Keio jurusan Science and Technology (wow, pantesan cocok berperan sebagai siswa jenius, hehe). Yuki terpilih sebagai Mr. Keio, the most handsome man at university pada November 2009.
Profil Furukawa Yuki
Pada bulan Maret 2010, Yuki mengikuti audisi “Horipro’s 50th Anniversary Actor Audition“. Tujuannya mengikuti audisi tersebut adalah ingin menantang hal baru. Ia berhasil memukau juri dan memenangkan Jury’s Special Awards atas penampilannya serta kemampuannya berbicara bahasa Inggris dengan lancar (iyalah, kan lama tinggal di luar negeri).
Profil Furukawa Yuki
Sebelum memulai aktingnya di layar kaca, pemilik tinggi badan 180 cm ini memulai penampilan panggungnya dalam Koibaba 14 Sai di bulan Agustus dan Henachoko Venus pada September 2010. Di tahun 2011, aktor yang tergabung dalam Horipro Agency ini mulai bermain dalam beberapa judul film dan dorama. Asuko March! menjadi salah satu dorama yang ia bintangi di tahun 2011. Bersama Takei Emi dan Matsuzaka Tori, ia berperan sebagai Tetsuro Kishi. Dorama lainnya yang ikut dibintanginya adalah Boku to Star no 99 Nichi yang memasang aktris Korea Kim Tae Hee sebagai lead femalenya. Dalam dorama yang tayang di Fuji TV ini, Yuki memerankan karakter Sumiyoshi Natsume. Dalam dorama Bitter Sugar yang dibintangi aktris Ryo, Yuki menjadi bintang tamu di episode 7 dan 8. Ia berperan sebagai Kawasaki Jun.
Profil Furukawa Yuki
Selain bermain dalam dorama, Yuki ikut membintangi beberapa judul film, film televisi, dorama mobile dan teater pada tahun 2011. Bersama Sakurada Dori dan Taketomi Seika, ketiganya bermain dalam film televisi produksi Fuji TV Tonari no Akuma chan Mizu to Mizonokuchi. Dalam drama tersebut, Yuki memerankan karakter Hiroki.
Profil Furukawa Yuki
Ada tiga judul film yang ikut dibintangi Yuki sepanjang 2011. Dalam film horor berjudul Tomio yang disutradarai oleh Junji Ito, Yuki berperan sebagai Tomio Uzumaki. Film lainnya yang juga ikut diperankan Yuki adalah High School Debut a.k.a Koukou Debut. Dalam film yang dibintangi oleh Junpei Mizobata dan Ito Ono tersebut, aktor yang gemar bermain basket ini berperan sebagai Yui Asaoka. Film ketiganya berjudul Men’s Egg Drummers. Dalam film ini, Yuki berperan menjadi Keita, penerus kuil Shinto yang harus mencari pemain baru untuk penampilan kelompok taiko pada festival bulan. Selain Yuki, beberapa aktor tampan juga ikut bermain dalam film ini, diantaranya Ayumu Satoh, Daichi Tanaka, Katsumi Yoshida dan Chihiro Saito.
Profil Furukawa Yuki
Yuki menjajal kemampuannya untuk menjadi seiyuu dalam film komik Ikebukuro West Gate Park yang ditayangkan oleh BeeTV. Kisahnya diangkat dari novel karya Ishida Ira yang berjudul sama. Dalam film ini, Yuki mengisi suara untuk karakter King Takashi. FYI, Ikebukuro West Gate Park ini juga pernah dibuat dalam bentuk serial dan dibintangi oleh Nagase Tomoya dan Yamapi di tahun 2000.
Profil Furukawa Yuki
Aktor yang hobi breakdance ini ikut bermain dalam dorama yang dibintangi oleh Oguri Shun, Rich Man Poor Woman pada tahun 2012. Disini, ia berperan sebagai Tomoki Kuga. Selain dorama, sepanjang tahun 2012 beberapa judul film ikut dibintanginya. Diantaranya Roboji, dimana Yuki berperan sebagai Masahiro Shimizu. Film lainnya berjudul Future Reviews of Miss Boys Friendship. Yuki juga ikut bermain dalam film horor berjudul Torihada Gekijo a.k.a GooseBumps The Movie.
Profil Furukawa Yuki
Selain berakting, di tahun 2012 Yuki juga mengikuti variety show di stasiun TBS, Tomorrow “Switch”. Kemudian ia juga bergabung dalam pertunjukan musikal Enron yang diadakan pada 29 April 2012.
Profil Furukawa Yuki
Pada tahun 2013, pria yang menggemari breakdance dan basket sejak duduk di bangku SMA ini berakting dalam film yang dibintangi oleh Masami Nagasawa dan Masaki Okada, Beyond the Memories a.k.a Kiyoku Yawaku. Dalam film yang diangkat dari manga ini, Yuki berperan sebagai Kiyomasa Komine. Film ini diputar pertama kali di Tokyo International Film Festival pada 17 hingga 25 Oktober 2013.
Profil Furukawa Yuki
 Profil Furukawa Yuki
Karirnya makin bersinar setelah ia mendapatkan kesempatan untuk menjadi lead male dalam dorama Itazura na Kiss ~ Love in Tokyo. Itazura na Kiss pertama kali diproduksi  pada tahun 1996 lalu dan booming di Jepang. Menyusul kepopuleran Itazura na Kiss, beberapa negara tetangganya mengadopsi dorama tersebut diantaranya Taiwan yang membuat dua serinya, It Started with A Kiss (2005) & They Kiss Again (2007) serta Korea yang membuat Playfull Kiss (2010). Pada tahun 2013, Itazura na Kiss kembali diremake oleh sineas Jepang. Yuki terpilih untuk berperan sebagai Irie Naoki yang dahulu diperankan oleh Kashiwabara Takashi. Itazura na Kiss – Love in Tokyo merupakan dorama pertamanya menjadi lead male. Beradu akting dengan Miki Honoka yang berperan sebagai Aihara Kotoko dan membuat keduanya menjadi rising star. Yuki dianggap berhasil memerankan karakter Irie Naoki yang mendekati karakter Naoki yang digambarkan dalam manganya bahkan jika dibandingkan dengan pendahulunya, Kashiwabara Takashi.
Profil Furukawa Yuki
Kepopuleran Yuki bahkan membuatnya menjadi aktor Jepang pertama yang mengadakan fan meeting di Shanghai China pada 21 Juli 2013 lalu. Hal ini dikarenakan pengikutnya dalam akun Weibo, meroket hingga lebih dari 600.000 hanya dalam waktu kurang dari 4 bulan. Selain bermain dorama dan film, anggota grup breakdance REVOLVE ini juga ikut bergabung dalam variety  showSomosan-face!” yang tayang di Fuji TV. 
Profil Furukawa Yuki
Otto no Kanojo menjadi dorama terbaru Yuki di tahun 2013. Dalam dorama bergenre komedi ini, Yuki berperan sebagai Ishiguro Yasushi. Otto no Kanojo menceritakan tentang dua orang perempuan berusia 39 tahun dan 20 tahun yang tiba-tiba bertukar badan. Dorama ini dibintangi oleh Kawaguchi Haruna dan Suzuki Sawa
Profil Furukawa Yuki
Profil Furukawa Yuki
Demikian ulasan profil Furukawa Yuki, semoga infonya bermanfaat ya readers. Sampai jumpa di profil lainnya. Arigato ^^
Written by Yohana
Only posted on PelangiDrama.net
DON’T REPOST TO OTHER SITE!!!

[Sinopsis J-Drama] Nobunaga no Chef Episode 8

Aku, yang masuk ke zaman periode negara-negara menjadi koki Nobunaga sebelum aku tahu. Aku tahu bahwa wanita yang ada dalam ingatanku dari zaman Heisei, Youko juga berada di periode ini. Pergerakan yang menginginkan Nobunaga berhenti dari usahanya mempersatukan negara semakin intens. Pada akhirnya, musuh terburuk, Kennyo dari Ishiyama Hongan-ji memberontak. Karena hal itu, aku segera menuju ke puri Omi Usayama untuk menghentikan Mori Yoshinari yang siap mati.
~ Sinopsis Nobunaga no Chef episode 8 ~

Ken dan Natsu bersiap berangkat menuju Omi. Tiba-tiba mereka mendengar bunyi gemerisik. Saat menoleh, mereka dikejutkan oleh munculnya seorang perempuan yang memandang Ken, Youko.
Youko yang memang mencari-cari Ken segera berlari menyongsong Ken dengan penuh kerinduan. Youko segera memeluk Ken sembari memanggil nama lengkap Ken, Kenichirou. Ken yang blank hanya bisa membalas ucapan Youko dengan bergumam,”Youko.” Natsu memperhatikan keduanya, sedangkan Ken bingung apakah namanya yang sebenarnya adalah Kenichirou? Youko mendengar apa yang dikatakan Ken. Ia segera melepaskan pelukannya.
Ken berkata ini sama seperti ingatannya, Youko mengenakan anting berlian yang sama seperti yang ia ingat. Giliran Youko yang bingung dengan apa yang dikatakan Ken. Ken meminta Youko untuk mengatakan padanya siapa dirinya, mengapa ia bisa datang ke periode Sengoku? Youko heran dengan pertanyaan Ken. Ia cemas dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Ken? Ken tidak bisa menjelaskannya. Natsu yang melihat itu segera mendekati mereka dan mengatakan kebenarannya.
“Ken tidak bisa mengingat banyak hal tentang periode yang disebut Heisei. Anda datang dari Heisei juga, kan?” ucap Natsu. Youko kaget mendengar penjelasan Natsu. Ia minta penjelasan pada Ken mengenai apa yang disampaikan Natsu tadi.
“Apakah itu benar Kenichirou? Apakah itu berarti kau juga lupa tentang aku juga?”
“Satu-satunya hal yang ada dalam pikiranku sejak datang ke sini adalah dirimu. Namun itu semua sangat kabur dan aku sama sekali tidak ingat sesuatu yang konkret. Itulah sebabnya aku ingin kau mengatakan padaku, Youko-san. Apa yang kau tahu tentangku?” tanya Ken bersungguh-sungguh. Youko terdiam dan teringat dengan ancaman Kennyo padanya.
Belum sempat Youko berkata, mereka kembali dikejutkan munculnya orang yang mengacungkan senjata mengancam, “Siapa kau?! Tidak ada seorangpun yang melewati gunung ini berhasil keluar hidup-hidup!” Si pengancam itu berjalan mendekati mereka, namun salah satu kakinya masuk ke lumpur menyebabkan ia agak sulit bergerak. Ia mengenali Youko yang tinggal di kuil Ishiyama Hongan-ji. Youko segera menarik tangan Ken dan mengajaknya berlari. 
1570. Pertempuran di kastil Noda Fukushima dengan faksi Miyoshi. Karena pemberontakan Ishiyama Hongan-ji yang dipimpin Kennyo mengubah keunggulan tentara Nobunaga. Puri Usayama tempat di mana Mori Yoshinari berada dikelilingi oleh para biksu dari Mt. Hiei, Enryaku-ji atas perintah Kennyo.
 
Mori Yoshinari menerima laporan dari salah satu prajuritnya bahwa prajurit biarawan dari Enryoku-ji telah mengepung benteng Omi. Prajuritnya berfikir mungkin utusan yang menyampaikan pesan tidak mampu mencapai tempat Oyakata-sama. Yoshinari tidak percaya dengan ucapan prajurit tersebut. Ia bergegas masuk dan memandang peta lokasi benteng di mana ia berada.
“Apa yang kau katakan?! Tidak bisakah mengatakan tentang barisan prajurit Azai-Asakura?! Dengan cara ini Oyakata-sama akan berada di bawah serangan kedua faksi Miyoshi dan Ishiyama Hongan-ji serta tentara sekutu Azai-Asakura.”
Sementara itu, di tenda milik Nobunaga, salah seorang prajuritnya memberitahu jika para tentara Ishiyama Hongan-ji meninggalkan Ishiyama dan berbaris menuju Yodogawa (sungai). Nobunaga segera memerintahkan mereka untuk menyambut para prajurit Ishiyama dengan serangan.
Di kuil Ishiyama, Kennyo berkata pada salah satu pengikutnya bahwa peperangan melawan Nobunaga akan menjadi perang yang panjang. Tiba-tiba, Kennyo mencari Youko. Orang yang sedang berbicara dengan Kennyo berkata mereka belum mengetahui di mana Youko berada saat ini.
Youko, Ken dan Natsu masih bersembunyi dari orang yang mengejar mereka. Youko menduga orang tersebut adalah seorang prajurit biarawan dari Mt. Hiei Enryaku-ji. Natsu heran mendengarnya. Youko merasa Ishiyama Hongan-ji telah bergabung dengan perang ini. Tiba-tiba dari arah bawah terdengar teriakan beberapa orang. Ken menduga mereka tertangkap, namun Youko mencegah Ken bergerak. Ternyata bukan mereka yang dimaksud. Ada seorang pembawa pesan dari Yoshinari yang tertangkap para prajurit biarawan tersebut dan mereka segera membunuhnya. Para prajurit itu merasa senang karena mereka berhasil mencegah pembawa pesan untuk Nobunaga sampai ke tujuannya, setidaknya hingga pasukan sekutu dari Azai-Asakura tiba. Salah seorang dari mereka masih curiga dengan “orang yang mencurigakan” yang ia lihat beberapa waktu lalu. Ia menduga wanita yang bersama dengan orang tersebut berasal dari tempat Kennyo-sama. Rekannya memerintahkan agar mereka segera menemukan orang yang dimaksud (a.k.a Ken). Natsu takut, cepat atau lambat mereka pasti akan segera ditemukan. Ken memutuskan mereka harus segera menemui Yoshinari.
Mendengar percakapan Ken dan Natsu, Youko berkata ia akan pergi. Ia akan mengalihkan perhatian para prajurit itu agar Ken dan Natsu bisa melarikan diri dari kejaran mereka. Ken merasa itu bukan ide yang baik, lagipula Youko belum menjawab pertanyaannya. Youko berjanji akan memberitahu Ken saat mereka bertemu kembali. Natsu tidak percaya mereka akan bisa bertemu dengan Youko lagi. Ia mendesak Youko agar menjawab pertanyaan Ken. Youko memandang Natsu dan bertanya padanya,”Apakah anda ingin tahu? Hubungan saya dengan Kenichirou di Heisei?” Youko berkata ia akan meninggalkan Ken dan ia akan baik-baik saja. Ken berusaha mengejar Youko, namun Natsu menghalanginya.
Youko segera turun. Para prajurit melihat Youko dan segera menghampirinya. Mereka mengenali Youko berasal dari tempat Kennyo-sama dan mengantar Youko ke sana. Ken hanya bisa memandang Youko dari tempatnya bersembunyi. Sebelum benar-benar meninggalkan Ken, Youko menoleh ke belakang untuk memandang Ken terakhir kalinya.
Natsu dan Ken akhirnya melanjutkan perjalanan mereka. Ken terlihat tidak bersemangat, berkali-kali ia menoleh ke arah belakang. Natsu mengetahuinya. Ia menegur Ken yang masih memikirkan Youko sementara Nobunaga dan Yoshinari berada dalam bahaya. Ken mengatakan pada Natsu menurut sejarah yang ia ketahui Nobunaga belum akan meninggal, sedangkan Yoshinari ia tidak tahu. Ia merasa hingga insiden Honno-ji, orang yang berharga baginya tidak akan meninggal. Ia tidak tahu sejarah bagaimana dan kapan Mori Yoshinari akan meninggal. Natsu heran mendengar Ken berbicara seperti itu.
Yoshinari memerintahkan anak buahnya untuk kembali mengirim pesan pada Nobunaga setelah pembawa pesannya dibunuh oleh prajurit biarawan. Ia mendengar kabar itu dari Ken dan Natsu yang telah sampai ke puri Omi. Setelah memerintahkan hal itu, Yoshinari mencoba tombak buatan Natsu. Ia memuji tombak tersebut. Ken menyampaikan pesan Nobunaga pada Yoshinari. “Nobunaga-sama mengatakan pada kami untuk memberitahu Anda agar mempersiapkan jamuan untuk merayakan kemenangan perang.”
Yoshinari mengiyakan pesan yang disampaikan Nobunaga melalui Ken.
“Tapi, tombak panjang… “
“Apa?”
“Yoshinari-san, Anda tidak mempersiapkan diri untuk menyerahkan nyawa Anda, bukan? Bukankah tombak panjang itu merupakan sebuah bukti rencana Anda?”
Yoshinari belum menjawab pertanyaan Ken. Ia memandangi tombak panjang di tangannya. Tiba-tiba salah satu prajurit melaporkan sesuatu.
“Lapor! Musuh, selain Azai-Asakura dan para biksu dari Mt. Hiei telah ditambah dengan kekuatan kerusuhan sekte Ikko. Jumlahnya ada 30.000 tentara.”
Yoshinari berkata jumlah tentara mereka hanya 3.000, bagaimana melawan 30.000 tentara musuh? Para sekutu Yoshinari bertanya apa yang harus mereka lakukan sekarang?
“Karena pemberontakan Ishiyama Hongan-ji, Oyakata-sama akan tetap tinggal di Settsu. Jika kita membiarkan Azai-Asakura melangkah lebih jauh, maka tentara Oda akan sirna. Oleh karena itu, kita akan bergabung. Blokir jalan utama Sakamoto dan menahan pasukan Azai-Asakura. Kita harus mengirim seorang utusan untuk membawa pesan pada Oyakata-sama dan membayar harga! Kita akan menjadi perisai untuk melindungi Oyakata-sama!”
Ken dan Natsu kaget dengan keputusan Yoshinari. Ia menegur Yoshinari, jika mereka melakukan hal ini sama seperti bunuh diri. Natsu berusaha mengingatkan Ken, namun Yoshinari terlanjur mendengarnya. Ken berusaha meralat pernyataannya. Ia berusaha memberi usulan agar Yoshinari tidak perlu bertempur, mereka hanya mengepung sebuah puri. Yoshinari tidak setuju, jika mereka melakukan usulan Ken maka akan ada banyak tentara musuh meninggalkan puri dan menyerang Oyakata-sama dari belakang. Ken masih mencoba membujuk Yoshinari, ia menawarkan usulan agar mereka diam-diam melarikan diri dari para biksu prajurit lewat belakang dan membantu Nobunaga. Yoshinari masih membantah usulan Ken. Jika ia melakukan apa yan dikatakan Ken, maka tentara Azai-Asakura akan mendatangi Oyakata-sama. Ken berusaha menjelaskan namun Natsu memotong dan mengingatkan Ken agar tidak ikut campur.
“Nobunaga-sama tidak ingin Yoshinari meninggal!” ucap Ken. Yoshinari kesal dengan apa yang dikatakan Ken. Ia mengayunkan tombaknya ke arah Ken dan bertanya siapa sebenarnya Ken? Seorang koki seharusnya tidak membahas tentang perang. Mendengar hardikan Yoshinari, Ken meminta izin untuk memasak. Yoshinari mempersilahkan Ken melakukan apapun yang ia inginkan. Yoshinari berkata mereka tidak memiliki bahan apapun kecuali terong yang mereka peroleh dari para petani. Ken merasa itu sudah cukup.
Di dapur, Ken berkata pada Natsu meskipun tadi ia memakai nama Nobunaga, namun sebenarnya dirinyalah yang tidak menginginkan Yoshinari meninggal. Natsu paham dengan pemikiran Ken.
“Pemimpin klan Oda dan kokinya… Aku tahu perbedaan status antara keduanya.. Tapi kupikir Yoshinari adalah teman.”
Natsu merasakan hal yang sama dengan Ken. Ia mengiyakan apa yang Ken katakan padanya.
“Mari kita kirimkan perasan kita padanya dengan hidangan ini,” ucap Ken bersemangat.
Ken mulai memasak terong-terong yang ada. Ia meminta Natsu untuk menumbuk terong yang telah direndam. Sambil memasak, Ken mengingat apa yang pernah dikatakan Yoshinari. “Orang-orang lemah adalah yang paling menderita selama perang terjadi,” ucap Yoshinari kala itu. Ken teringat saat Yoshinari memuji teknik memasak yang dipakai Ken. Juga saat mereka mengadakan perjalanan ke Sakai.
Youko masuk ke kuil Ishiyama Hongan-ji. Ia teringat saat dirinya ditolong Kennyo ketika pertama kali masuk ke era Sengoko dan juga intimidasi yang ia terima dari Kennyo. Tiba-tiba Kennyo keluar dari ruangannya dan mulai menyindirnya dengan “wanita tak dikenal muncul….”, pasti berhubungan dengan laporan prajurit yang menemukan dirinya dan Ken serta Natsu tadi. Youko buru-buru berlutut dan berkata ia tidak tahu apapun. Namun Kennyo yang sudah diliputi cemburu tidak terima dengan alasan Youko. Ia minta Youko mengatakan padanya siapa pria yang bersamanya malam tadi. Youko tentu saja tidak mau mengaku ia bertemu Ken. Ia pura-pura tidak mengerti apa maksud perkataan Kennyo. Ia berkata dirinya merupakan milik Kennyo. Kennyo benar-benar marah. Ia memukul bahu Youko dengan kipasnya. Untuk menyalurkan emosinya, ia menarik tasbihnya hingga putus dan bijinya berjatuhan.
“Betapapun cemasnya dirimu, selama dia bersama dengan Nobunaga hidupnya tidak akan bertahan lama. Kekuatan Nobunaga berkembang terlalu cepat membuat banyak orang tidak suka. Itulah sebabnya aku memanggil mereka. ‘Mengelilingi mereka. Tujuan kami hanyalah kepala Nobunaga. Langkah pertama mengambil tangan kanan Nobunaga (Puri Usayama)’.”
Ken menjelaskan hidangan yang telah dibuatnya. Terong kaviar style dengan telur rebus lembut, sup terong dingin dan plum kering, terong pasta dengan rasa poppy saus daging. Yoshinari memuji Ken karena semua hidangannya menggunakan bahan dari terong adalah keterampilan Ken yang luar biasa. Ken berterimakasih mendengar pujian dari Yoshinari.
Yoshinari segera mencoba hidangan yang ada di depannya. “Betapa menyegarkan.. Entah kenapa aku tidak memiliki nafsu makan tapi rasa asam dari buah plum kering dan manisnya terong membangkitkan nafsu makanku,” ucap Yoshinari saat mencicipi supnya. “Makanan ini memiliki tekstur seperti pasta lemak ikan yang sebenarnya. Aku tidak akan berfikir jika ini adalah terong,” komentar Yoshinari saat mencoba kaviar terong. Demikian juga saat ia mencoba terong pasta, “jadi ini adalah kulit terong?”
“Kulit terong memiliki rasa seperti daging,” jelas Ken. Yoshinari memuji Ken yang menggunakan semua bagian terong tanpa kecuali. Natsu berkata mereka masih memiliki satu hidangan lagi. “Batang terong yang telah dibakar, efektif sebagai obat untuk gigi berlubang dan sariawan,” ungkap Ken. Yoshinari kagum melihat Ken menggunakan semua bagian terong.
“Terong memiliki kehidupan sendiri. Jadi tidak ada yang sia-sia,” kata Yoshinari.
“Tentu saja, itu sama seperti kehidupan manusia,” ucap Ken. Yoshinari meminta agar Ken memasak masakan yang sama seperti yang ia hidangkan padanya hari ini pada semua orang besok. Ken tersenyum mendengar permintaan Yoshinari dan mengiyakan permintaannya.
Esoknya, semua prajurit menikmati hidangan yang sama seperti yang dimakan Yoshinari kemarin. Mereka sangat menikmati masakan yang lezat yang dibuat Ken. Yoshinari terlihat gembira mendengar dan melihat para prajurit menikmati makanan. Ia mengatakan bahwa orang yang memasak makanan mereka hari itu adalah kepala koki Nobunaga.
“Ini adalah makanan yang dibuat oleh kepala koki Oyakata-sama. Singkatnya makanan ini mengandung pesan dari Oyakata-sama. Ia hendak mengatakan bahwa tentara terkecil memiliki kehidupan yang berguna. Terong ini, seperti darah dan daging kita.. hidup kita… akah hidup dalam Oyakata-sama! Berikan hidup Anda untuk menahan Azai-Asakura!”
Ken dan Natsu terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan Yoshinari. Ken berusaha menegur Yoshinari. Yoshinari mengerti apa yang hendak dikatakan Ken. Ia minta maaf atas apa yang ia baru saja katakan namun tekadnya telah bulat dan tidak bisa digoyahkan lagi. “Meskipun aku menyesal membuat semua orang ikut bagian dari rencana Yoshinari namun aku masih sulit mengatakan jika aku tidak ingin kau mati,” ucap Ken.
Kaede melapor pada Nobunaga bahwa pertempuran di Yodogawa telah berakhir dengan kemenangan berada di pihak mereka. Ishiyama Hongan-ji mungkin berencana untuk mengepung. Nobunaga memikirkan strategi yang akan dilakukan Kennyo berkaitan dengan kondisi ini, mereka tidak akan menarik pasukannya dengan cepat. Di sisi Nobunaga, Shogun Ashikaga diam-diam mengutuki Kenyo. Mengapa Kennyo tidak segera menyerang Nobunaga.
Nobunaga bertanya pada Kaede, apakah ada utusan dari Yoshinari di puri Usayama? Kaede menjawab belum. Nobunaga merasa janggal dan segera memerintahkan Kaede untuk pergi ke tempat Yoshinari. Mori Ranmaru mulai khawatir dengan keadaan ayahnya.
Di puri Usayama, Yoshinari sedang memegang kantung berisi kacang. Ia teringat saat Nobunaga memberikan kacang tersebut padanya.
=Flashback=
“Yoshinari, aku memberimu kacang ini. Mereka memiliki nilai seharga satu perahu besar.”
“Sebuah perahu besar? Apakah salah satu perahu ini?”
“Mereka hanyalah kacang di dunia yang bodoh ini. Tetapi meski bodoh namun merupakan dunia yang menarik.”
“Benar.”
“Sekarang mereka hanyalah kacang di mana kita tidak tahu bagaimana cara memakannya. Tapi suatu hari kita akan menyebrangi lautan, pergi ke daerah penghasil kacang dan mencari tahu. Saat waktu itu tiba Yoshinari, mari kita makan untuk isi hati kita untuk dunia.”
“Aku akan mengikuti Anda.”
=Flashback end=
Yoshinari bersiap untuk memimpin pasukannya. “Jangan biarkan seorang prajuritpun lolos.”
Mori Yoshinari, untuk mencegah musuh menyerang Nobunaga, berangkat dengan 3.000 tentara untuk memblokir jalan. Lawan mereka adalah pasukan besar yang terdiri dari 30.000 tentara dari Azai-Asakura, Ikko Ikki dan para biksu dari Mt. Hiei Enryaku-ji. Untuk Yoshinari ini adalah perang besar dan mempertaruhkan nyawanya.
 
Di puri Omi, Ken juga bersiap ikut berperang. Natsu mengingatkan Ken di antara pasukan musuh ada prajurit yang sangat muda dan juga orang tua, apakah Ken sanggup membunuh orang? Lagipula Ken tidak memiliki persiapan seperti Yoshinari (Ken bukan seorang prajurit atau terbiasa melakukan peperangan). Ken menyadari hal itu, namun dirinya juga tidak bisa hanya duduk diam di sana menunggu hasilnya. Melihat Ken yang tidak bisa dihalangi niatnya Natsu akhirnya menyerah. Ia berkata akan ikut bersama Ken, karena ia sama seperti Ken tidak bisa hanya menunggu dan tidak bisa berpisah dengan Ken, ow! Ken tersentuh dengan pengakuan Natsu.
Peperangan berlangsung sengit. Disela-sela melawan musuh, Yoshinari mengobarkan semangat juang prajuritnya. Di tempat lain, Ken dan Natsu berlari menuju medan perang. Sepanjang jalan, Ken bergumam agar Yoshinari tidak mengorbankan dirinya sendiri. Sementara itu, Kaede juga berlari menuju puri Omi.
Musuh mulai menggunakan panah api untuk mendesak lawan mereka. Salah satu anak buah Yoshinari hendak memberitahu pimpinannya, sayang ia lebih dulu ditusuk. Yoshinari yang mengetahuinya marah dan balas menusuk prajurit yang melukai anak buahnya. Tanpa ia sadari, prajurit pemanah bersiap menembaknya. Saat Yoshinari lengah, prajurit tersebut menembak dan mengenai dadanya.
Salah satu prajurit musuh mengetahui Yoshinari terkena panah. Ia berteriak mereka telah melumpuhkan pemimpin musuh. Mendengar teriakan lawan, salah satu anak buah Yoshinari menjadi makin bersemangat melawan musuh. Pihak musuh merasa di atas angin. Mereka mengelilingi Yoshinari yang terduduk menahan sakit. Di tengah kesakitannya, Yoshinari teringat Nobunaga. Demi ingatannya akan Oyakata-sama, semangat Yoshinari kembali muncul. Ia tak menghiraukan sakitnya dan melawan musuh kembali. Sayangnya musuhnya tidak seimbang. Pihak musuh mengelilinginya dan salah satu yang berada di belakangnya segera menusuk Yoshinari dengan tombak. Di sisa tenaganya, Yoshinari teringat dengan Nobunaga yang menjadi sumber kekuatannya.
“Bagaimana jika aku mati sia-sia di sini? Kau mimpiku. Terus maju untuk negara yang Anda impikan. Tanpa melihat ke belakang, seperti yang Anda inginkan….”
Yoshinari mengangkat tombaknya, namun ia sudah tidak kuat. Ia jatuh berlutut. Di saat yang sama, Ken dan Natsu tiba di lokasi peperangan. Mereka melihat Yoshinari yang tidak berdaya dan tertikam katana. Di tempat lain, Mori Ranmaru yang tengah mengikuti Nobunaga terpeleset dan membuat sandal jeraminya putus. Ia meminta maaf pada Nobunaga atas kecerobohannya tanpa tahu yang sebenarnya terjadi pada ayahnya. Namun sepertinya Nobunaga menduga ada sesuatu yang terjadi pada Yoshinari.
Ken dan Natsu segera membawa Yoshinari ke tempat yang aman. Prajurit musuh tanpa sengaja melihat mereka. Ia berteriak dan menginginkan kepala Yoshinari. Ken dan Natsu takut, sebab mereka tidak bisa melawan musuh. Untungnya Kaede datang tepat waktu. Ia berhasil menghalau musuh. Kaede segera meminta Ken dan Natsu membawa Yoshinari ke puri.
Natsu dan Ken membawa Yoshinari ke puri. Sepanjang jalan, Ken berdoa agar Yoshinari selamat, meskipun hal itu akan melawan sejarah. Mereka sampai di gerbang puri. Yoshinari berusaha berbicara. Ia mengatakan ada sesuatu dalam baju perangnya. Ken mencari benda yang dimaksud Yoshinari dan ketemu. Ia segera membuka kantong tersebut. Ken menduga isinya adalah biji kopi, namun ternyata biji kakao.
“Aku mendapatkannya dari Oyakata-sama. Aku berfikir untuk memakannya suatu hari nanti. Ken, bisakah kau memasaknya?” ucap Yoshinari.
“Ya, aku akan membuat sesuatu. Jadi mohon tunggu!” jawab Ken.

Natsu merawat Yoshinari. Di sana juga ada Ken yang sedang menghancurkan biji kakao. Natsu bertanya pada Ken apa yang akan ia buat? Namun Ken menjawab ia belum tahu. Biji kakao kering bukan bahan yang buruk. Tetapi rasanya sangat pahit dan tidak enak dimakan.
Tiba-tiba Yoshinari berbicara. “Aromanya. Jadi ini adalah bau dunia.” Yoshinari teringat saat Nobunaga berbicara padanya setelah menyerahkan biji kakao tersebut. Ken dan Natsu berusaha mencari tahu apa maksud perkataan Yoshinari, namun sepertinya sia-sia. Ken kemudian teringat jika Nobunaga memiliki persediaan gula. Ia bisa membuat coklat menambahkan gula yang dimiliki Nobunaga. “Yoshinari, coklat adalah makanan yang manis dan lezat juga memiliki efek menghilangkan kelelahan. Jika Anda memakannya, Anda akan merasa lebih baik.”
Natsu terharu dengan apa yang dikatakan Ken. Sambil menangis ia mengatakan pada Yoshinari, “Jika Ken berkata demikian maka hal itu benar. Yoshinari-san, saat kita kembali ke Gifu, mari kita makan bersama-sama.” Yoshinari mendengar semua pembicaraan mereka. Ia menasihati Natsu agar tidak menangis. “Natsu-dono, Anda baik hati, seorang wanita yang kuat. Aku yakin… Anda akan hidup bersama-sama.” Natsu justru tambah sedih dan menangis lagi mendengar perkataan Yoshinari. Ken meminta agar Yoshinari tidak berbicara banyak dulu. Yoshinari tidak menghiraukan permintaan Natsu dan Ken. Ia justru “menitipkan” Nobunaga pada Ken. Ken tidak percaya dengan permintaan Yoshinari. Ia berjanji akan membuatkannya coklat sesampainya mereka di Gifu. Namun janji Ken belum sempat terealisasi, karena setelah ia memberikan pesannya yang terakhir pada Ken, Yoshinari meninggal dunia.
19 September 1570 – Mori Yoshinari meninggal dalam pertempuran pada usia 48 tahun
 
Kaede melaporkan pada Nobunaga bahwa pasukan Azai-Asakura melakukan iring-iringan untuk menyongsong pasukan Nobunaga. Namun Yoshinari dan pasukannya menghadang mereka. Sayangnya mereka terdesak dan kalah. Nobunaga menanyakan kondisi Yoshinari. Kaede melaporkan Yoshinari tewas dalam pertempuran. Semuanya kaget mendengar berita tersebut, terutama Ranmaru. Kaede melanjutkan laporannya. Pasukan Azai-Asakura sekarang menuju ke ibukota. Nobunaga marah mendengar kabar tersebut. Ia segera memerintahkan untuk membubarkan benteng dan bersiap menuju ke ibukota. Untuk Ranmaru, Nobunaga memerintahkannya untuk menuju ke Usayama. Shogun Ashikaga merasa ini bukan situasi yang baik, ia segera melaporkan keadaan Nobunaga pada Azai-Asakura. Ranmaru bergegas lari menuju Usayama.
“Dengan kematian Mori Yoshinari, Oda Nobunaga kini dikepung dari semua sisi. Karena kau berkata bahwa kau sama-sama berasal dari era Heisei, kau tidak bisa melihat hidup Ken, bukan? Sama seperti kehidupan Nobunaga, hidupnya tidak akan lama. Apa yang akan kau lakukan sekarang, Nobunaga!” ucap Kennyo-dono di hadapan Youko.
Nobunaga meninggalkan ibukota. Karena informasi rahasia dari shogun Ashikaga Yoshiaki, tentara Azai-Asakura pergi ke Mt. Hiei. Oleh karena itu, Nobunaga dikelilingi oleh Azai-Asakura, Ishiyama Hongan-ji, Faksi Miyoshi dan Mt. Hiei Enryaku-ji. Keadaan perang kembali menemui jalan buntu.
 
Ranmaru telah sampai Usayama. Ia melampiaskan kesedihannya dengan menyalahkan Ken. Ken yang memang merasa bersalah karena terlambat mencegah Yoshinari bertempur hanya bisa meminta maaf. Ia berkata seandainya ia lebih kuat… Ranmaru menyalahkan permintaan maaf Ken. Ia merasa ayahnya melakukan hal ini atas kehendaknya sendiri. Mendengar perkataan Ranmaru, Ken memuji sikap dewasa Ranmaru meskipun ia masih sangat muda. Dibandingkan dengan dirinya sendiri, ia merasa tidak memiliki semangat dan kekuatan seperti Ranmaru. Natsu yang mendengar penyesalan dan perasaan bersalah Ken menghiburnya. 
Nobunaga memasuki Omi setelah meninggalkan ibukota menuju Usayama.
Di dalam puri, Nobunaga memerintahkan untuk membawa Yoshinari ke hadapannya. Anak buahnya kemudian membawakan pakaian perang milik Yoshinari beserta tombaknya. Nobunaga memandangi pakaian tersebut dengan sedih. Ken menghadap Nobunaga sambil membawa baki berisi makanan.
Nobunaga sedikit tersenyum melihat Ken. Ia sedikit terhibur karena Ken aman. Ken menjawab dengan sedih. Nobunaga bertanya hidangan apa yang dibawa Ken. Saat mengangkat wajahnya, terlihat air mata Ken mengalir di pipinya. “Royal style thrush. Hidangan yang Yoshinari-san inginkan sebelum kematiannya,” ucap Ken. Nobunaga terkejut mendengar perkataan Ken. Ia bertanya apakah Yoshinari memakannya? Ken menjawab Yoshinari tidak memiliki waktu untuk mencobanya. “Saus ini, bukan sup ini dibuat dengan kacang ini,” ucap Ken sambil menunjukkan beberapa biji kakao yang masih mentah pada Nobunaga.
Nobunaga terkejut melihat biji kakao tersebut. Ia teringat saat dirinya memberikan biji itu pada Yoshinari dan percakapan mereka saat itu. “Apakah dia berharap menggunakan kacang tersebut sebagai bahan masakan?” tanya Nobunaga. Ken menjawab iya dengan mantap. Nobunaga memerintahkan Ken untuk membagi makanan tersebut menjadi dua bagian, satu untuknya dan satu untuk Yoshinari. Ken mengerti perintah Nobunaga.
Nobunaga mencoba hidangan yang sudah disiapkan Ken di hadapannya. Ia berkata rasanya aneh.
“Gaya kerajaan, di negara yang disebut Perancis adalah hidangan klasik untuk Raja. Kerajaan berarti Raja dan keluarga Raja. Bukankah Yoshinari berharap agar kacang ini rasa akhir dunia karena ia berharap pemimpin akan menuntun mereka?” jelas Ken. Nobunaga memandang lurus ke meja yang dipersiapkan untuk Yoshinari. Ia membayangkan Yoshinari duduk dan makan hidangan tersebut bersama-sama dengannya. “Kau bodoh Yoshinari. Jika kau akan mati, maka kau seharusnya meninggal setelah mengetahui rasa hidangan ini,” ucap Nobunaga. Ia kemudian berdiri, mengambil piring yang diberikan untuk Yoshinari dan dibawanya keluar. Setelah di luar, piring tersebut dilemparkannya sambil berkata,” Masih ada lagi. Ada banyak lagi! Yoshinari!” ucap Nobunaga yang sudah tidak bisa menyembunyikan kepedihannya. Iapun meneteskan air matanya untuk Yoshinari. Setelah berhasil menguasai emosinya, Nobunaga segera memerintahkan semua pasukannya untuk mengepung Mt. Hiei dan memusnahkan Azai-Asakura.
Tentara Nobunaga dan Azai-Asakura kembali terlibat perang yang berlarut-larut di sekitar Mt. Hiei. Sementara itu, Ishiyama Hongan-ji menyebabkan kerusuhan di antara para pengikutnya.
 
Di kuil Ishiyama Hongan-ji, Youko tengah mempersiapkan sebuah kudapan bagi Kennyo. Ia membuat Pates de Fruits. Kennyo yang melihat kesibukan Youko mendekatinya dan ingin mencoba makanan tersebut. Setelah mencicipinya, Kennyo memuji makanannya enak. Youko berterimakasih mendengar pujian dari Kennyo, namun wajahnya tampak tidak bergembira.
Hideyoshi melaporkan pada Nobunaga bahwa pasukan mereka telah datang memberikan bantuan untuk mengalahkan musuh. Ia kemudian menyampaikan gagasannya untuk melawan pasukan Azai-Asakura.
“Bagaimana jika menggunakan taktik kelaparan untuk Azai-Asakura di Mt. Hiei? Atau menangkap Ishiyama Hongan-ji yang tengah lengah melawan faksi Miyoshi? Atau….”
Nobunaga diam saja mendengar usul Hideyoshi. Ia menjawab akan memikirkan strategi yang akan ia lakukan, namun saat ini Nobunaga merasa Hideyoshi belum pantas untuk mengusulkan strategi. Ia malah meminta agar Hideyoshi menyapu daun-daun kering di kebun. Meskipun kecewa dengan respon Nobunaga, Saru mengiyakan perintah Nobunaga dan meninggalkannya sendiri.
Nobunaga duduk menghadapi irori (perapian yang digunakan sebagai pemanas ruangan) sambil menuliskan pemikirannya menggunakan abu bekas kayu bakar yang ada di dalamnya. Setelah menulis, ia mendapatkan sebuah ide.
Untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan… untuk menyerang pada usaha sendiri.
Nobunaga berjalan bersama para pengikutnya. Tiba-tiba Ken berlari menyongsong Nobunaga dan bertanya apakah ia dipanggil Nobunaga. Nobunaga memerintahkan Ken agar menunggu di situ sebab shogun akan segera datang.
Shogun Ashikaga datang marah-marah karena ia dipanggil untuk datang ke tempat Nobunaga. Semua anak buah Nobunaga menghormat pada shogun. Tiba-tiba Nobunaga berdiri dan mendekati shogun Ashikaga. Shogun Ashikaga ketakutan melihat Nobunaga yang berjalan mendekatinya. Ia takut jika Nobunaga menyerangnya. Yang terjadi justru sebaliknya. Nobunaga berlutut di hadapan Shogun dan membuat semua orang terkejut. Shogun Ashikaga merasa ini bukan hal baik karena tidak biasanya Nobunaga melakukan hal ini. “Dengan kekuatan Anda, saya ingin mendapatkan perintah kekaisaran dari Kaisar di pengadilan kekaisaran,” ucap Nobunaga menjelaskan sikapnya yang tiba-tiba menghormat shogun Ashikaga.
“Kau ingin aku mengatur perundingan perdamaian dengan Ishiyama Hongan-ji?” tanya shogun Ashikaga.
Nobunaga membenarkan. “Dalam situasi ini kau akhirnya mengetahui posisimu. Benar bukan, Nobunaga? Aku tidak akan mengesampingkan urusan ini. Tentu saja jika kau mempercayakan padaku dengan membandingkan posisimu,” kata shogun Ashikaga bangga sambil merendahkan Nobunaga.
“Bukan. Aku ingin menyelesaikannya dengan sebuah lomba,” kata Nobunaga.
“Lomba?”
“Benar. Biarkan kaisar menentukan hasilnya dan yang kalah menerima kemenangan pihak pemenang. Itulah yang saya pikirkan.”
Hideyoshi kagum dengan hasil pemikiran Nobunaga yang selalu out of the box.
Shogun Ashikaga tertarik dengan ide Nobunaga. Ia bertanya lomba seperti apa yang ingin dilakukan Nobunaga? Menggunakan busur, pedang atau sumo?
“Memasak,” jawab Nobunaga mantap.
Ken yang juga mengikuti pembicaraan mereka kaget dengan ide yang diusulkan Nobunaga. Ia akan melakukan kompetisi masak di depan kaisar dan melawan koki dari Ishiyama Hongan-ji, yang berarti adalah Youko.
Bersambung..
Farewell Mori Yoshinari. Ia mendedikasikan hidupnya untuk membuat mimpi Nobunaga tercapai. Sekalipun Ken berusaha menghalanginya, ia tidak merubah keputusannya. Nobunaga benar-benar terpukul kehilangan salah satu tangan kanan sekaligus sahabatnya tersebut. Pertemuan Ken dengan Youko belum menjawab misteri mengapa Ken bisa berada di periode Sengoko. Akankah Youko benar-benar menepati janjinya saat mereka bertemu kembali nanti, dalam perlombaan memasak? Yosh, tinggal satu episode tersisa. 
Thanks to : D-Addict & doramax264
Written by Yohana [FB | Twitter]
Captured Image by  +ari airi [Twitter]
Only posted on pelangidrama.net
DON’T REPOST TO OTHER SITE!!!
Don’t ask next episode, ok!

[Profile] Ken Thereradeth Wongpuapan – Aktor Populer asal Negara Gajah Putih –

 Profil Ken Theeradeth

Sawaddee Ka… Yuk kenalan dengan salah satu aktor dari negara tetangga kita, Thailand. Kebetulan beberapa author pelangi drama sedang dilanda demam lakorn (drama Thailand) hehe. So kali ini author mau mengajak readers untuk mengenal profil salah satu aktor asal Thai yang berhasil membuat para author doki-doki karenanya.

Aktor yang membuat beberapa author mengalihkan perhatiannya ke dunia perlakorn-an ini bernama Theeradej Wongpuapan (ธีรเดช วงศ์พัวพันธ์) atau biasa dikenal dengan panggilan Ken. Biasanya pecinta Thai mengenalnya sebagai Ken Theeradej, sedangkan keluarga dan teman-teman dekatnya biasa memanggilnya Kane. Aktor yang juga menjadi model dan presenter ini lahir di Bangkok, 3 Desember 1977. Terlahir sebagai anak bungsu dari keluarga yang berkecimpung dalam dunia televisi, membuat Ken ikut meneruskan jejak kedua orangtuanya. Ayahnya, Weeraprawat Wongpuapan merupakan seorang sutradara terkenal di Thai sekaligus orang yang membujuknya untuk terjun ke dunia akting. Sedangkan ibunya Kanchana Wongpuapan adalah seorang penulis naskah drama TV, yang menggunakan nama pena Worapan Rawee, Leelawadee atau Daeng Rawee dalam tiap karyanya.

Profil Ken Theeradeth
Lakorn pertama yang diperankan Ken berjudul Hok Peenong (หกพี่น้อง) atau dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan judul The Six Siblings. Saat itu, Ken masih berusia 7 tahun. Ia mau terlibat dalam lakorn tersebut atas saran ayahnya yang juga menjadi sutradaranya. Di tahun yang sama setelah ia bermain dalam The Six Siblings, Ken kembali bermain dalam lakorn berjudul Tonsom Saenruk (My Sweet Orange Tree). Setelah menyelesaikan lakorn keduanya, Ken memutuskan untuk berhenti berakting hingga duduk di bangku SMA.

Profil Ken Theeradeth
Selepas sekolah menengah, Ken melanjutkan pendidikannya guna mengambil gelar sarjana di Universitas ABAC sebelum ia masuk ke Brooks Institute of Photography di California, Amerika Serikat. Namun setelah dua tahun belajar, ia harus segera meninggalkan pendidikannya karena krisis keuangan yang melanda Asia di tahun 1997. Ken kembali ke Thailand dan mulai merintis karir. Awalnya ia menghadiri sebuah pesta pernikahan kerabatnya dan menyatakan keinginannya untuk menjadi model pada seorang produser. Produser tersebut melihat Ken dan mengatakan padanya untuk mencoba. Ia mulai mencoba menjadi model kemudian merambah ke dunia presenter, model video musik hingga akhirnya menjadi aktor dalam lakorn dan film. Setelah 13 tahun vakum dari dunia lakorn, di tahun 1998 Ken kembali bermain dalam lakorn berjudul Super Luk Toong. Di tahun berikutnya lakorn berjudul Rachinee Luk Toon Pumpuang Duangjan a.k.a Queen of Luk Toong Pumpuang Duangjan ikut dibintangi Ken. Dalam lakorn tersebut, ia berperan sebagai Kraisorn Saenganan.

Profil Ken Theeradeth
Di tahun 2000, Ken bermain dalam dua judul lakorn bergenre action. Yang pertama berjudul Fontok Keemoo Lai Kon Arai Mapobkan, sedangkan Kon Khong Pandin menjadi lakorn keduanya. Yang menarik dalam dua lakorn tersebut Ken bekerjasama dengan aktris Noi Busakorn Pornwanavej, yang di kemudian hari menjadi istrinya. #cinlok mungkin ya mereka, hahaha..Kedua lakornnya ini ditayangkan Channel 3, salah satu stasiun televisi di Thailand. Selain bermain lakorn, di tahun 2000 Ken juga ikut bermain dalam film Go-Six : Gohok Galon Plinplon Tolae. Dalam film yang menceritakan tentang cinta segitiga ini, Ken berperan sebagai Plub.

Profil Ken Theeradeth
Sua 11 Tua a.k.a 11 Tigers merupakan lakorn Ken di tahun 2001. Dalam lakorn ini ia kembali bermain bersama Noi Busakorn. Ia berperan sebagai Captain Pongpetch Puapun (Sue Dao) dalam lakorn bergenre action tersebut. Rang Gnaow menjadi lakorn berikutnya yang ia mainkan di tahun 2001. Kali ini ia dipasangkan dengan aktris Ann Thongprasom untuk pertama kalinya. Penggemar olahraga basket ini kembali bermain film berjudul Khang lang phap a.k.a Behind the Painting. Film ini merupakan remake dari film berjudul sama yang telah dibuat pada tahun 1970-an yang diangkat dari novel klasik Thailand karya Kulap Saipradit. Dalam film yang mengambil gambar di Jepang ini Ken berperan sebagai Nopporn dan beradu akting dengan aktris Kara Polasit yang berperan sebagai Keerati.

Pemilik tinggi 180 cm dan berat 75 kg ini beradu akting dengan aktris Cherry Khemapsorn Sirisukha dalam lakorn Plae Gow a.k.a Traumatic Love. Ken berperan sebagai Kuan. Ai Ma Lek menjadi lakorn Ken berikutnya. Lakorn yang juga dikenal dengan judul Mr. Iron Horse ini memasangkan Ken dengan Yardthip Rachapal. Lewat perannya dalam lakorn ini, Ken diganjar penghargaan sebagai Best Leading Actor dari 17th TV Gold Award.
Profil Ken Theeradeth

Di tahun 2003, Ken kembali bermain bersama dengan Noi Boosakorn dalam Trab Fah Sin Dow Sao Kae. Lakorn berikutnya yang diperankan oleh aktor yang menyukai fotografi ini berjudul Prajun San Gon bersama aktris Janie Tienphosuwan. Ken kembali beradu akting dengan aktris Yaadtip Ratchapan yang pernah menjadi lawan mainnya dalam lakorn Ai Ma Lek. Dalam lakorn berjudul Ruksud Fah Lasud Lok yang tayang di tahun 2004 tersebut, Ken berperan sebagai Jack, yang berprofesi sebagai polisi. Selain lakorn, di tahun 2004 Ken kembali membintangi sebuah film yang diproduksi Andaman Film Co. Ltd berjudul Mahasajan Phan Ruk. Dalam film ini, ia berperan sebagai Max.

Profil Ken Theeradeth
Aktor berzodiak sagitarius ini kembali dipasangkan dengan aktris Janie Tienphosuwan dalam lakorn Neung Nai Suang a.k.a The One in My Heart di tahun 2005. Dalam lakorn bergenre drama roman ini Ken berperan sebagai Anawatch Patcharapojanach / Neung. Ken makin populer setelah ia membintangi lakorn Eternal Love a.k.a Songrao Nirandorm bersama aktris Aom Phiyada Akkaraseranee. Dalam lakorn tersebut, ia berperan sebagai Itt Ittsara, seorang presiden sebuah perusahaan besar yang memiliki reputasi yang baik. Lewat perannya di lakorn tersebut, Ken berhasil menyabet penghargaan sebagai Best Leading Actor dari tiga ajang award yang ada di Thaland, 20th TV Gold Award, Star Entertainment Awards 2005 dan Top Awards 2005.

Profil Ken Theeradeth
Ken kembali berperan sebagai polisi dalam lakorn terbarunya di tahun 2006, Sai Seub Sai Sa Dou a.k.a Spy I Love You. Ia berperan sebagai kapten polisi Chatchai Feungfoo. Oum Ruk a.k.a Chain of Love menjadi lakorn Ken berikutnya di tahun yang sama. Beradu akting kembali dengan Ann Thongprasom, ia berperan sebagai seorang fotografer bernama Rachen. Penggemar travelling ini kembali menerima penghargaan atas aktingnya dalam lakorn Oum Rak sebagai Best Leading Actor dari Star Entertainment Awards 2006 dan Top Awards 2006.

Profil Ken Theeradeth
Rukteur Tookwan a.k.a Love You Everyday menjadi salah satu dari tiga judul lakorn yang dibintangi pengkoleksi furniture dan jam antik ini. Bersama Aom Phiyada, Ken kembali berperan sebagai seorang fotografer bernama Vhatin. Plot cerita lakorn ini diambil dari MV terkenal grup vokal Korea KISS, Because I’am a Girl. Selain kembali bermain dengan Aom, dalam lakorn berikutnya aktor yang menyukai anjing ini kembali dipertemukan dengan Janie Tienphosuwan. Dalam Ruknaee Huachai Raojong a.k.a This Love is Ours ini Ken berperan sebagai Phuwanai, yang lagi-lagi adalah seorang fotografer. Lakorn ketiga Ken di tahun 2007 berjudul Seubruk Rahatlub. Dalam lakorn ini ia beradu akting dengan aktris Vicky Sunisa Jett dan berperan sebagai seorang agen rahasia bernama Anon yang menyelidiki kasus kematian misterius cucu seorang menteri. Selain bekerja di depan layar, Ken juga hobi membuat film pendek. The Office merupakan film pendek yang diproduksi sekaligus dibintangi penggemar kopi Caramel Macchiato ini.

Profil Ken Theeradeth
Setelah berpacaran dengan Noi Boosakorn selama 7 tahun, akhirnya pada tahun 2007 mereka menikah. Pernikahan keduanya digelar pada 25 Oktober 2007. Bahkan Ratu Sirikit, istri Raja Bhumibol Adulyadej ikut hadir dalam upacara pernikahan tersebut.

Profil Ken Theeradeth
Tahun 2008, Ken kembali dipasangkan dengan Ann Thongprasom. Keduanya bermain dalam Sawan Biang a.k.a Paradise Diversion. Lakorn ini merupakan remake dari lakorn berjudul sama yang diproduksi tahun 1998. Dalam lakorn ini, Ken berperan sebagai Kawee. Yang pengen tahu reviewnya bisa ke sini. Lewat perannya dalam lakorn ini, Ken mendapatkan banyak penghargaan. Ia menerima penghargaan dari 23rd TV Gold Award, Top Awards 2008, Siamdara Stars Party 2008 dan SeeSan Bunteaung Awards 2008 sebagai Best Leading Actor. Selain Sawan Biang, Ken juga bermain dalam lakorn Jai Rao bersama Aff Taksaorn Paksukcharern. Penggemar es krim vanilla dan coconut ini berperan sebagai Koravic dalam lakorn bergenre romantis tersebut. Istri Ken, Noi bahkan berkata ia menggemari lakorn ini dan mengaku menjadi fans Aff. Berkat perannya tersebut Ken kembali mendapatkan penghargaan sebagai Best Leading Actor dari Hamburger Awards 2008.
Profil Ken Theeradeth
Kebahagiaan Ken makin terasa lengkap saat istrinya melahirkan putra pertama mereka pada 17 Agustus 2008. Putra pertamanya diberi nama “Khun” Khunatum Wongpuapan. Selain itu, di tahun yang sama Ken ditunjuk sebagai duta khusus UNICEF di Thailand hingga sekarang.

Profil Ken Theeradeth
Popularitas pasangan Ken dan Ann dalam layar kaca sangat tinggi. Dalam sebuah survei, Ann menduduki posisi pertama sebagai lawan main Ken yang paling disukai pemirsa. Mereka bahkan menerima penghargaan sebagai pasangan terfavorit. Pada tahun 2009, keduanya kembali dipasangkan dalam Sood Sanae Ha. Kali ini Ken berperan sebagai seorang koki bernama Pasu Boriban a.k.a Din a.k.a Krucook (teacher cook) yang bertugas memberikan pelajaran memasak bagi Alin (yang diperankan oleh Ann). Ken kembali menerima penghargaan sebagai Best Leading Actor dari 24th TV Gold Award, 1st Nattaratch Award dan Best Leading TV Drama dari Khuanjai Seu Top Awards 2009 dan Khuanjai Seu MuanChon 2009.

Profil Ken Theeradeth
Setelah meninggalkan layar lebar beberapa tahun, Ken kembali berakting dalam film produksi GTH berjudul Rod Fai Fah Maha Na Teau a.k.a Bangkok Traffic Love Story. Dalam film yang menjadi box office di Thailand dan berhasil membukukan pendapatan 145.5 juta bath ini, Ken beradu akting dengan aktris pendatang baru Cris Horwang. Ia berperan sebagai seorang insiyur teknik yang bekerja sebagai tenaga ahli BTS Skytrain bernama Loong. Melalui perannya ini, Ken kembali diganjar beberapa penghargaan. Penghargaan yang diterimanya antara lain Best Actor dari People’s Choice Awards 2009 dan Top Awards 2009, serta Best Leading Filmography Actor dari Top Awards 2009 dan Khuanjai Seu MuanChon 2009.

Profil Ken Theeradeth
Di tahun 2010, Ken mencoba dunia presenting. Ia menjadi presenter untuk program “White Ribbon Year Project” yang merupakan proyek dari Developing Social and Stability of Humans Ministry of Thailand. Program ini mengkampanyekan anti kekerasan kepada anak-anak, wanita dan keluarga. Di tahun yang sama, keluarga kecil Ken bertambah satu. Putra keduanya lahir pada 4 Agustus 2010 dan diberi nama Jun Thippatai Wongpuapan.
Penggemar makanan Italia ini terlibat dalam dua judul lakorn dan sebuah pertunjukan teater sepanjang tahun 2010. Bersama Chompoo Araya, keduanya bermain dalam lakorn bergenre romcom Wiwa Wah Woon. Lakorn keduanya berjudul 365 Wun Haeng Rak a.k.a 365 Days of Love dan kembali dipasangkan dengan Ann Thongprasom. Untuk kedua lakornya tersebut Ken tidak berhasil menyabet penghargaan. Ia harus cukup puas hanya masuk sebagai nominator. Selain kedua judul lakorn tersebut, Ken juga ikut terlibat dalam sebuah pertunjukan teater. Ia bermain dalam teater berjudul Kenlee Ka Kuan Keelen.

Profil Ken Theeradeth
Setelah beberapa tahun bermain dalam lakorn bergenre drama ataupun romance, di tahun 2011 Ken kembali bermain dalam lakorn bergenre action. Kali ini ia menjadi seorang kepala investigasi bernama Singha dalam lakorn berjudul Rahat Torachon a.k.a Rascal Code. Dalam lakorn berikutnya, penggemar buku Cinematography Screencraft ini berperan sebagai Lan. Ia kembali beradu akting dengan aktris Janie Tienphosuwan dalam lakorn berjudul Konruk Luangchai. Lakorn ini mengambil gambar di Praha.

Ruk Khun Tao Fah menjadi lakorn Ken di tahun 2012. Disini, ia berperan sebagai pilot bernama Teera yang sangat mencintai ibunya. Namun disisi lain, ibunya takut jika putranya nanti menikah dan meninggalkannya. Oleh karena itu, ia selalu mengacaukan hubungan putranya dengan semua kekasihnya. Ken beradu akting dengan beberapa aktris yang pernah menjadi lawan mainnya dalam lakorn-lakorn sebelumnya, diantaranya Ploy Chermarn, Cherry Khemapsorn dan Chompoo Araya. Lakorn ini disutradarai oleh Noi Busakorn, yang merupakan istri Ken. Ini merupakan project pertamanya menyutradarai lakorn.

Profil Ken Theeradeth
Majurat See Nam Pueng menjadi lakorn Ken yang baru saja selesai tayang di Thailand. Di lakorn ini, ia berperan sebagai Paat Pathamakul dan berakting bersama aktris Namtarn Pichukkana Wongsarattanasin. Setelah menyelesaikan lakornnya bersama Pichy Namtarn, kini Ken melanjutkan projectnya bersama Chompoo Araya. Keduanya kembali dipasangkan dalam lakorn berjudul Kon Ruk Strawberry. Wah ditunggu tayangnya ya ^^
Profil Ken Theeradeth
Did you know :
  • Ken merupakan salah satu aktor terpopuler di Thailand. Dalam sebuah polling, selama tiga tahun berturut-turut Ken selalu mendapatkan prosentase vote yang cukup tinggi,
  • Membintangi iklan SB Furniture bersama aktris Aff Taksaorn Paksukcharoen,
  • Pernah membintangi sebuah iklan pasta gigi bersama istrinya, dimana saat itu istrinya tengah hamil,
  • Meskipun lahir dan bekerja di Bangkok, namun Ken lebih menyukai kota Chiang Mai,
  • Lagu favoritnya adalah Ruk Mai Yorm Plien Plang yang dibawakan oleh Tik Shiro,
  • Chungking Express merupakan film favorit Ken,
  • Ken mengagumi Ernst Haas, seorang fotografer asal Jerman,
  • Jeans merupakan salah satu jenis pakaian favoritnya,
  • Dalam seminggu, ia paling menyukai hari minggu (mungkin karena minggu hari libur ya, jadi bisa berkumpul dengan keluarganya, hehe)
Demikian ulasan tentang P’ Ken Theeradej ya, semoga infonya bermanfaat. Sampai jumpa di profil lainnya. Khobkhun Kaa _/\_
Written by : Yohana
Only posted on Pelangidrama.net
DON’T REPOST TO OTHER SITE!!!

[Sinopsis J-Drama] Zenkai Girl Episode 11 (END)

~ Sinopsis Zenkai Girl Episode 11 (End) ~
 

Pitaro berpamitan pada Hinata. Ia menyerahkan gelang pasangan “keberuntungan” Pillbug yang ia buat dan memakaikannya. Hinata berjanji akan selalu memakainya. Pitaro juga berjanji akan mengirim SMS dan melihat bintang pertama setiap malam. Hinata juga berjanji hal yang sama. Pitaro mengucapkan selamat tinggal pada Wakaba. Ia kemudian menghambur ke pelukan ayahnya dan mengucapkan selamat tinggal. Sota terharu mendengar ucapan Pitaro. Ia membalas Pitaro dengan sedikit menangis.

“Ayah, kenapa kau menangis? Aku saja tidak menangis!” hibur Pitaro. “Ayah jangan menangis lagi. Kalau kau menangis, menangislah saat kau bahagia.”

Sota tersenyum mendengar perkataan Pitaro. Ia setuju sekaligus terharu dengan permintaan Pitaro. Setelah puas berpamitan dengan ayahnya, Pitaro bangkit dan berlari ke arah Ririka yang telah menunggunya. Keduanya segera berjalan. Baru beberapa langkah, Pitaro berteriak ia melupakan sesuatu. Ia berbalik dan berlari untuk mencium kening Hinata.
“Hadiah yang dia tinggalkan pasti senyumnya, kan?” tanya Wakaba pada Sota. Diam-diam Hinata menangis memandang kepergian Pitaro.

Esok harinya seperti biasa, Wakaba mengantar Hinata sekolah. Sesampainya di sekolah, keduanya disambut Samao dan Nishino yang sedang berbincang dengan kepala sekolah. Tanpa disadari, Wakaba menengok kanan kiri seolah mencari seseorang. Hinata mengetahui sikap Wakaba, ia menegur ayah Pitaro tidak akan datang lagi ke sekolah. Wakaba menyangkal perkataan Hinata. Urara sensei ikut menimpali ucapan Hinata, terasa agak sepi tanpa kehadiran Sota kan Ayukawa? Wakaba justru menjawab dengan ketus, ia merasa lega karena jumlah anak yang harus ia jaga saat sistem rotasi berkurang satu.

Wakaba berjalan keluar dan mengingat semua kenangan saat bersama dengan Sota dan Pitaro. Namun ia mengeraskan hatinya dan bergumam tidak akan ada yang akan menggangunya lagi sekarang.

Wakaba bergegas menemui Shindo untuk membicarakan tentang Bu Sakurakawa. Namun Shindo tidak mau berbicara tentang hal itu. Ia justru mengingatkan Wakaba jika dalam industri seperti ini perasaan yang diperlihatkan Wakaba tidak diperlukan. Wakaba masih berusaha membujuk Shindo namun Shindo merasa tidak ada waktu. Ia bergegas menuju rapat internal firma hukum mereka.

Rapat mereka hari itu membahas tentang kelanjutan kontrak dengan Brighton, dimana para eksekutif telah menerima proposal yang mempromosikan Shindo untuk menggantikan posisi Bu Sakurakawa sebagai manajer. Sebagai manajer, maka bu Sakurakawa yang akan memutuskannya. Wakaba cemas mengikuti rapat tersebut. Ia benar-benar khawatir, di satu sisi ia berada di bawah pimpinan bu Sakurakawa, sementara di sisi lainnya ia merupakan tunangan Shindo.

“Memang benar kalau aku sudah membuat CEO Brighton marah. Aku sudah mengambil langkah untuk meminta maaf padanya. Bagaimana dengan perusahaan hukum Samejima Sakurakawa? Hari ini kami akan bergabung dengan perusahaan hukum Smith & Clark New York. Aku telah menyetujui untuk menciptakan kembali perusahaan kita sebagai sebuah firma hukum skala global. Karena Brighton juga perusahaan kelas dunia, kuharap kita bisa melanjutkan kontrak kita.”

Ucapan bu Sakurakawa jelas menjadi kejutan bagi semua karyawan firma hukumnya. Terutama Shindo. Kujo bertanya pada Wakaba, bukankah ia bagian dari Smith & Clark? Wakaba berkata ia fikir mereka diperkirakan akan keluar dari Jepang maka ia memilih meninggalkan Smith & Clark dan bergabung dengan Samejima Sakurakawa. Semua peserta rapat bertepuk tangan mendengar apa yang disampaikan oleh Bu Sakurakawa.

 

Shindo belum bisa menerima kekalahannya. Ia berdiri, menggebrak meja dan menyalahkan bu Sakurakawa yang membuat keputusan tanpa berdiskusi terlebih dahulu. Ia berkata meskipun bu Sakurakawa merupakan manajer namun pendiri dan pimpinan perusahaan masih berada di tangan…. Belum selesai Shindo berbicara, Bu Sakurakawa memotong perkataannya dan mengatakan jika Pak Samejima juga menerima proposal kerjasama dengan Smith & Clark serta menyetujuinya. Shindo tidak terima. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan bu Sakurakawa sebab Pak Samejima sudah setuju untuk mengusir Bu Sakurakawa.
“Arah angin berhembus bisa berubah kapan saja,” jawab bu Sakurakawa. “Aku sudah dipercayakan untuk mengelola perusahaan Samejima Sakurakawa Smith & Clark ini.” Semua orang bertepuk tangan mendengar jawaban bu Sakurakawa. Wakaba memperhatikan Shindo yang benar-benar kalah telak melawan Bu Sakurakawa.

 

Bu Sakurakawa disambut anak buahnya. Wakaba berusaha berbicara dengan atasannya. Ia memuji bu Sakurakawa, namun ia bertanya bagaimana kelanjutan karier Shindo? Orang yang dibicarakan muncul dari ruangannya.
“Penghianat akan segera dipecat. Aku akan segera membereskan barang-barangku.”
“Siapa bilang kau dipecat? Siapa yang mau memecat pegawai berdedikasi tinggi? Aku sudah menyiapkan posisi penanggungjawab New York untuk Shindo. Dan juga, terima kasih untuk kerja kerasmu selama masa percobaan 3 bulan ini. Secara formal, sekarang aku menerimamu sebagai pegawaiku. Pengurusnya Hinata akan segera kembali dari cuti hamilnya. Aku ingin menggunakan pengetahuanmu dalam mengurus anak untuk mengelola bagian barang-barang anak Brighton,” ucap Bu Sakurakawa pada Wakaba.
“Apa mungkin, kau sudah merencanakan ini dari awal?” tanya Wakaba.
“Kau senang kan bekerja di tempat yang sama dengan Shindo?” jawab Bu Sakurakawa tanpa menjawab pertanyaan Wakaba. Wakaba jelas bingung dengan jawaban atasannya itu.

Shindo mencurahkan isi hatinya pada Wakaba. Ia putus asa sekaligus malu karena dikalahkan oleh Bu Sakurakawa. Wakaba berusaha menghibur Shindo, bukankah Bu Sakurakawa sudah memikirkan posisi yang lebih baik bagi Shindo? Shindo tidak mau menerimanya. Ia ingin meninggalkan perusahaan daripada menanggung malu. Ia juga menawarkan untuk membatalkan pertunangannya dengan Wakaba dan menasihati agar Wakaba terus meniti karir di sana agar bisa mencapai impiannya. Wakaba tidak ingin memutuskan pertunangan mereka. Ia tidak mau meninggalkan Shindo yang tengah terpuruk.
“Aku juga orang yang memulai dari kegagalan besar. Aku percaya bahwa orang yang pernah merasa sakit itu lebih kuat dari orang yang hanya mengerti bagaimana caranya untuk menang,” ucap Wakaba.
“Kau mengharapkan aku untuk terus bekerja sebagai seorang pengecut?”
“Pastinya kau bisa berubah dari pengecut menjadi pemenang! Aku terus berusaha mendapatkan kemenangan sejak aku kecil. Ayo kita raih kemenangan itu bersama. Kita pasti akan mendapatkannya. Dan pada akhirnya, kita akan berdiri sebagai pemenang. Ayo kita lihat bersama sebagai pasangan menikah yang berbahagia selamanya. Ayo kita jadi Elang Manhattan bersama-sama,” ucap Wakaba sambil menggenggam tangan Shindo.

Wakaba memberitahukan pada kedua pengiringnya, Soyoko dan Hinata bahwa mereka akan mengurangi upacara pernikahan. “Tidak akan digelar di Gereja St. Patrick atau dengan kereta kuda atau dengan kimono dua belas lapis. Dan juga tidak akan mirip dengan pernikahan Kate atau Diana atau pesawat pribadi lainnya,”ujar Wakaba. Soyoko ragu sebab Wakaba telah menyebar undangan. Wakaba berkata mereka hanya mengubah tempat dan mengurangi ukurannya. Berdasarkan pertimbangan Shindo, mereka akan menunda perayaannya. Ia berharap kedua pendampingnya tidak akan berubah pikiran. Keduanya saling berpandangan, Hinata mengangguk ragu pada Wakaba.

Di kantor, Shindo juga mengatakan rencananya pada Bu Sakurakawa sambil menyerahkan proposal. Ia menurunkan semua ukurannya dan akan melakukan sesuatu yang mengejutkan untuk Wakaba. Ia gembira karena banyak yang akan membantunya mengenai hal ini. Bu Sakurakawa membaca proposal yang diberikan Shindo dan berkomentar ini seperti Shindo yang ia kenal. Shindo berterimakasih mendengar komentar bu Sakurakawa. Bu Sakurakawa menasehati agar Shindo tidak merasa kalah dari dirinya. Ia berjuang keras untuk mencapai posisinya saat ini. Sebelum meninggalkan Shindo, ia mengatakan menyukai ide kejutan yang akan diberikan Shindo pada Wakaba.

Sota memutuskan untuk tidak menghadiri pernikahan Wakaba. Saat ia melepas apronnya, Soyoko datang ke Ru Sato. Soyoko bertanya apakah Sota akan segera pulang? Sota membenarkan, setelah Ru Sato tutup ia akan membantu di restoran Perancis Paul Bocuse, sebab ia harus mengasah kemampuannya lagi sebelum membuka restoran di Lyon. Soyoko tersenyum bangga mendengar rencana Sota.

Pandangan Soyoko teralih pada undangan Wakaba yang telah dicoret Sota. Ia bertanya apakah Sota tidak akan menghadiri pernikahan Wakaba? Sota membenarkan, ia akan meninggalkan Lyon malam ini. Tentu saja Soyoko kaget mendengar rencana Sota yang sangat mendadak. Sota beralasan, ia akan pergi terlebih dahulu untuk menyiapkan semuanya sebelum membawa Soyoko bersamanya. Soyoko menyimpulkan karena hal itukah maka Sota memilih untuk pergi di hari pernikahan Wakaba? Sota menyangkalnya. Ia pikir lebih cepat lebih baik untuk pergi, lagipula ketidakhadirannya akan membuat Wakaba lebih baik.
“Kau pergi semendadak ini karena ini yang terbaik untuk Ayukawa?” tanya Soyoko.
“Ah, tidak…” elak Sota.
“Kau tidak merasa jalan pikiranmu itu sedikit aneh?” tanya Soyoko lagi.
“Tidak, kau salah,” sangkal Sota. “Ah, maaf, aku hanya…” ucap Sota mencoba beralasan. Ia memandang jamnya dan segera berpamitan karena sudah saatnya ia pergi. Ia berjanji akan menghubungi Soyoko setelah ia selesai nanti. Soyoko hanya bisa memandang kepergian Sota.

“Sota sepertinya sedang menutupi perasaannya yang sebenarnya,” ungkap Soyoko pada Hinata.
“Bukankah itu artinya dia memakai Soyoko untuk membantunya melupakan seseorang?” tanya Hinata.
“Ah, seharusnya aku melupakan Sota,” kata Soyoko. “Tapi bagaimana caranya aku membuatnya hanya melihatku? Aku sangat menyukainya, apa yang harus kulakukan?”
“Kalau kau menyukainya, ini bukan soal apa yang kau lakukan, tapi bagaimana kau bisa membuatnya bahagia. Begitu menurutku,” jawab Hinata. Shindo yang hendak masuk ke ruangan mereka berhenti sejenak mendengar perkataan Hinata. Ia masuk setelah Hinata selesai berbicara pada Soyoko dan mengajak mereka berdua membicarakan rencananya.

Wakaba menikmati makan malamnya, nasi dengan kecap. Ia makan sambil memandangi ruangan apartemennya yang akan segera ia tinggalkan. Terdengar pintu rumahnya diketuk, Wakaba segera membukanya. Ia kaget saat melihat Soyoko sudah berdiri di hadapannya.

Soyoko mengatakan pada Wakaba rencana kepergian Sota ke Perancis. Wakaba bahkan menumpahkan air panas yang sedang dituangkannya ke gelas setelah mendengar berita tersebut. Soyoko membenarkannya dan berkata ia merasa ada sesuatu yang salah. Wakaba bertanya pada Soyoko mengapa Sota bisa pergi dengan mudah? Ia heran mengapa Soyoko merasa ada yang salah.
“Aku mencoba berkencan dengannya, tapi rasanya aku ragu-ragu. Sepertinya dia tidak memikirkanku sama sekali atau mungkin dia cuma membohongiku,” curhat Soyoko. Wakaba membela Sota. Ia merasa Sota tidak mungkin melakukan hal itu. “Pillbug selalu serius melakukan apapun dengan caranya sendiri. Dia pasti sangat memikirkan Soyoko. Tidak banyak orang yang sangat mempedulikan orang lain seperti dia. Hanya saja perlakuannya memang sedikit aneh. Kau tidak boleh melepaskannya dari genggamanmu.”

Soyoko tersenyum mendengar pembelaan Wakaba untuk Sota, “Kenapa kalian berdua seperti itu?” ucap Soyoko. Wakaba bingung mendengar ucapan Soyoko. “Tidak, kau hanya membantuku mempertegas keputusanku. Sebenarnya aku tidak menyukai Sota dan semua yang dia lakukan,” kata Soyoko.
“Ah, tunggu. Dengarkan aku baik-baik…” ucap Wakaba mencoba menjelaskan.
“Alasan utama aku membenci Sota adalah karena orang yang Sota sukai bukan aku, tapi kamu, Ayukawa. Serangga hitam menyukaimu. Kurasa dia memang berusaha untuk mencintaiku. Tapi aku tidak mau itu. Aku tidak mau.”

Sota pulang dari Paul Bocuse. Ia mencari Pitaro dan segera membuka kamar. Sayangnya, saat membuka kamar yang dicari sudah tidak ada. Sota merasa Pitaro masih berada di sana. Sota melihat meja dan menemukan sepucuk surat untuknya. Dari Soyoko. Sementara Wakaba sedang terduduk sambil mencerna apa yang tadi dikatakan Soyoko bahwa Sota menyukainya. Namun Wakaba sadar, ia tidak ingin perasaannya berkembang terlalu jauh sebab ia sudah hampir menikah dengan Shindo. Ia berusaha mengenyahkan pikiran dan perasaannya dengan memulai mengepak barang-barangnya, namun perkataan Soyoko tidak bisa hilang begitu saja.
“Aku tidak boleh goyah. Tidak boleh. Sekalinya aku memutuskan untuk melakukan sesuatu aku selalu menerima penghargaan dengan sempurna. Menundanya di tengah jalan? Itu bukan jalanku! Aku harus terus begini. Aku harus kuat!”

Semakin banyak air mata yang kau keluarkan akan membuatmu lebih kuat” bunyi salah satu kaligrafi yang ditulis Wakaba saat dirinya masih kecil. Mengingat apa yang pernah ditulisnya membuat Wakaba memutuskan untuk tidak goyah. Namun pikiran tersebut tiba-tiba pudar saat ia membaca salah satu kaligrafi yang ia tempel di dinding, “Tanyakan pada dirimu sendiri“.

Tiba-tiba Wakaba kecil muncul di hadapan Wakaba. Ia berkata dirinya tidak menginginkan dewasa seperti yang dilakukan Wakaba saat ini.
“Manakah yang salah? Ketekunan memang penting. Tapi haruskah aku terus melakukannya meski harus jadi pembohong?” ucap Wakaba kecil sambil memperlihatkan kaligrafi bertuliskan “Bohong adalah dosa terbesar“. “Saat aku menyadari kalau itu salah, aku harus kembali, kan?” ucap Wakaba kecil.

 

“Kalau aku memang harus kembali, aku akan kembali. Tapi orang dewasa punya peraturannya sendiri. Ada hukum yang harus dipatuhi,” jawab Wakaba membela diri.
“Persetan dengan hukum itu! Biar kulihat wajahku sekali lagi!”

Wakaba kecil menghilang, tinggal tulisan “Tanyakan pada dirimu sendiri” yang tertinggal dalam pandangan Wakaba. Wakaba memandangi lekat-lekat kaligrafi tersebut. Sepertinya ia memutuskan sesuatu.

Samao mencari Sota untuk memastikan jika Soyoko mencampakkan sahabatnya itu. Sota membenarkannya dan mengira Soyoko tidak mau ikut bersamanya ke Paris. Samao kemudian menanyakan keadaan Sota pasca diputus Soyoko. Sota menjelaskan dirinya akan membantu mempersiapkan makanan di Paul Bocuse kemudian terbang dari Lyon pada malam harinya. Hiroshi bertanya pada Sota apakah ia tidak akan menghadiri pernikahan Wakaba? Sota beralasan ia tidak punya waktu untuk menghadiri pernikahan tersebut. Nishino gantian angkat bicara, apakah Sota akan meninggalkan mereka tanpa pesta perpisahan? Sota beralasan mereka sudah melakukan pesta perpisahan dengan Pitaro waktu itu dan menurutnya itu sudah cukup. Lagipula ia akan segera kembali ke Jepang. Hiroshi bertanya pada Sota, apakah ia punya pesan pada Wakaba? Sota sedikit merenung sebelum akhirnya berkata agar menyampaikan salamnya dan ucapan selamat untuk Wakaba. Setelah berkata demikian Sota berpamitan dan meninggalkan mereka semua.

Wakaba sedang berdandan. Hinata dan Soyoko yang menjadi pendampingnya menemani Wakaba. Namun wajah Wakaba tidak gembira sebagaimana umumnya pengantin.
“Cuacanya cerah, tapi wajahmu sepertinya tidak bahagia,” tegur Hinata.
“Ah, tidak. Aku hanya takut tiba-tiba ingin ke toilet dengan gaun ini. Aku hanya gugup,” jawab Wakaba beralasan. Soyoko berpamitan pada Wakaba untuk mengecek tempat upacaranya. Wakaba hanya mengangguk mendengar perkataan Soyoko. Melihat Hinata diam saja, Wakaba bertanya apakah ada sesuatu yang ingin dikatakan Hinata? Hinata berkata tidak, ia malah memuji Wakaba yang terlihat cantik.
“Ah, kenapa perasaanku tidak enak saat kau mengatakannya,” ucap Wakaba.
Hinata menggeleng sambil berkata,”aku hanya berfikir kalau tugas mengasuh anakmu sudah berakhir. Kau adalah satu-satunya pengasuh yang namanya bisa kuingat. Yah, kurasa kau tidak dapat dilupakan karena kau tidak seperti orang dewasa kebanyakan dan selalu membuat kekacauan.”

Wakaba berbalik dan menatap Hinata. “Tapi bagiku kau adalah teman yang baik. Beberapa kali kau lebih dari seorang yang kuasuh dan perasaanku jadi berkembang padamu.”
Hinata terdiam mendengar perkataan Wakaba. Ia lalu menoleh ke arah penata rambut dan busana pengantin Wakaba agar mereka melanjutkan persiapannya. Wakaba mengerti Hinata berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.

Di dapur Paul Bocuse, Sota sangat sibuk.

“Wakaba, sebagai pengasuh anak dan sebagai wanita, kau benar-benar tidak berguna,” kata Hinata melanjutkan pembicaraan mereka.
“Aku?” tanya Wakaba sambil tersenyum kecil.
“Kau keras kepala,” ucap Hinata.
“Harusnya kau tidak mengatakan itu padaku.”
“Kalau dipikir lagi, ternyata ada banyak kejadian mengerikan yang terjadi. Awalnya kau berpikir orang yang tidak bersalah tidak bisa menerima hukuman, tapi kau menganggap pillbug adalah penjahat seksual. Tanpa diduga kalian bertemu lagi saat kau sudah menjadi pengasuhku. Meskipun kau membantu sistem rotasi, tapi kau terus berkata kasar. Pada akhirnya kau menciumnya, tapi malah menyalahkannya. Kau berkata kasar pada pria yang sudah mengumpulkan bekalmu di tengah hujan dan menyusunnya kembali. Kepribadianmu yang tidak mau bekerja sama. Kau penuh dengan lumpur dan keringat. Dan kau tersenyum. Saat kurasa kau akhirnya menyadari perasaanmu, kau malah membuangnya lagi. Kurasa sebenarnya kalian bisa bersama sejak lama. Tapi kau terus mengingkari perasaanmu. Tapi ada satu hal bagus pada dirimu. Kau selalu berusaha untuk apapun yang kau lakukan, entah itu untukku atau untuk orang lain. Siapa sebenarnya yang ingin kau lindungi dan kau lihat?” tanya Hinata.

Wakaba mengingat semua kenangannya bersama Sota sambil mendengarkan apa yang dikatakan Hinata. Pertemuan pertamanya dengan Sota di atas bus, pertemuan kedua saat bersama Hinata dan Pitaro. Ia juga teringat dengan ucapannya saat itu,”Tipe idealku adalah pria dengan uang dan status sosial tinggi yang membenci anak-anak!”. Saat dirinya mencium Sota dan esoknya ia berkata akan menuntutnya. Sota yang tulus membantunya mengajari memasak, namun karena terjatuh bekal yang ia bawa tumpah semua. Sota membantunya dan menyusun bekal bagi Hinata, namun malah ia marahi karena membuat bentuk yang jelek. Saat anak-anak bermain lumpur, Wakaba dengan lantang mengatakan tidak mau bekerjasama dengan Sota. Saat Pitaro melemparinya lumpur, Wakaba berusaha membalas namun ia terpeleset hingga hampir jatuh. Sota, orang yang tidak ingin ia ajak bekerjasama justru membantunya. Saat dirinya pingsan, orang yang menungguinya di kelas dan menyatakan perasaannya adalah Sota. Namun saat ia hendak menyatakan perasaannya, justru Sota sedang dikunjungi Ririka. Saat Sota curhat padanya setelah Ririka mendatangi Pitaro pertama kalinya, ia menghibur Sota. Ia juga teringat dengan pesan ayahnya yang mempercayai siapapun pilihannya. Satu hal yang dikatakan ayahnya, “jujurlah pada dirimu sendiri”.

“Orang yang ingin kulihat adalah…” Wakaba tidak melanjutkan ucapannya. Ia malah membuka kertas berisi tulisan kaligrafi yang ia lihat semalam, “Tanyakan pada dirimu sendiri“. Ia memandang lekat-lekat goresan tinta di atas kertas itu.
“Biar kutanya sekali lagi padamu. Siapa yang paling penting untukmu?” tanya Hinata lagi.

Seolah tersadar dengan pertanyaan Hinata, Wakaba bergegas berdiri dan bergumam, “Shindo.” Di saat bersamaan, Soyoko datang dari mengecek tempat upacara. Wakaba bertanya dimana Shindo berada. Soyoko menjawab Shindo sudah berada di tempat upacara berikut semua tamu yang telah diundang. Mendengar jawaban Soyoko, Wakaba bergegas berlari sambil mengatakan ia harus berbicara pada Shindo. Hinata tersenyum penuh arti.

Sota sedang mempersiapkan hidangan. Ia melirik jam dan bergumam upacara pernikahan Wakaba akan segera dimulai. Chef meminta Sota untuk membawa hidangan yang telah siap keluar.

Wakaba berlari menuju tempat diadakannya upacara pernikahannya. Ia bergumam meminta maaf pada Shindo. Wakaba telah sampai di tempat yang ditentukan. Namun ia jusru heran karena meja-meja sudah dipersiapkan namun tidak ada seorangpun yang tampak, bahkan Shindo juga tidak kelihatan.

Tiba-tiba ia melihat Sota berdiri tidak jauh dari tempatnya. Wakaba heran bercampur kaget melihat Sota berada di sana. Sota sedang menempatkan sebuah hidangan di atas meja. Sama seperti Wakaba, Sota juga syok melihat Wakaba.

 

Wakaba bergegas mendekati Sota dan menanyakan apa yang sedang ia lakukan di sana. Sota juga bertanya hal serupa pada Wakaba.

“Aku… sedang membantu Paul Bocuse menyiapkan makanan, jadi aku sudah di sini sejak pagi,” tutur Sota menjelaskan keberadaannya di sana. “Eh, makanannya disiapkan untuk upacaramu?!” tanya Sota. #toeng..

Hinata mendekati Wakaba sambil membawa ponsel. “Ini dari Pak Shindo,” ucapnya sambil menyerahkan ponsel. Wakaba segera menerimanya. “Dimana kau sekarang?” tanya Wakaba.
“Aku sedang dalam perjalanan ke New York. Aku harus melakukannya sampai sini untuk menjalankan strategiku padamu,” ucap Shindo.
“Apa maksudmu?” tanya Wakaba heran sekaligus bingung.
“Ini adalah hadiah kejutanku. Saat aku kalah oleh Bu Sakurakawa, kau bilang kau akan tetap di sampingku. Itulah pertama kalinya aku merasa bahwa aku harus melihatmu bahagia. Aku menjawab perasaanmu.”
“Shindo…”
“Orangtuaku menerima keputusanku. Aku juga sudah minta maaf pada para tamu. Akan kuterima apapun perkataan orang-orang. Aku dan temanmu sudah membicarakan ini juga dan kami semua setuju.”
Wakaba menatap Soyoko yang mengangguk tanda ia membenarkan ucapan Shindo. “Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku pasti akan membayar uang yang kau berikan pada ayahku dan uang perbaikan lainnya. Jadi… “
“Setidaknya aku ingin terlihat keren sampai akhir di matamu. Baiklah, kuserahkan sisanya pada kalian,” ujar Shindo. Ia menutup ponselnya dan terlihat lega sebelum masuk ke mobil yang akan mengantarnya ke bandara. Wakaba masih syok dengan apa yang dilakukan Shindo. Kedua pengiringnya meninggalkan Wakaba dan Sota berdua.

Wakaba menghampiri Sota yang berdiri tidak jauh dari altar.
“Kubilang ciuman itu bukan awal dari segalanya. Tapi itu adalah kesalahan besar. Dan semuanya sudah berubah. Aku mulai peduli padamu, Pillbug. Selalu dan selamanya. Sota… kau adalah orang yang kucintai. Maukah kau… Maukah kau… Maukah kau… menikah denganku?”
Sota tanpa sadar mengangguk namun buru-buru ia minta maaf. Ia minta maaf karena menangis di hadapan Wakaba, padahal dirinya sudah berjanji pada Pitaro bahwa ia tidak akan menangis.

“Tapi aku akan menolak lamaranmu. Biar aku saja yang melamarmu. Mungkin ini terdengar memalukan. Aku juga mencintaimu, Wakaba,” ucap Sota. “Aku tidak bisa melakukan hal yang hebat untukmu, tapi aku akan mencintaimu di sisa hidupku ini. Cuma itu yang bisa kuyakini. Jadi… maukah kau… menikah denganku?”

Wakaba menangis mendengar Sota melamarnya. Sota juga terharu. Ia mengulurkan tangannya ke arah Wakaba dan disambut dengan jawaban Wakaba yang mengiyakan lamaran Sota tadi. Keduanya tersenyum malu setelah mengakui perasaan mereka satu sama lain.

Tiba-tiba sound berbunyi. Tepukan tangan meriah terdengar. Keduanya bingung mencari dari mana asal suara tersebut. Tanpa diduga, semua tamu keluar dari persembunyian mereka dibalik semak-semak. Ternyata mereka sudah menunggu momen tadi. Bahkan Hiroshi mengangkat tangannya yang mengenggam kamera recorder. Mereka tertawa dan mengucapkan selamat pada keduanya. Semuanya memuji keduanya yang akhirnya mengakui perasaannya. Bahkan ayah Wakaba juga hadir dan memberikan selamat pada putrinya dan calon menantunya.

Wakaba terharu melihat semuanya. Ia menangis melihat semua orang hadir di sana. Ia tidak bisa menahan tangisnya, terlebih saat ayah mengucapkan selamat padanya dengan penuh emosi. Sota berterimakasih pada ayah mertuanya. Belum lengkap kebahagiaan mereka tanpa seorang lagi. Sota tiba-tiba mendengar suara Pitaro yang berteriak-teriak memanggilnya. Pitaro muncul dan langsung memeluk ayahnya. Ia segera mengucapkan selamat pada ayahnya dan Wakaba. Tentu saja Wakaba dan Sota heran. Sota bertanya pada Ririka, bagaimana bisa mereka ada di Jepang? Ririka menjawab mereka bisa pulang ke Jepang karena Hinata yang telah mengaturnya.

 

Bu Sakurakawa berkata Hinata memohon padanya jadi ia tidak bisa menolaknya. Hinata sedikit menyindir Wakaba jika ia membawa Pitaro pulang dengan jet pribadi, haha.
“Tidak ada orang lain yang bisa mengalahkan kesembronoan ibu dan anak ini,” kata kepala sekolah.

“Aku akan pergi menambah ilmu, tapi tunggulah aku. Mungkin aku memang Pillbug, tapi aku akan jadi Pillbug yang membuang kotorannya ke tanah,” janji Sota. Wakaba mengiyakan janji Sota sambil tersenyum bahagia. Pitaro mengompori ayahnya untuk mencium Wakaba. Semua yang berada di sana juga ikut bersorak-sorai menyetujui apa yang dikatakan Pitaro. Sota kemudian menggendong Wakaba dan melakukan apa yang diserukan semua orang.

Wakaba menemui bu Sakurakawa di kantornya. Bu Sakurakawa berseloroh apakah Wakaba sudah mengantar pillbugnya ke bandara? Wakaba membenarkan. Bu Sakurawaba kemudian bertanya ada masalah apa sehingga Wakaba menghadap dirinya?

Wakaba menyerahkan surat pengunduran dirinya. “Aku sudah menemukan apa yang kuinginkan.”
“Waktunya tepat. Pengasuh anakku juga sudah kembali dari cuti hamilnya. Pasti akan mudah mencari penggantimu,” ujar bu Sakurakawa.
“Baguslah. Aku juga sudah mulai bosan denganmu dan Hinata,” kata Wakaba sambil tersenyum.
“Akan kuterima pujianmu itu,” jawab bu Sakurakawa.
“Memang waktunya pendek, tapi aku sangat berterimakasih padamu.”
“Apa ada hal lainnya?”
Wakaba tidak menjawab. Ia membungkuk tanda berterimakasih pada bu Sakurakawa. Bu Sakurakawa tersenyum memandang Wakaba.

Wakaba bergegas keluar dari ruangan bu Sakurakawa. Ia berjalan melewati meja kerjanya yang selama 3 bulan ini ditempatinya. Menahan perasaannya, Wakaba berjalan dengan penuh percaya diri. Di luar ia tersenyum kecil melihat petugas memasang plang nama baru firma hukum “Samejima Sakurakawa Smith & Clark Law Firm”.

 

Beberapa waktu kemudian
Wakaba bekerja menjadi asisten seorang pengacara di sebuah firma hukum. Atasannya menanyakan tentang berkas-berkas yang harus disiapkannya. Wakaba menjawab tegas telah mempersiapkan semuanya. Sambil berjalan mereka membahas kasus-kasus yang tengah mereka tangani.
 
Tiba-tiba hak sepatu Wakaba patah, membuatnya tidak bisa berjalan dengan baik. Atasannya mengejeknya jika ia memakai sepatu seperti itu maka tidak akan ada yang mau menikahinya. Atasannya tiba-tiba berkata Wakaba punya tunangan imajinasi bukan? Wakaba menjawab, bukan imajinasi namun mereka berdua sepakat untuk tidak berhubungan dulu sampai impian mereka terwujud.

Mereka sampai di depan sebuah gedung pengadilan. Rupanya atasan Wakaba melihat bu Sakurakawa yang sedang dikejar banyak wartawan untuk meminta informasi atas kasus yang dimenangkannya. Atasan Wakaba berkata jika dalam rapat lalu, bu Sakurakawa berbicara dengannya. Ia menanyakan Wakaba, apakah bekerja dengan baik? Atasan Wakaba tidak percaya bagaimana orang penting seperti bu Sakurakawa mengenal Wakaba? Wakaba menjawab jujur, ia pernah menjadi pengasuh anaknya. Keduanya sempat berpapasan dan saling tersenyum. Wakaba terlihat bangga memandang bu Sakurakawa hingga tanpa sadar ditinggal atasannya. Ia baru menyadari setelah atasannya memanggilnya.

Di Amerika Serikat, Shindo juga tengah mengadakan rapat dengan rekan-rekannya sambil melakukan teleconference dengan bu Sakurawaba di Jepang.

Hubungan Kujo dengan Samao semakin baik. Mereka bahkan saling mendukung satu sama lain. Kujo mendorong Samao yang akan melakukan pertunjukan.

Kepala sekolah didatangi Urara sensei yang memberitahukannya siapa pria yang telah berkencan dengannya selama setahun ini. Bukan cuma satu tapi dua orang yang ikut menghadap Kepala sekolah, Nishino dan Hiroshi. Keduanya merasa menjadi kekasih Urara, namun ternyata Urara sensei memilih Hiroshi dan membuat Nishino patah hati, wkwkwk.. Alasan Urara sensei memilih Hiroshi karena ia bulat seperti boneka beruang, hahaha.. Tentu saja Nishino dan Kepala sekolah tidak setuju dengan hubungan mereka, haha.

Hinata berjalan menuju sekolah bersama temannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dari Pitaro. Teman Hinata bertanya apakah yang menelepon pacarnya yang berada di New York? Hinata mengiyakan, ia tidak pernah absen meneleponnya, haha.

Wakaba sedang mengecek alamat sebuah restoran. Setelah berjalan beberapa saat, ia menemukan restoran tersebut. Berdiri di hadapan restoran tersebut, ia heran melihat nama restorannya. “Le Chateau?” gumam Wakaba. Ia mencoba masuk dan melihat Sota sudah berdiri di dalam.

Sota menyambut Wakaba seperti menyambut pelanggan. Wakaba heran bercampur kagum melihat interior restoran tersebut. Sota menyambut Wakaba dan mengatakan Wakaba merupakan tamu pertamanya.
“Bagaimana kau bisa merubah tempat ini?” tanya Wakaba. Sebab restoran ini awalnya adalah Ru Sato, tempat di mana Sota bekerja dulu.
“Aku minta bantuan dari Samao,” jawab Sota. Mau tak mau Wakaba segera melihat dokumen yang ia bawa. Di dokumennya tertulis nama Hayashi Kobato, bapak tua pemilik restoran Ru Sato. Pak tua itu mempersilahkan Wakaba untuk duduk dan menikmati hidangan yang mereka miliki.

Sota menghidangkan menu rekomendasinya, makanan dari bahan nasi bernama Lyon-style dengan kecap. Ia menambahkan kemangi untuk membuat seperti jeli.
“Jeli apa? Kecap dan nasi kan makanan tradisional Jepang,” kata Wakaba. Ia tidak mau mencoba makanan yang dihidangkan Sota. Melihat Wakaba tidak mau memakannya, Sota berinisiatif mencobanya sendiri. Wakaba terprovokasi. Ia mengambil sendok yang dipegang Sota dan mencobanya. Ia memuji masakan Sota yang lezat. Keduanya tertawa bersama.

+++The End+++

Author Note :

Yo : Akhirnya perjalanan Zenkai Girl berakhir, hehe. Tarik ulur hubungan Wakaba dan Sota berakhir manis walaupun tanpa adegan pernikahan mereka. Sempat gregetan dengan Wakaba yang berusaha mengeraskan hatinya demi menepati janjinya untuk menikah dengan Shindo. Untunglah di saat-saat terakhir Hinata mampu meyakinkan dirinya, apakah dengan menikahi pak Shindo merupakan keputusan yang tepat. Awalnya Wakaba ragu, meskipun hati kecilnya sudah memperingatkan lewat Wakaba kecil yang mendatangi dan mengingatkannya untuk “menanyakan pada dirinya sendiri” apa yang ia putuskan.

Ah, kadang kita memang membutuhkan sosok seperti Hinata. Di balik usianya yang masih terbilang kecil, ia mampu menghancurkan keegoisan Wakaba dengan perkataan-perkataannya yang tajam dan menusuk. Sahabat yang baik memang tidak akan mengiyakan apapun yang kita putuskan. Ia justru akan memberikan masukan dan tak jarang kritik yang pedas demi membangun kita menjadi lebih baik. Surprise dengan keputusan Shindo yang justru melepaskan Wakaba. Ia sadar, dirinya tidak pernah mendapatkan tempat di hati Wakaba yang memang sudah terisi Sota dari awal. Ia hanya menjadi “alat” untuk menuju ambisi Wakaba. Awalnya ia membiarkan Wakaba dan berusaha menutup kesempatan Sota, namun akhirnya ia memutuskan memberi hadiah pada Wakaba untuk bersama dengan Sota.

Sementara Sota sendiri, hmm aku kok merasa ia justru menyerah dan mencari “pelampiasan” dengan menerima Soyoko. Well, meskipun bisa dimaklumi bahwa ia sadar jika di bandingkan dengan Shindo dirinya amatlah jauh berbeda. Namun jika bukan kita sendiri yang memperjuangkan perasaan dan malah mencari orang lain untuk melupakan perasaan tanpa berjuang lebih dahulu aku rasa itu pengecut namanya. Hohoho, maafkeun saya fans Sota, hehe. Kepanjangan kalo diterusin ini nanti, hehe.. Terimakasih untuk tim author Zenkai Girl (Ari untuk support pikunya, Susan dan Ganis untuk pairingannya, hehe) serta reader yang sudah setia menanti Zenkai Girl, mohon maaf karena tertunda sekian lama ya. Ditunggu komentarnya readers. Sampai jumpa di sinopsis lainnya. Arigato ^^

Susan : Yattaaaa…akhirnya slese juga project zenkai girl ini. Dari pertama nonton secara streaming, san udah jatuh cinta sama drama ini,sehingga memutuskan untuk donlod drama ini. Awalnya cuma mau bikin reviewnya,tapi ditantang kak saa unt bikin sinopnya..hehehe. Awalnya sii bingung nerima gak yaa..tapi emang sayang banget klo zenkai girl cuma dibuat reviewnya ajja. ^^ Daripada galaunya perasaan Sota dan Wakaba. San lebih sukkaa cinta monyetnya ala Pitaro dan Hinata. Stuju gak famzz…? Terima kasih untuk smuanya..crew team zenkai girl, (Yo,yang baik hati mau ikut  gabung jadi author zenkai girl yang menjadikan sinopsis ini selesai hingga 11 ep, Ari yang lagi lakornfever, unt pikunya, Ganis, yang bersedia jadi pairing saat awal pembuatan, kak Saa yang menantang san unt membuat sinop ini) famz,yang udah setia membaca sinop zenkai girl ini…satu hal yang pasti,pengen comeback nulis lagii,,#rumasa masih punya utang nulis wkwkwk ^^…Sampai ketemu di project kami slanjutnyaa.. *muach..muach..muach-$un sayank untuk orang disamping anda* #eh..

Ari : Couple favorite tetap Hinata feat Pitaro wkwkkw, kecil2 calon manten mereka bwahahaha. Trus nggak nyangka kalau dokter Asou #1litreoftears akan jadi sekeren sekarang wkwkwk tapi masih tetap hitam manis hahaha, sankyu buat Yo, San n Ganis, maafkeun hanya bisa bantu support piku. Makin suka Gakki deh, aktingnya makin mantap pertama kenal pas main di Dragon Zakura hihihi. Tinggal  nunggu Nishikido Ryo feat Maki chan ni #sorry OOT ya. Ok, minna sampai ketemu di sinopsis lainnya ^^.

Ganis :

Thanks to IDWS &  D’Addict
Written by Yohana [FB | Twitter]
Image by +ari airi  [Twitter]
Only posted on pelangidrama.net
DON’T REPOST TO OTHER SITE!!!
thanks for reading with us ^^